Anda di halaman 1dari 25

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Cor pulmonal merupakan suatu keadaan timbulnya hipertrofi dan
dilatasi ventrikel kanan akibat hipertensi pulmonal yang disebabkan oleh
penyakit yang menyerang struktur, fungsi paru, atau pembuluh darah
pulmonal yang dapat berlanjut menjadi gagal jantung kanan. Menurut
World Health Organization(WHO), definisi kor pulmonal adalah
keadaan patologis dengan hipertrofi ventrikel kanan yang disebabkan
oleh kelainan fungsional dan struktur paru. Tidak termasuk kelainan
karena penyakit jantung primer pada jantung kiri dan penyakit jantung
kongenital (bawaan). Istilah hipertrofi yang bermakna sebaiknya diganti
menjadi perubahan struktur dan fungsi ventrikel kanan.
Dikarenakan paru berkorelasi dalam sirkuit kardiovaskuler
antara ventrikel

kanan dengan bagian kiri jantung, perubahan pada

struktur atau fungsi paru akan mempengaruhi secara selektif jantung


kanan. Patofisiologi akhir yang umum yang menyebabkan kor pulmonal
adalah peningkatan dari resistensi aliran darah melalui sirkulasi paru dan
mengarah pada hipertensi arteri pulmonal.
Kor pulmonal dapat terjadi secara akut maupun kronik. Penyebab kor
pulmonal akut tersering adalah emboli paru masif sedangkan kor
pulmonal kronik sering disebabkan oleh penyakit paru obstruktif kronik
(PPOK). Pada kor
ventrikel

kanan

pulmonal
sedangkan

kronik

umumnya

terjadi

hipertrofi

pada kor-pulmonal akut terjadi dilatasi

ventrikel kanan. Insidens yang tepat dari kor pulmonal tidak diketahui
karena seringkali

terjadi

tanpa

dapat

dikenali

secara

klinis.

Diperkirakan insidens kor pulmonal adalah 6% sampai 7% dari


seluruh penyakit jantung. Di Inggris terdapat sedikitnya 0,3% populasi
dengan resiko terjadinya kor pulmonal pada populasi usia lebih dari 45

tahun dan sekitar 60.000 populasi telah mengalami hipertensi pulmonal


yang membutuhkan terapi oksigen jangka panjang.
Penyakit-penyakit yang

dapat menyebabkan

kor pulmonal

adalah penyakit yang secara primer menyerang pembuluh darah paru dan
penyakit yang mengganggu aliran darah paru. Berdasarkan penelitian
lain di Ethiopia, menemukan penyebab terbanyak kor pulmonal
berturut-turut adalah asma bronkial, tuberkulosis paru, bronkitis
kronik, emfisema, penyakit interstisial paru, bronkiektasis, obesitas,
dan kifoskoliosis. Menurut penelitian sekitar 80-90% pasien kor
pulmonal mempunyai PPOK dan 25 % pasien dengan PPOK akan
berkembang menjadi kor pulmonal. Kor

pulmonal

terjadi

ketika

hipertensi pulmonal menimbulkan tekanan berlebihan pada ventrikel


kanan. Tekanan yang berlebihan ini meningkatkan kerja ventrikel kanan
yang menyebabkan hipertrofi otot jantung yang normalnya berdinding
tipis, yang akhirnya dapat menyebabkan disfungsi
1.2 Rumusan Masalah
1;
2;
3;
4;
5;
6;
7;
8;
9;
10;
11;
12;

Bagaimana fungsi normal dari sirkulasi paru-paru?


Bagaimana prognosis dari kor pulmonal?
Apa definisi kor pulmnal?
Apa etiologi/ faktor pencetus kor pulmonal?
Apa saja klasifikasi dari kor pulmonal?
Apa saja manifestasi klinis kor pulmonal?
Bagaimana patofisiologi kor pulmonal?
Bagaimana pathway terjadinya kor pulmonal?
Apa saja pemeriksaan diagnostik pada kor pulmonal?
Bagaimana penatalaksanaan klien dengan kor pulmonal?
Apa komplikasi dari kor pulmonal?
Bagaimana asuhan keperawatan klien dengan kor pulmonal?

1.3; Tujuan

1.3.1; Tujuan Umum

Agar mahasiswa mengerti apa yang dimaksud dengan Struma


Nodosa dan cara perawatannya.
1.3.2; Tujuan Khusus
1; Untuk mengetahui Definisi Cor pulmonal
2; Untuk mengetahui Etiologi dari Cor pulmonal
3; Untuk mengetahui Manifestasi dari Cor pulmonal
4; Untuk mengetahui Patofisiologi dari Cor pulmonal
5; Untuk mengetahui Komplikasi dari Cor pulmonal
6; Untuk mengetahui Penatalaksanaan dari Cor pulmonal
7; Untuk mengetahui Askep dari Cor pulmonal
1.4; Manfaat
1.4.1; Mahasiswa

Dapat di jadikan salah satu refrensi untuk belajar,selain itu


makalah ini dapat di jadikan sebagai salah satu refrensi dalam
melakukan asuhan keperawatan dalam ruang lingkup Cor pulmonal
1.4.2; Dosen

Dapat di jadikan salah satu sarana untuk mengukur kemampuan


mahasiswa dalam membuat sebuah makalah tentang asuhan
keperawatan pada ruang lingkup Cor pulmonal
1.4.3; Institusi
Dapat di jadikan salah satu karya tulis ilmiah dapat di jadikan
referensi dalam acuan belajar

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1; Definisi

kor pulmonal adalah keadaan patologis dengan hipertrofi


ventrikel kanan yang disebabkan oleh kelainan fungsional dan
struktur paru. Tidak termasuk kelainan karena penyakit jantung primer
pada jantung kiri dan penyakit jantung kongenital (bawaan). Istilah
hipertrofi yang bermakna sebaiknya diganti menjadi perubahan struktur
dan fungsi ventrikel kanan.
Kor-pulmonal
diartikan
sebagai
keadaan
patologis
denganditemukannya hipertropi ventrikel kanan yang disebabkan oleh
kelainanfungsional dan struktural paru. (WHO, 1993)
Pulmonary heart disease adalah pembesaran ventrikel kanan(hipertrofi
dan/atau dilatasi) yang terjadi akibat kelainan paru, kelainandinding dada,
atau kelainan pada kontrol pernafasan. Tidak termasuk didalamnya
kelainan jantung kanan yang terjadi akibat kelainan jantung kiriatau
penyakit jantung bawaan.(Boughman, 2000)
Kor pulmonal merupakan suatu keadaan dimana timbul hipertrofi
dandilatasi ventrikel kanan tanpa atau dengan gagal jantung kanan;
timbulakibat penyakit yang menyerang struktur atau fungsi paru-paru
ataupembuluh darahnya. Definisi ini menyatakan bahwa penyakit jntung
kirimaupun penyakit jantung bawaan tidak bertanggung jawab
ataspatogenesis kor pulmonale. Kor pulmonale bisa terjadi akut
(contohnya,emboli paru-paru masif) atau kronik. (A. Price Sylvia and
M. WilsonLorraine, 1995)
Kor Pulmonal adalah terjadinya pembesaran dari jantung kanan (dengan
atau tanpa gagal jantung kiri) sebagai akibat dari penyakit yang
mempengaruhi struktur atau fungsi dari paru-paru atau vaskularisasinya.
(Irman Somantri, 2012)
Kor Pulmonal adalah penyakit pembesaran jantung kanan (ventrikel kiri)
dengan atau tanpa gagal jantung kiri. (Menurut Kelompok)
2.2; Etiologi

Penyakit ini disebabkan oleh:


1; Penyakit paru obstruksi kronik.
2; Emfisema

3; Penyumbatan

4;
5;
6;
7;
8;
9;
10;
11;

vaskuler/
remodeling
vaskuler/
obstruksi
pembuluhdarah: emboli paru, atau penyakit yang menyebabkan
kompresiperivaskular atau destruksi jaringan pada fibrosis paru,
granulomatosis,kanker paru.
Trombo emboli
Vasokonstriksi pulmonal menyeluruh: dapat disebabkan oleh
hipoksia,pirau intrapulmonal kanan ke kiri.
Penyakit / radang pembuluh darah
Penyakit sickle cell
Penyakit parenkim dan pengurangan daerah pembuluh darah
Bronkiektasis difus
TB paru luas
Hipertensi pulmonal
primer.
Hipertensi
pulmonale
merupakankomplikasi hemodinamik.
Mekanisme terjadinya hipertensi pulmonalepada kor pulmunale dapat
di bagi menjadi 4 kategori yaitu :
a; Obstuksi
Terjadi karena adanya emboli paru baik akut maupun
kronik.Chronic
Thromboembolic
Pulmonary
Hypertesion
(CTEPH)merupakan salah satu penyebab hipertensi pulmonale
yang pentingdan terjadi pada 0.1 0.5 % pasien dengan emboli
paru. Pada saatterjadi emboli paru, system fibrinolisis akan
bekerja untukmelarutkan bekuan darah sehingga hemodinamik
paru dapatberjalan dengan baik. Pada sebagian kecil pasien
systemfibrinolitik ini tidak berjalan baik sehingga terbentuk emboli
yangterorganisasi disertai pembentukkan rekanalisasi dan
akhirnyamenyebabkan
penyumbatan
atau
penyempitan
pembuluh darahparu.
b; Obliterasi

Penyakit
intertisial
paru
yang
sering
menyebabkan
hipertensipulmonale adalah lupus eritematosus sistemik
scleroderma,sarkoidosis, asbestosis, dan pneumonitis radiasi.
Pada penyakitpenyakit tersebut adanya fibrosis paru dan infiltrasi
sel-sel yangprogersif selain menyebabkan penebalan atau
perubahan
jaringaninterstisium,
penggantian
matriks

mukopolisakarida normal denganjaringan


ikat,
juga
menyebabkan terjadinya obliterasi pembuluhparu.
c; Vasokontriksi
Vasokontriksi pembuluh darah paru berperan penting
dalampatogenesis terjadinya hipertensi pulmonale. Hipoksia sejauh
inimerupakan vasokontrikstor yang paling penting. Penyakit
paruobstruktif kronik merupakan penyebab yang paling di
jumpai.Selain itu tuberkolosis dan sindrom hipoventilasi lainnya
misalnyasleep apnea syndrome, sindrom hipoventilasi pada
obesitas, dapatjuga menyebabkan kelainan ini. Asidosis juga
dapat berperansebagai vasokonstriktor pembuluh darah paru tetapi
dengan potensilebih rendah. Hiperkapnea secara tersendiri tidak
mempunyai efekfasokonstriksi tetepi secara tidak langsung
dapat meningkatkantekanan arteri pulmunalis melalui efek
asidosisnya. Eritrositosisyang terjadi akibat hipoksia kronik dapat
meningkatkan vikositasdarah
sehingga
menyebabkan
peningkatan tekanan arteripumonalis.
d;

Idiopatik
Kelainan
idiopatik
ini
didapatkan
pada
pasien
hipertensipulmonale primer yang di tandai dengan adanya lesi pada
arteripumonale yang kecil tanpa didapatkan adanya penyakit
dasarlainnya baik pada paru maupun pada jantung. Secara
histopatologisdi dapatkan adanya hipertrofi tunika media, fibrosis
tunika intima,lesi pleksiform serta pembentukan mikro thrombus.
Kelainan inijarang di dapat dan etiologinya belum di ketahui.
Walaupun seringdi kaitkan dengan adanya penyakit kolagen,
hipertensi portal,penyakit autoimun lainnya serta infeksi HIV.

2.3; Kasifikasi

Kor
pulmonal
(Pulmonary
heart
disease)
diklasifikasikan
berdasarkanetiologinya, yaitu :
1; Kor pumonal (Pulmonary heart disease) akibat Emboli Paru
adalahhipertropi ventrikel kananyang disebabkan karena adanya
sumbatan padaarea sirkulasi pulmonal.
2; Kor pulmonal (Pulmonary heart disease) dengan PPOM adalah
hipertropiventrikel kanan karena pengaruh penyakit bronkhitis

kronik,bronkhiektosis, emfisema paru dan asma yang menyerang paruparu.


3; Kor pulmonal (Pulmonary heart disease) dengan Hipertensi
Pulmonalprimer adalah hipertropi ventrikel kanan yang dikarenakan
olehpeningkatan tekanan darah dalam sirkulasi pulmonal.
4; Kor pulmonal (Pulmonary heart disease) dengan kelainan jantung
kananadalah hipertropi ventrikel kanan yang memang dicetuskan oleh
adanyagangguan pada vertrikel kanan itu sendiri.
Klasifikasi menurut waktu lama terjadinya:
1; Kor Pulmonal Akut

Yaitu dilatasi mendadak dari ventrikel kanan dan dekompensasi.


Etiologi : embolus multiple pada paru-paru atau massif yang secara
mendadak akan menyumbat aliran darah dan ventrikel kanan.
Gejala : biasanya segera di susul oleh kematian, Terjadi dilatasi dari
jantung kanan.
2; Kor Pulmonal Kronik

Merupakan jenis kor pulmonal yang paling sering terjadi. Dinyatakan


sebagai hipertropi ventrikel kanan akibat penyakit paru atau pembuluh
darah atau adanya kelainan pada torak, yang akan menyebabkan
hipertensi dan hipoksia sehingga terjadi hipertropi ventrikel kanan.
2.4; Manifestasi Klinis

Informasi yang didapat bisa berbeda-beda antara satu penderita


yangsatu dengan yang lain tergantung pada penyakit dasar yang
menyebabkanpulmonary heart disease.
1; Kor-pumonal akibat Emboli Paru : sesak tiba-tiba pada saat

istirahat,kadang-kadang didapatkan batuk-batuk, dan hemoptisis.


2; Kor-pulmonal dengan PPOM : sesak napas disertai batuk yang
produktif(banyak sputum).
3; Kor pulmonal dengan Hipertensi Pulmonal primer : sesak napas
dan seringpingsan jika beraktifitas (exertional syncope).
4; Pulmonary heart disease dengan kelainan jantung kanan : bengkak
padaperut dan kaki serta cepat lelah.Gejala
predominan

pulmonary heart disease yang terkompensasiberkaitan dengan


penyakit parunya, yaitu batuk produktif kronik, dispneakarena
olahraga, wheezing respirasi, kelelahan dan kelemahan.
Jikapenyakit paru sudah menimbulkan gagal jantung kanan, gejala
- gejala inilebih berat. Edema dependen dan nyeri kuadran kanan
atas dapat jugamuncul.
Tanda-tanda

pulmonary

heart

disease

misalnya

sianosis,

clubbing,vena leher distensi, ventrikel kanan menonjol atau gallop


(atau keduanya),pulsasi sternum bawah atau epigastrium prominen,
hati membesar dannyeri tekan, dan edema dependen.
Gejala- gejala tambahan ialah:
1; Sianosis
2; Kurang tanggap/ bingung
3; Mata menonjol
2.5; Patofisiologi

Beratnya pembesaran ventrikel kanan padda kor pulmonal


berbanding lurus dengan fungsi pembesaran dari peningkatan
afterload. Jika resistensi vaskuler paru meningkat dan relatif tetap,
seperti pada penyakit vaskuler atau parenkim paru, peningkatan curah
jantung sebagaimana terjadi pada pengerahan tenaga fisik, maka dapat
meningkatkan tekanan arteri pulmonalis secara bermakna. Afterload
ventrikel kanan secara kronik meningkat jika volume paru membesar,
seperti pada penyakit COPD, pemanjangan pembuluh darah dan
kompresi kapiler alveolar.
Penyakit paru dapat menyebabkan perubahan fisiologis dan pada
suatu waktu akan mempengaruhi jantung serta menyebabkan
pembesaran ventrikel kanan. Kondisi ini sering kali menyebabkan
terjadinya gagal jantung. Beberapa kondisi yang menyebabkan
penurunan oksigen paru dapat mengakibatkan hipoksemia (penurunan
PaO2) dan hiperkapnea (peningkatan PaCO2) yang nantinya akan
mengakibatkan insufisiensi ventilasi. Hipoksia dan hiperkapnea akan
menyebabkan vasokontriksi arteri pulmonal dan memungkinkan

terjadinya penurunan vaskularisasi paru seperti pada emfisema dan


emboli paru. Akibatnya akan terjadi peningkatan tahanan pada sistem
sirkulasi pulmonal, yang akan menjadikannya hipertensi pulmonal.
Tekanan rata-rata pada arteri paru adalah 45mmHg, jika tekanan ini
meningkat dapat menimbulkan kor pulmonal. Ventrikel kanan akan
hipertropi dan mungkin diikuti oleh gagal jantung kanan.

2.6; Phatway
Gangguan Paru-paru Restriktif
Gangguan 9Paru-Paru Obstruksi
Gangguan Paru-Paru Primer

Perubahan anatomi
pembuluh darah paru-paru

Perubahan fungsional paru

Hipoksemia dan
hiperkapnea

Pengurangan jaringan
vaskuler paru-paru

Asidosis
polisitemia
Vasokontriksi arteri
pulmonal
Peningkatan resistensi
vaskular paru

Hipertensi Pulmonal

Hipertensi ventrikel
kanan
Akut

Kronik
Kor Pulmonal

Waktu bagi ventrikel


kanan untuk
berkompensasi

Kegagalan
kompensasi jantung

Tekanan arteri pulmonalis


naik tiba-tiba (>40-45
mmHg)
Gagal Jantung
Kanan

Curah
jantung
menurun

10

Gagal Jantung
Kanan

Suplai
darah ke
otak
menurun

Sirkulasi O2
jaringan tidak
adekuat

Proses inflamasi
akibat riwayat

Curah
jantung

Darah yang
dipompa jantung
menurun

hipoksia

Hipertrofi dan
hiperplasia
kelenjar

Suplai O2
ke jaringan
menurun

Darah yang
disaring
glomeroulus
menurun

lemas

Saluran
pernapasan lebih
menyempit

hipoksemia

oliguria

Nafsu
makan
menurun

Pusing

Suplai O2
menurun

Gangguan
pertukaran
gas

Perubahan pola
eliminasi urin

Anoreksia

Gangguan
kesadaran

Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh

Hipoksia

Ketidakefektifan
pola napas

11

Suplai darah
ke jaringan
serebri
menurun

Penimbunan
asam laktat

Intoleransi aktivitas

2.6; Pemerikaaan Penunjang


2.6.1; Pemeriksaan fisik, didapatkan :
a; JVP meningkat dikaitkan dengan adanya respon gagal

jantungkanan dan hipertropi ventrikel kanan sendiri, ketika


terjadihipertropi ventrikel kanan dan akhirnya gagal jantung
kanan, makavena jugularis juga ikut menunjang kompensasi
sehingga tekananatau venous jugularis pulse mengalami
peningkatan.
b; Hepatomegali dikatkan dengan adanya desakan dari arah
ventrikelkanan jantung yang mendesak ruang diafragma dan
hepar sehinggaketika dilakukan pemeriksaan, yaitu palpasi
dan perkusi heparditemukan adanya hepatomegali.
c; Asites dan edema tungkai dikaitkan dengan salah satu
tandapenyakit gagal jantung kanan sebagai respon komplikasi
penyakitkor pulmonal ini, yaitu oedema pada daerah
ekstremitas bawah(tungkai) dan berisi cairan (asites).
2.6.2; Pemeriksaan jantung, didapatkan :
a; Peningkatan

bunyi
komponen
pulmoner
merupakan
tandahipertensi pulmoner.
b; Tekanan arteri pulmoner sangat tinggi akan terjadiregurgitasi
di katup trikuspid ditandai dengan bunyi murmursistolik.
2.6.3; Pemeriksaan Radiologi

Batang pulmonal dan hilus membesar. Perluasan hilus dapat dinilai


dariperbandingan jarak antara permulaan percabangan arteri
pulmonalis utama kanan dan kiri dibagi dengan diameter transversal
torak. Perbandingan >0,36 menunjukkan hipertensi pulmonal.
2.6.4; Ekokardiografi

Memungkinkan pengukuran ketebalan dinding ventrikel kanan,


meskipun perubahan volume tidak dapat diukur, tekni ini dapat
memperlihatkan pembesaran kavitas ventrikel kanan dalam yang
menggambarkan adanya pembesaran ventrikel kiri. Septum
interventrikel dapat bergeser ke kiri.
2.6.5; Magnetic Resonance Imaging (MRI)

12

Berguna untuk mengukur massa ventrikel kanan, ketebalan dinding,


volume kavitas dan fraksi ejeksi.
2.6.6; Biopsi Paru

Untuk menunjukkan vaskulitis pada beberapa tipe penyakit vaskuler


paru seperti penyakit vaskuler kolagen, artritis reumatoid dan
wagener granulomatosis.

2.7; Penatalaksanaan

Tujuan dari penatalaksanaan adalah meningkatkan ventilasi klien dan


mengobati penyakit yang melatarbelakangi beserta manifestasi dari
gagal jantungnya.
Secara umum penatalaksanaan medis yang dapat dilakukan adalah
sebagai berikut.
1; Pada klien dengan penyakit asal COPD dapat diberikan 0 2 untuk
memperbaiki pertukaran gas dan menurunkan tekanan arteri
pulmonal dan tahanan vaskular pulmonal.
2; Bronkhial higine, diberikan obat golongan bronkodilator
3; Jika terdapat gejala gagal jantung,maka harus memperbaiki kondisi
hipoksemia dan hiperkapnea.
4; Bedrest, diet rendah sodium, dan pemberian diuretik.
5; Digitalis, bertujuan untuk meningkatkan kontraktilitas dan
menurunkan denyut jantung, selain itu juga mempunyai efek
digitalis ringan.

2.8; Komplikasi

Komplikasi dari pulmonary heart disease diantaranya:


a; Sinkope
b; Gagal jantung kanan
c; Edema perifer
d; Kematian

13

BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN
1; Pengkajian
1; Identitas Pasien

Untuk orang dewasa, kasus yang paling sering ditemukanadalah


pada lansia karena sering didapati dengan kebiasaanmerokok
dan terpapar polusi. Untuk kasus anakanak, umumnya terjadi
kor pulmonal akibat obstruksi salurannapas atas seperti
hipertrofi tonsil dan adenoid.
a; Jenis pekerjaan yang dapat menjadi resiko terjadinya kor
pulmonal
b; Lingkungan tempat tinggal yang dapat menjadi resiko
terjadinya

14

lingkungan yang dekat daerah perindustrian,dan kondisi rumah


yang kurang memenuhi persyaratan runmahyang sehat.
Contohnya ventilasi rumah yang kurang baik,
2; Riwayat Sakit dan Kesehatan
a; Keluhan utama : Pasien dengan kor pulmonal sering
mengeluhsesak, nyeri dada
b; Riwayat penyakit saat ini : Pada pasien kor pulmonal,
biasanyaakan diawali dengan tanda-tanda mudah letih, sesak,
nyeri dada,batuk yang tidak produktif. Perlu juga
ditanyakan mulai kapankeluhan itu muncul. Apa tindakan
yang telah dilakukan untukmenurunkan atau menghilangkan
keluhan-keluhan tersebut.Penyebab kelemahan fisik setelah
melakukan aktifitas ringansampai berat.
3; Riwayat penyakit dahulu : Klien dengan kor pulmonal
biasanyamemilki riwayat penyakit seperti penyakit paru obstruktif
kronik(PPOK), fibrosis paru, fibrosis pleura, hipertensi
pulmonal.
4; Pemeriksaan fisik : Review Of System (ROS)
1; B1 (BREATH)

Pola napas : irama tidak teratur


Jenis: Dispnea
Suara napas: wheezing
Sesak napas (+)
2; B2 (BLOOD)
Irama jantung : ireguler s1/ s2 tunggal (-)
Nyeri dada (+)
Bunyi jantung: murmur
CRT : tidak terkaji
Akral :dingin basah
3; B3 (BRAIN)
Penglihatan(mata)
Pupil : tidak terkaji
Selera/ konjungtiva : tidak terkaji
Gangguan pendengaran/ telinga: tidak terkaji
Penciuman (hidung) : tidak terkaji
Pusing

15

Gangguan kesadaran
4; B4 (BLADDER)
Urin:
- Jumlah : kurang dari 1-2 cc/ kg BB/ jam
- Warna : kuning pekat
- Bau : khas
Oliguria
5; B5 (BOWEL)
Nafsu makan : menurun
Mulut dan tenggorokan : tidak terkaji
Abdomen : asites
Peristaltic : tidak terkaji
6; B6 (BONE)
Kemampuan pergerakan sendi: terbatas
Kekuatan otot : lemah
Turgor : jelek
Edema
2; Diagnosa Keperawatan
1; Gangguan pertukaran gas b.d. hipoksemia secarareversible/

2;
3;
4;
5;

menetap, refraktori dan kebocoran interstisial pulmonal/alveolar


pada status cedera kapiler paru.
Ketidakefektifan pola napas b.d. sempitnya lapangrespirasi dan
penekanan toraks.
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d.
penurunan nafsu makan.
Intoleransi aktifitas b.d. kelemahan fisik dankeletihan.
Perubahan pola eliminasi urin b.d. oliguria

3; Intervensi
1; Gangguan pertukaran gas b.d. hipoksemia secara reversible/

menetap, refraktori dan kebocoran interstisial pulmonal/


alveolar pada status cedera kapiler paru.
- Tujuan : setelah diberikan asuhan keperawatan selama......
jam,diharapkan tingkat oksigen yang adekuat untuk keperluan
tubuh dapatdipertahankan.
- Kriteria hasil :

16

Klien tidak mengalami sesak napas.


Tanda-tanda vital dalam batas normal
Tidak ada tanda-tanda sianosis.
PaO2dan PaCO2dalam batas normal (PaO2 :80100mmHg, PaCO2: 35-45 mmHg)
Saturasi O2dalam rentang normal (SaO2>90%)
INTERVENSI

Mandiri:
1; Pantau

RASIONAL
1; Berguna
dalam

frekuensi,

pernapasan.Catat

kedalaman
penggunaanotot

aksesori, nafas bibir,tidakmampuan

derajatdistress
dan/

evaluasi
pernapasan

ataukronisnya proses

penyakit.

bicara/ berbincang.
2; Pengiriman
2; Tinggikan kepala tempat tidur,bantu

pasien untuk memilihposisi yang


mudah

untukbernapas.

nafasperlahan

atau

nafas

sesuaikebutuhan

Dorong
bibir
atau

toleransiindividu.

dapatdiperbaiki
posisi

membrane mukosa.

nafas

untukmenurunkan

sputum;penghisapan

bila

diindikasikan.Kental, tebal
5; Auskultasi bunyi nafas, catatarea

penurunan

aliran

udaradan/ atau

mungkin

(terlihatpada

perifer

kuku)

daun

telinga).Keabu-

dan

diagnosis

sentralmengindi-kasikan
beratnyahipoksemia.
4; Kental,

tebal,

dan

banyaknyasekresi
sumber

adalah

utamagangguan
gas

padajalan

nafas
Penghisapandibutuhkan

6; Palpasi fremitus.
7; Awasi

tingkat

kesadaran/status

17

atau

sentral (terlihatsekitar bibir/

pertukaran

bunyi tambahan.

kolaps

jalan nafas,dispnea dan kerja

abuan
mengeluarkan

dan

latihan

atau

4; Dorong

dengan

duduktinggi

nafas.
3; Sianosis

3; Awasi secara rutin kulit danwarna

oksigen

batuk tidak

kecil.
bila

mental. Selidiki adanya perubahan.

efektif.
5; Bunyi nafas mugkin redup

8; Awasi

tanda

vital

dan

iramajantung

karenaaliran udara atau area


konsolidasi.Adanya

mengi

mengindikasikansecret.
Kolaborasi:
9; Berikan

Krekel
oksigen

basah

tambahanyang

menyebarmenunjukkan cairan

sesuai dengan indikasihasil GDA

padaintertisial/ dekompensasi

dan toleransipasien.

jantung.
6; Penurunan

getaran

didugaada

fibrasi

pengumpulan

cairan atauudara terjebak.

7; Gelisah

dan

ansietas

adalahmanifestasi
pada

umum

hypoxia,GDA

memburuk

disertai

bingung/somnolen
menunjukkan disfungsi
sersbral yang berhubungan
denganhipoksemia.

8; Tachycardia,

disritmia,

danperubahan tekanan darah


dapatmenunjukkan

efek

hipoksemiasistemik

pada

fungsi jantung.
9; Dapat

memperbaiki/

mencegahmemburuknya
hypoxia.
kronis,
18

Catatan:emfisema
mengaturpernapasan

pasien ditentukan olehkadar


CO2 dan mungkindikeluarkan
dengan
peningkatanPaO2berlebihan

2; Ketidakefektifan pola napas b.d. sempitnya lapangrespirasi dan

penekanan toraks.
- Tujuan : Memperbaiki atau mempertahankan pola pernapasan
normal dan pasien mencapai fungsi paru-paru yang maksimal.
- Kriteria hasil :
Pasien menunjukkan frekuensi pernapasan yang efektif.
Pasien bebas dari dispnea, sianosis, atau tanda-tanda lain
distresspernapasan

INTERVENSI

RASIONAL

Mandiri :

1; Memaksimalkan ekspansi

1; Berikan

posisi

fowler

atau

semifowler
2; Ajarkan

teknik

pernapasan, dan menurunkan


napas

dalamdan

atau pernapasan bibir ataupernapasan


diafragmatik

paru,menurunkan kerja

abdomen

resiko aspirasi
2; Membantu

meningkatkan

bila

difusigas dan ekspansi jalan

diindikasikan
3; Obserfasi TTV (RR ataufrekuensi

napas kecil,memberika pasien

permenit)

beberapakontrol

terhadap

pernapasan,membantu
menurunkan ansietas.

Kolaborasi :
4; Berikan

oksigen

tambahan

yang

dilembabkan jika diperlukan

3; Mengetahui

keadekuatan

frekuensipernapasan
5; Pantau hasil analisa gas darah atau

dan

keefektifan jalan napas.

oksimetri nadi
4; mungkin dibutuhkan selama

periode
atau
19

distres
adanya

pernapasan
tanda-tanda

hipoksia
5; memantau

kefektifan

pola

napas/terapi

3; Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d.

anoreksia.
- Tujuan
: setelah diberikan asuhan keperawatan
selama 2x24jam, diharapkan nafsu makan membaik.
- Kriteria hasil :
Gizi untuk kebutuhan metabolik terpenuhi
Massa tubuh dan berat badan klien berada dalam batas
normal
INTERVENSI

RASIONAL
1; Anoreksia, kelemahan dan

MANDIRI
1; Pantau

pemasukan makanan dan

timbang berat badan setiap hari

kehilangan

pengaturan

metabolisme
terhadap

oleh

kortisol

makanan

mengakibatkan

dapat

penurunan

berat badan dan dapat terjadi


2; Catat

muntah

mengenai

jumlah

kejadian atau karakteristik lainnya

malnutrisi yang serius.


2; Membantu

untuk

menentukan
3; Berikan atau bantu perawatan mulut

derajat

kemampuan pencernaan atau


absorpsi makanan.

4; Berikan

lingkungan yang nyaman

untuk makan contoh bebas dari bau


tidak sedap, tidak terlalu ramai, udara

informasi

yang bersih dapat

meningkatkan nafsu makan

yang tidak nyaman


5; Berikan

3; Mulut

tentang

menu

pilihan.
4; Dapat meningkatkan nafsu

makan

20

dan

memperbaiki

nafsu makan.
KOLABORASI :
6; Konsultasi dengan ahli gizi

5; Perencanaan

disukai
7; Berikan makanan dalam porsi kecil

menu

yang

pasien

dapat

menstimulasi nafsu makan

tetapi sering dengan tinggi kalori dan

dan

meningkatkan

protein.

pemasukan makanan.
6; Menentukan

kebutuhan

penggunaan/
kalori

dengan

tepat

7; Makanan dalam porsi kecil

kalau

diberikan

akhirnya

jumlahkalori

yang

dibutuhkan per hari dapat


terpenuhi.

Disamping

itu

dapat mengurangi mual dan


muntah.

4; Intoleransi aktifitas b.d . kelemahan fisik dankeletihan.


-

Tujuan : setelah diberikan asuhan keperawatan selama......jam,


diharapkan tercapainya keseimbanagn antara suplai dan
demandoksigen.
Kriteria hasil :
mentoleransi aktivitas yang biasa dilakukan dan
ditunjukkan dengan daya tahan, menunjukkan
penghematan energi
INTERVENSI
21

RASIONAL

Mandiri:
1; Beri

1; Ajarkan

bantuan

untukmelaksanakan

aktifitas seharihari
2; Ajarkan

menghadapi
kelelahan
istirahat

bagaimanameningkatkan rasa
control

klien

bagaimana

aktifitasmenghindari
danberikan

periode

tanpa gangguan di antara

aktifitas.

klien
danmandiri dengan

kondisi yang ada


2; Istirahat

memungkinkan

tubuh memperbaiki

energi

yangdigunakan

selama

aktifitas.

Kolaborasi :

3; Dapatmenentukan jenis-jenis

3; Kolaborasi

dengan

ahli

gizimengenai menu makanan pasien

makananyang

harus

dikonsumsi

untuk

memaksimalkan
pembentukanenergi

dalam

tubuh pasien

5; Perubahan pola eliminasi urin b.d oliguria


-

Tujuan : setelah diberikan asuhan keperawatan selama


2x24jam, diharapkan pola eliminasi urin normal dapat
dikembalikan.
Kriteria hasil :
klien
menunjukkan
pola
pengeluaran
urin
yangnormal, klien menunjukkan pengetahuan yang
adekuat tentang eliminasiurin.

INTERVENSI

RASIONAL

Mandiri:

1; Pengeluaran urine mungkin

1; Pantau

pengeluaran

catatjumlah

dan

warna

urine,
saat

dimanadiuresis terjadi.
2; Pantau/

hitung keseimbanganintake

22

sedikit dan pekat karena


penurunan perfusi ginjal.
Posisi terlentang membantu
diuresis sehingga

dan output selama 24 jam .

pengeluaran urine dapat


ditingkatkan selama tirah

3; Pertahakan duduk atau tirahbaring

dengan posisi semifowlerselama fase

baring.
2; Terapi

diuretic

disebabkanoleh

akut.

cairan

dapat

kehilangan

tiba-tiba/berlebihan

(hipovolemia)
4; Pantau TD dan CVP (bila ada)
5; Kaji

bising

usus.

keluhananoreksia,

meskipunedema/ asites masih


Catat

ada.

mual,

distensiabdomen dan konstipasi.

3; Posisi tersebut meningkatkan

filtrasiginjal

dan

menurunkan

produksiADH

sehingga
meningkatkandieresis.

Kolaborasi:
6; Konsul dengan ahli diet.

4; Hipertensi dan peningkatan

CVPmenunjukkan kelebihan
cairan

dandapat

menunjukkan
terjadinyapeningkatan
kongesti paru, gagaljantung.
5; Kongesti visceral (terjadi
pada

GJKlanjut)

mengganggu

dapat

fungsigaster/

intestinal.
6; Perlu memberikan diet yang
dapatditerima

klien

memenuhikebutuhan

yang
kalori

dalam pembatasannatrium.

23

BAB 4
PENUTUP
A; Kesimpulan

Korpulmonal adalah pembesaran ventrikel kanan (hipertrofi dan/ atau


dilatasi) yang terjadi akibat kelainan paru, kelainan dinding dada,
ataukelainan pada kontrol pernafasan.
Korpulmonal dapat terjadi akut maupun kronik. Penyebab
KorPulmonale akut tersering adalah emboli paru masif, sedangkan Kor
Pulmonale kronik sering disebabkan oleh penyakit paru obstruktif kronik
(PPOK). Pada Kor Pulmonale kronik umumnya terjadi hipertrofi
ventrikelkanan, sedangkan pada Kor Pulmonal akut terjadi dilatasi
ventrikel kanan.
B; Saran

Dari kesimpulan yang ada maka kita sebagai perawat atau calon
perawat harus terus meningkatkan kompetensi diri kita, lebih-lebih

24

yangberkaitan dengan fenomena kesehatan yang bersifat spesifik pada


sistem kardiovaskuler, seperti penyakit Kor pulmonal ini.

DAFTAR PUSTAKA
Somantri, Irman. 2012. Asuhan keperawatan pada Klien dengan gangguan
sistem Pernapasan Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika.
Somantri, Irman. 2007. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan
Gangguan sistem Pernapasan. Jakarta : Salemba Medika.
A. Price Sylvia, M. Wilson Lorraine. 1995. Patofisiologi, Konsep
Klinis Proses-Proses Penyakit, Buku 2. Jakarta: EGC
Smeltzer, suzanne C; Bate, Brenda G. 2002. Buku Ajar Keperawatan
Medikal Bedah Brunner & Suddarted 8 Vol 3. Jakarta : EGC
Doenges, Marilyn E, dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman
untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien.
Jakarta : EGC

25