Anda di halaman 1dari 5

LANDASAN PSIKOLOGIS BIMBINGAN KONSELING

PENDAHULUAN
Membicarakan tentang landasan dalam bimbingan dan konseling pada
dasarnya tidak jauh berbeda dengan landasan-landasan yang biasa diterapkan
dalam pendidikan, seperti landasan dalam pengembangan kurikulum, landasan
pendidikan non formal atau pun landasan pendidikan secara umum. Landasan
dalam bimbingan dan konseling pada hakekatnya merupakan faktor-faktor yang
harus diperhatikan dan dipertimbangkan khususnya oleh konselor selaku
pelaksana utama dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling.
Ibarat sebuah bangunan, untuk dapat berdiri tegak dan kokoh tentu
membutuhkan fundasi yang kuat dan tahan lama.
Apabila bangunan tersebut tidak memiliki fundasi yang kokoh, maka
bangunan itu akan mudah goyah atau bahkan ambruk. Demikian pula, dengan
layanan bimbingan dan konseling, apabila tidak didasari oleh fundasi atau
landasan yang kokoh akan mengakibatkan kehancuran terhadap layanan
bimbingan dan konseling itu sendiri dan yang menjadi taruhannya adalah siswa-

PEMBAHASAN
Landasan psikologis merupakan landasan yang dapat memberikan
pemahaman bagi konselor tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layana
(klien). Untuk kepentingan bimbingan dan konseling, beberapa kajian psikologi
yang perlu dikuasai oleh konselor adalah tentang : (a) motif dan motivasi; (b)
pembawaan dan lingkungan, (c) perkembangan individu; (d) belajar; dan (e)
kepribadian.1
1.

Motif dan Motivasi


Salah satu aspek psikis yang penting diketahui adalah motif,
karena keberadaannya sangat berperan dalam tingkah laku individu.Pada
dasarnya tidak ada tingkah laku yang tanpa motif,artinya setiap tingkah
laku individu itu bermotif.2 Konselor perlu memahami motif klien dalam
bertingkah laku agar dapat :
a. Mengukur motif (seperti belajar dan mengikuti kegiatan ekstra
kulikuler)
b. Mengembangkan motif peserta didik yang tepat dalam berbagai
aspek kegiatan yang positif,seperti belajar,bergaul dengan orang

siswi(klien). Secara teoritik, berdasarkan hasil studi dari beberapa sumber,


secara umum terdapat empat aspek pokok yang mendasari pengembangan
layanan bimbingan dan konseling, yaitu landasan filosofis, landasan psikologis,
landasan sosial-budaya, dan landasan ilmu pengetahuan (ilmiah) dan teknologi.
Selanjutnya, pada makalah ini akan membahas tentang landasan psikologis
bimbingan konseling

c.

lain, dan mendalami nilai-nilai agama


Mendeteksi alasan atau latar belakang tingkah laku klien,sehingga
memudahkan untuk membantu klien memecahkan masalahnya
Motif dan motivasi berkenaan dengan dorongan

yang

menggerakkan seseorang berperilaku baik motif primer yaitu motif


yang didasari oleh kebutuhan asli yang dimiliki oleh individu semenjak
dia lahir, seperti : rasa lapar, bernafas dan sejenisnya maupun motif
sekunder

yang

terbentuk

dari

hasil

belajar,

seperti

rekreasi,

memperoleh pengetahuan atau keterampilan tertentu dan sejenisnya.


Selanjutnya motif-motif tersebut tersebut diaktifkan dan digerakkan,
baik dari dalam diri individu (motivasi intrinsik) maupun dari luar

1 Deni febrini, bimbingan konseling, (yogyakarta: teras, 2011), hlm. 30


2 Prayitno dan Erman Amti, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling,(Jakarta: Rineka
Cipta,2004), hlm. 155

individu (motivasi ekstrinsik), menjadi bentuk perilaku instrumental

motorik memiliki tahap-tahap perkembangannya sendiri. Disamping itu

atau aktivitas tertentu yang mengarah pada suatu tujuan.


2. Pembawaan dan Lingkungan
Pembawaan dan lingkungan berkenaan dengan faktor-faktor

hukum-hukum perkembangan berlaku bagi perkembangan segenap aspek

yang membentuk dan mempengaruhi perilaku individu. Pembawaan yaitu

perkembangan cenderung memperlihatkan caranya sendiri, namun

segala sesuatu yang dibawa sejak lahir dan merupakan hasil dari
keturunan, yang mencakup aspek psiko-fisik, seperti struktur otot,
warna

kulit,

golongan

darah,

bakat,

kecerdasan,

atau

ciri-

cirikepribadian tertentu. Pembawaan pada dasarnya bersifat potensial


yang

perlu

dikembangkan

dan

untuk

mengoptimalkan

dan

mewujudkannya bergantung pada lingkungan dimana individu itu berada.


Pembawaan dan lingkungan setiap individu akan berbeda-beda. Ada
individu yang memiliki pembawaan yang tinggi dan ada pula yang sedang
atau bahkan rendah. Misalnya dalam kecerdasan, ada yang sangat tinggi
(jenius), normal atau bahkan sangat kurang (debil, embisil atau ideot).
Demikian pula dengan lingkungan, ada individu yang dibesarkan
dalam lingkungan yang kondusif dengan sarana dan prasarana yang
memadai, sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya dapat

itu secara menyeluruh, termasuk di dalamnya peranan faktor-faktor


pembawaan

dan

lingkungan.

Meskipun

masing-masing

aspek

aspek-aspek itu saling terkait. Dalam satu tahap perkembangan


tertentu berkembanglah berbagai aspek tersebut dan pada umumnya
saling terkait.3
Beberapa teori tentang perkembangan individu yang dapat
dijadikan sebagai rujukan, diantaranya : (1) Teori dari McCandless
tentang pentingnya dorongan biologis dan kultural dalam perkembangan
individu; (2) Teori dari Freud tentang dorongan seksual; (3) Teori dari
Erickson tentang perkembangan psiko-sosial; (4) Teori dari Piaget
tentang perkembangan kognitif; (5) teori dari Kohlberg tentang
perkembangan moral; (6) teori dari Zunker tentang perkembangan
karier; (7) Teori dari Buhler tentang perkembangan sosial; dan (8)
Teori dari Havighurst tentang tugas-tugas perkembangan individu

berkembang secara optimal. Namun ada pula individu yang hidup dan

semenjak masa bayi sampai dengan masa dewasa.


Dalam menjalankan tugas-tugasnya,

berada dalam lingkungan yang kurang kondusif dengan sarana dan

memahami berbagai aspek perkembangan individu yang dilayaninya

prasarana yang serba terbatas sehingga segenap potensi bawaan yang

sekaligus dapat melihat arah perkembangan individu itu di masa depan,

dimilikinya tidak dapat berkembang dengan baik.dan menjadi tersia-

serta keterkaitannya dengan faktor pembawaan dan lingkungan.

siakan.
3. Perkembangan Individu
Sejak masa konsepsi dalam rahim ibu bakal individu yang telah
ditakdirkan ada itu berkembang menjadi janin, janin menjadi bayi, bayi
lahir kedunia; terus berkembangan menjadi anak kecil, anak usia SD,
remaja dewasa, akhirnya manusia usia lanjut. Dengan demikian jelas
bahwa perkembangan individu itu tidak sekali jadi, malainkan bertahap
berkesinambungan.
Masing-masing aspek perkembangan, seperti perkembangan
kognitif/kecerdasan, bahasa, moral, hubungan sosial, fisik, kemampuan

pembimbing

harus

4. Belajar
Belajar merupakan salah satu konsep yang amat mendasar dari
psikologi. Manusia belajar untuk hidup. Tanpa belajar, seseorang tidak
akan dapat mempertahankan dan mengembangkan dirinya, dan dengan
belajar

manusia

mampu

berbudaya

dan

mengembangkan

harkat

kemanusiaannya. Inti perbuatan belajar adalah upaya untuk menguasai


sesuatu yang baru dengan memanfaatkan yang sudah ada pada diri
individu. Penguasaan yang baru itulah tujuan belajar dan pencapaian

3 Prayitno dan Erman Amti, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling,(Jakarta: Rineka


Cipta,2004), hlm. 160

sesuatu yang baru itulah tanda-tanda perkembangan, baik dalam aspek

Keempat, kegiatan belajar seringkali memerlukan sejumlah

kognitif, afektif maupun psikomotor/keterampilan. Untuk terjadinya

sarana, baik peralatan(berupa buku, alat-alat latihan, alat-alat peraga,

proses belajar diperlukan prasyarat belajar, baik berupa prasyarat

peralatan elektronik, peralatan komunikasi, dan berbagai alat bantu

psiko-fisik yang dihasilkan dari kematangan atau pun hasil belajar

belajar lainnya) maupun suasana hati dan hubungan sosio-emosional.

sebelumnya.
Belajar merupakan salah satu konsep yang sangat mendasar dari

Suasana hati dan hubungan sosio-emosional yang kondusif, sehingga

psikologi. Topic tentang belajar menjadi materi dasar dan pokok dari

berlangsungnya perbuatan belajar, akan lebih memungkinkan lagi

pembahasan psikologis, bahkan menjadi inti dalam penjelasan tentang


persepsi dan berpikir; kemampuan dan imajinasi, berargumentasi, dan

tercapainya hasil belajar yang diinginkan.


Kelima, hasil yang diperoleh dari kegiatan belajar hendaknya

menilai/mempertimbangkan; sikap, ciri- ciri kepribadian, dan sistem

dapat diketahui atau diukur, baik oleh individu yang belajar maupun oleh

nilai; serta perkembangan dan organisasi kegiatan yang membentuk

orang lain. Pengetahuan tentang hasil belajar merupakan balikana bagi

kepribadian individu.
Belajar adalah upaya untuk menguasai sesuatu yang baru dengan

individu yang belajar, terutama tentang seberapa jauh kesuksesannya

memanfaatkan apa yang sudah ada pada diri individu. Hal-hal yang perlu

oleh individu yang belajar agar ia dapat mengadakan perhitungan

diperhatikan:
Pertama, terjadinya perubahan dan tercapainya sesuatu yang

tidak

ada

sesuatu

yang

menghambat,

melainkan

mendorong

dalam upaya belajar itu. Adanya balikan seperti itu sangat diperlukan
tentang upaya belajar yang dilaksanakannya itu dan hasil-hasilnya serta

baru pada diri individu itu tidak berlangsung dengan sendirinya,

upaya kelanjutannya.
Keenam,
upaya

melainkan harus diupayakan. Jika perubahan atau sesuatu yang baru

berkesinambungan. Kegitan belajar tidak terbatas oleh waktu, tempat,

terjadi pada individu tersebut tanpa disengaja atau diupayakan, maka

keadaan, dan objek yang dipelajari, ataupun oleh usia. Upaya belajar

perubahan atau sesuatu yang baru itu bukanlah hasil belajar, melainkan

dikehendaki

suatu

hasil

perkembangan dan kebutuhan individu yang bersangkutan. Untuk itu

pertumbuhan/perkembangan yang berupa kematangan.


Kedua, proses belajar terjadi pada suatu kondisi tertentu.

diperlukan penguatan (reinforcement). Apabila penguatan itu sering

Untuk terjadinya proses belajar diperlukan prasyarat, berupa hasil

atau bahkan meningkatkan upaya belajarnya, sampai ia memiliki

yang

berlangsung

secara

kebetulan

atau

kematangan ataupun hasil belajar yang terdahulu. Misalnya, apabila


seorang anak hendak belajar berhitung, terlebih dahulu ia harus
memahami tentang konsep tentang angka sebagai prasyarat belajar
berhitung itu.
Ketiga, hasil belajar yang diharapkan adalah sesuatu yang baru,
baik

dalam

kawasan

kognitif,

afektif,

konotatif,

maupun

psikomotoris/keterampilan. Hasil yang merupakan sesuatu yang baru


akan memberikan nilai tambah bagi individu yang belajar.

berlangsung

belajar

merupakan

terus-menerus,

sesuai

upaya

dengan

yang

tingkat

dilakukan, maka individu yang diberikan penguatan itu akan melanjutkan


kebiasaan belajar yang baik.
Pemberian penguatan dilakukan memakai pernyataan berkenaan
dengan hal-hal positif yang ada pada diri individu, khususnya berkenaan
dengan kegiatan belajarnya itu; misalnya pernyataan tentang motivasi
belajarnya cukup tinggi, hasil belajarnya bagus, caranya menjawab soalsoal cermat, bahasanya lancer, pekerjaannya rapi, dan sebagainya.
Dengan pernyataan positif itu diharapkan mendorong tumbuhnya rasa
puas, rasa diri mampu bekerja dan mampu menghasilkan sesuatu yang
berguna, sehingga ia terdorong untuk mengulangi kegiatan tersebut.

Apabila hal itu terjadi maka upaya pemberian penguatan menampakkan

dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpengaruh, sehingga

hasilnya.
Para konselor perlu mengenal dan memahami teori-teori belajar

menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersangkutan

yang telah dikembangkan oleh para ahli seperti, teori pembiasaan dan

dalam berinteraksi dengan lingkungannya.


Untuk menjelaskan tentang kepribadian individu, terdapat

keterpaduan (conditioning dan connectionism theories), teori gestalt

beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal, diantaranya :

(gestalt theories), teori perkembangan kognisi (cognitive development

Teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud, Teori Analitik dari Carl Gustav

theories), teori proses informasi (informating processing theories),

Jung, Teori Sosial Psikologis dari Adler, Fromm, Horney dan Sullivan,

proses peniruan (social learning theory). Hal tersebut dilakukan dalam

teori Personologi dari Murray, Teori Medan dari Kurt Lewin, Teori

upaya pengembangan kegiatan belajar klien.

5. Kepribadian
Hingga saat ini para ahli tampaknya masih belum menemukan
rumusan tentang kepribadian secara bulat dan komprehensif.. Dalam
suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. Allport
(Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey, 2005) menemukan hampir 50
definisi tentang kepribadian yang berbeda-beda. Berangkat dari studi

Psikologi

Individual

dari

Allport,

Teori

Stimulus-Respons

dari

Throndike, Hull, Watson, Teori The Self dari Carl Rogers dan
sebagainya. Sementara itu, Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan
tentang aspek-aspek kepribadian, yang mencakup :
a. Karakter; yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku,
konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat.
b. Temperamen; yaitu disposisi reaktif seorang, atau cepat lambatnya
mereaksi

yang dilakukannya, akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang

terhadap

rangsangan-rangsangan

yang

datang

dari

lingkungan.
Sikap; sambutan terhadap objek yang bersifat positif, negatif

kepribadian yang dianggap lebih lengkap. Menurut pendapat dia bahwa

c.

kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem


psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri

atau ambivalen.
d. Stabilitas emosi; yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap

terhadap lingkungannya. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah

rangsangan dari lingkungan. Seperti mudah tidaknya tersinggung,

penyesuaian diri. Scheneider dalam Syamsu Yusuf (2003) mengartikan

sedih, atau putus asa.


Responsibilitas (tanggung jawab), kesiapan untuk menerima resiko

penyesuaian diri sebagai suatu proses respons individu baik yang

e.

dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. Seperti mau

bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-

menerima resiko secara wajar, cuci tangan, atau melarikan diri dari

kebutuhan dari dalam diri, ketegangan emosional, frustrasi dan konflik,


serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut
dengan tuntutan (norma) lingkungan.
Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas perilaku
itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu
lainnya. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya,
misalnya konstitusi dan kondisi fisik, tampang, hormon, segi kognitif

4 Prayitno dan Erman Amti, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling,(Jakarta: Rineka


Cipta,2004), hlm. 163-165

f.

resiko yang dihadapi.


Sosiabilitas; yaitu disposisi

pribadi

yang

berkaitan

dengan

hubungan interpersonal. Seperti: sifat pribadi yang terbuka atau


tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.
Untuk kepentingan layanan bimbingan dan konseling dan dalam
upaya memahami dan mengembangkan perilaku individu yang diiumbing
maka gur harus dapat memahami dan mengembangkan setiap motif dan
motivasi yang melatarbelakangi perilaku individu yang dilayaninya

(klien). Selain itu, seorang guru juga harus dapat mengidentifikasi

sebagaimana

aspek-aspek potensi bawaan dan menjadikannya sebagai modal untuk


memperoleh kesuksesan dan kebahagian hidup kliennya. Begitu pula,

permasalahan manusia
Demikianlah keadaannya sekarang, psikologi lebih merupakan disiplin

guru sedapat mungkin mampu menyediakan lingkungan yang kondusif

ilmu untuk mempelajari dan memahami manusia daripada untuk menanggulangi

bagi pengembangan segenap potensi bawaan siswanya. Terkait dengan

permasalahan manusia secara teraputik. Sebaliknya, gerakan bimbingan, sejak

upaya pengembangan belajar , guru dituntut untuk memahami tentang

awalnya muncul dan tumbuh sebagai gerakan yang dirancang untuk membantu

aspek-aspek

individu

dalam

belajar

serta

berbagai

teori

belajar

yang

adanya;

mengatasi

bukan

metode

untuk

masalah-masalahnya;

mengatur

gerakan

ini

atau

secara

menangani

konsisten

mendasarinya. Berkenaan dengan upaya pengembangan kepribadian,

mengembangkan pendekatan dan cara-cara yang bersifat humanitarian dan

guru kiranya perlu memahami tentang karakteristik dan keunikan

teraputik sebagaimana tampil dengan kokoh dalam setiap upaya bimbingan dan

kepribadian siswanya. Oleh karena itu, agar guru benar-benar dapat

konseling dewasa ini.


Dengan penegasan Belkin di atas jelaslah bahwa psikologi bukanlah akar

menguasai landasan psikologis, setidaknya terdapat empat bidang


psikologi yang harus dikuasai dengan baik, yaitu bidang psikologi umum,
psikologi perkembangan, psikologi belajar atau psikologi pendidikan dan
psikologi kepribadian.5

gerakan bimbingan dan konseling, meskipun psikologi amat penting sebagai salah
satu (bukan satu-satunya) sarana penunjang bagi kesuksesan layanan bimbingan
dan konseling.

PENUTUP
Uraian yang panjang lebar tentang landasan psikologis mengisayaratkan
bahwa tidak mungkin bagi seorang konselor dapat berfungsi secara efektif dan

DAFTAR PUSTAKA

tepat tanpa memanfaatkan kaidah-kaidah filsafat dan psikologi (Belkin, 1976).


Namun demikian, untuk menghindari salah paham berkaitan dengan peranan
psikologi dalam bimbingan dan konseling, Belkin lebih lanjut menyatakan:
Meskipun berbagai upaya telah dilakukan para ahli untuk memahami jiwa
dan tempat manusia di bawah sinar matahari sepanjang masa yang disebut di
dalam sejarah spikologi, namun belum pernah ada upaya dalam bidang filsafat
dan psikologi untuk menangani permasalahan emosional. Menurut kenyataannya,
sampai dengan awal abad ke-19, ketika sejumlah gerakan muncul untuk
menangani dan menyembuhkan penyakit mental dan emosional dengan cara-cara
yang manusiawi, dan secara ilmiah sahih, belum ada satu disiplin ilmu pun yang
tampil menulangpunggungi gerakan tersebut. Gerakan dalam bidang psikologi,
sejak awalnya yang bercorak filsafat sampai dengan perkembangannya dalam
kegiatan laboratorium psikologi, tumbuh sebagai studi untuk memahami manusia

5 Deni febrini, bimbingan konseling, (yogyakarta: teras, 2011), hlm. 33-35

Deni febrini, S.Ag., M.Pd, bimbingan konseling, (yogyakarta: teras, 2011)


Prayitno dan Erman Amti, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, (Jakarta:
Rineka Cipta,2004)