Anda di halaman 1dari 14

ANALISIS TEKNIK SAMBUNGAN KAYU

PADA RUMAH TRADISIONAL MINAHASA


DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS UAS ARSITEKTUR VERNAKULAR

OLEH :
AKBAR HIKMAWAN
39214
PROGRAM STUDI ARSITEKTUR
JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR DAN PERENCANAAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2015

ABSTRAK

Kayu merupakan bahan bangunan yang paling banyak digunakan untuk


konstruksi rumah-rumah tradisional bangsa Indonesia. Rumah tradisional Minahasa
merupakan salah satu dari sekian banyak rumah tradisional Indonesia yang menggunakan
bahan dasar konstruksinya menggunakan kayu. Konstruksi rumah tradisional Minahasa
telah teruji sebagai rumah kayu yang tahan terhadap gempa berkat sebuah teknologi
sistem sambungan knockdown (bongkar pasang), hasil dari pemikiran penduduk
Minahasa sendiri. Penduduk Minahasa yang tanggap terhadap konteks geografisnya
berada di daerah banyak gempa, berhasil membuat sebuah rancangan sistem sambungan
tahan gempa yang diterapkan pada rumah tradisional mereka. Tulisan ini membahas
teknologi dan ilmu lokal masyarakat dalam hal teknik sambungan kayu pada rumah
tradisional Minahasa yang diimplementasikan pada sambungan-sambungan pondasikolom, kolom-balok, balok-struktur atap menggunakan pen kayu dengan adanya sedikit
penambahan konstruksi tergantung karakteristik dan struktur kayu yang digunakan
dalam konteks Arsitektur Vernakular.
Kata Kunci : rumah tradisional minahasa, sistem knockdown (bongkar pasang), teknik
sambungan kayu, tahan gempa

PENDAHULUAN

Rumah tradisional dapat diartikan sebagai rumah yang dibangun dan digunakan
dengan cara yang sama sejak beberap generasi. Tradisi bukan suatu yang lestari,
melainkan tetap mengalami perubahan/transformasi (Yudohusodo, 1991) Oleh karena itu,
rumah kayu tradisional Minahasa bisa dikatakan sebagai salah satu aset negara dalam
konteks arsitektur vernakular, yang patut dijaga kelestariannya. Penyebaran rumah-rumah
tradisional secara luas menempati berbagai daerah di Sulawesi Utara, didirikan di atas
variasi tapak dan kondisi eksisting site yang berbeda dan unik, baik di perbukitan, daerah
danau, daerah tepian pantai bahkan ekspansinya hingga ke dalam kota yang pada
umumnya dibangun secara mapalus (gotong royong, red) dengan kelebihannya memiliki
ketahanan terhadap gempa.
Menurut

Prijotomo (1999), arsitektur Indonesia adalah arsitektur rumah

panggung dari kayu, yaitu teknik konstruksi yang mempergunakan sambungan tanpa
paku atau alat dan bahan penyambung selain kayu. Kekayaan teknologi konstruksi rumah

tradisional di daerah Minahasa ini diterapkan masyarakat sekitar tahun 1800an, menurut
Mamengko(2002) sebelum kedatangan bangsa-bangsa barat di Minahasa, masyarakat
telah membuat rumah yang besar di atas tiang-tiang tinggi besar, rumah dihuni 10-20
keluarga batih. Karakteristik konstruksinya terdiri atas rangka atap, merupakan hasil
gabungan bentuk pelana dan limas, menggunakan struktur kayu atau bambu batangan,
diikat dengan tali ijuk pada rusuk dari bambu/kayu, badan bangunan menggunakan
konstruksi kayu (Balok sebagai Kolom dan Papan sebagi Dinding) dan sistem
sambungan pen, kolong bangunan terdiri dari 16-18 tiang penyangga dari batu dan kayu.
Bahan material kayu yang dipakai pada umumnya diambil dari hutan sekitar
permukiman penduduk, yaitu jenis kayu besi, kayu linggua, jenis kayu cempaka utan atau
pohon wasian/michelia celebia,

jenis kayu nantu/palagium obtusifolium dan kayu

maumbi/artocarpus dayphyla mig (Watuseke, 1995). Kayu besi digunakan untuk tiang,
kayu cempaka untuk dinding dan lantai rumah, kayu nantu untuk rangka atap, namun
masyarakat yang kurang mampu menggunakan bambu petung (bulu/bambu jawa) untuk
tiang, rangka atap dan nibong untuk lantai,untuk dinding dipakai bambu yang dipecah.
Seiring waktu dan kebutuhan akan rumah yang semakin besar disertai semakin
terbatasnya bahan baku kayu melatar belakangi penggantian penggunaan material/bahan
baku rumah, sehingga konsep baru tercetus untuk mengembangkan kayu kelapa sebagai
bahan baku pokok dalam konteks pembangunan rumah panggung (rumah tradisional
Minahasa).

PEMBAHASAN/ANALISIS

KARAKTERISTIK

DAN

PERKEMBANGAN

KONSTRUKSI

RUMAH

TRADISIONAL MINAHASA
Arsitektur rumah tradisional Minahasa seperti halnya rumah tradisional daerah
lain memiliki persamaan dalam konteks ruang dan fungsi. Struktur bangunan terdiri dari
pondasi, yang terdiri dari tiang-tiang batu maupun

kayu, badan bangunan dengan

kombinasi lantai, dinding dan plafon serta strukturatap yang terdiri atas konstruksi
rangka atap dan penutup (seng, genteng, dll). Kolong rumah pada umumnya digunakan
sebagai gudang penyimpanan bahan makanan,kandang hewan maupun tempat kumpul
keluarga maupun masyarakat, sedangkanuntuk bagian atasnya (badan rumah) digunakan

untuk aktifitas keseharian

penghuni. Pada bagian paling atas (atap), sebagian

diperuntukan sebagai ruang penyimpanan bahan-bahan makanan.


Karakteristik konstruksinya:
ATAP
KARAKTERISTIK

Rangka

TIANG

atapnya Kolong

adalah

TIANG (1845-1945)

bangunan Tiang

penyanggah

gabungan terdiri dari 16-18 berukuran lebih kecil

bentuk pelana dan tiang penyangga.

dan lebih pendek, ,

limas.

yaitu sebesar 30/30


80-200 cm atau 40/40 cm.

Ukuran
Atapnya

berupa cm (ukuran dapat

konstruksi
bambu

kayu/ dipeluk

dua Tinggi 1,5-2,5 meter

oleh

batangan orang dewasa).

yang diikat dengan


tali ijuk pada usuk Tinggi tiangnya 3-5
dari bambu.
Badan

cm.

bangunan Tiang tangga terbuat

menggunakan

dari

akar

pohon

konstruksi kayu dan besar atau bambu.


sistem

sambungan

pen.

http://www.indonesiakaya.com/kanal/detail/menyambangi-desa-woloan-markas-pengrajin-rumah-adatminahasa

Gambar 1
Kayu besi dianggap mempunyai struktur yang kuat dan mampu bertahan hingga ratusan
tahun.
Perubahan Fisik Rumah Tradisional Minahasa
Perubahan fisik rumah tradisional Minahasa nampak pada perubahan konstruksi
dan material, sebagai berikut:
1. Perubahan konstruksi atap kasau di Desa Tonsealama menjadi konstruksi atap
peran dengan kuda kuda berdiri, perubahan dilakukan setelah 30-40 tahun
pembangunan ( pada waktu daya tahan kayu menurun sesuai dengan umur
konstruksi kayu).
2. Di Desa Rurukan, masyarakat tetap mempertahankan konstruksi atap rumahnya,
baik dalam bentuk konstruksi atap kasau ataupun atap peran. Rangka badan
rumah tetap, tetapi perubahan nampak pada pengisi konstruksi dinding dan
konstruksi jendela. Perubahan konstruksi dinding terjadi setelah bangunan rumah
berumur 70 tahun. Material konstruksi dinding terpasang horisontal dirubah
dengan memasang secara vertikal (khususnya di Desa Tonsealama). Konstruksi
jendela 2 sayap diubah menjadi jendela kaca nako/ jalusi (di Desa Tonsealama
dan Desa Rurukan). Material konstruksi atap rumbia diganti dengan atap seng.
Perubahan material konstruksi atap di Desa Tonsealama, dilakukan sejak tahun
1920 sampai saat ini, dan di Desa Rurukan perubahan dilakukan sejak 1932
sampai saat ini. Sesuai penuturan penghuni rumah, umur atap rumbia adalah 1015 tahun, dan saat ini material atap rumbia sulit diperoleh dan kualitasnya
menurun karena masa pakainya hanya 1-3 tahun.
Perwujudan bentuk rumah tradisional Minahasa dipercaya terbentuk berdasarkan
pengaruh kultur dan mistik, dimana penghadiran tangga depan dibuat secara
similar/kembar kiri ke kanan atau sebaliknya, dengan kepercayaan bahwa roh jahat yang
naik tangga kiri/kanan akan langsung turun ditangga depannya. Terlepas dari konteks
kultur tradisional yang dalam tersebut, konstruksi rumah terus mengalami perubahan dari
konsep denah untuk penghadiran ruangdan fasadenya seiring dengan perkembangan dan
ketersediaan material seperti yangdijelaskan sebelumnya, perubahan ini terlihat dari
luasan denah yang bervariasi hingga sirkulasi ke dalam rumah lewat tangga yang terletak

didepan. Kebutuhan dan pergerakan manusia yang semakin dinamis menuntut


pencapaian kedalam maupun keluar rumah dibuat sesederhana mungkin namun tetap
menghargai langgam dan tipologi arsitektur bangunan tradisional itu sendiri.

http://4.bp.blogspot.com/QiwlAWPwUg8/UHPjqrUhLnI/AAAAAAAAAWw/sizpZPpg57k/s1600/resize-of-p52600101.jpg

Gambar 2
Rumah Tradisional Minahasa

http://trendrumah.com/assets/photos/rumah-panggung-minahasa3.jpg
Gambar 3
Perubahan Rumah Tradisional Minahasa

Menyikapi hal tersebut, terdapat poin penting dalam pengembangan konstruksi rumah
kayu ini. Perubahan material bahan baku, secara dimensi dan kekuatan kayu, maka
pembangunan

rumah

tradisional

menggunakan

kayu

memicu

pengembangan

konstruksinya. Oleh karena itu perlakuan harus memperhatikan struktur dan

karakteristiknya, dimana produksi rumah kayu Minahasa ini dapat difungsikan juga
sebagai : Villa, Cottage, Bungalow, Restaurant, Gazebo, Kantor, Mess karyawan dan
lain-lain. Konteks fungsi yang berkembang merupakan impactdari karakteristik rumah
kayu yang fleksibel, mudah dalam pemasangan maupun pembongkaran dan tahan
terhadap gempa.
KONSTRUKSI
1. PONDASI
Seperti yang terdapat pada rumah panggung di Indonesia umumnya, bagian pondasi
(kolong) bangunan tetap menggunakan material batu, beton maupun kayu/kayu kelapa
itu sendiri dengan dimensi yang tergantung volume bangunan yang dipikulnya. Takikan
pada pondasi beton bisa digantidengan ikatan tulangan beton tersebut.

Michael O.T Lengkey

Gambar 4
Sambungan kayu pada pondasi
Detail sambungan terlihat jelas, sistem konstruksi knockdown pada bagian pondasi
yang terdiri atas tiga susunan pondasi-balok (sloof)-balok(sloof) tanpa adanya pen atau
paku. Joinini bisa diperlakukan terhadap kayu kelapa dengan minimal telah berusia 10
tahun lebih (tinggi pohon minimal 15 meter) dan berdiameter 18-20 cm. Hal ini untuk
mendapatkan hasil yang terbaik untuk konstruksi rumah bagian bawah.

Michael O.T Lengkey

Gambar 5
Detil sambungan kayu pada pondasi
2. DINDING
Prinsipnya rumah bongkar pasang dengan material kayu apapun berpedoman pada
sambungan kayu tradisional. Rumah kayu sistem bongkar pasang berdasarkan pada
konstruksi rumah kayu tradisional Minahasa, mudah dibongkar dan dipasang. Pada
bagian sambungan tidak terdapat paku sebagai alat sambungnya. Tipe sambungan kayu
yang diaplikasikan hampir mempunyai kemiripan pada semua titik sambungan pada
bagian :
1. Pondasi-kolom-balok (Gambar 6)
2. Sloof, kolom-ring balok-kuda-kuda atap
3. Dinding, sambungan papan, lumbersering pada balok sloof, kolom dan
ring balok.

Michael O.T Lengkey

Gambar 6
Detil sambungan kayu pada kolom

SISTEMATIKA PEMASANGAN
Konteks keutuhan sebuah rumah kayu terdiri dari beberapa segmen yang masing
masing mempunyai ukuran, dimensi dan tipe sambungan. Tata cara pemasangan
dilakukan secara beraturan dengan memperhatikan setiap bidang rumah.
Pemasangan terdiri atas beberapa tahap, yakni ;
1. Titik-titik tiang pondasi/Modul
Titik modul tidak bisa dirubah pada saat penerapan dilokasi, kondisi harus tetap
mengikuti modul dengan penyesuaian topografi tapak.

Michael O.T Lengkey

Gambar 7
Modul titik tiang
2. Tiang pondasi
Pendirian tiang pondasi di atas tit
3. Pondasi-Balok Sloof-Kolom
Pada tahap ini, balok sloof kemudian kolom rumah didudukan kedalam takikan
balok.
4. Dinding
Papan/lumbersering untuk dinding rumah dipasang dengan metode jepitan pada
balok sloof-kolom-ring balok.

Michael O.T Lengkey

Gambar 8
Sambungan pada dinding
5. Kuda-kuda Atap
Kuda-kuda atap dengan kancingan pelat besi dan takikan pada ring balok.
Kancingan/jepitan pelat besi ini untuk menahan gayageser akibat tekanan angin pada
penampang dinding dan atap. Kasau kuda, sambungan ini menggunak memungkinkan
untuk di takik
6. Atap
Atap yang digunakan bermacam-macam tergantung keinginan pemilik.

Pada praktiknya, pemasangan maupun pembongkaran konstruksi memerlukan


pedoman (petunjuk manual) sehingga proses bisa berlangsung baik tanpa merusak kayu.
Dasar pertimbangan ini meninjau ketahanan kayu dan konstruksi rumah itu sendiri,
susunan konstruksi rumah juga tergantung dari sistem pemasangan dan proses
pembongkaran merupakan kebalikan dari proses pemasangan.
Secara detail, dimensi pen kayu pada setiap sambungan berbeda tergantung
dimensi balok, ring maupun kolom. Proses penyuntikan pen ini berlangsung sesuai
pentahapan pemasangan konstruksi bangunan/rumah, demikian pula untuk pengikatan
oleh pelat besi sebagai pengaku strukturyang sebagian besar di pasang pada sambungan
balok sloof atau ring balok yang kurang panjang. Konstruksi kayu secara sempurna

diselesaikan melalui sambungan pen dan lubang, takik, tekan, tarik, tumpu serta kait
(klem besi dengan baut) tanpa menggunakan paku maupun perekat. Modul ukuran kayu
pada era sekarang sangat berbeda

dari produksi kayu sebelumnya, oleh sebab itu

konstruksi bongkar pasang ini perlu mempertimbangkan kematangan kayu yang jelas
sangat berpengaruh terhadap struktur dan daya tahan.

KESIMPULAN
Pelestarian struktur kayu tradisional daerah dengansistem bongkar pasang
merupakan penerapan konsep yang pragmatis dan sistematis bisa dikembangkan melalui
industri rumah kayu. Aplikasi teknologi inidapat lebih mengefisiensikan penggunaan
kayu dan penyederhanaan proses pembangunan rumah. Sistem konstruksi tradisional
rumah kayu yang berada dan bertahan di era moderen kontemporer ini masih relevan
apabila didukung olehteknologi bongkar pasang yang tepat yang mempermudah
pemasangan/pembongkaran tanpa merusak struktur dan tekstur kayu. Dari paparan di
atas, secara empirik

dan eksperimental, rumah kayu tradisional Minahasa mampu

bertahan terhadap gempa dan terlebih sebagai alternatif pemilihan rumah yang bisa
dipertanggungjawabkan meskipun demikian perlakuan terhadap konstruksi rumah perlu
perhatian khusus dalam maintenance.
Prinsip dasar rumah berteknologi ini adalah kesederhanaan struktur, detail
sambungan dan tipe konstruksi yang sistematis.

DAFTAR PUSTAKA

Ari Siswanto, Studi Pengembangan Konstruksi Rumah Kayu Sistem Bongkar Pasang
Berdasarkan Konsep Struktur Kayu Tradisional Sumatera selatan
Michael O.T Lengkey, Teknologi Knock Down, Aplikasi pada Konstruksi Rumah Kayu
Tradisional di Minahasa
https://id.wikipedia.org/wiki/Minahasa diakses pada tanggal 31 Desember 2015 pukul
15.30
http://indonetwork.co.id/rumahkayu_co/profile/rumah-kayu.htm diakses pada tanggal 31
Desember 2015 pukul 16.00

http://www.indonesiakaya.com/kanal/detail/menyambangi-desa-woloan-markaspengrajin-rumah-adat-minahasa diakses pada tanggal 31 Desember 2015 pukul 16.00