Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kita mengetahui bahwa dalam era globalisasi ini banyak pemuda-pemudi yang
sudah kehilangan akhlakul karimahnya,sehingga perlu pemahaman dan pembelajaran
untuk mengkaji akhlak dan tasawuf. Dimana yang menjadi pokok pembahasan adalah
akhlak sebagai pribadi diri sendiri.Karena bertolak dari sinilah sebuah pribadi dapat
dinilai berhasil menjadi sosok yang mulia dipandang dari manapun atau terjadi
ketimpangan-ketimpangan yang masih perlu dibenahi.
Ruang lingkup akhlak Islam cukup luas pembahasannya.Pada banyak kasus
terjadi ketimpangan-ketimpangan yang ada pada akhlak sebagai status pribadi. Dapat
diambil contoh misalnya pribadi sebagai hamba Allah yang baik belum tentu pribadi
yang lain ikut baik. Memang bila dilihat sepintas,pribadi sebagai hamba Allah
merupakan dasar yang melandasi pribadi-pribadi yang lain. Bagaimana dengan seorang
Guru mengaji yang notabene mampu dan tahu akan bidang keagamaan,terutama akhlak.
Namun seperti yang terjadi di Indonesia,seringkali kita mendengar kasus pencabulan
;yang dilakukan oleh seorang tokoh agama kepada seorang muridnya. Entah apa yang
memotivasi orang-orang seperti itu untuk berbuat hal yang tidak senonoh. Apakah
agama hanya digunakan sebagai jalan menuju kejahatan?
Akan terjadi suatu keseimbangan bilamana semua lini bagus. Kita sebagai hamba
Allah harus memiliki akhlak yang baik kepadaNya,kemudian pribadi kita sebagai anak
harus kita bangun terus sesuai dengan akhlak mahmudah,dengan kita mendalami dan
membiasakan diri berbuat mulia sebagai Anak, kita akan lebih mudah berakhlak mulia
pada Kedua Orang Tua kita. Karena memang berhubungan erat pribadi sebagai anak
dengan berakhlak kepada Ayah Ibu.Anak tidak pernah terlepas dari orang tua,keduanya
merupakan satu kesatuan.Maka sudahlah pasti,bila membicarakan anak,akan dibahas
tentang orang tua dan sebaliknya.Pendidikan akhlak dalam prosesnya terjadi di dalam
lingkup keluarga.Tangan seorang Ayah dan Ibulah yang akan melukis pribadi seorang
anak di masa depan.Seorang anak yang dididik baik,kelak pasti akan menjadi orang
yang baik pula. Dan sebaliknya,bila polesan dari orang tuanya tidak mengarah pada
penanaman sifat-sifat yang baik maka hasilnyapun akan tak baik pula. Tugas kita adalah
bagaimana dengan akhlak tasawuf ini kita dapat menjadikan diri kita berseri karena
mampu melakukan akhlak mahmudah dan menjauhi akhlak mazmumah.Untuk

melakukan itu semua tentu perlu adanya sumber dari akhlak-akhlak islami.Kita sebagai
umat Islam tentu berpegang pada kedua sumber vital yaitu Al-Quran dan Al-Hadist.
Keduanya merupakan pedoman dan landasan yang menyangkut segala apa yang ada
dalam hidup ini. Kita dapat mengatasi problem-problem yang ada dengan menguasai
ajaran dalam pedoman tersebut.Karena segala sesuatu yang ada di dunia ini pasti
tercantum pada keduanya.Maka kita wajib mempelajarinya untuk mencapai tujuan
berpribadi luhur.Akhlak Islami itu sendiri memiliki ciri-ciri yang harus kita pahami.
Sebelum kita melakukan suatu perbuatan,kita harus terlebih dulu mengidentifikasi
bentuk perbuatan itu dan nilai apa yang terkandung di dalamnya. Nilai dapat berupa
benar dan salah.Benar berhubungan dengan segala sesuatu yang sifatnya
baik.Sedangkan salah berhubungan dengan segala sesuatu yang sifatnya buruk.
Dengan mampu membedakan mana yang baik mana yang buruk,mana yang benar dan
mana yang salah maka jelaslah arah suatu perbuatan. Jika kita tidak terlebih dulu
mengkaji suatu perbuatan,bagaimana kita akan mengambil manfaat dari tindakan
tersebut. Kejelasan tentang benar dan salahnya suatu perbuatan akan membawa kita
pada suatu pemahaman konsep akhlak Islami yang benar. Baik buruk dan benar salah itu
cakupannya sangat luas.Baik buruk disini harus disesuaikan dengan sumber akhlak
Islami yaitu Al-Quran dan Al Hadist. Kebenaran dan kesalahan menurut Islam itu
bagaimana,baik buruk menurut islam itu yang seperti apa,semuanya akan terjawab
ketika kita merujuk pada kedua pedoman tersebut ketika memahami suatu tingkah laku.
Maka dari itu,makalah ini akan membahas konsep-konsep yang menyangkut semua itu.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu Akhlak Islami?
2. Apa yang dimaksud dengan akhlak terpuji?
3. Apa yang dimaksud dengan akhlak tercela?
4. Bagaimana ruang lingkup akhlak islami?
C. Tujuan
1. Mengetahui apa itu akhlak islami.
2. Mengetahui sifat-sifat yang termasuk akhlak terpuji dan tercela.
3. Mengetahui perbedaan akhlak terpuji dan akhlak tercela.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Akhlak Islami

Secara sederhana akhlak islami dapat diartikan sebagai akhlak yang berdasarkan
ajaran islam atau akhlak yang bersifat islami. Kata islam yang berada di belakang kata
akhlak dalam hal menempati sebagai sifat. Dengan demikian akhlak islami adalah
perbuatan yang dilakukan dengan mudah, disengaja, mendarah daging dan sebenarnya
yang didasarkan pada islam. Dilihat dari segi sifatnya yang universal, maka akhlak
islami juga bersifat universal.Namun dalam rangka menjabarkan akhak islami yang
universal ini diperlukan bantuan pemikiran akal manusia dan kesempatan sosial yang
terkandung dalam ajaran etika dan moral. Dengan kata lain Akhlak Islami adalah akhlak
yang disamping mengakui adanya nilai-nilai universal sebagai dasar bentuk akhlak, juga
mengakui nilai-nilai yang bersifat lokal dan temporal sebagai penjabaran atas nilai-nilai
yang universal itu. Sebagai contoh yaitu menghormati kedua orang tua, adalah akhlak
yang bersifat mutlak dan universal. Sedangkan bagaimana bentuk dan cara
menghormati kedua orang tua itu dapat dimanifestasikan oleh hasil pemikiran menusia
yang dipengaruhi oleh kondisi dan situasi di mana orang yang menjabarkan nilai
universal itu berada. Akhlak dalam ajaran agama tidak dapat disamakan dengan etika
atau moral, walau etika dan moral itu di perlukan dalam rangka menjabarkan akhlak
yang berdasarkan agama (akhlak Islami).Hal ini disebabkan karena etika terbatas pada
sopan santun antara sesama manusia saja, serta hanya berkaitan dengan tingkah laku
lahiriah.Jadi ketika etika digunakan untuk menjabarkan akhlak Islami, itu tidak berarti
akhlak Islami dapat dijabarkan sepenuhnya oleh etika dan moral.Akhlak islam
merupakan system akhlak yang berdasarkan kepercayaan kepada Tuhan, maka tentunya
sesuai pula dengan dasar daripada agama itu sendiri. Dengan demikian, dasar/sumber
pokok daripada akhlak islam adalah Al-Quran dan Al-Hadits yang merupakan sumber
utama dari agama islam itu sendiri (Shalihun A, 1980)1
B. Ruang Lingkup Akhlak Islami
Ruang lingkup Akhlak Islami sama dengan ruang lingkup ajaran Islam itu sendiri,
khususnya yang berkaitan dengan pola hubungan. Akhlaik diniah (agama/islami)
mencakup berbagai aspek, dimulai dari Akhlak terhadap ALLAH, hingga kepada
sesama makhluk (manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda yang tak
bernyawa). Berbagai bentuk dan ruang lingkup Akhlak Islami yang demikian itu dapat
dipaparkan sebagai berikut:
1Sahilun A. Nasir, Etika dan Problematikanya (Bandung: PT Al-Maarif,1980), hlm. 98-99

1. Akhlaq Terhadap Allah SWT


Akhlak kepada Allah dapat diartikan sebagai sikap atau perbuatan yang
seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk, kepada Tuhan sebagai
khalik.Sikap atau perbuatan itu memiliki ciri-ciri perbuatan akhlak sebagaimana stelah
disebut diatas. Sekurang-kurangnya ada empat alasan mengapa manusia perlu beakhlak
kepada Allah:Pertama, karena Allah-lah yang mencipatakan manusia. Dia yang
menciptakan manusia dari air yang ditumpahkan keluar dari tulang punggung dan
tulang rusuk.Sebagai mana di firmankan oleh Allah dalam surat At-Thariq ayat 57,sebagai berikut :Yang Artinya : 5) "Maka hendaklah manusia memperhatikan dari
apakah dia diciptakan?, (6). Dia tercipta dari air yang terpancar, (7). yang terpancar dari
tulang sulbi dan tulang dada. (At-Tariq:5-7). Kedua, karena Allah-lah yang telah
memberikan perlengkapan panca indera, berupa pendengaran, penglihatan, akal pikiran
dan hati sanubari, disamping anggota badan yang kokoh dan sempurna kepada manusia.
Firman Allah dalam surat, An-Nahl ayat, 78.Yang Artinya: "Dan Allah telah
mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan
Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur. ( Q.S AnNahal : 78). Ketiga, karena Allah-lah yang telah menyediakan berbagai bahan dan
sarana yang diperlukan bagi kelangsungan hidup manusia, seperti bahan makanan yang
berasal dari tumbuh-tumbuhan, air, udara, binatang ternak dan lainnya (Abdullah S,
1986)2
Firman Allah dalam surat Al-Jatsiyah ayat 12-13.Yang Artinya (12) "Allah-lah
yang menundukkan lautan untuk kamu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya
dengan seizin-Nya, supaya kamu dapat mencari sebagian dari karunia-Nya dan mudahmudahan kamu bersyukur. (13), "Dan Dia menundukkan untuk kamu apa yang ada di
langit dan apa

yang ada

dibumi

semuanya, (sebagai rahmat) dari

pada

Nya.Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi
kamu yang berpikir. (Q.S Al-Jatsiyah :12-13 ).Keempat, Allah-lah yang telah
memuliakan manusia dengan diberikannya kemampuan, daratan dan lautan. Firman
Allah dalam surat Al-Israa' ayat, 70Yang Artinya: "Dan sesungguhnya telah Kami
muliakan anak-anak cucu Adam, Kami angkut mereka dari daratan dan lautan, Kami
2Abdullah Salim, Akhlaq Islam Membina Rumah Tangga dan Masyarakat(Jakarta: Seri Remaja, 1986),
hlm. 23-27

beri mereka dari rizki yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang
sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (Q.S Al-Israa : 70).
2. Akhlaq Terhadap Manusia
Banyak sekali rincian yang dikemukakan Al-Qur'an berkaitan dengan perlakuan
sesama manusia. Petunjuk dalam hal ini bukan hanya dalam bentuk larangan melakukan
hal-hal negative seperti membunuh, menyakiti badan, atau mengambil harta tanpa
alasan yang benar, tetapi juga sampai kepada menyakiti hati dengan cara menceritakan
aib sesorang dibelakangnya, tidak perduli aib itu benar atau salah(Hamzah Y, 1988)3
Dalam hal ini Allah berfiman dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 263 yakni:
Yang Artinya: "Perkataan yang baik dan pemberian ma'af, lebih baik dari sedekah yang
diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan penerimanya), Allah Maha Kaya
Lagi Maha Penyantun.(Al-Baqarah :263). Di sisi lain Al-Qur'an menekankan bahwa
setiap orang hendaknya didudukan secara wajar. Tidak masuk kerumah orang lain tanpa
izin, jika bertemu saling mengucapkan salam, dan ucapan yang dikeluarkan adalah
ucapan yang baik, firman allah surat An-Nur ayat 24. Yang Artinya: "Pada hari (ketika),
lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu
mereka kerjaka.( An-Nur ayat 24 )
3. Akhlak Terhadap Lingkungan
Yang dimaksud dengan lingkungan di sini adalah segala sesuatu yang disekitar
manusia, baik binatang,tumbuh-tumbuhan, maupun benda-benda tak bernyawa.Pada
dasarnya Akhlak yang diajarkan Al-Quran terhadap lingkungan bersumber dari fungsi
manusia sebaga manusia khalifah.Kekhalifahan menuntut adanya interaksi antara
manusia dengan sesamanya dan manusia terhadap alam.Kekhalifahan mengandung arti
pengayoman, pemeliharaan, serta bimbingan, agar setiap makhluk mencapai tujuan
penciptanya.Dalam pandangan islam, seseorang tidak dibenarkan mengambil buah
sebelum matang, atau memetik bunga sebelum mekar, karena hal ini berarti tidak
memberi kesempatan kepada makhluk untuk mencapai tujuan penciptaannya.Ini berarti
manusia dituntut untuk mampu menghormati proses yang sedang berjalan, dan terhadap
3Hamzah Yakub, Etika Islam Pembinaan Ahklaqul Karimah(Bandung: CV. Diponegoro, 1988), hlm.
142-145

semua proses yang sedang terjadi. Yang demikian mengantarkan manusia bertanggung
jawab, sehingga ia tidak melakukan perusakan, bahkan dengan kata lain, setiap
perusakan terhadap lingkungan harus dinilai sebagai perusakan pada diri manusia
sendiri(Muhammad D, 2008)4
Binatang,tumbuh-tumbuhan dan benda-benda tak bernyawa semuanya diciptakan
oleh Allah SWT, dan menjadi milik-NYA, Keyakinan ini mengantarkan seorang muslim
untuk menyadari bahwa semuanya adalah umat Tuhan yang harus diperlakukan
secara wajar dan baik.Jangankan dalam masa damai, dalam saat peperanganpun terdapat
petunjuk Al-Quran yang melarang melakukan penganiayaaan.Jangankan terhadap
manusia dan binatang, bahkan mencabut atau menebang pepohonan pun terlarang,
kecuali kalau terpaksa, tetapi itupun harus seizin Allah (harus sejalan dengan tujuantujuan penciptaan dan demi kemaslahatan/kepentingan/kebutuhan terbesar).Allah
Berfirman yang artinya:Apa saja yang kamu tebang dari pohon (kurma) atau kamu
biarkan tumbuh, berdiri diatas pokoknya, maka itu semua adalah atas izin Allah dan
agar ia membalas orang-orang fasik. (QS.Al-Hasyr, 59:5)Alam dengan segala isinya
telah ditundukkan Tuhan kepada manusia, sehingga dengan mudah manusia dapat
memanfaatkannya.Jika

demikian,

manusia

tidak

mencari

kemenangan,

tetapi

keselarasan dengan alam.Keduanya tunduk kepada Allah, sehingga mereka harus dapat
bersahabat.Selain itu Akhlak Islam juga memperhatikan kelestarian dan keselamatan
binatang. Nabi Muhammad SAW.Bersabda:Yang artinya Bertaqwalah kepada ALLAH
dalam perlakuanmu terhadap binatang, kendarai lah dan beri makanlah dengan
baik.Uraian tersebut diatas memperlihatkan bahwa akhlak islami sangat kompprenshif,
menyeluruh dan mencakup berbagai makhluk yang di ciptakan Tuhan.Hal yang
demikian dilakukan karena secara fungsional seluruh makhluk tersebut satunsama lain
saling membutuhkan. Punah dan rusaknya salah-satu bagian dari makhluk Tuhan itu
berdampak negatif bagi makhluk lainnya.
C. Pembagian Akhlak
Pada dasarnya Akhlak sendiri terbagi menjadi 2 yaitu akhlak mahmudah (terpuji)
dan akhlak mazmumah (tercela) .Contoh Beberapa akhlak mahmudah seperti bersikap
4Mohammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam(Jakarta : Rajawali Press, 2008), hlm.357-359

setia, jujur, adil, pemaaf, disenangi, menepati janji, memelihara diri, malu, berani, kuat,
sabar, kasih sayang, murah hati, tolong menolong, damai, persaudaraan, menyambung
tali persaudaraan, menghoranati tamu, merendahkan diri, berbuat baik, menundukkan
diri, berbudi tinggi, memlihara kebersihan badan, cenderung kepada kebaikan, merasa
cukup dengan apa yang ada, tenang, lemah lembut, bermuka manis, kebaikan, menahan
diri dari berlaku maksiat, merendahkan diri kepada Allah, berjiwa kuat dan lain
sebagainya.Sedangkan yang termasuk dalam akhlak mazmumah, antara lain; egoistis,
lacur, kikir, dusta, peminum khamr, khianat, aniaya, pengecut, aniaya, dosa besar,
pemarah, curang, culas, mengumpat, adu domba, menipu, memperdaya, dengki,
sombong, mengingkari nikmat, homosex, ingin dipuji, ingin didengar kelebihannya,
makan riba, berolok-olok, mencuri, mengikuti hawa nafsu, boros, tergopoh-gopoh,
membunuh, penipuan, dusta, berlebih-lebihan, berbuat kerusakan, dendam, merasa tidak
perlu pada yang lain dan lain sebagainya yang menunjukkan sifat-sifat yang
tercela(Muhammad Z, 1993)5
D. Sumber dan Ciri-ciri Akhlak Islami
Persoalan Akhlak di dalam islam banyak dibicarakan dan dimuat pada Al-Qurn
dan Al-Hadits. Sumber tersebut merupakan batasan-batasan dalam tindakan sehari-hari
bagi manusia.Ada yang menjelaskan arti baik dan buruk. Memberi informasi kepada
umat, apa yang semestinya harus diperbuat dan bagaimana harus bertindak. Sehingga
dengan mudah dapat diketahui, apakah perbuatan itu terpuji atau tercela, benar atau
salah.Kita telah mengetahui bahwa akhlak islam adalah merupakan systemmoral/akhlak
yang berdasarkan islam, yakni bertitik tolak dari akidah yang diwahyukan Allah pada
nabi/Rasul-Nya

yang

kemudian

agar

disampaikan

kepada

umatnya.Memang

sebagaimana disebutkan terdahulu bahwa secara umum akhlak/moral terbagi atas moral
yang berdasarkan kepercayaan kepada Tuhan dan kehidupan akhirat dan kedua moral
yang sama sekali tidak berdasarkan kepercayaan kepada Tuhan, moral ini timbul dari
sumber-sumber sekuler.Akhlak islam, karena merupakan system akhlak yang
berdasarkan kepercayaan kepada Tuhan, maka tentunya sesuai pula dengan dasar
daripada agama itu sendiri. Dengan demikian, dasar/sumber pokok daripada akhlak
5Muhammad Zein Yusuf, Akhlak-Tasawuf (Semarang: Al-Husna,1993), hlm.56

islam adalah Al-Quran dan Al-Hadits yang merupakan sumber utama dari agama islam
itu sendiri.Dinyatakan dalam sebuah hadits Nabi:

:

Artinya: Dari Anas Bin Malik berkata: Bersabda Nabi Saw: Telah kutinggalkan atas
kamu sekalian dua perkara, yang apabila kamu berpegang kepada keduanya, maka tidak
akan tersesat, yaitu Kitab Allah dan Sunah Rasul-Nya.Memang tidak disangsikan lagi
dengan bahwa segala perbuatan/tidakan manusia apapun bentuknya pada hakikatnya
adalah bermaksud untuk mencapai kebahgiaan (saadah), dan hal ini adalah sebagai
natijah dari problem akhlak. Sedangkan saadah menurut system moral/akhlak yang
agamis(islam), dapat dicapai dengan jalan menuruti perintah Allah yakni dengan
menjahui segala larangan Allah dan mengerjakan segala perintah-Nya, sebagaimana
yang tertera dalam pedoman dasar hidup bagi setiap muslim yakni Al-Quran dan AlHadits(Jamaludin K, 1993)6
Sehubungan dengan Akhlak Islam, Drs. Sahilun A, Nasir menyebutkan bahwa Akhlak
Islam berkisar pada:
1. Tujuan hidup setiap muslim, ialah menghambakan dirinya kepada Allah, untuk
mencapai keridhaan-Nya, hidup sejahtera lahir dan batin, dalam kehidupan masa kini
maupun yang akan datang.
2. Dengan keyakinannya terhadap kebenaran wahyu Allah dan sunah Rasul-Nya,
membawa konsekuensi logis, sebagai standard dan pedoman utama bagi setiap moral
muslim. Ia member sangsi terhadap moral dalam kecintaan dan kekuatannya kepada
Allah, tanpa perasaan adanya tekanan-tekanan dari luar.
3. Keyakinannya akan hari kemuadian/pembalasan, mendorong manusia berbuat baik
dan berusaha menjadi manusia sebaik mungkin, dengan segala pengabdiannya kepada
Allah.

6Jamaluddin Kafie,Psikologi Dakwah (Surabaya: Indah, 1993), hlm.32

4. Islam tidak moral yang baru, yang bertentangan dengan ajaran dan jiwa islam,
berasaskan darI Al-Quran dan Al-Hadits, diinterprestasikan oleh ulama mujtahid.
5. Ajaran Akhlak Islam meliputi segala segi kehidupan manusia berdasrkan asas
kebaikan dan bebas dari segala kejahatan.Islam tidak hanya mengajarkan tetapi
menegakkannya, dengan janji dan sangsi Illahi yang Maha Adil. Tuntutan moral sesuai
dengan bisikan hati nurani , yang menurut kodratnya cenderung kepada kebaikan dan
membenci keburukan(Shalihun A, 1980)7

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Secara sederhana akhlak islami dapat diartikan sebagai akhlak yang berdasarkan
ajaran islam atau akhlak yang bersifat islami.Dengan demikian akhlak islami adalah
perbuatan yang dilakukan dengan mudah,disengaja,mendarah daging dan sebenarnya
yang didasarkan pada ajaran islam.Ruang lingkup islami yang pola hubungannya
mencankup berbagai aspek,dimulai akhlak kepada Allah.akhlak kepada manusia dan
terlebih akhlak kepada lingkungan. Akhlak terhadap Allah dapat diartikan sebagai sikap
atau perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk(yang
diciptakan) pada tuhan sebagai kholik(sang pencipta).Akhlak terrhadap sesama manusia
dapat diartikan sebagai sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan kepada sesama
7Sahilun A. Nasir, Etika dan Problematikanya Dewasa ini (Bandung: PT Al-Maarif,1980), hlm. 98-99

manusia.Lingkungan di sini adalah segala sesuatu yang disekitar manusia, baik


binatang,tumbuh-tumbuhan, maupun benda-benda tak bernyawa.Pada dasarnya Akhlak
yang diajarkan Al-Quran terhadap lingkungan bersumber dari fungsi manusia sebaga
manusia khalifah.Kekhalifahan menuntut adanya interaksi antara manusia dengan
sesamanya dan manusia terhadap alam.Kekhalifahan mengandung arti pengayoman,
pemeliharaan,

serta

bimbingan,

agar

setiap

makhluk

mencapai

tujuan

penciptanya.Dengan demikian, Akhlak Islami itu jauh lebih sempurna di bandingkan


dengan Akhlak lainnya. Jika Akhlak lainnya hanya berbicara tentang hubungan dengan
manusia, maka

Akhlak

Islami

berbicara

pula

tentang

cara

berhubungan

derngan binatang, tumbuh-tumbuhan, air, udara dan sebagainya.


Saran
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok
bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya,
kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada
hubungannya dengan judul makalah ini.Penulis banyak berharap para pembaca yang
budiman dusi memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi
sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah di kesempatan-kesempatan
berikutnya.Semoga makalah ini bermanfaatkhususnya bagi penulis dan umumnya bagi
para pembaca.
DAFTAR PUSTAKA
Daud, Muhammad A. 2008. Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Rajawali Press.
Kafie, Jamaluddin. 1993. Psikologi Dakwah. Surabaya: Indah.
Salim, Abdullah. 1986. Akhlak Islam Membina Rumah Tangga dan Masyarakat.
Jakarta: Seri Remaja.
Shalihun, Ahmad N. Etika dan Problematikanya Dewasa ini. Bandung: PT Al-Maarif.
Yakub, Hamzah. 1988.Etika Islam Pembinaan Akhlaqul Karimah. Bandung: CV
Diponegoro.
Zein, Muhammad Y. 1993.Akhlak Tasawuf. Semarang: Al-Husna.

10