Anda di halaman 1dari 9

A.

Kasus
Warga Jombang Mengaku Nabi Isa, Gus Dimas: Dia Penipu, Nabi Abalabal dan Sesat
Heboh pengakuan Jari (44), warga Dusun Gempol, Desa Karangpakis,
Kecamatan Kabuh, yang mengklaim mendapat wahyu dari Allah dan bahkan
menahbiskan diri sebagai Nabi Isa mulai menuai beragam reaksi.
Dimas Cokro Pamungkas atau Gus Dimas, Ketua Majelis Dzikir
Qurrota A'yun Jombang menilai, Jari yang mengaku menerima wahyu dari
Allah sebagai tanda akhir zaman hanya pembual, penipu, dan abal-abal
(palsu).
"Siapapun dia, entah ustaz, gus, kiai, atau syekh sekalipun, jika
mengaku mendapat wahyu, atau mengaku nabi, bahkan berani merubah
syahadat, berarti dia penipu, nabi abal-abal. Sesat dan menyesatkan," ujar Gus
Dimas, Rabu (17/2/2016). Itulah sebabnya, Gus Dimas mendesak Majelis
Ulama Indonesia (MUI) bersikap tegas. Yakni memanggil yang bersangkutan
untuk dimintai klarifikasi. Dengan demikian MUI benar-benar mengetahui
ajaran seperti apa yang dikembangkan di Pondok Pesantren Kahuripan AshShiroth, Dusun Gempol, Desa Karangpakis, pimpinan Jari. "Saya dengar ini
terjadi sejak 2004, berarti sudah berlangsung 10 tahun. Jika hal tersebut
dibiarkan, bisa menjadi bola liar. Makanya MUI Jombang proaktif memanggil
yang bersangkutan," ujar Gus Dimas. Seperti diberitakan, Jari membuat
pengakuan yang mengejutkan.
Dia mengaku mendapatkan wahyu yang disebutnya sebagai Isa
Habibullah atau Isa kekasih Allah. Diakuinya, wahyu tersebut dia terima pada
Jumat Legi tahun 2004. Ketika itu Jari mondok di salah satu pesantren Desa
Brangkal,

Kecamatan

Sooko,

Kabupaten

Mojokerto.

Saat itu, Jari sedang salat malam. Ketika sujud, dadanya serasa ditekan, lantas
ia mendengar lantunan ayat pertama Surat Yasin. Jari mengklaim ini petunjuk
dia sebagai Isa Habibullah atau Isa kekasih Allah. (Sutono)
Sumber: http://www.tribunnews.com

B. Data yang perlu dikaji :


1. Data obyektif :
a. Klien tidak dapat menilai realitas dengan tepat.
b. Klien mempunyai lebih dari 100 santri
c. Ekspresi wajah tegang
d. Klien adalah ustadz di salah satu pondok di Jombang
e. pengulangan kata-kata yang didengar dan kontak mata kurang
f. Setiap dua kali sebulan mengadakan pengajian umum untuk
menyebarkan ajarannya.
2. Data subyektif :
a. Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (klien menyatakan
bahwa ia adalah Nabi Isa)
b. klien mengungkapkan bahwa ia mendengarkan ayat pertama surat
yasin sebanyak 7 kali saat ia solat malam
c. klien mengungkapkan bahwa ia mendengarkan ada seseorang yang
memanggil namanya dengan sebutan Isa
d. klien menamai dirinya dengan Isa Habbibullah
e. klien mengungkapkan kemunculan dirinya adalah pertanda akhir
zaman.
Data
S:
Klien mengungkapkan sesuatu yang tidak realistis

Masalah
Risiko gangguan komunikasi verbal

bahwa dia adalah seorang nabi Isa Habibbullah


O:
Kehilangan asosiasi, pengulangan kata-kata yang
didengar dan kontak mata kurang
Ekspresi wajah tegang
S:
Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya

Perubahan proses pikir : waham

mengenai agama (menjadi nabi Isa Habibbullah)


berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai
dengan kenyataan.
klien mengungkapkan kemunculan dirinya adalah
pertanda akhir zaman
O:
Setiap dua kali dalam sebulan mengadakan
pengajian umum untuk menyebarkan ajarannya.
Klien mempunyai lebih dari 100 santri
Klien adalah ustadz di salah satu pondok di Jombang
C. Diagnosis :
Risiko gangguan komunikasi verbal
Perubahan proses pikir : waham

D. Pohon Masalah
Proses terjadinya waham menurut Stuart dan Sundeen dapat dirangum
dalam pohon masalah sebagai berikut:

Resiko tinggi gangguan komunikasi verbal


Effect:
Gangguan isi pikir: Waham
Core problem:
Harga diri rendah kronis
Causa:
Koping individu tidak efektif

E. Fokus Intervensi
Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan waham
1. Tujuan umum: Klien tidak terjadi kerusakan komunikasi verbal
2. Tujuan khusus:
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat
Rasional: Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk
kelancaran hubungan interaksinya
Tindakan:

Bina hubungan. saling percaya: salam terapeutik, perkenalkan


diri, jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang,
buat kontrak yang jelas topik, waktu, tempat).

Jangan membantah dan mendukung waham klien: katakan


perawat menerima keyakinan klien saya menerima keyakinan
anda disertai ekspresi menerima, katakan perawat tidak
mendukung disertai ekspresi ragu dan empati, tidak
membicarakan isi waham klien.

Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindungi:


katakan perawat akan menemani klien dan klien berada di tempat
yang aman, gunakan keterbukaan dan kejujuran jangan tinggalkan
klien sendirian.

Observasi apakah wahamnya mengganggu aktivitas harian dan


perawatan diri

b. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki


Rasional: Dengan mengetahui kemampuan yang dimiliki klien, maka
akan memudahkan perawat untuk mengarahkan kegiatan yang
bermanfaat bagi klien dari pada hanya memikirkannya
Tindakan:

Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realistis.

Diskusikan bersama klien kemampuan yang dimiliki pada waktu


lalu dan saat ini yang realistis.

Tanyakan apa yang biasa dilakukan kemudian anjurkan untuk


melakukannya saat ini (kaitkan dengan aktivitas sehari - hari dan
perawatan diri).

Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai


kebutuhan waham tidak ada. Perlihatkan kepada klien bahwa
klien sangat penting.

c. Klien dapat mengidentifikasikan kebutuhan yang tidak terpenuhi


Rasional: dengan mengetahui kebutuhan klien yang belum terpenuhi
perawat dapat merencanakan untuk memenuhinya dan lebih
memperhatikan kebutuhan kien tersebut sehungga klien merasa
nyaman dan aman
Tindakan:

Observasi kebutuhan klien sehari-hari.

Diskusikan kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di


rumah maupun di rumah sakit (rasa sakit, cemas, marah).

Hubungkan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya


waham.

Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien dan


memerlukan waktu dan tenaga (buat jadwal jika mungkin).

Atur situasi agar klien tidak mempunyai waktu untuk


menggunakan wahamnya.

d. Klien dapat berhubungan dengan realitas

Rasional: menghadirkan realitas dapat membuka pikiran bahwa realita


itu lebih benar dari pada apa yang dipikirkan klien sehingga klien
dapat menghilangkan waham yang ada
Tindakan:

Berbicara dengan klien dalam konteks realitas (diri, orang lain,


tempat dan waktu).

Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok : orientasi realitas.

Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien

e. Klien dapat menggunakan obat dengan benar


Rasional: Penggunaan obat yang secara teratur dan benar akan
mempengaruhi proses penyembuhan dan memberikan efek dan efek
samping obat
Tindakan:

Diskusikan dengan kiten tentang nama obat, dosis, frekuensi, efek


dan efek

samping minum obat.

Bantu klien menggunakan obat dengan priinsip 5 benar (nama


pasien, obat,

dosis, cara dan waktu).

Anjurkan klien membicarakan efek dan efek samping obat yang


dirasakan.

Beri reinforcement bila klien minum obat yang benar.

f. Klien dapat dukungan dari keluarga

Rasional: dukungan dan perhatian keluarga dalam merawat klien akan


mambentu proses penyembuhan klien
Tindakan:

Diskusikan dengan keluarga melalui pertemuan keluarga tentang:


gejala waham, cara merawat klien, lingkungan keluarga dan
follow up obat.

Beri reinforcement atas keterlibatan keluarga

TUGAS KEPERAWATAN JIWA


Harga Diri Rendah dan Gangguan Orientasi Realita ( Waham )

Dosen : Sri Hendarsih

Disusun oleh :
1.
2.
3.
4.
5.

Ad Dieni Ulya S.
Hajar Simping F.
Izmi Nur R.
Nissa Kurniasih
Tiara Annisa

( P07120214001 )
( P07120214011 )
( P07120214016 )
( P07120214023 )
( P07120214037 )

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA
D-IV KEPERAWATAN
2016