Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut UU Pangan Tahun 2012 tentang pangan, pangan adalah segala sesuatu
yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan,
peternakan, perairan, dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan
sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan
Pangan, bahan baku Pangan, dan bahan lainnya yang digunakan dalam proses penyiapan,
pengolahan, dan/atau pembuatan makanan atau minuman.
Buah dan sayur adalah salah satu jenis pangan yang merupakan sumber zat gizi
pengatur serta berfungsi untuk menjalankan dan mengatur proses-proses metabolisme
tubuh. Buah dan sayur juga merupakan salah satu jenis pangan yang dapat menentukan
sumber daya manusia yang berkualitas. Meski demikian konsumsi buah dan sayur
masyarakat Indonesia masih sangat minim.
Berdasarkan Laporan SDT tahun 2014 menyatakan bahwa tingkat konsumsi buah
dan sayur masing-masing hanya 57,1 gram per orang per hari dan 33,5 gram per orang per
hari. Mengingat konsumsi buah dan sayur masih sedikit maka perlu dirumuskan kebijakan
untuk meningkatkan konsumsi buah dan sayur melalui edukasi dan peningkatan
ketersediaan buah dan sayur dengan harga yang terjangkau (Litbangkes, 2014).
Ketersediaan buah dan sayur, usia, jenis kelamin, preferensi, kebiasaan/asupan
makan orang tua, sosial ekonomi (tingkat pendapatan) merupakan faktor determinan yang
berhubungan dengan konsumsi buah dan sayur pada anak-anak remaja (Rasmussen et al.,
(2006). Ketersediaan buah dan sayur berhubungan positif dengan konsumsi buah dan sayur.
Berdasarkan penelitian Achmad (2014), ketersedian buah dan sayur dirumah masih kurang

baik, yaitu pada SMAN 16 Makassar sebesar 65,8% sedangkan pada SMAN 10 Makassar
73,6%.
Selain ketersedian buah dan sayur, tingkat pendapatan juga merupakan salah satu
faktor kurangnya konsumsi buah dan sayur. Hai ini di dukung dengan penelitian Wulansari
(2009), yang menyatakan bahwa semakin tinggi pendapatan keluarga maka semakin rendah
konsumsi buah dan sayur. Dalam hal ini dimungkinkan tingginya pendapatan keluarga
tidak dialokasikan untuk konsumsi buah dan sayur.
Anjuran untuk mengkonsumsi sayur dan/atau buah adalah minimal 5 porsi/hari.
Namun proporsi kurang makan buah dan sayur di Indonesia sangat tinggi yakni 93.6%
(Riskesdas, 2013). Kurang konsumsi buah dan sayur di provinsi Sulawesi Tenggara
meningkat dari tahun 2007 sekitar 92,9% menjadi 95,2% pada tahun 2010. Kurang
konsumsi buah dan sayur mengalami peningkatan atau belum mengalami penurunan
(Riskesdas, 2007).
Kelompok umur 10-24 tahun merupakan salah satu kelompok umur yang kurang
makan buah dan sayur (konsumsi buah dan sayur kurang dari 5 porsi/hari) dengan proporsi
93,8% (Riskesdas, 2007). Hampir secara keseluruhan kurang konsumsi buah dan sayur
terdapat pada penduduk umur 10 tahun ke atas. Konsumsi buah dan sayur paling rendah
terdapat di kabupaten Bombana (99,7%), kabupaten Wakatobi (99,7%), kabupaten Buton
(99,1%) dan kabupaten Kolaka Utara (99,1%). Sedangkan yang berada di bawah rata-rata
adalah kabupaten Muna (94,3%), kota Bau Bau (88,9%) dan kota Kendari (85,0%)
(Riskesdas Sultra, 2007). Hal ini menunjukkan bahwa masih kurangnya konsumsi buah dan
sayur pada remaja sedangkan dalam 10 Pedoman Gizi Seimbang telah di anjurkan untuk
banyak makan sayur dan cukup buah-buahan.

Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada 10 siswa-siswi yang


dipilih secara acak di SMA Negeri 1 Kendari didapatkan siswa-siswi kurang
mengkonsumsi buah sebesar 80% dan kurang konsumsi sayur sebesar 60%. Kategori
kurang jika konsumsi buah < 2 kali/hari dan sayur < 3 kali/hari. Hal ini dikarenakan jadwal
pelajaran siswa-siswi yang cukup padat serta jarak menuju rumah yang cukup jauh
sehingga siswa-siswi SMA Negeri 1 Kendari memilih mengkonsumsi makanan luar
sebelum pulang ke rumah.
Maka dari itu perlu dilakukan penelitian mengenai hubungan ketersediaan buah dan
sayur dan tingkat pendapatan keluarga dengan pola konsumsi buah dan sayur pada remaja
di SMA Negeri 1 Kendari.
B. Rumusan Permasalahan
Berdasarkan uraian diatas, penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
bagaimana hubungan ketersediaan buah dan sayur dan tingkat pendapatan keluarga
dengan pola konsumsi buah dan sayur pada remaja di SMA Negeri 1 Kendari ?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan ketersediaan buah dan sayur dan tingkat
pendapatan keluarga dengan pola konsumsi buah dan sayur pada anak remaja di SMA
Negeri 1 Kendari.
2. Tujuan Khusus
a) Mengetahui ketersediaan buah dan sayur di rumah tangga
b) Mengetahui tingkat pendapatan keluarga
c) Mengetahui pola konsumsi buah dan sayur
d) Mengetahui hubungan ketersediaan buah dan sayur dengan pola konsumi buah dan
sayur di SMA Negeri 1 Kendari

e) Mengetahui hubungan tingkat pendapatan keluarga dengan pola konsumsi buah dan
sayur di SMA Negeri 1 Kendari
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
a) Dapat menambah wawasan terkait perilaku konsumsi buah dan sayur pada remaja
serta sebagai sebagai media pengembangan kompetensi diri sesuai dengan keilmuan
yang diperoleh selama perkuliahan.
b) Sebagai pengalaman dan pembelajaran bagi peneliti dalam melakukan penelitian
selanjutnya terkait masalah yang berkaitan dengan gizi masyarakat.
2. Bagi Institusi
a) Sebagai tambahan referensi karya tulis penelitian yang berguna bagi masyarakat
luas di bidang kesehatan masyarakat, khususnya terkait perilaku konsumsi buah dan
sayur.
b) Sebagai bahan untuk penelitian lanjutan oleh peneliti lain dalam topik yang sama
yaitu konsumsi buah dan sayur.
3. Bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk memberikan informasi tentang
pentingnya mengkonsumsi buah dan sayur di SMA Negeri 1 Kendari.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Telaah Pustaka
1. Remaja
Masa remaja merupakan periode dari pertumbuhan dan proses kematangan
manusia, pada masa ini terjadi perubahan yang sangat unik dan berkelanjutan.
Perubahan fisik karena pertumbuhan yang terjadi akan mempengaruhi status kesehatan
dan gizinya. Status gizi dapat ditentukan melalui pemeriksaan laboratorium maupun
secara antropometri. Kekurangan kadar hemoglobin atau anemia ditentukan melalui
pemeriksaan darah. Antropometri merupakan cara penentuan status gizi yang paling
mudah dan murah (Hasdianah, 2014).
Indeks Massa Tubuh (IMT) direkomendasikan sebagai indikator yang baik
untuk menentukan status gizi remaja. Masalah gizi pada remaja akan berdampak negatif
pada tingkat kesehatan masyarakat, misalnya penurunan konsentrasi belajar, resiko
melahirkan bayi BBLR, penurunan kesegaran jasmani. Banyak penelitian yang telah
menunjukkan kelompok remaja mengalami banyak masalah gizi. Masalah gizi tersebut
antara lain anemi dan IMT kurang dari batas normal atau kurus. Prevalensi remaja
dengan IMT kurus berkisar antara 30 % banyak faktor yang menyebabkan masalah ini.
Dengan mengetahui faktor-faktor penyebab yang mempengaruhi masalah gizi tersebut
membantu upaya penanggulangan dan lebih terpengaruh dan terfokus (Hasdianah,
2014).
Gizi seimbang bagi remaja adalah makanan yang dikonsumsi remaja yang
mengandung zat sumber tenaga, zat pembangun, dan zat pengatur serta beraneka ragam
jenisnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan zat gizi usia remaja antara lain:

a) Pada anak usia sekolah banyak mengikuti aktifitas fisik maupun mental, hobby
b)
c)
d)
e)

bermain, belajar, dan berolah raga.


Lingkungan
Pengobatan
Depresi dan kondisi mental
Penyakit
Zat gizi akan membantu meningkatkan kesehatan tubuh anak, sehingga

sistem pertahanan tubuhnyapun baik dan tidak mudah terserang penyakit.


f) Stress
Umumnya para orang tua kurang memperhatikan kegiatan makan anaknya lagi.
Mereka beranggapan bahwa anak usia ini sudah tahu kapan ia harus makan. Disamping
itu, anak mulai banyak melakukan kegiatan diluar rumah, sehingga sedikit sulit untuk
mengawasi jenis makanan apa saja yang mereka makan. Anak usia sekolah
membutuhkan lebih banyak energi dan zat gizi dibanding anak balita. Diperlukan
tambahan energi, protein, kalsium, flour, zat besi, sebab pertumbuhan sedang pesat dan
aktifitas kian bertambah.
Untuk memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi, anak seusia ini membutuhkan 5
kali waktu makan, yaitu makan pagi (sarapan), makan siang, makan malam dan 2 kali
makan selingan. Perlu ditekankan pentingnya sarapan supaya dapat berpikir dengan
baik dan menghindari hipoglikemi. Bila jajan harus diperhatikan kebersihan makanan
supaya tidak tertular penyakit tiroid, disentri, dan lain-lain. Anak remaja putri sudah
mulai haid sehingga diperlukan tambahan zat besi. Kecukupan gizi remaja akan
terpenuhi dengan pola makan yang beragam dan gizi seimbang. Modifikasi menu
dilakukan terhadap jenis olahan pangan dengan memperhatikan jumlah dan sesuai
kebutuhan gizi pada usia tersebut dimana sangat membutuhkan makanan yang sangat
bergizi (Hasdianah, 2014).

2. Konsumsi Buah dan Sayur


Konsumsi pangan merupakan faktor utama untuk memenuhi kebutuhan gizi
yang selanjutnya bertindak menyediakan energi bagi tubuh, mengatur proses
metabolisme, memperbaiki jaringan tubuh serta untuk pertumbuhan. Konsumsi, jumlah
dan jenis pangan dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor yang sangat
mempengaruhi konsumsi pangan adalah jenis, jumlah produksi dan ketersediaan
pangan. Untuk tingkat konsumsi lebih banyak ditentukan oleh kualitas dan kuantitas
pangan yang dikonsumsi (Raudatina, 2011). Tujuan dalam mengonsumsi pangan adalah
untuk memperoleh sejumlah zat gizi yang diperlukan tubuh.
Salah satu sumber bahan pangan yang baik untuk memperoleh zat gizi adalah
buah dan sayur. Dalam piramida kesehatan manusia menyebutkan perlunya
mengonsumsi buah dan sayur (Angraini, 2014). Secara umum sayuran dan buah
buahan merupakan sumber berbagai vitamin, mineral, dan serat pangan. Sebagian
vitamin, mineral yang terkandung dalam sayuran dan buah-buahan berperan sebagai
anti oksidan atau penagkal senyawa jahat dalam tubuh. Berbeda dengan sayuran, buahbuahan juga menyediakan karbohidrat, seperti wortel dan kentang sayur. Sementara
buah tertentu juga menyediakan lemak tidak jenuh seperti buah alpokat dan buah
merah. Oleh karena itu konsumsi sayuran dan buah-buahan mmerupakan salah satu
bagian penting yang mewujudkan gizi seimbang (Kemenkes, 2014).
Sejak tahun 1990, telah dicanangkan dalam Dietery for Americans bahwa
rekomendasi minimal untuk mengonsumsi buah adalah 2 porsi/hari dan 3 porsi/hari
untuk konsumsi sayur atau setara dengan konsumsi buah dan sayur 5 porsi/hari.
Berdasarkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) secara umum menganjurkan konsumsi

sayuran dan buah-buahan untuk hidup sehat sejumlah 400 gr/orang/hari, yang terdiri
dari 250 gr sayur (setara dengan 2 porsi atau 2 gelas sayur setelah dimasak dan
ditiriskan) dan 150 gr buah (setara dengan 3 buah pisang abon ukuran sedang atau 1
potong papaya ukuran sedang atau 3 buah jeruk ukuran sedang).
Bagi orang Indonesia di anjurkan konsumsi sayuran dan buah-buahan 300-400
gr/orang/hari bagi anak balita dan anak usia sekolah, dan 400-600 gr/orang/hari bagi
remaja dan orang dewasa. Sekitar dua-pertiga dari jumlah anjuran konsumsi sayuran
dan buah-buahan tersebut adalah porsi sayur. Anjuran dalam PGS untuk mengonsumsi
buah sebanyak 2-3 porsi dan untuk sayuran dianjurkan mengonsumsi 3-4 porsi dalam
sehari (Kemenkes, 2014).
Berbagai kajian menunjukkan bahwa konsumsi sayuran dan buah-buahan yang
cukup turut berperan dalam menjaga kenormalan tekanan darah, kadar gula dan
kolestrol darah, mengendalikan tekanan darah. Konsumsi sayuran dan buahan yang
cukup juga menurunkan resiko sulit buang air besar (BAB/Sembelit) dan kegemukan.
Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi sayuran dan buah-buahan yang cukup turut
berperan dalam pencegahan penyakit tidak menular kronik. Konsumsi sayuran dan
buah-buahan yang cukup merupakan salah satu indikator sederhana gizi seimbang
(Kemenkes, 2014).
Konsumsi buah dan sayur harus cukup, tidak boleh kurang ataupun berlebihan
sebab jika kekurangan ataupun kelebihan dapat menimbulkan efek negatif bagi tubuh.
Kekurangan buah dan sayur dapat menyebabkan tubuh kekurangan zat-zat gizi seperti
vitamin dan mineral yang sangat bermanfaat dan dibutuhkan tubuh. Sedangkan
kelebihan buah dan sayur dapat berakibat membebani kerja ginjal. Walupun vitamin

dan mineral di perlukan tubuh, tetapi jika ginjal tidak mampu mencerna akibat asupan
yang berlebihan dapat menyebabkan seseorang terkena gagal ginjal (Khomsan, 2003
dalam Farida, 2010).
Semakin matang buah yang mengandung karbohidrat semakin tinggi kandungan
fruktosa dan glukosannya, yang dicirikan oleh rasa yang semakin manis. Dalam budaya
makan masyarakat perkotaan Indonesia saat ini, semakin dikenal minuman jus bergula.
Dalam segelas jus buah bergula mengandung 150-300 kalori yang sekitar separuhnya
dari gula yang ditambahkan. Selain itu beberapa jenis buah juga meningkatkan resiko
kembung dan asam urat. Oleh karena itu, konsumsi buah yang terlalu matang dan
minuman jus bergula perlu di batasi agar turut mengendalikan kadar gula darah
(Kemenkes, 2014).
a) Penggolongan Buah dan sayur
1) Penggolongan Sayur
Berdasarkan kandungan zat gizinya kelompok sayuran dibagi menjadi 3
golongan, yaitu :
(a) Golongan A, kandungan kalorinya sangat rendah. Sayuran yang termasuk
dalam kelompok ini adalah gambas, ketimun, oyong, tomat sayur, lobak, dll.
(b) Golongan B, kandungan zat gizi per porsi (100 gram) adalah : 25 Kal, 5
gram karbohidrat, dan 1 gram protein. Satu porsi sayuran adalah kurang
lebih satu gelas sayuran setelah dimasak dan ditiriskan. Sayuran yang
termasuk dalam kelompok ini adalah bayam, kol, pare, sawi, kangkung,
buncis, genjer, labu siam, terong, dll.
(c) Golongan C, kandungan zat gizi per porsi (100 gram) adalah : 50 Kal, 10
gram karbohidrat, dan 3 gram protein. Satu porsi sayuran adalah kurang
lebih satu gelas sayuran setelah dimasak dan ditiriskan. Sayuran yang

termasuk dalam kelompok ini adalah daun katuk, nagka muda, daun
singkong, bayam merah, dll (Kemenkes, 2014).
2) Penggolongan buah
Menurut Astawan (2008) dalam Farida (2010), berdasarkan ketersediaan
di pasar, buah-buahan dapat dibedakan menjadi :
(a) Buah bersifat musiman seperti durian, mangga, rambutan, dan lain-lain.
(b) Buah tidak musiman seperti pisang, nanas, alpukat, papaya, semangka dan
lain-lain.
Sedangkan berdasarkan prioritas pengembangan, Astawan (2008) dalam
Farida (2010) membagi buah-buahan menjadi :
(a) Buah prioritas nasional yang meliputi jeruk, mangga, rambutan, durian, dan
pisang.
(b) Buah prioritas daerah yang meliputi manggis, duku, leci, klengkeng, salak
dan markisa.
3. Perilaku Konsumsi Remaja
Menurut Notoadmojo (2003), perilaku merupakan suatu kegiatan atau aktivitas
organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan, misalnya manusia. Perilaku manusia
mempunyai bentangan yang sangat luas mencakup : berjalan, berbicara, bereaksi,
mengkonsumsi makanan dan lain-lain. Bahkan kegiatan interna (internal activity)
seperti berpikir persepsi dan emosi juga merupakan perilaku manusia. Dapat
disimpulkan bahwa perilaku adalah berbagai hal yang dikerjakan oleh organisme baik
yang dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung.
Perilaku makan sehat merupakan perilaku mengonsumsi beberapa variasi
kelompok makanan yang direkomendasikan yaitu karbohidrat, buah dan sayur, protein,
dan lemak, berlaku secara universal (Ogden, 2010). Perilaku makan sehat ditujukan

10

bagi setiap individu untuk semua usia, budaya, dan situasi geografis. Setiap individu
direkomendasikan untuk mengonsumsi setiap kelompok makanan, tetapi sebagian besar
individu hanya mengonsumsi makanan tertentu dan melewatkan atau sedikit
mengonsumsi buah dan sayur.
Konsumsi buah dan sayur pada remaja masih banyak yang belum memenuhi
rekomendasi WHO sebesar 400 gram/hari. Pada umumnya remaja lebih suka makan
makanan jajanan yang kurang bergizi seperti goreng-gorengan, coklat, permen, dan es.
Sehingga makanan yang beraneka ragam tidak dikonsumsi. Remaja sering makan diluar
rumah bersama teman-temn, sehingga waktu makan tidak teratur, akibatnya
mengganggu system pencernaan (Proverawati & Wati, 2011).
Rendahnya konsumsi buah dan sayur dapat beresiko dalam memicu
perkembangan penyakit degeneratif seperti obesitas, diabetes, hipertensi, dan kanker
pada tahapan kehidupan selanjutnya (Bahria & Triyanti, 2010). Sedikitnya remaja yang
mengonsumsi buah dan sayur dikarenakan buah dan sayur bukan merupakan makanan
prestige dibandingkan makanan fast food yang sedang trend dikalangan remaja saat ini.
Sehingga hal tersebut berdampak pada konsumsi buah dan sayur remaja yang
berkurang (Lestari, 2013).
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi buah dan sayur pada
remaja yaitu usia, jenis kelamin, posisi, sosial-ekonomi (tingkat pendapatan),
preferences, asupan orang tua, dan ketersediaan di rumah/ aksesibilitas.
4. Ketersediaan Buah dan Sayur
Pangan merupakan kebutuhan manusia yang paling pokok dan utama. Pangan
berguna untuk mempertahankan kehidupan, sehingga ketersediaan pangan bagi setiap

11

individu maupun rumah tangga harus selalu terpenuhi dan terjamin. Pangan yang kita
konsumsi dan kita perlukan sehari-hari harus memenuhi kebutuhan akan tubuh kita
yang jumlahnya beragam, bergizi, dan berimbang (3B) serta aman dan halal untuk
dikonsumsi (Raudanita, 2011).
Ketersediaan pangan merupakan ketersediaan pangan secara fisik di suatu
daerah atau wilayah dilihat dari segala sumber, baik itu produksi pangan domestik,
perdagangan pangan dan bantuan pangan. Ketersediaan pangan dapat ditentukan oleh
beberapa hal yaitu produksi pangan di wilayah tersebut, perdagangan pangan melalui
mekanisme pasar di wilayah tersebut, stok yang dimiliki oleh pedagang dan cadangan
pemerintah serta bantuan pangan dari pemerintah atau organisasi lainnya (Suryana
dalam Debyta, 2013).
Konsumsi pangan adalah sejumlah makanan atau minuman yang dikonsumsi
oleh manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan hayatinya. Pola konsumsi pangan
adalah susunan makanan yang mencakup jenis dan jumlah makanan rata-rata perorang
perhari yang umum dikunsumsi penduduk dalam jangka waktu tertentu. Pola konsumsi
dipengaruhi oleh banyak faktor, tidak hanya faktor ekonomi tetapi juga faktor budaya,
ketersediaan pangan, pendidikan, gaya hidup dan sebagainya (Raudatina, 2011).
Remaja cenderung akan memilih makanan apapun yang tersedia ketika mereka
lapar. Ketersedian buah dan sayur di sekolah juga dapat mendukung remaja dalam
mengonsumsi buah dan sayur. Jenis makanan yang tersedia lebih banyak mempunyai
peluang yang lebih besar untuk dikonsumsi, sedangkan jenis makanan yang tidak
tersedia tidak akan dikonsumsi orang. Jadi, upaya untuk menyediakan lebih banyak

12

buah dan sayuran di restoran, di sekolah dan di rumah dapat meningkatkan konsumsi
jenis makanan ini (Achmad N, 2014).
Usaha keluarga dalam mencapai pembentukan pola makan yang baik dan sehat
dapat dilihat dari penyediaan makanan orang tua pada anak. Makanan yang di konsumsi
oleh anak sangat terkait dengan apa yang disediakan oleh orang tua. Ketersediaan buah
dan sayur diartikan sebagai ada atau tidaknya buah dan sayur di rumah (Candrawati et
al., 2014). Ketersediaan pangan memegang peran penting dalam pola konsumsi pangan
keluarga. Ketersediaan pangan yang kurang dapat mengurangi konsumsi pangan, yang
pada akhirnya dapat menimbulkan masalah gizi kurang (Gustiara, 2012).
5. Tingkat Pendapatan Keluarga
Upaya pemenuhan konsumsi makanan yang bergizi berkaitan erat dengan daya
beli rumah tangga. Rumah tangga dengan pendapatan terbatas, kurang mampu
memenuhi kebutuhan makanan yang diperlukan tubuh, setidaknya keanekaragaman
bahan makanan kurang bisa dijamin karena dana uang yang terbatas tidak akan banyak
pilihan. Akaibatnya kebutuhan makanan untuk tubuh tidak terpenuhi (Apriadji, 1986
dalam Lestari, 2013).
Di perkotaan, kelompok penduduk termiskin mengeluarkan 66% pengeluaran
rumah tangganya untuk makanan. Sedangkan penduduk terkaya hanya mengeluarkan
44% saja. Kecenderungan serupa juga di jumpai di pedesaan. Secara umum, 69%
pengeluaran rumah tangga di gunakan untuk makanan (Hidayati, 2004 dalam Farida,
2010).
Tingginya pendapatan cenderung diikuti dengan tingginya jumlah dan jenis
pangan yang dikonsumsi. Tongkat pendapatan akan mencerminkan kemampuan untuk

13

membeli bahan pangan. Konsumsi makanan baik jumlah maupun mutunya dipengaruhi
oleh faktor pendapatan keluarga (Soekirman, 2000 dalam Lestari, 2013).
Menurut Unit Minimum Kota (UMK) pada Kota Kendari saat ini Rp 1.800.00.
Sehingga untuk melihat tingkat pendapatan keluarga diperoleh dengan menggunakan
formulir pendapatan orang tua dan kriteria objektifnya adalah
a) tingkat pendapatan yaitu Rendah < Rp 1.800.00
b) tingkat pendapatan yaitu Tinggi Rp 1.800.000 ( Dinaskertrans Kendari, 2015)
6. Hubungan Ketersediaan Buah dan Sayur dan Tingkat Pendapatan Keluarga
Dengan Pola Konsumsi Buah dan Sayur
Pada umumnya remaja lebih suka makan makanan jajanan yang kurang bergizi
seperti goring-gorengan, coklat, permen, dan es. Sehingga makanan yang beraneka
ragam tidak dikonsumsi. Remaja sering makan diluar rumh bersama teman-temn,
sehingga waktu makan tidak teratur, akibatnya mengganggu sistem pencernaan.
Gangguan makan pada remaja dipengaruhi oleh beberapa faktor, yang pertama yaitu
faktor psikososial berupa perkembangan individu, kedua faktor genetik, dan ketiga
faktor biologik berupa penurunan sintesis (Proverawati & Wati, 2011).
Ketersediaan pangan memegang peran penting dalam pola konsumsi pangan
keluarga. Ketersediaan pangan yang kurang dapat mengurangi konsumsi pangan, yang
pada akhirnya dapat menimbulkan masalah gizi kurang (Gustiara, 2012).
Peran orang tua sangat penting dalam menyediakan makanan dalam rumah
tangga. Selama masa anak-anak, orang tua memliki pengaruh yang sangat besar dalam
sikap tentang makanan. Pada era modern seperti saat ini sangat penting dalam
mendorong kebiasaan makan sehat bagi anak-anaknya (Khomsan, 2003 dalam Farida,
2010).

14

Pendapatan merupakan faktor yang menentukan kuantitas dan kualitas makanan


yang dikonsumsi (Lestari, 2013). Tingginya tingkat pendapatan cenderung diikuti
dengan tingginya jumlah dan jenis pangan yang dikonsumsi. Tingkat pendapatan akan
mencerminkan kemampuan untuk membeli bahan pangan. Konsumsi makanan baik
jumlah maupun mutunya dipengaruhi oleh faktor pendapatan keluarga (Soekirman,
2000 dalam Wulansari, 2009).
Di 15 negara-negara berkembang, penduduk yang berpenghasilan rendah 15
negara membelanjakan sebagian besar pendapatannya untuk membeli makanan. Pada
daerah miskin di India 80% pendapatan yang diperoleh digunakan untuk membeli
makanan, sedangkan di 15 negara maju hanya 45% untuk membeli makanan (Hidayat,
2004 dalam Farida, 2010).

15

B. Landasan Teori
Berdasarkan pada kerangka pikiran, menunjukkan bahwa pada umumnya pola
konsumsi buah dan sayur dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktorfaktor tersebut
diantaranya :

Faktor Lingkungan Fisik


Ketersediaan di rumah
Ketersediaan di sekolah
Ketersediaan di waktu luang

Faktor Individu

Faktor Lingkungan Sosial

Faktor Spesifik
Jenis kelamin
Pengetahuan
Sikap
Uang Jajan
Tingkat asupan individu
Preferensi

Level Komunitas
Media massa dan iklan
Level Sekolah
Norma perilaku antar siswa

Teman sebaya
Norma
Subyektif Roberts (2000). Krummel & Kris-Etherton (1996), dan
Sumber
: Worthingtin

Klepp et al. (2005)

Keluarga
Status sosio-ekonomi
Contoh dari orangtua
Dukungan orangtua

Gambar 1.
Kerangka Teori
KERANGKA KONSEP

Gaya Hidup
Ketersediaan Buah Dan Sayur
Perilaku Makan Remaja
Pola Konsumsi Buah dan Sayur
Konsumsi Buah dan sayur
Tingkat Pendapatan Keluarga
Keterangan :
= Variabel yang diteliti

16

= Variabel yang dihubungkan

C. Hipotesis
Adapun hipotesis yang diajukan pada penelitian ini adalah hipotesis alternatif (Ha)
dengan uraian sebagai berikut :
1. Ada hubungan ketersediaan buah dan sayur dengan pola konsumsi buah dan sayur pada
anak remaja di SMA Negeri 1 Kendari.
2. Ada hubungan tingkat pendapatan keluarga dengan pola konsumsi buah dan sayur pada
anak remaja di SMA Negeri 1 Kendari.

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional
study. Penelitian ini ingin melihat dan menganalisa hubungan antara variable independen
dan dependen yang dilakukan secara bersamaan.
B. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Februari 2016. Dimana tempat penelitian
di lakukan di SMA Negeri 1 Kendari.

17

C. Populasi dan Sampel


1. Populasi
Populasi dari penelitian ini adalah 1329 orang dari siswasiswi di SMA Negeri
1 Kendari pada tahun ajaran 2015/2016.
2. Sampel
Sampel diambil dari populasi dengan secara acak (simple random sampling).
Sampel dalam penelitian ini adalah siswa dan siswi di SMA Negeri 1 Kendari yang
memenuhi kriteria inklusi sebagai berikut :
a) Siswa dan siswi kelas X dan XI SMA Negeri 1 Kendari. Untuk siswa dan siswi
kelas XII akan mengikuti tahap ujian akhir sehingga tidak memungkinkan untuk
dijadikan sampel pada penelitian ini.
b) Berstatus sebagai siswa dan siswi aktif di SMA Negeri 1 Kendari.
c) Bersedia menjadi responden
Besar sampel yang dibutuhkan dihitung dengan menggunakan sample size
pengujian hipotesis untuk dua proporsi populasi.
n

Keterangan

2 P (1 P ) z1

P1 (1 P1 ) P2 (1 P2

( P1 P2 ) 2

= besar sampel

Z1-

= tingkat kemaknaan pada = 5% (Z-score =1,96)

Z1-

= kekuatan uji pada = 80% (Z-score = 2,33)

P1

= proporsi pola konsumsi buah dan sayur cukup = 31,1% (Lestari, 2013)

P2

= proporsi pola konsumsi buah dan sayur kurang = 68,9% (Lestari, 2013)

18

= P1 + P2 / 2

1,96

n
n
n

1,386

2 P (1 P ) z1

P1 (1 P1 ) P2 (1 P2

( P1 P2 ) 2

2 x 0,05 (1 0,5) 2,33 0,689 (1 0,689) 0,311(1 0,311


(0,689 0,311) 2

1,53
0,143
59,44 60
60 10%
66 orang

D. Jenis dan Cara Pengumpulan Data


Jenis data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer
diperoleh melalui pengamatan dan wawancara langsung dengan alat bantu kuesioner yang
meliputi pola konsumsi buah dan sayur yang dikonsumsi siswa-siswi diperoleh melalui
semi quantitative food frequency, ketersediaan buah dan sayur menggunakan kuesioner
yang mengacu pada penelitian Farisa (2012) sedangkan tingkat pendapatan melalui
formulir biodata. Sementara itu, data sekunder berupa gambaran umum dan jumlah siswa
diperoleh dari bagian tata usaha SMA Negeri 1 Kendari.
E. Pengolahan dan Analisis Data
1. Pengolahan Data
Setelah data terkumpul maka dilakukan pengolahan data kemudian dianalisis
menggunakan komputerisasi. Pengolahan data dilakukan sebagai berikut :
a) Editing
Editing adalah kegiatan menyeleksi data yang masuk dari pengumpulan data
melalui kuesioner, setelah kuesioner dikumpulkan kemudian peneliti melakukan

19

pemeriksaan terhadap jawaban yang telah diberikan dan tidak ada kuesioner yang
tidak terisi.
b) Coding
Coding adalah kegiatan untuk mengklasifikasikan data atau jawaban
menurut ketegorinya masing-masing, kode yang digunakan :
1) Konsumsi buah dan sayur, terdiri dari 2 kategori yaitu
(a) Kurang diberi kode 0. Dikatakan kurang jika konsumsi buah < 2 kali/hari
dan sayur < 3 kali/hari
(b) Cukup diberi kode 1. Dikatakan cukup jika konsumsi buah 2 kali/hari
dan sayur 3 kali/hari.
2) Ketersediaan buah dan sayur di rumah, terdiri dari 6 pertanyaan dengan 5
pilihan jawaban memiliki poin masing-masing yaitu selalu diberi poin 5, sering
di beri poin 4, kadang-kadang di beri poin 3, jarang di beri poin 2, dan tidak
pernah di beri poin 1. Poin dari tiap pertanyaan akan di jumlahkan dan di ukur
menggunakan median dari poin kuesioner tersebut.
(a) Apabila 18 poin maka dikaitkan ketersediaan buah dan sayur di rumah
baik dan di beri kode 1.
(b) Apabila < 18 maka ketersediaan buah dan sayur di rumah kurang baik di
beri kode 0.
3) Pendapatan orang tua, terdiri dari 1 pertanyaan. Variabel ini dikelompokkan
menjadi 2 kategori yaitu rendah dan tinggi.
(a) Dikatakan rendah jika pendapatan per bulan < Rp. 1.800.000 di beri kode
0
(b) Dikatakan tinggi jika pendapatan per bulan Rp. 1.800.000 di beri kode
1.
2. Analisis Data

20

a) Univariat
Analisis yang dilakukan untuk melihat distribusi frekuensi setiap variabel
independen dan dependen. Analisis ini digunakan untuk mempeoleh gambaran pada
masing-masing variabel (independen dan dependen) yang meliputi pola konsumsi
buah dan sayur, tingkat pendapatn keluarga, serta ketersediaan buah dan sayur.

b) Bivariat
Analisis ini dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan yang
bermakna antara variabel independen dengan dependen. Uji statistik yang
digunakan adalah Chi-square, karena variabel independen dan dependennya
termasuk dalam jenis variabel kategorik.
Melalui uji statistik Chi Square akan diperoleh nilai p, dimana dalam
penelitian ini digunakan tingkat kemaknaan () = 0,05 yaitu jika diperoleh nilai p
0.05 berarti ada hubungan yang signifikan antara variabel independen dengan
variabel dependen dan jika diperoleh nilai p > 0,05 maka tidak ada hubungan yang
signifikan antara variabel independen dengan variabel dependen. Dan menggunakan
rumus sebagai berikut :
N ad bc 0.5 N
a c b d a b c d
2

X2

Dengan penyajian sebagai berikut :


Pola Konsumsi Buah
dan Sayur
Cukup

Ketersediaan Buah dan


Sayur
Baik
Kurang
A
b

Jumlah
(a + b)

21

Kurang
Total

c
(a + c)

d
(a + d)

(c + d)
(a + b + c + d)

F. DEFINISI OPERASIONAL
1. Pola konsumsi buah dan sayur merupakan susunan jenis dan frekuensi buah dan sayur
yang di konsumsi seseorang atau sekelompok orang pada waktu tertentu, di ukur dengan
cara wawancara dan membagikan lembar survey konsumsi pangan menggunakan alat
ukur semi kuantitatif food frequency questioner dengan kategori cukup jika konsumsi
buah 2 kali/hari dan sayur 3 kali/hari, kurang jika konsumsi buah < 2 kali/hari dan
sayur < 3 kali/hari, masuk dalam skala ordinal. (Lestari, 2013).
2. Ketersediaan buah dan sayur Kemudahan responden untuk mendapatkan buah dan
sayur di rumah di ukur dengan cara Responden mengisi sendiri kuesioner yang diberikan
pangan menggunakan alat ukur kuesioner dengan kategori baik jika 18 poin dan
kurang baik jika < 18 poin, masuk dalam skala ordinal. (Farisa, 2012).
3. Tingkat pendapatan keluarga merupakan semua penghasilan dari anggota keluarga
yang berupa gaji/upah per bulan yang dibandingkan dengan UMK kota Kendari di ukur
dengan cara wawancara langsung menggunakan alat ukur kuesioner dengan kategori
rendah < Rp 1.800.00 dan tinggi Rp 1.800.000, masuk dalam skala ordinal
(Dinaskertrans Kendari, 2015).

22

DAFTAR PUSTAKA
Achmad, N., Hadju, V., Salam, A. 2014. Gambaran Pengetahuan, Sikap, Ketersediaan dan
Pola Konsumsi Sayur dan Buah Remaja di Makassar. Universitas Hassanudin.
Bahria., Triyanti. 2010. Faktor Faktor yang Terkait dengan Konsumsi Buah dan Sayur
pada Remaja di 4 SMA Jakarta Barat. Universitas Indonesia.
Candrawati, E., Wiarsih, W., Sukihananto. 2014. Ketersediaan Buah dan Sayur dalam
Keluarga Sebagai Strategi Intervensi Peningkatan Konsumsi Buah dan Sayur Anak
Usia Sekolah. Universitas Tribhuwana Tunggadewi.
Dinkes. 2014. Pedoman Gizi Seimbang. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Hal :
13 - 14.
Farida, I. 2010. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Konsumsi Buah dan
Sayur pada Remaja di Indonesia Tahun 2007. Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta. Skripsi.
Farisa, S. 2012. Hubungan Sikap, Pengetahuan, Ketersediaan dan Keterpaparan Media
Massa dengan Konsumi Buah dan Sayur pada Siswa SMPN 8 Depok Tahun 2012.
Universitas Indonesia. Skripsi.
Gustiara, I. 2012. Konsumsi Buah dan sayur pada Siswa SMA Negeri 1 Pekanbaru. Jurnal
Precure. Edisi April 2013 Vol. 1. Hal : 50 57.
Hasanah.A.N., Keloko.A.B., Andayani.L.S. 2012. Gambaran Perilaku Ibu dalam
Penyediaan Sayur Keluarga di Kelurahan Pasir Bidang Kecamatan Sarudik
Kabupaten Tapanuli Tengah Tahun 2012. Universitas Sumatera Utara.
Hasdianah.H.R., Sioto.S., Peristyowati.Y. 2014. Gizi, Pemanfaatan Gizi, Diet, dan
Obesitas. Nuha Medica. Yogyakarta. Cetakan I. Hal : 115 117.
Lean.M.E.J. 2013. Ilmu Pangan, Gizi dan Kesehatan. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. Edisi 7.
Hal : 475.

23

Lestari, A.D. 2013. Faktor Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Konsmsi Buah dan
Sayur pada Siswa SMPN 226 Jakarta Selatan Tahun 2012. Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta. Skripsi.
Litbangkes. 2014. Buku Studi Diet Total: Survei Konsumsi Makanan Individu Indonesia
2014. Lembaga Penerbitan Badan Litbangkes Jakarta. Hal : viii.
Notoatmodjo.S. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta. Hal :
114.
Pedoman Menulis Karya Ilmiah. 2015. Politeknik Kesehatan Kendari.
Proverawati.A., Wati.E.K. 2011. Ilmu Gizi untuk Keperawatan & Gizi Kesehatan. Nuha
Medika. Yogyakarta. Edisi 2. Hal : 88 90.
Rasmussen, Mete, et al. 2006. Determinants of Fruit and Vegetable Consumption Among
Children and Adolescents : a Review of the Literature. Part I : Quantitative Studies.
Internasional Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity.
Raudatina. 2011. Gambaran Konsumsi Pangan Lokal Tingkat Rumah Tangga di Desa
Nelayan Kabupaten Hulu Sungai Utara tahun 2010. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Husada Borneo Banjarbaru. Skripsi.
Riset Kesehatan Dasar. 2007. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,
Departemen Kesehatan, Republik Indonesia. Hal : 187.
Riset Kesehatan Dasar. 2013. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,
Departemen Kesehatan, Republik Indonesia. Hal : 130.
Riset Kesehatan Dasar Sulawesi Tenggara. 2007. Jakarta: Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan, Republik Indonesia. Hal : 132.
Wulansari, N.D. 2009. Konsumsi Serta Preferensi Buah dan Sayur pada Remaja SMA
dengan Status Sosial Ekonomi yang Berbeda di Bogor. Institut Pertanian Bogor.
Skripsi.

24

25