Anda di halaman 1dari 15

Sistem Pernapasan Ikan ( Pisces )

Hewan Vertebrata telah memiliki sistem sirkulasi yang fungsinya antara lain
untuk mengangkut gas pernapasan (O2) dari tempat penangkapan gas
menuju sel-sel jaringan. Begitu pula sebaliknya, untuk mengangkut gas
buangan (CO2) dari sel sel jaringan ke tempat pengeluarannya. Mekanisme
pernapasan pada hewan Vertebrata beragam. Simaklah uraian di bawah ini
agar Anda lebih memahami mekanisme pernapasan pada hewan Vertebrata
khususnya ikan.

Sistem Pernapasan Ikan


Ikan bernapas menggunakan insang. Insang berbentuk lembaran-lembaran
tipis berwarna merah muda dan selalu lembap. Bagian terluar dari insang
berhubungan dengan air, sedang bagian dalam berhubungan erat dengan
kapilerkapiler darah. Tiap lembaran insang terdiri dari sepasang filamen dan
tiap filamen mengandung banyak lapisan tipis (lamela). Pada filamen
terdapat pembuluh darah yang memiliki banyak kapiler, sehingga
memungkinkan O2 berdifusi masuk dan CO2 berdifusi keluar.
Pada ikan bertulang sejati (Osteichthyes) insangnya dilengkapi dengan tutup
insang (operkulum), sedangkan pada ikan bertulang rawan (Chondrichthyes)
insangnya tidak mempunyai tutup insang. Selain bernapas dengan insang,
ada pula kelompok ikan yang bernapas dengan gelembung udara (pulmosis),
yaitu ikan paru-paru (Dipnoi). Insang tidak hanya berfungsi sebagai alat
pernapasan, tetapi juga berfungsi sebagai alat ekskresi garam-garam,
penyaring makanan, alat pertukaran ion, dan osmoregulator.

1) Sistem Pernapasan pada ikan bertulang sejati


Salah satu contoh ikan bertulang sejati yaitu ikan mas. Insang ikan mas
tersimpan dalam rongga insang yang terlindung oleh tutup insang
(operkulum). Perhatikan Gambar 7.16. Insang ikan mas terdiri dari lengkung
insang yang tersusun atas tulang rawan berwarna putih, rigi-rigi insang yang
berfungsi untuk menyaring air pernapasan yang melalui insang, dan filamen
atau lembaran insang. Filamen insang tersusun atas jaringan lunak,
berbentuk sisir dan berwarna merah muda karena mempunyai banyak

pembuluh kapiler darah dan merupakan cabang dari arteri insang. Di tempat
inilah pertukaran gas CO2 dan O2 berlangsung.

Gas O2 diambil dari gas O2 yang larut dalam air melalui insang secara difusi.
Dari insang, O2 diangkut darah melalui pembuluh darah ke seluruh jaringan
tubuh. Dari jaringan tubuh, gas CO2 diangkut darah menuju jantung. Dari
jantung menuju insang untuk melakukan pertukaran gas. Proses ini terjadi
secara terus-menerus dan berulang-ulang.
Mekanisme pernapasan ikan bertulang sejati dilakukan melalui mekanisme
inspirasi dan ekspirasi. Perhatikan Gambar 7.17.

a) Fase inspirasi ikan


Gerakan tutup insang ke samping dan selaput tutup insang tetap menempel
pada tubuh mengakibatkan rongga mulut bertambah besar, sebaliknya celah
belakang insang tertutup. Akibatnya, tekanan udara dalam rongga mulut
lebih kecil daripada tekanan udara luar. Celah mulut membuka sehingga
terjadi aliran air ke dalam rongga mulut. Perhatikan gambar di samping.
b) Fase ekspirasi ikan
Setelah air masuk ke dalam rongga mulut, celah mulut menutup. Insang
kembali ke kedudukan semula diikuti membukanya celah insang. Air dalam
mulut mengalir melalui celah-celah insang dan menyentuh lembaranlembaran insang. Pada tempat ini terjadi pertukaran udara pernapasan.
Darah melepaskan CO2 ke dalam air dan mengikat O2 dari air.
Pada fase inspirasi, O2 dan air masuk ke dalam insang, kemudian O2 diikat
oleh kapiler darah untuk dibawa ke jaringan-jaringan yang membutuhkan.
Sebaliknya pada fase ekspirasi, CO2 yang dibawa oleh darah dari jaringan

akan bermuara ke insang, dan dari insang diekskresikan keluar tubuh.

2) Sistem Pernapasan pada ikan bertulang rawan


Insang ikan bertulang rawan tidak mempunyai tutup insang (operkulum)
misalnya pada ikan hiu. Masuk dan keluarnya udara dari rongga mulut,
disebabkan oleh perubahan tekanan pada rongga mulut yang ditimbulkan
oleh perubahan volume rongga mulut akibat gerakan naik turun rongga
mulut. Bila dasar mulut bergerak ke bawah, volume rongga mulut bertambah,
sehingga tekanannya lebih kecil dari tekanan air di sekitarnya. Akibatnya, air
mengalir ke rongga mulut melalui celah mulut yang pada akhirnya terjadilah
proses inspirasi. Bila dasar mulut bergerak ke atas, volume rongga mulut
mengecil, tekanannya naik, celah mulut tertutup, sehingga air mengalir ke
luar melalui celah insang dan terjadilah proses ekspirasi CO2. Pada saat inilah
terjadi pertukaran gas O2 dan CO2.

3) Sistem Pernapasan pada ikan paru-paru ( Dipnoi )


Pernapasan ikan paru-paru menyerupai pernapasan pada Amphibia. Selain
mempunyai insang, ikan paru paru mempunyai satu atau sepasang
gelembung udara seperti paru-paru yang dapat digunakan untuk membantu
pernapasan, yaitu pulmosis. Pulmosis banyak dikelilingi pembuluh darah dan
dihubungkan dengan kerongkongan oleh duktus pneumatikus. Saluran ini
merupakan jalan masuk dan keluarnya udara dari mulut ke gelembung dan
sebaliknya, sekaligus memungkinkan terjadinya difusi udara ke kapiler darah.
Ikan paru-paru hidup di rawa-rawa dan di sungai. Ikan ini mampu bertahan
hidup walaupun airnya kering dan insangnya tidak berfungsi, karena ia
bernapas menggunakan gelembung udara. Ada tiga jenis ikan paru-paru di
dunia, yaitu ikan paru-paru afrika, ikan paru paru amerika selatan, dan ikan
paru - paru queensland (Australia).
Pada beberapa jenis ikan, seperti ikan lele, gabus, gurami, dan betok
memiliki alat bantu pernapasan yang disebut labirin. Labirin merupakan
perluasan ke atas dalam rongga insang, dan membentuk lipatan-lipatan
sehingga merupakan rongga-rongga tidak teratur. Rongga labirin berfungsi
menyimpan udara (O2), sehingga ikan-ikan tersebut dapat bertahan hidup
pada perairan yang kandungan oksigennya rendah. Selain dengan labirin,
udara (O2) juga disimpan di gelembung renang yang terletak di dekat
punggung.

Insang
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa

Insang

Insang ikan tuna

Insang merupakan alat pernapasan ikan. Tiap lembaran insang terdiri dari sepasang filamen yang banyak
mengandung lamela (lapisan tipis). Pada filamen terdapat pembuluh darah yang mengandung kapiler
sehingga memungkinkan terjadinya pertukaran gas O2 dan CO2.

Inspirasi : O2 dari air masuk ke dalam insang yang kemudian diikat oleh kapiler darahuntuk
dibawa ke jaringan tubuh.

Ekspirasi : CO2 dari jaringan bersama darah menuju ke insang dan selanjutnya dikeluarkan
dari tubuh.

Ikan yang hidup di tempat berlumpur mempunyai labirin yang merupakan perluasan insang berbentuk
lipatan berongga tidak teratur. Labirin berfungsi untuk menyimpan cadangan oksigen sehingga ikan tahan
pada kondisi kekurangan oksigen. Misal pada ikan lele dan ikan gabus.

Cara Kerja Insang Ikan Anda semua pasti tahu bahwa organ yang bernama insang pada
ikan adalah jawaban dari pertanyaan tentang bagaimana cara ikan bernapas di dalam
air. Dengan adanya insang, ikan dapat menyerap oksigen dari air dan menggunakannya
untuk metabolisme energi. Secara fungsional, insang tidak berbeda dengan paru-paru
pada manusia dan mamalia lainnya. Perbedaan utama adalah bagaimana mereka
mampu menyerap oksigen dalam air yang hanya tersedia dalam konsentrasi yang
sangat kecil, selain itu insang juga berfungsi untuk mempertahankan tingkat tertentu dari
Natrium Klorida (garam) dalam aliran darah mereka. Insang bekerja pada prinsip yang
sama dengan paru-paru. Pada paru-paru, terdapat kantung-kantung kecil yang disebut
alveoli yang terdiri dari sekitar 70% pembuluh darah kapiler. Pembuluh darah kapiler ini
membawa darah kotor yang sudah tidak mengandung oksigen lagi dari seluruh tubuh.
Oksigen dan karbon dioksida akan lewat melintasi membran alveoli tersebut, dimana
oksigen diambil untuk diangkut oleh pembuluh darah kapiler ke seluruh tubuh
sedangkan karbon dioksida akan di keluarkan. Mirip dengan paru-paru, insang memiliki
baris dan kolom kecil sel-sel khusus yang berkelompok bersama-sama yang disebut sel
epitel. Darah kotor yang sudah tidak mengandung oksigen lagi pada ikan dipompa
langsung dari jantung ke epitel melalui pembuluh darah arteri dan pembuluh darah
arteriol yang lebih kecil. Air akan didorong melintasi membran epitel, oksigen yang
terlarut dalam air diambil oleh pembuluh darah kecil dan pembuluh darah vena,
sedangkan karbon dioksida dikeluarkan bersama dengan air. Penampilan insang sendiri
mirip dengan penampilan radiator pada mobil. Kebanyakan ikan memiliki 4 buah insang
pada setiap sisinya, terdiri dari sebuah struktur seperti batang pohon yang memiliki
banyak cabang, dan cabang-cabang tersebut memiliki cabang-cabang lagi yang lebih
kecil lagi. Susunan sel seperti ini memberikan permukaan yang sangat besar dan luas
ketika insang bekerja melakukan pertukaran udara di dalam air. Secara fungsional,
mekanisme untuk memompa air ke insang sangat bervariasi tergantung pada spesies
ikan tersebut. Namun, secara umum ikan mampu untuk mengurangi tekanan dalam
rongga mulut mereka dengan menurunkan dasar mulut dan melebarkan kulit luar yang
melindungi insang yang disebut operculum. Penambahan volume ini akan menurunkan
tekanan di dalam mulut sehingga menyebabkan air masuk ke dalam. Ikan kemudian
akan menaikkan dasar mulut mereka dan menutup katup insang sehingga air tidak
dapat keluar kembali. Tekanan di dalam rongga mulut ikan kemudian akan meningkat,
dan karena tidak ada jalan untuk air kembali keluar, air dipaksa melalui operkulum yang
terbuka dan melintasi insang. Insang sendiri memerlukan luas permukaan yang sangat
besar untuk mencukupi kebutuhan oksigen yang diperlukan. Di udara, kadar oksigen
sekitar 21%, sedangkan di dalam air, kadar oksigen hanya sekitar 0,0004-0,0008% saja.

Karena itu, jika ikan tidak memiliki luas permukaan insang yang besar untuk menyerap
oksigen yang cukup, maka ikan akan mati lemas karena kekurangan udara. Hewan
berdarah dingin juga cenderung memiliki metabolisme yang lebih rendah dibandingkan
hewan berdarah panas. Hal ini membantu sangat membantu mereka untuk mengatasi
lingkungan dengan kadar oksigen yang rendah. Jika saja ikan merupakan hewan
berdarah panas, maka metabolisme akan meningkat ke titik dimana oksigen yang
tersedia di air tidak akan mencukupi untuk membantu ikan bertahan hidup. Dengan luas
permukaan insang yang besar yang memungkinkan untuk terjadinya pertukaran karbon
dioksida dan oksigen, di sisi lain juga menyebabkan banyaknya darah yang
berhubungan dengan air laut yang hipertonik (mengandung lebih banyak garam), hal ini
akan menciptakan situasi di mana ikan harus memiliki mekanisme tambahan untuk
mengeluarkan kelebihan natrium yang kebetulan ikut terserap. Sebaliknya, ikan air
tawar harus memiliki mekanisme berlawanan yang memungkinkan mereka untuk
mengeluarkan kelebihan air untuk menjaga tingkat natrium mereka tetap tinggi. Oleh
karena itu, ikan air asin tidak dapat hidup pada lingkungan air tawar, begitu juga
sebaliknya. Di dalam insang, terdapat sel epitel kecil yang disebut sel klorida. Sel-sel ini
memungkinkan ikan untuk mengeluarkan setiap kelebihan natrium. Ikan air tawar
cenderung memiliki sel-sel ini dalam jumlah yang lebih sedikit dibandingkan dengan ikan
air laut, dikombinasikan dengan kemampuan untuk memproduksi urin yang sangat
encer, ikan air tawar memiliki kemampuan untuk menjaga tingkat natrium dalam darah
mereka tetap tinggi. Setelah membaca uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa insang
merupakan organ yang sangat luar biasa. Organ luar biasa ini telah memungkinkan ikan
untuk menikmati kehidupan di bawah air yang luar biasa sulit selama jutaan tahun. Lain
kali ketika anda melihat ikan di sekitar, anda dapat tersenyum pada diri sendiri karena
anda telah mengetahui bahwa mereka bekerja lebih keras dibandingkan anda hanya
untuk menikmati udara saja. Link artikel ini: http://www.berbagaihal.com/2011/09/carakerja-insang-ikan.html Sumber referensi: http://jeb.biologists.org/content/211/22/3519.full
http://www.news.wisc.edu/13726
Sumber referensi: http://www.berbagaihal.com/2011/09/cara-kerja-insang-ikan.html

Osmoregulasi adalah proses mengatur konsentrasi cairan dan menyeimbangkan pemasukan serta
pengeluaran cairan tubuh oleh sel atau organisme hidup. Proses osmoregulasi diperlukan karena
adanya perbedaan konsentrasi cairan tubuh dengan lingkungan disekitarnya. Jika sebuah sel
menerima terlalu banyak air maka ia akan meletus, begitu pula sebaliknya, jika terlalu sedikit air,
maka sel akan mengerut dan mati. Osmoregulasi juga berfungsi ganda sebagai sarana untuk
membuang zat-zat yang tidak diperlukan oleh sel atau organisme hidup.
== Makna osmoregulasi adalah proses mengatur dan menyeimbangkan konsentrasi asupan cairan
dan pengeluaran oleh sel atau cairan tubuh organisme hidup. Sementara pemahaman tentang
osmoregulasi ikan Tekanan osmotik cairan tubuh pengaturan sesuai untuk kehidupan ikan, sehingga
proses-proses fisiologis fungsi tubuh normal (Homeostasis). ka sel menerima terlalu banyak air maka
akan meletus, dan sebaliknya, jika terlalu sedikit air, maka sel akan mengerut dan mati. Osmoregulasi
juga ganda sebagai sarana untuk membuang zat-zat yang tidak diperlukan oleh sel atau organisme
hidup.
Kebanyakan invertebrata berhabitat di laut tidak secara aktif
mengelola sistem osmosis mereka, dan dikenal sebagai osmoconformer.
Osmoconformer memiliki osmolaritas internal yang sama dengan lingkungan
sehingga tidak ada kecenderungan untuk mendapatkan atau kehilangan air.
Karena osmoconformer paling hidup dalam lingkungan yang memiliki komposisi
kimia yang sangat stabil (di laut) maka osmoconformer yang cenderung
memiliki osmolaritas konstan. Sementara osmoregulator adalah organisme yang
menjaga osmolaritas tanpa tergantung pada lingkungan sekitarnya. Oleh
karena itu kemampuan untuk mengatur ini osmoregulator kemudian dapat hidup
dalam lingkungan air tawar, darat, dan laut. Di lingkungan dengan
konsentrasi rendah cairan, osmoregulator akan merilis kelebihan cairan dan
sebaliknya.
Untuk organisme akuatik, proses ini digunakan sebagai ukuran untuk menyeimbangkan tekanan
osmosa antara substansi dalam tubuh dengan lingkungan melalui sel permeabel. Dengan demikian,
semakin jauh perbedaan tekanan osmotik antara tubuh dan lingkungan, semakin banyak energi
metabolisme yang dibutuhkan untuk osmoregulasi mmelakukan sebagai adaptasi, hingga batas

toleransi yang mereka miliki. Oleh karena itu, pengetahuan tentang osmoregulasi sangat penting
dalam mengelola media air pemeliharaan kualitas, terutama salinitas. Hal ini karena dalam
osmoregulasi, proses regulasi terjadi melalui konsentrasi ion dan air dalam tubuh dengan kondisi di
lingkungan.
Ion dan air pada ikan terjadi regulasi hipertonik, hipotonik atau isotonik tergantung pada perbedaan
(lebih tinggi, lebih rendah atau sama) konsentrasi cairan tubuh dengan konsentrasi media1, 2.
Perbedaannya dapat digunakan sebagai strategi dalam berurusan dengan komposisi cairan
ekstraselular dalam tubuh ikan2. Untuk ikan yang hiperosmotik potadrom dengan lingkungannya
dalam proses osmoregulasi, air bergerak ke dalam tubuh dan ion keluar ke lingkungan dengan cara
difusi. Keseimbangan cairan tubuh dapat terjadi dengan meminum sedikit air atau tidak minum sama
sekali. Kelebihan air dalam tubuh dapat dikurangi dengan membuangnya dalam bentuk urin. Untuk
ikan yang hipoosmotik oseanodrom terhadap lingkungannya, air mengalir dari osmosa tubuh melalui
ginjal, insang dan kulit ke lingkungan, sedangkan ion ke tubuh dengan difusi1, 2. Adapun eurihalin
ikan, memiliki kemampuan untuk dengan cepat menyeimbangkan tekanan osmotik dalam tubuh
dengan media (isoosmotik), namun karana kondisi lingkungan perairan tidak selalu tetap, maka
proses serta ikan ormoregulasi potadrom dan oseanodrom masih terjadi.
Salinitas atau garam konten adalah jumlah bahan padat dalam satu kilogram air laut, dalam hal ini
semua karbonat telah diubah menjadi oksida, brom dan yodium yang telah disinkronkan dengan
klorin dan bahan organik yang telah teroksidasi. Langsung, media akan mempengaruhi salinitas
tekanan osmotik cairan tubuh ikan. Pengetahuan tentang metabolisme dapat juga dikaitkan dengan
beberapa disiplin lain, seperti genetika, toksikologi dan lainnya ilmiah sehingga ikan yang dihasilkan
dapat memiliki kualitas lebih unggul daripada sebelumnya. Hal ini karena ikan untuk berinvestasi
untuk 25-50% dari output total dalam mengendalikan metabolisme komposisi cairan intra-dan
ekstraselularnya.
Perubahan dalam tingkat salinitas mempengaruhi tekanan osmotik
cairan tubuh ikan, sehingga ikan untuk menyesuaikan pengaturan osmotik
internal atau bekerja sehingga proses fisiologis dalam tubuh dapat bekerja
secara normal lagi. Jika salinitas yang lebih tinggi, usaha ikan untuk
menjaga ketertiban dalam kondisi homeostasi nya tercapai, sampai batas
toleransi yang mereka miliki. Osmotik bekerja membutuhkan energi yang lebih
tinggi juga. Hal ini juga mempengaruhi waktu kepenuhan (waktu kekenyangan)
ikan.
Rainbow trout seringkali digunakan sebagai sistem model untuk
mempelajari rute dan mekanisme ekskresi dan osmoregulasi. Proses
osmoregulasi juga menghasilkan produk-produk limbah seperti kotoran dan
amonia, sehingga pemeliharaan yang akan menjadi media berwarna keruh akibat
jumlah kotoran ikan dirilis. Dampak ekskresi nitrogen juga akan
mempengaruhi kehidupan ikan di dalamnya. Pada embrio rainbow trout,

ekskresi nitrogen dalam bentuk urea juga dapat dikaitkan dengan kandungan
nitrogen dalam kuning telur, karena permeabilitas rendah dari membran sel
telur dari amonia.
Dampak dari produk limbah dari metabolisme pada kelangsungan hidup ikan berdasarkan perubahan
fisik dalam kualitas air, dapat diduga bahwa perubahan tersebut juga mempengaruhi kondisi ambient
ikan, yang pada gilirannya mempengaruhi pertahanan tubuh. Setelah melewati batas toleransi, maka
ikan yang sekarat. Mengingat bahwa tidak semua ikan mati, maka dapat dipastikan bahwa kekuatan
toleransi pada populasi ikan di akuarium berbeda. Hal ini mungkin karena perbedaan kondisi tubuh
sebelum dimasukkan dalam intensitas praktek media, termasuk parasit, tingkat stres dan lain-lain.
Nitrat toksisitas di air tawar tergolong sangat rendah (96 h LC50s> 1000 mg / L sebagai N). Hal ini
dapat dikaitkan dengan munculnya potensi masalah dalam proses osmoregulasi. Dalam sistem
dengan konsentrasi nitrat tinggi, reduksi nitrat terjadi pada anaerobik. Nitrat di perairan laut
konsentrasi kurang dari 500 mg / L untuk ikan laut sebagian besar, tapi untuk ikan laut tropis seperti
anemone (Amphiprion ocellaris) lebih sensitif, yaitu hanya 20 mg / L.
Tingkat stres juga bervariasi tambakan dialami oleh benih di akuarium, sebagai akibat dari perbedaan
perlakuan. Lebih mendalam studi, dapat ditelusuri dengan isi kortisol. Banyak hal berkenaan dengan
kortisol selama proses metabolisme, seperti starvasi (puasa), osmoregulasi, penyebaran
penghematan energi untuk migrasi, proses gonad, pemijahan pematangan dan selama stres yang
dialami oleh ikan itu sendiri.
Ormoregulasi mekanisme juga dapat dilacak pada tingkat sel. Sel-sel yang pertama dihasilkan
melalui mekanisme kultur sel. Penelitian tentang sel epitelioma papulosum cyprinid (EPC), berasal
dari sel epidermis ikan mas dapat digunakan untuk menentukan kelangsungan hidup dan
pertumbuhan sel-sel di hiper-media dan hipoosmotik. Dengan menggunakan sel kultur, ekspresi gen
dapat diamati juga bahwa bias yang terkait dengan kemampuan adaptasi dan stres osmotik.
Aktivitas osmoregulasi juga dipengaruhi oleh stadia ikan atau Krustase dalam kaitannya dengan
salinitas. Penelitian tentang remaja dan dewasa Krustase stadion, regulasi ionik dari Na / K-ATP
menunjukkan bahwa berbeda ketika diamati dengan aktivitas enzim Na / K-ATPase. Pada Artemia
salina dan A. franciscana aktivitas enzim meningkat sejalan dengan perkembangannya sejak setelah
menetas hingga tahap mulai berenang bebas. Dalam udang, juga berlangsung begitu. Namun, pada
orang dewasa stadion, aktivitas Na / K-ATPase pada udang galah tidak berbeda nyata setelah
diperlakukan pada salinitas berbeda8. Studi pada osmoregulasi dalam tahap awal perkembangan
ikan telah diamati pada tingkat sel klorida extrabranchial. Sejumlah sel klorida yang terkandung dalam
membran kantung kuning telur embrio dan larva ikan nila disesuaikan stadion dalam air tawar (FW)
dan air asin (SW). Sel klorida dalam SW seringkali dalam bentuk kompleks multiseluler bersama
dengan sel aksesori yang berdekatan. Sementara di FW, sel klorida yang terletak di kondisi individu.
Klorida tes dan X-ray Mikroanalisis menunjukkan bahwa sel-sel klorida dalam SW dalam kompleks,

fungsi definitif dari sekresi klorida. Namun, setelah sel tersebut dipindahkan ke lingkungan SW,
membentuk sel tunggal juga berubah sebagai respons terhadap lingkungan baru yang kompleks yang
SW. Umumnya, sel klorida extrabranchial memainkan peran penting dalam mengontrol osmoregulasi
sampai tahap sel insang klorida bekerja fungsional.
Penemuan terakhir adalah tentang morfologi fungsional dari sel
klorida pada ikan membunuh, Fundulus heteroclitus, ikan euryhaline air laut
(SW). Immunocytochemical deteksi dilakukan pada sel klorida dengan anti-Na
+ / K +-ATPase dalam distribusi klorida sel dari proses transisi selama
tahap-tahap awal kehidupan. Sel klorida muncul dalam membran kantung kuning
fase awal embrio dan kemudian di kulit selama tahap terakhir dari embrio.
Perbedaan morfologi antara SW-jenis sel klorida dan FW diidentifikasi dalam
killifish dewasa disesuaikan dengan SW dan FW. Kedua jenis sel klorida,
aktif di kedua lingkungan, tetapi berbeda dalam fungsi transpor ion.
Transfer langsung dari SW ke killifish FW, sel tipe klorida BD
ditransformasikan ke dalam sel tipe FW, diikuti dengan penggantian sel
klorida dalam promosi respon.
Adaptasi ikan, juga dapat diketahui melalui penelitian pada Takifugu rubripes fugu remaja dengan
lingkungan salinitas rendah. Ikan dipindahkan dari air laut (100% SW) ke media air tawar (FW), 25,
50, 75 dan 100 SW% dan mortalitas kemudian direkam selama 3 hari. Tidak membunuh ikan dalam
salinitas media baru 25-100% SW dan semua ikan mati dalam media massa FW 100%. Rupanya,
ikan dipindahkan ke media 25-100% SW, osmolalitas darah dipertahankan pada kisaran fisiologis
yang normal. Studi terus bergerak ikan dari lingkungan 100% SW ke media FW, 1, 5, 10, 15 dan SW
25%. Semua ikan hidup di sebuah BD 5-25% menengah, tetapi meninggal di FW media dan SW 1%.
Ikan yang hidup di SW media massa 25% dan kemudian ditransfer kembali ke media FW, 1 dan SW
5% dan menunjukkan bahwa osmolalitas darahnya menurun hingga mendekati level sublethal, yaitu
sekitar 300 mOsm / kg H2O . Tampaknya preacclimatisasi dalam SW 25% selama 7 hari memiliki
pengaruh sedikit pada kemampuan bertahan hidup dari selang. Meskipun kelangsungan hidup dan
osmolalitas darah meningkat sedikit oleh preacclimatisasi dalam 25% SW, osmolalitas darah menurun
setelah ditransfer ke salinitas media BD kurang dari 10%. Temuan ini menunjukkan bahwa fugu dapat
beradaptasi dengan lingkungan karena kemampuan hyperosmoregulatori hypoosmotik, namun sel-sel
yang telah mengurangi ion klorida mengabsorb hipoosmotik pada lingkungan.
Aktivitas osmoregulasi, juga dipengaruhi oleh beberapa faktor lain yang diberikan untuk organisme
air. Dengan memberikan kortisol, hormon pertumbuhan yg berhubung dgn domba (OGH), rekombinan
insulin-seperti faktor pertumbuhan sapi I (rbIGF-I) dan 3,3 ',5-triiodo-L-thyronine (T3) dapat
meningkatkan kapasitas pada ikan hypoosmoregulasi euryhaline, Fundulus heteroclitus. Diadaptasi
ikan di lingkungan air payau (BW, salinitas 10 ppt) kemudian disuntik dengan dosis hormon dan 10
hari kemudian dipindahkan ke lingkungan air asin (SW, salinitas 35 ppt. Setelah ditransfer dari BW ke
SW menunjukkan peningkatan dalam plasma osmolitas nyata, tetapi tidak untuk Na + insang dan

aktivitas K +-ATPase Pemberian kortisol (50 microg / g berat badan) juga dapat meningkatkan
ketersediaan mereka dalam mempertahankan plasma osmolitas;. peningkatan Na + insang dan
aktivitas K +-ATPase . OGH (5 microg / g berat badan) juga dapat meningkatkan kemampuan dan
hypoosmoregulatory Na + insang dan aktivitas K +-ATPase Kombinasi OGH dan kortisol dapat
meningkatkan kemampuan hypoosmoregulatori namun tidak meningkatkan Na + insang, aktifitas K +.
- ATPase. rbIGF-I (0,5 microg / g berat badan) tidak berpengaruh dalam meningkatkan toleransi untuk
salinitas atau Na + insang, aktifitas K +-ATPase. rbIGF-I dan OGH menunjukkan interaksi positif
dalam meningkatkan toleransi terhadap salinitas, tetapi tidak untuk Na + insang dan aktivitas K +ATPase Pengobatan dengan T3. (5 microg / g berat badan) tidak berdampak terhadap toleransi
salinitas meningkat, insang Na +, K +-ATPase aktivitas dan pengaruhnya tidak nyata konsisten ketika
digunakan bersama dengan kortisol dan T3 atau antara GH dan T3. Untuk ikan air tawar, organ yang
terlibat dalam osmoregulasi termasuk insang, usus dan ginjal. Sel-sel yang berperan dalam insang
organ untuk proses tersebut adalah mitokondria-kaya (MR) dan peran pavement2. Struktur insang
memiliki hubungan dengan kemampuan untuk mentolerir salinitas berkisar. Bhal ditunjukkan dengan
histologi dari struktur insang Caprella (Amphipoda: Caprellidea) (yaitu C. danilevskii, C. subinermis,
C. penantis R-type dan C. verrucosa) yang dikumpulkan dari komunitas Sargassum di timur-daya
Jepang dan diamati bawah mikroskop elekron. Epitel seperti berang-berang danilevskii C, C
subinermis, dan C. verrucosa terdiri-dari pengembangan sistem infolding apikal (AIS) dan sistem
infolding basolateral (BIS) terkait dengan mitokondria. Percobaan tentang toleransi salinitas dari
empat spesies Caprella konsentrasi letalnya mengindikasikanbahwa median (LC 50) pada 20 C
berkisar antara 12,97 - 18,84 unit Salinitas praktis (PSU) dengan kelangsungan hidup lebih dari 80%
dengan salinitas di atas 25,37 PSU bahkan untuk 5 hari. Karakteristik insang dan berbagai toleransi
salinitas dalam Caprella spp. menunjukkan bahwa Caprella spp. menghuni komunitas Sargassum
merupakan organisme yang eurihalin.
IKAN AIR TAWAR PADA OSEMOREGULASI
Ikan yang hidup di air tawar memiliki cairan tubuh yang hiperosmotik pada lingkungan, sehingga air
cenderung untuk masuk ketubuhnya oleh difusi melalui permukaan tubuh semipermiable. Jika ini
tidak dikendalikan atau offset, itu akan menyebabkan hilangnya garam tubuh dan cairan tubuh
mengencernya, sehingga cairan tubuh tidak dapat mempertahankan fungsi fisiologis normal.
Ginjal akan memompa kelebihan air keluar sebagai urin. Apakah ginjal glomerulus dalamjumlah
banyak dengan diameter besar. Hal ini dimaksudkan untuk lebih mampu menahan tubuh garam
sehingga tidak untuk memompa air keluar dan di seni yang sama sebanyak mungkin.
Ketika cairan dari memasuki tubuh tubuli ginjal malpighi, glukosa akan diserap kembali di proximallis
tubuli dan garam diserap dalam tubuli distal. Ginjal dinding tubuli impermiable (kedapair, kedap air).
Ikan keluar dari air yang sangat encer dan seniyang mengandun g sejumlah kecil senyawa nitrogen,
seperti: Asam urat Creatine kreatinin Amonia.

Meskipun urin mengandung garam sangat sedikit, pelepasan air yang berlimpah menyebabkan
jumlah kerugian garam cukup besar. Garam juga hilang karena difusi dari tubuh. Kehilan garam
diimbangi oleh garam yang terkandung dalam makanan dan serapan aktif melalui insang. Pada
kelompok ikan dapat Teleosteiter gelembung air kencing (kandung kemih) untuk menahan kencing.
Berikut melakukan re-penyerapan ion. Gelembung dinding urin impermiable air.

Osmoregulasi IKAN DI AIR LAUT


Ikan laut hidup di lingkungan yang hipertonik ke jaringan dan cairan tubuh, sehingga cenderung
kehilangan air melalui kulit dan insang, dan kebobolan garam. Untuk mengatasi hilangnya air,
minum'air ikan laut 'sebanyak mungkin. Dengan demikian berarti juga akan meningkatkan kandungan
garam dalam cairan tubuh. Fakta dehidrasi dapat dicegah oleh proses ini dan kelebihan garam harus
dihilangkan. Karena ikan dipaksa oleh kondisi untuk mempertahankan osmotik air, volume urine
kurang dari ikan air tawar. Tubuli ginjal dapat berfungsi sebagai penghalang air. Jumlah glomeruli ikan
laut cenderung lebih sedikit dan bentuk yang lebih kecil daripada di ikan air tawar Sekitar 90% dari
nitrogen limbah yang dapat dihapus melalui insang, sebagian besar dalam bentuk amonia dan sedikit
urea. Namun, urine masih mengandung sedikit senyawa. Osteichthyes urin mengandung: Creatine
kreatinin Nitrogen senyawa Trimetilaminoksida (TMAO)
TENTANG IKAN ELASMOBRANCHII osmoregulasi
Elasmobranchii cairan tubuh ikan umumnya memiliki tekanan osmotik lebih besar dari sekitarnya
karena karena isi urea tinggi dan TMAO dalam tubuh (bukan sebagai garam). Karena cairan tubuh
yang hiperosmotik terhadap lingkungannya, kelompok ikan ini cenderung menerima air melalui difusi,
terutama melalui insang. Untuk menjaga tekanan osmotiknya, kelebihan air dikeluarkan sebagai urin.
Reabsorpsi urea di ginjal tubuli juga merupakan upaya dalam menjaga tekanan osmotik tubuhnya.
Permukaan tubuh relatif impermiable mencegah masuknya air dari lingkungan ke dalam tubuhnya.
Para osmoregulators hewan: vertebrata laut: Ikan tulang keras: Konsentrasi larutan dalam tubuh
dengan 01:03 di lingkungan mencegah hilangnya air tubuh dan mencegah diffusi garam dari
lingkungannya minum, osmosis melalui insang, ekskresi garam melalui sel-sel khusus pada insang
Ikan tulang rawan: konsentrasi dalam tubuh> dengan di lingkungan air masuk ke dalam tubuh
melalui osmosis diekskresikan

Air Tawar ikan: Solusi konsentrasi dalam> tubuh sebagai satu di lingkungan mencegah masuknya
air dan kehilangan garam tidak minum, kulit ditutupi dengan lendir, osmosis melalui insang,
produksi urin encer, pompa garam melalui sel-sel khusus pada insang.

nsang/teleostei terdiri dari dua rangkaian yang tersusun atas empat lengkungan tulang rawan dan tulang keras
(holobrankhia) yang menyusun sisi-sisi faring. Masing-masing holobrankhia memiliki dua hemibrankhia yang
menonjol dari pangkal posterior lengkung insang. Hemibrankhia terdiri dari dua baris filamen tipis yang disebut
lamellae primer. Lamellae primer permukaannya mengalami perluasan oleh adanya lamellae sekunder yang
merupakan lipatan semilunar yang menutupi permukaaan dorsal dan ventral. Insang juga dilengkapi dengan
lapisan sel-sel penghasil mukus dan sel-sel yang mengekskresikan amonia dan kelebihan garam. Pada bagian
tepian tengah anterior dilengkapi suatu struktur (gill rakers) yang berperan menyaring partikel-partikel pakan.
Letak insang, struktur dan mekanisme kontak dengan lingkungan menjadikan insang sangat rentan terhadap
perubahan kondisi lingkungan serta menjadi tempat yang tepat bagi berlangsungnya infeksi oleh agensia
patogenik.
Lamellae tersusun atas sel-sel epidermis tipis dan sel-sel pendukung berbentuk batang (sel tiang; pillar cells)
yang mendukung aliran darah ke insang. Ketebalan lamellae bervariasi tergantung spesies dan aktivitasnya.
Pertukaran gas berlangsung pada lamellae sekunder yang merupakan lipatan sel-sel epitel biasanya berupa satu
lapis sel yang didukung dan dipisahkan oleh sel-sel tiang (pillar cells). Selapisan tipis pembuluh darah berada
diantara sel-sel tiang dan epidermis menjadi tempat pertukaran gas, pembuangan sisa metabolit yang bersifat
nitrogenus dan pertukaran beberapa elektrolit. Pertukaran gas ini juga difasilitasi oleh mekanisme buku-tutup
rongga mulut dan celah insang. Pertukaran ion pada lamellae dapat mentransfer 60-80 % oksigen dari air masuk
kedalam darah.
Pseudobrankhia terdapat pada bagian bawah operkulum atas. Organ ini berupa lengkung insang dengan satu
deret filamen-filamen. Fungsi pseudobrankhia belum diketahui, tetapi diduga merupakan struktur yang memasok
darah kaya oksigen ke khoroid optika dan retina dan kemungkinan berperan dalam fungsi-fungsi baroreseptor
dan termoregulasi.
Insang dilengkapi dengan sejumlah glandula yang dikenal sebagai glandula brankhial, yaitu sel-sel epitel insang
yang mengalami spesialisasi. Glandula tersebut adalah glandula mukosa dan glandula asidofilik (sel-sel
khlorida). Glandula mukosa berupa sejumlah sel-sel tunggal berbentuk buah pear atau oval dan menghasilkan
mukus dan terdapat baik pada lengkung insang, filamen insang maupun lamellae sekunder. Mukus merupakan
glikoprotein yang bersifat basa atau netral dengan fungsi :
Perlindungan atau proteksi
Menurunkan terjadinya friksi atau gesekan
Antipatogen
Membantu pertukaran ion dan
Membantu pertukaran gas dan air.
Adapun sel-sel khlorida merupakan glandula yang mengandung granula-granula yang menyerap zat warna asam
sehingga dikenal pula sebagai glandula asidofilik. Sel-sel tersebut memiliki mitokondria yang banyak dan
berperan dalam membantu pengaturan ion pada ikan-ikan euryhaline dan stenohaline.
Menurut Kumar dan Tembhre (1996) sejumlah spesies ikan memiliki stuktur tambahan pada insang yang
membantu pernafasan diluar air, yaitu:
insang tertutup oleh mukus tebal yang membantu difusi gas, misalnya pada Mastacembalus
permukaan dalam rongga insang dan operkulum terlipat dan kaya pembuluh darah , misalnya pada ikan glodok
(Periopthalmus)
divertikula mulut dan rongga faring yang berkembang baik, misalnya pada Chana,Clarias, Saccobranchus dan
Anabas. Divertikula dihubungkan dengan membran respiratori yang terlipat yang memperoleh pasokan darah
yang sangat mencukupi.
Lambung dengan dinding yang tipis untuk membantu respirasi, dijumpai pada Loricariidae.
Bagian tengah dan posterior intestinum berperan dalam pencernaan dan membantu pernapasan. Fungsi
pernapasan tersebut mengikuti musim, misalnya pada ikan loaches (Misgurnus fossilis) hanya berlangsung

selama musim panas.


Organ pernapasan neomorfik yang berfungsi untuk memanfaatkan oksigen atmosferik. Organ semacam ini
dijumpai pada ikan-ikan seperti: Anabas,Osphronemus nobilis, Colisa fasciatus, Clarias batrachus, Chana
punctatus, Chana striatus, Monopterus albus, Periopthalmodon dan Boleophthalmus.
Modifikasi epitel celah insang dalam bentuk kantung sub-silindrik yang memanjang kearah belakang, terdapat
diantara lengkung insang kedua dan ketiga. Dilengkapi dengan pembesaran insang (arborized) yang ditumpu
oleh tulang rawan insang kedua dan keempat, misalnya pada Clarias. Struktur dinding insang semacam ini
membantu dalam resoirasi udara dan menerima aliran darah dari cabang arteri. Adapun pada Anabas, terdapat
struktur yang bercabang-cabang yang disebut labirin yang terbentuk dari lengkung insang pertama dan terletak
pada celah lekukan dibagian sisi atas belakang kepala dekat dengan operkulum dan dilapisi epitel respirasi.
Dengan alat bantu tersebut memungkinkan ikan-ikan tersebut mampu hidup diluar air hingga waktu yang cukup
lama.
Gelembung renang merupakan karakter spesifik dari ikan dan sangat berkembang pada ikan teleostei dari
kelompok Acanthopterygii. Pada dasarnya gelembung renang merupakan organ alat bantu repirasi,
menghasilkan dan menerima suara, penyimpan lemak (misalnya pada ikan gonostomatid) dan organ hidrostatik
yang tersusun dari glandula-glandula gas yang dikelilingi pembuluh-pembuluh darah.
Pada sejumlah teleoestei, gelembung renang sama sekali tidak ada, misalnya pada Echeneiformes,
Symbranchiformes, Sacchopharyngiformes dan Gobeisocioformes. Jika gelembung renang ada, maka
bentuknya oval, fusiform dan berbentuk seperti jantung, tapal kuda atau lonceng.
Pada Cyprinidae, gelembung renang terdapat pada rongga perut atau melekat pada columna vertebralis oleh
keberadaan jaringan fibrosa. Gelembung renang tersebut terdiri dari dua ruang yang berhubungan satu denagn
yang lainnya. Pada ikan-ikan anggota Sparidae, Notopteridae dan Scombridae, gelembung renang berbentuk
seperti usus buntu atau kantung (coecum) yang meluas kearah ekor. Adapun pada sejumlah ikan, misalnya
Clarias batrachus, gelembung renang sangat tereduksi dan tertutup tulang. Pada ikan Gadus, dari gelembung
renang muncul bentukan seperti sepasang caeca yang meluas ke arah kepala.