Anda di halaman 1dari 17

1

4.5; Analisa Kimia Air Formasi II


4.5.1 Alat dan Bahan
a; Alat
Balp
Buret
Corong Gelas
Gelas Kimia
Gelas Ukur
Labu Erlenmeyer
Neraca Digital
Pipet Tetes
Pipet Volumetrik
Spatula
Tiang Statif
Tissue
b; Bahan
Air Formasi
Aquadest
Indikator Phenolphthalein (PP)
Larutan AgNO3 0,1 N
Larutan EDTA 0,01 N

Analisa Fluida Reservoir

Larutan K2CrO4 5%
Larutan NaOH 20%
Larutan NH4OH 25%
4.5.2; Prosedur Percobaan
a; Penentukan ion Kalsium (Ca2+)
1; Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum.
2; Mengambil sampel air formasi sebanyak 10 mL dengan
menggunakan gelas ukur.
3; Menuangkan 10 mL air formasi tersebut ke dalam labu
Erlenmeyer.
4; Mengambil larutan NH4OH 25% sebanyak 3 mL menggunakan
pipet volumetrik dan balp.
5; Memasukkan larutan NH4OH yang sudah diambil ke dalam
labu Erlenmeyer yang berisi air formasi.
6; Menggoyangkan larutan yang berada didalam labu Erlenmeyer
sampai terjadi perubahan warna sampel air formasi menjadi
keruh.
7; Mengindikasi adanya kandungan ion kalsium (Ca2+) pada
sampel air formasi tersebut.
8; Mencatat hasil perubahan warna atau indikasi sebagai analisa
kualitatif kandungan ion kalsium (Ca2+).

Analisa Fluida Reservoir

9; Mencuci alat-alat yang telah digunakan untuk digunakan


kembali.
10; Mengambil 10 mL sampel air formasi dengan menggunakan
gelas ukur.
11; Menuangkan air formasi yang sudah diambil 10 mL ke dalam
labu Erlenmeyer.
12; Mengambil 1 mL NaOH 20% dengan menggunakan pipet
volumetrik dan balp kemudian memasukkan kedalam labu
Erlenmeyer yang berisi air formasi.
13; Menambahkan indikator phenolphthalein sebanyak dua tetes
ke dalam larutan tersebut, dan terjadi perubahan warna
menjadi ungu.
14; Menuangkan larutan EDTA 0,01 N ke dalam buret sampai
skala 0.
15; Menitrasi sampel air formasi tersebut dengan larutan EDTA
0,01 N sampai warna sampel air formasi tersebut menjadi
warna ungu bening.
16; Mencatat banyaknya volume larutan EDTA 0,01 N yang
digunakan untuk titrasi, sebagai hasil pengamatan analisa ion
kalsium secara kuantitatif.
17; Membersihkan dan merapihkan kembali alat dan bahan yang
telah digunakan.
b; Penentukan ion Klorida (Cl-)

Analisa Fluida Reservoir

1; Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam


praktikum.
2; Mengambil 10 mL air formasi dengan menggunakan gelas
ukur.
3; Memasukkan air formasi tersebut kedalam labu Erlenmeyer.
4; Menambahkan larutan AgNO3 0,1 N sebanyak satu tetes
menggunakan pipet tetes ke dalam labu Erlenmeyer.
5; Mennggoyangkan labu Erlenmeyer tersebut sampai terjadi
indikasi atau perubahan warna.
6; Mengamati air formasi yang berada didalam labu Erlenmeyer
akan keruh dan terdapat endapan.
7; Mencatat hasil pengamatan dengan indikasi atau perubahan
warna sebagai analisa kualitatif ion klorida.
8; Mencuci alat-alat yang telah digunakan untuk digunakan
kembali.
9; Mengambil 10 mL air formasi dengan menggunakan gelas
ukur.
10; Memasukkan air formasi tersebut kedalam labu Erlenmeyer.
11; Mengambil 1 mL larutan AgNO3 0,1 N ke dalam buret dengan
menggunakan corong gelas sampai skala 0.

Analisa Fluida Reservoir

4.5.3; Analisa Data


a; Penentuan Ion Kalsium Ca2+
Kualitatif
Volume sempel

= 10 mL

Volume NH4OH

= 3 mL

Indikasi

= Sampel air formasi menjadi

Kuantitatif

keruh

Volume Sampel

= 10 mL

Volume NaOH

= 1 mL

Indikator Phenolphthalein

= 1 tetes

Volume EDTA

= 4,6 mL

Indikasi

= Sampel air formasi menjadi


ungu bening

b; Penentuan Ion Klorida Cl Kualitatif


Volume sempel

= 10 mL

Volume AgNO3

= 1 mL

Indikasi
Kuantitatif

= Sampel air formasi menjadi keruh

Volume sampel

= 10 mL

Indikator K2CrO4

= 1 mL

Analisa Fluida Reservoir

Volume AgNO3

= 0,8 mL

Indikasi

= Sampel air formasi terbentuk


tetesan merah bata

4.5.4; Pengolahan Data


a; Nilai Konsentrasi Ca2+
Diketahui

Ditanya

Jawab

: Volume EDTA

= 4.6 mL

Volume sampel

= 10 Ml

Ar Ca

= 40

: a) Konsentrasi Ca2+ (Mg/L)

= ... ?

b; Konsentrasi Ca2+ (Me/L)

=......?

: a) Ca2+ (Mg/L)

V Titrasi EDTA x 1000


V Sampel

4,6 x 1000
10

= 460 Mg/L
b) Ca2+ (Me/L)

Ca 2+ (Mg/L)
Ar Ca

46 0
40

= 11,5 Me/L
b; Nilai Konsentrasi Cl
Diketahui

Ditanya

: Volume AgNO3

= 0,8 mL

Volume sampel

= 10 mL

Ar Cl

= 35,5

: a) Konsentrasi Cl- (Mg/L)

=......?

b; Konsentrasi Cl- (Me/L)

=......?

Analisa Fluida Reservoir

Jawab

: a) Cl- (Mg/L)

V Titrasi AgNO 3 x 1000


V Sampel

0,8 x 1000
10

= 80 Mg/L
b) Cl- (Me/L)

Cl - (Mg/L)
Ar Cl

80
35,5

= 2,25 Me/L
c; Konsentrasi Kation dan Anion
Tabel 4.8
Nilai Kation dan Anion yang Terkandung Dalam Air Formasi
Anion

Me/L

Kation

Me/L

Cl-

2,25

Ca+2

11,5

SO4-

1024

Mg+2

CO3-

120

Ba +2

HCO3-

320

Fe +2

0,53

OH-

= 1466,25

= 12,03

d; Nilai Konsentrasi Na+


Diketahui : Anion

= 1466,25 Me/L

Kation
Ditanya

Jawab

= 12,03 Me/L

: a) Konsentrasi Na+ (Me/L)

= ... ?

b) Konsentrasi Na+ (Mg/L)

= ... ?

: a) Na+ (Me/L)

= Anion - Kation

Analisa Fluida Reservoir

= 1466,25 12,03
= 1454,22 Me/L
b) Na+ (Mg/L)

= Na2+ (Me/L) x Ar Na+


= 1454,22 x 23
= 33447,06 Mg/L

e; Tenaga Ion
Tabel 4.9
Tenaga Ion

Ion
Na+
Ca2+
Mg2+
Cl= 7,4 x 10-1
Tenaga Ion = Konsentrasi ion Mg/L x faktor konversi, ion (ppm)
= 7,4 x 10-1

f; Diagram Stiff

Cl-

SO4- x 10-3

Ca+2 x 10-1

CO3-x10-2

Mg+2

Analisa Fluida Reservoir

HCO3-3x10-2

Ba+2

OH-

Fe+2
10 8

Anion (Me/L)

8 10

Kation (Me/L)

g; Nilai Kelarutan (k)


= 7,4 x 10-1

Diketahui : Tenaga Ion ()

Ditanya

Temperatur Pertama

= 20oC

Temperatur Kedua

= 30oC

Temperatur Ketiga

= 50oC

: a) Kelarutan (k) pada Suhu 20oC =... ?


b) Kelarutan (k) pada Suhu 30oC =... ?
c) Kelarutan (k) pada Suhu 50oC =... ?

Jawab

: Mencari K berdasarkan tenaga ion dan suhu yang


sudah ditentukan menggunakan grafik molar ionic
strenght () , maka Data K yang diperoleh :
a; Kelarutan (k) pada Temperatur 20oC = 3,42
b; Kelarutan (k) pada Temperatur 30oC = 3,2
c; Kelarutan (k) pada Temperatur 50oC = 2,72

h; Nilai Pca dan Palk


Diketahui : Ca2+ Mg/L

= 460 Mg/L

Alkalinitas Total = HCO3- + CO3- + OH-

Analisa Fluida Reservoir

10

= 320 + 120 + 0
= 440 Me/L
Ditanya

Jawab

: a) Pca

= ... ?

b) Palk

= ... ?

: Berdasarkan grafik Pca dan Palk dengan memplot


nilai konsentrasi Ca2+

dan alkalinitas total, maka

didapat :
a; PCa = 1,95 Mg/L
b; PAlk =2,19 Mg/L.
i; Nilai Stabilitas Indeks
Diketahui : pH sampel air formasi

= 10

Kelarutan (k) pada Temperatur 20oC = 3,42


Kelarutan (k) pada Temperatur 30oC = 3,2
Kelarutan (k) pada Temperatur 50oC = 2,72

Ditanya

PCa

= 1,95 Mg/L

Palk

= 2,19 Mg/L

: a) Stabilitas Indeks (SI) pada Temperatur 20C =.....?


b; Stabilitas Indeks (SI) padaTemperatur 30C =....?
c; Stabilitas Indeks (SI) padaTemperatur 50C =....?

Jawab

: a) Stabilitas Indeks (SI) pada temperatur 20C


= pH - K - PCa - PAlk
= 10 3,42 1,95 2,19
= 2.44
SI > 0 maka Air Formasi mengandung endapan.

Analisa Fluida Reservoir

11

b; Stabilitas Indeks (SI) pada temperatur 30C


= pH - K - PCa - PAlk
= 10 3,2 1,95 2,19
= 2,66
SI > 0 maka Air Formasi mengandung endapan.
c; Stabilitas Indeks (SI) pada temperatur 50C
= pH - K - PCa - PAlk
= 10 2,72 -1,95 2,19
= 3,14
SI > 0 maka Air Formasi mengandung endapan.
Keterangan :
SI > 0 = Air Formasi mengandung endapan.
SI =0 = Endapan seimbang (netral).
SI <0 = Air Formasi mengandung endapan.
Karena pada semua nilai SI > 0 maka air formasi
menunjukan adanya endapan.
4.5.5; Pembahasan
Pada praktikum kelima kali ini tentang Analisa Kimia Air
Formasi II bertujuan untuk menentukan kandungan ion kalsium (Ca2+)
dan kandungan ion klorida (Cl-). Menentukan tenaga ion yang
digunakan. Menentukan nilai anion dan kation. Menentukan SI
(Stabilitas Indeks) pada air formasi. Menentukan indikasi yang terjadi
pada air formasi.

Analisa Fluida Reservoir

12

Air formasi biasa dikatakan sebagai air yang didapatkan dari


formasi saat proses drilling (pemboran). Walaupun secara kasat mata
air formasi hampir sama dengan air biasa, namun sebenarnya ada yang
membedakan antara air formasi dengan air biasa. Misalkan dari kadar
keasamannya, air biasa cenderung memiliki kadar keasaman atau pH
yang netral yaitu dengan nilai pH sebesar 7.
Air formasi atau yang biasanya disebut dengan oil field water
atau connate water atau intertial water merupakan air yang ikut
terproduksi bersama-sama dengan minyak dan gas. Air ini biasanya
mengandung bermacam-macam garam dan asam, terutama NaCl
sehingga merupakan air yang asam bahkan asam sekali. Secara
langsung air formasi berfungsi untuk mendorong hidrokarbon naik ke
permukaan pada mekanisme water drive. Selain fungsi tersebut, air
formasi juga digunakan untuk menetukan saturasi air didalam batuan
sehingga dapat diperoleh data secara kualitatif mengenai jumlah
cadangan hidrokarbon didalam reservoir.
Alat-alat laboratorium yang digunakan adalah balp, buret,
corong gelas, gelas kimia, gelas ukur, labu Erlenmeyer, neraca digital,
pipet tetes, pipet volumetrik, spatula, tiang statif, tissue. Dan bahan
yang

diperlukan

adalah

air

formasi,

aquadest,

indikator

phenolphthalein (PP), larutan AgNO3 0,1 N, larutan EDTA 0,01 N,


larutan K2CrO4 5%, larutan NaOH 20%, larutan NH4OH 25%.

Analisa Fluida Reservoir

13

Prosedur percobaan dalam penentukan ion kalsium (Ca2+) yang


pertama tama adalah menyiapkan alat dan bahan yang digunakan
dalam praktikum. Mengambil sampel air formasi sebanyak 10 mL
dengan menggunakan gelas ukur. Menuangkan 10 mL air formasi
tersebut ke dalam labu Erlenmeyer. Mengambil larutan NH4OH 25
persen sebanyak 3 mL menggunakan pipet volumetrik dan balp.
Memasukkan larutan NH4OH yang sudah diambil ke dalam labu
Erlenmeyer yang berisi air formasi. Menggoyangkan larutan yang
berada didalam labu Erlenmeyer sampai terjadi perubahan warna
sampel air formasi menjadi keruh. Mengindikasi adanya kandungan
ion kalsium (Ca2+) pada sampel air formasi tersebut. Mencatat hasil
perubahan warna atau indikasi sebagai analisa kualitatif kandungan
ion kalsium (Ca2+). Mencuci alat-alat yang telah digunakan untuk
digunakan kembali. Mengambil 10 mL sampel air formasi dengan
menggunakan gelas ukur. Menuangkan air formasi yang sudah
diambil 10 mL ke dalam labu Erlenmeyer. Mengambil 1 mL NaOH 20
persen dengan menggunakan pipet volumetrik dan balp kemudian
memasukkan kedalam labu Erlenmeyer yang berisi air formasi.
Menambahkan indikator phenolphthalein sebanyak dua tetes ke dalam
larutan tersebut, dan terjadi perubahan warna menjadi ungu.
Menuangkan larutan EDTA 0,01 N ke dalam buret sampai skala 0.
Menitrasi sampel air formasi tersebut dengan larutan EDTA 0,01 N
sampai warna sampel air formasi tersebut menjadi warna ungu bening.

Analisa Fluida Reservoir

14

Mencatat banyaknya volume larutan EDTA 0,01 N yang digunakan


untuk titrasi, sebagai hasil pengamatan analisa ion kalsium secara
kuantitatif. Membersihkan dan merapihkan kembali alat dan bahan
yang telah digunakan.
Prosedur Percobaan dalam Penentukan ion Klorida (Cl-) yang
pertama tama adalah menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
dalam

praktikum.

Mengambil

10

mL

air

formasi

dengan

menggunakan gelas ukur. Memasukkan air formasi tersebut kedalam


labu Erlenmeyer. Menambahkan larutan AgNO3 0,1 N sebanyak satu
tetes

menggunakan

pipet

tetes

ke

dalam

labu

Erlenmeyer.

Mennggoyangkan labu Erlenmeyer tersebut sampai terjadi indikasi


atau perubahan warna. Mengamati air formasi yang berada didalam
labu Erlenmeyer akan keruh dan terdapat endapan. Mencatat hasil
pengamatan dengan indikasi atau perubahan warna sebagai analisa
kualitatif ion klorida. Mencuci alat-alat yang telah digunakan untuk
digunakan kembali. Mengambil 10 mL air formasi dengan
menggunakan gelas ukur. Memasukkan air formasi tersebut kedalam
labu Erlenmeyer. Mengambil 1 mL larutan AgNO3 0,1 N ke dalam
buret dengan menggunakan corong gelas sampai skala 0.
Pada praktikum ini, penentuan konsentrasi Ca2+ secara
kualitatif terdapat endapan dalam 10 mL air formasi dan berwarna
keruh setelah air formasi ditambahkan 3 mL larutan NH4OH. Hal ini
menandakan bahwa air formasi mengandung kalsium, sedangkan pada

Analisa Fluida Reservoir

15

penentuan secara kuantitatif didapatkan bahwa 10 mL air formasi


berwarna ungu bening setelah larutan sampel diberi 1 tetes larutan
indikator phenolphthalein, 1 mL larutan NaOH dan dititrasi larutan
EDTA sebanyal 4,6 mL. Hasil perhitungan dalam pengolahan data
nilai dari konsentrasi Ca2+ sebesar 460 Mg/L dan konsentrasi Ca2+
untuk satuan Me/L sebesar 11,5 Me/L.
Pada penentuan konsentrasi Cl- secara kualitatif setelah larutan
diberi satu tetes larutan AgNO3, 10 mL sampel Air formasi menjadi
keruh. Sedangkan pada penentuan secara kuantitatif tetesan AgNO3
pada saat titrasi sebanyak 0,8 mL, dan setelah ditambahkan 1 mL
larutan K2CrO4, 10 mL sampel air formasi terbentuk tetesan merah
bata yang mengindikasikan bahwa air formasi mengandung klorida.
Dari hasil perhitungan didapatkan konsentrasi Cl- sebesar 80 Mg/l
konsentrasi Cl- untuk satuan Me/L sebesar 2,25 Me/L.
Besar kadar dari kandungan Na+ didapatkan 1454,22 Me/L
yang berarti 33447,06 Mg/L dari hasil perbandingan jumlah anion dan
kation yang terkandung.
Tenaga ion yang didapatkan pada percobaan ini sebesar 7,4 x
10-1. Nilai K pada suhu 200C adalah 3,42, pada suhu 300C adalah 3,2
dan pada suhu 500C adalah 2,72. Dari hasil nilai Cl-, SO42+, CO3- dan
HCO3- yang diketahui maka dapat didaptkan nilai Pca sebesar 1,95
dan Palk sebesar 2,19 dengan grafik pada modul praktikum analisa
fluida reservoir.

Analisa Fluida Reservoir

16

Nilai stabilitas indeks pada suhu K 200C adalah 2,44, pada


suhu K 300C adalah 2,66 dan pada suhu K 500C adalah 3,14 yang
berarti SI > 0 maka sampel air pada suhu 20 0C, 300C dan 500C
mengandung endapan.
4.5.6 Analisa Kesalahan
Pada percobaa ini terdapat beberapa analisa kesalahan, antara
lain :
Saat menitrasi dengan menggunakan AgNO3 ke larutan K2CrO4,
volume yang digunakan terlalu banyak karena terlalu kuat
membuka kran buret.
Saat menitrasi larutan AgNO3 0,1 N ke larutan K2CrO4, tetesan
yang dibutuhkan saat menggoyangkan labu erlenmeyer tidak
terlihat karena tertutup tangan praktikan.

4.5.7 Kesimpulan
Pada percobaan Analisa Kimia Air Formasi II dapat
disimpulkan sebagai berikut :
1; Klorida adalah salah satu ion anorganik yang paling banyak
terkandung dalam air dan dapat mengakibatkan korosi logam pada
pipa, terkandung pada alkalinitas air.
2; Nilai kandungan kalsium (Ca2+) terlarut akan digunakan untuk
menganalisir lithology terhadap komposisi kimia air formasi.
3; Penentuan konsentrasi Ca2+ secara kualitatif berindikasi sampel air
formasi menjadi keruh

Analisa Fluida Reservoir

17

4; Penentuan konsentrasi Ca2+ secara kuantitatif berindikasi sampel air


formasi menjadi ungu bening
5; Hasil perhitungan dalam pengolahan data nilai dari konsentrasi
Ca2+ sebesar 460 Mg/L dan konsentrasi Ca2+ untuk satuan Me/L
sebesar 11,5 Me/L.
6; Penentuan konsentrasi Cl- secara kualitatif berindikasi sampel air
formasi menjadi keruh
7; Penentuan konsentrasi Cl- secara kualitatif berindikasi sampel air
formasi terbentuk tetesan merah bata
8; Dari hasil perhitungan didapatkan konsentrasi Cl- sebesar 80 Mg/l
konsentrasi Cl- untuk satuan Me/L sebesar 2,25 Me/L.
9; Besar kadar dari kandungan Na+ didapatkan 1454,22 Me/L yang
berarti 33447,06 Mg/L dari hasil perbandingan jumlah anion dan
10;
11;
12;
13;
14;

kation yang terkandung.


Tenaga ion yang didapatkan pada percobaan ini sebesar 0,737695.
Nilai K pada suhu 200C adalah 3,42.
Nilai K pada suhu 300C adalah 3,2
Nilai K pada suhu 500C adalah 2,72.
Dari hasil nilai Cl-, SO42+, CO3- dan HCO3- yang diketahui maka
dapat didapatkan nilai Pca sebesar 1,95 dan Palk sebesar 2,19

dengan grafik pada modul praktikum Analisa Fluida Reservoir.


15; Nilai stabilitas indeks pada suhu K 20 0C adalah 2,44, pada suhu
300C adalah 2,66 dan pada suhu 500C adalah 3,14 yang berarti SI
lebih besar dari 0 maka sampel air pada suhu 200C, 300C dan 500C
mengandung endapan.

Analisa Fluida Reservoir