Anda di halaman 1dari 10

Laporan Praktikum ke-4

M.K. Biokimia Gizi

Tanggal mulai
Tanggal selesai

: 15 Oktober 2015
: 22 Oktober 2015

PENGUKURAN INDEKS GLIKEMIK

Oleh :
Kelompok 5
Andra Vidyarini
Pvatmaya Sczheptariella Burhani
Meilla Dwi Andrestian

I151150171
I151150651
I162150031

AsistenPraktikum:
Leily Amalina Furqon, STP, MSi
Hana Fitria Navratilova, SGz, MSc
Bibi Ahmad Chahyanto, SGz

Penanggung Jawab Praktikum :


Dr. Rimbawan

PROGRAM STUDI ILMU GIZI


SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2015

PENDAHULUAN
Perkembangan tingkat kesejahteraan suatu negara berdampak pada
perubahan gaya hidup, termasuk pola makan. Tingginya konsumsi gula dan lemak
pada pola makan dapat menyebabkan terjadinya obesitas yang memicu terjadinya
penyakit diabetes mellitus (Rusilanti 2008). Penderita diabetes mellitus perlu
mengatur pola makan dan memilih jenis pangan yang tepat (Widowati 2007).
Pemilihan jenis makanan yang tepat terutama dari jenis pangan sumber
karbohidrat ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para peneliti untuk
mengembangkan penelitian terkait indeks glikemik (IG).
Konsep IG merupakan pendekatan baru untuk memilih pangan yang baik,
khususnya pangan berkarbohidrat. Konsep ini berguna untuk membina kesehatan,
mencegah obesitas, memilih pangan untuk berolahraga, dan untuk mengurangi
resiko penyakit metabolik. Konsep IG menekankan pada pentingnya mengenal
pangan (karbohidrat) berdasarkan kecepatannya menaikkan kadar glukosa darah
dan sebaliknya (Rimbawan dan Siagian 2004).
Indeks glikemik adalah tingkatan pangan menurut efeknya terhadap kadar
gula darah atau respon glukosa darah terhadap makanan dibandingkan dengan
respon glukosa darah terhadap glukosa murni. Indeks glikemik berguna untuk
menentukan respon glukosa darah terhadap jenis dan jumlah makanan yang
dikonsumsi. Indeks glikemik bahan makanan berbeda-beda tergantung pada
fisiologi, bukan pada kandungan bahan makanan (Sarwono 2003).
Makanan dengan indeks glikemik yang rendah akan menghasilkan
kenaikan dan penurunan kadar glukosa darah yang tidak terlalu drastis sesaat
setelah makanan tersebut dicerna sedangkan makanan yang memiliki nilai IG
tinggi akan mengalami hal yang sebaliknya. Bahan pangan berdasarkan nilai
indeks glikemik dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu bahan pangan dengan
nilai IG rendah (<55), IG sedang (55- 69), dan IG tinggi (>70) (Foster et al 2002).
Faktor yang mempengaruhi IG suatu bahan pangan antara lain daya cerna pati,
interaksi antara pati dengan protein, jumlah dan jenis asam lemak, kadar serat
pangan, dan bentuk fisik bahan pangan (Ragnhild et al 2004). Tujuan dari
penulisan laporan ini adalah untuk mengukur indeks glikemik dari pangan standar
dan pangan uji.

METODE
Desain, tempat, dan waktu
Desain dari praktikum ini adalah experimental study. Pengumpulan data
dilakukan selama dua hari, yaitu tanggal 15 dan 22 Oktober 2015 pada pukul
10.00 12.00 WIB di Laboratorium Biokimia Gizi Lantai 2, Departemen Gizi
Masyarakat IPB.

Jumlah dan cara pengambilan subjek serta bahan dan alat


Responden dalam praktikum ini adalah sembilan orang mahasiswa
program pascasarjana prodi Ilmu Gizi Institut Pertanian Bogor tahun 2015 yang
memiliki kriteria inklusi, yaitu memiliki nilai indeks massa tubuh (IMT) normal
yaitu 18,5 25,0 (Depkes RI 2003) dan tidak memiliki riwayat diabetes mellitus.
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah glukosa murni
(pangan standar), sukrosa (pangan uji), glukometer one touch blood, kapas swab
alkohol, lancet, dan strip analisa glukosa.

Jenis dan cara pengumpulan data


Jenis data pada praktikum ini adalah data kuantitatif yang dikumpulkan
berdasarkan reaksi glikemik pangan responden. Prosedur dari metode ini adalah
responden melakukan puasa selama 10 jam (overnight fasting). Pengukuran
indeks glikemik pangan dilakukan dengan memberikan pangan standar (glukosa)
dan pangan uji (sukrosa) yang setara dengan jumlah 25 gram karbohidrat kepada
seluruh responden penelitian dengan jarak waktu satu minggu. Responden diambil
darahnya menggunakan fringer prick pada menit ke-0 (sebelum diberi pangan uji),
15, 30, 45, 60, 90, dan 120.

Pengolahan dan analisis data


Pengolahan dan analisis data menggunakan kalkulator serta program
Microsoft Excel.

HASIL
Karakteristik responden
Jumlah responden pada praktikum ini adalah sebanyak 9 orang yang
merupakan mahasiswa program pascasarjana prodi Ilmu Gizi Institut Pertanian
Bogor tahun 2015. Berikut merupakan tabel sebaran responden berdasarkan jenis
kelamin.
Tabel 1 Distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis kelamin
Persentase
Jenis Kelamin
Frekuensi
(%)
Laki-laki
3
33,3
Perempuan
6
66,7
Total
9
100
Data distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis kelamin pada Tabel
1 menunjukkan bahwa responden yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak
dibandingkan laki-laki dengan persentase sebesar 66,7% untuk perempuan dan
sebesar 33,3% untuk laki-laki.
Tabel 2 Karakteristik responden berdasarkan umur
Karakteristik
Minimum Maksimum
Rata-rata SD
Umur (tahun)
21
31
25
Karakteristik responden berdasarkan umur pada Tabel 2 menunjukkan
bahwa responden tergolong dalam dua kelompok umur, yaitu masa remaja akhir
dan masa dewasa awal (Depkes 2009) dengan rata-rata umur 25 tahun.

Indeks massa tubuh (IMT)


Penilaian indeks glikemik suatu bahan pangan dilakukan pada responden
dengan karakteristik IMT normal, yaitu 18,5 25,0 (Depkes 2003). Berikut
merupakan tabel sebaran responden berdasarkan IMT.
Tabel 3 Karakteristik responden berdasarkan IMT
Karakteristik
Minimum Maksimum
Rata-rata SD
2
IMT (kg/cm )
20,6
22,8
21,7
Karakteristik responden berdasarkan IMT pada Tabel 3 menunjukkan
bahwa semua responden tergolong dalam IMT normal dengan rata-rata sebesar
21,7 kg/cm2.

Indeks glikemik (IG)


Prinsip

pengukuran

indeks

glikemik

pangan

dilakukan

melalui

pengambilan darah responden setelah mengkonsumsi pangan (pangan standar dan


pangan uji) selama selang waktu tertentu. Kemudian kadar glukosa darah
responden diplotkan ke dalam grafik. Nilai indeks glikemik diperoleh dari
perhitungan luas kurva pangan uji dibagi luas kurva standar dikali 100. Berikut
merupakan tabel nilai rata-rata indeks glikemik pangan uji berupa sukrosa.
Tabel 4 Nilai rata-rata indeks glikemik pangan uji sukrosa
Kriteria
Nilai Rata-rata
Indeks glikemik pangan uji
52,36
Nilai rata-rata indeks glikemik pangan uji sukrosa pada Tabel 4 adalah
sebesar 52,36. Hasil tersebut berbeda dengan literatur yang menyatakan bahwa
sukrosa memiliki indeks glikemik rata-rata sebesar 65 (Atkinson et al. 2008 dalam
Hoerudin 2012).

PEMBAHASAN
Indeks glikemik (IG) adalah tingkatan pangan menurut efeknya terhadap
kadar gula darah atau respon glukosa darah terhadap makanan dibandingkan
dengan respon glukosa darah terhadap glukosa murni. IG berguna untuk
menentukan respon glukosa darah terhadap jenis dan jumlah makanan yang
dikonsumsi. IG bahan makanan berbeda-beda tergantung pada fisiologi, bukan
pada kandungan bahan makanan (Sarwono 2003).
Skala IG dikembangkan untuk membantu mengatur kadar glukosa
penderita diabetes. IG merupakan respon glikemik ketika mengonsumsi sejumlah
karbohidrat dalam pangan sehingga dijadikan indikator tidak langsung dari respon
insulin tubuh (Foster et al. 2002).
IG dikategorikan rendah jika memiliki nilai <55, sedang antara 55 70,
dan rendah jika nilainya >70 (Foster et al. 2002). Karbohidrat dalam pangan yang
dipecah dengan cepat selama pencernaan memiliki nilai IG yang tinggi sehingga
respon gula darah terhadap jenis pangan ini cepat dan tinggi. Sebaliknya,
karbohidrat yang dipecah dengan lambat memiliki nilai IG yang rendah sehingga
pelepasan glukosa ke dalam darah juga lebih lambat. IG murni ditetapkan dengan

skor 100 dan digunakan sebagai acuan untuk penentuan IG pangan lain
(Rimbawan dan Siagian 2004).
Penilaian indeks glikemik suatu bahan pangan dilakukan pada responden
dengan kriteria IMT normal dan tidak menderita diabetes. Orang yang gemuk
cenderung cepat lapar karena kadar glukosa darah mereka cepat turun sebagai
respon terhadap kebutuhan energi dan metabolisme basal yang lebih tinggi bila
dibandingkan dengan orang yang lebih kurus. Pada penderita diabetes, hormon
insulin yang ada di dalam tubuh tidak mencukupi atau tidak efektif sehingga tidak
dapat mengatur kadar glukosa darah secara normal (Ravussin et al. 1986 dalam
Rimbawan, Syarief H, Dalimunthe D, dan Siagian A 2004).
Pangan standar yang digunakan pada praktikum ini adalah glukosa
sedangkan pangan uji yang digunakan adalah sukrosa. Perhitungan skor indeks
glikemik menggunakan metode luas bangun dengan baseline yaitu titik terendah
respon glukosa darah responden, baik pada kurva pangan standar maupun kurva
pangan uji.
Nilai rata-rata IG pangan uji sukrosa pada praktikum ini adalah sebesar
52,36. Berdasarkan kategori indeks glikemik, skor tersebut menunjukkan bahwa
pangan uji pada praktikum ini termasuk dalam kategori pangan yang memiliki
indeks glikemik rendah (<55). Nilai tersebut kurang lebih setengah dari glukosa
yang mempunyai skor IG sebesar 99 (Foster et al. 2002). Hasil skor IG sukrosa
yang rendah disebabkan karena sukrosa merupakan disakarida yang terdiri dari
satu molekul glukosa dan satu molekul fruktosa. Fruktosa diserap dan masuk ke
dalam hati. Kelebihan fruktosa di dalam hati akan diubah secara perlahan menjadi
glukosa sehingga respon glukosa darah terhadap fruktosa murni sangat kecil
dengan skor IG sebesar 23 (Rusilanti 2008).
Namun, nilai IG sukrosa pada praktikum ini berbeda dengan literatur yang
menyatakan bahwa sukrosa memiliki indeks glikemik rata-rata sebesar 65
(Atkinson et al. 2008 dalam Hoerudin 2012). Hasil yang tidak akurat dapat
disebabkan oleh jumlah responden yang hanya berjumlah 9 orang. Menurut
Brouns (2005), dibutuhkan 10 orang responden dalam pengukuran indeks
glikemik agar didapatkan nilai statistik yang cukup kuat. Selain itu, masih belum

ada kesepakatan mengenai metode terbaik untuk menghitung luas di bawah kurva
respon glukosa darah (Monro dan Shaw 2008).
Faktor-faktor lain yang mempengaruhi pengukuran indeks gikemik, yaitu
waktu makan terakhir (sebelum puasa), toleransi glukosa, pola makan, waktu yang
digunakan untuk menghabiskan pangan tersebut, dan aktivitas fisik yang
dilakukan sebelum pengukuran. Hal tersebut berpengaruh terhadap luas kurva
pada pangan standar maupun pangan uji sehingga nilai indeks glikemik bahan
pangan yang didapat pun kurang tepat.

KESIMPULAN
Skor IG pada pangan uji sukrosa termasuk dalam kategori pangan dengan
IG rendah, yaitu kurang lebih setengah dari skor IG glukosa murni. Cara
pengukuran IG suatu bahan pangan harus diperhatikan sehingga nilai IG tidak
berbeda pada bahan pangan yang sama. Responden sebaiknya dikondisikan
senyaman mungkin saat pengukuran indeks glikemik agar tidak mempengaruhi
kadar glukosa darah. Jumlah responden minimal dan pemilihan metode
perhitungan skor perlu diperhatikan agar didapatkan hasil yang tepat.

DAFTAR PUSTAKA
Atkinson FS, Foster-Powell K, Brand Miller JC. 2008. International Tabels of
Glycemic Index and Glycemic Load Values. Diabetes Care. 31:2281-2283.
Brouns F et al. 2005. Glycemic Index Methodology. Nutrition Reasearch
Reviews, 8, 145 171. DOI 10.1079 NRR2005100
[Depkes RI] Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2003. Petunjuk Teknis
Pemantauan Status Gizi Orang Dewasa dengan Indeks Massa Tubuh
(IMT). Jakarta: Dirjen Binkesmas.
_____________________________________________. 2009. Klasifikasi Umur.
Jakarta: Dirjen Binkesmas.

Foster-Powell K., Holt SHA dan Brand-Miller J.C. 2002. International Table of
Glycemic Index and Glycemic Load Values. American Journal Clinical
Nutrition. 75 : 5-56231-255.
Ragnhild AL, Asp NL., Axelsen M, Raben A. 2004. Glycemic Index: Relevance
for Health, Dietary Recommendations, and Nutritional Labelling.
Scandinavian Journal of Nutrition. Volume 48 No. 2
Ravussin E, Lillioja S, Anderson T. 1986. Determinants of 24-hour energy
expenditure in man: methods and results using respiratory chamber. J Clin
Invest 78: 1568-1578.
Rimbawan, Siagian A. 2004. Indeks Glikemik Pangan. Bogor: Penebar Swadaya.
Rimbawan, Syarief H, Dalimunthe D, Siagian A. 2004. Pengaruh Indeks
Glikemik, Komposisi, dan Cara Pemberian Pangan Terhadap Respons
Glikemik [Jurnal]. Ejournal.usu.ac.id
Sarwono W. 2003. Pengkajian Status Gizi. Jakarta: Fakultas Kedokteran UI
Widowati S. 2007. Pemanfaatan Ekstrak Teh Hijau dalam Pengembangan Beras
Fungsional untuk Penderita Diabetes Mellitus. Tesis. Bogor: Pascasajana.
Rusilanti. 2008. Menu Sehat untuk Pengidap Diabetes Melitus. Jakarta: Kawan
Pustaka.

LAMPIRAN
Nama
Responden
Mukhlas
Puput
Taufiq
Husnul
Fathin
Niken
Ery
Sadar
Leony
Rata-rata

Tabel 5 Karakteristik responden


Umur
BB
TB
IMT
Gula Darah Puasa
(tahun) (kg)
(cm) (kg/cm2)
21
62
169
21,7
107
23
52
158
20,8
107
22
57
158
22,8
93
22
47
151
20,6
95
28
59
161
22,8
102
24
52
154
21,9
88
28
52
158
20,8
104
31
65
170
22,5
99
26
45
145
21,4
119
25
54,55 158,22
21,7
101,5

Tabel 6 Hasil penilaian indeks glikemik pangan uji


Luas Kurva Glukosa Darah
Indeks
Nama Responden
Glikemik
Pangan Standar
Pangan Uji
Ery
Taufiq
Pramita
Leony
Husnul
Fathin
Niken
Sadar
Mukhlas

4035
2310
3735
2257,5
5160
2100
7020
2925
5257,5
2715
5152,5
3172,5
5077,5
2317,5
4222,5
1545
2040
1545
Nilai Indeks Glikemik Pangan Uji

57,25
60,44
40,70
41,67
51,64
61,57
45,60
36,60
75,70
52,36

Glukosa Darah (mg/dL)

200
180
160
140
120
100
80
60
40
20
0

180
161
140
119

107

93

15

30

45
Menit ke-

60

90

90

120

Gambar 1 Contoh kurva pangan standar pada responden

Glukosa Darah (mg/dL)

160
145

140
129

120

128

110

100

104

102

94

80
60
40
20
0
0

15

30

45
Menit ke-

60

90

Gambar 2 Contoh kurva pangan uji pada responden

120