Anda di halaman 1dari 44

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1; Pengenalan Alat beserta Fungsinya


4.1.1; Alat Beserta Fungsinya

Tabel 4.1
Hasil Pengamatan Pengenalan Alat beserta Fungsinya
No

Nama dan Gambar Alat

Fungsi

1.

Alat ini berfungsi untuk


mengambil larutan dengan
menghubungkan

Gambar 4.1 Balp

2.

Volumetrik.
Berfungsi sebagai
larutan

Gambar 4.2 Buret

3.

ke

yang

pipet
wadah

digunakan

untuk menitrasi.
Berfungsi untuk menolong
ketika memasukkan cairan

Gambar 4.3 Corong Gelas

kedalam

wadah

ukuran

diameter

dengan
yang

sempit.
Alat ini berfungsi untuk

4.

memanaskan crude oil.


Gambar 4.4 Electric Heater
Berfungsi untuk mengukur

5.

sampel larutan dengan skala


yang lebih besar.
Gambar 4.5 Gelas Kimia
6.

Alat ini berfungsi untuk


mengukur volume larutan
dengan

jumlah

tertentu

dengan tidak memerlukan


35 Analisa Fluida Reservoir

tingkat

Gambar 4.6 Gelas Ukur

7.

ketelitian

yang

tinggi.
Alat ini berfungsi untuk
mengukur specific gravity
minyak berat.

Gambar 4.7 Hydrometer


Specific Gravity Heavy Liquid

8.

Alat ini berfungsi untuk


mengukur specific gravity
minyak ringan.

Gambar 4.8 Hydrometer


Specific Gravity Light Liquid

9.

Berfungsi

sebagai

penampung

wadah

filtrat

atau

larutan yang dititrasi.


Gambar 4.9 Labu Erlenmeyer

10.

Alat ini berfungsi untuk


menampung

air

formasi

yang akan digunakan saat


praktikum.
Gambar 4.10 Labu Ukur

11.

Alat ini berfungsi untuk


menimbang
material

Gambar 4.11 Neraca Digital


12.

yang

materialberbentuk

serbuk, dalam satuan gram.


Berfungsi untuk menjepit
tabung reaksi.

Gambar 4.12 Penjepit Kayu


13.

Berfungsi untuk menutup


Gelas Kimia yang diisi oleh
es batu dan garam saat

Analisa Fluida Reservoir

percobaan Pengukuran Titik


Gambar 4.13 Penutup dari
Gabus

Kabut, Titik Beku dan Titik


Tuang.
Alat ini berfungsi untuk

14.

tingkat

keasaman

atau

kebasaan

Alat ini berfungsi untuk


mengambil

cairan

dalam

skala kecil.

Gambar 4.15 Pipet Tetes

16.

kadar

daari suatu larutan.

Gambar 4.14 pH Paper


15.

mengukur

Alat ini berfungsi untuk


mengambil larutan dalam
skala yang lebih tepat.

Gambar 4.16 Pipet


Volumetrik

17.

Alat ini berfungsi untuk


mengambil sisa crude oil
yang menempel pada gelas
ukur dan tabung reaksi pada

Gambar 4.17 Spatula

18.

saat dibersihkan.
Alat ini berfungsi untuk
mereaksikan larutan kimia
dalam skala kecil.

Gambar 4.18 Tabung Reaksi

19.

Alat ini berfungsi untuk


mengukur

suhu

atau

temperatur atau perbedaan


suhu.
Gambar 4.19 Thermometer
Batang
20.

Alat ini berfungsi untuk


menegakkan Buret ketika

Analisa Fluida Reservoir

proses titrasi.
Gambar 4.20 Tiang statif

21.

Alat ini berfungsi untuk


membersihkan sisa crude oil
maupun sisa cairan lainya
yang tersisa di peralatan

Gambar 4.21 Tissue

laboratorium

4.1.2; Pembahasan

Pada percobaan pertama ini membahas tentang Pengenalan


Alat berserta Fungsinya, dimana terdapat beberapa alat yang
digunakan. Balp berfungsi untuk mengambil larutan dengan pipet
volumetrik. Buret berfungsi sebagai wadah larutan yang digunakan
untuk menitrasi (titran). Corong gelas berfungsi untuk menolong pada
saat memasukkan cairan kedalan suatu wadah dengan mulut sempit
seperti: botol, buret dan lain-lain. Electric heater berfungsi untuk
memanaskan crude oil. Gelas kimia digunakan untuk mengukur
volume sampel larutan dengan skala yang lebih besar dan sebagai
wadah untuk menampung sampel larutan. Gelas ukur digunakan
untuk mengukur larutan dalam jumlah tertentu dengan tidak
memerlukan tingkat ketelitian tinggi. Hydrometer specific gravity
heavy liquid digunakan untuk mengukur specific gravity minyak
berat. Hydrometer specific gravity light liquid digunakan untuk
mengukur specific gravity minyak ringan. Labu erlenmeyer berfungsi
sebagai wadah untuk menampung titrat (larutan yang dititrasi). Labu
ukur berfungsi untuk menampung air formasi yang akan digunakan
saat praktikum. Neraca digital berfungsi untuk menimbang material

Analisa Fluida Reservoir

material yang berbentuk serbuk, dalam satuan gram. Penjepit kayu


berfungsi untuk menjepit tabung reaksi. Penutup dari gabus berfungsi
untuk menutup gelas kimia yang diisi oleh es batu dan garam saat
percobaan Pengukuran Titik Kabut, Titik Beku dan Titik Tuang. Pipet
tetes digunakan untuk mengambil larutan atau cairan dalam tetesan
kecil. Pipet volumetrik digunakan untuk mengambil larutan dengan
skala besar yang lebih tepat, pipet ini digunakan bersamaan dengan
balp. pH paper berfungsi untuk mengukur tingkatan kadar keasaman
atau kebasaan suatu larutan. Spatula berfungsi untuk mengambil sisa
crude oil yang menempel pada gelas ukur dan tabung reaksi pada saat
dibersihkan. Tabung reaksi digunakan sebagai tempat mereaksikan
bahan kimia dalam skala kecil. Thermometer batang digunakan untuk
mengukur suhu atau perubahan suhu. Tiang statif digunakan untuk
menegakkan buret ketika proses titrasi. Tissue berfungsi untuk
membersihkan sisa crude oil maupun sisa cairan lainya yang tersisa di
peralatan laboratorium.
Sebagian besar alat-alat laboratorium ini terbuat dari kaca,
seperti labu erlenmeyer, thermometer batang, pipet volumetrik, gelas
ukur, gelas kimia, hydrometer specific graviy heavy liquid,
hydrometer specific gravity light liquid, labu ukur, pipet tetes, tabung
reaksi, buret dan corong gelas. Sedangkan alat-alat yang terbuat selain
dari kaca adalah balp yang terbuat dari karet, penjepit kayu yang
terbuat dari kayu, tiang statif, electric heater, neraca digital dan
spatula yang terbuat dari besi dan penutup gabus yang terbuat dari
gabus serta ph paper dan tissue yang terbuat dari kertas.
4.1.3; Kesimpulan

Analisa Fluida Reservoir

Dari hasil praktikum yang dilakukan didapatkan kesimpulan,


yaitu :
1;

Prinsip kerja alat-alat laboratorium Analisa Fluida Reservoir yang


digunakan berbeda-beda juga menyesuaikan fungsi, bahan dasar
dan bentuk dari alat tersebut.

2;

Balp

berfungsi

untuk

mengambil

larutan

dengan

pipet

volumetrik.
3;

Buret berfungsi sebagai wadah larutan yang digunakan untuk


menitrasi (titran).

4;

Corong gelas berfungsi untuk menolong pada saat memasukkan


cairan kedalan suatu wadah dengan mulut sempit seperti: botol,
buret dan lain-lain.

5;

Electric heater berfungsi untuk memanaskan crude oil.

6;

Gelas kimia digunakan untuk mengukur volume sampel larutan


dengan skala yang lebih besar dan sebagai wadah untuk
menampung sampel larutan.

7;

Gelas ukur digunakan untuk mengukur larutan dalam jumlah


tertentu dengan tidak memerlukan tingkat ketelitian tinggi.

8;

Hydrometer specific gravity heavy liquid digunakan untuk


mengukur specific gravity minyak berat.

9;

Hydrometer specific gravity light liquid digunakan untuk


mengukur specefic gravity minyak ringan.

10;

Labu erlenmeyer berfungsi sebagai wadah untuk menampung


titrat (larutan yang dititrasi).

11;

Labu ukur berfungsi untuk menampung air formasi yang akan


digunakan saat praktikum.

Analisa Fluida Reservoir

12;

Neraca digital berfungsi untuk menimbang material material


yang berbentuk serbuk, dalam satuan gram.

13;

Penjepit kayu berfungsi untuk menjepit tabung reaksi.

14;

Penutup dari gabus berfungsi untuk menutup gelas kimia yang


diisi oleh es batu dan garam saat percobaan Pengukuran Titik
Kabut, Titik Beku dan Titik Tuang.

15;

Pipet tetes digunakan untuk mengambil larutan atau cairan dalam


tetesan kecil.

16;

Pipet volumetrik digunakan untuk mengambil larutan dengan


skala besar yang lebih tepat, pipet ini digunakan bersamaan
dengan balp.

17;

pH paper berfungsi untuk mengukur tingkatan kadar keasaman


atau kebasaan suatu larutan.

18;

Spatula berfungsi untuk mengambil sisa crude oil yang


menempel pada gelas ukur dan tabung reaksi pada saat
dibersihkan.

19;

Tabung reaksi digunakan sebagai tempat mereaksikan bahan


kimia dalam skala kecil.

20;

Thermometer batang digunakan untuk mengukur suhu atau


perubahan suhu.

21;

Tiang statif digunakan untuk menegakkan buret ketika proses


titrasi.

22;

Tissue berfungsi untuk membersihkan sisa crude oil maupun sisa


cairan lainya yang tersisa di peralatan laboratorium.

Analisa Fluida Reservoir

23;

Alat-alat laboratorium yang terbuat dari kaca, seperti labu


erlenmeyer, thermometer batang, pipet volumetrik, gelas ukur,
gelas kimia, hydrometer specific graviy heavy liquid, hydrometer
specific gravity light liquid, labu ukur, pipet tetes, tabung reaksi,
buret dan corong gelas.

24;

Alat-alat laboratorium yang terbuat dari karet adalah balp.

25;

Alat-alat laboratorium yang terbuat dari kayu adalah penjepit


kayu.

26;

Alat-alat laboratorium yang terbuat dari besi adalah tiang statif,


electric heater, neraca digital dan spatula.

27;

Alat-alat laboratorium yang terbuat dari gabus adalah penutup


gabus.

4.2; Penentuan Titik Kabut, Titik Beku dan Titik Tuang


4.2.1; Alat dan Bahan
a; Alat

Corong Gelas
Electric Heater
Gelas Kimia
Gelas Ukur
Penjepit Kayu
Penutup dari Gabus
Spatula
Tabung Reaksi
Thermometer Batang
Tissue

b; Bahan

Es Batu
Garam
Minyak Mentah Berat
Minyak mentah Ringan

Analisa Fluida Reservoir

4.2.2; Prosedur Percobaan


1;

Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam


praktikum.

2;

Menuangkan minyak mentah ringan sebanyak 10 mL ke dalam


gelas ukur.

3;

Menuangkan minyak mentah ringan yang berada di dalam gelas


ukur ke dalam tabung reaksi serta membersihkan dengan spatula
kaca.

4;

Mengisi gelas kimia 500 mL dengan es batu sampai penuh dengan


bongkahan es kecil.

5;

Menaburkan garam kasar secukupnya ke dalam gelas kimia agar


es tidak mencair.

6;

Menutup sampai rapat gelas kimia dengan penutup dari gabus.

7;

Memasukkan tabung reaksi yang berisi minyak mentah ringan ke


penutup gabus yang telah dilubangi sampai setengah dari tabung
reaksi berada didalam gelas kimia yang berisi campuran es dan
garam.

8;

Memasukkan thermometer batang ke dalam tabung reaksi, jangan


sampai menyentuh fluida yang berada didasar tabung reaksi.

9;

Mengamati tabung reaksi yang berada di dalam gelas kimia


sampai terjadi kabut pada dinding tabung reaksi.

10; Mencatat suhu pada thermometer batang sebagai nilai titik beku.
11; Mengamati kembali tabung reaksi yang berada di dalam gelas

kimia sampai membeku.


12; Mencatat suhu pada thermometer batang sebagai nilai titik beku.

Analisa Fluida Reservoir

10

13; Mengambil tabung reaksi dan thermometer batang berisi minyak

mentah ringan yang sudah membeku dengan penjepit kayu.


14; Memiringkan posisi tabung reaksi dan thermometer batang yang

berisi minyak mentah ringan sampai kemiringan 90 derajat.


15; Mengamati tabung reaksi sampai terlihat pertama kali minyak

mentah ringan yang membeku tadi mencair.


16; Mencatat suhu pada saat pertama kali minyak mentah ringan

mulai mengalir atau mencair sebagai nilai titik tuang.


17; Menuangkan minyak mentah berat sebanyak 10 mL ke dalam

gelas ukur.
18; Menuangkan minyak mentah berat yang berada di dalam gelas

ukur ke dalam tabung reaksi serta membersihkan dengan spatula


kaca.
19; Mengisi gelas kimia 500 mL dengan es batu sampai penuh dengan

bongkahan es kecil.
20; Menaburkan garam kasar secukupnya ke dalam gelas kimia agar

es tidak mencair.
21; Menutup sampai rapat gelas kimia dengan penutup dari gabus.
22; Memasukkan tabung reaksi yang berisi minyak mentah berat ke

penutup gabus yang telah dilubangi sampai setengah dari tabung


reaksi berada didalam gelas kimia yang berisi campuran es dan
garam.
23; Memasukkan thermometer batang ke dalam tabung reaksi, jangan

sampai menyentuh fluida yang berada didasar tabung reaksi.


24; Mengamati tabung reaksi reaksi yang berada di dalam gelas kimia

sampai terjadi kabut pada dinding tabung reaksi.

Analisa Fluida Reservoir

11

25; Mencatat suhu pada thermometer batang sebagai nilai titik beku.
26; Mengamati kembali tabung reaksi yang berada di dalam gelas

kimia sampai membeku.


27; Mencatat suhu pada thermometer batang sebagai nilai titik beku.
28; Mengambil tabung reaksi dan thermometer batang berisi minyak

mentah berat yang sudah membeku dengan penjepit kayu.


29; Memiringkan posisi tabung reaksi dan thermometer batang yang

berisi minyak mentah berat sampai kemiringan 90 derajat.


30; Mengamati tabung reaksi sampai terlihat pertama kali minyak

mentah berat yang membeku tadi mencair.


31; Mencatat suhu pada saat pertama kali minyak mentah berat mulai

mengalir atau mencair sebagai nilai titik tuang.


32; Memasukkan data yang didapatkan ke dalam tabel hasil

pengamatan.
33; Membersihkan dan merapihkan kembali alat dan bahan yang telah

digunakan.
4.2.3; Analisa Data

Tabel 4.2
Hasil Pengamatan Penentuan Titik Kabut, Titik Beku dan
Titik Tuang
Titik Kabut

Titik Beku

Titik Tuang

Light Crude Oil

21

25

Heavy Crude Oil

23

26

Crude Oil

4.2.4; Pengolahan Data


a; Light Crude Oil

Analisa Fluida Reservoir

12

Titik Kabut
Diketahui : Temperatur

= 21 oC

Ditanya

: Temperatur (oF)

= ... ?

Jawab

: oF

=
=

(95 x o C) + 32 F
(95 x 21 C) + 32 F
o

= 69,8 oF

Titik Beku
Diketahui : Temperatur

= 7 oC

Ditanya

: Temperatur (oF)

= ... ?

Jawab

: oF

=
=

(95 x o C) + 32 F
(95 x 7 C) + 32 F
o

= 44,6 oF

Titik Tuang
Diketahui : Temperatur

= 25 oC

Ditanya

: Temperatur (oF)

= ... ?

Jawab

: oF

=
=

(95 x o C) + 32 F
(95 x 25 C) + 32 F
o

= 77 oF
b; Heavy Crude Oil

Titik Kabut
Diketahui : Temperatur

= 23 oC

Analisa Fluida Reservoir

13

Ditanya

: Temperatur (oF)

= ... ?

Jawab

: oF

(95 x o C) + 32 F
9
`= ( x 23 C) + 32 F
5
o

= 73,4 oF

Titik Beku
Diketahui : Temperatur

= 9 oC

Ditanya

: Temperatur (oF)

= ... ?

Jawab

: oF

(95 x o C) + 32 F
(95 x 9 C) + 32 F
o

= 48,2 oF

Titik Tuang
Diketahui : Temperatur

= 26 oC

Ditanya

: Temperatur (oF)

= ... ?

Jawab

: oF

(95 x o C) + 32 F
(95 x 26 C) + 32 F
o

= 78,8 oF
Tabel 4.3
Hasil Pengolahan Data Penentuan Titik Kabut, Titik Beku dan
Titik Tuang
Titik Kabut

Titik Beku

Titik Tuang

Crude Oil
o

Analisa Fluida Reservoir

14

Light Crude Oil

21

69,8

44,6

25

77

Heavy Crude Oil

23

73,4

48,2

26

78,8

4.2.5; Pembahasan

Pada praktikum percobaan kedua ini dengan judul Penentuan


Titik Kabut, Titik Tuang dan Titik Beku. Praktikum ini bertujuan agar
praktikan dapat mengetahui cara penggunaan alat-alat laboratorium
dengan baik dan benar. Menentukan titik kabut (cloud point) crude oil.
Menentukan titik tuang (pour point) crude oil. Menentukan titik beku
crude oil. Mengetahui pengaruh titik kabut, titik beku dan titik tuang
pada fluida reservoir.
Minyak mentah (crude oil) akan mengalami perubahan bentuk
ketika diproduksikan dari dalam sumur kepermukaan karena
perbedaan temperature. Hal tersebut akan menimbulkan masalah pada
waktu proses transportasi jika crude oil membeku didalam flow line.
Untuk mengatasi masalah tersebut digunakan heater agar temperature
tetap terjaga. Dengan diketahui titik kabut, titik tuang dan titik beku
dari crude oil. Yang diproduksi akan dapat ditentukan apakah flow

Analisa Fluida Reservoir

15

line memerlukan heater atau tidak dan setiap berapa feet sekali perlu
dipasang heater bila alat itu dibutuhkan.
Alat yang digunakan pada percobaan Penentuan Titik Kabut,
Titik Beku dan Titik Tuang adalah corong gelas, electric heater, gelas
kimia, gelas ukur, penjepit kayu, penutup dari gabus, spatula, tabung
reaksi, thermometer batang dan tissue. Sedangkan bahan yang
diperlukan adalah es batu, garam, minyak mentah berat dan minyak
mentah ringan
Pada percobaan kali ini tentang Penentuan titik Kabut, titik
Tuang dan Titik Beku pada minyak mentah ringan adalah yang
pertama-tama yaitu kita harus menyiapkan alat dan bahan yang akan
digunakan dalam praktikum. Menuangkan minyak mentah ringan
sebanyak 10 mL ke dalam gelas ukur. Menuangkan minyak mentah
ringan yang berada di dalam gelas ukur ke dalam tabung reaksi serta
membersihkan dengan spatula kaca. Mengisi gelas kimia 500 mL
denngan es batu sampai penuh dengan bongkahan es kecil.
Menaburkan garam kasar secukupnya ke dalam gelas kimia agar es
tidak mencair. Menutup sampai rapat gelas kimia dengan penutup dari
gabus. Memasukkan tabung reaksi yang berisi minyak mentah ringan
ke penutup gabus yang telah dilubangi sampai setengah dari tabung
reaksi berada didalam gelas kimia yang berisi campuran es dan garam.
Memasukkan thermometer batang ke dalam tabung reaksi, jangan
sampai menyentuh fluida yang berada didasar tabung reaksi.

Analisa Fluida Reservoir

16

Mengamati tabung reaksi reaksi yang berada di dalam gelas kimia


sampai terjadi kabut pada dinding tabung reaksi. Mencatat suhu pada
thermometer batang sebagai nilai titik beku. Mengamati kembali
tabung reaksi yang berada di dalam gelas kimia sampai membeku.
Mencatat suhu pada thermometer batang sebagai nilai titik beku.
Mengambil tabung reaksi dan thermometer batang berisi minyak
mentah ringan yang sudah membeku dengan penjepit kayu.
Memiringkan posisi tabung reaksi dan thermometer batang yang berisi
minyak mentah ringan sampai kemiringan 90 derajat. Mengamati
tabung reaksi sampai terlihat pertama kali minyak mentah ringan yang
memebeku tadi mencair. Mencatat suhu pada saat pertama kali minyak
mentah ringan mulai mengalir atau mencair sebagai nilai titik tuang.
Sedangkan untuk minyak berat yang harus dilakukan yaitu
menuangkan minyak mentah berat sebanyak 10 mL ke dalam gelas
ukur. Menuangkan minyak mentah berat yang berada di dalam gelas
ukur ke dalam tabung reaksi serta membersihkan dengan spatula kaca.
Mengisi gelas kimia 500 mL denngan es batu sampai penuh dengan
bongkahan es kecil. Menaburkan garam kasar secukupnya ke dalam
gelas kimia agar es tidak mencair. Menutup sampai rapat gelas kimia
dengan penutup dari gabus. Memasukkan tabung reaksi yang berisi
minyak mentah berat ke penutup gabus yang telah dilubangi sampai
setengah dari tabung reaksi berada didalam gelas kimia yang berisi
campuran es dan garam. Memasukkan thermometer batang ke dalam

Analisa Fluida Reservoir

17

tabung reaksi, jangan sampai menyentuh fluida yang berada didasar


tabung reaksi. Mengamati tabung reaksi reaksi yang berada di dalam
gelas kimia sampai terjadi kabut pada dinding tabung reaksi. Mencatat
suhu pada thermometer batang sebagai nilai titik beku. Mengamati
kembali tabung reaksi yang berada di dalam gelas kimia sampai
membeku. Mencatat suhu pada thermometer batang sebagai nilai titik
beku. Mengambil tabung reaksi dan thermometer batang berisi
minyak mentah berat yang sudah membeku dengan penjepit kayu.
Memiringkan posisi tabung reaksi dan thermometer batang yang berisi
minyak mentah berat sampai kemiringan 90 derajat. Mengamati
tabung reaksi sampai terlihat pertama kali minyak mentah berat yang
memebeku tadi mencair. Mencatat suhu pada saat pertama kali minyak
mentah berat mulai mengalir atau mencair sebagai nilai titik tuang.
Memasukkan data yang didapatkan ke dalam tabel hasil pengamatan.
Membersihkan dan merapihkan kembali alat dan bahan yang telah
digunakan.
Dari percobaan yang telah dilakukan tentang Penentuan Titik Kabut,
Titik Beku dan Titik Tuang ini didapatkan data pada Tabel 4.3Hasil
Pengolahan Data Penentuan Titik Kabut, Titik Beku dan Titik Tuang
untuk Light Crude Oil memiliki titik kabut sebesar 21 oC yang setelah
dikonversikan menjadi 69,8oF, titik beku 7oC yang setelah
dikonversikan menjadi 44,6oF dan titik tuang 25oC yang setelah
dikonversikan menjadi 77oF. Sedangkan untuk Tabel 4.3Hasil
Pengolahan Data Penentuan Titik Kabut, Titik Beku dan Titik Tuang

Analisa Fluida Reservoir

18

untuk Heavy Crude Oil memiliki titik kabut 23oC yang setelah
dikonversikan 73,4oF, titik beku 9oC yang setelah dikonversikan
menjadi 48,2oF dan titik tuang 26oC yang setelah dikonversikan
menjadi 78,8oF.
Sehingga didapat kesimpulan bahwa minyak ringan termasuk
jenis crude oil LPPO (Low Pour Point Oil) yang mempunyai
viskositas rendah karena mengandung sedikit parafin serta memiliki
kualitas yang tinggi. Sedangkan sampel minyak berat termasuk jenis
crude oil HPPO (High Pour Point Oil) yang mempunyai viskositas
tinggi karena banyak mengandung residu berupa parafin atau padatan
lain serta memiliki kualitas yang rendah. Minyak berat lebih cepat
mengalir dibandingkan minyak mentah ringan karena minyak mentah
berat lebih banyak mengandung parafin, sehingga padatan-padatan
atau parafin tersebut akan mengumpul, memisahkan diri dari larutan
ketika didinginkan.
4.2.6; Analisa Kesalahan

Pada praktikum kali ini terdapat beberapa kesalahan, antara


lain :
Setelah ditentukan titik kabutnya (untuk tabung reaksi berisi heavy
crude oil), thermometer batang tidak dimasukkan lagi ke crude oil
nya, akibatnya akan sulit dalam menentukan titik tuangnya.
4.2.7; Kesimpulan

Pada praktikum kali ini dapat diambil beberapa kesimpulan,


antara lain :

Analisa Fluida Reservoir

19

1; Titik kabut (cloud point) merupakan temperatur terendah dimana


parafin atau padatan lain mulai mengkristal dan memisahkan diri
dari larutan bila minyak mentah didinginkan.
2; Titik beku merupakan temperatur terendah dimana minyak mentah
tidak dapat bergerak lagi ketika didinginkan.
3; Titik tuang merupakan temperatur terendah dimana minyak mentah
masih dapat dituangkan atau mengalir bila minyak tersebut
didinginkan.
4; Titik kabut, titik beku dan titik tuang perlu diketahui pada fluida
reservoir karena akan berpengaruh pada pensettingan heater atau
alat yang dipasang pada pipa untuk menstabilitaskan temperatur
agar tetap stabil sejak di reservoir hingga mencapai permukaan.
5; Titik kabut, titik beku dan titik tuang suatu reservoir dipengaruhi
oleh suatu komposisi penyusun minyak.
6; Titik tuang dapat digunakan sebagai petunjuk mengenai besarnya
kandungan reakstif dalam minyak bumi dan produknya, juga untuk
menunjukkan suhu terendah dimana minyak bumi dan produknya
masih dapat dipompa.
7; Dari percobaan yang telah dilakukan tentang Penentuan Titik
Kabut, Titik Beku dan Titik Tuang ini didapatkan data pada Tabel
4.3Hasil Pengolahan Data Penentuan Titik Kabut, Titik Beku dan
Titik Tuang untuk Light Crude Oil memiliki titik kabut sebesar
21oC yang setelah dikonversikan menjadi 69,8 oF, titik beku 7oC
yang setelah dikonversikan menjadi 44,6 oF dan titik tuang 25oC
yang setelah dikonversikan menjadi 77oF.
8; Dari percobaan yang telah dilakukan tentang Penentuan Titik
Kabut, Titik Beku dan Titik Tuang ini didapatkan data pada Tabel

Analisa Fluida Reservoir

20

4.3Hasil Pengolahan Data Penentuan Titik Kabut, Titik Beku dan


Titik Tuang untuk Heavy Crude Oil memiliki titik kabut 23oC yang
setelah dikonversikan 73,4oF, titik beku 9oC yang setelah
dikonversikan menjadi 48,2oF dan titik tuang 26oC yang setelah
dikonversikan menjadi 78,8oF.

4.3; Penentuan Specific Gravity


4.3.1; Alat dan Bahan
a; Alat

Electric Heater
Gelas Kimia

Gelas Ukur 500 mL

Hydrometer Specific Gravity Heavy Liquid

Hydrometer Specific Gravity Light Liquid

Spatula
Thermometer Batang
Tissue
b; Bahan

Minyak Mentah Berat 500 mL


Minyak mentah Ringan 500 mL
4.3.2; Prosedur Percobaan
1

Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam


praktikum.

Mengambil sampel minyak mentah ringan pada gelas kimia dan


menuanngkan kedalam gelas ukur 500 mL sebanyak 500 mL
untuk minyak mentah ringan.

Analisa Fluida Reservoir

21

Mengukur specific gravity pada minyak mentah ringan dengan


cara memasukkan hydrometer specific gravity light liquid
kedalam gelas ukur tanpa memberikan gaya.

Mengamati nilai skala yang muncul pada hydrometer specific


gravity light liquid untuk minyak mentah ringan.

Memasukkan thermometer batang ke dalam gelas ukur untuk


minyak mentah ringan kemudian mencatat skala yang didapatkan
untuk nilai temperaturnya.

Mengambil sampel minyak mentah berat pada gelas kimia dan


menuangkan ke dalam gelas ukur 500 mL sebanyak 500 mL
untuk minyak mentah berat.

Mengukur specific gravity pada minyak mentah berat dengan cara


memasukkan hydrometer specific gravity heavy liquid ke dalam
gelas ukur tanpa memberikan gaya.

Mengamati nilai skala yang muncul pada hydrometer specific


gravity heavy liquid untuk minyak mentah berat.

Memasukkan thermometer batang ke dalam gelas ukur untuk


minyak mentah berat kemudian mencatat skala yang didapatkan
untuk nilai temperaturnya.

10 Memasukkan

data yang didapatkan kedalam tabel hasil

pengamatan.
11 Membersihkan dan merapihkan kembali alat dan bahan yang telah

digunakan.
4.3.3; Analisa Data

Tabel 4.4
Hasil Pengamatan Specific Gravity dan oAPI
Minyak Ringan

Minyak Berat

Analisa Fluida Reservoir

22

Volume Sampel
Nilai SG Ukur
Nilai oAPI
Temperatur Ukur
Nilai SG True
Nilai oAPI True

500 mL
0,83
39oAPI
32 oC
90 oF
0,851
34,77 oAPI

500 mL
0,88
29oAPI
32 oC
90 oF
0,9008
25,72 oAPI

4.3.4; Pengolahan Data


a; Sampel Minyak Ringan

Nilai oAPI Ukur


Diketahui : SG Ukur
Ditanya

: oAPI

Jawab

= 0,83
= ... ?

API

API

API

141,5
= SG
141,5
= 0,83

131,5
131,5

= 38,98 oAPI
= 39 oAPI

Nilai Temperature Ukur


= 32 oC

Diketahui

: Temperatur

Ditanya

: Temperatur oF = ... ?
9
: 0F
= 5 x o C + 32 oF
9
o
= 5 x 32 C + 32 oF

Jawab

(
(

= 89,6 oF
= 90 oF
Tabel 4.5
Correction of Observed Degress oAPI to Degress oAPI for
Light Crude Oil

Analisa Fluida Reservoir

23

API

F
Terdekat
89
Terukur
90
Terjauh
91

Terdekat
38

Terukur
39

35,9

36,85

35,7

Diketahui : oAPI terjauh

36,65

= 40 oAPI

= 39 oAPI

= 38 oAPI

API terukur
API terdekat

API terjauh pada temperatur


= 37,8 oAPI

terdekat
o

API terdekat pada temperatur


= 35,9 oAPI

terdekat
: oAPI terukur pada temperatur
terdekat
Jawab
:
API terjauh - API terukur
API terjauh API terdekat

37,8

36,75

Nilai oAPI terukur pada temperatur terdekat

Ditanya

Terjauh
40

= ... ?

API terjauh terhadap F terdekat - API terukur terhadap F terdekat


API terjauh terhadap F terdekat - API terdekat terhadap F terdekat
4039
40 - 38

37,8 - API terukur terhadap F terdekat


= 37,8 35,9
37,8 - API terukur terhadap F terdekat
0,5
= 1,9
o
API terukur terhadap temperatur terdekat
= 36,85 oAPI

Analisa Fluida Reservoir

37,6

24

Nilai oAPI terukur pada temperatur terjauh


Diketahui : oAPI terjauh

= 40 oAPI

= 39 oAPI

= 38 oAPI

API terukur
API terdekat

API terjauh pada temperatur


= 37,6 oAPI

terjauh
o

API terdekat pada temperatur


= 35,7 oAPI

terjauh
Ditanya

: 0API terukur pada temperatur


terjauh

Jawab
:
API terjauh- API terukur
API terjauh- API terdekat

= ... ?

API terjauh terhadap F ter jauh - API terukur terhadap F terjauh


API terjauh terhadap F ter jauh - API terdekat terhadap F ter jauh
4039
40 - 38

37,6 - API terukur terhadap F terjauh


= 37,6 35,7
37,8 - API terukur terhadap F terjauh
0,5
= 1,9
0
API terukur terhadap temperatur terjauh = 36,65 oAPI

Nilai 0API terukur pada temperatur terukur


= 90 oF
= 89 oF

Diketahui : Temperatur terukur


Temperatur terdekat

= 91 oF

Temperatur terjauh
o

API terukur pada temperatur

terdekat

= 36,85 oAPI

Analisa Fluida Reservoir

25

API terukur pada temperatur


= 36,65 oAPI

terjauh
Ditanya

: oAPI terukur pada temperatur


terukur

Jawab
:
F terjauh - F terukur
F terjauh - F terdekat

= ... ?

API terjauh ter ukur F terjauh - API terukur terhadap F terukur


AP I terjauh terukur F terjauh - API ter ukur terhadap F terdekat
9190
3 6,65 - API terukur terhadap F terukur
= 3 6,65 3 6,85
91 - 89
1
3 6,65 - API terukur terhadap F terukur
= - 0,2
2
0
API terukur terhadap temperatur terukur = 36,75 oAPI

Nilai Specific Gravity Koreksi


Diketahui

: 0API terukur pada temperatur terukur = 36,75 oAPI

Ditanya

: SG koreksi

Jawab

= ... ?
141,5
: SG koreksi = 131,5+ API terukur pada F terukur
141,5
= 131,5+ 36,75
= 0,84

Nilai Specific Gravity True


Diketahui : SG koreksi

Ditanya

= 0,84

Faktor koreksi

= 0,00037

Temperatur ukur

= 90 0F

Temperatur standar

= 60 0F

: SG True

= ... ?

Analisa Fluida Reservoir

26

Jawab

: SG True

= SG koreksi + [faktor koreksi


(temperatur ukur - temperatur standar)]
= 0,84 + [0,00037 (90 60)]
= 0,851

Nilai 0API True


Diketahui : SG True

= 0,851

Ditanya

: 0API True

Jawab

: 0API True
0

API True

API True

= ... ?
141,5
131,5
= SG True
141,5

131,5
=
0,851
= 34,77 0API

Jadi, nilai specific gravity true dan nilai oAPI true untuk minyak
ringan masing-masing adalah 0,851 dan 34,77 oAPI.
b; Sampel Minyak Berat

Nilai oAPI Ukur


Diketahui : SG Ukur
Ditanya

: oAPI

Jawab

= 0,88
= ... ?

API

API

API

141,5
= SG
141,5
= 0,88

131,5
131,5

= 29,29 oAPI
= 29 oAPI

Nilai Temperatur Ukur


= 32 oC

Diketahui

: Temperatur

Ditanya

: Temperatur oF = ... ?
9
: 0F
= 5 xoC

Jawab

+ 32 oF

Analisa Fluida Reservoir

27

(95 x 32 C)
o

+ 32 oF

= 89,6 oF
= 90 oF
Tabel 4.6
Correction of Observed Degress oAPI to Degress oAPI for
Heavy Crude Oil
o

API

F
Terdekat
89
Terukur
90
Terjauh
91

Terdekat
28

Terukur
29

26,2

26,2

26

Diketahui : oAPI terjauh

27

= 30 oAPI

= 29 oAPI

= 28 oAPI

API terukur
API terdekat

API terjauh pada temperatur


= 28,1 oAPI

terdekat
o

API terdekat pada temperatur


= 26,2 oAPI

terdekat
: oAPI terukur pada temperatur
terdekat
Jawab

28,1

26,6

Nilai oAPI terukur pada temperatur terdekat

Ditanya

Terjauh
30

= ... ?

Analisa Fluida Reservoir

28

28

API terjauh - API terukur


API terjauh - API terdekat

API terjauh terhadap F terdekat - API terukur terhadap F terdekat


API terjauh terhadap F terdekat - API terdekat terhadap F terdekat
3 0 2 9
30 -28

28,1 - API terukur terhadap F terdekat


= 28,1 - 26,2
28,1 - API terukur terhadap F terdekat
0,5
= 1,9
o
API terukur terhadap temperatur terdekat
= 26,2 oAPI

Nilai oAPI terukur pada temperatur terjauh


Diketahui : oAPI terjauh

= 30 oAPI

= 29 oAPI

= 28 oAPI

API terukur
API terdekat

API terjauh pada temperatur


= 28 oAPI

terjauh
o

API terdekat pada temperatur


= 26 oAPI

terjauh
Ditanya

: 0API pada temperatur terjauh = ... ?

Jawab
:
API terjauh - API terukur
API terjauh API terdekat

API terjauh terhadap F ter jauh - API terukur terhadap F terjauh


API terjauh terhadap F ter jauh - API terdekat terhadap F ter jauh
302 9
30 - 2 8

28 - API terukur terhadap F terjauh


= 28 - 26
37,8 - API terukur terhadap F terjauh
0,5
= 2
0
API terukur terhadap temperatur terjauh = 27 oAPI
c; Nilai 0API terukur pada temperatur terukur

Diketahui : Temperatur Terukur

= 90 oF

Analisa Fluida Reservoir

29

Temperatur Terdekat

= 89 oF

Temperatur Terjauh

= 91 oF

API terukur pada temperatur


= 26,2 oAPI

terdekat
o

API terukur pada temperatur


= 27 oAPI

terjauh
Ditanya

: oAPI terukur pada temperatur


terukur

Jawab
:
F terjauh- F terukur
F terjauh- F terdekat

= ... ?

API terjauh ter ukur F terjauh- API terukur terhadap F terukur


AP I terjauh terukur F terjauh- API ter ukur terhadap F terdekat
91 90
27 - API terukur terhadap F terukur
= 27 - 26,2
91 - 89
1
27 - API terukur terhadap F terukur
= 0,8
2
0
API terukur terhadap temperatur terukur = 26,6 oAPI

Nilai Specific Gravity Koreksi


Diketahui

: 0API terukur pada temperatur terukur = 26,6 oAPI

Ditanya

: SG koreksi

Jawab

= ... ?
141,5
: SG koreksi = 131,5+ API terukur pada F terukur
141,5
= 131,5+ 26,6
= 0,89

Nilai Specific Gravity True


Diketahui : SG koreksi

= 0,89

Faktor koreksi

= 0,00036

Temperatur ukur

= 90 0F

Analisa Fluida Reservoir

30

= 60 0F

Temperatur standar
Ditanya

: SG True

= ... ?

Jawab

: SG True

= SG koreksi + [faktor koreksi


(temperatur ukur - temperatur standar)]
= 0,89 + [0,00036 (90 60)]
= 0,9008
= 0,9

Nilai 0API True


Diketahui : SG True
Ditanya

: 0API True

Jawab

: 0API True
0

API True

API True

= 0,9
= ... ?
141,5
131,5
= SG True
141,5

131,5
=
0,9
= 25,72 0API

Jadi, nilai specific gravity true dan nilai oAPI true untuk minyak
berat masing-masing adalah 0,9 dan 25,72 oAPI.
4.3.5; Pembahasan

Pada percobaan tentang Penentuan Specific Gravity ini


bertujuan agar menentukan specific gravity minyak mentah ringan
pada temperatur 60oF. Menentukan specific gravity minyak mentah
berat pada temperatur 60oF. Menentukan oAPI Ukur dari minyak
mentah berat dan minyak mentah ringan. Menentukan temperatur
terukur dari minyak mentah berat dan minyak mentah ringan.
Menentukan nilai specific gravity true dari minyak mentah berat dan
minyak mentah ringan. Dan menentukan nilai oAPI true dari minyak
mentah berat dan minyak mentah ringan.

Analisa Fluida Reservoir

31

Dalam dunia perminyakan biasanya berat jenis dinyatakan


dalam specific gravity. Hal tersebut merupakan salah satu dari
berbagai sifat crude oil. specific gravity crude oil didefinisikan air
yang diukur pada tekanan dan temperatur yang sama. Biasanya diukur
pada kondisi standard. Besarnya specific gravity suatu crude oil
sangat dipengaruhi oleh themperature lingkungannya, semakin besar
themperature maka semakin kecil nilai specific gravity. Hal tersebut
terjadi karena komposisi crude oil akan merubah seiring dengan
berubahnya temperatur. Karena itu besarnya specific gravity yang
menjadi pembicaraan tentang sifat fisik crude oil adalah specific
gravity yang diukur pada themperature dan tekanan standard (60F,
14,7 Psi), selain itu, didalam industri perminyakan juga digunakan
besaran specific gravity yang lain, yaitu API gravity.
Alat yang digunakan pada percobaan tentang Penentuan
Specific Gravity adalah electric heater, gelas kimia, gelas ukur 500
ml, hydrometer specific gravity heavy liquid, hydrometer specific
gravity light liquid, spatula, thermometer batang dan tissue.
Sedangkan bahan yang di perlukan pada praktikum kali ini adalah
minyak mentah berat 500 mL dan minyak mentah ringan 500 mL.
Percobaan ini berjudul Penentuan Specific Gravity. Hal yang
pertama kali dilakukan pada percobaan ini adalah menyiapkan alat dan
bahan yang akan digunakan dalam praktikum. Mengambil sampel
minyak mentah ringan pada gelas kimia dan menuangkan ke dalam
gelas ukur 500 mL sebanyak 500 mL untuk minyak mentah ringan.
Mengukur specific gravity pada minyak mentah ringan dengan cara
memasukkan hydrometer specific gravity light liquid ke dalam gelas

Analisa Fluida Reservoir

32

ukur tanpa memberikan gaya. Mengamati nilai skala yang muncul


pada hydrometer specific gravity light liquid untuk minyak mentah
ringan. Memasukkan thermometer batang ke dalam gelas ukur untuk
minyak mentah ringan kemudian mencatat skala yang didapatkan
untuk nilai temperaturnya. Mengambil sampel minyak mentah berat
pada gelas kimia dan menuangkan ke dalam gelas ukur 500 mL
sebanyak 500 mL untuk minyak mentah berat. Mengukur specific
gravity pada minyak mentah berat dengan cara memasukkan
hydrometer specific gravity heavy liquid ke dalam gelas ukur tanpa
memberikan gaya. Mengamati nilai skala yang muncul pada
hydrometer specific gravity heavy liquid untuk minyak mentah berat.
Memasukkan thermometer batang ke dalam gelas ukur untuk minyak
mentah berat kemudian mencatat skala yang didapatkan untuk nilai
temperaturnya. Memasukkan data yang didapatkan kedalam tabel
hasil pengamatan. Membersihkan dan merapihkan kembali alat dan
bahan yang telah digunakan.
Hasil pengamatan dari percobaan tentang Penentuan Specific
Gravity didapatkan sampel minyak ringan volume sampel nya
sebanyak 500 mL, nilai specific gravity ukurnya sebesar 0,83, nilai
0

API nya 39 0API, nilai temperatur ukurnya 32 0C yang dikonversi ke

derajat fahrenheit menjadi 90 0F, nilai specific gravity true nya sebesar
0,851, nilai 0API true nya sebesar 34,77 0API. Sedangkan untuk
sampel minyak berat volume sampel nya sebanyak 500 mL, nilai
specific gravity ukurnya sebesar 0,88, nilai 0API nya 29 0API, nilai
temperatur ukurnya 32 0C yang dikonversi ke derajat fahrenheit

Analisa Fluida Reservoir

33

menjadi 900F, nilai specific gravity true nya sebesar 0,9008, nilai 0API
true nya sebesar 25,72 0API.
Hasil pengolahan data yang didapat pada percobaan tentang
Penentuan Specific Gravity pada minyak ringan yaitu didapat nilai
0

API ukurnya sebesar 39 0API, nilai temperatur ukur sebesar 900F,

nilai 0API terukur pada temperatur terdekat sebesar 36,85 0API. Nilai
0

API terukur pada temperatur terjauh sebesar 36,65 0API. Nilai 0API

terukur pada temperatur terukur yaitu sebesar 36,75 0API. Nilai


specific gravity koreksi sebesar 0,84, nilai specific gravity true sebesar
0,851, nilai 0API true sebesar 34,77 0API.
Sedangkan hasil pengolahan data yang didapat pada percobaan
tentang Penentuan Specific Gravity pada minyak berat yaitu didapat
nilai 0API ukurnya sebesar 29 0API, nilai temperatur ukur sebesar
900F, nilai 0API terukur pada temperatur terdekat sebesar 26,2 0API.
Nilai 0API terukur pada temperatur terjauh sebesar 27 0API. Nilai 0API
terukur pada temperatur terukur yaitu sebesar 26,6 0API. Nilai specific
gravity koreksi sebesar 0,89, nilai specific gravity true sebesar 0,9008,
nilai 0API true sebesar 25,72 0API.
Sehingga

dapat

disimpulkan

bahwa

gravitasi

menunjukkan kualitas minyak, semakin kecil harga

bumi
specific

gravitynya atau semakin tinggi harga 0API gravitynya maka minyak


tersebut semakin berharga, begitu juga sebaliknya.
4.3.6; Analisa Kesalahan

Dari praktikum Penentuan Specific Gravity terdapat beberapa


kesalahan, antara lain :

Analisa Fluida Reservoir

34

Kurangnya keahlian dalam membaca nilai specific gravity pada


hydrometer specific gravity light liquid.

Kurang kompaknya kerjasama kelompok, karena salah satu


kelompok masih kurang memahami praktikum tersebut.

Kurang fokus dalam melakukan praktikum, karena pada saat


peraktikum

kurang

memperhatikan

praktikan

pada

saat

menjelaskan.
4.3.7; Kesimpulan

Pada praktikum kali ini dapat diambil kesimpulan antara lain :


1; Specific gravity dari minyak bumi adalah perbandingan antara
densitas minyak dengan densitas air pada saat temperatur dan
tekanan standar.
2; Semakin tinggi 0API maka semakin berharga minyak mentah,
sedangkan 0API semakin rendah maka minyak mentah banyak
mengandung residu aspal atau lilin.
3; Jika 0API tinggi maka nilai specific gravity rendah, sebaliknya jika
0

API rendah maka nilai specific gravity tinggi. Nilai

API

berbanding terbalik dengan nilai specific gravity.


4; Dari percobaan didapat hasil pengolahan data yang didapat pada
percobaan tentang penentuan specific gravity pada minyak ringan
yaitu didapat nilai 0API ukurnya sebesar 39 0API, nilai temperatur
ukur sebesar 900F, nilai 0API terukur pada temperatur terdekat
sebesar 36,85 0API. Nilai 0API terukur pada temperatur terjauh
sebesar 36,65 0API. Nilai 0API terukur pada temperatur terukur
yaitu sebesar 36,75 0API. Nilai specific gravity koreksi sebesar

Analisa Fluida Reservoir

35

0,84, nilai specific gravity true sebesar 0,851, nilai 0API true
sebesar 34,77 0API.
5; Dari percobaan didapat hasil pengolahan data yang didapat pada
percobaan tentang penentuan specific gravity pada minyak berat
yaitu didapat nilai 0API ukurnya sebesar 29 0API, nilai temperatur
ukur sebesar 900F, nilai 0API terukur pada temperatur terdekat
sebesar 26,2 0API. Nilai 0API terukur pada temperatur terjauh
sebesar 27 0API. Nilai 0API terukur pada temperatur terukur yaitu
sebesar 26,6 0API. Nilai specific gravity koreksi sebesar 0,89, nilai
specific gravity true sebesar 0,9008, nilai 0API true sebesar 25,72
0

API.

4.4; Analisa Kimia Air Formasi I


4.4.1 Alat dan Bahan
a; Alat
Balp
Buret
Corong Gelas
Gelar Kimia
Gelas Ukur
Labu Erlenmeyer
Labu Ukur
Neraca Digital
pH Paper
Pipet Tetes
Pipet Volumetrik
Spatula
Tiang Statif
Tissue
b; Bahan
Air Formasi
Aquadest

Indikator Phenolphthalein (PP)

Analisa Fluida Reservoir

36

Indikator Metyl Orange (MO)


Larutan H2SO4 0,02 N

4.4.2

Larutan NaOH 20%

Prosedur Percobaan
1;

Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam


praktikum.

2;

Mengambil air formasi dengan menggunakan pipet volumetrik


dan Balp sebanyak 2 mL.

3;

Mengambil air formasi yang sudah diambil sebanyak 2 mL


kedalam labu Erlenmeyer.

4;

Memasukkan pH Paper

ke dalam labu Erlenmeyer untuk

mengetahui pH dari air formasi.


5;

Membaca pengukuran pH dengan pH Paper.

6;

Meneteskan larutan NaOH 20% sebanyak dua tetes ke dalam


labu Erlenmeyer dengan menggunakan pipet tetes.

7;

Meneteskan indikator Phenolphthalein sebanyak dua tetes


kedalam labu Erlenmeyer, air formasi berubah menjadi warna
ungu.

8;

Mengisi

buret

dengan

larutan

H2SO4 0,02

dengan

ditambahkan

larutan

menggunakan corong gelas sampai skala nol.


9;

Menitrasi air

formasi

yang

telah

NaOH 20% dan indikator Phenolphthalein engan larutan H2SO4


0,02 N.
10; Menghentikan titrasi ketika warna pada air formasi dalam labu

Erlenmeyer telah berubah menjadi warna bening.


11; Membaca skala pada buret sebagai nilai volume P.

Analisa Fluida Reservoir

37

12; Menambahkan indikator Methyl Orange sebanyak dua tetes ke

dalam labu Erlenmeyer berisi air formasi yang sudah di titrasi,


kemudian warna air formasi berubah menjadi orange.
13; Menitrasi kembali air formasi tersebut dengan larutan H2SO4

0,02 N yang dipakai pada titrasi awal sampai warna sampel


larutan menjadi merah bening.
14; Membaca skala pada buret sebagai volume M.
15; Mencatat tortal volume yang habis terpakai untuk nilai volume P

dan nilai volume M.


16; Memasukkan data yang didapatkan ke dalam tabel hasil

pengamatan.
17; Menentukan kandungan [HCO-3], [CO-3] dan [OH-] dengan

mengolah data yang diperoleh.


18; Membersihkan dan merapihkan kembali alat dan bahan yang

telah digunakan.
4.4.3

Analisa Data
a; Penentuan pH

pH air formasi

= 10

b; Penentuan Alkalinitas

Reagenesa

= Indikator PP (Phenolphthalein)

Volume sampel

= 2 mL

Volume P

= 15,8 mL

Volume M

= 18,2 mL

Kebasaan P

= 7,9 Me/L

Kebasaan M

= 9,1 Me/L

Sifat kebasaan disebabkan oleh

Analisa Fluida Reservoir

38

HCO3CO3-

= 0 Me/L
= 48 Me/L

[OH-]
4.4.4

= 134 Me/L

Pengolahan Data
a; Menghitung Kebasaan P

Diketahui

: Volume Sampel
Volume P

Ditanya
Jawab

: Kebasaan P

= 2 mL
= 15,8 mL
= ... ?

: Kebasaan P

=
=

VP
Volume Sampel

15,8 mL
2 mL

= 7,9 Me/L
b; Menghitung Kebasaan M

Diketahui

: Volume Sampel
Volume P

= 2 mL
= 18,2 mL

Ditanya

: Kebasaan P

= ... ?

Jawab

: Kebasaan P

VP
Volume Sampel

18,2 mL
2 mL

= 9,1 Me/L
c; Menghitung Nilai Konsentrasi [HCO3-], [CO3-], dan [OH-]

Diketahui : Kebasaan P
Kebasaan M

= 2 Me/L
= 17,75 Me/L

Analisa Fluida Reservoir

39

Ditanya

Jawab

: a) Konsentrasi HCO3-

= ... ?

b; Konsentrasi CO3-

= ... ?

c; Konsentrasi OH-

= ... ?

:
Tabel 4.7
Kondisi Ion-Ion pada Alkalinitas
Hasil Titrasi

HCO3-

CO3-

OH-

P=0

M x 20

P=M

20 x P

2P = M

40 x P

2P < M

20 (M - 2P)

40 x P

2P > M

40 (M - P)

20 (2P - M)

Jadi berdasarkan interaksi kita menggunakan 2P > M

HCO3-

= 0 Me/L

CO3-

= 40 (M - P)
= 40 (9,1 7,9)
= 48 Me/L

[OH-]

= 20 (2P - M)
= 20 (2(7,9) - 9,1)
= 134 Me/L

4.4.5

Pembahasan

Analisa Fluida Reservoir

40

Pada percobaan tentang Analisa Kimia Air Formasi I kali ini


bertujuan untuk mengetahui definisi dari air formasi. Mengetahui
penyebab dari sifat kebasaan pada air formasi. Menentukan pH dari
air formasi. Menentukan Alkalinitas dari air formasi. Menetukan nilai
kebasaan dari air formasi.
Air formasi atau yang biasanya disebut dengan Oil Field
Water atau Connate Water atau Intertial Water merupakan air yang
ikut terproduksi bersama-sama dengan minyak dan gas. Air ini
biasanya mengandung bermacam-macam garam dan asam, terutama
NaCl sehingga merupakan air yang asam bahkan asam sekali. Secara
langsung air formasi berfungsi untuk mendorong hidrokarbon naik ke
permukaan pada mekanisme Water Drive. Selain fungsi tersebut, air
formasi juga digunakan untuk menetukan saturasi air didalam batuan
sehingga dapat diperoleh data secara kualitatif mengenai jumlah
cadangan hidrokarbon didalam Reservoir. Pengambilan sampel air
formasi dilakukan pada bagian Well Head atau kepala sumur dan
dapat juga dilakukan di separator dengan menggunakan penampung
tertutup yang terbuat dari kaca atau plastik agar tidak terjadi
kontaminasi. Keberadaan air formasi akan menimbulkan gangguan
pada proses produktivitas sumur.
Alat yang digunakan dalam percobaan Analisa Kimia Air
Formasi I adalah Balp, Buret, Corong Gelas, Gelar Kimia, Gelas
Ukur, Labu Erlenmeyer, Labu Ukur, Neraca Digital , pH Paper, Pipet

Analisa Fluida Reservoir

41

Tetes, Pipet Volumetrik, Spatula, Tiang Statif dan Tissue Sedangkan


bahan yang diperlukan yaitu air formasi, Aquadest, Indikator
Phenolphthalein (PP), Indikator Metyl Orange (MO), larutan H2SO4
0,02 N dan Larutan NaOH 20%.
Prosedur percobaan yaitu menyiapkan alat dan bahan yang
akan digunakan dalam praktikum. Mengambil air formasi dengan
menggunakan pipet volumetrik dan Balp sebanyak 2 mL. Mengambil
air formasi yang sudah diambil sebanyak 2 mL kedalam labu
Erlenmeyer. Memasukkan pH Paper ke dalam labu Erlenmeyer untuk
mengetahui pH dari air formasi. Membaca pengukuran pH dengan pH
Paper. Meneteskan larutan NaOH 20% sebanyak dua tetes ke dalam
labu Erlenmeyer dengan menggunakan pipet tetes. Meneteskan
indikator Phenolphthalein sebanyak dua tetes kedalam labu
Erlenmeyer, air formasi berubah menjadi warna ungu. Mengisi buret
dengan larutan H2SO4 0,02 N dengan menggunakan corong gelas
sampai skala nol. Menitrasi air formasi yang telah ditambahkan
larutan NaOH 20% dan indikator Phenolphthalein dengan larutan
H2SO4 0,02 N. Menghentikan titrasi ketika warna pada air formasi
dalam labu Erlenmeyer telah berubah menjadi warna bening.
Membaca skala pada buret sebagai nilai volume P. Menambahkan
indikator Methyl Orange sebanyak dua tetes ke dalam labu
Erlenmeyer berisi air formasi yang sudah di titrasi, kemudian warna
air formasi berubah menjadi orange. Menitrasi kembali air formasi

Analisa Fluida Reservoir

42

tersebut dengan larutan H2SO4 0,02 N yang dipakai pada titrasi awal
sampai warna sampel larutan menjadi merah bening. Membaca skala
pada buret sebagai volume M. Mencatat tortal volume yang habis
terpakai untuk nilai volume P dan nilai volume M. Memasukkan data
yang didapatkan ke dalam tabel hasil pengamatan. Menentukan
kandungan [HCO-3], [CO-3] dan [OH-] dengan mengolah data yang
diperoleh. Membersihkan dan merapihkan kembali alat dan bahan
yang telah digunakan.
Pada percobaan ini, pengukuran pH pada sampel air formasi
didapatkan nilai pH sebesar 10. Ini menunjukan bahwa air formasi
bersifat basa. Dengan volume air formasi 2 mL dan ditambahkan
dengan larutan NaOH serta indikator Phenolpthalein (PP) dengan
melalui proses titrasi dengan H2SO4 maka didapat volume titrasi (VP)
sebesar 15,8 mL. Dengan demikian, didapat nilai kebasaan P sebesar
7,9 Me/L. Sedangkan dengan menggunakan Metyl Orange (MO)
setelah dititrasi dari berwarna orange sampai menjadi warna merah
muda terang, didapat volume titrasi (VM) sebesar 18,2 mL, maka
nilai kebasaan M sebesar 9,1 Me/L.
Berdasarkan kandungan ion-ion alkalinitas, maka ditentukan
pada kategori 2P lebih dari M, untuk [HCO 3-] tidak terdapat nilai
kebasaan. Untuk [CO3-] dengan formula 40 (M - P), sehingga didapat
nilai kebasaan sebesar 48 Me/L. Sedangkan untuk [OH -] dengan

Analisa Fluida Reservoir

43

formula 20 (2P - M), sehingga didapat nilai kebasaan sebesar

134

Me/L.

4.4.5; Analisa Kesalahan


Dari percobaan yang dilakukan didaptkan beberapa kesalahan,
antara lain :
Pada saat menitrasi dengan indikator Phenolpthalein lupa
menambahkan larutan NaOH 20%, sehingga harus mengulangi
percobaan.
Membuka keran buret terlalu lebar, sehingga larutan bukan
berbentuk tetesan malainkan aliran.
Keran buret bocor, sehingga volume titrasi yang terpakai tidak
akurat.
4.4.6; Kesimpulan
Pada praktikum kali ini dapat diambil kesimpulkan antara lain:
1; Air formasi dapat didefinisikan sebagai air yang berakumulasi
dengan hidrokarbon yang terletak pada kedalaman tertentu sesuai
dengan zona produktif.
2; Secara langsung air formasi berfungsi untuk mendorong
Hidrokarbon naik ke permukaan pada mekanisme Water Drive.
Selain fungsi tersebut, air formasi juga digunakan untuk
menentukan saturasi air didalam batuan sehingga dapat diperoleh
data secara kualitatif mengenai jumlah cadangan hidrokarbon di
dalam Reservoir
3; Pada percobaan ini, pengukuran pH pada sampel air formasi
didapatkan nilai pH sebesar 10. Ini menunjukan bahwa air
formasi bersifat basa.

Analisa Fluida Reservoir

44

4; Pada percobaan kali ini dengan volume air formasi 2 mL dan


ditambahkan

dengan

larutan

NaOH

serta

indikator

Phenolpthalein (PP) dengan melalui proses titrasi dengan H 2SO4


maka didapat volume titrasi (VP) sebesar 15,8 mL.
5; Dari percobaan yang telah dilakukan didapat nilai kebasaan P
sebesar 7,9 Me/L. Sedangkan dengan menggunakan Metyl
Orange (MO) setelah dititrasi dari berwarna orange sampai
menjadi warna merah muda terang, didapat volume titrasi (VM)
sebesar 18,2 mL, maka nilai kebasaan M sebesar 9,1 Me/L.
6; Berdasarkan kandungan ion-ion alkalinitas, maka ditentukan pada
kategori 2P lebih dari M, untuk [HCO 3-] tidak terdapat nilai
kebasaan. Untuk [CO3-] dengan formula 40 (M - P), sehingga
didapat nilai kebasaan sebesar 48 Me/L. Sedangkan untuk [OH -]
dengan formula 20 (2P - M), sehingga didapat nilai kebasaan
sebesar 134 Me/L.

Analisa Fluida Reservoir