Anda di halaman 1dari 20

I.

II.
III.
IV.

V.

Judul Percobaan
Tanggal Percobaan
Selesai Percobaan
Tujuan Percobaan
Menentukan kadar

: Penentuan Kadar Protein dengan Metode Biuret


: Senin/ 16 November 2015 pukul 10.00 WIB
: Senin/ 16 November 2015 pukul 13.00 WIB
:
protein yang ada pada sampel keju dengan

menggunakan cara Biuret.


Dasar Teori:
Protein
Kata protein sebenarnya berasal dari kata yunani yang berarti pertama
yang paling penting, asal dari kata protos. Protein terdiri dari bermacammacam golongan makromolekul heterogen. Walaupun demikian semuanya
merupakan turunan dari polipeptida dengan berat molekul yang tinggi,
secara kimia dapat dibedakan antara protein sederhana yang terdiri dari
polipeptida dengan berat molekkul yang tinggi.

Protein terdiri dari

bermacam-macam golongan makromolekul heterogen. Secara kimia dapat


dibedakan antara protein sederhana yang terdiri dari polipeptida dan protein
kompleks yang mengandung zat-zat makanan tambahan seperti hern,
karbohidrat, lipid atau asam nukleat. Untuk protein kompleks, bagian
polipeptida

dinamakan

aproprotein

dan

keseluruhannya

dinamakan

haloprotein. Molekul protein mengandung karbon, hidrogen, oksigen,


nitrogen dan kadang kala sulfur serta fosfor. Struktur dan fungsi ditentukan
oleh kombinasi, jumlah dan urutan asam amino sedangkan sifat fisik dan
kimiawi dipengaruhi oleh asam amino penyusunnya.
Amino yang mengandung unsur C,H,O dan N yang tidak dimiliki oleh
lemak dan karbohidrat. Molekul protein mengandung gula terpor belerang,
dan ada jenis protein yang mengandung unsur logam seperti besi dan
tembaga. Sifat-sifat protein beraneka ragam, dituangkan dalam berbagai
sifatnya saat bereaksi dengan air, beberapa reagen dengan pemanasan serta
beberapa perlakuan lainnya.
Kunci ribuan protein yang berbeda strukturnya adalah gugus pada
molekul unit membangunan protein yang relatif sederhana dibangun dari
rangkaian dasar yang sama, dari 20 asam amino mempunyai rantai samping
yang khusus, yang berikatan kovalen dalam urutan yang khas. Karena
masing-masing asam amino mempunyai rantai samping yang khusus yang

memberikan sifat kimia masing-masing individu, kelompok 20 unit


pembangunan ini dapat dianggap sebagai abjad struktur protein.
Protein merupakan suatu polipeptida dengan BM yang sangat
bervariasi dari 5000 samapi lebih dari satu juta karena molekul protein yang
besar, protein sangat mudah mengalami perubahan fisis dan aktivitas
biologisnya. Banyak agensia yang menyebabkan perubahan sifat alamiah
dari protein seperti panas, asam, basa, solven organik, garam, logam berat,
radiasi sinar radioaktif (Sudarmadji, 1996). Banyak agensia yang
menyebabkan perubahan sifat alamiah dari protein seperti panas, asam,
basa, solven organik, garam, logam berat, radiasi sinar radioaktif.
Protein merupakan suatu polipeptida yang sangat mudah mengalami
perubahan fisis dan aktivitas biologisnya. Hidrolisis protein menghasilkan
asam- asam amino.

Nama asam amino menunjukkan bahwa senyawa ini mempunyai dua


gugus fungsi yaitu gugus karboksil yang bersifat asam dan gugus amino
yang bersifat basa. Asam amino tersederhana adalah asam amioasetat
(H2NCH2CO2H) yang disebut glisina (glycine). Asam amino lain memiliki
rantai samping, sehingga karbon -nya bersifat kiral. Reaksi identifikasi
suatu protein tidak jauh dari reaksi kedua gugus fungsi tersebut. Kedua
gugus pada asam amino dalam larutan dapat membentuk ion yang
bermuatan positif dan juga bermuatan negatif atau disebut juga ion amfoter
(zwitter ion). Keadaan ion ini sangat tergantung pada pH larutan. Apabila
asam amino dalam air ditambah dengan basa, maka konsentrasi ion OH yang tinggi mampu mengikat ion-ion H+ pada gugus NH3+. Sebaliknya bila
ditambahkan asam ke dalam larutan asam amino, maka konsentrasi ion H +

yang tinggi berikatan dengan ion COO- terbentuk gugus COOH


(Poedjiadi, 1994).
Struktur protein dapat dibagi menjadi empat bentuk, yaitu primer,
sekunder, tersier dan kuartener. Susunan linier asam amino dalam protein
merupakan struktur primer. Susunan tersebut akan menentukan sifat dasar
protein dan bentuk struktur sekunder serta tersier. Bila protein menandung
banyak asam amino dengan gugus hidrofobik, daya kelarutannya kurang
dalam air dibandingkan dengan protein yang banyak mengandung asam
amino dengan gugus hidrofil.
Denaturasi protein dapat diartikan suatu perubahan atau modifikasi
terhadap struktur sekunder, tersier dan kuartener molekul protein tanpa
terjadinya pemecahan ikatan-ikatan kovelen. Karena itu, denaturasi dapat
diartikan suatu proses terpecahnya ikatan hydrogen, interaksi hidrofobik,
ikatan garam dan aterbukanya lipatan atau wiru molekul protein. Protein
yang terdenaturasi akan berkurang kelarutannya. Lapisan molekul bagian
dalam yang ersifat hidrofobik akan keluar sedangkan bagian hidrofilik akan
terlipat ke dalam.Pelipatan atau pembalikkan akan terjadi bila protein
mendekati pH isoelektris lalu protein akan menggumpal dan mengendap.
Sifat-sifat protein beraneka ragam, dituangkan dalam berbagai
sifatnya saat bereaksi dengan air, beberapa reagen dengan pemanasan serta
beberapa perlakuan lainnya. Semua molekul dengan jenis protein tertentu
mempunyai komposisi dan deret asam amino dan panjang rantai polipeptida
yang sama. Protein memiliki fungsi sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Enzim,merupakan katalisbiokimia
Pengukur pergerakan
Alat pengangkut dan penyimpan
Penunjang mekanisme tubuh
Pertahanan tubuh (imune atau anti-bodi)
Media perambatan impuls saraf
Pengendali pertumbuhan

Klasifikasi Protein
Berdasarkan kelarutannya :

a) Protein fibrosa : tidak larut dalam pelarut biasa namun larut dalam
asam dan basa.
b)Protein globular : larut dalam air, larutan asam, basa, bahkan garam.
Berdasarkan komplekan strukturnya :
a) Protein sederhana : hidrolisisnya menghasilkan asam amino. contoh :
albumin, globular.
b) Protein konjugasi : memilik gugus bukan protein yaitu gugus
prostetik. Contoh : neuro protein, kromoprotein.
Sumber Protein
Bahan makanan hewani merupakan sumber protein yang baik, dalam
jumlah maupun mutu, seperti telur, susu, daging, unggas, ikan, dan kerang.
Sumber protein nabati adalah kacang kedelai dan hasilnya, seperti tempe
dan tahu, serta kacang-kacangan lain. Kacang kedelai merupakan sumber
protein nabati yang mempunyai mutu atau nilai biologi tertinggi. Bahan
makanan nabati yang kaya akan protein adalah kacang-kacangan.
Metode Biuret
Analisis protein dapat dilakukan dengan metode secara kualitatif dan
metode secara kuantitaif. Pada penentuan kadar protein ini hanya dilakukan
dengan metode secara kantitatif, yaitu dengan metode biuret. Metode biuret
merupakan salah satu cara yang terbaik dalam menentukan kadar protein
dalam suatu larutan. Reagen biuret berfungsi untuk menguji kandungan
protein dalam suatu zat (makanan). Apabila sampel setelah ditetesi biuret,
makanan/ sari makanan yang mengandung protein pada sampel akan
berubah menjadi berwarna biru-ungu.
Reagen biuret terdiri dari CuSO 4 dalam aquadest, KI dalam aquadest,
Na-sitrat, Na2CO3 dan NaOH. CuSO4 sebagai penyedia ion Cu2+ sebagai ion
logam pusat yang nantinya akan membentuk kompleks dengan protein. KI
berfungsi untuk mencegah terjadinya reduksi pada Cu2+ sehingga tidak
mengendap. Na-sitrat dan Na2CO3 berfungsi sebagai larutan penyangga,
kemudian NaOH berfungsi sebagai penyedia suasana basa. Suasana basa
akan membantu untuk terbentuknya kompleks Cu2+ dengan nitrogen dari

karbon dari ikatan peptida. Makin panjang suatu ikatan peptida, maka warna
ungu yang terbentuk makin jelas dan makin pekat.
Reagen Biuret dibuat dari KOH/NaOH dan tembaga(II) sulfat hidrat,
bersama dengan kalium natrium tartrat. Kalium natrium tartrat ditambahkan
untuk kompleks dan menyetabilkan ion kupri. Reagen berubah dari biru ke
ungu dengan adanya protein, biru ke merah jambu (pink) ketika bergabung
dengan polipeptida rantai-pendek. Reaksi antara protein dan reagen biuret:

Intensitas warna tergantung pada konsentrasi protein yang ditera.


Penentuan protein cara biuret adalah dengan mengukur optical density (OD)
pada panjang gelombang 560 580 nm. Agar dapat menghitung banyaknya
protein maka perlu lebih dahuu dibuat kurva baku/standar yang melukiskan
hubungan antara konsentrasi protein dengan OD pada panjang gelombang
terpilih.
Metode Spektrofotometri
Spektrofotometri merupakan suatu metoda analisa yang didasarkan
pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan
berwarna pada panjang gelombamg spesifik dengan menggunakan
monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detektor. Spektrofotometer
adalah alat untuk mengukur transmitan atau absorban suatu sampel sebagai
fungsi

panjang

gelombang.

Sedangkan

pengukuran

menggunakan

spektrofotometer ini, metoda yang digunakan sering disebut dengan


spektrofotometri. Spektrofotometer dapat mengukur serapan di daerah

tampak, UV (200-380 nm) maupun IR (> 750 nm) dan menggunakan


sumber sinar yang berbeda pada masing-masing daerah (sinar tampak, UV,
IR). Monokromator pada spektrofotometer menggunakan kisi atau prisma
yang daya resolusinya lebih baik sedangkan detektornya menggunakan
tabung

penggandaan

foton

atau

fototube.Komponen

utama

dari

spektrofotometer, yaitu sumber cahaya, pengatur Intensitas, monokromator,


kuvet, detektor, penguat (amplifier), dan indikator. Spektrofotometri dapat
dianggap sebagai perluasan suatu pemeriksaan visual dengan studi yang
lebih mendalam dari absorbsi energi. Absorbsi radiasi oleh suatu sampel
diukur pada berbagai panjang gelombangdan dialirkan oleh suatu perkam
untuk menghasilkan spektrum tertentu yang khas untuk komponen yang
berbeda.
Metode Spektrofotokopi dengan utraviolet yang yang diserap bukan
cahaya tampak cahaya ultra ungu (ultraviolet). Dalam Spektrofotokopi ultra
ungu energi cahaya tampak terserap digunakan untuk transfus elektron.
Keju
Keju adalah bahan makanan yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat
Indonesia. Keju mengandung energi sebesar 326 kilokalori, protein 22,8
gram, karbohidrat 13,1 gram, lemak 20,3 gram, kalsium 777 miligram,
fosfor 338 miligram, dan zat besi 2 miligram. Selain itu di dalam Keju juga
terkandung vitamin A sebanyak 750 IU, vitamin B1 0,01 miligram dan
vitamin C 1 miligram. Hasil tersebut didapat dari melakukan penelitian
terhadap 100 gram Keju, dengan jumlah yang dapat dimakan sebanyak 100
%.

IX.

Analisis dan Pembahasan

Percobaan ini bertujuan untuk menentukan kadar protein yang


terdapat pada keju dengan metode biuret. Reaksi biuret merupakan reaksi
warna yang umumnya digunakan untuk gugus peptida (-CO-NH-) pada
protein. Warna ungu yang dihasilkan karena terbentuknya senyawa
kompleks antara Cu2+ dengan gugus C=O dan N dari molekul peptida.
Semakin banyak asam amino yang terikat pada ikatan peptida maka
mempengaruhi reaksi warna. Senyawa dengan dipeptida memberi warna
biru, tripeptida ungu dan tripeptida serta peptida komplek memberikan
warna merah. Beberapa protein yang mempunyai gugus -CS-NH-, CH-NHdalam molekulnya juga memberikan tes warna positif dari reaksi biuret ini
membentuk senyawa kompleks.
Reagen biuret terdiri dari
aquadest,

Na sitrat,

penyedia ion

2+

Cu

CuSO 4

Na 2 CO 3

dan

Na2 CO 3

dan

NaOH .

KI

CuSO 4

dalam
sebagai

sebagai ion logam pusat yang nantinya akan

membentuk kompleks dengan protein.

terjadinya reduksi pada

dalam aquadest,

2+
Cu

KI

berfungsi untuk mencegah

sehingga tidak mengendap.

Na sitrat

berfungsi sebagai larutan penyangga, kemudian

NaOH

berfungsi sebagai penyedia suasana basa. Suasana basa akan membantu

untuk terbentuknya kompleks

2+
Cu

dengan nitrogen dari karbon dari

ikatan peptida. Selanjutnya nilai absorbansi larutan diukur dengan


menggunakan spektrofotometri UV-Vis.
Persiapan Sampel
Pada percobaan ini, sampel yang digunakan adalah keju yang berupa
padatan berwarna kuning. Pertama-tama keju ditimbang sebanyak 0,5 gram,
ditumbuk dan dimasukkan dalam labu ukur 25 mL. Selanjutnya diencerkan

dengan aquades hingga tanda batas. Larutan menjadi berwarna putih keruh.
Pengenceran dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi besarnya
konsentrasi protein pada sampel. Kemudian larutan disaring sehingga
diperoleh filtrate berwarna putih(larutan sampel) dan residu yang berwarna
putih.

Pembuatan Standar
Pada percobaan ini, larutan standar yang digunakan sebanyak lima
larutan dengan konsentrasi yang berbeda-beda yaitu 1 mg/mL, 2 mg/mL, 3
mg/mL, 4 mg/mL dan 5 mg/mL. Pembuatan larutan standard protein
bertujuan untuk membuat kurva standar yang berfungsi untuk penentuan
kadar sampel. Pembuatan larutan standard protein digunakan prinsip
pengenceran bertingkat. Pertama-tama membuat larutan standar dengan 5
mL larutan induk yang diencerkan dalam labu 10 mL sehingga dihasilkan
larutan standar 5 mg/mL. Selanjutnya dilakukan pengenceran untuk
konsentrasi 4 mg/mL, 3 mg/mL, 2 mg/mL, 1 mg/mL.
Untuk mengencerkan digunakan rumus umum pengenceran yaitu :
M1 x V1 = M2 x V2
V1 dan M1 adalah volume dan konsentrasi dari larutan standar mulamula, sedangkan V2 dan M2 adalah volume dan konsentrasi larutan standar
akhir yang diinginkan. Berdasarkan rumus pengenceran tersebut di dapatkan
bahwa:
Larutan standar protein
5 mg/L
4 mg/L
3 mg/L
2 mg/L
1 mg/L

Volum (mL)
5 mL
8 mL
7.5 mL
6.6 mL
5 mL

Masing-masing konsentrasi diambil sebanyak 1 mL dan dimasukkan


ke dalam tabung reaksi 1, 2, 3, 4, dan 5. Kemudian kelima larutan standar
protein tersebut masing-masing ditambahkan dengan 4 mL reagen biuret.
Hasil yang diperoleh setelah penambahan reagen biuret adalah sebagai
berikut:

Larutan Standart 1 mg/mL


Larutan Standart 2 mg/mL
Larutan Standart 3 mg/mL
Larutan Standart 4 mg/mL
Larutan Standart 5 mg/mL

: Larutan berwarna ungu


: Larutan berwarna ungu (+)
: Larutan berwarna ungu (++)
: Larutan berwarna ungu (+++)
: Larutan berwarna ungu (++++)

Semakin besar konsentrasi, warna ungu yang dihasilkan semakin


pekat karena semakin banyak ikatan peptida untuk membentuk kompleks
2+

Cu .
Penambahan reagen biuret dalam larutan protein bertujuan agar ion
2+

Cu

yang berada dalam pereaksi biuret tersebut dapat berikatan dengan

ikatan peptida pada penyusun protein pada keju dan membentuk senyawa
kompleks yang berwarna ungu. Reagen biuret memiliki beberapa
kandungan dengan fungsi yang berbeda-beda, yaitu:
CuSO 4
1.
: memberikan kompleks berwarna
2.

KOH

: memberika suasana basa (mengubah

2+

Cu

menjadi

+
Cu )
3.

KnaC 4 H 4 O6

4. Larutan ion

2+
Cu

: menstabilkan kompleks ion

2+
Cu

: membentuk kompleks dengan ikatan peptida suatu

protein sehingga menghasilakn warna ungu dengan absorbansi dari


panjang gelombang maksimal 540 nm

Prinsip metode biuret adalah pengukuran serapan cahaya oleh ikatan


kompleks berwarna ungu yang terjadi bila protein bereaksi dengan ion Cu

2+

reagen biuret dalam suasana basa dengan absorbansi maksimal pada 540 nm
karena warna ungu dapat dideteksi pada panajng gelombang tersebut.
Reagen biuret terdiri dari CuSO4 dalam aquadest yang berfungsi sebagai
penyedia ion Cu

2+

yang nantinya akan membentuk kompleks dengan protein ,

KI dalam aquadest yang berfungsi untuk mencegah terjadinya reduksi pada


Cu

2+

sehingga tidak mengendap , Na sitrat dan Na2CO3 berfungsi sebagai

buffer serta NaOH berfungsi sebagai penyedia suasana basa. Semakin panjang

suatu ikatan peptida, maka warna ungu yang terbentuk makin jelas dan
makin pekat. Reaksi yang terjadi adalah:
CuSO4 5H2O(aq) + 2NaOH(aq)
Cu (OH)2(aq)

Cu(OH)2(aq) + Na2SO4(aq) + 5H2O(X)

Cu2+(aq) + 2OH-(aq)

Langkah selanjutnya, masing-masing tabung reaksi yang terisi larutan


standar protein diinkubasi selama 10 menit dengan suhu 37C pada
waterbath. Pemanasan itu sendiri bertujuan untuk mempercepat laju reaksi

dari ion

2+

Cu dan senyawa kompleks berwarna ungu yang terbentuk yang

terbentuk pada masing-masing larutan menjadi lebih stabil dan agar seluruh
protein bereaksi seluruhnya dengan reagen.
Kemudian kelima larutan standar

protein

absorbansinya pada panjang gelombang 520

nm, karena pada panjang

tersebut

diukur

gelombang 520 merupakan panjang gelombang optimum, sehingga

absorbansi yang dihasilkan adalah absorbansi maksimum. Dari pengukuran


spektrofotometer UV-VIS, diperoleh data sebagai berikut:
Standar
Absorbansi Konsentrasi
0,051
0,010
0,110
0,020
0,152
0,030
0,184
0,040
0,225
0,050
Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa semakin pekat larutan
maka konsentrasi larutan semakin besar dan absorbansinya semakin besar.
Larutan standar yang dibuat memiliki persamaan regresi y = 4,22x +
0,0178 dengan koefisien korelasi sebesar

R = 0,9878. Persamaan

regresi dan koefisien korelasi didapatkan dari pembuatan grafik larutan


standar antara konsentrasi (mg/L) dan absorbansinya. Grafik antara
absorbansi dan konsentrasi larutan (mg/L) adalah sebagai berikut:

Kurva Larutan Standar


0.25
0.2

f(x) = 4.22x + 0.02


R = 0.99

0.15
Abs

0.1
0.05
0
0.01 0.01 0.02 0.02 0.03 0.03 0.04 0.04 0.05 0.05 0.06
Konsentrasi (mg/L)

Penetapan absorbansi larutan blanko

Percobaan ini bertujuan untuk menentukan nilai absorbansi larutan


blanko. Larutan blanko yang digunakan adalah aquades. Langkah percobaan
yang dilakukan yaitu, 1 mL aquades dimasukkan ke dalam tabung reaksi,
kemudian ditambahkan reagen biuret dan dikocok agar warna yang
terbentuk stabil. Setelah ditambahkan reagen biuret dan dikocok
menghasilkan perubahan warna larutan dari tidak berwarna menjadi biru.
Pada larutan blanko tidak membetuk senyawa kompleks yang berwarna
ungu karena pada larutan blanko tidak mengandung protein. Kemudian
diinkubasi selama 10 menit dengan suhu 37C pada waterbath. Pemanasan

itu sendiri bertujuan untuk mempercepat laju reaksi dari ion

2+
Cu

dan

agar seluruh protein bereaksi seluruhnya dengan reagen. Kemudian diukur


nilai absorbansinya dengan menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Panjang
gelombang yang digunakan adalah 520 nm. Larutan blanko menghasilkan
nilai absorbansi blanko sebesar 0. Hal tersebut dikarenakan warna larutan
blanko yang dihasilkan setelah penambahan pereaksi biuret yaitu biru
sehingga larutan tersebut memiliki nilai absorbansi maksimum dengan
panjang gelombang 520 nm.
Penetapan Absorbansi Sampel
Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui nilai absorbansi larutan
sampel keju. Langkah percobaan yang dilakukan yaitu, pada 3 tabung reaksi
ditambahkan masing masing 1 mL larutan, kemudian masing-masing
ditambahkan 4 mL reagen biuret. Tujuan dari larutan sampel dimasukkan
dalam 3 tabung reaksi adalah untuk pengulangan apabila hasil yang
diperoleh menyimpang. Setelah ditambahkan reagen biuret dikocok sampai
homogen agar warna yang diperoleh lebih stabil. Pada percobaan ini setelah
ditambahkan reagen biuret menghasilkan warna ungu. Hal tersebut
menujukkan bahwa larutan sampel keju mengandung protein. Reaksi positif
ditandai dengan terbentuknya warna ungu yang menunjukkan terbentuknya
sebuah kompleks ketika ion tembaga dari reagen biuret bereaksi dengan

ikatan peptida pada rantai polipeptida. Reaksi yang terjadi antara protein
dan reagen biuret adalah sebagai berikut:
CuSO 4 . 5 H 2 O(aq) +2 NaOH (aq) Cu(OH )2(aq) + Na2 SO 4 (aq )+5 H 2 O(l)

Dalam suasana basa


2OH
(aq )
2 +
Cu (aq) +
Cu(OH )2(aq)

Kemudian diinkubasi selama 10 menit dengan suhu 37C pada


waterbath. Pemanasan itu sendiri bertujuan untuk mempercepat laju reaksi

dari ion

2+
Cu

dan senyawa kompleks berwarna ungu yang terbentuk

menjadi lebih stabil dan agar seluruh protein bereaksi seluruhnya dengan
reagen. Kemudian diukur nilai absorbansinya dengan menggunakan
spektrofotometri UV-Vis. Panjang gelombang yang digunakan adalah 520
nm. Hal tersebut dikarenakan warna larutan yang dihasilkan setelah
penambahan pereaksi biuret yaitu biru sampai ungu sehingga gugus amino
memiliki nilai absorbansi maksimum dengan panjang gelombang 520 nm,
karena pada panjang gelombang 520 nm merupakan panjang gelombang
optimum,

sehingga

absorbansi

yang

dihasilkan

adalah

absorbansi

maksimum. Berikut adalah data hasil pengukuran dengan menggunakan


spektrofotometer UV-VIS :
Sampel
1
2
3

SAMPEL
Konsentrasi
0,089
0,078
0,078

Absorbansi
0,415
0,367
0,309

Nilai absorbansi pada sampel dengan tiga kali pengulangan,


ketiganya mempunyai nilai absorbansi yang tinggi, lebih tinggi daripada
standar yang telah dibuat. Hal ini dikarenakan sampel larutan keju berwarna
putih keruh, hal ini terjadi karena kandungan keju lainnya, misalnya lemak
dan kalsium. Zat-zat inilah yang mempengaruhi nilai absorbansi sampel
yang dihasilkan, sehingga absorbansinya lebih tinggi.
Dari data absorbansi yang diperoleh, dibuat grafik antara
konsentrasi( sumbu x) dan absorbansi(sumbu y). Sehingga diperoleh grafik
sebagai berikut:

Kurva Larutan Standar


0.25
0.2

f(x) = 4.22x + 0.02


R = 0.99

0.15
Abs

0.1
0.05
0
0.01 0.01 0.02 0.02 0.03 0.03 0.04 0.04 0.05 0.05 0.06
Konsentrasi (mg/L)

Dari grafik tersebut akan didapatkan persamaan garis (y = mx + c)


dan regresi. Berdasarkan kurva larutan standar protein pada percobaan
kedua didapatkan persamaan y = 4,22x + 0,0178

sehingga dapat

digunakan untuk menghitung kadar protein dalam sampel dengan


memasukkan nilai absorbansi yang diperoleh pada sampel.

Kadar protein pada sampel keju adalah sebagai berikut:


No.
1.

Sampel
Sampel 1

Kadar Protein
0,0941

2.
3.

Sampel 2
Sampel 3

0,0827
0,0690

Kadar protein rata-rata dari sampel keju adalah

0,20525 . Hasil

yang diperoleh jauh dari kadar protein pada keju secara teori, yaitu 2
gram/17 gram.
Sedangkan

protein yang terkandung pada kacang kedelai yaitu

sebesar 0,074%. Sedangkan kadar protein secara teori adalah sebesar 30,2
gram tiap 100 gram kacang kedelai basah. Protein yang terdapat dalam
kedelai dapat larut dalam air. Kadar yang diperoleh masih dibawah kadar
secara teori, hal ini disebabkan karena sampel yang digunakan yaitu kacang
kedelai yang sudah direbus, sehingga kadar proteinnya juga berpengaruh
yakni semakin kecil.

X. Diskusi
Pada percobaan ini, kadar protein rata-rata dari sampel keju yang kami
peroleh adalah

0,20 . Hasil yang diperoleh jauh dari kadar protein pada

keju secara teori, yaitu 2 gram/17 gram. Hal ini dikarenakan sampel yang
digunakan berwarna putih, dan saat diencerkan larutan berwarna putih
keruh, warna keruh dapat muncul karena kandungan keju yang digunakan
bukan hanya protein, tapi juga mengandung lemak, dan kalsium. Hal ini
membuat nilai absorbansi yang dihasilkan pada sampel tidak sesuai dengan
standar yang telah dibuat. Sehingga dalam perhitungan, konsentrasi yang
dihasilkan juga terlalu kecil jauh dari teori kadar protein dalam keju yang
tertera pada bungkus keju tersebut.

XI. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah kami lakukan, dapat disimpulkan
bahwa rata-rata kadar protein pada sampel keju adalah 0,20525%. Hasil yang
diperoleh masih dibawah kadar sesungguhnya yang tertera pada bungkus yaitu
sebesar 2 gram/17 gram.

XII.

Jawaban Pertanyaan
1. Buatlah kurva standard konsentrasi vs absorbansi. Dengan bantuan
kurva standart tersebut tentukan kadar protein sampel!
Jawab:
Perhitungan konsentrasi sampel dari kurva standar absorbansi vs
konsentrasi
Standar
Absorbans
i
0,051
0,110
0,152
0,184
0,225

Konsentrasi
0,010
0,020
0,030
0,040
0,050

Kurva Larutan Standar


0.25
0.2

f(x) = 4.22x + 0.02


R = 0.99

0.15
Abs

0.1
0.05
0
0.01 0.01 0.02 0.02 0.03 0.03 0.04 0.04 0.05 0.05 0.06
Konsentrasi (mg/L)

SAMPEL
Sampe
l
1
2
3

Konsentrasi

Absorbansi

0,089
0,078
0,078

0,415
0,367
0,309

1. Sampel 1 keju :
y = 4,22x + 0,0178
0,415=4,22 x +0,0178

x=0,0941
2. Sampel 2 keju :
y=4,22 x +0,0178
0,367=4,22 x+ 0,0178
x= 0,0827

3. Sampel 3 keju :
y=4,22 x +0,0178
0,309=4,22 x +0,0178

x=0,0690

Massa sampel keju : 0,4 gram = 400 mg, maka :


400 mg
mg
=40
10 ml
ml

Rata-rata konsentrasi sampel keju dalam cuplikan 10 mL


0,0941+ 0,0827+0,0690
=0,08 21 mg/mL
3

Kadar protein dalam sampel keju =


0,0821 mg/l
100 =0,20 525
40 mg/l

2. Apakah peptide akan memberikan reaksi positif terhadap pereaksi


biuret? Jika benar demikian, bagaimana menemukan kadar protein yang
tercampur dengan peptida ?

Jawab:
Ya, peptida akan memberikan reaksi positif terhadap reaksi biuret.
Reaksi biuret merupakan reaksi warna yang umumnya digunakan untuk
gugus peptida (-CO-NH-) dan protein. . Dalam larutan basa, Cu2+ akan
membentuk kompleks dengan ikatan peptida suatu protein, sehingga
menghasilkan

warna

ungu

yang

dapat

didentifikasi

dengan

spektrofotometer pada panjang gelombang 520 nm. Absorbansi ini


berbanding langsung dengan kosentrasi protein dan tidak tergantung
jenis protein karena seluruh protein pada dasar nya mempunyai jumlah
ikatan peptida yang sama persatuan berat. Warna ungu yang dihasilkan
karena terbentuknya senyawa kompleks antara Cu 2+ dan N dari molekul
peptida. Semakin banyak asam amino yang terikat pada ikatan peptida
maka mempengaruhi reaksi warna. Senyawa dengan dipeptida memberi
warna biru, tripeptida ungu dan tripeptida serta peptida komplek
memberikan warna merah. Beberapa protein yang mempunyai gugus
CS-NH-, CH-NH- dalam molekulnya juga memberikan tes warna positif
dari reaksi biuret ini membentuk senyawa kompleks.

XIII. Daftar Pustaka

Basset, J. 1994. Buku Ajar Vogel : Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik.


EGC: Jakarta.
Day, R. A. Jr dan Underwood, A. L. 2002. Analisis Kimia Kualitatif. Edisi
keenam, Erlangga, Jakarta
Harper, et al. 1980. Biokimia (Review of Physiological Chemistry). Edisi
17. Jakarta: EGC
Herlina, Netti dan Hendra S Ginting. 2002. Lemak dan Minyak. Universitas
Sumatera Utara: JurusanTeknik Kimia, FakultasTeknik.
Lehninger. 1982. Dasar Dasar Biokimia. Surabaya : Erlangga
Poedjiadi, A. 1994. Dasar-dasar Biokimia. UI Press: Jakarta.
Sudarmaji, Slamet, dkk. 2007. Analisis bahan Makanan dan Pangan.
Penerbit Liberty.
Tim Biokimia. 2015. Penuntun Praktikum Biokimia I. Surabaya: Jurusan
Kimia FMIPA UNESA.