Anda di halaman 1dari 34

Beberapa Lembaga Pendidikan Sebelum Kebangkitan Madrasah.

1. Kuttab (Maktab)

1.

Sebelum Islam datang, sebenarnya orang-orang Arab sudah


mengenal lembaga pendidikan dasar, khususnya orang-orang
Mekah. Kata Kuttab atau Maktab berasal dari kata dasar yang sama,
yaitu kataba yang artinya menulis. Sedangkan pengertian Kuttab
atau Maktab adalah tempat menulis atau tempat dimana
berlangsungnya kegiatan tulis-menulis untuk mempelajari sesuatu.
Sedangkan dalam pengertian para ahli sejarah Kuttab
adalah
sebuah lembaga pendidikan dasar yang mengajarkan cara membaca
dan menulis
kepada anak-anak ataupun remaja kemudian
meningkat
kepada
pengajaran
pemahaman
Al-Quran
dan
pengetahuan dasar.
Dari pengertian di atas, kita dapat memperoleh informasi
tentang kuttab, diantaranya:
Kuttab adalah lembaga pendidikan dasar yang peserta didiknya
adalah anak-anak dan remaja5 Hal ini terjadi setelah Islam lahir.
Kuttab adalah lembaga yang mengajarkan cara membaca dan
menulis serta mengajarkan al-Quran dan pengetahuan dasar.
Dalam catatan lain, dikatakan bahwa kuttab merupakan lembaga
pendidikan dasar yang sudah lama dikenal oleh orang-orang Arab 6.
Kuttab memegang peranan penting dalam Pendidikan Islam,
karena di dalamnya diajarkan cara menulis dan membaca serta
memahami Al-Quran. Hal ini merupakan sesuatu yang dianggap
sangat perlu. Karena Al-Quran merupakan wahyu ilahi yang
berfungsi sebagai sumber ilmu pengetahuan. Dan sudah dapat kita
bayangkan bahwa seseorang yang sudah memiliki kepahaman
terhadap Al-Quran adalah sebaik-baiknya orang, karena dia adalah
orang yang telah memahami hakikat ilmu pengetahuan.
1.1 Latar Belakang didirikannya Kuttab
Yang melatarbelakangi didirikannya kuttab adalah sebagai
berikut:
Kuttab muncul sebagai lembaga pendidikan dasar yang timbul dari
kesadaran perseorangan secara spontan pada masa Islam yang
telah lalu. Pendapat ini kemukakan oleh Prof. Khudari Bakhsk yang
dikutip oleh Drs. Taqiyudin, M. Pd. Menurut penyusun, jikalau
melihat sejarah para shahabat, ada sebuah hadits yang mengatakan
tentang
keutamaan
mengamalkan
dan
mengajarkan
ilmu.
Kemungkinan sahabat-sabahat Nabi terdahulu termotivasi dengan
keutamaan tersebut, sehingga mereka mengadakan pembelajaran
untuk mengajarkan ilmu-ilmu mereka kepada orang-orang yang
tertarik untuk menuntut ilmu disebuah tempat-tempat tertentu,
kemudian dari proses tersebut secara tidak langsung terbentuklah

2.
3.

a)
b)

sebuah tempat untuk menuntut ilmu-ilmu dasar yang dikenal


dengan sebutan Kuttab.
Di zaman Nabi SAW Kuttab didirikan karena semakin banyaknya
orang-orang Arab yang tertarik untuk menuntut ilmu agama,
termasuk anak-anak.
Adanya kekhawatiran orang dewasa terhadap anak-anak yang akan
mengotori masjid, karena sebelumnya di zaman Nabi, masjid
menjadi pusat ilmu, dikarenakan
biasanya Nabi menyampaikan
wahyu dan ilmu-ilmunya di masjid. Sehingga dengan kekhawatiran
tersebut dibangunlah sebuah bangunan lembaga pendidikan di
samping Masjid dengan sebutan Al-Kuttan. Pendapat ini di
kemukakan oleh Asma Hasan Fahmi di dalam bukunya Sejarah dan
Filsafat Pendidikan Islam7.
Dalam proses pembelajarannya, Kuttab hanya diperuntukan
untuk anak-anak dan remaja, karena basisnya adalah pendidikan
dasar. Hanya bagaimana cara untuk membedakan tingkatan antara
anak satu dengan yang lainnya? Ternyata sistim yang digunakan
adalah sistim tingkatan pemahaman peserta didiknya. Jikalau
pemahaman peserta didik sudah dikatakan pantas berada di tingkat
tertentu, maka dia pantas untuk naik tingkatan.
Adapun untuk pengajar, semasa khulafaur rasyidin para
pengajar tidak menerima bayaran. Hal ini kemungkinan disebabkan
oleh dua hal, Pertama: Para pengajar tulus mengajarkan ilmunya
semata-mata mengharap ridha Allah. Dan Kedua: Karena situasi dan
kondisi pada saat itu yang belum stabil.
1.2 Fungsi Kuttab
Di antara fungsi kuttab adalah sebagai berikut:
Kuttab berfungsi sebagai tempat pendidikan yang memfokuskan
kepada baca tulis.
Kuttab sebagai tempat pendidikan yang mengajarkan Al-Quran dan
dasar-dasar keagamaan.
Hal yang cukup membanggakan dalam kuttab ini ternyata
sudah memiliki kurikulum pendidikannya. Hal ini disampaikan oleh
Phill K. Hitti yang mengatakan bahwa, kurikulum di kuttab
berorientasi kepada
Al-Quran sebagai text book. Hal ini
mencangkup
pengajaran
membaca
dan
menulis,
kaligrafi,
gramatikal bahasa Arab, sejarah dan hadits Nabi.
1.3 Metode-Metode yang Digunakan dalam Kuttab
Selain itu, pada masa dinasti Abbasiyah sudah menerapkan
metode pendidikan dan pengajaran. Metode-metode ini dapat
dikelompokan menjadi tiga macam, yaitu:
Metode lisan, yang berupa dikte, ceramah, qiraat dan diskusi.
Metode menghafal, merupakan ciri umum pendidikan pada masa
itu. Dimana metode ini menuntut murid untuk membaca berulangulang sehingga pelajaran tersebut melekat di benak mereka.

c) Metode menulis, dimana siswa dituntun untuk menulis karya-karya


ulama, sehingga terjadi proses intelektualisasi hingga penguasaan
ilmu murid semakin meningkat.
Jika kita lihat, metode yang digunakan tersebut ternyata masih
berlaku hingga zaman sekarang. Tidak sedikit lembaga pendidikan
formal masih mengandalkan metode-metode di atas dan hasilnya
pun dapat dilihat. Banyak murid yang mencapai pemahaman dari
materi yang dipelajarinya. Dengan hal ini menunjukan betapa
matangnya para pendidik masa itu, menggunakan metode-metode
yang berbeda atau bahkan belum ada di masa sebelumnya.
Tentunya semua ini tidak akan ada tanpa bimbingan dan petunjuk
Allah yang disampaikan kepada Rasul-Nya , Muhammad.
2. Masjid
Kata Masjid berupa bentuk masdar dari kata sajada, yasjudu,
sajdan/masjidan, yang berarti tempat sujud. Dalam arti yang luas
Masjid dapat diartikan sebagai tempat yang digunakan untuk
beribadah dan bermunajat seorang hamba atau sekelompok hamba
kepada Allah SWT. Dari fungsi perenungan tersebut, masjid
berkembang menjadi pusat ilmu pengetahuan. Masjid dipandang
sebagai sebuah tempat yang sangat erat kaitannya dengan sejarah
pendidikan Islam, khususnya tentang lembaga pengetahuan Islam.
Proses
yang
mengaantar
Masjid
sebagai
pusat
dan
pengembangan ilmu pengetahuan adalah karena Masjid adalah
tempat awal mempelajari ilmu pengetahuan agama yang baru lahir
dan mengenal ilmu-ilmu dasar, hukum-hukum dan tujuan-tujuannya.
Seluruh kegiatan umat difokuskan di Masjid, termasuk pendidikan.
Hal inilah yang menjadi alasan kenapa masjid dikatakan sebagai
pusat ilmu pengetahuan.8
Pada zaman Nabi SAW, Masjid bukan hanya dijadikan tempat
atau sarana beribadah kepada Allah saja, tetapi masjid berfungsi
sebagai tempat terjadinya proses pendidikan. Disana Nabi sering
menyampaikan wahyu yang beliau terima kepada umat dan
menjelaskan maksud-maksud yang terkandung dari wahyu tersebut.
Selain itu juga, sudah menjadi kebiasaan Nabi ketika selesai
melaksanakan shalat, beliau selalu member kesempatan kepada
para sahabat untuk bertanya tentang segala sesuatu yang belum
mereka pahami. Sehingga dari sana, timbulah pemahaman kepada
para shahabat Nabi tentang ilmu pengetahuan, baik yang bersifat
agama maupun ilmu-ilmu yang belum pernah di bahas sebelumnya.
Dari penjelasan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa
sebenarnya Masjid merupakan sebagai pusat lembaga pendidikan
yang pertama dan utama setelah Islam lahir. Karena dari sanalah
berbagai macam pengetahuan timbul, akibat dari
kuliah atau
dakwah Nabi tersampaikan kepada umat. Selain itu, kita dapat
menyimak bahwa masjid dikatakan sebagai lembaga pendidikan
sebenarnya ada unsur ketidaklangsungan/ketidaksengajaan. Karena

pada saat Islam lahir, dan semakin banyaknya orang yang memeluk
Islam, mereka semakin tertarik terhadap ajaran-ajaran Islam
sehingga belajar langsung kepada Nabi di Masjid. Jadi, intinya
masjid dikatakan sebagai lembaga pendidikan didasarkan kepada
kebutuhan orang-orang Arab pada masa itu untuk mempelajari dan
memperdalam ajaran Islam.
Lalu apa yang membedakan Masjid dengan Kuttab dari segi
mana yang paling dulu didirikan? Menurut sebagian ahli sejarah,
Kuttab sudah dikenal oleh orang-orang Arab sebagai lembaga
pendidikan dasar bahkan sebelum Islam lahir. Sedangkan Masjid, di
jadikan lembaga pendidikan setelah Islam lahir dan berkembang di
Madinah. Dan kita ketahui bahwa Masjid yang pertama di bangun
Nabi adalah Masjid Quba. Dan masjid ini menjadi puast pengetahuan
Islam pada masa itu. Tetapi jika dilihat dari segi fungsinya sebagai
lembaga pendidikan, maka Masjidlah yang paling pertama. Karena
sebelum Islam lahir, masyarakat Arab dikenal dengan bangsa Jahil
(Bodoh). Selain itu, telah dikemukakan di atas bahwa Masjid
sebagai pusat pengetahuan Islam.
Tetapi menurut penyusun, Masjidlah yang menjadi lembaga
pendidikan pertama dibandingkan Kuttab. Hal ini dikarenakan
sebab dasar didirikannya kuttab adalah karena semakin banyaknya
orang yang tertarik untuk mempelajari ilmu agama dan adanya
kekhawatiran orang dewasa terhadap anak-anak karena mereka
belum bisa menjaga kebersihan masjid, sehingga dibangulah sebuah
lembaga pendidikan di dekat Masjid untuk anak-anak dan remaja
dalam mempelajari ilmu dasar agama. Hal ini mengindkasikan
bahwa kuttab adalah bangunan yang didirikan di dekat masjid
sebagai sarana menuntut ilmu bagi anak-anak dan remaja sebagai
alih fungsi dari masjid karena kekhawatiran di atas. Berarti sebelum
Kuttab dibangun, masjidlah yang
lembaga pendidikan pertama
sebelum kuttab setelah berkembangnya Islam.
Perkembangan masjid sangat signifikan dengan perkembangan
yang terjadi di masyarakat. Terlebih lagi pada saat masyarakat
Islam mengalami kemajuan, urgensi masyarakat Islam terhadap
masjid menjadi semakin kompleks. Sehingga menyebabkan
karakteristik masjid berkembang menjadi dua, yaitu masjid tempat
shalat jumat atau jami dan masjid biasa. Ada perbedaan penting
antara jami dengan masjid biasa, yaitu masjid jami dikelola di
bawah otoritas penguasa atau khalifah dalam mengelola seluruh
aktivitas jami. Seperti kurikulum, tenaga pengajar, pembiayaan,
dan lain-lain. Sementara masjid jami tidak berhubungan dengan
kekuasaan. Namun demikian jami maupun masjid termasuk
lembaga pendidikan setingkat perkuliahan. Hal inilah yang menjadi
perbedaan mencolok antara Kuttab dengan masjid.
Selain itu, kurikulum di Masjid bisanya merupakan tumpuan
pemerintah untuk memperoleh pejabat-pejabat pemerintah, seperti

kadi, khatib, imam masjid dan sebagainya. Melihat keterkaitan


antara masjid dengan pemerintahan menujukan bahwa masjid
adalah lembaga pendidikan yang bersifat formal.
Ada tiga Masjid yang menjadi kebanggan dan termasyhur di
dunia pendidikan Islam, yaitu:
Al-Azhar di Kairo.
Didirikan oleh Panglima Jauhar Al-Sakili. Sebelumnya bernama AlQahirah. Disamping sebagai tempat ibadah khususnya shalat
jumat, al-Azhar juga merupakan pusat keilmuan setarap
universitas. Kegiatan ilmiah di Al-Azhar bermula dari para fuqaha 10
terkenal
dan
pejabat
sering
datang
ke
al-Azhar
untuk
mendengarkan ceramah umum dari Abu Hanifah.
Masjid Al-Manshur di Baghdad.
Dibangun oleh Khalifah Al-Manshur dan diperbaiki oleh
Khalifah Harun Ar-Rasyid, kemudian diperluas oleh khalifah alMuadid. Masjid ini sebagai lembaga pendidikan yang mengkaji dan
mempelajari hadits, hal ini dilakukan selama berabad-abad. Selain
itu juga, ilmu fiqih juga sering menjadi pembahasan di masjid ini,
bahkan tidak jarang syair pun sering menjadi bahasannya.
Masjid Al-Umayyah di Damaskus
Masjid ini tergolong suatu keajaiban dunia. Untuk membangun
masjid ini khalifah Walid ibn Abdul Malik telah mengeluarkan biaya
hasil tujuh tahun pajak negaranya dan proses pengerjaannya
memakan waktu selama 8 tahun. Di masjid ini sering ada halaqahhalaqah, disamping kegiatan-kegiatan diskusi.
3. Halaqah
Istilah halaqah (lingkaran) biasanya digunakan untuk
menggambarkan sekelompok kecil muslim yang secara rutin
mengkaji ajaran Islam. Jumlah peserta dalam kelompok kecil
tersebut berkisar antara 3-12 orang. Mereka mengkaji Islam dengan
minhaj (kurikulum) tertentu. Di beberapa kalangan, halaqah disebut
juga dengan mentoring, talim, pengajian kelompok, tarbiyah atau
sebutan lainnya.
Sesuai dari dasar katanya yaitu liqa, yang berarti lingkaran,
halaqah adalah sebuah tempat dimana orang mengajarkan dan
mempelajari ilmu-ilmu agama dalam kisaran peserta yang tidak
begitu banyak. Dan tsesuai namanya, posisinya membentuk sebuah
lingkaran.
Lembaga pendidikan ini terbentuk karena kesadaran para
shahabat Nabi
mempelajari dan mengamalkan Islam secara
bersama-sama (amal jamai). Kesadaran itu muncul setelah mereka
bersentuhan dan menerima dakwah dari orang-orang yang telah
mengikuti halaqah terlebih dahulu, baik melalui forum-forum umum,
seperti tabligh, seminar, pelatihan atau dauroh, maupun karena
dakwah interpersonal (dakwah fardiyah).

Halaqah biasanya dipimpin oleh seorang Murabbi 11 . Murobbi


bekerjasama dengan peserta halaqah untuk mencapai tujuan
halaqah, yaitu terbentuknya muslim yang Islami dan berkarakter
dai (takwinul syakhsiyah Islamiyah wa daiyah). Dalam mencapai
tujuan tersebut, murobbi berusaha agar peserta hadir secara rutin
dalam pertemuan halaqah tanpa merasa jemu dan bosan. Kehadiran
peserta secara rutin penting artinya dalam menjaga kekompakkan
halaqah agar tetap produktif untuk mencapai tujuannya.
Pada masanya, halaqah adalah sebuah alternative bagi sebuah
pendidikan Islam yang cukup efektif untuk membentuk muslim yang
memiliki kepribadian Islami. Hal ini dapat terlihat dari hasil
pembinaannya yang berhasil membentuk sekian banyak muslim
yang serius mengamalkan Islam. Jumlah mereka makin lama makin
banyak seiring semakin bertambahnya jumlah halaqah yang
terbentuk di berbagai kalangan.
Pada masa Islam sudah berkembang, dan semakin banyaknya
orang-orang yang tertarik untuk menggali ilmu pengetahuan, maka
orang-orang yang berilmu dikala itu secara besar hati memberikan
atau membagi pengetahuan mereka kepada muslim lain yang ingin
belajar. Keberadaan halaqah ini tidak hanya satu, tetapi terkadang
dalam sebuah masjid jami ada beberapa halaqah. Halaqah memiliki
peranan yang sangat penting untuk keberadaan umat Islam itu
sendiri. Sebab dari sanalah terbentuknya kader-kader Islami melalui
sistem pendidikan halaqah, maka di dalam tubuh umat akan lahir
orang-orang yang senantiasa berdakwah kepada kebenaran.
Merebaknya halaqah juga bermanfaat bagi pengembangan
pribadi (self development) para pesertanya. Halaqah yang
berlangsung secara rutin dengan peserta yang tetap biasanya
berlangsung dengan semangat kebersamaan (ukhuwwah Islamiyah).
Dengan nuansa semacam itu, peserta belajar bukan hanya tentang
nilai-nilai Islam, tapi juga belajar untuk bekerjasama, saling
memimpin dan dipimpin, belajar disiplin terhadap aturan yang
mereka buat bersama, belajar berdiskusi, menyampaikan ide,
belajar mengambil keputusan dan juga belajar berkomunikasi.
Semua itu sangat penting bagi kematangan pribadi seseorang untuk
mencapai tujuan hidupnya, yakni sukses di dunia dan akhirat.
Menurut penyususn, umat Islam akan mengalami kerugian
yang besar jika sistern halaqah tidak berkembang dan punah. Hal
ini karena halaqah merupakan sarana efektif untuk melahirkan
kader-kader
Islam
yang
tangguh
dan
siap
berkorban
memperjuangkan Islam. Bahkan, mungkin dapat disebut, jika sistern
halaqah tumpul dan mandul, maka umat akan mengalami situasi
lost generation (kehilangan generasi pelanjut) yang berkarakter
Islami.
Pentingnya mempertahankan sistern halaqah dalam mencetak
kader-kader Islam yang tangguh sudah teruji dalam perjalanan

panjang kehadiran halaqah di berbagai negara. Apalagi sampai saat


ini para mufakir (pemikir) dawah juga belum dapat menemukan
sistem alternatif lain yang sama efektifnya dalam mencetak kader
Islam yang tangguh seperti yang telah dihasilkan oleh halaqah.
Bahkan yang terjadi sebaliknya, kini semakin banyak para dai dan
ulama yang mendukung tarbiyah mela!ui sistem halaqah. Sebagian
dari mereka bahkan menulis buku yang menganalisa kehandalan
sistern halaqah/usroh dalam mencetak kader-kader Islam. Termasuk
menganalisanya dari sisi syari, sejarah dan sunnah Rasul, Salah
seorang pemikir dawah, Dr. Ali Abdul Halim Mahmud, mengemukan
pendapatnya tentang sistern halaqah yang tak tergantikan:
Tarbiyah melalui sistern halaqoh merupakan tarbiyah yang
sesungguhnya dan tak tergantikan, karena dalam sistem halaqoh
inilah didapatkan kearifan, kejelian dan langsung di bawah asuhan
seorang murobbi yang ia adalah pemimpin halaqoh itu sendiri.
Sedang program-programnya bersumber dari Kitabullah dan Sunnah
Rasul-Nya yang diatur dengan jadwal yang sudah dikaji
sebelumnya".
4. Majelis
Menurut akar katanya, istilah majelis tersusun dari gabungan
dua kata : majlis yang berarti (tempat) sedangkan kita mendengar
kata majelis sering diiringi dengan kata taklim yang berarti
(pengajaran) yang berarti tempat pengajaran atau pengajian bagi
orang-orang yang ingin mendalami ajaran-ajaran Islam sebagai
sarana dakwah dan pengajaran agama.
Istilah Manjelis dipakai dalam pendidikan sejak abad pertama
Islam. Pada perkembangan berikutnya, disaat dunia Islam mencapai
macam keemasan, majelis di artikan sebagai aktivitas pengajaran
atau diskusi berlangsung. Dan seiring perkembangan pengetahuan
Islam, majelis menjadi banyak ragamnya. Munirudin Ahmed, Majelis
dibedakan menjadi 7 macam:
4.1. Majelis Hadits, dalam majelis ini terdapat dua macam, yaitu
majelis
permanen dan majelis yang diselenggarakan sewaktuwaktu. Majelis permanen biasanya dilakukan oleh seorang ulama
ahli hadits dalam jangka waktu yang sudah jelas atau sudah rutin
dilaksanakan. Sedangkan majelis yang bersifat semi permanen
diselenggarakan sewaktu-waktu, biasanya dilakukan sekali atau dua
kali dalam waktu setahun oleh ulama yang bukan ahli dalam bidang
hadits.
4.2. Majelis Tadris, yaitu majelis yang mengajarkan tentang tadris.
4.3. Majelis Al-Munazharah, merupakan sebuah majelis pertemuan
perdebatan, bukan semacam lembaga pendidikan. Majelis ini dibagi
menjadi beberapa macam, diantaranya:

Majelis Al Munazharah yang diselenggarakan atas perintah


khalifah.

Majelis Al Munazharah yang bersifat educarif, yang dilakukan


secara kontiyu, dan biasanya dilaksanakan setelah proses belajar
mengajar dan lebih mirip dengan metode tanya jawab atau diskusi.
Majelis Al Munazharah yang bersifat spontan atau diselenggarakan
secara tidak sengaja. Semisal bertemuanya dua orang ulama di
tengah jalan, kemudian terjadi tukar pendapat, sehingga tanpa
disengaja terjadi majelis ini.

Majelis Al Munazharah yang bersifat forum terbuka antara


beberapa ulama. Majelis ini biasanya terdiri dari perkumpulan
beberapa ulama. Yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah dan
menentukan siapa yang dapat menjatuhkan lawannya dengan
mengemukakan argument yang luas.
4.4. Majelis Al-Muzakarah, majelis ini bisa dikatakan sebagai majelis
yang dihasilkan sebagai sebuah inovasi dari para murid. Awalnya,
ulama-ulama hadits mendiskusikan hadits di tempat terbuka. Para
ulama mengizinkan para murid untuk bertanya atau member saran
mengenai topic yang ingin dibahas. Kemudian lama-kelamaan
menjadi sebuah lembaga. Inti materi yang dibahas dari majelis ini
adalah tentang hadits, seperti membahas sanad hadits, membahas
hadits
dalam
bidang
yang
lebih
spesifik,
pembahasan
pengelompokan hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat Nabi
ataupun hadits yang diriwayatkan oleh para ulama. Kemudian ada
juga yang membahas tentang hadits yang dhaif, rangkaian perawai
hadits, dan yang terakhir membahas segi musnad.
4.5. Majelis Asy-Syuara, sesuai dengan namanya Syuara yang berarti
syair. Majelis ini adalah majelis yang mengkhususkan untuk belajar
syair yang bertujuan untuk belajar bahasa. Memang
menurut
pendapat saya (penyusun) tiada yang dapat dibanggakan pada
syair-syair yang dibuat, tetapi di mata orang-orang Arab, syair
memiliki nilai tersendiri.
4.6. Majelis Adab, bagi bangsa Arab adab mencangkup tiga
pembahasan, yaitu puisi, silsilah dan laporan bersejarah bagi orangorang terkenal. Majelis ini membahas tentang ketiga hal di atas,
walaupun terkesan seperti perbincangan daripada tempat belajar.
4.7. Majelis Al-Fatwa, majelis ini bisa dikatakan sebagai majelis fiqih,
karena di dalamnya mengajarkan ilmu fiqih. Majelis ini bertujuan
untuk mencari kesepakatan dari beberapa masalah yang dibahas,
kemudian kesepakatan tersebut difatwakan yang diperkuat dengan
syariat atau hukum.
Rasulullah ketika menyampaikan dakwahnya kepada para
sahabatnya sering membenuk majelis-majelis. Majelis tersebut
biasanya memang bisa
bertempat dimana saja, terkadang
Rasulullah melakukannya setelah selesai melaksanakan shalat, atau
di tempat yang berbeda. Terkadang majelis tersebut terbentuk
secara spontanitas, contohnya ketika Rasulullah sedang duduk

kemudian ada seorang sahabat yang bertanya kepada beliau


tentang suatu hal, lalu rasulullah menerangkan maslah tersebut,
kemudian dari penerangan tersebut munculah pertanyaan baru dari
para sahabat. Proses tersebut bisa dikatakan sebuah majelis.
Karena terjadi proses transfer ilmu antara Rasulullah dengan para
Sahabat.
Selain itu ada factor yang memotivasi para sahabat untuk
membentuk dan menghadiri majelis
ilmu. Yaitu dimana disuatu
tempat ada majelis ilmu, maka para Malaikat akan mendoakan
orang-orang yang hadir dalam majelis tersebut untuk memohonkan
ampun kepada Allah. Sehingga timbulah semangat para shahabat
untuk selalu berada di majelis dan berusaha untuk melestarikannya.
Hal ini terbukti dengan keberadaannya majelis ilmu hingga zaman
sekarang.

Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam Era Klasik Pra Madrasah

Pendahuluan
Membicarakan tentang lembaga-lembaga pendidikan era awal (klasik), berarti mengenal lebih
dekat tentang berbagai komponen dan sistem serta metode yang digunakan dalam
penyelenggaraan pendidikan Islam klasik. Pada level pembuktian, mungkin akan mengalami
kesulitan untuk menentukan secara pasti bagaimana sesungguhnya perkembangan dan
pertumbuhan lembaga-lembaga pendidikan Islam di era klasik tersebut. Mengapa lembaga
pendidikan Islam pada masa klasik sulit di identifikasi? Sebab teknologi yang dapat dijadikan
alat untuk mengabadikan pakta dan peristiwa pada waktu itu sungguh sangat terbatas dan
tradisional.
Penyebab lain adalah karena usaha pendidikan pada masa tersebut dilakukan dalam
waktu dan tempat yang tak terbatas, sehingga apabila kita melakukan klasifikasi, sebagian akan
tercecer-tidak termasuk dalam klasifikasi tersebut. Walhasil, pandangan terhadap wacana
pendidikan Islam klasik menjadi sempit dan terbatas, bahkan mungkin terjebak dalam nuansa
yang kaku. Namun... identifikasi dan klasifikasi ... hanya sekedar penyederhanaan agar muda
dipahami dalam konteks keilmuan masa kini1[1].
1

Dilihat dari aspek sejarah sesungguhnya pertumbuhan lembaga pendidikan Islam sudah
dimulai sejak penciptaan manusia pertama, dalam proses penciptaan Nabi Adam (manusia
pertama) itu, Allah SWT., telah melakukan dialok dan perdebatan langsung dengan makhluknya,
yaitu malaikat. Kompetensi dasar yang diajarkan Allah kepada Nabi Adam adalah bermacammacam nama benda, dan ketika diadakan ujian komprehensif antara Adam dan Malaikat ternyata
Nabi Adam dinyatakan lebih menguasai tentang kompetensi dasar ketimbang malaikat. Proses ini
terus berlanjut samapai tahap penobatan dan penyampaian wahyu kepada para Nabi dan RasulNya dipermukaan bumi ini. Meskipun pada waktu itu informasi data sejarah belum dapat
mengungkapkan bahwa lembaga seperti apa yang digunakan Allah SWT., namun lembaga yang
digunakan sebagai proses pembelajaran pertama tersebut telah berhasil memberikan change of
knouledge dan change of value kepada peserta didiknya, yaitu pada para Nabi.
Peristiwa yang terjadi di atas terus berlanjut dan terjadi pula kepada Nabi Muhammad
SAW., misalnya beliau yang terkenal dengan ke Ummiannya juga berhasil mencapai kompetensi
yang digariskan Allah sehingga mendapat prediket super komplout, yaitu khataman al-anbiya
Rasul rahmatan lil alamin. Dengan predikat yang diperoleh tersebut beliau telah mampu
mentransferkan dan menancapkan sendi-sendi agama dalam jiwa para sahabat.
Membicarakan bentuk-bentuk lembaga pendidikan di era awal (klasik), banyak sekali
sumber yang dapat dipakai sebagai rujukan dalam mengungkapkan kebenaran sejarahnya seperti
dalam Musnur Heri2[2], Samsul Nizar3[3], Muhammad Yunus4[4] Ahmad Syalabi5[5], Abuddin
Nata6[6], dan masih banyak lagi sumber-sumber lainnya. Melalui tulisan sederhana ini penulis
mencoba menguraikan tentang pertumbuhan dan perkembangan lembaga pendidikan Islam pada
masa awal (klasik).

2
3
4
5
6

Institusi Pendidikan Era Awal Pra Madrasah


Dalam sejarah Islam dikenal banyak sekali tempat dan pusat pendidikan dengan jenis, tingkatan
dan tafsirnya yang khas. Dalam buku at-Tarbiyah al-Islamiyah, Nazumuha, Falsafatuha, Ahmad
Shalabi menyebutkan tempat-tempat pendidikan tersebut adalah Kuttab, al-Qushur, Hawamit alWaroqiin, Mandzil al-Ulama, al-Badiyah, dan al-Madrasah.7[7] Ia membagi institusi-institusi
pendidikan Islam tersebut menjadi dua kelompok, yaitu kelompok sebelum madrasah dan sesuda
madrasah, dengan demikian madrasah dianggap tonggak baru dalam pendidikan Islam.
Sementara Abuddin Nata mengungkapkan lembaga pendidikan sebelum madrasah adalah Suffah,
Kuttab/Maktab, Halaqah, Majlis, Majlis al-Hadits, Majlis al-Tadris, Majlis al-Munazharah,
Majlis al-Muzakarah, Masjid, Khan, Ribath, Rumah-rumah Ulama, Toko-toko Buku dan
Perpustakaan, Rumah Sakit, Badiah (Padang Pasir, Dusun Tempat Tinggal Badwi).8[8]
Para penulis lain menyebut tempat-tempat pendidikan

seperti al-Muntadiyah, al-

Hawanit, al-Zawaya, al-Ribat, Halaqat al-Dzikir. Hasan Muhammad Hasan dan Nadiyat
Jamaludin menyebutkan institusi-institusi itu dan dikaitkan dengan pendidikan-pendidikan yang
ada dalam Islam.9[9] Musnur Heri mengungkapkan lembaga-lembaga pendidikan Islam pra
madrasah adalah Masjid, Kuttab, Zawiyah, Masjid Khan10[10], lembaga-lembaga inilah yang
dipakai para guru dalam memberikan pembelajaran kepada murid-muridnya. Selanjutnya
menurut Musnur Heri lembaga-lembaga itulah secara sederhana mewakili organisasi pendidikan
Islam pada waktu itu. Memang munculnya lembaga-lembaga tersebut tidak secara simultan
karena lembaga itu lahir sebagai jawaban dari perkembagan zaman. Contoh yang dikemukakan
oleh Ahmad Salabi (1973) dalam Musnur Heri bahwa munculnya Madrasah merupakan solusi
bagi kebutuhan anak-anak tatkala kehadiran mereka di masjid dinilai mengganggu aktivitas
ibadah.11[11] Disisi lain Hasan Asari (1994) dalam Musnur Heri juga mengungkapkan bahwa
faktor lain adalah karena kontrol pemerintah terhadap kegiatan masjid sungguh ketat, sehingga
7
8
9
10

untuk menghindari bentrokan antara kepentingan para pewakaf disatu sisi dan kebijakan
pemerintah atas masjid, maka madrasah sebagai lembaga independen merupakan solusi yang
paling tepat.12[12] Sementara Syamsul Nizar mengemukakan lembaga-lembaga pendidikan era
klasik pra madrasah itu adalah Rumah, Kuttab, Masjid, dan Salon. 13[13] Dari berbagai sumber di
atas penulis menyederhanakan tentang lembaga-lembaga pendidikan Islam yang tumbuh dan
berkembang pada era awal atau pada era klasik adalah sebagai berikut; Rumah, Kuttab/Maktab,
Lembaga Kesufian (Zawiyah, Ribath, dan Kanangah), Masjid, Khan, Rumah Ulama, Tokoh
Buku, Perpustakaan, Rumah Sakit, dan Salunat Al-Adabiyah (Majlis Sastra), Badiah (Padang
Pasir, Dusun Tempat Tinggal Badwi).

Rumah
Nabi Muhammad SAW., tinggal di Makkah sejak beliau mulai menjadi Nabi sampai hijrah ke
Madinah, lamanya 12 tahun 5 bulan dan 21 hari. Pengajaran yang diberikan Nabi selama itu
ialah menyampaikan wahyu Allah, Al-Quran terdiri dari 93 surat yang diturunkan di Makkah
sebelum hijrah,14[14] hingga pada waktunya Rasulullah hijrah ke Madinah, setelah Nabi serta
sahabat-sahabatnya (Muhajirin) hijrah ke Madinah, usaha Nabi yang pertama ialah mendirikan
masjid. Nabi sendiri bekerja membangun masjid itu bersama-sama sahabatnya. Di samping
masjid didirikan rumah tempat tinggal orang-orang miskin yang tiada mempunyai rumah. Di

11
12
13
14

masjid itulah Nabi mendirikan sembahyang berjamaah. Bahkan di masjid itulah Nabi
membacakan al-Quran dan memberikan pendidikan dan pengajaran Islam.15[15]
Hasan Langgulung dalam bukunya Asas-asas Pendidikan Islam (1988) dalam Syamsul
Nizar mengemukakan bahwa lahirnya pendidikan Islam di tandai dengan munculnya lembagalembaga pendidikan Islam. Ketika wahyu Allah diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.,
maka untuk menjelaskan dan mengajarkan kepada para sahabat, Nabi mengambil rumah Al
Arqam bin Ibn Arqam sebagai tempatnya, disamping menyampaikan ceramah pada berbagai
tempat.16[16] Tumbuh kembang lembaga ini berjalan selama 13 tahun. Berdasarkan keterangan
inilah bahwa rumah dikategorikan sebagai lembaga pendidikan Islam yang pertama. Sistem
pendidikan di lembaga ini berbentuk halaqoh17[17] dan belum memiliki kurikulum dan silabus
seperti dikenal sekarang ini, sistem dan materi yang akan disampaikan diserahkan sepenuhnya
kepada Nabi Muhammad SAW.18[18]
Sebelum masjid didirikan, Rasulullah SAW., menyampaikan wahyu yang diturunkan
Allah selain menggunakan rumah Al-Arqam bin Abi Arqam sebagai tempat utama, Rasulullah
juga menggunakan rumahnya sebagai tempat pembelajaran. Kondisi seperti ini berlangsung
hingga turun Ayat Al-Quran surat Al-Ahzab ayat 35.19[19] Ayat ini diturunkan di Madinah
sesudah masjid dibangun. Dengan turunnya ayat itu Allah telah meringankan kesibukan Nabi
disebabkan mengalirnya manusia kerumah beliau tanpa ada hentinya. Dengan demikian semakin
banyak para sahabat beliau menguasai materi pembelajaran yang telah disampaikan oleh Nabi
Muhammad SAW., karena itulah dakwah Islam semakin meluas dari sahabat ke sahabat bahkan
tanpa memperhatikan bentuk lembaga pembelajarannya, terbukti dakwah Islam telah sanggup
melewati berbagai siklus zaman hingga sekarang.

15
16
17
18
19

Dari proses pembelajaran rumah ini penulis dapat mengambil hikmah, adalah sangat ideal
pembinaan anak-anak untuk menjadi shalih dan shalihah adalah dimulai dari lingkungan rumah.
Artinya orang tua berperan utama dalam pembentukan karakter, baik pengetahuan, sikap dan
keterampilan mereka. Untuk itu tidak bisa kalau kemudian orang tua melepaskan anak keturunan
mereka untuk dididik dan dibinah melalui lembaga masyarakat dan sekolah tanpa diawali
pendidikan keluarga, anak-anak bersangkutan diharapkan menjadi sempurnah. Karena apapun
alasannya pendidikan rumah tetap menjadi lembaga utama dan ideal dalam tumbuh kembang
kepribadian anak-anak.
Kuttab dan Maktab
Menurut catatan sejarah, sebelum kedatangan Islam, masyarakat Arab, khususnya Makkah telah
mengenal adanya pendidikan rendah, yaitu kuttab. Kuttab/maktab berasal dari kata dasar yang
sama, yaitu kataba yang artinya menulis. Sedangkan kuttab/maktab berarti tempat menulis, atau
tempat dimana dilangsungkan kegiatan untuk tulis menulis. 20[20] Kebanyakan para ahli sejarah
pendidikan Islam sepakat bahwa pendidikan Islam tingkat 21[21]dasar yang mengajarkan
membaca dan menulis kemudian meningkat pada pengajaran al-Quran dan pengetahuan agama
dasar. Namun Abdullah Fajar membedakannya, dia mengatakan bahwa maktab adalah istilah
untuk zaman klasik, sedangkan kuttab adalah untuk zaman modern.22[22]
Lembaga pendidiksn Islam pada fase Makkah ini sebenarnya mengenal dua macam
/tempat pendidikan, yaitu; Rumah Arqam bin Ibn Arqam dan Kuttab. Dimasa Nabi Muhammad
SAW., oleh karena peminat untuk belajar agama Islam semakin banyak, termasuklah golongan
anak-anak yang gemar mendatangi masjid, maka dikhawatirkan anak-anak itu akan mengotori
masjid, maka timbullah lembaga pendidikan di samping masjid yang bernama kuttab. Lembaga
ini berfungsi sebagai media utama dalam pelaksasnaan pembelajaran membaca dan menulis alQuran sampai kepada era Khulafaurrasyidin. Sedangkan materi-materi dan metode

20
21
22

pembelajarannya diserahkan kepada para guru yang mengajar.23[23] Sebenarnya kuttab ini sudah
ada dan dikenal oleh bangsa Arab pra Islam, namun tidak begitu populer.
Setelah Islam datang bentuk dan fungsi kuttab tidak mengalami perubahan. Pada masa
awal Islam sampai kepada era Khulafaurrasyidin, secara umum dilakukan tanpa ada bayaran.
Karena mengingat kondisi pada waktu itu belum stabil. Akan tetapi pada masa Bani Umayyah
ada diantara penguasa-penguasa yang sengaja menggaji guru untuk mengajar anak-anaknya dan
menyediakan tempat khusus di lingkungan istananya. Di tempat-tempat lain masih ada yang
tetap mempertahankan budaya lama, dimana tetap melaksanakan proses pendidikan dan
pembelajaran diperkarangan disekitar masjid terutama untuk siswa-siswa yang kurang mampu.
Untuk kuttab jenis ini guru tidak menerima bayaran apapun, kecuali penghargaan dari
masyarakat.24[24]
Ahmad Syalabi mengemukakan bahwa sebagai lembaga pendidikan kuttab mempunyai
dua fungsi, Pertama Kuttab berfungsi mengajar baca tulis dengan teks dasar puisi-puisi Arab
dan sebagian besar gurunya adalah non muslim. Kuttab jenis pertama ini hanya merupakan
lembaga pendidikan dasar yang mengajarkan baca tulis. Pada mulannya pendidikan Kuttab
berlangsung di rumah-rumah para guru atau dipekarangan sekitar masjid. Materi yang diajarkan
dalam baca tulis ini adalah puisi atau pepatah-pepatah Arab yang mengandung nilai-nilai tradisi
yang baik. Adapun penggunaan Al-Quran sebagai teks dalam kuttab baru terjadi kemudian,
ketika jumlah kaum muslimin yang menguasai al-Quran telah banyak, terutama setelah kegiatan
kodifikasi25[25] pada masa kekhalifaan Ustman bin Affan.26[26] Kebanyakan guru kuttab pada
masa awal Islam adalah nonmuslim, sebab muslim yang dapat membaca dan menulis jumlahnya
masih sangat sedikit disamping itu mereka sibuk dengan pencatatan wahyu. Oleh karena itu
kebanyakan guru baca tulis adalah kaum zimmi dan para tawanan perang, seperti tawanan
badar.27[27] Kedua sebagai tempat pendidikan yang mengajarkan al-Quran dasar-dasar
keagaman. Pengajaran teks Al-Quran pada jenis kuttab yang kedua ini setelah ahli bacaan dan
23
24
25
26

penghafal al-Quran telah banyak. Guru yang mengajarkannya dari ummat Islam sendiri. 28[28]
Pada tingkat kedua ini siswa diajarkan pemahaman tentang bahasa Arab dan Aritmatika,
sedangkan Kuttab yang didirikan oleh orang-orang yang lebih mapan kehidupannya maka materi
tambahannya adalah menunggang kuda dan renang.29[29]
Modifikasi kurikulum kuttab terjadi ketika jumlah qurra dan huffaz yang pandai tulis
baca sudah cukup banyak, dan ummat Islam telah mengenal warisan Helenis30[30] dari daerahdaerah taklukan mereka, sehingga menurut Stanton, kurikulum kuttab mencakupi; puisi, alQuran, gramatika bahasa Arab dan erithmetik di samping baca tulis. 31[31] Begitupun Philip K.
Hitti mengatakan bahwa, kurikulum pendidikan di Kuttab ini berorientasi kepada al-Quraan
sebagai text book. Hal ini mencakup pengajaran membaca dan menulis, kaligrafi, gramatikal
bahasa Arab, sejarah Nabi, Hadits. Khususnya yang berkaitan dengan Nabi Muhammad SAW.
Mengenai kurikulum ini Ahmad Amin juga menyepakatinya. 32[32] Namun dalam hal penetapan
materi, diutamakan dan disesuaikan dengan kebutuhan daerah dimana Kuttab dilaksanakan.
Ibnu Khaldun (dalam) Musnur Heri mencatat variasi tersebut pada empat daerah yang
berbeda sebagai berikut:
1.

Ummat Islam Maghribi (Maroko) sangat menekankan pengajaran al-Quran. Anak-anak daerah
ini tidak akan belajar sesuatu yang lain sebelum menguasai al-Quran secara baik. Pendekatan
mereka adalah pendekatan ontografi (mengenali suatu bentuk kata dalam hubungannya dengan
bunyi bacaan). Karena itu anak-anak Maroko menuru Ibnu Khaldun lebih mampu menghafal alQuran dari pada kaum Muslimin manapun.

27
28
29
30
31
32

2.

Ummat Islam Spanyol menekankan kemampuan menulis dan membaca. Al-Quran tidak
diutamakan dibandingkan dengan puisi dan bahasa Arab, sehingga daerah ini melahirkan
kaligrafer-kaligrafer yang baik.

3.

Ummat Islam Afrika Utara, menitik beratkan pada variasi bacaan (qiraat al-Quraan) lalu diikuti
dengan seni kaligrafi dan al-Haditas.

4.

Ummat Islam daerah Masyriq (Timur Tengah, Iran, Asia Tengah dan Semenanjung India) yang
menurut pengakuannya tidak ia ketahui secara jelas dibandingkan dengan tiga daerah pertama, 33
[33]
Sejak abad ke 8 H, Kuttab mulai mengajarkan pengatahuan umum di samping ilmu
agama Islam hal ini disebabkan34[34] karena adanya persentuhan Islam dengan warisan budaya
Helenisme sehingga banyak membawa perubahan dalam bidang kurikulum pendidikan Islam.
Dalam perkembagan selanjutnya Kuttab dibedakan menjadi dua, yaitu Kuttab yang mengajarkan
pengetahuan nonagama (secular learning) dan Kuttab yang mengajarkan ilmu agama (relegious
learning). Karena adanya perubahan kurikulum tersebut maka Kuttab pada awalnya merupakan
lembaga pendidikan yang tertutup, namun setelah terjadi pergesekan dengan warisan budaya
helenisme ini, maka Kuttab menjadi lembaga pendidikan yang terbuka terhadap pengetahuan
umum termasuklah filsafat.35[35] Selanjutnya lama belajar pada Kuttab tidaklah sama antara
anak yang satu dengan anak yang lain, karena sistem yang berlaku pada waktu itu belum sistem
klaksikal seperti sekarang. Jadi lama belajar ditentukan oleh tarap kecerdasan masing-masing
anak.
Jika dikaji dengan benar sesungguhnya sistem pembelajaran Kuttab lebih efektif bila
debanding dengan sistem pembelajaran sekarang. Waktu belajar mereka dari pagi hingga asyar,
sedangkan waktu belajar sekarang hanya dari pagi sampai dengan zuhur (kelas 3 sampai dengan
kelas 6), untuk anak kelas 1 dan 2 samapi jam 10. Jumlah hari mereka dalam belajar digunakan
dalam seminggu mulai hari Sabtu sampai hari Kamis, sedangkan hari Jumat mereka libur,

33
34
35

nampak waktu belajar mereka cukup padat dan efesien. Tetapi pada umumnya anak-anak
menyelesaikan pendidikan dasar ini selama kurang lebih 5 tahun.36[36]
Sistem pendidikan Kuttab ini memang sangat luar biasa kelebihannya, jika
pembelajarannya benar-benar merujuk pada sistem Kuttab klasik maka akan dijamin pendidikan
pasti berhasil, karena nilai yang ditanamkan keterampilan, tanpa ada unsur lain yang
mempengaruhi proses pembelajaran. Bagi yang tidak bisa terampil maka ia tertinggal.
Lembaga Kesufian
Asma Hasan Fahmi menambahkan lembaga-lembaga kesufian sebagai lembaga pendidikan
Islam pra Madrasah, yaitu: (1) Ribath. al-Ribath secara harfiah berarti ikatan yang mudah
dibuka. Sedangkan dalam arti yang umum, al-Ribath adalah tempat untuk melakukan latihan,
bimbingan dan pengajaran bagi calon sufi. Ribath adalah tempat kegiatan kaum sufi yang ingin
menjauhkan diri dari kehidupan duniawi dan mengonsentrasikan diri untuk semata-mata
beribadah.37[37] (2) Az- Zawiyah. Az-Zawiyah secara harfiyah berarti sayap atau samping.
sedangkan dalam arti yang umum, az-zawiyah adalah tempat yang berada dibagian pinggir
masjid yang digunakan untuk melakukan bimbingan wirid, dan dzikir untuk mendapatkan
kupasan spiritual. Dengan demikian, az-zawiyah dan al-ribath fungsinya sama, namun dari segi
organisasinya al-ribath lebih khusus dari pada az-zawiyah. 38[38] (3) Khananqah. Khanangah
merupakan suatu lembaga pengajaran berasrama bagi kaum sufi yang muncul pertama kali di
Iran (Persia) pada akhir abad ke-10 bersamaan dengan adanya formalisasi aktivitas sufistik.39[39]
Az-Zawiyah secara harfiah berasal dari kata inzawa, yanzawi yang berarti mengambil
tempat tertentu dari sudut masjid yang digunakan untuk itikaf dan beribadah. Dengan demikian
Zawiyah merupakan tempat berlangsungnya pengajian-pengajian yang mempelajari dan
membahas dalil-dalil naqliyah dan aqliyah yang berkaitan dengan aspek agama serta digunakan
para kaum sufi sebagai tempat untuk halaqah dzikir dan tafakur untuk mengingat dan
36
37
38
39

merenungkan keagungan Allah SWT. Adapun Zawiyah menyerupai khanaqah dari segi tujuan,
Akan tetapi zawiyah ini lebih kecil dari pada khanaqah, dan dibangun untuk orang-orang tasawuf
yang faqir supaya mereka dapat belajar dan beribadat. contohnya salah seorang raja dari alMamalik membangun sebuah Zawiyah al-Jumairah di abad ke XIII M. Dan ditempatkan
didalamnya beberapa orang sufi yang fakir. Dan kadang-kadang pula Zawiyah itu didirikan
untuk seorang syaikh yang termasyhur yang bertugas untuk menyiarkan ilmu pengetahuan dan
mengasingkan diri untuk beribadat. Pada umumnya Zawiyah itu dikenal dengan nama seorang
Syaikh yang terkenal dengan banyak ilmunya dan taqwanya.40[40]
Di zawiyah ini, fiqh seperti halnya ilmu-lmu yang lain, sesuai dengan bidang syaikhnya,
merupakan bagian dari kegiatan pewarisan ilmu pengetahuan. Belakangan, terutama setelah
munculnya tarekat-tarekat sufi, zawiyah dibangun sebagai institusi yang berdiri sendiri.
Aboebakar Atjeh menekankan fungsi pendidikan yang berlangsung di zawiyah dengan
mengatakan: Zawiyah itu merupakan satu ruang tempat mendidik calon-calon sufi, tempat
mereka melakukan latihan-latihan tarekatnya, diperlengkapi dengan mihrab untuk mengerjakan
sembahyang berjamaah, tempat mereka membaca al-Quran dan mempelajari ilmu-ilmu yang
lain, sehingga zawiyah itu merupakan sebuah arama dan madrasah.41[41]
Kemegahan fisik dari zawiyah tentunya bervariasi sesuai dengan besarnya dana yang
tersedia, serta popularitas syaikh yang menjadi pemimpinnya. Syaikh zawiyah yang telah wafat
biasanya dimakamkan di zawiyahnya yang akan menjadi tempat ziarah bagi pengikut tarekat
yang bersangkutan. Popularitas seorang syaikh akan menentukan jumlah peziarah yang datang
mengharap berkahnya. Aktivitas ini memberi beban yang lebih besar pada zawiyah yang
bersangkutan untuk menyediakan akomodasi bagi peziarah. Pada sisi lain, kegiatan ini juga merupakan sumber dana zawiyah. Sedekah yang berasal dari pada peziarah dapat membantu
operasinya.
Suatu penelitian yang mencakup Mesir menjelang penaklukan Turki Utsmani
menunjukkan adanya dua jenis zawiyah: 1) zawiyah tradisional yang mempunyai hubungan erat
dengan penguasa (Mamluk); dan 2) zawiyah yang lebih independen. Jenis kedua ini biasanya
sekaligus menjalankan fungsi masjid dan ribth: menyediakan fasilitas beribadah, sekaligus
40
41

perlindungan dan makanan bagi orang-orang miskin. Independensi ini dapat dilihat dalam contoh
Syaikh Ibn Qiwam yang selalu menolak tawaran wakaf untuk zawiyah-nya yang dia bangun
dengan biayai sendiri.42[42]
Sementara di Kairo misalnya, sebelum dan pada masa Mamluk sekurang-kurangnya terjadi
lima madrasah yang didirikan perempuan. Madrasah tersebut bisa berbentuk pondokan Zawiyah,
yaitu: pertama, Madrasah Asyuriyyah, istri seorang Amir, yang berada dilingkungan Zuwayla,
Kairo. Kedua, Madrasah al-Qutbiyyah yang didirikan oleh Ismet al-Din, putri Sultan Ayubiyyah,
al-Malik al-Adil, dan saudara perempuan al-Malik al-Afdhal Qutb al-Din Ahmad. Oleh karena
itu madrasah yang didirikan pada akhir abad 13 M ini juga dikenal sebagai Madrasah Ismad alDin.

Ketiga, Madarasah Hijaziyyah didirikan dan diwakafkan oleh putri Sultan al-Nasir

Muhammad, yang menikah dengan Amir Mamluk bernama Bahtimur al-Hijazi, dan nama yang
terakhir disebut kemudian diabadikan sebagai nama madrasah tersebut. Selain madrasah, sang
putri ini juga membangun kubah yang pada gilirannya menjadi tempat peristirahatan akhirnya
ketika wafat. Madrasah ini terkenal dengan spesialisasi dalam bidang fikih Syafii dan Maliki.
Keempat, Madrasah yang didirikan Barakat, ibu Sultan Asyraf Saban (1369-1370), yang terkenal
khususnya dalam bidang fikih madzhab Syafii dan Hanafi. Kelima, Madrasah Ummu Khawan
Yang didirikan Fatimah binti Qanibay al-Umari al-Nasiri, Istri tentara Mamluk bernama Taghri
Birdi al-Muadzdzi.43[43]

Masjid dan Jami


Kata masjid berasal dari bahasa arab sajada artinya tempat sujud. Dalam pengertian lebih luas
masjid berarti tempat shalat dan bermunajat kepada Allah dan tempat berenung dan menatap
masa depan. Dari perenungan terhadap penciptaan Allah tersebut masjid berkembang menjadi
pusat ilmu pengetahuan. Proses yang mengantar masjid sebagai pusat pengetahuan adalah karena
di masjid tempat awal pertama mempelajari ilmu agama yang baru lahir dan mengenal dasardasar ,hukum-hukun dan tujuan-tujuannya.

42
43

Masjid dan Jamik adalah dua tipe lembaga pendidikan Islam yang sangat dekat dengan
aktivitas pengajaran agama Islam. Kedua terma ini pada dasarnya memiliki fungsi yang sama
yaitu sebagai tempat ibadah dan pengajaran agama Islam. Kemunculan masjid sebagai lembaga
pendidikan dalam Islam telah dimulai sejak masa Rasulullah SAW., dan masa Khulafaurrasyidin.
Sedangkan Jamik muncul kemudian dan banyak didirikan oleh para penguasa dinasti khususnya
dinasti Abbasiyah. Diantara masjid-masjid Jami yang terkenal sebagai pusat kegiatan belajar
mengajar pada waktu itu adalah: (a) Jami Amr bin Ash. Jami ini digunakan sebagai tempat
belajar mulai tahun 36 Hijriyah dan pada tahun ini pula para ulama dan puqaha mulai mengajar,
kemudian pendidikan disitu terus berkembang, sehingga melengkapi pelajaran Fiqh, Hadits, dan
ilmu Kedokteran. (b) Jami Ahmad bin Thulun. Masjid ini sempurna didirikan pada tahun 256
Hijriyah. (c) Masjid Jami Al-Azhar. Masjid ini dianggap sebagai lembaga ilmu pengetahuan
Islam yang termasyhur, dan kemasyhurannya ini masih tetap sampai pada masa kita sekarang.
Pada waktu sekarang ini Universitas Al-Azhar bukan lagi merupaka lembaga pendidikan tinggi
agama, akan tetapi pada lembaga ini telah terdapat berbagai fakultas untuk ilmu-ilmu
pengetahuan umum.44[44]
Ketika Rasulullah dan para sahabat hijrah ke Madinah, salah satu program pertama yang
beliau lakukan adalah pembangunan sebuah masjid. Masjid yang pertama kali dibangun Nabi
adalah Masjid At- Taqwa di Quba. Menurut al-baladzuri dan ibn hasyim, sebenarnya mesjid
Quba didirikan oleh sahabat Nabi yang dahulu hijrah ke madina, 45[45] kemudian setelah Nabi
memasuki kota madina, beliau mendidrikan mesjid al-mirbad. Diwaktu mendirikan masjid alMirbad beliau sendiri turut bekerja, guna memotivasi kaum muhajirin dan anshar dan
mengigiatkan mereka untuk bekerja agar masjid itu segera selesai. Pembanguna Masjid tersebut
bertujuan untuk memajukan dan mensejahterakan kehidupan umat Islam. Di samping itu, masjid
juga memiliki multifungsi, diantaranya:
(a) sebagai tempat beribadah, (b) tempat kaum muslimin beritikaf, menempah bathin sehingga selalu terpelihara. (c)
sebagai pusat kegiatan dan informasi berbagai masalah kehidupan kaum muslimin, (d) sebagai tempat kegiatan
sosial politik, (e) sebagai tempat bermusyawarah, (f) tempat mengadili perkara, (g) tempat pembinaan dan
pengembangan kader-kader pimpinan umat (h) tempat menghimpun dana, menyimpan dan membagikannya (i)

44
45

tempat menyampaikan penerangan agama dan informasi-informasi lainnya dan (j) masjid dijadikan sebagai pusat
dan lembaga pendidikan islam.46[46]

Masjid sejak masa Nabi Muhammad selalu digunakan selain untuk ibadah juga sebagai
institusi pendidikan umat Islam. Praktek ini pun terus dilaksanakan pada masa para sahabat
namun disinyalir di masa Umar bin Khattab-lah intensifitas mesjid selain sebagai tempat ibadat
juga difungsikan sebagai sekolah betul-betul terlaksana. Hal ini dapat dilihat dari beberapa
sampel seperti pada mesjid di Kufah, Basrah dan Damaskus yang telah digunakan untuk
pengajaran alquran dan hadis, bahkan selanjutnya pelajaran nahwu (grammar bahasa Arab) dan
sastra digabungkan pula ke dalam institusi pendidikan ini.47[47]
Masjid Khan
Perkembangan lebih lanjut dari mesjid sebagai lembaga pendidikan Islam adalah munculnya
mesjid-mesjid yang dilengkapi dengan sarana akomodasi bagi pelajar, dan mesjid ini lazimnya
disebut dengan Mesjid Khan. Masjid khan ini secara finansial didukung oleh badan wakaf dan
penghasilannya dimanfaatkan untuk kepentingan sosial. Perkembangan khan ini sangat berkaitan
erat dengan kepedulian umat Islam masa itu terhadap para penuntut ilmu, khususnya mereka
yang berasal dan luar daerah.
Dengan demikian, pendidikan Islam dan masjid merupakan suatu kesatuan yang
integral, dimana masjid menjadi pusat dan urat nadi kegiatan keislaman yang meliputi
kegiatan keagamaan, politik, kebudayaan, ekonomi, dan yudikatif. Mulai sejak masa
Rasulullah SAW., dengan masjid Quba dan Nabawi hingga masjid Baghdad pada masa
dinasti Abbasiyah, masjid selalu menjadi alternatif utama dalam penyelenggaraan pendidikan
Islam.48[48] Dari Masjid, kemudian berkembang menjadi Masjid Khan sebagai Transformasi
Tradisi. Khan adalah sebagai tempat pemondokan bagi pencari ilmu di lingkungan halaqah
masjid dari berbagai wilayah Islam.
George Makdisi mengungkapkan bahwa masjid khan berbeda dengan masjid pada
umumnya, karena masjid khan dibangun sebagai lembaga pendidikan. Penambahan khan pada
46
47
48

bangunan masjid merupakan solusi terhadap kesulitan mahasiswa yang datang dari luar kota,
dimana mereka sebelumnya dihadapi oleh masalah penginapan. Namun masih kurang jelas
apakah khan menyediakan akomodasi gratis bagi mahasiswa-mahasiswa tersebut.49[49]
Masjid dapat dianggap sebagai lembaga ilmu pengetahuan tertua dalam Islam,
pembangunnaya dimulai sejak zaman Nabi Muhammad SAW dan ia tersebar di seluruh negeri
Arab. Di samping tugasnya yang utama sebagai tempat menunaikan shalat dan beribadah, di
dalam masjid ini pula mulai mengajarkan al-Quran dan ajaran-ajaran agama Islam. Pada masa
Rasulullah masjid dan Jami berfungsi sebagai sekolah menengah dan Perguruan Tinggi dalam
waktu yang sama. Sebelumnya masjid pada pertama kalinya merupakan tempat untuk pendidikan
dasar, akan tetapi orang-orang Islam berpendapat lebih baik memisahkan pendidikan anak-anak
pada tempat yang tertentu demi menjaga kehormatan masjid dari keributan anak-anak dan arena
mereka belum mampu menjaga kebersihan.
Shuffah
Pada masa Rasulullah SAW shuffah adalah suatu tempat yang telah dipakai untuk aktifitas
pendidikan. Biasanya tempat ini menyediakan pemondokan bagi pendatang baru dan mereka
yang tergolong miskin. Rasulullah membangun ruangan di sebelah utara masjid Madinah dan
masjid Al-Haram yang disebut Al-Suffah untuk tempat tinggal orang fakir miskin yang telah
mempelajari ilmu. Disini para siswa diajarkan membaca dan menghafal Al-quran secara benar
dan hukum Islam di bawah bimbingan dari Nabi SAW. Pada masa itu , setidajnya telah ada 9
shuffah,50[50] yang tersebar di kota Madina. Salah satu diantaranya berlokasi di samping mesjid
Nabawi. Rasulullah mengangkat Ubaid ibn Al-Samit sebagai guru pada sekolah suffah di
Madinah. Dalam perkembangan berikutnya, shuffah juga menawarkan pelajaran dasar-dasar
berhitung, kedokteran, astronomi, geneologi dan ilmu fonetik
Rumah Kediaman Ulama

49
50

Tipe lembaga pendidikan ini termasuk kategori yang paling tua, bahkan yang lebih dahulu
keberadaannya sebelum halaqah di masjid Rasulullah SAW.,51[51] dan para sahabat menjadikan
rumahnya sebagai markas gerakan pendidikan yang terfokus pada aktivitas pengajaran aqidah
dan pesan-pesan Allah SWT., dalam al-Quran untuk disampaikan kepada masyarakat. Ketika
wahyu pertama diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW, maka untuk menjelaskan dan
mengajarkan kepada para sahabat, Nabi SAW mengambil rumah Al-Arqam bin Abi Arqam
sebagai tempatnya, disamping menyampaikan ceramah pada berbagai tempat.
Pada masa awal Islam, proses pendidikan Islam dilaksanakan secara infornal, maksudnya
proses pendidikan itu berlangsung di rumah-rumah. Dan di rumah itulah Nabi Muhammad Saw
menyampaikan dan menanamkan dasar-dasar agama serta mengajarkan Al-quran kepada
mereka. Hal ini berlangsung kurang lebih 3 tahun. Namun sistem pendidikan pada lembaga ini
masih berbentuk halaqah belum memiliki kurikulum. Sedangkan sistem dan materi- materi
pendidikan yang akan disampaikan diserahkan sepenuhnya kepada Nabi SAW. Pada hakikatnya
lembaga pendidikan di rumah ini telah diterapkan sebelum Kuttab dan makktab dan pada waktu
itu rumah yang pertama dijadikan tempat pertemuan untuk menyampaikan ajaran agama adalah
rumah Al-Arqam bin Abi Arqam.
Pada perkembangan selanjutnya rumah para ulama terkenal yang menjadi tempat
kegiatan belajar dan mengajar adalah rumah Ibnu Sinah, Al-Ghazali, rumah Ali Ibnu
Muhammad, rumah Al-Fashihih, rumah Yakub Ibnu Killis, rumah Wazir Khalifah Al-Aziz billah
Al-Fatimi, Rumah Abu Muhammad Ibnu Hattim Al Razi Al Hafiz dan rumah Abi Sulaiman Al
Sajastani.52[52]
Rumah-rumah para ulama di atas dijadikan sebagai tempat pusat pembelajaran pada
waktu itu dengan pertimbangan bahwa (a) rumah sebenarnya dapat digunakan untuk
membicarakan hal-hal yang bersifat khusus (b) Situasi guru yang mengajar agak terbatas,
misalnya terlalu sibuk, lelah, umur suda tua dan lain-lain (c) Anggapan bahwa mendatangi guru
untuk belajar lebih baik dari pada guru mendatang muridnya untuk mengajar.53[53] Selanjutnya
51
52
53

Ahmad Syalabi, mengemukakan bahwa dipergunakannya rumah-rumah ulama dan para ahli
tersebut adalah karena terpaksa dalam keadaan darurat.
Toko-toko Buku
Pada awal pemerintahan dinasti Abbasiyah di Baghdad, lembaga pendidikan Islam dalam bentuk
toko-toko buku telah bermunculan di pusat-pusat kota, selain sebagai agen komersialisasi
berbagai buku ilmiah, juga menjadi pusat pembelajaran umat Islam melalui metode diskusi
mengenai isi buku yang dicari atau ditawarkan. Kemudian lembaga-lembaga pendidikan
ini menyebar dengan cepat ke seluruh wilayah kekuasaan Islam saat itu. Mengutip pendapat alYaqubi, Hitty menjelaskan bahwa pada masa itu, sekitar tahun 891 M terdapat pusat pertokoan
yang berjejer lebih dari seratus toko buku dalam satu jalan. Beberapa toko buku itu merupakan
stan (kamar) yang lebih kecil ukurannya dari surau, tetapi terdapat juga kamar yang lebih
besar yang berfungsi sebagai pusat penelitian hasil karya seni dan menjadi taman wacana
bagi pengembara ilmu yang datang dari berbagai wilayah Islam.54[54] Toko buku selain
sebagai tempat menjual buku juga digunakan sebagai pusat diskusi tentang berbagai karya
sastra oleh para cendekiawan dan pujangga.55[55]
Selama masa kejayaan Dinasti Abbasiyah , toko-toko buku berkembang dengan pesat
seiring dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan. Pada mulanya toko-toko kitab
tersebut berfungsi sebagai tempat berjual beli kitab-kitab yang telah ditulis dalam berbagai ilmu
pemgetahuan yang berkembang pada masa itu. mereka membeli dari para penulisnya kemudian
menjualnya kepada siapa yang berminat untuk mempelajarinya.
Saudagar-saudagar buku tersebut bukan lah orang-orang yang semata-mata mencari
keuntungan dan laba, akan tetapi kebanyakan mereka adalah sastrawan-sastrawan cerdas, yang
telah memilih usaha sebagai pedagang kitab tersebut, agar mereka mendapat kesempatan yang
baik untuk membaca dan menelaah, serta bergaul dengan para ulama dan pujangga-pujangga.
Mereka juga menyalin kitab-kitab yang penting dan menyodorkan kepada mereka yang
memerlukan dengan mrndapat imbalan.

54
55

Dengan demikian toko-toko kitab tersebut telah berkembang fungsinya bukan hanya
sebagai tempat berjual beli kitab saja, tetapi juga merupakan tempat berkumpulnya para ulama,
pujangga dan para ahli ilmu lainnya, untuk berdiskusi, berdebat tukar fikiran dalam berbagai
masalah ilmiah.56[56] Jadi sekaligus berfungsi juga sebagai lembaga pendidikan dalam rangka
pengembangan macam ilmu pengetahuan dan kebudayaan islam. Pemilik buku biasanya
berfungsi sebagai tuan rumah dan kadang-kadang berfungsi sebagai pemimpin studi tersebut. Ini
semua menunjukkan bahwa betapa antusias umat Islam masa itu dalam menuntut ilmu.
Perpustakaan
Salah satu ciri penting pada masa Dinasti Abbasiyah adalah tumbuh dan berkembangnya dengan
pesat perpustakaan-perpustakaan baik perpustakaan yang sifatnya umum didirikan oleh
pemerintah, maupun perpustakaan yang sifatnya khusus didirikan oleh para ulama atau para
sarjana. Bait Al Hikmah adalah perpustakaan yang didirikan oleh Harun Ar-Rasyid dan
berkembang pesat pada masa Al-Mamun, merupakan salah satu contoh dari perpustakaan dunia
Islam yang lengkap, yang berisi ilmu agama dan bahasa arab. Di dalamnya terdapat bermacammacam buku ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa itu serta berbagai buku terjemahan
dari bahasa yunani, Persia, India, Qibti dan Aramy.57[57]

Perpustakaan dikatakan sebagai

lembaga pendidikan karena sebagaimana diketahui, bahwa pada masa itu, buku-buku sangat
mahal harganya, ditulis dengan tangan, sehingga hanya orang-orang kaya saja yang bisa
memiliki secara pribadi. Oleh karena itu, bagi masyarakat umum pencinta ilmu, tentu
memanfaatkan perpustakaan ini sebagai sarana memperoleh ilmu pengetahuan, dan untuk
selanjunya di kembangkan.
Majlis
Lembaga pendidikan Islam dalam bentuk majlis sastra mulai populer berkembang secara
formal sejak masa dinasti Umayyah dan Abbasiyah, tetapi keberadaannya telah dimulai sejak
masa Khulafaur Rasyidin. Di lembaga ini, umat Islam belajar tentang berbagai syair, baik
dalam bahasa Arab maupun bahasa Persia yang berhubungan dengan agama Islam dan
56
57

kondisi kehidupan sosial-budaya masyarakat secara menyeluruh. Pada masa Abbasiyah, selalu
diadakan perdebatan dan diskusi tentang keahlian bersyair diantara sastrawan dari berbagai
disiplin ilmu, termasuk juga perlombaan di antara para seniman dan pujangga, khususnya dalam
bidang kaligrafi Alquran dan arsitektur. Lembaga pendidikan ini menjadi salah satu corong
pemerintah dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dalam bidang seni dan budaya umat
Islam sehingga mampu menghasilkan karya seni dan budaya yang menakjubkan saat itu.58
[58]
Majlis yang dimaksud adalah suatu majlis khusus yang diadakan oleh khalifah untuk mermbahas
berbagai macam ilmu pengetahuan. Majlis ini bermula sejak zaman Khulafa Ar-rasyid, yang
biasanya memberikan fatwa dan musyawarah serta diskusi dengan para sahabat untuk
memecahkan berbagai masalah yang dihadapi pada masa itu. tempat pertemuan padamasa itu
adalah mesjid. Setelah pada masa khalifah Bani Umaiyah tempat majlis tersebut dipindahkan ke
istana. dan hanya dihadiri oleh orang orang tertentu saja. Bahkan pada masa khalifah Abbasiyah,
majlis sastra ini sangat menjadi kebanggaan,59[59] khalifah yang memang pada umumnya
khalifah-khalifah Bani Abbas ini sangat menarik perhatian pada perkembangan ilmu
pengetahuan.
Saloon sastra yang berkembang di sekitar para khalifah yang berwawasan ilmu dan para
cendekiawan sahabatnya, menjadi tempat pertemuan untuk bertukar pikiran tentang sastra dan
ilmu pengetahuan.
Pada masa Harun Ar-Rasyid majelis sastra ini mengalami kemajuan yang luar bisa,
karena khalifah sendiri adalah ahli ilmu pengetahuan yang cerdas, sehingga khalifah aktif
didalamnya. Di samping itu pada masa tersebut dunia islam memang diwarnai oleh
perkembangan ilmu pengetahuan sedangkan Negara dalam keadaan aman. Pada masa beliau juga
sering diadakan perlombaan antara ahli-ahli syair, perdebatan antara fuqaha dan juga sayembara
antara ahli kesenian dan pujangga.60[60]

58
59
60

Pada masa perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan Islam mengalami zaman


keemasan majelis berarti sesi dimana aktifitas pengajaran atau diskusi berlangsung seiring
dengan perkembangan pengetahuan dalam Islam. Majelis digunakan untuk kegiatan transfer
keilmuan dari berbagai ilmu, sehingga majelis banyak ragamnya. Setidaknya ada 7 macam
majelis yang dapat diketahui yaitu :
1. Majelis al-Hadits
Majelis ini biasanya diselenggarakan oleh ulama/guru yang ahli dalam bidang hadits. Ulama
tersebut membentuk majlis untuk mengajarkan ilmunya kepada murid-murid.
2. Majelis At-Tadris
Majelis ini biasanya menunjukkan kepada majelis selain dari pada hadits, seperti majelis fiqih.
Majelis nahwu, atau majelis kalam.
3. Majelis al-Munazharoh
Majelis ini dipergunakan sebagai sarana untuk membahas perbedaan mengenai suatu masalah
oleh para ulama. Menurut Ahmad Syalabi khalifah Muawiyah sering mengundang para ulama
untuk berdiskusi di istananya, demikian juga dengan khalifah al-Mamun dan dinasti Abbasiah.
Di luar istana majlis ini ada yang dilaksanakan secara kontinu dan spontanitas, bahkan ada yang
berupa kontes terbuka dikalangan ulama. Untuk model ini biasanya hanya dipakai untuk
mencari populeritas ulama saja.61[61]
4. Majelis al Muzakaroh
Majelis ini merupakan inovasi dari murid-murid yang belajar hadis. Majelis ini diselenggarakan
sebagai sarana untuk berkumpul dan saling mengingat dan mengulangi pelajaran yang sudah
diberikan sambil menunggu kehadiran guru.
5. Majelis al-Adab
Majelis ini adalah tempat untuk membahas masalah adab yang meliputi puisi, silsilah dan
laporan sejarah bagi orang orang terkenal.
6. Majelis al-Fatwa dan Majlis al-Nazar
Majelis ini merupakan sarana pertemuan untuk mencari keputusan suatu masalah di bidang
hukum kemudian difatwakan. Disebut pula majelis al-Nazar karena karakteristik Majelis ini
adalah majlis tempat perdebatan diantara ulama fiqih/hukum islam.

61

Kesimpulan
Pertumbuhan dan perkembangan lembaga pendidikan Islam klasik banyak sekali pendapat dan
ungkapan yang berbeda diantara para ilmuwan, dan ini membuktikan bahwa untuk
mengidentifikasi sejarah pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam sangat sulit, karena
teknologi untuk mengabadikan perjalan sejarah pada waktu itu belum ada dan sangat tradisional.
Untuk itu perbedaan ini merupakan bagian data dan fakta yang mendukung kebenaran statemen
di atas. Dari berbagai ungkapan para ahli sebenarnya banyak sekali lembaga pendidikan pra
madrasa ini, seperti; rumah, kuttab/maktab, zawiyah, ribath, khanangah, masjid, khan, majlis,
pendidikan rendah di istinah (al-Qusur), toko atau kedai kitab (hawanit al-waraqin), manzil alulama, al-Shalunat al-Adabiyah (sanggar sastra), Badiah (padang pasir tempat tinggal baduwi),
al-Maristan (rumah sakit), al-Maktabat (perpustakaan), masjid atau suffah, dan lain-lain.
Namun menurut penulis dalam tindakan penyederhanaan konsep agar mudah dipahami
dan dimengerti tentang pertumbuhan dan perkembangan lembaga pendidikan era klasik pra
madrasah ini adalah dibagi menjadi dua bentuk, (1) lembaga formal seperti (a) kuttab, (b) masjid,
(c) masjid khan, dan (d) madrasah, Lembaga-lembaga inilah yang lebih spesifik dapat dilihat
proses pembelajarannya secara formal dalam melakukan perubahan dalam aspek pengetahuan,
sikap dan keterampilan kaum Muslimin yang berdasarkan kurikulum dan metode yang memiliki
kesamaan. Sedangkan yang ke (2) lembaga non formal, dimana lembaga ini tujuan utamanya
adalah tidak murni merupakan sebuah lembaga pendidikan melainkan berperan ganda dalam
proses layanannya. Seperti suffah, rumah para ulama, zawiyah, ribath, khanangah, toko-toko
buku, perpustakaan rumah sakit dan lain sebagainya.

Pendidikan islam sebelum periode madrasah


Pendahuluan
Dalam sejarah awal perkembangan islam pendidikan islam sebagaimana yang telah dilaksanakan
oleh Nabi Muhammad SAW adalah merupakan upaya pembebasan manusia dari belenggu akidah
ayang sesat yang dianut oleh kelompok Quraisy dan upaya pembebasan manusia dari segala
bentuk penindasan suatu kelompok terhadap kelompom lain yang dipandang rendah status
sosialnya. Tauhid merupakan salah satu nilai pokok dalam pendidikan masa itu, karena dengan
menginternalisasikan nilai keimanan berdasarkan tauhid segala kepercayaan yang sesat itu dapat
dibersihkan dari jiwa manusia.

Seiring berjalannya waktu, sebelum pendidikan islam menuju pada masa madrasah. Sejarah
pendidikan islam mengalami masa pada periode sebelum adanya madrasah. Di mana pada waktu
itu banyak berdiri kuttab, rumah, masjid, halaqah, perpustakaan, salon kesustraan dan
sebagainya.
Munculnya lembaga-lembaga pendidikan non-formal sebelum periode madrasah tersebut diatas
memperlihatkan adanya kepedulian terhadap pentingnya pendidikan bagi warga masyarakat juga
menunjukkan adanya dinamika pendidikan islam yang amat dinamis, serta menunjukkan sebuah
model pendidikan ayang demokratis, bebas terkendali, bahkan juga toleransi.a hal ini misalnya
terlihat pada tata krama dan tradisi, intelektual yang terjadi di halaqah. Dari sudut tata krama
yang mengajarkan bahwa seseorang yang memandang tamu ke rumahnya harus menyediakan
makanan dan minuman, maka ini dapat berarti bahwa aahalaqoh-halaqoh berlangsung di rumahrumah itu tertentu berukuran kecil. Mengenai waktu dan gambaran penyelenggaraan halaqoh
ditemukan contoh praktis. Ibnu Sina misalnya menyelenggarakan halaqoh mulai dari waktu fajar
hingga pertengahan waktu pagi. Demikian pula al-Ghazali setelah uzlah, ia mendirikan sebuah
halaqoh para ilmuan dirumahnya yagn memperoleh perhatian secara pribadi.
Pada makalah ini akan menjelaskan tentang lembaga pendidikan islam sebelum masa periode
madrasah hingga menuju pada seluk beluknya. Sehingga diharapkan akan mengantarkan
pengetahuan tentang pendidikan islam pada masa tersebut.
Pembahasan
Lembaga pendidikan islam sebelum masa periode madrasah
Pada umumnya lembaga pendidikan islam sebelum masa periode madrasah atau disebut juga
masa klasik, diklasifikasikan atas dasar muatan kurikulum yang diajarkan. Dalam hal ini
kurikulumnya meliputi pengetahuan agama dan pengetahuan umum. Atas dasar ini, lembaga
pendidikan islam di masa klasik menurut Charles Michael Stanton digolongkan ke dalam dua
bentuk yaitu lembaga pendidikan formal dan non formal, dimana yang pertama mengajarkan
ilmu pengetahuan agama dan yang kedua mengajarkan pengetahuan umum, termasuk filsafat.
Sementara George Maksidi dalam hal yang sama menyebutkan sebagai lembaga pendidikan
eksklusif (tertutup) dan lembaga pendidikan inklusif (terbuka). Tertutup artinya hanya
mengajarkan pengetahuan agama dan yang terbuka artinya menawarkan pengeatahuan umum.
Lembaga-lembaga pendidikan islam sebelum masa periode madrasah adalah sebagai berikut:
1. Kuttab Atau Maktab
Kuttab atau maktab berasal dari kata dasar yang sama yaitu kataba yang artinya menulis.
Sedangkan Kuttab atau maktab berarti tempat untuk menulis atau tempat dimana dilangsungkan
kegiatan tulis menulis. Kebanyakan para ahli sejarah pendidikan islam sepakat bahwa keduanya
merupakan istilah yang sama dalam arti lembaga pendidikan islam tingkat dasar yang
mengajarkan membaca dan menulis, kemudian meningkat kepada pengajaran al-Quran dan
pengetahuan agama tingkat dasar. Namun Abdullah Fajar membedakannya, ia mengatakan
bahwa maktab adalah istilah untuk zaman klasik, sedangkan kuttab adalah istilah untuk zaman
modern.
Philips K Hitti mengatakan bahwa kurikulum pendidikan di kuttab berorientasi kepada alQuraaan sebagai suatu texbook. Hal ini mencakup pengajaran membaca dan menulis, kaligrafi,

gramatikal bahasa arab, sejarah nabi, khususnya yang berkaitan dengan nabi Muhammad SAW,
mengenai kurikulum ini Ahmad Amin pun menyepakatinya.
Berkembangnya pengajaran di kuttab yang mulai mengajarkan pengetahuan umum disamping
ilmu agama. Hala ini merupakan akibat dari adanya persentuhan antara islam dengan warisan
budaya Helenisme, sehingga banyak membawa perubahan dalam bidang kurikulum pendidikan
islam. Bahkan dalam perkembnangan berikutnya kuttab dibedakan menjadi dua yaitu akuttab
yang mengajarkan pengetahauan non agama (seculer learning) dan kuttab yang mengajarkan
ilmu agama (religius learning)
Dengan adanya kurikulum tersebut dapat dikatakan bahwa kuttab pada awal perkembangan
merupakan lembaga pendidikan yang tertutup dan setelah adanya persentuhan dengan peradaban
Helenisme menjadi lembaga pendidikan yang terbuka terhadap pengetahuan umum termasuk
filsafat.
2. Rumah
Rumah disini yang dimaksud adalah rumah-rumah ulama. Rumah ulama memberikan peranan
penting dalam mentransmisikan ilmu agama dan pengetahuan umum. Sebagai transmisi
keilmuan, rumah muncul lebih awal daripada masjid. Sebelum masjid dibangun, ketika Rosul di
Mekkah beliau menggunakan rumah al-Arqam sebagai tempat memberi pealajaran bagi kaum
muslimin. Selain itu juga menggunakan rumah beliau sebagai temapta berkumpul untuk belajar
islam. Walaupun rumah bukanlah tempat yang ideal memberikan pelajaran namun banyak rumah
ulama yang dipakai sebagai tempat belajar.
Belajar di rumah-rumah ulama merupakan fenomena umum di masyarakat islam. Hal ini
menunjukkan tidak ada rasa terganggu atau berat hati bila rumah mereka dipakai untuk tempat
belajar. Mereka justru bangga karena pelajar-pelajar datang kerumah mereka untuk bertanya dan
belajar. Diadakannya pengajaran dan perdebatan ilmiah dirumah-rumah tidak lain adalah karena
terpaksa atau darurat. Ulama-ulama yang tidak diberi kesempatan mengajar dilembaga formal
akan mengajar dirumah mereka.
3. Masjid
Sejak masa nabi, masjid mempunyai peran penting masyarakat islam yang berfungsi sebagai
tempat bersosialisasia, tempat ibadah, dan tempat pendidikan. Oleh karena itu ketika nabi hijrah
ke Madinah maka sarana yang pertama kali beliau bangun adalah masjid. Pembangunan masjid
selalu mendapat perhatian ulama sehingga umat islam berhasil menguasai wilayah.
Lembaga pendidikan amasjid tersebar ke plosok wilayah islam, dari India disebelah timur
sampai Spanyol di belahan barat. Dengan demikian begitu maraknya pendidikan islam pada
masa klasik, khususnya masa keemasan pendidikan islam. Adapun masjid-masjid yang menjadi
pusat perhatian dan kebanggan adalah masjid jami yang ada dikota-kota besar seperti Bagdad,
Damaskus, Kairo.
4. Majlis
Istilah majlis telah dipakai dalam pendidikan sejak abad pertama islam. Misalnya, ia merujuk
pada arti tempat-tempat pelaksanaan belajar mengajar. Pada perkembangan berikutnya di saat
dunia pendidikan islam mengalami zaman keemasan, majlis berarti sesi di masa aktifitas
pengajaran atau diskusi berlangsung dan belakangan majlis diartikan sebagai sejumlah aktifitas

pengajaran, sebagai contoh, majlis al-Nabawi, artinya majlis yang dilaksanakan oleh nabi,a atau
majlisal-Syafii artinya majlis yang mengajarkan fiqih Imam Syafii.
Seiring dengan perkembangan pengetahuan dalam islam majlis digunakan sebagai kegiatan
transfer ilmu pengetahuan sehingga majlis banyak ragamnya. Menurut Muniruddin Ahmed ada
tujuh macam majlis, sebagai berikut
a) Majlis al-Hadis
Majlis ini diselenggarakan oleh ulama atau guru yang ahli dalam bidang hadis. Ulama tersebut
membentuk majlis untuk mengajarkan ilmunya kepada murid-muridnya. Majlis ini bisa
berlangsung antara 20-30 tahun dan jumlahnya peserta yang mengikuti majlis ini dapat mencapai
ratusan ribu orang, seperti majlis yabng disampaikan oleh Ashim ibn Ali di masjid al-Rusafa
diikuti oleh 100.000 sampai 120.000 orang.
b) Majlis al-Tadris
Majlis ini merujuk kepada majlis selain daripada hadis seperti majlis fiqih, majlis nahwu atau
majlis kalam. Dalam artian majlis ini tidak hanya mengkaji pada displin ilmu tentang hadits akan
tetapi mencakup hingga pada kajian tentang fiqih, nahwu, ilmu kalam dan sebagainya.
c) Majlis al-Munazharab
Majlis ini dipergunakan sebagai sarana untuk perdebatan mengenai suatu masalah oelh para
ulama. Menurut Syalabi, khalifah Muawiyyah sering mengundang para ulama untuk berdiskusi
diistananya, demikian jauga khalifah al-Mamun dari Dinasti Abbasiyyah. Diluar istana majlis
ini ada yang dilaksanakan secara continue dan spontanitas, bahkan ada yang berupa kontes
terbuka dikalangan ulama. Untuk model ini biasanya hanya dipakai untuk mencari popularitas
ulama saja.
Ada beberapa macam majlis al-Munazharah yaitu:
1. Majlis al-Munazharah yang diselenggarakan atas perintah khalifah.
2. Majlis al-Munazharah yang lebih bersifat edukatif dan dilaksanakan secara kontinue
3. Majlis al-Munazharah yang diselenggarakan secara spontan. Pertemuan ini terjadi secara
tidak sengaja.
4. Majlis al-Munazharah yang bersifat seperti kontex terbuka antara beberapa ulama yang
diselenggarakan dengan mengumpulkan beberapa ulama.
d) Majlis al-Muzakarah
Majlis ini merupakan inovasi murid-murid yang belajar hadis. Majlis ini diselenggarakan sebagai
sarana untuk berkumpul dan saling mengingat dan mengulang pelajaran yang sudah diberikan
sambil menunggu kehadiran guru. Pada perkembangan berikutnya majlis al-Muzakarah ini
dibedakan berdasarkan materi yang didiskusikan yaitu meliputi sanad hadis, materi hadis, perawi
hadis, hadis-hadis dhoif, korelasi hadis dengan bidang ilmu tertentu, serta tentang kitab-kitab
musnad.
e) Majlis al-Syuara
Majlis ini adalah lembaga untuk belajar syair dan juga sering di pakai untuk kontes para ahli
syair.
f) Majlis Adab

Majlis ini adalah tempat untuk membahas masalah adab yang meliputi puisi, silsilah dan laporan
bersejarah bagi orang-orang yang terkenal.
g) Majlis al-Fatwa dan Nazar
Majlis ini merupakan sarana pertemuan untuk mencari keputusan suatu masalah di bidang
hukum kemudian difatwakan. Disebut juga majlis ini adalah perdebatan antara ulama fiqih atau
hukum islam.
5. Halaqoh
Halaqoh artinya adalah lingkaran. Artinya proses belajar mengajar disini dilaksanakan dimana
murid-murid melingkari gurunya. Seorang guru biasanya duduk dilantai menerangkan, membaca
karangannya atau memberikan komentar atas karya pemikiran orang lain. Kegiatan halaqah ini
bisa terjadi di masjid atau dirumah-rumah.
Sistem halaqoh tidak mengenal sistem klasik, semua umur dan jenjang berkumpul bersama untuk
mendengarkan penjelasan guru. Jadi tidak dibedakan antara usia dan jenjang pendidikannya.
6. Perpustakaan
Perpustakaan merupakan tempat dimana terdapat kumpulan-kumpulan atau koleksi buku yang
dapat dibaca-baca bahkan dipinjam. Perpustakaan berkembang luas pada masa Abbasiyyah, baik
perpustakaan umum maupun perpustakaan pribadi. Faktor-faktor ayangb menyebabkan
perkembangan itu antara lain ialah meluasnya penggunaan kertas untuk menyalin kitab-kitab,
bermunculnya para penyalin kitab, dan berkembangnya halaqoh para sastarawan dan ulama.
Disamping itu, penghargaan terhadap ilmu mendorong kaum muslimin untuk membeli kitabkitab dari berbagai negeri. Dengan demikian perpustakaan menjadi pusat pendidikan dan
kebuadayaan islam yang sangat penting.
Beberapa perpustakaan umum yang terkenal ialah perpustakaan Bayt al-Hikmah di Bagdad yang
didirikan oleh Khalifah Harun al-Rasyid dan berkembang pesat pada masa Khalifah al-Makmun,
perpustakaan Bayt al-Hikmah di Ruqadah, Afrika Utara yang didirikan oleh Ibrahim II dari
Dinasti Aghlabi, seorang amir yang sangat cinta kepada ilmu dan pendiri kota raqadah pada
tahun 264H/878H. Perpustakaan Dar al-Hikmah Cairo yang didirikan oleh al-Hikmah bin
Amrillah pada tahun 395H.
Disamping perpustakaan umum terdapat pula perpustakaan khusus yang didirikan oleh para
Amir di istana dan ulama dirumah mereka. Jumlah perpustakaan pribadi ini tidak terhitung.
Semua ini menunjukkan bahwa kaum muslimin menaruh perhatian yang besar terhadap ilmu.
7. Salon kesusasteraan
Salon kesusasteraan adalah suatu majlis khusus yang diadakan oleh khalifah untuk membahas
berbagai mecem ilmu pengatahuan. Majlis ini bermula sejak zaman Khulafaurrasyidin yang
biasanya memberikan fatwa dan musywarah serta diskusi dengan para sahabat untuk
memecahkan berbagai masalah yang dihadapi pada masa itu. Dalam majlis sastra tersebut bukan
hanya dibahas dan didiskusikan masalah-masalah kesusasteraan saja melainkan berbagai macam
ilmu pengatahuan dan berbagai kesenian.
8. Khan
Khan berfungsi sebagai penyimpanan barang-barang dalam jumlah besar atau sebagai sarana
komersial yang memiliki banyak toko. Seperti Khan al-Narsi yang berlokasi di Alun-alun Karkh

di Bagdad, selain itu khan juga berfungsi sebagai sarana untuk murid-murid dari luar kota yang
hendak belajar hukum islam disuatu majlis seprti khan yang dibangun oleh Dilij ibn Ahmad Ibn
Dijil pada akhir abad ke 10M di Suwaiqat Ghalib dekat makam Suraij. Diamping fungsi diatas
khan juga digunakan sebagai sarana untuk belajar privat.
9. Ribath
Ribath adalah tempat kegiatan kaum sufi yang ingin menjauhkan diri dari kehidupan duniawi
dan mengkonsentrasikan diri untuk ibadah semata-mata. Ribath biasanya dihuni oleh sejumlah
orang-orang miskin. Mereka bersama-sama melakukan praktik-praktik sufistik. Disamping
melakukan praktek sufistik, mereka juga memberi perhatian kepada kegiatan keilmuwan. Pada
umunya ribath dibangun untuk sufi laki-laki, tetapi ada juga ribath yang dibangun untuk sufi
wanita dimana mereka bertempat tinggal, beribadah dan mengajarkan pelajaran agama
didalamnya.
Faktor munculnya lembaga pendidikan non formal sebelum periode madrasah
Pendidikan islam dalam sejarah tercatat terbagi menjadi beberapa periode: yaitu salah satunya
adalah pada periode sebelum madrasah. Tercatat banyak sekali berdiri berbagai macam lembagalembaga pendidikan pada saat itu. Beberapa faktor yang mendorong munculnya lembagalembaga tersebut adalah antara lain:
Pertama, terdorong oleh motivasi-motivasi untuk mengembangkan keilmuan. Kaum muslimin
pada masa awal membutuhkan pemahaman al-Quran sebagai apa adanya, begitu juga butuh
keterampilan membaca dan menulis, Ibnu Khaldun mencatat bahwa pada awal kedatangan islam
orang-orang Quraisy yang pandai membaca dan menulis hanya berjumlah 17 orang. Semuanya
laki-laki.
Kedua, terdorong berkembangnya kebutuhan pada masa awal islam untuk mendakwahkan islam,
karena itu sasaran pun pada mulanya ditujukan untuk orang-orang dewasa. Menjadi semakin
meluas tingkatan usianya, sehingga sampai pada usia anak-anak.
Kesimpulan
Pada sejarah perkembangan islam sbelum pendidikan islam menuju pada periode pendidikan
islam di madrasah. Pendidikan islam melalui masa periode pra madrasah yang mana pada masa
ini banyak berdiri lembaga-lembaga pendidikan islam, yaitu Kuttab atau Maktab, Rumah,
Masjid, Majlis, Halaqoh, Perpustakaan, salon kesusasteraan, ribath dan khan.
Faktor yang mendorong munculnya lembaga-lembaga tersebut yaitu dikarenakan oleh fakator
motifasi demi berkembangnya keilmuan dan terdorong oleh berkembangnya kebutuhan pada
masa awal islam untuk mendakwahkan islam