Anda di halaman 1dari 132

BAB II

UPAYA KESEHATAN WAJIB

2. 2.1 Upaya Promosi Kesehatan


2.1.1 Promosi Kesehatan di Dalam Gedung
2.1.1.1 Cakupan Komunikasi Interpersonal dan Konseling (KIP/K)
Cakupan Komunikasi Interpersonal dan Konseling (KIP/) di Puskesmas adalah
jumlah pengunjung yang mendapatkan KIP/K di Klinik Khusus atau klinik
terpaduKIP/K sebagai tentang Gizi P2M sanitasi, PHBS dan lain-lain sesuai kondisi /
masalah pengunjung sebanyak 5% pengunjung Puskesmas
Sasaran : Seluruh warga Kelurahan Cihampelas yang datang berobat ke Puskesmas
Cihampelas dalam kurun waktu satu tahun.
Target

: 5%

Tabel 2.1 Cakupan komunikasi interpersonal dan konseling (KIP/K)


Tahun
Sasaran
Pencapaian
Target Cakupan
Kesenjangan
(%)
(%)
(%)
2014

47.373

1.540

0,65

-4,35

Kesimpulan
Tidak
mencapai
target

2.1.1.2 Cakupan Penyuluhan Kelompok Oleh Petugas di Dalam Gedung


Puskesmas
Cakupan penyuluhan kelompok oleh petugas di dalam gedung puskesmas
adalah penyampaian informasi kesehatan kepada sasaran, yaitu pengunjung
puskesmas sebanyak 5-30 orang oleh petugas yang dilaksanakan minimal 96 kali
dalam satu tahun atau rata-rata 8 kali dalam setiap bulan.
Sasaran : Seluruh warga Kelurahan Cihampelas yang datang berobat ke Puskesmas
Cihampelas dalam kurun waktu satu tahun.
Target

: 100%
10

11

Tabel 2.2 Cakupan penyuluhan kelompok oleh petugas di dalam gedung puskesmas
Tahun

Sasaran

Pencapaian

Target
(%)

Cakupan
(%)

Kesenjangan
(%)

Kesimpulan

2014

96

54

100

56,25

-43,75

Tidak
mencapai
target

Menurut Stratifikasi Puskesmas Provinsi Jawa Barat tahun 1999/2000:

Penyuluhan kelompok ialah semua kegiatan penyuluhan dengan sasaran

kelompok, baik di dalam maupun di luar gedung minimal terdiri atas 6 orang.
Jumlah kegiatan penyuluhan kelompok yang dilakukan di desa tertentu atau di

puskesmas/puskesmas pembantu selama satu tahun kalender.


Jumlah petugas puskesmas/puskesmas pembantu yang wajib memberikan

penyuluhan. Kategori tenaga yang berkewajiban menyuluh:


1. Dokter
2. Dokter gigi
3. Apoteker/Ass. apoteker
4. Penilik kesehatan
5. Bidan
6. Perawat
7. Sanitarian
8. Pembantu bidan/PKE
9. Pembantu perawat/ PKU
10. Petugas imunisasi pekarya kesehatan
11. Pembantu malaria desa
12. Perawat gigi
13. Petugas kusta
14. Pembantu ahli gizi/ahli gizi
Frekuensi penyuluhan oleh petugas kesehatan puskesmas adalah beberapa kali

dalam 1 tahun, setiap petugas rata- rata melakukan penyuluhan.


Jumlah desa yang dijangkau adalah jumlah semua desa yang menjadi wilayah

kerja puskesmas/puskesmas pembantu.


Frekuensi penyuluhan perorangan dilaksanakan terintegrasi dengan kegiatan
puskesmas.

12

Tabel 2.3 Cakupan penyuluhan kelompok berdasarkan Stratifikasi Puskesmas


Nama Kegiatan
(Penyuluhan
kelompok)

Hasil
Kegiatan

Angka
Standar

Angka
Cakupan
Kegiatan

Kesimpulan

Frekuensi
penyuluhan
kelompok

280

72

3,8

Memenuhi
standar
(+208)

Jumlah desa
yang dijangkau
penyuluhan

25

25

Memenuhi
standar

Frekuensi
penyuluhan
perorangan

Tidak ada data

2.1.1.3 Cakupan Institusi Kesehatan Ber-PHBS


Cakupan institusi kesehatan yang ber-PHBS adalah persentase institusi
kesehatan yang ber-PHBS yang ada di wilayah kerja puskesmas dalam kurun waktu
satu tahun. Terdapat 6 indikator PHBS, yaitu :
1.

Menggunakan air bersih

2.

Menggunakan jamban

3.

Membuang sampah pada tempatnya

4.

Tidak merokok

5.

Tidak meludah sembarangan

6.

Memberantas jentik nyamuk

Sasaran : Semua institusi kesehatan yang berada di wilayah Puskesmas Cihampelas


dalam kurun waktu satu tahun.
Target

: 100%

Tabel 2.4 Cakupan institusi kesehatan ber-PHBS


Tahun

Sasaran

Pencapaian

Target
(%)

Cakupan
(%)

Kesenjangan
(%)

Kesimpulan

13

2014

100

100

Mencapai
target

Sedangkan menurut stratifikasi puskesmas Provinsi Jawa Barat tahun


1999/2000, cakupan institusi kesehatan ber-PHBS adalah upaya penyuluhan menuju
perilaku hidup bersih dan sehat dengan menggunakan pendekatan tatanan yang
meliputi puskesmas dan puskesmas pembantu. Terdapat 15 variabel perilaku yang
menjadi indikator PHBS di tatanan institusi kesehatan:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Kegiatan memelihara bangunan agar memenuhi syarat kesehatan.


Petugas dan pengunjung selalu menggunakan air bersih.
Petugas dan pengunjung selalu buang air besar di jamban (WC).
Sampah dibuang secara baik.
Air limbah dibuang ke saluran tertutup.
Dapur menyediakan makanan menu seimbang dan beraneka ragam (khusus

Puskesmas DTP).
7. Petugas biasa mencuci tangan.
8. Kebiasaan pemeliharaan gigi.
9. Petugas tidak merokok.
10. Petugas tidak minum minuman keras, narkotik, bahan/obat berbahaya.
11. Melakukan kegiatan olahraga untuk kebugaran.
12. Tersedia peralatan dan media penyuluhan kesehatan.
13. Kegiatan penyuluhan individual dan kelompok di dalam/di luar gedung.
14. Kegiatan Jumat bersih.
15. Pengembangan dana sehat.
Klasifikasi :
-

Merah/klasifikasi I : jumlah jawaban ya 1 s/d 5.


Kuning/ kliasifikasi II: jumlah jawaban ya 6 s/d 10.
Hijau/ klasifikasi III: jumlah jawaban ya 7 s/d 10.
Biru/ klasifikasi III + aktif PSM dan dana sehat.

14

Tabel 2.5 Cakupan institusi kesehatan ber-PHBS


Nama Kegiatan

Hasil
Kegiatan

Angka Standar

Angka
Cakupan
Kegiatan

Kesimpulan

Institusi
Kesehatan BerPHBS

100%x1=
1

Memenuhi Standar

2.1.2

Promosi Kesehatan di Luar Gedung

2.1.2.1 Cakupan Pengkajian dan Pembinaan PHBS di Tatanan Rumah Tangga


Cakupan rumah tangga ber-PHBS adalah presentase rumah tangga yang
melaksanakan 10 indikator PHBS rumah tangga di wilayah kerja puskesmas dalam
kurun waktu satu tahun, indikator tersebut terdiri dari :
1.

Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan.

2.

Memberi bayi ASI Eksklusif.

3.

Menimbang balita setiap bulan.

4.

Menggunakan air bersih.

5.

Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun.

6.

Menggunakan jamban sehat.

7.

Memberantas jentik di rumah.

8.

Makan sayur dan buah setiap hari.

9.

Melakukan aktifitas fisik setiap hari.


10. Tidak merokok di dalam rumah.

Sasaran : Seluruh rumah tangga yang ada di wilayah kerja Puskesmas Cihampelas
dalam kurun waktu satu tahun.
Target

: 65%

15

Tabel 2.6 Cakupan pengkajian dan pembinaan PHBS di tatanan rumah tangga
Tahun

Sasaran

Pencapaian

Target
(%)

Cakupan
(%)

Kesenjangan
(%)

Kesimpulan

2014

12.700

350

65

2,7

-62,3

Tidak
mencapai
target

Menurut stratifikasi puskesmas Provinsi Jawa Barat tahun 1999/2000, terdapat


20 variabel perilaku yang menjadi indikator PHBS di tatanan rumah tangga, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.

Pemeliharaan bangunan agar memenuhi syarat kesehatan.


Selalu menggunakan air bersih.
Selalu buang air besar di jamban (WC).
Membuang sampah dengan baik.
Membuang air limbah ke saluran tertutup.
Makan menu seimbang dan beraneka ragam.
Kebiasaan mencuci tangan dan kuku pendek.
Kebiasaan menggosok gigi.
Tidak merokok.
Tidak minum- minuman keras/narkoba.
Sadar bahaya HIV/AIDS.
Kebiasaan berolahraga.
Meminta pertolongan petugas kesehatan bila ada yang sakit.
Pemeriksaan kehamilan dan persalinan oleh petugas kesehatan.
Bayi diimunisasi dan atau balita ditimbang.
Pus ikut KB.
Menyediakan obat P3K/P3P panas, diare, luka.
Pertolongan pertama sakit panas, diare, luka.
Berperan serta dalam kegiatan kesehatan masyarakat.
Menjadi anggota dana sehat, ASKES, Jamsostek, dan sebagainya.
Klasifikasi:
-

Merah/ klasifikasi I: jumlah jawaban ya 1 s/d6.


Kuning/ klasifikasi II: jumlah jawaban ya 7 s/d 12.
Biru/klasifikasi III: klasifikasi II + aktif PSM dan dana sehat.

Tabel 2.7 Cakupan tatanan rumah tangga ber-PHBS menurut Stratifikasi Puskesmas

16

Nama
Kegiatan

Hasil
Kegiatan

Angka Standar

350

100%x12.700
=
12.700

Tatanan
Rumah
Tangga
Ber-PHBS

Angka
Cakupan
Kegiatan

2,7

Kesenjangan

73

Kesimpulan
Tidak
memenuhi
standar

2.1.2.2 Cakupan Pemberdayaan Masyarakat Melalui Penyuluhan Kelompok


oleh Petugas di Masyarakat
Cakupan penyuluhan kelompok oleh petugas masyarakat adalah penyampaian
informasi kesehatan kepada sasaran/masyarakat (5-30 orang) yang dilaksanakan oleh
petugas, dilaksanakan 1 kali setiap bulan di setiap RW/ Posyandu di wilayah kerja
Puskesmas Cihampelas dalam kurun waktu satu tahun.
Sasaran : Jumlah RW/posyandu di wilayah kerja puskesmas x 12 kali dalam kurun
waktu 1 tahun.
Target

: 100%

Tabel 2.8 Cakupan pemberdayaan masyarakat melalui penyuluhan kelompok oleh petugas di
masyarakat
Tahun
2014

Sasaran
672

Pencapaian
393

Target
(%)
100

Cakupan
(%)
58,48

Kesenjangan
(%)

Kesimpulan

-41,52

Tidak
mencapai
target

2.1.2.3 Cakupan Pembinaan UKBM Dilihat Melalui Persentase Posyandu


Purnama dan Mandiri

17

Cakupan pembinaan UKBM dilihat melalui persentase Posyandu Purnama dan


Mandiri adalah persentase jumlah Posyandu Purnama dan Mandiri yang ada di
wilayah Puskesmas Cihampelas dalam kurun waktu satu tahun.
Sasaran : Jumlah seluruh posyandu di wilayah kerja Puskesmas Cihampelas dalam
kurun waktu satu tahun.
Target

: 65%

Tabel 2.9 Cakupan pembinaan UKBM dilihat melalui persentase (%) Posyandu Purnama &
Mandiri
Target
Cakupan
Kesenjangan
Tahun Sasaran Pencapaian
Kesimpulan
(%)
(%)
(%)
2014

56

37

65

66,07

+1,07

mencapai
target

2.1.2.4 Cakupan Pembinaan Pemberdayaan Masyarakat Dilihat Melalui


Persentase Desa Siaga Aktif
Cakupan desa siaga aktif adalah persentase jumlah desa siaga aktif di wilayah
kerja Puskesmas Cihampelas dalam kurun waktu satu tahun.
Sasaran : Semua desa siaga di wilayah kerja Puskesmas Cihampelas yang sudah
melaksanakan desa siaga aktif dalam kurun waktu satu tahun.
Target

: 60%

Tabel 2.10 Cakupan pembinaan pemberdayaan masyarakat dilihat melalui persentase (%)
Desa Siaga Aktif
Target
Cakupan
Kesenjangan
Tahun Sasaran Pencapaian
Kesimpulan
(%)
(%)
(%)
2014

60

100

+40

Mencapai
target

18

Cakupan Pemberdayaan Individu/Keluarga Melalui Kunjungan Rumah


Cakupan kunjungan rumah adalah persentase kegiatan KIP/K yang dilakukan
petugas Puskesmas Cihampelas terhadap individu/keluarga yang dilakukan di
rumahnya di wilayah kerja Puskesmas Cihampelas dalam kurun waktu satu tahun.
Sasaran : Seluruh warga Kelurahan Cihampelas yang mendapatkan KIP/K di klinik
khusus/klinik sehat di Puskesmas Cihampelas dalam kurun waktu satu
tahun.
Target

: 50%

Tabel 2.11 Cakupan pemberdayaan individu / keluarga melalui kunjungan rumah


Target Cakupan Kesenjangan
Tahun Sasaran Pencapaian
Kesimpulan
(%)
(%)
(%)
2014

47.373

799

50

1,68

-48,32

Tidak
Mencapai
target

.1.2.6 Cakupan PHBS di Tatanan TempatTempat Umum


Menurut Stratifikasi Puskesmas tahun 1999/ 2000, tempat- tempat umum (TTU)
antara lain, meliputi warung/ rumah makan, tempat ibadah, pasar, terminal, dan
sebagainya. Terdapat 15 variabel perilaku yang menjadi indikator PHBS di tatanan
warung/ rumah makan, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.

Kegiatan memelihara bangunan agar memenuhi syarat kesehatan.


Selalu menggunakan air bersih.
Selalu buang air besar di jamban (WC).
Sampah dibuang secara baik.
Air limbah dibuang ke saluran tertutup.

19

6. Makanan menu seimbang dan beraneka ragam.


7. Kebiasaan mencuci tangan dan berkuku pendek.
8. Kebiasaan menggosok gigi.
9. Tidak minum minuman keras/ narkoba.
10. Kegiatan olahraga.
11. Meminta pertolongan petugas kesehatan bila ada yang sakit.
12. Menyediakan obat P3K/P3P panas, diare, luka.
13. Pertolongan pertama sakit panas, diare, luka.
14. Berperan serta dalam kegiatan kesehatan masyarakat.
15. Menjadi anggota dana sehat, ASKES, Jamsostek, dan sebagainya.
Klasifikasi :
-

Merah/ klasifikasi I : jumlah jawaban ya 1 s/d 4.


Kuning/ kliasifikasi II: jumlah jawaban ya 5 s/d 8.
Hijau/ klasifikasi III: jumlah jawaban ya 9 s/d 13.
Biru/ klasifikasi IV: klasifikasi III + aktif PSM dan dana sehat.
Terdapat 8 variabel perilaku yang menjadi indikator PHBS di tatanan tempat

ibadah, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Pemeliharaan bangunan agar memenuhi syarat kesehatan.


Selalu menggunakan air bersih.
Selalu buang air besar di jamban (WC).
Sampah dibuang secara baik.
Air limbah dibuang ke saluran tertutup.
Tidak merokok.
Melakukan penyuluhan kesehatan.
Berperan serta dalam kegiatan kesehatan di masyarakat.
Klasifikasi :

Merah/ klasifikasi I : jumlah jawaban ya 1 s/d 2.


Kuning/ kliasifikasi II: jumlah jawaban ya 3 s/d 4.
Hijau/ klasifikasi III: jumlah jawaban ya 5 s/d 7.
Biru/ klasifikasi IV: klasifikasi III + aktif PSM dan dana sehat.
Terdapat 12 variabel perilaku yang menjadi indikator PHBS di tatanan pasar/

terminal, yaitu:

20

1. Kegiatan memelihara bangunan agar memenuhi syarat kesehatan.


2. Selalu menggunakan air bersih.
3. Selalu buang air besar di jamban (WC).
4. Sampah dibuang secara baik.
5. Air limbah dibuang ke saluran tertutup.
6. Tidak minum minuman keras/narkoba.
7. Meminta pertolongan petugas kesehatan bila ada yang sakit.
8. Menyediakan obat P3K/P3P panas, diare, luka.
9. Pertolongan pertama sakit panas, diare, luka.
10. Melakukan penyuluhan kesehatan.
11. Berperan serta dalam kegiatan kesehatan masyarakat.
12. Menjadi anggota dana sehat, ASKES, Jamsostek, dan sebagainya.
Klasifikasi :
-

Merah/ klasifikasi I : jumlah jawaban ya 1 s/d 3.


Kuning/ kliasifikasi II: jumlah jawaban ya 4 s/d 6.
Hijau/ klasifikasi III: jumlah jawaban ya 7 s/d 10.
Biru/ klasifikasi III + aktif PSM dan dana sehat.

Tabel 2.12 Cakupan PHBS di tatanan tempat umum menurut Stratifikasi Puskesmas
Nama
Kegiatan
(PHBS di
TTU)

Hasil
Kegiatan

Warung/
rumah makan

Tempat
ibadah

Pasar/
Terminal

Angka
Standard
25%x
TTU
klasifikasi IV
25%x
TTU
klasifikasi IV
25%x
TTU
klasifikasi IV

Angka
Cakupan
Kegiatan

Nilai
Standar
Setiap
Kegiatan

Nilai
Pencapaian
Hasil
Kegiatan
Puskesmas

Kesimpulan

45

Tidak ada
data

45

Tidak ada
data

45

Tidak ada
data

2.1.2.7 Cakupan PHBS di Tatanan Institusi Tempat Kerja


Menurut Stratifikasi Puskesmas tahun 1999/2000, tatanan tempat kerja meliputi
sektor formal dan informal. Sebagai tahap awal difokuskan kepada tempat-tempat

21

kerja sektor informal terutama industri rumah tangga (home industry). Terdapat 18
variabel perilaku yang menjadi indikator PHBS di tatanan tempat kerja, yaitu:
1. Pemeliharaan bangunan agar memenuhi syarat kesehatan.
2. Selalu menggunakan air bersih.
3. Selalu buang air besar di jamban (WC).
4. Membuang sampah dengan baik.
5. Membuang air limbah ke saluran tertutup.
6. Makan menu seimbang dan beraneka ragam.
7. Kebiasaan mencuci tangan dan kuku pendek.
8. Kebiasaan menggosok gigi.
9. Tidak merokok.
10. Tidak minum- minuman keras/narkoba.
11. Sadar bahaya HIV/AIDS.
12. Kebiasaan berolahraga untuk kebugaran.
13. Meminta pertolongan petugas kesehatan bila ada yang sakit.
14. Menyediakan obat P3K/P3P panas, diare, luka.
15. Pertolongan pertama sakit panas, diare, luka.
16. Kegiatan penyuluhan kesehatan, keamanan, dan keselamatan kerja.
17. Berperan serta dalam kegiatan kesehatan masyarakat.
18. Menjadi anggota dana sehat, ASKES, Jamsostek, dan sebagainya.
Klasifikasi:
-

Merah/klasifikasi I: jumlah jawaban ya 1 s/d 5.


Kuning/klasifikasi II: jumlah jawaban ya 6 s/d 10.
Hijau/klasifikasi III : jumlah jawaban ya 11 s/d 16.
Biru/klasifikasi IV: klasifikasi II + aktif PSM dan dana sehat.

Tabel 2.13 Cakupan PHBS di tatanan tempat kerja


Nama
Kegiatan
Institusi
Tempat
Kerja
Ber-PHBS

.1.2.8

Hasil
Kegiatan

Angka
Standar

Angka
Cakupan
Kegiatan

25%x
klasifikas
i IV

Nilai
Standar
Setiap
Kegiatan

Nilai
Pencapaian
Hasil
Kegiatan
Puskesmas

Kesimpulan

45

Tidak ada
data

Cakupan Peran Serta Masyarakat

22

Menurut Stratifikasi Puskesmas Provinsi Jawa Barat tahun 1999/2000, cakupan


peran serta masyarakat terdiri atas:
a.

Tingkat kemandirian posyandu yang dinilai dari format tingkat perkembangan


posyandu berdasarkan beberapa indikator, yaitu :
1. Kader tugas
a. < 5 orang : Pratama
b. > 5 orang : Madya, Purnama, Mandiri
2. Frekuensi penimbangan
a. < 8 kali : Pratama
b. > 8 kali : Madya, Purnama, Mandiri
3. Cakupan kumulatif KB
a. < 50% : Pratama, Madya
b. > 50% : Purnama, Mandiri
4. Cakupan kumulatif KIA
a. < 50% : Pratama, Madya
b. > 50% : Purnama, Mandiri
5. Cakupan kumulatif Imun
a. < 50% : Pratama, Madya
b. > 50% : Purnama, Mandiri
6. Rata- rata cakupan gizi
a. < 50% : Pratama, Madya
b. > 50% : Purnama, Mandiri
7. Program tambahan : Purnama, Mandiri
8. Dana sehat
a. < 50% : Pratama, Madya, Purnama
b. > 50% : Mandiri

b.

Tingkat kemandirian polindes yang dinilai dari format tingkat perkembangan


polindes berdasarkan beberapa indikator, yaitu:

a.
b.
c.
d.
a.
b.
c.
d.

1. Fisik
Belum ada bangunan tetap dan belum memenuhi syarat : Pratama
Belum ada bangunan tetap tetapi sudah memenuhi syarat : Madya
Ada bangunan tetap tetapi belum memenuhi syarat : Purnama
Ada bangunan tetap dan sudah memenuhi syarat : Mandiri
2. Tempat Tinggal Bidan
Tidak tinggal di desa yang bersangkutan : Pratama
> 3 km : Madya
1 3 km : Purnama
< 1 km : Mandiri

23

3. Pengelolaan Polindes
a. Tidak ada kesepakatan : Pratama
b. Ada tak tertulis : Madya
c. Ada tertulis : Purnama dan Mandiri
4. Cakupan Persalinan di Polindes
a. < 10% : Pratama
b. 10 19% : Madya
c. 20 29% : Purnama
d. > 30% : Mandiri
5. Sarana Air Bersih
a. Tersedia air bersih, belum ada sumber air dan MCK : Pratama
b. Tersedia air bersih, belum ada sumber air tetapi ada MCK : Madya
c. Tersedia air bersih, ada sumber air dan MCK : Purnama
d. Tersedia air bersih, ada sumber air dan MCK dilengkapi dengan SPAL : Mandiri
6. Cakupan Kemitraan Bidan dan Dukun Bayi
a. < 25% : Pratama
b. 25 49% : Madya
c. 50 74% : Purnama
d. > 75% : Mandiri
7. Kegiatan Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) untuk Kelompok
Sasaran
< 6 x : Pratama
6 8 x : Madya
9 12 x : Purnama
> 12 x : Mandiri
8. Dana Sehat/TPKM
a. < 50% : Pratama, Madya dan Purnama
b. > 50% : Mandiri
a.
b.
c.
d.

c.

Pembinaan dan bimbingan dilakukan kepada kader di seluruh posyandu


sebanyak 4 kali dalam setahun. Pembinaan dan bimbingan pada toma dilakukan
kepada minimal 10 orang toma (formal/informal) dari setiap desa sebanyak 1
kali dalam setahun.

d.

Pembinaan kerjasama lintas sektoral mencakup rapat koordinasi lintas sektoral


yang dilakukan minimal 4 kali dalam setahun.

e.

Kelompok dana sehat.

24

Dana sehat adalah kegiatan swadaya masyarakat secara gotong royong, untuk
menjamin pemeliharaan kesehatan perorangan dan keluarga melalui
peningkatan manajemen pendanaan. Jumlah kelompok dana sehat yang dilayani
oleh puskesmas dibentuk oleh masyarakat, berfungsi dan mendapat pelayanan
dari puskesmas (PPK Puskesmas). Jumlah penduduk yang telah menjadi
anggota dana sehat/ASKES/Jamsostek/jenis asuransi kesehatan lainnya.
Tabel 2.14 Peran serta masyarakat menurut stratifikasi puskesmas
Nilai
Standar
Setiap
Kegiatan

Nilai
Pencapaian
Hasil
Kegiatan
Puskesmas

Kesimpulan

Hasil
Kegiatan

Angka
Standar

Angka
Cakupan
Kegiatan

25% x 5 =
1,25

111

Tidak ada data

Tidak ada
data

110

Tidak ada data

Pembinaan dan
Bimbingan
Kader & Toma

Kader =
4x dalam 1
tahun
Toma = 1x
dalam 1
tahun

Kader (72)
Toma (37)

Tidak ada data

Pembinaan
Kerjasama
Lintas Sektoral

4x setahun

54

Tidak ada data

35% x
56.245 =
19.685

PKM (100)
Asuransi
Kesehatan
(68)

Tidak ada data

Peran Serta
Masyarakat
Tingkat
Kemandirian
Posyandu
Tingkat
Kemandirian
Polindes

Kelompok
Dana Sehat

2.1.3 Identifikasi Masalah


Tabel 2.15 Daftar masalah/kesenjangan promosi kesehatan Puskesmas Cihampelas tahun
2014
No
Variabel
Kesenjangan
Stratifikasi
1. Cakupan Komunikasi Interpersonal dan
-4,35
Konseling (KIP/K)
2. Cakupan penyuluhan kelompok oleh petugas di
-43,75
+208

25

3.
4.
5.
6.
7.
8.

dalam gedung puskesmas


Cakupan institusi kesehatan ber-PHBS
Cakupan pengkajian dan pembinaan PHBS di
tatanan rumah tangga
Cakupan pemberdayaan masyarakat melalui
penyuluhan kelompok oleh petugas di masyarakat
Cakupan pembinaan UKBM dilihat melalui
persentase (%) Posyandu Purnama & Mandiri
Cakupan pembinaan pemberdayaan masyarakat
dilihat melalui persentase (%) RW Siaga Aktif
Cakupan pemberdayaan individu / keluarga
melalui kunjungan rumah

-62,3

-73

-41,52
+1,07
+40
-48,32

Tidak ada
data
Tidak ada
data
Tidak ada
data
Tidak ada
data

Tabel 2.16 Penentuan prioritas masalah


Variabel
Cakupan
Komunikasi
Interpersonal dan
Konseling
(KIP/K)
Cakupan
penyuluhan
kelompok oleh
petugas di dalam
gedung
puskesmas
Cakupan institusi
kesehatan berPHBS
Cakupan
pengkajian dan
pembinaan PHBS
di tatanan rumah
tangga

Variabel
Cakupan
pemberdayaan
masyarakat
melalui
penyuluhan
kelompok oleh
petugas di

Degree of
Social
Unmeet
Benefit
Need

Prevalence

Severity

Prevalence

Severity

Resources
Availability

Jumlah

15

18

17

19

Resources
Availability

Jumlah

18

Degree of
Social
Unmeet
Benefit
Need
2
4

Technical
Feasibility

Technical
Feasibility
2

26

masyarakat
Cakupan
pembinaan
UKBM dilihat
melalui
persentase (%)
Posyandu
Purnama &
Mandiri
Cakupan
pembinaan
pemberdayaan
masyarakat
dilihat melalui
persentase (%)
RW Siaga Aktif
Cakupan
pemberdayaan
individu /
keluarga melalui
kunjungan rumah

17

14

17

2.1.4 Analisis Data Promosi Kesehatan


2.1.4.1 Input
a.

Man
Penanggung jawab program kesehatan di Puskesmas Cihampelas adalah satu

orang perawat. Tenaga tidak memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai dan
jumlah tenaga kerja kesehatan di lapangan kurang memadai.
b.

Money
Dana atau anggaran berasal dari dinas kesehatan. Dana atau anggaran yang

dibutuhkan sudah cukup dan tidak ada masalah.


c.

Material
Alat-alat pendukung seperti poster atau leaflet untuk melakukan penyuluhan

dirasakan kurang sehingga harus diperbanyak.


d. Machine

27

Peralatan yang digunakan dalam melakukan program penyuluhan berupa alat


audio visual sudah cukup memadai.
e.

Method
Kegiatan promosi kesehatan dengan penyuluhan dilakukan di dalam dan di luar

gedung.
f.

Market
Kurangnya kepedulian dan kesadaran beberapa masyarakat di wilayah kerja

Puskesmas Cihampelas dalam mengikuti program yang dilaksanakan dari puskesmas.


g.

Minute
Kegiatan promosi kesehatan untuk penyuluhan di dalam gedung dijadwalkan

secara rutin minimal delapan kali setiap bulan. Namun, terdapat ketidaktersediaan
waktu yang terprogram atau tidak rutin untuk penyuluhan di luar gedung puskesmas.

2.1.4.2 Proses
a.

Planning
Penyuluhan PHBS dilakukan baik di dalam dan diluar gedung.
Pembinaan dan penambahan kader.
Pembinaan peran aktif masyarakat.
Kerjasama lintas sektoral dengan pemerintah, tokoh masyarakat setempat, dan

pihak swasta.
Kerjasama lintas program dengan pemegang program kesehatan lingkungan,
gizi, dan kesehatan ibu dan anak.
Pencatatan dan Pelaporan.
b. Organizing

28

Dalam pelaksanaan program promosi kesehatan memerlukan kerjasama lintas


sektoral dan program agar dapat berjalan secara optimal.
c.

Actuating
Dilaksanakannya penyuluhan PHBS baik di dalam gedung dan luar gedung.
Dilaksanakan pembinaan kader.
Dilaksanakan pembinaan peran aktif masyarakat.
Dilaksanakan kerjasama lintas sektoral dengan pemerintah dan tokoh

masyarakat setempat.
Dilaksanakan kerjasama lintas program dengan pemegang program kesehatan
lingkungan, gizi, dan kesehatan ibu dan anak.
Dilaksanakan pencatatan dan pelaporan.
d. Controlling
Pengawasan yang dilaksanakan Puskesmas Cihampelas untuk pelaksanaan
program ini adalah pengawasan langsung oleh pemegang program promosi kesehatan
yang bertanggung jawab secara langsung kepada kepala puskesmas.
e. Evaluation
Evaluasi dilakukan oleh pemegang program dan dilaporkan setiap bulan ke
kepala puskesmas dan dinkes.
2.1.4.3 Output
a. Availability
Program PHBS telah disusun secara sistematis untuk digunakan di masyarakat.
b. Acceptability
Penerimaan tentang program PHBS oleh masyarakat di wilayah kerja
puskesmas dirasakan kurang baik dikarenakan kurangnya kepedulian dan kesadaran
mengenai program tersebut.

29

c. Accessibility
Kegiatan penyuluhan program PHBS yang dilakukan di Puskesmas bisa
dijalankan secara maksimal selama tenaga kesehatan dari puskesmas maupun kader
memadai, kader mengerti cara pengisian formulir pendataan PHBS, dan masyarakat
mampu kooperatif dalam melaksanakan program tersebut.
d. Accountability
Pelaksana program merupakan bukan ahli di bidangnya karena tidak memiliki
latar belakang pendidikan yang sesuai. Seharusnya pemegang program promkes ialah
SKM (Sarjana Kesehatan Masyarakat).
e. Care
Petugas puskesmas dan kader sudah memberikan pelayanan dan penyuluhan,
akan tetapi pemahaman dan aplikasi pelaksanaan PHBS di masyarakat masih kurang.
Hal ini dapat dilihat dari hasil cakupan PHBS yang belum mencapai target.
f. Continuity
Keberlangsungan kegiatan promosi kesehatan kurang berjalan dengan baik oleh
karena keterbatasan petugas dan ketidaktersediannya waktu yang terprogram dari
promkes ini.
g. Competency
Kemampuan petugas masih belum sesuai dengan program promosi kesehatan
ini dikarenakan oleh latar belakang pendidikan yang kurang sesuai.
h. Comprehensibility
Pelaksanaan program yang seharusnya dilakukan tidak sebanding dengan
minimnya jumlah tenaga kesehatan di puskesmas.

30

2.1.4.4 Analisis SWOT


Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan suatu program di
Puskesmas Cihampelas adalah sebagai berikut:
a. Strength

Lokasi puskesmas yang strategis dan mudah di jangkau.


Tersedianya posyandu dan kader di setiap RW.

b. Weakness

Kurangnya tenaga kesehatan dari pihak puskesmas untuk


melaksanakan program promosi kesehatan.
Jadwal penyuluhan belum berjalan secara optimal.

c. Opportunity

Kerjasama dengan kader untuk menjangkau masyarakat.


Sarana perhubungannya baik dan mudah dijangkau.

d. Threats
Kurangnya motivasi dan kepedulian masyarakat terhadap penerapan program
PHBS
Kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya perilaku hidup bersih
dan sehat.
Pemahaman kader di setiap RW terhadap pengisian formulir PHBS belum
baik, sehingga hasil pendataan PHBS tidak akurat.
2.1.5 Plan Of Action

31

Masalah yang dapat dianalisa adalah pembinaan PHBS dalam tatanan rumah
tangga
Tabel 2.17 Penyebab dan pemecahan masalah pemeriksaan laboratorium puskesmas
No
1.
2.
3.

Penyebab Masalah
Kepedulian masyarakat
tentang PHBS masih kurang
Sistem pembinaan terhadap
masyarakat masih kurang
optimal
Kurangnya sarana penyuluhan
(Leaflet & Brosur)

Pemecahan Masalah
Penyuluhan PHBS
Penyuluhan PHBS
penggandaan leaflet dan brosur

Tabel 2.18 POA


Sumber daya
Kegiatan

Tujuan

Pelatihan
Kader
dalam
melaksanakan
pendataan PHBS
tatanan
rumah
tangga

Untuk
meningkatkan
pengetahuan
Kader
dalam
melaksanakan
pendataan PHBS

Penyuluhan PHBS

Untuk
meningkatkan
pengetahuan
masyarakat
tentang
PHBS

Sasaran

Target

Kader RW

Tersosialisasinya
tatanan
PHBS
kepada
kader (

Masyarakat

Masyarakat
mengerti
pentingnya
PHBS

Indikator
Keberhasilan

Waktu
Pelaksanaan

Alat

Tenaga

Leaflet

Dokter,
dokter
gigi,
perawat,
bidan,
petugas
gizi

Meningkatnya
pengetahuan
masyarakat
tentang
kesehatan

Awal
tahun

Leaflet

Dokter,
dokter
gigi,
perawat,
bidan,
petugas
gizi

Meningkatnya
pengetahuan
masyarakat
tentang
PHBS

Sebulan
sekali

32

2.2

Upaya Kesehatan Lingkungan

2.2.1 Program Kesehatan Lingkungan


Kesehatan lingkungan puskesmas mencakup rumah sehat, sarana air bersih,
jamban keluarga, sarana pembuangan air limbah (SPAL), pengawasan tempat-tempat
umum (TTU), pengawasan tempat pengolahan makanan, pengawasan tempat
industri, pengawasan klinik sanitasi, pengawasan tempat pengumpulan/pembuangan
sampah, dan tempat pengelolahan pestisida (TP2).
2.2.1.1 Cakupan Pengawasan Rumah Sehat
Berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas, Rumah sehat adalah bangunan
rumah tinggal yang memenuhi syarat kesehatan, yaitu rumah yang memiliki jamban
sehat, sarana air bersih, pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah,
ventilasi yang baik, kepadatan hunian rumah yang sesuai, dan lantai yang tidak
terbuat dari tanah (kedap air).
Syarat rumah sehat, yaitu:
a. Pencahayaan

: cukup, terang di semua ruangan untuk membaca.

b. Atap

: tidak bocor.

c. Dinding

: bersih, kering, dan kuat.

d. Tersedia jamban keluarga yang sehat.


e. Tersedia air bersih.
f. Pengudaraan

: segar, banyak udara yang masuk.

33

g. Lantai : bersih, teratur, rapih, ada dinding pemisah,


bebas tikus dan nyamuk.
h. Ada sarana pembuangan air limbah.
Definisi operasional berdasarkan penilaian kinerja puskesmas (PKP), yaitu:
Cakupan rumah sehat adalah persentase jumlah rumah sehat yang ada di
wilayah kerja puskesmas pada kurun waktu satu tahun.
Sasaran adalah jumlah rumah penduduk yang ada di wilayah kerja puskesmas
dalam kurun waktu satu tahun.
Tabel 2.19 Pengawasan rumah sehat Puskesmas Cihampelas pada tahun 2014 berdasarkan
penilaian kinerja puskesmas
Nama
Pencapaian Sasaran Target Cakupan
Kesenjangan
Kesimpulan
Kegiatan
(8786/17
Tidak
Rumah
274)x
50,8%-75%
8786
17274
75%
memenuhi
Sehat
100% =
= -24,5%
target
50,8%

Definisi operasional berdasarkan Stratifikasi Puskesmas:


Jumlah rumah yang diperiksa sanitasinya adalah jumlah kumulatif kepala
keluarga yang diberi petunjuk sanitasi rumah dalam kurun waktu satu tahun.
Jumlah rumah yang memenuhi syarat sanitasi adalah jumlah rumah yang
memenuhi syarat sanitasi dalam kurun waktu satu tahun.

Tabel 2.20 Pengawasan rumah sehat Puskesmas Cihampelas pada tahun 2014 berdasarkan
Stratifikasi Puskesmas
Nama
Pencapaian Sasaran Target Cakupan
Kesenjangan
Kesimpulan
Kegiatan
Jumlah
13289
17274
100%
(13289/1 76,9-100% =Tidak
Rumah yang
7274)x
23,1
memenuhi
diperiksa
100%
target
=76,9%
Jumlah
rumah yang
8786
13289
60%
(8786/13
66,1%-60%
Memenuhi

34

memenuhi
syarat
sanitasi

289)x
100%=
66,1%

=6,09%

target

2.2.1.2 Cakupan Pengawasan Sarana Air Bersih


Berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas, Air bersih adalah air yang digunakan
untuk keperluan sehari-hari, seperti minum/masak serta mandi/cuci dan lain-lain.
Persyaratan fisik air bersih, yaitu jernih, tidak berbau, dan tidak berasa. Persyaratan
bakteriologis air bersih, yaitu tidak mengandung E.Coli. Air bersih dapat diperoleh
dari sarana air berupa sarana air bersih nonperpipaan, seperti sumur gali (SG) dan
sumur pompa tangan (SPT). Sedangkan sarana air bersih perpipaan, seperti kran
umum, hidran umum, terminal air, penampungan mata air (PAH), dan lain-lain.
Definisi operasional berdasarkan penilaian kerja puskesmas (PKP), yaitu:
Cakupan pengawasan sarana air bersih adalah persentase jumlah sarana air
bersih yang diperiksa di wilayah kerja puskesmas dalam kurun waktu satu
tahun.
Sasaran adalah jumlah sarana air bersih yang ada di wilayah kerja puskesmas
dalam kurun waktu satu tahun.
Tabel 2.21 Pengawasan sarana air bersih Puskesmas Cihampelas pada tahun 2014
berdasarkan penilaian kinerja puskesmas
Nama
Pencapaian Sasaran Target Cakupan Kesenjangan Kesimpulan
Kegiatan
(4975/8
Pengawas
358)x
59,52% Tidak
an sarana
4975
8358
80%
100%
80%
memenuhi
air bersih
=59,52
= -40,48%
target
%

35

Definisi operasional berdasarkan stratifikasi Puskesmas, yaitu:


Jumlah penduduk yang memakai air bersih seluruhnya adalah jumlah penduduk
yang tercakup oleh sarana air bersih yang tersedia oleh pemerintah maupun
swadaya masyarakat.
Jumlah penduduk yang memakai air bersih, yaitu jumlah penduduk yang
memakai air bersih dari perpipaan mata air (PP), penampungan air hujan (PAH),
perlindungan mata air (PMA), sumur artesis (SA), sumur pompa tangan (SPT),
sumur gali (SG), dan perusahaan air minum (PAM).

Tabel 2.22 Pengawasan sarana air bersih Puskesmas Cihampelas pada tahun 2014 menurut
Stratifikasi Puskesmas
Nama
Pencapaian Sasaran Target Cakupan
Kesenjangan
Kesimpulan
Kegiatan
Jumlah
penduduk
(46521/5
Tidak
yang
889)x
7,89% - 60%
46521
58839
60%
memenuhi
memakai
100% =
= -52,11%
target
sarana air
%
bersih

2.2.1.3 Cakupan Pengawasan Jamban


Berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas, Jamban sehat adalah fasilitas
pembuangan tinja dan menggunakan septic tank dengan sarana air bersih. Jamban
terdiri dari 3 bagian, yaitu rumah jamban, lubang jamban, dan tempat penampungan

36

tinja yang disebut septic tank. Kriteria jamban sehat, yaitu ruangan cukup leluasa
untuk bergerak, pencahayaan dan ventilasi cukup, lantai tidak licin, tidak menjadi
sarang serangga, dan septic tank sekurang-kurangnya 10 m dari sumber air.
Definisi operasional berdasarkan penilaian kerja puskesmas, yaitu:
Cakupan pengawasan jamban adalah persentase jumlah jamban yang diperiksa
di wilayah kerja puskesmas dalam kurun waktu satu tahun.
Sasaran adalah jumlah sarana jamban yang ada di wilayah kerja puskesmas
dalam kurun waktu satu tahun.
Tabel 2.23 Pengawasan jamban Puskesmas Cihampelas pada tahun 2014 berdasarkan
penilaian kinerja puskesmas
Nama
Pencapaian Sasaran Target
Cakupan
Kesenjangan
Kesimpulan
Kegiatan
Pengawasan
jamban

4979

75%

Definisi operasional berdasarkan stratifikasi Puskesmas, yaitu:


Jumlah penduduk yang telah menggunakan jamban keluarga (Jaga) adalah
jumlah jamban keluarga yang dibangun oleh pemerintah maupun swadaya
masyarakat dalam wilayah kerja puskesmas secara kumulatif.
Tabel 2.24 Pengawasan jamban Puskesmas Cihampelas pada tahun 2014 berdasarkan
Stratifikasi Puskesmas
Nama
Pencapaian Sasaran Target
Cakupan
Kesenjangan
Kesimpulan
Kegiatan
Jumlah
penduduk
yang telah
memakai
Jaga

46521

58839

45%

(46521/55
8839)x
100% =
79%

79%-45%
= 34 %

Memenuhi
Target

37

2.2.1.4 Cakupan Pengawasan Sarana Pembuangan Air Limbah (SPAL)


Berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas, Sarana pembuangan air limbah
merupakan sarana untuk pembuangan air limbah rumah tangga. Sarana pembuangan
air limbah sehat adalah fasilitas pembuangan air limbah yang sifatnya tertutup dan
tidak mencemari.
Definisi operasional berdasarkan penilaian kerja puskesmas, yaitu:
Cakupan pengawasan SPAL adalah persentase jumlah SPAL (jumlah rumah
tangga) yang diperiksa di wilayah kerja puskesmas dalam kurun waktu satu
tahun.
Sasaran adalah jumlah SPAL rumah tangga yang ada di wilayah kerja
Puskesmas dalam kurun waktu satu tahun.
Tabel 2.25 Pengawasan SPAL Puskesmas Cihampelas pada tahun 2014 berdasarkan penilaian kerja
puskesmas
Nama
Pencapaian
Sasaran
Target
Cakupan
Kesenjangan
Kesimpulan
Kegiatan
Sarana
pembuangan air
limbah

1328

80%
-

Definisi operasional berdasarkan stratifikasi puskesmas, yaitu:


Sarana pembuangan air limbah adalah saluran air buangan kedap air yang
dilengkapi antara lain dengan bangunan pengolahan sederhana

38

(pengendapan/pengapungan dan saringan), saluran langsung dimasukan


bangunan peresapan tidak dibuang ke sungai.
Jumlah rumah dengan SPAL seluruhnya adalah jumlah rumah dengan SPAL
yang dibangun pemerintah maupun yang dibangun swadaya masyarakat dalam
kurun waktu satu tahun.
Tabel 2.26 Pengawasan SPAL Puskesmas Cihampelas pada tahun 2014 berdasarkan stratifikasi
puskesmas
Nama
Pencapaian
Sasaran
Target
Cakupan
Kesenjangan
Kesimpulan
Kegiatan
Jumlah
rumah
dengan
SPAL
seluruh-nya

16026

17274

51%

(16026/172
74)x 100%
= 92,7%

92,7%- 51%=
41,7%

Memenuhi
target

2.2.1.5 Cakupan Pengawasan Tempat-Tempat Umum (TTU)


Berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas, Tempat umum adalah suatu
bangunan atau tempat yang dipergunakan untuk sarana pelayanan umum. Tempat
umum yang memenuhi syarat, yaitu terpenuhinya sanitasi dasar, seperti air, jamban,
limbah, dan sampah. Terlaksananya pengendalian vektor, pencahayaan, dan ventilasi
sesuai dengan kriteria atau persyaratan atau standar kesehatan.
Definisi operasional berdasarkan penialaian kerja puskesmas, yaitu:
Cakupan pengawasan TTU adalah persentase jumlah TTU yang diperiksa di
wilayah kerja puskesmas dalam kurun waktu satu tahun.
Sasaran adalah jumlah TTU yang ada di wilayah kerja puskesmas dalam kurun
waktu satu tahun.

39

Tabel 2.27 Pengawasan sarana TTU Puskesmas Cihampelas berdasarkan pada tahun 2014
penilaian kerja puskesmas
Nama
Pencapaian
Sasaran
Target
Cakupan
Kesenjangan
Kesimpulan
Kegiatan
Pengawasan
TTU

52

110

75%

(52/110)x
100%
=47%

47-75=-28%

Tidak
memenuhi
target

Definisi operasional berdasarkan stratifikasi puskesmas, yaitu:


Jumlah TTU yang diperiksa adalah jumlah TTU yang diperiksa selama 1 tahun
kalender dalam wilayah kerja puskesmas.
Jumlah TTU yang memenuhi syarat sanitasi adalah TTU yang memenuhi syarat
kesehatan dalam kurun waktu satu tahun.
Tabel 2.28 Pengawasan TTU Puskesmas Cihampelas pada tahun 2014 berdasarkan stratifikasi
puskesmas
Nama
Pencapaian
Sasaran
Target
Cakupan
Kesenjangan
Kesimpulan
Kegiatan
Jumlah
(52/110)
Tidak
47,2%-100% =-TTU yang
52
110
100%
x100%
Memenuhi
52,8%
diperiksa
=47,2%
target
Jumlah
TTU yang
memenuhi syarat
sanitasi

25

52

75%

(25/52)
x100% 48=
%

48%-75%
= -27%

Tidak
memenuhi
target

2.2.1.6 Cakupan Pengawasan Tempat Pengolahan Makanan (TPM)


Berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas, Tempat pengolahan makanan
merupakan suatu bangunan yang dipergunakan untuk mengelola makanan. Tempat
pengolahan makanan yang memenuhi syarat, yaitu terpenuhinya sanitasi dasar (air,
jamban, limbah, dan sampah), terlaksananya pengendalian vektor, higiene sanitasi,
makanan minuman, pencahayaan, dan ventilasi sesuai dengan kriteria persyaratan
atau standar kesehatan.

40

Definisi operasional berdasarkan penilaian kerja puskesmas, yaitu:


Cakupan pengawasan TPM adalah persentase jumlah TPM yang diperiksa di
wilayah kerja puskesmas dalam kurun waktu satu tahun.
Sasaran adalah jumlah TPM yang ada di wilayah kerja puskesmas dalam kurun
waktu satu tahun.
Tabel 2.29 Pengawasan sarana TPM Puskesmas Cihampelas pada tahun 2014 berdasarkan
penilaian kerja puskesmas
Nama
Pencapaian
Sasaran
Target
Cakupan
Kesenjangan
Kesimpulan
Kegiatan
Penga(42/97)x
43,29%Tidak
wasan
42
97
75%
100% =
75%=
memenuhi
TPM
43,29%
-31,71%
target

Definisi operasional berdasarkan stratifikasi puskesmas, yaitu:


Jumlah TPM yang telah diperiksa adalah jumlah TPM yang telah diperiksa
selama satu tahun kalender (dikunjungi minimal 2 kali untuk dilakukan
pembinaan/penyuluhan).
Jumlah TPM yang memenuhi syarat sanitasi adalah jumlah TPM yang
memenuhi syarat kesehatan dalam kurun waktu satu tahun.
Tabel 2.30 Pengawasan TPM Puskesmas Cihampelas pada tahun 2014 berdasarkan
stratifikasi puskesmas
Nama
Pencapaian Sasaran
Target
Cakupan
Kesenjangan
Kesimpulan
Kegiatan
Jumlah
(42/97)x
Tidak
TPM yang
43,2%-100%=
42
97
100%
100%=43
memenuhi
diperiksa
-56,8%
,2
target
Jumlah
TPM yang
meme-nuhi
syarat
sanitasi

19

42

75%

(19/42)
x100%
=45,2%

45,2%-75%
=-54,8%

Tidak
memenuhi
target

41

2.2.1.7 Cakupan Pengawasan Industri


Berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas, Industri adalah industri rumah
tangga yang mengelola makanan dan minuman atau disebut PIRT (Perusahaan
Industri Rumah Tangga). Pengawasan kesehatan lingkungan kerja perkantoran atau
industri dilaksanakan secara berkala sekurang-kurangnya satu kali dalam setahun.
Pengawasan kesehatan lingkungan kerja meliputi penyehatan air, penyehatan udara,
pengelolaan limbah, pencahayaan, kebisingan, getaran, radiasi, pengendalian vektor
penyakit, penyehatan ruang dan bangunan, instalasi serta pengawasan kebersihan
toilet, dan lain-lain yang dianggap perlu baik secara fisik maupun laboratoris dengan
menggunakan formulir pengawasan.
Definisi operasional berdasarkan penialaian kerja puskesmas, yaitu:
Cakupan pengawasan industri adalah persentase pengawasan industri yang
dilaksanakan oleh petugas puskesmas yang ada di wilayah kerja puskesmas
dalam kurun waktu satu tahun.
Sasaran adalah jumlah industri yang ada di wilayah kerja puskesmas dalam
kurun waktu satu tahun.
Tabel 2.31 Pengawasan industri Puskesmas Cihampelas pada tahun 2014 berdasarkan
penilaian kerja puskesmas
Nama
Pencapaian Sasaran
Target
Cakupan
Kesenjangan
Kesimpulan
Kegiatan
Pengawasan industri

75%

42

Definisi operasional berdasarkan stratifikasi puskesmas, yaitu:


Jumlah industri yang diperiksa buangan limbahnya adalah jumlah industri yang
diperiksa selama 1 tahun kalender dalam wilayah kerja puskesmas.
Jumlah industri yang buangan limbahnya memenuhi syarat kualitas adalah
jumlah industri yang buangan limbahnya memenuhi syarat sanitasi dalam kurun
waktu satu tahun.
Tabel 2.32 Pengawasan industri Puskesmas Cihampelas pada tahun 2014 berdasarkan
stratifikasi puskesmas
Nama
Pencapaian
Sasaran
Target
Cakupan
Kesenjangan
Kesimpulan
Kegiatan
Jumlah
industri
yang
diperiksa
100%
buangan
limbahnya
Jumlah
industri
yang
memenuhi
syarat
sanitasi

75%

2.2.1.8 Cakupan Pengawasan Klinik Sanitasi


Berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas, Klinik sanitasi merupakan suatu
wahana yang berfungsi mengatasi masalah kesehatan lingkungan untuk pencegahan
penyakit dengan bimbingan, penyuluhan, dan bantuan teknis dari petugas puskesmas
melalui proses konseling dan kunjungan rumah penderita berbasis lingkungan dan
klien.
Definisi operasional berdasarkan penilaian kerja puskesmas, yaitu:

43

Cakupan pengawasan klinik sanitasi adalah persentase konseling yang diberikan


oleh petugas puskesmas pada penderita penyakit berbasis lingkungan atau klien
di puskesmas dalam kurun waktu satu tahun.
Sasaran adalah jumlah penderita berbasis lingkungan dan klien di wilayah kerja
puskesmas dalam kurun waktu satu tahun.
Tabel 2.33 Pengawasan klinik sanitasi Puskesmas Cihampelas pada tahun 2014
Nama
Pencapaian Sasaran Target Cakupan
Kesenjangan
Kesimpulan
Kegiatan
Klinik
Sanitasi

20%

2.2.1.9 Cakupan Pengawasan Tempat Pengelolaan Pestisida (TP2)


Angka standar berdasarkan stratifikasi puskesmas, yaitu:
Jumlah TP2 yang diperiksa di ibukota/kecamatan = 80% TP2 yang ada.
Jumlah TP2 yang diperiksa di pedesaan = 40% TP2 yang ada.
Tabel 2.34 Pengawasan tempat pengelolaan pestisida (TP2) Puskesmas Cihampelas pada
tahun 2014 berdasarkan Stratifikasi Puskesmas
Nama
Pencapaian Sasaran Target
Cakupan
Kesenjangan
Kesimpulan
Kegiatan
Jumlah
TP2 yang
diperiksa
80%
di ibukota/
kecamatan
Jumlah
TP2 yang
diperiksa
di
pedesaan

40%

2.2.1.10 Cakupan Pengawasan Tempat Pengumpulan/Pembuangan Sampah

44

Angka standar berdasarkan stratifikasi puskesmas, yaitu:


Jumlah TPS (Tempat Pembuangan Sementara) yang diperiksa = 100% TPS
yang ada.
Jumlah TPA (Tempat Pembuangan Akhir) yang diperiksa = 100% TPA yang
ada.
Tabel 2.35 Pengawasan tempat pengumpulan/pembuangan sampah Puskesmas Cihampelas
pada tahun 2014 berdasarkan stratifikasi puskesmas
Nama
Pencapaian Sasaran Target
Cakupan
Kesenjangan
Kesimpulan
Kegiatan
Jumlah
TPS
(Tempat
pembua(600/146
Tidak
41%-100%=
ngan
600
1463
100%
3)x100%
memenuhi
-59%
sementa=41%
target
ra) yang
diperiksa
Jumlah
(TPA)
tempat
pembuangan
akhir
yang
diperiksa

100%

2.2.2 Identifikasi Masalah


Tabel 2.36 Identifikasi upaya kesehatan lingkungan Puskesmas Cihampelas tahun 2014
No
Program
Kesenjangan
PKP
Stratifikasi
1.
Pengawasan Rumah Sehat
-24,5
-23,1%
6,09
2.
Pengawasan Sarana Air Bersih
-40,48%
-52,11%
3.
Pengawasan TPM
-31,71%
-56,8%
-54,8%
4.
Pengawasan TTU
-28%
-52,8%
-27%
5.
Tempat pembuangan sampah
-59%

45

2.2.3 Penentuan Prioritas Masalah


Tabel 2.37 Prioritas masalah Puskesmas Cihampelas pada tahun 2014
No

Variabel

Prevalenc
e

Severit
y

Degree
of
Unmee
t Need

Social
Benefi
t

Technical
Feasibilit
y

Resources
Availabilit
y

Jumla
h

1.

Pengawasan
rumah sehat
Pengawasan
sarana air
bersih
Pengawasan
TPM
Pengawasan
TTU
Pengawasan
tempat
pembuanga
n sampah

17

20

15

14

22

2.
3.
4.
5,

2.2.4 Analisis Kegiatan Klinik Sanitasi


2.2.4.1 Input
a. Man
Program upaya kesehatan lingkungan di Puskesmas Cihampelas dipegang oleh
1 orang petugas. Karena jumlah petugas yang ada hanya sedikit sehingga program
tidak berjalan dengan baik.

b. Money
Sejauh ini belum ada masalah yang dihadapi soal biaya dalam pelaksanaan
pengawasan tempat pembuangan sampah.

c. Material

46

Alat transportasi untk pengawasan kemungkinan tidak mendukung untuk


menjangkau daerah-daerah dengan jalan desa atau jalan perkebunan.
d. Machine
e. Methode
f. Minute
Pelaksanaan program pengawasan tempat pembuangan sampah di Puskesmas
Cihampelas berlangsung bersamaan dengan jam kerja puskesmas tiap harinya yaitu
senin sampai sabtu pukul 08.00 s.d 14.00.
g. Market
Sasaran kegiatan pengawasan tempat pembuangan sampah adalah seluruh
tempat pembuangan sampah yang ada di wilayah kerja Puskesmas Cihampelas.
2.2.4.2 Proses
a. Planning
Target didasarkan dari Dinas Kesehatan Provinsi. Berdasarkan hasil pencapaian
kegiatan yang belum tercapai, dalam masalah ini telah dipertimbangkan oleh petugas
dan kader-kader di tiap RW Puskesmas Cihampelas untuk mengatasi masalah
kesehatan lingkungan sebagai pencegahan penyakit.
b.

Organizing
Dalam pelaksanaan kegiatan memerlukan kerjasama banyak pihak terutama

masyarakat setempat, lintas sektoral, yaitu pihak kelurahan dan kecamatan setempat,
puskesmas yang berbatasan, dan tokoh masyarakat setempat. Kerjasama lintas

47

program, yaitu program promosi kesehatan, gizi, dan P2P yang mengerti mengenai
masalah yang dihadapi.
c. Actuating
Pengawasan tempat pembuangan sampah telah dilakukan oleh pemegang
program, jumlah sasaran belum jelas
Pendataan dan pelaporan tempat pembuangan sampah oleh pemegang program
d.

dapat secara langsung diberikan kepada kepala puskesmas.


Controlling
Pengawasan untuk pelaksanaan kegiatan ini adalah pengawasan langsung oleh

koordinator program kesehatan lingkungan yang bertanggung jawab secara langsung


kepada kepala puskesmas dan dinas kesehatan.
2.2.4.3 Output
a. Availability
Ketersediaan tempat pembuangan sampah masih kurang
b. Acceptability
Penerimaan kegiatan oleh masyarakat di wilayah kerja puskesmas dirasakan
sudah baik.
c. Accessibility
Pelaksanaan pengawasan tempat pembuangan sampah masih kurang terjangkau
d. Accountability
Pelaksana program merupakan ahli di bidangnya karena memiliki latar belakang
pendidikan yang sesuai, yaitu D3 kesehatan lingkungan (AKL).

e. Care

48

Tingkat keperdulian masyarakat mengenai tempat pembuangan sampah di


wilayah kerja puskesmas cihampelas masih kurang.
f. Continuity
Program berlangsung terus menerus dan berkesinambungan.
g. Competency
Kompetensi dari petugas program upaya kesehatan lingkungan di Puskesmas
Cihampelas sudah baik.
h. Comprehensibility
Pemahaman mengenai kegiatan ini masih kurang pada masyarakat di wilayah
puskesmas setempat.
2.2.4.4 Analisis SWOT
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan suatu program di
Puskesmas Cihampelas adalah sebagai berikut:
a. Strength
Keunggulan dari program upaya kesehatan lingkungan adalah letak Puskesmas
yang strategis sehingga memungkinkan masyarakat untuk mendapatkan penyuluhan
dan konseling.
b. Weakness
Sumber daya manusia dalam pelaksanaan program masih sangat terbatas yaitu
hanya satu orang.
c. Opportunity

49

Adanya dukungan dari kepala puskesmas, dinas kesehatan Kabupaten Bandung


Barat serta kader-kader di setiap RW yang dapat membantu dalam pelaksanaan
program.
d. Threat
Masih kurangnya peran aktif masyarakat untuk penyelesaian masalah
lingkungan dan kurangnya aplikasi pelaksanaan pencegahan penyakit di masyarakat
masih kurang.
2.2.5 Plan of Action
Masalah : Kegiatan pengawasan tempat pembuangan sampah
Tabel 2.38 Penyebab dan pemecahan masalah klinik sanitasi Puskesmas Cihampelas pada
tahun 2014
Penyebab Masalah
Pemecahan Masalah
1. Pemegang program masih kurang
2. Kurangnya pemberdayaan masyarakat

3. Sistem pencatatan yang belum baik

Penambahan petugas kesling.


Melakukan pemberdayaan masyarakat
dengan membentuk kader-kader yang
dapat menjaring tempat pembuangan
sampah di lingkungan tempat tinggal
kader
Memperbaiki sistem pencaatan dan
pelaporan sehingga data yang dilaporkan
akurat.

50

Kegiatan

Tujuan

Sasaran

Target

Pengadaan
dana
transportasi
petugas untuk
pengawasan
tempat
pembuangan
sampah

Meningkatkan angka
pengawasan
tempat
pembuangan
sampah agar
pendataan dan
pelaporan
lebih baik

Tempat
pembua
ngan
sampah

Semua
tempat
pembuan
gan
sampah
yang ada
di
wilayah
kerja
puskesma
s
cihampel
as

Sumber Daya
Alat
kendara
an

Tenaga
Petugas
sanitasi/
kader

Indikator

Waktu

Keberhasilan
Semua tempat
pembuangan
sampah yang
ada di wilayah
kerja
puskesmas
cihampelas

Pelaksanaan
Dimulai di
awal tahun
dan berkesinambungan
hingga akhir
tahun

Tabel 2.39 Plan of action masalah pengawasan tempat pembuangan sampah di Puskesmas
Cihampelas

51

2.3 Kesehatan Ibu Anak dan Keluarga Berencana (KIA dan KB)
2.3.1 Program KIA
Program KIA memiliki beberapa kegiatan diantaranya:
2.3.1.1 Kesehatan Ibu
a. Cakupan jangkauan Pelayanan Kunjungan Ibu hamil K1
Berdasarkan pedoman stratifikasi puskesmas untuk jumlah kunjungan ibu
hamil yang baru diperiksa (k1):
Definisi operasional: Jumlah semua ibu hamil yang dapat pelayanan
pertamakali pada kehamilan triwulan 1 oleh petugas puskesmas (medis, paramedis)
dalam kegiatan KIA baik di dalam maupun diluar gedung wilayah kerja Puskesmas
dan mendapatkan pelayanan 5T.
Angka Standar: 90% x 2,9%x jumlah penduduk
Tabel 2.40 Cakupan Program Kesehatan Ibu Jangkauan Pelayanan Kunjungan Ibu Hamil K1
di Puskesmas Cihampelas pada Tahun 2014 berdasarkan pedoman stratifikasi puskesmas
Nama
Kegiatan

K1

Hasil
Kegiatan

Angka
Standar

Angka
Cakupan
Kegiatan

90%x2,9%x
56971=
1486,9

1097/148
6,9x100%
=
73,77%

Target
Setiap
Kegiatan
90%

Kesenjangan
73,77%90%=
-16,23%

Program Program Kesehatan Ibu Kunjungan Ibu Hamil K1 di Puskesmas


Cihampelas pada Tahun 2014 berdasarkan stratifikasi puskesmas tidak memenuhi
target.

Kesimpulan

tidak
memenuhi
target

52

b. Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K4


Berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas dan Standar Pelayanan Minimal
pengertian cakupan Ibu hamil K4 adalah :
-

ibu hamil yang mendapatkan pelayanan atenatal sesuai tandar paling sedikit
empat kali, dengan distribusi pemberian pelayanan yang dianjurkan adalah
minimal satu kali pada triwulan pertama, satu kali pada triwulan ketiga umur
kehamilan.

Kunjungan ibu hamil sesuai standar adalah pelayanan yang mencakup


minimal: (1) Timbang badan dan ukur tinggi badan, (2) Ukur tekanan darah,
(3) skrining status imunisasi tetanus (dan pemberian Tetanus toksoid), (4)
(ukur) timggi fundus uteri, (5) Pemberian tablet tablet besi (90 tablet selama
kehamilan) (6) Temu wicara, (7) Test laboratorium sederhana (Hb, Protein
urin) dan atau berdasarkan indikasi (HbsAg, Sifilis, HIV, Malaria, TBC)
Definisi Operasional: Cakupan kunjungan ibu hamil K4 adalah cakupan ibu

hamil yang telah memperoleh pelayanan antenatal sesuai dengan standar paling
sedikit empat kali di wilayah kerja puskesmas dalam kurun waktu tertentu.
Sasaran: Jumlah sasaran ibu hamil dihitung melalui estimasi dengan rumus:1,10
X Crude Birth Rate X Jumlah penduduk Kab/Kota/provinsi pada kurun waktu
tertentu. 1,1 adalah konstanta untuk menghitung ibu hamil.
Target: 85,52%

53

Tabel 2.41 Cakupan Program Kesehatan Ibu Kunjungan Ibu Hamil K4 di Puskesmas
Cihampelas tahun 2014 berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas
Nama
Kegiatan

Sasaran

Pencapaian

1,1x0,019x
56971=
1190,6

K4

1006

Target

Cakupan

Kesenjangan

Kesimpulan

85,52%

1006/1190
,6x100%
= 84,4%

84,4%85,52%=
-1,12%

Tidak
memenuhi
target

Program Kesehatan Ibu Kunjungan Ibu Hamil K4 pada tahun 2014


berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas tidak memenuhi target.
Berdasarkan stratifikasi puskesmas:
Definisi Operasional: Jumlah ibu hamil yang telah diperiksa oleh tenaga
kesehatan dengan kualitas 5T (paripurna) dan dengan interval yang benar (T-T-2)
Angka Standar: 75% x 2,9% x jumlah penduduk
Tabel 2.42 Cakupan Program Kesehatan Ibu Kunjungan Ibu Hamil K4 di Puskesmas Cihampelas
pada Tahun 2014 berdasarkan pedoman stratifikasi puskesmas

Nama
Kegiatan

K4

Hasil
Kegiatan

Angka
Standar

Angka Cakupan
Kegiatan

Target
Setiap
kegiatan

Kesenjangan

1006/1239,1x100%
=81,1%

75%

1006

75%x2,
9%x569
71=123
9,1

81,1%-75%=
6,1%

Kesi
mpulan

Memenuhi
target

54

Program Program Kesehatan Ibu Kunjungan Ibu Hamil K4 di Puskesmas


Cihampelas pada Tahun 2014 berdasarkan stratifikasi puskesmas memenuhi target.
c. Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan
Berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas dan Standar Pelayanan Minimal,
pengertian cakupan Ibu hamil K-4 adalah :
-

Pertolongan persalinan adalah proses pelayanan persalinan dimulai pada kala I


sampai dengan kala IV persalinan.

Tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan adalah tenaga


kesehatan yang memiliki kemampuan klinis kebidanan sesuai standar.
Definisi Operasional: Jumlah sasaran ibu bersalin yang dihitung melalui

estimasi dengan rumus: 1,05 x Crude Birth Rate x Jumlah penduduk. Angka CBR dan
jumlah penduduk kabupaten/kota didapat dari data BPS masing-masing
Kabupaten/Kota/Provinsi pada kurun waktu tertentu. 1,05 adalah konstanta untuk
menghitung ibu bersalin.
Sasaran: Jumlah sasaran ibu bersalin yang dihitung melalui estimasi yang
ditentukan oleh BPS Kab/Kota.
Target: 80,44%
Tabel 2.43 Program Kesehatan Ibu Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan di
Puskesmas Cihampelas tahun 2014 berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas
Nama
Kegiatan

Sasaran

Pertolongan
Persalinan
oleh Tenaga
Kesehatan

1,05x0,01
9x56971=
1136,5

Pencapaia
n

953

Target

Cakupan

Kesenjangan

Kesimpulan

80,44%

953/1136,
5x100%=
83,8%

83,8%80,44%=
3,36%

Memenuhi
target

55

Program pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan pada tahun 2014


berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas telah memenuhi target.
Berdasarkan stratifikasi puskesmas
Definisi Operasional: Jumlah persalinan yang ditolong oleh tenaga puskesmas
baik medis maupun paramedis didalam gedung maupun diluar gedung selama
kahamilannya dalam satu periode tahun kalender tidak termasuk swasta karena yang
dinilai adalah prestasi kerja Puskesmas untuk periode satu tahun kalender.
Angka Standar: 65% x 2,77% x jumlah penduduk.
Tabel 2.44 Program Kesehatan Ibu Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan di Puskesmas
Cihampelas tahun 2014 berdasarkan stratifikasi Puskesmas
Hasil
Kegiata
n

Nama
Kegiatan
Pertolonga
n
Persalinan
oleh
Tenaga
Kesehatan

953

Angka
Standar

Angka
Cakupan
Kegiatan

Target
Setiap
kegiatan

kesenjangan

65%x2,77%x
56971=1025,
7

953/1025,7x1
00%=92,91%

65%

92,91%-65%=
27,91%

Kesimpulan

Memenuhi
target

Program Program Kesehatan Ibu pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan


di Puskesmas Cihampelas pada Tahun 2014 berdasarkan stratifikasi puskesmas
memenuhi target.

d. Pertolongan Persalinan oleh dukun bayi terlatih


Berdasarkan pedoman stratifikasi puskesmas untuk pertolongan persalinan
oleh dukun bayi terlatih:

56

Definisi operasional:
-

Dukun bayi terlatih adalah semua dukun bayi yang telah lulus (bersertifikat).
yang ada di dalam wilayah kerja Puskesmas .

Pembinaan dukun adalah pembinaan yang diberikan baik secara kelompok


atau perorangan selama satu tahun dalam bentuk paket kegiatan: refreshing
pelayanan yang telah diberikan, pemeriksaan peralatan dukun (dukun kit),
laporan pertolongan persalinan, keguguran, atau kematian, dan laporan
permasalahan yang berkaitan dengan pertolongan persalinan yang dijumpai di
dukun. Jumlah kehadiran dukun bayi terlatih yang hadir selama diadakan
pembinaan dalam masa satu tahun kalender.
Angka standar: 35% x 2,77% x jumlah penduduk

Tabel 2.44 Program Kesehatan Ibu Pertolongan Persalinan oleh Dukun Bayi Terlatih di
Puskesmas Cihampelas tahun 2014 berdasarkan stratifikasi Puskesmas
Hasil
Kegiata
n

Nama
Kegiatan

Pertolongan
Persalinan
oleh Dukun
Bayi Terlatih

72

Angka
Standar

Angka
Cakupan
Kegiatan

Target
Setiap
kegiatan

35%x2,77%
x56971=552
,3

72/552,3x10
0%=13,03%

35%

kesenjangan

13,03
%-35%=
-21,97

Kesimpulan

Tidak
memenuhi
target

Program Program Kesehatan Ibu pertolongan persalinan oleh dukun bayi


terlatih di Puskesmas Cihampelas pada Tahun 2014 berdasarkan stratifikasi
puskesmas tidak memenuhi target.

57

e. Perawatan dan pemeliharaan ibu menyusui


Berdasarkan pedoman stratifikasi puskesmas untuk perawatan dan
pemeliharaan ibu menyusui:
Definisi operasional:
-

Ibu-ibu yang berada dalam masa 2 tahun setelah melahirkan dan belum hamil
lagi, tanpa mengingat apakah ia meneteki bayinya atau tidak.

Jumlah semua ibu menyusui yang mendapatkan pelayanan pertama kali dari
petugas Puskesmas (medis, paramedis) dalam kegiatan KIA baik di dalam
maupun di lluar gedung dalam masa satu tahun kalender.

Kontak-kontak (kunjungan) berikutnya dari ibu menyusui tersebut dengan


petugas Puskesmas (medis, paramedis) dalam kegiatan KIA baik di dalam
maupun di luar gedung alam masa satu tahun kalender.
Angka standar:

Jumlah ibu menyusui - 2th x angka kelahiran x penduduk = 2 x 2,2675% x


penduduk.

Jangkuan pelayanan 60% x (5,28%) x jumlah penduduk

Frekwensi kunjungan tiap ibu menyusui = minimum 4 kali/ tahun sampai anak
umur 2 tahun.
Nilai standar: 157

f. Komplikasi Kebidanan yang ditangani


Berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas, pengertian cakupan Komplikasi
kebidanan yang dapat mengancam jiwa ibu dan atau bayi.
- Komplikasi dalam kehamilan :

58

1. abortus
2. hyperemesis gravidarum
3.

Perdarahan pervaginam
-

Perdarahan antepartum hamil muda (T1) Abb, KET, hamil tua (TIII) placenta
previa, solucio plasenta.

1.

Hipertensi dalam kehamilan (preeklamsi, eklampsi)

2.

Kehamilan lewat waktu

3.

Ketuban pecah dini


-

Komplikasi dalam persalinan:


1. kelainan letak/ presentasi janin
2. pertus macet/distosia
3. hipertensi dalam kehamilan (prekeklampsi, eklampsi)
4. perdarahan pasca persalinan (dalam 24 jam pertama)
5. infeksi berat/sepsis
6. kontraksi dini/persalinan premature
7. Kehamilan ganda
Komplikasi dalam nifas
1. Hipertensi dalam kehamilan (pre-eklampsi, eklampsia)
2. Infeksi nifas
3. Perdarahan Post Partum Lanjut (>24 jam)
Ibu hamil, ibu bersalin dan nifas dengan komplikasi yang ditagani
adalah ibu hamil, bersalin dan nifas dengan komplikasi yang mendapat

59

pelayanan sesuai standar pada tingkat pelayanan dasar (Polindes, Puskesmas,


PONED, dan RB/RS) dan rujukan.
Definisi Operasional: Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani adalah ibu
dengan komplikasi kebidanan suatu wilayah keja pada kurun waktu tertentu yang
mendapat penanganan definitif sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan terlatih
pada tingkat pelayanan dasar (Polindes, Puskesmas).
Sasaran: Jumlah ibu dengan komplikasi kebidanan di wilayah kerja puskesmas
pada kurun waktu satu tahun: dihitung berdasarkan estimasi 20% dari total ibu hamil
di wilayah kerja Puskesmas pada kurun waktu yang sama.
Target: 63,42%
Tabel 2.45 Program Kesehatan Ibu Komplikasi Kebidanan yang ditangani di Puskesmas
Cihampelas tahun 2014 berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas
Nama
Kegiatan

Sasaran

Komplikasi
Kebidanan
yang
Ditangani

20%x1076=
215,2

Pencapaian

216

Target

Cakupan

Kesenjangan

Kesimpulan

63,42%

216/215,2
x100%=
100,37%

92,7%80,44%=
12,26%

Memenuhi
target

Program Kesehatan Ibu komplikasi kebidanan yang ditangani pada tahun


2014 berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas telah memenuhi target.
g. Pelayanan Nifas
Berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas, dan Standar Pelayanan
Minimal pengertian cakupan pelayanan nifas adalah :
1. nifas adalah peroode mulai 6 jam sampai dengan 42 hari pasca persalinan.

60

2. Pelayanan nifas sesuai standar adalah pelayanan kepada ibu nifas sedikitnya 3
kali, pada 6 jam pasca persalinan s.d 3 hari, pada minggu ke II, dan pada
minggu ke VI termasuk pemberian Vitamin A 2 kali serta persiapan dan/atau
pemasangan KB pasca persalinan.
3. Dalam pelaksanaannya pelayanan nifas dilakukan juga pelayanan neonatus
sesuai standar sedikitnya 3 kali, pada 6-24 jam setelah lahir, pada 3-7 hari dan
pada 28 hari stelah lahir yang dilakukan di fasilitas kesehatan maupun
kunjungan rumah.
4. Pelayanan kesehatan neonatal adalah pelayanan kesehatan neonatal dasar (ASI
ekslusif, pencegahan infeksi berupa perawatan mata, tali pusat, pemberian
vitamin K1 injeksi bila tidak diberikan pada saat lahir, pemberian imunisasi
B1 (bila tidak diberikan pada saat lahir), manajemen terpadu bayi muda.
5. Neonatus adalah bayi berumur 0-28 hari.
6. Indikator ini mengukur kemampuan manajemen program KIA dalam
menyelenggarakan pelayanan nifas yang professional.
Definisi operasional : Adalah cakupan pelayanan kepada ibu dan neonatal pada
masa 6 jam sampai dengan 42 hari pasca bersalin sesuai standar .
Sasaran: 1,05 x Crude Birth Rate (CBR) x jumlah penduduk. Angka CBR dan
jumlah penduduk kabupaten/kota/provinsi pada kurun waktu tertentu. 1,05 adalah
konstanta untuk menghitung ibu nifas.
Target: 84%

61

Tabel 2.46 Program Kesehatan Ibu Pelayanan Nifas di Puskesmas Cihampelas tahun 2014
berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas
Nama
Kegiatan

Sasaran

Pelayanan
Nifas

1,05x
0,019x5697
1=
1082,
4

Pencapaian

Target

891

84%

Cakupan

Kesenjangan

891/
1082,4x10
0%=
82,3

84%=

86,75%2,75%

Kesimpulan
Tidak
memenuhi
target

Program kesehatan ibu pelayanan nifas pada tahun 2014 berdasarkan


Pedoman Kinerja Puskesmas tidak memenuhi target.
h. Jumlah Ibu hamil yang mendapat TT lengkap
Berdasarkan pedoman stratifikasi puskesmas untuk jumlah ibu hamil yang
mendapatkan TT lengkap:
Definisi operasional: Jumlah ibu hamil yang mendapat imunisasi TT lengkap
adalah ibu hamil yang dalam satu tahun kalender, mendapat imunisasi TT-II atau
mendapat TT Booster.
Angka standar: 85%x2,9%x jumlah penduduk
Tabel 2.47 Program Kesehatan ibu hamil yang mendapat TT lengkap di Puskesmas
Cihampelas Tahun 2014 Berdasarkan Stratifikasi Puskesmas
Nama
Kegiatan

Ibu hamil
yang
mendapat TT
lengkap

Hasil
Kegiatan

405

Angka
Standar

Angka
Cakupan
Kegiatan

Target
setiap
kegiatan

kesenjangan

85%x2,9
%x56971
= 1404,3

405/1404,3x
100%=
28,83%

85%

28,83%85%=
-56,17

Kesimpulan

Tidak
Memenuhi
target

62

Program Kesehatan ibu hamil yang mendapat TT lengkap di Puskesmas


Cihampelas pada Tahun 2014 berdasarkan stratifikasi puskesmas tidak memenuhi
target.

2.3.1.2 Kesehatan Anak


a. Kunjungan Neonatal 1 (KN1)
Berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas, pengertian cakupan Kunjungan
Neonatal (KN1) adalah :
1. Neonatal adalah periode usia mulai 0-28 hari setelah kelahiran.
2. Pelayanan kesehatan bayi baru lahir adalah pemberian pelayanan kesehatan
segara setelah lahir yang meliputi pemeriksaan bayi baru lahir, manajemen
asfiksia dan BBLR, inisiasi menyusui dini (IMD), pencegahan hipotermia, dan
infeksi, pemberian vitamin K1, pemberian imunisasi Hb0, pemberian salep
mata, serta rujukan kasus komplikasi.
3. Pelayanan kesehatan kunjungan neonatal diberikan pada masa 6 jam sampai
dengan 28 hari setelah kelahiran sesuai standar di wilayah kerja Puskesmas
dalam kurun waktu satu tahun.
4. Pelayanan kunjungan neonatal (KN) sesuai standar adalah pelayanan kepada
neonatus sedikitnya 3 kali, yaitu pada 6-48 jam setelah lahir (KN1), pada hari
ke 3-7 (KN2), dan hari ke 8-28 hari (KN3)
5. Pelayanan kesehatan neonatal adalah pelayana kesehatan dasar bagi neonatus,
sesuai standar Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM) (termasuk ASI
ekslusif, pencegahan infeksi berupa perawatan mata, perawatan tali pusat,

63

pemberian vitamin K1, injeksi bila tidak diberikan saat lahir, pemberian
imunisasi Hb0 (bila tidak diberikan pada saat lahir) serta konseling.
Definisi Operasional: Cakupan kunjungan neonatal 1 (KN1) adalah cakupan
neonatus yang mendapatkan pelayana sesuai standar pada 6-48 jam setelah lahir di
wilayah kerja Puskesmas dalam kurun waktu satu tahun.
Sasaran: Jumlah sasaran bayi di wilayah kerja Puskesmas dalam kurun waktu
satu tahun.
Target: 90% (2014, RPJMN)
Tabel 2.48 Program Kesehatan Anak Kunjungan Neonatal 1 (KN1) di Puskesmas Cihampelas
tahun 2014 berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas
Nama
Kegiatan

KN1

Sasaran

1175

Pencapaian

1012

Target

90%

Cakupan

Kesenjangan

Kesimpulan

1012/1175
x100%=
86,21%

86,21%-90%=
-3,79

Tidak
Memenuhi
target

Program kesehatan anak Kunjungan Neonatal 1 pada tahun 2014 berdasarkan


Pedoman Kinerja Puskesmas tidak memenuhi target.
Berdasarkan stratifikasi puskesmas
Definisi Operasional: kontak pertama kali dengan petugas puskesmas bayi umur
0-7 hari
Angka standar: jumlah kunjungan baru neonatal 80% x 2,74% x jumlah
penduduk

64

Tabel 2.49 Program Kesehatan Anak Kunjungan Neonatal 1 (KN1) di Puskesmas


Champelas tahun 2014 berdasarkan stratifikasi Puskesmas

Nama
Kegiatan

Has
il
Kegiatan

KN1

117
5

An
gka
Standar

Angka
Cakupan
Kegiatan

80
%x2,74%
x56971=
124
8,8

1175/12
48,8x100%=
94,09%

Ta
rget
Setiap
Kegiatan

80
%

kesenja
ngan

94,09%
-80%=
14,09%

Kesim
pulan

Meme
nuhi target

Program Program anak kunjungan neonatal 1 di Puskesmas Cihampelas pada


Tahun 2014 berdasarkan stratifikasi puskesmas memenuhi target.
b. Kunjungan Neonatal 2 (KN2)
Berdasarkan pedoman stratifikasi puskesmas untuk Kunjungan Neonatal 2
(KN2):
Definisi Operasional: kontak yang kedua kali pada bayi usia 8 s/d 28 hari dan
melakukan KN1.
Angka standar: jumlah kunjungan baru neonatal 80% x 2,64% x jumlah
penduduk

65

Tabel 2.50 Program Kesehatan Anak Kunjungan Neonatal 2 (KN2) di Puskesmas


Cihampelas tahun 2014 berdasarkan stratifikasi Puskesmas
Nama
Kegiatan

KN2

Hasil
Kegiatan

981

Angka
Standar

Angka
Cakupan
Kegiatan

Target
Setiap
Kegiatan

kesenjangan

80%x2,64
%x56971
=1203,2

981/1203,2x
100%=
81,53%

80%

81,53%80%=
1,53%

Kesimpulan

Memenuhi
target

Program Program anak kunjungan neonatal 2 di Puskesmas Cihampelas pada


Tahun 2014 berdasarkan stratifikasi puskesmas memenuhi target.
c. Kunjungan Neonatal Lengkap (KN Lengkap)
Berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas, pengertian cakupan kunjungan
neonatal lengkap adalah :
1. Neonatal adalah periode usia mulai 0-28 hari setelah kelahiran.
2. Pelayanan kunjungan neonatal (KN) sesuai standar adalah pelayanan kepada
neonatus sedikitnya 3 kali, yaitu pada 6-48 jam setelah lahir (KN1), pada hari
ke 3-7 (KN2), dan hari ke 8-28 hari (KN3)
3. Pelayanan kesehatan neonatal adalah pelayana kesehatan dasar bagi neonatus,
sesuai standar Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM) (termasuk ASI
ekslusif, pencegahan infeksi berupa perawatan mata, perawatan tali pusat,
pemberian vitamin K1, injeksi bila tidak diberikan saat lahir, pemberian
imunisasi Hb0 (bila tidak diberikan pada saat lahir) serta konseling).

66

Definisi Operasional: Cakupan Kunjungan Neonatal (KN) Lengkap adalah


cakupan neonatus yang telah memperoleh tiga kali pelayanan Kunjungan Neonatal
pada 6-48 jam, 3-7 hari, 8-28 hari sesuai standar (3 kali pelayanan) di wilayah kerja
puskesmas dalam kurun waktu satu tahun.
Sasaran: Jumlah sasaran bayi di wilayah kerja puskesmas dalam kurun waktu
satu tahun.
Target: 86% (2013, Renstra Dinkes Jabar)
Tabel 2.50 Kesehatan Anak Kunjungan Neonatal Lengkap di Puskesmas Cihampelas tahun
2014 berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas
Nama
Kegiatan
KN
Lengkap

Sasar
an

Penca
paian

1175

Tar
get

856

86%

Cak
upan
856/
1175x100
%=
72,8
5%

Kesenja
ngan

Kesimp
ulan

72,85%
-86%=
-13,15

Program kesehatan anak Kunjungan Neonatal Lengkap pada tahun 2014


berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas tidak memenuhi target.

d. Neonatus dengan Komplikasi yang Ditangani


Berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas, pengertian cakupan neonatus
dengan komplikasi yang ditangani adalah :
-

Neonatus adalah bayi berumur 0-28 hari.

Neonatus dengan komplikasi adalah neonatus dengan penyakit dan kelainan


yang dapat menyebabkan kesakitan, kecacatan, dan kematian. Neonatus
dengan komplikasi adalah neonatus yang mengalami asfiksia, ikterus,

Tidak
Memenuhi
target

67

hipotermia, tetanus neonatorum, infeksi/sepsis, trauma lahir, BBLR (bayi


berat lahir rendah <2500 gr), sindroma gangguan pernapasan, kelainan
kongenital, maupun yang termasuk klarifikasi kuning pada MTBM/MTBS.
-

Neonatus dengan komplikasi yang ditangani adalah neonatus dengan


komplikasi yang mendapat pelayanan oleh tenaga kesehatan yang terlatih/
kompeten.

Sarana pelayanan kesehatan adalah polindes, praktek bidan, puskesmas,


puskesmas perawatan/PONED, rumah bersalin, dan rumah sakit
pemerintah/swasta.
Definisi Operasional: Cakupan neonatus dengan komplikasi yang ditangani

adalah neonatus dengan komplikasi di wilayah kerja puskesmas pada kurun waktu
tertentu yang ditangani sesuai standar oleh tenaga kesehatan terlatih di sarana
pelayanan kesehatan.
Sasaran: Neonatus dengan komplikasi dihitung berdasarkan 15% dari jumlah
sasaran bayi.
Target: 80% (2014 RPJMN)
Tabel 2.51 Kesehatan Anak Neonatus dengan Komplikasi yang ditangani di Puskesmas
Cihampelas tahun 2014 berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas
Nama
Kegiatan

Sasaran

Neonatus
dengan
Komplikasi
yang
ditangani

15%x1175=
176,25

Pencapaian

116

Target

80%

Cakupan
116/176,2
5x100%=
65,81%

Kesenjangan
65,81%
-80%=
-14,19

Kesimpulan
Tidak
Memenuhi
target

68

Program kesehatan anak neonatus dengan komplikasi pada tahun 2014


berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas tidak memenuhi target.
e. Kunjungan Bayi
Berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas, pengertian cakupan kunjungan
bayi yang ditangani adalah :
-

Bayi adalah anak berusia 29 hari 11 bulan.

Cakupan kunjungan bayi adalah cakupan pelayanan anak usia 29 hari 11


bulan di sarana pelayanan kesehatan (polindes, poskesdes, pustu, puskesmas)
mauoun di luar gedung (rumah, posyandu) oleh tenaga kesehatan.

Setiap bayi memperoleh pelayanan kesehatan minimal 4 kali yaitu satu kali
pada umur 29 hari -2 bulan, 1 kali pada umur 3- 5 bulan, 1 kali pada umur 6-8
bulan, dan 1 kali pada umur 9-11 bulan.

Pelayanan kesehatan tersebut meliputi pemberian imunisasi dasar


(BCG/DPT/HB1-3, Polio 1-4, Campak), stimulasi deteksi intervensi dini
tumbuh kembang (SDIDTK) bayi, perawatan dan tanda bahaya bayi sakit
( sesuai MTBS), pemantauan pertumbuhan dan perkembangan, serta
pemberian vitamin A kapsul biru pada usia 6-11 bulan dan
penyuluhanperawatan kesehatan bayi.
Definisi Operasional: Cakupan kunjungan bayi adalah cakupan bayi (umur 1-12

bulan) yang memperoleh pelayanan kesehatan sesuai standard paling sedikit 4 kali di
wilayah kerja puskesmas dalam kurun waktu satu tahun.
Sasaran: Jumlah seluruh bayi lahir hidup di wilayah kerja puskesmas dalam
kurun waktu satu tahun.

69

Target: 90% (2014 RPJMN)


Tabel 2.52 Kesehatan Anak Kunjungan Bayi yang ditangani di Puskesmas Cihampelas tahun
2014 berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas
Nama
Kegiatan

Sasaran

Kunjungan
bayi

1016

Pencapaian

Target

1012

90%

Cakupan

Kesenjangan

Kesimpulan

1012/1016
x100%=
99,6%

99,6%-90%=
9,6%

Memenuhi
target

Program kesehatan anak kunjungan bayi pada tahun 2014 berdasarkan Pedoman
Kinerja Puskesmas telah memenuhi target.
Berdasarkan stratifikasi Puskesmas
Definisi Operasional: Jumlah seluruh bayi yang mendapatkan pelayanan
pertama kali oleh petugas Puskemas (medis, paramedis) dalam kegiatan KIA, baik di
dalam maupun diluar gedung dalam wilayah kerja Puskesmas dalam masa satu tahun
kalender.
Kontak-kontak (kunjungan) dari bayi tersebut dengan petugas puskesmas
(medis, paramedis) di dalam maupun di luar gedung masa satu bulan kalender di
daerah wilayah kerja puskesmas.
Angka standar: 80%x2,64%xjumlah penduduk
Tabel 2.53 Kesehatan Anak Kunjungan Bayi yang ditangani di Puskesmas Cihampelas tahun
2014 berdasarkan Stratifikasi Puskesmas
Nama
Kegiatan

Kunjungan
bayi

Hasil
Kegiatan

Angka
Standar

Angka
Cakupan
Kegiatan

Target
Setiap
Kegiatan

Kesenjangan

1012/12
03,2x100%=
84,1%

80%

1012

80%x2,64
%x56971
=
1203,2

84,1%-80%=
4,1%

Kesimpulan

Memenuhi
target

70

Program kesehatan anak kunjungan bayi di Puskesmas Cihampelas pada


Tahun 2014 berdasarkan stratifikasi puskesmas memenuhi target.
f. Pelayanan Anak Balita
Berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas, pengertian cakupan kunjungan
bayi yang ditangani adalah :
-

Anak balita adalah anak berusia 12-59 bulan

Yang dimaksud dengan pelayanan kesehatan anak balita adalah pelayanan


kesehatan dasar bagi anak balita berupa pemantauan pertumbuhan dan
perkembangan serta pemberian vitamin A secara berkala.

Yang dimaksud pelayanan anak balita sesuai standar adalah setiap anak balita
memperolah pelayanan pemantauan pertumbuhan melalui penimbangan
minimal 8 x dalam setahun, pemantauan perkembangan dengan SDIDTK
minimal 2x setahun, serta pemberian vitamin A 2x setahun yang tercatat di
kohort anak balita, buku KIA/KMS, atau buku pencatatan dan pelaporan
lainnya.
Definisi Operasional: Cakupan pelayanan anak balita adalah anak balita (12-59

bulan) yang memperoleh pelayanan pemantauan pertumbuhan minimal 8 kali setahun,


pemantauan perkembangan (SDIDTK) minimal 2 kali setahun, serta pemberian
Vitamin A 2 kali setahun.
Sasaran: Jumlah seluruh anak balita di wilayah kerja Puskesmas dalam kurun
waktu satu tahun.
Target: 85% (2014, RPJMN)

71

Tabel 2.54 Kesehatan Anak Pelayanan Anak Balita yang ditangani di Puskesmas Cihampelas
tahun 2014 berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas
Nama
Kegiatan

Sasaran

Pelayanan
Anak Balita

Pencapaian

4484

3290

Target

Cakupan

Kesenjangan

Kesimpulan

85%

3290/448
4x100%=
73,37%

73,37%-85%=
-11,63%

Tidak
Memenuhi
target

Program kesehatan anak pelayanan anak balita pada tahun 2014 berdasarkan
Pedoman Kinerja Puskesmas tidak memenuhi target.
Berdasarkan stratifikasi Puskesmas:
Definisi operasional:
-

kunjungan baru anak balita adalah semua anak yang berumur dari 1 tahun
sampai hari sebelum HUT yang ke-5 untuk kontak pertama (jumlah anak
balita 10,4% x penduduk).

Kunjungan baru anak prasekolah adalah kunjungan semua anak yang berumur
dari 5 tahun sampai 1 hari sebelum HUT ke-7 untuk kontak pertama (jumlah
anak pra sekolah=5,4% x penduduk).

Jumlah anak balita (1-4 th) dan prasekolah (5-6th) yang endapatkan pelayanan
pertama kali oleh petugas Puskesmas (medis, paramedis) dalam kegiatan KIA
baik di dalam maupun di luar gedung, di dalam wilayah kerja Puskesmas
dalam masa satu tahun kalender (jumlah anak (1-6th)).
Angka standar: 50%x12,3%x jumlah penduduk

72

Tabel 2.55 Program Kesehatan Anak Pelayanan Anak Balita di Puskesmas Cihampelas Tahun
2014 Berdasarkan Stratifikasi Puskesmas
Nama
Kegiatan

Kunjungan
anak balita

Hasil
Kegiatan

Angka
Standar

3290

50%x12,3
%x56971
=
3503,7

Angka
Cakupan
Kegiatan
3290/35
03,7x100%=
93,9%

Target
Setiap
Kegiatan
50%

Kesenjangan
93,9%50%=
43,9%

Kesimpulan

Memenuhi
target

Program Program kesehatan anak pelayanan anak balita di Puskesmas


Cihampelas pada Tahun 2014 berdasarkan stratifikasi puskesmas memenuhi target.

2.3.2 Keluarga Berencana (KB)


Berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas, pengertian cakupan Keluarga
Berencana (KB) adalah :
-

Peserta KB aktif adalah pasangan usia subur (PUS) yang salah satu
pasangannya masih menggunakan kontrasepsi dan terlindungi oleh
kontrasepsi tersebut.

PUS adalah pasangan suami istri, yang istrinya berusia 15-49 tahun.
Definisi Operasional: Cakupan peserta KB aktif adalah jumlah peserta KB Aktif

dibandingkan dengan jumlah pasangan usia subur (PUS) di wilayah kerja Puskesmas
dalam kurun waktu satu tahun.
Sasaran: Seluruh pasangan usia subur di wilayah kerja Puskesmas dalam kurun
waktu satu tahun.
Target: 57,55%

73

Tabel 2.56 Keluarga Berencana yang ditangani di Puskesmas Cihampelas tahun 2014
berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas
Nama
Kegiatan
Peserta KB
aktif

Sasaran

Pencapaian

10534

9717

Target

Cakupan

Kesenjangan

Kesimpulan

57,55%

971
7/10534x
100%=
92,24%

92,24%
-57,55%=
34,69%

Memenuhi
target

Program keluarga berencana (KB) pada tahun 2014 berdasarkan Pedoman


Kinerja Puskesmas memenuhi target.
Berdasarkan stratifikasi Puskesmas:
Definisi operasional:
-

Jumlah ekseptor baru: jumlah peserta KB baik pria maupun wanita yang baru
pertamakali memakai kontrasepsi yang sesuai dengan program nasional dalam
satu tahun kalender yang dilayani di Puskesmas, Puskesmas Pembantu, dan
posyandu.

Jumlah peserta KB yang memakai kembali alat kontrasepsi sesudah


melahirkan atau setelah mengalami keguguran yang dilayani Puskesmas
Pembantu, dan Posyandu.

Jumlah peserta: Peserta KB baik pria maupun wanita yang sampai saat ini
masih memakai alat kontrasepsi sesuai dengan program nasional, baik yang
dibina Puskesmas maupun yang dibina unit pelaksana lain di wilayah kerja
Puskesmas.
Angka standar:

74

Jumlah akseptor baru: 100% target yang telah ditentukan oleh BKKBN Tk II
untuk masing-masing Puskesmas.

Jumlah seluruh peserta aktif yang dibina Puskesmas: 62% dari PUS (20% x
jumlah penduduk).

Peserta aktif MJP (metode jngka panjang): jumlah %


MJPx51,6%x62%x20%xjumlah penduduk.

Tabel 2.57 Keluarga Berencana yang ditangani di Puskesmas Cihampelas tahun 2014
Berdasarkan Stratifikasi Puskesmas
Nama
Hasil
Angka
Angka
Target
Kesenjangan
Kesimpulan
Kegiatan
Kegiatan Standar
Cakupan
Setiap
Kegiatan
Kegiatan
Jumlah
akseptor
KB baru

115

Jumlah
seluruh
peserta
aktif

8635

20%x
56971=
11394

Peserta
aktif MJP

328

22%x51,6% 328/801,9
x62%x20% x100%=
x56971=
40,9%
801,9

100%

8635/11394 62%
x100%=
75,78
51,6%

75,78%62%=
13,78%

Memenuhi
target

40,9%51,6%=
-10,7%

Tidak
memenuhi
target

Program Program KB aktif di Puskesmas Cihampelas pada Tahun 2014


berdasarkan stratifikasi puskesmas memenuhi target.

75

2.3.3 Identifikasi Masalah


Tabel 2.58 Identifikasi Progam KIA&KB di Puskesmas Cihampelas 2014
Kesenjangan
Stratifi
PKP
kasi
Tidak
ada data
-16,23
+7,88
%
+6,1%
Tidak
1,17%
ada data

No.

Program

Kunjungan ibu hamil KI

Kunjungan ibu hamil K4

Pelayanan nifas

Ibu hamil yang mendapat TT


lengkap

KN1

6
7

KN lengkap
Neonatus dengan komplikasi
yang ditangani

Pelayanan anak balita

Tidak
ada data
3,79%
13,15%
-14,19
11,36%

56,17%
+14,09
%
Tidak
ada data
Tidak
ada data
43,9%

2.3.4 Tabel Penentuan Prioritas Masalah


Tabel 2.59 Prioritas Masalah Program KIA&KB di Puskesmas Cihampelas Tahun
2014
Variabel

1.
Neonatus
dengan
komplikasi
yang
ditangani
2. KN
lengkap
3.

prevalen
ce
4

severit
y
4

Degree
of
Unmeet
Need
3

Social
Benefit
5

Technical
Feasibilit
y
3

Resourc
es
availibili
ty
3

Jumlah

2
2

2
3
2

76

Pelayanan
anak dan
balita

2.3.5 Analisis Program KIA-KB


2.3.5.1 Input (7M)
A. Man : Jumlah tenaga kerja kesehatan di Puskesmas Cihampelas
Program KIA-KB dikerjakan oleh 4 bidan, dengan masing-masing pendidikan
terakhir D3 Kebidanan. Beberapa kader sebagian besar aktif sehingga pada
beberapa RW program dan monitoringnya sudah cukup.
B. Money : Pendanaan untuk program pelayanan KIA-KB disalurkan dari dinas
kesehatan dan selama ini tidak ada masalah.
C. Material : Persediaan atau kebutuhan obat-obatan dan peralatan disediakan
dari Dinas Kesehatan Kab. Bandung Barat. Jumlah obat yang tersedia dirasa
kurang mencukupi. Sarana dan prasarana seperti fasilitas gedung juga
dirasakan kurang mencukupi kebutuhan yang ada.
D. Machine : Alat pemeriksaan yang dipakai dirasakan cukup.
Method : Pelaksanaan pelayanan anak balita dilakukan di dalam gedung
Puskesmas Cihampelas dan posyandu. Pada pelaksanaannya setiap bulan
meliputi seluruh RW di 5 Desa yang menjadi wilayah kerja Puskesmas
Cihampelas dengan cara melakukan penimbangan, imunisasi, edukasi dan
pemberian makanan tambahan pada anak dengan grafik gizi di bawah garis
merah. Tidak ditemukan ada masalah.
E. Market : Kepedulian masyarakat di wilayah kerja puskesmas Cihampelas
mengenai kesehatan ibu dan anak sudah cukup baik pada Tahun 2014, namun
ada beberapa program yang belum memenuhi target.
F. Minute : Tidak ada masalah
2.3.5.2 Proses

77

A. Planning

: Pembuatan rencana kerja disesuaikan dengan tujuan program

KIA dan KB agar program dapat berjalan maksimal, serta pelatihan terhadap
kader-kader yang telah dipilih agar kader semakin terampil.
B. Organizing : Dalam pelaksanaannya, program KIA dan KB memerlukan
kerjasama dan koordinasi lintas program dengan program promosi kesehatan,
MTBS dan Gizi, penyampaian rencana kerja dilakukan dengan pertemuan
antar pemegang program , bidan desa, dan para kader dari setiap RW.
C. Actuating : Pelaksanaan program disesuaikan dengan waktu yang telah
ditetapkan. Dilaksanakan pencatatan dan pelaporan yang baik dari kader ke
penanggungjawab program di Puskesmas. Pencatatan dan pelaporan juga
dilakukan oleh bidan swasta, kemudian data dikumpulkan oleh pemegang
program.
D. Controlling : Pengawasan yang dilaksanakan setiap program puskesmas
Cihampelas untuk pelaksanaan program ini adalah pengawasan langsung oleh
kordinator program kepada kader setiap RW dan bidan desa, serta pembuatan
laporan bulanan.
E. Evaluating : Setelah dilaksanakan setiap program kemudian dilakukan
pencatatan dan pengolahan data yang dilakukan setiap bulannya.

2.3.5.3 Output
A. Availability : Program KIA telah berjalan rutin, alat, tempat, dan tenaga
pelaksanaan sudah tersedia
B. Acceptability : Jenis pelayanan dapat diterima masyarakat namun masih ada
masyarakat yang belum sadar akan pentingnya kesehatan.

78

C. Accessibility : Letak Puskemas mudah dijangkau oleh masyarakat, tidak ada


masalah jarak dan medan jalan yang bermakna dan kegiatan ini juga dilakukan
di posyandu.
D. Accountability : perencanaan, pelaksanaan, dan pendataan sudah jelas
sehingga memudahkan pertanggungjawaban baik dari pemegang program ke
kepala puskesmas, maupun dari kepala puskesmas ke Dinas Kesehatan Kota
Cimahi
E. Care : Perhatian penyelenggara terhadap pelaksanaan program cukup baik
juga dalam hal pendataan dan pelaporan.
F. Continuity : Program berlangsung terus menerus dan berkesinambungan
G. Competency : Pemegang program KIA dan KB adalah seorang bidan yang
dibantu staf bidan lain yang dibantu para kader. Tenaga pelayanan dirasakan
sesuai dengan kompetensinya.
H. Comprehensibility : Pemahaman masyarakat mengenai pentingnya program
belum tercapai maksimal sehingga masih ada beberapa cakupan yang belum
memenuhi target.
2.3.5.4 Analisis SWOT
Faktor faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan suatu program di
Puskesmas Cihampelas adalah sebagai berikut:
A.
Strength
Lokasi Puskesmas yang strategis dan mudah di jangkau bagi masyarakat
di kelurahan Cihampelas.
Tenaga kesehatan untuk melaksanakan program KIA di Puskesmas
Cihampelas cukup untuk melaksanakan program
Program telah rutin dilakukan baik di Puskesmas maupun di Posyandu
Ketersediaan data, alat dan bahan yang mencukupi
B.
Weakness
kerjasama dan koordinasi lintas program masih belum optimal karena
sibuk dengan program masing-masing.

79

Masyarakat yang masih belum sadar untuk pemeriksaan rutin ke


puskesmas beranggapan bahwa datang puskesmas untuk pengobatan
kuratif saja.
Efektifitas penyuluhan terhadap kader yang dilakukan oleh petugas

kesehatan masih belum maksimal


C.
Opportunity
Tersedianya sarana kesehatan yaitu Posyandu
Wilayah kerja mudah dijangkau
D.
Threats
Kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan masih kurang
Banyaknya praktek dokter swasta atau bidan, sehingga masyarakat lebih
memilih pelayanan KIA-KB di praktek dokter swasta atau bidan.

2.3.6 Plan of Action


Masalah : Pelayanan Kesehatan anak dan balita
Tabel 2.60 Penyebab dan Pemecahan Masalah Pelayanan kunjungan neonatal
lengkap Puskesmas Cihampelas Pada Tahun 2014
Penyebab Masalah
Pemecahan Masalah
4. Pengetahuan
masyarakat
masih 1. Penyuluhan pelayanan neonatus
kurang
2. Penyuluhan pelayanan neonatus
5. Penyuluhan masih kurang
3. pendataan neonatus
6. Data neonatus kurang akurat
4. pengadaan sarana penyuluhan
7. Sarana penyuluhan kurang menarik
(leaflet, brosur)
(leaflet, brosur)
8. mobilitas penduduk tinggi
5. pendataan balita
9. biaya transportasi pendataan anak
6. pengadaan biaya transportasi untuk
dan balita tidak ada
pendataan balita

80

Tabel 2.61 Plan of Action Masalah Kesehatan Anak dan Balita di Puskesmas Cihampelas
Kegiatan
1.penyuluhan
tentang
pelayanan
kesehatan
pada balita di
dalam
maupun luar
gedung

2. pendataan
balita oleh
kader
3.pengadaan
sarana
penyuluhan
leaflet atau
brosur

Tujuan
Untuk
meningkat
kan
pengetahuan
masyarakat
tentang
pentingnya
pelayanan
kesehatan
pada balita
Untuk
mengetahui
jumlah balita
Agar
masyarakat
mengetahui
pentingnya
pelayanan

Sasaran
masyar
akat

balita

Target

Sumber Daya
Alat
Tenaga
Meningkat Leaflet,
B
kan
brosur
idan,
pengetahu
perawat
an
masyara
kat
tentang
penting
nya
pelayanan Format
kesehatan pendaf kader
pada balita taran
Terdata
nya semua
balita
Petu
gas dapat
memberik

Indikator
Waktu
Keberhasilan Pelaksanaan
Pentin
Setiap
gnya
bulan
pelayanan
kesehatan
pada balita
tersosialisasi
kan di
masyarakat
Januari
2015
Adanya data
balita

Adanya
leaflet/brosu
r

Setiap
bulan

81

tentang
pentingnya
pelayanan
kesehatan
pada balita

2.4

balita

an
penyuluha
n dengan
baik

Program Gizi
2.4.1

Program Perbaikan Gizi Masyarakat

Kegiatan program gizi yang dilaksanakan di wilayah kerja puskesmas


Cihampelas selama periode Januari-Desember 2014 meliputi pembinaan dan kegiatan
rutin yang dilakukan di posyandu oleh tenaga kesehatan puskesmas Cihampelas.
Tenaga kesehatan terdiri atas tenaga gizi, bidan, perawat dan kesehatan lingkungan.
Pembinaan posyandu dilakukan saat jadwal rutin kegiatan posyandu di 56 lokasi yang
berbeda. Kegiatan perbaikan gizi masyarakat meliputi penimbangan balita di
Posyandu, pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi pada balita berusia 6-11 bulan dan
12-59 bulan, pemberian tablet Fe (besi) bagi ibu hamil, pemberian makanan
pendamping air susu ibu (MP-ASI) bagi bayi dibawah 2 tahun yang berasal dari
keluarga miskin (Baduta Gakin), dan pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif.

82

2.4.1.1 Cakupan Keluarga Sadar Gizi


Keluarga sadar gizi adalah keluarga yang mampu mengenal, mencegah, dan
mengatasi masalah gizi setiap anggotanya dan berperilaku gizi baik yang dicirikan
minimal dengan lima indikator sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.

Menimbang berat badan secara teratur


Memberikan ASI saja kepada bayi sejak lahir sampai dengan umur 6 bulan
Makan beraneka ragam
Menggunakan garam beryodium
Minum suplemen gizi (TTD, Vit.A dosis tinggi) sesuai anjuran
Berdasarkan Penilaian Kinerja Puskesmas, definisi operasional cakupan keluarga

sadar gizi adalah cakupan keluarga dengan karakteristik sebagai berikut:


1. Bila keluarga mempunyai ibu hamil, bayi 0-6 bulan, balita 6-59 bulan, indikator
yang berlaku adalah indikator no 1 5 dan indikator kelima yang digunakan
adalah balita mendapat kapsul vitamin A.
2. Bila keluarga mempunyai 0 6 bulan, balita 6 59 bulan, indikator yang
digunakan adalah indikator no 1- 5.
3. Bila keluarga mempunyai ibu hamil, balita 6 59 bulan indikator yang digunakan
adalah indikator no 1,2,4, dan 5 dan indikator kelima yang digunakan adalah
balita mendapat kapsul vitamin A dan tablet tambah darah.
4. Bila keluarga mempunyai ibu hamil, indikator yang digunakan adalah no 3 5
dan indikator kelima yang digunakan adalah ibu hamil mendapat tablet tambah
darah (TTD) 90 tablet.
5. Bila keluarga mempunyai bayi 0 6 bulan, indikator yang berlaku no 1 5 dan
indikator yang kelima yang digunakan adalah ibu nifas mendapat suplemen gizi.
6. bila keluarga mempunyai balita 6 59 bulan, indikator yang berlaku adalah no
1,3,4,5.
7. Bila keluarga tidak mempunyai bayi, balita, dan ibu hamil, indikator yang berlaku
no 3 dan 4.

83

Sasaran : seluruh keluarga sesuai dengan karakteristik di atas di wilayah kerja


Puskesmas dalam kurun waktu satu tahun.
Target : 100%

Tabel 2.62 Cakupan Keluarga Sadar Gizi Di Puskesmas Cihampelas Tahun 2014
berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas
Na
Penca
Sa
Cak
Ta
Kesenja
Kesim
ma
paian
saran
upan
rget
ngan
pulan
Kegiatan
Jum
- 100 %
lah
keluarga
sadar gizi
Tidak terdapat data mengenai keluarga sadar gizi di Puskesmas Cihampelas.
2.4.1.2 Cakupan Balita Ditimbang (D/S)
D/S adalah Cakupan balita (0-59) bulan yang datang ditimbang secara rutin
setiap bulan di Posyandu yang ada di wilayah kerja Puskesmas Cihampelas.
Berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas:
Definisi operasional: cakupan balita ditimbang (D/S) adalah cakupan balita (059 bulan) yang datang ditimbang dibandingkan dengan jumlah balita yang ada di
wilayah kerja Puskesmas dalam kurun waktu satu tahun.
Sasaran: seluruh jumlah balita umur 0-59 bulan yang ada di wilayah kerja
Puskesmas dalam kurun waktu satu tahun atau 10% dari total jumlah penduduk dalam
kurun waktu satu tahun.
Target: 85%

84

Cakupan D/S Posyandu di Puskesmas Cihampelas pada tahun 2014 berdasarkan


Pedoman Kinerja Puskesmas masih dibawah target (85%). Hal ini dimungkinkan
karena kurangnya partisipasi masyarakat dalam program ini.

Tabel 2.63 Cakupan jumlah balita yang ditimbang di Puskesmas Cihampelas


pada tahun 2014 berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas
Nama
Pencapaian Sasaran Cakupan Target Kesenjangan Kesimpulan
Kegiatan
Jumlah
4.037 10% x 70,9%
85%
-14,1%
Tidak
balita
memenuhi
ditimbang
56.971
target
=
5.697
Berdasarkan stratifikasi puskesmas:
Definisi operasional: cakupan partisipasi masyarakat (D/S) adalah jumlah balita
(0-3 tahun) yang datang dibandingkan dengan jumlah balita yang ada menurut
perhitungan proyeksi.
Sasaran: 80% x 9,9% x jumlah penduduk
Tabel 2.64 Cakupan jumlah balita yang ditimbang di Puskesmas Cihampelas
pada tahun 2014 berdasarkan pedoman stratifikasi puskesmas
Angka
Nama
Hasil
Angka Cakup
Targ Kesenjang Kesimpul
Kegiata Kegiat Standa an
et
an
an
n
an
rd
Kegiat
an
Jumlah 4.037
80% x
Tid
balita
9,9% x
ak
71,6
80%
ditimba
56.971
8,4%
memenuh
ng
=
i nilai
standar
5.640,

85

Cakupan D/S Posyandu di Puskesmas Cihampelas pada tahun 2014 berdasarkan


stratifikasi puskesmas masih dibawah target (80%).

2.4.1.4 Cakupan Balita Naik Timbangan (N/D)


Berdasarkan stratifikasi puskesmas:
Definisi operasional: cakupan balita naik timbangan (N/D) atau efektivitas
program adalah jumlah balita (0-3 tahun) yang naik berat badannya dibandingkan
dengan jumlah balita ditimbang.
Sasaran: 50% X (D/S)
Tabel 2.65 Cakupan jumlah balita yang naik timbangan (N/D) di Puskesmas
Cihampelas pada tahun 2014 berdasarkan pedoman stratifikasi puskesmas

Nama
Kegiatan

Hasil
Kegiata
n

Jum
lah balita
2.755
naik
timbangan

Angka
Angka
Cakupan Target
Standard
Kegiatan

4.037

68%

50%

Kesenjangan Kesimpulan

Melebihi
+ 18% nilai
standar

Cakupan N/D Posyandu di Puskesmas Cihampelas pada tahun 2014


berdasarkan stratifikasi puskesmas telah melebihi target.

86

2.4.1.4 Cakupan Distribusi Kapsul Vitamin A Bagi Bayi (6 - 11 Bulan)


Berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas, pengertian cakupan distribusi kapsul
vitamin A bagi bayi (6-11 bulan) adalah:
-

Cakupan distribusi adalah proporsi (%) bayi yang dapat kapsul vitamin A satu
kali dengan dosis 100.000 SI (kapsul warna biru)

Kapsul vitamin A adalah kapsul vitamin A dengan dosis 100.000 SI berwarna


biru

Bayi 6-11 bulan adalah anak usia 6-11 bulan


Definisi operasional: Cakupan distribusi vitamin A bagi bayi (6-11 bulan) pada

tahun (selama setahun) adalah cakupan bayi (6-11bulan) yang mendapatkan kapsul
vitamin A dosis 100.000 SI (kapsul warna biru) di wilayah kerja dalam kurun satu
tahun.
Sasaran: seluruh anak umur 6-11 bulan di wilayah kerja Puskesmas dalam
kurun waktu satu tahun.
Target: 100%
Tabel 2.66 Cakupan jumlah anak balita 6-11 bulan yang diberikan kapsul vitamin
A dosis 100.000 SI di Puskesmas Cihampelas pada Tahun 2014 berdasarkan
Pedoman Kinerja Puskemas
Nama
Penca
Kesenja
Sasaran Cakupan Target
Kesimpulan
Kegiatan
paian
ngan
Pem
berian
Memenuhi
vitamin A
682 682
100%
100%
0%
target
dosis
100.000
IU

87

Pemberian kapsul vitamin A pada bayi berusia 6-11 bulan pada tahun 2014
telah memenuhi target yang ditetapkan oleh Puskesmas Cihampelas (100%).
2.4.1.5 Cakupan Distribusi Kapsul Vitamin A Bagi Anak Balita 12-59 Bulan
Berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas, pengertian cakupan distribusi kapsul
vitamin A bagi anak balita (12-59 bulan) adalah:
-

Cakupan distribusi adalah proporsi (%) bayi yang dapat kapsul vitamin A satu
kali dengan dosis 200.000 SI (kapsul warna merah)

Kapsul vitamin A adalah kapsul vitamin A dengan dosis 200.000 SI berwarna


merah

Bayi 6-11 bulan adalah anak usia 12-59 bulan


Definisi operasional: Cakupan distribusi kapsul vitamin A bagi anak balita 1-5

tahun selama satu tahun adalah cakupan ( proporsi ) anak balita (1-5 tahun) yang
mendapatkan kapsul vitamin A dengan dosis 200.000 SI (kapsul warna merah) selama
satu tahun (pada bulan Februari dan Agustus) yang ada di wilayah kerja puskesmas.
Sasaran : seluruh anak balita usia 1-5 tahun yang ada di wilayah kerja
puskesmas atau berdasarkan estimasi sasaran BPS kab/kota.
Target: 90%
Tabel 2.67 Cakupan jumlah anak balita 12-59 bulan yang diberikan kapsul vitamin A
dosis 200.000 SI di Puskesmas Cihampelas pada Tahun 2014 berdasarkan Pedoman
Kinerja Puskesmas
Nama
Kegiatan
Pem
berian
vitamin A
dosis
200.000 SI

Pencapaian Sasaran Cakupan Target

4.289 4.289

100%

90%

Kesenjangan Kesimpulan

+10%

Melebihi
target

88

Program pemberian kapsul vitamin A pada balita 12-59 bulan pada tahun 2014
berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas telah melebihi target.
Berdasarkan stratifikasi puskesmas:
Definisi operasional: jumlah seluruh anak balita (1-4 tahun) yang mendapat
kapsul vit A dosis tinggi 2 kali/tahun dengan cara perhitungan adanya catatan anak
balita yang diberi vitamin A dosis tinggi 2 kali/ tahun, atau apabila yang ada dalam
pencatatan dan pelaporan adalah jumlah kapsul vitamin A dosis tinggi yang
didistribusikan, maka untuk memenuhi angka anak balita yang mendapat kapsul
vitamin A dosis tinggi dibagi 2 (oleh karena distribusi kapsul vitamin A dosis tinggi 2
kali dalam 1 tahun)
Sasaran: 80% x 9,52% x jumlah penduduk
Tabel 2.68 Cakupan jumlah anak balita 12-59 bulan yang diberikan kapsul vitamin A
dosis 200.000 SI di Puskesmas Cihampelas pada Tahun 2014 berdasarkan pedoman
stratifikasi puskesmas

Nama
Kegiatan

Pemberia
n vitamin
A dosis
200.000
SI

Angka
Hasil
Angka
Kesenjanga
Cakupan Target
Kegiatan Standard
n
Kegiatan

4.971

80% x
9,52% x
56.971
=
5.423

91,6%

80%

+11,6%

Kesimpulan

Melebihi
nilai
standar

89

Program pemberian kapsul vitamin A pada balita 12-59 bulan pada tahun 2014
berdasarkan stratifikasi puskesmas telah melebihi target.

2.4.1.6 Cakupan Distribusi Kapsul Vitamin A Bagi Ibu Nifas


Berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas, pengertian cakupan distribusi
kapsul vitamin A bagi ibu nifas meliputi:
-

Cakupan distribusi adalah proporsi (%) ibu nifas dapat kapsul vitamin A dua
kali dengan dosis @ 200.000 SI (kapsul warna merah) yang masing-masing
sebaiknya diberikan sesaat setelah melahirkan dan 24 jam berikutnya setelah
pemberian yang pertama, di wilayah kerja puskesmas

Kapsul vitamin A adalah kapsul vitamin A dengan dosis 200.000 SI berwarna


merah

Ibu nifas adalah ibu bersalin pada periode mulai enam jam sampai dengan 42
hari pasca persalinan
Definisi operasional: cakupan distribusi kapsul vitamin A bagi ibu nifas adalah

cakupan (proporsi) ibu nifas (0-42 hari) yang mendapat 2 x 1 kapsul vitamin A
200.000 SI diwilayah kerja puskesmas.
Sasaran: Seluruh ibu nifas yang ada diwilayah ibu kerja (estimasi perhitungan
dari BPS kab/kota) atau dengan cara menghitung sasaran ibu nifas:
1,05 x crude birth (CBR) x jumlah penduduk.

90

Tabel 2.69 Cakupan Distribusi Kapsul Vitamin A Bagi Ibu Nifas di Puskesmas
Cihampelas pada Tahun 2014 berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas
Nama
Pencapaian Sasaran Cakupan Target Kesenjangan Kesimpulan
Kegiatan
Distribusi
997 1.027
97%
100% - 3%
Tidak
kapsul
memenuhi
vitamin A
atau
atau
target
atau
bagi ibu
nifas
1,05 x
92,6%
- 7,4%
0,018
X
56.971
=
1.076,6
Program pemberian kapsul vitamin A bagi ibu nifas pada tahun 2014
berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas tidak memenuhi target.
2.4.1.7 Cakupan Distribusi tablet Fe bagi Ibu hamil
Berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas, pengertian cakupan distribusi tablet
Fe 90 tablet pada ibu hamil meliputi:
-

Cakupan distribusi adalah cakupan ibu hamil dapat tablet Fe sebanyak 90 tablet
selama kehamilan

91

Ibu hamil adalah ibu hamil dengan umur kehamilan sampai dengan 9 bulan
Definisi operasional: cakupan distribusi tablet Fe 90 tablet pada ibu hamil

adalah cakupan ibu hamil yang telah mendapatkan minimal 90 TTD (Fe) selama
periode kehamilannya di wilayah kerja puskesmas dalam kurun waktu satu tahun.
Sasaran: seluruh ibu hamil yang ada diwilayah kerja berdasarkan perhitungan
estimasi sasaran BPS kab/kota atau cara perhitungan : 1.1 x CBR x jumlah penduduk.
Target: 90%
Tabel 2.70 Cakupan jumlah ibu hamil yang diberi tablet Fe di Puskesmas
Cihampelas selama tahun 2014 berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas
Na
Penca
Sa
Cak
Ta
Kesenja
Kesim
ma
paian
saran
upan
rget
ngan
pulan
Kegiatan
Distr
1.103 1.077
102,4%
90%
+12,4
Meleb
ibusi tablet
%
ihi
Fe bagi
target
ibu nifas

Cakupan distribusi tablet Fe bagi ibu nifas di wilayah kerja Puskesmas


Cihampelas pada tahun 2014 berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas sudah
melebihi target.
Berdasarkan stratifikasi puskesmas:
Definisi operasional: jumlah ibu hamil yang mendapat tablet besi selama
triwulan ke tiga kehamilannya dalam 1 tahun kalender dengan cara perhitungan yaitu
jumlah ibu hamil yang mendapat tablet besi baik selama kehamilan maupun selama
triwulan ke 3 tetap dihitung 1 orang ibu hamil. Jumlah ibu hamil yang mendapat
tablet besi 90 tablet selama kehamilan.
Sasaran: 80% x 2,9% x jumlah penduduk

92

Tabel 271 Cakupan jumlah ibu hamil yang diberi tablet Fe di Puskesmas
Cihampelas selama tahun 2014 berdasarkan stratifikasi puskesmas
An
Ha
Na
A
gka
sil
Targ
ma
ngka
Cakupan
Kesenjangan
Kegiata
et
Kegiatan
Standard Kegiata
n
n
80% x
Distribus
i tablet
Fe bagi
ibu nifas

2,9% x
1.103

56.971=

66
,7%

80%

-13,2%

Kesi
mpulan

Tidak
memenuhi
nilai
standar

1.652,2

Cakupan distribusi tablet Fe bagi ibu nifas di wilayah kerja Puskesmas


Cihampelas pada tahun 2014 berdasarkan stratifikasi puskesmas belum memenuhi
target.
2.4.1.8 Cakupan Distribusi MP ASI Baduta Gakin
Bedasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas, pengertian cakupan distribusi MPASI Baduta Gakin meliputi:
-

Gakin adalah kriteria dari keluarga miskin ditetapkan oleh pemerintah


setempat (kabupaten/kota)

Baduta Gakin adalah anak usia 6-11 bulan dan anak usia 6-24 bulan dari
keluarga miskin (gakin)

93

MP-ASI pabrikan adalah berupa bubuk instan untuk bayi 6-11 bulan dan
biscuit untuk anak usia 12-14 bulan.
Definisi operasional: cakupan distribusi MP ASI Baduta Gakin adalah

cakupan pemberian makanan pendamping ASI pada anak usia 6 24 bulan dari
keluarga miskin selama 90 hari.
Sasaran: seluruh anak berusia 6 sampai dengan 24 bulan dari keluarga miskin
yang ada di wilayah kerja berdasarkan perhitungan estimasi/BPS Kabupaten/ Kota
Target: 100%
Tabel 2.72 Cakupan Distribusi MP-ASI Baduta Gakin di di Puskesmas Cihampelas pada
tahun 2014 berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas
Nama
Kegiatan
Distribusi
MP-ASI
Baduta
Gakin

Pencapaian

Sasaran

Cakupan

24

24

100%

Target

Kesenjangan

100%

0%

Kesimpulan
Mencapai
target

Cakupan telah mencapai target yaitu 100%.


Berdasarkan petunjuk teknis Standar Pelayanan Minimal, pengertian :
1. Anak usia 6-24 bulan keluarga miskin adalah bayi usia 6-11 bulan dan anak
usia 6-24 bulan dari keluarga miskin (GAKIN)
2.4.1.9 Cakupan Balita Gizi Buruk Mendapatkan Perawatan
Berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas, pengertian cakupan balita gizi buruk
mendapat perawatan adalah balita adalah anak usia dibawah 5 tahun (0 sampai
dengan 4 tahun) yang ada di wilayah kerja puskesmas

94

Definisi operasional: cakupan balita gizi buruk mendapatkan perawatan adalah


balita gizi buruk yang ditangani disarana pelayanan kesehatan sesuai tatalaksana gizi
buruk di wilayah kerja Puskesmas pada kurun waktu satu tahun
Sasaran: jumlah seluruh balita gizi buruk yang ditemukan di wilayah kerja
puskesmas pada kurun waktu satu tahun.
Target : 100%
Tabel 2.73 Cakupan Balita Gizi Buruk Mendapatkan Perawatan di Puskesmas
Cihampelas Tahun 2014 berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas
Nama
Kegiatan

Pencapaian Sasaran Cakupan Target Kesenjangan Kesimpulan

Balita gizi
buruk
mendapatk
an
perawatan

100%

Tidak ada
data

Tidak terdapat data pada Puskesmas Cihampelas.


2.4.1.10 Cakupan ASI Eksklusif
Berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas, pengertian ASI eksklusif adalah
pemberian ASI saja sampai dengan anak umur 6 bulan (kecuali obat).
Definisi operasional: cakupan ASI ekslusif adalah cakupan bayi usia 0-6 bulan
yang mendapatkan ASI saja di satu wilayah kerja pada kurun waktu satu tahun.
Sasaran: seluruh bayi usia 0-6 bulan yang ada di wilayah kerja puskesmas pada
kurun waktu satu tahun sesuai dengan perhitungan estimasi BPS Kab/Kota.
Target: 90%
Tabel 2.74 Cakupan ASI ekslusif di di Puskesmas Cihampelas pada tahun 2014
berdasarkan Pedoman Kinerja Puskesmas

95

Nama
Kegiatan

Pencapaian Sasaran Cakupan Target

Distribusi
ASI
eksklusif

235 497

47,2%

90%

Kesenjangan Kesimpulan
-42,7%

Tidak
mencapai
target

Cakupan pemberian ASI eksklusif di Puskesmas Cihampelas berdasarkan


Pedoman Kinerja Puskesmas tidak mencapai target (90%).

2.4.1.11 Cakupan Jumlah Penduduk yang Mendapat Kapsul Iodium di


Daerah Endemik
Berdasarkan stratifikasi puskesmas, definisi operasional cakupan jumlah
penduduk yang mendapat kapsul iodium di daerah endemik adalah jumlah penduduk
di daerah gondok endemik yang mnedapat kapsul iodium beryodium dalam wilayah
kerja puskesmas meliputi:
-

Semua laki-laki berumur 0-20 tahun

Semua wanita berumur 0-35 tahun

Ibu hamil daerah gondok endemik 100%

Buteki (ibu menyusui) 100%


Sasaran: 100% x penduduk daerah endemik
Pria: 100% x 19,43 x jumlah penduduk daerah endemik
Wanita: 100% x 38,95% x jumlah penduduk daerah endemik
Bumil: 100% x jumlah bumil
Buteki: 100% x jumlah buteki

96

Wilayah kerja puskesmas Cihampelas bukan merupakan daerah endemik


gondok dan tidak ditemukan adanya pasien gondok, sehingga program distribusi
kapsul iodium tidak dilakukan.

2.4.2 Identifikasi Masalah


Tabel 2.75 Identifikasi Progam Gizi di Puskesmas Cihampelas Tahun 2014
Kesenjangan
No.
Program
Stratifi
PKP
kasi
tidak ada
tidak ada
1
Keluarga Sadar Gizi
data
data
2
Balita ditimbang (D/S)
-14,1%
-8,4%
Distribusi kapsul vitamin A bagi balita (123
59 bulan)
+10% +11,6%
4
Distribusi tablet Fe bagi ibu hamil
+12,4%
-13,2%
tidak
5
Distribusi MP-ASI Baduta Gakin
0%
ada data
tidak
6
ASI eksklusif
-42,7%
ada data
tidak
tidak
7
Balita gizi buruk mendapat perawatan
ada data
ada data

2.4.3 Penentuan Prioritas Masalah


Tabel 2.76 Prioritas masalah program gizi di Puskesmas Cihampelas pada tahun 2014
Balita
Distribusi
Distribusi
ditimbang
tablet Fe bagi
kapsul
ASI
Variabel
(D/S)
ibu hamil
vitamin A
eksklusif
bagi ibu nifas
Prevalence
4
3
3
5
Severity

Degree of Unmeet

Need

97

Social
Benefit

Technical Feasibility

Resources availability

Total Skor

24

19

17

27

2.4.4 Analisis Program Gizi


2.4.4.1 Input (7M)
a. Man
Program gizi di Puskesmas Cihampelas dipegang oleh 1 orang petugas gizi
dengan pendidikan terakhir D1 akademi gizi.
b. Money
Dana berasal dari dana daerah dan dana Bantuan Operasional Kesehatan
(BOK).
c. Material
Sudah memadai.
d. Machine
Alat yang digunakan sudah memadai, seperti leaflet, alat antropometri, manekin
bayi untuk pembinaan cara menyusui yang baik dan benar, food model, dan alat
edukatif lainnya.
e. Method
Tenaga gizi sudah mengetahui pengelolaan gizi secara umum dan pelayanan
gizi dilakukan dengan baik di Puskesmas maupun diluar Puskesmas.
Kader menjalin kemitraan dengan pimpinan desa/RW setempat, serta tenaga
kesehatan di sekitar RW dalam penyediaan tempat dan bantuan jasa

98

Pembinaan kepada kader Posyandu diberikan oleh Bidan desa dan terkadang
oleh petugas gizi di Puskesmas saat kader ke Puskesmas untuk memberikan
laporan bulanan.
f. Minute
Waktu pelaksanaan program: Oleh ahli gizi puskesmas di setiap hari kerja, dan
Posyandu diadakan 1 bulan sekali oleh masing-masing RW. Waktu pelaksanaan
program yang telah dilakukan sudah cukup memadai.
2.4.4.2 Proses
a. Planning
Tujuan program pelayanan dan perbaikan gizi jelas, yaitu:

Pelaksanaan perbaikan pola konsumsi pangan.


Pencegahan gizi buruk dengan pemantauan penimbangan.
Pembinaan kader Posyandu.
Melaksanakan penimbangan balita 1 bulan sekali melalui Posyandu.
Kerjasama lintas program dengan pemegang program promosi kesehatan
penyuluhan mengenai pentingnya pemantauan penimbangan untuk pencegahan

gizi buruk.
Kerjasama lintas sektoral dengan pemerintah dan tokoh masyarakat setempat.
Pencatatan dan pelaporan .
b. Organizing
Penyampaian rencana kerja dilakukan dengan pertemuan antara pemegang
program dengan kader.
c. Actuating
Pendataan balita sudah cukup jelas dan jumlah sasaran balita sudah jelas.

99

Pelaksanaan kegiatan penimbangan tidak sulit, pada umumnya tenaga kesehatan


maupun kader sudah mengetahui mengenai penggunaan alat untuk memantau
status gizi balita.
Petugas yang datang ke Posyandu biasanya hanya 1 orang bidan.
d. Controlling
Pencatatan dan pendataan dilakukan oleh kader yang bertanggungjawab atas
RW nya masing-masing. Dokumen ini diserahkan pada pemegang program
setiap bulannya, kemudian di rekapitulasi oleh pemegang program. Pencatatan
dan pendataan yang rapi dan teratur memudahkan pengawasan program.
Kader menjadi ujung tombak pelaksanaan posyandu yang
dipertanggungjawabkan kepada pemegang program.
a. Evaluating
Hasil partisipasi masyarakat terhadap penimbangan balita setiap bulannya tidak
menjadi standar pelaksanaan penimbangan balita bulan berikutnya untuk mendapat
hasil yang sesuai dengan yang diharapkan.
2.4.4.3 Output
a. Availability
Pencatatan ASI eksklusif dapat dilakukan oleh kader terutama saat
Posyandu satu bulan sekali, namun penjadwalannya tidak pasti, tergantung
masing-masing RW.
b. Acceptability
Jenis pelayanan dapat diterima masyarakat, karena ada tindak lanjut yang
berarti untuk masyarakat setelah ditimbang dan dinilai status gizinya.
c. Accessibility

100

Beberapa lokasi posyandu sulit dijangkau karena jarak yang cukup jauh dari
Puskesmas serta medannya yang sulit dilalui kendaraan umum.
d. Accountability
Program dapat dipertanggungjawabkan. Pelaksana program merupakan ahli di
bidangnya karena memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai.
e. Continuity
Program berlangsung terus menerus dan berkesinambungan.
f. Care

Kader dan pemegang program cukup aktif menjangkau masyarakat untuk


melakukan penimbangan balita.

Kurangnya kepedulian masyarakat dalam kegiatan peningkatan gizi


masyarakat.

g. Compatibility
Pemegang program adalah orang yang ahli dalam masalah gizi
h. Comprehensibility
Pemahaman masyarakat mengenai keluarga sadar gizi, balita ditimbang,
pentingnya pemberian tablet Fe pada ibu hamil, pemberian MP-ASI pada anak bawah
2 tahun dan pemberian ASI eksklusif masih kurang.

2.4.4.4 Analisis SWOT


a. Strength

101

Tersedianya sumber daya manusia yang cukup (dokter,bidan puskesmas,


pemegang program, dan kader).
Jumlah posyandu satu untuk setiap RW memadai.
Pelaksanaan posyandu yang berkesinambungan dilakukan disetiap RW satu
bulan sekali.
b. Weakness
Terbatasnya kemampuan tenaga kesehatan untuk mencakup seluruh Posyandu
sehingga hanya ada 1 petugas kesehatan di setiap terlaksananya Posyandu.
Masih kurangnya peran tenaga kesehatan luar Puskesmas untuk turut

c.

berpartisipasi dalam kegiatan Posyandu.


Sistem penghargaan bagi ibu yang menyusui kurang memadai.
Kurangnya ketrampilan kader dalam konseling menyusui.
Masih kurangnya poster dan leaflet edukasi pasien mengenai manfaat ASI.
Opportunity
Tersedianya sarana kesehatan yaitu Posyandu.
Terdapatnya kader setiap RW sebagai bentuk peran serta masyarakat.
Kerjasama lintas program dengan KIA memudahkan pelaksanaan posyandu.
Kerjasama dengan RW setempat dalam penyediaan tempat untuk Posyandu
Tersedianya pelayanan konsultasi dan pelatihan teknik menyusui yang tepat di

Puskesmas
d. Threat
Pencatatan dan pelaporan oleh sarana kesehatan lain belum terlaksana dengan
baik.

102

2.5

Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular (P2M)


Program pencegahan dan pemberantasan penyakit memiliki beberapa

subprogram diantaranya pelayanan imunisasi dasar, pelayanan imunisasi lanjutan,


pelayanan

imunisasi

ibu

hamil,

cakupan

desa/kelurahan

Universal

Child

Immunization (UCI), cakupan sistem kewaspadaan dini, cakupan surveilans terpadu


penyakit, cakupan pengendalian Kejadian Luar Biasa (KLB), serta penemuan dan
penanganan penderita penyakit.
2.5.1 Pelayanan Imunisasi Dasar
Pelayanan imunisasi dasar mencakup imunisasi BCG satu kali, DPT tiga
kali, polio empat kali, dan campak satu kali. Definisi operasional imunisasi
dasar lengkap menurut stratifikasi adalah jumlah bayi (0 12 bulan) yang telah

103

mendapatkan imunisasi dasar lengkap yang bilamana bayi tersebut telah mendapatkan
BCG satu kali, DPT tiga kali, polio empat kali, dan campak satu kali.
Target : 80%
Angka Standar : 80% x 2,64 x jumlah penduduk = 1.203
Tabel 2.79 Pelayanan Imunisasi Dasar
Cakupan
Tahun
Sasaran Pencapaian
(%)
2014

1.203

723

60,01%

Target
(%)
80%

Kesenjangan
(%)

Kesimpulan

-19,90

Tidak
memenuhi
target

2.5.1.1 Cakupan BCG


Imunisasi BCG adalah Pemberian imunisasi Bacille Calmette-Guerin (BCG)
kepada bayi usia 0-11 bulan di sarana pelayanan kesehatan (polindes, Pustu,
Puskesmas, Rumah Bersalin, RS dan Unit Pelayanan Swasta), maupun di Posyandu di
wilayah kerja.
Definisi Operasional :
Cakupan BCG adalah persentase bayi usia 0-11 bulan yang mendapatkan
imunisasi BCG di wilayah kerja Puskesmas pada kurun waktu satu tahun.
Sasaran :
Bayi 0 - 11 bulan di wilayah kerja Puskesmas dalam kurun waktu satu tahun.
Target : 98 %
Tabel 2.80 Imunisasi BCG
Tahun

Sasaran

2014

1.277

Pencapaian
1004

Cakupan
(%)

Target
(%)

Kesenjangan
(%)

Kesimpulan

78,62

98

-19,38%

Tidak
memenuhi
target

2.5.1.2 Cakupan DPTHB I


Imunisasi DPTHB 1 adalah Pemberian imunisasi DPTHB1 kepada bayi usia 2 11 bulan di sarana pelayanan kesehatan (polindes, Pustu, Puskesmas, Rumah
Bersalin, RS dan Unit Pelayanan Swasta), maupun di Posyandu di wilayah
Puskesmas.
Definisi Operasional :

104

Cakupan DPTHB 1 adalah Jumlah bayi usia 2- 11 bulan yang mendapatkan


imunisasi DPTHB ke-satu di wilayah kerja Puskesmas dalam kurun waktu satu tahun.
Sasaran: bayi berusia 0-11 bulan
Target : 98%
Tabel 2.81 Imunisasi DPTHB1
Tahun

Sasaran

2014

1.277

Pencapaian
1.007

Cakupan
(%)

Target
(%)

Kesenjangan
(%)

Kesimpulan

78,86

98

-19,14%

Tidak
memenuhi
target

2.5.1.3 Cakupan DPTHB3


Imunisasi DPTHB 3 adalah Pemberian imunisasi DPTHB yang ke tiga kepada
bayi usia 4 - 11 bulan di sarana pelayanan kesehatan (polindes, Pustu, Puskesmas,
Rumah Bersalin, RS, dan Unit Pelayanan Swasta) maupun di Posyandu di wilayah
kerja Puskesmas.
Definisi Operasional :
Cakupan DPTHB 3 adalah Jumlah bayi usia 4 - 11 bulan yang mendapatkan
imunisasi DPTHB ke-3 di wilayah Puskesmas dalam kurun waktu satu tahun.
Sasaran : Bayi 0 - 11 bulan
Target : 90 %
Tabel 2.82 Imunisasi DPTHB3
Tahun

Sasaran

2014

1.277

Pencapaian
971

Cakupan
(%)

Target
(%)

Kesenjangan
(%)

Kesimpulan

76,04

90

-13,96%

Tidak
memenuhi
target

2.5.1.4 Cakupan Polio 4


Imunisasi Polio 4 adalah Pemberian imunisasi Polio ke empat kepada bayi usia
4 - 11 bulan di sarana pelayanan kesehatan (polindes, Pustu, Puskesmas, Rumah

105

Bersalin, RS dan Unit Pelayanan Swasta) maupun di Posyandu di wilayah kerja di


wilayah kerja Puskesmas.
Definisi Operasional :
Cakupan Imunisasi Polio 4 adalah Jumlah bayi usia 4 - 11 bulan yang
mendapatkan imunisasi Polio keempat di wilayah Puskesmas pada kurun waktu satu
tahun.
Sasaran : Bayi 0 - 11 bulan
Target : 90 %
Tabel 2.83 Imunisasi Polio 4
Tahun

Sasaran

2014

1.277

Pencapaian
952

Cakupan
(%)

Target
(%)

Kesenjangan
(%)

Kesimpulan

74,55

90

-15,45%

Tidak
memenuhi
target

2.5.1.5 Cakupan Campak


Imunisasi Campak adalah Pemberian imunisasi Campak kepada bayi usia 9 - 11
bulan di sarana pelayanan kesehatan (polindes, Pustu, Puskesmas, Rumah Bersalin,
RS dan Unit Pelayanan Swasta) maupun di Posyandu di wilayah Puskesmas.
Definisi Operasional :
Cakupan Imunisasi Campak adalah jumlah bayi usia 9 - 11 bulan yang
mendapatkan imunisasi Campak di wilayah Puskesmas dalam kurun waktu satu
tahun.
Sasaran : Bayi 0 - 11 bulan
Target : 90 %
Tabel 2.84 Imunisasi Campak
Tahun

Sasaran

2014

1.277

Pencapaian
977

Cakupan
(%)

Target
(%)

Kesenjangan
(%)

Kesimpulan

76,51

90

-13,49%

Tidak
memenuhi
target

2.5.2 Cakupan Pelayanan Imunisasi Lanjutan

106

Pelayanan imunisasi lanjutan mencakup imunisasi cakupan Bias DT, cakupan


Bias TT, cakupan Bias Campak, cakupan pelayanan Imunisasi ibu hamil TT 2+, dan
cakupan Desa/Kelurahan Universal Child Immunization (UCI).
2.5.2.1 Cakupan Bias DT
Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) DT adalah Pemberian imunisasi DT
kepada seluruh siswa kelas 1 Sekolah Dasar (SD)/MI atau yang sederajat, laki-laki
dan perempuan di wilayah kerja Puskesmas.
Definisi Operasional :
Cakupan BIAS DT adalah Jumlah siswa kelas 1 Sekolah Dasar (SD) atau
sederajat, laki-laki dan perempuan yang mendapatkan imunisasi DT di wilayah kerja
Puskesmas dalam kurun waktu satu tahun.
Sasaran :
Siswa kelas 1 SD/MI atau yang sederajat di wilayah kerja Puskesmas dalam
kurun waktu satu tahun.
Target : 95 %
Tabel 2.85 Imunisasi BIAS DT
Tahun

Sasaran
2

014

1.
188

Pencapaian
1151

Cakupan
(%)

Target
(%)

96,
88

Kesenjangan
(%)
9

+1,88
%

Kesimpulan
Meme
nuhi target

2.5.2.2 Cakupan Bias TT


BIAS TT adalah Pemberian imunisasi TT kepada seluruh siswa kelas 2 dan 3
Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) negeri atau yang sederajat, lakilaki dan perempuan di wilayah kerja Puskesmas.
Definisi Operasional :
Cakupan BIAS TT adalah jumlah siswa kelas 2 dan kelas 3 Sekolah Dasar (SD)
dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau yang sederajat, laki-laki dan perempuan yang
mendapatkan imunisasi TT di wilayah kerja Puskesmas pada kurun waktu satu tahun.

107

Sasaran :
Siswa kelas 2 dan kelas 3 Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI)
atau yang sederajat di wilayah kerja Puskesmas pada kurun waktu satu tahun.
Target: 95%
Tabel 2.86 Imunisasi BIAS TT
Tahun

Sasaran

2014

2.297

Pencapaian
2.242

Cakupan
(%)

Target
(%)

97,60%

95

Kesenjangan
(%)
+1,60
%

Kesimpulan
Memenuhi
target

2.5.2.3 Cakupan Bias Campak


BIAS Campak adalah pemberian imunisasi Campak kepada seluruh siswa kelas
Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau yang sederajat, laki-laki dan
perempuan di wilayah kerja Puskesmas.
Definisi Operasional :
Cakupan BIAS Campak adalah Jumlah siswa kelas 1 Sekolah Dasar (SD) dan
Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau yang sederajat, laki-laki dan perempuan yang
mendapat imunisasi campak di wilayah kerja Puskesmas dalam kurun waktu satu
tahun.
Sasaran :
Siswa kelas 1 SD/MI atau yang sederajat di wilayah kerja Puskesmas dalam
kurun waktu satu tahun.
Target : 95 %
Tabel 2.87 Imunisasi BIAS Campak
Tahun

Sasaran

2014

1.188

Pencapaian
1.175

Cakupan
(%)

Target
(%)

98,90%

95

Kesenjangan
(%)
+3,90
%

2.5.2.4 Cakupan Pelayanan Imunisasi Ibu Hamil TT 2+

Kesimpulan
Meme
nuhi target

108

Imunisasi TT2 + IH adalah pemberian imunisasi TT ke dua atau ketiga atau


keempat atau kelima kepada ibu hamil sesuai dengan statusnya di sarana pelayanan
kesehatan (polindes, Pustu, Puskesmas, Rumah Bersalin, RS dan Unit Pelayanan
Swasta) maupun di Posyandu di wilayah kerja Puskesmas.
Definisi Operasional :
Cakupan Imunisasi TT2 + Ibu Hamil adalah jumlah ibu hamil yang
mendapatkan imunisasi TT ke-dua atau ke-tiga, atau ke-empat atau ke-lima di
wilayah kerja Puskesmas dalam kurun waktu satu tahun.
Sasaran :
Ibu hamil yang ada di wilayah kerja Puskesmas dalam kurun waktu satu tahun.
Target : 90 %
Tabel 2.88 Imunisasi TT2 + Ibu Hamil
Tahun

Sasaran

2014

1.077

Pencapaian
118

Cakupan
(%)

Target
(%)

Kesenjangan
(%)

Kesimpulan

10,96%

95

-79,04%

Tidak
memenuhi
target

2.5.2.5 Cakupan Desa/Kelurahan Universal Child Immunization (UCI)


Universal Child Immunization (UCI) adalah Tercapainya imunisasi dasar secara
lengkap pada bayi (0 - 11 bulan). Cakupan Desa/Kelurahan UCI adalah
Desa/Kelurahan dimana 80 % (2010); 82% (2011); 85% (2012); 88% (2013); 90%
(2014) dari jumlah bayi yang ada di desa tersebut sudah mendapat imunisasi dasar
lengkap dalam waktu satu tahun.
Definisi Operasional :
Cakupan Desa/Kelurahan Universal Child Immunization (UCI) adalah
Desa/Kelurahan dimana 80 % dari jumlah bayi yang ada di desa tersebut sudah
mendapat imunisasi dasar lengkap dalam waktu satu tahun.

109

Sasaran :
Jumlah seluruh Desa/Kelurahan di wilayah kerja Puskesmas dalam kurun satu
tahun.
Target : 80 % (2010); 82% (2011); 85% (2012); 88% (2013); 90% (2014)
Tabel 2.89 Cakupan Desa/Kelurahan Universal Child Immunization (UCI)
Tahun
2014

Sasaran
5

Pencapaian
5

Cakupan
(%)

Target
(%)

100%

90%

Kesenjangan
(%)

Kesimpulan

+10%

Meme
nuhi target

2.5.3 Cakupan Sistem Kewaspadaan Dini


Sistem Kewaspadaan Dini adalah Sistem surveilans epidemiologi terhadap
penyakit berpotensi KLB beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya yang
dimanfaatkan untuk meningkatkan sikap tanggap kesiapsiagaan, upaya-upaya
pencegahan dan tindakanpenanggulang-an kejadian luar biasa yang cepat dan tepat.
Definisi Operasional :
Cakupan Sistem Kewaspadaan Dini Penyakit Menular adalah Pengamatan/
mengidentifikasi Penyakit menular potensi KLB Mingguan (dengan menggunakan
Form W2).
Sasaran :
Jumlah minggu dalam 1 tahun atau 52 minggu
Target : 90 %
Tabel 2.90 Cakupan Sistem Kewaspadaan Dini
Tahun
2014

Sasaran
5

Pencapaian
5

Cakupan
(%)

Target
(%)

100%

90%

2.5.4 Cakupan Surveilans Terpadu Penyakit

Kesenjangan
(%)
+10%

Kesimpulan
Memenuhi
target

110

Sistem Terapadu Penyakit adalah Penyelenggaraan Surveilans Epidemiologi


terhadap beberapa kejadian, permasalahan dan faktor risiko masalah penyakit menular
dan tidak menular.
Definisi Operasional :
Cakupan Surveilans Terpadu Penyakit adalah cakupan pelaksanaan Surveilans
Epidemiologi penyakit menular yang bersumber data Puskesmas.
Sasaran :
12 bulan dalam satu tahun
Target : 100 %
Tabel 2.91 Cakupan Surveilans Terpadu Penyakit
Tahun
2014

Sasaran
52

Pencapaian
44

Cakupan
(%)

Target
(%)

Kesenjangan
(%)

Kesimpulan

84,62%

90%

-5,38%

Tidak
memenuhi
target

2.5.5 Cakupan Pengendalian Kejadian Luar Biasa (KLB)


Kejadian luar biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian
kesakitan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah
dalam kurun waktu tertentu dan merupakan keadaan yang dapat menjurus pada
terjadinya wabah.
Definisi Operasional :
Cakupan pengendalian KLB adalah cakupan jumlah penyakit yang dinyatakan
KLB yang dilakukan pengendalian/ ditanggulangi dalam satu tahun.
Sasaran : Jumlah KLB dalam satu tahun
Target : 100 %
Tabel 2.92 Cakupan Pengendalian KLB
Tahun
2014

Sasaran
-

Pencapaian
-

Cakupan
(%)
-

Target
(%)
100%

2.5.6 Penemuan dan Penanganan Penderita Penyakit

Kesenjangan
(%)
-

Kesimpulan
-

111

Program Penemuan dan Penanganan Penderita Penyakit menurut stratifikasi


puskesmas meliputi penyakit malaria, diare, kusta, TBC paru, dan DBD. Program
Penemuan dan Penanganan Penderita Penyakit menurut Pedoman Instrumen Penilaian
Kinerja Puskesmas (PKP) meliputi penemuan penderita pneumonia balita, penemuan
pasien baru TB BTA positif, kesembuhan pasien TB BTA Positif, penderita DBD
yang ditangani, dan penemuan penderita diare. Program Penemuan dan Penanganan
Penderita Penyakit menurut Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang
Kesehatan Di Kabupaten/Kota (SPM) meliputi penemuan penderita Acute Flacid
Paralysis, pneumonia balita, pasien baru TB BTA positif, penderita DBD yang
ditangani, dan penemuan penderita diare.
2.5.6.1 Cakupan Penemuan Penderita Pneumonia Balita (PKP dan SPM)
Pneumonia adalah infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli) yang
ditandai dengan batuk disertai nafas cepat dan atau kesukaran bernafas. Jumlah
perkiraan penderita pneumonia balita adalah 10% dari jumlah balita disatu wilayah
kerja dalam kurun waktu satu tahun.
Definisi Operasional :
Cakupan Penemuan Penderita Pneumonia Balita adalah persentase balita
dengan Pneumonia yang ditemukan dan diberikan tatalaksana sesuai standar di Sarana
Kesehatan di wilayah kerja Puskesmas dalam kurun waktu satu tahun.
Sasaran :
Jumlah perkiraan penderita pneumonia balita di wilayah kerja Puskesmas dalam
kurun waktu satu tahun (10% dari jumlah balita di wilayah kerja Puskesmas dalam
kurun waktu satu tahun = 10% dari 4.475 = 447 balita).
Target : 86%
Tabel 2.92 Cakupan Penemuan Penderita Pneumonia Balita

112

Tahun

Sasaran

2014

447

Pencapaian
324

Cakupan
(%)

Target

72,48

(%)

Kesenjangan
(%)

Kesimpulan

86

-13,52

Tidak
memenuhi
target

2.5.6.2 Cakupan Penemuan Pasien Baru TB BTA Positif (SPM dan PKP)
Penemuan pasien baru TB BTA positip adalah penemuan pasien TB melalui
pemeriksaan dahak sewaktu - pagi - sewaktu (SPS) dan diobati di unit pelayanan
kesehatan dalam wilayah kerja pada waktu tertentu. Pasien baru adalah pasien yang
belum pernah diobati dengan obat anti tuberkulosis (OAT) atau sudah pernah menelan
OAT kurang dari 1 bulan (30 dosis) harian. Pengertian diobati adalah pemberian
pengobatan pada pasien baru TB BTA positif dengan OAT selama 6 bulan.
Definisi Operasional :
Cakupan Penemuan Pasien baru TB BTA Positif adalah angka penemuan pasien
baru TB BTA pasitif atau Case Detection Rate (CDR) adalah persentase jumlah
penderita baru TB BTA positif yang ditemukan dibandingkan dengan jumlah
perkiraan kasus baru TB BTA positif dalam wilayah kerja Puskesmas dalam kurun
waktu 1 tahun.
Sasaran :
Jumlah perkiraan pasien baru TB BTA (+) di wilayah kerja Puskesmas dalam
kurun waktu satu tahun (107 / 100.000 x Jumlah penduduk di wilayah kerja
Puskesmas dalam kurun waktu satu tahun).
107 / 100.000 x 56.971 = 60,99 dibulatkan menjadi 61 orang
Target : 80%
Tabel 2.93 Cakupan Penemuan Pasien baru TB BTA Positif

113

Tahun
2014

Sasaran
51

Pencapaian
19

Cakupan
(%)

Target

37,25

(%)

Kesenjangan
(%)

Kesimpulan

86

-42,75

Tidak
memenuhi
target

Definisi Operasional Jumlah penderita TBC Paru yang Diobati menurut


Stratifikasi Puskesmas:
Penderita dengan basil tahan asam di dalam sputum (BTA +) yang harus diobati.
Angka Standar: 100% x 0,3% x 2/3 x jumlah penduduk = 113,9 ~ 114
Tabel 2.94 Cakupan Jumlah Penderita TBC Paru yang Diobati
Tahun

2014

Hasil
Kegiatan
(h)
19

Angka
Standar
(st)
114

Cakupan
(h/st)

Target

Kesenjangan
(%)

Kesimpulan

16,67%

100%

83,33%

Tidak
memenuhi
target

2.5.6.3 Cakupan Kesembuhan Pasien TB BTA Positif (PKP)


Sembuh adalah pasien telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan
pemeriksaan ulang dahak (follow-up) hasilnya negatif pada akhir pengobatan (AP)
dan pada satu pemeriksaan follow-up sebelumnya.
Definisi Operasional :
Angka Kesembuhan Pasien TB BTA pasitif atau Cure Rate (CR) adalah
persentase pasien baru TB paru BTA positif yang sembuh setelah selesai masa
pengobatan dibandingkan dengan jumlah pasien baru TB BTA positif yang diobati di
wilayah kerja Puskesmas dalam waktu satu tahun.
Sasaran :
Jumlah pasien baru TB BTA positif yang diobati di wilayah kerja Puskesmas
dalam kurun waktu satu tahun.
Target : 85 %

114

Tabel 2.95 Cakupan Kesembuhan Pasien TB BTA Positif


Tahun

Sasaran

2014

Pencapaian

19

Cakupan
(%)

Target

47,37

85

(%)

Kesenjangan
(%)
37,63

Kesimpulan
Tidak
memenuhi
target

Definisi Operasional Jumlah penderita TBC Paru yang Disembuhkan menurut


Stratifikasi Puskesmas:
Penderita dengan basil tahan asam di dalam sputum (BTA +) yang harus
disembuhkan.
Angka Standar: 80% x 100% x 0,3 x 2/3 x jumlah penduduk = 91,2
Tabel 2.96 Cakupan Jumlah Penderita TBC Paru yang Disembuhkan
Tahun

2014

Hasil

Angka

Kegiatan

Standar

(h)

(st)
9

91,2

Cakupan
(h/st)

9,88%

Target

80%

Kesenjangan
(%)
70,12%

Kesimpulan
Tidak
memenuhi
target

2.5.6.4 Cakupan Penderita DBD yang Ditangani


Penderita DBD adalah penderita penyakit yang memenuhi sekurangkurangnya dua kriteria klinis, diantaranya panas mendadak 2-7 hari tanpa sebab yang
jelas, tanda-tanda perdarahan (sekurang - kurangnya uji Torniquet positif),
pembesaran hati, dan syok, serta memenuhi dua kriteria laboratorium diantaranya
trombositopenia (Trombosit 100.000/l), atau penderita yang menunjukkan hasil
positif pada pemeriksaan HI test atau hasil positif pada pemeriksaan antibodi
dengan Rapid Diagnostik Test (RDT/ELISA).
Pelayanan penderita DBD ditingkat puskesmas, adalah kegiatan yang meliputi
anamnesis, pemeriksaan fisik meliputi observasi tanda-tanda vital, observasi kulit dan

115

konjungtiva, penekanan ulu hati untuk mengetahui nyeri ulu hati akibat adanya
perdarahan lambung, perabaan hati, uji Torniquet, pemeriksaan laboratorium atau
rujukan pemeriksaan laboratorium (sekurang-kurangnya pemeriksaan trombosit dan
hematokrit), memberi pengobatan simptomatis, merujuk penderita ke rumah sakit,
melakukan pencatatan dan pelaporan (formulir S0) dan disampaikan ke Dinkes
kabupaten/kota.
Definisi Operasional :
Cakupan Penderita DBD yang ditangani adalah persentase penderita DBD yang
ditangani sesuai standar di wilayah kerja Puskesmas dalam kurun waktu satu tahun
dibandingkan dengan jumlah penderita DBD yang ditemukan/ dilaporkan dalam
kurun waktu satu tahun yang sama.
Sasaran :
Jumlah penderita DBD yang ditemukan di wilayah kerja Puskesmas dalam
kurun waktu satu tahun
Target : 100 %
Tabel 2.97 Cakupan Penderita DBD yang Ditangani
Tahun

Sasaran

2014

Pencapaian
-

Cakupan
(%)
-

Target
(%)
100%

Kesenjangan
(%)
-

Kesimpulan
-

Definisi Operasional Penyelidikan Epidemiologi DBD menurut stratifikasi:


Pemeriksaan jentik dan pencarian kasus panas di rumah penderita dan 20 rumah
di sekitarnya.
Angka standar: 100% jumlah kasus dilakukan penyeldikan epidemiologi.
Tabel 2.98 Penyelidikan Epidemiologi DBD menurut Stratifikasi
Tahun
2014

Hasil
Kegiatan
(h)
-

Angka
Standar
(st)
-

Cakupan
(h/st)
-

Target
100%

Kesenjangan
(%)
-

Kesimpulan
-

116

2.5.6.5 Cakupan Penemuan Penderita Diare


Diare adalah buang air besar lembek atau cair bahkan dapat berupa air saja yang
frekuensinya lebih sering dari biasanya. Angka kesakitan adalah angka kesakitan
Nasional Hasil Survei Morbiditas Diare tahun 2006 adalah 423/1000 penduduk.
Perkiraan jumlah penderita diare yang datang ke sarana kesehatan dan kader adalah
10% dari angka kesakitan dikalikan jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas
dalam kurun waktu satu tahun.
Definisi Operasional :
Cakupan Penemuan penderita diare adalah jumlah penderita yang datang dan
dilayani di Sarana Kesehatan dan Kader di wilayah kerja Puskesmas dalam kurun
waktu satu tahun.
Sasaran :
Jumlah perkiraan penderita diare di wilayah kerja Puskesmas dalam kurun
waktu satu tahun (Perkiraan penderita ( 411 / 1000 x jumlah penduduk) x 10% (tiap
kabupaten/ Kota berbeda).
Target : 75%
Tabel 2.99 Cakupan Penderita Diare yang Ditangani
Tahun

Sasaran

2014

2.334

Pencapaian
2.039

Cakupan
(%)

Target
(%)

87,36%

75%

Kesenjangan
(%)
+12,3
6%

Kesimpulan
Meme
nuhi target

Cakupan Penemuan Penderita Diare menurut Stratifikasi Puskesmas


Diare adalah penyakit yang ditandai dengan perubahan bentuk dan konsistensi
melembek sampai mencair dan bertambahnya frekuensi berak dari biasanya
(lazimnya tiga kali atau lebih dalam sehari).
Definisi operasional:
1
Cakupan pelayanan

117

Jumlah penderita diare umur < 5 tahun yang diobati adalah jumlah penderita
diare umur 0 - 4 tahun yang diobati. 1,7 = frekuensi diare rata-rata tiap balita, 10% =
standard cakupan.
Jumlah penderita diare semua umur yang diobati adalah jumlah penderita diare
semua golongan umur yang diobati.
2
Kualitas pelayanan
Jumlah oralit yang diberikan pada penderita diare (semua umur) adalah jumlah
liter oralit yang telah diberikan kepada penderita.
Ratio yang sembuh dengan seluruh penderita adalah perbandingan antara
penderita diare yang sembuh (x-y) dan penderita diare seluruhnya (x) yang
diketemukan dalam wilayah kerja puskesmas. Y = jumlah penderita diare yang
meninggal.
3
Peran serta masyarakat
Proporsi penderita yang diobati kader adalah jumlah penderita yang diobati
melewati kader dibagi dengan jumlah penderita diare seluruhnya yang ditemukan
dalam wilayah kerja puskesmas.

118

Rincian
Variabel

Hasil
Kegiatan
(h)

Jumlah
balita yang
diobati

Jumlah
penderita
diare semua
umur yang
diobati
Jumlah
oralit yang
diberikan
semua
umur
Ratio yang
sembuh
dengan
seluruh
penderita
Proporsi
penderita
yang
diobati
kader

Angka Standard
(st)
10%x 1,7x jumlah
balita (4.475)=
760,75
10%x1,7x12
,13% jumlah
penduduk (56971)
= 1232,91
10%x 30%x
jumlah penduduk
(56971) = 1.709
Jumlah
penderita x 1,5
Liter =

Angka
Cakupan
Kegiatan
(h/st)
-

Kesenjangan

Kesimpulan

98,5%

40%

Tabel 2.100 Penyakit Diare (Stratifikasi)


2.5.6.6 Cakupan Penemuan Penyakit Malaria
Definisi operasional:
1. Pengobatan radikal : pengobatan yang diberikan kepada penderita dengan sediaan
darah positif di Jawa dan Bali. Jumlah penderita yang diberikan pengobatan
radikal adalah jumlah penderita dengan sediaan darah positif yang diberikan
pengobatan radikal.
2. Pengobatan profilaksis adalah pengobatan pencegahan ini dilaksanakan oleh
masing-masing individu yang memerlukan pencegahan terhadap malaria selama
berada di daerah malaria dan beberapa waktu sesudah meninggalkan tempat

119

tersebut. Jumlah orang yang diberikan pengobatan adalah jumlah orang


pendatang yang akan berada/menetap di daerah malaria.
3. Pengobatan malaria klinis adalah pengobatan yang diberikan pada penderita
malaria klinis (=demam mengiggil yang berkala dan sakit kepala) diluar pulau
Jawa dan Bali. Jumlah penderita yang diberikan pengobatan malaria klinis adalah
jumlah penderita demam tersangka menderita malria yang diberikan pengobatan
malaria klinis.
4. Pengobatan pencegahan adalah pengobatan yang diberikan kepada ibu hamil
sejak hamil 3 bulan sampai denga selesai nifas. Jumlah ibu hamil yang diberikan
pengobatan pencegahan adalah jumlah ibu hamil yang mendapat pengobatan
pencegahan.
5. Pengamatan penderita ( case detection) adalh pemeriksaan sediaan darah pada
penderita demam, baik malaria klinis melalui ACD dan PCD di Jawa dan Bali,
maupun PCD di luar Jawa dan Bali. Jumlah penderita yang diperiksa sediaan
darahnya adalah jumlah penderita yang diperiksa darahnya melalui PCD di luar
Jawa dan Bali
Rinci
an Variabel

Has
il
Kegiatan
(h)

Peng
obatan
radikal

Peng
obatan
profilaksis
Peng
obatan
malaria
klinis
Peng
obatan
pencegahan
Case
detection

Angka
Standard (st)

100%x
jumlah penderita
sediaan darah
positif
100%x
jumlah pendatanf

An
gka
Cakupan
Kegiatan
(h/st)
-

Kesen
jangan

Kesi
mpulan

30%x10%xj
umlah penduduk

70% x
3,16% x jumlah
penduduk
10%x
jumlah penduduk
di Jawa
Balix30%x10% x
jumlah penduduk
di luar Jawa Bali

120

Tabel 2.101 Penyakit Malaria (Stratifikasi)


2.5.6.7 Cakupan Penemuan Penyakit Kusta
Definisi Operasional:
1. Jumlah penderita baru yang ditemukan adalah penderita yang didiagnosis kusta
untuk pertama kali oleh dokter dan paramedis, selama 1 tahun kalender, di dalam
wilayah kerja Puskesmas atau penderita kusta pindahan dari wilayah lain yang
tidak bisa menunjukkan kartu pengenal penderita dari tempat berobat semula.
2. Jumlah penderita yang diobati teratur adalah jumlah penderita yang mendapat
pengobatan teratur dalam 1 tahun kalender dalam wilayah kerja Puskesmas.
Pengobatan teratur : minimal 75% pengobatan yang seharusnya diterima.
Tabel 2.102 Penyakit Kusta (Stratifikasi)
Rinci
an Variabel

Has
il
Kegiatan
(h)

Pend
erita baru

Peng
obatan
teratur

Angka
Standard (st)

100%x
prevalensi
penderita kusta di
daerah dikurangi
jumlah pendderita
kusta yang telah
ditemukan dan
didaftar
80% x
penderita baru dan
lama

An
gka
Cakupan
Kegiatan
(h/st)
-

Kesenj
angan

Kesi
mpulan

2.5.6.8 Cakupan Penemuan Acute Falcid Paralysis (AFP) Rate per 100.000
Penduduk < 15 Tahun
Kasus AFP adalah semua anak berusia kurang dari 15 tahun dengan
kelumpuhan yang sifatnya flasid atau layuh terjadi secara akut atau mendadak, dan
bukan disebabkan oleh rudapaksa. Kasus AFP non polio adalah kasus AFP yang pada

121

pemeriksaan spesimennya tidak ditemukan virus polio liar atau kasus AFP yang
ditetapkan oleh tim ahli sebagai kasus AFP non polio dengan kriteria tertentu.
Definisi Operasional:
Jumlah kasus AFP non polio yang ditemukan diantara 100.000 penduduk
kurang dari 15 tahun pertahun di satu wilayah kerja tertentu.
Target: target tiap tahun 2/100.000 penduduk dibawah 15 tahun.
Tabel 2.103 Cakupan Penderita AFP non polio <15 Tahun per 100.000 Penduduk
T
ahun

Sa
saran

2
014

Pen
capaian

25.
724

Ca
kupan

t
3/2

Targe

5.724
penduduk

2/100.000
penduduk
dibawah 15
tahun

Kese
njangan
(%)
+11,
61

Kesi
mpulan
Mem
enuhi target

2.5.7 Identifikasi Masalah


No.
1

Nama Kegiatan
Pelayanan Imunisasi Dasar

Kesenjangan
-19,90

BCG

-19,38

DPTHB 1

-19,14

DPTHB III

-13,96

Polio IV

-15,45

Campak

-13,49

7
8
9
10

Bias DT
Bias TT
Bias Campak
TT 2+

+1,88
+1.60
+3,90
-79,04

11
12
13

UCI
Sistem Kewaspadaan Dini
Surveilans Terpadu

+10
+10
-5,38

14
15

Pengendalian KLB
Pneumonia

-13,52

Kesimpulan
Tidak memenuhi
Target
Tidak memenuhi
Target
Tidak memenuhi
target
Tidak memenuhi
target
Tidak memenuhi
target
Tidak memenuhi
target
Memenuhi target
Memenuhi target
Memenuhi target
Tidak memenuhi
target
Memenuhi target
Memenuhi target
Tidak memenuhi
target
Tidak memenuhi
target

122

16

TB Paru Positif (PKP dan SPM)

-42,75

17

TB Paru Positif (Stratifikasi)

-83,33

18

TB Paru Sembuh (PKP dan SPM)

-37,63

19

TB Paru Sembuh (Stratifikasi)

-70,12

20
21
22
23
24
25
26

DBD (PKP dan SPM)


DBD (Stratifikasi)
Diare (PKP dan SPM)
Diare (Stratifikasi)
Malaria
Kusta
Acute Flacid Paralysis non polio

+12,36
-

Tidak memenuhi
target
Tidak memenuhi
target
Tidak memenuhi
target
Tidak memenuhi
target
Memenuhi target
Memenuhi target

+11,61

2.5.8 Penentuan Prioritas Masalah


Prio
ritas

Variable
Program
TB
Paru
Positif
Imunisasi
dasar
BCG
DPTHB 1
DPTHB III
Polio IV
Campak
Pneumonia

Social
benefit

Technical
feasibility

Degree of
unmeet
need
3

1
1
1
1
1
3

2
2
1
2
2
3

1
1
1
1
1
2

Preva
lence

Sever
ity

Resources
availabilit
y
4

22

21

II

2
2
1
2
2
3

5
5
5
5
5
2

3
3
3
3
3
2

14
14
12
14
14
15

III
V
VIII
VI
VII
III

SCOR
E

2.5.9 Analisis Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit


2.5.12.1 Input (7M)
A. Man
Program Upaya kesehatan dan P2M di Puskesmas Cihampelas dipegang oleh
empat orang dengan latar belakang pendidikan satu orang Sarjana Kesehatan
Masyarakat, dan tiga orang berpendidikan D3 keperawatan. Ditiinjau dari analisis

123

lingkungan fisik Puskesmas Cihampelas termasuk dalam beban kerja yang berat
karena jumlah petugas yang ada merangkap dengan program lain sehingga tidak
semua program berjalan.

B. Money
Pembiayaan telah mencukupi karena sumber biaya untuk pemeriksaan sputum
BTA dan obat-obatan untuk TBC Paru didukung langsung oleh Dinas Kesehatan
Kabupaten Bandung Barat.
C. Material
Persediaan alat-alat untuk TBC Paru di Puskesmas Cihampelas hanya tersedia
sampai fiksasi BTA, sedangkan untuk pemeriksaan mikroskopik BTA bahan spesimen
diperiksa di Puskesmas Cililin yang berjarak 4,7 km atau dapat ditempuk dengan
kendaraan selama kira-kira 10 menit. Pasokan OAT didapat dari Dinas Kesehatan
Kabupaten Bandung Barat. Pemeriksaan TB anak yaitu tes Mantoux belum tersedia di
Puskesmas Cihampelas, sehingga anak yang dicurigai mengalami TBC dirujuk ke
Dinas Kesehatan untuk dilakukan tes Mantoux, sedangkan hasil pembacaannya
dilakukan di Puskesmas Cihampelas.
D. Machine
Ruang pengambilan sputum BTA ada di Puskesmas Cihampelas.
E. Methode
Petugas puskesmas menjalin kerja sama dengan kader, tetapi kader kurang
berperan aktif dalam penemukan kasus TBC baru BTA positif.
F. Market

124

Warga Kecamatan Cihampelas cukup aktif dalam penemuan kasus TBC baru
BTA positif. Warga bersedia datang sendiri ke Puskesmas untuk berobat, dan diambil
sampel sputumnya. Keluarga pasien juga bersedia untuk menjadi Petugas Minum
Obat (PMO), tetapi kesadaran anggota keluarga yang serumah dengan penderita TBC
paru untuk memeriksakan sputum BTA masih kurang.
G.` Minute
Pelaksanaan program penemuan kasus TBC baru BTA positif di Puskesmas
Cihampelas berlangsung bersamaan dengan jam kerja puskesmas tiap harinya yaitu
senin sampai sabtu pukul 08.00 s.d. 14.00
2.5.12.2 Proses
A. Planning
1
2
3
4

Pembinaan kader
Kerjasama lintas program dengan pemegang program promosi kesehatan
Kerjasama lintas sektoral dengan pemerintah dan tokoh masyarakat setempat
Pencatatan dan pelaporan.

B. Organizing
Penyampaian rencana kerja dilakukan dengan pertemuan antara pemegang
program dengan kader.
C. Actuating
1 Penyuluhan mengenai tanda dan gejala TBC Paru kurang.
2 Pencatatan dilakukan oleh kader dan dilaporkan ke pemegang program.
D. Controlling
Kurangnya pengawasan terhadap pelaksanaan oleh pemegang program
sehingga kinerja kader tidak mencapai maksimal.
2.5.12.3 Output (4A4C)

125

A. Availability
Ketersediaan pelayanan pemeriksaan sputum BTA masih kurang dalam
pemeriksaan mikroskopik BTA.
B. Acceptability
Penerimaan untuk program penemuan kasus TBC baru BTA positif, cukup
baik diterima oleh masyarakat. Namun pengetahuan masyarakat mengenai penyakit
TBC Paru masih kurang.
C. Accessibility
Keberadaan pelayanan di Puskesmas Cihampelas mudah dijangkau oleh
masyarakat setempat dikarenakan tempat Puskesmas Cihampelas yang strategis.
D. Accountability
Pertanggungjawaban untuk program penemuan kasus TBC baru BTA positif
berupa laporan pencatatan dan pelaporan kepada koordinator pemegang program P2P
lalu dilaporkan kepada Kepala Puskesmas dan laporan khusus pada Dinas Kesehatan.
E. Continuity
Kegiatan penyuluhan tentang pentingnya TBC Paru, dan bahayanya masih
belum dilaksanakan secara berkesinambungan, disebabkan oleh keterbatasan sumber
daya manusianya (tenaga kesehatan).
F. Care
Tingkat kepedulian masyarakat mengenai kasus TBC Paru di wilayah kerja
Puskesmas Cihampelas masih kurang, dikarenakan pengetahuan masyarakat
mengenai penyakit TBC Paru masih kurang.

126

G. Comprehensibility
Pengetahuan masyarakat tentang TBC Paru kurang didukung jumlah petugas
kesehatan yang seharusnya memberikan penyuluhan kurang, dan kader kurang aktif.

H. Competency
Kompetensi dari petugas poli umum di Puskesmas Cihampelas cukup baik.
2.5.12.4 Analisis SWOT
A. Strength
Program penanganan TBC Paru sudah masuk dalam program P2P yang
dilakukan setiap hari di Poli Umum Puskesmas Cihampelas.
B. Weakness
Kurangnya petugas kesehatan untuk penyuluhan penyakit TBC Paru, dan
keaktifan kader kurang.
C. Opportunity
Dukungan dari Kepala Puskesmas Cihampelas dan Dinas Kesehatan
Kabupaten Bandung Barat.
D. Threats
Masih kurang aktifnya dan kepeduliannya masyarakat terhadap penyakit TBC
Paru dan keaktifan kader dalam menduga kasus TBC Paru.

127

2.5.13 Plan of Action


Tabel 2.111 Penyebab Masalah Program Pencegahan Penyakit Menular
Penyebab Masalah
1
2
3

Pemecahan Masalah

Kurangnya pertugas
penyuluhan mengenai TBC
Paru
Kurang aktifnya kader dalam
penemuan kasus TB baru BTA
positif
Kurangnye pengetahuan
masyarakat mengenai TBC
paru

2.6 Pengobatan
2.6.1 Cakupan Upaya Pengobatan
.6.1.1

Cakupan Kunjungan Rawat Jalan


Cakupan kunjungan rawat jalan adalah persentase kunjungan baru rawat jalan

puskesmas yang berasal dari dalam wilayah kerja puskesmas dan sekitarnya dalam
kurun waktu satu tahun.

128

Sasaran: 15% dari jumlah penduduk di dalam wilayah kerja puskesmas dalam kurun
waktu satu tahun.
Target: 100 %.
Tabe2.113l Cakupan kunjungan rawat jalan tahun 2014
Kegiatan
Rawat
jalan

Sasaran

Pencapaian

Target
%

Cakupan
%

Kesenjanga
n

Kesimpulan

8.545

2.332

100

27

-73

Tidak
mencapai
target

Sedangkan cakupan kunjungan rawat jalan menurut Stratifikasi Puskesmas


Provinsi Jawa Barat tahun 1999/2000, cakupan kunjungan rawat jalan adalah jumlah
kunjungan kasus baru, kasus lama, dan kunjungan kasus dalam kurun waktu 1 tahun.
Hasil yang didapat pada Puskesmas Cihampelas, yakni sebagai berikut.

Tabel 2.14 Cakupan kunjungan rawat jalan berdasarkan stratifikasi puskesmas


Angka
Rincian
Hasil
Angka
Cakupan
Kesenjangan
Variabel
Kegiatan (h) Standar (st)
Kegiatan
(h/st)
Jumlah
2.332
50%x72,6%
10,8
-89,2
kasus baru
x63,2%
(x)
x0,45%
x365x
jumlah
penduduk
(56.971) =
21.421
Jumlah
11.137
kasus lama
+ kunjungan
kasus (y)

Kesimpulan
Tidak
Memenuhi
target

129

Frekuensi
Kunjungan
(f)

13469/1113
7=1,2

Mutu
pelayanan

1,5x100%/
1,2= 1,25

2.6.1.2 Cakupan Kunjungan Rawat Jalan Gigi


Cakupan kunjungan rawat jalan gigi adalah persentase kunjungan baru rawat
jalan gigi puskesmas yang berasal dari dalam wilayah kerja puskesmas dan dalam
kurun waktu satu tahun.
Sasaran: 4% dari jumlah penduduk di dalam wilayah kerja puskesmas dalam kurun
waktu satu tahun.
Target: 100 %.
Tabel 2.115 Cakupan kunjungan rawat jalan gigi tahun 2014
Kegiatan

Sasaran

Rawat
jalan gigi

2278

Pencapaian
2726

Cakupan
%
119,66

Target %

Kesenjangan

Kesimpulan

100

+19,66

Mencapai
target

2.6.1.3 Cakupan Jumlah Seluruh Pemeriksaan Laboratorium Puskesmas


Cakupan jumlah seluruh pemeriksaan laboratorium puskesmas adalah
persentase jumlah pasien yang melakukan pemeriksaan laboratorium di puskesmas
dalam kurun waktu satu tahun.
Sasaran: Jumlah kunjungan pasien ke puskesmas dalam kurun waktu satu tahun.
Target: 20 %.
Tabel 2.116 Cakupan jumlah seluruh pemeriksaan laboratorium puskesmas tahun
2014
Kegiatan

Sasaran

Pencapaian

Cakupan
%

Target
%

Kesenjangan

Kesimpulan

130

Lab
PKM

47.373

Tidak ada
data

100

Tidak dapat
dinilai

Berdasarkan stratifikasi puskesmas tahun 1999/2000, jumlah pemeriksaan


terhadap spesimen darah menurut jenis pemeriksaannya adalah jumlah pemeriksaan
terhadap spesimen darah meliputi jenis-jenis pemeriksaan hitung eritrosit, hitung
leukosit, hitung jenis leukosit, laju endap darah, golongan darah, kadar Hb, dan
malaria.
Jumlah pemeriksaan terhadap spesimen urin menurut jenis adalah jumlah
pemeriksaan terhadap spesimen urin meliputi jenis-jenis pemeriksaan makroskopis
(kejernihan), berat jenis, pH, sedimen, protein, bilirubin, glukosa/reduksi, tes
kehamilan.
Jumlah pemeriksaan terhadap spesimen tinja menurut jenis adalah jumlah
pemeriksaan terhadap spesimen tinja meliputi jenis-jenis pemeriksaan makroskopis
(warna, bau, konsistensi, darah, lendir, cacing dewasa), mikroskopis ( epitel, eritrosit,
sisa makanan) telur/ larva cacing, dan amoeba.
Jumlah pemeriksaan terhadap spesimen lain-lain menurut jenis adalah jumlah
pemeriksaan terhadap spesimen urin meliputi jenis-jenis pemeriksaan TBC paru
(sputum dahak), GO (apus vagina, apus uretra, sekret prostat), kusta, jamur
permukaan (kerokan kulit, kuku, rambut ), dan Trichomas/Candida.
Tabel 2.117 Jumlah pemeriksaan laboratorium sederhana puskesmas (stratifikasi)
Rincian
Variabel

Hasil
Kegiatan
(h)

Angka Standar
(st)

Angka
Cakupan
Kegiatan
(h/st)

Kesenjangan

Kesimpulan

131

Jumlah
pemeriksaan
terhadap
spesimen
darah

Tidak ada
data

Jumlah
pemeriksaan
terhadap
spesimen
urin
Jumlah
pemeriksaan
terhadap
spesimen
tinja
Jumlah
x+y+z

Tidak ada
data

Tidak ada
data

42.373 x 5000/
60000 = 3542

Tidak ada
data

Jumlah
pemeriksaan
terhadap
spesimen
lain-lain

342

42.373 x 1000/
60000 = 708

48,3

-366

Tidak
memenuhi
standar

Tidak ada
data

2.6.1.4 Cakupan Jumlah Seluruh Pemeriksaan Laboratorium yang Dirujuk


Cakupan jumlah seluruh pemeriksaan laboratorium yang dirujuk adalah jumlah
pemeriksaan yang tidak dapat dilakukan oleh laboratorium puskesmas dan dirujuk ke
laboratorium pusat rujukan (Labkesda atau Lab RSUD).
Sasaran: Pemeriksaan laboratorium yang berasal dari pasien dari dalam dan luar
gedung puskesmas dalam kurun waktu satu tahun.
Target:10 %.
Tabel 2.118 Cakupan jumlah seluruh pemeriksaan laboratorium yang dirujuk tahun
2014

132

Kegiatan

Sasara
n

Lab PKM
yang
dirujuk

Pencapaia Targe
n
t
342

10%

Cakupa
n

Kesenjanga
n

Kesimpula
n

2.6.1.5 Pelayanan Kesehatan Mata Dasar


Menurut stratifikasi puskesmas tahun 1999/2000, pelayanan kesehatan mata
dasar di bidang pengobatan dapat dibagi dalam 3 aspek, yaitu:
1. Jumlah kasus sakit mata yang diobati: pengobatan kasus mata sakit 20% dari
prevalensi morbiditas mata.
2. Jumlah kasus katarak yang dideteksi: deteksi kasus katarak untuk dirujuk ke
puskesmas dengan tempat tidur. Insidensi buta katarak = 0,76% penduduk.
3. Jumlah penderita kelainan refraksi yang dilayani: deteksi kasus dengan memeriksa
kelainan refraksi. Prevalensi kelainan refraksi termasuk presbiopi = 25,3% dari
jumlah penduduk.

Tabel 2.119 Pelayanan kesehatan mata dasar berdasarkan stratifikasi puskesmas


Nama
Nilai
Kegiatan
Angka
Pencapaia
(Kesehata
Hasil
Angka
Cakupan
n Hasil
Kesimpulan
n
Kegiatan
Standar
Kegiatan Kegiatan
Mata
Puskesmas
dasar)
Jumlah
kasus sakit
Tidak
20%x19,51%x
Tidak
Tidak ada
mata yang
ada data
56.245
ada data
data
diobati

133

Jumlah
kasus
katarak
yang
dideteksi
Jumlah
kelainan
refraksi

Tidak
ada data

60%x 0,76%x
56.245

Tidak
ada data

Tidak ada
data

Tidak
ada data

20%x25,3%x
56.24

Tidak
ada data

Tidak ada
data

2.6.1.6 Beban Kerja


Menurut stratifikasi puskesmas tahun 1999/2000, cakupan beban kerja terdiri
atas:
1.

Kasus baru + kasus lama + kunjungan kasus.

2.

Jumlah pekerja non formal yang diperiksa: pekerja non formal adalah
sekelompok tenaga kerja yang berkaitan secara non formal atas dasar
keserasian, keakraban, kepentingan bersama dan saling mempercayai untuk
mencapai tujuan bersama. Kelompok ini tidak memiliki kekuatan hukum
formal, seperti anggaran dasar atau anggaran rumah tangga, badan hukum, dsb.
Contoh pekerja non formal:
a.

Petani ikan, petani padi, petani perkebunan inti rakyat (PIR), dsb yang
melakukan tugasnya menggunakan peralatan tradisional.

b.

Nelayan laut, nelayan tambak, dan penyelam mutiara tradisional.

c.

Perajin industri kecil atau home industry, antara lain perajin batu bara,
perajin kulit, perajin tahu tempe, perajin gula, keramik, galangan kapal
rakyat, dsb.

Satu kelompok pekerja minimal terdiri dari 20 orang pekerja.

134

3.

Jumlah peserta latihan fisik yang diperiksa: peserta latihan fisik adalah bagian
penduduk dewasa yang melaksanakan latihan fisik untuk keseragaman jasmani.
Diperkirakan 14% penduduk kota besar berpartisipasi dalam latihan fisik.
Diantaranya diharapkan 20% diperiksa kesehatannya di puskesmas.

4.

Calon Transmigran.

5.

Calon Jemaah Haji

Tabel 2.120 cakupan beban kerja menurut stratifikasi puskesmas

Kasus baru +
kasus lama +
kunjungan
kasus

47.373

1,5% x
25,25%
x
56.971
x 20 +
20% x
14% x
56.971
= 5910

12,47

Nilai
Pencapaian
Hasil
Kegiatan
Puskesmas
-87,53

Kelompok
kerja non
formal
Peserta
latihan fisik
Calon
transmigran
Calon
jemaah haji

5.910

5.910

5.910

5.910

Beban Kerja

Hasil
Kegiatan

Angka
Angka
Cakupan
Standar
Kegiatan

Kesimpulan

Tidak
memenuhi
standar

2.6.2 Identifikasi Masalah


Tabel 2.121 identifikasi masalah/ kesenjangan upaya pengobatan Puskesmas
Cihampelas tahun 2014
Kesenjangan
No
Program
.
PKP
Stratifikasi

135

1.

Cakupan kunjungan rawat jalan

2.

Cakupan kunjungan rawat jalan gigi

3.

Cakupan seluruh pemeriksaan laboratorium


Cakupan Seluruh Pemeriksaan Laboratorium yang
dirujuk

4.

-73

-89,2
Tidak ada
data
-

+19,66
-

2.6.3 Penentuan Prioritas Masalah


Tabel2.122 Prioritas masalah upaya pengobatan di Puskesmas Cihampelas pada tahun
2014
Variabel
Cakupan
kunjungan
rawat jalan
Cakupan
kunjungan
rawat jalan
gigi
Cakupan
pemeriksaan
laboratorium
puskesmas
Cakupan
pemeriksaan
laboratorium yang
dirujuk

Prevalence

Severity

Degree
of
Unmeet
Need

15

15

19

15

Social
Benefit

Technical
Feasibility

Resources
Availability

Jumlah

Analisis Program Pengobatan


Input (7M)
a. Man
Program pengobatan di Puskesmas Cihampelas dipegang oleh 2 dokter umum
dan 1 dokter gigi. Penanggung jawab program dipegang oleh 1 dokter umum.

136

b. Money
Dana atau anggaran berasal dari Dinas Kesehatan. Dana atau anggaran yang
dibutuhkan sudah cukup dan semua kebutuhan pengobatan yang dibutuhkan di
Puskesmas Cihampelas dapat terpenuhi.
c. Material
Persediaan atau kebutuhan obat-obatan dan peralatan balai pengobatan yang
disediakan dari Dinas Kesehatan dirasa kurang. Terdapat keterbatasan dari jumlah
obat yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan puskesmas. Tidak adanya alat dan
reagen untuk pemeriksaan laboratorium khususnya pemeriksaan darah.
d. Machine
Terdapat 5 ruangan yang disediakan untuk program pengobatan, yaitu ruang
poli umum, poli lansia , poli KIA, poli MTBS, dan poli gigi. Peralatan dan inventaris
lain yang digunakan seperti stetoskop, tensimeter, termometer, meja periksa, dan lainlain sudah cukup tersedia di puskesmas.
e. Method
Metode yang digunakan untuk pencapaian target program di Puskesmas
Cihampelas berdasarkan kunjungan/pengawasan petugas ke masing-masing sasaran
program. Sistem pencatatan dan pencarian buku status pasien sudah menggunakan
sistem komputerisasi sehingga mudah dalam pencarian data atau status pasien
didapatkan.
f. Minute
Puskesmas buka setiap Senin-Sabtu. Jam buka hari SeninJumat mulai pukul
07.00-14.00 WIB dan Sabtu pukul 07.00-13.00 WIB.
g. Market
Sasaran dari program kegiatan BP ini ialah penduduk, baik pasien umum
maupun BPJS yang berada di wilayah kerja Puskesmas Cihampelas.

137

2.6.4.2 Proses
a. Planning
Pengobatan dilakukan pada hari Senin-Sabtu oleh petugas yang telah ditugaskan
di BP.
Tujuan program pelayanan balai pengobatan atau kunjungan rawat jalan jelas
pelaksanaannya juga berjalan dengan lancar.
b. Organizing
Penanggung jawab program dipegang oleh 1 orang dokter umum. Pemegang
program pengobatan bertanggung jawab kepada kepala puskesmas.
c. Actuating
Melaksanakan pengobatan rawat jalan, pengobatan gigi, dan setiap hari kerja
(Senin sampai Sabtu).
Pelaksanaan pengobatan rawat jalan dilaksanakan dengan baik.
Pelaksanaan pemeriksaan laboratorium yang dilakukan dipuskesmas tidak
dilakukan karena alat dan bahan yang tidak memadai sedangkan bahan yang
dirujuk hanya pemeriksaan BTA ke puskesmas pusat yaitu Cililin lainnya tidak
dilakukan karena terkait dengan sistem rujukan yang didasari dengan diagnosis
pasien di luar kompetensi dokter umum sehingga dokter yang langsung menulis
rujukan.
d. Controlling
Pengawasan selalu dilakukan oleh koordinator pemegang program dan
dilaporkan setiap bulan ke kepala puskesmas yang kemudian dilaporkan kepada Dinas
Kesehatan.
e. Evaluation
Evaluasi dilakukan oleh koordinator pemegang program dan dilaporkan setiap
bulan ke kepala puskesmas untuk perbaikan program pengobatan selanjutnya.
2.6.4.3 Output
a. Availability

138

Pelaksanaan kegiatan BP selalu dilaksanakan setiap hari kecuali hari Minggu.


b. Acceptability
Kegiatan BP ini dapat diterima oleh masyarakat dan tidak menimbulkan pro
maupun kontra dari masyarakat.
c. Accesibility
Kegiatatan pelaksanaan BP ini mudah dijangkau karena terletak di pinggir jalan
yang banyak dilalui oleh kendaraan roda empat maupun roda dua sehingga mudah
dijangkau.
d. Accountability
Pertanggung jawaban dari program BP dilaksanakan dari pemegang program
masing-masing ke kepala puskesmas dan kepala puskesmas ke kepala Dinas
Kesehatan.
e. Continuity
Keberlangsungan kegiatan BP ini cukup baik, sudah dilaksanakan terus menerus
dan berkesinambungan. Puskesmas hanya tinggal melengkapi sarana laboratorium
puskesmas.
f. Care
Tingkat kepedulian masyarakat tentang kesehatan dirinya dirasakan sudah
cukup baik. Hal ini dapat dilihat dari sebagian besar pasien tertentu, seperti pasien
hipertensi, diabetes yang rutin kontrol ke puskesmas.
g. Competency
Untuk kecakapan dalam program pengobatan ini dinilai cukup baik karena
dipegang oleh 1 dokter dan dibantu oleh 7 orang petugas yang berlatar belakang
pendidikan keperawatan dan kebidanan.
h. Comprehensibility
Pelaksanaan program seharusnya dilakukan sebanding dengan cukupnya
jumlah tenaga kesehatan di puskesmas.
2.6.4.4 Analisis SWOT
a. Strength

139

Keunggulan dari program pelayanan kesehatan di Puskesmas Cihampelas ialah


letak dari puskesmas yang strategis.

b. Weakness
Pendataan yang kurang spesifik seperti kadang tidak dibedakan antara pasien
yang baru dengan yang lama, dikarenakan banyaknya masyarakat dilingkungan kerja
Puskesmas Cihampelas yang datang berobat ke Puskesmas Cihampelas sehingga ada
beberapa yang tidak tercatat. Dan tidak adanya layanan laboratorium sehingga pasien
yang seharusnya dapat dilayani harus dilakukan rujukan,
c. Opportunity
Dukungan dari Kepala Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung
Barat.
d. Threat
Tingkat pendidikan masyarakat yang masih kurang.
Plan Of Action
Masalah yang dapat dianalisa adalah cakupan pemeriksaan laboratorium
puskesmas.
Tabel 2.123 Penyebab dan pemecahan masalah pemeriksaan laboratorium puskesmas
No.
Penyebab Masalah
Pemecahan Masalah
1. Tidak adanya alat dan
Perencanaan untuk mengadakan
tenaga ahli dibidang
pengadaan alat dan bahan laboratorium
laboratorium
dan menambah tenaga kerja khusunya
dibidang analis laboratorium
2. Tidak adanya pencatatan
Setelah pemeriksaan yang dilakukan oleh
jumlah pemeriksaan
bidan di bagian KIA, segera dilakukan
laboratorium yang
pencatatan jumlah pemeriksaan.
dilakukan dipuskesmas,

140

khusunya pemeriksaan PP
tes dan proteinuria.

Tabel 2.124 Plan of Action


Sumber daya
Alat
Tenaga

Kegiatan

Tujuan

Sasaran

Target

Perencana
an
pengadaan
alat dan
bahan
laboratori
um dan
menamba
h tenaga
kerja
analis

Puskes
mas
dapat
melaku
kan
pemeri
ksaan
laborat
orium
sendiri
yang
sederha
na
tanpa
harus
meruju
k

Kepala
puskesm
as dan
dinas
kesehata
n

Alat dan
bahan
laborato
rium
dan
analis
lab

Lembar
pengaju
an alat
dan
tenaga
kerja

Sistem
pencatatan
pemeriksaan
laboratorium di
puskesma
s.

Adanya
data
pencatatan
jumlah
pemeriksaan
laboratorium
di
puskes
mas

Petugas
laboran

Data
pencatatan
pemeriksaan
laboratorium
di
puskesm
as

Lembar
format
pendataan

Indikator
Keberhasilan

Waktu
Pelaksanaan

Kepala
puskesm
a

Adanya alat
dan bahan
lab yang
cukup dan
analis
laboran

Awal tahun

Petugas
laboratorium

Data lengkap
mengenai
jumlah
pemeriksaan
laboratorium
di puskesmas

Setiap bulan

141