Anda di halaman 1dari 14

PAPER FORENSIK

PERKOSAAN
PEMBIMBING
Prof. Dr. Amri Amir, Sp.F(K).DFM, SH, Sp.AK

DEFINISI
Perkosaan menurut hukum yang berlaku di Indonesia :
Didefinisikan sebagai tindakan persetubuhan laki-laki terhadap
perempuan yng bukan isterinya, tanpa izin dengan ancaman dan
kekerasan. Persetubuhan yang dimaksud ialah penetrasi penis baik
lengkap ataupun tidak lengkap, ejakulasi atau tidak ke dalam vagina.

Perkosaan adalah Istilah hukum bukan istilah medis, maka hal itu
perkosaan dalam KUHP Bab XIV disebut kejahatan terhadapa kesopanan
atau pelanggaran kesusilaan . Pelanggaran kesusilaan dapat dibagi
menjadi :
1. Perkosaan
Perkosaan adalah Pelanggaran kesusilaan sebagai manifestasi birahi
yang tidak terkendalikan dan tertuju kepada objek yang wajar yaitu
kelamin yang berlawanan jenis.
2. Penyimpangan seksual

JENIS PERKOSAAN
Berdasar motif perkosaan dapat digolongkan sebagai berikut:
Sadistic Rape : Perkosaan sadistis, dimana pelaku perkosaan menikmati
kesenangan erotik tidak pada hubungan seksnya, melainkan melalui
serangan yang mengerikan atas alat kelamin dan tubuh korban.
Anger Rape : Perkosaan karena kemarahan, perkosaan yang terjadi
dengan motif utamanya bukanlah pemenuhan kebutuhan seksual.
Domination Rape atau Power Rape : Suatu perkosaan yang terjadi
ketika pelaku mencoba untuk gigih atas kekuasaan dan superioritas
terhadap korban. Tujuannya adalah penaklukan seksual, pelaku menyakiti
korban, namun tetap memiliki keinginan berhubungan seksual.

Seductive Rape : Suatu perkosaan yang terjadi pada situasi-situasi yang merangsang
yang tercipta oleh kedua belah pihak. Pada mulanya korban memutuskan bahwa
keintiman personal harus dibatasi tidak sampai sejauh persenggamaan. Pelaku pada
umumnya mempunyai keyakinan membutuhkan paksaan, oleh karena tanpa itu tidak
mempunyai perasaan bersalah yang menyangkut seks.
Victim Precipitated Rape : Yaitu perkosaan yang terjadi dengan menempatkan
korban sebagai pencetusnya.
Exploitation Rape : Perkosaan yang menunjukkan bahwa pada setiap kesempatan
melakukan hubungan seksual yang diperoleh
oleh laki-laki dengan mengambil
keuntungan yang berlawanan dengan posisi perempuan yang bergantung padanya
secara ekonomis dan sosial. Misalnya istri yang diperkosa oleh suaminya atau
pembantu rumah tangga yang diperkosa oleh majikannya, sedangkan pembantunya
tidak mempersoalkan atau mengadukan kasusnya ini kepada pihak yang berwajib.

PEMERIKSAAN
Pemeriksaan Kasus Perkosaan
Persiapan

A. Serah terima korban


1. Korban datang diantar petugas
2. Surat permintaan VER ditanda tangani penyidik
3. Dokter pemeriksa mencocokkan nama tersebut dalam surat dengan korban, bila tidak sesuai harap dilembalikan
kepada penyidik
4. Buku ekspedisi milik penyidik ditanda tangan oleh petugas RS atau dokter
5. Petugas pengantar menulis nama, pangkat dan jabatan serta tanda tangan
B. Izin untuk diperiksa
6. Pernyataan tertulis bahwa korban bersedia diperiksa dokter
7. Bila korban anak-anak pernyataan dibuat oleh orang tua atau wali
8. Bila korban tidak sadar, izin keluarga atau pembuatan VeR ditunda sampai perawatan selesai
9. Selama pemeriksaan korban harus didampingi perawat

PEMERIKSAAN KORBAN
Anamnesa
1. Umum
Identitas korban: nama, umur, pekerjaan
Status perkawinan: gadis, menikah, janda
Siklus/pola haid
Riwayat penyakit, penyakit kelamin, penyakit kandungan
Riwayat pemakaian kontrasepsi

2. Khusus
Siapa yang melaporkan ke polisi (korban, keluarga, masyarakat)
Saat kejadian (tanggal dan jam)
Tempat kejadian
Apakah korban melawan
Apakah korban pingsan
Apakah korban kenal dengan pelaku
Apakah terjadi penetrasi penis dan terjadi ejakulasi
Apakah ada deviasi seksual
Jumlah pelaku
Apakah setelah kejadian korban mencuci kemaluan atau mandi atau ganti pakaian

PEMERIKSAAN UMUM
Pemeriksaan baju korban
Dicatat helai demi helai pakaian luar dan dalam korban
Diperiksa apakah ada bercak darah, air mani, lumpur, kotoran dan sebagainya
Diperiksa adakah kancing yang putus, robekan dan lain-lain. Bila ada digunting dan kirim ke labkrim.
Pemeriksaan Badan
Tingkah laku: depresi, gelisah
Penampilan: rapi, kusut atau acak-acakan
Tanda-tanda bekas hilang kesadaran atau di bawah pengaruh alkohol, obat tidur atau obat bius,
needle mark
Tanda-tanda bekas kekerasan dari daerah kepala sampai kaki. Seperti macam-macam luka (memar,
lecet, robek, patah tulang). Adanya love bite atau bekas cupang
Adanya trace evidence yang menempel pada tubuh: tanah, rumput, darah

Pemeriksaan Khusus (alat


genital)
Adakah rambut kemaluan yang melekat
Adakah rambut asing (dengan cara menyisir rabut pubis), bila ada tempel selotip kirim ke labkrim
Adakah bercak mani di sekitar alat kelamin, bila ada dikerok dengan skalpel/ diapus dengan kapas basah kirim
Pemeriksaan himen, meliputi:
Bentuk himen
Ukuran lubang himen
Ada robekan baru atau lama
Lokasi robekan
Pemeriksaan vagina dan serviks dengan spekulum:
Adakah benda asing
Dinding vagina, forniks posterior luka atau tidak
Ostium uteri keluar darah atau tidak
Periksa lendir atau sediaan basah
Pemeriksaan dalam/colok dubur untuk menilai rahim membesar atau tidak
Pengambilan bahan untuk pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan Laboratorium
1. Pemeriksaan kehamilan
2. Uji Penyaring air mani
Pemeriksaan cairan mani dapat digunakan untuk membuktikan:
. Adanya persetubuhan melalui penentuan adanya cairan mani dalam labia minor atau
vagina yang diambil dari forniks posterior
. Adanya ejakulasi pada persetubuhan atau perbuatan cabul melalui penentuan adanya
cairan mani pada pakaian, seprai, kertas tissue, dsb.
Teknik Pengambilan bahan untuk pemeriksaan laboratorium untuk pemeriksaan cairan
mani dan sel mani dalam lendir vagina, yaitu dengan mengambil lendir vagina
menggunakan pipet pasteur atau diambil dengan ose batang gelas, atau swab. Bahan
diambil dari forniks posterior, bila mungkin dengan spekulum. Pada anak-anak atau bila
selaput darah masih utuh, pengambilan bahan sebaiknya dibatasi dari vestibulum saja.

A. Penentuan spermatozoa (mikroskopis)


Tujuan yaitu untuk menentukan adanya sperma dengan bahan pemeriksaan cairan
vagina. Metode pemeriksaan :
. Tanpa pewarnaan
Umumnya disepakati dalam 2 3 jam setelah persetubuhan masih dapat ditemukan
spermatozoa yang bergerak dalam vagina. Haid akan memperpanjang waktu ini sampai
3 4 jam. Berdasarkan beberapa penelitian, dapat disimpulkan bahwa spermatozoa
masih dapat ditemukan 3 hari, kadang kadang sampai 6 hari pasca persetubuhan.
. Dengan Pewarnaan
Pembuatan preparat tipis yang diwarnai dengan pewarnaan malachite green atau
christmas tree.

3. Cairan Mani (kimiawi)


Untuk membuktikan terjadinya ejakulasi pada persetubuhan dari
ditemukan cairan mani dalam sekret vagina, perlu dideteksi adanya zatzat yang banyak terdapat dalam cairan mani, yaitu dengan pemeriksaan
laboratorium:
Reaksi Fosfatase Asam
Reaksi Florence
Reaksi Berberio

4. Penentuan Golongan Darah ABO Pada Cairan Mani


5. Pemeriksaan Bercak Mani Pada Pakaian
Secara visual
Bercak mani berbatas tegas dan warnanya lebih gelap daripada sekitarnya. Bercak yang sudah
agak tua berwarna kekuningan.
Secara taktil (perabaan)
Bercak mani teraba kaku seperti kanji. Pada tekstil yang tidak menyerap, bila tidak teraba kaku,
masih dapat dikenali dari permukaan bercak yang teraba kasar.
Skrining awal (dengan Reagen fosfatase asam)
Uji pewarnaan Baecchi
Hasil positif yaitu serabut pakaian tidak berwarna, spermatozoa dengan kepala berwarna merah
dan ekor berwarna merah muda terlihat banyak menempel pada serabut benang.