Anda di halaman 1dari 9

Laporan Modul 3, MG-3017

Feeder, Classifying dan Settling Test


Farah Rizka Rahmatia (12113044)/Kelompok 1/Senin, 07-03-2016
Asisten : Indriani (12512003)
Abstrak-Praktikum Modul 3-Pada praktikum ini dilakukan
3 percobaan. Percobaan yang dilakukan dengan alat
feeder, classifier dan melakukan uji pengendapan.
Praktikum feeder bertujuan untuk mengetahui cara kerja
feeder serta menentukan laju pengumpanan dari material
dengan dua frekuensi yang berbeda. Percobaan classifier
bertujuan untuk mengetahui mekanisme dan prinsip kerja
dari alat hydrocyclone. Percobaan uji pengendapan
bertujuan untuk mengetahui prosedur kerja dari uji
pengendapan. mengamati pengaruh penambahan flokulan
pada percobaandan faktor-faktor yang mempengaruhi
pengendapan material. Kemudian, setelah memperoleh
data percobaan, data diolah dalam bentuk tabel,
perhitungan dan disajikan dalam grafik. Lalu
menganalisis hasil percobaan.
A. Tinjauan Pustaka
Feeder (Pengumpan)
Feeder ialah suatu alat yang digunakan untuk
mengatur jumlah material (umpan/feed) yang masuk ke
crusher/alat operasi lain dengan laju pengumpanan yang
tetap. Feeder dibutuhkan karena pada proses pengolahan
bahan galian melibatkan banyak peralatan dan kapasitas
tiap alat berbeda. Untuk itu, digunakan feeder agar hasil
pengolahan memiliki nilai yang optimum.
Feeding atau umum disebut pengumpanan adalah
proses pengaliran material bahan galian ke alat
selanjutnya. Sehingga, jenis umpan/material akan
menentukan jenis feeder yang digunakan. Berdasarkan
jenis umpannya, feeder dibagi menjadi dua jenis yakni :
1. Belt Feeder, digunakan bila umpan yang
diberikan dalam kondisi kering

Gambar 2. Vibrating Feeder

Classifier
Klasifikasi ialah suatu proses pemisahan partikel
yang didasarkan pada kecepatan pengendapannya dalam
fluida berupa air atau udara (umumnya pada media air).
Alat yang biasa digunakan untuk proses tersebut adalah
classifier.
Classifier akan menghasilkan dua produk yang
berbeda yakni partikel kasar dan halus atau partikel berat
dan ringan. Produk yang partikelnya relatif ringan/halus
akan mengalir dibagian atas yang disebut overflow (slimes)
yang kecepatan pengendapannya rendah. Sedangkan,
produk yang partikelnya berat/kasar disebut underflow
yang memiliki kecepatan pengendapan tinggi.

Gambar 3. Skema proses klasifikasi

Jenis dari classifier umumnya terbagi menjadi


dua ;
1.
2.

Gambar 1. Skema belt feeder

2.

atas :
1.
2.
3.

Diaphragm Feeder, digunakan bila umpan yang


diberikan dalam kondisi basah/slurry.
Secara umum, bagian utama dari feeder terdiri
Bin
Hopper
Feeder

Mechanical classifier
Centrifugal classifier.
Mechanical
classifier
bekerja
dengan
memanfaatkan gaya gravitasi. Partikel yang berat dan
ukurannya besar akan tenggelam dan masuk ke dalam
underflow. Sedangkan partikel yang lebih halus akan
mengendap lebih lambat sehingga keluar melewati
overflow. Alat ini terdiri atas kolam pengendapan yang
berupa tangki berbentuk mangkok atau saluran, serta alat
yang berfungsi sebagai pengaduk dan mengeluarkan
produk underflow yang berbentuk rake atau spiral.
Centrifugal classifier atau disebut juga non
mechanical classifier memanfaatkan gaya gravitasi dan
gaya sentrifugal pada proses pemisahannya. Contoh dari
alat ini ialah hydrocyclone. Gaya sentrifugal pada alat ini
digunakan untuk mempercepat laju pengendapan.

Mekanisme
classifier:

pemisahan

pada

centrifugal
1.
Umpan
(pulp)
ditekan
masuk secara
tangential
2.
Pulp
berputar pada
dinding,
menghasilkan
gaya
sentrifugal
3.
Partikel
tertekan ke
arah dinding

serta membentuk spiral ke


arah bawah
4. Fluida bergerak ke arah dalam dan ke atas
dengan gerakan spiral

proses pengendapan. Untuk memperbesar ukuran partikel


digunakan suatu reagen. Reagen yang digunakan ialah
reagen flocculant atau coagulant.
Dengan reagen flocculant, maka akan terbentuk
ikatan polimer (kovalen) antar partikel, proses ini disebut
flokulasi. Sedangkan, dengan reagen coagulant, terbentuk
proses koagulasi. Dimana, terbentuk ikatan ionic yang
menetralkan permukaan partikel yang memiliki muatan
tertentu.

Gambar 6. Ikatan ionik dan polimer

Pengendapan terjadi karena adanya perbedaan


berat jenis, sehingga gaya impelling perlu diimbangi oleh
gaya drag agar pengendapan yang terjadi konstan. Gayagaya yang mempengaruhi pengendapan :

Partikel besar akan mengalami gaya sentrifugal


yang lebih besar, sehingga terlempar ke arah dinding dan
mengikuti arus spiral mengarah ke bawah dan keluar
sebagai underflow melewati lubang apex. Sebaliknya,
partikel kecil akan bergerak di spiral dalam yang bergerak
ke atas dan keluar sebagai overflow. Hal ini disebabkan
oleh gaya sentrifugal partikel kecil yang tidak cukup besar
untuk mendorongnya ke arah luar.
Additional flows:
- Short circuit flow pada atap
akibat gangguan terhadap
kecepatan tangensial
- Eddy Flow pada bagian atas
hydrocyclone akibat bukaan
overflow yang tidak dapat
menangani aliran ke atas

Gambar 5. Additional flows

Settling Test
Settling test atau uji pengendapan dilakukan
untuk mengetahui seberapa cepat suatu partikel dapat
mengendap dalam media fluida. Settling test merupakan
salah satu bentuk proses sedimentasi yang dapat
memisahkan campuran padatan dan cairan (slurry)
menjadi cairan yang lebih bening dan sludge (slurry yang
lebih pekat konsentrasinya). Sehingga, proses sedimentasi
termasuk salah satu proses dewatering.
Faktor-faktor
yang
dapat
mempengaruhi
pengendapan ialah :
Persen solid
Berat jenis
Ukuran partikel
Luas penampang kolam, dan
Jenis flocculant.
Semakin besar ukuran partikel maka gaya gravitasi pada
pratikel tersebut semakin besar, sehingga mempercepat

Gambar 6. Gaya-gaya pada proses pengendapan

B. Data Percobaan
a. Prosedur percobaan
Feeder
Menimbang
material
Memasukkan feed ke dalam
feeder
Mengambil material yang keluar dari alat
dengan alumunium foil setiap 2 detik
beberapa kali
Menimbang material pada alumuinium
foil
Menentukan laju pengumpanan dari waktu
yang diperlukan untuk mengeluarkan
semua material
Mengulang prosedur percobaan di atas
dengan menggunakan frekuensi yang
berbeda

Classifier

Mengamati bagian-bagian dari classifier


dan memahami cara kerja alat tersebut

Settling test

Menimbang material sebanyak 100 gram


dan 200 gram

Memasukkan material ke dalam gelas ukur


berbeda dan memasukkan air sampai
volume pada gelas ukur 1000 cc

- Massa : 500 gr
Metoda 2 :

t (s)
2
2
2
2
2
2
Q rata-rata

Mengaduk campuran material dan air.


Kemudian dibiarkan sampai mengendap

Mencatat dan mengamati perubahan tinggi


endapan setiap interval 15 detik

t (s)
2
2
2
2
2
2
Q rata-rata

b. Data percobaan
Classifier

Feed

Berat (gram)
Underflo
Overflo
w
w

+50

50.6

47.98

2.62

-50

+100

267.23

250.67

16.56

-100

+150

324.4

150.8

173.6

-150

+200

294.8

98.56

196.24

389.03

50.78

338.25

-200

%solid 1

15

2.1

3.5

4.3

6.8

30

2.7

3.6

4.5

6.8

45

3.3

3.6

4.7

6.7

60

3.4

3.6

4.8

75

3.4

3.7

4.9

3.7

105

5.1

120

5.3

135

5.5

150

5.7

165

5.9

180

6.1

195

6.2

210

6.15

Rata -rata
2.98
3.616
5.29643 6.76667
* (-) : tinggi endapan tanpa penambahan flukolan (cm)
(+): tinggi endapan dengan penambahan flukolan (cm)
Feeder
Frekuensi : 10 Hz
Metoda 1 :
- Waktu : 232 s

Q(gr/s)
26.4
19
27
9.35
32.75
7.05
20.258

d g ( s f )
Vt=
18

%solid 2

(Sekon)

90

m (gr)
52.8
38
54
18.7
65.5
14.1

c. Pengolahan Data Percobaan


- Rumus-rumus yang digunakan
Settling test
Rumus-rumus yang digunakan pada pengolahan
data praktikum antara lain :
a. Laju pengendapan berat hukum Stokes

Settling Test
- Tinggi pulp total : 34 cm
Waktu

Q(gr/s)
2.7
2.1
2.5
1.7
1.75
2.7
2.2417

Frekuensi : 40 Hz
Metoda 1 :
- Waktu : 50 s
- Massa : 500 gr
Metoda 2 :

Mengulangsi prosedur percobaan dengan


menambahkan flocculant pada masingmasing material (100 gr dan 200 gr)

Ukuran

m (gr)
5.4
4.2
5
3.4
3.5
5.4

b.

Laju pengendapan

Vt=

tinggi pulptinggi cairanbersih


waktu

- Hasil Perhitungan dan Pengolahan Data


Feeder

Frekuensi
40 Hz
10 Hz

Debit (gram/sekon)
Metoda 1
Metoda 2
10
20.258
2.155
2.2417

Perhitungan :
Massa total feed : 500 gr
Waktu yang dibutuhkan untuk mengeluarkan semua
umpan pada frekuensi 40 Hz : 50 s
Q (gr/s) = massa/waktu
= 500 gr/50 s
= 10 gr/s
Classifier
Ukuran

Berat (gram)

UF/F

mesh

Feed

Underflo
w

50.6

47.98

0.149

267.2
3

250.67

0.105

324.4

150.8

294.8

98.56

389.0
3

50.78

(mm)

+50

0.297

-50

+100

-100

+150

-150

+200

0.074

-200

0.9482213
4
0.9380309
1
0.4648582
0.3343283
6
0.1305297
8

210
1.856666
Rata
2.068
2.0255556 1.9135714 1.8155556
-rata
* (-)
: Kecepatan pengendapan tanpa penambahan
flukolan (cm)
(+)
: Kecepatan pengendapan dengan penambahan
flukolan (cm)
Contoh Perhitungan :
Laju pengendapan

Grafik UF/F dan d (mm)

Grafik Perbandingan UF/F dan Ukuran Ayakan


1

f(x) = 2.58x + 0.27


R = 0.64
Grafik
Perbandingan
UF/F dan
Ukuran Ayakan

0.8
0.6
UF/F 0.4
0.2

Vt=

tinggi pulptinggi endapan


waktu

Vt=

34 cm2.1 cm
15 s

Vt=2.126 cm/s
Grafik

Regresi

0
0

0.2

0.4

d (mm)

Perhitungan d50 :
Y = AX + B
0.5 = 2.573x + 0.269
2.573 x = 0.5-0.269
X = 0.08978 mm

Tanpa Flokulan (100 gr)


Tanpa Flokulan
(100 gr)
Kecepatan pengendapan (cm/s)
Linear (Tanpa
Flokulan (100
gr))
Waktu (s)

Dengan Flokulan (100gr)

Sehingga, ukuran ayakan dimana 50% feed mengendap


menjadi UF dan 50% lainnya menjadi OF ialah pada
ukuran ayakan 0.08978 mm atau sekitar 170 mesh.
Settling Test
Waktu

%solid 1

%solid 2

(Sekon)

15

2.12666

2.033333

1.98

1.813333

30

2.08666

2.026666

1.966666

1.813333

45

2.04666

2.026666

1.953333

1.82

60

2.04

2.026666

1.946666

75

2.04

2.02

1.94

2.02

1.933333

90
105

1.926666

120

1.913333

135

1.9

150

1.886666

165

1.873333

180

1.86

195

1.853333

2.04
Dengan Flokulan (100gr)
f(x) = - 0x 2.03
+ 2.03
R = 0.85 2.03
Kecepatan pengendapan (cm/s) 2.02
2.02
Linear (Dengan Flokulan (100gr))
2.01
Waktu (s)

( 0,0105 )2 1000(2,561)
Vt=
18 (0,113 102)
Vt=8,45575 cm/s

Tanpa Flokulan (200gr)

Tanpa Flokulan
(200gr)
Kecepatan pengendapan (cm/s)
Linear (Tanpa
Flokulan
(200gr))

Waktu (s)

Dengan Flokulan (200gr)


Dengan
Flokulan
(200gr)
Kecepatan pengendap an (cm/s)
Linear
(Dengan
Flokulan
(200gr))
Waktu (s)

Kecepatan Pengendapan (V) dari Regresi :


a. Tanpa Flokulan 100 gr : -0.0015 cm/s
b. Dengan Flokulan 100 gr : -0.0002 cm/s
c. Tanpa Flokulan 200 gr : -0.0007 cm/s
d. Dengan Flokulan 200 gr : 0.0002 cm/s
Kecepatan Pengendapan Teoritik dengan Hukum
Stokes
2

d g ( s f )
Vt=
18

Dimana:

=0,113 10 g /cm
d=140 =0,0105 cm
s =berat jenis solid
f =berat jenis fluida
g=10 m/s

Dan diketahui:

s =2,56 g /cm 3
f =1 g /cm

D. Analisis Hasil Percobaan


Pada percobaan menggunakan alat feeder
dilakukan 2 metode dalam menentukan laju pengumpanan.
Setelah melakukan perhitungan dan pengolahan terhadap
data percobaan, diperoleh hasil yang berbeda dari kedua
metode.
Pada percobaan dengan frekuensi 10 Hz, hasil
dari kedua metode tidak berselisih jauh. Sedangkan, pada
frekuensi 40 Hz, metoda 2 memberikan hasil 2 kali lebih
besar dari metode 1. Hal ini dapat disebabkan karena dapat
terjadi kesalahan pengambilan data berat material akibat
ketidaktelitian dan kesigapan praktikan. Hal tersebut
dicerminkan oleh data berat material per interval waktu 2 s
yang memiliki variasi data tinggi.
Secara teoritis, penentuan laju pengumpanan akan
menghasilkan hasil yang lebih akurat menggunakan
metode 1. Untuk skala perusahaan, dilakukan metode 1.
Feeder diperlukan dalam operasi pengolahan
bahan galian karena pengolahan bahan galian tidak hanya
melibatkan 1 atau 2 alat saja. Melainkan banyak alat dan
prosesnya berkesinambungan. Selain itu, setiap alat
memiliki kapasitas yang berbeda. Untuk itu, perlu
diketahui laju pengumpanan yang konstan untuk
memasukkan feed ke dalam alat tersebut. Sehingga,
diperoleh hasil pengolahan yang optimum sesuai dengan
kapasitas alat.
Salah satu jenis alat classifier ialah centrifugal
classifier atau hydrocyclone. Alat ini bekerja dengan
memanfaatkan gaya gravitasi dan gaya sentrifugal.Feed
dalam bentuk slurry dimasukkan ke dalam alat dengan
tekanan yang tinggi. Tekanan yang tinggi tersebut
mendorong slurry masuk dan terhalang oleh vortex finder.
Akibatnya, terbentuk aliran spiral ke arah bawah (cyclone).
Partikel yang berukuran besar/kasar akan
memiliki gaya sentrifugal yang juga lebih besar. Oleh
karenanya, ia mampu terlempar ke arah dinding dan
mengikuti arus spiral ke bawah (primary vortex). Partikel
kasar/besar tersebut akan keluar sebagai underflow.
Sedangkan, partikel kecil/halus yang gaya sentrifugalnya
lebih kecil, tidak mampu terlempar ke arah dinding.
Akibatnya, partikel tersebut naik mengikuti aliran spiral
dalam (secondary vortex) ke atas dan keluar sebagai
overflow.
Pada percobaan hydrocyclone diberikan data yang
kemudian di olah untuk mendapatkan nilai dari d50. Nilai
d50 ialah ukuran dari ayakan agar material dari feed dapat
mengendap 50% menjadi overflow dan 50% lagi menjadi
underflow. Dari pengolahan data menggunakan regresi dari
grafik UF/F dan d, maka ukuran ayakan adalah sebesar
0.08978 mm atau 170 mesh.

Dalam proses classifying menggunakan alat


hydrocyclone dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Diantaranya :
1. Kapasitas dan kecepatan aliran
Proses pemisahan partikel sangat dipengaruhi oleh
sumber energy yang dimiliki oleh fluida yang masuk.
Seperti tekanan, kapasitas aliran dan kecepatannya.
2. Kecepatan tangensial atau vortex
3. Gaya sentrifugal
Gaya sentrifugal akan menyebabkan partikel dengan
massa jenis berat terlempar kea rah dinding
hydrocylone dan partikel yang lebih ringan berada di
pusat hydrocyclone.
Sedangkan, variabel operasi yang mempengaruhi
kemampuan operasi alat diantaranya laju pengumpangan,
perbedaan density partikel, kecepatan aliran air, diameter
spiral, tipe spiral, permukaan spiral, dll.
Proses pengendapan akan dipengaruhi oleh :
1. Persen solid, dimana persen solid merupakan
persentase dari massa solid disbanding dengan
massa slurry. Semakin tinggi persen solidnya,
maka pengendapan akan semakin cepat
2. Berat jenis bijih. Bijih yang memiliki berat jenis
besar akan memiliki pengendapan yang lebih
cepat.
Karena,
gaya
gravitasi
yang
mempengaruhinya lebih besar jika dibandingkan
dengan partikel yang berat jenisnya kecil
3. Ukuran partikel. Semakin besar ukuran dari
partikel,
maka
gaya
gravitasi
yang
mempengaruhinya juga akan semakin besar
4. Reagen yang digunakan. Reagen yang digunakan
ada dua, reagen flocculant dan reagen coagulant.
Penggunaan reagen akan meningkatkan laju
pengendapan serta material yang terendapkan
lebih banyak
Dari hasil percobaan settling test dengan
menggunakan massa material berbeda (100 gr dan 200 gr)
dan penggunaan flokulan, diperoleh hasil bahwa dengan
penambahan flokulan pada %solid 1 dan 2 menyebabkan
material yang terendapkan lebih banyak dan pengendapan
berlangsung lebih cepat. Hal tersebut tercermin dari tinggi
endapan material dengan penambahan flokulan yang lebih
tinggi dan pada 15 detik pertama pengendapan, hasil
endapannya lebih banyak. Sehingga hasil percobaan sesuai
dengan analisis secara teoritis.
Pada penentuan kecepatan pengendapan baik dari
hasil regresi grafik, kecepatan rata-rata pada tabel data
maupun secara teoritis dengan hukum Stokes memberikan
hasil yang berbeda. Hal ini dapat terjadi karena, pada
hukum Stokes, perhitungan dilakukan dengan asumsi
aliran laminar dan ukuran material seragam serta
bentuknya bulat. Sedangkan, pada kenyataannya, selain
aliran laminar, ikut pula terbentuk aliran turbulen. Selain
itu, pada material belum tentu semua ukuran serta
bentuknya seragam dan membulat. Oleh karena itu, hasil
perhitungan secara teoritis dan percobaan dapat
memberikan hasil yang berbeda.
Selain hal yang disebutkan di atas, kesalahan
praktikan dalam membaca tinggi endapan dapat pula
menyebabkan hasil perhitungan berbeda. Praktikan juga

dapat salah mengukur tinggi endapan karena salah dalam


memperhitungkan pemadatan akibat kondisi jenuh
endapan. Akibatnya, terdapat penurunan tinggi endapan
pada data.
E. Jawaban Pertanyaan dan Tugas
Feeder
1. Untuk apa gunanya Feeder?
Jawab : untuk mengatur jumlah material (umpan/feed)
yang masuk ke crusher/alat operasi lain dengan laju
pengumpanan yang tetap
2. Ada berapa macam feeder yang ada di laboratorium
yang saudara keahui? Sebutkan!
Jawab : terdapat 2 macam feeder, yakni volumetric feeder
dan belt feeder
3. Untuk umpan yang bagaimana diaphragm feeder
dipakai?
Jawab : Pada umpan yang kandungan airnya banyak
4. Apa keburukannya apabila belt feeder dipakai untuk
feed yang kasar?
Jawab : feed yang kasar akan memiliki gaya gesek yang
lebih besar dengan belt. Akibatnya, belt relatif lebih cepat
rusak
5. Alat pengontrol apa saja untuk mengatur rate of delivery
laju pengumpan pada disc feeder?
Jawab : energy motor penggerak atau pengatur daya
Classifier
1. classifier yang ada di laboratorium termasuk golongan
classifier yang mana? Apa ciri-cirinya?
Jawab : termasuk golongan non mechanical classifier atau
centrifugal classifier (hydrocyclone). Cirinya ialah dengan
memanfaatkan gaya gravitasi dan sentrifugal. Sehingga
terdapat aliran spiral ke atas (secondary vortex) dan ke
bawah (primary vortex)
2. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi kapasitas dari
classifier?
Jawab : kemiringan alat, kecepatan masuknya umpan,
dilusi dan kecepatan penggarukan
3. Umpan yang bagaimanakah yang baik dikerjakan oleh
alat ini?
Jawab: umpan yang baik digunakan pada alat ini ialah
umpan dengan ukuran butir relatif kasar
4. Berikan gambaran tentang zone-zona pengendapan
pada classifier ini!
Jawab:

A. Material tidak terklasifikasikan,


ukuran seperti umpan
B. Material kasar
C. Material halus
D. Material berukuran di antara halus dan kasar
5. Jelaskan prinsip pemisahan yang terjadi pada
classifier?
Jawab: prinsip pemisahan memanfaatkan berat jenis,
density dari partikel. Hal tersebut, akan mempengaruhi
besar kecilnya gaya sentrifugal dan gaya gravitasi yang
mempengaruhinya. Partikel dengan berat jenis besar akan
turun ke bawah menjadi underflow dan partikel lebih
ringan naik ke atas menjadi overflow
6. Mekanisme apa saja yang menyebabkan adanya
hindered settling dan free settling pada alat ini?
Jawab: free settling ialah suatu kondisi dimana padatan
bergerak turun hanya dengan kecepatan gravitasi.
Sedangkan, hindered settling terjadi ketika gerak partikel
semakin sukar dan kecepatan turunnya partikel semakin
berkurang. Hal tersebut disebabkan karena semakin
banyaknya partikel yang mengendap
7. Berikan gambaran gaya-gaya yang bekerja pada
partikel-partikel sehingga terjadi pemisahan!
Jawab: Proses pemisahan dapat terjadi karena partikel
yang berat mendekati pusat spiral atau berada di bagian
bawah, sedangkan partikel yang ringan dan halus akan
naik ke atas. Hal itu terjadi karena adanya gaya gesek,
gaya gravitasi, sentrifugal dan gaya dorong air.
F. Kesimpulan
Feeder ialah suatu alat yang digunakan untuk
mengatur jumlah material (umpan/feed) yang masuk ke
crusher/alat operasi lain dengan laju pengumpanan yang
tetap. Pengaturan laju pengumpanan pada belt feeder
terletak pada buangan wadah penampung awal dan laju
gerak sabuk (belt). Sedangkan, pengaturan laju umpan
pada volumetric feeder terletak pada bagian ujung
akhirnya (lebar bukaan).
Percobaan menggunakan alat feeder dilakukan
dengan metode. Dimana, hasil dari kedua metode tersebut
berbeda. Pada frekuensi 10 Hz, hasil dari kedua metode

tidak berbeda jauh, yakni 2.155 gr/s (metode 1) dan


2.2417gr/s (metode 2). Sedangkan frekuensi 40 Hz, hasil
dari kedua metode berbeda cukup jauh yakni 10 gr/s
(metode 1) dan 20.258 gr/s (metode 2).
Prinsip
kerja
dari
alat
hydrocyclone
memanfaatkan gaya gravitasi dan gaya sentrifugal pada
proses pemisahannya. Contoh dari alat ini ialah
hydrocyclone. Gaya sentrifugal pada alat ini digunakan
untuk mempercepat laju pengendapan.
Partikel yang berukuran besar/kasar akan
memiliki gaya sentrifugal yang juga lebih besar. Oleh
karenanya, ia mampu terlempar ke arah dinding dan
mengikuti arus spiral ke bawah (primary vortex). Partikel
kasar/besar tersebut akan keluar sebagai underflow.
Sedangkan, partikel kecil/halus yang gaya sentrifugalnya
lebih kecil, tidak mampu terlempar ke arah dinding.
Akibatnya, partikel tersebut naik mengikuti aliran spiral
dalam (secondary vortex) ke atas dan keluar sebagai
overflow.
Prosedur kerja uji pengendapan dilakukan dengan
mencampurkan material padat dengan air dalam jumlah
tertentu. Kemudian, diaduk dengan baik dan menunggu
material tersebut terendapkan. Untuk itu, diamati tinggi
endapan dari material yang terendapkan untuk mengetahui
laju pengendapan dari material. Pada percobaan dilakukan
dengan penambahan atau tidak ditambahkan reagen
flokulan.
Dari hasil percobaan diperoleh bahwa dengan
penambahan reagen flokulan, jumlah material yang
terendapkan lebih banyak dan pengendapannya lebih
cepat.
Percobaan settling test dipengaruhi oleh beberapa
faktor, diantaranya ukuran partikel, berat jenis bijih, persen
solid dan reagen yang digunakan.
G. Daftar Pustaka
Slide perkuliahan TA-3103 Metoda Perhitungan Cadangan
2015
Modul praktikum MG-3017 Pengolahan Bahan Galian
2015
Setiawan, Edi, Fachrur Isgianda, Reynold M. Pardosi dan
Ricci Rahman. 2013. Makalah Hydrocyclone sebagai
Classifier dalam Usaha Pengolahan Bahan Galian. Padang.

Gambar vibrating feeder

Classifier skala perusahaan

Gambar inspiral classifier yang berhubungan tertutup dengan


operasi penggerusan (sumber : slide perkuliahan mata kuliah
Pengolahan Bahan Galian)

H. Lampiran

Feeder skala perusahaan

Gambar Grizzly Feeder untuk pre-screening distribusi ukuran


butir material sebelum operasi crushing

Lampiran foto praktikum