Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Diare merupakan penyebab utama kematian anak di negara
berkembang. Menurut Kosek et al, 2003, dikutip dalam Li et al, 2007,
disebutkan bahwa di seluruh dunia, anak-anak dibawah usia 5 tahun
mengalami kira-kira 3 kali kasus diare dan 1,6 2,5 juta anak dibawah
usia 5 tahun meninggal tiap tahunnya akibat diare, sebagaimana
diperkirakan dalam sebuah penelitian pada tahun 1992 dan 2000. Pada
tahun 2004, the United World Tourism Organization memperkirakan
bahwa sekitar 170 juta wisatawan yang mengunjungi negara-negara
berkembang dan daerah tropis seperti Amerika Latin, kepulauan Karibia,
Timur Tengah, Asia Selatan dan Asia Tenggara, serta Afrika dan sedikitnya
20%, atau 34 juta dari wisatawan yang tiba berasal dari negara-negara
industri di dunia (Diemert, 2006). Cobelens et al, 1998, dalam Li, 2007
menyebutkan daerah dengan risiko tertinggi termasuk di dalamnya negaranegara berkembang seperti Amerika Latin, Afrika, Asia dan sebagian
Timur Tengah dilaporkan sebanyak 20 75% kasus travellers diarrhea.
Black, 1990, dikutip dalam Li, 2007 juga menyebutkan daerah dengan
risiko menengah termasuk di dalamnya Cina, negara-negara Eropa, Israel,
Afrika Selatan, Rusia, dan beberapa negara di kepulauan Karibia
dilaporkan sebanyak 8 20% kasus travellers diarrhea. Sedangkan
1

daerah dengan risiko rendah termasuk di dalamnya Kanada, Amerika


Serikat, Australia, New Zealand, Jepang, negara-negara Eropa utara, dan
beberapa negara kepulauan Karibia.
Berdasarkan data Riskesdas 2013, di Indonesia, lima provinsi
dengan insiden dan periode prevalensi diare tertinggi adalah Papua (6,3%
dan 14,7%), Sulawesi Selatan (5,2% dan 10,2%), Aceh (5,0% dan 9,3%),
Sulawesi Barat (4,7% dan 10,1%), dan Sulawesi Tengah (4,4% dan 8,8%).
Insiden diare balita di Indonesia 6,7 persen. Lima provinsi dengan insiden
diare tertinggi adalah Aceh (10,2%), Papua (9,6%), DKI Jakarta (8,9%),
Sulawesi Selatan (8,1%), dan Banten (8,0%)
Tujuan pengobatan yang utama pada diare adalah mencegah
dehidrasi dan mengurangi durasi serta tingkat keparahan diare. Regimen
terapi direkomendasikan adalah rehidrasi oral, sebab cukup efektif dalam
meringankan dehidrasi (Faure, 2013). Salah satu obat diare yang biasa
digunakan dalam terapi diare adalah golongan Antisecretory dan
Antimotility (terdiri dari opioid dan derivatnya, Alpha 2 agonis misalnya
klonidine dan somatostatin.
Loperamide digunakan sebagai terapi medikamentosa untuk diare
(Li et al, 2007) maupun diare kronik yang berhubungan dengan IBS, IBD,
hipertiroid, insufisiensi pankreas, malabsorpsi usus halus (Lee, 2015),
diabetes neuropatik (Fisher et al, 2015), travellers diarrhea (Diemert,
2006),

maupun

chemotherapy-related

diarrhea

(Hanauer,

2007).

Walaupun loperamide umumnya digunakan sebagai terapi diare akut pada


orang dewasa, World Health Organization (WHO) dan American Academy

of Pediatrics mempertimbangkan penggunaannya pada anak-anak


disebabkan oleh efikasi dan keamanan dari obat ini (Li et al, 2007).
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu loperamide ditinjau dari segi farmakologi?
2. Bagaimana penggunaan loperamide sebagai antidiare?
C. Tujuan
1. Mengetahui lebih lanjut mengenai loperamide ditinjau dari segi
farmakologi.
2. Mengetahui lebih lanjut mengenai penggunaan loperamide sebagai
antidiare.
D. Manfaat
1. Manfaat bagi peneliti
a. Untuk menambah pengetahuan mengenai loperamide ditinjau dari
berbagai aspek
b. Untuk memenuhi tugas Farmakologi 3 sebagai salah satu penilaian
bagi mahasiswa.
2. Manfaat bagi pengembangan ilmu
Dapat digunakan sebagai rekomendasi dalam penulisan makalah pada
kesempatan lain, khususnya mengenai loperamide.

BAB II
FARMASI FARMAKOLOGI
A. Sifat Fisiko kimia dan rumus kimia obat (Depkes RI, 1995)

Loperamida hydrochloridum memiliki rumus kimia yaitu 4-(p-klorofenil)4-hidroksi-N,N- dimetil-,-difenil-1-piperidina butiramida monohidroklorida
atau dapat ditulis C29H33ClN2O2.HCl
Loperamida hidroklorida mengandung tidak kurang dari 98,0% dan tidak
lebih dari 102,0%

C29H33ClN2O2.HCl, dihitung terhadap zat yang telah

dikeringkan.
Pemberian: serbuk putih sampai agak kuning; melebur pada suhu lebih kurang
2250 disertai peruraian.
Kelarutan: mudah larut dalam metanol, dalam isopropil alkohol dan dalam
kloroform; sukar larut dalam air dan dalam asam encer.
Baku pembanding Loperamida Hidroklorida BPFI: lakukan pengeringan
dalam hampa udara pada suhu 800 selama 4 jam sebelum digunakan.
Identifikasi:
1. Spektrum serapan inframerah zat yang telah dikeringkan dan
didispersikan dalam kalium bromida P, menunjukkan maksimum
hanya pada panjang gelombang yang sama seperti pada Loperamida
Hidroklorida BPFI.
2. Timbang seksama lebih kurang 40 mg zat, masukkan ke dalam labu
tentukur 100 ml, larutkan dalam lebih kurang 50 ml isopropil alkohol
P, tambahkan 10 ml asam klorida O,1 N, encerkan dengan isopropil
alkohol P sampai tanda, campur. Spektrum serapan ultraviolet larutan
ini pada panjang gelombang antara 250 nm dan 300 nm,
menunjukkan maksimum dan minimum pada panjang gelombang
yang sama seperti pada Loperamida Hidroklorida BPFI.
Susut pengeringan: Tidak lebih dari 0,5%; lakukan pengeringan dalam hampa
udara pada suhu 800 selama 4 jam

Sisa Pemijaran: Tidak lebih dari 0,2%


Kandungan klorida: Antara 13,52% dan 14,20%. Timbang saksama lebih
kurang 13 mg zat, lakukan penetapan seperti tertera pada Pembakaran dengan
Labu Oksigen, menggunakan campuran 10 ml natrium hidroksida 0,02 N dan 2
tetes hidrogen peroksida P 30% sebagai larutan penyerap. Jika pembakaran
telah sempurna dan gas hasil pembakaran telah terserap, cuci tutup, tempat
contoh dan dinding bagian dalam labu dengan 50 ml isopropil alkohol P.
Tambahkan 4 ml asam nitrat 0,1 N dan titrasi dengan raksa(II) nitrat 0,01 N
LV menggunakan indikator difenilkarbazon LP.
Tiap ml raksa(II) nitrat 0,01 N setara dengan 0,3545 mg klor
Logam berat: Tidak lebih dari 20 bpj.
Kemurnian kromatografi Lakukan penetapan dengan cara Kromatografi lapis
tipis seperti tertera pada Kromatografi.
Fase gerak Campuran kloroform P-metanol P-asam format P (85:10:5).
Larutan baku Timbang saksama sejumlah Loperamida Hidroklorida BPFI,
larutkan dalam kloroform P hingga kadar 10 mg per ml.
Larutan uji Timbang saksama sejumlah zat, larutkan dalam kloroform P
hingga kadar 10 mg per ml.
Prosedur Totolkan secara terpisah masing-masing 10l Larutan uji dan
Larutan baku pada lempeng kromatografi silika gel P setebal 0,25 mm, biarkan
bercak kering. Masukkan lempeng ke dalam bejana kromatografi berisi Fase
gerak, biarkan merambat tiga per empat tinggi lempeng. Angkat lempeng, beri
tanda batas, biarkan kering di udara. Uapi lempeng dengan uap iodium. Harga Rf

warna dan intensitas bercak Larutan uji sesuai dengan bercak Larutan baku, dan
tidak terdapat bercak lain.
Penetapan kadar
Asam asetat netral Larutkan 10 mg -naftolbenzeina P dalam 100 ml
asam asetat glasial P, dan titrasi dengan asam perkorat 0,1 N LV hingga terjadi
warna hijau, volume titran dapat diabaikan.
Prosedur Timbang saksama lebih kurang 375 mg zat, larutkan dalam 25
ml Asam asetat netral dan tambahkan 10 ml larutan raksa(II) asetat P (dibuat
dengan melarutkan 1 g raksa(II) asetat P dalam 33 ml Asam asetat netral). Titrasi
dengan asam perklorat 0,1 N LV hingga terjadi warna hijau yang sama seperti
warna asam asetat netral.
Tiap ml asam perklorat 0,1 N setara dengan 51,35 C29H33ClN2O2.HCl
Wadah dan penyimpanan: dalam wadah tertutup baik.
Sediaan loperamide yang tersedia di pasaran ada dua macam, yakni kapsul
loperamide hidroklorida dan tablet loperamide hidroklorida (Depkes RI, 1995).
1. Kapsul loperamide hidroklorida
Kapsul Loperamida Hidroklorida mengandung loperamida hidroklorida,
C29H33ClN2O2.HCl, tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0% dari
jumlah yang tertera pada etiket. Tidak boleh dikeringkan, simpan dalam
wadah tertutup rapat dan terlindung cahaya.
Kelarutan

: mudah larut dalam metanol, dalam isopropil alkohol


dan dalam kloroform; sukar larut dalam air dan dalam
asam encer.

Endotoksin bakteri : tidak lebih dari 0,25 unit Endotoksin Farmakope


Sterilitas
pH

Indonesia (FI) per mg


: memenuhi syarat
: 4,700,05

2. Tablet loperamide hidroklorida


Tablet Loperamide Hidroklorida mengandung loperamide hidroklorida,
C29H33ClN2O2.HCl, tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0% dari
jumlah yang tertera pada etiket. Tidak boleh dikeringkan, simpan dalam
wadah tertutup rapat dan terlindung cahaya.
pH
: 4,70 0,05
Endotoksin bakteri
: tidak lebih dari 0,25 unit Endotoksin FI per mg
Wadah dan penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik, tidak tembus

cahaya.
B. Farmakologi Umum
Loperamide merupakan derivat opioid, efeknya terhadap motilitas saluran
cerna dan transpor air serta elektrolit sama seperti morfin. Potensi loperamide
2n- 3 kali difenoksilat, mula kerja lebih cepat dan lama kerja lebih panjang.
Obat ini tidak mempunyai efek analgetik. Pada pemberian oral obat ini di
biotransformasi di saluran cerna dan diekskresi kembali ke saluran cerna,
hanya kurang lebih 7% yang diekskresi melalui urin (Azalia Arif, 2014).
Loperamide merupakan turunan phenylpiridine dengan struktur kimia
yang mirip dengan agonis reseptor opiat seperti diphenoxylate. Loperamide
sebagai antidiare bekerja dengan beberapa mekanisme yang berbeda, yaitu
mengurangi peristaltik dan sekresi cairan (Baker, 2007) serta meningkatkan
penyerapan cairan dan elektrolit dari saluran pencernaan (Baldi et al, 2009).
C. Farmakodinamik
Loperamide adalah obat oral-aktif yang mengurangi motilitas
gastrointestinal pada hewan dan manusia. Dalam studi pada organ terisolasi

loperamide menyebabkan pengurangan dosis terkait aktivitas tekanan yang


disebabkan dari otot longitudinal dan melingkar di ileum dan menghambat efek
spasmogenik dari stimulasi listrik, nikotin dan prostaglandin. Loperamide lebih
poten dari difenoksilat, kodein atau morfin dengan memperlambat proses
pencernaan. Dosis oral (2,5 sampai 40mg/kg) untuk dosis antidiare selama
beberapa kali, tidak seperti difenoksilat loperamide tidak menghasilkan efek
seperti narkotik. Intravena (0.1mg/kg) atau dosis subkutan (40 sampai
240mg/kg). Seperti difenoksilat, loperamide tidak memiliki aktivitas analgesik.
Loperamide memiliki efek konstipasi pada studi farmakodinamik yang
dilakukan pada orang sehat (Baldi et al, 2009).
D. Farmakokinetik
Metformin oral akan mengalami absorpsi di intestin, dalam darah terikat
protein plasma, ekskresinya melalui urin dalam keadaan utuh. Masa
paruhnya sekitar 2 jam.
1. Absorbsi
Bioavailabilitas : 50-60%
Waktu puncak plasma: 2-3 jam(regular-release); 4-8 jam (extended release)
2. Distribusi
Ikatan protein : minimal
Vd: 650 L (regular-release)
3. Metabolisme
Tidak dimetabolisme di liver
4. Ekskresi
Umumnya dieksresi melalui urin
Waktu paruh eliminasi : 4-9 jam

E. Efek Samping dan Terapi

Efek samping loperamide umumnya ringan, misalnya sembelit, nyeri


perut, kembung, mual, muntah, pusing, mulut kering dan timbulnya ruam kulit.
Pada manusia, ketergantungan fisik terhadap obat ini belum pernah terjadi.
Depresi SSP akibat keracunan loperamide dapat di atasi dengan nalokson,
suatu antagonis narkotik. (Gan,1980)
Loperamide telah dikaitkan dengan ileus paralitik, terutama pada bayi dan
anak-anak, dan kematian telah dilaporkan. Depresi SSP, yang anak-anak atau
orang-orang dengan gangguan hati mungkin lebih sensitif, dapat dilihat di
overdosis; sembelit dan retensi urin juga terjadi. Nalokson hidroklorida telah
direkomendasikan untuk pengobatan overdisage parah (Sweetman, 2009).
F. Toksisitas

dr. Akhmad Ardi

NSIP : terjadi
004 / IP.DU
/ 2014
Megakolon toksik dapat
setelah
penggunaan loperamide. Efek yang
jl. Dukuh Kupang Barat I no. 218

parah dilaporkan pada anak-anak telah dimasukkan hilangnya kesadaran dan


No. telp: (031) 5655 7634

delirium. Beberapa kasus ileus paralitik juga terjadi pada anak-anak beberapa
Jam praktek: 16.00 20.00

di antaranya berakibat fatal (Sweetman,


2009). 30 Desember 2015
Surabaya,

R/ Tab Imodium

10 mg No. II

S 1 dd tab II
Pro: Tn. Indra (40 th)
Alamat: jl. Dukuh kupang timur XII no. 3
G. Contoh penulisan resep

SUBSCRIPTIO

10

BAB III
PEMBAHASAN
A. Definisi Diare
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau
setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya
lebih dari 200 g atau 200 ml/24 jam.Definisi lain memakai kriteria frekuensi,
yaitu buang air besar encer lebih dari 3 kali per hari. Buang air besar encer
tersebut dapat/tanpa disertai lendir dan darah (Zein, 2004).
Diare terbagi menjadi diare Akut dan Kronik (Sutadi, 2003). Diare akut
adalah diare yang onset gejalanya tiba-tiba dan berlangsung kurang dari 14
hari, sedang diare kronik yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari. Diare
dapat disebabkan infeksi maupun non infeksi. Dari penyebab diare yang
terbanyak adalah diare infeksi. Diare infeksi dapat disebabkan Virus, Bakteri,
dan Parasit (Zein, 2004).

11

Beberapa hal yang dapat menebabkan diare adalah (1) Menurunnya


absorbsi normal larutan dalam air, (2) Meningkatnya sekresi elektrolit kedalam
lumen intestinal, (3) Adanya absorbsi yang buruk secara osmosis larutan aktif
di lumen usus, (4) Meningkatnya motilitas intestinal, (5) Penyakit Inflamasi
yang menghasilkan darah, pus dan mucus (Sutadi, 2003).

B. Patofisiologi diare
Diare akut infeksi diklasifikasikan secara klinis dan patofisiologis
menjadi diare non inflamasi dan diare inflamasi. Diare Inflamasi disebabkan
invasi bakteri dan sitotoksin di kolon dengan manifestasi sindroma disentri
dengan diare yang disertai lendir dan darah. Gejala klinis yang menyertai
keluhan abdomen seperti mulas sampai nyeri seperti kolik, mual, muntah,
demam, tenesmus, serta gejala dan tanda dehidrasi. Pada pemeriksaan tinja
rutin secara makroskopis ditemukan lendir dan/atau darah, serta mikroskopis
didapati sel leukosit polimorfonuclear (Zein, 2004).
Pada diare non inflamasi, diare disebabkan oleh enterotoksin yang
mengakibatkan diare cair dengan volume yang besar tanpa lendir dan darah.
Keluhan abdomen biasanya minimal atau tidak ada sama sekali, namun gejala
dan tanda dehidrasi cepat timbul, terutama pada kasus yang tidak mendapat
cairan pengganti. Pada pemeriksaan tinja secara rutin tidak ditemukan leukosit.
Mekanisme terjadinya diare yang akut maupun yang kronik dapat dibagi
12

menjadi kelompok osmotik, sekretorik, eksudatif dan gangguan motilitas (Zein,


2004).
Diare osmotik terjadi bila ada bahan yang tidak dapat diserap
meningkatkan osmolaritas dalam lumen yang menarik air dari plasma sehingga
terjadi diare. Contohnya adalah malabsorbsi karbohidrat akibat defisiensi
laktase atau akibat garam magnesium. Diare sekretorik bila terjadi gangguan
transport elektrolit baik absorbsi yang berkurang ataupun sekresi yang
meningkat. Hal ini dapat terjadi akibat toksin yang dikeluarkan bakteri
misalnya toksin kolera atau pengaruh garam empedu, asam lemak rantai
pendek, atau laksantif non osmotik. Beberapa hormon intestinal seperti gastrin
vasoactive intestinal polypeptide (VIP) juga dapat menyebabkan diare
sekretorik. Diare eksudatif, inflamasi akan mengakibatkan kerusakan mukosa
baik usus halus maupun usus besar. Inflamasi dan eksudasi dapat terjadi akibat
infeksi bakteri atau bersifat non infeksi seperti gluten sensitive enteropathy,
inflamatory bowel disease (IBD) atau akibat radiasi (Zein, 2004).
Kelompok lain adalah akibat gangguan motilitas yang mengakibatkan
waktu transit usus menjadi lebih cepat. Hal ini terjadi pada keadaan
tirotoksikosis, irritable bowel syndrome atau diabetes melitus. Diare dapat
terjadi akibat lebih dari satu mekanisme. Pada infeksi bakteri paling tidak ada
dua mekanisme yang bekerja peningkatan sekresi usus dan penurunan absorbsi
di usus. Infeksi bakteri menyebabkan inflamasi dan mengeluarkan toksin yang
menyebabkan terjadinya diare. Infeksi bakteri yang invasif mengakibatkan
perdarahan atau adanya leukosit dalam feses. Pada dasarnya mekanisme
13

terjadinya diare akibat kuman enteropatogen meliputi penempelan bakteri pada


sel epitel dengan atau tanpa kerusakan mukosa, invasi mukosa, dan produksi
enterotoksin atau sitotoksin. Satu bakteri dapat menggunakan satu atau lebih
mekanisme tersebut untuk dapat mengatasi pertahanan mukosa usus (Zein,
2004).

C. Definisi Loperamide
Loperamide adalah suatu obat antidiare yang kuat, spesifik, tanpa
mempengaruhi susunan saraf pusat dan memiliki masa kerja yang lama
(Lukmanto, 1986). Loperamide merupakan golongan opiate dan turunannya
yang paling efektif untuk menekan motilitas usus pada diare dalam keadaan
tertentu (Anwar, 2000).
Loperamide adalah agonis reseptor opioid yang potent. Meskipun
diserap dengan baik dari saluran pencernaan, loperamide hampir sepenuhnya
diambil dan dimetabolisme oleh sitokrom P450 di hati (terutama CYP3A4) di
mana ia terkonjugasi, dan konjugat diekskresikan dalam empedu. Karena itu,
hanya sedikit loperamide yang mencapai sirkulasi sistemik (Regnard, 2011).
Loperamide juga memodifikasi transport air dan elektrolit pada usus
dengan merangsang terjadinya absorbsi dan antisekresi yang dimediasi oleh
antagonis kalmodulin, efek yang tidak dimiliki oleh opioid lainnya. Secara
berlawanan, loperamide mengurangi penyerapan natrium tergantung dari
glukosa dan nutrisi lain dari usus kecil (Regnard, 2011).
14

D. Indikasi Pemberian Loperamide


Loperamide mempunyai struktur kimia yang mirip difenoksilat dan
meperidin. Obat ini di indikasikan untuk diare akut nonspesifik dan diare
kronik yang disebabkan karena radang pada usus. Efektifitasnya untuk
menghentikan diare sebanding dengan difenoksilat (Gan, 1980).
Loperamide di indikasikan untuk penderita berumur 12 tahun keatas.
Efektivitas dan bahayanya untuk anak belum jelas diketahui. Dalam
pengobatan diare, pemberian cairan, elektrolit dan terapi spesifik merupakan
hal terpenting. Untuk diare kronik, dosis awal ialah 4 mg, lalu diberikan 2 mg
setiap kali terjadi diare seperti pada diare akut. Bila diare telah dapat
dikendalikan, selanjutnya diberikan dosis penunjang 4 8 mg sehari yang
boleh diberikan dosis penunjang 4 8 mg sehari yang boleh diberikan sebagai
dosis tunggal maupun terbagi. Bila dengan dosis 16 mg sehari selama 10 hari
tidak ada perbaikan klinis, maka tak ada gunanya melanjutkan terapi (Gan,
1980).
Loperamide digunakan untuk pengobatan simptomatik diare akut yang
tidak spesifik maupun diare kronik yang ada hubunganya dengan penyakit
radang usus (Lukmanto,1986). Dapat digunakan untuk perawatan infectious
diarrhea tanpa disentri, namun harus sesuai dengan saran dokter (Lee, 2015).
E. Kontra Indikasi Loperamide
Loperamide

tidak boleh dipakai pada keadaan keadaan dimana

konstipasi tidak dikehendaki ( Lukmanto,1986). Tidak dianjurkan jika dicurigai


15

terdapat kondisi peradangan pada saluran cerna (terdapat darah pada feses,
disentri, atau kolitis akut) (Lee, 2015).
F. Mekanisme Kerja
Loperamide menghambat pelepasan asetilkolin melalui aktivasi reseptor ,
hasilnya

menurunkan

aktivitas

peristaltik.

Selanjutnya,

penghambatan

pelepasan asetilkolin oleh loperamide menyebabkan aktivitas antisekretori,


karena reseptor antimuskarinik asetilkolin keluar dari sel-sel eptelial sekretori
pada dinding saluran pencernaan (Lee, 2015). Loperamide memperlambat
motilitas saluran cerna dan mempengaruhi pergerakan air dan elektrolit di usus
besar. Pada manusia, Loperamide memperpanjang waktu transit isi saluran
cerna (Ansel, 2005). Oleh sebab itu, loperamide mengurangi kehilangan cairan
dan elektrolit, menurunkan volume fecal, dan meningkatkan konsistensi feses.
(Lee, 2015)
G. Dosis Pemberian Loperamide :
Loperamide merupakan turunan sintetis dari petidin yang menghambat
motilitas usus dan juga dapat mengurangi sekresi gastrointestinal. Hal ini
diberikan secara oral sebagai obat antidiare sebagai tambahan dalam
pengelolaan diare akut dan kronis dan juga dapat digunakan dalam pengelolaan
kolostomi atau ileostomi untuk mengurangi volume debit.
Pada diare akut dosis awal yang biasa digunakan untuk orang dewasa
adalah loperamide hidroklorida 4 mg diikuti 2 mg setelah tiap kali terjadi
diare.dengan maksimum 16 mg sehari; dosis harian yang biasa adalah 6 8
16

mg. di Inggris, tidak tidak diizinkan untuk anak-anak adalah: 4 8 tahun, 1 mg


tiga atau empat kali sehari selama hingga 3 hari; 9 sampai 12 tahun, 2 mg
empat kali sehari hingga 5 hari. di Amerika Serikat, loperamide tidak
dianjurkan untuk anak-anak di bawah usia 2 tahun dan dosis awal 1 mg tiga
kali sehari disarankan untuk anak usia 2 sampai 5 tahun. (Sweetman, 2009)
Pada diare kronik dosis awal yang biasa untuk orang dewasa adalah 4
8 mg sehari dalam dosis terbagi akan disesuaikan seperlunya; dosis tidak boleh
melebihi16 mg sehari. Jika tidak ada perbaikan yang terlihat setelah
pengobatan dengan 16 mg sehari selama setidaknya 10 hari, penggunaan lebih
lanjut tidak bermanfaat. Walaupun tidak diizinkan untuk digunakan pada anakanak untuk diare kronis, di Inggris BNFC memungkinkan untuk dosis oral
loperamide hidroklorida sebagai berikut: (Sweetman, 2009)
1. 1 bulan 1 tahun: 100 200 mikrogram/kg dua kali sehari,
diberikan 30 menit sebelum makan; 2 mg maksimal/kg perhari
dalam dosis terbagi sesuai yang diperlukan.
2. 12 18 tahun: 100 200 mikrogram/kg (dosis maksimum 2 mg) 3
4 kali sehari; diatas 1,25 mg/kg sehari dosis dibagi sesuai yang
diperlukan, maksimal 16 mg sehari.
3. 12 18 tahun: 2 4 mg dua sampai empat dalam kali sehari,
maksimal 16 mg sehari.
H. Interaksi Loperamide

17

Interaksi loperamide dengan obat obat yang menekan susunan saraf


pusat (seperti barbiturat, alkohol, anestetika umum) dapat menghasilkan efek
sedasi yang hebat.( Anwar, 2000)
Inhibitor CYP3A4 (misalnya erythromycin, flukonazol, ketokonazol,
quinidine, ritonavir) dapat meningkatkan konsentrasi plasma loperamide
(Regnard, 2011).
Loperamide

dapat

meningkatkan

penyerapan

gastrointestinal

desmopressin.
1. Antijamur.
Penelitian farmakokinetik di 12 subyek sehat menemukan bahwa
itraconazole meningkatkan puncak konsentrasi plasma secara signifikan
dan area di bawah kurva waktu konsentrasi loperamide, dan juga
memperpanjang waktu paruh loperamide. itrakonazol juga menghambat
metabolisme loperamide menjadi N-desmethylloperamide, menunjukkan
bahwa metabolisme loperamide pada manusia sepakat dengan data in vitro.
Penggunaan itrakonazol dengan gemfibrozil sinergis meningkatkan
paparan loperamide. (Niemi, 2006)
2. Antivirus.
Dalam studi dosis tunggal, ritonavir oral secara signifikan
meningkatkan

bioavailabilitas

loperamide.

mungkin

melalui

penghambatan sitokrom P450 isoenzim CYP3A4, dan belum tentu sebagai

18

awalnya seharusnya melalui penghambatan glikoprotein P. Tidak ada efek


samping yang serius terjadi. (Tayrouz, 2001)
3. Obat Kardiovaskular
Penelitian farmakokinetik di 12 subyek sehat menemukan bahwa
gemfibrozil meningkatkan puncak konsentrasi plasma secara signifikan
dan area di bawah kurva waktu konsentrasi loperamide, dan juga
memperpanjang waktu paruh loperamide. Gemfibrozil juga menghambat
metabolisme loperamide menjadi N-desmethylloperamide, menunjukkan
bahwa metabolisme loperamide pada manusia sepakat dengan data in vitro.
Penggunaan gemfibrozil dengan itrakonazol sinergis meningkatkan
paparan loperamide. (Niemi, 2006)
4. Co-trimoxazole.
Penggunaan

bersama

Co-trimoxazole

meningkatkan

bioavailabilitas loperamide yaitu dengan menghambat metabolisme lintas


pertama. (Kamali, 1996)
5. Quinidine
Sebuah penelitian kecil menemukan bahwa pemberian quinidine
dengan loperamide menyebabkan depresi pernafasan pada 8 orang coba
yang sehat. Ketika diberi placebo, loperamide tidak menimbulkan depresi
pernafasan. Penulis menduga bahwa penghambatan P glikoprotein oleh
quinidine meningkatkan masuknya loperamide ke SSP. (Sadeque, 2000)

19

I. Resistensi Loperamide
Khasiat antidiare loperamide disebabkan oleh efek langsung obat ini pada
otot sirkuler dan longitudinal dinding usus yang memperlambat peristaltik.
Oleh karena diare merupakan penyakit yang dapat disebabkan berbagai faktor
maka etiologinya harus ditetapkan terlebih dahulu. Diare yang disebabkan
kuman-kuman yang menembus masuk ke dalam mukosa usus seperti
Salmonella, Shigella dan beberapa strain E. coli mungkin berlangsung lebih
lama bila diobati dengan loperamide karena terjadi resistensi kuman dalam
lumen usus. Loperamide juga tidak dapat digunakan untuk mengobati colitis
pseudomembran yang disebabkan pemakaian antibiotika karena obat ini dapat
menimbulkan megakolon toksik. (Gan, 1980)
J. Peringatan
Loperamide harus dihindari efek hambatan terhadap peristaltik pada
beberapa penderita, khususnya pada penderita konstipasi atau ileus, dan harus
dihindari pada pasien dengan distensi abdomen, penyakit radang usus akut,
atau colitis yang berhubungan dengan antibiotik. Loperamide tidak boleh
digunakan sendiri pada pasien dengan disentri. (Sweetman, 2009)
Loperamide harus digunakan dengan hati-hati pada pasien dengan
kerusakan hati karena sifatnya yang melalui metabolisme lintas pertama di hati.
Hal ini juga harus digunakan dengan hati-hati pada anak-anak karena
variabilitas respon yang lebih besar dalam kelompok usia ini sehingga tidak
dianjurkan pula untuk digunakan pada bayi. (Sweetman, 2009)

20

Pada ibu menyusui loperamide didistribusikan ke dalam ASI dalam jumlah


sedikit. The American Academy of Pediatrics memberikan keterangan bahwa
tidak ada laporan dari efek klinis pada bayi terkait dengan penggunaan
loperamide oleh ibu menyusui, dan bahwa oleh karena itu dapat dianggap
biasanya sesuai dengan ibu menyusui. (Sweetman, 2009)

BAB IV
KESIMPULAN
Loperamide merupakan suatu obat antidiare yang kuat, spesifik, tanpa
mempengaruhi susunan saraf pusat dan memiliki masa kerja yang lama.
Loperamide merupakan salah satu derivat opioid, yakni turunan dari
phenylpiridine dengan struktur kimia yang mirip dengan agonis reseptor opiate
seperti diphenoxylate.
Yang perlu diperhatikan dalam pemberian loperamide yaitu tidak
dianjurkan untuk anak-anak di bawah usia 2 tahun, loperamide di indikasikan
untuk penderita berumur 12 tahun keatas. Indikasi penggunaan loperamide untuk
diare akut nonspesifik dan diare kronik yang disebabkan karena radang pada usus.
Kontraindikasi tidak boleh dipakai pada keadaan-keadaan dimana konstipasi tidak
dikehendaki seperti pada pasien dengan distensi abdomen radang usu akut, atau
colitis yang berhubungan dengan antibiotic, digunakan sendiri pada pasien
disentri, dan bayi. Dosis oral (2,5 sampai 4,0 mg/kg), dosis intravena (0,1 mg/kg),
dan dosis subkutan (40 sampai 240 mg/kg). loperamide tidak menghasilkan efek

21

seperti narkotik, tidak memiliki aktivitas analgesik, dan memiliki efek konstipasi
pada studi farmakodinamik yang dilakukan pada orang sehat.
Loperamide dimetabolisme di hati dan eksresi dalam bentuk feses melalui
empedu sebagai konjugat tidak aktif dan ada sedikit eksresi dalam bentuk urin.
Efek samping umumnya ringan. Toksisitas berupa megakolon toksik dapat terjadi,
pada anak-anak dilaporkan adanya hilang kesadaran, delirium, serta ileus
paralitik. Di sisi lain loperamide dapat juga digunakan untuk hewan sebagaimana
fungsinya.

22

Daftar pustaka

Anwar, Jazanul. 2000. Farmakologi dan Terapi : obat obat saluran cerna.
Jakarta: Penerbit Hipokrates.
Baker DE. 2007. Loperamide: A Pharmacological Review. Rev Gastroenterol
Disord. College of Pharmacy, Washington State University Spokane,
Washington, USA. Suppl 3: S11-8
Baldi F, Bianco M. A., Nardone G., Pilotto A., dan Zamparo. 2009. Focus on
Acute Diarrheal Disease. World J Gastroenterol. 15 (27): 3341 3348
Ciesla WP, Guerrant RL. 2003. Infectious Diarrhea. In: Wilson WR, Drew WL,
Henry NK, et al editors. Current Diagnosis and Treatment in Infectious
Disease. New York: Lange Medical Books, 225 - 68.
Departemen Kesehatan. Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan,1995.
Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan
Diemert, David J. 2006. Prevntion and Self-Treatment of Travellers Diarrhea.
Clinical Microbiology Reviews, July 2006, p. 583 594
Faure C. 2013. Role of Antidiarrheal Drugs as Adjunctive Therapies for Acute
Diarrhea in Children. International Journal of Pediatrics volume 2013
(2013), Article ID 612403, 14 pages
http://dx.doi.org/10.1155/2013/612403
Fisher, Miles, Debbie T., Gerry M.. 2015. Loperamide. Practical Diabetes Vol. 32
No. 1 page 33

23

Gan, Sulistia. 1980. Farmakologi dan Terapi edisi 2. Jakarta: Bagian Farmakologi
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.
Hanauer SB. 2008. The Role of Loperamide in Gastrointestinal Disorders. Rev
Gastroenterol Disord. 8(1):15-20
Ikatan Apoteker Indonesia, 2011. Informasi Spesialite Obat Indonesia Volume 46.
Jakarta: Penerbitan PT ISFI
Lee, Kwang Jae. 2015. Pharmacologic Agents for Chronic Diarrhea. Journal
Intestinal Research Korean Association for the Study of Intestinal Disease
Vol
13
No.
4
page
306-312
august
31,
2015
http://irjournal.org/journal/download_pdf.php?
spage=306&volume=13&number=4, Diakses pada: 16 Desember 2015
Li, Su-Ting T., david C. Grossman, Peter Cummings. 2007. Loperamide Therapy
for Acute Diarrhea in Children: Systematic Review and Meta-Analysis.
PLoS Medicine 4 (3): e98.
Lukmanto, Henny. 1986. IPI Informasi Akurat Produk Farmasi di Indonesia edisi
2. Jakarta : EGC Penerbit Buku Kedokteran.
Regnard, Claud. 2011. Therapeutic Reviews Loperamide. Journal of Pain and
Symptom

Management

Vol.

42

No.

August

2011,

http://www.jpsmjournal.com/article/S0885-3924%2811%2900263-6/pdf,
Diakses pada : 14 Desember 2015.
Sadeque AJM, et al. 2000.

Increased Drug Delivery to the Brain by P

Glycoprotein Inhibition. Clin Pharmacol Ther;68:231-7.


Soewondo ES. 2002. Penatalaksanaan diare akut akibat infeksi (Infectious
Diarrhoea). Dalam : Suharto, Hadi U, Nasronudin, editor. Seri Penyakit Tropik
Infeksi Perkembangan Terkini Dalam Pengelolaan Beberapa penyakit Tropik
Infeksi. Surabaya : Airlangga University Press, 34 40.
Sutadi, Sri Maryani. 2003. Diare Kronik.
Penyakit

Dalam

Universitas

Fakultas Kedokteran Bagian Ilmu

Sumatera

24

Utara

digital

library,

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3391/1/penydalamsrimaryani2.pdf, Diakses pada :17 Desember 2015.


Sweetman, Sean. 2009. Martindale The Complete Drug Reference. [Online].
Pharmaceutical

Press

Thirty-sixth

edition.

Tersedia

di:

https://drive.google.com/file/d/0B_N0Cgo7j2JlN3R6Y3BOVVVSNzA/view?
usp=docslist_api. [Diakses pada: 18 Desember 2015].
Zein, Umar. 2004. Diare Akut Disebabkan Bakteri. Fakultas Kedokteran Divisi
Penyakit Tropik dan Infeksi Bagian Ilmu Penyakit Dalam Universitas
Sumatera

Utara

e-USU

Repository,

http://library.usu.ac.id/download/fk/penydalam-umar5.pdf, Diakses pada :17


Desember 2015.

25