Anda di halaman 1dari 88

Chapter 1

Perkembangan Teori Atom


Gagasan partikel atom telah dikenalkan oleh filsuf Leucipus, berasal dari Melitus
Turki, dan Demokritos dari Abdera sekitar 2.500 tahun yang lalu. Berdasarkan
etimologi, kata atom berasal dari bahasa Yunani atemnein, gabungan dari dua
suku kata: a berarti tidak dan temnein yang artinya dapat dibelah. Kata tersebut lama kelamaan melemah dan berubah menjadi oo (dibaca atomos) dan
akhirnya menjadi kata atom seperti yang kita kenal sampai saat ini.
Demokritos berspekulasi semua benda dapat dibelah menjadi bagian yang
lebih kecil dan seterusnya sehingga akhirnya diperoleh partikel terkecil yang
tidak dapat dibelah lagi yang dinamakan atom. Sifat materi yang berbeda-beda
seperti warna, bentuk dan kekerasan disebabkan oleh perbedaan bentuk atau
susunan atom-atomnya. Atom selalu bergerak sebagaimana terlihat pada aliran
gas dan zat cair. Sedangkan pada benda padat atom-atom penyusunnya berbentuk sedemikian sehingga tidak ada ruang antar kosong antar atom sehingga tidak
memungkikan atom bergerak berpindah tempat.
Tidak semua filsuf sepakat dengan paham atom Demokritos. Salah seorang
penentangnya adalah Aristoteles yang berpendapat materi dapat dibelah terus
menerus tanpa batas. Menurutnya ide atom Demokritos tidak logis, hanyalah
angan-angan belaka karena partikel atom tidak mungkin dapat dilihat mata. Sebagai alternatifnya, untuk menjelaskan sifat material, Aristoteles mengemukakan
sifat materi ditentukan oleh empat dasar sifat, yaitu panas, dingin, kering dan

CHAPTER 1. PERKEMBANGAN TEORI ATOM

basah. Ujud materi gas, cair, padat serta sifat kekerasan, bau dan lainnya disebabkan oleh komposisi keempat sifat dasar tersebut dengan ukuran yang berbedabeda.
Selama sekitar 2.500 tahun pertentangan pendapat antara paham atom
Demokritos dan Aristoteles hanya dikenal di kalangan para filsuf saja. Tidak
pernah tercatat dalam sejarah upaya-upaya yang dilakukan manusia untuk membuktikan kebenarannya melalui eksperimen ilmiah. Teori atom Demokritos tidak
berkembang dan banyak dilupakan karena pada filsuf waktu itu lebih mendukung
pemikiran-pemikiran Aristoteles yang sangat mendominasi para filsuf hingga abad
pertengahan.
Pemikiran Aristoteles tentang 4 sifat dasar penyusun materi terus hidup di
masyarakat dan telah merangsang para ilmuwan bangsa Arab di Mesir pada abad
pertengahan yang akhirnya melahirkan alkimia, cikal bakal ilmu kimia yang dikenal saat ini. Pada saat itu mereka mampu membuat alkohol. Kimiawan bangsa
Arab yang tersohor waktu itu adalah Jabir Ibn Haiyyan. Jasa para ilmuwan Arab
Muslim yang perlu dicatat karena mereka telah berhasil meletakkan dasar-dasar
metode eksperimen ilmiah di laboratorium.
Pada permulaan abad pertengahan terjadi perpindahan pusat ilmu dari
dunia Arab ke Eropa. Di tangan ilmuwan Barat, ilmu kimia berkembang sangat
pesat. Robert Boyle merupakan ilmuwan Irlandia yang pertama kali memperkenalkan istilah unsur sebagai partikel terkecil. Semua materi tersusun atas unsur
dasar, jika meteri diurai, akan diperoleh unsur dasar pembentuknya. Walaupun
ide Boyle tentang unsur berbeda dengan pengertian yang saat ini digunakan, namun sangat bermakna karena secara eksplisit menggunakan konsep unsur sebagai
partikel atomistik terkecil.
Gagasan Boyle mendapat dukungan ketika kimiawan Prancis Antonie Laurent Lavoiser mendefinisikan kembali istilah unsur yaitu partikel terkecil yang
diperoleh dari reaksi kimia. Ia juga mengatakan udara bukan unsur, melainkan
campuran beberapa unsur gas, terutama gas nitrogen dan oksigen. Beberapa
tahun kemudian ilmuwan Inggris Joseph Priestly dan Henry Cavendish men-

3
dukung gagasan Lavoiser dengan menyatakan air juga bukan termasuk unsur
tetapi merupakan campuran dari gas hidrogen dan gas oksigen. Perlu kiranya dituliskan di sini, dari 33 buah unsur yang dikenal waktu itu, 20 buah diantaranya
ditemukan oleh Lavoiser.
Sumbangan sangat bermakna tentang teori atom diberikan oleh John Dalton seorang fisikawan pengamat cuaca dari Inggris. Dalton mendukung ide partikel atom Demokritos. Secara tegas ia mengatakan semua unsur kimia tersusun
atas sejumlah atom yang tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan menggunakan
reaksi kimia. Dengan hipotesis partikel atom, Dalton mengemukakan hukum perbandingan berganda pada reaksi kimia. Sebagai contoh, dari eksperimen telah
diketahui jika 14 gram gas nitrogen direaksikan dengan16 gram oksigen akan dihasilkan 30 gram gas NO. Sedangkan apabila 14 gram nitrogen direaksikan dengan 32 gram oksigen akan diperoleh 46 gram NO2 . Dari reaksi ini disimpulkan
perbandingan berat atom nitrogen dan oksigen adalah 14 : 16.
Kesuksesannya mensintesa beberapa gas seperti CO, CO2 dan C2 H4 telah
mendorong Dalton mengemukakan pentingnya konsep massa relatif suatu unsur. Istilah ini sekarang lebih populer dengan nama berat atom. Selain itu ia
juga mengusulkan agar massa atom dicantumkan dalam penulisan lambang unsur
kimia. Ide Dalton telah mengilhami ilmuwan lainnya guna merancang eksperimen mengukur massa mutlak unsur kimia. Paham Aristoteles tentang empat sifat
dasar materi sama sekali tidak sejalan dengan simpulan Dalton dan sejak saat itu
model atom Demokritos mulai menemukan bentuknya yang lebih konkrit. Atas
sumbangan pemikirannya ini, Dalton dinobatkan sebagai Bapak Atom Modern.
Pengetahuan tentang partikel atomistik bertambah lengkap setelah kimiawan Prancis Louis Joseph Gay-Lussac mengemukakan

hukum perbandingan

volume gas yang tetap pada semua reaksi kimia. Jika gas A dicampur dengan
gas B dan menghasilkan gas C serta semua gas tersebut berada pada temperatur
dan tekanan yang sama, maka perbandingan volume antara gas-gas A, B dan C
merupakan bilangan bulat. Dengan demikian pada contoh reaksi gas nitrogen

CHAPTER 1. PERKEMBANGAN TEORI ATOM

dan oksigen di atas, berlaku persamaan:


1vol gas nitrogen + 1 vol gas oksigen 2 vol gas NO
1vol gas nitrogen + 2 vol gas oksigen 2 vol gas NO
Eksperimen sejenis dilakukan secara terpisah oleh kimiawan Italia bernama
Amedeo Avogadro. Untuk menjelaskan hasil eksperimennya, ia menggabungkan
teori atom Dalton dengan teori Gay-Lusac dan akhirnya pada tahun 1811 Avogadro mengemukakan postulat molekul dasar yaitu partikel terkecil yang dapat
bergabung membentuk senyawa. Sebagai contoh, molekul gas hidrogen terdiri
atas dua atom yang sama. Ia juga menyatakan gas nitrogen dan oksigen keduanya adalah molekul diatomik. Gagasan Avogadro yang paling penting adalah,
walaupun tanpa didukung bukti eksperimen, semua gas pada volume, temperatur
dan tekanan yang sama memiliki jumlah molekul yang sama banyaknya. Jumlah total molekul N dalam gas sama dengan jumlah per mol n dikalikan dengan
jumlah mol NA yang dinamakan bilangan Avogadro.
Pada awalnya, bilangan Avogadro kurang mendapat perhatian. Bahkan
Avogadro sendiri tidak mengetahui nilainya. Barulah pada tahun 1865 ilmuwan
Jerman Loschmid berhasil menetapkan bilangan ini. Atas dasar inilah bilangan
Avogadro dinamakan juga bilangan Loschmid. Dengan semaking berkembangnya
metode serta teknik pengukuran, nilai bilangan Avogadro yang saat ini diangggap
paling tepat adalah 6, 02 1023 /mol. Beberapa cara menentukan bilangan Avogadro akan dibahas pada Sub Bab ???
Pada waktu itu para kimiawan telah berhasil mengukur berat atom relatif.
Namun hasil yang diperoleh sangat tidak konsisten, nilainya bergantung pada
metode yang digunakan. Hasil eksperimen seperti ini tentu saja sangat mengganggu pemikiran ide partikel atom yang sebenarnya mulai diterima oleh para
kimiawan. Namun segala kesulitan ini akhirnya dapat diatasi oleh kimiawan Italia
Stanislao Cannizzaro pada tahun 1858 menggunakan hipotesa Avogadro. Penjelasan ini membuka ide untuk mengukur massa absolut molekul. Sekarang, massa
absolut atom atau molekul diukur secara langsung menggunakan spektrometer
massa dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi. Beberapa jenis spektrometer

5
massa secara khusus akan dibahas pada Sub bab ???
Dengan semakin bertambahnya jumlah unsur yang dikenal waktu itu, Dalton mengusulkan penulisan atom dengan lambang tertentu, misalkan karbon
digambarkan dengan simbol lingkaran berwarna hitam. Namun penulisan lambang ini cukup merepotkan karena setiap ditemukan unsur baru harus diciptakan lambang baru. Untuk mengatasi kesulitan ini, kimiawan Swedia Jons
Jakob Berzellius mengusulkan perlambangan unsur menggunakan abjad latin,
yaitu huruf pertama nama setiap unsur. Sebagai contoh adalah unsur oxigenium
(oksigen) diberi lambang O, hidrogenium (hidrogen) H dan aurum (emas) Au.
Daftar lengkap semua unsur dan simbolnya dapat dilihat pada Tabel ???.
Para kimiawan telah lama mengetahui unsur-unsur dapat digolongkan ke
dalam kelompok-kelompok. Semua unsur anggota dalam satu kelompok memiliki sifat yang sangat mirip walaupun tidak sama persis. Dalton mengemukakan
atom yang satu dengan lainnya dibedakan dari beratnya. Atas dasar ini kimiawan berusaha menghubungkan antara sifat kimia unsur dengan berat atomnya.
Pekerjaan ini dipelopori oleh kimiawan Jerman Johann Wolfgang Dobereiner, dilanjutkan oleh kimiawan Inggris John Alexander Reina Newland dan akhirnya
disempurnakan oleh kimiawan Rusia Dimitri I. Mendeleev yang pada tahun 1869
mengemukakan Deret Berkala Unsur-unsur yang dipakai hingga sekarang. Secara
hampir bersamaan kimiawan Jerman Julius Lothar Meyer juga membuat tabel sejenis. Fisikawan yang berjasa dalam penyempurnaan Tabel Deret Berkala adalah
H. G. J. Moseley dari Inggris. Hasil kerja Moseley akan secara khusus dibahas pada Bab ??? Namun, perlu dituliskan di sini Tabel Deret Berkala Unsurunsur yang berlaku saat ini bukan dibuat berdasarkan berat atomnya, tetapi
berdasarkan konfigurasi elektron elektron orbit.
Perkembangan pemahaman partikel atomistik sebagaimana diuraikan di
muka merupakan simpulan dari serangkaian percobaan-percobaan kimia. Penemuan mikroskop sangat membantu perkembangan pengetahuan tentang partikel
atom. Paham materi terkecil yang diperoleh dari eksperimen fisika mulai berkembang diawali oleh ilmuwan Inggris bernama Robert Brown yang pada tahun 1827

CHAPTER 1. PERKEMBANGAN TEORI ATOM

mengamati partikel-partikel halus serbuk sari yang terlarut di dalam air menggunakan mikroskop. Brown melihat walaupun air tampaknya diam, partikel-partikel
halus tersebut bergerak acak dengan lintasan yang berlika-liku dan sangat mirip
satu dengan lainnya. Brown menyimpulkan bahwa gerak partikel halus tersebut
karena bertumbukan dengan molekul air yang bergerak dengan cepat. Untuk
menghormati jasanya, gerak partikel halus yang terlarut di dalam cairan dinamakan gerak Brown. Pada tahun 1905 Albert Einstein berhasil merumuskan secara matematis persamaan gerak Brown menggunakan hukum-hukum mekanika
Newton. Ia bahkan memprediksi diameter atom adalah sekitar 1010 m. Gerak
Bown merupakan pendukung teori atom yang sangat kuat.
Tak lama setelah Sir Isac Newton menerbitkan buku The Principia, pada
tahun 1738 Daniel Bernoulli memelopori pembuatan teori kinetik gas menggunakan mekanika Newton yang kemudian disempurnakan oleh Clausius, Maxwell,
Boltzmann serta Gibbs antara tahun 1850 sampai dengan 1900. Teori ini telah diuji kebenarannya melalui serangkaian eksperimen. Hasil eksperimen gerak Brown
serta teori kinetik gas merupakan petunjuk sangat kuat yang mendukung eksistensi partikel elementer atom.
Meskipun paham Demokritos telah mendapat dukungan banyak pakar, namun masih ada yang tidak mempercainya. Pada tahun 1908 kimiawan Wilhelm Ostwald dan fisikawan Ernst Mach mengemukakan keberatannya terhadap
teori atom materi. Namun keberatan mereka akhirnya dijawab dengan eksperimen yang dilakukan oleh Perrin yang semakin menegaskan kebenaran teori atom
Demokritos.
Sejalan dengan perkembangan ilmu kimia, ilmu Fisika juga mulai berkembang. Salah satu bidang kajian waktu itu yang banyak menarik perhatian adalah
gejala kelistrikan. Temuan gejala kelistrikan hayati oleh ahli biologi Luigi Galvani telah merangsang fisikawan Alessandro Volta untuk mempelajari kelistrikan
sehingga akhirnya menemukan pembangkitan arus listrik secara kimia. Temuan
ini membawa pengaruh yang luar biasa karena mulai saat itu para ahli kimia dan
fisika bersatu memahami hakekat materi.

7
Sejalan dengan perkembangan teori atom, salah satu bidang kajian waktu
itu yang banyak menarik perhatian adalah gejala kelistrikan. Temuan gejala
kelistrikan hayati oleh ahli biologi Luigi Galvani telah merangsang fisikawan
Alessandro Volta untuk mempelajari kelistrikan sehingga akhirnya menemukan
pembangkitan arus listrik secara kimia. Temuan ini membawa pengaruh yang
luar biasa karena mulai saat itu para ahli kimia dan fisika bersatu memahami
hakekat materi atom.
Proses kimia listrik diteliti lebih lanjut oleh Michael Faraday yang akhirnya
berhasil menjelaskan peristiwa elektrolisa menggunakan konsep partikel atomistik
yang dinamakan ion. Eksperimen elektrolisa Faraday ini sejalan dengan hukum
perbandingan berganda yang dikemukakan oleh Dalton. Hukum elektrolisa Faraday memberi inspirasi G. Johnstone Stoney mengemukakan gagasan partikel tak
terbelahkan pembawa muatan listrik sebesar satu satuan, yang dinamakannya
elektron,.
Eksperimen di bidang kimialistrik akhirnya membuka jalan bagi diketemukannya sinar katoda. Pada tahun 1897 Sir Joseph John Thompson melakukan
eksperimen lanjutan untuk mengetahui hakekat sinar katoda. Dari interaksinya
dengan medan listrik dan magnet, Thompson menyimpulkan sinar katoda adalah
elektron. Penemuan elektron ditindaklanjuti Robert Millikan yang

berhasil

mengukur muatan listrik elektron sehingga massa elektron dapat dihitung.

CHAPTER 1. PERKEMBANGAN TEORI ATOM

Chapter 2
Elektron
Gejala kelistrikan telah lama dikenal manusia. Tercatat dalam sejarah, pada
sekitar 600 tahun sebelum Masehi seorang filsuf Yunani bernama Thales telah
mengetahui jika batu amber, yaitu sejenis getah pohon damar yang telah membatu, digosok dengan bulu hewan, batu tersebut memiliki sifat menarik bendabenda kecil dan ringan seperti rambut, daun atau debu. Eksperimen kelistrikan
secara ilmiah dipelopori oleh fisikawan Inggris William Gilbert. Ia mengatakan,
sifat seperti yang dimiliki batu amber yang digosok dengan bulu hewan juga ditemukan pada bahan belerang, kaca dan lilin yang digosoki. Namun Gilbert gagal
menggosok logam agar memiliki sifat seperti batu amber. Hal ini dikarenakan
waktu itu belum diketahui logam bersifat sebagai konduktor listrik.
Temuan Gilbert ditindaklanjuti oleh ilmuwan Prancis Charles F. du Fay
yang menyatakan terdapat dua jenis sifat kelistrikan. Batu amber yang digosok
dengan bulu hewan berbeda sifatnya dengan batang kaca yang digosok dengan
sutera. Ide du Fay ini kemudian disempurnakan oleh fisikawan Amerika Benjamin
Franklin dengan mengemukakan ide muatan listrik. Muatan listrik yang sejenis
dengan muatan yang ditimbulkan oleh batang kaca yang digosok dinamakan muatan listrik positif dan muatan yang ditimbulkan oleh amber yang digosok sebagai
muatan listrik negatif.
Pada tahun 1800, kimiawan Inggris William Nicholson dan Anthony Carlisle
melaporkan, arus listrik, yaitu muatan listrik yang bergerak, dapat digunakan

10

CHAPTER 2. ELEKTRON

untuk mengurai air menjadi gas hidrogen dan oksigen. Eksperimen ini ditindaklanjuti oleh ilmuwan Inggris Humpry Davi dan Michael Faraday. Faraday menamakan peristiwa penguraian unsur kimia menggunakan arus listrik searah dengan
istilah elektrolisis, sedangkan zat kimia yang terurai dalam proses ini dinamakan
elektrolit. Pelat logam yang dihubungkan ke kutub positif sumber tegangan dinamakannya anoda sedangkan yang dihubungkan dengan kutub negatif dinamakan
katoda. Anoda dan katoda keduanya dinamakan elektroda. Sejak saat itu sampai sekarang teknik elektrolisa digunakan untuk tujuan-tujuan tertentu, misalnya
untuk menguraikan senyawa atau melapisi logam.
Eksperimen elektrolisis Faraday menjadi dasar untuk memahami hakekat
partikel terkecil atomistik pembawa muatan listrik. Fisikawan Irlandia G. Johnstone Stoney mengungapkan pendapatnya, sebagaimana materi yang tersusun
atas sejumlah atom, muatan listrik yang dimiliki materi juga merupakan kumpulan muatan listrik elementer yang tidak dapat dibagi. Partikel terkecil pembawa
muatan listrik satuan ini diberinya nama elektron, berasal dari bahasa Yunani
yang berarti amber. Atas dasar inilah muatan elektron diberi tanda negatif.

2.1

Lucutan listrik dalam tabung hampa

Benjamin Franklin pernah menduga halilintar merupakan loncatan muatan listrik


dalam skala besar. Tercatat dalam sejarah ia pernah melakukan eksperimen
sangat berbahaya untuk membuktikan dugaannya itu. Ia menggunakan layanglayang yang pada ujungnya diikat seutas kawat kecil sedangkan ujung bawah benang kendali diikatkan pada anak kunci yang dililiti pita sutra. Ketika cuaca mendung dan banyak halilintar, ia menaikkan layang-layangnya. Pada saat layanglayangnya disambar halilintar, Franklin mendekatkan salah satu jari-jarinya ke
anak kunci dan ia merasakan kejutan listrik yang kuat.
Mengingat bahwa eksperimen menggunakan petir alam sangat berbahaya,
Faraday tertarik melakukan eksperimen lucutan listrik buatan di laboratorium.
Pada saat itu para fisikawan telah berhasil membuat perkakas penghasil serta
penyimpan muatan listrik yang diberi nama botol Leiden. Berbekal pengala-

2.1. LUCUTAN LISTRIK DALAM TABUNG HAMPA

11

mannya melakukan eksperimen elektrolisa, Faraday membuat tabung gelas yang


berisi gas bertekanan rendah. Di dalam tabung diberi dua buah elektroda yang
dihubungkan dengan sumber listrik tegangan tinggi. Dari elektroda ini keluarlah
loncatan bunga api listrik.
Keberhasilan Faraday membuat tabung petir tiruan ditindaklanjuti oleh
seorang ahli gelas Jerman bernama Hans Geissler. Ia menyempurnakan tabung
Faraday dan menggunakan pompa hisap yang lebih baik sehingga efek lucutan
gas lebih mudah terjadi. Untuk mengenang jasanya, tabung lucutan listrik ciptaannya diberi nama tabung Geissler.
Eksperimen lucutan listrik dalam tabung Geissler bertekanan rendah dilanjutkan oleh fisikawan Jerman J. Pl
ucker. Peralatan eksperimen terdiri atas
tabung kaca yang diberi dua buah elektroda, sumber tegangan tinggi arus listrik
searah dalam orde kilo-volt serta pompa hisap. Di pusat lingkaran kedua elektroda diberi lobang kecil sedangkan pada ujung-ujung tabung sebelah dalam dilapisi dengan bahan fluorescent. Apabila tekanan udara di dalam tabung sama
dengan tekanan di luarnya, lucutan listrik terjadi jika antara kedua elektroda
terpasang medan listrik sekitar 3 106 V/m. Setelah udara di dalam tabung
dikeluarkan dan elektroda dihubungkan ke sumber listrik, ruang diantara kedua
elektroda berpendar berwarna merah muda. Warna pendaran bergantung pada
gas pengisi tabung. Apabila tabung diisi gas neon, warna pendaran adalah merah.
Jika diisi gas argon warnanya hijau. Jika tekanan udara di dalam tabung terus
diperkecil, tidak terjadi pendaran dan warna rongga tabung berubah menjadi
gelap. Hal ini dikarenakan udara yang tersisa di dalam tabung menjadi bersifat isolator. Sebagai gantinya di ujung tabung yang berhadapan dengan katoda,
yaitu di belakang anoda, terlihat bintik pendaran. Eugene Goldstein, salah seorang murid Pl
ucker, menduga bintik pendaran ini dihasilkan oleh sinar yang
seolah-olah keluar dari katoda, sehingga ia menamakannya sinar katoda atau
sinar Pl
ucker sesuai dengan nama penemunya. Sedangkan di ujung tabung lainnya juga teramati bintik pendaran dan dinamakan sinar kanal. Pada tahun 1900
Wien membuktikan sinar kanal adalah partikel atau ion bermuatan positif. Pada

12

CHAPTER 2. ELEKTRON

Gambar ?? di bawah ini diperlihatkan peralatan eksperimen tabung Geissler.


Gambar 2.1. Peralatan eksperimen sinar katoda di UPT Laboratorium
Pusat UNS.

2.2

Percobaan Thompson e/m

Pada waktu itu telah diketahui bahwa arah atau lintasa sinar katoda akan berbelok ketika memasuki medan listrik maupun medan magnet. Dari arah pembelokannya, disimpulkan muatan listrik sinar katoda adalah negatif. Salah seorang fisikawan yang banyak melakukan eksperimen dengan sinar katoda adalah
Fisikawan Inggris Sir Joseph John Thompson. Setelah mengetahui hakekat sinar
katoda adalah elektron, besaran lain yang perlu diungkap adalah besar muatan
listrik qe serta massanya me . Untuk keperluan ini Thompson melewatkan seberkas elektron melalui daerah yang diberi pengaruh medan listrik E dan medan
magnet B dengan arah kedua-duanya tegak lurus arah kecepatan elektron v.
Skema eksperimen Thompson diperlihatkan pada Gambar 2.2 di bawah ini.
Peralatan terdiri atas tabung gelas yang diisi dengan gas bertekanan rendah dan
di dalamnya diletakkan katoda K dan anoda A yang tengahnya diberi lobang kecil
yang berfungsi sebagai kolimator. Anoda diberi tegangan tinggi positif terhadap
K sehingga partikel elektron bergerak dipercepat dari K menuju A. Berkas elektron yang berhasil melalui kolimator bergerak lurus sepanjang sumbu-X melewati
daerah E dan B. Medan listrik ini ditimbulkan oleh dua buah plat kapasitor yang
panjangnya d dan dihubungkan tegangan lisrik searah V. Medan E sejajar sumbu
Y mengarah ke bawah sedangkan medan magnet B sejajar sumbu-Z mengarah
memasuki bidang gambar. Pada jarak L dari ujung elektroda dipasang layar S
terbuat dari material fluoresen yang dilapiskan pada ujung tabung. Setelah melewati medan listrik dan magnet, elektron bergerak menumbuk S dan menimbulkan
jejak berupa pendaran.
Gambar : 2.2. Skema eksperimen percobaan Thompson qe /me
Ditinjau sebuah elektron yang bergerak sepanjang sumbu-X dengan kecepatan v memasuki tegak lurus medan listrik seragam E. Skema lintasan elek-

2.2. PERCOBAAN THOMPSON E/M

13

tron akibat pengaruh E ditunjukkan pada Gambar 2.3. Karena tidak ada komponen gaya ke arah sumbu-X maka gerak elektron adalah gerak lurus beraturan.
Selama t detik elektron menempuh jarak sejauh
x = v0 t

(2.1)

dan ketika memasuki medan listrik, elektron mengalami gaya elektrostatis sebesar
F = qe E

(2.2)

Gaya sebesar ini menyebabkan elektron memiliki percepatan, karena muatannya


negatif, arah geraknya berlawanan dengan arah medan listrik,
ay =

qe
E
me

(2.3)

Karena gerak elektron sepanjang sumbu-Y adalah gerak lurus berubah beraturan dengan percepatan sebesar ay , dengan mengingat percepatannya adalah
persamaan (2.3) selama t jarak yang ditempuh adalah sejauh
y=

1 qe 2
Et
2 me

(2.4)

Variabel t dapat dieleminasi dari persamaan dengan cara menggabungkan persamaan (2.1) dan persamaan (2.4), diperoleh

 
1 qe
E x2
y=
2 me
v02

(2.5)

Dari persamaan ini dapat diketahui lintasan gerak elektron berupa parabola.
Pada Gambar 2.3 dapat dilihat jarak y1 adalah nilai y untuk x = d, yaitu sebesar
  2
Ed
1 qe
(2.6)
y1 =
2 me
v02
Ketika meninggalkan medan listrik, elektron bergerak dengan lintasan lurus
yang membentuk sudut terhadap sumbu X sebesar
 
dy
qe Ed
tan =
=
dx x=d me v02

(2.7)

sehingga dapat dihitung besarnya y2 adalah


y2 =

qe Ed2
me v02

(2.8)

14

CHAPTER 2. ELEKTRON

Dengan demikian penyimpangan total lintasan elektron di layar akibat berinteraksi dengan medan listrik adalah
y = y1 + y2
qe E d2 qe Ed2
+
2me v02
me v02


qe Ed2 d
=
+L
me v02
2
=

(2.9)

Pada persamaan di atas besaran E, d, L dan y dapat diukur sehingga nilai


qe /me dapat dihitung jika v0 diketahui harganya. Namun sayangnya v0 sulit
diukur secara langsung. Agar nilai qe me dapat dihitung, v0 harus dihilangkan
dari persamaan (2.9). Untuk keperluan ini diperlukan sebuah persamaan lagi
yang mengandung v0 .
Gambar : 2.3. Pembelokan arah lintasan elektron akibat pengaruh medan
listrik.
Persamaan yang dimaksud dapat diperoleh dengan cara melewatkan elektron di dalam medan magnet yang arahnya tegak lurus arah gerak partikel.
Ketika berinteraksi dengan medan magnet, elektron akan mengalami gaya Lorentz
sebesar
F = qv B

(2.10)

Karena v0 B maka lintasan elektron berbentuk lingkaran dengan jari-jari sebesar


R=

me v0
qe B

(2.11)

dengan pusat lingkaran di titik P sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 2.4 di


bawah ini. Persamaan umum sebuah lingkaran dengan jari-jari R dengan pusat
koordinat titik (0,0) adalah
x2 + (R + y)2 = R2

(2.12)

Tetapi karena pembelokan lintasan elekron cukup kecil dibandingkan


dengan jarak tempuhnya sehingga y 2 x2 maka persamaan (2.11) dapat disederhanakan menjadi
R=

x2
x2 + y 2

2y
2y

(2.13)

2.2. PERCOBAAN THOMPSON E/M

15

Namun permasalahan berukutnya, jari-jari lintasan ini juga sangat sulit


diukur.

Untuk mengatasi kesulitan ini, dilakukan penggabungan persamaan

(2.11) dan (2.13) sehingga diperoleh persamaan gerak elektron


y=

qe Bx2
2me v0

(2.14)

dapat dilihat lintasan gerak elektron akibat berinteraksi dengan medan magnet
berbentuk parabola yang membuka ke arah bawah. Dengan demikian besarnya
simpangan lintasan elektron akibat pengaruh medan magnet adalah
y3 =

qe Bx2
2me v0

x=d

qe Bd2
2me v0

(2.15)

Setelah meninggalkan medan magnet, partikel bergerak lurus beraturan.


Ketika menumbuk layar, besarnya simpangan lintasannya adalah
y4 = L tan = L

dy
dx

x=d

qe BdL
=
me v0

(2.16)

sehingga simpangan total elektron ketika sampai di layar S yang diakibatkan


berinteraksi dengan medan magnet adalah


qe Bd2 BdL
y = y3 + y4 =
+
me 2v0
v0


qe Bd d
+L
=
me v0 2

(2.17)

Dapat dilihat bentuk persamaan (2.17) sangat mirip dengan persamaan (2.9),
keduanya mengandung suku qe /me dan v0 . Simpangan total akibat berinteraksi
dengan medan listrik bernilai positif atau mengarah ke atas sedangkan akibat
berinteraksi dengan medan magnet arahnya ke bawah.
Gambar 2.4. Pembelokan arah lintasan elektron akibat pengaruh medan
magnet.
Karena medan listrik dan medan magnet digunakan secara simultan di
daerah yang sama, intensitas kuat kedua medan dapat diatur sedemikian rupa
sehingga lintasan partikel tetap lurus. Dengan kata lain pengaruh medan listrik

16

CHAPTER 2. ELEKTRON

terhadap arah gerak elektron dieliminasi oleh pengaruh medan magnet. Pada
kondisi seperti ini berlaku
qe E = qe v0 B
atau
v0 =

E
B

(2.18)

Dengan demikian besaran qe /me dapat dengan mudah dihitung.


Dari beberapa eksperimen dengan gas yang berbeda-beda, Thompson menyimpulkan nilai qe /me sinar katoda bernilai tunggal, tidak bergantung pada material elektroda yang digunakan. Eksperimen ini memperlihatkan bahwa sinar
katoda merupakan partikel yang elementer penyusun semua material, yaitu elektron. Nilai qe /me yang diukur menggunakan peralatan modern yang lebih presisi
dan akurat adalah (1, 7588030, 000005)1011 C/kg. Atas jasanya mengungkapkan jatidiri sinar katoda sebagai elektron dan mengukur nisbah qe /me , Thompson dikukuhkan sebagai penemu partikel elektron, partikel elementer pembawa
muatan terkecil yang dihipotesakan oleh Stoney. Pada Gambar ??? di bawah
ini diperlihatkan perangkat peralatan eksperimen mengukur nisbah qe /me yang
tersedia di UPT Laboratorium Pusat MIPA UNS.
Setelah diketemukannya nisbah muatan dan massa elektron, eksperimen
berikutnya mudah ditebak, yaitu menentukan muatan dan massa elektron. Bila
muatan sebuah elektron tunggal dapat diukur, maka massanya dengan mudah
dapat dihitung. Pada Pada sub ??? di bawah ini akan dibahas percobaan tetes
minyak Millikan, yaitu eksperimen mengukur muatan sebuah elektron.
Gambar ??? Eksperimen qe /m e di UPT Lab Pusat MIPA
Keberhasilan Thompson mengukur perbandingan muatan dan massa elekton telah memicu dilakukannya eksperimen lanjutan, yaitu pengukuran nisbah
muatan q dan massa m sinar kanal atau ion positif. Rancangan eksperimennya
mirip dengan yang digunakan untuk mengukur qe /me . Hasil eksperimen menunjukkan bahwa nilai q/m sinar kanal jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan nilai
qe /me dan juga bergantung pada jenis gas yang masih tersisa di dalam tabung.
Kecepatan sinar kanal juga tidak seragam dan lebih kecil daripada kecepatan

2.3. PERCOBAAN TETES MINYAK MILLIKAN

17

sinar katoda. Berdasarkan fakta eksperimen seperti ini Thompson menyimpulkan


bahwa sinar kanal merupakan partikel yang sangat masif dan bermuatan listrik
positif, yaitu ion positif. Dari pengukuran qe /me elektron serta sinar kanal yang
dihasilkan oleh gas hidrogen, dapat disimpulkan bahwa massa proton mp adalah
1.836,2 kali massa elektron me .

2.3

Percobaan Tetes Minyak Millikan

Keberhasilan Thompson mengukur nilai nisbah qe /me elektron telah memicu


eksperimen mengukur besarnya muatan listrik serta massa sebuah elektron. Karena diyakini bahwa elektron merupakan partikel atomik elementer maka muatan
listrik yang dimiliki oleh sebuah elektron dinamakan juga muatan lisrik elementer. Untuk penulisan selanjutnya muatan elektron tidak diberi simbol qe ,
namun cukup e. Berdasarkan hipotesa ini, maka besarnya muatan listrik suatu
materi pasti merupakan kelipatan bilangan bulat n dari muatan listrik elektron,
q = ne.
Robert Arthur Millikan pada tahun 1909 mengadakan eksperimen pengukuran muatan listrik elementer elektron yang terkenal dengan nama percobaan tetes
minyak Millikan. Skema peralatan ditunjukkan pada Gambar 2.8(a) sedangkan
foto peralatan eksperimen Millikan yang tersedia di UPT Laboratorium Pusat
MIPA UNS dapat dilihat pada Gambar 2.8(b) di bawah ini.
Peralatan terdiri atas dua buah pelat kapasitor paralel A dan A yang
dihubungkan dengan sumber tegangan searah yang dapat diubah polaritasnya.
Artinya, medan listrik antara dua keping kapasitor dapat di atur ke arah atas
atau bawah atau ditiadakan. Keping A diberi lobang kecil untuk memasukkan
butiran-butiran halus tetes minyak. Karena ukuran butiran minyak ini sangat
kecil tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, pengamatan harus dilakukan
menggunakan loop. Butiran-butiran halus tetes minyak akan berinteraksi dengan
ion-ion bebas yang terdapat di udara atau disinari dengan sinar-X atau partikel
sehingga menjadi bermuatan listrik. Loop yang digunakan untuk mengamati
gerak tetes minyak dilengkapi dengan dua garis mendatar yang diketahui jarak

18

CHAPTER 2. ELEKTRON

antara keduanya. Dengan mengukur waktu tempuh yang diperlukan oleh tetes
minyak untuk menempuh jarak tertentu, maka kecepatan akhir tetes minyak va
dapat dihitung. Ketika ruang antar pelat kapasitor tidak dipasang medan listrik,
maka kecepatan akhir va akan selalu konstan karena hanya dipengaruhi oleh gaya
gravitasi bumi. Ketika dipasang medan listrik, maka gerak tetes minyak dipengaruhi gaya gravitasi bumi dan daya listrik. Selain itu, karena bergerak di dalam
fluida udara, tetes minyak mengalami gaya gesek yang besarnya dapat dinyatakan
dengan rumus Stokes,
R = kv = 6r

(2.19)

dengan v adalah kecepatan gerak tetes minyak dan k adalah konstanta yang
besarnya k = 6r dimana adalah kekentalan udara. Gerak tetes minyak
dipengaruhi oleh percepatan gravitasi bumi akan merasakan gaya beratnya sendiri
W yang arahnya ke bawah, gaya apung oleh udara B dan gaya gesek R, keduanya
mengarah ke atas, sehingga total gaya ke arah bawah adalah
F =W BR
= W B kv

(2.20)

Pada awalnya kecepatan tetes minyak v = 0 sehingga gaya total ke arah


bawah hanyalah W B, atau dengan kata lain butiran tetes minyak mengalami
percepatan. Tetapi sebagaimana ditunjukkan pada persamaan (2.19), dengan
bertambahnya nilai v maka gaya gesek R juga makin besar. Akibatnya, pada
keadaan seimbang resultante gaya F menjadi nol dan kecepatan gerak tetes
minyak menjadi konstan, va dinamakan kecepatan akhir. Dari persamaan (2.20)
diperoleh
kva = W B

(2.21)

Jika massa jenis tetes minyak dan udara masing-masing adalah m dan u ,
maka
4
W = r 3 m g
3

(2.22)

4
B = r 3 u g
3

(2.23)

dan

2.4.

MASSA DAN UKURAN ELEKTRON

19

sehingga diperoleh persamaan


4 3
r (m u )g = 6rva
3

(2.24)

Semua konstanta di atas dapat diukur kecuali jari-jari tetes minyak r. Ketika
diberi pengaruh medan listrik E, tetes minyak akan bergerak ke atas dengan
kecepatan vE yang nilainya bergantung pada muatan listrik q dan medan listrik
E. Besarnya gaya total yang dialami oleh tetes minyak adalah
F = qE + B W kvE

(2.25)

Apabila kecepatan akhir va sudah tercapai, resultante gaya bernilai nol. Pada
keadaan ini berlaku
qE = W B + kvE

(2.26)

Bila dilakukan substitusi suku kva persamaan (2.21) ke persamaan (2.26)


diperoleh
q=

k
(va + vE )
E

(2.27)

Dengan mengamati tetes minyak yang berlainan, Millikan berhasil mengukur muatan elementer elektron. Besarnya muatan elementer yang diukur menggunakan peralatan modern yang akurat dan presisi adalah
e = (1, 602192 0, 000007) 1019 C
Gambar : 2.8 (a) Skema eksperimen tetes minyak Millikan, (b) Fasilitas
Peralatan eksperimen tetes minyak Millikan yang terdapat di Laboratorium Pusat
MIPA Universitas Sebelas Maret

2.4

Massa dan ukuran elektron

Dari hasil pengukuran nisbah qe /me dan pengukuran muatan listrik elementer
elektron, maka dengan mudah dihitung massa sebuah elektron, yaitu me =
(9, 10956 0, 00005) 1031 kg. Bila dibandingkan dengan massa proton, maka
massa elektron adalah sekitar 1/10.000 massa proton.

20

CHAPTER 2. ELEKTRON
Karena elektron merupakan partikel sub atomik yang sangat kecil yang

tidak dapat dilihat menggunakan bantuan peralatab apapun, bentuk fisiknya


tidak diketahui sehingga ukurannya tidak dapat diukur secara langsung. Namun
demikian ukuran elektron dapat diperkirakan menggunakan model matematis.
Model paling sederhana adalah elektron dianggap berbentuk bola pejal homogen
dengan jejari r dan muatannya tersebar secara merata di seluruh volume. Menurut teori listrik statis, energi bola pejal elektron adalah
E=

3 e2
5 40 r

(2.28)

dengan konstanta 0 = 8, 85 1012 C2 /(Nm2 ) adalah permitivitas ruang hampa


Tenaga sebesar ini ekivalen dengan tenaga diam elektron, dengan demikian jarijari elektron adalah
r=

3 1
e2
5 40 me c2

(2.29)

Dengan memasukkan semua konstanta yang telah diketahui besarnya pada ruas
kanan, maka nilai taksiran jari-jari elektron dapatlah dihitung.
Model lainnya adalah dengan menganggap partikel elektron sebagai sebuah
kapasitor bola dengan kapasitans sebesar
C = 40 r

(2.30)

Besarnya kerja yang diperlukan untuk menambahkan sebuah muatan q pada kapasitor tersebut adalah
W =

1 q2
2C

(2.31)

Karena capasitor bola elektron memiliki energi potensial sebesar


Ep =

e2
80 r

(2.32)

Energi potensial ini sama dengan tenaga diam elektron sehingga jari-jari elektron
adalah sebesar
r=

e2 1
8 me c2

(2.33)

Dari persamaan (2.29) dan (2.33) terlihat bahwa besarnya jari-jari elektron berbeda bergantung pada model yang dipilih. Mengingat sulitnya membuat

2.4.

MASSA DAN UKURAN ELEKTRON

21

model elektron yang ideal, jari-jari elektron didefinisikan sebesar


1
e2
re =
= 2, 8178 1023 m
2
40 me c

(2.34)

22

CHAPTER 2. ELEKTRON

Chapter 3
Ukuran Atom
Dari serangkaian eksperimen, tidak ada keraguan sedikitpun untuk menyimpulkan atom adalah partikel yang memiliki ukuran tertentu. Pertanyaan berikutnya yang muncul adalah seberapa besar ukuran dan massa partikel atom? Beberapa cara yang dapat digunakan untuk memperkirakan diameter atom dibahas
di bawah ini, sedangkan massa atom secara khusus dibahas di Bab ???.

3.1

Gas Ideal

Berdasarkan sifat makrokopik atau skala besar, materi dapat dibagi menjadi tiga
kelompok yaitu padatan, cair dan gas. Dari ketiga fasa tersebut fasa zat paling sederhana adalah gas. Pada sistem gas ideal, gaya interaksi antar molekul
gas sangat lemah sehingga molekul tersebut dapat bergerak sangat cepatnya dan
hanya sesekali bertumbukan dengan molekul lainnya. Hasil eksperimen memperlihatkan tekanan P, volume V dan temperatur T gas saling berkaitan yang
dinyatakan dengan Hukum Boyle,
P V = konstan

(3.1)

V T

(3.2)

P T

(3.3)

dan hukum Charles

serta Hukum Gay-Lussac

23

24

CHAPTER 3. UKURAN ATOM

Ketiga hukum tersebut dapat digabung menjadi satu dengan memasukkan konstanta pembanding,
P V = nRT

(3.4)

dimana n adalah jumlah mol dan R adalah konstanta universal pembanding


yang nilainya sama untuk semua gas, dalam satuan SI nilainya adalah R = 8, 315
J/mol-K. Persamaan (3.4) dinamakan Hukum Gas Ideal.
Besaran fisika yang sering digunakan dalam perhitungan adalah cacah atom
atau molekul yang dinamakan mol. Satu mol didefinisikan sebagai banyaknya
atom yang terdapat dalam 12,0 gram isotop

12

C, yaitu sebesar bilangan Avo-

gadro NA . Atau jika ditulis dalam bentuk persamaan, jumlah mol n suatu unsur
sama dengan massanya dalam gram dibagi dengan berat atom atau molekul yang
dinyatakan dalam satuan gram per mol,
n(mol) =

massa (gram)
berat atom atau molekul (gram/mol)

(3.5)

Persamaan hukum gas ideal (3.4) dapat ditulis dalam bentuk lain dengan
menyertakan bilangan Avogadro,
P V = nRT =

N
RT = nkT
NA

(3.6)

Pada persamaan (3.6) telah didefinisikan k = R/NA yang dinamakan konstanta


Boltzmann yang nilainya = 1, 38066 1023 J/K.

3.2

Teori Kinetik Gas

Bersamaan dengan perkembangan pengetahuan partikel atomistik berdasarkan


eksperimen kimia, pemahaman dari sudut pandang ilmu fisika juga mulai berkembang. Pemahaman tentang atom dilakukan menggunakan gagasan Sir Isaac Newton tentang hukum - hukum mekanika. Di dalam ilmu kinematika, misalkan
gerak peluru dan tumbukan, benda yang bergerak dianggap sebagai partikel titik
bermassa. Analisis gerak dilakukan menggunakan hukum kekekalan energi dan
momentum. Hukum kekekalan ini juga digunakan untuk menganalisis gerak beberapa partikel yang saling berinteraksi.

3.2. TEORI KINETIK GAS

25

Salah satu kajian ilmu Fisika yang menerapkan hukum mekanika Newton
adalah teori kinetik gas yang dikembangkan oleh Daniel Bernoulli dan kemudian
disempurnakan oleh Clausius dan James Clerk Maxwell. Ditinjau sebuah kotak
berisi gas ideal. partikel atom atau molekul gas bergerak secara acak. Jika terjadi tumbukan antara molekul gas dengan dinding, tumbukannya bersifat lenting
sempurna. Di dalam teori kinetik gas, sifat makroskopik seperti tekanan dan temperatur diperoleh tanpa harus memperhitungkan interaksi antar partikel secara
individu, tetapi berdasarkan nilai rata - ratanya.
Misalkan sejumlah molekul gas berada di dalam kotak yang memiliki luas
sisi A dan panjang l sebagaimana ditunjukkan pada Gambar ??? di bawah ini.
Menurut model teori kinetik gas, molekul gas bukan sebagai titik geometri yang
tidak bervolume sebagaimana analisis gerak menggunakan hukum Newton, namun diperlakukan sebagai partikel yang memiliki volume dan massa. Atom atau
molekul partikel gas diasumsikan bergerak terus menerus dengan arah acak dengan berbagai kecepatan, dianggap hanya memiliki energi kinetik saja sedangkan
energi potensialnya diabaikan. Jarak rata rata antar molekul jauh lebih besar
daripada ukuran diameternya sehingga tumbukan antar molekul relatif jarang terjadi sehingga dapat diabaikan. Tekanan pada dinding diasumsikan diakibatkan
oleh tumbukan lenting sempurna antara partikel gas dengan dinding. Misalkan
sebuah partkel ke i yang bergerak acak memiliki komponen kecepatan ke arah
sumbu-X sebesar vxi ketika menumbuk dinding A. Pada peristiwa tumbukan ini
terjadi perubahan momentum sebesar
(mvxi ) = mvxi (mvxi ) = 2mvxi
Molekul ini akan menumbuk dinding berulangkali masing

(3.7)
masing dip-

isahkan oleh waktu t yaitu waktu yang dibutuhkan oleh partikel untuk menempuh jarak 2l sehingga t = 2l/vxi . Gaya rata rata pada dinding A yang
diakibatkan oleh sebuah partikel ke i adalah
Fi =

mvx2i
(mvxi )
=
t
l

(3.8)

sehingga gaya total rata-rata pada dinding yang diakibatkan oleh N buah partikel

26

CHAPTER 3. UKURAN ATOM

adalah

Ftot

mX 2
=
v
l i=1 xi

(3.9)

Dengan menggunakan definisi nilai rata rata dari kuadrat kecepatan (root mean
square rms) ke arah sumbu X
v x2 =

N
X
vx2
i=1

(3.10)

maka
Ftot =

Nm 2
v
l xi

(3.11)

Dari teorema Phytagoras, kuadrat vektor kecepatan sama dengan jumlah


kuadrat komponennya,
vi2 = vx2i + vy2i + vz2i

(3.12)

v 2 = vx2 + vy2 + vz2 = 3vx2 = 3vy2 = 3vz2

(3.13)

maka berlaku juga

Persamaan di atas diperoleh karena partikel bergerak acak, sehingga harus


berlaku vx2 = vy2 = vz2 . Dengan demikian persamaan (3.11) menjadi
Ftot =

Nm v 2
l 3

(3.14)

yang akan memberikan tekanan pada dinding sebesar


P =

1 Nmv 2
Ftot
=
A
3 V

(3.15)

atau
1
P V = Nmv 2
3

(3.16)

dimana V = A l adalah volume kotak dan n = N/NA adalah banyaknya mol


gas dan hasil kali massa sebuah molekul m dengan bilangan Avogadro NA adalah
massa molekuer M. Persamaan di atas dapat ditulis ulang menjadi


2 1
2
Nmv
PV =
3 2

(3.17)

3.3. DISTRIBUSI LAJU MAXWELL

27

Besaran yang berada di dalam tanda kurung adalah energi kinetik translasi
total molekul yang tidak lain adalah energi internal gas ideal EK , dan persamaan
di atas dibandingkan dengan hukum gas ideal persamaan (3.6)
2
P V = EK = nRT
3

(3.18)

Besarnya energi internal molekul gas ideal adalah


3
EK = nRT
2

(3.19)

Perubahan energi internal gas terhadap waktu satu mol gas ideal pada volume
konstan dinamakan kapasitas panas molar,
CV =

3
dEK
= R
dT
2

(3.20)

Persamaan (3.17) terbukti cukup akurat tidak hanya pada gas tetapi juga
zat cair. Besaran lain yang sering digunakan adalah kecepatan rata-rata kuadrat
(root mean square)
vrms =

p
v2

(3.21)

Dapat ditunjukkan besarnya kapasitas panas molar gas ideal adalah CV =


3
R.
2

Dengan memasukkan nilai konstanta umum gas R = 8, 315J/mol-K diper-

oleh harga CV = 2, 97 kal/mol-K, sesuai dengan hasil eksperimen pengukuran CV


untuk gas monoatomik seperti gas He, Ar dan Hg yaitu sebesar 3,00 kal/(mol K).
Keseuaian ini merupakan bukti kebenaran ide partikel atom Demokritos.

3.3

Distribusi laju Maxwell

Molekul molekul di dalam gas bergerak acak sehingga ada yang memiliki kecepatan lebih besar atau ada yang lebih kecil daripada vrms . Dengan menggunakan teori kinetik gas, Maxwell berhasil merumuskan distribusi laju molekul di
dalam gas ideal sebagai fungsi dari temperatur, yaitu banyaknya molekul yang
memiliki laju antara v dan v + dv:
 m  23
2
)v 2 emv /2kT dv
dn(v) = 4N
2kT

(3.22)

28

CHAPTER 3. UKURAN ATOM


Persamaan tersebut di atas telah diuji kebenarannya oleh Zartman dan Ko

pada tahun 1930 yaitu dengan mengamati distribusi laju uap molekul bismuth
yang dipanaskan pada temperatur 1.100K. Bentuk grafik distribusi kecepatan
molekul oksigen pada dua temperatur berbeda diperlihatkan pada Gambar ???
di bawah ini. Salah satu penerapan persamaan distribusi Maxwell adalah pada
reaktor nuklir fisi, yaitu untuk sebaran energi neutron hasil reaksi pembelahan
bahan bakar reaktor nuklir235 U.
Gambar ??? Pola distribusi laju Maxwell molekul oksigen pada temperatur
80K dan 800K (Alonso dan Finn).
Fisika Statistik
Salah satu lompatan besar dalam perkembangan ilmu fisika adalah dibangunnya ilmu fisika statistik yang merupakan pengembangan dari teori kinetik
gas. Statistik jenis ini berbeda dengan ilmu statistik yang umum diketahui
masyarakat. Perbedaannya terletak pada cacah populasi yang besar serta karakteristik partikel yang terlibat. Fisika statistik untuk partikel elektron berbeda
dengan yang untuk foton. Ilmuwan yang sangat berjasa dalam bidang ini adalah
Ludwig Boltzmann. Setiap benda memiliki sifat makroskopis yang dapat diukur
dengan relatif mudah, misalnya tekanan dan temperatur gas. Materi gas tersusun atas atom atau molekul yang masing masing memiliki sifat mikroskopis,
seperti gerak individu atom yang tidak mudah diukur. Sifat makroskopis dapat
dipelajari dengan tanpa harus menghitung secara detail gerak tiap tiap atom
penyusun benda menggunakan metode fisika statistik. Metode ini diperlukan
karena tidak mungkin menganalisis masing masing sifat mikroskopis partikel
dikarenakan banyaknya partikel yang terlibat. Sebagai contoh dalam 1 mol gas
SPT (Standard Pressure Temperature) yang volumenya sekitar 22,4 liter terdiri
atas 6, 10 1023 molekul.
Bergantung pada jenis partikel penyusun suatu sistem, fisika statistik dapat
dikelompokkan menjadi fisika statistik klasik dan kuantum. Perbedaan mendasar
antara kedua metode tersebut adalah dimasukkanya faktor simetri yang terkait
dengan distribusi partikel. Fisika statistik klasik dinyatakan dengan fungsi dis-

3.3. DISTRIBUSI LAJU MAXWELL

29

tribusi Maxwell-Boltzmann. Fisika statistik kuantum masih dapat dibagi lagi


menjadi dua, yaitu fungsi distribusi Fermi-Dirac untuk patikel fermion dan fungsi
distribusi Bose-Einstein untuk partikel boson. Semua partikel yang memiliki spin
tengahan seperti elektron, proton dan neutron dengan fungsi gelombang antisimetri tergolong dalam keluarga fermion. Sedangkan partikel dengan spin bulat
seperti partikel merupakan partikel boson memiliki fungsi gelombang simetri.
Fungsi distribusi Maxwell Boltzmann dinyatakan dalam bentuk
nj =

N Ej
gj e kT
Z

(3.23)

Dengan nj adalah banyaknya partikel yang memiliki energi Ej , N jumlah partikel,


P
gj rapat kebolehjadian intrinsik sedangkan Z = j gj eEj /kT adalah fungsi partisi.
Gas ideal memiliki fungsi partisi
Z=

eE/kT g(E)dE

(3.24)

dimana fungsi rapat keadaan g(E)dE =

4V

2Em3
dE
h3

dengan V adalah volume

gas. Dengan demikian persamaan (3.24) menjadi

Z
4V 2m3 E/kT
e
dE
Z=
h3
0
p
V (2mkT )3
=
h3

(3.25)

Menurut fisika statistik energi total seluruh partikel dalam sistem adalah sebesar
Etot = kNT 2

3
d ln Z
= NkT
dT
2

(3.26)

Dengan demikian energi rata-rata tiap partikel adalah


3
E = kT
2

(3.27)

Energi partikel ini merupakan energi kinetik molekul karena pada gas ideal molekul
tidak memiliki energi potensioal akibat gaya interaksi antar molekul maupun energi rotasi internal maupun vibrasi. Dengan demikian besarnya kapasitas panas
molar adalah
CV =

dEk
3
= R
dT
2

(3.28)

30

CHAPTER 3. UKURAN ATOM

sesuai dengan persamaan (3.20).


Fungsi sebaran Maxwell-Bolzmann juga dapat dipergunakan untuk mendapatkan distribusi kecepatan Maxwell persamaan (3.22). Persamaan fungsi distribusi Maxwell-Boltzman menyatakan banyaknya molekul untuk masing-masing
energi. Persamaan tersebut dapat ditulis ulang menjadi bentuk lain dengan
menggunakan persamaan rapat keadaan g(E)dE =

4V

2Em3
dE
h3

sebagai fungsi

rapat keadaan menjadi

N 4V 2m3 E/kT
Ee
dn =
Z
h3

(3.29)

dimana dn adalah banyaknya molekul yang memiliki energi antara E dan E +dE.
Dengan mengingat
1
E = mv 2
2
dan
dn
dE
dn
dn
=

= mv
dv
dE
dv
dE
maka diperoleh
dn(v) = 4N

 m  23
2
)v 2 emv /2kT dv
2kT

(3.30)

yang tidak lain adalah persamaan (3.22).

3.4

Eksperimen Perrin

Walaupun paham partikel atomistik didukung kebenarannya melalui serangkaian eksperimen yang berhasil dijelaskan menggunakan fisika statistik, namun
ada beberapa ilmuwan yang menyanggah, diantaranya adalah kimiawan Wilhelm
Ostwald dan fisikawan Ernst Mach. Keberatan yang mereka sampaikan sangat menarik bila ditinjau secara epistemologi: Teori atom diperoleh berdasarkan
pengamatan tidak langsung. Namun keberatan mereka akhirnya dijawab dengan
eksperimen yang dilakukan oleh Perrin.
Perrin melarutkan kedalam air sejumlah partikel halus yang sangat homogen, dan telah diketahui massa dan ukurannya dan menghitung jumlah partikel sebagai fungsi dari ketinggian dari dasar bejana. Banyaknya partikel yang

3.4. EKSPERIMEN PERRIN

31

tersedimentasi sebagai fungsi ketinggian dari dasar bejana dapat dihitung sebagai
berikut:
Ditinjau tabung dengan luas penampang A berisi gas dan berada pada
temperatur yang seragam. Gaya yang bekerja pada partikel gas hanyalah gaya
gravitasi. Ditinjau irisan melintang tabung yang letaknya x dari dasar tabung
dan tebal irisan dx. Misalkan berat gas yang ada di atas irisan adalah W maka
berat gas di atas dasar irisan adalah
W + dW = m g n A dx
dimana m g adalah berat sebuah molekul gas dan n adalah banyaknya molekul
rata rata tiap satuan volume dan A dx adalah volume irisan. Dengan demikian
tekanan pada dasar irisan adalah dP = m g n dx. Dengan menerapkan persamaan gas ideal dan bilangan Avogadro, diperoleh persamaan P = n k T ,
yang artinya konsentrasi molekul merupakan fungsi dari tekanan sedangkan nilai tekanan bergantung pada ketinggiannya. Karena p dan T konstan, maka
dP = k T dn sehingga
k T dn = m g d dx
atau
dn/n =

mg
dx
kT

Bila kedua ruas diintegralkan dengan syarat batas pada saat x = 0 banyaknya
molekul gas adalah n0 dan bernilai n pada x = h maka
n = n0 emgh/kT

(3.31)

Persamaan ini harus sedikit dimodifikasi apabila hendak diterapkan suntuk sistem
partikel tersuspensi di air, karena adanya gaya apung mengakibatkan berat efektif
partikel di air menjadi


mg mg = mg

Jika disubstitusikan ke persamaan (3.31) akan diperoleh

nh = n0 eNA mg( )/RT

(3.32)

32

CHAPTER 3. UKURAN ATOM

dengan n0 dan nh masing masing adalah konsentrasi molekuler pada ketinggian 0


dan h, m adalah massa partikel yang memiliki massa jenis sedangkan adalah
masasa jenis air, g percepatan gravitasi bumi, k tetapan Boltzmann, R konstanta
umum gas dan T adalah temperatur mutlak gas. Perrin menggunakan partikel
yang berukuran diameter 0,6 m yang dilarutkan ke dalam air. Dengan menggunakan mikroskop, ia menghitung konsentrasi molekuler partikel pada berbagai
ketinggian. Hasil eksperimen memperlihatkan kesesuaian dengan prediksi teoritis
persamaan ???. Dari eksperimennya Perrin juga berhasil menentukan bilangan
Avogadro. Sejak saat itu paham partikel atom tidak ada yang menentang.

3.5

Soal-soal

Soal-soal:
1. Buktikan kecepatan paling boleh jadi pada distribusi Maxwell adalah v =
q
2kT
m

2. Buktikan kecepatan rata rata pada distribusi Maxwell adalah v =

8kT
m

3. Buktikan kecepatan rata rata kuadrat pada distribusi Maxwell vrms =

3kT
m

Chapter 4
Massa Atom
Sebagaimana telah disebutkan pada bab yang lalu, diskripsi atom yang sangat
penting untuk diketahui adalah massanya. Pada Bab ini akan dibahas tentang
massa atom dan yang berkaitan dengannya.
Para kimiawan telah lama mengetahui beberapa unsur kimia memiliki sifat
yang mirip sehingga dapat digolongkan ke dalam kelompok-kelompok. Sebagai contoh adalah kelompok alkali dan gas mulia. Kimiawan Rusia Dimitri I.
Mendelev pada tahun 1869 berusaha mengurutkan unsur-unsur kimia yang telah
dikenal pada saat itu berdasarkan berat atomnya. Hasil pengelompokan unsur
oleh Mendelev merupakan cikal bakal Daftar Berkala Unsur-unsur dan digunakan
hingga sekarang.
Dalam perkembangannya, ternyata Daftar Berkala Mendelev tidak sesuai
dengan beberapa hasil eksperimen. Terdapat beberapa unsur yang walaupun berat atomnya lebih besar namun ternyata harus diletakkan sebelum unsur yang
berat atomnya lebih kecil. Hal ini menunjukkan penempatan urutan unsur dalam
tabel berkala bukan berdasarkan berat atomnya semata. Pada tahun 1931 fisikawan
Inggris Henry G. J. Moseley merevisi tabel Mendeleev berdasarkan hasil eksperimen spektroskopi sinar-X yang dilakukannya. Sekarang telah diketahui tabel
harus dibuat berdasarkan nomer atomnya, yang menunjukkan banyaknya elektron yang dimiliki oleh suatu atom. Tabel Berkala Unsur diperlihatkan pada
Tabel ???.

33

34

CHAPTER 4. MASSA ATOM


Usaha membuat deret berkala unsur sebenarnya telah dirintis oleh kimiawan

Prancis bernama Proust dengan membuat hipotesa bahwa semua unsur tersusun
atas sejumlah atom hidrogen. Jika hipotesis Proust benar, berat atom semua
unsur harus merupakan bilangan bulat atau hampir bulat. Sebagai contoh, kabor memiliki berat atom 12. Namun hasil eksperimen menunjukkan unsur-unsur
sedang dan berat memiliki berat atom yang tidak bulat, bahkan tengahan misalnya unsur Cl memiliki berat atom 35,5. Secara keseluruhan Deret Berkala Unsurunsur terdiri atas 8 kolom atau biasa dinamakan golongan, yaitu Golongan I-VIII
serta sub-sub golongan III A, dan 7 buah lajur horisontal yang dinamakan periode. Semua unsur lantanida atau logam tanah jarang (rare earth) sebanyak 14
buah ditempatkan pada posisi baris yang sama, yaitu satu deret dengan Z = 57
sedangkan seluruh unsur yang tergabung dalam kelompok aktinida berada pada
baris yang sama dengan Z = 89.

4.1

Satuan Massa Atom

Di awal abad 19 kimiawan telah mengetahui hidrogen adalah partikel paling


ringan. Atas dasar ini maka pada tahun 1815 Joseph Louis Proust mengemukakan
ide semua atom tersusun atas sejumlah atom hidrogen. Massa relatif, atau biasa
juga dinamakan berat atom, hidrogen diberi nilai 1 satuan massa atom (disingkat
sma atau atomic massa unit disingkat amu), atau biasa juga diberi simbol u. Semua berat atom diukur relatif terhadap berat atom hidrogen. Hipotesa Proust
mendapat dukungan karena sebagian besar hasil eksperimen reaksi kimia menunjukkan berat atom selain hidrogen dan molekul ringan selalu merupakan bilangan
bulat atau hampir bulat. Sebagai contoh, berat atom neon adalah 20,2, mendekati
bilangan bulat 20.
Hipotesis Proust mulai dipertanyakan keabsahannya karena tidak sesuai untuk atom sedang dan berat. Berat atom kelompok ini ternyata jauh menyimpang
dari angka bilangan bulat, misalnya berat atom chlorium 37,5. Simpulannya,
pemilihan berat atom hidrogen bernilai 1 ternyata terbukti kurang baik sehingga
harus dicari berat atom lain sebagai penggantinya. Pernah tercatat dalam se-

4.1. SATUAN MASSA ATOM

35

jarah, sebagai gantinya disepakati berat atom oksigen sebagai patokan. Namun,
perlu dituliskan di sini para fisikawan dan kimiawan pernah berbeda pendapat.
Fisikawan menetapkan isotop

16

O yang terdiri atas 8 buah proton dan 8 buah

netron memiliki berat atom tepat 16 u. Dipihak lain, kimiawan menetapkan gas
oksigen alam yang terdiri atas campuran beberapa isotop oksigen memiliki massa
tepat 16 u.
Pemakaian 2 sistem yang berbeda antara yang dianut oleh fisikawan dan
kimiawan memiliki potensi kekacauan. Sebagai contoh, akan terdapat dua nilai bilangan Avogadro yang berbeda dan dua berat atom untuk unsur yang
sama. Untuk mengakhiri perbedaan ini, pada tahun 1961 dan berlaku hingga
sekarang para fisikawan dan kimiawan sepakat menggunakan dasar isotop

12

C,

terdiri atas 6 proton dan 6 netron, didefinisikan memiliki berat atom tepat 12
. Sistem skala berat atom ini dinamakan sistem persatuan (unified system).
Alasan pemilihan isotop 12 C sebagai acuan skala berat atom karena secara teknis
sangat memungkinkan dilakukan pengukuran massa atom mutlak secara langsung dengan akurasi yang sangat fantastis, memiliki ketidakpastian lebih baik
dari sepersejuta.
Banyaknya material dapat dinyatakan dengan satuan gram atau mol. Satu
mol didefinisikan sebagai banyaknya molekul atau atom suatu unsur yang sama
dengan yang dimiliki oleh tepat 12 gram
1 =
Karena massa 1 mol

12

12

C. Dengan demikian

1
massa atom karbon12 C
12

(4.1)

C adalah tepat 12 gram, maka massa sebuah atom

didefinisikan sebagai
massa atom =

massa 1 mol
NA

(4.2)

dimana NA adalah bilangan Avogadro, sehingga didefinisikan


1 =

1
= (1, 66054 0, 00001) 1027 kg
NA

(4.3)

Untuk keperluan perhitungan yang menyangkut energi, sangatlah bermanfaat mengubah satuan massa atom menjadi satuan energi menggunakan rumus

36

CHAPTER 4. MASSA ATOM

kesetaraan massa energi, rumus Einstein yang sangat terkenal,


E = mc2

(4.4)

dengan c = 2, 998 108 m/det, kecepatan cahaya di ruang hampa. Bila nilai
m = 1 persamaan (4.3) disubstitusikan ke persamaan (4.4) dan nilai c, maka
diperoleh persamaan kesetaraan energi massa
E = 1c2 = 1, 66054 1027 (2, 998108)2 joule
=

1, 4924 1010
1, 6022 1013

= 931, 5MeV
atau
1 = 931, 478MeV/c2

(4.5)

Persamaan di atas diperoleh dengan menggunakan konversi 1 eV = 1, 6022


1019 J.
Bilangan Avogadro Dari uraian di atas dapat dilihat salah satu konstanta
yang sangat penting dalam Fisika Atom adalah bilangan Avogadro. Bilangan ini
dapat ditentukan dengan beberapa metode sebagai berikut.
Pada sub-bab ??? telah disinggung tentang eksperimen Perrin untuk membuktikan atom adalah partikel menggunakan persamaan ???. Dapat dilihat persamaan tersebut mengandung konstanta NA , bilangan Avogadro. Bila sebaran
partikel terlarut untuk berbagai ketinggian h dapat diketahui dari pengamatan,
maka bilangan Avogadro dapat diperoleh.
Elektrolisa
Pada eksperimen elektrolisa, materi yang mengendap sebanding dengan muatan yang mengalir melalui larutan elektrolit. Untuk mengendapkan 1 mol unsur atau molekul monovalen diperlukan muatan sebesar bilangan Faraday F =
96, 487 ampere-detik, sehingga untuk materi monovalen diperoleh hubungan NA =
F/e. Dengan mengukur massa materi yang terdeposisi serta mengukur arus listrik
dan lama waktu deposisi, maka bilangan Avogadro dapat dihitung.
Metode difraksi sinar-X dapat digunakan untuk mengukur konstanta kisi
kristal sehingga volume atom atau molekul dalam kristal juga dapat dihitung.

4.2. ISOTOP

37

Besarnya volume 1 mol unsur atau senyawa adalah NA dikalikan dengan volume
kristal atom,
NA Vatom = Vmol =

(4.6)

dimana M adalah massa molar dan rapat massa. Dari data difraksi sinar-X
volume atom dapat dihitung, sehingga bilangan Avogadro NA dapat dihitung
menggunakan persamaan (4.6).
Rutherford dan Royds pada tahun 1909 mengukur bilangan Avogadro menggunakan peralatan dengan susunan seperti terlihat pada Gambar ??? di bawah
ini. Cupikan unsur radioaktif

222

Ra yang merupakan pemancar sinar ditem-

patkan pada tabung gelas A yang dindingnya amat tipis. Partikel yang berhasil
menembus lapisan tipis akan mengikat elektron bebas yang berada di tabung B
sehingga terbentuk atom helium. Dengan mengukur banyaknya gas yang terbentuk pada selang waktu tertentu serta mengetahui laju peluruhan

222

Ra maka

dapat dihitung banyaknya atom tiap satuan volume yang selanjutnya digunakan
untuk menentukan bilangan Avogadro.
Gambar ??? Susunan eksperimen Rutherford dan Royds untuk menentukan
bilangan Avogadro.

4.2

ISOTOP

Dengan menggunakan alat yang skemanya ditunjukkan pada Gambar?????? Thompson mengukur berhasil perbandingan q/m sinar kanal ion gas neon yang sangat
murni. Hasil eksperimen ditunjukkan pada gambar ??? di bawah ini. Dapat dengan jelas teramati jejak gas neon memiliki 2 jejak parabola yang dapat diidentifikasi sesuai dengan partikel dengan berat atom sekitar 20 dan 22. Hasil eksperimen ini sangat membingungkan karena Thompson sebenarnya hanya mengharapkan memperoleh jejak tunggal atom neon.
Interprestasi yang benar dari hasil eksperimen Thompson dilakukan oleh
Aston, salah seorang muridnya. Sebagaimana dinyatakan dalam teori kinetik
gas, energi kinetik rata-rata sebuah molekul di dalam gas pada temperatur T

38

CHAPTER 4. MASSA ATOM

adalah 3/2kT dengan k adalah tetapan Bolzmann. Dengan demikian molekulmolekul gas yang berbeda yang bercampur dalam suatu wadah memiliki temperatur yang sama sehingga energi kinetik masing-masing molekul juga sama.
Jika campuran gas tersebut terdiri dari molekul yang berbeda massanya, maka
molekul yang lebih ringan pasti memiliki kecepatan gerak rata-rata yang lebih
tinggi. Molekul ini akan menumbuk dinding wadah tiap satuan waktu lebih sering
daripada molekul yang lebih berat. Artinya, jika gas yang terdiri dari beberapa
molekul yang berbeda massanya didifusikan melalui membran berpori, molekul
yang ringan memiliki kebolehjadian yang lebih besar melewati membran dibandingkan dengan ynag lebih berat. Dengan dasar pemikiran seperti ini, Aston
melewatkan gas neon yang sangat murni melalui membran berpori. Setelah melewatkan berkali-kali, akhirnya diperoleh dua jenis gas neon yang masing-masing
berat atomnya 20,15 dan 20,20. Walaupun perbedaan berat atomnya keduanya
tidak terlalu besar, namun sudah cukup menjadi bukti terdapat (paling sedikit)
2 jenis gas neon yang memiliki berat atom yang berbeda. Sejak saat itu muncul
istilah isotop yaitu unsur-unsur yang identik sifat-sifat kimianya tetapi memiliki
2 atau lebih massa yang berbeda. Penemuan isotop dapat menjelaskan beberapa persoalan, diantaranya hasil eksperimen q/m gas neon yang dilakukan oleh
Thompson. Selain itu hasil peluruhan inti radioaktif juga dapat dijelaskan. Dengan diketemukannya neutron, permasalahan isotop dapat dijelaskan dengan tuntas, yaitu disebabkan oleh perbedaan jumlah neutron di dalam inti atom suatu
unsur yang sama.

4.3

Spektroskopi massa

Karena dapat memilah berkas partikel yang memiliki massa yang berbeda-beda,
piranti Thompson untuk mengukur nisbah q/m sinar kanal dinamakan juga spektrograf massa. Piranti ini sangat berjasa dalam penemuan beberapa isotop. Namun kelemahan spektrograf ini adalah tingkat keakuratan yang kurang tinggi.
Pada saat sekarang ini perkembangan teknologi spektrograf massa atom telah
berkembang sangat pesat dengan presisi tinggi. Detektor pelat film diganti den-

4.3. SPEKTROSKOPI MASSA

39

gan rangkaian elektronik. Pengukur massa atom seperti ini dinamakan spktrometer massa.
Piranti spektrograf yang lebih akurat pertama kali dirancang oleh Aston,
terdiri atas sumber ion, kolimator, medan listrik, medan magnet serta pelat film
untuk mendeteksi lintasan partikel. Berbeda dengan spektrograf Thompson, Aston menggunakan arah medan listrik, medan magnet serta gerak ion semuanya
saling tegak lurus. Skema spektrograf Aston ditunjukkan pada Gambar ??? di
bawah ini.

Gambar ??? Skema diagram spektrograf Aston

Sumber ion menghasilkan berkas atom atau molekul terionisasi dengan kecepatan yang beragam. Ion positif dihasilkan dengan cara menembaki unsur atau
molekul dengan elektron yang dipancarkan oleh filamen lampu pijar. Berdasarkan
gambar ???, ketika memasuki medan listrik, ion mengalami gaya sebesar qE dengan arah ke atas. Medan listrik E berfungsi memisahkan berkas partikel yang
berbeda nilai q/m maupun kecepatannya. Pada saat yang bersamaan, karena
v B gaya Lorentz yang dialami oleh ion adalah sebesar qvB dengan arah
ke bawah. Besarnya medan listrik dan medan magnet dapat diatur sedemikian
rupa sehingga gaya total yang dialami oleh ion bernilai nol dan arah lintasannya
berupa garis lurus. Kondisi ini akan tercapai jika dan hanya jika atau
qE = qvB
atau
v=

E
B

(4.7)

Terlihat bahwa bagian spektrograf medan listrik dan medan magnet berfungsi
sebagai pemilih kecepatan. Setelah keluar dari bagian pemilih kecepatan, berkas
ion dengan dilewatkan melalui medan magnet seragam yang arahnya tegak lurus
arah gerak ion sehingga lintasannya berupa lingkaran sebagaimana ditunjukkan

40

CHAPTER 4. MASSA ATOM

pada persamaan ??? dengan jari-jari sebesar


r=

mv
qB

(4.8)

Terlihat jari-jari lintasan ion bergantung pada massanya. Besaran q, B dan


v dapat diukur dengan sangat akurat, sehingga massa m dapat dihitung dengan cara mengukur jari-jari kelengkungan. Bagian spektrometer ini dinamakan
pemilah momentum. Seringkali bagian pemilih kecepatan dan pemilih momentum memiliki medan magnet yang sama, sehingga
m=

qrB 2
E

(4.9)

Spektrometer Aston mampu memisahkan ion ion yang memiliki perbedaan


nilai q/m sekitar 1 %. Spektrometer modern, dipelopori oleh A. O. Nier, menerapkan pemfokusan arah maupun kecepatan sehingga sering dinamakan pemfokusan
ganda. Prinsip kerja spektrometer ditunjukkan pada Gambar ??? di bawah ini.

Gambar ??? Prinsip kerja spektrometer massa Nier.

Ion ion unsur yang berbeda-beda massanya dipercepat dengan beda potensial sekitar 40 kV sehingga dapat dianggap semua partikel memiliki energi yang
sama. Berkas ion kemudian dilewatkan melalui kolimator celah S1 yang memiliki diameter sekitar (0,0005 in = ??? m). Setelah melalui celah S2 berkas ion
memasuki medan listrik statis. Berkas ion yang bergerak lebih dekat dengan
keping kutub positif akan memiliki energi potensial yang lebih tinggi, akibatnya
di dalam pembelok elektrostatik akan memiliki energi kinetik yang lebih rendah
sehingga berkas ini akan lebih dibelokkan dan konvergen dengan berkas yang berada di garis sentral. Sebaliknya, berkas ion yang bergerak dekat dengan kutub
negatif akan memiliki energi potensial yang lebih rendah sehingga di dalam pembelok elektrostatik akan memiliki energi kinetik yang lebih tinggi sehingga berkas
ini akan kurang dibelokkan. Dengan demikian semua partikel setelah melewati
pembelok elektrostatis akan konvergen dengan berkas yang berada di garis sentral, terfokus pada celah S3. Pembelok elektrostatis berfungsi sebagai pemfokus
kecepatan ion-ion.

4.3. SPEKTROSKOPI MASSA

41

Untuk menfokuskan berdasarkan momentumnya, berkas partikel dilewatkan


ke pembelok magnetik. Berkas partikel yang berada di kiri garis sentral, di dalam
medan magnet akan menempuh lintasan yang lebih panjang dibandingkan dengan sinar yang melalui garis sentral. Sebagai akibatnya akan dibelokkan dengan
sudut yang lebih besar sehingga konvergen dengan sinar yang berada di garis
sentral. Begitu juga sebaliknya dengan ion-ion yang bergerak di sebelah kanan
garis sentral setelah melalui pembelok magnetik akan konvergen dengan ion yang
bergerak melalui garis sentral. Dengan demikian ion yang memiliki momentum
yang sama akan difokuskan pada titik yang sama, sedangkan yang memiliki momentum yang berlainan akan difokuskan di titik yang lain pula. Atas dasar alasan
ini, spektrometer yang menggunakan prinsip pembelokan elektrostatis dan pembelokan magnetik dinamakan spektrometer pemfokusan ganda. Salah satu contoh hasil pengukuran dengan spektroskopi massa pemfokusan ganda ditunjukkan
pada Tabel ??? di bawah ini. Gas neon, yang menurut hasil pengukuran spektrograf Thompson terdiri atas 2 isotop, jika diukur menggunakan spektrometer
pemfokusan ganda ternyata terdiri atas 3 buah isotop dengan nomor massa 20,
21 dan 22. Masing masing isotop memiliki kelimpahan tertentu sehingga massa
atom rata rata adalah 20,2.
Pengukuran massa atom menggunakan spektrometer massa selalui dilakukan
relatif terhadap ion lain yang memiliki massa yang hampir sama. Sebagaimana
diuraikan di muka, massa atom diukur relatif terhadap massa unsur isotop

12

yang didefinisikan tepat sama dengan 12 . Dengan demikian pengukuran dilakukan dengan mengukur perbedaan massa antara massa yang tidak diketahui
dengan massa senyawa hidrokarbon yang memiliki massa sama. Spektrometer
massa yang menggunakan metode ini dinamakan metode doublet. Presisi yang
dapat dicapai oleh spektrometer jenis ini adalah seper sejuta. Sejak saat itu spektrometer pemfokusan ganda digunakan untuk mengukur massa atom lainnya dan
semakin banyak ditemukan isotop. Pada lampiran ??? dapat dilihat massa beberapa isotop unsur beserta kelimpahannya. Massa atom rata-rata masing-masing
unsur yang dituliskan dalam Tabel Berkala Unsur-unsur.

42

CHAPTER 4. MASSA ATOM


Tabel ??? Massa atom Isotop isotop neon beserta kelimpahannya.

4.4

Pemisahan Isotop

Pada umumnya sebuah unsur memiliki beberapa isotop. Sebagai contoh, hidrogen memiliki isotop dengan nomer massa 1, 2 dan 3, sedangkan isotop uranium
memiliki nomer massa 235 dan 238. Untuk berbagai keperluan, seringkali isotopisotop harus dipisahkan untuk mendapatkan suatu unsur dengan nomer massa
tertentu. Isotop-isotop hidrogen relatif mudah dipisahkan karena memiliki perbedaan massa 100%. Namun, isotop uranium-235 sulit dipisahkan dari uranium-238
karena petrbedaan massanya hanya 1,25% saja. Di bawah ini akan disebutkan
beberapa cara yang biasa digunakan untuk memisahkan isotop.
Elektromagnet
Sebagaimana telah disinggung di muka, partikel ion dengan kecepatan tegak
lurus medan magnet akan bergerak melingkar dan besarnya jari-jari lingkaran
bergantung pada massa, muatan listrik partikel serta kuat lemahnya medan magnet. Dengan mengatur besarnya medan magnet, maka dapat dengan mudah dihitung lintasan gerak masing-masing isotop. Dengan meletakkan wadah pada posisi
yang tepat, dapatlah diperoleh isotop sesuai dengan yang diinginkan. Walaupun
metode ini sangat mahal serta lambat, namun demikian masih banyak digunakan
untuk memisahkan isotop uranium untuk pembuatan bahan bakar reaktor nuklir
atau bomb atom.
Difusi
Sebagaimana telah diuraikan di muka, cara ini digunakan oleh Aston sehingga akhirnya diperoleh dua isotop gas neon. Unsur yang terdiri beberapa isotop dalam bentuk gas dilewatkan melalui selaput berpori. Metode ini didasarkan
pada teori partikel-partikel gas misalnya dengan massa m1 dan m2 pada temperatur yang sama memiliki masing-masing bergerak dengan kecepatan v1 dan v2
yang nilainya tidak sama,
v1
=
v2

m2
m1

(4.10)

4.4. PEMISAHAN ISOTOP

43

Partikel yang lebih ringan akan bergerak lebih kencang dan lebih cepat terdifusi. Untuk meningkatkan efisiensi, beberapa membran harus dipasang secara
seri. Metode ini sekarang banyak digunakan untuk memisahkan isotop
238

235

U dari

U.
Distilasi
Telah diketahui isotop yang lebih berat memiliki temperatur didih yang

lebih tinggi daripada yang dimiliki oleh isotop yang lebih ringan. Sebagai contoh, air berat D2O memiliki titik didih 1,42C lebih tinggi daripada titik didih
H2 O. Dengan mengatur temperatur yang tepat, kedua isotop tersebut dapat dipisahkan.
Laser
Salah satu sifat laser monokromatik. Radiasi optik yang dipancarkan oleh
isotop-isotop suatu unsur memiliki energi yang tidak sama persis. Perbedaan ukuran inti akan menyebabkan perubahan energi transisi yang dinamakan pergeseran
isotop. Sinar laser dapat diatur sehingga energinya tepat sama denagn energi eksitasi elektron sebuah isotop yang ingin dipisahkan dari unsur tersebut. Seberkas
unsur yang terdiri atas beberapa isotop dilewatkan melalui laser yang telah diatur
agar energinya tepat sama dengan energi eksitasi suatu isotop. Setelah melalui
berkas sinar laser ini, hanya isotop tertentu saja yang tereksitasi sedangkan isotop
lainnya yang tidak dikehendaki tetap berada dalam keadaan dasarnya. Kemudian laser kedua yang juga telah diatur energinya sama persis dengan energi
ionisasi isotop yang tereksitasi ditembakkan pada berkas unsur. Setelah melewati laser kedua ini, isotop yang diinginkan menjadi terionisasi sedangaln yang
lainnya tidak. Dengan menggunakan medan listrik, isotop yang terionisasi dapat
dipisahkan dari isotop lainnya.
Kelimpahan isotop Masingmasing unsur kimia yang ditemukan di alam terdiri atas dua atau lebih isotop. Isotopisotop tersebut memiliki kelimpahan yang
dinyatakan delam prosentase. Sebagai contoh, uranium alam yang diperoleh dari
hasil penambangan terdiri atas 99,2745% uranium-238, sekitar 0,72% uranium235 dan sekitar 0,0055% uranium-234. Berat atom unsur merupakan ratarata

44

CHAPTER 4. MASSA ATOM

berat atom masingmasing isotop, unsur ranium memiliki berat atom ratarata
sebesar 238,.
Tabel Berkala

Chapter 5
Model Atom Klasik
5.1

Model Atom Thompson

Berdasarkan hasil-hasil eksperimen sinar katoda dan sinar kanal menggunakan beberapa gas berlainan, Thompson mengusulkan sebuah model atom. Menurutnya,
atom terdiri atas Z buah elektron masing-masing bermuatan e yang terbenam
di dalam bola pejal homogen bermuatan muatan listrik positif sebesar Z| e|
sehingga secara keseluruhan atom bersifat kelistrikan netral. Karena bentuknya
seperti itu, model atom Thompson dinamakan juga model plump puding, roti
kismis atau jambu biji.

Gambar .1. Model atom Thompson


Kestabilan model atom Thompsom dapat dijelaskan sebagai berikut. Ditinjau sebuah elektron yang terletak sejauh r dari pusat bola atom yang jari-jarinya
R, sebagaimana terlihat pada Gambar ???. Karena homogen, besarnya muatan
listrik positif yang terdapat di bagian dalam bola berjari-jari r adalah
q = Ze

(4/3)r 3
R3
=
Ze
(4/3)R3
r3

(5.1)

Distribusi muatan q ini akan menghasilkan medan listrik dengan intensitas

E=

1 q
1 Zer
=
r
2
40 r
40 R3

(5.2)

dengan r adalah vektor satuan. Gaya Coulomb yang dirasakan oleh elektron
45

46

CHAPTER 5. MODEL ATOM KLASIK

tersebut adalah

F =

1 Ze2 r
r = kr
r
40 R3

(5.3)

Pada persamaan di atas telah didefinisikan besaran


k=

1 Ze2 r
40 R3

(5.4)

Akibat gaya listrik ini mestinya elektron akan ditarik ke arah pusat bola
sehingga atom musnah. Namun karena pada kenyataannya atom bersifat stabil, pasti ada gaya lain yang mengimbangi gaya Coulomb tersebut. Thompson
membuat hipotesis bahwa gaya penyeimbang ini berasal dari gaya tolak menolak
antar elektron.
Walaupun model Thompson dapat menjelaskan kestabilan sifat kelistrikan
atom, namun tidak sesuai dengan hasil eksperimen spektroskopi. Pada saat itu
telah berkembang ilmu elektromagnetik dan telah tersedia spektrometer optik
akurat. Hendrik Antoon Lorentz mengemukakan teori bahwa atom memiliki
struktur. Jika elektron-elektron atom bergetar maka akan memancarkan cahaya
dengan pola tertentu yang teramati sebagai spektrum garis. Data eksperimen
memperlihatkan masingmasing atom memiliki spektrum garis yang khas, atom
yang berbeda memiliki spektrum yang berbeda pula. Secara khusus spektroskopi
atom dibahas di Bab ???.
Model atom Thompson analog dengan sistem sebuah benda massa m yang
diletakkan di atas pegas yang memiliki konstanta pegas k. Akibat pengaruh gaya
gravitasi bumi dan gaya pegas, apabila posisi m bergeser maka m akan berosilasi
dengan frekuensi
1
=
2

k
m

(5.5)

Dengan demikian getaran elektron pada atom Thompson akan memiliki frekuensi
sebagaimana dinyatakan pada persamaan (5.5) dengan nilai k diperoleh dari persamaan (5.4). Sebuah elektron dapat memancarkan atau menyerap radiasi dengan frekuensi sebesar frekuensi osilasi elektron. Namun demikian, fakta eksperimen menunjukkan bahwa atom seringkali tidak memancarkan atau menyerap
radiasi sebesar frekuensi osilasi yang ditunjukkan pada persamaan (5.5).

5.2. HAMBURAN RUTHERFORD

47

Kesulitan lain yang dihadapi oleh model atom Thompson adalah tidak
sesuai dengan hasil eksperimen hamburan partikel oleh lapisan tipis Au, atau
lebih dikenal dengan nama hamburan Rutherford, yang akan dibahas di bawah
ini.

5.2

Hamburan Rutherford

Sebelum membahas hamburan partikel oleh lapisan tipis atau lebih dikenal
dengan nama hamburan Rutherford, terlebih dahulu akan dikenalkan tentang
partikel radiasi. Unsur radioaktif diketemukan secara tidak sengaja pada tahun
1896 ketika Henry Becquerel sedang mempelajari interaksi antara sinar-X dengan
material flouresens garam uranium-natrium-sulfat. Telah diketahui garam uranium akan berpendar jika dikenai cahaya matahari. Becquerel menduga garam
tersebut juga akan berpendar jika dikenai sinarX. Suatu hari karena cuaca mendung, Becquerel membatalkan rencana eksperimen dan semua bahan disimpan di
dalam lemari. Tanpa sengaja ia meletakkan garam uranium di atas film photo
yang telah dibungkus dengan kertas hitam. Ketika film dicuci, terlihat bayangan
kristal garam uranium. Bayangan ini dapat dipastikan bukan berasal dari pendaran uranium akibat terkena sinar matahari, tetapi dari sinar yang keluar dari
uranium itu sendiri. Setelah melakukan eksperimen beberapa kali, diketahui sinar
aneh tersebut ternyata memiliki sifat-sifat yang sangat mirip dengan yang dimiliki sinar-X. Sebagaimana sinar-X dinamakan juga sinar Rontgent sesuai dengan
nama penemunya, sinar aneh ini diberi nama sinar Becquerel.
Untuk mengetahui hakekat sinar radioaktif, Ernest Rutherford melewatkan
seberkas sinar radioaktif melalui medan magnet kuat sebagaimana ditunjukkan
pada Gambar ??? di bawah ini. Ia menduga sinar radioaktif bermuatan listrik
sehingga jika benar, lintasan geraknya pasti dibelokkan oleh medan magnet.
Dugaannya benar, jejak sinar radioaktif terpecah menjadi dua bagian. Bagian
yang membelok ke kiri bermuatan listrik positif dinamainya sinar . Dengan
segala kesulitan teknis yang dihadapi saat itu, pada tahun 1903 Rutherford
berhasil mengukur nisbah q/m partikel dan menyimpulkan partikel tersebut

48

CHAPTER 5. MODEL ATOM KLASIK

adalah atom helium yang terionisasi ganda. Partikel yang dibelokkan ke arah
kanan bermuatan listrik negatif diberi nama sinar . Dari pengukuran q/m sinar
serta sifat-sifatnya ketika berinteraksi dengan medan listrik maupun medan
magnet, disimpulkan bahwa sinar tak lain adalah berkas elektron bebas. Sinar
lain yang tidak dibelokkan oleh medan magnet berhasil dicirikan oleh Paul Ulrich Villard setahun kemudian dan diberi nama sinar . Ada 2 kemungkinan
hakekat sinar yaitu pertikel tidak bermuatan listrik atau gelombang elektromagnetik. Berdasarkan hasil eksperimen lainnya dapat disimpulkan sinar merupakan gelombang elektromagnetik seperti sinar-X tetapi memiliki panjang gelombang yang lebih pendek. Sinar inilah yang menghitamkan pelat foto Becquerel.
Gambar .2. Arah pembelokan sinar radiasi oleh medan magnet kuat.
Karena partikel dan keduanya bermuatan listrik, partikel ini mampu
mengionisasi material yang dilewatinya. Sinar juga mampu mengionisasi materi
secara tidak langsung melalui mekanisme efek photolistrik, hamburan Compton
maupun bentukan pasangan. Diantara ketiga partikel tersebut yang memiliki
daya ionisasi paling besar adalah partikel dan yang terkecil adalah . Namun,
sinar memiliki daya tembus yang paling besar, sedangkan yang paling kecil
adalah partikel . Partikel tidak mampu menembus kertas karton. Jangkauan
partikel di dalam sel tubuh manusia hanya sekitar 10
A saja. Partiklel
akan mendeposisikan seluruh energinya kepada atom di sepanjang lintasan yang
dilewatinya yang sangat pendek. Karena memiliki daya tembus paling kecil tetapi
dengan daya ionisasi besar, dikatakan, partikel memiliki Linier Energy Transfer
(LET) paling besar.
Partikel yang dipancarkan oleh inti radioaktif memiliki energi kinetik
dalam orde beberapa MeV. Di udara pada kondisi tekanan dan temperatur kamar, partikel ini memiliki jangkauan sekitar 3,5 cm. Setelah berhenti, partikel
mengikat 2 buah elektron bebas menjadi atom helium. Dari analisis menggunakan teori kinetik gas, dapat dihitung besarnya jalan bebas rata-rata partikel
adalah sekitar 105 cm, sehingga partikel dapat memasuki dan melewati sekitar
3, 5 105 buah atom tanpa berinteraksi.

5.2. HAMBURAN RUTHERFORD

49

Setelah berhasil memahami hakekat partikel dan sifat-sifatnya sebagaimana


tersebut di atas, dengan sangat cerdas Rutherford menggunakannya untuk menyelidiki sifat-sifat atom lebih mendalam. Rutherford bermaksud mempelajari serapan sinar yang dipancarkan inti radium oleh materi. Cuplikan radioaktif radium ditempatkan di dalam kotak tertutup terbuat dari timah dan diberi lobang
kecil yang berfungsi sebagai kolimator. Lembaran sangat tipis Au dengan ketebalan 0,4 m diletakkan tepat di depan kolimator yang diatur sedemikian rupa
sehingga partikel menumbuk tegak lurus lapisan tipis Au. Untuk meminimalisir sinar kehilangan energinya akibat berinteraksi dengan udara bebas, kotak
timah dan lapisan tipis Au diletakkan di dalam tabung hampa udara. Bagian
dalam tabung dilapisi dengan bahan fosfor ZnS yang berfungsi sebagai detektor
untuk mengetahui arah partikel setelah menumbuk lapisan tipis. Jika patikel
mengenai ZnS akan terlihat kelipan di tempat terjadinya tumbukan. Karena
intensitas cahaya kelipan sangat lemah, eksperimen harus dilakukan di tempat
gelap dan kelipan diamati dengan mata telanjang menggunakan bantuan loop.
Kedudukan loop dapat diatur, mulai dari sudut 0 sampai 180 . Tiap kelipan
yang terlihat dicatat. Eksperimen yang sangat melelahkan ini dikerjakan oleh
Hans Geiger serta Ernest Marsden.
Analisis hamburan atom Thompson adalah sebagai berikut. Misalkan sebuah partikel , bermuatan listrik ze dengan z = 2, menumbuk sebuah atom
yang memiliki jari-jari R. Pada peristiwa ini terjadi perubahan energi kinetik
menjadi energi potensial. Semua energi kinetik partikel diberikan kepada atom
yang ditumbuknya, yang mula-mula dianggap diam. Setelah ditumbuk , atom
akan terpental sehingga memiliki energi kinetik. Secara umum besarnya energi
potensial di pusat atom adalah sebesar
EP =

3zZe2
80 R

(5.6)

dengan Z adalah nomer atom material penghambur. Dengan memasukkan bilangan Z = 79 untuk penghambur lapisan tipis emas Au dan jari-jari atom R 1

A maka diperoleh EP 3, 5 MeV. Perlu kiranya dituliskan di sini, energi


yang berasal dari peluruhan Ra adalah sekitar 5 MeV. Atas dasar pertimban-

50

CHAPTER 5. MODEL ATOM KLASIK

gan ini, dapatlah dimengerti jika tumbukan tunggal partikel dengan sebuah
atom hanya akan menyebabkan partikel dihamburkan dengan sudut sangat kecil. Mengingat lapisan tipis Au terdiri atas banyak atom, maka sangat mungkin
terjadi tumbukan berurutan.
Geiger dan Marsden melaporkan sebagian besar partikel mampu melewati
lapisan tipis Au tanpa dibelokkan. namun, 1 dari 20.000 partikel dibelokkan
dengan sudut lebih dari 90 . Sebagian kecil dibelokkan dengan sudut sangat kecil,
sesuai dengan prediksi. Analisis Geiger adalah sebagai berikut.
Banyaknya partikel yang mengalami tumbukan beruntuk dan dihamburkan pada sudut dapat dinyatakan dengan persamaan
N() = N(0)e

2 /2 2

(5.7)

dimana N() adalah banyaknya partikel yang dihamburkan dengan sudut


sedangkan N(0) adalah banyaknya partikel yang tidak dibelokkan. Persamaan
(5.7) adalah sebaran Gausiian dengan merupakan standard deviasi. Perhitungan teoritis menunjukkan hamburan tunggal akan menyebabkan partikel
dibelokkan dengan sudut 2 104 rad. Jika material penghambur adalah lapisan

tipis Au setebal 4 m atau kira-kira 104 buah lapis atom, maka partikel akan
dibelokkan dengan sudut sekitar 1 .
Geiger menghitung banyaknya partikel yang dihamburkan pada sudut
90 yang mengalami hamburan berurutan menggunakan persamaan (5.7) dan
mendapatkan hasil
N(90 ) = N(0) 101060
sebuah angka yang amat sangat kecil.
Namun yang sangat lebih mengherankan, mereka juga mengamati terdapat
partikel yang dibelokkan dengan sudut lebih dari 90 , bahkan ada yang membalik ke arah sinar datang mula-mula. Atas dasar hasil eksperimen ini, Rutherford
berkomentar sebagai berikut : it was quite the most incridible event of such scattering that ever happened to me in my life. It was incredible as if you fired a
15-inch shell at a piece of tissue paper and it came back and hit you.

5.3. HAMBURAN RUTHERFORD

51

Rutherford menyimpulkan partikel yang terhambur dengan sudut besar


pasti diakibatkan oleh tumbukan tunggal, bukan hamburan berulang. Hamburan
seperti ini hanya mungkin terjadi jika partikel menumbuk bagian atom sangat pejal, massanya jauh lebih besar daripada massa partikel dan bermuatan
listrik positif yang menghasilkan medan listrik yang sangat kuat dan gaya tolak
Coulomb yang besar. Karena sebagian besar partikel mampu menembus lapisan
tipis Au tanpa dibelokkan, maka bagian atom yang ditumbuk pasti berukuran
sangat kecil dibandingkan dengan ukuran atom dan berada di pusat atom. Partikel kecil ini oleh Rutherford dinamakan inti atom atau nucleus. Dengan kata
lain, atom terdiri atas inti atom yang sangat kecil diselimuti oleh elektron yang
bergerak mengelilinginya. Sebagian besar atom merupakan ruang kosong. Inilah
penjelasan mengapa sebagian besar partikel yang ditembakkan dapat dengan
mudah melewatinya tanpa dibelokkan. Namun jika partikel bergerak sangat
dekat dengan inti maka akan mengalami gaya tolak Coulomb yang sangat besar
sehingga lintasannya akan dibelokkan dengan sudut yang besar pula.

5.3

Hamburan Rutherford

Sebelum membahas hamburan Rutherford, terlebih dahulu akan diulas tentang


konsep tampang lintang hamburan. Dianggap partikel inti atom adalah partikel
yang tegar berbentuk bola elastis. Tumbukan antara dua partikel dikatakan terjadi jika partikel tersebut saling bersentuhan. Misalkan partikel sasaran memiliki
jari-jari R sedangkan molekul peluru berjari-jari r, jika terjadi tumbukan maka
jarak antar pusat bola kedua partikel adalah R+r. Oleh karena syarat tumbukan
hanyalah jarak antar pusat partikel, maka tidak menjadi masalah apakah partikel
sasaran berukuran besar sedangkan molekul peluru kecil, atau sebaliknya, namun
yang pasti adalah luas partikel sasaran dan peluru adalah
= (R + r)2

(5.8)

yang dinamakan dengan tampang lintang tumbukan sebuah molekul.


Ditinjau lapisan tipis yang ukuran panjangnya p, lebar l dan tebal dx terdiri

52

CHAPTER 5. MODEL ATOM KLASIK

dari satu jenis atom sasaran yang dianggap diam sebagaimana ditunjukkan pada
gambar ??? . Lapisan tipis ini ditembaki dengan partikel peluru yang jumlahnya
sangat banyak, misalnya N buah. Dianggap material berbentuk lapisan sangat
tipis sehingga tidak ada satupun atom sasaran yang terlindungi atom di depannya. Sebagian partikel peluru dapat menembus lapisan tipis tanpa menumbuk
atom sasaran, namun beberapa diantaranya menumbuk. Perbandingan antara
banyaknya tumbukan dN dengan banyaknya partikel peluru N sama dengan perbandingan antara luasan atom sasaran dan luasan total lapisan. Luas keseluruhan
sasaran adalah tampang lintang tumbukan tiap atom dikalikan dengan jumlah total atom yang terdapat dalam lapisan tersebut. Jika terdapat n buah atom tiap
satuan volume, jumlah total atom adalah sebanyak npldx sehingga luas total
sasaran adalah npldx. Karena luas total lapisan tipis adalah pl, maka
dN
npldx
=
= ndx
N
pl

(5.9)

Mekanisme hamburan tunggal sebuah partikel dengan inti atom dapat


dijelaskan menggunakan bantuan gambar ??? di bawah ini.
Gambar .3. Skema Hamburan Rutherford. (a). skema eksperimen, dan (b)
gambar geometri untuk menganalisis hamburan.
Sebuah partikel peluru bermuatan listrik z bergerak dengan kecepatan v0
dari titik A yang terletak jauh dari inti sasaran yang bermuatan Ze. Antara
partikel peluru dengan inti sasaran terdapat gaya tolak Coulomb sebesar

F =

1 zZe2
r
40 r 2

(5.10)

dengan r adalah jarak antara partikel peluru dengan inti atom. Apabila tidak terdapat gaya interaksi Coulomb lintasan partikel peluru tidak dibelokkan, berupa
garis lurus yang jaraknya ke inti atom sebesar b yang dinamakan parameter tumbukan. Ketika partikel peluru sampai di titik P, gaya interaksi Coulomb dapat
diuraikan menjadi komponen-komponen gaya yang tegak lurus dengan arah gerak
mula-mula,

F = F sin

(5.11)

5.3. HAMBURAN RUTHERFORD

53

dan komponen sejajar

Fk = F cos

(5.12)

dengan adalah sudut antara arah mendatar dengan vektor r. Untuk memudahkan analisis, inti atom dipilih sebagai pusat koordinat. Mengingat arah gaya
Coulomb persamaan (5.10) adalah radial, gaya ini tidak menghasilkan momen
sehingga momentum sudutnya konstan. Dengan demikian momentum sudut di
titik A dan P bernilai sama, dan dengan menggunakan koordinat polar (r, )
diperoleh
(mv0 b)A = (mr 2

d
)P
dt

(5.13)

atau
1 d
1
=
(5.14)
2
r
v0 b dt
Jika hanya ditinjau gerak yang tegak lurus arah datang mula-mula, maka
dari Hukum Newton ke dua didapat persamaan
F = m

dv
1 zZe2
=
sin
dt
40 r 2

(5.15)

Substitusi persamaan (5.15) ke (5.11) dan kemudian diintegralkan terhadap


waktu dari tA sampai dengan tB diperoleh
Z tB
Z B
dv
d
q
sin dt
dt =
dt
mv0 b A
dt
tA

(5.16)

dimana pada persamaan di atas telah didefinisikan


q=

1
zZe2
40

(5.17)

Batas integrasi dapat ditentukan dengan mengingat titik A berada di jauh


tak berhingga dari inti sehingga praktis intensitas gaya Coulomb dapat dianggap nol, dengan demikian v = 0 dan = 0. Sudut hamburan antara arah
datang dengan arah gerak partikel setelah dihamburkan dapat dihitung dengan
mengingat di titik B berada di tempat tak berhingga dari inti, sehingga berlaku
= 180 , sehingga v = v0 sin . Karena kecepatan partikel a di titik A sama
dengan di titik B, maka persamaan (5.16) menjadi
Z
Z v0 sin
q
sin d
dv =
mv0 b 0
0

(5.18)

54

CHAPTER 5. MODEL ATOM KLASIK


Setelah dilakukan integrasi akhirnya diperoleh persamaan yang menghubungkan

parameter tumbukan dengan sudut hamburan,


b=

cot
2
mv0
2

(5.19)

Namun persamaan ini belum dapat langsung digunakan untuk menganalisis


hamburan. Yang diperlukan adalah persamaan yang memperlihatkan sebaran
partikel yang terhambur pada sudut tertentu oleh sejumlah inti, tidak hanya
oleh inti tunggal saja.
Sebagaimana telah disinggung di muka, metode baku untuk menganalisis
eksperimen hamburan adalah menggunakan besaran tampang lintang hamburan
yang merepresentasikan luas area sasaran. Pada hamburan Rutherford, luasan
area ini dinyatakan dengan parameter tumbukan antara b dan b + db. Pada
Gambar .3b area ini ditunjukkan berupa cincin dengan jari-jari bagian dalam
sebesar b dan tebalnya db sehingga luas area cincin adalah
d = 2bdb

(5.20)

Semua partikel peluru yang mengenai area ini akan dihamburkan dengan sudut
antara dan + d. Dari persamaan di atas diperoleh
db =

q
1
2
2 sin /2

(5.21)

Sudut dan + d membentuk dua buah kerucut dengan sumbu berupa


garis mendatar yang melalui inti sasaran. Sudut ruang yang dibentuk oleh dua
kerucut itu adalah d = 2 sin d Partikel peluru yang mengenai luasan d akan
dihamburkan ke arah d. Dengan mengabaikan tanda minus, dari persamaanpersamaan di atas diperoleh
d =

q2
d
sin4 (/2)

(5.22)

atau
Z 2 e4
d
=
d
16 2 20 m2 v04 sin4 (/2)

(5.23)

Persamaan di atas dinamakan persamaan tampang lintang hamburan Rutherford. Pada eksperimen hamburan, sebanyak N buah partikel ditembakkan ke

5.3. HAMBURAN RUTHERFORD

55

lapisan tipis yang memiliki ketebalan x dan terdiri atas n buah atom tiap satuan volume. Partikel peluru terhambur diamati menggunakan detektor yang luas
permukaannya membentuk sudut ruang d terhadap inti sasaran. Fraksi partikel
peluru terhambur pada sudut adalah
dN
d
= n xd
N
d

(5.24)

Dari persamaan (5.23) dapat dilihat untuk sudut hamburan = 0 tampang


lintang hamburan Rutherford bernilai tak-berhingga, yang bersesuaian dengan
b . Dalam eksperimen sebenarnya, parameter tumbukan selalu bernilai
berhingga. Namun walaupun demikian nilai batas atas b dapat dipilih sama
dengan jari-jari atom, karena di luar atom besarnya intensitas medan listrik yang
ditimbulkan oleh inti atom ditutupi oleh elektron orbit.
Untuk menguji kebenaran persamaan hamburan Rutherford, Geiger dan
Marsden melakukan eksperimen hamburan oleh lapisan beberapa unsur lapisan
tipis dan memvariasi energi kinetiknya. Simpulan eksperimen mereka adalah
sebagai berikut. Dari persamaan di atas dapat dilihat bahwa :
1. Banyaknya partikel terhambur pada sudut tertentu berbanding lurus dengan kuadrat nomer atom material, (d/d) Z 2 . Untuk membuktikan
prediksi ini, Geiger dan Marsden menggunakan beberapa material yang
berbeda sebagai sasaran seperti lapisan tipis Al, Cu, Ag dan Au. Semua lapisan tipis material yang digunakan memiliki ketebalan yang nyaris
hampir sama. Hasil eksperimen mereka memperlihatkan kesesuaian dengan
prediksi Rutherford, sebagaimana ditunjukkan pada gambar (.4) di bawah
ini.
2. Banyaknya partikel terhambur berbanding terbalik dengan kuadrat energi kinetik partikelnya, d/d 1/K 2 dengan K adalah energi kinetik
partikel . Pada eksperimen ini Geiger dan Marsden menggunakan partikel peluru yang energinya bervariasi. Banyaknya partikel terhambur
sebagai fungsi dari energi kinetik relatif partikel ditampilkan pada skala
log-log sebagaimana dapat dilihat pada Gambar (.4) di bawah ini. Dari

56

CHAPTER 5. MODEL ATOM KLASIK


pengukuran kemiringan grafik Geiger dan Marsden memperoleh nilai -2,
sesuai dengan prediksi rumus hamburan Rutherford (5.23).
3. Ciri khas hamburan Rutherford yang paling penting adalah ketergantungan
banyaknya partikel terhambur pada sudut hamburan, d/d 1/ sin4 .
Geiger dan Marsden menggunakan lapisan tipis Au dan memvariasi sudut
hamburan mulai dari sudut 5 sampai dengan 150 . Hasil eksperimen
sebagaimana diperlihatkan pada gambar (.4) di bawah ini memperlihatkan
keseuaian dengan prediksi Rutherford.
Gambar .4. ???? Data eksperimen Marsden Geiger
Untuk mengenang eksperimen Rutherford yang sangat bersejarah ini, tahun

1911 dinobatkan sebagai tahun kelahiran Fisika inti.

5.4

Model Atom Rutherford

Berdasarkan hasil eksperimen yang dilakukan oleh Geiger dan Marsden di atas,
Rutherford berpendapat model atom Thompson tidak benar. Sebagai alternatifnya, ia mengusulkan model atom sebagai berikut:
1. Sebagian besar atom merupakan ruang kosong. Di tengah ruang kosong
tersebut terdapat partikel sangat kecil yang dinamakan inti atom, ukurannya sekitar 104 nya diameter atom, namun sangat masif, memiliki massa
yang hampir sama dengan massa atom.
2. Inti atom bermuatan listrik positif dan dikelilingi oleh elektron-elektron
yang bermuatan listrik negatif. Elektron-elektron ini mengorbit inti sama
seperti gerak planet mengelilingi matahari.
Model atom Rutherford terdiri atas sebuah inti atom bermuatan listrik
positif dan sangat masif dan sejumlah elektron bermuatan listrik negatif yang
beredar mengelilinginya. Antara inti atom dan elektron orbit terjadi gaya tarik
menarik sehingga menimbulkan gaya sentripetal. Oleh karena itu elektron selalu
mengalami percepatan sentripetal. Menurut teori gelombang elekromagnetik,

5.4. MODEL ATOM RUTHERFORD

57

partikel dengan muatan listrik e dan mengalami percepatan a akan memancarkan


radiasi gelombang elektromagnetik dengan laju daya sebesar
P =

e2 a2
watt
60 c3

Artinya, lintasan elektron ketika mengintari inti atom akan berbentuk spiral,
karena energinya secara semambung menurun, sehingga ketika energinya habis,
elektron akan menyatu dengan inti atom. Elektron hanya bisa mengelilingi inti
atom selama sekitar 108 detik saja. Dengan kata lain, seandainya model atom
Rutherford benar, atom tidak pernah ada. Namun, karena faktanya atom tetap
ada, simpulannya model atom Rutherford harus disempurnakan. Model atom
Rutherford disempurnakan oleh Neils Bohr berdasarkan data eksperimen spektroskopi optik atom hidrogen yang telah dibahas pada Bab ???.

58

CHAPTER 5. MODEL ATOM KLASIK

Chapter 6
SPEKTROSKOPI ATOM
Salah satu eksperimen fisika yang telah berkembang karena telah tersedia peralatan akurat sebelum lahirnya teori atom modern adalah spektroskopi atom.
Telah lama diketahui ketika sejumput garam dapur, NaCl, dimasukkan ke dalam
api maka akan terlihat percikan api yang berwarna kekuning-kuningan. Warna
kuning ini berasal dari atom Na. Selain itu, hasil eksperimen di laboratorium
memperlihatkan warna pendaran tabung lucutan sebagaimana ditunjukkan pada
Gambar ??? bergantung pada gas yang diisikan di dalamnya. Panjang gelombang
sinar yang teramati diukur menggunakan spektrometer.
Hakekat cahaya telah menjadi bahan pemikiran dan perdebatan sejak lama.
Di kalangan para filsuf Yunani kuno pernah berkembang pemikiran manusia atau
binatang dapat melihat benda karena dari mata keluar partikel yang mengenai
benda tersebut kemudian dipantulkan kembali ke mata. Paham ini dikuatkan
dengan fakta mata binatang seperti kucing dan harimau terlihat bersinar ketika
berada di kegelapan. Namun ide ini gagal menjelaskan ketidakmampuan manusia
melihat benda yang berada di tempat gelap.
Terdapat dua teori tentang cahaya yang berkembang pada abad 17. Pendapat pertama dikemukakan oleh fisikawan Inggris Sir Isaac Newton yang mengatakan cahaya terdiri atas berkas partikel elastis yang memiliki massa sangat
kecil dan bergerak sangat cepat yang dinamakan corpus. Model corpus berhasil
menjelaskan peristiwa pemantulan, pembiasan maupun difraksi cahaya, namun

59

60

CHAPTER 6. SPEKTROSKOPI ATOM

demikian, tidak mampu menjelaskan peristiwa interferensi cahaya. Selain itu,


menurut paham corpus, cahaya melaju lebih cepat di dalam medium daripada
melaju di ruang hampa. Pada era Newton, kecepatan cahaya belum diketahui
nilainya.
Berbeda dengan pendapat Newton, fisikawan Belanda Christiaan Huygens
mengusulkan cahaya adalah fenomena gelombang. Sebagaimana dengan teori
corpus, gelombang cahaya juga mampu menjelaskan peristiwa pemantulan dan
pembiasan.

Pembuktian cahaya adalah fenomena gelombang dilakukan oleh

Fisikawan Inggris Thomas Young melalui eksperimen interferensi cahaya menggunakan celah ganda. Bukti ini juga didukung serangkaian eksperimen yang
dilakukan oleh fisikawan Perancis seperti Augustin Fresnel, Simeon Poisson dan
Francois Arago. Menurut teori ini, kecepatan rambat cahaya di dalam media
lebih kecil daripada kecepatan cahaya di ruang hampa. Sejak saat itu tidak ada
yang mempermasalahkan cahaya adalah fenomena gelombang.
Walaupun telah terbukti melalui eksperimen cahaya adalah gelombang,
tetapi saat itu tidak seorangpun yang mengetahui hakekat gelombang cahaya.
Pertanyaan yang sangat mendasar tersebut mulai terjawab ketika James Clark
Maxwell pada tahun 1885 mampu memprediksi menggunakan perumusan matematis, yang terkenal dengan nama Persamaan Maxwell, bahwa cahaya adalah
gelombang elektromagnetik (GEM). Dua tahun kemudian, fisikawan Jerman bernama
Heinrich Hertz berhasil membuktikan prediksi Maxwell melalui eksperimen. Ia
juga berhasil menunjukkan GEM mengikuti hukum-hukum optika sebagaimana
gelombang cahaya seperti pemantulan, difraksi maupun interferensi.

6.1

Spektometer Optik

Gelombang elektromagnetik dapat dikelompokkan berdasarkan frekuensi atau


panjang gelombangnya. Spektrum GEM dimulai dari frekuensi sangat rendah
dengan orde puluhan hertz, yaitu gelombang radio kemudian berturut-turut gelombang mikro, inframerah, cahaya tampak, ultra ungu sampai dengan frekuensi
sangat tinggi di atas 1022 Hz yaitu sinar-X dan sinar .

6.1. SPEKTOMETER OPTIK

61

Panjang gelombang GEM dalam daerah cahaya tampak diukur menggunakan peralatan yang dinamakan spektrometer optik. Pada dasarnya, spektrometer terdiri atas beberapa komponen dasar yaitu kolimator yang di ujungnya terdapat celah sempit untuk mensejajarkan berkas, media dispersif prisma atau kisi,
lensa positif untuk memfokuskan sinar terdispersi serta detektor cahaya. Mata
pengamat dikategorikan sebagai detektor. Spektrometer modern yang dilengkapi
dengan detektor berupa film atau perangkat elektronik dapat digunakan untuk
mengukur intensitas serta panjang gelombang sinar yang teramati.
Kisi difraksi atau sering juga dinamakan kisi interferensi, berupa celah atau
garis-garis sejajar sangat rapat yang dibuat di atas permukaan kaca atau logam
yang memiliki daya pantul kuat. Bagian yang tidak tergores diantara garis-garis
terebut berfungsi sebagai celah. Banyaknya celah tiap satuan panjang suatu kisi
dinamakan konstanta kisi. Teknologi saat ini mampu membuat spektrometer
sangat akurat dan presisi yang dilengkapi dengan kisi transmisi maupun refleksi
dengan konstanta kisi lebih dari 10.000 tiap cm.

Gambar spektrometer Lab Pusat

Ketika seberkas cahaya polikromatis diarahkan ke medium dispersif, cahaya


akan diuraikan menjadi berkas-berkas sinar monokromatis yang mengelompok
sesuai dengan panjang gelombangnya. Contoh paling sederhana adalah berkas
cahaya matahari setelah melewati prisma akan terurai menjadi warna-warna
pelangi. Jika celah kolimator berbentuk sempit dan lurus, bayangan pada detektor akan berupa garis-garis warna yang dinamakan garis spektrum. Semakin sempit celah kolimator, semakit kecil garis spektrum yang teramati. Semakin besar
nilai konstanta kisi, akan semakin tajam intensitas garis spektrumnya. Dengan
mengukur sudut posisi detektor untuk masing-masing garis warna terhadap arah
datang sinar mula-mula, dapatlah dihitung panjang gelombang masing-masing
warna.

62

CHAPTER 6. SPEKTROSKOPI ATOM


Contoh spektrometer sederhana yang terdapat di UPT Laboratorium Pusat

MIPA UNS diperlihatkan pada Gambar ??? di bawah ini. Peralatan terdiri
atas sumber cahaya, kolimator, teleskop dan meja optik. Cahaya dari sumber
dilewatkan melalui celah sempit kolimator S yang diletakkan pada titik api lensa
teleskop L. Teleskop dapat digerakkan memutar mengelilingi kisi. Hubungan
antara sudut cahaya yang terdifraksi maksimum terang utama terhadap arah
datang mula-mula dengan panjang gelombangnya dapat dinyatakan dengan
persamaan
sin =

m
d

(6.1)

dengan m adalah bilangan bulat yang menyatakan orde dan d adalah konstanta
kisi. Hanya pada sudut-sudut tertentu saja akan teramati puncak difraksi.
Lebar antara celah kisi yang berdampingan d dan sudut dapat diukur dengan presisi sehingga dapat diperoleh hasil pengukuran panjang gelombang yang
akurat.
Salah satu tolok ukur kualitas suatu spektrometer adalah daya pisah spektral, yaitu kemampuan memisahkan dua garis spektral yang saling berdekatan.
Dalam persamaan matematis definisi tersebut dinyatakan sebagai /, dimana
adalah perbedaan panjang gelombang dua garis spektral yang berdekatan.
Spektrometer prisma atau kisi terbaik memiliki daya pisah 105 . Walaupun
demikian, daya pisah seperti ini masih kurang bagus untuk beberapa keperluan.
Suatu eksperimen yang memerlukan daya pisah 106 atau lebih, harus menggunakan interferometer, salah satunya adalah tipe interferometer Fabry-Perot. Saat
ini telah dikembangkan metode baru spektrometer modern yang memiliki resolusi
ultra tinggi menggunakan teknologi LASER.
Sebagaimana telah dituliskan di muka, spektrometer dengan daya pisah
lebih dari 106 hanya bisa diperoleh salah satunya menggunakan interferometer
Fabry-Perot. Interferometer jenis ini terdiri atas dua keping sejajar kaca yang
separo-lapis perak yang berjarak beberapa cm. Cahaya monokromatik setelah
memasuki keping separo-lapis perak akan dipantul-pantulkan berulangkali di ruang antar keping kaca sehingga terjadi interferensi dengan orde tinggi. Hasil akhir

6.1. SPEKTOMETER OPTIK

63

interferensi akan teramati sebagai frinji.


Gambar :Skema interferometer Fabry-Prot
Besaran yang diukur dalam spektrofotometer optik adalah panjang gelombang atau frekuensi serta intensitas masing-masing warna spektra. Sebelum digunakan, spektrometer harus dikalibrasi terlebih dahulu. Spektra baku untuk kalibrasi adalah garis warna kuning yang dipancarkan oleh atom 86 Kr yang memiliki
panjang gelombang di ruang hampa sebesar h = 6.057, 80211
A.
Data panjang gelombang suatu spektra biasanya mengacu ke ruang hampa.
Nilai panjang gelombang suatu garis spektra di udara lebih kecil daripada nilai
panjang gelombang di ruang hampa, dikarenakan indeks bias udara sedikit lebih
besar dari 1. Hubungan antara panjang gelombang h , panjang gelombang di
udara u dan indeks bias udara n adalah
u =

h
n

(6.2)

Perlu kiranya dituliskan di sini bahwa nilai indeks bias udara berbeda-beda
untuk panjang gelombang yang berlainan. Sebagai contoh indeks bias udara
untuk panjang gelombang 6.000
A adalah sebesar 1,0002762. Pemilihan besaran
panjang gelombang mengandung kelemahan karena nilainya bergantung pada
indeks bias udara. Oleh karena itu besaran lain yang digunakan adalah frekuensi
. Hubungan antara frekuensi dengan panjang gelombang adalah
=

c
h

(6.3)

dimana c adalah kecepatan cahaya di ruang hampa. Besaran lain yang sering dipakai adalah angka gelombang 1/ yang didefinisikan sebagai banyaknya
gelombang tiap satuan panjang.

1
=
h
c
dengan demikian spektrum garis warna kuning

(6.4)
86

Kr memiliki angka gelombang

sebesar 16.507,6373 cm-1 . Satuan cm-1 dinamakan juga kayser dan bersesuaian dengan frekuensi sebesar 29,979 GHz. Perlu dituliskan disini, definisi angka
gelombang yang digunakan pada spektroskopi berbeda dengan angka gelombang

64

CHAPTER 6. SPEKTROSKOPI ATOM

yang telah biasa digunakan dengan faktor sebesar 2. Besaran angka gelombang
ini dapat dihubungkan dengan tenaga melalui persamaan
E=

hc

(6.5)

dimana h adalah tetapan Planck. Dengan demikian bilangan konversi untuk mengubah nilai dari satuan tenaga menjadi satuan frekuensi dan angka gelombang
adalah 1 eV = 2, 418 1014 Hz = 8.066 cm1 .

6.2

Spektroskopi Atom

Setelah diketemukannya lucutan listrik dalam tabung hampa dan telah tersedianya spektrometer beresolusi tinggi, eksperimen spektroskopi optik mulai berkembang pesat. Pelopor eksperimen spektroskopi yang berasal dari tabung lucutan
gas adalah Kirchhoff dan Bunsen. Bergantung pada gas pengisinya, spektrum cahaya yang dihasilkan tabung lucutan gas dapat dikelompokkan menjadi spektrum
berbentuk garis, pita dan semambung (continue). Spektrum atom berbentuk
garis-garis tunggal tegas. Spektrum optik berbentuk pita sebenarnya merupakan
kumpulan spektrum garis-garis yang sangat rapat. Spektrum jenis ini dihasilkan
oleh molekul atau atom berelektron banyak. Kelompok spektrum terakhir adalah
spektrum semambung yang dihasilkan oleh gas-gas yang sangat tinggi kerapatannya atau radiasi benda mampat. Dari hasil eksperimen telah lama diketahui spektrum masing-masing atom memiliki frekuensi cemiri atau spektrum yang khas.
Dengan kata lain masing-masing unsur dapat diidentifikasi berdasarkan posisi
garis-garis warna spektrumnya.
Secara umum, spektrum dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu pancaran,
pendaran dan serapan. Spektrum cahaya matahari termasuk spektrum pancaran.
Namun, apabila diamati dengan seksama, selain spektrum berupa garis-garis
warna juga terlihat garis-garis gelap yang dinamakan garis Franhouver, nama
dari orang yang pertama kali melihatnya. Spektrum garis gelap ini adalah spektrum serapan.
Peristiwa serapan dan pancaran radiasi GEM oleh atom atau molekul da-

6.2. SPEKTROSKOPI ATOM

65

pat dijelaskan secara ringkas sebagai berikut. Misalkan suatu atom berada pada
keadaan paling stabil dengan tenaga minimum yang dinamakan aras dasar (ground
state). Ketika atom ini menyerap tenaga GEM, elektron akan berpindah ke orbit
yang memiliki tingkat energi yang lebih tinggi. Elektron seperti ini dikatakan berada pada aras tereksitasi (excited state). Sistem yang berada pada aras tereksitasi akan kembali ke aras dasar dengan memancarkan kelebihan tenaganya dalam
bentuk radiasi elektromagnetik. Frekuensi-frekuensi yang teramati pada radiasi
pancaran dinamakan spektrum pancaran (emmision spectrum).
Eksperimen memperlihatkan besarnya frekuensi yang teramati pada spektrum serapan sama dengan frekuensi spektrum pancaran. Salah satu penerapan
spektrum serapan adalah identifikasi unsur menggunakan peralatan AAS (Atomic
Absorption Spectrometer ) serta gas di atmosfir bintang-bintang. Perlu dituliskan
di sini spektrum unsur helium pertama kali diperoleh dari pengamatan spektrum cahaya yang berasal dari matahari, karena saat itu unsur helium belum
ditemukan di bumi.
Keadaan atom tereksitasi dapat diupayakan salah satunya melalui pemanasan. Jika atom-atom tersebut dipanaskan, akan terjadi tumbukan antar atom
dan mengakibatkan elektron bergetar. Oleh karena elektron merupakan partikel
bermuatan listrik, ketika bergetar akan memacarkan tenaga dengan frekuensi
yang sama dengan frekuensi getaran. Cara lainnya adalah menggunakan gelombang elektromagnetik. Ketika gelombang elektromagnetik mengenai sistem muatan listrik seperti atom, molekul, akan terjadi interaksi antara keduanya. Atom
atau molekul dipaksa bergetar dengan frekuensi yang sama dengan frekuensi
gelombang dan sebagian tenaga gelombang diserap oleh sistem. Getaran terpaksa
akan lebih mudah terjadi jika frekuensinya sama degan frekuensi gelombang pemaksa. Peristiwa seperti ini dinamakan resonansi.
Pada Gambar ??? di bawah ini ditunjukkan satu contoh cahaya pancaran,
fluoresensi serta serapan. Unsur logam natrium ditempatkan pada tabung hampa
udara dan dipanaskan sehingga di dalam tabung penuh dengan uap natrium.
Di depan tabung diletakkan lampu natrium kemudian dinyalakan sehingga terli-

66

CHAPTER 6. SPEKTROSKOPI ATOM

hat cahaya berwarna kuning yang dinamakan cahaya pancaran. Ketika cahaya
lampu natrium yang berwarna kuning melewati tabung, gas sodium yang berada
di dalam tabung akan berpendar ke segala arah dengan warna kuning pula yang
dinamakan cahaya pendaran. Frekuensi cahaya pancaran sama persis dengan
frekuensi cahaya pendaran. Lampu pijar sodium memiliki panjang gelombang
rata-rata 5,89
A atau frekuensi 5, 09 1014 Hz. Biasanya atom-atom sodium
berada dalam keadaan aras dasar. Atom sodium hanya dapat menyerap phoA. Jika foton dengan panjang gelombang
ton yang panjang gelombangnya 5,89
semambung dilewatkan pada uap unsur sodium, maka spektrum photon yang
A diserap
lewat akan berkurang karena photon dengan panjang gelombang 5,89
oleh atom-atom sodium. Akibatnya pada detektor akan teramati spektrum latar
yang terang dan garis-garis gelap. Posisi garis gelap ini tepat sama dengan panjang gelombang 5,89
A.
Gambar ??? Contoh spektrum pancaran dan serapan uap sodium.
Komponen utama alat ini adalah prisma atau kisi, sebagaimana diperlihatkan pada Gambar ??? di bawah ini.
Gambar ??? Spektroskop Garis gelap???
Kalibrasi spektrometer
Interferometer Febri-Perot

6.3

Spektrum atom hidrogen

Eksperimen pengamatan spektrum atom hidrogen memainkan peranan yang sangat penting dalam perkembangan teori atom. Hidrogen adalah atom paling
sederhana karena hanya terdiri atas sebuah proton dan sebuah elektron sehingga
spekrum yang dipancarkan juga paling sederhana, yaitu berupa garis-garis tajam
yang saling terpisah dalam daerah cahaya tampak. Pada Gambar ??? diperlihatkan contoh spektrum atom hidrogen. Garis-garis tersebut memiliki panjang
gelombang 6.563
A (warna merah dan dinamakan garis H , 4.861
A (biru H ) dan
4.340
A (ungu H ), 4.102
A (ultra ungu H ) dan seterusnya dan garis terakhir
yang teramati adalah 3.646
A. Garis terakhir ini dinamakan garis batas pan-

6.3. SPEKTRUM ATOM HIDROGEN

67

jang gelombang terpendek H . Sedangkan garis-garis dengan panjang gelombang


lebih kecil tampak sebagai spektrum semambung.
Gambar ??? Spektrum atom hidrogen
Pada tahun 1884 seorang guru matematika di Swiss bernama Balmer tertarik ketika melihat angka-angka panjang gelombang garis spektrum atom hidrogen tersebut. Balmer menduga angka-angka tersebut membentuk deret dengan
pola tertentu. Dengan dasar pemikiran seperti itu, Balmer berhasil mendapatkan sebuah persamaan yang cocok dengan hasil pengamatan semua panjang
gelombang spektrum hidrogen,
= 3.645, 6

n2
n2 22

atau dapat ditulis dalam bentuk persamaan angka gelombang




1
4
1
1
=

3.645, 6 22 n2

(6.6)

(6.7)

dengan n bilangan bulat dan lebih besar dari 2. Panjang gelombang spektrum
garis H , H , H , H dan lainnya dapat diperoleh dari persamaan tersebut,
masing-masing dengan nilai n = 3, 4, 5, . Deret ini berakhir untuk nilai n

yang bersesuaian dengan panjang gelombang = 3.646


A. Untuk menghormati
jasanya, deretan garis-garis spektrum hidrogen yang terletak di daerah warna
tampak dinamakan deret Balmer.
Deret Balmer spektrum hidrogen yang lengkap diukur menggunakan spek-

trometer yang sangat presisi ditunjukkan pada Tabel ??? di bawah ini. Angka
pada kolom ke tiga adalah hasil pengamatan sedangkan angka pada kolom ke
empat diperoleh dari perhitungan menggunakan persamaan Balmer (6.7). Dapat
dilihat data hasil pengamatan sangat sesuai dengan data hasil perhitungan.
Kesuksesan Balmer telah memberi inspirasi Rydberg membuat persamaan
untuk menganalisis spektrum unsur-unsur yang lebih berat daripada hidrogen,
1
RH
=G

(n + a)2

(6.8)

dimana RH dinamakan konstanta Rydberg yang besarnya 109.677,5810 cm1 dan


n adalah bilangan asli. Bilangan-bilangan G dan a adalah peubah yang nilainya

68

CHAPTER 6. SPEKTROSKOPI ATOM

nama garis nilai n

u (
A)

1
h

cm1

1
Balmer

cm1

6.562,79 15.233,21 15.233,00

4.861,33 20.564,77 20.564,55

4.340,46 23.032,54 23.032,29

4.101,73 24.373,07 24.372,80

3.970,07 25.181,33 25.181,08

3.889,06 25.705,84 25.705,68

3.835,40 26.065,53 26.065,35

10

3.797,91 26.322,80 26.322,62

11

3.770,63 26.513,21 26.512,97

12

3.750,15 26.658,01 26.657,75

13

3.734,37 26.770,65 26.770,42

14

3.721,95 26.860,01 26.859,82

15

3.711,98 26.932,14 26.931,94

16

3.703,86 26.991,18 26.990,88

Ho

17

3.697,15 27.040,17 27.039,89

18

3.691,55 27.081,18 27.080,88

19

3.686,83 27.115,85 27.115,58

20

3.682,82 27.145,37 27.145,20

Table 6.1: Spektrum hidrogen

6.3. SPEKTRUM ATOM HIDROGEN

69

bergantung pada jenis gas dan bagian spektrum yang hendak dianalisis.
Ketika menganalisis deret Balmer, Ritz pada tahun 1908 menyimpulkan
angka gelombang beberapa spektrum garis merupakan selisih dari angka gelombang garis-garis spektral lainnya. Selain itu Ritz juga menyimpulkan bahwa konstanta G pada persamaan (6.8) memiliki bentuk matematis yang mirip dengan
suku kedua, sehingga persamaan Rydberg dapat ditulis ulang menjadi
1
RH
RH
=

(m + b)
(n + a)2

(6.9)

dengan a dan b adalah konstanta yang bergantung pada jenis unsur yang digunakan. Bila dipilih nilai a = b = 0 dan m = 2 maka persamaan Ritz menjadi persamaan Balmer untuk spektrum hidrogen. Pada waktu yang bersamaan
dengan Ritz ketika mengusulkan prinsip kombinasi, Paschen berhasil mengamati
deret spektrum garis atom hidrogen lainnya di daerah inframerah. Garis-garis
spektrum deret Paschen ternyata sesuai dengan persamaan (6.9) jika nilai m = 3
dan n = 4, 5, 6, sedangkan nilai konstanta a = b = 0. Dengan demikian secara
ringkas persamaan (6.9) dapat ditulis ulang sehingga berlaku untuk deret Balmer
maupun Paschen untuk hidrogen,
1
= RH

1
1
2
2
m
n

(6.10)

Deret Balmer memiliki nilai m = 2 dan n = 3, 4, 5, , sedangkan deret Paschen


untuk m = 3 dan n = 4, 5, 6, DERET LYMAN belum
Spektrum optik atom mirip hidrogen
Atom mirip hidrogen adalah atom yang memiliki sebuah elektron orbit,
seperti ion He+ , Li2+ dan Be+3 . Telah ditunjukkan di atas bahwa besarnya
tingkat-tingkat tenaga atom seperti hidrogen bergantung pada nomor atom Z.
Berdasarkan hipotesa Bohr, yang akan dibahas pada Bab???, atom-atom seperti
hidrogen akan memiliki spektrum yang panjang gelombangnya ditentukan oleh nilai Z. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa hipotesa Bohr terbukti benar. Pada
tabel di bawah ini diperlihatkan hasil pengukuran panjang gelombang deret Lyman pertama atom-atom seperti hidrogen.

70

CHAPTER 6. SPEKTROSKOPI ATOM

atom
1

1.215,66

H+

1.215,33

He3+

303,6

Li

135,0

Be

75,9

75,9

48,6

33,7

Table 6.2: Deret Lymman atom mirip hidrogen

Para astronom menemukan deret Fowler untuk helium,




1
1
1
= 4RHe

F
32 n2

(6.11)

dan deret Pickering


1
= 4RHe
P

1
1
2
2
4
n

yang dapat ditulis ulang menjadi


1
= RHe
P

1
1

22 (n/2)2

(6.12)

dengan nilai n = 5, 6, 7, . Dari persamaan di atas dapat dilihat setiap deret


Pickering hampir sesuai dengan salah satu garis spektrum deret Balmer atom
hidrogen sebagaimana terlihat pada tabel 6.3.
Sedangkan deret Lyman pertama ion He+ adalah


1
1
1
= 4RHe

L1
12 n2

(6.13)

dan deret Lyman kedua


1
= 4RHe
L2

1
1

22 n2

(6.14)

6.3. SPEKTRUM ATOM HIDROGEN

71

deret Balmer

deret Pickering

atom H (
A)

atom He (
A)

6.562,8

6.560,1
5.411,6

4.861,3

4.849,3
4.561,6

4.340,5

4.338,7
4.199,9

4.101,7

4.100,0

Table 6.3: Perbandingan deret Balmer spektrum hidrogen dengan deret Pickering
a spektrum helium

72

CHAPTER 6. SPEKTROSKOPI ATOM

Chapter 7
Model Atom Bohr
Telah disebutkan di muka bahwa walaupun model atom Rutherford lebih baik
daripada model atom Thompson, namun tidak sepenuhnya sesuai dengan hasil
eksperimen. Disamping itu, hasil eksperimen spektroskopi atom hidrogen yang
terangkum dalam deret Balmer untuk cahaya tampak dan deret Paschen untuk
daerah merah infra merupakan spektrum garis. Spektrum ini sangat jelas memperlihatkan adanya tingkat-tingkat energi atom hidrogen. Perlu digaris-bawahi
disini, persamaan ??? yang telah terbukti berlaku untuk semua spektrum hidrogen merupakan persamaan empiris yang diperoleh tidak menggunakan landasan
hukum-hukum Fisika.
Pada tahun 1913, hanya 2 tahun setelah penemuan inti atom, seorang
fisikawan Demark Neils Bohr berhasil memperoleh persamaan ??? dengan cara
menyempurnakan model atom Rutherford. Kesuksesan Bohr tidak dapat dilepaskan
dari keberaniannya tidak menggunakan konsep-konsep fisika yang telah diakui
kebenarannya pada waktu itu dan menggantinya dengan hipotesis. Perlu ditegaskan di sini Bohr tidak menyalahkan hukum-hukum fisika yang telah lama
mapan.
Bohr berpendapat sistem atom dapat dianalogikan dengan sistem tata surya.
Elektron yang bergerak mengelilingi inti atom mirip dengan planet-planet yang
mengorbit matahari. Jika pada sistem tata surya terdapat gaya gravitasi antara

73

74

CHAPTER 7. MODEL ATOM BOHR

matahari dengan planet,


m1 m2
r
(7.1)
r2
Pada sistem atom terdapat gaya elektrostatis Coulomb antara z buah elektron

FG = G

dengan inti atom yang bermuatan listrik sebesar Ze

FC =

1 Zze2
r
40 r 2

(7.2)

Dapat dilihat kedua persamaan tersebut sangat mirip, keduanya berbanding terbalik dengan kuadrat jarak. Namun berbeda dengan orbit planet yang
berbentuk elips, Bohr mengandaikan orbit elektron berbentuk lingkaran.
Gerak planet dapat dianalisis sebagai berikut. Misalkan benda dengan
massa m1 bergerak dengan kecepatan tangensial v mengelilingi benda lain m2
yang sangat berat dengan orbit berbentuk lingkaran jari-jari r. Gaya sentripetal
yang bekerja pada benda m1 adalah gaya gravitasi yang ditimbulkan oleh m2 ,
sehingga
m1 m2
m1 v 2
=
m
a
=
r
1
r2
r
dengan demikian besarnya kecepatan tangensial adalah
r
Gm2
v=
r

FG = G

(7.3)

(7.4)

Analisis gerak elektron pada model atom Bohr mirip dengan analisis pada
tata surya. Sebuah elektron dengan muatan listrik e dan massa me bergerak
melingkar dengan dengan jari-jari r dan kecepatan tangensial v mengelilingi inti
yang sangat berat yang bermuatan listrik Ze. Untuk atom hidrogen nilai Z = 1.
Karena tanda muatan listrik elektron dan inti atom berlawanan, gaya elektrostatik ini merupakan gaya tarik menarik antara elektron dan inti atom. Agar
elektron tidak ditarik dan bergabung dengan inti atom, gaya tarik Coulomb ini
harus diimbangi gaya sentripetal yang besarnya sama dengan gaya tarik elektrostatis tetapi arahnya berlawanan,
F =

1 Zze2
me v 2
=
m
a
=
e
40 r 2
r

sehingga besarnya kecepatan tangensial adalah


r
1 Zze2
v=
40 me r

(7.5)

(7.6)

75
Pada Bab ini hanya akan dibahas model atom hidrogen atau mirip hidrogen
menurut Bohr. Atom seperti ini memiliki sebuah elektron dan intinya bermuatan
listrik Ze. Secara matematis, persamaan (7.6) menghubungkan besaran kecepatan
gerak elektron v dengan jarijari orbitnya r. Hal ini berarti elektron bisa memiliki
jari -jari orbit sembarang berapapun nilainya asalkan kecepatannya tertentu dan
nilainya memenuhi persamaan (7.6). Bohr menolak pernyataan ini. Sebagai
penggantinya, ia mengemukakan tiga buah postulat sebagai berikut:
1. Postulat pertama:
Persamaan gerak orbit elektron yang diperoleh dari perhitungan fisika klasik
tetap berlaku, namun elektron hanya diperbolehkan mengorbit dengan jarijari tertentu rn dengan energi En .
2. Postulat kedua:
Orbit elektron yang diperbolehkan harus memenuhi syarat sedemikian rupa

sehingga momentum sudut elektron l = r p = n~, n adalah bilangan bulat


1, 2, 3, dan ~, dibaca h-bar, dengan h adalah tetapan Planck. Dengan
kata lain besarnya nilai momentum sudut elektron terkuantisasi.
3. Postulat ketiga
Selama mengorbit mengelilingi inti dengan lintasan tertentu yang memenuhi
postulat pertama dan kedua, elektron tidak memancarkan energi radiasi
gelombang elektromagnetik. Namun radiasi elektromagnetik akan dilepaskan
ketika elektron berpindah dari aras energi yang lebih tinggi ke energi yang
lebih rendah.
Postulat Bohr kedua memiliki makna sebagai berikut. Secara matematis
postulat Bohr kedua dapat dituliskan dalam bentuk persamaan
me vrn = n~

(7.7)

Berdasarkan hipotesis pertama dan kedua Bohr, orbit elektron atom hidrogen harus memenuhi persamaan (7.7). Jari-jari orbit elektron yang diperbolehkan

76

CHAPTER 7. MODEL ATOM BOHR

dapat dihitung dengan cara mengeleminasi v pada kedua persamaan tersebut,


yaitu
rn =

4o ~2
= ro n2
me e2

(7.8)

dimana ro dinamakan jarijari Bohr pertama yang nilainya adalah


ro =

4o ~2
= 0, 0529
A
me e2

(7.9)

A, begitu seterusnya.
Orbit kedua memiliki jarijari 2,116
Dari persamaan ??? diperoleh energi kinetik elektron sebesar
1
1 Ze2
Ek = me v 2 =
2
80 r

(7.10)

Pada pembahasan selanjutnya akan digunakan kesepakatan umum bahwa


elektron yang berada jauh tak berhingga dari inti atom memiliki energi potensial nol. Dengan demikian energi potensial elektron yang berada pada jarak r
terhadap inti atom adalah
EP =

1 Ze2
40 r

(7.11)

sehingga besarnya energi total elektron adalah:


E = EK + EP =
=

1 Ze2
1 Ze2

80 r
40 r

1 Ze2
80 r

(7.12)

Karena r hanya boleh bernilai sebagaimana ditunjukkan pada persamaan


(7.8) maka persamaan (7.12) dapat ditulis ulang menjadi
En =

me e4 Z 2
32 2 20 ~2 n2

(7.13)

Dengan memasukkan konstanta-konstanta yang telah diketahui nilainya dan setelah dikonversi dari satuan joule menjadi eV, besarnya energi total elektron atom
hidrogen adalah
En =

13, 6
eV
n2

(7.14)

Terlihat dari persamaan di atas energi elektron orbit bersifat terkuantisasi,


hanya memiliki nilai tertentu saja. Aras energi elektron orbit paling rendah,

77
dinamakan juga aras dasar memiliki nilai n = 1 yaitu E1 = 13, 6 eV. Energi
di atasnya dengan n = 2 adalah E2 = 3, 4 eV, untuk n = 3 adalah E3 =
1, 5 eV dan seterusnya. Bilangan bulat n dinamakan bilangan kuantuk utama
dan hanya boleh bernilai salah satu dari bilangan asli 1, 2, 3, . Energi yang
diperlukan untuk memindahkan sebuah elektron dari orbit n tertentu ke orbit
n = dinamakan energi ikat yang nilainya sama dengan En .
Telah disebutkan di muka bahwa menurut teori elektrodinamika, elektron
yang bergerak mengorbit inti akan kehilangan energinya terus menerus karena
memiliki percepatan centripetal. Agar tidak bertentangan dengan teori elektrodinamika, Bohr membuat postulat ke tiga.
Postulat Bohr ketiga dapat dijelaskan sebagai berikut. Bohr menggunakan
argumen kuantisasi yang dikemukakan oleh Planck. Besarnya energi radiasi yang
dipancarkan sama dengan selisih kedua aras energi dan harus sama dengan energi photon sebesar h. Misalkan elektron yang berada pada aras energi En1
berpindah ke aras energi yang lebih rendah En2 maka besarnya energi radiasi
yang dipancarkan adalah
h = En1 En2

(7.15)

Persamaan ini dinamakan rumus Bohr.


Dengan postulat ini maka fakta eksperimen atom dengan frekuensi resonansi 1 , 2 , 3 , yang teramati pada spektrum serapan dapat dengan mudah dijelaskan. Energi atom hanya dapat memiliki nilai tertentu E1 , E2 , E3 , .
Dengan kata lain nilai energi terkuantisasi. Aras yang bersesuaian dengan energienergi ini dinamakan aras stasioner (stationary state) sedangkan nilai energi yang
mungkin dinamakan aras energi (energy level ). Serapan energi radiasi elektromagnetik akan mengakibatkan transisi dari keadaan stasioner ke keadaan tereksitasi yang lebih tinggi energinya. Pancaran gelombang elektromagnetik akan
terjadi pada proses kebalikannya. Skema transisi antar aras stasioner pada serapan dan pancaran ditampilkan pada Gambar ??? di bawah ini.

Gambar ??? transisi antar aras stasioner (a) serapan, (b) pancaran

78

CHAPTER 7. MODEL ATOM BOHR

Frekuensi radiasi elektromagnetik yang dipancarkan dapat dihitung dengan


mensubstitusikan persamaan ??? ke ???
me e4 Z 2
=
820 h2

1
1
2
2
n2 n1

(7.16)

atau dalam bentuk persamaan angka gelombang persamaan dapat ditulis


ulang menjadi
1
me e4 Z 2
=

820 h3 c

1
1
2
2
n2 n1

(7.17)

Terlihat bentuk persamaan ini mirip dengan persamaan Paschen ??? jika didefinisikan konstanta R =

me e4 Z 2
820 h3 c

= 1, 0973731107 m1 . Nilai konstanta R sedikit

lebih besar daripada nilai konstanta Rydberg RH . Hal ini dikarenakan pada persamaan (??) massa inti atom dianggap tak berhingga. Jika inti atom dianggap
tidak diam tetapi bergerak, maka konstanta me harus diganti dengan massa tereduksi,
=

me M
me + M

(7.18)

dimana M adalah massa inti atom. Dengan demikian diperoleh hubungan antara
dua konstanta Rydberg
RH =

R
1 + me /M

(7.19)

Persamaan di atas dapat digunakan untuk menjelaskan hasil eksperimen


isotop-isotop suatu unsur yang sama tetapi memiliki garis spektrum yang sedikit
berbeda yang dinamakan pergeseran isotop. Perlu digaris bawahi di sini bahwa
atom hidrogen berat atau deuterium diketemukan oleh Urey pada tahun 1932
berdasarkan analisa spektroskopi hidrogen, bukan analisa kimia atau menggunakan spektrometer massa. Pada tabel di bawah ini ditunjukkan perbedaan antara panjang gelombang spektrum hidrogen dan deuterium. Dapat dilihat bahwa
perbedaan panjang keduanya sangat kecil dan hanya bisa diamati menggunakan
spektrometer resolusi tinggi.
Persamaan (12) merupakan bukti bahwa deret Balmer dan Paschen pada
spektrum atom hidrogen dapat dijelaskan menggunakan teori atom Bohr. Bila
nilai n1 = 2 persamaan (12) menjadi persamaan deret Balmer, sedangkan jika

7.1. ARAS ENERGI ATOM HIDROGEN

79

hidrogen (
A) deuterium (
A)
1215,66

1215,31

1025,72

1025,42

972,53

972,25

Table 7.1: Panjang gelombang spektrum atom hidrogen dan deuterium

nakhir

nawal

nama deret

tahun penemuan

2, 3, 4,

Lyman

1916

3, 4, 5,

Balmer

1855

4, 5, 6,

Paschen

1908

5, 6, 7,

Bracket

1922

6, 7, 8,

Pfund

1924

Table 7.2: deret

nilai n1 = 3 diperoleh persamaan deret Paschen. Persamaan (12) berlaku umum


tidak membatasi besarnya nilai n1 . Dengan kata lain, teori Bohr mampu memprediksi masih terdapat deret spektrum garis pada spektrum atom hidrogen selain
deret Balmer dan Paschen. Prediksi Bohr ini dibuktikan kebenarannya dengan
diketemukannya deret Lyman (nakhir = 1) di daerah ultra ungu, deret Brackett
(nakhir = 4) di daerah merah infra dan deret Pfund (nakhir = 5) yang juga di
daerah merah infra. Pada tabel di bawah ini dituliskan nilai n1 dan n2 untuk
deret spektrum atom hidrogen.
Gambar??? Skema atom hidrogen Bohr dengan memperlihatkan 5 deret
spektral.

7.1

Aras energi Atom Hidrogen

Teori atom Bohr terbukti mampu menjelaskan spektrum atom hidrogen. Energi
yang mungkin dimiliki oleh elektron ditentukan oleh bilangan kuantum utama n.
Elektron dengan energi n = 1 menempati keadaan dasar, bersifat stabil, berada

80

CHAPTER 7. MODEL ATOM BOHR

pada orbitnya terus menerus tanpa menyerap atau memancarkan energi. Namun
karena sesuatu sebab, elektron orbit dapat menyerap energi dari luar, misalkan
ditabrak oleh elektron bebas yang dipercepat oleh anoda pada tabung gas lucutan atau ketika dipanaskan. Misalkan elektron atom hidrogen yang berada pada
keadaan dasar menyerap energi sebesar 25 eV. Energi sebesar ini cukup untuk
mengeluarkan elektron dari orbit atom ke jarak tak terhingga dari inti atom, atau
dengan kata lain ionisasi. Elektron yang lepas dari orbitnya ini masih memiliki
energi kinetik sebesar 11,4 eV, karena energi potensial elektron ketika berada
pada n = 1 hanyalah -13,6 eV saja. Atom hidrogen yang telah kehilangan elektron dinamakan ion hidrogen. Dengan demikian dapat dikatakan energi yang
diperlukan untuk mengionkan atom hidrogen adalah 13,6 eV. Energi seperti ini
dinamakan energi ionisasi.
Jika energi yang diserap oleh elektron orbit tidak lebih besar dari energi ionisasi tetapi hanya sama atau lebih besar dari energi yang diperlukan oleh elektron
untuk berpindah ke aras energi yang diperbolehkan, maka elektron hanya menyerap energi yang cukup untuk berpindah ke aras energi yang lebih tinggi tersebut.
Peristiwa berpindahnya ini dinamakan eksitasi. Besarnya energi eksitasi tingkat
pertama adalah |En=1 En=2 | = 10, 2 eV. Setelah tereksitasi, beberapa saat
kemudian, elektron akan kembali ke keadaan normalnya atau melewati tingkat
energi lain baru kemudian ke tingkat dasar. Misalkan sebuah elektron tereksitasi
ke n = 5, elektron mungkin langsung deeksitasi ke n = 1. Tetapi juga mungkin
dari n = 5 ke n = 3, kemudian melompat ke n = 2 dan akhirnya ke n = 1.
Mungkin juga dari n = 5 terdeeksitasi ke n = 3 dan dilanjutkan ke n = 1 atau
kombinasi yang lain. Setiap kali elektron terdeeksitasi akan selalu kehilangan energi dalam bentuk pancaran radiasi elektromagnetik yang besarnya sama dengan
selisih aras energi yang dilalui elektron.
Mekanisme deeksitasi elektron ini dapat digunakan untuk menjelaskan spektrum atom hidrogen. Transisi elektron yang berakhir pada keadaan n = 1 akan
menghasilkan pancaran radiasi gelombang elektromagnetik dengan energi paling besar atau frekuensi tertingi. Transisi-transisi ini adalah deret Lyman yang

7.2. ATOM MUONIK

81

merupakan spektrum di daerah dengan frekuensi tertinggi yaitu warna ungu ultra. Transisi elektron yang berakhir di n = 2 merupakan spektrum deret Balmer
memiliki energi yang lebih rendah daripada energi pada deret Lyman. Oleh
karena itu dapatlah dimengerti spektrum deret Balmer terletak di daerah cahaya
tampak. Begitu juga dengan transisi elektron deret Paschen yang berakhir di
n = 3, Brackett n = 4 dan Pfund n = 5 memiliki energi yang semakin kecil, yaitu
di daerah merah infra.

Gambar diagram tingkat-tingkat energi atom hidrogen

Spektrum optik atom mirip hidrogen

7.2

Atom Muonik

Atom muonik berbeda dengan atom biasa dalam hal jenis partikel yang mengorbit
inti atom. Kalau atom biasa partikel yang mengorbit adalah elektron, pada
atom muonik partikel yang eredar mengintari bumi adalah partikel muon yang
massanya 270 kali massa elektron. Partikel ini diperoleh dari hasil reaksi proton
dengan neutron,
p + n n + n + +
atau
p + n n + n +
dimana + dan adalah partikel pion yang meluruh menjadi muon ,
+ + +
atau
+

(7.20)

dimana dan masing-masing adalah neutrino muon dan anti neutrino


muon. Peluruhan di atas memiliki umur paro 2, 5 108 detik. Segera setelah

82

CHAPTER 7. MODEL ATOM BOHR

terbentuk, muon meluruh menjadi elektron atau positron,


+ e+ + e +
e + e +
dimana e dan e adalah neutrino elektron adn anti neutrino elektron. Namun,
ada kalanya sebelummeluruh muon ditangkap oleh atom dan menempati orbit
terluar. Ketika berpindah ke orbit yang lebih dalam, muon memancarkan radiasi.
Oleh karena muon berperilaku sebagai elektron berat, maka rumus Bohr dapat
diterapkan untuk menghitung jari-jari orbit muon,
rn =

420 2
n
Ze2 m

(7.21)

Dari persamaan di atas dapat dengan jelas terlihat untuk nilai n yang sama
jari-jari atom muon lebih kecil jika dibandingkan dengan jari-jari atom elektron
biasa.

7.3

Potensial Ionisasi

Kebenaran model atom Bohr juga diuji dari eksperimen pengukuran potensial
ionisasi. Tak lama berselang setelah diketahuinya sifat-sifat elektron, Lennard
pada tahun 1902 melakukan eksperimen ionisasi atom menggunakan peralatan
dengan diagram seperti terlihat pada gambar ??? di bawah ini. Di dalam tabung
bertekanan udara rendah terdapat tiga buah elektroda. Elektoda pertama adalah
katoda K ditempatkan di ujung tabung, berupa kawat dialiri arus listrik hingga
membara sehingga berfungsi sebagai sumber elektron bebas. Di depannya terdapat anoda A yang dihubungkan dengan tegangan positif terhadap katoda VG yang
dapat diatur nilainya. Dengan demikian energi gerak elektron adalah eVG . Anoda berupa pelat yang diberi pori-pori kecil seperti saringan. Pada ujung tabung
lainnya dipasang plat elektroda ketiga P. Antara A dan P dipasang tegangan VA
dengan plat P dihubungkan ke kutub negatif sumber tegangan.
Prinsip kerja eksperimen Lennard adalah sebagai berikut. Tabung divakumkan
kemudian diisi dengan gas yang hendak diukur potensial ionisasinya kemudian

7.3. POTENSIAL IONISASI

83

divakumkan lagi sampai tekanan tertentu. Elektron bebas dari K dipercepat


menuju anoda A. Karena pada anoda terdapat pori-pori kecil, maka elektron
dapat melewati anoda. Tegangan VA diatur sedemikian rupa sehingga elektron
yang berhasil melewati anoda tidak dapat sampai di plat P dan kembali ke anoda. Namun apabila elektron bebas tadi menumbuk atom-atom yang terdapat
di daerah antara A dan P akan terjadi ionisasi. Ion -ion yang bermuatan positif
ini akan ditaril oleh plat P. Dengan demikian jika terjadi ionisasi akan terdeteksi
sebagai arus listrik dari plat P. Kuat arus listrik I diukur sebagai fungsi dari
tegangan VG . Hanya ketika elektron memiliki energi minimum eVi saja yang dapat menimbulkan arus. Besarnya potensial ionosasi atom di dalam gas adalah
Vi . Eksperimen dengan tabung yang diisi dengan gas hidrogen menunjukkan nilai
Vi = 13, 6 volt, sesuai dengan tingakt energi ionisasi atom hidrogen sebesar 13,6
eV.

Gambar a. Skema eksperimen mendeteksi ionisasi atom. (b). Arus litrik


teramati I sebagai fungsi dari tegangan VG . Vi adalah besarnya VG minimum
yang diperlukan untuk mempercepat elektron agar memiliki energi yang cukup
untuk mengionisasi atom.

Pada percobaan ionisasi di atas, elektron bebas yang dapat melewati anoda
tetapi tidak memiliki cukup energi untuk mengionisasi atom, memiliki cukup energi untuk mengeksitasi elektron atom gas. Sebagaimana telah dijelaskan dalam
model atom Bohr, elektron-elektron orbit hanya dapat menyerap energi yang
besarnya sama dengan selisih energi antara keadaan tereksitasi dengan keadaan
dasarnya. Jika elektron bebas ini menumbuk atom-atom gas, terjadi tumbukan
elastis sempurna. Tidak ada energi elektron bebas yang diserap oleh elektron
orbital. Namun ketika atom ditumbuk oleh elektron dengan energi yang lebih
tinggi, maka elektron orbital akan menyerap sebagian energi elektron bebas untuk berpindah ke aras energi lebih tinggi, akibatnya energi gerak elektron bebas
menjadi berkurang. Tumbukan yang terjadi adalah tumbukan tidak elastis.

84

CHAPTER 7. MODEL ATOM BOHR


Ditinjau lagi eksperimen ionisasi atom hidrogen di atas. Ketika tegangan VG

dinaikkan perlahan - lahan dari nol, energi gerak elektron akan terus bertambah.
Pada saat lajunya pelan, tumbukan elektron dengan atom hidrogen adalah tumbukan elastis sempurna. Ketika tegangan pemercepat diperbesar, suatu saat energi elektron elektron cukup besar dan diserap oleh elektron orbital untuk bereksitasi. Pada gambar ??? ditunjukkan tingkat energi n = 2 atom hidrogen adalah
-3,4 eV. Hal ini berarti energi minimum yang diperlukan oleh elektron orbital
di aras dasar n = 1 untuk berpindah ke aras n = 2 adalah sebesar 13, 6 3, 4
eV = 10,2 eV. Artinya, elektron bebas dengan energi 10,2 eV dapat mennstransfer energinya kepada elektron orbital hidrogen untuk berpindah dari n = 1 ke
n = 2. Proses ini tidak menghasilkan ionisasi sehingga tidak teramati sebagai
arus plat P. Elektron yang tereksitasi di kulit n = 2 akan kembali ke keadaan
dasarnya n = 1 dengan memancarkan radiasi gelombang elektromagnetik pada
deret Lyman.

Gambar diagram tingkat-tingkat energi atom hidrogen

7.4

Percobaan Franck-Hertz

Tingkattingkat energi sebagaimana dinyatakan pada model atom Bohr dibuktikan


kebenarannya pada tahun 1913 oleh James Franck dan Gustav Hertz yang terkenal dengan nama eksperimen Franck-Hertz yang gambar skema eksperimennya
ditunjukkan pada gambar ??? di bawah ini. Di dalam tabung terdapat tiga buah
elektroda. Yang pertama adalah katoda yang juga sebagai sumber elektron bebas. Di depan katoda dipasang anoda yang memiliki pori-pori dan disebelahnya
terdapat plat kolektor K. Antara katoda dan annoda dipasang sumber tegangan VG yang dapat diatur nilainya. Antara anoda dan plat kolektor dipasang
tegangan sebesar V.
Tabung diisi dengan uap air raksa yang merupakan monoatomik. Gas hidrogen tidak dapat digunakan pada percobaan ini karena bersifat molekul diatomik

7.4. PERCOBAAN FRANCK-HERTZ

85

dengan energi disosiasi 4,5 eV. Jika atom-atom hidrogen ditembaki dengan elektron, maka elektron akan menyerahkan energi geraknya kepada atom hidrogen
untuk bereksitasi ke keadaan energi molekuler dan juga untuk mendissosiasi
molekul.
Pada percobaan efek photolistrik, energi elektron terpental diukur dengan
cara membuat elektron-elektron tersebut bergerak melawan medan listrik, dan
energi elektron terukur sebagai potensial penghenti. Teknik seperti ini digunakan pada eksperimen Franck-Hertz dengan cara memasang plat kolektror K
di belakang anoda. Elektroda K selalu diatur memiliki tegangan sedikit positif,
misalnya 0,5 V, dibandingkan dengan anoda yang dinamakan tegangan pengerem
VP . Tegangan ini berfungsi memperlambat elektron yang berhasil melalui anoda.
Elektron yang berhasil sampai di elektroda K harus melewati anoda dengan energi paling sedikit 0,5 eV. Arus yang berasal dari plat kolektor diukur sebagai
fungsi dari tegangan pemercepat VG pada tegangan pengerem VP konstan.
Elektron bebas dari katoda yang dipanaskan dipercepat oleh tegangan VG
dan melewati anoda. Di daerah antara anoda dan kolektor elektron-elektron ini
menumbuk atom-atom air raksa. Karena antara anoda dan kolektor terdapat
tegangan pengerem, elektron-elektron yang telah berkurang energi geraknya akibat tumbukan tidak elastis dengan atom air raksa tidak mampu melawan tegangan pengerem sehingga bergerak kembali ke anoda. Hasil eksperimen FranckHertz ditunjukkan pada gambar ???.
Hasil eksperimen yang dilakukan oleh Franck dan Hertz ditunjukkan pada
gambar ???. Ketika VG lebih besar daripada VP , arus listrik betambah sebanding
dengan bertambahnya tegangan VG . Pada tegangan VG = 4, 9 V arus I mendadak
berkurang drastis kemudian naik lagi sampai VG sekitar 10 V . Franck dan Hertz
mengintrestasikan hasil eksperimennya sebagai berikut. Ketika elektron memiliki
energi gerak 4,9 eV, mereka mentrasfer energinya kepada atomatom air raksa.
Elektron ini kehilangan energinya sehiingga tidak mampu mencapai elektroka
kolektor. Jika energinya 9,8 eV akan terjadi transfer energi sebanyak dua kali,
begitu seterusnya.

86

CHAPTER 7. MODEL ATOM BOHR


Gambar : (a) Skema eksperimen Franck-Hertz. (b) Fasilitas eksperimen

Franck-Hertz yang tersedia di UPT Laboratorium Pusat MIPA Universitas Sebelas Maret Surakarta. (c) Hasil eksperimen menggunakan eralatan (b).

7.5

Model atom Sommerfeld

Seiring dengan tersedianya spektrometer dengan daya pisah yang lebih baik, teori
atom Bohr menghadapi permasalahan sangat mendasar. Telah disebutkan di atas
bahwa elektron yang bertransisi dari keadaan tereksitas ke keadaan dasar akan
diikuti dengan radiasi gelombang elektromagnetik dengan frekuensi bernilai tunggal, hanya bergatung pada bilangan kuantum utama n. Namun garisgaris spektrum tunggal ini, ternyata bila diamati menggunakan spektroskopi dengan daya
pisah tinggi menunjukkan terdiri atas beberapa garis spektrum Sebagai contoh
garis H pada spektrum hidrogen dengan angka gelombang 1/ = 15.233 cm1 ,
terpisah menjadi beberapa garis dengan selisih angka gelombang 1/ = 0, 33
cm1 . Bahkan pada atom yang lebih kompleks akan teramati garisgaris spektrum
pisahan yang lebih kuat intensitasnya dan lebih lebar selisih angka gelombangnya.
Semakin baik tingkat resolusi spektrometer, semakin banyak multiplet yang teramati. Garisgaris pecahan dari garis spektrum utama dinamakan garis spektrum
halus.
Berdasarkan hasil eksperimen spektrum halus ini, Sommerfeld memperbaiki
model atom Bohr. Menurut Sommerfeld, sebagaimana hukum Kepler pada orbit
planetplanet mengelilingi matahari, elektron mengelilingi atom tidak hanya dengan orbit berbentuk lingkaran saja, namun mungkin juga berbentuk elips. Kedua
bentuk orbit ini tidak mengubah energi elektron. Untuk membedakan bentuk orbit ini, Sommerfeld mengusulkan bilangan kuantum tambahan k. Perlu kiranya
dituliskan di sini bahwa bilangan kuantum k yang diusulkan oleh Sommerfeld
menjadi bilangan kuantum momentum orbital dan diberi simbol l.
Selain itu Sommerfeld menyatakan efek relativistik menyebabkan perubahan
lintasan elektron. Elektron yang mengorbit dengan bilangan kuantum n dan k

7.5. MODEL ATOM SOMMERFELD

87

memiliki energi sebesar


En,k

Z2
= Rhc 2
n

2 Z 2 n 3
1+ 2 ( )+
n
k 4

(7.22)

dimana adalah konstanta struktur halus yang memegang peranan sangat penting, yang nilainya sama dengan kecepatan elektron pada orbit pertama atom
Bohr dibagi dengan kecepatan cahaya di ruang hampa,
=

e2
1
=
20 hc
137

(7.23)

Model atom Bohr-Sommerfeld walaupun dapat menerangkan spektroskopi


atom hidrogen, namun kurang memuaskan ditinjau dari segi Fisika teori. Model
ini mengesampingkan mekanika klasik karena tidak membolehkan elekron mengorbit dengan jarijari sembarangan. Namun, dilain pihak menggunakan mekanika
klasik untuk menghitung jarijari orbit elektron. Bragg mengomentari fenomena
di atas dengan mengatakan On mondays, Wednesdays dan Fridays one uses the
classical laws, on Tuesday, Thursday and Saturdays the laws of quantum physics.
Untuk menjembatani kesenjangan antara teori kuantum dan fisika klasik,
Bohr menyatakan prinsip korespondensi. Sebagai contoh adalah transisi elektron
antara orbit yang berdekatan, yaitu n = 1 tetapi dengan n bernilai besar.
Persamaan Balmer untuk n n adalah


1
1
2
n,n+n = R cZ

n2 (n + n)2
2nR cZ 2

=
n2

(7.24)

atau
4R cZ 2
n,n
=
n3

(7.25)

Sedangkan dari persamaan ??? frekuensi sudut elektron mengelilingi inti


pada orbit ke n adalah
1 Z 2 e4 me 1
(40 )2 ~3 n3
4R cZ 2
=
n3

n = 2 =

(7.26)

88

CHAPTER 7. MODEL ATOM BOHR


Terlihat bahwa untuk bilangan kuantum n bernilai besar, frekuensi sudut

elektron yang dihitung menggunakan mekanika kuantum akan sama nilainya dengan jika dihitung menggunakan mekanika klasik. Perlu kiranya dituliskan di
sini, meskipun teori atom Bohr-Sommerfeld jauh lebih baik, namun tetap tidak
mampu menjelaskan spektrum hidrogen yang diamati menggunakan spektrometer yang memiliki daya pisah sangat tinggi, yaitu spektrum pemecahan sangat
halus (hyperfine splitting). Model ini juga gagal diterapkan untuk atom dengan
dua buah elektron serta tidak bisa menjelaskan sifat magnetik atom..

7.6

Atom Rydberg

Prinsip korespondensi Bohr dapat diterapkan pada atom Rydberg, yaitu atom
yang sebuah elektronnya tereksitasi ke level yang sangat tinggi, n 100. Atom
seperti ini dapat ditemui di ruang antar galaksi dan dapat memiliki elektron yang
berada pada orbit n sampai dengan 350. Selain itu atom Rydberg dapat dibuat
di laboratorium dengan cara menyinari berkas uap atom dengan sinar laser dan
dilewatkan pada medan listrik. Atom ini dapat diupayakan memiliki elektron
berada pada orbit n sampai dengan 100. Oleh karena jarijari orbit elektron
sebanding dengan n2 , maka jarijari atom Rydberg sangat besar, bahkan ada yang
memiliki diameter 102 mm. Kalau elektron pada atom biasa dapat berada pada
tingkat eksitasi selama sekitar 108 detik, maka lama elektron pada Rydberg
dapat berada pada tingkat eksitasi adalah sekitar 1 detik, selang waktu yang
relatif lama untuk diamati. Elektron Rydberg yang deeksitasi sebesar 1 tingkat
akan memancarkan photon yang berada di daerah spektrum elektromagnetik infra
merah, jauh atau gelombang mikro. Atom Rydberg pertama kali ditemukan
berada di ruang antar galaksi pada tahun 1965 oleh astronom.