Anda di halaman 1dari 53

Materi Inti 9

Teknik Melatih

Materi Inti 9
TEKNIK MELATIH (Micro Teaching)
I. Deskripsi singkat
Dalam proses melatih, diperlukan penguasaan dan kesiapan seorang pelatih
atas berbagai aspek yang berperan besar dalam pencapaian tujuan pelatihan.
Oleh karena itu, seorang pelatih diberikan kemampuan antara lain: menyusun
SAP (satuan acara pembelajaran), mendinamisasi dan memotivasi peserta
dalam pengelolaan kelas, membangun komunikasi interaktif dengan dan antar
peserta, memanfaatkan keragaman metode pembelajaran, menggunakan media
dan alat bantu pembelajaran, dan membuat evaluasi hasil belajar.
Materi teknik melatih ini disusun untuk membekali fasilitator dalam melatih
tenaga petugas puskesmas tentang promosi kesehatan terkait dengan upaya
kesehatan yang diselenggarakan puskesmas. Pada akhir proses pembelajaran
materi ini, akan diberikan kesempatan kepada setiap peserta untuk
mempraktikkan micro teaching dalam rangka mengevaluasi pencapaian
kemampuan menjadi seorang pelatih.
Ruang lingkup materi yang akan dibahas pada sesi ini, meliputi konsep dasar
pembelajaran mikro (micro teaching), kompetensi pelatih dalam teknik melatih
pada kegiatan pelatihan, mempraktikan teknik melatih melalui pembelajaran
mikro (micro teaching).
II. Tujuan Pembelajaran
A. Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah mengikuti materi, peserta mampu mempraktikkan teknik melatih
melalui kegiatan pembelajaran mikro (micro teaching) pada pelatihan bagi
pelatih (TOT) promosi kesehatan bagi petugas Puskesmas
B. Tujuan Pembelajaran Khusus
Setelah mengikuti materi ini, peserta mampu:
1. Menjelaskan konsep dasar pembelajaran mikro (micro teaching) dalam
pelatihan
2. Menjelaskan kompetensi pelatih dalam teknik melatih pada kegiatan
pelatihan.
3. Mempraktikan teknik melatih melalui pembelajaran mikro (micro
teaching)
III. Pokok bahasan dan Sub-Pokok Bahasan
A. Konsep dasar pembelajaran mikro (micro teaching) dalam pelatihan
1.
Pengertian pembelajaran mikro (micro teaching)
2.
Tujuan pembelajaran mikro (micro teaching)
3.
Manfaat pembelajaran mikro (micro teaching)
4.
Prinsip-prinsip pembelajaran mikro (micro teaching)

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

Materi Inti 9
Teknik Melatih

5.
6.
7.

Ciri-ciri pembelajaran mikro (micro teaching)


Komponen pembelajaran mikro (micro teaching)
Langkah- langkah pembelajaran mikro (micro teaching)

B. Kompetensi pelatih dalam teknik melatih pada kegiatan pelatihan.


1. Kriteria dan tugas/ tanggung jawab pelatih
2. Keterampilan mengajar dan membimbing
3. Teknik presentasi interaktif dalam proses pembelajaran
4. Penyusunan SAP (Satuan Acara Pembelajaran)
5. Pengelolaan kelas
6. Pemanfaatan keragaman metode pembelajaran
7. Penggunaan media dan alat bantu pembelajaran
8. Melakukan evaluasi pembelajaran
C. Praktik pembelajaran mikro (micro teaching)
1.
Persiapan
2.
Pelaksanaan
3.
Penialaian dan umpan balik
4.
Penyempurnaan
IV. Bahan belajar
Hand out/selebaran teks dan PPT.
V.

Langkah-langkah kegiatan pembelajaran


Jumlah jam yang digunakan dalam modul ini sebanyak 15 jam pelajaran (T= 5
JPL, P=10, PL=0) @45 menit, untuk memudahkan proses pembelajaran,
dilakukan langkah-langkah kegiatan pembelajaran sebagai berikut.
A. Langkah 1
Pengkondisian (10 menit)
Langkah pembelajaran:
1. Fasilitator menyapa peserta dengan ramah dan hangat. Apabila belum
pernah
menyampaikan sesi di kelas, mulailah dengan perkenalan.
Perkenalkan diri dengan menyebutkan nama lengkap, instansi tempat
bekerja dan judul materi yang akan disampaikan.
2. Menciptakan suasana nyaman dan mendorong kesiapan peserta untuk
menerima materi dengan menyepakati proses pembelajaran.
3. Dilanjutkan dengan penyampaian judul materi, deskripsi singkat, tujuan
pembelajaran serta ruang lingkup pokok bahasan yang akan dibahas
pada sesi ini.
B. Langkah 2
Penyampaian dan pembahasan pokok bahasan tentang Konsep dasar
pembelajaran mikro (micro teaching) dalam pelatihan (60 menit)

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

Materi Inti 9
Teknik Melatih

1. Fasilitator melakukan curah pendapat dengan mengajukan beberapa


pertanyaan kepada peserta untuk mengukur pemahaman peserta
tentang konsep dasar pemantauan dan penilaian promosi kesehatan. Ada
beberapa pertanyaan yang diajukan kepada peserta yaitu : 1) pengertian;
2) tujuan ; 3) manfaat serta 4) ciri-ciri pembelajaran mikro (micro
teaching).
2. Fasilitator mencatat semua pendapat peserta dikertas flipchart.
Selanjutnya merangkum dan menyampaikan paparan materi sesuai
urutan sub pokok bahasan dengan menggunakan bahan tayang.
3. Fasilitator memberikan kesempatan peserta untuk bertanya atau
menyampaikan klarifikasi, kemudian fasilitator menyampaikan jawaban
atau tanggapan yang sesuai.
C. Langkah 3
Penyampaian dan pembahasan pokok bahasan tentang Kompetensi
pelatih dalam teknik melatih pada kegiatan pelatihan (180 menit).
Langkah pembelajaran:
1. Fasilitator menyampaikan secara umum materi tentang kompetensi
pelatih dalam proses pembelajaran pada pelatihan sesuai urutan sub
pokok bahasan dengan menggunakan bahan tayang.
2. Fasilitator minta peserta tetap berada dalam 3
kelompok (setiap
kelompok terdiri dari 10-11 orang). Selanjutnya, fasilitator menugaskan
setiap kelompok untuk mempelajari pokok bahasan kompetensi pelatih
dalam teknik melatih pada pelatihan yang ada dalam modul.
3. Fasilitator menugaskan kembali agar setiap kelompok berdiskusi dan
menyiapkan suatu penyajian materi yang terkait dengan materi pokok
bahasan tentang kompetensi pelatih dalam teknik melatih pada
pelatihan tersebut, yaitu:
a. Kelompok I : tentang kriteria, tugas dan tanggung jawab pelatih,
keterampilan mengajar dan membimbing
b. Kelompok II : tentang teknik presentasi interaktif dalam proses
pembelajaran serta penyusunan SAP (Satuan Acara Pembelajaran)
c. Kelompok III : tentang pengelolaan kelas dan
pemanfaatan
keragaman metode pembelajaran
Waktu diskusi adalah 30 menit.
4. Hasil diskusi setiap kelompok di tulis di flipchart atau slide. Selanjutnya,
fasilitator meminta kepada setiap kelompok untuk menyajikan hasil
diskusinya di depan kelas. Waktu: penyajian setiap kelompok adalah 10
menit. Fasilitator memberi kesempatan kepada kelompok lainnya untuk
bertanya, menyampaikan klarifikasi atau tanggapan terhadap penyajian
setiap kelompok. Fasilitator bisa memberikan tambahan penjelasan saat
proses tanya jawab antar kelompok.

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

Materi Inti 9
Teknik Melatih

5. Pada akhir penyajian , fasilitator menyampaikan penegasan singkat


melalui paparan
materi sesuai urutan sub pokok bahasan dengan
menggunakan bahan tayang.
6. Fasilitator memberikan kesempatan peserta untuk bertanya atau
menyampaikan klarifikasi, kemudian fasilitator menyampaikan jawaban
atau tanggapan yang sesuai.

D. Langkah 3
Mempraktikan pembelajaran mikro /micro teaching
Langkah pembelajaran:
1.

Fasilitator menyampaikan penjelasan bahwa semua materi dasar


dan materi inti sudah selesai disampaikan, selanjutnya fasilitator
mengkondisikan peserta agar siap mengikuti proses praktik pembelajaran
mikro (micro teaching) tentang materi inti promosi kesehatan di
puskesmas.

2.

Fasilitator
menjelaskan
secara
singkat
pedoman
praktik
pembelajaran mikro (micro teaching) tentang materi promosi kesehatan di
puskesmas tersebut, dengan menggunakan bahan tayang.

3.

Fasilitator minta peserta tetap berada dalam tiga kelompok (setiap


kelompok terdiri dari 10 orang). Fasilitator menempatkan setiap kelompok
dalam ruangan yang terpisah. Selanjutnya, fasilitator menugaskan setiap
orang peserta untuk berdiskusi mempersiapkan diri , melakukan praktik
pembelajaran mikro (mikro teaching) yang mengacu pada materi inti yang
telah dibahas, yaitu :
1) Peserta 1 : Perencanaan promosi kesehatan di Puskesmas, dengan sub
pokok bahasan konsep dasar perencanaan promosi kesehatan
2) Peserta 2 : Perencanaan promosi kesehatan di Puskesmas, dengan sub
pokok bahasan penyusunan perencanaan promosi kesehatan di
puskesmas
3) Peserta 3 : KIE dalam bidang kesehatan
4) Peserta 4 : Pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan,
dengan sub pokok bahasan pemberdayaan masyarakat melalui
pengembangan UKBM
5) Peserta 5 : Pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan,
dengan sub pokok bahasan peran dan fungsi petugas puskesmas
sebagai fasilitator pemberdayaan masyarakat
6) Peserta 6 : Advokasi dalam bidang kesehatan, dengan sub pokok
bahasan konsep dasar advokasi kesehatan
7) Peserta 7 : Advokasi dalam bidang kesehatan, dengan sub pokok
bahasan penyusunan rencana kegiatan advokasi kesehatan
8) Peserta 8 : Kemitraan dalam bidang kesehatan, dengan sub pokok
bahasan konsep dasar kemitraan dalam bidang kesehatan
9) Peserta 9 : Kemitraan dalam bidang kesehatan, dengan sub pokok
bahasan penyusunan renacana kegiatan kemitraan dalam bidang
kesehatan

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

Materi Inti 9
Teknik Melatih

10)
Peserta
kesehatan

10 : Pengembangan pesan dan media promosi

Waktu diskusi dan mempersiapkan pembawaan materi adalah 90 menit.


4.

Fasilitator
meminta
setiap
peserta
untuk
mempraktikan
pembelajaran mikro sesuai tugasnya masing-masing secara bergantian.
Setiap kelompok diberi waktu 30 menit sudah termasuk tanya jawab.

5.

Setelah semua peserta dalam kelompok tersebut melakukan


tugasnya yaitu mempraktikan pembelajaran mikro, kemudian fasilitator
mengajak peserta melakukan refleksi terhadap kegiatan praktik tersebut.
Fasilitator memberi kesempatan kepada peserta untuk menyampaikan
perasaan dan pengalamannya saat membawakan materi melalui kegiatan
pembelajaran mikro tersebut.

6.

Fasilitator menyampaikan tanggapan atau umpan balik terhadap


kegiatan praktik pembelajaran mikro tersebut, dari segi: penerapan teknik
penyampaian materi, pengelolaan kelas dan waktu, pemanfaatan
keragaman metode pembelajaran, penggunaan media dan alat bantu
pembelajaran, evaluasi pembelajaran.

7.

Fasilitator memberikan kesempatan peserta untuk bertanya atau


menyampaikan klarifikasi, kemudian fasilitator menyampaikan jawaban
atau tanggapan yang sesuai.

E. Langkah 4
Penyampaian rangkuman tentang teknik melatih (15 menit).
Langkah pembelajaran:
1. Fasilitator
mengajak peserta untuk mengungkapkan kembali serta
merangkum materi yang telah dibahas pada sesi ini, mengacu pada
tujuan pembelajaran.
2. Fasilitator menyampaikan beberapa hal penting dan membangun
kesepakatan tentang peran, tugas dan tanggung jawab pelatih dalam
meningkatkan kompetensi atau kemampuan petugas puskesmas untuk
melaksanakan kegiatan promosi kesehatan di puskesmas.
3. Fasilitator menutup proses pembelajaran pada sesi ini, dengan
mengucapkan terima kasih serta memberikan apresiasi kepada semua
peserta yang telah berpartisipasi aktif sehingga tujuan pembelajaran
pada sesi ini dapat tercapai.
VI. Uraian materi
A.

Konsep dasar pembelajaran mikro (micro teaching)


Pembelajaran mikro (micro teaching) merupakan proses pembelajaran yang
dilakukan secara sederhana dan singkat, tahap demi tahap dengan kontrol
yang cermat sehingga calon pelatih memperoleh kemampuan yang optimal.
Penyederhanaan pembelajaran mikro terletak pada waktu, materi, jumlah

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

Materi Inti 9
Teknik Melatih

peserta, jenis keterampilan dasar mengajar, penggunaan metode, media


atau alat bantu yang digunakan dan lain lain.
Pembelajaran mikro secara teknis bertolak dari asumsi bahwa keterampilanketerampilan mengajar yang kompleks itu dapat terbagi menjadi unsur-unsur
keterampilan yang lebih kecil. Masing-masing keterampilan dapat dilatihkan
jauh lebih efektif dan efisien, apabila dibandingkan dengan pendekatan lain
yang dilakukan secara umum. Melalui pembelajaran mikro, pembentukan
keterampilan dapat dilakukan secara sistematik mulai dari pemahaman,
perencanaan, observasi sampai dengan mempraktikan.
1.

Pengertian
Pembelajaran mikro (micro-teaching) merupakan salah satu bentuk model
praktek kependidikan atau pelatihan mengajar. Dalam konteks yang
sebenarnya, mengajar mengandung banyak tindakan, baik mencakup
teknis penyampaian materi, penggunaan metode, penggunaan media,
membimbing belajar, memberi motivasi, mengelola kelas, memberikan
penilaian dan seterusnya. Dengan kata lain, bahwa perbuatan mengajar
itu sangatlah kompleks. Oleh karena itu, dalam rangka penguasaan
keterampilan dasar mengajar, calon pelatih atau fasilitator perlu berlatih
secara parsial, artinya tiap-tiap komponen keterampilan dasar mengajar
itu perlu dikuasai secara terpisah-pisah (isolated).
Berlatih untuk menguasai keterampilan dasar mengajar seperti itulah
yang dinamakan micro-teaching (pembelajaran mikro). Pembelajaran
mikro (micro-teaching) merupakan suatu situasi pembelajaran yang
dilaksanakan dalam waktu dan jumlah peserta latih yang terbatas yaitu
sekitar 5-10 orang, waktunya antara 10-20 menit . Hal tersebut diungkap
oleh Cooper dan Allen, 1971.
Pembelajaran mikro juga dapat diartikan sebagai cara dalam melatih
keterampilan praktik mengajar dalam lingkup kecil atau terbatas. Jumlah
pesertanya sekitar 5 sampai 10 orang, ruang kelasnya terbatas, waktu
pelaksanaanya berkisar antara 10 dan 20 menit, terfokus kepada
keterampilan mengajar materi tertentu, dan pokok pembahasannya
disederhanakan.
Waskito (1977) mendefinisikan Micro Teaching adalah suatu metode
belajar mengajar atas dasar performance yang tekniknya dilakukan
dengan cara mengisolasikan komponen komponen proses belajar
mengajar sehingga calon pelatih dapat menguasai setiap komponen satu
per satu sub-pokok bahasan dalam situasi yang disederhanakan atau
dikecilkan.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa
micro teaching atau pembelajaran mikro adalah : Salah satu praktik
pembelajaran
dalam
lingkup
yang
terbatas
(mikro)
untuk
mengembangkan dasar keterampilan mengajar ( Base Teaching Learning )

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

Materi Inti 9
Teknik Melatih

yang dilaksanakan secara terisolasi dalam situasi yang disederhanakan


atau dikecilkan.
2.

Tujuan
a.

Tujuan umum
Pembelajaran mikro (micro teaching) adalah untuk memberikan
kesempatan kepada calon pelatih untuk berlatih mempraktikkan
beberapa keterampilan dasar kegiatan belajar mengajar di depan
teman temannya dalam suasana yang constructive, supportive, dan
bersahabat sehingga mendukung kesiapan mental, keterampilan dan
kemampuan performance yang ter-integrasi untuk bekal praktik
melatih sesungguhnya di dalam kegiatan pelatihan.

b.

Tujuan khusus :
Melalui pembelajaran mikro, diharapkan calon pelatih promosi
kesehatan di puskesmas dapat :
1) Memahami materi pelatihan yang akan dibawakan
2) Meningkat kemampuannya dalam membuat persiapan melatih
3) Menetapkan dan mempraktikan metode dan teknik pembelajaran
yang sesuai
4) Menyiapkan dan menggunakan media dan alat bantu dalam
kegiatan pembelajaran.
5) Meningkat kemampuannya dalam pengelolaan waktu
6) Meningkat kemampuannya dalam penguasaan kelas termasuk
peserta latih.
7) Berlatih menjadi pelatih yang bertanggung jawab dan berpegang
kepada etika sebagai pelatih.
8) Meningkatkan
kinerja
(performance)
yang
menyangkut
keterampilan dalam mengajar atau latihan mengelola interaksi
belajar mengajar.

3.

Fungsi
a.

Memperkuat rasa lebih terampil serta percaya diri menjadi


pelatih.

b.
c.
d.

Membentuk sikap profesional sebagai calon pelatih.


Memberikan pengalaman yang konkrit sebagai pelatih.
Memberikan pembekalan dan pengalaman yang konkrit pada
calon pelatiha dalam mempersiapkan, melaksanakan, serta

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

Materi Inti 9
Teknik Melatih

mengevaluasi kegiatan belajar mengajar pada penyelenggaraan


pelatihan.
e.
Meningkatkan kualitas penyelenggaraan pelatihan di waktu
mendatang.
f.
Meningkatkan performance (penampilan, kinerja) seorang
pelatih yang dapat dihayati oleh orang lain.
g.
Meningkatkan keterampilan calon pelatih di bidang kognitif,
psikomotorik, reaktif dan interaktif.
4.

Prinsip-prinsip pembelajaran mikro.


Pengajaran yang nyata (dilaksanakan dalam bentuk yang
sebenarnya) tetapi berkonsep mini.
b.
Latihan terpusat pada keterampilan dasar mengajar,
mempergunakan informasi dan pengetahuan tentang tingkat belajar
pelatih sebagai umpan balik terhadap kemampuan calon pelatih.
a.

c.

Pengajaran dilaksanakan bagi para calon pelatih dengan latar


belakang yang berbeda-beda dan berdasarkan pada kemampuan
intelektual kelompok.

d.

Pengontrolan secara ketat terhadap lingkungan latihan yang


diselenggarakan dalam laboratorium micro teaching.

e.

Pengadaan low-threat-situation untuk memudahkan calon


pelatih mempelajari keterampilan belajar mengajar.

f.

Penyediaan low-risk-situation yang memungkinkan calon


pelatih berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran.

5.

Manfaat
a.

Kegiatan pembelajaran mikro (micro teaching) dapat


mengatasi kelemahan model praktik pembelajaran konvensional.
b.
Melalui pembelajaran mikro (micro teaching), keterampilan
mengajar yang potensial dapat diorganisasikan dalam satu penampilan
yang utuh.
c.
Calon pelatih menjadi lebih siap dan terampil untuk
mengantisipasi perilaku mengajar yang sebenarnya di kelas.
d.
Pembelajaran mikro (micro teaching) dapat memberikan
pengaruh positif pada calon pelatih dalam melatih keterampilannya
mengajar di kelas.
Brown dan ametrong (1975), mencatat hasil riset tentang manfaat
pembelajaran mikro (micro teaching) sebagai berikut :
a.
Korelasi antara pembelajaran mikro (micro teaching) dan
penampilan calon pelatih dalam praktik mengajar di kelas sangat
tinggi.
b.
Pembelajaran mikro dapat meningkatkan keterampilan yang
lebih tinggi dibandingkan praktikan yang tidak mengikuti pengajaran
mikro dalam menerapkan teknik melatih di kelas.

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

Materi Inti 9
Teknik Melatih

c.
6.
a.
b.
c.
d.
7.

Pembelajaran mikro dapat


prestasi mengajar yang lebih tinggi.

meningkatkan

keterampilan

Ciri-ciri pokok pembelajaran mikro


Jumlah subyek belajar sedikit sekitar 5-10 orang
Waktu mengajar terbatas sekitar 10-20 menit
Komponen mengajar yang dikembangkan terbatas
Sekedar real teaching
Komponen keterampilan dasar pembelajaran mikro

Komponen keterampilan dasar mengajar yang dilatihkan dalam


pembelajaran mikro (micro-teaching) menurut hasil penelitian Tumey
(1973) ada 8 (delapan) keterampilan yang sangat berperan dalam
kegiatan belajar mengajar. Kedelapan keterampilan tersebut antara lain :
a. Keterampilan dasar membuka dan menutup pelajaran (set induction
And closure)
b. Keterampilan dasar menjelaskan (explaining skills)
c. Keterampilan dasar mengadakan variasi (variation skills)
d. Keterampilan dasar memberikan penguatan (reinforcement skills)
e. Keterampilan dasar bertanya (questioning skills)
f.

Keterampilan dasar mengelola kelas

g. Keterampilan dasar mengajar perorangan/kelompok kecil


h. Keterampilan dasar menggunakan metode dan media pembelajaran
secara tepat
8.

Langkah-langkah pembelajaran mikro


Langkah pertama calon pelatih diarahkan untuk memahami
wawasan dan landasan teori keterampilan dasar mengajar yang
harus dikuasai serta mengamati dan mencontoh penerapan modelmodel keterampilan mengajar sesuai bidang studinya.
b.
Langkah ke dua adalah penyusunan perencanaan program
pembelajaran dengan mengacu pada format yang telah ada dan
dipelajari.
c.
Langkah ke empat adalah setiap calon pelatih
dalam
kelompok masing-masing akan mempraktikkan satu sesi pengajaran
dengan kontrak keterampilan dasar mengajar yang berbeda-beda
secara terisolasi.
a.

d.

Langkah ke lima , dilakukan setelah calon pelatih selesai


mempraktikan satu sesi, sesama calon pelatih saling memberikan
komentar (debriefing) terhadap apa yang telah berjalan

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

Materi Inti 9
Teknik Melatih

B.

e.

Langkah ke enam anggota lain memberikan Feed Back yang


konstruktif terhadap presentasi yang telah dilakukan.

f.

Langkah ke tujuh calon pelatih bersama anggota lainnya


melakukan refleksi serta menevaluasi diri tentang kekurangan dan
kelebihan kemampuannya yang nantinya digunakan sebagai bahan
untuk melakukan kegiatan pembelajaran di lain waktu dengan lebih
baik.

Kompetensi Pelatih dalam Pelatihan


Proses pembelajaran yang dilakukan pada pelatihan promosi kesehatan bagi
petugas puskesmas adalah pendekatan pembelajaran orang dewasa belajar.
Hal yang perlu diketahui tentang bagaimana orang dewasa belajar adalah:

Orang dewasa adalah belajar sukarela. Mereka berunjuk kerja


terbaik ketika mereka memutuskan mengikuti pelatihan dengan alasan
tertentu. Mereka berhak memperoleh hak untuk mengetahui mengapa
sebuah topik atau sesi penting bagi mereka. Orang dewasa biasanya
datang jika ada niat untuk belajar. Bila motivasi tidak didukung, mereka
akan mengubah atau tidak hadir lagi.

Orang dewasa memiliki pengalaman dan dapat saling


menolong dalam belajar. Memberanikan diri saling membantu dari
pengalaman, maka sesi belajar akan bertambah efektif.

Orang dewasa belajar sebaik-baiknya dalam suasana terlibat


aktif dan berpartisipasi.

Orang dewasa belajar amat baik bila konteks pelatihan yang


berakhir dari tugas atau pekerjaan mereka sendiri jelas. Orang dewasa
adalah pemikir terbaik melalui pendekatan dunia nyata.
Dengan mengetahui karakteristik belajar pada orang dewasa maka pelatih
maupun fasilitator harus memberi kesempatan sebanyak-banyaknya agar
peserta dapat berperan aktif dan mendapatkan kejelasan tentang materi
yang dibahas dalam pelatihan yang diikutinya.
1.

Kriteria,
Keterampilan Pelatih
a.

Tugas/Tanggung

Jawab

serta

Kriteria Pelatih:
Pribadi yang hangat, bisa menerima pendapat
Kemampuan social dan menjaga keutuhan kelompok
Cara mengajar yang menghasilkan dan menggunakan gagasan
serta keterampilan peserta

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

10

Materi Inti 9
Teknik Melatih

b.

Mengorganisasi sumber untuk dibukukan, logistic yang mudah


digunakan
Terampl menemukan dan menangulangi masalah peserta
Antusias untuk subjek dan kapasitas dengan cara yang menarik
Fleksibel dalam memberi respon untuk peserta yang mengubah
kebutuhannya.
Tugas/tanggung jawab pelatih dan fasilitator
Menjelaskan peran pelatih kepada peserta, selalu merefleksi
kembali pada kebutuhan peserta untuk belajar mengutamakan
kebutuhan peserta yang tugasnya adalah belajar.
Melayani dan membantu peserta tanpa pamrih
Membantu memenuhi kebutuhan emosional peserta
Mengusahakan agar kelompok belajar memahami yang pelatih
lakukan bersama peserta berupa tujuan, bagaimana pelatih
mengharapkan memenuhi kebutuhan peserta, memahami hal yang
pelatih dapat lakukan dan yang tidak dapat dilakukan serta
bagaimana
yang
anda
lakukan
sehingga
kelompokdapat
mengetahui dengan tepat yang pelatih lakukan bagi peserta.

Pelatih harus memahami tujuan pelatihan, sebagai berikut:


Mengubah perilaku
Membujuk peserta
Memberitahukan
Merangsang berpikir
Menghibur
Mendorong untuk berbuat
Hambatan pada pelatih
Komunkasi satu arah, peserta tidak berpartisipasi
Adanya kesenjangan pengetahuan antara pelatih dengan peserta
Peserta menerima pembelajaran dengan pasif dan membosankan
Metode pembelajaran hanya membawakan pesan fakta, namun
kekuatan pesan bergantung lebih dari sekedar fakta
Waktu perhatian terbatas, maka bila pembelajaran dilakukan
dengan suara yang monoton, maka peserta kehilangan 50% dari
yang didengarnya
Sering kali mengulang-ulang hal yang sama
Pelatih tidak mengetahui apakah peserta memahami bila tidak ada
umpan balik pesan yang disampaikan.
c.

Keterampilan Mengajar dan Membimbing


Memberi dukungan agar optimal.
Pada teknik penyampaian pesan perlu diperhatikan oleh pelatih dan
para pembicara tentang cara menjelaskan dan memberi penguatan
dengan memperhatikan kecepatan, kekuatan suara dan cara atau

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

11

Materi Inti 9
Teknik Melatih

metode yang tepat. Bersama itu pula harus bervariasi agar tidak
membosankan. Penguatan perlu diberikan kepada peserta.
Cara memberi umpan balik:
Umpan balik langsung sesaat
Gunakan berbagai cara untuk memberi umpan balik dengan
komentar tertulis, diskusi kemajuan secara umum, komentar pada
tiap performa dan rencana aksi
Memberi umpan balik kepada tiap peserta pada tiap sesi
Memberi umpan balik segera
Mengkritik performa berkas pribadinya
Memberi alasan untuk tiap umpan balik
Memeriksa bahwa peserta sudah memahami dengan mengajukan
pertanyaan terbuka
Memusatkan pada sedikit kritik sesaat
Menciptakan atmosfer di mana peserta memberi umpan balik
konstruktif pada peserta lain
d.

Teknik presentasi interaktif proses pembelajaran


1) Pengertian dan tujuan
Pengertian presentasi interaktif
Presentasi interaktif mempunyai makna penyajian timbal balik/
bergantian antara pelatih/ fasilitator dan pembelajar yang saling
merespon pembelajar suatu topik bahasan. Dalam kaitan ini
pembelajar dapat merespon ditengah paparan penyaji dan
penyaji dapat mengembagkan respon pembelajar sepanjang
masih dalam koridor pokok bahasan.
Dengan kata lain penyajian (stimulus) yang dilakukan pelatih/
fasilitator memperoleh respon dari pembelajar dan respon
pembelajar ini sebagai stimulus yang mengundang respon
pelatih. Dengan demikian dalam presentasi interaktif yang
terjadi sebenarnya adalah interaksi stimulus respon yang
terjadi diantara pelatih/ fasilitator dan pembelajar saling
menyajikan dan saling membelajarkan.

Tujuan presentasi interaktif


Pada dasarnya tujuan presentasi interaktif untuk:
- Menimbulkan perhatian dan ketertarikan pembelajar
terhadap materi yang disajikan
- Merangsang pembelajar berperan serta aktif untuk
menemukan sendiri bagian-bagian topik bahasan yang
sesuai dengan kebutuhan belajarnya
- Menggali lebih banyak pendapat dari berbagai pengalaman,
sehingga pembahasannya dapat lebih komprehensif
- Mengendalikan pelatih/ fasilitator yang biasa mendominasi
komunikasi (komunikasi searah)
Hal-hal yang perlu diperhatikan pelatih/ fasilitator dalam
menggunakan pendekatan presentasi interaktif adalah:

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

12

Materi Inti 9
Teknik Melatih

Waktu
Keluar dari pokok bahasan
Dominasi
Menangkap dan membulatkan masukan/ tanggapan

2) Penghantar sesi pembelajaran


Beberapa menit pertama setiap sesi penyajian merupakan waktu
yang kritis, seperti yang dikatakan orang bijak: lima menit
pertama
dari
presentasi
anda
dapat
menetukan
keberhasilan ratusan menit berikutnya (Andreas Harefa). Hal
ini mudah dipahami karena pada menit-menit pertama
kemungkinan beberapa pembelajar berpikir berbagai hal yang tak
ada kaitannya dengan materi pembelajaran, atau sebaiknya
mereka berharap yang berlebihan (over estimate) terhadap materi
yang akan dibahas. Oleh karena itu pelatih/ fasilitator harus
mampu:
Menangkap
minat
seluruh
kelompok
pembelajar
dan
menyiapkan informasi agar pembelajar dapat berproses secara
optimal
Membuat pembelajar menyadari harapan pelatih/ fasilitator
tentang tujuan pembelajaran yang akan dicapai bersama,
sehingga dapat diciptakan iklim pembelajaran yang kondusif.
3) Merangkum sesi pembelajaran
Rangkuman digunakan untuk menguatkan isi penyajian dan
menyediakan ruang bagi pembelajar untuk meninjau ulang butirbutir inti penyajian. Pada umumnya rangkuman dibuat pada setiap
akhir presentasi. Apabila pokok bahasannya kompleks atau terputus
oleh waktu istirahat, rangkuman perlu dibuat secara periodik per
pokok bahasan untuk meyakinkan bahwa pembelajar telah dapat
menangkap materi yang disajikan dengan benar.
Syarat rangkuman:
Singkat
Rangkuman tidak terlalu banyak sehingga memudahkan setiap
pembelajar mengingatnya
Menggambarkan kesatuan butir-butir inti
Rangkuman hendaknya dibuat secara kronologis berupa butirbutir inti sesuai dengan sekuens pembahasan
Melibatkan pembelajar
Rangkuman sebaiknya dilakukan oleh pembelajar secara curah
pendapat yang dipandu oleh pelatih/ fasilitator dengan maksud
disamping untuk memperekat daya ingat juga dapat digunakan
untuk mengukur tingkat penyerapannya.
4) Teknik tanya jawab efektif, teknik penguatan, menjelaskan
dan menerapkan variasi
Inti dari keberhasilan presentasi interaktif terletak pada dinamika
proses pembelajaran yang tercipta, kualitas dinamika proses
pembelajaran terletak pada ketepatan dan keserasian hubungan

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

13

Materi Inti 9
Teknik Melatih

stimulus respon (pelatih/ fasilitator dan pembelaiar) yang terjadi.


Bagi pelatih/ fasilitator bertanya kepada pembelajar mempunyai
maksud sebagai berikut:
Menghantar pokok bahasan, bertujuan mengetahui tingkat
pemahaman terhadap materi yang akan dibahas (pre test)

Meningkatkan
efektivitas
ilustrasi
penyajian,
bertujuan
mendapat dukunagan dari forum pembelajar

Mendinamisasi kelas, bertujuan menghidupkan kelas yang lesu


dan kurang tertarik terhadap materi pokok bahasan

Mengetahui daya serap kelas, bertujuan mengevaluasi


seberapa jauh materi dapat diserap secara rata-rata kelas
sekaligus menegtahui atensi pembelajar terhadap materi
bahasan
Sedangkan bagi pembelajar bertanya kepada pelatih/ fasilitator
mempunyai maksud:

Mendapatkan informasi tambahan karena pembelajar marasa


belum lengkap

Menghilangkan
keraguan
karena
pembelajar
masih
menyangsikan atas informasi telah diterimanya

Sekedar memberikan komentar atas serentetan pernyataan


penyaji

Menyatakan sudut pandang yang berbeda, karena menurut


keyakinannya pernyataan penyaji berbeda dengan pengalaman
atau pemahamannya

Menyatakan
dukungannya
secara
terselubung,
artinya
pembelajar setuju dengan pernyataan penyaji karena menurut
pemahaman dan pengalamannya memang begitu adanya

Memberikan apresiasi terhadap pernyataan penyaji, pembelajar


ingin memberikan penghargaan terhadap pernyataan penyaji
yang memang tepat adanya.
5) Hubungan interaktif Proses Belajar Mengajar
Pola interaktif pelatih/ fasilitator harus dapat memfasilitasi
komunikasi interaktif yang efektif. Interaktif yang dimaksud adalah
keadaan yang memungkinkan terjadinya interaksi antar sumber
belajar. Secara nyata interaaaksi yang terjadi adalah terciptanya
stimulus 0 respon antara pelatih/ fasilitator dengan pembelajar,
antar pembelajar, dan antara pelatih/ fasilitator dengan sarana
pembelajar. Berikut ini beberapa strategi untuk mengelola
hubungan interaktif yang berguna bagi pelatih/ fasilitator agar
dapat mempertahankan suasana kondusif sampai akhir sesi.

Menyesuaikan diri dengan pembelajar yang menjadi pendengar

Mendengar secara efektif

Menyadari apa yang sedang terjadi ketika proses pembelajaran


sedang berlangsung

Ekspresi wajah, gerak tubuh dan suara

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

14

Materi Inti 9
Teknik Melatih

C.

Kompetensi pelatih dalam kegiatan pelatihan


1. Persiapan Proses Pembelajaran: Penyusunan SAP (Satuan Acara
Pembelajaran)
SAP atau Satuan Acara Pembelajaran, ada pula yang menyebutnya
dengan Satpel atau Satuan Pelajaran atau Kurikulum Mikro. SAP
merupakan pedoman/panduan yang memberi arah kepada pelatih dalam
menyajikan materi pembelajaran kepada para peserta agar tidak
menyimpang dari alur dan lingkup materi pembelajaran. SAP menguraikan
secara rinci langkah demi langkah kegiatan pembelajaran yang dilakukan,
metode dan media serta alat bantu belajar apa yang digunakan dengan
estimasi waktunya untuk masing-masing tahapan kegiatan tersebut.
Uraian meliputi tiap tahap pembelajaran mulai dari pendahuluan hingga
penutupan. SAP berbeda dengan Garis-garis Besar Program Pembelajaran
(GBPP) yang telah ditetapkan dalam kurikulum pelatihan, namun
penyusunannya mengacu pada GBPP. Komponen GBPP dimuat dalam SAP
ditambah tahapan kegiatan.
Manfaat SAP
Manfaat penyusunan SAP dalam kegiatan pembelajaran yang
dilaksanakan oleh setiap fasilitator antara lain:
a.
Menjadi instrumen pengendalian dan pembinaan
terhadap fasilitator dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran
b.
Fasilitator dan peserta dapat mengetahui proses
pembelajaran yang akan berlangsung dan metoda-metoda untuk
mencapai tujuan materi tersebut
Tujuan SAP
Sebagai pedoman dan arah bagi fasilitator dalam melaksanakan proses
kegiatan pembelajaran
Komponen-komponen SAP adalah sebagai berikut:
a.
b.

c.

Mata diklat
(materi)
Tujuan materi

: diisi Pokok/ Sub Pokok Bahasan


(mengacu GBPP)
: diambil dari Tujuan Pembelajaran
Umum (TPU) dan Tujuan
Pembelajaran Khusus (TPK)
mengacu GBPP
: sebutkan kriteria/siapa peserta

d.

Sasaran
peserta
Waktu

e.

Tempat

: dalam menit atau Jumlah Jam


Pembelajaran/JPL (mengacu
GBPP)
: kelas/laboratorium/tempat lain

f.

Kegiatan

: pembukaan, Inti, penutup

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

15

Materi Inti 9
Teknik Melatih

g.

Pembelajaran
Metode

h.
i.

Media
Alat bantu

j.

Rujukan

k.
l.

Evaluasi
Slide/transparan

m.

Lembar tugas

: cara pembelajaran yang


akan digunakan
: media yang digunakan
: alat/instrumen yang akan
digunakan
: buku yang digunakan sebagai
referensi/kepustakaan
: nilai evaluasi
: bahan
yang
dipaparkan/ditayangkan
: petunjuk penugasan

Pada setiap modul pelatihan ini, sudah dicantumkan langkah-langkah


pembelajaran untuk setiap materi. Langkah tersebut bertujuan sebagai
panduan/pedoman bagi pelatih untuk menyampaikan materi tentang
promosi kesehatan, namun perlu penyesuaian dan pengembangan
sesuai dengan karakteristik peserta yang akan dilatih.
Teknik penyusunan SAP
Cara penulisan setiap komponen dalam SAP, harsu ada beberapa
komponen berikut ini:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
a.
1)

Tujuan pembelajaran: umum maupun khusus.


Pokok bahasan dan sub pokok bahasan.
Metode pembelajaran.
Media pembelajaran.
Alat bantu pembelajaran.
Kegiatan pembelajaran.
Instrumen evaluasi.
Tujuan Pembelajaran
Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)
Menggambarkan kompetensi atau kemampuan/kecakapan umum/
ketrampilan tertentu yang diharapkan dapat dikuasai oleh peserta
setelah menyelesaikan kegiatan pembelajaran satu mata diklat/materi.
Rumusan TPU yang baik harus memenuhi kriteria antara lain sebagai
berikut:

2)

Merupakan kompetensi umum dari suatu kemampuan tertentu (TPU


merupakan gabungan dari beberapa kompetensi khusus).
Terdiri dari kata kerja operasional (= hasilnya dapat diukur dan
diamati) yang diikuti kata benda (obyek = keterangan dari perilaku
yang akan dicapai), sehingga rumusan TPU menjadi rasional.
Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

16

Materi Inti 9
Teknik Melatih

Merupakan penjabaran lebih lanjut dari TPU yang harus dicapai


atau dikuasai oleh peserta setelah menyelesaikan suatu kegiatan
pembelajaran.
Rumusan TPK memerlukan kriteria, bahwa kompetensi yang harus
dicapai harus berorientasi pada peserta dan dapat diukur.
Mengingat yang menjadi subyek aktif proses diklat adalah peserta.
Rumusan TPK harus mengandung komponen A, B, C dan D, yang
berarti: Audience (peserta) harus dapat mengerjakan atau
berpenampilan seperti yang dinyatakan dalam TPK, Behaviour
(perilaku) peserta setelah selesai kegiatan pembelajaran,
Condition (persyaratan) yang harus dipenuhi pada saat paserta
menampilkan perilaku setelah selesai kegiatan pembelajaran,
Degree (tingkat keberhasilan) peserta setelah selesai kegiatan
pembelajaran.

3)

Pokok
bahasan
dan
sub
pokok
bahasan
Pokok bahasan dan sub pokok bahasan merupakan judul materi yang
akan disampaikan dalam proses pembelajaran. Penulisannya mengacu
pada TPK dan harus mendukung tercapainya tujuan tersebut.

4)

Metode pembelajaran
Metode pembelajaran yang digunakan dalam suatu pelatihan sangat
tergantung dari tujuan kompetensi yang ingin dicapai. Walaupun
hampir sama tujuannya, tetapi dengan audience yang berbeda
mungkin metode yang dipilih tidak persis sama.
Dalam setiap kegiatan pelatihan mungkin akan bervariasi metodenya,
selain materi dan peserta juga sangat tergantung pada waktu, alat
yang tersedia, lokasi pembelajaran, fasilitator, dan sebagainya.
Berbagai macam ragam metode dan pemanfaatannya akan
disampaikan pada pokok bahasan berikutnya.

5)

Media pembelajaran
Media merupakan alat bantu dalam proses pembelajaran yang
dikemas dalam bentuk non fisik (software) yang mengandung pesan
didalamnya (isi materi pembelajaran). Memilih dan menggunakan
media tergantung pada tujuan pembelajaran, kebutuhan peserta,
kemampuan fasilitator, metode yang digunakan, dan lain-lain.
Berbagai media dan pemanfaatannya akan disampaikan pada pokok
bahasan selanjutnya.

6)

Alat bantu pembelajaran


Memilih alat bantu pembelajaran sangat tergantung pada tujuan
pelatihan yang akan dicapai. Pada dasarnya ada 2 macam alat bantu
pembelajaran yaitu bersifat umum dan khusus. Pemilihan alat bantu
pembelajaran didasarkan atau sesuai tujuan dan metode pembelajaran
yang akan dilaksanakan. Alat bantu pembelajaran yang akan di
gunakan dalam proses pembelajaran HARUS ditulis secara jelas dan

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

17

Materi Inti 9
Teknik Melatih

rinci, agar tidak menimbulkan kesulitan pada saat kegiatan tengah


berlangsung.
Berbagai alat bantu dan pemanfaatannya akan
disampaikan pada pokok bahasan selanjutnya.
7)

Kegiatan pembelajaran
Penyusunan kegiatan pembelajaran harus berfokus kepada peserta
yang diposisikan sebagai subyek, diikuti dengan bentuk kegiatan yang
harus dilakukannya (behaviour). Setiap langkah kegiatan pembelajaran
harus ditulis secara berurutan (sequencing) mulai dari awal sampai
dengan akhir, juga disesuaikan dengan pokok dan sub pokok bahasan
yang tertera dalam GBPP.

2. Pengelolaan Kelas
a. Pengertian Pengelolaan Kelas
Pengelolaan kelas merupakan suatu seni proses mengorganisasikan
segala sumber daya kelas yang diarahkan agar dapat tercipta suatu
kondisi yang menunjang terjadinya proses pembelajaran yang efektif
dan efisien dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Konsep pengelolaan kelas modern mengisyaratkan bahwa semua
sumber daya yang terdapat di kelas selalu dapat menimbulkan
perhatian, motivasi, dan suasana yang menyenangkan para peserta.
Hal ini seiring dengan konsep Quantum Learning (Bobbi DePorter &
Mike Hernacki, 1992) yang menyatakan bahwa semua sumber daya di
kelas dapat berbicara sehingga menimbulkan rasa, memotivasi
karena dapat menstimulir peserta.
Untuk itu seluruh sumber daya kelas yang terlibat dalam proses
pembelajaran diupayakan agar senantiasa menimbulkan perasaan
nyaman dan menyenangkan peserta. Keberadaan peserta yang hadir
dan diterima seutuhnya dalam proses pembelajaran akan melibatkan
seluruh unsur individu yang terdiri dari intelektualitas, kondisi fisik,
maupun mentalnya yang sangat mudah terpengaruh oleh hal-hal yang
berada disekitarnya.
b. Manfaat Pengelolaan Kelas
Keterampilan mengelola kelas merupakan suatu seni yang harus
dikuasai pelatih/fasilitator karena hal ini merupakan bagian dari
tugasnya dalam mencipatakan iklim pembelajaran yang kondusif.
Untuk itu, diperlukan kreatifitas dalam menciptakan proses
pembelajaran yang nyaman, aman juga menyenangkan.
Kegagalan mengelola kelas dengan baik biasanya akan memunculkan
indikator yang segera tampak yakni ritme proses pembelajaran
melemah karena keterlibatan peserta berada pada titik terendah.
Masalah ini dapat terjadi karena berbagai sebab, antara lain oleh

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

18

Materi Inti 9
Teknik Melatih

manusia (peserta, pelatih/fasilitator atau panitia), sarana (misalnya


media pembelajaran dan fasilitas fisik lainnya) dan organisasi
(misalnya: perubahan jadwal, pergantian fasilitator, dsb.).
Masalah pengelolaan kelas yang disebabkan oleh peserta dapat
dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu masalah individual dan
masalah kelompok. R.Dreikurs dan P. Cassel mengemukakan kegagalan
mengelola kelas akan memunculkan masalah kelas secara individual
yang dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1) Memancing perhatian, misalnya dengan melucu, bercanda atau
membuat keributan disaat proses pembelajaran
sedang
berlangsung.
2) Konfrontasi atau mencari kuasa, dengan manifestasinya melawan,
membantah, menentang dan bertindak emosional pada halhal
yang sepele.
3) Menyakiti/mengejek orang lain yang lebih rendah, lemah, atau
kurang pengetahuan/pengalamannya ketika ia berbuat kekeliruan.
4) Memboikot, beraksi seperti menyerah atau tak berdaya, pasip,
apatis, acuh tak acuh, atau bahkan menolak sama sekali untuk
melakukan apapun.
Sedangkan masalah kelompok dalam pengelolaan kelas menurut
L.V.Johnson dan M.A. Bany mengklasifikasikannya sebagai berikut:
1) Kelas kurang kompak, timbul klik-klik dalam kelas yang
bernuanasa negatif.
2) Kelas sukar diatur, melakukan berbagai cara yang menunjukkan
pemberontakan.
3) Kelas bereaksi negatif ketika salah seorang anggotanya/kelompok
lain berlaku disiplin dan serius dalam mengikuti proses
pembelajaran.
4) Kelas mendukung anggota kelas yang melanggar norma kelompok.
5) Kelas mudah sekali dialihkan perhatiannya.
6) Semangat kerja rendah, lamban dan bermalas-malasan.
7) Kelas sulit menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan
yang dilakukan oleh pengendali pelatihan, misalnya perubahan
jadwal, pergantian fasilitator, dsb.
Untuk mencegah terjadinya masalahmasalah di atas, maka perlu
dilakukan pengelolaan kelas seperti berikut ini:
1) Menciptakan iklim kelas yang baik yakni tindakan positif
untuk preventif.
Pelatih/fasilitator
dalam
menyampaikan
informasi-informasi
dengan baik dan tegas, serta melibatkan peserta dalam setiap

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

19

Materi Inti 9
Teknik Melatih

kegiatan pembelajaran di kelas sedini mungkin.


dibutuhkan ketrampilan fasilitator seperti di bawah ini:

Untuk

itu

Memberikan tanggapan yang memadai.


Membagi perhatian terhadap seluruh peserta secara adil.
Menarik perhatian kelompok/kelas agar terpusat pada pokok
bahasan.
Memberi petunjuk yang jelas dan tegas.
Menghindari kesalahan sekecil apapun dalam mengatur
kelancaran dan kecepatan proses pembelajaran.
Menanggapi secara serius terhadap keluhan peserta dan
gangguan lain yang berpengaruh pada proses belajar/kegiatan
kelas dengan melakukan tindakan korektif.
Mengembalikan kondisi belajar yang baik dengan tindakan
remedial, kuratif, bahkan represif bila terjadi gangguan yang
berlangsung lama atau diketemukan halhal yang secara
normatif dianggap menyimpang.

2) Memacu motivasi peserta


Motivasi timbul karena adanya kebutuhan yang terdiri dari
kebutuhan dasar, kebutuhan akan rasa aman, dan kebutuhan
sosial. Ada beberapa cara memberikan motivasi kepada seseorang
antara lain melalui pemberian imbalan, paksaan/perintah,
perhitungan untung-rugi, atau penghargaan.
Dalam proses pembelajaran, motivasi peserta dapat ditumbuhkan
melalui pemenuhan kebutuhan untuk dihormati dan dihargai,
kebutuhan untuk diakui kelompok, sehingga merasa nyaman
ketika ikut berpartisipasi. Demikian juga jika kebutuhan akan rasa
aman telah terpenuhi, maka akan meningkatkan
motivasi
keterlibatan peserta dalam setiap proses pembelajaran. Rasa
aman dapat diperoleh dengan cara memberikan perlindungan dari
ancaman fisik, sosial maupun ancaman terhadap harga diri.
Lakukan motivasi dengan cara yang wajar dan alamiah, tanpa
menggunakan sumber daya yang berlebihan (no extra drive)
kecuali jika keadaan mamaksa.
3) Memberi umpan balik positif kepada peserta
Fasilitator harus mempunyai kumpulan kata-kata positif. Peserta
yang mendapat umpan balik positif akan menebarkan semangat
positif kepada sesama peserta lain. Demikian juga sebaliknya jika
ada peserta yang tersinggung karena umpan balik negatif
biasanya akan menyebar dan menjadi masalah kelas yang sulit
dinetralisir. Pemberian umpan balik positif hendaknya dilakukan

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

20

Materi Inti 9
Teknik Melatih

secara wajar dan proporsional karena umpan balik positif yang


berlebihan (diobral) justru menjadi negatif karena peserta akan
menganggap hal yang lumrah bahkan terkadang menjadi kontra
produktif. Pemberian umpan balik positif dapat juga dikemas dalam
bentuk lainnya agar tidak membosankan kelas, diantaranya
memberikan pujian yang tulus secara kreatif atau menceritakan
pengalaman pribadi yang traumatis/dramatis yang berkaitan
dengan hal yang diumpan - balikan tersebut.

c. Pengelolaan Kelas dari Aspek Peserta, Sarana dan Lingkungan


Pengelolaan kelas dapat dilihat dari berbagai aspek yang dilakukan
oleh berbagai pihak yang terlibat dalam suatu pelatihan. Pada modul
ini pokok bahasannya difokuskan pada pengelolaan kelas yang
dilakukan oleh seorang pelatih/fasilitator dengan tujuan menciptakan
iklim peserta yang kondusif dengan cara pemberdayaan sumber daya
kelas yang dilihat dari aspek peserta, sarana peserta dan lingkungan
peserta.
1) Pengelolaan kelas dilihat dari aspek peserta
Aspek terpenting yang perlu dikelola oleh pelatih/fasilitator dalam
sebuah pelatihan adalah peserta, karena mereka terdiri dari
individuindividu dewasa yang telah memiliki kematangan
kepribadian dan sekumpulan kompetensi yang sudah biasa
dikerjakan ditempat tugasnya.
Namun ketika mereka menjadi peserta dari sebuah diklat sedikit
banyak mereka memerlukan adaptasi yang terkadang gagal
dilakukannya, sehingga muncul berbagai manifestasi perilaku yang
kurang menguntungkan baik bagi diri sendiri maupun kelas secara
keseluruhan. Keadaan seperti ini jika tidak dikelola dengan baik
akan menggangu proses peserta secara keseluruhan.
Peserta merupakan bahan asupan (raw in put) yang akan diolah
agar menguasai kompetensi seperti yang diharapkan dalam tujuan
pelatihan. Disamping sebagai bahan asupan yang akan diproses,
peserta juga sebagai manusia dewasa mempunyai karakteristik
tertentu yang harus dipertimbangkan oleh pihak yang akan
mengolahnya.

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

21

Materi Inti 9
Teknik Melatih

Faktor lain yang perlu diketahui oleh pelatih/fasilitator sebagai


bagian dari penciptaan iklim peserta yang kondusif diantaranya:

Pengalaman individu: latar belakang pengalaman kerja maupun


kompetensi peserta perlu untuk diketahui agar pelatih/fasilitator
dapat memanfaatkannya sebagai bahan banding atau contoh
nyata di lapangan.
Penguasaan bahasa: pelatih/fasilitator perlu mengetahui tingkat
penguasaan bahasa para peserta, hal ini untuk menyesuaikan
gaya komunikasi dan istilahistilah yang digunakannya dalam
proses peserta
Sosial budaya: latar belakang sosial budaya peserta perlu
diketahui karena untuk menghindari ucapanucapan yang dapat
mengarah ke halhal yang berbau
sara yang dapat
menyinggung perasaan peserta.

2) Pengelolaan kelas dilihat dari aspek sarana pembelajaran


Sarana pembelajaran merupakan komponen (software &
hardware) yang dapat digunakan sebagai alat/instrumen utama
untuk mencapai tujuan peserta. Pengelolaan sarana pembelajaran
yang dilakukan dengan baik akan berdampak pada terciptanya
iklim peserta yang kondusif, sebaliknya jika gagal mengelola
sarana pembelajaran dengan baik maka yang terjadi adalah
semacam kekacauan kelas karena peserta kecewa, waktu hilang
percuma, atensi peserta menurun dan tentunya pencapaian tujuan
peserta tidak optimal.
Sarana pembelajaran yang dimainkan secara baik akan
menimbulkan atensi peserta dan menimbulkan afeksi/perasaan
senang. Oleh karena itu disamping kualitas sarana pembelajaran
yang
memang
harus
tampil
prima,
juga
kepiawaian
pelatih/fasilitator dalam menggunakan/ mengoperasikannya.
3) Pengelolaan
kelas
pembelajaran

dilihat

dari

aspek

lingkungan

Lingkungan pembelajaran walaupun merupakan unsur penunjang


tetapi peranannya dalam mempengaruhi iklim pembelajaran cukup
dominan. Lingkungan pembelajaran meliputi berbagai aspek
seperti tata letak tempat duduk, penataan cahaya, penataan
suara, dan pengaturan suhu udara yang masing masing dapat
digambarkan sebagai berikut:

Tata letak tempat duduk.


Pengaturan tempat duduk dalam kelas mempengaruhi
efektivitas proses pembelajaran. Pengaturan lay out tempat

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

22

Materi Inti 9
Teknik Melatih

duduk sangat dipengruhi oleh metoda pembelajaran yang akan


digunakan. Metoda pembelajaran yang mengharuskan adanya
interaksi antar peserta lay out tempat duduk perlu diatur agar
seluruh peserta dapat saling bertatap muka. Sedangkan metoda
pembelajaran yang mengharuskan adanya gerakan mobilitas
peserta lay out tempat duduk perlu diatur agar peserta dapat
bergerak bebas.

Penataan cahaya.
Pencahayaan yang kurang tepat akan dapat melelahkan mata
peserta dan menyulitkan peserta untuk berkonsentrasi
mengikuti proses pembelajaran. Hal yang perlu diperhatikan
dalam menata pencahayaan adalah intensitas dan penyebaran
cahaya, untuk itu ruang belajar yang ideal adalah ruangan yang
dilengkapi dengan fasilitas yang dapat diatur intensitas
penyebaran cahaya.

Penataan suara.
Penataan suara yang tepat adalah tidak terlalu keras, tidak
bergaung tetapi menyebar keseluruh ruangan secara merata.
Untuk ini diperlukan sound system dengan loud speaker dengan
ukuran kecil tetapi dalam jumlah banyak menyebar menghadap
ke segala arah. Volume dan nada/tone suara diatur supaya tidak
terlalu bass atau treble karena dapat menimbulkan distorsi
konsonan pada penangkapan indera pendengaran.

Pengaturan suhu udara.


Suhu udara yang ideal dalam ruang belajar sekitar 24 27
derajat celsius. Jika suhu udara di ruangan kelas kurang dari
suhu ideal penggunaan AC perlu dipertimbangkan agar tercapai
suhu ruangan yang ideal.

3. Pemanfaatan Keragaman Metode Pembelajaran


a.

Arti dan Manfaat Metode Pembelajaran


1) Arti metode pembelajaran
Metode adalah cara/teknik untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Sedangkan menurut Drs. Sulchan Yasyin dalam bukunya Kamus
Umum Bahasa Indonesia yang dimaksud dengan metode adalah:
Cara yang tersusun dan teratur untuk mencapai tujuan
khususnya dalam hal ilmu pengetahuan.
Pada dasarnya inti dari proses belajar adalah perubahan pada diri
individu dalam aspek-aspek pengetahuan, sikap dan perilaku serta
ketrampilan dan kebiasaan sebagai produk dan interaksinya
dengan lingkungan sebagai sumber belajar. Dengan perkataan lain

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

23

Materi Inti 9
Teknik Melatih

proses belajar akan terjadi karena ada interaksi antara individu


dengan lingkungan belajar baik disengaja maupun tidak.
Hal ini sesuai dengan pendapat Kolb (1986) yang mengatakan
bahwa belajar adalah proses membangun pengetahuan melalui
transformasi pengalaman. Oleh karena itu agar proses peserta
dapat berjalan dngan baik dan efektif apabila dalam proses
peserta melibatkan peran aktif peserta pelatihan dalam proses
peserta. Sedangkan pelatih hanya berperan sebagai fasilitator,
narasumber atau manajer kelas yang bertindak secara demokratis.
Berkaitan dengan hal tersebut maka peranan pelatih dalam
pemilihan dan penggunaan metode peserta sangat diperlukan agar
terjadi proses peserta yang kondusif dan melibatkan peran serta
peserta pelatihan secara efektif.
2) Manfaat metode pembelajaran
Berikut ini disajikan beberapa manfaat penggunaan metode
peserta secara tepat sebagai berikut:
Membantu pelatih dalam proses pembelajaran untuk tujuan
mencapai pembelajaran.
Menghilangkan dinding pemisah antara pelatih dan peserta
pelatihan.
Menggali dan memanfaatkan potensi peserta pelatihan.
Terjadi kemitraan antara pelatih dan peserta.
Mempermudah dalam menyerap informasi.
Menimbulkan perasaan FUN bagi peserta pelatihan yang akan
berdampak terhadap motivasi mengikuti pelatihan meningkat.
b.

Ragam dan Pemanfaatan Metode Pembelajaran


Berkaitan dengan hal tersebut diatas, maka berikut ini disajikan
beberapa jenis metode pembelajaran yang dapat menghantarkan
peserta pelatihan belajar secara aktif sebagai berikut:
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)

Metode ceramah/kuliah (lecture)


Metode demonstrasi
Kelompok studi kecil (buzz group)
Metode diskusi
Metode brainstorming (urun pendapat)
Metode studi kasus
Metode role play (bemain peran)
Metode simulasi

5) Metode Ceramah/Kuliah (Lecture)


Metode kuliah sering juga disebut dengan metode ceramah, hal ini
disebabkan pelatih yang aktif melakukan ceramah sedangkan
peserta pelatihan hanya sebagai pendengar saja. Metode ini

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

24

Materi Inti 9
Teknik Melatih

memang kurang mengacu pada konsep belajar aktif, namun


demikian dalam modul ini perlu dibahas karena dalam setiap
penggunaan metode yang lain perlu dikombinasikan dengan
metode ceramah, meskipun hanya ceramah singkat.
Metode kuliah atau lebih akrab disebut dengan metode ceramah
adalah metode pelatihan yang memberikan informasi pada
sejumlah pendengar pada suatu kesempatan. Metode ini lebih
menitikberatkan pada kemampuan individual untuk mengolah
informasi yang diberikan.
Kegunaan:

Untuk menyajikan pengetahuan, pengalaman dan pandangan.


Untuk pendengar terbatas atau sebaliknya.
Supaya pendengar berpartisipasi, kuliah perlu diikuti dengan
tanya-jawab.

Keuntungan:

Mencakup banyak pendengar.


Bila disiapkan dapat mendorong diskusi dalam kelompok.
Tidak banyak memerlukan peralatan.
Membicarakan yang baik dapat membangkitkan perhatian orang
banyak.
Penyaji bisa tepat waktu.

Kelemahan:

Tidak mendorong seseorang untuk mengingat semua materi.


Penilaian terbatas pada kemampuan pendengar.
Partisipasi pendengar terbatas.
Tidak ada keseimbangan berpikir antar pembicara dan
pendengar (baca: peserta pelatihan), misalnya perbedaan waktu
mengakibatkan pendengar melamun.

Dalam menggunakan metode ceramah diupayakan:

Pendekatan yang positif (manfaatkan informasi yang diberikan).


Memusatkan perhatian pada topik yang dibicarakan.
Mencatat hal-hal yang penting.
Membiasakan diri mendengarkan secara efektif.
Jangan memberi tanggapan pada kata-kata pembicara yang
emosional.
Jangan mengevaluasi sebelum mengerti pada hal-hal yang
disajikan.

Tahapan pelaksanaan dan peranan pelatih

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

25

Materi Inti 9
Teknik Melatih

Langkah-langkah yang dilaksanakan dalam penggunaan metode ini


adalah sebagai berikut:
Tahap persiapan:
Pelatih mempersiapkan SAP, slide penyajian sesuai dengan
materi yang diberikan atau dengan menggunakan alat bantu
yang lain seperti flipchart, tabel, gambar, peta dan lain
sebagainya.

Tahapan pelaksanaan adalah sebagai berikut:


- Cek semua media yang diperlukan.
- Jelaskan modul materi yang akan dibahas dan kaitannya
dengan tugas pokok dan fungsi bagi peserta serta
manfaatnya bagi peserta pelatihan.
- Jelaskan Tujuan Pembelajaran Umum dan Tujuan Pembelajaran
Khusus.
- Jelaskan pokok bahasan dan sub pokok bahasan.
- Adakah pre test untuk mengetahui kemampuan awal peserta
(kegiatan ini dapat dilaksanakan dengan tanya jawab).
- Mulailah dengan ceramah per pokok bahasan dan sub pokok
bahasan.
- Adakah tanya jawab untuk mengetahui tingkat pemahaman
peserta pelatihan.
- Akhiri sesi ini dengan mengkaitkan dengan materi berikutnya
dan apakah relevansinya dengan pokok sajian yang baru saja
dibahas.

Mengacu pada tahapan-tahapan pelaksanaan ceramah diatas


maka peranan pelatih sebagai perancang dan pelaksana proses
pembelajaran dapat memotifasi peserta pelatihan agar mau
berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Didalam
pelaksanaannya tentu saja sangat memperhatikan prinsip-prinsip
presentasi lisan yang efektif.
6) Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah cara mengajar dimana seorang pelatih
atau tim pelatih menunjukan, memperlihatkan suatu proses.
Misalnya
dalam
proses
pembelajaran
Ragam
metode
pembelajaran, pelatih memperagakan teknik mengajar yang
efektif. Dalam hal ini seluruh peserta pelatihan dapat melihat,
mendengar dan mengamati, mungkin nanti juga mempraktekkan.
Metode demontrasi menekankan pada penjelasan dan hasil kerja
yang ditunjukan oleh pelatih sebagai contoh konkrit sehingga
masalah mudah dipahami atau dihayati.
Kegunaan:

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

26

Materi Inti 9
Teknik Melatih

Pelatihan peningkatan keterampilan, dipakai sebagai sarana


yang efektif pada olah karya mengenai hak azasi manusia.
Metode ini untuk mata ajaran yang sifatnya akademis banyak
menunjang.
Penggunaan metode ini bertujuan agar peserta mampu
memahami tentang ketrampilan tertentu dalam hal mengatur
atau menyusun sesuatu.

Keuntungan:

Lebih menimbulkan minat.


Menjelaskan prinsip-prinsip dan prosedur yang masih kabur dan
belum dipahami.
Cara yang terbaik untuk mengajarkan keterampilan tertentu.

Kelemahan:

Membutuhkan waktu persiapan.


Peralatan mungkin mahal.
Sering dilakukan oleh kelompok kecil atau terbatas.

Tahapan pelaksanaan

Tahapan perencanaan:
Menentukan sasaran (objective).
Membuat SAP.
Memilih bentuk demonstrasi.
Memilih dan mengumpulkan peralatan yang tepat.
Mencoba peralatan yang akan dipakai.
Apakah tersedia waktu yang cukup untuk menerapkan
pendekatan ini?

Tahapan pelaksanaan:
- Usahakan semua peserta dapat melihat.
- Setiap tahap perlu dijelaskan.
- Memberi kesempatan bertanya, diskusi dan praktik.
- Adakan evaluasi apakah demonstrasi yang dilakukan berhasil
atau tidak, bila memungkinkan demonstrasi dapat diulang
kembali.

Peranan pelatih:

Perencanaan proses pembelajaran yang dituangkan dalam SAP.


Dalam hal ini harus dapat merencanakan apakah waktu yang
dialokasikan sesuai dengan kebutuhan? Penggunaan metode ini
sudah tepat dengan kondisi peserta pelatihan?
Merencanakan sarana dan prasarana yang diperlukan serta
sistem evaluasi yang akan dilaksanakan. Dalam proses
pembelajaran, pelatih sebagai pemandu, pembimbing dan

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

27

Materi Inti 9
Teknik Melatih

memotivasi peserta pelatihan agar mau berperan serta dalam


proses pembelajaran. Disamping itu apabila tidak ada
narasumber pelatih berperan sebagai narasumber.
7) Kelompok Studi Kecil (Buzz Group)
Kelompok Buzz Group atau lebih sering disebut kelompok lebah
bergumam adalah pemecahan kelompok yang lebih besar.
Kelompok ini biasanya terdiri dari dua atau tiga orang. Anggota
kelompok bisa merupakan pecahan dari kelompok yang lebih besar
atau terdiri dari beberapa orang teman sebangku. Dalam beberapa
variasi peserta pelatihan boleh memilih anggota kelompoknya
sendiri.
Keunggulan:
Mendorong peserta yang malu-malu
Menciptakan suasana yang menyenangkan
Memungkinkan pembagian tugas kepemimpinan
Menghemat waktu
Memupuk kepemimpinan
Memungkinkan pengumpulan pendapat
Dapat dipakai bersama metode lainnya
Memberi variasi
Kekurangan:
Mungkin terjadi pada kelompok yang terdiri dari orang-orang
yang tidak tahu apa-apa.
Mungkin berputar-putar.
Mungkin ada pemimpin yang lemah.
Laporan mungkin tidak tersusun dengan baik.
Perlu belajar sebelumnya bila ingin mencapai hasil yang baik.
Mungkin terjadi kilk-klik untuk sementara.
Kelompok dan studi kecil (Buzz Group) dapat digunakan:
Jika kelompok terlalu besar sehingga tidak memungkinkan setiap
orang berpartisipasi.
Ketika mengolah beberapa segi sebuah kelompok.
Jika ada anggota kelompok yang lamban dalam mengambil
bagian.
Jika waktu terbatas.
Untuk menciptakan suasana yang menyenangkan dalam
kelompok.
Tahapan pelaksanaan
Pelatih menjelaskan permasalahan atau topik yang harus
dibahas. Latar belakang serta cara pembahasannya. Kepada
peserta diberi kesempatan untuk bertanya kalau ada yang
belum jelas, sebelum kegiatan berikutnya dimulai.

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

28

Materi Inti 9
Teknik Melatih

Setiap peserta diminta untuk memilih pasangannya (duet)


dengan siapa ingin membahas masalah tersebut, atau bisa juga
tiga orang (trio). Mereka bebas memilih pasangannya, seringkali
untuk praktisnya, pasangannya adalah teman di sebelah
menyebelah.
Dengan suara yang biasa kalau mereka berbicara, tanpa harus
berbisik-bisik. Secara serentak semua kelompok duet atau trip,
berdiskusi membahas masalah. Ada baiknya satu dua orang dari
peserta diminta menjadi pengamat dan mendengarkan suara
yang ditimbulkan oleh kelompok diskusi secara keseluruhan.
Pada saat ini ada baiknya bila pelatih merekam dengan tape
recorder dan memperdengarkan kembali suara mereka pada
saat pembahasan.
Pembahasan hasil kelompok kecil. Hasil pembahasan dalam
kelompok duet, trio dikemukakan secara lisan atau tulisan pada
flipchart/papan tulis dan kemudian dibahas satu persatu.
Pada akhirnya kegiatan peserta yang ditugasi melakukan
pengamatan
diberi
kesempatan
untuk
menyampaikan
pengamatannya terutama mengenai proses kegiatan buzz
group.
Pelatih
memberikan
komentarnya
sambil
memperdengarkan kembali hasil rekamannya.

8) Metode Diskusi
Diskusi berasal dari bahsa latin discutio atau discussum yakni
kurang lebih sama dengan bertukar pikiran atau membahas
sesuatu masalah dengan mengemukakan dasar alasannya untuk
mencari jalan keluar sebaik-baiknya. Oleh karena itu dapat
dikatakan bahwa diskusi merupakan ajang bertukar pikiran
diantara sejumlah orang, membahas masalah tertentu yang
dilaksanakan dengan teratur, dan bertujuan untuk memecahkan
masalah secara bersama. Metode ini dipakai dalam latihan yang
melibatkan partisipasi aktif, tukar pengalaman dan pendapat
peserta pelatihan. Untuk kegiatan ini anggota kelompok yang ideal
adalah 7 s/d 9 orang.
Metode ini digunakan untuk:

Menggali pengalaman, ide-ide selama dalam pelatihan.

Anggota kelompok saling tukar pikiran.

Belajar dengan caranya sendiri berpartisipasi dalam group.

Pengembangan diri melalui kerjasama yang terkoordinasi.


Keuntungan:
Anggota kelompok berpartisipasi aktif.
Mengembangkan tanggung jawab perorangan atau individu.
Mengukur konsep, ide, dapat diakui kebenarannya dan dapat
diterapkan.
Mengembangkan percaya diri dalam menyajikan pendapat, ide
dan konsep.

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

29

Materi Inti 9
Teknik Melatih

Ide berkembang, terbuka dan terarah.


Memperoleh banyak informasi.
Aplikasi hasil diskusi mantap karena ide yang dikemukakan
adalah yang alami.

Kelemahan:
Memakan waktu terlalu banyak.
Dapat menimbulkan frustasi karena anggota kelompok ingin
segera melihat hasil nyata.
Perlu persiapan matang sebelum diskusi.
Perlu waktu untuk anggota kelompok pemalu, dan anggota
kelompok yang otokratif untuk belajar bersikap demokratis.
Berikut ini disajikan peran yang dimainkan oleh anggota kelompok
diskusi, baik sebagai pemimpin maupun sebagai anggota diskusi
sebagai berikut:
Pemimpin diskusi
Persiapan memimpin diskusi
Menentukan sasaran diskusi (obyektif)
Menjelaskan topik dengan singkat dan jelas
Mempertimbangkan kebutuhan kelompok
Mempersiapkan garis besar daripada diskusi
Siapkan segala sesuatunya

Cara memimpin diskusi


- Mulai diskusi (tepat waktu)
- Memberikan pengarahan
- Memimpin diskusi
- Membuat ringkasan

Persyaratan yang harus dimiliki oleh pemimpin diskusi antara


lain:
- Memahami topik
- Mengatur waktu secara fleksibel
- Mengembangkan pertanyaan penting sehingga mendorong
anggota kelompok untuk bertukar pikiran
- Menjelaskan sasaran diskusi
- Menyiapkan ringkasan, pokok pikiran dalam garis besar yang
dibagikan sebelum atau saat diskusi
- Menunjukkan narasumber

Anggota kelompok
Memberikan sumbangan pikiran secara efektif.
Bersifat konstruktif dalam diskusi.
Hadir pada waktunya dan memanfaatkan waktu.
Memperhatikan ide-ide, sumbangan pikiran anggota kelompok
lainnya.
Meminta penjelasan, mencegah kesalahpahaman.

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

30

Materi Inti 9
Teknik Melatih

9) Metode Brainstorming (Urun Pendapat)


Metode ini biasanya sering disebut dengan sumbang saran yang
digunakan
dalam
pemecahan
masalah
dimana
anggota
mengusulkan dengan cepat semua kemungkinan pemecahan yang
terpikirkan, tidak ada kritik-kritik, oleh karena itu evaluasi atas
pendapat-pendapat tadi dilakukan kemudian. Metode ini
mengundang semua peserta berperan aktif untuk bertisipasi
secara optimal.
Metode ini digunakan:
Untuk membangkitkan pikiran kreatif.
Untuk merangsang partisipatif.
Pada waktu mencari kemungkinan pemecahan masalah.
Berhubungan dengan metode lainnya.
Untuk membangkitkan pendapat baru.
Untuk menciptakan suasana yang menyenangkan kelompok.
Keuntungan:
Timbul pendapat baru merangsang semua anggota untuk
mengambil bagian.
Menghasilkan reaksi rantai dan pendapat.
Tidak menyita waktu.
Dapat dipakai dalam kelompok besar maupun kecil.
Tidak perlu pimpinan yang terlalu hebat.
Hanya sedikit pengalaman yang diperlukan.
Kelemahan:
Mudah terlepas dari control.
Dilanjutkan dengan evaluasi jika diharapkan efektif.
Mungkin sulit membuat anggota tahu bahwa segala pendapat
dapat diterima.
Anggota cenderung untuk mengadakan evaluasi segera setelah
satu pendapat diajukan.
Langkah-langkah pelaksanaan
Pemberian informasi dan motivasi.
Identifikasi.
Klasifikasi.
Verifikasi.
Konklusi/kesepakatan.
10)

Metode Studi Kasus

Metode ini dipakai bukan untuk menjawab masalah secara cepat


dan tepat, akan tetapi lebih bertujuan untuk menggambarkan
penerapan konsep dan teknik analisis dalam proses pemecahan

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

31

Materi Inti 9
Teknik Melatih

masalah dan proses pengambilan keputusan. Pemecahan masalah


dalam studi kasus lebih menekankan kepada alasan logika yang
dipergunakan dalam pemecahan masalah tersebut.
Sementara ahli lain mengatakan bahwa studi kasus digunakan
dalam latihan yang bertujuan pengembangan pengetahuan dan
sikap, sebagai landasan diskusi, analisis dan pengembangan
persoalan. Di samping itu studi kasus dalam proses peserta adalah
untuk menyajikan penjelasan berbagai prinsip dan aplikasi prinsip
tersebut ke dalam situasi tertentu, sehingga pada gilirannya
peserta pelatihan akan mampu memecahkan masalah dalam
situasi yang sama secara lebih baik.
Keuntungan:
Memberikan wawasan yang luas mengenai prinsip-prinsip
tertentu dan bagaimana pelaksanaannya.

Kemungkinan pertukaran pendapat dan mengadakan evaluasi


bersama.

Membuka kemungkinan untuk mengadakan perubahan


kesiapan mental.

Memungkinkan beberapa alternatif pemecahan masalah.


Kelemahan:
Sulit mengukur hal-hal yang sifatnya sikap dan perilaku.
Keterbatasan waktu merupakan hambatan untuk berdiskusi
secara tuntas.
Dapat menimbulkan frustasi apabila tidak ada pemecahan
masalah.
Langkah-langkah pelaksanaan:
Apabila pelatih telah menentukan studi kasus sebagai metode
dalam proses peserta, maka beberapa langkah yang disarankan
antara lain:
Pelatih membagi kelompok dengan mengacu pada salah satu
teknik pembagian kelompok, misalnya dengan berhitung 1, 2, 3
bagi peserta yang memiliki nilai hitungan sama menjadi satu
kelompok, cara lain adalah secara acak dan lain sebagainya
disesuaikan dengan tujuan peserta.

Pelatih menyajikan suatu problem (kasus yang spesifik),


biasanya secara tertulis. Adapun kriteria penilaian studi kasus
yang baik menurut Prof. Dr. M. Entang, MA adalah sebagai
berikut:
- Studi kasus harus realistik, tidak hipotetik (angan-angan).
- Hendaknya menggambarkan konflik.
- Kepribadian orang yang terlibat dalam studi kasus
hendaknya dideskripsikan secara jelas.
- Data dan fakta yang disajikan hendaknya tidak terlalu terinci.
- Pertanyaan yang diajukan hendaknya yang baik dan relevan.

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

32

Materi Inti 9
Teknik Melatih

Penulisan, analisis dan pemecahan kasus, hendaknya


didasarkan pada suatu teori, konsep atau prinsip yang jelas
dan terbentuk.
Nama-nama
orang
yang
terlibat
disamarkan
atau
dirahasiakan.

Pelatih memberikan tugas kepada peserta sebagai berikut:


- Menyarankan pemecahan terbaik berdasarkan fakta yang
diberikan.
- Mengajukan usul pemecahan disertai alasannya dan
didiskusikan dengan peserta lain tentang mengapa dan
bagaimana sampai kepada keputusan tersebut.
- Berbagai pengalaman diantara peserta untuk sampai kepada
kesepakatan tentang pemecahan terbaik.

Setelah diskusi kasus selesai maka pelatih mengarahkan


pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
- Apa yang sedang terjadi.
- Apa betul ada masalah.
- Apa yang menjadi masalah.
- Apa penyebab massalah.
- Membahas sebab-sebab masalah.
- Bahan utama menjadi pembicaraan.
- Mengapa bahan-bahan penting.
- Tujuan yang ingin dicapai.
- Apa yang harus dikerjakan.
- Jalur tindakan apa .
- Realisasi pemecahan.
- Akibat yang mungkin terjadi dari pemecahan tersebut.

11)

Metode Role Play (Bemain Peran)

Secara etimologi yang dimaksud bermain peran adalah


memainkan sesuatu peran tertentu sehingga pemain harus
mampu berbuat (berbicara dan bertindak) seperti peran yang
sedang dimainkannya.
Sebagai contoh:
Apabila peran yang dimainkan adalah pemimpin yang otoriter
maka ia harus mampu berperilaku sebagai seorang pemimpin
yang memiliki ciri-ciri seorang otoriter, misalnya suka menekan,
pemarah, mengintimidasi, hanya memprioritaskan pekerjaan, tidak
memperhatikan hubungan kemanusiaan dan lain sebagainya.
Oleh karena itu sering dikatakan bahwa bermain peran sangat
mirip dengan simulasi, hal ini disebabkan dalam simulasi juga ada
kegiatan bermain peran. Hal ini sesuai dengan pendapat Robert
Gilstrap yang mengatakan bahwa main peran adalah simulasi atau
tiruan dari perilaku orang yang diperankan (Hidayat, Z.A. dan
Muhidin T.S. 1980).

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

33

Materi Inti 9
Teknik Melatih

Role Play merupakan metode pelatihan untuk menetapkan


seseorang pada situasi tertentu, seolah-olah menggambarkan
situasi sebenarnya melalui penokohan meleburkan dirinya,
mengekpresikan sikap-sikap, tindakan-tindakan yang mereka
percaya pada situasi itu. Dengan metode ini peserta yang ditunjuk
akan dengan sukarela memainkan peran tersebut, pemain akan
memperoleh prestasi pemandangan baru, dan mengalami
prasangka-prasangka.
Keuntungan:

Mendorong keterlibatan yang mendalam

Membangkitkan pengertian, prasangka dan persepsi

Memusatkan perhatian pada aspek tertentu yang dikehendaki


Kelemahan:
Keengganan melakukan peran atau tidak menghayati.
Kurang realistis.
Dianggap dialog biasa.
Kurang memperhatikan peran sendiri dan lebih
memperhatikan peran orang lain.

condong

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam bermain peran


adalah sebagai berikut:
Identifikasi masalah yang diperankan harus jelas.
Peserta harus memahami perannya dan memahami skenario
yang telah diberikan.
Harus disadari adanya kebebasan mengemukakan perasaan
secara wajar.
Dijelaskan kelebihan metode role play dibandingkan metode lain
guna menelaah masalah yang dihadapi.
Teknik menerapkan metode bermain peran.
Berikut ini disajikan beberapa langkah-langkah dalam pelaksanaan
penerapan metoda bermain peran adalah sebagai berikut:

Persiapan:
Dalam tahap ini hal-hal yang harus dipersiapkan oleh pelatih
adalah memilih situasi/topik, mempersiapkan peralatan yang
diperlukan sesuai dengan situasi yang akan diperankan,
menyiapkan lembar observasi, menentukan pemeran-pemeran
serta memberikan arahan skenario bagi para pemeran.

Pelaksanaan
- Dalam tahap pelaksanaan main peran pelatih berfungsi
sebagai pengamat dan memberikan catatan-catatan sebagai
bahan proses peserta.
- Setelah kegiatan main peran selesai maka pelatih
memproses kegiatan dengan menggunakan pendekatan

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

34

Materi Inti 9
Teknik Melatih

AKOSA. Antara lain dengan mengajukan pertanyaanpertanyan:


Apa
yang
sudah
dialami?,
Bagaimana
perasaannya?, Apa yang sedang terjadi?, Bagaimana
perasaan pemain?, Mengapa demikian?, Apa yang telah
diamati oleh para pengamat? Manfaat apa yang diperoleh
dari kegiatan bermain peran tersebut.

Penutup
Dalam kegiatan ini dapat diisi dengan evaluasi yang berkaitan
dengan proses bermain peran yang mengacu pada hasil
observasi pengamat. Disamping itu juga merefleksikan
pengalaman/penghayatan
terhadap
peran
yang sedang
dimainkan.

Review/balikan/refleksi
Dalam kegiatan ini diisi dengan penjelasan contoh-contoh yang
berkaitan dengan diaplikasikan dalam kehidupan nyata yang
berkaitan dengan pekerjaan sehari-hari. Di samping itu pelatih
menggali manfaat dan main peran tersebut dikaitkan kehidupan
sehari-hari. Di dalam kegiatan ini juga perlu dikaitkan dengan
teori-teori yang telah dipersiapkan oleh Pelatih.

12)

Metode Simulasi

Kata Simulasi berasal dari bahasa inggris Simulation yang


berarti pekerjaan tiruan atau meniru. Sebagai contoh simulasi
tentang mengemudikan taksi, simulasi tentang penggunaan IUD
dan lain sebagainya. Dalam kegiatan proses pembelajaran kata
Simulasi merupakan suatu metode pembelajaran.
Kegiatan simulasi diartikan sebagai kegiatan pembelajaran yang
memberikan kesempatan kepada peserta untuk menirukan suatu
kegiatan atau pekerjaan yang dituntut dalam kehidupan sehari-hari
atau yang berkaitan dengan tugas-tugas yang menjadi tanggung
jawabnya.
Misalnya, simulasi penanggulangan bahaya banjir, simulasi
sebagai dokter, simulasi sebagai seorang pemimpin dan lain
sebagainya. Metode simulasi merupakan modifikasi dari metode
main peran. Dalam metode ini peserta diminta untuk memainkan
peran tertentu dan diminta untuk memerankannya. Namun untuk
itu mereka diberi petunjuk secara garis besar saja. Sedangkan
dalam peragaan para peserta diberi kebebasan luas untuk
mengembangkan kreativitas dan imajinasi mereka, agar latihan
lebih realistis.
Metode ini menampilkan simbol-simbol atau peralatan-peralatan
yang menggantikan proses, kejadian, atau benda yang
sebenarnya. Metode ini juga digunakan apabila kondisi aslinya
tidak dapat dihadirkan. Metode ini sangat cocok untuk hal-hal yang
sifatnya ketrampilan. Bedanya dengan main peran adalah terletak
pada pemakaian metode ini.

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

35

Materi Inti 9
Teknik Melatih

Oleh karenanya metode ini cocok untuk semua tahapan


pembelajaran, pelatihan magang klasikal, memberikan kejadiankejadian yang analogis, memungkinkan praktek dengan risiko
kecil. Topik-topik yang disajikan dalam metode ini diantaranya
adalah topik yang berkaitan dengan ketrampilan intelektual,
psikomotorik dan sosial yang relevan dengan kehidupan nyata
sehari-hari.
Kegunaan:
Situasi yang sebenarnya tidak dapat dihadirkan karena sesuatu
alasan tertentu seperti alasan administrasi serta alasan lain.
Tujuan Peserta lebih menitikberatkan pada aspek ketrampilan.
Memberikan pengalaman kepada peserta diklat agar mengalami
dalam proses peserta sehingga akan lebih mengefektifkan
dalam proses pembelajaran.
Apabila ingin membangkitkan motivasi peserta pelatihan.
Keuntungan:
Menyenangkan peserta pelatihan.
Menggalakkan pelatih untuk mengembangkan kreativitas
peserta.
Eksperimen dilakukan tanpa memerlukan lingkungan yang
sebenarnya.
Mengurangi hal-hal yang verbalistik atau abstrak.
Tidak memerlukan pengarahan yang pelik dan mendalam.
Menimbulkan interaksi antar peserta yang memungkinkan
timbulnya keutuhan dan gotong royong serta kekeluargaan.
Menimbulkan respon positif dari peserta yang lamban atau
kurang cakap.
Menumbuhkan cara berpikir kritis, memungkinkan pelatih
bekerja dengan tingkat adaptivitas yang berbeda-beda.
Memperbanyak kesiapan serta penugasan ketrampilan dalam
proses kognitif atau pengenalan peserta.
Peserta memperoleh pengetahuan yang bersifat pribadi,
individual sehingga dapat kokoh atau mendalam tertinggal
dalam jiwa peserta.
Dapat membangkitkan kegairahan belajar peserta, teknik ini
mampu memberikan kesempatan kepada peserta untuk
berkembang maju sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Mampu mengarahkan cara peserta belajar, sehingga lebih
memiliki motivasi sendiri.
Membantu peserta untuk memperkuat dan menambah
kepercayaan pada diri sendiri dengan proses penemuan sendiri.
Kelemahan:
Peserta harus siap mental. Dalam arti peserta harus berani dan
berkeinginan untuk mengetahui keadaan sekitarnya dengan
baik.

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

36

Materi Inti 9
Teknik Melatih

Pelatih dan peserta yang sudah biasa dengan perencanaan dan


pengajaran tradisional mungkin akan kecewa apabila diganti
dengan teknik penemuan.
Teknik ini lebih mementingkan proses pengertian dan kurang
memperhatikan perkembangan atau pembentukan sikap dan
ketrampilan peserta.
Tidak memberikan kesempatan untuk berpikir kreatif.
Setiap kelompok menunjuk seorang pencatat yang akan
membuat laporan tentang kemajuan dan hasil kerja kelompok.
Pelatih berkeliling selama kerja kelompok berlangsung, bila perlu
memberi saran dan pertanyaan.
Pelatih membantu menyimpulkan kemajuan dan menerima hasil.

Tahapan pelaksanaan

Tahap persiapan:
Dalam tahapan ini hal-hal yang harus dipersiapkan oleh pelatih
adalah sebagai berikut:
-

SAP yang merupakan rencana rinci peserta, mencakup tujuan


materi/topik, kegiatan, media/alat Bantu dan penilaian.
Menetapkan kemampuan/situasi yang akan disajikan dalam
bentuk simulasi. Misalnya dari 3 tujuan yang ingin dicapai,
satu tujuan akan dicapai melalui simulasi.
Menyusun skenario kegiatan simulasi sehingga jelas langkahlangkah yang akan ditempuh.
Menyiapkan alat-alat/fasilitas yang dibutuhkan dalam
simulasi. Misalnya ruang kelas dengan perlengkapannya jika
yang disimulasikan adalah ketrampilan mengajar, bendabenda tiruan sebuah bank, jika yang disimulasikan penataan
ruangan sebuah bank atau tiruan alat-alat penolong
kecelakaan jika yang disimulasikan kemampuan penolong
orang-orang yang mendapat kecelakaan.
Membentuk kelompok-kelompok kecil jika simulasi akan
dilakukan dalam kelompok kecil.
Menyiapkan lembar kerja dan lembar observasi, terutama
jika simulasi akan dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil.
Lembar kerja berisi panduan rinci bagi kelompok-kelomok
dalam melaksanakan simulasi, sedangkan lembar kerja berisi
aspek-aspek
yang
akan
diamati
selama
simulasi
berlangsung. Lembar observasi dapat digunakan oleh
pengajar atau oleh peserta yang ditunjuk sebagai pengamat.

Tahap pelaksanaan:
Dalam tahapan ini peserta dimulai dengan:
-

Menjelaskan skenario simulasi diikuti oleh pembagian


kelompok, lembar kerja dan peran dalam kelompok. Setelah

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

37

Materi Inti 9
Teknik Melatih

semua peserta paham akan skenario sajian dan peranannya


masing-masing simulasi segera dimulai.
Kegiatan inti dimulai dengan menyajikan situasi dalam
kehidupan nyata. Misalnya ketika terdengar terjadi
pembobolan disuatu bank, wartawan berkerumun menemui
pimpinan bank, dengan mengajukan pertanyaan. Pimpinan
bank harus menghadapi para wartawan. Dalam menyajikan
situasi ini dapat diadakan tanya jawab sehingga setiap siswa
siap memahami perannya dengan tepat.
Peserta diminta menyiapkan diri untuk memainkan peran
yang menjadi tanggung jawabnya.
Peserta bersimulasi dalam kelompok sesuai dengan aturan
yang telah ditetapkan.
Kegiatan penutupan dapat diisi dengan demonstrasi salah
satu kelompok dan kemudian kelompok lain diminta memberi
komentar terhadap demonstrasi tersebut .

Tahap review/balikan/tinjauan
Dalam tahapan ini hal-hal yang harus dilakukan adalah sebagai
berikut:
-

Setelah simulasi selesai perlu diadakan review umum yang


dipandu oleh instruktur. Review dapat dimulai dengan
meminta peserta menyatakan kesannya tentang penguasaan
yang baru saja dilatihkan, kemudian dilanjutkan dengan
diskusi yang dapat dimulai dengan laporan para pengamat.
Pada akhir diskusi, pengajar memberikan balikan dan tindak
lanjut sesuai dengan kesimpulan hasil simulasi.

4. Penggunaan Media Dan Alat Bantu Pembelajaran


a. Pengertian dan Peranan Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak
dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau
penghantar, sehingga kata media juga sering diartikan sebagai
wahana. Atas dasar pengertian ini maka media pembelajaran dapat
diartikan sebagai wahana/perantara/penghantar proses pembelajaran.
Pada proses pembelajaran yang bernuansa learning terjadi interaksi
peserta antara pelatih/fasilitator dan peserta, sehingga media
pembelajaran mempunyai peranan yang berbeda disaat yang
bersamaan. Media yang dirancang/dipilih oleh pelatih/fasilitator
berguna untuk mengemas dan menyalurkan pesan/ide agar dapat
dengan mudah diterima oleh peserta secara efektif dan efisien.
Sedangkan pada saat yang bersamaan bagi peserta media berperan
sebagai wahana untuk memahami/ mengeksplorasi pengetahuan,
sikap atau keterampilan agar dapat menangkap isi/ide/pesan yang
sedang dibahas.

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

38

Materi Inti 9
Teknik Melatih

Berbagai macam media pembelajaran dapat digunakan, pemilihan dan


penggunaannya sangat tergantung pada karakteristik isi pesan/ide dan
domain yang akan disentuh seperti yang tercantum pada tujuan
peserta. Media
dengan isi pesan/ide yang didisain untuk
menggambarkan tahapan pemecahan masalah agar dapat menyentuh
domain kognitif berbeda dengan media yang berisi pesan/ide untuk
menggambarkan tahapan/urutan keterampilan/gerakkan tertentu yang
menyentuh domain psikomotor.
Oleh karena itu peranan media sangat besar dalam mencapai tujuan
pembelajaran, karena media yang baik dan sesuai dengan kaidahkaidah pemilihan dan penggunaanya dapat memberikan efek
pembelajaran yang optimal dalam rangka mencapai tujuan
pembelajaran.
b. Pengertian dan Peranan Alat Bantu Pembelajaran
Alat bantu pembelajaran adalah seperangkat benda/peralatan yang
digunakan sebagai pembantu seorang pelatih/fasilitator dengan
tujuan agar dapat mempermudah dan mempercepat proses
penyampaian pesan/materi pesertanya kepada peserta.
Pada alat bantu pembelajaran pesan yang disampaikan tidak
sepenuhnya termuat di dalamnya, dia hanya berperan sebagai alat
bantu yang menyalurkan media yang berisi pesan, oleh karena itu alat
bantu tidak mampu menimbulkan efek interaktif tanpa ditunjang oleh
pelatih/fasilitator. Dengan demikian untuk dapat berfungsi dengan baik
dan menghasilkan efek peserta yang optimal alat bantu pembelajaran
sangat
tergantung
pada kecakapan
pelatih/fasilitator
dalam
mengoperasikannya.
Fungsi pokok alat bantu pembelajaran adalah:
1) Sebagai alat untuk merangsang indera yang dikehendaki oleh
pelatih sesuai dengan tingkatan domain yang ingin dicapai dalam
tujuan pembelajaran.
2) Mengurangi efek distorsi persepsi, pemahaman, dan komunikasi
yang sedang ditangkap oleh peserta.
3) Menghasilkan daya lekat yang relatif lebih lama pada memori
peserta.
4) Meningkatkan minat/gairah peserta dalam mengikuti proses
pembelajaran terutama sessi dengan durasi waktu yang lama.
Ketepatan pemilihan dan penggunaan alat bantu pembelajaran ini
akan menghasilkan proses pembelajaran yang efektif dan efisien
karena disamping dapat merangsang indera penglihatan juga indera
yang lainpun ikut dirangsangnya pula dan akan berefek kumulatif.

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

39

Materi Inti 9
Teknik Melatih

c. Kriteria Pemilihan Media dan Alat Bantu Pembelajaran


Penggunaan media dan alat bantu pembelajaran memerlukan kriteria
tertentu, karena jika kurang tepat justru akan menimbulkan efek yang
tidak diinginkan, untuk itu sebelum memilih atau menggunakan media
dan alat bantu tertentu perlu dipikirkan persyaratan pemilihannya
sebagai berikut:
1) Kriteria pemilihan media pembelajaran
Sesuaikan media pembelajaran dengan TPU/TPK yang hendak
dicapai.
Karakteristik kemampuan peserta.
Sumber daya penunjang yang tersedia.
2) Kriteria pemilihan alat bantu peserta
Sesuaikan alat bantu pembelajaran dengan TPU/TPK yang
hendak dicapai.
Sesuaikan alat bantu pembelajaran dengan metoda
yang
digunakan.
Menghasilkan efek pembelajaran yang lebih baik.
Sesuaikan dengan kemampuan pelatih.
Secara umum kriteria dalam pemilihan media dan alat bantu
pembelajaran harus memenuhi prinsip efektif dan efisien karena jika
berlebihan atau kekurangan akan dapat menimbulkan efek yang
tidak diinginkan.
d. Jenis-Jenis Media
Karateristiknya

dan

Alat

Bantu

Pembelajaran

Beserta

Berbagai macam kategori pengelompokkan jenis media dan alat bantu


pembelajaran, namun secara umum dapat di gambarkan sebagai
berikut:
1)

Jenisjenis media pembelajaran


Menurut bentuk penyampaian pesan melalui tulisan, gambar, suara
(audio), visual berbagai jenis media dapat dibedakan sebagai
berikut:

Media cetak
Media yang ditulis dan diproduksi sebagai bahan bacaan.
Contoh: buku teks, majalah, buklet, modul hand out, dan
sebagainya.

Media grafis

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

40

Materi Inti 9
Teknik Melatih

Media yang mengkombinasikan ide, informasi, dan pesan


ataupun data dalam pernyataan naratif dan gambar. Contoh:
sketsa, grafik, bagan, diagram, kartun, foto, dan sebagainya.

Media berbantuan komputer


Media yang dibuat dengan mempergunakan komputer atau
dioperasikan dengan komputer.

Media audio
Media audio berkaitan dengan alat pendengaran seperti
misalnya: program siaran radio, rekaman kaset dan sebagainya.

Media visual
Media yang menampilkan pesan rekaman dalam gambar baik
yang bergerak maupun tidak, baik yang bersuara ataupun tidak.

Media audiovisual
Media yang dapat menampilkan gambar dan suara pada waktu
bersamaan, seperti: tayangan film, tayangan tv, tayangan video
dan lain sebagainya.

2)

Jenis-jenis alat bantu peserta


beserta
karateristiknya
Secara umum alat bantu pembelajaran yang sering digunakan
dalam kegiatan belajar - mengajar dapat dibedakan menjadi 3 (tiga)
kategori sebagai berikut:

3)

Alat bantu pembelajaran non projected


Alat bantu ini dalam penggunaannya tidak memerlukan alat lain,
tidak perlu diproyeksikan ke layar proyeksi.
Termasuk dalam jenis ini antara lain:

a)

Buku pelajaran, textbook, handout, worksheet,


karakteristik dan penggunaannya:
- Penggunaan alat bantu ini dimaksudkan agar peserta dapat
mendalami topik bahasan secara secara mandiri (menurut
persepsinya sendiri) sebelum pembahasan oleh pelatih dimulai
dikelas. Untuk itu bahan ini sebaiknya dibagikan dahulu sebelum
kegiatan peserta dimulai (tugas baca).
- Proses peserta akan lebih efektif dan efisien jika menggunakan
metoda diskusi terpimpin yang dipandu oleh pelatih.
- Pelatih dengan tegas mempertajam pada halhal yang paling
banyak mendapat perdebatan diantara peserta dengan merujuk
pada teori dan pengalaman yang pernah ada selama ini.

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

41

Materi Inti 9
Teknik Melatih

b)

Whiteboard/papan tulis, karakteristik dan cara


penggunaannya:
- Pointpoint bahan ajar dipersiapkan dahulu pada potonganpotongan kertas kecil sebagai panduan pelatih agar alur
penyampaiannya beraturan.
- Sewaktu menulis di papan dengan posisi membelakangi peserta
sedapat mungkin pelatih jangan sambil berbicara karena dapat
menghasilkan distorsi pendengaran peserta.
- Mengatur tulisan di papan sedemikian rupa sehingga dapat
memperjelas alur materi pembelajaran dan tulisan yang sudah
tak terpakai hendaknya segera dihapus karena dapat
menggangu pemahaman peserta.
- Besar tulisan disesuaikan dengan jarak peserta yang terjauh
tempat duduknya.

c)

Flipchart, karakteristik dan cara penggunaannya:


- Bahan ajar ditulis di flipchart dahulu dan disusun sesuai dengan
urutan penyajian serta diberikan nomor halaman pada setiap
lembarnya.
- Jika perlu lembaran yang sudah disajikan dapat dilepaskan dari
papannya dan ditempelkan di dinding untuk memperjelas urutan
penyajian.
- Hindarkan kesan padat tulisan dan besar tulisan disesuaikan
dengan jarak peserta yang terjauh tempat duduknya.

d)

Model, karakteristik dan cara penggunaannya:


- Berupa benda asli atau benda tiruan yang digunakan sebagai
media pembelajaran.
- Jika benda tiruan, warna dan bentuknya harus sesuai dengan
benda aslinya dengan ukuran sama atau diperkecil/diperbesar
dengan skala yang proporsional.
- Penempatan model hendaknya dapat dilihat oleh seluruh
peserta dengan jelas, jika ukuran benda tersebut relatif kecil
hendaknya lebih dari satu, sehingga peserta tidak mengalami
kesulitan dalam menangkap pesan yang disampaikan.
- Peragaan harus dilakukan dengan langkah yang runtut dan
dengan durasi waktu yang cukup.
- Beri kesempatan kepada seluruh peserta untuk mengamati,
merasakan, meraba dan mencoba mengoperasikannya.

4)

Alat bantu pembelajaran projected


Alat bantu ini dalam penggunaannya memerlukan listrik sebagai
power suply, karena perlu diproyeksikan ke layar proyeksi.
Termasuk dalam jenis ini antara lain:

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

42

Materi Inti 9
Teknik Melatih

5)

a)

Over head projector, karakteristik dan cara


penggunaannya:
- Bahan ajar (pointers) ditulis di atas transparan yang tidak
terlalu penuh dengan besar tulisan disesuaikan dengan jarak
peserta yang terjauh tempat duduknya.
- Jika terdapat kalimat/kata-kata yang dianggap perlu
mendapat perhatian warna atau model huruf (jenis fontasi)
dapat dibedakan dengan yang lainnya.
- Alat bantu ini juga dapat digunakan untuk menyajikan urutan
proses/tahapan kejadian dengan cara menumpuk beberapa
transparan di atasnya secara berurutan.
- Posisi berdiri pelatih diusahakan sedemikian rupa sehingga
tidak menghalangi layar proyektor.
- Penjelasan terhadap bahan ajar yang tertulis dapat dilakukan
dengan dua cara: jika posisi pelatih berdiri disamping OHP,
maka dapat langsung menunjuk tulisan di transparan dengan
menggunakan alat tunjuk (jangan dengan jari) sedangkan
jika pelatih berdiri jauh dari OHP dapat menggunakan spot
light (jangan menunjuk di layar proyektor).

b)

Epidioscope,
karakteristik
dan
cara
penggunaannya:
- Alat bantu ini dapat digunakan memproyeksikan bahan ajar
yang tertulis di atas kertas dalam bentuk dan warna aslinya.
- Biasanya digunakan untuk menyajikan dokumen/bahan ajar
yang tidak mungkin atau tidak sempat dipindahkan pada
transparan.
- Alat bantu ini menggunakan lampu proyeksi dengan daya
watt yang tinggi sehingga jika terlalu lama dinyalakan akan
dapat merusak kertas bahan ajar yang diproyeksikan
(terbakar).

c)

Slide
projector,
karakteristi
dan
cara
penggunaannya:
- Bahan ajar difoto dan dicetak pada film positif (slide) dengan
bantuan proyektor yang ditampilkan melalui layar proyektor.
- Alat ini biasanya digunakan untuk menampilkan bahan ajar
yang bersifat dokumentatif.
- Untuk menghasilkan gambar tayangan yang baik/jelas alat
ini membutuhkan ruangan yang relatif gelap.

Alat bantu pembelajaran audio visual


a) Video tape/VCD, karakteristik dan cara penggunaannya:
- Alat ini biasanya digunakan untuk menampilkan bahan ajar
sebuah proses kejadian yang bersifat life.

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

43

Materi Inti 9
Teknik Melatih

Bahan ajar direkam pada kaset/CD dengan menggunakan


skenario tertentu sehingga alur proses terlihat jelas dan
runtut.
Jika direkam pada kaset video jenis VHS dan dengan
menggunakan fasilitas shutle jog penyajian gambar bagian
yang dianggap penting dapat diulangulang, dipercepat atau
diperlambat (slow motion) secara detail dan time motion
untuk mengamati perubahan wujud suatu benda.
Layar monitor yang digunakan dapat dihubungkan dengan
desktop proyektor atau televisi. Jika menggunakan televisi
hendaknya dengan ukuran kaca yang lebar (minimal 29 inci)
dengan jumlah yang cukup (satu televisi untuk 6 -10 orang
peserta).
Alat ini juga dapat menghasilkan suara (audio) sehingga
dapat merangsang indera penglihatan sekaligus indera
pendengaran.

b) Desktop
projector,
karakteristik
dan
cara
penggunaannya:
- Fungsi utama dari alat ini adalah memperbesar tampilan
layar monitor dari video tape, VCD, epidioscope atau
komputer.
- Jika alat ini dihubungkan dengan komputer yang mempunyai
fasilitas software multi media akan menggantikan
beberapa alat bantu pemebelajaran tersebut di atas seperti
OHP, slide projector, epidioscope dan video tape/VCD.
5. Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi pembelajaran merupakan bagian dari proses suatu pembelajaran
yang berguna untuk menilai keberhasilan suatu pembelajaran.
a.

b.

Pengertian Evaluasi Hasil Pembelajaran


Suatu proses pengambilan keputusan untuk memberikan nilai (scoring)
dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran
hasil belajar dengan menggunakan instrumen tes ataupun non tes.
Tujuan Evaluasi Hasil Pembelajaran
Tujuan evaluasi hasil pembelajaran yaitu:
1) Mengetahui tingkat keberhasilan pencapaian TPU dan TPK.
2) Umpan balik perbaikan proses pembelajaran.
3) Pedoman penentuan passing grade dan posisi peringkat.
4) Dasar untuk menyusun laporan kemajuan pembelajaran.

c.

Prinsip Evaluasi Hasil Pembelajaran


Dalam menyusun evaluasi hasil pembelajaran, mengikuti prinsip:

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

44

Materi Inti 9
Teknik Melatih

1) Harus jelas kemampuan mana yang dinilai.


2) Penilaian merupakan bagian integral dari seluruh rangkaian proses
pembelajaran dalam sebuah pelatihan.
3) Mengukur seluruh domain kognitif, afektif, dan psikomotor, sesuai
dengan hasil analisis TPK.
4) Alat yang digunakan harus sesuai: mengukur apa yang harus
diukur.
5) Penilaian harus diikuti dengan tindak lanjut.
d.

Jenis Evaluasi Hasil Pembelajaran

1) Pre dan post test


Tujuan test: mengetahui hasil pembelajaran secara ratarata kelas
dan hasilnya dapat dianggap sebagai hasil penyelenggaraan
pelatihan.
Proses:
- Menghitung prosentase ratarata kenaikan nilai yang didapat
melalui tes sebelum dan sesudah pembelajaran, bila perlu
lakukan uji ttest, dengan anggapan selisih kenaikan nilai yang
didapat adalah sebagai hasil pembelajaran pada pelatihan yang
diselenggarakan.
- Perakitan soal disusun secara komprehensif yang mewakili
materi yang telah dipelajari (dangkal tapi luas).
2) Formative test
Tujuan test: mengetahui tingkat perkembanganan dan daya serap
yang dapat dilihat melalui butirbutir soal yang dapat dijawab
dengan benar.
Proses:
- Dilakukan di tengahtengah pada pelatihan yang > 3 minggu.
- Perakitan soal memenuhi seluruh TPK pada materi inti yang
dengan tingkat kesulitan bervariasi (30% mudah, 50% sedang,
20% sulit).
- Memeriksa nilai ratarata, tertinggi, terendah, modus dan
lakukan difficulty index untuk mengetahui tingkat kesulitan
soal.
- Jika hasil tes negatif, perlu meninjau ulang beberapa aspek yang
dianggap dapat mempengaruhi proses pembelajaran, antara
lain: metoda, alat bantu, fasilitator, lingkungan pembelajaran,
dll.
- Lakukan remedial khususnya pada materi/TPK terlemah.
3) Sumative test
Tujuan test: pelatihan yang mendapatkan STTPL menentukan
kelulusan bagi setiap individu peserta pelatihan yang ber-STTPL
(Surat Tanda Tamat Pendidikan dan Pelatihan). mendapatkan
Sertifikat Menentukan posisi peringkat setiap individu pada agregat
sebaran nilai hasil ujian (biasanya untuk diklat yang bersertifikat).

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

45

Materi Inti 9
Teknik Melatih

D.

Proses:
- Dilakukan pada akhir sebuah pelatihan.
- Perakitan soal memenuhi seluruh TPK/U pada materi dasar
(15%), inti (70%) dan penunjang (15%) yang disusun dengan
tingkat kesulitan bervariasi (20% mudah, 50% sedang, dan
30% sulit/analisis).
- Penentuan Batas Posisi Peringkat
menggunakan PAN/ NRT
(Norm Referenced Test)
dengan cara mencari nilai Mean,
Median, Modus, dan Standar Deviasi.
- Butirbutir soal harus dapat menggambarkan: perbedaan antara
pembelajar yang telah menguasai materi dan yang belum
menguasai materi yang tergambar dalam sebuah skala gradasi.

Mempraktikan pembelajaran mikro ( micro teaching)


Pada sesi ini, peserta latih akan mempraktekan pembelajaran mikro dengan
menerapkan sebagian teori yang telah dibahas sebelumnya. Micro teaching
atau sering disebut dengan istilah micro skill, merupakan kegiatan belajar
untuk meningkatkan kemampuan peserta latih pada domain psikomotor. Ada
pepatah mengatakan : jika saya dengar saya lupa, jika saya lihat saya ingat
dan jika saya kerjakan saya akan paham atau tahu. Ada tujuh tahap kegiatan
dalam mempraktikan pembelajaran mikro tersebut.
a.

Persiapan
Tahap 1:
Modeling the Skill.
Tahap ini penting untuk mengarahkan peserta pelatihan kepada
keterampilan mengajar yang akan dipraktekkan. Tahapan ini disebut
Modeling. Terdapat dua jenis modeling, yaitu Perceptual Model dan
Conceptual Model. Model pertama disajikan dengan cara demonstrasi dan
secara visual dirasakan oleh peserta pelatihan. Model kedua, disajikan
dalam bentuk bahan tertulis dan dikonsep oleh peserta pelatihan.
Tahap 2:
Planning a micro-lesson.
Pada tahap ini ditentukan materi pelajaran yang tepat yang dapat
memaksimalkan latihan keterampilan mengajar, dalam durasi waktu 1020 menit.

b.

Pelaksanaan
Tahap 3:
The teaching session
Rencana pelajaran pada tahap ini dilaksanakan di hadapan supervisor
atau teman sebaya. Penampilan calon pelatih yang mempraktekkan
keterampilan mengajar diamati dan dicatat melalui lembar evaluasi, tape
recorder, dan/atau video tapes dapat digunakan untuk keperluan tesebut

c.

Penilaian dan pemberian umpan balik


Tahap 4:

The critique session

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

46

Materi Inti 9
Teknik Melatih

Supervisor dan/atau kelompok teman sebaya membahas kinerja calon


pelatih secara mikro. Umpan balik dan poin-poin penting disampaikan
untuk diperbaiki. Alat evaluasi memberikan kesempatan kepada calon
pelatih untuk melihat penampilannya secara objektif. Calon pelatih tidak
diberi kesempatan untuk mengajukan pembelaan diri. Ini adalah kekuatan
dan kekhasan dari micro teaching.
d.

Penyempurnaan
Tahap 5:
The re-planning session
Calon pelatih menyusun rencana pembelajaran yang baru berdasarkan
umpan balik yang ditawarkan dalam critique session. Waktu yang
disediakan untuk tahap ini adalah 5 sampai 7 menit.
Tahap 6:
The re-teaching session
Langkah ini memberikan kesempatan kepada calon pelatih untuk
mengajarkan unit yang sama, dan keterampilan yang sama. Namun tentu
saja dengan penampilan yang lebih baik dengan memperhatikan umpan
balik dari fasilitator dan/atau teman sebaya. Pada sesi ini, pengawas
dan/atau pengamat teman sebaya mengevaluasi kinerja calon pelatih
tersebut dengan menggunakan alat evaluasi.
Tahap 7:
The re-critique session
Prosedur yang sama diadopsi sebagaimana disebutkan dalam critique
session (Tahap-4). Calon pelatih, kembali mendapat umpan balik dan
mengetahui sejauh mana perbaikannya. Langkah ini memiliki potensi
memotivasi calon pelatih untuk meningkatkan penampilannya di masa
yang akan datang.

VII. Referensi
1.
W.S. Winkel, Psikologi Pengajaran. Jakarta: PT Grasindo, 1991
2.
R.M. Gagne, The Condition of Learning. New York: Holt,
Reinhart, and Winston, 1977
3.
A.J. Romiszowski, Designing Instructional System, London:
Kogan Page, Ltd, 1981
4.
Pretty, Jules N., Irene, et al. A Trainer Guide for Participatory
Learning and Action. London: International Institute for Environment and
Development, 1995
5.
Unit Pelaksana Teknis Program Pengalaman Lapangan UNJ.
Observasi Keterampilan Mengajar. Jakarta: UNJ, 2009
6.
Semiawan, Conny. Brain Base Learning dan Dampaknya
terhadap Orientasi Ilmu dan Pendidikan, makalah disajikan pada Lokakarya
bidang BK. PKI di HI, 21 Januari 2003
7.
Semiawan, Conny. Collaborative Learning, makalah Pelatihan
Teknik Lingkungan ITB di Bandung.
8.
Pekerti, Widia. Pengaruh Pembelajaran Terpadu Matematika
dan Musik terhadap Hasil Belajar Matematika pada Murid Kelas I SD, Tesis.
Jakarta: Program Pascasarjana IKIP Jakarta.

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

47

Materi Inti 9
Teknik Melatih

9.

Trijata, Caecilia; Pekerti, Widia; Nursilah dan Kartika M.S.


Pendidikan Seni. Jakarta: Direktorat Ketenagaan, Dirjen Pendidikan Tinggi
Kementerian Pendidikan Nasional, 2010 (Pembelajaran Terpadu)
10.
Fogarty Robin. How to Integrate Curicula. USA: IRI/Skylight.
Training and Publishing
11.
Suparman, Atwi. Desain Instruksional. Jakarta: Universitas
Terbuka, 2004
12.
Robert A. Reiser, Dempsey, John V. Trends and Issues in
Instructional Design and Technology. New Jersey: Pearson Education, 2008 (pg
186 tt construct and category dari motivasi)
13.
Novak Joseph D. Dan Gowin, D. Bob., Learning How To Learn.
London:Cambridge University Press, 1984.
14.
Teele, Sue.,The Multiple Inteligence School. Redlands, USA:
1955
15.
Pekerti, Widia. Pengaruh PembelajaranTerpadu Matematika
dan Musik Terhadap Hasil Belajar Matematika Pada Murid Kelas I SD. Tesis.
Jakarta: Program Pasca Sarjana IKIP Jakarta.

Lampiran :
1.

Pedoman Diskusi Kelompok tentang


pelatih dalam teknik melatih pada kegiatan pelatihan.
1)

Kompetensi

Peserta menjadi 3 kelompok (setiap kelompok


terdiri dari 10-11 orang).

2)

Setiap kelompok ditugaskan untuk mempelajari


pokok bahasan kompetensi pelatih dalam teknik melatih pada pelatihan yang
ada dalam modul.
3)
Selanjutnya, setiap kelompok berdiskusi dan
menyiapkan suatu penyajian materi yang terkait dengan materi pokok
bahasan tentang kompetensi pelatih dalam teknik melatih pada pelatihan
tersebut, yaitu:
- Kelompok I : tentang kriteria, tugas dan tanggung jawab pelatih,
keterampilan mengajar dan membimbing
- Kelompok II : tentang teknik presentasi interaktif dalam proses
pembelajaran serta penyusunan SAP (Satuan Acara Pembelajaran)
Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

48

Materi Inti 9
Teknik Melatih

4)

2.

Kelompok III : tentang pengelolaan kelas dan


metode pembelajaran
Waktu diskusi adalah 30 menit.

pemanfaatan keragaman

Hasil diskusi setiap kelompok di tulis di flipchart


atau slide. Selanjutnya, setiap kelompok menyajikan hasil diskusinya di
depan kelas. Waktu: penyajian setiap kelompok adalah 10 menit. Kelompok
lainnya diberi kesempatan untuk bertanya, menyampaikan klarifikasi atau
tanggapan terhadap penyajian setiap kelompok. Fasilitator bisa memberikan
tambahan penjelasan saat proses tanya jawab antar kelompok.
Pedoman Praktik pembelajaran mikro /micro teaching

Peserta berada dalam 3 kelompok (setiap


kelompok terdiri dari 10-11 orang). Setiap kelompok berada dalam ruangan
yang terpisah.

Fasilitator mejelaskan 7 tahap kegiatan


praktik pembelajaran mikro dengan menggunakan bahan tayang yaitu :
a.
Persiapan
Tahap 1:
Modeling the Skill.
Tahap ini penting untuk mengarahkan peserta pelatihan kepada keterampilan
mengajar yang akan dipraktekkan. Tahapan ini disebut Modeling. Terdapat
dua jenis modeling, yaitu Perceptual Model dan Conceptual Model. Model
pertama disajikan dengan cara demonstrasi dan secara visual dirasakan oleh
peserta pelatihan. Model kedua, disajikan dalam bentuk bahan tertulis dan
dikonsep oleh peserta pelatihan.
Tahap 2:
Planning a micro-lesson.
Pada tahap ini ditentukan materi pelajaran yang tepat yang dapat
memaksimalkan latihan keterampilan mengajar, dalam durasi waktu 10-20
menit.
b.
Pelaksanaan
Tahap 3:
The teaching session
Rencana pelajaran pada tahap ini dilaksanakan di hadapan supervisor atau
teman sebaya. Penampilan calon pelatih yang mempraktekkan keterampilan
mengajar diamati dan dicatat melalui lembar evaluasi, tape recorder,
dan/atau video tapes dapat digunakan untuk keperluan tesebut
c.
Penilaian dan pemberian umpan balik
Tahap 4:
The critique session
Supervisor dan/atau kelompok teman sebaya membahas kinerja calon pelatih
secara mikro. Umpan balik dan poin-poin penting disampaikan untuk
diperbaiki. Alat evaluasi memberikan kesempatan kepada calon pelatih untuk
melihat penampilannya secara objektif. Calon pelatih
tidak diberi
kesempatan untuk mengajukan pembelaan diri. Ini adalah kekuatan dan
kekhasan dari micro teaching.

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

49

Materi Inti 9
Teknik Melatih

d.
Penyempurnaan
Tahap 5:
The re-planning session
Calon pelatih menyusun rencana pembelajaran yang baru berdasarkan
umpan balik yang ditawarkan dalam critique session. Waktu yang disediakan
untuk tahap ini adalah 5 sampai 7 menit.
Tahap 6:
The re-teaching session
Langkah ini memberikan kesempatan kepada calon pelatih untuk
mengajarkan unit yang sama, dan keterampilan yang sama. Namun tentu
saja dengan penampilan yang lebih baik dengan memperhatikan umpan
balik dari fasilitator dan/atau teman sebaya. Pada sesi ini, pengawas dan/atau
pengamat teman sebaya mengevaluasi kinerja calon pelatih tersebut dengan
menggunakan alat evaluasi.
Tahap 7:
The re-critique session
Prosedur yang sama diadopsi sebagaimana disebutkan dalam critique
session (Tahap-4). Calon pelatih, kembali mendapat umpan balik dan
mengetahui sejauh mana perbaikannya. Langkah ini memiliki potensi
memotivasi calon pelatih untuk meningkatkan penampilannya di masa yang
akan datang.

Fasilitator menugaskan setiap orang


peserta untuk berdiskusi mempersiapkan diri , melakukan praktik
pembelajaran mikro (mikro teaching) yang mengacu pada materi inti yang
telah dibahas, yaitu :
1)
Peserta 1 : Perencanaan promosi kesehatan di Puskesmas,
dengan sub pokok bahasan konsep dasar perencanaan promosi kesehatan
2)
Peserta 2 : Perencanaan promosi kesehatan di Puskesmas,
dengan sub pokok bahasan penyusunan perencanaan promosi kesehatan
di puskesmas
3)
Peserta 3 : KIE dalam bidang kesehatan
4)
Peserta 4 : Pemberdayaan masyarakat dalam bidang
kesehatan, dengan sub pokok bahasan pemberdayaan masyarakat
melalui pengembangan UKBM
5)
Peserta
5 : Pemberdayaan masyarakat dalam bidang
kesehatan, dengan sub pokok bahasan peran dan fungsi petugas
puskesmas sebagai fasilitator pemberdayaan masyarakat
6)
Peserta 6 : Advokasi dalam bidang kesehatan, dengan sub
pokok bahasan konsep dasar advokasi kesehatan
7)
Peserta 7 : Advokasi dalam bidang kesehatan, dengan sub
pokok bahasan penyusunan rencana kegiatan advokasi kesehatan
8)
Peserta 8 : Kemitraan dalam bidang kesehatan, dengan sub
pokok bahasan konsep dasar kemitraan dalam bidang kesehatan
9)
Peserta 9 : Kemitraan dalam bidang kesehatan, dengan sub
pokok bahasan penyusunan renacana kegiatan kemitraan dalam bidang
kesehatan
10)
Peserta 10 : Pengembangan pesan dan media promosi
kesehatan
11)
Peserta 11 : Pemantauan dan penilaian upaya promosi
kesehatan

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

50

Materi Inti 9
Teknik Melatih

Waktu
diskusi
dan
mempersiapkan
praktik pembelajaran mikro (micro teaching) adalah 90 menit.

Selanjutnya, setiap peserta


diberi
kesempatan untuk melakukan praktik pembelajaran mikro dengan alokasi
waktu 30 menit sudah termasuk tanya jawab.

Pada akhir kegiatan praktik pembelajaran


micro, Tim Fasilitator mengajak peserta melakukan refleksi terhadap kegiatan
praktik tersebut. Fasilitator memberi kesempatan kepada peserta untuk
menyampaikan perasaan dan pengalamannya saat membawakan materi
melalui kegiatan pembelajaran mikro tersebut.

Fasilitator menyampaikan tanggapan atau


umpan balik terhadap kegiatan praktik pembelajaran mikro tersebut, dari
segi: penerapan teknik penyampaian materi, pengelolaan kelas dan waktu,
pemanfaatan keragaman metode pembelajaran, penggunaan media dan alat
bantu pembelajaran, evaluasi pembelajaran.

3.

Lembar kerja pembuatan susunan acara pembelajaran


mikro
Materi :
Sub- pokok bahasan :
Waktu :
TPU :

Waktu

Materi

TPK

Metode

Media

Alat
bantu

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

Petugas

51

Materi Inti 9
Teknik Melatih

4.

Lembar kerja penilaian atau pemberian umpan balik


kegiatan praktik pembelajaran mikro /micro teaching

Nama
Kelompok
No

: __________________________
: __________________________
Parameter penilaian

Nilai
(cukup = 1,
baik=2,
baik
sekali = 3)

Keterangan

Pembukaan
1. Pengucapan salam dan perkenalan
pengkondisian situasi dan lingkungan
2. Keterkaitan dengan materi sebelumnya,
penyampaian TPU/TPK dan apersepsi
Proses kegiatan pembelajaran
1. Presentasi interaktif:
a. Menghantar sesi pembelajaran
b. Mengelola hubungan interaktif
c. Teknik bertanya efektif
- Cara/kaidah pertanyaan
- Kesesuaian pertanyaan dengan
tujuan/moment
- Cara menanggapi jawaban
- Cara menanggapi pertanyaan
2. Penentuan metode pembelajaran yang
sesuai/efektif untuk mencapai tujuan
3. Pemilihan media dan alat bantu
pembelajaran yang sesuai dengan
metode pembelajaran
4. Penguasaan substansi materi
5. Ketepatan alokasi waktu
Pengakhiran
1. Merangkum sesi pembelajaran/evaluasi/
pencapaian TPU/TPK
2. Kesesuaian penyimpulan pokok
bahasan dengan TPU/TPK dan
pemberian pesan tindak lanjut
3. Pengucapan terima kasih dan salam
perpisahan
Total nilai
Catatan umpan balik
Catatan bagian yang perlu diperbaiki

Tanggal: ________________

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

52

Materi Inti 9
Teknik Melatih

Penilai/Supervisi: ________________

Modul Pelatihan Pelatih Promosi Kesehatan Bagi Petugas Puskesmas Tahun 2015

53