Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM

LABORATORIUM TEKNIK KIMIA

FLUIDISASI

Kelompok III / Kelas A


Putri Azizah

(1307113185)

Delvi Yolanda

(1307123302)

Ayu Setianingsih

(1307123434)

Yogi Lesmana Putri

(1307122763)

PROGRAM STUDI SARJANA TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS RIAU
2015

Abstrak
Fluidisasi merupakan operasi dimana partikel padat ditransformasikan
menjadi seperti partikel fluida melalui suspensi dalam gas atau cairan. Metode ini
diharapkan dapat membuat butiran-butiran padat memiliki sifat seperti fluida
dengan viskositas tinggi. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui
prinsip kerja fluidisasi, mengetahui operasi fluidisasi gas dan cairan, mengetahui
persamaan Ergun dan menyelidiki kondisi permulaan fluidisasi, serta menghitung
pressure drop yang melewati fixed bed dan fluidized bed. Variabel dalam
percobaan ini adalah laju alir, dan jenis bahan. Dimana laju alir yang digunakan
dimulai dari 0,000333 m3/s sampai 0,003333 m3/s dan bahan yang digunakan
adalah pasir, arang aktif, dan kerikil. Semakin meningkat flow rate, maka pressure
drop juga akan meningkat. Selain itu, partikel yang memiliki densitas lebih besar
membutuhkan flow rate yang lebih besar untuk mencapai kondisi fluidisasi. Pada
proses fluidisasi di praktikum ini hanya terjadi satu fenomena yaitu fenomena
fixed bed untuk semua bahan yang digunakan. Hal ini terjadi karena kenaikan
tinggi unggun rata rata hanya sebesar 0,5 cm. Selain itu juga karena dipengaruhi
oleh beberapa hal seperti laju alir fluida, bentuk partikel, jenis dan densitas
partikel serta tinggi unggun/bed.
Kata kunci : fluidisasi, fixed bed, fluidized bed, fenomena

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Tujuan
1. Menjelaskan prinsip kerja fluidisasi
2. Menjelaskan operasi fluidisasi gas dan cairan
3. Menjelaskan persamaan Ergun dan menyelidiki kondisi permulaan fluidisasi
4. Menghitung Pressure drop yang melalui fixed bed dan fluidized bed
1.2

Landasan Teori

1.2.1 Fenomena Fluidisasi


Fluidisasi merupakan operasi transformasi partikel padatan menjadi seperti
fluida melalui suspensi dalam gas atau cairan. Metode ini banyak digunakan oleh
para ahli teknik kimia dalam berbagai bidang yang berhubungan dengan
fluidisasi. Dengan metode ini diharapkan butiran-butiran padat memiliki sifat
seperti fluida dengan viskositas tinggi. Sebagai ilustrasi, tinjauan suatu kolom
berisi sejumlah partikel padat berbentuk bola. Melalui unggun padatan ini
kemudian dialirkan gas dari bawah ke atas. Pada laju alir yang cukup rendah,
butiran padat akan tetap diam, karena gas hanya mengalir dari bawah ke atas.
Pada laju alir yang cukup rendah, butiran padat akan tetap diam, karena gas hanya
mengalir melalui ruang antar partikel tanpa menyebabkan perubahan susunan
partikel tersebut. Keadaan yang demikian disebut unggun diam atau fixed bed.
Keadaan fluidisasi unggun diam tersebut ditunjukkan pada Gambar 1.1.

Gambar 1.1 Skema Unggun Diam dan Unggun Terfluidakan (Satriyo, 2008)
Jika laju alir kemudian dinaikkan, akan sampai pada suatu keadaan dimana
unggun padatan akan tersuspensi didalam aliran gas yang melaluinya. Pada

keadaan ini masing-masing butiran akan terpisahkan satu sama lain sehingga
dapat bergerak dengan lebih mudah. Pada kondisi butiran yang dapat bergerak ini,
sifat unggun akan menyerupai suatu cairan dengan viskositas tinggi, misalnya
adanya kecenderungan untuk mengalir, mempunyai sifat hidrostatik dan
sebagainya. Sifat unggun terfluidisasi ini dapat dilihat pada Gambar 1.2.

Gambar 1.2 Sifat Cairan Dalam Unggun Terfluidisasi (Satriyo, 2008)


Dalam dunia industri, fluidisasi diaplikasikan dalam banyak hal seperti
transportasi serbuk padatan (conveyor untuk solid), pencampuran padatan halus,
perpindahan panas (seperti pendinginan untuk bijih alumina panas), pelapisan
plastik pada permukaan logam, proses drying dan sizing pada pembakaran, proses
pertumbuhan partikel dan kondensasi bahan yang dapat mengalami sublimasi,
adsorpsi (untuk pengeringan udara dengan adsorben), dan masih banyak aplikasi
lain.
konsep dasar dari suatu partikel unggun yang terfluidisasi dapat
diilustrasikan dengan fenomena yang terjadi saat adanya perubahan laju alir gas
seperti pada gambar di bawah ini.

Gambar 1.3 Fenomena Fluidisasi dengan Variasi Laju Alir Gas (Satriyo, 2008)
Fenomena fluidisasi pada sistem gas-padat juga dapat diilustrasikan pada gambar
berikut ini:

Gambar 1.4 Fenomena Fluidisasi Pada Distem Gas-Padat (Satriyo, 2008)


Fenomena-fenomena yang dapat terjadi pada proses fluidisasi antara lain:
1. Fenomena fixed bed, terjadi ketika laju alir fluida kurang dari laju minimum
yang dibutuhkan untuk proses awal fluidisasi. Pada kondisi ini partikel padatan
tetap diam. Kondisi ini ditunjukkan pada gambar 1.5.

Gambar 1.5 Fenomena Fixed Bed (Satriyo, 2008)


2. Fenomena minimum or incipient fluidization, terjadi ketika laju alir fluida
mencapai laju alir minimum yang dibutuhkan untuk proses fluidisasi. Pada
kondisi ini partikel-partikel padat mulai terekspansi. Kondisi ini ditunjukkan
pada gambar 1.6.

Gambar 1.6 Fenomena Minimum or Incipient Fluidization (Satriyo, 2008)

3. Fenomena smooth or homogenously fluidization, terjadi saat kecepatan dan


distribusi aliran fluida merata, densitas dan distribusi partikel dalam unggun
sama atau homogen sehingga ekspansi pada setiap partikel padatan seragam.
Kondisi ini ditunjukkan pada gambar 1.7.

Gambar 1.7 Fenomena Smooth or Homogenously Fluidization (Satriyo, 2008)


4. Fenomena bubbling fluidization yang terjadi ketika gelembunggelembung
pada unggun terbentuk akibat densitas dan distribusi partikel tidak homogen.
Kondisi ini ditunjukkan pada gambar 1.8.

Gambar 1.8 Fenomena Bubbling Fluidization (Satriyo, 2008)


5. Fenomena slugging fluidization, terjadi ketika gelembung-gelembung besar
yang mencapai lebar dari diameter kolom terbentuk pada partikel-partikel
padat. Pada kondisi ini terjadi penolakan sehingga partikel-partikel padat
seperti terangkat. Kondisi ini dapat dilihat pada gambar 1.9.

Gambar 1.9 fenomena Slugging Fluidization (Satriyo, 2008)

6. Fenomena chanelling fluidization, terjadi ketika dalam unggun partikel padatan


terbentuk saluran-saluran seperti tabung vertikal. Kondisi ini ditunjukkan pada
gambar 1.10.

Gambar 1.10 Fenomena Chanelling Fluidization (Satriyo, 2008)


7. Fenomena disperse fluidization, terjadi saat kecepatan alir fluida melampaui
kecepatan maksimum aliran fluida. Pada fenomena ini sebagian partikel akan
terbawa aliran fluida dan berekspansi mencapai nilai maksimum. Kondisi ini
ditunjukkan pada gambar 1.11.

Gambar 1.11 Fenomena Disperse Fluidization (Satriyo, 2008)


Fenomena-fenomena fluidisasi tersebut sangat dipengaruhi oleh faktorfaktor berikut:
a. Laju alir fluida dan jenis fluida
b. Ukuran partikel dan bentuk partikel
c. Jenis dan densitas partikel serta faktor interlok antar partikel
d. Porositas unggun
e. Distribusi aliran
f. Distribusi bentuk ukuran fluida
g. Diameter kolom
h. Tinggi unggun

Faktor-faktor di atas merupakan variabel-variabel dalam proses fluidisasi yang


akan menentukan karakteristik proses fluidisasi tersebut.
Kebanyakan operasi di industri menggunakan prinsip fluidisasi ini pada
fluidized beds dengan berbagai alasan tertentu. Adapun keuntungan dari fluidized
beds untuk operasi industri yaitu sebagai berikut:
1. Halus, partikel fluida mengizinkan kontrol operasi secara kontinu otomatis
dengan penanganan yang mudah
2. Pencampuran yang cepat dari padatan pada kondisi isotermal sepanjang reaktor
3. Bisa diterapkan pada operasi skala besar.
4. Laju transfer panas dan massa antara gas dan partikel tinggi ketika
dibandingkan dengan cara lain
5. Sirkulasi padatan antara dua fluidized bed memungkinkan memindahkan (atau
menambah) kuantitas yang besar panas yang diproduksi (atau dibutuhkan)
dalam reaktor yang besar
Adapun kerugian dari fluidized bed untuk operasi industri yaitu sebagai
berikut:
1. Menyebabkan erosi pada pipa dan bejana dari abrasi partikel yang serius
2. Menyebabkan tumpahnya partikel-partikel dalam bejana
3. Sulit untuk menjelaskan aliran gas pada partikel untuk bubbling bed
Pada praktikum fluidisasi ini fluida yang digunakan adalah udara tekan.
Butiran padat yang akan difluidisasikan juga dapat bervariasi seperti butiran batu
bara, batu bata, pasir, dan sebagainya. Ukuran partikel juga divariasikan dengan
melakukan pengayakan dengan mesh tertentu. Densitas partikel dapat juga
divariasikan dengan mencampur partikel, baik yang berbeda ukuran maupun
berbeda jenis. Selain itu variasi juga dapat dilakukan pada tinggi unggun. Dalam
praktikum ini akan teramati fenomena-fenomena fluidisasi. Selama fluidisasi
berlangsung juga dapat diamati kecepatan minimum fluidisasi secara visual. Dari
hasil pengukuran tekanan dan laju alir fluida dibuat pula kurva karakteristik
fluidisasi.
Bila kita amati suatu unggun butiran yang disangga oleh pelat kasa dan
dilalukan pada unggun tersebut suatu aliran fluida ke arah atas, maka untuk debit

aliran yang kecil unggun akan tetap diam, fluida hanya akan mengalami kenaikan
hilang tekan dengan peningkatan debit tersebut. Untuk suatu debit tertentu hilang
tekan (dinyatakan dalam tekanan, artinya gaya per satuan permukaan) sampai
pada nilai yang sama dengan berat unggun persatuan permukaan (yang ukurannya
juga sama dengan permukaan untuk hilang tekan), dan unggun mulai terangkat.
Inilah yang disebut awal fluidisasi. Di atas kecepatan ini butiran unggun beberapa
menjadi terpisah dan bergerak secara bervariasi ke segala arah. Akan tetapi untuk
kecepatan tertentu posisi rata-ratanya secara statistik adalah tetap, dalam arti
unggun mempunyai suatu tinggi yang konstan. Tinggi unggun ini meningkat bila
debit cairan meningkat.
Bila kita naikkan lagi debit aliran kita akan mencapai suatu kecepatan yang
bersamaan seperti bila butiran tersebut jatuh bebas dalam fluida diam. Maka kita
akan mengalami pengaliran butiran padat itu keluar menurut arah aliran.

Gambar 1.12 Skema fluidisasi (Novandy, 2007).


Bila peristiwa tersebut akan kita gambarkan secara grafik, kita ambil
sebagai absis kecepatan atas dasar kolom kosong Um (artinya kecepatan rata-rata
fluida dalam suatu pipa kosong dengan luas permukaan penampangnya sama
dengan penampang unggun) dan sebagai ordinat adalah hilang tekan P. Peristiwa
tersebut dapat kita nyatakan sebagai berikut:
a. Dari O ke A unggun tetap diam dan hilang tekan naik menurut debit aliran. Bila
debit aliran cukup kecil perubahan P terhadap um adalah tetap linier dan dapat
dihitung, misalnya dengan menggunakan persamaan Kozeny Carman.
b. Di A hilang tekan menjadi sedemikian sehingga gaya tekan bersangkutan
dengan awal pengangkatan unggun. Harga hilang tekan ini akan bergantung
terutama pada kondisi pencurahan unggun dan sifat partikel (keadaan

permukaan, sifat dendritik atau tidak dan seterusnya). Kita melihat kenyataan
disini bahwa gaya yang bersangkutan dengan hilang tekan pada titik ini tidak
saja untuk mengangkat berat butiran yang diakibatkan oleh penghimpitan
partikel satu dengan yang lainnya.
c. Sekali unggun ini terberai hilang tekan akan turun kembali ke harga yang lebih
kecil (titik B), lalu bila kecepatan dinaikkan lagi hilang tekan akan tetap
konstan hingga titik C dengan ketinggian unggun yang senantiasa meningkat.
Oleh karena itu, kenyataan bahwa hilang tekan tetap konstan (dan sama dengan
berat unggun persatuan luas) pada saat debit meningkat, menunjukkan bahwa
geometri intern unggun adalah berubah terutama berupa peningkatan
porositasnya yang akan berhubungan erat dengan naiknya tinggi unggun.
Setelah titik C partikel akan berbawa dalam arah aliran gas. Kurva akan
berpotongan dengan kurva hilang tekan fluida dalam tabung kosong ( = 1).
d. Bila kemudian kecepatan kita turunkan, maka tinggi unggun juga akan
menurun, akan tetapi mulai dari titik B sudah tentu kita tidak perlu lagi
mengikuti bekas keadaan A oleh karena partikel meletakkan dirinya secara
perlahan-lahan satu di atas lainnya tanpa pemadatan. Maka kita akan bergerak
dari B ke O dengan melewati D.
e. Alhasil bila kita memulai kembali suatu fluidisasi, tidak akan ada lagi upaya
yang harus dilakukan untuk mengatasi gaya gesekan antara partikel yang
terjadi karena pemadatan dan titik-titik yang menggambarkannya dinyatakan
oleh kurva ODBC naik atau turun akan tetap sama. Hilang tekan (untuk suatu
Um tertentu) dalam zone pertama (bersangkutan dengan OD) adalah lebih kecil
dari pada dalam OA, karena pemadatan unggun lebih berkurang dan tinggi
unggun Zi lebih besar.
Pernyataan tentang unggun terfluidakan di atas sebenarnya terlalu diidealkan.
Fluidisasi inilah yang biasa disebut fluidisasi homogen dimana butiran terdispersi
secara uniform dalam seluruh bagian unggun, artinya porositas lokal unggun
seolah-olah konstan pada setiap titik didalam unggun tersebut.

Gambar 1.13 Berbagai rezim fluidisasi (Novandy, 2007)


Kita mengamati bahwa fluidisasi homogen terjadi bila densitas fluida f
dan densitas partikel s sedikit saja berbeda
......................................................(1.1)

Misalnya dalam hasil fluidisasi butiran kaca dalam air. Akan tetapi kebanyakan
operasi fluidisasi dilakukan dalam fasa gas
....................................................(1.2)

dimana dalam hal ini fluidisasi menjadi heterogen. Bagian tertentu unggun seolaholah tetap diam sementara yang lainnya dilalui oleh gelembung-gelembung gas
yang besar dengan kecepatan Um dan mengandung sedikit butiran sebagai
suspensi di dalamnya, gelembung ini merambat ke arah permukaan unggun
sehingga tidka memungkinkan lagi untuk mendefinisikan suatu permukaan bebas.
Inilah yang disebut peristiwa penggelembungan. Bila gelembung ini sampai
memenuhi seluruh penampang unggun ia akan dapat terangkat selama beberapa
saat, lalu volum tersebut akan jatuh kembali secara tiba-tiba ke atas lapisan paling
rendah. Inilah yang disebut fenomena fluidisasi berpiston (Novandy, 2007).

Karena sifat-sifat partikel padat yang menyerupai sifat fluida cair dengan
viskositas tinggi, metoda pengontakan fluidisasi memiliki beberapa keuntungan
dan kerugian. Keuntungan proses fluidisasi, antara lain:
a. Sifat unggun yang menyerupai fluida memungkinkan adanya aliran zat padat
secara kontinu dan memudahkan pengontrolan
b. Kecepatan pencampuran yang tinggi membuat reaktor selalu berada dalam
kondisi isotermal sehingga memudahkan pengendaliannya
c. Sirkulasi butiran-butiran padat antara dua unggun fluidisasi memungkinkan
pemindahan jumlah panas yang besar dalam reaktor
d. Perpindahan panas dan kecepatan perpindahan massa antara partikel cukup
tinggi
e. Perpindahan panas antara unggun terfluidakan dengan media pemindah panas
yang baik memungkinkan pemakaian alat penukar panas yang memiliki luas
permukaan kecil
Sebaliknya, kerugian proses fluidisasi antara lain:

Selama operasi partikel-partikel padat mengalami pengikisan sehingga

karakteristik fluidisasi dapat berubah dari waktu ke waktu.


Butiran halus akan terbawa aliran sehingga mengakibatkan hilangnya

sejumlah tertentu padatan.


Adanya erosi terhadap bejana dan sistem pendingin.
Terjadinya gelombang dan penorakan di dalam unggun sering kali tidak dapat
dihindari sehingga kontak antara fluida dan partikel tidak seragam. Jika hal
ini terjadi pada reaktor, konversi reaksi akan kecil.
Jika suatu fluida melewati partikel unggun yang ada dalam tabung, maka

aliran tersebut memberikan gaya seret (drag force) pada partikel dan
menimbulkan pressure drop sepanjang unggun. Pressure drop akan naik jika
kecepatan supervisial naik (Novandy, 2007).
Pada kecepatan supervisial rendah, unggun mula-mula diam. Jika kemudian
kecepatan supervisial dinaikkan, maka pada suatu saat gaya seret fluida
menyebabkan unggun mengembang dan tahanan terhadap aliran udara mengecil,
sampai akhirnya gaya seret tersebut cukup untuk mendukung gaya berat partikel

unggun. Kemudian unggun mulai bergerak dan kondisi ini disebut minimum
fluidization. Kecepatan supervisial terendah yang dibutuhkan untuk terjadinya
fluidisasi disebut minimum fluidization velocity (vmf). Sedangkan porositas dari
unggun ketika fluidisasi benar-benar terjadi dinamakan minimum fluidization
porosity (mf). Sementara itu pressure drop sepanjang unggun akan tetap walaupun
kecepatan supervisial dinaikkan dan sama dengan berat efektif unggun per satuan
luas.
Jika kecepatan fluida diatas vmf, unggun akan mulai mengembang
(bubbling) dan kondisi ini dinamakan aggregative fluidization. Kenaikan
kecepatan supervisial yang ekstrim tinggi dapat menyebabkan tumbuhnya
gelembung yang sangat besar, memenuhi seluruh tabung dan mendorong
terjadinya slugging bed. Pada saat ini pressure drop mungkin melampaui berat per
satuan luas karena adanya interaksi partikel dengan dinding tabung. Jika densitas
fluidanya lebih besar dan partikel unggun lebih kecil kemungkinan unggun dapat
tertahan dalam keadaan mengembang lebih stabil (particulate fluidzation).
Partikel unggun yang lebih ringan, lebih halus dan bersifat kohesif sangat sukar
terfluidisasi karena gaya tarik antar partikel lebih besar daripada gaya seretnya.
Sehingga partikel cenderung melekat satu sama lain dan gas menembus unggun
dengan membentuk channel.
1.2.2 Penentuan pressure drop pada fixed bed
Untuk menentukan pressure drop yang melalui fixed bed dapat
dinyatakan dengan persamaan berikut:

150 v' mf L

Dengan :

Dp

1 2

1,75 v' mf L 1

Dp
....................(1.3)
2

Dp

= Diameter Partikel

= Viskositas Fluida

L = Tinggi Bed

= Voidage

vmf = Kecepatan Supervisial


1.2.3 Faktor Bentuk
Faktor bentuk adalah perbandingan luas permukaan bola pada volum
tertentu dengan luas permukaan partikel pada volum yang sama. Faktor bentuk
untuk partikel tidak teratur sudah ditentukan. Untuk material yang sering dipakai
mempunyai nilai 0,7 < s < 0,9.
1.2.4 Pengukuran kecepatan fluidisasi minimum
Pengukuran kecepatan fluidisasi minimum dapat diperoleh dari grafik
pressure drop versus supervisial velocity, yaitu merupakan titik potong antara
bagian kurva yang naik dan bagian kurva yang datar.

DAFTAR PUSTAKA
Christie J. Geankoplis. 1993. Transport Processes and Unit Operations. Third
Edition. Pretince Hall International Edition. University of Minnesota.
Kirk-Othmer. 1994. Encyclopedia of Chemical Technology, 4th edition, volume
10, John Wiley & Sons, New York.
Novandy. 2007. Penentuan Pressure Drop dan Kecepatan Minimum Proses
Fluidisasi Pada Reactor Fixed Bed dan Regenerator. FORUM IPTEK Vol
13 No 03. Publikasi Ilmiah Pusdilkat Migas,
Satriyo. 2008. Fluidisasi. Laboratorium Operasi Teknik Kimia. Jurusan Teknik
Kimia Universitas Sultan Ageng Tirtayasa: Cilegon Banten.

Tim Penyusun. 2015. Penuntun Praktikum Laboratorium Teknik Kimia I.


Program Studi S1 Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Riau.
Pekanbaru.

BAB II
METODE PRAKTIKUM
3.1

Bahan-bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu.
1. Arang
2. Kerikil
3. Pasir halus

3.2

Alat yang digunakan


Alat yang digunakan merupakan rangkaian alat fluidisasi yang terdiri dari.

1. Kompresor
2. Flow meter
3. Manometer
4. Kolom
5. Valve
6. Flow regulator valve
7. Piknometer
8. Jangka sorong

Gambar 2.1 Rangkaian Alat Percobaan Fluidisasi


3.3

Prosedur Praktikum

1. Salah satu bahan dimasukkan ke dalam kolom I setinggi 3 cm.


2. Valve V2, V3, V5, V6 ditutup dan valve yang lain dibuka.

3. Kompresor dihidupkan dengan menekan tombol switch.


4. Flow regulator valve diatur sampai flow meter menunjukkan 1200 L/jam.
5. Tinggi unggun, pressure drop, dan kondisi unggun selama proses
berlangsung kemudian diamati dan dicatat.

6. Praktikum dilakukan dengan variasi tinggi masing-masing bahan 3 cm,


4cm dan 5 cm serta variasi flowrate dengan kecepatan 1.200-12.000
L/jam.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1

Hasil
Percobaan fluidisasi ini menggunakan 3 macam partikel yaitu pasir, kerikil

dan arang aktif dengan menggunakan fluida gas yaitu udara tekan, untuk
menetukan pressure drop dan kondisi atau fenomena fluidisasi serta berapa tinggi
partikel dalam bed selama percobaan yang terdapat pada lampiran.
a. Partikel kerikil dengan h= 30 mm

Gambar 3.1 Hubungan antara Flow Rate dan Pressure Drop untuk Bed Kerikil
pada ketinggian 30 mm

b. Partikel pasir dengan h = 0,03mm

Gambar 3.2 Hubungan antara Flow Rate dan Pressure Drop untuk Bed Pasir pada
ketinggian 30 mm
c. Partikel arang dengan h = 0,03 mm

Gambar 3.3 Hubungan antara Flowrate dan Pressure Drop untuk Bed Arang pada
ketinggian 30 mm
3.2

Pembahasan

Pada percobaan ini digunakan tiga jenis unggun, yaitu pasir dengan
diameter rata-rata sebesar 0,0005 m, kemudian arang dengan diameter rata-rata
0,00256 m, dan kerikil dengan diameter rata-rata 0,0022586 m. Pada gambar 3.1
sampai dengan 3.3, dapat dilihat hubungan pressure drop dengan laju alir fluida
untuk sampel kerikil, pasir dan arang dalam kolom dengan diameter 53 mm.
Semakin besar nilai kecepatan aliran fluida gas tekan yang digunakan maka
semakin besar pula pressure drop yang terjadi pada unggun tersebut. Semakin
bertambah laju alir fluida maka hilang tekan (pressure drop) juga akan semakin
meningkat sesuai persamaan Ergun (Geankoplis, J.C., 1993).
Untuk sampel kerikil, pasir dan arang, fenomena yang terjadi yaitu
fenomena fixed bed. Fenomena ini dapat terjadi jika laju alir fluida lebih kecil dari
laju minimum yang dibutuhkan untuk proses awal fluidisasi. Selama praktikum,
pada flowrate maksimum yaitu 0,000333 m3/s, partikel menunjukkan fenomena
fixed bed. Hal ini terjadi karena dipengaruhi oleh kondisi alat yang digunakan,
laju alir fluida, diameter dan bentuk partikel, jenis dan densitas partikel serta
tinggi unggun/bed.
Ketika flow rate yang diberikan semakin besar, maka pressure drop yang
terjadi juga akan semakin besar dikarenakan partikel yang berukuran lebih kecil
terseret aliran fluida terlebih dahulu di bandingkan dengan partikel yang lebih
besar.
Variasi material yang memiliki perbedaan diameter partikel akan
berdampak pada perbedaan nilai densitas material. Semakin besar densitas
material maka dibutuhkan daya dorong fluida yang lebih besar untuk membuat
unggun bergerak. Ukuran partikel juga sangat mempengaruhi pressure drop pada
unggun. Semakin besar ukuran diamater suatu partikel unggun maka semakin
kecil pressure drop yang ditimbulkan (Kirk Othmer, 1994). Ukuran partikel bahan
yang tidak seragam akan mempengaruhi flow rate.
Untuk partikel yang berukuran lebih kecil terseret oleh aliran fluida
terlebih dahulu dibandingkan dengan partikel yang berukuran lebih besar.
Semakin besar ukuran partikel maka flow rate yang dibutuhkan semakin besar,
sehingga pressure drop juga akan semakin besar. Selain itu, semakin besar massa

bednya, maka semakin besar pula flow rate yang harus dialirkan agar proses
fluidisasi terjadi. Flow rate yang semakin besar menyebabkan nilai pressure drop
yang dihasilkan semakin besar pula.

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN


4.1

Kesimpulan
1. Pressure drop berbanding lurus dengan flow rate. Semakin meningkat
flow rate, maka pressure drop juga akan meningkat.
2. Partikel yang memiliki densitas lebih besar membutuhkan flow rate yang
lebih besar pula untuk mencapai kondisi fluidisasi.
3. Pada proses fluidisasi, fenomena yang terjadi adalah fenomena fixed bed.

4.2

Saran
1. Praktikan harus teliti dalam melakukan perhitungan nilai-nilai pressure
drop, porositas, volume bed, volume partikel total, diameter partikel, dan
data-data lain yang diperlukan.
2. Sebelum melaksanakan praktikum dilakukan kalibrasi terlebih dahulu
terhadap alat sehingga mendapatkan hasil yang lebih akurat.