Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

Perkembangan ilmu pengetahuan melahirkan berbagai macam dampaknya terhadap


kehidupan manusia dan lingkungannya, disatu sisi dia mampu membantu dan meringankan
beban manusia, namun di sisi lain dia juga mempunyai andil dalam menghancurkan nilainilai kemanusiaan, bahkan eksistensi itu sendiri. Ilmu barat yang bercorak sekuler dibangun di
atas filsafat materialistisme, naturalisme dan eksistensialisme melahirkan ilmu pengetahuan
yang jauh dari nilai-nilai spritual, moral dan etika. Oleh karena

itu Islamisasi ilmu

pengetahuan dalam pandangan para pemikir Islam merupakan suatu hal yang mesti dan harus
dirumuskan. Problem terpenting yang dihadapi umat Islam saat ini adalah masalah ilmu
pengetahuan. Ilmu pengetahuan modern tidak bebas nilai (netral) sebab dipengaruhi oleh
pandangan-pandangan keagamaan, kebudayaan, dan filsafat, yang mencerminkan kesadaran
dan pengalaman manusia Barat. Tulisan ini mencoba memotret ide-ide penting tentang
Islamisasi ilmu yang digagas oleh Wan Mohd Nor Wan Daud dan Syed
Mohammad

Naquib

al-Attas.

Untuk

mengatasi

problem

pendidikan

tersebut, diperlukan satu kunci jawaban, yang tidak lain adalah melalui
islamisasi ilmu pendidikan. Masalah besar yang dihadapi oleh dunia
pendidikan kita, sebenarnya bermula dari konsep pendidikan yang
dualisme, memisahkan antara dunia dan akhirat, umum dan agama, akal
dan wahyu.
Secara sederhana sains merupakan tubuh pengetahuan (body of knowledge), Pengertian
itu muncul penemuan ilmiah yang dikelompokkan secara sistematis.Sains juga dapat berupa
produk. Produk yang dimaksud adalah fakta-fakta, prinsip-prinsip, model-model, hukumhukum alam, dll. Sains juga dapat berarti suatu metoda khusus untuk memecahkan masalah,
atau biasa disebut sains sebagai proses. Sains sebagai proses dapat berupa metoda ilmiah
merupakan hal yang sangat menentukan pembuktian suatu kebenaran yang objektif. Sains
sebagai proses yang dilakukan melalu metoda ilmiah ini, terbukti ampuh memecahkan
masalah ilmiah sehingga membuat sains terus berkembang dan merevisi berbagai
pengetahuan yang sudah ada.
1

Selain itu sains juga bisa berarti suatu penemuan baru atau hal baru yang dapat
menghasilkan suatu produk. Produk tersebut biasa disebut dengan teknologi. Teknologi
merupakan suatu sifat nyata dari aplikasi sains, suatu konsekwensi logis dari sains yang
mempunyai kekuatan untuk melakukan sesuatu.Sumbangan konsep dan ide dalam sains
terbukti telah banyak mengubah pandangan manusia terhadap alam sekitarnya.Teori-teori
dalam sains terus berkembang dengan pesatnya, menggantikan berbagai teori yang ternyata
terbukti salah ,setelah melalui konfirmasi percobaan ataupun memperbaiki dan melengkapi
teori yang telah ada sebelumnya. Suatu teori adalah suatu konstruksi yang biasanya dibuat
secara logis dan matematis yang bertujuan untuk menjelaskan fakta ilmiah tentang alam
sebagai mana adanya. Suatu teori yang baik harus mempunyai syarat lain selain dapat
menjelaskan, yaitu dapat memberikan adanya prediksi. Dari ketiga contoh di atas kadang
manusia lupa , siapa yang menciptakan ruang, masa dan waktu yang disampaikan Einstein
tersebut ?. Siapa yang menciptakan bintang dan benda-benda langit lainnya yang diamati
Hubble ?. Dan siapakan yang menciptakan gravitasi dengan bumi planet lainnya yang diamati
Newton ?. Melupakan yang causal itulah yang membuat orang sekuler ! Jadi untuk
menghindari sekulerisme tersebut dalam sains diperlukan suatu bimbingan, dan bimbingan
agar manusia tidak takabur , dengan menanamkan nilai Agama , nilai agama tersebut tersebut
adalah Islam.

2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian

Dalam bahasa arab, istilah islamisasi ilmu dikenal dengan Islamiyyat al-marifat dan
dalam bahasa inggris disebut dengan Islamization of Knowledge. Islamisasi ilmu
merupakan istilah yang mendiskripsikan berbagai usaha dan pendekatan untuk mensitesakan
antar etika islam dengan berbagai bidang pemikiran modern. Produk akhirnya akan menjadi
ijma (kesepakatan) baru bagi umat islam dalam bidang keilmuan yang sesuai dan metode
ilmiah tidak bertentangan dengan norma-norma islam.
Menurut Mulyadhi Kartanegara, Islamisasi ilmu pengetahuan merupakan naturalisasi
sains (ilmu pengetahauan) untuk meminimalisasikan dampak negatif sains sekuler terhadap
sistem kepercayaan agama dan dengan begitu agama menjadi terlindungi.
Untuk lebih memahami apa yang dimaksud dengan islamisasi Ilmu Pengetahuan perlu
kirannya memperhatikan pendapat para pakar agar batasan pembahasan ini lebih jelas
arahnya. Menurut kalangan akademisi di UIN Malang, ada bebrbagai pendapat atau versi
tentang pemahaman Islamisasi Ilmu Pengetahuan1[4], yaitu:
1. Versi pertama beranggapan bahwa Islamisasi ilmu pengetahuan merupakan sekedar
memberikan ayat-ayat yang sesuai dengan ilmu pengetahuan umum yang ada (ayatisasi).
2. Kedua, mengatakan bahwa Islamisasi dilakukan dengan cara mengislamkan orangnya.
3. Ketiga, Islamisasi yang berdasarkan filsafat Islam yang juga diterapkan di UIN Malang
dengan mempelajari dasar metodologinya.
4. keempat, memahami Islamisasi sebagai sebuah ilmu pengetahuan yang beretika atau
beradab. Dengan berbagai pandangan dan pemaknaan yang muncul secara beragam ini
perlu .

B. Islamisasi Ilmu
Islamisasi Ilmu Pendidikan Islamisasi ilmu yang dimaksud di sini
adalah mengislamkan
1

ilmu pengetahuan Barat modern kontemporer,

[4] Ummi, Islamisasi Sains Perspektif UIN Malang, dalam Inovasi: Majalah

Mahasiswa UIN Malang, Edisi 22. Th. 2005, 25.


3

tidak termasuk turast Islami. Ilmu ini (turast) tidak pernah terpisah dari
Tuhan sebagai hakikat sebenarnya dan sumber ilmu pengetahuan. Jadi
ketika digunakan ungkapan Islamisasi ilmu pengetahuan, yang dimaksud
adalah ilmu pengetahuan kontemporer, yang diproyeksikan melalui
pandangan hidup budaya dan peradaban barat. Menurut Al-Attas ada lima
faktor yang menjiwai budaya dan peradaban Barat: 1) Akal diandalkan
untuk membimbing kehidupan manusia; 2) Bersikap dualistik terhadap
realitas
dan kebenaran; 3) Menegaskan aspek eksistensi yang memproyeksikan
pandangan hidup sekuler; 4) Membela doktrin humanism; 5) Menjadikan
drama dan tragedi sebagai unsur-unsur dominan dalam fitrah dan
eksistensi kemanusiaan100.
Ide islamisasi ilmu pengetahuan muncul dari premis bahwa ilmu
pengetahuan kontemporer tidak bebas nilai (value-free), tapi sarat nilai
(value laden). Ilmu pengetahuan yang tidak netral ini telah diinfus
kedalam

praduga-praduga agama, budaya dan filosofis, yang sebenarnya

berasal dari refleksi kesadaran dan pengalaman manusia Barat. Jadi, ilmu
pengetahuan modern harus diislamkan101.
Mengislamkan ilmu bukanlah pekerjaan mudah seperti labelisasi.
Selain

itu,

tidak

semua

dari

Barat

berarti

ditolak,

karena

terdapatnsejumlah persamaan dengan Islam. Oleh sebab itu, seseorang


yang mengislamkan ilmu, perlu memenuhi pra-syarat, yaitu ia harus
mampu mengidentifikasi pandangan-hidup Islam (the Islamic worldview)
sekaligus mampu memahami peradaban Barat.102 Berbicara tentang
Islamisasi tidak bisa lepas dari peran pemikiran Syed Muhammad Naquib
Al-Attas, penggagas awal ide Islamisasi ilmu pengetahuan. Al-Attas
mengemukakan idenya di depan umum dalam konferensi dunia Pertama
mengenai Pendidikan Islam di Mekkah tahun 1977 yang dihadiri oleh 313
sarjana dan pemikir Islam dari seluruh pelosok dunia.103
_______________________
100 Ibid.
101 Wan Daud, The Educational Philosophy, hlm. 291
102 Ibid, hlm,313-314

103Rosiana,Gagasan Islamisasi Ilmu,hlm.30


4
Al Attas menyampaikan makalah berjudul Preliminary Thoughts on the
Nature of Knowledge and the Definition and Aims of Education (1978).
Pada tahun kemudian 1980 kembali mengeluarkan tulisan berjudul The
Concepts of Education in Islam Framework for an Islamic Philosophy of
Education. Melalui tulisan-tulisannya Al Attas dipandang sebagai penegas
konsep dan gagasan Islamisasi pendidikan, Islamisasi Sains dan Islamisasi
ilmu.
Penjelasan lebih gamblang tentang teori Islamisasi al-Attas telah
dikompilasikan dalam karyanya berjudul Islam and Secularism dan
dilanjutkan pada buku Prolegomena to The Metaphysics of Islam.
Singkatnya, Islamisasi menurut al-Attas adalah pembebasan manusia dari
unsur magic, mitologi, animisme dan tradisi kebudayaan kebangsaan serta
dari
penguasaan sekular atas akal dan bahasanya. Ini berarti pembebasan akal
atau pemikiran dari pengaruh pandangan hidup yang diwarnai oleh
kecenderungan sekular, primordial dan mitologis.104
Gagasan Islamisasi tersebut, kemudian memancing reaksi ilmuwan
lainnya di antaranya Ismail Raji Al Faruqi dengan gagasan Islamisasi Ilmu
Pengetahuaannya

yang

dituangkan

dalam

karyanya

yang

berjudul

Islamization of Knowledge: General Principles and Workplan (1981). Ia


menjelaskan bahwa Islamisasi ilmu adalah Islamisasi adalah usaha untuk
mendefinisikan kembali. Menyusun ulang data, memikirkan kembali
argumen dan rasionalisasi yang berkaitan dengan data itu,menilai kembali
simpulan

dan

tafsiran,

memproyeksikan

kembali

tujuan-tujuan

dan

melakukan semua itu sedemikian rupa sehingga disiplin- disiplin ini


memperkaya wawasan Islam dan bermanfaat bagi cita-citaIslam.

105

Dari uraian Al Attas dan Al-Faruqi tersebut, dapat disimpulkan


bahwa Islamisasi ilmu pengetahuan adalah program epistemologi dalam
rangka membangun peradaban Islam. Bukan masalah labelisasi seperti
Islamisasi teknologi, yang secara peyoratif dipahami sebagai Islamisasi
kapal terbang,

pesawat radio, hand phone, internet dan sebagainya.

Bukan pula Islamisasi dalam arti konversi yang terdapat dalam pengertian
106

Kristenisasi.

____________________
104 Al-Attas, Islam and Secularism, hlm. 44.
105 Ismail Raji al Faruqi, Islamisasi Ilmu Pengetahuan, hlm 38-39
106 Hamid Fahmy, Imu Asas Percerahan Peradaban, hlm. 7.
5
Sekularisasi yang ada dalam ilmu pengetahuan Barat telah
melahirkan

dikotomi

yang

manusia.Sementara dalam

tidak

mencakup

keseluruhan

fitrah

Islam mengakui tidak hanya rasio sebagai

sumber pengetahuan, tetapi juga intuitif. Dalam kajian epistemologi Islam


disebutkan bahwa sumber ilmu dalam Islam selain rasio, juga pengindraan
(empirik) dan intuisi melalui metode bayani (kebahasaan), burhani
(intelektual, penginderaan dan pengalaman) dan irfani (batini,Kasf,
Ilham). Ini dijelaskan dalam QS al Mukminun ayat 78:









Dialah Allah yang telah menumbuhkan bagi kalian pendengaran,
penglihatan,

dan

hati.

Namun

sedikit

Di

antara

kalian

yang

bersyukur.(QS.Al-Mukminun: 78)
lmu pengetahuan bukan sesuatu yang bebas nilai (free value) melainkan
syarat nilai (value laden) yang bersumber dari cara pandang orang atau
masyarakat yang ada.

Melalui upaya ini, Islamisasi Ilmu pengetahuan

bertujuan untuk mengembangkan kepribadian yang sebenarnya sehingga


menambah keimanannya kepada Allah, dan dengan Islamisasi tersebut
akan terlahirlah keamanan, kebaikan, keadilan dan kekuatan iman.
C.

Proses Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer


Setelah mengetahui mengenai pandangan hidup Islam dan barat,

maka proses Islamisasi baru bisa dilakukan. Karena, Islamisasi ilmu


pengetahuan saat ini melibatkan dua proses yang terkait, yaitu:

1. Mengisolasi unsur-unsur dan konsep-konsep kunci yang membentuk


budaya dan peradaban Barat dari setiap bidang ilmu pengetahuan modern
saat

ini,

khususnya

dalam

bidang

ilmu

pengetahuan

humaniora.

Bagaimanapun ilmu-ilmu alam, fisika dan aplikasi harus diislamkan juga


khususnya
formulasi

dalam

penafsiranpenafsiran

teorai-teori.

Menurut

Al-Attas,

akan
jika

fakta-fakta
tidak

dan

sesuai

alam

dengan

pandangan hidup Islam, maka fakta-fakta menjadi tidak benar. Selain itu,
ilmu-ilmu modern harus diperiksa dengan teliti. Ini mencakup metode,
konsep, praduga, simbol dari ilmu modern, beserta aspek-aspek empiris
dan rasional, dan yang berdampak kepada nilai dan etika. Juga penafsiran
historisitas ilmu tersebut, bangunan teori ilmunya, praduganya berkaitan
dengan dunia, rasionalitas proses-proses ilmiah, teori ilmu tersebut
tentang alam semesta, klasifikasinya, batasannya, hubung kaitnya dengan
ilmu-ilmu lainnya, serta hubungnnya dengan sosial harus dipriksa dengan
teliti.
2. Memasukkan unsur-unsur Islam beserta konsep-konsep kunci dalam
setiap bidang dari ilmu pengetahuan saat ini yang relevan. 107 Jika
kedua proses tersebut dilakukan, maka Islamisasi akan membebaskan
manusia dari magic, mitologi, animisme, tradisi budaya, tradisional
yang bertentangan dengan Islam, dan kemudian dari kontrol sekuler
kepada akal dan bahasanya. Islamisasi akan membebaskan akal
manusia dari keraguan (shakk), dugaan (zann), dan argumentasi
kosong (mira) menuju keyakinan akan kebenaran mengenai spiritual,
intelligible, dan materi. Islamisasi akan mengeluarkan penafsiranpenafsiran ilmu penetahuan kontemporer dari ideologi, makna dan
ungkapan sekuler.108 Jadi, inti dasar Islamisasi ilmu akan sampai pada
kesimpulan bahwa pandangan hidup Islam mencakup dunia dan
akhirat. Aspek dunia harus dihubungkan dengan cara yang sangat
mendalam kepada aspek akhirat yang memiliki signifikansi yang
terakhir dan final. Pandangan hidup Islam, tidak berdasarkan kepada
metode dikotomis seperti objektif dan subjektif, historis dan normatif.
Namun realitas dan kebenaran dipahami dengan metode menyatukan
(tauhid).

Pandangan hidup Islam bersumber kepada Wahyu yang didukung oleh akal
dan

intuisi.

Substansi

agama,

seperti

nama,

keimanan,

dan

pengalamannya,
ibadahnya, doktrinnya, serta sistem teologinya, telah ada dalam Wahyu
dan dijelaskan oleh Nabi.109
Pandangan hidup Islam terdiri dari berbagai konsep yang saling terkait
seperti konsep Tuhan, wahyu, penciptaan, psikologi manusia,ilmu, agama,
kebebasan, nilai dan kebaikan, serta kebahagiaan. Konsep-konsep tersebut
yang menentukan bentuk perubahan, perkembangan, dan kemajuan.
Pandangan hidup Islam dibangun atas konsep Tuhan yang unik, yang tidak
ada pada tradisi filsafat, budaya, peradaban, dana gama lain.110

______________________
107 Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam, hlm.
336.
108 Hamid Fahmi Zarkasy, Membangun Peradaban Dengan Ilmu, hlm. 86.
109Ibid,hlm.83.
110Ibid,hlm86.

7
D. ISLAMISASI SAINS
Islamisasi sains tidak hanya berarti menyisipkan ayat-ayat suci Al Quran yang sesuai
dengan konsep tertentu dalam sains. Tetapi terfokus kepada bagaimana islam sebagai
pondaman nilai yang mengikat sains (value bound ). Atau bagaimana pemahaman sains dapat
meningkatkan kadar iman dan takwa terhadap sang Kholiq. Jadi penulis membuat istilah
Islamisasi Sains ke dalam dua katagori: (1) Islam to Sains; (2) Sains to Islam.
Dasar pemikiran tersebut berangkat dari lima ayat dalam Surat Al-Alaq ; Bacalah dengan
nama Tuhanmu yang menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Dan
Tuhanmu Yang Maha Pemurah yang mengajarkan dengan pena. Mengajar manusia hal-hal
yang belum diketahuinya (Q. S. Al-Alaq:1-5). Lima ayat ini bukan sekadar perintah untuk

membaca ayat quraniyah. Terkandung di dalamnya dorongan untuk membaca ayat-ayat


kauniyah di alam. Manusia pun dianugerahi kemampuan analisis untuk mengurai rahasia di
balik semua fenomena alam. Kompilasi pengetahuan itu kemudian didokumentasi dan
disebarkan melalui tulisan yang disimbolkan dengan pena. Pembacaan ayat-ayat kauniyah ini
akhirnya melahirkan sains. Ada astronomi, fisika, kimia, biologi, geologi, dan sebagainya.
Mari kita kaji kedua katagori tersebut ke dalam contoh berikut :
Teori klasik menyatakan alam ini terdiri dari empat unsur yaitu tanah, udara, api dan air.
Mari kita analisa, disadari atau tidak oleh kita, isyarat itu mewarnai apa yang kita pelajari
tetang alam ini; Mengapa daratan dibuat dengan ketinggian yang berbeda, tentunya agar air
dapat mengalir melewati sungai, sehingga memberi kehidupan pada makhluk yang
dilewatinya. Demikian juga dengan tekanan dan suhu udara. Tekanan dan suhu udara dibuat
berbeda-beda di setiap lapisan (atmosfer) dan di setiap tempat. Hal itu menyebabkan
timbulnya angin,

dan angin dapat menimbulkan perubahan cuaca, salah satunya dapat

menimbulkan hujan. Hujan dapat menyuplai air ke permukaan bumi, dimana air merupakan
sumber kebutuhan utama bagi kehidupan manusia. Marilah kita renungkan, baik fenomena
alam yang terjadi disekitar kita, maupun aktivitas yang kita lakukan sehari-hari. Berapakah
ketinggian gunung, kedalaman laut, tekanan udara, kelajuan angin dan banyak lagi penomena
alam lainya.
8
Demikian juga keadaan fisik dan aktivitas yang kita lakukan. Berapakah berat badan
kita, tinggi badan kita, suhu badan kita, lama hidup kita di dunia, dan banyak hal lain lagi
yang dapat dianalisa sebagai bahan renungan kita terhadap kebesaran yang maha kuasa.
Oleh karena itu, kita wajib meyakini bahwa bukan kita manusia, hewan atau
tumbuhan yang telah menciptakan benda dengan berbagai ukuran, tetapi Allahlah yang
telah menciptakannya seperti apa yang diisyaratkan oleh Allah dalam Quran Surat :Al Qomar
ayat 49,

Yang artinya : Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.

Besaran-besaran yang dapat diukur itu merupakan besaran fisika atau biasa disebut
dengan besaran fisis. Allah telah menciptakan ; ketinggian, suhu, tekanan, kelajuan, berat,
waktu dan banyak lagi besaran fisika lainnya. Semuanya diciptakan Allah memiliki ukuran
tertentu yang dinyatakan dalam satuan ukur. Dari salah satu contoh sains di atas, maka dari
esensinya, sains sudah Islami. Hukum hukum yang digali dan dirumuskan sains seluruhnya
tunduk pada hukum Allah. Pembuktian teori-teori sains pun dilandasi pencarian kebenaran,
bukan pembenaran nafsu manusia. Dalam sains, kesalahan analisis dimaklumi, tetapi
kebohongan adalah bencana.
Contoh lain adalah kekeliruan analisis terhadap hukum kekekalan massa dan energi.
Massa tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, tetapi dapat berubah ke dalam
bentuk lain. Hukum konservasi massa dan energi ini dinilai menentang tauhid Padahal, hukum
ini adalah hukum Allah yang dirumuskan manusia, bahwa massa dan energi tidak bisa
diciptakan dari ketiadaan dan tidak bisa dimusnahkan, alam dan manusia hanya bisa
mengalihkannya menjadi wujud yang lain.
Hanya Allah yang kuasa menciptakan dan memusnahkan. Pada merekalah sistem nilai
tidak mungkin dilepaskan. Memang tidak tampak dalam makalah ilmiahnya, tetapi sistem
nilai yang dianut seorang saintis kadang tercermin dalam tulisan populer atau semi-ilmiah.
Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.
9

Maka, riset saintis Muslim berangkat dari keyakinan bahwa Allah pencipta dan
pemelihara alam serta hanya karena-Nya pangkal segala niat. Atas dasar itu, setiap tahapan
riset yang menyingkap mata rantai rahasia alam disyukuri bukan dengan berbangga diri,
melainkan dengan ungkapan Rabbana maa khaalaqta haadza baathilaa. Tuhan kami,
tidaklah

Engkau

ciptakan

semua

ini

sia-sia

(Q.S.3:191).

Uraian di atas menunjukan Islam to sains, yaitu riset saintis muslim yang berangkat dari
keyakinan bahwa Allah pencipta dan pemelihara alam semesta, dan keyakinan itu bersumber
dari Al Quran dan Al Hadits. Sekarang bagaimanakah memahami Sains to Islam ?. Marilah
kita mulai dengan sebuah contoh ! Apa yang ada dalam benak pikiran kita tentang api ? Api
adalah panas, api adalah terang atau berwarna. Api adalah panas dan panas adalah kalor dan

kalor berhubungan dengan suhu / temperature (T). Warna apa sajakah yang kita lihat dari api ?
merah, kuning, hijau, biru dll. Warna adalah gelombang dan gelombang berhubungan dengan
panjang gelombang/ lamda (). Panas manakah api merah dan api biru ? besar manakah
panjang gelombang merah dan panjang gelombang biru ?. Hubungan antara panjang
gelombang dengan suhu merupakan sebuah teori dan fakta yang biasa disebut dengan konsep.
Dan konsep merupakan sains. Lalu apa yang merupakan sumber dari api ? mengapa api
panas ? dan siapa yang menciptakan warna ? . Dari pemahaman konsep sains tersebut dapat
menggiring manusia kepada keyakinan bahwa segala sesuatu ada yang menciptakan yaitu
Allah SWT. Jadi Sains to Islam suatu keyakinan terhadap Allah berdasarkan analisis terhadap
bukti yang diciptakan-Nya. Dan analisis terhadap bukti yang diciptakaNya dapat dilakukan
dengan suatu metode, dan metode tersebut adalah metode ilmiah, sebagai contoh : Dalam
tulisan ini diajukan sebuah paradigma sains alternatif.
Al Quran sendiri mengajukan definisi sains, sebagaimana dinyatakan dalam Surat
Ar-Rachman. Lima ayat pertama surat Ar Rachman memberi definisi sains alternatif, yaitu
saat mendefinisikan al bayyan sebagai rangkaian informasi dari Allah swt. tentang astronomi,
biologi, dan kehidupan sosial.

10

Model kognitif atau metodologi sains alternatif bisa dirumuskan dengan memperhatikan surat
Yunus : 5

Artinya: Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan dialah yang
menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan
(waktu) . Allah tidak menciptakan demikian itu melainkan dengan benar, Dia menjelaskan
tanda-tanda (kebesaran;Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.
Yang menggambarkan metodologi sains ini melalui perumpaman astronomi. Jika realisme dan
naturalisme dapat diibaratkan sebagai sebuah metode gerhana bulan (moon eclipse) , dan
idealisme sebagai gerhana matahari (sun eclipse), maka metodologi alternatif ini adalah
metode non-gerhana.
E. PERLUKAH ISLAMISASI SAINS ?
Sebenarnya, perlukah Islamisasi sains ? Dari uraian di atas sudah jelas, maka untuk
memperjelas atas jawaban tersebut dengan kita kaji lima ayat ini. Bacalah dengan nama
Tuhanmu yang menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Dan
Tuhanmu Yang Maha Pemurah yang mengajarkan dengan pena. Mengajar manusia hal-hal
yang belum diketahuinya (Q. S. Al-Alaq:1-5). Lima ayat ini bukan sekadar perintah untuk
membaca ayat quraniyah. Terkandung di dalamnya dorongan untuk membaca ayat-ayat
kauniyah di alam. Manusia pun dianugerahi kemampuan analisis untuk mengurai rahasia di
balik semua fenomena alam. Kompilasi pengetahuan itu kemudian didokumentasi dan
disebarkan melalui tulisan yang disimbolkan dengan pena. Pembacaan ayat-ayat kauniyah ini
akhirnya melahirkan sains. Ada astronomi, fisika, kimia, biologi, geologi, dan sebagainya.
11

Maka dari esensinya, sains sudah Islami, Hukum-hukum yang digali dan dirumuskan
sains seluruhnya tunduk pada hukum Allah. Pembuktian teori-teori sains pun dilandasi
pencarian kebenaran, bukan pembenaran nafsu manusia. Dalam sains, kesalahan analisis
dimaklumi, tetapi kebohongan adalah bencana.
Al Faruqi menetapkan lima sasaran dari rencana kerja Islamisasi Sains atau Ilmu, yaitu:
1. Menguasai disiplin-disiplin modern

2. Menguasai khazanah Islam


3. Menentukan relevansi Islam yang spesifik pada setiap bidang ilmu pengetahuan
modern
4. Mencari cara-cara untuk melakukan sintesa kreatif antara khazanah Islam dengan
Khazanah ilmu pengetahuan modern.
5. Mmengarahkan pemikiran Islam ke lintasan-lintasan yang mengarah pada pemenuhan
pola rancangan Allah.
Hukum konservasi massa dan energi yang secara keliru sering disebut sebagai hukum
kekekalan massa dan energi sering dikira bertentangan dengan prinsip tauhid. Padahal itu
hukum Allah yang dirumuskan manusia, bahwa massa dan energi tidak bisa diciptakan dari
ketiadaan dan tidak bisa dimusnahkan. Alam hanya bisa mengalihkannya menjadi wujud yang
lain. Hanya Allah yang kuasa menciptakan dan memusnahkan. Bukankah itu sangat Islami?
Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Maka, riset saintis Islam berangkat dari
keyakinan bahwa Allah pencipta dan pemelihara alam serta hanya karena-Nya pokok pangkal
segala niat. Atas dasar itu, setiap tahapan riset yang menyingkapkan satu mata rantai rahasia
alam semestinya disyukurinya dengan ungkapan Rabbana maa khaalaqta haadza baathilaa,
Tuhan kami tidaklah Engkau ciptakan semua ini sia-sia (Q. S. 3:191), bukan ungkapan
bangga diri.

12
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Kata islamisasi dinisbatkan kepada agama islam yaitu agama yang telah diletakkan
manhajnya oleh Allah melalui wahyu. Ilmu ialah persepsi, konsep, bentuk sesuatu
perkara atau benda. Islamisasi ilmu berarti hubungan antara Islam dan ilmu
pengetahuan yaitu hubungan antara Kitab Wahyu al-Quran dan al-Sunnah dengan
Kitab Wujud dan ilmu kemanusiaan. Tujuan dari Islamisasi Ilmu pengetahuan
adalah untuk mengahsilkan sebuah sains (Ilmu pengetahuan) Islam yang didasarkan
pada al-Quran dan al-Hadits..
Dalam rangka keluar dari krisis manusia modern sebagai krisis ilmu ini, umat
Islam perlu bekerja keras untuk membangun kerangka paradigmatik sains alternatif,
dengan ciri pokok sebagai berikut :
1. Menjadikan Al Quran sebagai sebuah sistem aksiomatika sains sosial (sunnaturasul).
2. Sains alam (ayat-ayat mutasyabihaat) menyediakan data-data penjelasan bagi sains
sosial (ayat-ayat muhkamaat) sosiologi, ekonomi, politik, sejarah. Sains sosial berada
dalam hirarki ilmu yang lebih tinggi daripada sains alam.
3. Ilmu dikembangkan dengan model kognitif atau metodologi nongerhana, sebut saja metode ibda bismillah wa akhir ha bil
hamdulillah) di mana Allah swt sebagai wakil, manusia sebagai
mutawakkil, dan alam sebagai ladang pengabdian manusia pada
Allah swt yang senantiasa dilakukan dengan asma Allah (bi-ismiAllah), dan diakhiri dengan sikap menyanjung kehidupan menurut
ilmu Allah (al-hamdulillah).
Sebuah bangunan tidak akan pernah berdiri tegak tanpa
adanya fondasi. Maka dari itu bangunan yang kokoh membutuhkan
sebuah fondasi yang kokoh pula. Demikian juga dengan pendidikan,
untuk membangunnya dibutuhkan sebuah landasan yang kuat
sebagai fondasinya, agar bangunan pendidikan yang berdiri di
atasnya berdiri tegak nan kokoh. Menurut Anas Ahmad Karzon,
bahwa fondasi utama dalam membangun pendidikan adalah fondasi
tauhid.
13

DAFTAR PUSTAKA

Butt, Nasim. 1996. Sains dan Masyarakat Islam. Badung: Pustaka Hidayah
dieena.wordpress.com/2012/06/06/islamisasi-ilmu-pengetahuan-2.
Diakses tanggal 1
Januari 2013.
Ahmad Alim,Pusat Kajian Islam .Pusat Kajian Islam Universitas Ibnu
Khladun Bogor.Januari
2014 M
Hashim, Rosnani., 2005.

Gagasan Islamisasi Kontemporer: Sejarah,

Perkembangan dan
Arah Tujuan, Jakarta: Thn II No.6/ Juli-September 2005, dalam Islamia:
Majalah
Pemikiran dan Peradaban Islam (INSIST).
International

Instiutut

of

Islamic

Thought,

2000,

Islamisasi

Ilmu

Pengetahuan, Terjemahan.
Jakarta: Lontar Utama.
Habib, Zainal. 2007. Islamisasi Sains. Malang: UIN Malang Press
Kamil, Sukron. 2003. Sains dalam Islam Konseptual dan Islam aktual.
Jakarta: PBB UIN
M. Zainuddin, 2003, Filsafat Ilmu: Persfektif Pemikian Islam, Malang: Bayu
Media.
Nadwi, Abul Hasan Ali.,2008, Islam dan Dunia, Bandung : Angkasa.
Osman Bakar, 1994, Tauhid dan Sains, Bandung: Pustaka Hidayah..
Nuim Hidayat, Bahaya Sekularisasi Pendidikan, Harian Umum Republika,
(25 Maret
2003), Hal. 5, Kolom V

Buku Islamization of Knowledge: General Principles and Workplan telah


diterjemahkan ke
Fazlur Rahman, Islamisasi Ilmu: Sebuah Respon, dalam Jurnal Ulumul
Quran,
nomor:4, Vol. III,1992,

ISLAMISASI PENDIDIKAN UMUM DAN SAIN

Disusun Untuk Memenuhi Tugas


Mata Kuliah: Sejarah Pendidikan Islam
Dosen Pengampu : Dr. Mudhofir Abd. S.Ag,
M.Pd
Oleh
Nurul KHotimah
NIM : 144.031.060.75

PROGRAM STUDI
MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
PASCA SARJANA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2015