Anda di halaman 1dari 17

ANALISA PENURUNAN DRASTIS KINERJA KEUANGAN GARUDA

INDONESIA PADA TAHUN 2014


A. LATAR BELAKANG
Suatu organisasi atau perusahaan tidak akan pernah lepas dari lingkungan sekitarnya.
Lingkungan perusahaan atau lingkungan bisnis dapat menjadi faktor pendukung maupun
penghambat organisasi, dan juga sebaliknya aktivitas organisasi dapat mempengaruhi
lingkungan sekitarnya. Lingkungan bisnis adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
secara langsung maupun tidak langsung terhadap manajemen organisasi atau aktifitas usaha.
Setiap perubahan dalam lingkungan bisnis akan dapat berdampak secara langsung ataupun
tidak langsung pada perusahaan, sehingga perusahaan harus mampu beroperasi dan
menyesuaikan diri secara optimal dalam kondisi lingkungan yang hampir selalu mengalami
perubahan setiap waktu.
Garuda Indonesia sebagai suatu perusahaan juga tidak dapat terlepas dari lingkungan
yang ada di sekitarnya, baik itu lingkungan internal ataupun lingkungan eksternal.
Lingkungan perusahaan tersebut dapat mempengaruhi ataupun terpengaruh dari aktivitas
bisnis yang dilakukan perusahaan. Untuk dapat bertahan dalam industri maskapai
penerbangan dan sekaligus memiliki keunggulan kompetitif, Garuda Indonesia harus selalu
mampu menyesuaikan diri dengan optimal terhadap perubahan yang terjadi di sekitarnya.
Permasalahan yang dihadapi Garuda Indonesia saat ini adalah untuk bangkit kembali
dan menunjukkan kinerja laba yang membaik, setelah pada tahun 2014 lalu mengalami
penurunan laba secara drastis yaitu rugi sebesar Rp 4,8 triliun, turun sebesar 734%
dibandingkan kinerja 2013. Penyebab permasalahan tersebut adalah inefisiensi biaya
operasional perusahaan khususnya biaya bahan bakar, beberapa rute penerbangan kurang
profitable atau merugikan, termasuk juga karena kenaikan harga bahan bakar pesawat, nilai
tukar Rupiah, serta persaingan dengan maskapaian penerbangan biaya murah. Faktor
lingkungan bisnis yang mempengaruhi dapat dilihat dari aspek ekonomi dan aspek hukum.
Selanjutnya dari analisa aspek-aspek tersebut dapat diberikan solusi dan rekomendasi yang
dapat dilakukan oleh Garuda Indonesia untuk dapat bertahan dan memiliki kemampuan yang
kompetitif dalam menghadapi persaingan di dunia penerbangan domestik dan internasional.

B. LANDASAN TEORI
Menurut Basu Swastha DH dan Ibnu Sukotjo W (Liberty, 1988), lingkungan
perusahaan adalah keseluruhan faktor-faktor intern dan ekstern yang mempengaruhi
perusahaan baik organisasi maupun kegiatannya. Berdasarkan tingkat pengaruh pada
perusahaan maka lingkungan bisnis atau lingkungan perusahaan dapat dibedakan menjadi 2
(dua) kategori, yaitu Lingkungan Internal dan Lingkungan Eksternal. Berikut ini adalah
penjelasan dari kedua macam lingkungan bisnis tersebut.
1. Lingkungan Internal
Lingkungan internal adalah faktor-faktor yang ada di dalam organisasi yang
berpengaruh terhadap manajemen organisasi.

Lingkungan internal ini biasanya

digunakan untuk menentukan kekuatan (strength) perusahaan dan juga mengetahui


kelemahan (weakness) perusahaan.
Lingkungan internal terdiri dari: visi misi perusahaan, nilai-nilai perusahaan, budaya
perusahaan, gaya manajemen, kebijakan organisasi, hubungan antar divisi, karyawan,
modal, material/ bahan baku dan peralatan/ perlengkapan produksi.
2. Lingkungan Eksternal
Lingkungan eksternal adalah faktor-faktor yang berpengaruh secara tidak langsung
terhadap kegiatan perusahaan. Lingkungan eksternal meliputi variabel-variabel di luar
organisasi yang dapat berupa tekanan umum dan tren di dalam lingkungan sosial
ataupun faktor-faktor spesifik yang beroperasi di dalam lingkungan kerja.
Lingkungan eksternal terbagi menjadi 2 yaitu :
-

Lingkungan Khusus (Mikro)


Pada lingkungan khusus, perusahaan dapat melakukan aksi-reaksi terhadap faktorfaktor penentu peluang pasar (opportunity) dan juga ancaman dari luar (threat).
Faktor-faktor yang mempengaruhi lingkungan khusus antara lain: pelanggan,
pemasok, pesaing, pemegang saham, kreditor, serikat pekerja dan pemerintah
sebagai pembuat peraturan.

Lingkungan Umum (Makro)


Lingkungan umum mencakup kondisi yang mungkin dapat mempengaruhi dan
mempunyai dampak terhadap perusahaan secara tidak langsung. Lingkungan ini
jauh lebih luas dan lebih besar dari lingkungan mikro. Pada lingkungan umum
(makro), perusahaan hanya dapat merespon terhadap perubahan yang terjadi pada
lingkungan di luar perusahaan.
-1-

Faktor-faktor yang mempengaruhi lingkungan umum antara lain:


a. Kondisi Ekonomi
Kondisi Ekonomi yaitu kondisi umum dari perekonomian yang berkaitan
dengan suku bunga, inflasi, konvertibilitas mata uang, tingkat penghasilan
perkapita, produk dimestik bruto, kebijakan moneter dan fiskal, sistem
perpajakan, pengangguran, tingkat upah, dan indikator ekonomi lainnya yang
berkaitan.
b. Kondisi Sosial-Budaya
Kondisi Sosial-budaya yaitu kondisi umum dari nilai-nilai sosial yang berlaku
mengenai hak asasi manusia, adat istiadat, norma, nilai, kepercayaan, bahasa,
sikap perilaku, bahasa, agama, selera, aspirasi, trend pendidikan dan lembaga
sosial terkait.
c. Kondisi Hukum-Politik
Kondisi hukum-politik yaitu ideologi politik, partai dan organisasi politik,
bentuk pemerintah, hukum, undang-undang dan peraturan pemerintah yang
mempengaruhi transaksi bisnis, perjanjian dengan negara lain, hak paten dan
merek dagang.
d. Kondisi Internasional
Kondisi internasional adalah kekuatan internasional yang dapat mempengaruhi
perusahaan, seperti perjanjian perdagangan internasional, kondisi ekonomi dan
politik internasional, kondisi pasar internasional, tenaga kerja, budaya suatu
negara, nilai mata uang, dan sebagainya.
e. Kondisi Demografi
Kondisi demografi adalah kondisi kependudukan yang terkait dengan jumlah,
struktur, komposisi dan perkembangan (perubahan) penduduk yang dapat
dipengaruhi atau berpengaruh terhadap keputusan dan aktivitas bisnis
perusahaan. Kondisi kependudukan dapat berupa jumlah penduduk, angka
kelahiran/kematian, migrasi penduduk, komposisi umur penduduk, angkatan
kerja, pendidikan, etnis/suku atau kewarganegaraan dan sebagainya pada suatu
daerah.
f. Kondisi Teknologi
Kondisi teknologi yaitu kondisi umum dari pengembangan dan tersedianya
teknologi di dalam lingkungan, termasuk kemajuan ilmu pengetahuan, proses
-2-

dan metode kerja, peralatan fisik, elektronik dan telekomunikasi, dan


sebagainya yang digunakan untuk menjalankan aktivitas bisnis.
g. Kondisi Lingkungan Alam (Ekologi)
Kondisi lingkungan alam yaitu merupakan kondisi umum dari alam dan
kondisi lingkungan secara fisik.

C. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN


PT Garuda Indonesia (Persero), Tbk adalah sebuah perusahaan BUMN (Badan Umum
Milik Negara) bergerak di bidang jasa transportasi udara yang didirikan pada tanggal 4 Maret
1975 berdasarkan Akta Pendirian No. 8 tanggal 4 Maret 1975. Tonggak sejarah berdirinya
Garuda Indonesia diawali pada 28 Desember 1949, dimana pesawat tipe Douglas DC-3
Dakota dengan registrasi PK-DPD dilabeli dengan nama Garuda Indonesian Airways.
Pesawat tersebut melakukan penerbangan dari DKI Jakarta ke Yogyakarta untuk menjemput
Presiden RI saat itu, Presiden Soekarno.
Pada 1989, Garuda Indonesian Airways berganti nama menjadi Garuda Indonesia.
Setahun kemudian, Garuda Indonesia diresmikan menjadi Perusahaan Negara. Pada masa itu,
Garuda Indonesia telah memiliki 38 pesawat yang terdiri dari 22 jenis DC-3, 8 pesawat laut
Catalina, dan 8 pesawat jenis Convair 240. Armada Garuda Indonesia terus berkembang, di
mana untuk pertama kalinya Garuda Indonesia membawa penumpang jamaah Haji ke
Mekkah pada 1956.
Saat ini komposisi kepemilikan saham Garuda Indonesia adalah sebesar 60,51 %
dimiliki oleh Pemerintah Indonesia, 25,49% oleh Credit Suisse AG Singapore TC AR CL PT
Trans Airways dan masyarakat (kepemilikan saham di bawah 2%) sebesar 13,55%. Hingga
2014, Garuda Indonesia memiliki 7 (tujuh) entitas anak yang berfokus pada produk/jasa
pendukung bisnis perusahaan induk, yaitu PT Aero Wisata, PT Abacus Distribution Systems
Indonesia, PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia, PT Aero Systems Indonesia, PT
Citilink Indonesia, PT Gapura Angkasa, dan Garuda Indonesia (GIH) France. Dalam kegiatan
kesehariannya, Garuda Indonesia didukung oleh 7.861 orang karyawan, termasuk 2.010
orang siswa yang tersebar di kantor pusat dan kantor cabang.
Visi Garuda Indonesia adalah untuk menjadi perusahaan penerbangan yang andal
dengan menawarkan layanan yang berkualitas kepada masyarakat dunia menggunakan
keramahan Indonesia. Saat ini Garuda Indonesia memiliki 169 armada yang melayani
penerbangan ke 57 destinasi domestik Indonesia dan 19 destinasi internasional.
-3-

Seiring dengan pertumbuhan kinerja di berbagai aspek finansial dan operasional,


Garuda Indonesia meraih beragam apresiasi dan penghargaan prestisius dari berbagai
lembaga nasional maupun internasional. Pada 2012, Garuda dinobatkan sebagai The Best
International Airline oleh lembaga riset Roy Morgan di Australia, serta The Worlds Best
Regional Airline oleh Skytrax, lembaga pemeringkat airline yang berkedudukan di London
dalam ajang pameran kedirgantaraan Farnborough Airshow. Selanjutnya, dalam pameran
kedirgantaraan Paris Air Show yang diselenggarakan pada Juni 2013, Garuda Indonesia
memeroleh penghargaan The Worlds Best Economy Class dan Best Economy Class
Airline Seat, serta dinobatkan pada peringkat ke-7 dalam jajaran The Worlds Top 10
Airlines. Pada September 2013, acara Passenger Choice Award 2013 yang
diselenggarakan di Anaheim, California, Amerika Serikat oleh Airline Passenger Experience
Association (APEX) - asosiasi peningkatan layanan penerbangan yang berkedudukan di New
York - mengukuhkan Garuda Indonesia sebagai Airline Terbaik di Kawasan Asia dan
Australasia (Best in Region: Asia and Australasia). Pada 15 Juli 2014, Garuda Indonesia
dinobatkan menjadi maskapai penerbangan dengan awak kabin terbaik di dunia. Setelah itu,
pada 11 Desember 2014, Garuda Indonesia dikukuhkan menjadi salah satu dari tujuh
maskapai bintang lima di dunia.

D. PERMASALAHAN YANG DIHADAPI


Pada tahun 2014 Garuda Indonesia secara mengejutkan mencatat kerugian sebesar
Rp4,8 triliun, turun sebesar 734% dibandingkan kinerja 2013. Berikut ini data trend laba/rugi
operasional Garuda Indonesia yang dibukukan selama 4 tahun terakhir:

Tahun

Laba Operasional

2011

92.347.588

2012

173.489.875

87,87

2013

62.942.065

(63,72)

2014

(399.313.006)

(734,41)

-4-

Naik/Turun (%)

Dari grafik di atas dapat terlihat bahwa kinerja Garuda Indonesia pada tahun 2014 menurun
tajam menjadi rugi USD 399 juta atau sebesar Rp 4,8 T.
Akar permasalahan (kerugian) yang dialami Garuda Indonesia dapat dibagi dalam 2
faktor yaitu dari faktor eksternal dan faktor internal, sebagai berikut:
1. Faktor Eksternal

Faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi antara lain:


-

Tingginya nilai tukar dan harga avtur


Depresiasi IDR terhadap USD sangat berpengaruh bagi Garuda Indonesia,
mengingat sebagian besar rute Garuda Indonesia memberikan pendapatan dalam
Rupiah sedangkan pembiayaan hampir didominasi dalam USD. Beban bahan
bakar pesawat terbang mewakili sekitar 36,0% dari total beban operasional
perusahaan. Realisasi rata-rata nilai tukar Rupiah terhadap USD tahun 2014
sebesar Rp 11.878/US$, melemah sebesar 13,7% dibandingkan pada tahun 2013
yang sebesar Rp 10.445/US$. Bagi Garuda Indonesia, setiap pelemahan Rp 100
terhadap USD akan menyebabkan kenaikan beban sebesar USD 12,8 Juta.
Sedangkan rata-rata harga avtur Indonesia pada tahun 2014 sebesar Rp 10.825
Rp 11.350 per liter naik sebesar 3% dibandingkan tahun 2013. Selain itu harga
avtur Indonesia lebih mahal 12% dibandingkan harga internasional, sehingga
Garuda Indonesia harus membayar lebih mahal sekitar US$ 125 juta atau sekitar
Rp 1,3 triliun.

Persaingan yang semakin ketat di wilayah domestik dan regional terkait dengan
gencarnya pertumbuhan LCC (Low Cost Carrier). Hal ini menyebabkan banyak
penumpang yang beralih pada penerbangan dengan biaya yang lebih murah.
-5-

Penurunan tingkat isian penumpang dapat terlihat dari tabel berikut, dimana
tingkat isian penumpang menurun dari 74,1 % di 2013 menjadi 71,8 % di 2014.

2013

2014

2012

Lambatnya pengembangan infrastruktur transportasi udara nasional yang


berdampak pada inefisiensi operasional penerbangan. Misalnya pada bandara
Soekarno Hatta, waktu tunggu pesawat untuk take off atau untuk landing bisa
mencapai 30 menit karena harus antri akibat padatnya pesawat di landasan
bandara. Pada kondisi menunggu, mesin pesawat harus tetap menyala sehingga
terjadi pemborosan bahan bakar. Menurut Direktur Utama Garuda Indonesia,
keterlambatan landing tahun 2014 rata-rata selama 11 menit dan hal tersebut
menyebabkan kerugian beban bahan bakar avtur sebesar Rp 344 miliar.

2. Faktor Internal

Faktor-faktor internal yang mempengaruhi antara lain:


-

Inefisiensi penggunaan bahan bakar pesawat terbang, selain pemborosan karena


waktu tunggu pesawat untuk take off dan landing, juga pemborosan karena adanya
rute-rute dan jumlah penerbangan yang kurang profitable.

Beberapa rute atau jadwal penerbangan kurang profitable. Misalnya rute BpnMdc-Bpn yang kurang profitable karena seringnya penerbangan tidak full terjual.
Atau rute Bpn-Jkt-Bpn sebanyak 5 kali dalam sehari, namun tidak full terjual pada
setiap penerbangannya.
Selain itu Garuda Indonesia mengembangkan rute-rute baru, terutama pada rute
perintis yang diterbangkan dengan pesawat ATR72-600, namun dalam setiap
penerbangannya masih belum dapat terjual penuh. Hal ini karena penerbangan
perintis Garuda Indonesia masih kalah bersaing dengan maskapai-maskapai
pesawat perintis terdahulu, seperti Susi Air, Kalstar, Trigana Air, atau Wings Air.
Kondisi ini selain menyebabkan peningkatan biaya bahan bakar, namun juga
-6-

kenaikan dalam biaya perawatan dan pemeliharaan pesawat, biaya bandara dan
biaya per unit penerbangan lainnya.

Review kondisi keuangan Garuda Indonesia tahun 2014 berkaitan dengan adanya faktor
eksternal dan faktor internal di atas adalah sebagai berikut.
Peningkatan beban operasional (meningkat 17,2% dibandingkan 2013) tidak diikuti oleh
peningkatan pendapatan operasional yang signifikan, yaitu hanya 4,63 %. Berikut ini data
pendapatan dan beban operasional perusahaan pada 2012 2014.

Keterangan

2014

2013

2012

Pendapatan

3.933.530.272

3.759.450.237

3.508.077.977

Biaya

4.332.843.278

3.696.508.172

3.334.588.104

Laba Operasional

(399.313.066)

62.942.065

173,489,875

Dari data di atas persentase beban operasional adalah sebesar 110% dibandingkan pendapatan
operasional, sedangkan pada tahun 2013 dan 2012 adalah sebesar 98% dan 95%
dibandingkan pendapatan operasionalnya.

Peningkatan pendapatan yang tidak signifikan (4,63%) di atas, berasal dari:


-

Pendapatan dari penerbangan berjadwal meningkat sebesar 6,8% pada 2014 menjadi
USD3.384,3 juta. Pendapatan ini mendominasi pendapatan usaha di 2014, yaitu
mencakup 86,0% dari total pendapatan usaha yang disebabkan oleh kenaikan
penumpang penerbangan berjadwal sebesar 6,5% dari USD2.995,3 juta di 2013
menjadi USD3.147,7 juta di 2014.

Pendapatan penerbangan tidak berjadwal tercatat sebesar USD203,9 juta di 2014,


menurun sebesar 5,6% atau setara dengan USD 12,1 juta, dibandingkan 2013 yang
mencatatkan pendapatan sebesar USD216 juta. Hal ini disebabkan oleh penurunan
pendapatan dari penerbangan haji sebesar 6,7%, dari USD195,2 juta pada 2013
menjadi USD182,1 juta pada 2014. Penurunan tersebut akibat dampak pembatasan
kuota haji sebesar 20% oleh Pemerintah Arab Saudi.

Pendapatan usaha lainnya membukukan penurunan sebesar 8,8% dari USD373,4 juta
pada 2013 menjadi USD345,4 juta pada 2014. Penurunan ini terutama berasal dari
penurunan pendapatan biro perjalanan sebesar 18,2%, dari USD82 juta di 2013
-7-

menjadi USD67 juta pada 2014 akibat penurunan jumlah Passenger Tour di 2014
serta penurunan pendapatan hotel sebesar 10,8% seiring penurunan occupancy rate
dari 74,7% di 2013 menjadi 70,8% di 2014.

Peningkatan beban operasional (17,2%) pada tahun 2014 di atas, berasal dari:
-

Beban operasional penerbangan pada 2014 tercatat sebesar USD2.562,2 juta,


meningkat sebesar 14,1% dibandingkan dengan 2013 yang tercatat sebesar
USD2.244,8 juta. Kenaikan ini disebabkan oleh peningkatan beban bahan bakar,
beban sewa dan beban charter pesawat. Beban bahan bakar pada 2014 tercatat
sebesar USD1.560,3 juta, meningkat sebesar 9,9% dibandingkan 2013 sebesar
USD1.420,1 juta. Beban sewa dan charter pesawat pada 2014 tercatat sebesar
USD765,9 juta, meningkat sebesar 29,3% dibandingkan 2013 sebesar USD592,3
juta.

Beban tiket, penjualan dan pemasaran pada 2014 tercatat sebesar USD354,8 juta,
meningkat sebesar 5,7% dibandingkan dengan 2013 sebesar USD335,9 juta.
Peningkatan ini terutama akibat peningkatan beban komisi seiring peningkatan
penumpang di 2014.

Beban pemeliharaan, perawatan dan perbaikan pada 2014 tercatat sebesar


USD420,9 juta, meningkat sebesar 46,6% dibandingkan dengan 2013 sebesar
USD287,1 juta.

Beban pelayanan penumpang pada 2014 tercatat sebesar USD302,9 juta,


meningkat sebesar 6,9% dibandingkan 2013 sebesar USD283,4 juta. Kenaikan ini
merupakan dampak dari peningkatan kualitas pelayanan yang diberikan Garuda
Indonesia serta peningkatan jumlah penumpang.

Beban bandara pada 2014 tercatat sebesar USD339 juta, meningkat sebesar 14,1%
dibandingkan 2013 sebesar USD297 juta. Kenaikan ini disebabkan oleh
peningkatan jumlah penerbangan menjadi 228.329 pada 2014 dari 196.403 pada
2013, serta pembukaan kantor cabang dan rute baru di 2014.

Beban administrasi dan umum pada 2014 tercatat sebesar USD246 juta,
meningkat sebesar 8,4% dibandingkan 2013 sebesar USD227 juta. Kenaikan ini
disebabkan oleh kenaikan beban gaji dan tunjangan terkait kenaikan jumlah
pegawai, kenaikan beban pajak, dan beban pemeliharaan dan perbaikan.

-8-

Beban operasional hotel pada 2014 tercatat sebesar USD34,1 juta, meningkat
sebesar 0,9% dibandingkan 2013 sebesar USD33,8 juta. Hal ini merupakan
dampak dari meningkatnya beban pegawai dan bahan baku makanan.

Beban operasional transportasi dan operasi jaringan pada 2014 tercatat sebesar
USD34,6 juta, menurun masing-masing sebesar 10,2% atau USD2,0 juta dan
6,9% atau USD1,2 juta, dibandingkan dengan 2013 yang tercatat sebesar
USD37,8 juta. Hal ini merupakan dampak dari penurunan biaya operasional
entitas anak yang bergerak di bidang transportasi dan operasi jaringan.

E. ANALISA PERMASALAHAN DARI ASPEK LINGKUNGAN BISNIS


Dalam permasalahan PT. GARUDA INDONESIA (Persero), Tbk yang telah diuraikan di atas,
aspek lingkungan bisnis yang akan dianalisa adalah dari aspek Ekonomi dan Aspek Hukum.
Penjelasan masing-masing adalah sebagai berikut:
1. Aspek Ekonomi
Seperti yang kita ketahui bersama, Garuda Indonesia merupakan perusahaan
maskapai penerbangan yang menjadi pelopor transportasi udara di Indonesia. Namun
pada kenyataannya pada tahun 2014 Garuda Indonesia mengalami kerugian yang sangat
besar yaitu sebesar Rp 4,8 triliun. Aspek Ekonomi merupakan aspek yang paling utama
penyebab permasalahan yang dialami Garuda Indonesia, yaitu antara lain :
-

Depresiasi nilai Rupiah dan naiknya harga bahan bakar pesawat terbang.
Depresiasi Rupiah terhadap USD sangat berpengaruh bagi Garuda Indonesia,
mengingat sebagian besar rute Garuda Indonesia memberikan pendapatan dalam
Rupiah sedangkan pembiayaan hampir didominasi dalam USD. Persentase beban
bahan bakar pesawat terbang cukup besar berkontribusi pada total beban
operasional perusahaan yaitu sebesar 36%.

Persaingan penerbangan domestik dan Internasional yang semakin ketat karena


ekspansi maskapai penerbangan murah, terkait dengan gencarnya pertumbuhan
LCC (Low Cost Carrier). Hal ini menyebabkan banyak beralihnya penumpang ke
penerbangan yang menyediakan harga tiket yang lebih murah. Kompetitor di
dalam negeri yang gencar memasarkan tiket harga murah diantaranya adalah Lion
Air dan Air Asia. Selain itu, meningkatnya persaingan di kawasan internasional,
terutama persaingan dengan maskapai penerbangan dari wilayah Timur-Tengah
-9-

yang memiliki subsidi dan dukungan promosi dari pemerintahnya, dan juga di
kawasan Asia-Pasifik sudah memasuki situasi oversupply, sehingga persaingan
penurunan harga semakin gencar dilakukan.
-

Terjadi inefisiensi dalam biaya-biaya operasional perusahaan. Biaya-biaya


tersebut antara lain : biaya bahan bakar pesawat terbang, biaya perawatan dan
pemeliharaan pesawat, biaya bandara dan biaya per unit penerbangan lainnya.
Tidak efisiennya biaya-biaya tersebut disebabkan antara lain karena pemborosan
dalam waktu tunggu/antri pesawat untuk take off dan landing, dan juga
pemborosan karena beberapa rute dan jumlah penerbangan yang kurang
profitable/merugikan.

2. Aspek Hukum
Dari aspek hukum kerugian Garuda Indonesia dapat disebabkan karena adanya
kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Indonesia. Beberapa peraturan dan
kebijakan yang ikut memberikan kontribusi dalam kerugian yang dialami Garuda
Indonesia adalah :
-

Kebijakan penghematan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.


Adanya Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi
Birokrasi Nomor 10 tahun 2014 tentang Peningkatan Efektivitas dan Efisiensi
Kerja Aparatur Negara dan Nomor 11 tahun 2014 tentang Pembatasan Kegiatan
Pertemuan/Rapat di Luar Kantor, terkait penghematan biaya perjalanan dinas bagi
Pejabat dan Pegawai Negeri Sipil. Kebijakan ini melarang Pegawai Negeri Sipil,
anggota DPR/DPRD dan pejabat pemerintahan untuk melakukan perjalanan dinas
dengan penerbangan menggunakan kelas bisnis. Kebijakan ini sangat berdampak
pada pendapatan Garuda Indonesia, mengingat selama ini penerbangan kelas
bisnis Garuda Indonesia banyak terjual kepada sektor pemerintah.

Belum adanya regulasi yang mengatur Tarif Batas Bawah sehingga banyak
maskapai yang menjual tiket dengan harga murah, yang pada akhirnya
menimbukan persaingan yang kurang sehat pada industri penerbangan. Kebijakan
tentang Tarif Batas Atas (sekaligus kebijakan Tarif Batas Bawah tiket pesawat)
baru keluar pada tanggal 30 Desember 2014 berdasarkan Peraturan Menteri
Perhubungan Republik Indonesia Nomor 91 tahun 2014 tentang Perubahan Kedua
Atas Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 51 tahun 2014 tentang Mekanisme
- 10 -

Formulasi Perhitungan dan Penetapan Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan


Kelas Ekonomi Angkatan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri.

F. SOLUSI DAN TINDAK LANJUT


Setelah melakukan analisa dari berbagai aspek di atas, solusi sebagai tindak lanjut
dalam mengatasi permasalahan yang dapat dilakukan oleh manajemen Garuda Indonesia
antara lain:
1. Meminimalkan penggunaan bahan bakar melalui teknik disciplined conservations.
2. Melakukan review rute-rute yang profitable dan non profitable, misalnya dengan
mengurangi jumlah penerbangan per hari untuk destinasi yang sama atau menutup
rute-rute penerbangan yang kurang profitable atau merugikan. Hal ini dapat
mengurangi inefisiensi biaya khususnya biaya bahan bakar pesawat, biaya
pemeliharaan pesawat, biaya bandara, dan biaya-biaya operasional lainnya.
3. Mengurangi biaya pelayananan penumpang, seperti biaya konsumsi, elektronik, atau
pelayanan lainnya untuk rute-rute pendek dan jam penerbangan yang singkat. Namun
tetap mempertahankan kualitas pelayanan dan keamanan penerbangan seperti yang
telah dimiliki Garuda Indonesia saat ini. Sehingga dengan penurunan biaya, Garuda
Indonesia dapat mengurangi harga tiket untuk penerbangan-penerbangan tertentu
untuk dapat bersaing dengan maskapai penerbangan murah baik dalam penerbangan
domestik atau internasional.
4. Efisiensi dan optimalisasi biaya operasional lainnya, termasuk efisiensi ground
services, biaya administrasi, biaya penjualan, dan sebagainya.
5. Meningkatkan produktivitas karyawan, review komposisi karyawan dan beban kerja,
termasuk juga pengurangan karyawan yang memiliki kinerja yang kurang baik.
6. Meningkatkan penjualan produk, misalnya pendapatan dari interline (SkyTeam dan
code share), memperluas penjualan melalui e-commerce, meningkatkan program
loyalty untuk pelanggan dan optimalisasi pendapatan-pendapatan tambahan termasuk
dari anak-anak perusahaan.

- 11 -

G. ANALISA SWOT
Berdasarkan permasalahan dan aspek-aspek lingkungan bisnis Garuda Indonesia di
atas dapat dianalisa kelebihan, kelemahan, peluang dan tantangan (analisasi SWOT) yang
dihadapi perusahaan, yaitu :
1. Kelebihan (strength)
-

Garuda Indonesia merupakan perusahaan penerbangan pertama di Indonesia yang


telah berpengalaman dan telah melewati naik turun bisnis penerbangan termasuk
pada saat krisis keuangan. Hal ini membuat Garuda Indonesia telah cukup
berpengalaman untuk survive dalam menghadapi krisis keuangan.

Garuda Indonesia didukung oleh karyawan yang profesional, terknologi yang upto-date dan manajemen yang dinamis membuat Garuda Indonesia berpotensi
untuk terus berkembang.

Garuda Indonesia telah memperoleh banyak sekali penghargaan dari berbagai


lembaga nasional dan internasional. Hal ini dapat menjadi suatu nilai tambah bagi
perusahaan untuk dapat terus mengembangkan jaringannya sehingga dapat terus
menjadi leader dalam pangsa pasar domestik dan memiliki kemampuan
kompetitif dalam pasar internasional.

2. Kelemahan (weakness)
-

Garuda Indonesia merupakan perusahaan BUMN yang kepemilikan saham


terbesarnya adalah Pemerintah Indonesia. Kepemimpinan atau kebijakan yang
dilakukan oleh perusahaan dapat dipengaruhi oleh faktor politis.

Maskapai-maskapai penerbangan Indonesia dikenal di dunia luar sebagai


maskapai yang kurang menjaga keselamatan penerbangannya. Garuda Indonesia
harus dapat membuktikan dan menjamin keselamatan penerbangannya dengan
usaha-usaha yang serius.

3. Peluang (opportunity)
-

Garuda Indonesia saat ini telah memasuki pasar penerbangan dunia, khususnya
pasar Asia Pasifik dan Eropa. Banyak penghargaan-penghargaan tingkat dunia
yang telah diraih Garuda Indonesia. Untuk itu Garuda Indonesia berpotensi untuk
bersaing lebih baik lagi dalam industri penerbangan tingkat dunia. Hal ini perlu

- 12 -

dibarengi dengan perbaikan berkelanjutan dan terus menerus pada manajemen,


organisasi, sistem, produk, keahlian dan profesionalitas karyawan, dan sebagainya.

4. Tantangan/ancaman (threat)
-

Dari segi internal, industri penerbangan berupaya untuk memaksimalkan jumlah


okupansi penumpang sebagai sumber pendapatan utama. Oleh sebab itu, para
maskapai harus mampu mengunggulkan nilai tambahnya dibandingkan maskapai
lainnya. Hal ini tentunya memunculkan persaingan tarif demi tingginya angka
load factor. Ketatnya persaingan industri penerbangan menjadi tantangan
tersendiri bagi sebuah maskapai untuk menjadi preferensi utama masyarakat.

Tantangan internal lainnya adalah terjaminnya keselamatan penerbangan sebagai


kunci keberhasilan perusahaan.

Kondisi eksternal turut memegang peranan penting dalam menentukan kinerja


sebuah industri penerbangan. Tantangan eksternal berupa cuaca dan tantangan
lainnya dalam industri penerbangan menjadi faktor yang menentukan keselamatan
dan keamanan para pengguna jasa.

H. REKOMENDASI
Dari penjelasan solusi dan analisa SWOT di atas, selanjutnya rekomendasi yang dapat
diberikan kepada Garuda Indonesia adalah :
-

Keselamatan penerbangan merupakan salah satu kunci keberhasilan perusahaan


penerbangan, dimana perusahaan perlu memperoleh kepercayaan pelanggan terhadap
penerbangannya. Untuk memastikan keselamatan penerbangan, Garuda Indonesia harus
terus melakukan peningkatan dan perbaikan terus menerus sesuai standar KNKT
(Komite Nasional Keselamatan Transportasi) dan standar penerbangan internasional, di
antaranya peremajaan pesawat, pemeliharaan pesawat, pelatihan profesional karyawan
(pilot, ko-pilot, pramugari, staf ground, teknisi, staf maintenance, dsb), dan seterusnya.

Mengoptimalkan pelayanan penerbangan pesawat Garuda termasuk penerbanganpenerbangan perintis.

Mengoptimalkan pelayanan dan promosi penjualan untuk penerbangan murah (melalui


anak perusahaan Citilink pada penerbangan domestik), sehingga dapat meraih pangsa
pasar yang besar dan bersaing dengan maskapai murah lainnya.
- 13 -

Mempertimbangkan untuk membuka penerbangan murah/low cost carrier untuk


penerbangan luar negeri, misalnya dengan meng-internasional-kan Citilink, supaya dapat
bersaing dengan maskapai penerbangan murah di luar negeri.

Sebagai perusahaan milik negara, Garuda Indonesia dapat menjajaki kerjasama dengan
Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Daerah dalam hal penyediaan jasa transportasi
udara dengan biaya yang lebih murah.

Meningkatkan program kerjasama, promosi bersama, hubungan kemitraan, dsb dengan


perusahaan-perusahaan lain. Seperti yang telah dilakukan di tahun 2012, dimana Garuda
Indonesia bekerjasama dengan Klub Sepakbola Liverpool, selama tiga musim Garuda
Indonesia sebagai maskapai penerbangan resmi Liverpool dalam rangkaian perjalanan
tur ke Asia dan Australia.

- 14 -

REFERENSI

Griffin, Ricky W., Ebert, Ronal J. 2007. Business Essentials. Pearson Educational
International, New Jersey, USA.
Swastha, Basu DH, Sukotjo, Ibnu. 1988. Pengantar Ekonomi Perusahaan Modern. Liberty,
Yogyakarta.
Budiarta, Kustoro. 2010. Pengantar Bisnis. Mitra Wacana Media, Medan.
Gitosudarmo, Indriyo. 1996. Pengantar Bisnis. BPFE, Yogyakarta.
Garuda Indonesia. 2015. Laporan Tahunan 2014 Elevating Value of Journey. Diunduh dari
www.garuda-indonesia.com pada tanggal 03 Maret 2015.
Garuda Indonesia. 2013. Laporan Tahunan 2012 Delivering Indonesias Best To The World.
Diunduh dari www.garuda-indonesia.com pada tanggal 03 Maret 2015.
Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Indonesia. 2015. Perkembangan
Ekonomi

Makro

dan

Realisasi

APBNP

Tahun

2014.

Diakses

melalui

http://www.anggaran.depkeu.go.id/dja/edef-konten-view.asp pada tanggal 11 Juni 2015


CNN Indonesia. 2014. Harga Avtur Pertamina Kembali Turun Saat Rupiah Melemah.
Diakses

melalui

http://m.cnnindonesia.com/ekonomi/20141216112858-92-18413/

harga-avtur-pertamina-kembali-turun-saat-rupiah-melemah pada tanggal 11 Juni 2015


TTI News. 2015. BBM Tak Akan Naik Turun, Masyarakat Dibangkitkan Tetap Terbang.
Diakses melalui http://traveltourismindonesia.com/bbm-tak-akan-naik-turunmasyarakat-dibangkitkan-tetap-terbang.html pada tanggal 11 Juni 2015.
Indonesia Travel News. 2014. Garuda Indonesia Rugi Triliunan Karena Harga Avtur.
Diakses melalui http://news.jalanjalanyuk.com/garuda-indonesia-rugi-triliunan-karenaharga-avtur/ pada tanggal 11 Juni 2015.
Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia.
2014. Peraturan Menteri PAN & RB Nomor 10 tahun 2014 tentang Peningkatan
Efektivitas dan Efisiensi Kerja Aparatur Negara. Diakses melalui
http://www.menpan.go.id pada tanggal 11 Juni 2015.
Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia.
2014. Peraturan Menteri PAN & RB Nomor 11 tahun 2014 tentang Pembatasan
Kegiatan Pertemuan/Rapat di Luar Kantor. Diakses melalui http://www.menpan.go.id
pada tanggal 11 Juni 2015.

- 15 -

Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. 2014. Peraturan Menteri Perhubungan


Nomor 91 tahun 2014 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Perhubungan
Nomor 51 tahun 2014 tentang Mekanisme Formulasi Perhitungan dan Penetapan Tarif
Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkatan Udara Niaga Berjadwal
Dalam Negeri. Diakses melalui http://www.dephub.go.id pada tanggal 11 Juni 2015.

- 16 -