Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar belakang
Urolithiasis atau batu saluran kemih merupakan suatu keberadaan batu yang tidak normal

yang ada di dalam saluran kemih.(ui)

Menurut tempatnya digolongkan menjadi batu ginjal

(Nefrolithiasis), batu ureter (Ureterolithiasis), batu buli (Vesikolithiasis) dan batu uretra
(Urethrolithiasis).(ui) Diperkirakan sekitar 10% penduduk Amerika mengidap penyakit batu
saluran kemih dengan prevalensi terkena penyakit ini semasa hidup sekitar 13% pada laki-laki
dan 7% pada perempuan.(Heilberg; I.P. and Schor, N. (2006) Renal stone disease : causes, evaluation and medical treatment. Arq Bras Endocrinol
Metab 50 : 823-831)

Dari data dalam negeri yang pernah dipublikasikan didapatkan peningkatan jumlah
penderita batu ginjal yang mendapat tindakan di RSUPN-Cipto Mangunkusumo dari tahun ke
tahun mulai 182 pasien pada tahun 1997 menjadi 847 pasien pada tahun 2002. Sedangkan data
dari Puskesmas Jatirokeh didapatkan pasien dengan dugaan batu saluran kemih dari tahun 2009
sebanyak 385 orang dari jumlah penduduk 69.501 orang (0,55%) dan pada tahun 2010 sebanyak
499 orang dari jumlah penduduk 68.093 orang (0,73%). Selain keterangan diatas kekambuhan
pembentukan batu merupakan masalah yang sering muncul pada semua jenis batu dan oleh
karena itu menjadi bagian penting perawatan medis pada pasien dengan batu saluran kemih. (Wahab
S, Setiani O, Joko T. Hubungan kandungan mineral calcium, magnesium, mangaan dalam sumber air dengan kejadian batu saluran kemih pada penduduk yang tinggal
di kecamatan songgom kabupaten brebes. Jurnal kesehatan lingkungan Indonesia Vol. 11 No. 2/ Oktober 2012)

Makalah presentasi kasus ini akan membahas tentang seorang pasien yang mengidap batu
saluran kemih. Maka diharapkan makalah ini dapat memberikan gambaran mengenai gejala
klinis, cara diagnosis, serta penatalaksanaan yang tepat pada penderita batu saluran kemih.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Anatomi saluran kemih

2.1.1

Ginjal
Ginjal berwarna coklat kemerahan dan terletak di belakang peritoneum, tinggi pada

dinding posterior abdomen di samping kanan dan kiri columna vertebralis dan sebagian besar
tertutup oleh arcus costalis. Ginjal kanan terletak sedikit lebih rendah di bandingkan ginjal kiri,
karena adanya lobus hepatis dexter yang besar. Pada kedua margo medialis ginjal yang cekung
terdapat celah vertical yang dibatasi oleh pinggir-pinggir substansi ginjal yang tebal dan disebut
hilum renal. Hilum renal meluas ke suatu ruangan yang besar disebut sinus renalis. Hilum
renalis dilalui dari depan ke belakang oleh vena renalis, dua cabang arteri renalis, ureter dan
cabang ketiga arteri renalis. Pembuluh-pembuluh limfatik dan serabut-serabut simpatis juga
melalui hilum ini.
Arteri renalis berasal dari aorta setinggi vertebra lumbalis II. Masing-masing arteri
renalis biasanya bercabang menjadi lima arteri segmentales yang masuk ke dalam hilum renal,
empat di depan dan satu di belakang pelvis renalis. Arteri ini mendarahi segmen-segmen atau
area renalis yang berbeda. Arteri lobares berasal dari arteri segmentalis, masing-masing satu
buah untuk satu pyramid renalis.

Sebelum masuk substansi renalis, setiap arteri lobaris

mempercabangkan dua atau tiga arteriae interlobares. Arteriae interlobares berjalan menuju
cortex di antara pyramides renales.

Pada perbatasan cortex dan medulla renalis, arteriae

interlobares bercabang menjadi arteriae arcuatae yang melengkung di atas basis pyramides
renales. Arteriae arcuatae mempercabangkan sejumlah arteriae interlobulares yhang berjalan ke
atas di dalam cortex. Arteriolae aferen glomerulus merupakan cabang arteriae interlobulares.
Vena renalis keluar dari hilum renale di depan arteria renalis dan mengalirkan darah ke vena cava
inferior.
Serabut plexus renalis.

Serabut-serabut aferen yang berjalan melalui plexus renalis

masuk ke medulla spinalis melalui nervi thoracici 10,11, dan 12.


2.1.2

Ureter
Ureter merupakan saluran muscular yang terbentang dari ren ke facies posterior vesica

urinaria. Urin didorong sepanjang ureter oleh kontraksi peristaltic tunika muskularis, dibantu
2

oleh tekana filtrasi glomerulus. Setiap ureter mempunyai panjang sekitar 25 cm dan mempunyai
tiga penyempitan: (1) di tempat pelvis renalis berhubungan dengan ureter, (2) di tempat ureter
melengkung pada waktu menyilang aperture pelvis superior, dan (3) di tempat ureter menembus
dinding vesica urinaria. Pelvis renalis berbentuk corong dan merupakan ujung atas ureter yang
melebar. Pelvis renalis terletak di dalam hilum renalis.
Arteria yang mendarahi ureter adalah sebagai berikut : (a) ujung atas oleh arteria renalis;
(b) bagian tengah oleh arteria testicularis atau arteria ovarica; dan (c) di dalam pelvis ole arteria
vesicalis superior. Darah vena dialirkan ke dalam venae yang sesuai dengan arteriae
Plexus renalis, testicularis dan plexus hypogastricus (di dalam pelvis). Serabut-serabut
aferen berjalan bersama dengan saraf simpatis dan masuk medulla spinalis setinggi segmen
lumbalis I dan II
2.1.3

Vesica urinaria
Vesica urinaria terletak tepat di belakang pubis di dalam cavitas pelvis. Kapasitas vesica

urinaria pada orang dewasa kurang lebih 500 ml.

Vesica urinaria yang kosong berbentuk

pyramid mempunyai apex, basis dan sebuah facies superior serta dua buah facies inferolateralis;
juga mempunyai collum. Apex vesicae mengarah ke depan dan terletak di belakang pinggir atas
supmphysis pubica. Apex vesica dihubungkan dengan umbilicus oleh ligamentum umbilicale
medianum. Basis atau facies posterior vesicae, menghadap ke posterior dan berbentuk segitiga.
Sudut superolateralis merupakan tempat muara ureter, dan sudut inferior merupakan tempat asal
urethra. Tunica mucosa sebagian besar berlipat-lipat pada vesica urinaria yang kosong dan
lipatan-lipatan tersebut akan menghilang bila vesica urinaria terisi penuh. Area tunica mucosa
yang meliputi permukaan dalam basis vesica urinaria dinamakan trigonum vesicae liutaudi. Di
sini, tunica mucosa selalu licin, walaupun dalam keadaan kosong karena membrane mucosa pada
trigonum ini melekat dengan erat pada lapisan otot yang ada di bawahnya. Sudut superior
trigonum ini merupakan tempat muara ureter dan sudut inferiornya merupakan ostium urethrae
internum.

Ureter menembus dinding vesica urinaria secara miring dan keadaan ini yang

membuat fungsinya seperti katup yang mencegah aliran balik urin ke ginjal pada waktu vesica
urinaria terisi.
Arteria vesicalis superior dan inferior merupakan cabang arteria iliaca interna. Venae
membentuk plexus venosus vesicalis, dan bermuara ke vena iliaca interna.
3

Persarafan vesica urinaria berasal dari plexus hypograstricus inferior.

Serabut

pascaganglionik simpatis berasal dari ganglion lumbalis pertama dan kedua lalu berjalan turun ke
vesica urinaria melalui plexus hypogastricus.

Serabut preganglionik parasimpatikus yang

muncul sebagai nervi splanchnici pelvic berasal dari nervus sacrales kedua, ketiga dan keempat,
berjalan melalui plexus hypogastricus menuju ke dinding vesica urinaria, di tempat ini serabut
tersebut bersinaps dengan neuron postganglionik. Sebagian besar serabut aferen sensorik yang
berasal dari vesica urinaria menuju ke dinding vesica urinaria, di tempat ini serabut tersebut
bersinaps dengan neuron postganglionic. Sebagian besar serabut aferen sensorik yang berasal
dari vesica uninaria menuju system saraf pusat melalui nervi splanchnici pelvic. Sebagian
serabut aferen berjalan bersama saraf simpatis melalui plexus hypogastricus dan masuk ke
medulla spinalis segmen lumbalis pertama dan kedua.
2.1.4

Urethra

2.1.4.1 Urethra masculine


Urethra masculine panjangnya sekitar 20 cm dan terbentang dari collum vesicae urinaria
sampai ostium urethra externum pada glans penis. Urethra masculine dibagi menjadi tiga bagian
: (1) pars prostatica, (2) pars membranacea, dan (3) pars cavernosa. Urethra pars prostatica
dpanjangnya sekitar 3 cm dan berjalan melalui prostat dari basis sampai apexnya. Bagian ini
merupakan bagian yang paling lebar dan yang paling dapat dilebarkan dari urethra. Urethra pars
membranacea panjuangnya sekitar 1,25 cm terletak di dalam diaphragm urogenitale

dan

dikelilingi oleh musculus sphincter urethrae. Bagian ini merupakan bagian urethra yang paling
tidak bisa dilebarkan. Urethra pars spongiosa panjangnya sekitar 15 cm dan dibungkus di dalam
bulbus dan corpus spongiosum penis. Ostium urethrae externeum merupakan bagian yang
tersempit dari seluruh urethra. Bagian urethra yang terletak di dalam glans penis melebar
membentuk fossa navicularis.

Glandula bulbourethralis bermuara ke dalam urethra pars

spongiosa distal dari diaphragma urogenitale.


2.1.4.2 Urethra feminina
Panjang urethra feminine kurang lebih 3,8 cm. urethra terbentang dari collum vesicae
urinaria sampai ostium urethrae externum yang bermuara ke dalam vestibulum sekitar 2,5 cm
distal dari clitoris. Urethra menembus musculus sphincter urethrae dan terletak tepat di depan

vagina.

Di samping ostium urehtae externum terdapat muara kecil dari ductus glandula

paraurethralis. Urethra dapat dilebarkan dengan mudah.

TINJAUAN PUSTAKA
1.2 Definisi
Importantly, kidney stones are a reccurent disorder, with lufetime recurrent disorder, with
lifetime recurrence risks reported to be as high as 50 %(odvina and pak, 2007)

1.2 Anatomi
Ginjal
Ginjal adalah sepasang organ saluran kemih yang terletak di rongga retroperitoneal
bagian atas. Bentuknya menyerupai kacang dengan sisi cekungnya menghadap ke medial. Pada
sisi ini terdapat hilus ginjal yaitu tempat struktur-struktur pembuluh darah, system limfatik,
sisem saraf dan ureter menuju dan meninggalkan ginjal.1
Besar dan berat ginjal sangat bervariasi, hal ini tergantung pada jenis kelamin, umur, serta
ada tidaknya ginjal pada sisi yang lain. Pada autopsi klinis didapatkan bahwa ukuran ginjal orang
dewasa rat-rata adalah 1,5 cm (panjang) x 6 cm (lebar) x 3,5 cm (tebal) dengan berat yang
bervariasi, antara 120-170 gram, atau kurang lebih 0,4% dari berat badan.

Gambar: struktur ginjal


1.3 Insidensi dan epidemiologi
Urolithiasis merupakan penyakit yang salah satu dari gejalanya adalah pembentukan batu
di dalam saluran kemih. Penyakit ini diduga telah ada sejak peradaban manusia yang tua karena
ditemukan batu di antara tulang panggul kerangka mumi dari seorang berumur 16 tahun. Mumi
ini diperkirakan berumur sekitar 7000 tahun. Di berbagai tempat lain dilaporkan kasus batu
kandung kemih.
Penelitian epidemiologi memberikan kesan seakan-akan penyakit batu mempunyai
hubungan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat dan berubah sesuai dengan perkembangan
kehidupan suatu bangsa.

Berdasarkan pembandingan data penyakit batu saluran kemih di

berbagai negara, dapat disimpulkan bahwa di negara yang mulai berkembang terdapat banyak
batu saluran kemih bagian bawah, terutama terdapat di kalangan anak. Di negara yang sedang
berkembang insidensi batu saluran kemih relatif rendah, baik dari batu saluran kemih bagian
bawah maupun dari batu saluran kemih bagian atas. Di negara yang telah berkembang, terdapat
banyak batu saluran kemih bagian atas, terutama di kalangan orang dewasa. Pada suku bangsa
tertentu, penyakit batu saluran kemih sangat jarang, misalnya suku bangsa Bantu di Afrika
Selatan.
Abad ke-16 hinga abad ke-18 tercatat insidensi tertinggi penderita batu kandung kemih
yang ditemukan pada anak di berbagai negara di Eropa. Batu seperti ini sejak abad ke-18
7

menghilang sehingga disebut batu sejarah. Berbeda dengan di Eropa, di negara berkembang
penyakit batu kandung kemih seperti ini masih ditemukan hingga saat ini, misalnya di Indonesia,
Thailand, Indian, Kamboja dan Mesir.

Karena ditemukan secara endemik, penyakit batu

kandung kemih ini disebut batu endemik atau batu primer karena terbentuk langsung di dalam
kandung kemih tanpa sebab yang jelas.
Batu kandung kemih dapat juga terbentuk pada usia lanjut yang disebut batu sekunder
karena terjadi sebagai akibat adanya ganggua aliran air kemih, misalnya karena hipertrofi prostat.
1.4 Etiologi
Terbentuknya batu saluran kemih diduga ada hubungannya dengan gangguan aliran urin,
gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi, benda asing dan keadaan-keadaan lain
yang masih belum terungkap (idiopatik).1
Secara epidemiologis terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya batu
saluran kemih pada seseorang. Faktor-faktor itu adalah faktor intrinstik yaitu keadaan yang
berasal dari tubuh seseorang dan faktor ekstrinsik yaitu pengaruh yang berasal dari lingkungan
disekitarnya.1,2,4
Faktor intrinsik itu antara lain adalah1,2,4 :
-

Herediter (keturunan): penyakit ini diduga diturunkan dari orang tuanya.


Umur: penyakit ini paling sering didapatkan pada usia 20-50 tahun.
Jenis kelamin: jumlah pasien laki-laki tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan pasien

perempuan.
Pernah menderita gout sebelumnya.
Anatomi individual yang tidak normal: tubular ectasia (medullary sponge kidney), pelvoureteral junction obstruction, caliceal diverticulum, caliceal cyst, ureteral stricture,
vesico-ureteral reflux, horseshoe kidney
Faktor ekstrinsik diantaranya adalah 1,2,4:

geografi: pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian batu saluran kemih lebih

tinggi dari pada daerah lain sehingga dikenal sebagai daerah stone belt (sabuk batu).
Iklim dan temperature: Individu yang menetap di daerah beriklim panas dengan paparan
sinar ultraviolet tinggi akan cenderung mengalami dehidrasi serta peningkatan produksi
vitamin D3 (memicu peningkatan ekskresi kalsium dan oksalat), sehingga insiden batu
saluran kemih akan meningkat.
8

Asupan air: Kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium pada air yang
dikonsumsi, dapat meningkatkan insiden batu saluran kemih. Diet: Obat sitostatik untuk
penderita kanker juga memudahkan terbentuknya batu saluran kemih, karena obat
sitostatik bersifat meningkatkan asam urat dalam tubuh. Triamteren, acetazolamide
Sulphonamid juga meningkatkan resiko batu saluran kemih. Diet banyak purin, oksalat,
dan kalsium serta konsumsi vitamin C > 4 gr/hari mempermudah terjadinya penyakit batu

saluran kemih.
Pekerjaan: Penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak duduk
atau kurang aktifitasnya (sedentary life).

Komposisi dan pembentukan batu


Komposisi batu yang ditemukan pada seseorang perlu ditentukan karena komposisi batu
dipakai sebagai landasan untuk menyelusuri etiologi penyakit batu saluran kemih. Analisis batu
dapat dilakukan secara kimiawi, yaitu cara kualitatif dan cara kuantitatif dengan metode
kromatografik dan autoanalisis.

Cara lain adalah cara optik dengan diseksi mikroskopik

binokuler dengan mikroskop petrografik.

Juga ada cara instrumeental melalui kristalografi

radiografik, spektroskopi inframerah, termoanalitik, dan mikroskopi elektron.

Kristalografi

radiografik merupakan cara yang dianggap paling baik ditinjau dari segi kesederhanaan dan
ketepatannya.
Komposisi batu saluran kemih yang dapat ditemukan adalah dari jenis urat, asam urat,
oksalat, fosfat, sistin dan xantin. Batu oksalat kalsium kebanyakan merupakan batu idiopatik.
Batu campuran oksalat, fosfat, siostin dan xantin. Batu oksalat kalsium kebanyakan merupakan
batu idiopatik. Batu campuran oksalat kalsium dan fosfat biasanya juga idiopatik; di antaranya
berkaitan dengan sindrom alkali atau kelebihan vitamin D.

Batu fosfat dan kalsium

(hidroksiapatit) kadang disebabkan hiperkalsiuria (tanpa hiperkalsemia). Batu fosfat amonium


magnesium didapatkan pada infeksi kronik yang disebabkan oleh bakteria yang menghasilkan
urease sehingga urin menjadi alkali karena pmecahan ureum. Batu asam urat disebabkan oleh
hiperuremia pada artritis urika. Batu urat pada anak terbentuk karena pH urin rendah.
Pada kebanyakan penderita batu kemih tidak ditemukan penyebab yang jelas. Faktor
predisposisi berupa stasis, infeksi, dan benda asing. Infeksi, stasis dan litiasis merupakan faktor
yang saling memperkuat sehingga terbentuk linkaran setan. Jaringan abnormal atau mati seperti

pada nefrosis papila di ginjal dan benda asing mudah menjadi nidus dan inti batu. Demikian
pula telor sistosoma kadang merupakan nidus batu.
Batu idiopatik disebabkan oleh pengaruh berbagai faktor. Misalnya, batu urat pada anak
di negara yang sedang berkembang. Faktor yang memegang peranan kausal ialah dehidrasi dan
gastroenteritis. Faktor ini mengakibatkan oliguria dengan urin yang mengandung kadar asam
tinggi urin dan ikatan kimia lain. Faktor lain ialah imobilisasi lama pada penderita ceddera
dengan fraktur multipel atau paraplegia yang menyebabkan dekalsifikasi tulang dengan
peningkatan ekskresi kalsium dan stasis sehingga presipitasi batu mudah terjadi. Pada sebagian
kecil penderita batu kemih didapatkan kelainan kausal yang menyebabkan ekdresi kelebihan
bahan dasar batu seperti yang terjadi pada hiperparatiroidisme, hiperokaluria, artritis urika dan
sistinuria.
Gambaran klinis
Nyeri
Nyeri kolik dan non kolik renal merupakan 2 tipe nyeri yang berasal dari ginjal. Kolik
renal biasanya disebabkan oleh peregangan pada ureter, sedangkan nyeri nonkolik biasanya
disebakan oleh pelebaran kapsul ginjal.

Obstruksi ureter merupakan mekanisme utama

terjadinya kolik renal.


Hematuria
Kadang pasien mengeluhkan kencing berdarah dan seperti air teh. Kebanyakan pasien

1.5 Efek Batu Pada Saluran Kemih5


Ukuran dan letak batu biasanya menentukan perubahan patologis yang terjadi pada
traktus urinarius :
A. Pada ginjal yang terkena
obstruksi
10

infeksi
epitel pelvis dan calis ginjal menjadi tipis dan rapuh.
iskemia parenkim.
metaplasia
B. Pada ginjal yang berlawanan
compensatory hypertrophy
dapat menjadi bilateral
1.6 Gambaran Klinis
Keluhan yang paling dirasakan oleh pasien adalah nyeri pada pinggang. Nyeri ini
mungkin bisa berupa nyeri kolik ataupun bukan kolik. Nyeri kolik terjadi karena aktivitas
peristaltik otot polos sistem kalises ataupun ureter meningkat dalam usaha untuk mengeluarkan
batu dari saluran kemih. Peningkatan peristaltik itu menyebabkan tekanan intraluminalnya
meningkat sehingga terjadi peregangan dari terminal saraf yang memberikan sensasi nyeri. Nyeri
non kolik terjadi akibat peregangan kapsul ginjal karena terjadi hidronefrosis atau infeksi pada
ginjal. Keluhan yang disampaikan pasien tergantung pada letak batu, besar batu, derajat
obstruksi, variasi anatomi individu dan penyulit yang telah terjadi.2,3
Kolik renalis ditandai dengan nyeri hebat yang hilang-timbul, biasanya di daerah antara
tulang rusuk dan tulang pinggang, yang menjalar ke perut, daerah kemaluan dan paha sebelah
dalam. Batu yang terletak di sebelah distal ureter oleh pasien sebagai nyeri pada kencing atau
sering kencing. Batu dengan ukuran kecil mungkin dapat keluar spontan setelah melalui
hambatan pada perbatasan uretero-pelvik, saat ureter menyilang vasa iliaka dan saat ureter
masuk ke dalam buli-buli.1,3
Hematuri sering dikeluhkan pasien akibat trauma pada mukosa saluran kemih yang
disebabkan oleh batu. Hematuria yang terjadi dapat berupa gross hematuria atau warna kencing
seperti air teh. Kadang-kadang hematuri didapatkan dari pemeriksaan urinalisa berupa hematuria
mikroskopik.2
Jika didapatkan demam harus dicurigai suatu urosepsis dan ini merupakan kedaruratan
bidang urologi. Dalam hal ini harus ditentukan letak kelainan anatomik pada saluran kemih yang
mendasari timbulnya urosepsi dan segera dilakukan terapi berupa drainase dan pemberian
antibiotika.1
11

1.7 Pemeriksaan Fisik


pemeriksaan fisik rinci merupakan komponen penting dari evaluasi setiap pasien yang
dicurigai memiliki kalkulus kemih. yang menyajikan pasien dengan kolik ginjal akut biasanya
adalah sakit parah, sering berusaha untuk mencari bantuan dalam beberapa, posisi sering aneh.
fakta ini membantu membedakan pasien dengan kondisi ini dari orang-orang dengan peritonitis,
yang takut untuk bergerak. komponen sistemik dari kolik ginjal mungkin jelas, dengan
takikardia, berkeringat, mual dan sering menonjol. kelembutan sudut costovertebral dapat
terlihat. massa abdomen dapat teraba pada pasien dengan bate urine lama obstruktif dan
hidronefrosis parah
demam, hipotensi, dan vasodilatasi kulit dapat terlihat pada pasien dengan urosepsis.
dalam kasus tersebut ada kebutuhan mendesak untuk dekompresi saluran kemih terhambat,
resusitasi cairan intravena besar, dan antibiotik intravena. kadang-kadang, dukungan perawatan
intensif diperlukan.
pemeriksaan abdomen menyeluruh harus menyingkirkan penyebab lain dari sakit perut.
tumor abdomen, aneurisma aorta perut, hernia disk lumbal, dan kehamilan dapat meniru kolik
ginjal. disebut nyeri mungkin mirip karena jalur saraf aferen umum. ileus usus mungkin
berhubungan dengan kolik ginjal atau intraperitoneal lain atau proses retroperitoneal. kandung
kemih palpasi harus dilakukan karena retensi urin mungkin hadir dengan nyeri yang mirip
dengan kolik ginjal. dipenjara hernia inguinal, epididimitis, orkitis, dan wanita negara patologis
pelvis dapat meniru penyakit batu kemih. pemeriksaan rektal membantu mengecualikan kondisi
patologis lainnya.

Hasil pemeriksaan fisik dapat berupa:2

komponen sistemik dari kolik ginjal berupa takikardi, berkeringat dan nausea
nyeri tekan atau ketok costovertebral angle
teraba masa pada abdomen pada pasien dengan obstruksi batu saluran kemih jangka

panjang dan hidronefrosis berat


demam, hipotensi, vasodilatasi kutan dapat terlihat pada pasien urosepsis
pemeriksaan abdomen dilakukan untuk mengeksklusi penyebab lain dari nyeri abdomen

12

palpasi buli-buli harus dilakukan karena retensi urin mungkin memperlihatkan nyeri yang
mirip dengan kolik renal

1.8 Pemeriksaan Penunjang


a.

Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium meliputi:2,6

Urinalisis
pH yang rendah (<5,5) terlihat pada batu asam urat, pH tinggi (> 6), dicurigai adanya
organism penghasil urea seperti proteus.
Hematuria, biasanya terlihat secara mikroskopis atau gross hematuria.
Leukosituria. Kadar leukosit normal dalam urin adalah 0-5/ LPB.
Kristaluria dapat menentukan tipe batu
Bakteriuria. Jika ditemukan bakteriuria harus dilanjutkan dengan kultur urin.
Mikrobiologi urin
Pemeriksaan kimia darah (fungsi ginjal dan asam urat)
Pemeriksaan Radiologi 2,4,6

b.

KUB (Plain Film of Kidney Ureter Bladdder)


Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat kemungkinan adanya batu radioopak di
saluran kemih.

Intravena Pielografi (IVP)


Pencitraan ini dapat menunjukkan adanya kelainan anatomi dan kelainan fungsi
ginjal. IVP dapat mendeteksi batu radiolusen dan abnormalitas anatomi yang disebabkan
pembentukan batu, kontras (iodium) disuntikkan secara intravena, dan dibuat foto polos
serial ketika bahan kontras diekskresikan yaitu pada menit ke-5, 15, 30, dan 60. Masih
merupakan gold standard untuk pencitraan nyeri kolik akut.

Ultrasonografi (USG)
USG dikerjakan bila pasien tidak mungkin menjalani pemeriksaaan IVP, yaitu pada
keadaan-keadaan: alergi terhadap bahan kontras, faal ginjal yang menurun, dan pada
wanita yang sedang hamil.1 Pada pemeriksaan USG batu akan terlihat sebagai fokus
echogenic dengan posterior acoustic shadowing. Batu di ginjal dan ureter distal atau

13

dekat dengan ureterovesical junction, dapat dilihat dengan baik khususnya jika terdapat
dilatasi. USG sangat baik untuk menggambarkan komplikasi seperti hidronefrosis.

CT scan
Pemeriksaan ini cepat dan dapat menggambarkan struktur peritoneal dan
retroperitoneal untuk mendeteksi penyebab lain dari nyeri abdomen, serta tidak
bergantung pada keterampilan ahli radiologi (non operator dependent). Dengan
penambahan bahan kontras, CT scan dapat menilai fungsi ginjal. CT Scan dapat
mendeteksi batu radiolusen seperti asam urat yang tidak tampak pada foto polos.

Pielogafi Retrograd
Pielografi retrograd adalah pencitraan traktus urinarius bagian atas dengan cara
memasukkan bahan kontras radioopak langsung melalui kateter ureter transuretra.

1.9 Diagnosis Banding6


Kolik ureter maupun ginjal khususnya yang kanan, perlu dipertimbangkan kemungkinan
kolik saluran cerna, kandung empedu, atau apendisitis akut. Pada perempuan perlu juga
dipertimbangkan kemungkinan adneksitis. Bila terjadi hematuria, perlu dipertimbangkan
kemungkinan keganasan apalagi bila hematuria terjadi tanpa nyeri.
1.10 Terapi
Batu dapat dikeluarkan dengan cara medikamentosa, dipecahkan dengan ESWL, melalui
tindakan endourologi, bedah laparoskopi, atau pembedahan terbuka.3,4,6,7
Medikamentosa
Terapi ditujukan untuk batu yang ukurannya kurang dari 5 mm, karena diharapkan batu
dapat keluar spontan. Terapi yang diberikan bertujuan untuk mengurangi supaya dapat
mendorong batu keluar dari saluran kemih. Terapi pereda nyeri dengan golongan NSAID untuk
nyeri kolik juga dianjurkan.3,4,7
ESWL (extracorporeal shock wave lithotripsy)
Prosedur memecahkan batu ginjal atau dari luar tubuh dengan menggunakan gelombang
kejut sehingga menjadi pecahan halus yang dapat keluar bersama air seni. Alat ini dapat
memecah batu ginjal, batu ureter proksimal, atau batu buli-buli tanpa melalui tindakan invasive
dan tanpa pembisuan. Batu dipecah menjadi fragmen-fragmen kecil sehingga mudah dikeluarkan
14

melalui saluran kemih. Tidak jarang pecahan-pecahan batu yang sedang keluar menimbulkan
perasaan nyeri kolik dan menyebabkan hematuria.3,6
Endourologi
Tindakan endourologi adalah tindakan invasive minimal untuk mengeluarkan batu
saluran kemih yang terdiri atas memecah batu, dan kemudian mengeluarkannya dari saluran
kemih melalui alat yang dimasukkan langsung ke dalam saluran kemih. Alat itu dimasukkan
melalui uretra atau melalui insisi kecil pada kulit (perkutan). Proses pemecahan batu dapat
dilakukan secara mekanik, dengan memakai energi hidraulik, energi gelombang suara, atau
dengan energi laser. Beberapa tindakan endourologi itu adalah: 1,4
PNL (percutaneous Nephro Litholapaxy): yaitu mengeluarkan batu yang berada di dalam saluran
ginjal dengan cara memasukkan alat endoskopi ke sistem kalises melalui insisi pada kulit. Batu
kemudian dikeluarkan atau dipecah terlebih dahulu menjadi fragmen-fragmen kecil.
Litotripsi : yaitu memecah batu buli-buli atau batu uretra dengan memasukkan alat pemecah batu
(litotriptor) kedalam buli-buli. Pecahan batu dikeluarkan dengan evakuator Ellik.
Ureteroskopi atau uretero-renoskopi: yaitu memasukkan alat ureteroskopi peruretra untuk
melihat keadaan ureter atau system pielo-kaliks ginjal. Dengan memakai energi tertentu, batu
yang berada di dalam ureter maupun system pelvikalises dapat di pecah malalui tuntunan
ureteroskopi/ureterorenoskopi.
Ekstrasi Dormia : yaitu mengeluarkan batu ureter dengan menjaringnya melalui alat keranjang
Dormia.
Bedah Laparoskopi
Pembedahan laparoskopi untuk mengambil batu saluran kemih saat ini sedang
berkembang. Cara ini banyak dipakai untuk mengambil batu ureter.1,4
Bedah terbuka
Di klinik-klinik yang belum mempunyai fasilitas yang memadai untuk tindakan-tindakan
endourologi, laparoskopi, maupun ESWL, pengambilan batu masih dilakukan melalui
pembedahan terbuka. Pembedahan terbuka itu antara lain adalah : pielolitotomi atau
nefrolitotomi untuk mengambil batu pada saluran ginjal, dan ureterolitotomi untuk batu di ureter.
Tidak jarang pasien harus mengalami tindakan nefrektomi atau pengambilan ginjal karena
ginjalnya sudah tidak berfungsi dan berisi nanah (pionefrosis), korteksnya sudah sangat tipis atau

15

mengalami pengkerutan akibat batu saluran kemih yang menimbulkan obstruksi dan infeksi yang
menahun. 1,7

16

BAB II
LAPORAN KASUS BAGIAN ILMU BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU
Nama Pasien : Tn. S
Umur

: 43 Tahun

Jenis Kelamin : laki-laki


Pekerjaan

: Supir Alat Berat

Agama

: Islam

No.RM

: 732296

MRS

: 24 Agustuss 2011

Alamat

: PT MUP Segati, Pangkalan kerinci, Pelalawan

ANAMNESIS
Autoanamnesa
Keluhan Utama: Nyeri pinggang kiri sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit (SMRS)
Riwayat Penyakit Sekarang:
-

Sejak 3 hari SMRS pasien mengeluhkan nyeri pinggang kiri yang terus menerus dan
menjalar ke perut kiri, tidak menjalar ke paha dalam dan kantong pelir, nyeri tidak
bertambah dengan makan makanan, pasien tidak mengeluhkan adanya mual, muntah,
maupun demam. BAK tidak ada keluhan, warna kuning biasa, nyeri saat BAK tidak ada,
BAK tidak lebih sering pada malam hari, pasien tidak mengeluhkan sulit menahan BAK,
tiap BAK merasa puas, tidak pernah BAK berdarah, tidak ada riwayat kencing berpasir
dan riwayat keluar batu, BAK terputus-putus tidak ada. Pasien juga mengeluhkan BAB
berdarah, warna merah segar dan BAB keras. Jika ingin BAB diawali keluarnya kotoran,
kemudian darah. Terkadang terasa seperti ada yang keluar dari anus namun bukan
kotoran yang nantinya akan masuk sendiri. Kemudian pasien berobat ke RSUD Pasir
Pangarayan dan dirujuk ke RSUD AA.

Riwayat Penyakit Dahulu:


Riwayat hipertensi (-).
17

Riwayat trauma (-)


Riwayat Maag (+)
Riwayat Hemoroid (+) sejak 1 tahun yang lalu
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada penyakit yang berhubungan
Riwayat Kebiasaan
-

Kebiasaan minum yang kurang (+)


Sering mengkonsumsi jeroan (-)
Sering minum minuman penambah tenaga (2x sehari)

PEMERIKSAAN FISIK

Status generalis
-

Keadaan umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Komposmentis

Keadaan gizi

: TB: 159 cm, BB: 72 kg. IMT= 28,48

Vital sign

o Tekanan darah : 140/90 mmHg

o Nadi : 106 kali/menit, reguler, isi cukup


o Suhu : 36,6 oC
o Frek. Napas : 22 kali/menit
Pemeriksaan kepala dan leher : Konjunctiva anemis, sklera tidak ikterik, pupil isokhor

diameter 3 mm
Pemeriksaan thoraks
Pemeriksaan abdomen
Pemeriksaan ekstremitas
Pemeriksaan kelenjar limfe
Pemeriksaan genitourinarius
Pemeriksaan rektal toucher

: Dalam Batas Normal (DBN)


: status lokalis
: DBN
: DBN
: DBN
: Tonus sphingter ani baik, massa (-), mukosa licin, prostat

teraba kenyal, nyeri tekan arah jam 12, handscoon: feses (-), darah (-)

18

STATUS LOKALIS
Pemeriksaan abdomen :
Inspeksi

: perut datar, sikatrik (-)

Auskultasi

: bising usus (+) normal

Perkusi

: timpani

Palpasi

: perut supel, nyeri tekan (+) pada regio lumbal sinistra , hepar dan lien tidak
teraba.

Status Urologikus
Regio Flank/CVA

kanan

kiri

Tanda radang

(-)

(-)

Ballotement

sulit dinilai

sulit dinilai

Nyeri tekan

(-)

(+)

Nyeri ketok

(-)

(+)

Massa

(-)

(-)

Jaringan parut/ bekas operasi

(-)

(-)

Suprapubis
Inspeksi

: Buli- buli tidak membengkak

Palpasi

: Buli tidak penuh, nyeri tekan (-), Massa (-)

Genetalia Eksterna
OUE : tidak terpasang folley catheher
Diagnosis kerja
Renal pain sinistra ec Susp nefrolithiasis sinistra + hemoroid interna grade 1
Diagnosis Banding
Renal pain sinistra ec Susp pielonephritis sinistra + hemoroid interna grade 1
Gastritis + hemoroid interna grade 1

19

Pemeriksaan Penunjang (24-8-2011)


Darah rutin : Hb

: 6,1 gr %

Ht

: 18,8 vol %

Leukosit

: 8500/mm3

Eritrosit

: 2.820.000/mm3

Trombosit

: 217.000/mm3

Kimia darah : Albumin

: 3,1 g/dL

BUN

: 13 mg/dL

Kraetinin

: 2,10 mg/dL

Glukosa

: 111 mg/dL

AST

: 15 IU/L

ALT

: 12 IUL

Ureum

: 27,8 mg/dL

Hasil BNO IVP

20

Kesan : Batu pada ginjal kanan dan kiri


21

Rencana pemeriksaan lanjutan


Urinalisis
Faal ginjal
USG abdomen
Diagnosis : nefrolitiasis bilateral
-

Rawat inap
IVFD NaCL 18 gtt/i
Rencana Transfusi PRC 4 unit
Asam tranexamat 1 x 100 mg
Ketorolac 1x 30 mg

Prognosis : Bonam
Usulan Penatalaksanaan: Rencana ESWL
Follow up :
Tanggal 26-8-2011
S

: nyeri pinggang kiri menjalar ke perut kanan dan kiri BAK baik, BAB masih berdarah

tapi sudah bisa keluar lebih banyak dari sebelumnya.


O

: TD : 130/90, Nadi : 102x/i, RR : 22x/i, T : 36,6oC

Status lokalis :
Nyeri tekan regio lumbal kiri(+), Nyeri tekan regio lumbal kanan (-) Bising usus (+).
A

: Nefrolitiasis bilateral + hemoroid interna grade 1

: Th/ lanjut, Urinalisis, Faal ginjal, USG abdomen

Tanggal 27-8-2011
S

: nyeri pinggang kiri berkurang, BAK baik, BAB masih berdarah tapi sudah bias keluar

lebih banyak dari sebelumnya.


O

: TD : 140/90, Nadi : 92x/i, RR : 20x/i, T : 36,5oC


22

Status lokalis :
Nyeri tekan regio lumbal kiri(+), Nyeri tekan regio lumbal kanan (-) Bising usus (+).
A

: Nefrolitiasis bilateral + hemoroid interna grade 1

: Th/ lanjut, Urinalisis, Faal ginjal, USG abdomen

Tanggal 28-8-2011
Pasien pulang atas permintaan sendiri

DAFTAR PUSTAKA

1. Purnomo B. Batu saluran Kemih. Dalam: Dasar-Dasar urologi. Edisi kedua. Jakarta:
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. 2007. 57-66
2. Stead AG, Stead SM, Kaufman MS, Kent TS. First Aid surgery clerkship. Singapore : Mc
Graw Hill. 2004. 455-458.
3. Sjabani M. Batu Saluran Kemih. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta. 2006.
563-56.
4. Tiselius HG, Ackerman D, alken P, Buck C, Conort P, Galluci M, Knoll T. Guidelines on
urolithiasis. European association of Urology. 2006.
5. Webmaster. Renal Calculus. Diunduh dari : http://www.icm.tn.gov.in. Last update :
November 2007
6. Tanagho, Aninch. Smiths General Urology. San Fransisco. 2004. 175-187.
7. Sjamsuhidajat R, Wim de Jong. Saluran kemih dan Alat Kelamin laki-laki. Dalam: Buku
Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta: EGC. 2005. 733-81

23