Anda di halaman 1dari 19

Mekanisme Pencernaan pada Lambung dan Intestinum

Graciela Anjanette Putri Lunita


102014138
Email : graciela.anjanette@Yahoo.com
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6 Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Telp. (021) 56942061
Abstract
The main function of the digestive tract is to move nutrients, water, and electrolytes food
we ingest into the body's internal environment. Food that has swallowed an energy source or
fuel essential. The fuel is used by the cell to generate ATP to carry out various activities that
require energy, for example, active transport, contraction, synthesis, and secretion. Food is also
a source of raw materials to update and add to the body's tissues. Hull consists of the top, called
the fundus, corpus, and the bottom is horizontal ie pyloric atrium. Glands in the mucosal lining
of the stomach secrete digestive juices important that acidify the gastric juice that serves all
meals and works as an antiseptic and disinfectant substances, produces organisms, and provide
protein. At the end of the small intestine is the chemical digestion and absorption of nutrients
occurs optimally. So that food can be absorbed well, several factors enzymes to facilitate the
process of digestion.
Keyword

: stomach, small intestine, enzymes, digestion, absorption

Abstrak
Fungsi utama saluran pencernaan adalah memindahkan nutrien, air, dan elektrolit
makanan yang telah kita telan ke dalam lingkungan internal tubuh. Makanan yang telah ditelan
merupakan sumber energi atau bahan bakar yang esensial. Bahan bakar tersebut digunakan
oleh sel untuk menghasilkan ATP untuk melaksanakan berbagai aktivitas yang memerlukan
energi, misalnya transpor aktif, kontraksi, sintesis, dan sekresi. Makanan juga merupakan
sumber bahan baku untuk memperbarui dan menambah jaringan tubuh. Lambung terdiri dari
bagian atas yang disebut fundus, korpus, dan bagian bawah yang horizontal yaitu atrium
pilorik. Kelenjar dalam lapisan mukosa lambung mengeluarkan cairan pencerna penting yaitu

getah lambung yang berfungsi mengasamkan semua makanan dan bekerja sebagai zat antiseptik
dan desinfektan, menghasilkan organisme, dan memberi protein. Pada usus halus merupakan
akhir dari pencernaan kimiawi dan terjadi penyerapan nutrisi secara optimal. Agar makanan
dapat diserap dengan baik, beberapa factor enzim untuk mempermudah proses pencernaan.
Kata kunci

: lambung, usus halus, enzim, pencernaan, penyerapan

Pendahuluan
Sistem pencernaan merupakan urutan pencernaan makanan yang terdiri dari saluran
pencernaan, yaitu tuba muskular panjang yang merentang dari mulut sampai anus, dan organorgan aksesoris, seperti gigi, lidah, kelenjar saliva, hati, kantung empedu, dan pankreas. Fungsi
utama saluran pencernaan adalah memindahkan nutrien, air, dan elektrolit makanan yang telah
kita telan ke dalam lingkungan internal tubuh. Makanan yang telah ditelan merupakan sumber
energi atau bahan bakar yang esensial. Bahan bakar tersebut digunakan oleh sel untuk
menghasilkan ATP untuk melaksanakan berbagai aktivitas yang memerlukan energi, misalnya
transpor aktif, kontraksi, sintesis, dan sekresi. Makanan juga merupakan sumber bahan baku
untuk memperbarui dan menambah jaringan tubuh.1
Lambung adalah bagian saluran pencernaan yang dapat meregang paling besar, yang
terletak di daerah epigastrik dan sebagian di sebelah kiri daerah hipokhondrica dan
umbilikal. Lambung terdiri dari bagian atas yang disebut fundus, korpus, dan bagian bawah yang
horizontal yaitu atrium pilorik. Kelenjar dalam lapisan mukosa lambung mengeluarkan cairan
pencerna penting yaitu getah lambung. Getah ini berupa cairan asam bening tak berwarna, yang
mengandung 0,4% asam klorida (HCl), yang mengasamkan semua makanan dan bekerja sebagai
zat antiseptik dan desinfektan, menghasilkan organisme, dan memberi protein. Dalam getah
lambung ini terdapat beberapa enzim pencernaan. Penyakit lambung, sering dikaitkan waktu
makan tidak teratur dan jenis serta mutu makanan yang kurang baik. Radang pada dinding
lambung berupa iritasi atau infeksi membuat dinding lambung menjadi merah, bengkak,
berdarah, dan terparut.

Pembahasan
Struktur makroskopis
Gaster
Gaster terletak di bagian atas abdomen, terbentang dari permukaan bawah arcus costalis
sinistra sampai regio epigastrica dan umbilicalis. Sebagian besar gaster terletak di bawah costae
bagian bawah. Secara kasar gaster berbentuk huruf J dan mempunyai dua lubang, ostium
cardiacum dan ostium pyloricum; dua curvatura, curvatura major dan curvatura minor; dan dua
dinding, paries anterior dan paries posterior.2
Gaster relatif terfiksasi pada kedua ujungnya, tetapi di antara ujung-ujung tersebut gaster
sangat mudah bergerak. Gaster cenderung terletak tinggi dan transversal pada orang pendek dan
gemuk dan memanjang vertikal pada orang yang tinggi dan kurus (gaster berbentuk huruf J).
Bentuk gaster sangat berbeda-beda pada orang yang sama dan tergantung pada isi, posisi tubuh,
dan fase pernapasan.2
Gaster dibagi menjadi bagian-bagian berikut: Fundus gastricum berbentuk kubah, menonjol ke atas dan terletak di sebelah kiri ostium cardiacum. Biasanya fundus berisi penuh udara.
Corpus gastricum terbentang dari ostium cardiacum sampai incisura angularis, suatu lekukan
yang selalu ada pada bagian bawah curvatura minor. Anthrum pyloricum terbentang dari incisura
angularis sampai pylorus. Pylorus merupakan bagian gaster yang berbentuk tubular. Dinding otot
pylorus yang tebal membentuk musculus sphincter pyloricus. Rongga pylorus dinamakan canalis
pyloricus.2

Gambar 1. Struktur makroskopis gaster3


Curvatura minor membentuk pinggir kanan gaster dan terbentang dari ostium cardiacum
sampai pylorus. Curvatura minor digantung pada hepar oleh omentum minus. Curvatura major
jauh lebih panjang dibandingkan curvatura minor dan terbentang dari sisi kiri ostium cardiacum,

melalui kubah fundus, dan sepanjang pinggir kiri gaster sampai ke pylorus. Ligamentum
gastrolienale terbentang dari bagian atas curvatura major sampai ke lien, dan omentum majus
terbentang dari bagian bawah curvatura major sampai ke colon transversum.2
Ostium pyloricum dibentuk oleh canalis pyloricus yang panjangnya sekitar 2,5 cm. Tunica
muscularis stratum circulare yang meliputi gaster jauh lebih tebal di daerah ini dan membentuk
musculus sphincter pyloricus secara anatomis dan fisiologis. Pylorus terletak pada planum
transpyloricum, dan posisinya dapat dikenali dengan adanya sedikit kontriksi pada permukaan
lambung. Musculus sphincter pyloricus mengatur kecepatan pengeluaran isi gaster ke
duodenum.2

Gambar 2. Vaskularisasi gaster4


Vaskularisasi gaster
Lambung mendapatkan darah secara eksklusif dari cabang-cabang aksis seliaka, drainase
vena lambung mengalir ke sistem portal.5 Gaster diperdarahi oleh (1) A.Gastrica sinistra yang
merupakan cabang dari a.coeliaca (tripus halleri), pembuluh nadi ini akan beranastomosis
dengan a.gastrica dextra (cab.a.hepatica propriae) di curvatura minor dan juga dengan
a.oesophagea (cabang ao.thoracalis), (2) Aa.gastrica breves, yang merupakan cabang dari
a.lienale di fundus ventrikuli dan akan memperdarahi fundus gaster, (3) A.gastroepiploica
sinistra, adalah cabang dari a.lienalis dan akan beranastomosis dengan a.gastroepiploica dextra di
curvatra major, sehingga pembuluh ini akan memperdarahi curvatura major dan omentum majus.
Berdasarkan sistem vena, vena pada organ ini akan mengikuti alur arterinya, darah dari v.gastrica
dextra dan sinistra akan dialirkan ke dalam v.portae, darah dari v.gastrika brevis,

v.gastroepiploica sinistra akan dialirkan kedalam v.lienalis yang bergabung dengan v.mesenterica
superior menuju v.portae.5
Getah bening terdapat pada pembuluh nadi sepanjang curvatura major dan minor dan akan
dialirkan ke nnll.coeliaca. Lambung diinervasi ole saraf parasimpatis yang berasal dari N.X
anterior dan posterior dan saraf simpatis yang berasal dari nn.spinales Th6-Th9 melalui plexus
coeliacus (serabut post-ganglionik) dan mendistribusikan melalui anyaman saraf disekitar
a.gastrika dan a.gastromentalis.5
Duodenum
Duodenum merupakan saluran berbentuk huruf C dengan panjang sekitar 25 cm yang
merupakan organ penghubung gaster dengan jejunum. Duodenum adalah organ penting karena
merupakan tempat muara dari ductus choledochus dan ductus pancreaticus. Duodeneum
melengkung di sekitar caput pancreatis. Satu inci (2,5 cm) pertama duodenum menyerupai
gaster, yang permukaan anterior dan posteriornya diliputi oleh peritoneum dan mempunyai
omentum minus yang melekat pada pinggir atasnya dan omentum majus yang melekat pada
pinggir bawahnya. Bursa omentalis terletak di belakang segmen yang pendek ini. Sisa duodenum
yang lain terletak retroperitoneal, hanya sebagian saja yang diliputi oleh peritoneum. 2 Duodenum
terletak pada regio epigastrica dan umbilicalis dan untuk tujuan deskripsi dibagi menjadi empat
bagian 1. Pars superior duodeni memiliki batas-batas yaitu dengan batas atas berbatasan dengan
foramen epiploicum Winslowi (pintu masuk bursa omentalis) dan batas bawahnya yaitu
berbatasan dengan caput pancreas, collum pancreas, dan a.v.mesentrica superior. 2. Pars
descendens duodeni memiliki batas-batas yaitu dengan batas depan berbatasan dengan lobus
dexter hepatis, colon transversum dan sebagian jejenum. Batas belakang berbatasan dengan ren
dexter dan ureter dexter, batas medial yaitu caput pancreas dan batas lateralnya yaitu flexura colli
dextra. 3. Pars horizontalis/nferior duodeni memiliki batas-batas yaitu dengan batas depan adalah
jejenum dan a.v.mesentrica superior, batas belakang adalah M.Psoas, V.Cava Inferior dan
Ao.Abdominalis, batas atas yaitu caput pancreas dan batas bawah adalah jejenum. 4. Pars
ascendens duodeni memiliki batas-batas yaitu dengan batas depan yaitu jejenum dan radix
mesenterii/mesostenii, batas belakang yaitu M.Psoas kiri dan Ao.Abdominalis. batas kanan yaitu
oancreas, columna vertebralis dan batas kirinya adalah jejenum.5

Vaskularisasi duodenum
Duodenum diperdarahi oleh (1) a.gastroduodenalis cabang a.hepatica communis dan
memperdarahi dinding posterior duodenum, (2) a.pancreaticoduodenalis superior anterior dan
posterior cabang a.gastroduodenalis yang berjalan antara pars descendens duodeni dan caput
pancreas, nadi ini beranastmosis dengan a.pancreaticoduodenalis inferior cabang a.mesentrica
superior dan (3) a.pancreaticoduodenalis inferior anterior dan posterior.2,4 Dengan sistem
pembuluh balik yaitu darah dari v.pancreaticoduodenalis superior dialirkan ke v,portae dan darah
dari v.pancreaticoduodenalis inferior dialirkan ke v.mesentrica superior ke v.portae.5

Gambar 3. Struktur makroskopis duodenum6


Jejenum
Jejenum dan Ileum merupakan dua bagian akhir intestinum tenue, jejenum merupakan 2/5
bagian proximal, sebagian besar jejenum berada di kuadran kiri atas abdomen dan lebih besar
diameternya serta memiliki dinding yang lebih tebal dibandingkan Ileum. Lapisan dalam mukosa
pada jejenum ditandai dengan adanya banyak lipatan menonjol yang mengelilingi lumennya
(plica circularis), karakteristik unik pada jejenum lainnya adalah adanya arcade arteriae yang
kurang jelas dan vasa recta (arteri-arteri lurus) yang lebih panjang dibandingkan dengan yang
ada di Ileum. Jejenum mendapatkan darah dari aa.jejunales cabang a.mesentrica superior.5
Ileum
Ileum menyusun 3/5 bagian distal intestinum tenue dan sebagian besar berada di kuadran
kanan bawah, ileum memiliki dinding yang lebih tipis, lipatan-lipatan mukosa yang lebih sedikit

dan kurang menonjol, vasa recta yang lebih pendek, lemak mesentrium lebih banyak dan lebih
banyak arcade arteriae. Ileum bermuara ke dalam intestinum crassum, tempat caecum dan colon
ascendens bertemu, daerah pertemuan ini dikelilingi oleh dua lipatan yang menonjol ke dalam
lumen intestinum crassum yaitu plica ileocaecale, yang berfungsi sebagai pencegah
refluks/kembalinya isi lumen dari caecum kedalam ileum dan mengatur jalannya isi lumen ileum
menuju caecum. Ileum mendapatkan darah dari aa.Ileales cabang a.mesentrica superior dan
a.ileocolica cabang a.mesentrica superior.5
Struktur Mikroskopik
Gaster
Lapisan dinding lambung dibedakan menjadi (1) tunica mucosa, (2) tunica submucosa dan
(3) tunika muscularis obliqua, longitudinalis dan sirkularis.
Tunica mukosa gaster
Merupakan selaput lendir yang berlipat-lipat disebut plicae gastricae, sedangkan lipatan
yang berjalan dari cardia sampai pylorus disebut magenstrase waldayer (sejajar dengan
curvatura minor). Magenstrasi Waldayer atau canalis gastricae merupakan suatu alur jalannya
cairan dari proximal ke distal. Pada permukaan lipatan gaster terdapat lekukan-lekukan kecil
disebut foveola gastricae, lekukan ini merupakan muara kelenjar mukosa lambung yang
menghasilkan HCl dan pepsin. Ada 3macam kelenjar pada mukosa lambung, yaitu (1)
gl.cardiacae , terletak di cardia dan menghasilkan lendir, (2) gl.gastricae, terletak di dinding
gaster dan menghasilkan pepsin dan HCl dan (3) gl.pyloricae teretak di pylorus dan
menghasilkan pepsin.7
Tunika submukosa gaster
Lapisan ini merupakan jaringan ikat yang kuat dan pada mucosa dapat dijumpai pembuluh
darah.
Tunika muskularis gaster
Tunika muskularis lambung ada tiga lapisan yaitu (1) Tunica muskularis longtudinalis
(stratum longitudinalis), merupakan lapisan terluar sepanjang kedua curvatura, (2) tunica

muskularis circularis (startum circulare), merupakan lanjutan otot sirkuler oesophagus yang
melapisi corpus dan pylorus, arah serabutnya memancar dari curvatura minor ke curvatura major,
arah serabutnya memanjang karena panjang curvatura minor lebih pendek daripada curvatura
major, pada pylorus serabut-serabut otot memadat dan membentuk katup disebut valvula
pyloricum (=M.Sphincter pylori), katup tersebut membuka/menutup tergantung keasaman
duodenum dan kelainan yang dapat ditemukan pada m.sphincter pylori ini adalah stenosis pylori
(menyempitnya canalis pylori karena m.sphincter pylori menebal, sering ditemukan pada bayi
yang baru lahir beberapa hari yang ditandai dengan bayi kelihatan hitam dan muntah-muntah dan
hyperthrophyc pyolri yaitu menebalnya sphyncter pylori, (3) tunica muskularis obliquus (startum
obliqua), lapisan paling dalam dan merupakan lanjutan otot sirkuler bagian dalam oesophagus,
lapisan ini melapisi fundus, pada curvatura minor berjalan ke arah caudal kemudian menyebar ke
curvatura major untuk kemudian bergabung dengan serabut-serabut otot sirkuler.7
Tunika serosa gaster
Lapisan ini melapisi seluruh permukaan luar lambung sehingga lambung terletak
intraperitoneal, pada curvatura minor melanjutkan diri menjadi dua lapisan sebagai omentum
minus pars densa (bagian padat) dan pars flaxida (bagian longgar). Omentum minus merupakan
penggantung yang mengubungkan gaster dengan hepar. Pada curvatura major melanjutkan diri
sebagai omentum majus yang menghubungkan gaster dengan colon. Jadi, omentum merupakan
duplikat peritoneum yang melapisi gaster.2
Fiksasi lambung adalah melalui oesophagus pada diaphragma, ini merupakan fiksasi yang
paling kuat. Selain itu lambung juga terfiksasi dibagian lain yaitu pada pylorus melalui
lig.hepatoduodenale

dan

lig.

Hepatogastricum

(pars

lig.phrenicogastricum, lig.gastrolienale dan lig.gastrocolicum.7

densa

omentum

minus),

Gambar 4. Mikroskopis Gaster.8


Usus Halus
Duodenum
Ciri khas bagian duodenum adalah adanya kelenjar duodenal Brunner yang bercabang di
dalam submukosa. Dukstus ekskretorius kelenjar ini menembus mukosa muskularis dan
mencurahkan sekretnya ke dalam lumen duodenum. Fungsi utama kelenjar ini adalah melindungi
mukosa duodenum terhadap isi gaster yang sangat korosif dengan menghasilkan mukus dan ionion bikarbonat yang alkalis, menetralkan kimus asam. Kelenjar duodenal juga menghasilkan
hormon polipeptida disebut urogastron, berfungsi menghambat sekresi HCl oleh sel parietal
gaster.
Jejunum
Di dekat otot polos mukosa muskularis terlihat beberapa kelenjar intestinal. Tampak sel
goblet yang khas dan sel dengan mikrovili dalam kelenjar. Sel enteroendokrin tersebar di antara
sel kelenjar intestinal, sel kelenjar mitotik, sel goblet, dan sel Paneth.7

Ileum
Di bagian akhir ileum, terdapat kumpulan limfonoduli (plak Peyeri) dengan interval
tertentu. Baik mukosa maupun submukosa ikut membentuk plika sirkularis. Di dekat otot polos

mukosa muskularis terlihat beberapa kelenjar intestinal. Tampak sel goblet yang khas dan sel
dengan mikrovili dalam kelenjar.7

Gambar 5. Mikroskopis Duodenum,Jejunum,dan Ileum.9


Fisiologi lambung
Lambung merupakan bagian dari saluran pencernaan yang berbentuk seperti kantung,
dapat berdilatasi, dan berfungsi mencerna makanan dibantu oleh asam klorida (HCl) dan enzimenzim seperti pepsin, renin, dan lipase. Lambung memiliki fungsi fungsi utama, yaitu fungsi
pencernaan dan fungsi motorik. Sebagai fungsi pencernaan dan sekresi, yaitu pencernaan protein
oleh pepsin dan HCl, sintesis dan pelepasan gastrin yang dipengaruhi oleh protein yang dimakan,
sekresi mukus yang membentuk selubung dan melindungi lambung serta sebagai pelumas
sehingga makanan lebih mudah diangkut, sekresi bikarbonat bersama dengan sekresi mukus
yang berperan sebagai barier (proteksi) dari asam lumen dan pepsin. Fungsi motorik lambung
terdiri atas penyimpanan makanan sampai makanan dapat diproses dalam duodenum,
pencampuran makanan dengan asam lambung, hingga membentuk suatu kimus, dan
pengosongan makanan dari lambung ke dalam usus dengan kecepatan yang sesuai untuk
pencernaan dan absorbsi dalam usus halus.1
Lambung memiliki 4 dasar motilitas khusus untuk gerakan pencampuran makanan yang
dicerna dan cairan lambung, untuk membentuk cairan padat yang dinamakan kimus, kemudian
dikosongkan ke duodenum. Motilitas lambung terdiri dari

Pengisian
ketika kosong, lambung memiliki volume sekitar 50 ml, tetapi volume lambung dapat
bertambah hingga 1L saat makan. Lambung dapat menampung peningkatan volume tanpa
banyak mengalami perubahan tegangan didindinginya dan peningkatan tekanan intralambung.
Bagian interior lambung membentuk lipatan-lipatan dalam. Sewaktu makan, lipatannya menjadi
lebih kecil dan nyaris mendatar sewaktu lambung sedikit melemas akibat makanan masuk.
Relaksasi refleks lambung sewaktu menerima makanan disebut relaksasi reseptif. Relaksasi ini
meningkatkan kemampuan lambung menampung tambahan volume makanan dengan hanya
menyebabkan sedikit peningkatan tekanan lambung. Namun apabila lambung meregang
berlebihan dan tekanannya meningkat , maka yang bersangkutan akan merasa tidak nyaman.
Relaksasi reseptif dipicu oleh tindakan makan dan diperantarai oleh saraf vagus.10
Penyimpanan
sekelompok sel pemicu yang terletak di regio fundus bagian atas lambung menghasilkan
potensial gelombang lambat yang menyapu ke bawah sepanjang lambung menuju sfingter
pilorus dengan frekuensi 3 kali/menit. Pola ritmis depolarisasi spontan ini atau disebut irama
listrik dasar (BER) terjadi terus menerus dan mungkin disertai oleh kontraksi lapisan otot polos
sirkular. Sekali dimulai, gelombang peristaltik menyebar melalui fundus dan korpus ke antrum
dan sfingter pilorus. Karena lapisan otot di fundus dan korpus tipis maka kontraksi dibagian ini
lemah. Ketika mencapai antrum, gelombang kontraksi menjadi lebih kuat karena ototnya lebih
tebal. Karena di fundus dan korpus gerakan mencampur berlangsung lemah maka makanan yang
disalurkan ke lambung dari esofagus disimpan dibagian korpus yang relatif tenang tanpa
mengalami pencampuran. Makanan secara bertahap makanan disalurkan dari korpus menuju
antrum , tempat terjadi pencampuran makanan.10
Pencampuran
Kontraksi peristaltik antrum yang kuat mencampur makanan dengan sekresi lambung
untuk menghasilkan kimus. Setiap gelombang peristaltik antrum mendorong kimus maju menuju
sfingter pilorus. Kontraksi tonik sfingter pilorus normalnya menyebabkan sfingter ini nyaris
tertutup. Lubang yang terbentuk cukup untuk dilewati air dan cairan lain, tapi terlalu kecil untuk
dilalui kimus kental, kecuali terjadi kontraksi peristaltik antrum yang lebih kuat lagi. Sebelum
lebih banyak kimus yang terperas keluar, gelombang peristaltik mencapai sfingter pilorus dan
menyebabkan sfingter ini berkontraksi lebih kuat, menutup dan mencegah kimus masuk ke

duodenum. Massa kimus yang sedang terdorong maju tapi tak bisa masuk ke duodenum tertahan
mendadak di sfingter yang tertutup dan memantul balik kedalam antrum. Gerakan maju mundur
ini mencampur kimus secara merata di antrum.10
Pengosongan
Selain mencampur isi lambung, kontraksi peristaltik antrum juga merupakan gaya dorong
untuk mengosongkan isi lambung. Intensitas peristaltik antrum dapat sangat bervariasi dibawah
pengaruh berbagai sinyal dari lambung dan duodenum, karena itu pengosongan lambung diatur
baik oleh faktor lambung maupun duodenum.10

Gambar 6. Pencampuran dan pengosongan lambung11


Faktor di lambung yang mempengaruhi kecepatan pengosongan lambung terutama dari
jumlah kimus di lambung. Selain itu, derajat fluiditas kimus di lambung mempengaruhi
pengosongan lambung. Isi lambung harus diubah menjadi bentuk cair kental merata sebelum
disalurkan ke duodenum. Semakin cepat tingkat keenceran yang sesuai tercapai, semakin cepat
isi lambung siap dievakuasi. Faktor-faktor di duodenum sangat penting dalam mengontrol
kecepatan pengosongan lambung. Duodenum harus siap menerima kimus dan dapat menunda
pengosongan lambung dengan mengurangi aktivitas peristaltik di lambung sampai duodenum
siap menampung lebih banyak kimus. Bahkan jika lambung teregang dan isinya berada dalam
bentuk cair, lambung tidak dapat mengosongkan isinya sampai duodenum siap mengolah kimus.1
Empat faktor duodenum terpenting yang mempengaruhi pengosongan lambung adalah
lemak, asam, hipertonisitas, dan peregangan. Adanya satu atau lebih rangsangan ini di duodenum

mengaktifkan reseptor duodenum yang sesuai, memicu respons saraf atau hormon yang
mengerem motilitas lambung dengan mengurangi eksitabilitas otot polos lambung.1 Hal yang
menyebabkan mengapa berbagai rangsang di duodenum ini perlu menunda pengosongan
lambung:
Lemak
Lemak dicerna dan diserap lebih lambat daripada nutrien lain. Selain itu, pencernaan dan
penyerapan lemak berlangsung hanya di dalam lumen usus halus. Karena itu, ketika lemak sudah
ada di duodenum, pengosongan lambung lebih lanjut ke dalam duodenum terhenti sampai usus
halus selesai memproses lemak yang ada di dalamnya. Lemak adalah perangsang paling kuat
untuk menghambat motilitas lambung.12
Asam
Karena lambung mengeluarkan asam hidroklorida (HCl), maka kimus yang masuk ke
duodenum sangat asam. Kimus ini dinetralkan oleh natrium bikarbonat yang disekresikan ke
dalam lumen duodenum terutama dari pankreas. Asam yang belum ternetralkan akan mengiritasi
mukosa duodenum dan menginaktifkan enzim-enzim pencernaan pankreas yang disekresikan ke
dalam lumen duodenum. Karena itu, jika asam yang belum ternetralkan di duodenum akan
menghambat pengosongan lebih lanjut isi lambung yang asam sampai netralisasi selesai.12
Hipertonisitas
Sewaktu molekul-molekul protein dan tepung dicerna di lumen duodenum terjadi
pembebasan sejumlah besar molekul asam amino dan glukosa. Jika penyerapan molekul asam
amino dan glukosa ini tidak mengimbangi kecepatan pencernaan protein dan karbohidrat maka
sejumlah besar molekul akan tetap berada di kimus dan meningkatkan osmolaritas isi duodenum.
Osmolaritas bergantung pada jumlah molekul yang ada, bukan ukurannya, dan satu molekul
protein dapat diuraikan menjadi beberapa ratus molekul asam amino, yang masing-masing
memiliki aktivitas osmotik setara dengan molekul protein semula. Hal yang sama berlaku untuk
satu molekul besar tepung, yang menghasilkan banyak molekul glukosa berukuran kecil namun
dengan aktivitas osmotik setara. Karena dapat berdifusi bebas menembus dinding duodenum
maka air masuk ke lumen duodenum dari plasma jika osmolaritas duodenum meningkat. Air
dalam jumlah besar yang masuk ke usus dari plasma akan menyebabkan peregangan usus dan
gangguan sirkulasi karena berkurangnya volume plasma. Untuk mencegah efek-efek ini,
pengosongan lambung secara refleks dihambat jika osmolaritas isi duodenum mulai meningkat.

Karena itu, jumlah makanan yang masuk ke duodenum untuk dicerna lebih lanjut menjadi
partikel- partikel yang lebih kecil dan aktif osmotis berkurang sampai proses penyerapan
memiliki kesempatan untuk menyusul.12
Peregangan
Kimus yang terlalu banyak di duodenum akan menghambat pengosongan isi lambung lebih
lanjut agar duodenum memiliki waktu untuk memproses kelebihan volume kimus yang sedang
ditampungnya sebelum duodenum menerima kimus tambahan.12
Sel-sel yang mengeluarkan getah lambung berada di lapisan dalam lambung, mukosa
lambung, yang dibagi menjadi dua daerah berbeda: mukosa oksintik, yang melapisi korpus dan
fundus dan daerah kelenjar pilorus (pyloric gland area, PGA), yang melapisi antrum. Permukaan
luminal lambung berisi lubang-lubang kecil (foveola) dengan kantung dalam yang terbentuk oleh
pelipatan masuk mukosa lambung. Bagian pertama dari invaginasi ini disebut foveola gastrica,
yang di dasarnya terletak kelenjar lambung. Berbagai sel sekretorik melapisi bagian dalam
invaginasi ini, sebagian eksokrin dan sebagian endokrin atau parakrin. Di dinding foveola
gastrica dan kelenjar mukosa oksintik ditemukan tiga jenis sel sekretorik eksokrin lambung 1.
Sel mukus melapisi foveola gastrica dan pintu masuk kelenjar. Sel-sel ini mengeluarkan mukus
encer. 2. Bagian lebih dalam di kelenjar lambung dilapisi oleh chief cell dan sel parietal. Chief
cell yang jumlahnya lebih banyak menghasilkan prekursor enzim pepsinogen. 3. Sel parietal
(atau oksintik) mengeluarkan HCl dan faktor intrinsik. Sekresi eksokrin ini semuanya dibebaskan
ke dalam lumen lambung. Secara kolektif, berbagai sekresi ini membentuk getah lambung.
Meskipun HCl sebenarnya tidak mencerna apapun, namun zat ini melakukan fungsi-fungsi
spesifik yang membantu pencernaan 1. Mengaktifkan prekursor enzim pepsinogen menjadi enzim
aktif, pepsin, dan membentuk medium asam yang optimal bagi aktivitas pepsin. 2. Membantu
memecahkan jaringan ikat dan serat otot, mengurangi ukuran partikel makanan besar menjadi lebih
kecil. 3. Menyebabkan denaturasi protein; yaitu, menguraikan bentuk final protein yang berupa
gulungan (pelipatan) sehingga ikatan peptida lebih terpajan ke enzim. 4. Bersama lisozim liur,
mematikan sebagian besar mikroorganisme yang tertelan bersama makanan, meskipun sebagian
tetap lolos dan terus tumbuh dan berkembang di usus besar
Konstituen pencernaan utama sekresi lambung adalah pepsinogen, suatu molekul enzim
inaktif yang diproduksi oleh chief cell. Dari granula ini enzim tersebut dibebaskan secara
eksositosis dengan stimulasi yang sesuai. Ketika pepsinogen disekresikan ke dalam lumen

lambung, HCl memutuskan sepotong kecil molekul, mengubahnya menjadi bentuk aktif enzim
pepsin. Setelah terbentuk, pepsin bekerja pada molekul pepsinogen lain untuk menghasilkan
lebih banyak pepsin.10
Pepsin memulai pencernaan protein dengan memutuskan ikatan-ikatan asam amino tertentu
untuk menghasilkan fragmen-fragmen peptida; enzim ini bekerja paling efektif dalam
lingkungan asam yang dihasilkan oleh HC1. Karena dapat mencena protein maka pepsin harus
disimpan dan disekresikan dalam bentuk inaktif. Karena itu, pepsin dipertahankan dalam bentuk
inaktif pepsinogen sampai zat ini mencapai lumen lambung, tempat ia diaktifkan oleh HCl yang
disekresikan ke dalam lumen oleh jenis sel lain.10
Permukaan mukosa lambung ditutupi oleh suatu lapisan mukus yang berasal dari sel epitel
permukaan dan sel mukus. Mukus ini berfungsi sebagai sawar protektif terhadap beberapa
bentuk cedera yang dapat mengenai mukosa lambung. Berkat sifat pelumasannya, mukus
melindungi mukosa lambung dari cedera mekanis, mukus membantu mencegah dinding lambung
mencerna dirinya sendiri, karena pepsin terhambat jika berkontak dengan lapisan mukus yang
menutupi bagian dalam lambung, karena bersifat basa, mukus membantu melindungi lambung
dari cedera asam karena menetralkan HCl di dekat lapisan dalam lambung, tetapi tidak
mengganggu fungsi HCl di lumen. Lapisan mukus di permukaan sel mukosa memiliki pH sekitar
7. Sekresi asam lambung dipengaruhi oleh kerja saraf dan hormon. Sistem saraf yang bekerja
yatu saraf pusat dan saraf otonom, yakni saraf simpatis dan parasimpatis. Adapun hormon yang
bekerja antara lain adalah hormon gastrin, asetilkolin, dan histamin.13
Laju sekresi lambung dibagi menjadi tiga fase-fase: sefalik, lambung, dan usus. Fase
sefalik sekresi lambung merujuk kepada peningkatan sekresi HC1 dan pepsinogen yang terjadi
melalui mekanisme umpan sebagai respons terhadap rangsangan yang bekerja di kepala bahkan
sebelum makanan mencapai lambung. Memikirkan, mencicipi, mencium, mengunyah, dan
menelan makanan meningkatkan sekresi lambung oleh aktivitas vagus melalui dua cara.
Pertama, stimulasi vagus terhadap pleksus intrinsik mendorong peningkatan sekresi ACh, yang
pada gilirannya menyebabkan peningkatan sekresi HC1 dan pepsinogen oleh sel sekretorik.
Kedua, stimulasi vagus pada sel G di dalam PGA menyebabkan pembebasan gastrin, yang pada
gilirannya semakin meningkatkan sekresi HC1 dan pepsinogen, dengan efek HC1 mengalami
potensiasi oleh pelepasan histamin yang dipicu gastrin.13

Fase lambung sekresi lambung berawal ketika makanan benar-benar mencapai lambung.
Rangsangan yang bekerja di lambung meningkatkan sekresi lambung melalui jalur-jalur eferen
yang tumpang tindih. Sebagai contoh, protein di lambung, perangsang paling kuat, merangsang
kemoreseptor yang mengaktifkan pleksus saraf intrinsik, yang selanjutnya merangsang sel
sekretorik. Selain itu, protein menyebabkan pengaktifan serat vagus ekstrinsik ke lambung.
Aktivitas vagus semakin meningkatkan stimulasi saraf intrinsik pada sel sekretorik dan memicu
pelepasan gastrin. Protein juga secara langsung merangsang pengeluaran gastrin. Gastrin adalah
perangsang kuat bagi sekresi HC1 dan pepsinogen lebih lanjut serta juga menyebabkan
pengeluaran histamin, yang semakin meningkatkan sekresi HC1. Melalui jalur-jalur ini, protein
menginduksi sekresi getah lambung yang sangat asam dan kaya pepsin, melanjutkan pencernaan
protein yang menjadi pemicu proses ini.13
Fase sekresi usus mencakup faktor-faktor yang berasal dari usus halus yang mempengaruhi
sekresi lambung. Sementara fase-fase lain bersifat eksitatorik, fase ini inhibitorik. Fase usus
penting untuk menghentikan aliran getah lambung sewaktu kimus mulai mengalir ke dalam usus
halus. Produksi asam lambung akan tetap berlangsung meskipun dalam kondisi tidur. Kebiasaan
makan yang teratur sangat penting bagi sekresi asam lambung karena kondisi tersebut
memudahkan lambung mengenali waktu makan sehingga produksi lambung terkontrol.

Mekanisme pencernaan
1. Karbohidrat
Karbohidrat diserap dalam bentuk disakarida maltosa, sukrosa, dan laktosa.
Disakaridase yang ada di brush border menguraikan disakarida ini menjadi monosakarida
yang dapat diserap yaitu glukosa, galaktosa dan fruktosa. Glukosa dan galaktosa diserap oleh
transportasi aktif sekunder sedangkan fruktosa diserap melalui difusi terfasilitasi.13
2. Lemak
Lemak diabsorpsi dalam bentuk monogliserida dan asam lemak bebas,keduanya akan
larut dalam gugus pusat lipid dari misel empedu, dan zat-zat ini dapat larut dalam kimus.
Dalam bentuk ini, monogliserida dan asam lemak bebas ditranspor ke permukaan mikrovili
brush border sel usus dan kemudian menembus ke dalam ceruk diantara mikrovili yang

bergerak. Dari sini keduanya segera berdifusi keluar sel dan masuk ke bagian dalam sel epitel.
Proses ini meninggalkan misel empedutetap di dalam kimus, yang selanjutnya akan
melakukan fungsinya berkali-kalimembantu absorpsi monogliserida dan asam lemak.13
3. Protein
Protein diserap di usus halus dalam bentuk asam amino dan peptida, asam amino diserap
menembus sel usus halus melalui transpor aktif sekunder, peptida masuk melalui bantuan
pembawa lain dan diuraikan menjadi konstituen asam aminonya oleh aminopeptidase di brush
border atau oleh peptidase intrasel, dan masuk ke jaringan kapiler yang ada di dalam vilus.
Dengan demikian proses penyerapan karbohidrat dan protein melibatkan sistem transportasi
khusus yang diperantarai oleh pembawa dan memerlukan pengeluaran energi serta kotransportasi
Na.13
Enzim sistem pencernaan
Enzim merupkan katalis organik dan termasuk protein globular. Enzim bekerja melalui
penggabungan dengan substrat pada suatu tempat aktif yang spesifik untuk membentuk suatu zat
antara berupa kompleks enzim-substrat yang kemudian berdisosiasi menjadi enzim bebas dan
produk (hasil reaksi).1
Dalam sistem pencernaan, terdapat sejumlah enzim yang digunakan untuk mengkatalis
molekul-molekul makanan besar menjadi molekul-molekul kecil. Enzim-enzim tersebut
digunakan untuk mencerna tiga bahan makanan utama yaitu karbohidrat, protein, dan lemak.
Secara sederhana, enzim-enzim tersebut akan dipaparkan melalui table berikut ini.1
Enzim
Sumber Sekresi
Karbohidrat
Amilase
saliva Kelenjar saliva
(ptialin)
Amilase pankreas
Maltase
Sukrase
Laktase
Protein
Pepsin
Tripsin

Reaksi
Zat tepung maltosa

Pankreas
Usus halus
Usus halus
Usus halus

Zat tepung disakarida dan maltosa


Maltosa glukosa
Sukrosa glukosa dan fruktosa
Laktosa glukosa dan galaktosa

Lambung

Protein Polipeptida

Pankreas

Protein dan peptida peptida yang

lebih kecil
Kimotripsin

Pankreas

Protein dan peptida peptida yang

Peptidase
Lemak

Usus halus

lebih kecil
Dipeptida asam amino

Lipase pankreas

Pankreas (dengan garam

Trigiserida monogliserida dan asam

Lipase usus halus

empedu)
Usus halus (dengan

lemak
Monogliserida asam lemak dan

garam empedu)

gliserol

Tabel 1. Enzim sistem pencernaan1

Kesimpulan
Tubuh manusia memerlukan energi untuk dapat terus melakukan metabolisme. Energienergi tersebut didapat dari konsumsi makanan yang berada dari luar tubuh. Beberapa faktor
yang mempengaruhi kerja organ pencernaan adalah bahan makanan yang kita konsumsi dan
teratur tidaknya pola makan. Setiap organ pencernaan memiliki fungsinya masing-masing dan
saling bekerja sama satu sama lain, agar makanan tersebut dapat diserap dengan baik, diperlukan
proses pencernaan. Proses pencernaan mengubah makanan dari molekul-molekul besar menjadi
molekul kecil yang dapat diserap dan dibawa oleh darah ke seluruh bagian tubuh. Faktor enzim
juga berpengaruh dalam perjalanan makanan hingga akhirnya bisa diserap sebanyak 95% oleh
tubuh.
Daftar pustaka
1. Sherwood L. Sistem Pencernaan. Dalam: Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Jakarta:
EGC; 2012. h. 641.
2. Snell RS. Anatomi klinik untuk mahasiswa kedokteran. Jakarta: EGC; 2006. h. 101-12.
3. Gambar 1. diunduh dari:

http://1.bp.blogspot.com/fQ_dNu9Rqk/T1nxA06sXjI/AAAAAAAAAOU/S4enPjdD9pc/
s1600/gbr5.png
4. Gambar 2. diunduh dari:
http://elsafitria444.blogspot.com/2013/11/v-behaviorurldefaultvmlo_5434.html
5. Winami. W, Kindangen. K, Inggriani. Y. Buku Ajar Traktus Digestivus. Jakarta:
FKUkrida; 2010. h. 56-67.
6. Gambar

3.

diunduh

dari:

http://www.izmirproktoloji.com/ic-hastalik.i92.mide-ve-

bagirsak-hastaliklari
7. Mescher. A.L. Saluran Pencernaan. Dalam: Histologi Dasar Junqueira. Jakarta: EGC;
2012. h. 255-60.
8. Gambar

diunduh

dari:

http://blogkputih.blogspot.com/2012/03/histologi-sistem-

pencernaan-usus-halus.html
9. Gambar 5 diunduh dari: http://eleshmeraa.blogspot.com/2013/06/histologi-usus.html
10. Slonane E. Anatomi dan fisiologi. Jakarta: EGC; 2012. h. 229.
11. Gambar 6. diunduh dari: http://greenworldalami.web.id/obat-asam-lambung-alami/
12. Guyton AC, Hall JE. Buku ajar fisiologi kedokteran. Jakarta: EGC; 2008. h.108-16.
13. Ganong WF. Buku ajar fisiologi. Jakarta: EGC; 2008. h. 142