Anda di halaman 1dari 12

Tugas Akhir Matakuliah Politik Ekstra Parlemen

Waria dan Perlawanan terhadap Dominasi Kaum Mayoritas : Perjuangan


Memperoleh Kehidupan Layak Melalui LSM Kebaya

Disusun oleh :
Ridho Nurwantoro

12/335610/SP/25291

Waria dan Perlawanan terhadap Dominasi Kaum Mayoritas : Perjuangan


Memperoleh Kehidupan Layak Melalui LSM Kebaya

A. Latar Belakang
Memperoleh penghidupan yang layak merupakan hak setiap warga negara
sebagaimana yang tertera dalam Pasal 27 ayat (2) Undang-undang Dasar 1945. Negara
sebagai almighty hand bertugas memenuhi hak warga negara tersebut tanpa terkecuali.
Namun, ada sekelompok orang yang tidak memperoleh hak penghidupan layak. Partai
politik selaku lembaga reperesentatif semestinya berperan mewakili konstituennya sesuai
platform ideologi masing-masing. Dari konstituen yang punya aspirasi revolusioner kiri
hingga kaum-kaum konservatif kanan telah terwakili oleh lembaga representatif yang
ada. Namun, masalah timbul ketika ada sebagian konstituen yang aspirasi dan
kepentingannya tidak direpresentasikan lantaran tidak berorientasi politik kanan-kiri dan
berasal dari golongan tak lazim. Biasanya, konstituen yang kepentingannya tak dapat
diartikulasikan oleh partai politik memiliki aksesibilitas yang minim terhadap kekuasaan
dan menjadi objek kekuasaan kaum-kaum mayoritas. Kelompok bernasib malang ini
dijuluki inferior citizen.1 Waria merupakan contoh sempurna yang menggambarkan
kaum inferior citizen ini. Kaum maskulin-feminime ini berbeda dengan kaum minoritas
lain seperti buruh. Aspirasi kaum buruh mampu diwadahi oleh partai buruh maupun
partai-partai berhaluan kiri lainnya. Lain halnya dengan buruh, kaum waria harus
berjuang dengan caranya sendiri agar aspirasi dan kepentingan mereka didengar dan
dijadikan input kebijakan oleh anggota-anggota parlemen. Keadaan ini diperparah dengan
anggapan masyarakat mayoritas yang menilai seorang yang secara biologis terlahir
sebagai laki-laki namun berperilaku sebagaimana perempuan dianggap menentang takdir
Tuhan. 2
Praktek nyata pemarjinalan kaum dominan terhadap waria ialah ketidaktersediaannya
lapangan pekerjaaan. Penyedia lapangan pekerjaan, baik itu kementrian maupun sektor
swasta, hanya mengenali dan merekrut warga negara berjenis kelamin laki-laki dan
perempuan. Dikotomi yang diciptakan oleh kaum dominan seakan-akan menghapus
warga negara kategori ketiga, mereka yang menempati ruang antara laki-laki dan
perempuan. Meski persyaratan tentang jenis kelamin tidak dituangkan secara eksplisit di
Undang-Undang Aparatur Sipil Negara nomor 5 Tahun 2014, tak dapat dipungkiri negara
dan sektor swasta hanya akan menerima warga negara berjenis kelamin laki-laki dan
perempuan sebagai pekerja. Berperilaku tak sesuai kodrat, dandanan menor, bekerja
sebagai pekerja seks komersial, berpendidikan rendah, dan hal-hal negatif lain yang
1 Titik Widayanti. 2009. Politik Subaltern : Pergulatan Identitas Waria. Yogyakarta :
Politic and Governance UGM. Hal 20.
2 Srinthil.2007.dalam Titik Widayanti.2009. Politik Subaltern : Pergulatan Identitas Waria.
Yogyakarta : Politic and Governance UGM. Hal 3.

melekat pada identitas waria disinyalir sebagai penyebab tak terserapnya kaum maskulinfeminime ini dalam dunia kerja.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana LSM Kebaya memperjuangkan hak waria untuk memperoleh
penghidupan layak ?
C. Mengapa Memilih Topik Ini ?
Peneliti memilih topik ini dikarenakan ingin mengungkap strategi waria dalam
meraih hak memperoleh pekerjaan dan penghidupan layak. Tenaga kerja waria tidak
terserap oleh lapangan pekerjaan dikarenakan ketidakjelasan identitas gender kelompok
separuh Adam-separuh Hawa ini. Alhasil, banyak waria yang bekerja sebagai
pengamen, waria nyebong3, bahkan tak jarang melakoni tindak kriminal. Dikotomi lelaki
dan perempuan yang dikonstruksikan oleh negara telah menutup kesempatan kaum waria
untuk memperoleh pekerjaan. Hal ini kontradiktif dengan Pasal 27 ayat 2 UUD 1945
yang menjamin setiap warga negara memperoleh hak memiliki pekerjaan dan
penghidupan yang layak.
LSM Kebaya sebagai organisasi masyarakat sipil yang memiliki kesadaran akan hal ini
dirasa cocok dijadikan sumber data dalam penelitian ini. LSM Kebaya memiliki visi
mereduksi angka penyebaran HIV di kalangan waria melalui program pelatihan
keterampilan untuk waria. Salah satu program yang berhasil menelurkan waria-waria
yang mampu membuka lapangan pekerjaan layak secara mandiri ialah program ekonomi
produktif.
D. Kerangka Konseptual
Konsep yang paling cocok untuk mengkerangkai penelitian ini ialah konsep
politik subaltern dan politik identitas yang saling melengkapi. Dalam konsep politik
subaltern, terdapat golongan minoritas yang tak mempunyai kesempatan untuk
menggenggam kekuasaan atau hanya sekedar mengelola secuil sumber daya. Tak jarang
golongan ini menjadi subordinat dari golongan mayoritas - lelaki dan perempuan yang
mempunyai kuasa besar maupun kecil. Jika dilihat secara seksama, teori subaltern
memiliki kesamaan corak dengan teori-teori postkolonialisme. Teori postolonialisme
menceriterakan bagaimana sikap penduduk terjajah terhadap kaum penjajah dan kaum
pribumi penguasa tanah.4 Waria dianalogikan sebagai penduduk terjajah, sedangkan kaum
Adam dan Hawa tulen dianalogikan sebagai bangsa kolonial ataupun tuan-tuan tanah
3 Waria Nyebong ialah waria yang bekerja sebagai pekerja seks komersial
4 Ibid. Hal 3

bumiputera. Guna melawan hegemoni kaum mayoritas dominan, di dalam politik


identitas, identitas dipergunakan sebagai alat pemererat dan senjata untuk melawan
marjinalisasi.
Tampaknya sukar bagi kaum wanita-pria untuk keluar dari zona marjinalisasi yang
dikonstruksikan oleh kaum mayoritas dominan, pria dan wanita tulen. Terbatasnya akses
terhadap sumber daya dan dianggap melencengnya kepribadian waria dari identitas yang
semestinya menjadi penghambat utama. Meski demikian, harapan belum sepenuhnya
sirna. Waria sebenarnya punya alat pemersatu sekaligus senjata pamungkas untuk
melawan dominasi kaum mayoritas, identitas. Mengapa identitas dapat dimanfaatkan
sebagai pemersatu sekaligus alat perjuangan ? Identitas ialah konsep tentang keakuan
(selfness).5 Setiap individu akan melakukan identifikasi terhadap dirinya sendiri dan
individu lain. Dari pengidentifikasian tersebut, bisa jadi individu bertemu dengan
individu lain yang memiliki kesamaan identitas dengannya. Komponen-komponen yang
menyusun identitas bisa berupa identitas pribadi, identitas sosial, dan identitas budaya.
Identitas pribadi berkaitan dengan personality di dalam masing-masing individu. Identitas
sosial berkaitan dengan fitur fisik maupun konstruksi sosial : ras, etnis, jenis kelamin,
kelas, dan gender.6 Identitas budaya diperoleh oleh individu karena individu yang
bersangkutan berokupasi di sebuah wilayah dengan corak kebudayaan tertentu.
Solidaritas akan lahir antar sekelompok individu yang memiliki kesamaan identitas baik itu identitas pribadi, sosial, maupun budaya. Identitas kolektif ini akan menjadi alat
determinasi agar masyarakat dengan identitas kolektif lain mengenali kelompok yang
bersangkutan. Pengelolaan identitas di dalam kaum waria ini sangatlah penting untuk
menunjukkan eksistensi kaum setengah-setengah ini. Bahkan dalam porsi yang lebih
besar, identitas dapat dipergunakan sebagai basis politik.7Jikalau politik identitas tak
berhasil, secara teoritis, maka kaum subaltern akan melakukan cara-cara koersif untuk
memperjuangkan kepentingan mereka

Tahap-tahap perlawanan berbasis politik identitas di atas dapat disajikan dalam gambar
sebagai berikut :

5 Ibid. Hal 14
6 Ibid. Hal 15
7 Thomas Meyer. 2002. Politik Identitas : Tantangan Terhadap Fundamentalisme
Modern. Jakarta : Friedrich Ebert Stiftung Foundation. Hal 16.

Gambar 1. Bagan Proses Politik Identitas disarikan dari buku Politik Subaltern : Pergulatan Politik Waria

E. Metode Pengumpulan Data


Metode yang peneliti gunakan dalam penelitian ini ialah wawancara dan studi
literatur. Wawancara dilakukan kepada Vinolia Wakidjo, direktur LSM Kebaya.
Pertanyaan yang dilotarkan kepada beliau seputar bagaimana LSM Kebaya
memberdayakan waria yang sebagian besar tidak menyenyam pendidikan tinggi dan tak
memiliki kartu identitas sebagai syarat melamar pekerjaan di sektor formal. Sedangkan
literatur yang dijadikan pedoman dalam penelitian ini adalah karya Titiek Widyanti yang
berjudul Politik Subaltern : Pergulatan Kaum Waria. Dengan meng-crosscheck realita di
lapangan dengan konsep politik subaltern di dalam buku Titiek Widyantini, lahirlah
penelitian ini.
F. Temuan Lapangan
Kaum maskulin-feminime ini mengalami kendala dalam mengakses sumber daya,
kongkritnya, memperoleh pekerjaan di sektor formal. Pasalnya, kaum waria ini tidak
dapat memenuhi persyaratan administratif sebagai pegawai negeri sipil maupun pekerja
di korporasi swasta karena tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk. Mami Vin 8

8 Vinolia Wakidjo atau yang lebih akrab disapa Mami Vin adalah pendiri sekaligus
direktur dari LSM Kebaya.

menyatakan bahwa bagi waria memperoleh KTP membutuhkan usaha ekstra besar
sebagaimana yang ia tuturkan :
Mengurus KTP itu perlu usaha lebih. Birokrasi mengharuskan kita untuk bawa Kartu
Keluarga dan Surat Keterangan Pindah. Karena ya teman-teman waria di sini
kebanyakan berasal dari luar kota, ya jadi sulit kalo mau ambil Kartu Keluarga saja
harus pulang ke kampung halaman. Belum lagi waria yang berkonflik sama keluarganya
di kampung, pasti gak mau pulang lah. 9

Gambar 2. Vinolia Mami Vin Wakidjo, waria senior pendiri sekaligus direktur LSM Kebaya. Sumber
http://www.suarakita.org/wp-content/uploads/2014/04/Mami-vin-kebaya.jpg

Selain KTP, sebenarnya ada kartu identitas lain yaitu Kipem (Kartu Identitas Penduduk
Musiman) yang syarat administratif pembuatannya lebih ringan. Namun hal ini tidak
dimanfaatkan oleh waria dikarenakan malas berurusan dengan aparat RW, pihak yang
mengurus Kipem.
Selain tidak memiliki kartu identitas, kendala lain yang ditemui guna memperoleh
pekerjaan di sektor formal ialah jenis kelamin. Penyedia lapangan kerja meminta waria
yang melamar pekerjaan untuk berdandan sebagaimana lelaki pada umumnya. Itu bukan
saya yang sesungguhnya ! adalah pernyataan yang sering dilontarkan kaum waria
kepada penyedia lapangan kerja. Waria enggan identitasnya didisiplinkan oleh penyedia
lapangan pekerjaan sebagai lelaki sebagaimana penuturan Mami Vin : 10
Waria memang selalu ditolak kalau melamar jadi PNS atau karyawan di perusahaan
swasta. Karena ya itu, mereka emoh berdandan seperti lelaki. Tempat kerjanya
9 Wawancara dengan Mami Vin pada 19 Juni 2014 di LSM Kebaya
10 Ibid.

mengharuskan demikian. Padahal yang dipake bekerja kan kemampuannya, keringatnya,


bukan jenis kelaminnya .
Sebenarnya, kendala utama waria tak memiliki pekerjaan layak ialah rendahnya pendidikan
yang pernah dienyam waria. Di tahun 2007 saja, dari 266 waria 34,51 % tidak tamat SD,
tamatan SMP 14,16 % , tamatan SMA 7,08% , dan lulusan perguruan tinggi hanya 1,77 %. 11
Dengan banyaknya waria yang tidak mengenyam pendidikan tinggi, wajarlah jika mereka tak
terserap oleh lapangan pekerjaan formal.
Tidak memiliki kartu identitas, ketakjelasan identitas, dan rendahnya pendidikan tidaklah
menjadi tembok penghalang untuk memperoleh penghidupan layak bagi waria. Masih ada
jalan lain ! tegas Mami Vin. Jalan lain yang dimaksud ialah program ekonomi produktif
yang terselenggara berkat kerjasama LSM Kebaya dengan Dinas Sosial Yogyakarta. Program
ini ditujukan untuk menggali dan mengembangkan potensi yang ada pada masing-masing
waria.

Gambar 3. Program Usaha Ekonomi Produktif Hasil Kerjasama LSM Kebaya dengan Depsos RI pada
tahun 2005. Sumber : dokumentasi LSM Kebaya

Digagas pada tahun 2004, program ekonomi produktif ini telah membantu menggali dan
mengasah talenta waria. Kegiatan yang terkandung dalam program ini bermacam-macam,
11 Pendataan LSM Kebaya di tahun 2007.

mulai dari pelatihan memasak, salon, entrepreneurship, menjahit, bahkan berternak.12


Pelatihan ini ditujukan agar nyebong tak lagi jadi opsi utama untuk memenuhi urusan perut.
Dalam setiap pelatihan ekonomi produktif, sekitar 30 orang waria diasah minat dan bakatnya.
Dari 30 partisipan, biasanya hanya survive 15 waria saja. 15 waria yang telah terasah
talentanya dan sudah siap untuk membuka lapangan pekerjaan sendiri tersebut akan diberi
suntikan dana sebesar Rp.10.000.000 per orangnya guna dijadikan modal awal. 13 Setelah
mengikuti ekonomi produktif, waria-waria yang tadinya tidak memiliki keahlian apapun
menjelma menjadi skilled workers. Berikut ialah waria-waria yang sukses beriwiraswasta
dengan bantuan program ekonomi produktif :

Gambar 4. Mbak Sandra yang telah dilatih kemampuan memasak dan kewirausahaannya membuka usaha toko
sembako. Sumber : dokumentasi LSM Kebaya

12 Wawancara dengan Mami Vin pada 19 Juni 2014 di LSM Kebaya


13 Wawancara dengan Mami Vin pada 19 Juni 2014 di LSM Kebaya

Gambar 5. Santi yang telah dikembangkan kemampuan menata riasnya berkarier sebagai pemilik sekaligus
capster salon. Sumber : dokumentasi LSM Kebaya

Gambar 6. Perse yang punya keahlian beternak disokong oleh program usaha ekonomi produktif. Sumber :
dokumentasi LSM Kebaya

G. Analisa Data
Temuan-temuan lapangan di atas akan penulis elaborasikan dengan konsep subaltern dan
politik identitas yang mengkerangkai riset ini. Ada 3 konsepsi utama pembingkai riset ini
yaitu konsep penolakan terhadap budaya kaum dominan, konsep pencarian budaya dominan
yang memiliki kesamaan dengan budaya kaum subaltern, konsep mencampurkan budaya
kaum dominan yang dianggap berguna bagi perjuangan dengan identitas kolektif kaum
subaltern.
Konsep pertama yang akan dibahas ialah konsep resistensi kaum subaltern terhadap
budaya kaum dominan. Kecocokan konsepsi ini dengan realita yang peneliti temukan terlihat
jelas. Waria menolak dikotomi dan pendisiplinan identitas yang diciptakan negara. Waria
menginginkan pekerjaan yang sesuai dengan jati diri, tanpa harus dilimitasi oleh kerangkeng

dikotomi lelaki dan perempuan. Karena tidak mau didisiplinkan , waria pun tak
memperoleh pekerjaan di sektor formal.
Konsep kedua ialah tentang pencarian budaya-budaya kaum dominan yang selaras
dengan budaya kaum subaltern. Program usaha ekonomi produktif sebenarnya merupakan
program pemberdayaan yang diperuntukkan untuk kaum Hawa. Terdapat kesamaan antara
kaum Hawa dan kaum wadam14 ini, yaitu sama-sama kurang mandiri sehingga perlu
diberdayakan. Kaum waria ini melihat peluang pada program ekonomi produktif ini.
Konsep terakhir ialah mengawinsilangkan budaya kaum dominan yang dianggap berfaedah
dengan identitas kaum subaltern. Usaha LSM Kebaya melakukan kerjasama dengan
Departemen Sosial RI untuk mengadakan program usaha ekonomi produktif khusus waria
berkesesuaian dengan konsep ketiga ini. LSM Kebaya melihat kesempatan mengembangkan
potensi waria melalui program ini. LSM Kebaya memadupadankan program usaha ekonomi
produktif budaya yang diciptakan oleh kaum dominan- dengan identitas waria identitas
yang melekat pada kaum subaltern menjadi program usaha ekonomi produktif khusus
waria. Pertanyaan di awal riset terkait bagaimana cara waria berjuang memperoleh
penghidupan yang layak telah terjawab dengan kecocokan antara ketiga konsep dengan
realita yang peneliti temui.
H. Kesimpulan
Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa cara kaum subaltern - dalam konteks
penelitian ini ialah kaum waria memperoleh sumber daya dan penghidupan layak ialah
dengan mengadaptasi budaya kaum dominan berupa program usaha ekonomi produktif.
Melalui cara tersebut, waria tetap dapat memperoleh pekerjaan dan penghidupan layaknya
yang dapat diperoleh oleh kaum dominan. Pendisiplinan berupa hanya diakuinya dua
kategori jenis kelamin laki-laki dan perempuan, kartu identitas, ijazah pendidikan formal, dan
rintangan lain yang menghalangi diperolehnya penghidupan layak dapat diatasi dengan
mengadaptasi usaha ekonomi produktif ini ke dalam konteks waria. Tindakan yang ditempuh
oleh LSM Kebaya ini dianggap sebagai perlawanan ekstra parlemen dikarenakan terjadi di
luar jalur-jalur parlemen.
.

I. Daftar Pustaka
14 Wadam (Wanita Adam) merupakan julukan yang sering dipakai oleh waria di era
1980an.

Album Foto LSM Kebaya


http://www.suarakita.org/wp-content/uploads/2014/04/Mami-vin-kebaya.jpg
Meyer, Thomas. 2002. Politik Identitas : Tantangan Terhadap Fundamentalisme Modern.
Jakarta : Friedrich Ebert Stiftung Foundation.
Widayanti, Titik. 2009. Politik Subaltern : Pergulatan Identitas Waria. Yogyakarta : Politic and
Governance UGM.