Anda di halaman 1dari 7

KAJIAN PENGEMBANGAN KAWASAN

AGROPOLITAN SEROJA KABUPATEN


LUMAJANG
PERENCANAAN WILAYAH

BELLA SHINTYA PUTRI ARIYANI 3613100074

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

CRITICAL REVIEW PERENCANAAN WILAYAH


KAJIAN PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN SEROJA KABUPATEN
LUMAJANG
Theodorik Rizal Manik, Dimas Wisnu Adrianto, Aris Subagiyo
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Introduction
Penelitian ini ditulis oleh Theodorik Rizal Manik, Dimas Wisnu Adrianto, dan Aris Subagiyo,
dari Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Malang.
Dalam jurnal ini akan membahas, mengenai identifikasi karakteristik Kawasan Agropolitan
Seroja di Kabupaten Lumajang, perkembangan kawasan Agropolitan Seroja, serta strategi
dan arahan pengembangan Kawasan Agropolitan Seroja di Kabupaten Lumajang.
Wilayah dalam UU No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang memiliki definisi sebagai
ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait yang batas dan
sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan/atau aspek fungsional. Pada
dasarnya pembangunan wilayah memiliki tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat, serta pemerataan pembangunan diseluruh wilayah yang ada di daerah tersebut.
Namun pada kenyataannya pembangunan wilayah saat ini tidak merata dan sering terjadi
ketimpangan pada satu wilayah dan lainnya. Pembangunan wilayah yang selama ini
dilakukan cenderung lebih mengarahkan aktivitas pembangunan ke kawasan perkotaan
(urban bias). Untuk mengatasi permasalahan urban bias tersebut, para ahli pengembangan
wilayah

mengemukakan

konsep

pembangunan

wilayah

yang

memfokuskan

pada

pengembangan kota-kota kecil yang berbasis pertanian, yang kemudian dikenal dengan
konsep agropolitan. Konsep agropolitan sendiri muncul karena adanya permasalahan
ketimpangan pembangunan wilyah antara kota sebagai pusat kegiatan dan pertumbuhan
ekonomi, dengan wilayah perdesaan sebagai pusat kegiatan pertanian tertinggal (Pranoto,
2005).
Tujuan dari konsep agropolitan adalah menciptakan cities in the field dengan memasukkan
beberapa unsur penting dari gaya hidup kota ke dalam daerah perdesaan yang mempunyai
ukuran tertentu (Friedman, 1996). Konsep agropolitan sendiri merupakan gagasan yang baru
diperkenalkan di Indonesia pada tahun 2002. Agropolitan menjadi sangat relevan dengan
wilayah perdesaan karena pada umumnya sektor pertanian dan pengelolaan sumberdaya
alam memang merupakan mata pencaharian sebagian besar masyarakat perdesaan.
Kabupaten Lumajang merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang memiliki
potensi untuk menerapkan konsep agropolitan dalam pembangunan wilayahnya. Kabupaten
Lumajang menetapkan kawasan pengembangan agropolitan yang diarahkan pada Kawasan
Agropolitan Seroja yang terdiri dari 8 desa. Dalam RTRW Kabupaten Lumajang tahun 2008-

2028, Kawasan Agropolitan Seroja ditetapkan sebagai kawasan strategis pengembangan


ekonomi.
Summary
Penelitian tentang Kajian Pengembangan Kawasan Agropolitan Seroja Kabupaten
Lumajang ini termasuk ke dalam penelitian perkembangan (development), Penelitian
perkembangan

merupakan

penelitian

yang

dilakukan

untuk

mengetahui

tingkat

perkembangan suatu objek penelitian dari awal sampai akhir. Kawasan Agropolitan Seroja
merupakan kawasan agropolitan yang terletak di Kecamatan Senduro dan Kecamatan
Pasrujambe, terdiri dari 8 desa, yaitu Desa Senduro, Desa Kandang Tepus, Desa Kandangan,
Desa Burno, Desa Agrosari, Desa Jambekumbu, Desa Pasrujambe, dan Desa Jambearum.
Kawasan ini terletak di Pegunungan Bromo Tengger Semeru pada ketinggian antara 400
2000 meter dpl. Memiliki luas sebesar 25.061,28 ha, dengan dominasi penggunaan lahannya
berupa hutan dengan luasan mencapai 9.084,73 ha, kawasan pertanian baik sawah, ladang,
atau perkebunan memiliki luasan mencapai 7.920,26 ha.
Dari analisis kebijakan pengembangan Kawasan Agropolitan seroja didukung oleh
pemerintah melalui RTRW Kabupaten Lumajang tahun 2008 2028 tentang penetapan
kawasan ekonomi strategis. Namun kebijakan dalam menetapkan komoditas unggulan perlu
ditinjau ulang dengan menggunakan analisis LQ, analisis growth share, dan analisis
kesesuaian lahan terhadap komoditas.
Suatu wilayah dapat dikembangkan menjadi suatu agropolitan harus dapat memenuhi
persyaratan, salah satunya adalah memiliki komoditi pertanian khususnya pangan, yang
dapat dipasarkan atau tekah mempunyai pasar yang disebut komoditas unggulan.
Dalam jurnal ini analisis komoditas unggulan di lakukan dengan menggunakan Analisis LQ
dan Analisis Growth Share. Terdapat 3 komoditas unggulan yang baik untuk dikembangkan
di Kawasa Agropolitan Seroja, yaitu komoditas tanaman buah-buahan (durian, pisang dan
sukun). Komoditas unggulan utama adalah komoditas pisang. Komoditas sukun dan durian
dapat diarahkan menjadi komoditas unggulan, namun belum mendapat dukungan kebijakan
dari pemerintah.
Pemanfaatan lahan pertanian diarahkan menjadi 3 zona tanam komoditas unggulan
berdasarkan kelas keseuaian lahan. Zona A dapat ditanami komoditas unggulan pisang,
sukun dan durian. Zona B hanya dapat ditanami komoditas unggulan pisang. Sedangkan
zona N diarahkan menjadi kawasan agrowisata dengan konsep kawasan wisata alam dan
tetap mempertahankan kondisi eksisting komoditas potensialnya.
Dari segi kajian infrastruktur dan fasilitas penunjang subsistem agribisnis hulu sudah tersedia
pada Kawasan Agropolitan Seroja. Dukungan infrastruktur dan fasilitas untuk menunjang
subsistem usaha tani berupa perbaikan jaringan jalan sangat dibutuhkan. Sedangkan
2

subterminal pengumpul yang sudah ada tetap dipertahankan. Selain itu dukungan
infrastruktur dan fasilitas yang ada telah menunjang subsistem agribisnis hilir pada
komoditas pisang.
Evaluasi pengembangan Kawasan Agropolitan Seroja dilakukan berdasarkan kriteria kawasan
agropolitan dari Pedoman Pengelolaan Ruang Kawasan Sentra Produksi Pangan Nasional
dan Daerah. Kriteria yang dikaji meliputi persyaratan kawasan agropolitan, ciri-ciri kawasan,
sistem kawasan, tipologi kawasan, infrastruktur dan kelembagaan. Kawasan
Seroja dalam pengembangannya
kawasan agropolitan

Agropolitan

sudah siap untuk dikembangkan dengan konsep

berdasarkan

Pedoman

Pengelolaaan Ruang

Kawasan

Sentra

Produksi Pangan Nasional dan Daerah.


Perlu adanya strategi dan arahan dalam pengembangan kawasan agropolitan dengan
melaksanakan

pengembangan

sub

sistem agribisnis,

Kawasan Agropolitan Seroja, pengembangan


mengatasi

pengenmbangan

sistem usaha tani

tata

ruang

konservasi

untuk

kepekaan longsor, infrastruktur pendukung agropolitan, dan pengembangan

sumber daya manusia. Dengan pelaksanaan strategi dan arahan tersebut diharapkan
kawasan agropolitan seroja dapat berkembang secara berkelanjutan.
Critique
Secara harafiah. istilah Agropolitan berasal dari kata Agro yang berarti pertanian dan
Polis/Politan yang berarti kota. Dalam buku Pedoman Umum Pengembangan Kawasan
Agroplitan & Pedoman Program Rintisan Pengembangan Kawasan Agropolitan yang
diterbitkan oleh Kementerian Pertanian, Agropolitan didefinisikan sebagai kota pertanian
yang tumbuh dan berkembang karena berjalannya sistem dan usaha agribisnis sehingga
mampu melayani, mendorong, menarik, serta menghela kegiatan pembangunan pertanian
(agribisnis) di wilayah sekitarnya.
Dalam Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yang menyebutkan
Kawasan Agropolitan sebagai kawasan yang terdiri atas satu atau lebih pusat kegiatan pada
wilayah perdesaan sebagai sistem produksi pertanian dan pengelolaan sumber daya alam
tertentu yang ditunjukkan oleh adanya keterkaitan fungsional dan hirarki keruangan satuan
sistem permukiman dan agrobisnis.
Analisis komoditas unggulan pada Kawasan Agropolitan Seroja hanya bertumpu pada
komoditas subsektor tanaman pangan. Komoditas merupakan potensi unggulan yang dapat
diandalkan untuk mengembangkan kawasan secara kesuluruhan. Komoditas tersebut
meliputi subsektor tanaman pangan, subsektor perkebunan, subsektor perikanan, dan
subsektor peternakan, Namun yang pembahasan komoditas unggulan dalam jurnal ini hanya
pada subsektor tanaman pangan, sehingga belum ada identifikasi komoditas unggulan dari
subsektor lainnya. Identifikasi komoditas merupakan langkah awal dalam mengetahui
kondisi dan potensi lokal wilayah tersebut.
3

Dalam buku Pembangunan Agropolitan dan Minapolitan yang diterbitkan oleh Kementrian
Pekerjaan Umum disebutkan bahwa berdasarkan struktur hirarkinya, kawasan agropolitan
dibedakan atas Orde Pertama (Kota Tani Utama), Orde Kedua (Pusat Distrik Agropolitan atau
Pusat Pertumbuhan), dan Orde Ketiga (Pusat Satuan Kawasan Pertanian). Setiap orde
berfungsi sebagai simpul jasa koleksi dan distribusi dengan skala beragam dan berjenjang
(hirarki). Antarsimpul tersebut harus disambungkan oleh jaringan transportasi yang sesuai,
Kawasan Agropolitan Seroja telah membagi wilayah-wilayah yang berhubungan secara
fungsional dalam satu sistem kegiatan. Wilayah ini terbagi menjadi Kota Tani Utama, Kota
Tani dan hinterland. Kota Tani Utama berada di Desa Senduro yang diarahkan menjadi area
pelayanan sebagai penggerak agribisnis komoditas. Kota Tani terletak di Desa Kandang
Tepus dan Desa Jambearum. Sedangkan Desa Argosari, Desa Burno, Desa Kandangan,
Desa Pasrujambe, dan Desa Jambekumbu menjadi hinterland.
Selain sudah membagi kawasan berdasarkan struktur hirarkinya, analisis pemanfaatan lahan
pertanian di Kawasan Agropolitan Seroja diarahkan menjadi 3 zona tanam komoditas
unggulan berdasarkan keseuaian lahan. Zona A dapat ditanami komoditas unggulan
pisang, sukun, dan durian. Zona B hanya dapat ditanami komoditas

unggulan pisang.

Sedangkan Zona N yang berada di Desa Argosari diarahkan menjadi kawasan agrowisata
dengan konsep kawasan wisata alam dan tetap mempertahankan kondisi eksisting
komoditas potensial yang sudah ada di zona N.
Keberhasilan pengembangan Kawasan Agropolitan tak terlepas dari dukungan sistem
infrastruktur dasar yang membentuk struktur ruang. Infrastruktur yang disediakan meliputi
prasarana dan sarana yang mendukung berbagai kegiatan agribisnis berikut
a. Sub-sistem agribisnis hulu
b. Sub-sistem usaha tani (on-farm agribisnis)
c. Sub-sistem pengolahan hasil
d. Sub-sistem pemasaran hasil
e. Sub-sistem jasa penunjang
Arahan pengembangan sub sistem agribisnis dalam Kawasan Agropolitan Seroja terbagi
menjadi 3 yaitu sub-sistem komoditas unggulan, sub-sistem agribisnis hilir, dan sub-sistem
pemasaran. Masing-masing sub-sistem memiliki arahan dan strategi yang sudah cukup rinci.
Pada setiap komoditas unggulan sudah tertulis arahan dan strategi yang dapat mendukung
perkembangannya.
Peningkatan sub-sistem agribisnis hilir dilakukan dengan cara derivatisasi produk untuk
meningkatkan nilai produk tersebut. Selain itu pada sub-sistem ini juga diarahkan untuk
adanya peningkatan sarana produksi serta pelatihan pemanfaatan teknologi dalam
pengolahan komoditas unggulan.Pada sub-sistem pemasaran lebih pada perluasan jaringan
pemasaran, serta pengolahan limbah yang dilakukan untuk mencegah pencemaran
4

lingkungan.

Namun

dalam

perkembangannya

Kawasan

Agropolitan

Seroja

masih

memerlukan dukukngan kebijakan untuk mendorong pertumbuhan komoditas unggulan


seperti durian dan komoditas sukun.
Conclusions
Pengembangan Kawasan Agropolitan Seroja Kabupaten Lumajang juga harus melibatkan
petani-petani perdesaan untuk bersama-sama membangun sebuah sistem pertanian yang
terintegrasi. Kunci keberhasilan lainnya adalah dengan menetapkan setiap distrik agropolitan
sebagai suatu unit tunggal otonom mandiri sehingga dapat terjaga dari besarnya intervensi
sektor-sektor pusat yang tidak terkait. Dilihat dari segi ekonomi, unit tunggal yang mandiri
akan mampu mengatur perencanaan dan pelaksanaan pertaniannya sendiri, tetapi tetap
terintegrasi secara sinergis dengan keseluruhan sistem pengembangan wilayah.
Pengembangan Kawasan Agropolitan Seroja merupakan penguatan sentra-sentra produk
pertanian yang berbasiskan pada kekuatan internal sehingga perdesaan menjadi kawasan
yang memiliki pertumbuhan ekonomi dan daya kompetensi, baik secara interregional
maupun intraregional. Dengan demikian, pembangunan kawasan ini dapat berlangsung
secara terintegrasi, terarah,

efektif, dan efsien sehingga tercipta keterpaduan dengan

pembangunan sektor lainnya dan pembangunan yang berwawasan lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA
Kementrian Pekerjaan Umum. 2012. Agropolitan dan Minapolitan : Konsep Kawasan Menuju
Keharmonian. Jakarta : Dirjen Cipta Karya.
Rustiadi, E., Saefulhakim, S. & Panuju, D.R. 2009. Perencanaan Dan Pengembangan Wilayah.
Jakarta: Crestpent Press dan Yayasan Obor Indonesia.