Anda di halaman 1dari 25

Laporan Kasus

Ureterolithiasis

Oleh :
MUHAMMAD ARIF
1008114123
Pembimbing :
Dr. dr. Zuhirman, SpU

Kepaniteraan Klinik Senior


Bagian Ilmu Bedah RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau
Fakultas Kedokteran Universitas Riau
Pekanbaru
2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar belakang
Ureterolithiasis atau batu ureter merupakan suatu keberadaan batu yang tidak normal

yang ada di dalam saluran kemih.(ui) .1 Diperkirakan sekitar 10% penduduk Amerika mengidap
penyakit batu saluran kemih dengan prevalensi terkena penyakit ini semasa hidup sekitar 13%
pada laki-laki dan 7% pada perempuan.2
Dari data dalam negeri yang pernah dipublikasikan didapatkan peningkatan jumlah
penderita batu saluran kemih yang mendapat tindakan di RSUPN-Cipto Mangunkusumo dari
tahun ke tahun mulai 182 pasien pada tahun 1997 menjadi 847 pasien pada tahun 2002.
Sedangkan data dari Puskesmas Jatirokeh didapatkan pasien dengan dugaan batu saluran kemih
dari tahun 2009 sebanyak 385 orang dari jumlah penduduk 69.501 orang (0,55%) dan pada tahun
2010 sebanyak 499 orang dari jumlah penduduk 68.093 orang (0,73%). Selain keterangan diatas
kekambuhan pembentukan batu merupakan masalah yang sering muncul pada semua jenis batu
dan oleh karena itu menjadi bagian penting perawatan medis pada pasien dengan batu saluran
kemih.3
Makalah presentasi kasus ini akan membahas tentang seorang pasien yang mengidap batu
ureter. Maka diharapkan makalah ini dapat memberikan gambaran mengenai gejala klinis, cara
diagnosis, serta penatalaksanaan yang tepat pada penderita batu ureter.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Anatomi saluran kemih

2.1.2

Ureter
Ureter merupakan saluran muscular yang terbentang dari ren ke facies posterior vesica

urinaria. Urin didorong sepanjang ureter oleh kontraksi peristaltic tunika muskularis, dibantu
oleh tekana filtrasi glomerulus. Setiap ureter mempunyai panjang sekitar 25 cm dan mempunyai
tiga penyempitan: (1) di tempat pelvis renalis berhubungan dengan ureter, (2) di tempat ureter
melengkung pada waktu menyilang aperture pelvis superior, dan (3) di tempat ureter menembus
dinding vesica urinaria. Pelvis renalis berbentuk corong dan merupakan ujung atas ureter yang
melebar. Pelvis renalis terletak di dalam hilum renalis.4
Arteria yang mendarahi ureter adalah sebagai berikut : (a) ujung atas oleh arteria renalis;
(b) bagian tengah oleh arteria testicularis atau arteria ovarica; dan (c) di dalam pelvis ole arteria
vesicalis superior. Darah vena dialirkan ke dalam venae yang sesuai dengan arteriae.4
Plexus renalis, testicularis dan plexus hypogastricus (di dalam pelvis). Serabut-serabut
aferen berjalan bersama dengan saraf simpatis dan masuk medulla spinalis setinggi segmen
lumbalis I dan II.4

Gambar 2.1 Dinding posterior abdomen. Memperlihatkan ginjal dan ureter in situ
2.2

Insidensi dan epidemiologi


Ureterolithiasis merupakan penyakit yang salah satu dari gejalanya adalah pembentukan

batu di dalam saluran kemih. Penyakit ini diduga telah ada sejak peradaban manusia yang tua
karena ditemukan batu di antara tulang panggul kerangka mumi dari seorang berumur 16 tahun.
Mumi ini diperkirakan berumur sekitar 7000 tahun. Di berbagai tempat lain dilaporkan kasus
batu kandung kemih.5
Penelitian epidemiologi memberikan kesan seakan-akan penyakit batu mempunyai
hubungan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat dan berubah sesuai dengan perkembangan
kehidupan suatu bangsa.

Berdasarkan pembandingan data penyakit batu saluran kemih di

berbagai negara, dapat disimpulkan bahwa di negara yang mulai berkembang terdapat banyak
batu saluran kemih bagian bawah, terutama terdapat di kalangan anak. Di negara yang sedang
berkembang insidensi batu saluran kemih relatif rendah, baik dari batu saluran kemih bagian
bawah maupun dari batu saluran kemih bagian atas. Di negara yang telah berkembang, terdapat
banyak batu saluran kemih bagian atas, terutama di kalangan orang dewasa. Pada suku bangsa
tertentu, penyakit batu saluran kemih sangat jarang, misalnya suku bangsa Bantu di Afrika
Selatan.5
Abad ke-16 hinga abad ke-18 tercatat insidensi tertinggi penderita batu kandung kemih
yang ditemukan pada anak di berbagai negara di Eropa. Batu seperti ini sejak abad ke-18
menghilang sehingga disebut batu sejarah. Berbeda dengan di Eropa, di negara berkembang
penyakit batu kandung kemih seperti ini masih ditemukan hingga saat ini, misalnya di Indonesia,
Thailand, Indian, Kamboja dan Mesir.

Karena ditemukan secara endemik, penyakit batu

kandung kemih ini disebut batu endemik atau batu primer karena terbentuk langsung di dalam
kandung kemih tanpa sebab yang jelas.5
Batu kandung kemih dapat juga terbentuk pada usia lanjut yang disebut batu sekunder
karena terjadi sebagai akibat adanya ganggua aliran air kemih, misalnya karena hipertrofi
prostat.5

2.3

Etiologi
Terbentuknya batu saluran kemih diduga ada hubungannya dengan gangguan aliran urin,

gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi, benda asing dan keadaan-keadaan lain
yang masih belum terungkap (idiopatik).6
Secara epidemiologis terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya batu
saluran kemih pada seseorang. Faktor-faktor itu adalah faktor intrinstik yaitu keadaan yang
berasal dari tubuh seseorang dan faktor ekstrinsik yaitu pengaruh yang berasal dari lingkungan
disekitarnya.6
Faktor intrinsik itu antara lain adalah6 :
-

Herediter (keturunan): penyakit ini diduga diturunkan dari orang tuanya.


Umur: penyakit ini paling sering didapatkan pada usia 20-50 tahun.
Jenis kelamin: jumlah pasien laki-laki tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan pasien

perempuan.
Pernah menderita gout sebelumnya.
Anatomi individual yang tidak normal: tubular ectasia (medullary sponge kidney), pelvoureteral junction obstruction, caliceal diverticulum, caliceal cyst, ureteral stricture,
vesico-ureteral reflux, horseshoe kidney
Faktor ekstrinsik diantaranya adalah : 6

geografi: pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian batu saluran kemih lebih

tinggi dari pada daerah lain sehingga dikenal sebagai daerah stone belt (sabuk batu).
Iklim dan temperature: Individu yang menetap di daerah beriklim panas dengan paparan
sinar ultraviolet tinggi akan cenderung mengalami dehidrasi serta peningkatan produksi
vitamin D3 (memicu peningkatan ekskresi kalsium dan oksalat), sehingga insiden batu

saluran kemih akan meningkat.


Asupan air: Kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium pada air yang
dikonsumsi, dapat meningkatkan insiden batu saluran kemih. Diet: Obat sitostatik untuk
penderita kanker juga memudahkan terbentuknya batu saluran kemih, karena obat
sitostatik bersifat meningkatkan asam urat dalam tubuh. Triamteren, acetazolamide
Sulphonamid juga meningkatkan resiko batu saluran kemih. Diet banyak purin, oksalat,
dan kalsium serta konsumsi vitamin C > 4 gr/hari mempermudah terjadinya penyakit batu
saluran kemih.
5

Pekerjaan: Penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak duduk
atau kurang aktifitasnya (sedentary life).

2.4

Komposisi dan pembentukan batu


Komposisi batu yang ditemukan pada seseorang perlu ditentukan karena komposisi batu

dipakai sebagai landasan untuk menyelusuri etiologi penyakit batu saluran kemih. Analisis batu
dapat dilakukan secara kimiawi, yaitu cara kualitatif dan cara kuantitatif dengan metode
kromatografik dan autoanalisis.

Cara lain adalah cara optik dengan diseksi mikroskopik

binokuler dengan mikroskop petrografik.

Juga ada cara instrumental melalui kristalografi

radiografik, spektroskopi inframerah, termoanalitik, dan mikroskopi elektron.

Kristalografi

radiografik merupakan cara yang dianggap paling baik ditinjau dari segi kesederhanaan dan
ketepatannya.7
Komposisi batu saluran kemih yang dapat ditemukan adalah dari jenis urat, asam urat,
oksalat, fosfat, sistin dan xantin. Batu oksalat kalsium kebanyakan merupakan batu idiopatik.
Batu campuran oksalat, fosfat, siostin dan xantin. Batu oksalat kalsium kebanyakan merupakan
batu idiopatik. Batu campuran oksalat kalsium dan fosfat biasanya juga idiopatik; di antaranya
berkaitan dengan sindrom alkali atau kelebihan vitamin D.

Batu fosfat dan kalsium

(hidroksiapatit) kadang disebabkan hiperkalsiuria (tanpa hiperkalsemia). Batu fosfat amonium


magnesium didapatkan pada infeksi kronik yang disebabkan oleh bakteria yang menghasilkan
urease sehingga urin menjadi alkali karena pmecahan ureum. Batu asam urat disebabkan oleh
hiperuremia pada artritis urika. Batu urat pada anak terbentuk karena pH urin rendah.8
Pada kebanyakan penderita batu kemih tidak ditemukan penyebab yang jelas. Faktor
predisposisi berupa stasis, infeksi, dan benda asing. Infeksi, stasis dan litiasis merupakan faktor
yang saling memperkuat sehingga terbentuk linkaran setan. Jaringan abnormal atau mati seperti
pada nefrosis papila di ginjal dan benda asing mudah menjadi nidus dan inti batu. Demikian
pula telor sistosoma kadang merupakan nidus batu.7
Batu idiopatik disebabkan oleh pengaruh berbagai faktor. Misalnya, batu urat pada anak
di negara yang sedang berkembang. Faktor yang memegang peranan kausal ialah dehidrasi dan
gastroenteritis. Faktor ini mengakibatkan oliguria dengan urin yang mengandung kadar asam
tinggi urin dan ikatan kimia lain. Faktor lain ialah imobilisasi lama pada penderita ceddera
dengan fraktur multipel atau paraplegia yang menyebabkan dekalsifikasi tulang dengan
6

peningkatan ekskresi kalsium dan stasis sehingga presipitasi batu mudah terjadi. Pada sebagian
kecil penderita batu kemih didapatkan kelainan kausal yang menyebabkan ekskresi kelebihan
bahan dasar batu seperti yang terjadi pada hiperparatiroidisme, hiperokaluria, artritis urika dan
sistinuria.7
2.5

Gejala dan tanda

2.5.2

Batu ureter
Gejala :1

Rasa sakit yang mendadak disebabkan oleh batu yang lewat, rasa sakit berupa
pegal di sudut CVA (distensi parenkim dan kapsul ginjal) atau kolik
(hiperperistaltik otot polos), kolik ini menjalar ke perut bagian bawah, pada pria
rasa sakit sampai ke testis (batu ureter proksimal), pada wanita rasa sakit terasa

sampai ke vulva dan pada pria rasa sakit pada skrotum (batu ureter distal)
Gejala traktus digestifus seperti pada batu ginjal
Bila batu sudah menetap di ureter hanya ditemukan rasa pegal pada sudut CVA
karena bendungan

Tanda-tanda :1

Pada saat akut penderita tampak gelisah, kulit basah dan dingin kadang-kadang

terdapat tanda-tanda syok ringan


Nyeri tekan dan nyeri ketok pada sudut CVA, spasme otot-otot abdomen, testis

hipersensitif (batu ureter proksimal), skrotum hipersensitif (batu ureter distal).


Pada batu ureter yang sudah lama menetap hanya ditemukan nyeri tekan dan nyeri
ketok pada sudut CVA atau tidak ditemukan kelainan sama sekali.

2.6

Pemeriksaan Penunjang

2.6.1

Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium meliputi:6

Urinalisis
pH yang rendah (<5,5) terlihat pada batu asam urat, pH tinggi (> 6), dicurigai
adanya organism penghasil urea seperti proteus.
Hematuria, biasanya terlihat secara mikroskopis atau gross hematuria.
Leukosituria. Kadar leukosit normal dalam urin adalah 0-5/ LPB.
Kristaluria dapat menentukan tipe batu
7

2.6.2

Bakteriuria. Jika ditemukan bakteriuria harus dilanjutkan dengan kultur urin.


Mikrobiologi urin
Pemeriksaan kimia darah (fungsi ginjal dan asam urat)

Pemeriksaan Radiologi

KUB (Plain Film of Kidney Ureter Bladdder)


Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat kemungkinan adanya batu radioopak di
saluran kemih.

Intravena Pielografi (IVP)


Pencitraan ini dapat menunjukkan adanya kelainan anatomi dan kelainan fungsi
ginjal. IVP dapat mendeteksi batu radiolusen dan abnormalitas anatomi yang
disebabkan pembentukan batu, kontras (iodium) disuntikkan secara intravena, dan
dibuat foto polos serial ketika bahan kontras diekskresikan yaitu pada menit ke-5,
15, 30, dan 60. Masih merupakan gold standard untuk pencitraan nyeri kolik akut.

Ultrasonografi (USG)
USG dikerjakan bila pasien tidak mungkin menjalani pemeriksaaan IVP, yaitu
pada keadaan-keadaan: alergi terhadap bahan kontras, faal ginjal yang menurun,
dan pada wanita yang sedang hamil. Pada pemeriksaan USG batu akan terlihat
sebagai fokus echogenic dengan posterior acoustic shadowing. Batu di ginjal dan
ureter distal atau dekat dengan ureterovesical junction, dapat dilihat dengan baik
khususnya jika terdapat dilatasi. USG sangat baik untuk menggambarkan
komplikasi seperti hidronefrosis.

CT scan
Pemeriksaan ini cepat dan dapat menggambarkan struktur peritoneal dan
retroperitoneal untuk mendeteksi penyebab lain dari nyeri abdomen, serta tidak
bergantung pada keterampilan ahli radiologi (non operator dependent). Dengan
penambahan bahan kontras, CT scan dapat menilai fungsi ginjal. CT Scan dapat
mendeteksi batu radiolusen seperti asam urat yang tidak tampak pada foto polos.

Pielogafi Retrograd
Pielografi retrograd adalah pencitraan traktus urinarius bagian atas dengan cara
memasukkan bahan kontras radioopak langsung melalui kateter ureter transuretra.
8

2.7

Diagnosis Banding
Kolik ginjal dan ureter dapat disertai dengan akibat yang lebih lanjut, misalnya distensi

usus dan pionefrosis dengan demam. Oleh karena itu, jika dicurigai terjadi kolik ureter maupun
ginjal, khususnya yang kanan, perlu dipertimbangkan kemungkinan kolik saluran cerna, kandung
empedu, atau apendisitis akut.

Selain itu, pada perempuan perlu juga dipertimbangkan

kemungkinan adneksitis.7
Bila terjadi hematuria, perlu dipertimbangkan kemungkinan keganasan apalagi bila
hematuria terjadi tanpa nyeri. Selain itu, perlu juga diingat bahwa batu saluran kemih yang
bertahun-tahun dapat menyebabkan terjadinya tumor yang umumnya karsinoma epidermoid,
akibat rangsangan dan inflamasi.7
Khusus untuk batu ginjal dengan hidronefrosis, perlu dipertimbangkan kemungkinan
tumor ginjal mulai dari jenis hinjal polikistik hingga tumor Grawitz.8
Pada batu ureter, terutama dari jenis yang radiolusen, apalagi bila disertai dengan
hematuria yang tidak disertai dengan kolik, perlu dipertimbangkan kemungkinan tumor ureter
walaupun tumor ini jarang ditemukan.7
Dugaan batu kandung kemih juga perlu dibandingkan dengan kemungkinan tumor
kandung kemih, terutama bila batu yang terdapat dari jenis radiolusen.7
Batu prostat biasanya tidak sukar didiagnosis karena gambaran radiologiknya yang khas,
yang kecil seperti kumpulan pasir di daerah prostat. Dalam keadaan yang tidak pasti seperti itu
perlu dilakukan biopsi prostat.7
2.8

Tata laksana
Penatalaksanaan batu saluran kemih harus tuntas sehingga bukan hanya mengeluarkan

batu saja, tetapi harus disertai dengan terapi penyembuhan penyakit batu atau paling sedikit
disertai dengan terapi pencegahan. Hal ini karena batu sendiri hanya merupakan gejala panyakit
batu sehingga pengeluaran batu dengan cara apapun bukanlah merupakan terapi yang sempurna.
Selanjutnya, perlu juga diketahui bahwa pengeluaran batu baru diperlukan bila batu
menyebabkan gangguan pada saluran air kemuh. Bila batu ternyata tidak member gangguan
fungsi ginjal, batu tersebut tidak perlu diangkat, apalagi misalnya pada batu ureter diharapkan
batu dapat keluar sendiri.7
9

Penanganannya dapat berupa terapi medis dan simptomatik atau dengan bahan pelarut.
Dapat pula dengan pembedahan atau dengan tindakan yang kurang invasive, misalnya
nefrostomi perkutan, atau tanpa pembedahan sama sekali secara gelombang kejut.8
2.8.1

Terapi medis dan simptomatik


Terapi medis batu saluran kemih berusaha mengeluarkan batu atau melarutkan batu.

Pengobatan simptomatik mengusahakan agar nyeri, khususnya kolik, yang terjadi menghilang
dengan pemberian simptolitik. Selain itu terutama untuk batu ureter yang dapat diharapkan
keluar dengan sendirinya, dapat diberikan minum berlebihan disertai diuretik. Dengan produksi
air kemih yang lebih banyak diharapkan dapat mendorong dan mengeluarkan batu. Batu ureter
ini ialah batu yang tidak mengganggu saluran kemih, termasuk ginjal dan ukurannya kurang dari
setengah sentimeter.7
2.8.2

Pelarutan
Jenis batu yang memang dapat dilarutkan adalah dari jenis batu asam urat. Batu ini

hanya terjadi pada keadaan pH air kemih yang asam (pH 6,2) sehingga dengan pemberian
bikarbonas natrikus disertai dengan makanan alkalis, batu asam urat dapat diharapkan larut.
Lebih baik bila dibantu dengan usaha menurunkan kadar asam urat air kemih dan darah dengan
bantuan alopurinol, usaha ini cukup member hasil yang baik.7
Batu struvit tidak dapat dilarutkan tetapi dapat dicegah pembesarannya bila diberikan
pengobatan dengan pengasaman kemih dan pemberian antiurease. Bila terdapat kumah, harus
dibasmi. Akan tetapi, infeksi pada urolitiasis sukar dibasmi karena kuman berada di dalam batu
yang tidak pernah dapat dicapai oleh antibiotik.7
Solution G merupakan obat yang dapat diberikan langsung ke batu di kandung kemih,
tetapi biasanya pelaksanaannya sukar. Selain solution G, juga dipakai obat hemiasidrin untuk
batu di ginjal dengan cara irigasi tetapi hasilnya kurang memuaskan, kecuali untuk batu sisa
pascabedah yang dapat diberikan melalui nefrostomi yang terpasang. Kemungkinan penyulit
dengan pengobatan seperti ini adalah intoksikasi atau infeksi yang lebih berat.7
2.8.3

Litotripsi
Pemecahan batu atau litotripsi telah mulai dilakukan sejak lama dengan cara buta, tetapi

dengan kemajuan teknik endoskopi dapat dilakukan dengan cara lihat langsung. Untuk batu
kandung kemih, batu dipecahkan memakai litotriptor secara mekanis melalui sistoskop atau
dengan memakai gelombang elektrohidrolik atau ultrasonic.

Untuk batu ureter, digunakan


10

ureteroskop dan batu dapat dihancurkan memakai gelombang ultrasonic, elektrohidrolik, atau
sinar laser. Untuk batu ginjal, litotripsi dilakukan dengan bantuan nefroskopi perkutan untuk
membawa trasduser melalui sonde ke batu yang ada di ginjal. Cara ini disebut nefolitotripsi
perkutan.7
Makin sering dipakai gelombang kejut luar-tubuh (ESWL = extracorporeal shick wave
lithotripsy) yang dapat memecahkan batu tanpa perlukaan di tubuh sama sekali. Gelombang
kejut dialirkan melalui air ke tubuh dan dipusatkan di batu yang akan dipecahkan. Batu akan
hancur berkeping-keping dan keluar bersama kemih.7
ESWL dilakukan tanpa tindak bedah apapun. Kadang diperlukan tindakan tambahan
berupa pemasangan kateter atau dalam keadaan yang sangat isimewa dibutuhkan bantuan
nefrostomi perkutan.7
Pada hakikatnya, litotripsi gelombang kejut dapat dilakukan pada setiap batu, tetapi
sebaiknya tindakan dilakukan dalam tahapan untuk mengeluarkan semua batu. Akan tetapi, bila
terdapat kelainan saluran kemih, misalnya stenosis yang akan menghalangi keluarnya batu yang
telah dipecahkan, tindakan ESWL tidak akan bermanfaat.7
Batu dapat dipastikan letaknya dengan bantuan sinar Rontgen atau ultrasonografi yang
terdapat pada setiap jenis alat ESWL.7
Betapapun disebutkan bahwa dengan ESWL batu dapat dipecahkan menjadi bagian yang
lebih kecil dari 2 mm, belum tentu pascatindakan semua batu akan pecah hingga ukuran yang
dikehendaki. Selain itu, batu yang telah dipecahkan membutuhkan waktu untuk keluar semua.
Walaupun dinyatakan bahwa gelombang kejut yang dipergunakan tidak akan merusak jaringan
ginjal secara permanen, kerusakan yang ada perlu diawasi baik dari segi kemungkinan terjadinya
infeksi atau kerusakan yang dapat mengakibatkan gejala sisa.7
2.8.4

Pembedahan
Terapi bedah digunakan jika tidak tersedia alat litotripsor, alat gelombang kejut, atau

bila cara nonbedah tidak berhasil. Walaupun demikian, sudah barang tentu untuk menentukan
tindak bedah pada suatu penyakit batu saluran kemih perlu seperangkat indikasi.7
Batu ginjal yang terletakdi kaliks selain oleh indikasi umum, perlu dilakukan tindak
bedah bila terdapat hidrokaliks. Batu sering harus dikeluarkan melalui nefrolitotomi yang tidak
gampang karena batu biasanya tersembunyi di dalam kaliks.7

11

Batu pelvis juga perlu dibedah bila menyebabkan hidronefrosis, infeksi, atau
menyebabkan nyeri yang hebat. Pada umumnya, batu pelvis terlebih lagi yang berbentuk tanduk
rusa amat mungkin menyebabkan kerusakan ginjal.7
Batu ureter ukuran 0,4 cm terdapat pada bagian sepertiga proksimal ureter, 80% batu
akan keluar secara spontan, sedangkan bila terdapat di bagian sepertiga distal, kemungkinan
keluar spontan 90%. Patokan ini hanya dipakai bila batu tidak menyebabkan gangguan sama
sekali dan bahkan keluar secara spontan. Oleh karena itu, ureterolitotomi selalu didasarkan atas
gangguan fungsi ginjal, nyeri yang sangat tidak tertahankan penderita, dan penanganan medis
tidak berhasil.7
Batu kandung kemih selalu menyebabkan gangguan miksi yang hebat sehingga perlu
dilakukan tindakan pengeluarannya. Litotriptor hanya dapat memecahkan batu dalam batas
ukuran 3 cm ke bawah. Batu di atas ukuran ini dapat ditangani dengan gelombang kejut atau
sistolitotomi melalui sayatan Pfannenstiel.7
Tidak jarang batu uretra yang ukurannya < 1 cm dapat keluar sendiri atau dengan bantuan
pemasangan kateter uretra selama tiga hari; batu akan terbawa ke luar dengan aliran air kemih
yang pertama. Batu uretra harus dikeluarkan melalui tindakan uretratomi eksterna. Komplikasi
yang dapat terjadi sebagai akibat operasi ini adalah striktur uretra. Batu prostat umumnya tidak
membutuhkan tindak bedah.7
2.9

Pencegahan
Kejadian awal batu maupun kejadian batu berulang dapat dicegah dengan melakukan

hal- hal sebagai berikut5 :

Menurunkan konsentrasi reaktan (kalsium oksalat)


Meningkatkan konsentrasi inhibitor pembentukan batu
Sitrat (kalium sitrat 20 mEq tiap malam hari, minum jeruk nipis atau

lemon sesudah makan malam)


Batu ginjal tunggal (meningkatkan masukan cairan, mengkontrol secara

berkala pembentukan batu baru)


Pengaturan diet
Meningkatkan masukan cairan
Masukan cairan terutama pada malam hari akan meningkatkan aliran
kemih dan menurunkan konsentrasi pembentuk batu dalam air kemih.
Dari hasil uji coba didapatkan pada tahun ke-5 insidensi pembentukan
batu baru pada kelompok banyak minum 12% dibandingkan kelompok
12

control 27%. Pada kelompok pembentuk batu jumlah air kemih harian

ditemukan 250-350 ml lebih sedikit disbanding kelompok control


Hindari masukan minum gas (soft drinks) lebih 1 liter perminggu.
Ditemukan kekambuhan batu sebesar 15 % lebih tinggi dalam 3 tahun

dibandingkan kelompok peminum cairan lain


Kurangi masukan protein (sebesar 1 g/kg berat badan/ hari). Masukan
protein tinggi dapat meningkatkan ekskresi kalsium, ekskresi asam urat
dan menurunkan sitrat dalam air kemih.

Protein binatang diduga

mempunyai efek menurunkan pH air kemih lebih besar dibandingkan

protein sayuran karena lebih banyak menghasilkan asam


Membatasi masukan natrium. Diet natrium rendah (80 sampai 100
mq/hari) dapat memperbaiki reabsorbsi kalsium proksimal, sehingga
terjadi pengurangan ekskresi natrium dan ekskresi kalsium. Penurunan
masukan natrium dari 200 sampai 80 meq/ hari dilaporkan mengurangi

ekskresi kalsium sebanyak 100 mg/hari


Masukan kalsium. Pembatasan masukan kalsium tidak dianjurkan.
Penurunan kalsiuj intestinal bebas akan menimbulkan peningkatan absorbs
oksalat oleh pencernaan, peningkatan ekskresi oksalat dan meningkatkan
saturasi kalsium oksalat air kemih. Diet kalsium rendah dapat merugikan
pasien dengan hiperkalsiuria idiopatik karena keseimbangan kalsium
negatif akan memacu pengambilan kalsium dari tulang dan dari ginjal.
Keadaan ini akan memperburuk penurunan densitas tulang pada beberapa
pasien.

13

BAB III
LAPORAN KASUS BAGIAN ILMU BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU
Nama Pasien : Tn. R
Umur

: 47 Tahun

Jenis Kelamin : laki-laki


Pekerjaan

: Pekerja kebun karet

Agama

: Islam

No.RM

: 867634

MRS

: 4 Oktober 2014

Alamat

: Dusun I Suka Damai, Desa Kepau Jaya, RT 002 RW 002 Kec S. Hulu - Kampar

ANAMNESIS
Autoanamnesa
Keluhan Utama: Nyeri pinggang kiri 9 jam sebelum masuk rumah sakit
Riwayat Penyakit Sekarang:
-

9 jam SMRS pasien mengeluhkan nyeri pinggang kiri yang sangat hebat dan menjalar ke
perut kiri, nyeri menjalar ke paha dalam dan kantong pelir, nyeri tidak bertambah dengan
memakan makanan, nyeri berkurang dengan perubahan posisi, tidak ada keluhan mual

dan muntah. Kulit basah dan dingin. Perut tidak ada kembung, tidak ada keluhan BAB
2 hari SMRS pasien mengeluhkan BAK kental seperti air teh, ada nyeri saat BAK, BAK
kurang lampias, sering bolak balik ke kamar mandi untuk BAK, BAK tidak lebih sering
pada malam hari, tidak ada mengeluhkan sulit menahan BAK, tidak pernah BAK
berdarah, tidak ada kencing berpasir dan keluar batu.

Riwayat Penyakit Dahulu:


Riwayat hipertensi (+).
Riwayat trauma (-)
Riwayat batu ginjal 10 tahun yang lalu

14

Riwayat pengobatan
Riwayat ESWL 10 tahun yang lalu
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada penyakit yang berhubungan dengan keluhan pasien
Riwayat Kebiasaan
-

Sering mengkonsumsi jengkol (+)


Sering mengkonsumsi jeroan (+)

PEMERIKSAAN FISIK

Status generalis
-

Keadaan umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Komposmentis

Keadaan gizi

: gizi baik

Vital sign

o Tekanan darah : 140/90 mmHg

o Nadi : 88 kali/menit, reguler, isi cukup


o Suhu : 36,6 oC
o Frek. Napas : 22 kali/menit
Pemeriksaan kepala dan leher : Konjunctiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, pupil

isokhor diameter 3 mm
Pemeriksaan thoraks
Pemeriksaan abdomen
Pemeriksaan ekstremitas
Pemeriksaan kelenjar limfe
Pemeriksaan genitourinarius

: Dalam Batas Normal (DBN)


: status lokalis
: DBN
: DBN
: status lokalis

15

STATUS LOKALIS
Pemeriksaan abdomen :
Inspeksi

: perut datar, sikatrik (-)

Auskultasi

: bising usus (+) normal

Perkusi

: timpani

Palpasi

: perut supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba.

Status Urologikus
Regio Flank/CVA

kanan

kiri

Tanda radang

(-)

(-)

Ballotement

sulit dinilai

sulit dinilai

Nyeri tekan

(-)

(-)

Nyeri ketok

(-)

(+)

Massa

(-)

(-)

Jaringan parut/ bekas operasi

(-)

(-)

Suprapubis
Inspeksi

Tanda trauma : jejas (-), laserasi (-), hematom (-)


Tanda radang : merah (-), bengkak (-), fistula (-), cairan (-), sikatriks (-)
Tanda massa : retensi urin (-), tumor buli (-),
Palpasi

: Buli tidak penuh, nyeri tekan (-), Massa (-)

Genetalia Eksterna
Penis : Ukuran normal
Posisi lurus
Preputium disirkumsisi
Trauma (-)
Radang (-)
M U E tidak terpasang kateter

16

Skrotum :

Trauma (-)
Radang (-)
Massa (-)

Testis
Keberadaan

Kanan

Kiri

Ukuran

Normal

Normal

Konsistensi

Kenyal

Kenyal

Nyeri tekan

Transluminasi

Rectal toucher
Tonus sfingter ani

: baik

Prostat

: sulcus interlobaris

:+

Konsistensi

: kenyal

Simetris

:+

Kutub atas

: terjangkau

Nyeri

:-

Nodul keras

:-

Taksiran berat prostat: 40 g


Diagnosis kerja
Renal pain sinistra ec Susp ureterolithiasis sinistra
Diagnosis Banding
Renal pain sinistra ec Susp pielonephritis sinistra
Renal pain sinistra ec Susp nefrolithiasis sinistra
Rencana pemeriksaan lanjutan
Urinalisis
Darah rutin
Kimia darah

17

BNO-IVPPemeriksaan Penunjang
Darah rutin : (4-10-2014)
Hb

: 14,7 gr/dL

Ht

: 41,8 %

Leukosit

: 13600 /uL

Trombosit

: 267.000/uL

Kimia darah : (4-10-2014)


Kraetinin

: 1,56 mg/dL

Glukosa

: 131 mg/dL

AST

: 20,1 U/L

ALT

: 52 U/L

Ureum

: 34,7 mg/dL

Hasil BNO IVP : (7-10-2014)

18

19

Kesan : Ureterolithiasis sinistra distal

Urinalisis
Tidak dilakukan
Diagnosis : ureterolithiasis 1/3 distal sinistra
-

Rawat inap
IVFD RL 20 gtt/i
Inj ceftriaxon 2 x 1
Inj ranitidin 2 x 1
Inj Ketorolac 2 x 1

Prognosis : Bonam
Usulan Penatalaksanaan: Rencana ESWL
Follow up :
Tanggal 4-10-2014
S

: nyeri pinggang kiri menjalar ke paha dalam dan kantong pelir.

: TD : 140/90, Nadi : 78x/i, RR : 22x/i, T : 36,8oC

Status lokalis :
20

Nyeri ketok CVA kiri(+), Nyeri ketok CVA kanan (-) Bising usus (+).Ballotemen (-/-),
A

: Ureterolithiasis sinistra distal

: Inj ketorolac 1 amp, inj ceftriaxon 1 gr, inj ranitidine 1 amp. Pemeriksaan BNO-IVP

Tanggal 5-10-2014
S

: nyeri pinggang kiri berkurang,

: TD : 140/90, Nadi : 92x/i, RR : 20x/i, T : 36,5oC

Status lokalis :
Pemeriksaan flank area (-)
Ballotemen (-/-), nyeri tekan (-/-), nyeri ketok (-/-).
A

: ureterolithiasis sinistra distal

: Inj ketorolac 1 amp, inj ceftriaxon 1 gr, inj ranitidine 1 amp. Pemeriksaan BNO-IVP

Tanggal 6-10-2014
S

: tidak ada keluhan

: TD : 130/80, Nadi : 80x/i, RR : 22x/i, T : 36,3oC

Status lokalis :
Pemeriksaan flank area (-)
Ballotemen (-/-), nyeri tekan (-/-), nyeri ketok (-/-).
A

: ureterolithiasis sinistra distal

: Inj ketorolac 1 amp, inj ceftriaxon 1 gr, inj ranitidine 1 amp. Pemeriksaan BNO-IVP

Tanggal 7-10-2014
S

: tidak ada keluhan

: TD : 140/90, Nadi : 88x/i, RR : 20x/i, T : 36,4oC

Status lokalis :
Pemeriksaan flank area (-)
Ballotemen (-/-), nyeri tekan (-/-), nyeri ketok (-/-).
A

: ureterolithiasis sinistra distal

: Inj ketorolac 1 amp, inj ceftriaxon 1 gr, inj ranitidine 1 amp. Pemeriksaan BNO-IVP
21

Tanggal 8-10-2014
S

: tidak ada keluhan

: TD : 140/90, Nadi : 88x/i, RR : 18x/i, T : 36,5oC

Status lokalis :
Pemeriksaan flank area (-)
Ballotemen (-/-), nyeri tekan (-/-), nyeri ketok (-/-).
A

: ureterolithiasis sinistra distal, hasil BNO-IVP ada bendungan di ureter distal sinistra

: Inj ketorolac 1 amp, inj ceftriaxon 1 gr, inj ranitidine 1 amp. ESWL

Tanggal 9-10-2014
S

: tidak ada keluhan

: TD : 140/90, Nadi : 88x/i, RR : 20x/i, T : 36,6oC

Status lokalis :
Pemeriksaan flank area (-)
Ballotemen (-/-), nyeri tekan (-/-), nyeri ketok (-/-).
A

: ureterolithiasis distal sinistra

: Inj ketorolac 1 amp, inj ceftriaxon 1 gr, inj ranitidine 1 amp. ESWL

Tanggal 10-10-2014
S

: tidak ada keluhan

: TD : 140/90, Nadi : 78x/i, RR : 2018x/i, T : 36,6oC

Status lokalis :
Pemeriksaan flank area (-)
22

Ballotemen (-/-), nyeri tekan (-/-), nyeri ketok (-/-).


A

: ureterolithiasis distal sinistra

: post ESWL, pulangkan pasien

BAB IV
PEMBAHASAN

Dilaporkan pasien laki-laki berumur 47 tahun yang dirawat di Cendrawasih I pada


tanggal 4 Oktober 2014 dengan diagnosis batu ureter 1/3 distal sinistra. Diagnosis didasarkan
atas anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Dari anamnesis didapatkan pasien mengeluhkan nyeri pada pinggang yang menjalar ke
suprapubis. Nyeri dirasakan hilang timbul dan berkurang dengan perubahan posisi. Hal ini
sesuai dengan gejala dari batu ureter distal dapat mengakibatkan nyeri kolik yang menjalar ke
suprapubis.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan nyeri ketok pada daerah kosto vertebra. Hal ini sesuai
dengan pemeriksaan fisik pada batu ureter. Bahwa batu ureter dapat mengakibatkan hambatan
aliran urin sehingga bisa menyebabkan kerusakan ginjal.
Dari hasil pemeriksaan radiologi didapatkan adanya bendungan di ureter sinistra dimana
ini mengindikasikan bahwa adanya batu di saluran tersebut.
23

Pada pasien ini telah dilakukan penatalaksanaan berupa ESWL.

Setelah dilakukan

ESWL didapatkan batu yang keluar berukuran 6x4 mm yang merupakan akibat pengeluaran
fragmen batu yang telah dipecah menggunakan ESWL.

DAFTAR PUSTAKA

1. Reksoprodjo S. Kumpulan kuliah ilmu bedah. Jakarta : Binaprupa aksara. 2005


2. Heilberg; I.P. and Schor, N. (2006) Renal stone disease : causes, evaluation and medical
treatment. Arq Bras Endocrinol Metab 50 : 823-831
3. Wahab S, Setiani O, Joko T. Hubungan kandungan mineral calcium, magnesium,
mangaan dalam sumber air dengan kejadian batu saluran kemih pada penduduk yang
tinggal di kecamatan songgom kabupaten brebes. Jurnal kesehatan lingkungan Indonesia
Vol. 11 No. 2/ Oktober 2012
4. Snell RS. Anatomi klinik. Edisi ke-6. Jakarta: EGC. 2005
5. Sjabani M. Batu Saluran Kemih. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta. 2006.
563-56.
6. Tanagho EA, McAninch JW. Smiths General Urology. 17 th edition. United States. 2008
7. Sjamsuhidajat R, Wim de Jong. Saluran kemih dan Alat Kelamin laki-laki. Dalam: Buku
Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta: EGC. 2005. 733-81
24

25