Anda di halaman 1dari 2

Dik,fenomena padamnya listrik beberapa tahun terakhir di kalimantan sebenarnya

menjadi hal yang lumrah. Alasan klasik demi memelihara pembangkit listrik
diminta masyarakat mau bersabar dan mengalah. Belum lagi kurangnya pasokan
tenaga listrik masyarakat diminta untuk pasrah ?? kau tau dik, lama pemadaman
listrik dikalimantan berapa jam? 1 jam ? haha dikira partisipan Earth Hour,
pemadaman bisa berlangsung selama 3 12 jam dik ! bahkan sampai ada yang 24
jam tanpa listrik.
Dik, kau tahu dampak pemadaman selama itu? Ekonomi warga menjadi sangat
terganggu. Usaha warung makan jadi tanpa pemanas nasi, mau minum es yang
dingin dingin kulkas mati, administrasi perkantoran tanpa komputer, mau pake
laptop juga charger gak bisa, siswa-siswi belajar UN jadi gelap gulita, koneksi
internet jadi gangguan kadang juga putus putus, handphone dan laptop lowbate,
nonton sinetron juga gak bisa, Bagaimana mau nanyain kamu apa kabarnya hari ini
dik?
Tapi sekarang
KAMI MENOLAK PASRAH !
KAMI MENOLAK MENGALAH !!
Krisis energi di bumi yang penuh energi adalah ironi. Pemadaman bergilir bukan
soal public service, tapi tentang regulasi yang menempatkan Banua kalimantan
sebagai anak tiri (Khairi Fuady, 2016). INI LUMBUNG ENERGI !! di kemanakan
energi kami ?? untuk asing ?? atau untuk kamu kamu yang dipulau jawa sono?
Hari ini kami lawan ketidak adilan ! rapatkan barisan, satukan tujuan. Jangan
sampai Sumber Daya Alam yang melimpah di Bumi Kalimantan dieksploitasi tapi
tak berdampak apa pun bagi warga kalimantan. Alih-alih memberikan
kesejahteraan, memberikan penerangan pun negara absen.
Founder Bangsa, Mohammad Hatta pernah berujar "Indonesia tidak akan
bercahaya karena obor besar di Jakarta, tapi Indonesia baru akan bercahaya karena
lilin-lilin
di
desa."
BETAPA
HEBATNYA
NEGARA
INI
MENERJEMAHKANNYA SECARA HARFIAH!
#Salam pergerakan, Indonesia itu milik kita, keadilan itu hak kita !