Anda di halaman 1dari 8

Density Log

PRINCIPLE OF DENSITY MEASUREMENT

(Using Scintilation Crystal NaI and PMT)

The emitted gamma rays interact with the electrons of matter around the borehole and gamma ray
detector (crystal NaI) above the gamma source responds to back scattered rays. The intensity of the
back scattered rays depends on the electron density of the matter penetrated (rather than on the
chemical nature of the atom as in the neutron measurement). The intensity of the back scattered
gamma ray varies according to the density of the sorounding rock in much the same manner as light is
absorbed and back scattered in a fog of variable density. So, the signal intensity received at the
detector NaI is an exponential function of the medium density.

Winch Cable

Borehole
(Water Filled)

Underground
Formation

Caliper Arm
(decentralizer)
Gamma Detector
Gamma ray

Gamma Source
(Cs137 or Co60)

Principle of Density Measurement

Penjelasan :
Energi Gamma dari Radioaktif akan sangat menurun jika bertumbukan dengan electron formasi. Makin
tinggi massa jenis formasi akan semakin banyak electron yang terdapat pada formasi tersebut, sehingga
akan semakin sedikit gamma yang terdeteksi oleh detector. Dengan kata lain, semakin besar
densitasnya, respon dari detector akan semakin kecil, sebaliknya bila massa jenis makin kecil (electron
sedikit) maka gamma yang tertangkap detector akan semakin besar.

Dokumen RecsaLOG
HS Martono-2004

1. Prinsip Pengukuran Density


Probe ini merupakan Probe lengkap dari type Density, kerena dalam sekali Run
akan diperoleh Long Space Density, short Space Density dan Caliper. Peran
Caliper pada log density selain dapat merapatkan posisi Radioaktif dan sensor
(mendorong probe) pada dinding lobang bor sehingga menjadikan pengukuran
density lebih akurat karena partikel Gamma akan langsung masuk dalam formasi
tanpa melewati media (air atau mud) yang berada dalam lobang bor. Gambar 1
menunjukkan bagaimana partikel Gamma keluar dari Radioactive Source kemuju
ke detector.

Winch Cable

Borehole
(Water Filled)

Underground
Formation

Caliper Arm
(decentralizer)
Gamma Detector
Gamma ray
Gamma Source
(Cs137 or Co60)

Principle of Density Measurement

Caliper juga berfungsi mendeteksi adanya cavity. Cavity yang berisi air atau mud
akan terdeteksi oleh detector density sebagai formasi yang mempunyai massa
jenis yang rendah, sehingga dapat mengacaukan interpretasi data density.
Dengan adanya caliper maka data density dapat dikoreksi karena cavities
terdeteksi.
Karena jarak detector Long Space Density (LD) lebih jauh dari pada Short Space
Density (SD), maka LD mempunyai penetrasi yang lebih dalam dari pada SD,
sehingga pada kasus-kasus adanya cavity, LD tidak begitu terpengaruh, demikian
halnya jika logging dilakukan didalam rod atau casing, LD lebih baik hasilnya.
Sementara SD, karena jarak detector ke Gamma Source relative dekat, maka SD
dapat mendeteksi layer-layer yang tipis (<10 cm), namun sangat terpengaruh

Dokumen RecsaLOG
HS Martono-2004

terhadap adanya cavity, meski ukuran cavitynya yang relative kecil, dan kurang
baik hasilnya jika di run dalam Rod atau casing.
LD, SD dan Caliper akan menjadi kesatuan yang saling melengkapi
2. Sejauh Mana Cavity Mempengaruhi Pengukuran Density
Seperti dijelaskan di atas bahwa Caliper akan mendorong Probe senantiasa
menempel di dinding sumur. Dengan menempel rapat didinding sumur,
diharapkan tidak ada jarak antara Detektor Density dengan formasi yang akan

Winch Cable

Borehole
(Water Filled)

Underground
Formation

Caliper Arm
(decentralizer)
Gamma Detector
Gamma ray
Gamma Source
(Cs137 or Co60)

Principle of Density Measurement

diukur. Ceritanya akan menjadi lain apabila dinding sumur sendiri mempunyai
permukaan yang tidak rata atau terdapat cavity. Makin dalam atau main lebar
cavity ini akan sangat mempengaruhi hasil pengukuran/bacaan dari density.
Pada gambar di atas secara ekstrim digambarkan probe melintasi cavity. Partikel
Gamma yang keluar dari Gamma Source sebagian akan melewati cavity yang
Dokumen RecsaLOG
HS Martono-2004

tentunya berisi fluida (air, lumpur atau fluida lainnya) yang tentunya
mempunyai massa jenis yang lebih rendah dari formasi yang sedang dilewati.
Sebagian lagi Partikel Gamma melewati cavity kemudian masuk ke formasi dan
melewati cavity lagi untuk dapat mencapai detector. Kondisi ini mengakibatkan
pembacaan yang deviatif, dimana density formasi terbaca sebagai nilai densitas
rata-rata antara formasi dengan fluida yang ada didalam cavity. Tentu saja nilai
rata-rata ini akan proporsional sesuai dengan besar kecilnya cavity dan fluida apa
yang ada di dalamnya. Kondisi akan lebih rumit apabila fluida yang ada
didalamnya adalah udara (ini terjadi untuk running di atas water level atau bila
sumur dalam kondisi water loss)
3. Bagaimana Casing Mempengaruhi Pengukuran Density
Secara teoritis, steel casing akan mengurangi energi dari partikel Gamma, namun
pengurangan ini tidaklah begitu besar, akibatnya penetrasi partikel Gamma
kedalam formasi, meskipun kecil juga akan berkurang. Pengaruh ini tidak lebih
dari 10%
Pengaruh yang mencolok dengan adanya casing (baik steel casing atau PVC)
adalah karena menjadikan jarak antara probe (sumber gamma dan detector

Winch Cable

Borehole
(Water Filled)
Casing
(Steel or PVC)

Underground
Formation

Caliper Arm
(decentralizer)
Gamma Detector
Gamma ray
Gamma Source
(Cs137 or Co60)

Principle of Density Measurement

density) terhadap dinding sumur/formasi menjadi lebih jauh, sehingga sebagian


partikel gamma yang keluar dari gamma source akan melewati casing untuk
Dokumen RecsaLOG
HS Martono-2004

mencapai detector. Kita tidak tahu bagaimana kondisi antara dinding sumur
dengan casing. Apakah disitu ada celah ? atau ada Cavity ? Karena keduanya
akan sangat mempengaruhi pengukuran density. Kondisi yang paling buruk yang
menimpa Short Density manakala casing tidak rapat kedinding sumur. Ini bisa
terjadi pada lobang bor yang diameternya berubah-ubah karena spin rod pada
waktu proses pemboran berlangsung, sehingga memungkinkan adanya celah
antara casing dan dinding sumur. Kondisi ini sering terjadi dibagian atas dari
sumur. Itu sebabnya dibagian atas Sort Density dan Long Density mempunyai
CPS yang relative lebih besar. Apalagi kalau berada di atas water level.
4. Perbedaan Pengukuran Long Density dan Short Density
Prinsip mendasar dari perbedaan pengukuran Long Density dan Short Density
adalah pada Jarak Gamma Source dan Detektor. Pada Spesifikasi Probe FDG

Gamma Detector
Long Density
Gamma Detector
Short Density
Gamma ray
Gamma Source
(Cs137 or Co60)

terlihat bahwa Jarak Detector Long Density terhadap Gamma Source adalah 37
cm, sementara untuk Short Density adalah 17 cm.
Secara ideal digambarkan bahwa perjalanan partikel Gamma yang tertangkap
oleh detector Short Density (SD) lebih dangkal masuk kedalam formasi dibanding
yang tertangkap detector Long Density (LD). Dengan kata lain penetrasi Gamma
pada LD lebih dalam dibanding SD.
Dalam kondisi logging dilakukan didalam casing atau adanya cavity atau
keduanya, maka pengaruh casing/cavity relative kecil pada LD, namun sebaliknya
pada SD.

Dokumen RecsaLOG
HS Martono-2004

Pengaruh lainnya dalam pengukuran yang ideal (tidak ada casing dan tidak ada
caving), bahwa LD cenderung akan merata-ratakan densitas formasi-formasi
yang tipis, sementara SD akan lebih detai membaca formasi-formasi yang tipis
5. Peran Caliper
Hasil logging density tanpa caliper dapat dijelaskan pada Gambar 2, sbb :

Winch Cable

Borehole
(Water/mud
Filled)

Underground
Formation

Gamma Detector
Gamma ray
Gamma Source
(Cs137 or Co60)

Principle of Density Measurement

Partikel Gamma saat keluar dari Source sebagian akan melewati media dalam
lobang bor (air atau mud) (garis putus-putus) langsung menuju ke detector
sebagian lagi akan melewati media kemudian masuk kedalam formasi dan
melalui media lagi baru sampai ke detector, sehingga yang terbaca oleh detector
tentu saja density dari media dan formasi.
Apabila media yang ada dalam lobang bor adalah bentonite mud atau air
garam/asin yang mempunyai massa jenis antara 1.1 1.2 g/cc, ini akan menjadi
cerita lain dalam hasil log terutama SD
Untuk media yang homogen tentu saja density yang terbaca lebih mudah
diinterpretasikan.
Dengan adanya dua detector (LD dan SD), peranan LD menjadi sangat penting
karena pengaruh media tidak begitu mencolok selama diameter lobang bor tidak
terlalu besar atau tidak melalui caving. Hasil logging SD tetap baik untuk
openhole (tanpa rod atau casing) dengan diameter lobang bor kurang dari 3.5
inch.

Dokumen RecsaLOG
HS Martono-2004

Gamma Ray Log


Gamma Ray Log adalah suatu pengukuran radioaktif alamiah dari formasi-formasi.
Oleh karena itu log berguna dalam mendeteksi dan mengevaluasi deposit dari
mineral-mineral radioaktif seperti potasium atau biji uranium.
Dalam formasi-formasi sediment secara normal Gamma Ray (GR) Log mencerminkan
Clay dan Shale terkandung dalam formasi-formasi. Ini disebabkan elemen-elemen
radioaktif cenderung untuk berkonsentrasi di dalam clay dan shale.
Formasi yang bersih biasanya mempunyai sifat radioaktif dengan tingkat yang sangat
rendah, kecuali kontaminasi radioaktif, contohnya seperti vulkanik ash atau geonite
wash atau apabila air formasi mengandung garam-garam potassium.
GR Log dapat di rekam dalam cased well, ini sering digunakan sebagai pengganti SP
yang tidak dapat diperoleh dalam cased well, atau jika SP log tidak memuaskan. GR
log sangat bermanfaat untuk non-shaly bed dan korelasinya.
Sementara shale dan shalysand mempunyai sifat radioaktif yang tinggi, clean sand,
carbonate dan COAL pada umumnya menunjukkan sifat radioaktif yang rendah. GR
Log menjadi sangat bermanfaat untuk menunjukkan Coal Zone, karena clean coal
cenderung menampilkan radioaktif yang sangat rendah dibanding dengan formasi
lainnya. Jika Coal zone menunjukkan andanya tingkat radioaktif yang agak tinggi
(namun masih berada dibawah sand atau carbonate) ini disebabkan adanya
kontaminasi dari formasi lainnya atau adanya garam potassium seperti dijelaskan di
atas.
Nilai utama dari GR Log adalah membedakan antara shale dan sandstone dan
batuan-batuan radioaktif lainnya. Tambahan, sand tertentu di dalam beberapa
tempat mempunyai sifat radioaktif yang lebih besar dari pada shale. Interpretasi dari
stratigrafik GR log diperlukan untuk mengetahui kondisi lokasi.
Penggolongan sifat radioaktif batuan sediment adalah :

Very low radioactivity : andydrite, salt, coal, dan modular atau concretionary
chert termasuk dalam katagori ini
Low radioactivity : pure limestone, dolomite dan sandstone atau campuran
dari batuan-batuan ini, microcrystalline untuk earthy dolomite lebih radioaktif
dari pada coarse grained sandstone. Radioaktif dari limestone dan dolomite
lebih besar untuk warna yang lebih gelap.
Medium radioactivity : arcose, granite wash, shale dolomite, siltstone, maris,
calcareous dan sandy shale mempunyai medium radioaktif. Batuan yang
mempunyai warna gelap seperti pure rock mempunyai sifat radioaktif yang
lebih tinggi dari pada yang berwarna cerah
Higher radioactivity : Shale, vulkanik ash dan bentonite possess bersifat
radioaktivitas yang tinggi. Batuan yang memiliki radioaktivitas tinggi sangat
baik untuk penilaian secara geologi pada area yang luas

Ini merupakan pertimbangan, bahwa intensitas Gamma dalam borehole sebanding


dengan konsentrasi dari mineral radioaktif dalam formasi. Dengan kata lain intensitas
Dokumen RecsaLOG
HS Martono-2004

rata-rata radioaktivitas dalam borehole amat ditentukan oleh porsi shale dalam
formasi.
Batas-batas bed ditafsirkan dengan cukup teliti apabila sample interval dan
kecepatan logging dibuat semakin kecil. Dalam interpretasi dari GR log batas-batas
bed tersebut adalah separuh jalan antara defleksi maksimum dan minimum dari
anomaly.
GR log dapt digunakan untuk menggambarkan mineral non radioaktif seperti Coal
bed, atau korelasi cased hole. Dibandingkan dengan open hole log, defleksi gamma
pada cased hole sedikit melemah karena absorpsi steel casing atau semen.
Catatan :

Gamma Ray Log relative tidak terpengaruh dengan adanya Casing, Steel Casing
sekalipun
KESIMPULAN
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan, bahwa Casing tidak begitu banyak
mempengaruhi penetrasi dari Gamma dalam pengukuran Density. Casing
mempengaruhi jarak antara probe dengan dinding sumur (formasi) yang
menyebabkan pengukuran density tidak sempurna, artinya density yang terukur
berarti density rata-rata dari density Casing, density media (fluida) antara casing dan
formasi dan density formasi. Yang paling membuat rancu pengukuran adalah celah
antara casing dan dinding sumur termasuk didalamnya adalah cavity yang
mempunyai jarak atau ketebalan yang tidak tentu, sehingga memungkinkan
timbulnya interpretasi yang salah apabila tidak dilihat parameter lainnya.
Bila kemudian timbul pertanyaan : Mengapa CPS pasir atau lempung lebih
besar dari Batubara ?. Besar kemungkinan penyebabnya adalah hal-hal tersebut
di atas.
Itu sebabnya Logging Density sebisa mungkin dilakukan tanpa Casing. Jika
memang harus pakai casing, maka Long Density harus dipakai.

Dokumen RecsaLOG
HS Martono-2004