Anda di halaman 1dari 37

LABORATORIUM

LAPORAN RESMI
SISTEMPRAKTIKUM
TELEKOMUNIKASI
D
TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS UDAYANA

NAMA
NIM
KELOMPOK

:
:
:

PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS UDAYANA
2015

LABORATORIUM
SISTEM TELEKOMUNIKASI
TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS UDAYANA

PERCOBAAN II
MODULASI FREKUENSI

Nama Asisten:
NIM
:
Tanggal Pratikum :

PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS UDAYANA
2015

PERCOBAAN II

MODULASI FREKUENSI
2.1

Tujuan

1.

Dapat memahami dan membentuk gelombang yang termodulasi FM.

2.

Memahami pengaruh tegangan input terhadap output modulator.

3.

Mengamati dan menganalisa sinyal termodulasi oleh sinyal sinusoida.

2.2

Peralatan

1.

Kabel connector

2.

Modul card FM

3.

Personal Computer

2.3

Dasar Teori
Modulasi adalah proses perubahan (varying) suatu gelombang periodik

sehingga menjadikan suatu sinyal yang mampu membawa suatu informasi.


Modulasi adalah suatu proses pencampuran dua sinyal menjadi satu sinyal.
Biasanya sinyal yang dicampur adalah sinyal berfrekuensi tinggi dan sinyal
berfrekuensi rendah.Dengan memanfaatkan masing-masing sinyal, maka modulasi
dapat digunakan untuk mentransmisikan sinyal informasi pada daerah yang luas
dan jauh. Sebagai contoh sinyal informasi (suara, gambar,dan data), agar dapat
dikirim ke tempat lain, sinyal tersebut harus ditumpangkan pada sinyal lain.
Dalam konteks radio siaran, sinyal yang menumpang adalah sinyal suara,
sedangkan yang ditumpangi adalah sinyal radio yang disebut sinyal pembawa
(carrier). Jenis dan cara digital. Penumpangan sinyal suara juga akan berbeda
dengan penumpangan sinyal gambar, sinyal film, atau sinyal yang lain.

Dengan proses modulasi, suatu informasi (biasanya berfrekuensi rendah)


bisa dimasukkan ke dalam suatu gelombang pembawa, biasanya berupa
gelombang sinus berfrekuensi tinggi. Terdapat tiga parameter kunci pada suatu
gelombang sinusoidal yaitu amplitudo, fase dan frekuensi.Ketiga parameter
tersebut dapat dimodifikasi sesuai dengan sinyal informasi (berfrekuensi rendah)
untuk membentuk sinyal yang termodulasi.
Peralatan yang digunakan untuk melaksanakan proses modulasi adalah
modulator, sedangkan peralatan untuk memperoleh informasi awal (kebalikan dari
proses modulasi) disebut demodulator dan peralatan yang melaksanakan kedua
proses tersebut disebut modem.
2.3.1 Tujuan Modulasi
1. Transmisi menjadi efisien atau memudahkan pemancaran.
2. Masalah perangkat keras menjadi lebih mudah.
3. Menekan derau atau interferensi.
4. Untuk memudahkan pengaturan alokasi frekuensi radio.
5. Untuk multiplexing, proses penggabungan beberapa sinyal informasi
untuk disalurkan secara bersama-sama melalui satu kanal transmisi.
Sinyal informasi biasanya memiliki spektrum yang rendah dan rentan untuk
tergangu oleh noise.Sedangkan pada transmisi dibutuhkan sinyal yang memiliki
spektrum tinggi dan dibutuhkan modulasi untuk memindahkan posisi spektrum
dari sinyal data, dari pita spektrum yang rendah ke spektrum yang jauh lebih
tinggi.
2.3.2 Gelombang pembawa berbentuk sinusoidal
c(t) = Ac cos(2 fct + c ... (2.1)
Parameter parameter dari gelombang tersebut yang dapat dimodulasi adalah :
1. Amplitudo, Ac untuk modulasi amplitudo
2. Frekuensi, fc atau c = 2 fc t untuk modulasi frekuensi
3. Phasa, c untuk modulasi fasa.

2.3.3 Jenis-jenis modulasi


Informasi yang dikirim bisa berupa data analog maupun digital sehingga
terdapat dua jenis modulasi yaitu:
1. Modulasi Analaog
2. Modulasi Digital
2.3.3.1 Modulasi Analog
Dalam modulasi analog, proses modulasi merupakan respon atas informasi
sinyal analog.
Teknik umum yang dipakai dalam modulasi analog :
1. Amplitude modulation (AM)
2. Frequency modulation (FM)
3. Pulse Amplitude Modulation (PAM)
2.3.3.2 Modulasi Digital
Teknik modulasi digital pada prinsipnya merupakan variant dari metode
modulasi analog.
Teknik modulasi digital :
1. Amplitude shift keying (ASK)
2. Frequency shift keying (FSK)
3. Phase shift keying (PSK)

2.3.3.3 Perbedaan Modulasi Analog danDigital


Perbedaan mendasar antara modulasi analog dan modulasi digital teletak
pada bentuk sinyal informasinya.Pada modulasi analog, sinyal informasinya
berbentuk analog dan sinyal pembawanya analog. Sedangkan pada modulasi
digital, sinyal informasinya berbentuk digital dan sinyal pembawanya analog.
Perbedaan utama antara modulasi digital dan modulasi analog adalah
pesan yang ditransmisikan untuk system modulasi digital mewakili seperangkat
simbol-simbol abstrak. (misalnya 0 s dan I s untuk system transmisi biner),
sedangkan dalam system modulasi analog, sinyal pesan adalah kontinyu. Untuk
mengirim pesan digital, modulasi digital mengalokasikan sepotong waktu yang
disebut interval sinyal dan menghasilkan fungsi kontinyu yang mewakili symbol.
2.3.3.4 Modulasi Frekuensi
Modulasi merupakan suatu proses dimana informasi, baik berupa sinyal
audio, video ataupun data diubah menjadi sinyal dengan frekuensi tinggi sebelum
dikirim-kan. Salah satu jenis modulasi yang ada yaitu adalah modulasi frekuensi.
Pada modulasi frekuensi, frekuensi dari gelombang pembawa (carrier wave)
diubah menurut besarnya amplitudo dari sinyal informasi. Karena noise pada
umumnya terjadi dalam bentuk perubahan amplitudo, FM lebih tahan terhadap
noise dibandingkan dengan AM.Bandwith sinyal FM lebih besar dibandingkan
sinyal AM. Modulasi FM merupakan modulasi analog yang sangat banyak
digunakan, hal ini dikarenakan noise yang rendah, tahan terhadap perubahan
amplitudo yang berubah-ubah sebagai akibat fading. Fading adalah gangguan
saluran transmisi, terutama pada sistem gelombang mikro ketika sinyal-sinyal
yang dikirim melalui berbagai jalur ke penerima mengalami perubahan karena
kondisi atmosfir.

Gambar 2.1 Modulasi Frekuensi

Dari gambar di atas terlihat bahwa frekuensi dari sinyal hasil modulasi
akan berkurang pada saat aplitudo sinyal informasinya bergerak menurun, dan
demikian sebaliknya. Sehingga frekuensi minimum pada sinyal hasil modulasi ini
akan terjadi pada saat amplitudonya minimum dan frekuensi maksimum akan
terjadi pada saat aplitudo sinyal informasinya juga berada pada titik maksimum.
Jika dibandingkan dengan modulasi AM (Modulasi Amplitudo), sinyal
hasil modulasi FM akan lebih tahan terhadap noise . Hal ini karena noise akan
mempengaruhi perubahan amplitudo sinyal, sedangkan dalam FM amplitudo
sinyal hasil modulasinya tidak berubah-ubah.

Gambar 2.2(a) Sinyal pembawa (b) Sinyal pemodulasi(c) Sinyal termodulasi FM

Pada gambar 2.2 diatas mengilustrasikan modulasi frekuensi sinyal


pembawa sinussoidal dengan menggunakan sinyal pemodulasi yang juga
berbentuk sinyal sinussoidal. Secara sistematis, sinyal termodulasi FM dapat
dinyatakan dengan :
eFM = Vc sin ( c t + mf sin m t ) . (2.2)
keterangan :
eFM

sinyal termodulasi FM

em

sinyal pemodulasi

ec

sinyal pembawa

Vc

amplitudo maksimum sinyal pembawa

mf

indeks modulasi FM

: frekuensi sudut sinyal pembawa (radian/detik)

frekuensi sudut sinyal pemodulasi(radian/detik)

2.3.3.5 Spektrum Frekuensi


Spektrum Frekuensi adalah susunan pita frekuensi yang mempunyai
frekuensi

lebih kecil dari 3000 GHz sebagai satuan getaran gelombang

elektromagnetik yang merambat dan terdapat dalam ruang udara. Pengalokasian


spektrum frekuensi di Indonesia mengacu kepada alokasi frekuensi radio

internasional sesuai dengan peraturan radio yang ditetapkan oleh International


Telecommunication Union (ITU) atau Himpunan Telekomunikasi Internasional.
Penepatan jalur atau spektrum frekuensi radio yang menentukan kegunaannya ini
bertujuan untuk menghindari terjadinya gangguan (interference) dan untuk
menetapkan protokol agar antara pemancar dan penerima dapat bertukar informasi
secara efektif.

Berikut ini adalah tabel alokasi spektrum frekuensi radio internasional


yang ditetapkan berdasarkan penentuan penggunaannya:
Tabel 2.1 alokasi spektrum frekuensi radio internasional

Nama Band
(Jalur)
Tremendously
low frequency
Extremely
Low
Frequency

Singkat
an

Frekuen
si

Panjang
Gelomba
ng

ULF

30 300
Hz
300
3.000 Hz

>100.000
km
10.000
100.000
km
1.000
10.000
km
100
1.000 km

Very Low
Frequency

VLF

3 30
kHz

10 100
km

Low
Frequency

LF

30300
kHz

1 10 km

Super Low
Frequency
Ultra Low
Frequency

TLF

< 3Hz

ELF

3 30 Hz

SLF

Penggunaan
Natural
Electromagnetic
Noise
Submarines
Submarines
Submarines,
mines
Navigation, time
signal,
Submarines,
heart rate
monitor
Navigation, time
signal, Radio AM
(long wave),
RFID

Medium
frequency

MF

300
3.000
kHz

100
1.000 m

High
Frequency

HF

3 30
MHz

10 100
m

Very High
Frequency

VHF

30 300
MHz

1 10 m

Ultra High
Frequency

UHF

300
3.000
MHz

10 100
cm

Super High
Frequency

SHF

3 30
GHz

1 10 cm

Extremely
High
Frequency

EHF

30 300
GHz

1 10
mm

THF

300
3.000
GHz

0.1 1
mm

Tremendously
High
Frequency

Radio AM
(medium wave)
Short wave
Broadcast, RFID,
radar, Marine
and Mobile radio
telephony
Radio FM,
Television,
Mobile
Communication,
Weather Radio
Television,
Microwave
device /
communications
, mobile phones,
wireless LAN,
Bluetooth, GPS,
FRS/GMRS
Microwave
device /
communications
, wireless LAN,
radars,
Satellites, DBS
High Frequency
Microwave,
Radio relay,
Microwave
remote sensing
Terahertz
Imagin,
Molecular
dynamics,
spectroscopy,
computing/com
munications,
sub-mm remote
sensing.

Lebar bandwidth sinyal FM adalah tak berhingga. Namun pada praktek biasanya
hanya diambil bandwith dari jumlah sideband yang signifikan. Jumlah sideband
signifikan ditentukan oleh besar indeks modulasinya seperti dalam fungsi tabel
besel berikut.

Tabel 2.2 Tabel Besel

Ji : nilai amplituda komponen frekuensi sideband ke i (i0)


Jo : nilai amplituda komponen frekuensi sinyal pembawa (bukan sideband)
= mf : indeks modulasi
Lebar bandwidth pada modulasi FM dapat ditentukan menggunakan teorema
carson sebagai berikut :
.....(2.3)
2.3.3.6 Bandwidth
Bandwidth adalah nilai hitung atau perhitungan konsumsi transfer data
telekomunikasi yang dihitung dalam satuan bit per detik atau yang biasa disingkat
bps yang terjadi antara komputer server dan komputer client dalam waktu tertentu
dalam sebuah jaringan komputer. Bandwidth sendiri akan dialokasikan ke
komputer dalam jaringan dan akan mempengaruhi kecepatan transfer data pada
jaringan komputer tersebut sehingga semakin besar Bandwidth pada jaringan
komputer maka semakin cepat pula kecepatan transfer data yang dapat dilakukan
oleh client maupun server. Besarnya saluran bandwidth akan berdampak pada
kecepatan transmisi. Data dalam jumlah besar akan menempuh saluran yang
memiliki bandwidth kecil lebih lama dibandingkan melewati saluran yang
memiliki bandwidth yang besar. Kecepatan transmisi tersebut sangat dibutuhkan
untuk aplikasi komputer yang memerlukan jaringan terutama aplikasi real-time,
seperti video conferencing. Penggunaan bandwidth untuk LAN bergantung pada
tipe alat atau media yang digunakan, umumnya semakin tinggi bandwidth yang
ditawarkan oleh sebuah alat atau media maka semakin tinggi pula nilai jualnya.

Adapun persamaan yang digunakan untuk mencari nilai bandwidth adalah


sebagai berikut:
Bandwidth = 2 FM (M + 1).(2.4)
Dimana pada persamaan diatas terdapat komponen sinyal FM dan indeks
modulasi. Indeks modulasi berpengaruh pada spektrum modulasi yaitu semakin
besar indeks modulasi menyebabkan komponen amplitudo spektrum pada
frekuensi carrier berkurang.

2.4

Langkah-Langkah Percobaan

2.4.1

Prinsip dari Frekuensi Modulasi

1. Siapkan

board

experimenter,

kemudian

masukan

card

modulator/demodulator.

Gambar 2.3 Board Experiment

2. Hubungkan A-, B- dan ground terminal ke FM modulator ke ground


terminal dibawah Analog Out.

FM

Gambar 2.4 Langkah 2

3. Hubungkan B+ ke S di bawah Analog Out.

Gambar 2.5 Langkah 3

4.

Hubungkan A+ ke FMout pada FM modulator

Gambar 2.6 Langkah 4

5.

Hubungkan S ke LFin pada FM modulator

Gambar 2.7 Langkah 5

6. Atur sinyal carrier 120 KHz pada FM Modulator yang ditunjukkan


dengan frecuency dan fine tuning pada potensiometer. Gunakanlah
osilloscope untuk menyeimbangkan.

7.

Pengaturan pada osilloscope :


Tabel 2. 3 Pengaturan pada Osilloscope

Intruments

Oscilloscope

Time base

2 s/ div

Channel A :

2 V/div, AC

Channel B :

Off

Trigger :

Channel A

8. Dengan menggunakan fungsi generator, atur sinyal dengan frekuensi 10


KHz dan amplitudonya 2 Vpp, Arahkan sinyal ke input LFin.
Tabel 2.4 Fungsi generator

Function generator settings


Mode

SINE

Amplitudo

1:1, 10% (approx.2 Vpp)

Frequency

10 kHz

Gambar 2.8 Langkah 8

9. Tampilan dari Osilloscope seperti berikut :


Tabel 2.5 Tampilan Osilloscope

Intruments

Oscilloscope

Time base

10 s/ div

Channel A :

2 V/div, AC

Channel B :

500 mV/ div DC

Trigger :

Channel B

10. Ukur sinyal output dari modulator dengan oscilloscope channel A dan
sinyal low-frequency pada channel B. Salin hasilnya pada gambar seperti
berikut :

Gambar 2.9 Hasil Pengukuran

2.4.2

Spektrum Frekuensi Modulasi

1. Gunakan pengaturan pada percobaan sebelumnya.

Gambar 2.10 Percobaan Prinsip Frekuensi Modulasi

2. Fungsi generator dibuka dan atur seperti berikut :


Tabel 2.6 Fungsi generator

Function generator settings


Mode

SINE

Amplitudo

1:1, 30% (approx. 0.7 Vpp)

Frequency

5 kHz

Gambar 2.11 Pengaturan fungsi generator

3. Buka Spectrum Analyzer dan atur parameter.

Tabel 2.7 Parameter Spectrum Analyzer

Intrument

Spectrum Analyzer

Channel

A, 50 V, DC

Values

4001

Time Factor

80

X-axis

50-180 kHz

Y-axis

0-2 V

4. Ukur spektrum dari sinyal yang termodulasi dengan frekuensi 5, 10, 15


KHz dan salin hasilnya pada gambar berikut :

Gambar 2.12 Hasil Pengukuran

2.4.3

Demodulasi Frekuensi Modulasi

1. Hubungkan A- dan B- ke FM modulator dibawah analog out

Gambar 2.13 Langkah (a)

2. Hubungkan FMout ke FMin

Gambar 2.14 Langkah (b)

3. Hubungkan A+ ke FMout

Gambar 2.15 Langkah (c)

4. Hubungkan S ke NFin pada FM Modulator

Gambar 2.16 Langkah (d)

5. Dengan fungsi generator atur sinyal degan frekuensi 5 kHz dengan


amplitudo 2 Vpp, sambung dengan input LFin
Tabel 2.8 Fungsi generator

Function generator settings


Mode

SINE

Amplitudo

1:1, 30% (approx. 0.7 Vpp)

Frequency

5 kHz

Gambar 2.17 Langkah (e)

6.

Atur parameternya seperti berikut :


Tabel 2.9 Parameter

Intruments
Time base
Channel A :
Channel B :
Trigger :

7.

Oscilloscope
20 s/ div
2 V/div, AC
200 mV / div DC
Channel B

Ukur sinyal output dari modulator pada oscilloscope pada channel A


dan sinyal yang masuk demodulator pada channel B, salin hasil di
bawah ini

Gambar 2.18 Hasil Pengukuran

2.5

Gambar dan Data Hasil Percobaan

2.5.1

Sinyal Carrier

Berikut adalah gambar hasil percobaan yang menampilkan bentuk sinyal


carrier pada frekuensi 85 KHz

Gambar 2.19 Sinyal Carrier Yang Terbentuk Pada Frekuensi 100 KHz

Parameter :
Frekuensi

= 85 KHz

Peak to Peak = 12 V
Amplitudo

=6V

2.5.2 Sinyal Informasi


Berikut adalah gambar hasil percobaan yang menampilkan bentuk sinyal
informasi pada frekuensi 10 KHz

Gambar 2.20 Sinyal Informasi Yang Terbentuk Pada Frekuensi 10 KHz

Parameter :
Frekuensi

= 10 KHz

Peak to Peak = 3 V
Amplitudo

=1,5 V

2.5.3

Sinyal Termodulasi FM
Berikut adalah gambar hasil percobaan yang menampilkan bentuk sinyal

termodulasi FM pada frekuensi 20 KHz

Gambar 2.21 Sinyal Carrier (Merah) dan Sinyal Informasi (Biru) dengan
Frekuensi 20 KHz Yang Diatur Pada Function Generator

2.5.4

Spektrum Frekuensi Modulasi 5 KHz


Berikut adalah gambar hasil percobaan yang menampilkan bentuk

spektrum frekuensi modulasi 5 KHz

Gambar 2.22 Spektrum Sinyal Modulasi dengan Frekuensi 5 KHz

2.5.5

Spektrum Frekuensi Modulasi 10 KHz

Berikut adalah gambar hasil percobaan yang menampilkan bentuk


spektrum frekuensi modulasi 10 KHz

Gambar 2.23 Spektrum Sinyal Modulasi dengan Frekuensi 10 KHz

2.5.6 Spektrum Frekuensi Modulasi 15 KHz


Berikut adalah gambar hasil percobaan yang menampilkan bentuk
spektrum frekuensi modulasi 15 KHz

Gambar 2.24 Spektrum Sinyal Modulasi dengan Frekuensi 15 KHz

2.5.6

Sinyal Demodulasi FM

Berikut adalah gambar hasil percobaan yang menampilkan bentuk sinyal


demodulasi FM

Gambar 2.25 Sinyal Demodulasi

2.6

Analisa Hasil Percobaan Frekuensi Modulasi


Berikut adalah analisis data terhadap hasil percobaan modulasi frekuensi

2.6.1

Karakteristik Sinyal Carrier dan Sinyal Informasi


Berdasarkan hasil percobaan, diperoleh tampilan sinyal carrier dan sinyal

informasi sebagai berikut

Gambar 2.26 Sinyal Carrier

Gambar 2.27 Sinyal Informasi

Pada gambar 2.26 dan 2.27 dapat dilihat bahwa tampilan sinyal carrier
diatur dalam frekuensi yang besar, terlihat dari tampilan sinyal yang lebih rapat.
Kerapatan suatu sinyal dipengaruhi oleh besar kecilnya frekuensi. Frekuensi
sinyal carrier yang diatur pada FM modulator yaitu sebesar 85 KHz, dengan
menggunakan pengaturan osilloscope pada tabel 2.1. Dari kedua gambar diatas,

perbedaan sinyal carrier dan sinyal informasi terletak pada frekuensinya. Sinyal
informasi memiliki frekuensi yang lebih kecil jika dilihat dari kerapatan sinyalnya
dibandingkan sinyal carrier. Sehingga sesuai dengan prinsip modulasi sinyal yang
memiliki frekuensi lebih kecil yaitu sinyal informasi ditumpangkan ke sinyal yang
memiliki frekuensi yang lebih besar yaitu sinyal carrier.

2.6.2

Analisa Karakteristik Sinyal Termodulasi FM


Berdasarkan hasil percobaan, diperoleh tampilan sinyal termodulasi

sebagai berikut

Gambar 2.28 Sinyal Termodulasi

Pada gambar 2.28 dapat dilihat bahwa sinyal yang telah termodulasi FM
mempunyai frekuensi sinyal yang telah disesuaikan dengan amplitudo sinyal
informasi. Sehingga pada gambar 2.28 terlihat sinyal termodulasi memiliki
kerapatan sinyal yang beragam karena disesuaikan dengan sinyal informasinya.
Dapat dilihat pada gambar diatas, jika amplitudo maksimal maka kerapatan sinyal
lebih renggang yang berarti frekuensi kecil dan jika amplitudo minimal maka
kerapatan sinyal lebih rapat yang berarti frekuensi besar. Hal ini menunjukkan
bahwa terdapat pengaruh dari sinyal informasi yang disisipi ke sinyal carrier.
Namun hasil percobaan menunjukkan data yang berbeda dengan teori yang ada,

dimana pada teori dijelaskan bahwa jika amplitudo maksimal maka kerapatan
frekuensi makin rapat yang berarti frekuensi tinggi dan jika amplitudo minimal
maka kerapatan frekuensi menjadi renggang yang berarti frekuensi kecil.

2.6.3

Analisa Spektrum Frekuensi Sinyal Modulasi


Spektrum merupakan rentang frekuensi. Pada spektrum frekuensi

modulasi terdapat sinyal carrier dan sideband. Titik amplitudo maksimum pada
spektrum menunjukkan sinyal carrier, sedangkan sisi samping dari sinyal carrier
menunjukkan sideband. Setiap proses modulasi menghasilkan sideband. Sideband
adalah penjumlah dan selisih dari pembawa dengan frekuensi modulasi, jumlah
dan selisih frekuensi sidebands yang dihasilkan sama. Sebagai amplitudo dari
sinyal modulasi bervariasi, tentu saja, deviasi frekuensi akan berubah. Jumlah
sideband dihasilkan amplitudo dan jarak mereka tergantung pada deviasi
frekuensi dan frekuensi modulasi. Perlu diingat bahwa sinyal FM konstan dengan
amplitudo. Jika sinyal FM adalah penjumlahan dari frekuensi sideband, maka
dapat melihat bahwa amplitudo sideband harus bervariasi dengan deviasi
frekuensi dan frekuensi modulasi jika jumlah mereka adalah untuk menghasilkan
sinyal amplitudo tetap dan FM. Meskipun proses FM menghasilkan jumlah nilai
sideband atas dan bawah tak terbatas , hanya mereka dengan amplitudo terbesar
yang signifikan dalam membawa informasi. Biasanya setiap sideband yang
amplitudonya kurang dari 1 persen dari pembawa tidak dimodulasikan dan
dianggap tidak signifikan. Akibatnya, hal ini jelas mempersempit bandwidth
sinyal FM.
Untuk menghitung bandwidth dari sinyal FM dapat dirumuskan dengan
persamaan (2.3)
Bandwidth = 2 FM (M + 1)
Berdasarkan hasil percobaan yang diperoleh, dapat dilihat tampilan
spektrum frekuensi dengan frekuensi 5 KHz, 10 KHz, dan 15 KHz pada gambar
berikut:

Gambar 2.29 Spektrum Sinyal Modulasi dengan Frekuensi 5 KHz

Gambar 2.29 merupakan gambar spektrum sinyal modulasi FM dengan


frekuensi 5 KHz. Dimana spektrum sinyal modulasi FM diatas memiliki indeks
modulasi sebesar 2,5 dan didapatkan bandwith sebesar 35 KHz.

Gambar 2.30 Spektrum Sinyal Modulasi dengan Frekuensi 10 KHz

Gambar 2.30 merupakan gambar spektrum sinyal modulasi FM dengan


frekuensi 10 KHz. Dimana spektrum sinyal modulasi FM diatas memiliki indeks
modulasi sebesar 1 dan didapatkan bandwith sebesar 40 KHz.

Gambar 2.31 Spektrum Sinyal Modulasi dengan Frekuensi 15 KHz

Gambar 2.31 merupakan gambar spektrum sinyal modulasi FM dengan


frekuensi 15 KHz. Dimana spektrum sinyal modulasi FM diatas memiliki indeks
modulasi sebesar 0.5 dan didapatkan bandwith sebesar 45 KHz berdasarkan
persamaan 2.3.
Berikut adalah gambar perbandingan dari spektrum frekuensi dengan
frekuensi 5 KHz, 10 KHz, dan 15 KHz

(a)

(b)

(c)
Gambar 2.32 (a) Spektrum Sinyal Modulasi dengan frekuensi 5 KHz, (b) Spektrum Sinyal
Modulasi dengan frekuensi 10 KHz, (c) Spektrum Sinyal Modulasi dengan
frekuensi 15 KHz

Dari ketiga gambar spektrum diatas dapat dilihat bahwa pada sinyal yang
termodulasi dengan frekuensi 15 KHz memiliki bandwidth yang lebih besar yaitu
45 KHz dibandingkan sinyal termodulasi dengan frekuensi 10 KHz yang memiliki
bandwidth 40 KHz dan frekuensi 5 KHz yang memiliki bandwidth 35 KHz.
Bandwidth memiliki komponen yang disebut spektrum. Dari ketiga gambar
tersebut amplitudo tertinggi terdapat pada sinyal dengan frekuensi 15 KHz.
Dari data yang ada dapat juga dianalisis pengaruh perubahan domain
frekuensi terhadap spectrum yaitu berubahnya bandwidth sinyal. Seperti terlihat
pada gambar 2.32 (a) Bandwidth sinyalnya 70 kHz sampai dengan 100 kHz. Pada
gmabar 2.32 (b) Bandwidth sinyalnya dari 65 kHz sampai dengan 115 kHz. Dan
pada gambar 2.32 (c) Bandwidth sinyalnya dari 70 kHz sampai dengan 100 kHz.
Dapat disimpulkan bahwa perubahan domain

frekuensi pada spectrum dapat

mempengaruhi besar kecilnya amplitudo yang ditransmisikan. Semakin besar


domain frekuensi makan semakin besar pula amplitudo maksimum yang dapat
dicapai. Dan semakin besar frekuensi maka makin besar pula lebar sideband.

2.6.4

Analisis Karakteristik Sinyal Demodulasi


Berdasarkan hasil percobaan yang diperoleh, dapat dilihat tampilan sinyal

demodulasi FM pada gambar berikut

Gambar 2.33 Sinyal Demodulasi

Perbedaan sinyal informasi dengan sinyal demodulasi yaitu dapat dilihat


dari bentuk gelombangnya, pada gambar 2.33 gelombang atas menunjukan sinyal
informasi yang berbentuk gelombang sinus, sedangkan gelombang pada bagian
bawah menunjukan sinyal demodulasi berbentuk gelombang sinus juga tetapi
tidak beraturan, hal ini disebabkan oleh adanya noise pada sinyal informasi. Noise
merupakan simyal yang kita tidak inginkan karena noise dapat menurunkan
kualitas sinyal. Noise yang muncul merupakan jenis noise intermodulation. Noise
intermodulation dapat muncul akibat dari gejala intermodulation. Dimana apabila
sinyal dengan frekuensi berbeda lalu secara bersama-sama menggunakan media
transmisi yang sama maka akan menghasilkan frekuensi tertentu

dengan

penjumlahan dari dua frekuensi asalnya, sehingga hal ini akan menimbulkan
noise, yang muncul akibat transmitter, receiver atau sistem transmisi tidak selaras.

2.7 Simpulan
Berdasarkan analisis hasil percobaan yang telah dipaparkan, dapat
disimpulkan bahwa :
1 . Perbedaan sinyal carrier dan sinyal informasi terletak pada frekuensinya.
Sinyal informasi memiliki frekuensi yang lebih kecil jika dilihat dari
kerapatan sinyalnya dibandingkan sinyal carrier.
2. Sinyal termodulasi memiliki kerapatan sinyal yang beragam karena
disesuaikan dengan sinyal informasinya tergantung sinyal informasinya.
saat amplitudo maksimal maka kerapatan sinyal lebih renggang yang
berarti frekuensi kecil dan jika amplitudo minimal maka kerapatan sinyal
lebih rapat yang berarti frekuensi besar.
3.

Sinyal yang termodulasi dengan frekuensi yang lebih besar memiliki


bandwidth yang lebih besar dibandingkan sinyal termodulasi dengan
frekuensi lebih kecil. Selain itu, dapat disimpulkan juga

bahwa

perubahan domain frekuensi pada spectrum dapat mempengaruhi besar


kecilnya amplitudo yang ditransmisikan. Semakin besar domain
frekuensi makan semakin besar pula amplitudo maksimum yang dapat
dicapai.
4. Setiap proses modulasi menghasilkan sideband. Sideband adalah
penjumlah dan selisih dari pembawa dengan frekuensi modulasi, jumlah
dan selisih frekuensi sidebands yang dihasilkan sama. Semakin besar
domain frekuensi makan semakin besar pula amplitudo maksimum yang
dapat dicapai. Dan semakin besar frekuensi maka makin besar pula lebar
sideband.

5.

Bentuk sinyal pada sinyal informasi sebelum modulasi lebih halus


dibandingkan dengan sinyal informasi setelah proses demodulasi.
Perbedaan bentuk sinyal ini dipengaruhi oleh noise yang berpengaruh
pada bentuk sinyal informasi setelah proses demodulasi yang membuat
bentuk sinyal menjadi tidak beraturan. Hal ini disebabkan oleh adanya
noise pada sinyal informasi. Noise merupakan simyal yang kita tidak
inginkan karena noise dapat menurunkan kualitas sinyal. Noise yang
muncul merupakan jenis noise intermodulation

DAFTAR PUSTAKA
Adityaroyandi, Muhamad. 2014. Diakses pada tanggal 30 Mei 2015
http://muhamadadityaroyandi.blogspot.com/p/modulasi.html
Anonim. 2012. FM. Diakses pada tanggal 25Mei 2015
http://tutorial-mj.blogspot.com/2012/12/pengertian-bandwidth.html
Kho, Dickson. 2014. Diakses pada tanggal 27 Mei 2015
http://teknikelektronika.com/pengertian-spektrum-frekuensi-radiopengalokasiannya/
Adi,Purwadi. 2014. Penerapan modulasi pada komunikasi data. Universitas
Indraprasta PGRI

Anda mungkin juga menyukai