Anda di halaman 1dari 20

REFERAT

EPIGLOTITIS AKUT

Pembimbing :
dr. Heru Agus, Sp. THT-KL

Disusun Oleh :
Roro Febriana Ratna W.

201510401011003

Nasrul An Nafiq

201510401011004

Seisa Gumelar Nastity

201510401011055

SMF TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN


RSU HAJI SURABAYA
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2016

LEMBAR PENGESAHAN
REFERAT
EPIGLOTITIS AKUT

Referat dengan judul Epiglotitis Akut telah diperiksa dan disetujui sebagai salah
satu tugas dalam rangka menyelesaikan studi kepaniteraan Dokter Muda di bagian
Ilmu Penyakit Telinga, Hidung, dan Tenggorokan.

Surabaya,

Februari 2016
Pembimbing

dr. Heru Agus, Sp.THT-KL

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb,


Segenap puji syukur kami panjatkan kepada ALLAH SWT yang selalu
melimpahkan segala rahmat dan hidayahnya maka tugas referat yang berjudul
Epiglotitis Akut ini dapat diselesaikan dengan baik. Penyusunan tugas ini
merupakan salah satu tugas yang penulis laksanakan selama mengikuti
kepanitraan di SMF ilmu penyakit telinga, hidung, dan tenggorokan di RSU haji
Surabaya.
Kami mengucapkan terimakasih kepada dr. Heru Agus, Sp.THT-KL,
selaku dokter pembimbing dalam penyelesaian tugas referat ini, terimakasih atas
bimbingan, saran, petunjuk dan waktunya sehingga dapat menyelesaikan tugas ini.
Kami menyadari bahwa penyusunan tugas ini masih jauh dari
kesempurnaan, untuk kritik dan saran selalu kami harapkan. Besar harapan kami
semoga tugas ini bermanfaat bagi pembaca pada umumnya serta penyusun pada
khusunya.
Wassalamualaikum Wr.Wb

Surabaya, Februari 2016

BAB 1
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Epiglotitis akut atau biasa disebut juga supraglotitis atau laringitis

supraglotik, adalah keadaan inflamasi akut pada daerah supraglotis dari orofaring,
yang meliputi inflamasi pada epiglotis, valekula, aritenoid dan lipatan
ariepiglotika.1 Pada tahun 1900, Theisen pertama kali melaporkan kasus epiglotitis
akut sebagai angina-epiglottides. Sejak itu epiglotitis akut dipublikasikan secara
luas dalam literatur pediatrik.2
Epiglotitis biasanya disebabkan karena adanya infeksi bakteri pada daerah
tersebut, dengan bakteri penyebab terbanyak adalah Haemophilus influenzae tipe
b.1 Epiglotitis paling sering terjadi pada anak-anak berusia 2 4 tahun, namun
akhir-akhir ini dilaporkan bahwa prevalensi dan insidensinya meningkat pada
orang dewasa.2-4
Onset dari gejala epiglotitis akut biasanya terjadi tiba-tiba dan berkembang
secara cepat. Pada pasien anak-anak gejala yang paling sering ditemui adalah
sesak nafas dan stridor yang didahului oleh demam, sedangkan pada pasien
dewasa gejala yang terjadi lebih ringan dan yang paling sering dikeluhkan adalah
nyeri tenggorokan dan nyeri saat menelan. 1,4,5 Diagnosis dapat dibuat berdasarkan
riwayat perjalanan penyakit dan tanda serta gejala klinis yang ditemui dan dari
foto Rontgen lateral leher yang memperlihatkan edema epiglotis (thumb sign)
dan dilatasi dari hipofaring.3,5
Tujuan utama dari tatalaksana pada pasien dengan epiglotitis akut adalah
menjaga agar saluran nafas tetap terbuka dan menangani infeksi penyebab atau
penyebab yang lainnya.4

Epiglotitis akut dapat menjadi keadaan yang mengancam jiwa karena dapat
menimbulkan obstruksi saluran nafas atas yang tiba-tiba. Karena itu dokter harus
mewaspadai kemungkinan terjadinya epiglotitis pada pasien, mendiagnosis serta
memberikan tatalaksana secara cepat dan tepat agar tidak sampai menjadi keadaan
yang mengancam jiwa.2,6

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi Epiglotis


Epiglotis adalah salah satu kartilago yang membentuk kerangka laring.
Epiglotis merupakan sebuah fibrokartilago elastis yang berbentuk seperti daun,
dengan fungsi utama sebagai penghalang masuknya benda yang ditelan ke aditus
laring. Saat menelan laring bergerak ke arah anterosuperior. Hal ini membuat
epiglotis mengenai pangkal lidah sehingga epiglotis terdorong ke arah posterior
dan menempatkannya pada aditus laring. Epiglotis memiliki dua tempat
perlekatan di bagian anterior. Pada bagian superior epiglotis melekat pada tulang
hioid melalui ligamen hioepiglotika. Pada bagian inferior (bagian stem), epiglotis
melekat pada permukaan dalam dari kartilago tiroid tepat di atas komisura anterior
melalui ligamen tiroepiglotika. Permukaan kartilago epiglotis memiliki banyak
lubang yang berisi kelenjar mukus.3

Gambar 2.1. Anatomi epiglotis.3


Epiglotis dapat dibagi menjadi bagian suprahioid dan bagian infrahioid.
Bagian suprahioid bebas baik pada permukaan laringealnya maupun permukaan
lingualnya, dengan permukaan mukosa laring lebih melekat dibandingkan dengan
permukaan lingual. Akibat permukaan mukosa laring melipat ke arah pangkal
lidah, terbentuk tiga lipatan: dua buah lipatan glosoepiglotika lateral dan sebuah
lipatan glosoepiglotika medial. Dua lekukan yang terbentuk dari ketiga lipatan
tersebut disebut dengan valekula (dalam bahasa Latin berarti lekukan kecil).
Bagian infrahioid hanya bebas pada permukaan laringealnya atau permukaan
posterior. Permukaan ini memiliki tonjolan kecil yang disebut tuberkel. Di antara
permukaan anterior dan membran tirohioid dan kartilago tiroid terdapat celah preepiglotika yang berisi lapisan lemak. Yang melekat secara lateral adalah membran
kuadrangular yang memanjang ke aritenoid dan kartilago kornikulata, membentuk
lipatan ariepiglotika.3
Seperti pada aspek lain dari saluran nafas pediatrik, epiglotis pada anak
berbeda secara signifikan dibandingkan dengan pada orang dewasa. Pada anak-

anak, epiglotis terletak lebih ke anterior dan superior dibandingkan pada orang
dewasa dan berada pada sudut terbesar dengan trakea.4

Gambar 2.2. Perbedaan letak epiglotis pada (A) anak-anak dan (B) dewasa.8
2.2

Definisi
Epiglotitis akut adalah suatu keadaan inflamasi akut yang terjadi pada

daerah supraglotis dari orofaring, meliputi epiglotis, valekula, aritenoid dan


lipatan ariepiglotika, sehingga sering juga disebut dengan supraglotitis atau
laringitis supraglotik.1

2.3

Etiologi
Epiglotitis akut biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri. Bakteri yang

paling sering ditemukan adalah Haemophilus influenzae tipe b, namun dapat juga
disebabkan oleh bakteri lain, seperti Streptococcus pneumonia, Haemophilus
parainfluenzae, Streptococcus -hemolyticus grup A dan grup C, Staphylococcus
aureus dan yang lebih jarang Klebsiella pneumoniae, Neisseria meningitidis,

Pasteurella multocida, Pseudomonas aeruginosa dan Bacteroides melanogenicus.


Candida albicans juga pernah dilaporkan baik pada pasien yang imunokompeten
maupun yang imunokompromi. Beberapa virus juga dapat menyebabkan
epiglotitis akut yaitu virus herpes simpleks, virus parainfluenza, dan virus
Epstein-Barr.1,2,4,7
Penyebab non-infeksi dari epiglotitis akut dapat berupa penyebab termal
(makanan atau minuman yang panas, penggunaan obat-obatan terlarang seperti
rokok kokain dan rokok mariyuana), penyebab kaustik dan benda asing yang
tertelan. Epiglotitis juga dapat terjadi sebagai reaksi dari kemoterapi pada daerah
kepala dan leher.1,2,4

2.4

Epidemiologi
Kasus epiglotitis akut dilaporkan pertama kali oleh Theisen pada tahun 1900

sebagai angina-epiglottides. Sejak itu epiglotitis akut telah dipublikasikan


secara luas dalam literatur pediatrik.2 Di Amerika Serikat epiglotitis merupakan
penyakit yang jarang ditemui dengan insidensi pada orang dewasa sekitar 1 kasus
per 100.000 penduduk per tahun, dengan rasio pria-wanita sekitar 3:1 dan terjadi
pada usia dekade kelima dengan usia rata-rata sekitar 45 tahun. 1 Namun akhirakhir ini terdapat bukti yang menyatakan bahwa prevalensi dan insidensi
epiglotitis akut pada orang dewasa meningkat dibandingkan dengan pada anakanak yang relatif menurun.2-4,7 Rasio insidensi antara anak-anak dengan orang
dewasa pada tahun 1980 adalah 2,6:1, dan menurun menjadi 0,4:1 pada tahun
1993. Penurunan angka kejadian epiglotitis pada anak-anak ini terjadi sejak

10

diperkenalkannya vaksin untuk Haemophilus influenzae tipe b (Hib). Epiglotitis


akut paling sering terjadi pada anak-anak usia 2 4 tahun.1,4

2.5

Manifestasi Klinis
Onset dan perkembangan gejala yang terjadi pada pasien epiglotitis akut

berlangsung dengan cepat. Biasanya pasien datang dengan keluhan nyeri


tenggorok, nyeri menelan/ sulit menelan dan suara menggumam atau hot potato
voice, suara seperti seseorang berusaha berbicara dengan adanya makanan panas
di dalam mulutnya.1 Prediktor adanya obstruksi saluran nafas adalah
perkembangan yang cepat dalam 8 jam setelah onset gejala, terdapat stridor
inspiratoar, saliva yang menggenang, laju pernafasan lebih dari 20 kali permenit,
dispnea, retraksi dinding dada dan posisi tubuh yang tegak. 2 Selain itu tanda-tanda
lain yang dapat ditemukan pada pasien dengan epiglotitis akut adalah demam,
nyeri pada palpasi ringan leher dan batuk.1
Pada anak-anak manifestasi klinik yang nampak akan terlihat lebih berat
dibandingkan pada orang dewasa. Tiga tanda yang paling sering ditemui adalah
demam, sulit bernafas dan iritabilitas. Anak-anak akan terlihat toksik dan terlihat
tanda-tanda adanya obstruksi saluran nafas atas. Akan terlihat pernafasan yang
dangkal, stridor inspiratoar, retraksi dan saliva yang menggenang. Selain itu juga
terdapat nyeri tenggorok yang hebat dan disfagia. Berbicara pun terbatas akibat
nyeri yang dirasakan. Batuk dan suara serak biasanya tidak ditemukan, namun
bisa terdapat suara menggumam. Stridor muncul ketika saluran nafas hampir
sepenuhnya tertutup. Anak-anak biasanya akan melakukan posisi tripod (pasien
duduk dengan tangan mencengkram pinggir tempat tidur, lidah menjulur dan

11

kepala lurus ke depan). Laringospasme dapat muncul secara tiba-tiba dengan


adanya aspirasi sekret ke saluran nafas yang telah menyempit dan menimbulkan
respiratory arrest.4,8
Obstruksi saluran nafas pada pasien dengan epiglotitis akut dapat terjadi
karena mukosa dari daerah epiglotis longgar dan memiliki banyak pembuluh
darah sehingga ketika terjadi reaksi inflamasi, iritasi dan respon alergi, dapat
dengan cepat terjadi edema dan menutupi saluran nafas sehingga terjadi obstruksi
yang mengancam jiwa.6
2.6

Pemeriksaan dan Diagnosis


Dari pemeriksaan orofaring dapat terlihat epiglotis dan daerah sekitarnya

yang eritematosa, membengkak dan berwarna merah ceri, namun pemeriksaan ini
jarang dilakukan karena kemungkinan akan memperparah sumbatan dari saluran
nafas. Ataupun jika perlu dilakukan maka pemeriksaan ini dilakukan di tempat
yang memiliki alat-alat yang lengkap seperti di ruang operasi. Dapat juga
dilakukan pemeriksaan laringoskopi direk dengan fiber optik untuk pemeriksaan
yang lebih akurat.1,7
Penggunaan pemeriksaan radiologis pada pasien dengan epiglotitis akut
masih kontroversial. Meskipun diketahui bahwa epiglotitis dapat didiagnosis dari
radiografi lateral leher, masih dipertanyakan apakah prosedur ini aman dan
memang diperlukan.8 Dari hasil pemeriksaan radiografi ditemukan gambaran
thumb sign, yaitu bayangan dari epiglotis globular yang membengkak, terlihat
penebalan lipatan ariepiglotika dan distensi dari hipofaring.
Terkadang epiglotis itu sendiri tidak membengkak, namun daerah
supraglotis masih terlihat tidak jelas dan nampak kabur akibat edema dari struktur

12

supraglotis yang lain. Pada kasus yang berat terapi tidak boleh ditunda untuk
melakukan pemeriksaan radiografi. Jika radiografi memang dibutuhkan
pemeriksaan harus didampingi dengan personil yang dapat mengintubasi pasien
secara cepat ketika obstruksi saluran nafas memberat atau telah tertutup
seluruhnya.2,3,8

Gambar 2.3. Gambaran radiografi lateral leher pada pasien dengan


epiglotitis.2,6
Pemeriksaan laboratorium tidak spesifik pada pasien dengan epiglotitis dan
dilakukan ketika saluran nafas pasien telah diamankan. Jumlah leukosit dapat
meningkat dari 15.000 hingga 45.000 sel/L. 4 Kultur darah dapat diambil
terutama jika pasien terlihat tidak baik secara sistemik. Kultur biasanya
memberikan hasil yang positif pada 25% kasus.1
Epiglotitis dapat menjadi fatal jika terdiagnosis terlambat. 6 Diagnosis
biasanya dapat ditegakkan dari riwayat perjalanan penyakit dan temuan klinis,
serta pemeriksaan radiografi jika memungkinkan.3
2.7

Diagnosis Banding

13

Pada anak-anak croup dapat merupakan diagnosis banding dari epiglotitis.


Usia pasien, gejala prodromal, adanya batuk dan tingkat toksisitas dapat
membantu membedakan epiglotitis dari croup. Biasanya croup terjadi pada anak
yang lebih muda dan yang paling penting, pada anak dengan croup terdapat
barking cough dan jarang terlihat toksik.4
Kondisi-kondisi lain yang menyerupai epiglotitis adalah angioedema akut,
obstruksi saluran nafas karena penyebab lain, fraktur atau stenosis laring, aspirasi
benda asing, difteri laringeal, laringitis, abses peritonsilar, abses retrofaringeal,
dan sepsis.1,4

2.8

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan

pada pasien

dengan epiglotitis

diarahkan kepada

mengurangi obstruksi saluran nafas dan menjaganya agar tetap terbuka serta
mengeradikasi agen penyebab. Intubasi tidak boleh dilakukan di lapangan kecuali
sudah terjadi obstruksi saluran nafas yang akut. Pada pasien dengan keadaan yang
tidak stabil, penatalaksanaan saluran nafas sangat diperlukan. Tanda dan gejala
yang berhubungan dengan kebutuhan intubasi termasuk distres pernafasan,
keadaan saluran nafas yang membahayakan yang ditemukan saat pemeriksaan,
stridor, ketidakmampuan untuk menelan, saliva yang menggenang dan keadaan
yang makin memburuk dalam 8 12 jam. Epiglotis yang membesar pada
pemeriksaan radiografi berhubungan dengan obstruksi saluran nafas. Jika masih
ragu-ragu, mengamankan saluran nafas merupakan pendekatan yang paling aman.
Keadaan pasien dapat memburuk secara cepat dan peralatan untuk membuka

14

saluran nafas harus tersedia. Jika intubasi gagal dapat dilakukan trakeostomi atau
krikotirotomi segera.1
Pada pasien dengan keadaan yang stabil tanpa tanda-tanda bahaya saluran
nafas, sulit bernafas, stridor atau saliva yang menggenang dan hanya memiliki
pembengkakan yang ringan, dapat ditangani tanpa intervensi saluran nafas yang
segera dengan pengawasan ketat di unit perawatan intensif atau ICU. Karena
obstruksi saluran nafas dapat terjadi dengan cepat pada pasien, penilaian serial
berulang dari patensi saluran nafas sangat diperlukan.1
Pada anak-anak, hindari prosedur yang dapat meningkatkan kegelisahan
sampai saluran nafas anak tersebut telah diamankan. Prosedur seperti
pengambilan darah dan pemasangan infus, meskipun dibutuhkan pada kebanyakan
kasus epiglotitis akut pada anak, dapat meningkatkan kegelisahan dan
memperparah keadaan saluran nafasnya.4
Antibiotik intravena dapat dimulai sesegera mungkin dan harus mencakup
Haemophilus

influenzae,

Staphylococcus

aureus,

Streptococcus

dan

Pneumococcus, seperti amoksisilin/asam klavulanat atau sefalosporin generasi


kedua atau ketiga, seperti sefuroksim, sefotaksim atau seftriakson. Kortikosteroid
sering direkomendasikan untuk epiglotitis. Walaupun begit, tidak ada data yang
menunjukkan kegunaannya pada keadaan ini. Penggunaan kortikosteroid tidak
mengurangi kebutuhan untuk intubasi, durasi intubasi ataupun durasi perawatan.3,7

15

Gambar 2.4. Alur tatalaksana epiglotitis akut.7


Ekstubasi biasanya dapat dilakukan setelah 48 hingga 72 jam, di mana
edema telah berkurang dan terdapat kebocoran udara di sekeliling selang
endotrakeal.

Kriteria

untuk

ekstubasi

termasuk

berkurangnya

eritema,

berkurangnya edema epiglotis atau secara empiris setelah 48 jam intubasi.


Laringoskopi fiber optik transnasal dapat dilakukan untuk menilai resolusi dari
edema sebelum dilakukan ekstubasi.3,8

16

2.9

Komplikasi dan Prognosis


Meskipun epiglotitis akut itu sendiri merupakan penyakit yang dapat

mengancam jiwa, infeksi lain dapat terjadi secara bersamaan. Komplikasi paling
sering adalah pneumonia. Infeksi konkomitan dengan Haemophilus influenzae
yang lain termasuk meningitis, adenitis servikal, perikarditis dan otitis media.
Selain itu, dapat juga terjadi abses epiglotis dan uvulitis.7,8
Komplikasi non-infeksi juga dapat terjadi pada pasien dengan epiglotitis.
Pasien dengan obstruksi saluran nafas yang menyeluruh dan respiratory arrest
dapat mengalami kerusakan hipoksik dari sistem saraf pusat dan sistem organ
yang lain. Bahkan pasien yang telah mendapat tatalaksana yang cukup dapat
menjadi hipoksik.8
Mortalitas pada pasien anak-anak telah menurun dari 7,1% menjadi 0,9%
sejak digunakannya intervensi saluran nafas profilaksis. Mortalitas pada orang
dewasa sekitar 1 7%, namun jika terjadi obstruksi, mortalitas menjadi 17,6%.

17

BAB 3
KESIMPULAN

Epiglotitis akut adalah suatu keadaan inflamasi akut yang terjadi pada
daerah supraglotis dari orofaring, meliputi epiglotis, valekula, aritenoid dan
lipatan ariepiglotika, sehingga sering juga disebut dengan supraglotitis atau
laringitis supraglotik. Kasus epiglotitis akut dilaporkan pertama kali oleh Theisen
pada tahun 1900 sebagai angina-epiglottides. Sejak itu epiglotitis akut telah
dipublikasikan secara luas dalam literatur pediatrik.2
Epiglotitis akut biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri, yang paling sering
ditemukan adalah Haemophilus influenzae tipe b, namun dapat juga disebabkan
oleh bakteri lain, virus dan jamur. Selain itu juga terdapat penyebab non-infeksi,
seperti penyebab termal, penyebab kaustik dan benda asing yang tertelan.
Epiglotitis juga dapat terjadi sebagai reaksi dari kemoterapi pada daerah kepala
dan leher.1,2,4
Biasanya pasien datang dengan keluhan nyeri tenggorok, nyeri menelan
dan/ atau sulit menelan, dan sulit bernafas. Pada anak-anak, gejala yang nampak
akan terlihat lebih berat.4
Epiglotitis dapat menjadi fatal jika terdiagnosis terlambat, karena dapat
menyebabkan obstruksi saluran nafas.6 Diagnosis biasanya dapat ditegakkan dari
riwayat perjalanan penyakit dan temuan klinis, serta pemeriksaan radiografi jika
memungkinkan.8

18

Penatalaksanaan

pada pasien

dengan epiglotitis

diarahkan kepada

mengurangi obstruksi saluran nafas dan menjaganya agar tetap terbuka, serta
mengeradikasi agen penyebab.1 Dapat dilakukan intubasi jika telah terjadi
obstruksi, dengan ekstubasi setelah 48 72 jam, serta pemberian antibiotik yang
adekuat.8

19

DAFTAR PUSTAKA

1. Gompf, S.G. Epiglottitis. 2011. Available at: http: //emedicine. medscape.com/


article/763612 [Accessed February 16th, 2016].
2. Chung, C.H. Case and Literature Review: Adult Acute Epiglottitis Rising
Incidence or Increasing Awareness. Hong Kong J Emerg Med. October 2011;
8(4): 227-30. Available at: http: //www. hkcem.com/html/publications/ Journal/
2001-3/227-231.pdf [Accessed February 16th, 2016].
3. Koufman, J. A., Belafsky, P. C. Infectious and Inflammatory Disease of the
Larynx. In: Snow, J. B., Ballenger J. J. Ballengers Otorhinolaryngology Head
and Neck Surgery. 16th Ed. USA: BC Decker; 2003: 1090-3, 1195-6, 1198.
4. Tolan, R.W. Pediatric Epiglottitis. 2011. Available at: http:// emedicine.
medscape.com/article/963773 [Accessed February 16th, 2016].
5. Dhingra, P.L. Acute and Chronic Inflammation of Larynx. In: Dhingra, P.L.
Diseases of Ear, Nose and Throat. 4th Ed. USA: Elsevier; 2007: 265-6.
6. Chung, C.H. Acute Epiglottitis Presenting as the Sensation of a Foreign Body
in the Throat. Hong Kong Med J. September 2000; 6(3): 322-4. Available at:
http://www.hkmj.org/article_pdfs/hkm0009p322.pdf [Accessed February 16th,
2016].
7. Wick, F., Ballmer, P.E., Haller, A. Acute Epiglottitis in Adults. Swiss Med Wkly.
2002; 132: 541-546. Available at: http:// www.smw. ch/docs/pdf200x/
2002/37/smw-10050.PDF [Accessed February 15th, 2016].
8. Cummings, C.W. Flint, P.W. Management of Acute Epiglotitis. In: Lund, V.J.
Cummings Otolaryngology - Head & Neck Surgery. 5th Ed. USA: Elsevier;
2010: 2806-9

20