Anda di halaman 1dari 17

BAB I

LAPORAN KASUS
I.

II.

IDENTITAS
Nama
: Tn. PS
Umur
: 67 tahun
Alamat
: Sukapura, Jakarta Utara
Tanggal berobat
: 13 maret 2016
ANAMNESA
Keluhan Utama
Mata kanan terasa mengganjal sejak 3 hari sebelum berobat ke poli mata
RSIJ Cempaka Putih
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke poli mata RSIJ Cempaka Putih dengan keluhan mata
kanan terasa mengganjal sejak 3 hari sebelum berobat, keluhan tersebut disertai
dengan rasa sakit pada mata kanan, terdapat rasa gatal,merah, dan berair pada
mata kanan. Pasien juga mengeluhkan adanya kotoran pada mata kanan, kotoran
tidak banyak dan berwarna kecoklatan. Pasien juga merasakan silau ketika
melihat cahaya dan juga menyangkal adanya gangguan penglihatan dan melihat

III.

pelangi pada saat melihat cahaya


Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien tidak pernah seperti ini sebelumnya.
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada keluarga yang mengeluhkan sama sepeti pasien.
Riwayat Pengobatan
Pasien belum pernah berobat sebelumya untuk mengatasi keluhan saat ini.
Riwayat Alergi
o Riwayat alergi makanan disangkal
o Riwayat alergi obat disangkal
Riwayat Psikososial
Pasien sering mengucek ngucek matanya ketika gatal.
STATUS OFTALMOLOGIKUS

O.D

O.S

OD
Ortoforia
Baik ke segala arah
Edema (-), hiperemis (-),

OS
Kedudukan
Pergerakan Bola Mata
Palpebra Superior

Ortoforia
Baik ke segala arah
Edema (-), hiperemis (-),

nyeri tekan (-)


Edema (-), hiperemis (-),

Palpebral Inferior

nyeri tekan (-)


Edema (-), hiperemis (-),

nyeri tekan (-)


Hiperemis (-), folikel (-),

Konjungtiva Tarsal

nyeri tekan (-)


Hiperemis (-), folikel (-),

Konjungtiva Bulbi

papil (-)
Injeksi siliar (-), injeksi

papil (-)
Jaringan fibrovaskular
berbentuk segitiga di

konjungtiva (-), secret (-)

daerah nasal puncak


kornea,ukuran 2 mm,
injeksi siliar (+), injeksi
konjungtiva (-), secret (-)
Tepi kornea bagian nasal

Kornea

tertutupi selaput, sikatriks

yang menutupi tepi

(-)
Hipopion (-), hifema (-)
Berwarna coklat (+), bulat

C.O.A
Iris

kornea, sikatriks (-)


Hipopion (-), hifema (-)
Berwarna coklat (+), bulat

(+), sinekia (-)


Bulat (+), isokor (+), reflex

Pupil

(+), sinekia (-)


Bulat (+), isokor (+),

cahaya langsung dan tidak


langsung (+)
Jernih
Tidak dilakukan
6/15
IV.

Tidak terdapat selaput

reflex cahaya langsung dan


tidak langsung (+)
Lensa
Vitreous Humor
Visus

Tidak dilakukan
6/10

RESUME
Pasien datang ke poli mata RSIJ Cempaka Putih dengan keluhan mata kanan
terasa mengganjal sejak 3 hari sebelum berobat, keluhan tersebut disertai dengan rasa

sakit pada mata kanan, terdapat rasa gata (+) merah (+), dan berair (+). Pasien juga
mengeluhkan adanya kotoran (+) pada mata kanan, kotoran tidak banyak dan berwarna
kecoklatan. Pasien juga merasakan silau (+) ketika melihat cahaya dan juga menyangkal
adanya gangguan penglihatan (-) dan melihat pelangi (-) pada saat melihat cahaya
Pada pemeriksaan didapatkan visus mata kanan 6/15 dan mata kiri 6/10. Pada
konjungtiva bulbi kanan terdapat jaringan fibrovaskular berbentuk segitiga di daerah
nasal puncak kornea,ukuran 2 mm, dan terdapat injeksi siliar dan tepi kornea bagian nasal
V.
VI.

tertutupi selaput.
DIAGNOSA
Pterigium OD stadium II
PENATALAKSANAAN
obat tetes mata steroid
Edukasi
o Meminta pasien untuk melindungi matanya dari paparan sinar matahari
dan debu yang berlebihan dengan menggunakan kacamata hitam agar

VII.

tidak memperberat pterigium.


PROGNOSIS
Quo ad vitam
: ad bonam
Quo ad fungtionam : ad bonam
Quo ad sanationam : ad bonam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I.

Anatomi
Anatomi Konjungtiva
Konjungtiva merupakan membran yang menutupi sclera dan kelopak mata bagian belakang.
Berbagai macam obat mata dapat diserap melalui konjungtiva. Konjungtiva ini mengandung
sel musin yang dihasilkan oleh sel goblet.2
Konjungtiva terdiri atas tiga bagian, yaitu :

Konjungtiva tarsal yang menutupi tarsus, konjungtiva tarsal ini sukar digerakkan dari

tarsus.
Konjungtiva bulbi, menutupi sclera dan mudah digerakan dari sclera dibawahnya.
Konjungtiva forniks, merupakan tempat peralihan konjungtiva tarsal dengan
konjungtiva bulbi. 2

Konjungtiva bulbi dan forniks berhubungan dengan sangat longgar dengan jaringan di
bawahnya sehingga bola mata mudah bergerak. 2

Anatomi kornea
Kornea adalah selaput bening mata, bagian selaput mata yang tembus cahaya, merupakan
lapis jaringan yang menutup bola mata bagian depan. 2
Kornea terdiri dari lima lapis, yaitu :
1. Epitel
Tebalnya 50 m, terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling tumpang
tindih; satu lapis sel basal, sel poligonal dan sel gepeng.

Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini terdorong ke depan menjadi
lapis sel sayap dan semakin maju ke depan menjadi sel gepeng, sel basal berikatan erat
dengan sel basal di sampingnya dan sel poligonal di depanya melalui desmosom dan
makula okluden; ikatan ini menghambat pengaliran air, elektrolit, dan glukosa yang

merupakan barrier.
epitel berasal dari ektoderm permukaan.2
2. Membran Bowman
Terletak dibawah membran basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang tersusun
tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma.
Lapis ini tidak mempunyai daya regenerasi.2
3. Stroma
Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu dengan lainnya,
pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedang di bagian perifer serat kolagen
ini bercabang; terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu yang lama yang
kadang-kadang sampai 15 bulan. Keratosit merupakan sel stroma kornea yang
merupakan fibroblas terletak di antara seratkolagen stroma. Diduga keratosit
membentuk bahan dasar dan serat kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah
trauma.2
4. Membrane descement
Merupakan membran aselular dan merupakan batas belakang stroma kornea dihasilkan

selendotel dan merupakan membran basalnya.


Bersifat sangat elastik dan berkembang terus seumur hidup, mempunyai tebal 40m.2

5. Endotel
Berasal dari mesotellium, berlapis satu, bentuk heksagonal, besar 20-40m. endotel
melekat pada membrane descement melalui hemidesmosom dan zonula okluden.2
Kornea dipersyarafi oleh banyak saraf sensoris terutama berasal dari saraf siliar longus,
saraf nasosiliar, saraf ke V saraf siliar longus berjalan suprakoroid, masuk ke dalam stroma
kornea, menembus membrane bowman melepaskan selubung schwannya. Seluruh lapis epitel

dipersarafi sampai pada kedua lapis terdepan tanpa ada akhir saraf. Bulbus Krause untuk
sensasi dingin ditemukan di daerah limbus. Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di daerah
limbus terjadi dalam waktu 3 bulan.2
Trauma atau penyakit yang merusak endotel akan mengakibatkan system pompa endotel
terganggu sehingga dekompensasi endotel dan terjadi edema kornea. Endotel tidak
mempunyai daya regenarasi.2
Kornea merupakan bagian mata yang tembus cahaya dan menutup bola mata di sebelah
depan. Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh kornea, dimana 40 dioptri dari 50 dioptri
pembiasan sinar masuk kornea dilakukan oleh kornea.2

II. Pterigium
Definisi

Menurut kamus kedokteran Dorland, pterygium adalah bangunan mirip sayap, khususnya
untuk lipatan selaput berbentuk segitiga yang abnormal dalam fisura interpalpebralis, yang
membentang dari konjungtiva ke kornea, bagian puncak (apeks) lipatan ini menyatu dengan
kornea sehingga tidak dapat digerakkan sementara bagian tengahnya melekat erat pada sclera,
dan kemudian bagian dasarnya menyatu dengan konjungtiva. 12
Menurut American Academy of Ophthalmology, pterygium adalah poliferasi jaringan
subconjunctiva berupa granulasi fibrovaskular dari (sebelah) nasal konjuntiva bulbar yang
berkembang menuju kornea hingga akhirnya menutupi permukaannya. 13
Pterigium merupakan suatu pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva yang bersifat
degenerative dan invasive. Berbentuk segitiga dengan puncaknya terletak dikornea dan
dasarnya dibagian perifer. Biasanya terletak di celah kelopak bagian nasal ataupun temporal
dan sering meluas ke daerah pupil. Pterigium mudah meradang dan bila terjadi iritasi, maka
bagian pterigium akan berwarna merah

Epidemiologi
Di Amerika Serikat, kasus pterigium sangat bervariasi tergantung pada lokasi geografisnya.
Di daratan Amerika serikat, Prevalensinya berkisar kurang dari 2% untuk daerah diatas
40olintang utara sampai 5-15% untuk daerah garis lintang 28-36o. Terdapat hubungan antara
peningkatan prevalensi dan daerah yang terkena paparan ultraviolet lebih tinggi di bawah
garis lintang. Sehingga dapat disimpulkan penurunan angka kejadian di lintang atas
dan peningkatan relatif angka kejadian di lintang bawah.3

Mortalitas/Morbiditas
Pterygium bisa menyebabkan perubahan yang sangat berarti dalam fungsi visual
atau penglihatan pada kasus yang kronis. Mata bisa menjadi inflamasi sehingga menyebabkan
iritasi okuler dan mata merah.3

Berdasarkan beberapa faktor diantaranya :

1. Jenis Kelamin
Pterygium dilaporkan bisa terjadi pada golongan laki-laki dua kali lebih banyak
dibandingkan wanita.3
2. Umur
Jarang sekali orang menderita pterygium umurnya di bawah 20 tahun. Untuk pasien
umurnya diatas 40 tahun mempunyai prevalensi yang tertinggi, sedangkan pasien yang
berumur 20-40tahun dilaporkan mempunyai insidensi pterygium yang paling tinggi.3

Etiologi
Pterigium diduga disebabkan iritasi kronis akibat debu, cahaya sinar matahari, dan udara
panas. Etiologinya tidak diketahui dengan jelas dan diduga merupakan suatu neoplasma,
radang, dan degenerasi.2
Pterygium diduga merupakan fenomena iritatif akibat sinar ultraviolet, pengeringan dan
lingkungan dengan angin banyak. Faktor lain yang menyebabkan pertumbuhan pterygium
antara lain uap kimia, asap, debu dan benda-benda lain yang terbang masuk ke dalam mata.
Beberapa studi menunjukkan adanya predisposisi genetik untuk kondisi ini. 12

Gejala Klinis
Gejala klinis pterigium pada tahap awal biasanya ringan bahkan sering tanpa keluhan sama
sekali (asimptomatik). Beberapa keluhan yang sering dialami pasien antara lain:

mata sering berair dan tampak merah


merasa seperti ada benda asing
timbul astigmatisme akibat kornea tertarik oleh pertumbuhan pterigium tersebut, biasanya
astigmatisme

with

mengganggu penglihatan

the

rule

ataupun

astigmatisme

irreguler

sehingga

pada pterigium yang lanjut (derajat 3 dan 4) dapat menutupi pupil dan aksis visual
sehingga tajam penglihatan menurun.10

Pemeriksaan Fisik
Adanya massa jaringan kekuningan akan terlihat pada lapisan luar mata (sclera) pada
limbus, berkembang menuju ke arah kornea dan pada permukaan kornea. Sclera dan selaput
lendir luar mata (konjungtiva) dapat merah akibat dari iritasi dan peradangan.11

A.

Cap: Biasanya datar, terdiri atas zona abu-abu pada kornea yang kebanyakan terdiri atas fibroblast, menginvasi dan menghancurkan

lapisan bowman pada kornea

B.

C.

Whitish: Setelah cap, lapisan vaskuler tipis yang menginvasi kornea

Badan: Bagian yang mobile dan lembut, area yang vesikuler pada konjunctiva bulbi, area paling ujung

Berbentuk segitiga yang terdiri dari kepala (head) yang mengarah ke kornea dan badan.
Derajat pertumbuhan pterigium ditentukan berdasarkan bagian kornea yang tertutup
oleh pertumbuhan pterigium, dan dapat dibagi menjadi 4 (Gradasi klinis menurut Youngson ):

Derajat 1
Derajat 2

: Jika pterigium hanya terbatas pada limbus kornea


: Jika pterigium sudah melewati limbus kornea tetapi tidak lebih dari 2

mm melewati kornea

Derajat 3

pinggiran pupil mata dalam keadaan cahaya normal (diameter pupil sekitar 3-4 mm)
Derajat 4
: Jika pertumbuhan pterigium sudah melewati pupil sehingga

: Jika pterigium sudah melebihi derajat dua tetapi tidak melebihi

mengganggu penglihatan.10

Diagnosa
Penderita dapat melaporkan adanya peningkatan rasa sakit pada salah satu atau kedua mata,
disertai rasa gatal, kemerahan dan atau bengkak. Kondisi ini mungkin telah ada
selama bertahun-tahun

tanpa

gejala

dan

menyebar

perlahan-lahan,

pada

akhirnya

menyebabkan penglihatan terganggu, ketidaknyamanan dari peradangan dan iritasi. Sensasi


benda asing dapat dirasakan, dan mata mungkin tampak lebih kering dari biasanya. penderita
juga dapat melaporkan sejarah paparan berlebihan terhadap sinar matahari atau partikel
debu.11

Test: Uji ketajaman visual dapat dilakukan untuk melihat apakah visus terpengaruh. Dengan
menggunakan slitlamp diperlukan untuk memvisualisasikan pterygium tersebut. 11 Dengan
menggunakan sonde di bagian limbus, pada pterigium tidak dapat dilalui oleh sonde seperti
pada pseudopterigium.10

Diagnosa Banding
1. Pinguekula
Penebalan terbatas pada konjungtiva bulbi, berbentuk nodul yang berwarna kekuningan.6

2.

Pseudopterigium

Pterigium umumnya didiagnosis banding dengan pseudopterigium yang merupakan suatu reaksi
dari konjungtiva oleh karena ulkus kornea. Pada pengecekan dengan sonde, sonde dapat masuk
di antara konjungtiva dan kornea.
Pseudopterigium merupakan perlekatan konjungtiva dengan kornea yang cacat akibat ulkus.
Sering terjadi saat proses penyembuhan dari ulkus kornea, dimana konjungtiva tertarik dan
menutupi kornea. Pseudopterigium dapat ditemukan dimana saja bukan hanya pada fissura
palpebra seperti halnya pada pterigium. Pada pseudopterigium juga dapat diselipkan sonde di
bawahnya sedangkan pada pterigium tidak. Pada pseudopterigium melalui anamnesa selalu
didapatkan riwayat adanya kelainan kornea sebelumnya, seperti ulkus kornea. Selain

pseudopterigium, pterigium dapat pula didiagnosis banding dengan pannus dan kista dermoid. 6

Pembeda

Pterigium

Pinguekula

Pseudopterigium

Definisi

Jaringan
fibrovaskular
konjungtiva bulbi
berbentuk segitiga

Benjolan pada
kongjungtiva bulbi

Perlengketan
konjungtiva bulbi
dengan kornea yang
cacat

Warna

Putih kekuningan

Putih kuning keabu


abuan

Putih kekuningan

Letak

Celah kelopak bagian


nasal atau temporal
yang meluas kearah
kornea

Celah kelopak mata


terutama bagian nasal

Pada daerah
konjungtiva yang
terdekat dengan
proses kornea
sebelumnya

Sonde

Tidak dapat
diselipkan

Tidak dapat
diselipkan

Dapat diselipkan
dibawah lesi karena
tidak melekat pada
limbus

Terapi
1.

Konservatif
Pada pterigium yang ringan tidak perlu di obati. Untuk pterigium derajat 1-2 yang
mengalami inflamasi, pasien dapat diberikan obat tetes mata kombinasi antibiotik dan
steroid 3 kali sehari selama 5-7 hari. Diperhatikan juga bahwa penggunaan kortikosteroid
tidak dibenarkan pada penderita dengan tekanan intraokular tinggi atau mengalami
kelainan pada kornea.10

2.

Bedah
Pada pterigium derajat 3-4 dilakukan tindakan bedah berupa avulsi pterigium. Sedapat
mungkin setelah avulsi pterigium maka bagian konjungtiva bekas pterigium tersebut
ditutupi dengan cangkok konjungtiva yang diambil dari konjugntiva bagian superior
untuk menurunkan angka kekambuhan. Tujuan utama pengangkatan pterigium yaitu
memberikan hasil yang baik secara kosmetik, mengupayakan komplikasi seminimal
mungkin, angka kekambuhan yang rendah. Penggunaan Mitomycin C (MMC) sebaiknya
hanya pada kasus pterigium yang rekuren, mengingat komplikasi dari pemakaian MMC
juga cukup berat.10
A. Indikasi Operasi
1. Pterigium yang menjalar ke kornea sampai lebih 3 mm dari limbus
2. Pterigium mencapai jarak lebih dari separuh antara limbus dan tepi pupil
3. Pterigium yang sering memberikan keluhan mata merah, berair dan silau karena
astigmatismus
4. Kosmetik, terutama untuk penderita wanita.6

Komplikasi
1. Komplikasi dari pterigium meliputi sebagai berikut

Gangguan penglihatan-Mata kemerahan


Iritasi
Gangguan pergerakan bola mata.
Timbul jaringan parut kronis dari konjungtiva dan kornea
Dry Eye sindrom. 3
2. Komplikasi post-operatif bisa sebagai berikut:
Infeksi
Ulkus kornea
Graft konjungtiva yang terbuka
Diplopia
Adanya jaringan parut di kornea. 3

Yang paling sering dari komplikasi bedah pterigium adalah kekambuhan. Eksisi bedah
memiliki angka kekambuhan yang tinggi, sekitar 50-80%. Angka ini bisa dikurangi sekitar 515% dengan penggunaan autograft dari konjungtiva atau transplant membran amnion pada
saat eksisi.3

Pencegahan
Secara umum, lindungi mata dari paparan langsung sinar matahari, debu, dan angina,
misalnya dengan memakai kacamata pelindung

Prognosis
Pterigium adalah suatu neoplasma yang benigna. Umumnya prognosis baik. Kekambuhan
dapat dicegah dengan kombinasi operasi dan sitotastik tetes mata atau beta radiasi.6

DAFTAR PUSTAKA

1. Ardalan Aminlari, MD, Ravi Singh, MD, and David Liang, MD. Management
of Pterygium http://www.aao.org/aao/publications/eyenet/201011/pearls.cfm?
2. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. Edisi 5. Jakarta : Balai Penerbit FKUI ; 2007. hal:2-6, 116
117
3. Jerome P Fisher, PTERYGIUM. 2009
http://emedicine.medscape.com/article/1192527-overview
4. Kanski JJ. Clinical Ophthalmology: A Systematic

Approach;

Edisi

6.

Philadelphia:Butterworth Heinemann Elsevier. 2006 :242-244.


5. Miller SJH. Parsons Disease of The Eye. 18th ed. London : Churchill Livingstone ;1996.
p.142
6. Pedoman

Diagnosis

dan

Terapi.

Bag/SMF

Ilmu

Penyakit

Mata.

Edisi

III

penerbitAirlangga Surabaya. 2006. hal: 102 104


7. Voughan & Asbury. Oftalmologi umum , Paul Riordan-eva, John P. Whitcher edisi
17Jakarta : EGC, 2009 Hal 119
8. www.en.wikipedia.org/wiki/Pterygium_(conjunctiva)
9. www.eyewiki.aao.org/Pterygium
10. www.inascrs.org/pterygium/
11. www.mdguidelines.com/pterygium18
12. Anderson, Dauglas M., et all. 2000. Dorlands Illistrated Medical Dictionary. 29th.
Philadelphia: W.B. Saunders Company.
13. American Academy of Ofthalmology. 2012. www.AAO.org
14. Ardalan Aminlari, MD, Ravi Singh, MD, and David Liang, MD. 2012. Management of
Pterygium. http://www.aao.org/aao/publications/eyenet/201011/pearls.cfm