Anda di halaman 1dari 14

Komparator (pembanding)

Komparator.
Merupakan salah satu aplikasi yang memanfaatkan batas simpal terbuka (bahasa Inggris: openloop gain) penguat operasional yang sangat besar.[5] Ada jenis penguat operasional khusus yang
memang difungsikan semata-mata untuk penggunaan ini dan agak berbeda dari penguat
operasional lainnya dan umum disebut juga dengan komparator (bahasa Inggris: comparator).[5]
Komparator membandingkan dua tegangan listrik dan mengubah keluarannya untuk
menunjukkan tegangan mana yang lebih tinggi.[5]

di mana
.)

adalah tegangan catu daya dan penguat operasional beroperasi di antara

dan

Penguat pembalik

Penguat pembalik.
Sebuah penguat pembalik menggunakan umpan balik negatif untuk membalik dan menguatkan
sebuah tegangan.[12] Resistor Rf melewatkan sebagian sinyal keluaran kembali ke masukan.[12]
Karena keluaran taksefase sebesar 180, maka nilai keluaran tersebut secara efektif mengurangi
besar masukan.[12] Ini mengurangi bati keseluruhan dari penguat dan disebut dengan umpan balik
negatif.[12]

Di mana,

(karena

adalah bumi maya (bahasa Inggris: virtual ground)

Sebuah resistor dengan nilai


, ditempatkan di antara
masukan non-pembalik dan bumi. Walaupun tidak dibutuhkan, hal ini mengurangi galat
karena arus bias masukan.[13]

Bati dari penguat ditentukan dari rasio antara Rf dan Rin, yaitu:[12]

Tanda negatif menunjukkan bahwa keluaran adalah pembalikan dari masukan.[12] Contohnya jika
Rf adalah 10.000 dan Rin adalah 1.000 , maka nilai bati adalah -10.000 / 1.000, yaitu -10.
[12]

Penguat non-pembalik

Penguat non-pembalik.
Rumus penguatan penguat non-pembalik adalah sebagai berikut:[14]

atau dengan kata lain:

Dengan demikian, penguat non-pembalik memiliki bati minimum bernilai 1. Karena tegangan
sinyal masukan terhubung langsung dengan masukan pada penguat operasional maka impedansi
masukan bernilai
.
Penguat diferensial

Penguat diferensial.
Penguat diferensial digunakan untuk mencari selisih dari dua tegangan yang telah dikalikan
dengan konstanta tertentu yang ditentukan oleh nilai resistansi yaitu sebesar
untuk
[14]
[14]
dan
. Penguat jenis ini berbeda dengan diferensiator. Rumus yang
digunakan adalah sebagai berikut:[14]

Sedangkan untuk

Penguat penjumlah

Penguat penjumlah.

dan

maka bati diferensial adalah:[14]

Penguat penjumlah menjumlahkan beberapa tegangan masukan, dengan persamaan sebagai


berikut:[14]

Saat

Saat

Keluaran adalah terbalik.

Impedansi masukan dari masukan ke-n adalah

, dan

saling bebas maka:

, maka:

(di mana

adalah bumi maya)

Integrator

Integrator.
Penguat ini mengintegrasikan tegangan masukan terhadap waktu, dengan persamaan:[14]

di mana adalah waktu dan

adalah tegangan keluaran pada

Sebuah integrator dapat juga dipandang sebagai tapis pelewat-tinggi dan dapat digunakan untuk
rangkaian tapis aktif.[15]
Diferensiator

Diferensiator.
Mendiferensiasikan sinyal hasil pembalikan terhadap waktu dengan persamaan:[16]

di mana

dan

adalah fungsi dari waktu.

Pada dasarnya diferensiator dapat juga dibangun dari integrator dengan cara mengganti kapasitor
dengan induktor, namun tidak dilakukan karena harga induktor yang mahal dan bentuknya yang
besar.[16] Diferensiator dapat juga dilihat sebagai tapis pelewat-rendah dan dapat digunakan
sebagai tapis aktif.[15]

PCM merupakan metode umum untuk mengubah sinyal analog menjadi sinyal digital
Dalam sistem digital, sinyal analog yang dikirimkan cukup dengan sampel-sampelnya saja
Sinyal suara atau gambar yang masih berupa sinyal listrik analog diubah menjadi sinyal listrik
digital melalui 4 tahap utama, yaitu :
1. Sampling adalah : proses pengambilan sample atau contoh besaran sinyal analog pada titik
tertentu secara teratur dan berurutan
Frekuensi sampling harus lebih besar dari 2 x frekuensi yang disampling (sekurang-kurangnya
memperoleh puncak dan lembah) [teorema Nyqust]
Hasil penyamplingan berupa PAM (Pulse Amplitude Modulation
2. Quantisasi : Proses menentukan segmen-segmen dari amplitudo sampling dalam level-level
kuantisasi
Amplitudo dari masing-masing sample dinyatakan dengan harga integer dari level kuantisasi
yang terdekat
3. Pengkodean : proses mengubah (mengkodekan) besaran amplitudo sampling ke bentuk kode
digital biner
4. Multiplexing : dari banyak input menjadi satu output
fungsi : Untuk penghematan transmisi
Menjadi dasar penyambungan digital

Rekomendasi CCITT G.732 : PCM 30 mengkobinasikan 30 kanal bicara pada satu jalur highway
dengan bitrate 2048 Kbps
Rekomendasi CCITT G.733 : PCM 24 mengkobinasikan 24 kanal bicara pada satu jalur highway
dengan bitrate 1544 Kbps
Keduanya merupakan rekomendasi dasar atau basic struktur PCM yang disebut juga dengan
Primary Transmission System atau Primary Digital Carrier (PDC)
Persamaan PCM 30 dengan 24
Frekuensi Sampling : 8 KHz
Jumlah sampling per time slot : 8000 sample/detik
Periode pulse frame : T = 1/f = 125 usec
Jumlah bit dalam 1 time-slot : 8 bit
Bit rate per time-slot : 8000 x 8 = 64 Kbps
Perbedaan pcm30 dan pcm 24
Coding/Encoding PCM 30 =A law PCM 2=u law
Jumlah ts / frame PCM 30=32 ts PCM 24 =24 ts
Jumlah bit / frame PCM 30= 8 x 32 = 256 PCM 24=8 x 24 + 1 = 193
Periode 1 ts PCM 30 =125 us/32 = 3,9 us PCM 24 = 125 us/24 = 5,2 us
Bitrate / frame PCM 30=2048 Kbps PCM 24 =1544 Kbps
Pengkodean saluran PCM 30=HDB3 atau 4B3T PCM 24 = ADI / AMI
Pulse Frame PCM30
+Satu pulse frame PCM30 terdiri dari 32 time slot (32 ts).
+30 ts dipakai untuk kanal telepon, satu ts (ts0) mempunyai 2 fungsi yang dipakai secara
bergantian pada satu multi frame.kanal telepon ts 1 -15 dan ts 17 31
+Satu multi frame terdiri dari 16 frame (frame 0 sampai dengan frame 15)
+Ts0 pada frame 0, 2, 4 s.d 14 digunakan untuk menandai awal pulse frame yang disebut dengan
+Frame Alignment Signal (FAS) dengan kode X0011011
+Ts0 pada frame 1, 3, 5 s.d 15 digunakan sebagai service word untuk mengirimkan pesan-pesan
alarm dengan kode X1DYYYYY
+Satu ts lainnya (ts16) pada frame 1, 2, 3 s.d 15 digunakan untuk memproses Line Signalling
seperti pulsa dial, answer signal, release signal, dll yaitu signal yang termasuk dalam kategori
Channel Associated Signalling (CAS).
+Sedangkan ts16 pada frame-0, khusus digunakan untuk Common Channel Signalling (CCS)

Multiframe PCM 30
+Multiframe adalah deretan 16 buah frame PCM30 (frame 0 s.d 15) digunakan untuk
membentuk jalur 30 buah trunk digital
+Satu frame (pulse frame) mempunyai panjang waktu 125 us berisi 32 ts. Panjang waktu satu
multi frame = 16 x 125 us = 2 mdetik
+Multiframe diperlukan karena dalam proses signaling CAS memerlukan 1 time-slot khusus
untuk dapat mengirimkan Line Signalling seperti pulsa 60 mdetik dan 40 mdetik dari signal
dekadik, seizing, atau clear signal dll.
+Umumnya satu jalur pelanggan memerlukan satu time slot sendiri untuk signalling atau bisa
juga bersifat common (pemakaian bersama).
+Time Slot yang digunakan hanya satu time slot yaitu time slot 16 dari setiap frame PCM30
dalam satu multi frame.
+Satu multi frame PCM30 ada 16 time slot yang digunakan untuk signalling (yaitu ts 16 ini
dibagi menjadi 2 bagian yang masing-masing terdiri dari 4 bit (1 nible) bit a b c d, yang
digunakan kiri dan kanan dari setiap frame. Sehingga 16 buah time slot tersebut sudah melebihi
untuk digunakan sebagai signalling CAS
+Satu ts16 dipakai oleh pensinyalan 2 kanal telepon, sehingga untuk 30 kanal telepon diperlukan
15 buah ts16.
satu ts 16 sisanya digunakan sebagai Multiframe Alignment Signal (MAS) yaitu ts16 pada frame
0

Modulasi Kode Pulsa/Pulse Code Modulation (PCM), merupakan salah satu teknik memproses
suatu sinyal analog menjadi sinyal digital yang ekivalen. Proses-proses utama pada sistem PCM,
diantaranya Proses Sampling (Pencuplikan), Quantizing (Kuantisasi), Coding (Pengkodean),
Decoding (Pengkodean Kembali).

Pada Gambar A ditunjukkan diagram blok proses pengiriman pada PCM diantaranya: Filter
(LPF), Sampler, Quantizer dan Coder. Pada tahap pertama, sinyal input (analog) dengan
frekuensi fm masih bercampur dengan noise atau sinyal lain yang berfrekuensi lebih tinggi.
Untuk menghilangkan sinyal-sinyal yang tidak di inginkan(noise) tersebut digunakan LPF (low
pass
filter)
seperti
yang
ditunjukkan
Gambar
B.

Setelah sinyal di filter, selanjutnya adalah pengambilan sample seperti yang ditunjukkan pada
Gambar A dan C. Frekuensi sampling (fs) harus lebih besar atau sama dengan dua kali frekuensi
sinyal informasi (fs 2fm) ; sesuai dengan Theorema Nyquist. Sinyal output sampler disebut
sinyal PAM (Pulse Amplitudo Modulation).

Sinyal PAM tersebut yang merupakan potongan dari sinyal aslinya kemudian diberi nilai (level)
sesuai dengan amplitudo dari masing-masing sample sinyal (Gambar C). Jumlah pembagian
level sinyal yang digunakan disuaikan dengan jumlah bit yang di inginkan untuk mengkodekan
satu sample sinyal PAM berdasarkan persamaan berikut;
N adalah jumlah level sample yang di ambil dan n adalah jumlah bit yang digunakan
untuk mengkodekan satu sinyal PAM. Misalkan sinyal-sinyal PAM tersebut akan
dikodekan menjadi 4 bit maka jumlah level yang akan diperoleh adalah;

Selanjutya,
setiap
sample yang telah terkuantisasi masuk ke dalam blok CODER. Pada tahapan ini , sample sinyal
yang masih berbentuk analog dirubah menjadi biner dengan urutan serial. CODER sendiri terdiri
dari dua blok utama yaitu, A/D Converter yang berfungsi untuk merubah sinyal analog menjadi
biner, akan tetapi keluarannya masih dalam bentuk parallel seperti yang di tunjukkan Gambar D,
karenanya di butuhkan blok kedua berupa P/S Converter agar deretan biner menjadi serial.

Pada penerima (Gambar E) sinyal yang masuk telah mengalami peredeman dan kembali
bercampur dengan berbagai sinyal lain yang tidak di inginkan (noise) selama proses pengiriman,
hal ini merusak sinyal informasi sehingga akan lebih sulit untuk di proses. Karenanya, sinyal
harus diperbaiki terlebih dahulu dengan menggunakan Regenerative Repeater seperti yang
ditunjukkan pada Gambar E dan F.

Selanjutnya dengan menggunakan prinsip yang sama, deretan sinyal biner yang telah diperbaiki
tersebut di rubah kembali menjadi bentuk analog melalui proses DECODER. Sinyal yang masih
merupakan deretan seri di rubah menjadi parallel dan dikonversikan ke analog, sehingga output
DECODER merupakan sinyal PAM seperti yang terlihat pada Gambar E dan G. Sinyal PAM ini
kemudian difilter dengan menggunakn LPF untuk mengembalikannya menjadi sinyal informasi
yang di inginkan.

DEPOK INSTRUMENTS
Passion in Innovation

Menu
Lanjut ke konten

Beranda

DigiLib

Produk

Distributor

Relaksasi

Profil

ADC (Analog to Digital Converter)


Posted on Juli 20, 2011 by depokinstruments

ADC = Analog to Digital Converter adalah suatu perangkat yang mengubah suatu data kontinu
terhadap waktu (analog) menjadi suatu data diskrit terhadap waktu (digital).
Proses yang terjadi dalam ADC adalah:
1. Pen-cuplik-an
2. Peng-kuantisasi-an
3. Peng-kode-an

1. Pen-cuplik-an adalah proses mengambil suatu nilai pasti (diskrit) dalam


suatu data kontinu dalam satu titik waktu tertentu dengan periode yang
tetap. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada ilustrasi gambar berikut:

Semakin besar frekuensi pen-cuplik-an, berarti semakin banyak data diskrit yang
didapatkan, maka semakin cepat ADC tersebut memproses suatu data analog menjadi data
digital.
2. Peng-kuantisasi-an adalah proses pengelompokan data diskrit yang
didapatkan pada proses pertama ke dalam kelompok-kelompok data.
Kuantisasi, dalam matematika dan pemrosesan sinyal digital, adalah proses
pemetaan nilai input seperti nilai pembulatan.

Semakin banyak kelompok-kelompok dalam proses kuantisasi, berarti semakin kecil


selisih data diskrit yang didapatkan dari data analog, maka semakin teliti ADC tersebut
memproses suatu data analog menjadi data digital.
3. Peng-kode-an adalah meng-kode-kan data hasil kuantisasi ke dalam bentuk
digital (0/1) atau dalam suatu nilai biner.

Dengan: X1 = 11, X2 = 11, X3 = 10, X4 = 01, X5 = 01, X6 = 10.

Secara matematis, proses ADC dapat dinyatakan dalam persamaan:

Data ADC = (Vin/Vref) x Maksimal Data Digital


Dengan Vref adalah jenjang tiap kelompok dalam proses kuantisasi,kemudian maksimal data
digital berkaitan proses ke-3 (peng-kode-an). Sedangkan proses ke-1 adalah seberapa cepat
data ADC dihasilkan dalam satu kali proses.
Contoh kasus:
1. Suatu rangkaian ADC dengan IC 0804 diberikan input tegangan analog sebesar 3 volt.
Tegangan referensi IC di-set di 5 volt. Berapakah data digital output dari IC?
Jawaban:
IC 0804 adalah IC ADC dengan output 8 bit data digital. Maka maksimal data digital-nya adalah
28 1 = 255 (pengurangan 1 dilakukan karena data dimulai dari 0-255 yang berarti berjumlah
256). Sehingga data digital output IC adalah:
Data ADC = (Vin/Vref) x Maksimal Data Digital
Data ADC = (3/5) x 255
Data digital output IC = 153 = 10011001
2. Suatu rangkaian mikrokontroler AVR ATmega16 membaca data digital di salah satu pin ADCnya adalah 0111110100. Dengan diketahui bahwa pin AREF-nya dihubungkan ke tegangan
sumber 5 volt, berapakah tegangan input pada pin ADC-nya tersebut?
Jawaban:
IC mikrokontroler AVR ATmeg16 adalah mikrokontroler yang terdapat rangkaian ADC internal
di dalam IC-nya. ADC internal dari ATmega16 memiliki ketelitian sampai dengan 10 bit,
sehingga maksimal data digital-nya adalah 210 1 = 1023. Pin AREF pada mikrokontroler ini
adalah salah satu opsi tegangan referensi ADC-nya. Sehingga tegangan input dapat dihitung
dengan cara:
Data digital output = 0111110100(2) = 500(10)
Data ADC = (Vin/Vref) x Maksimal Data Digital
500 = (Vin/5) x 1023
Vin = (500 x 5 / 1023) = 2,44 Volt

3. Suatu rangkaian mikrokontroler AVR ATmega16 terhubung kepada sensor suhu LM35. Dalam
proses pembacaan data pada pin ADC-nya, data yang terbaca adalah 300(10). Berapakah suhu
yang terdeteksi oleh LM35 jika pin AREF pada mikrokontroler diset di tegangan 1 volt?
Jawaban:
Langkah pertama dalam menyelesaikan kasus-3 adalah menentukan tegangan input di pin ADC
yang adalah tegangan keluaran dari LM35 dengan cara seperti pada penyelesaian kasus-2:
Data ADC = (Vin/Vref) x Maksimal Data Digital
300 = (Vin/1) x 1023
Vin = (300 x 1 / 1023) = 0,2933 Volt
Langkah berikutnya adalah menentukan suhu yang dideteksi oleh LM35. Untuk melakukan itu
perlu diperhatikan sensitivitas dari LM35. Dari datasheet-nya, LM35 memiliki sensitivitas 10
mV/oC. Sehingga suhu yang terdeteksi oleh LM35 (T):
T = (Vin/Sensitivitas) = (0,2933/0,01) = 29,33 oC