Anda di halaman 1dari 23

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat memiliki kebutuhan-kebutuhan
yang harus dipenuhi. Namun demikian, manusia dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya sehari-hari, baik kebutuhan primer, sekunder maupun tersier tidak
semuanya dapat terpenuhi, karena tidak memilki dana yang cukup, sehingga tidak
jarang karena tidak ada barang yang dijual, dan terpaksa mencari pinjaman kepada
orang lain.
Dengan berkembangnya perekonomian masyarakat yang semakin meningkat,
maka seorang dapat mencari uang pinjaman melalui jasa pembiayaan baik melalui
lembaga keuangan bank maupun lembaga keuangan non bank, diantaranya adalah
Lembaga Pegadaian. Namun ternyata karena sebagian besar masyarakat Indonesia
adalah penganut agama Islam, maka Perum Pegadaian meluncurkan sebuah produk
gadai yang berbasiskan prinsip-prinsip syariah sehingga masyarakat mendapat
beberapa keuntungan yaitu cepat, praktis dan menentramkan. Cepat karena hanya
membutuhkan waktu yang tidak terlalu lama untuk prosesnya, praktis karena
persyaratannya mudah, jangka waktu fleksibel dan terdapat kemudahan lain, serta
menentramkan karena sumber dana berasal dari sumber yang sesuai dengan syariah
begitu pun dengan proses gadai yang diberlakukan. Produk yang dimaksud di atas
adalah produk Gadai Syariah.
1

Universitas Sumatera Utara

Islam agama yang lengkap dan sempurna telah meletakkan kaidah-kaidah


dasar dan aturan dalam semua sisi kehidupan manusia, baik dalam ibadah maupun
muammalah (hubungan antar makhluk). Setiap orang membutuhkan interaksi dengan
orang lain untuk saling menutupi kebutuhan dan tolong-menolong di antara mereka.
Karena itulah, kita sangat perlu mengetahui aturan Islam dalam seluruh sisi
kehidupan kita sehari-hari, di antaranya tentang interaksi sosial dengan sesama
manusia, khususnya berkenaan dengan perpindahan harta dari satu tangan ke tangan
yang lain.
Utang-piutang terkadang tidak dapat dihindari, padahal banyak muncul
fenomena ketidakpercayaan di antara manusia, khususnya di zaman ini. Sehingga
orang terdesak untuk meminta jaminan benda atau barang berharga dalam
meminjamkan hartanya. Realita yang ada tidak dapat dipungkiri, suburnya usahausaha pegadaian, baik dikelola pemerintah atau swasta menjadi bukti terjadinya
kegiatan gadai ini Ironisnya, banyak kaum muslim yang belum mengenal aturan
indah dan adil dalam Islam mengenai hal ini. Padahal perkara ini bukanlah perkara
baru dalam kehidupan mereka, sudah sejak lama mereka mengenal jenis transaksi
seperti ini. Sebagai akibatnya, terjadi kezaliman dan saling memakan harta
saudaranya dengan batil.
Hukum-hukum syariah adalah kaidah-kaidah yang mengatur cara beribadah,
bermuammalah dan lain-lain. Dan kaidah-kaidah ini dianggap sebagai penerapan

Universitas Sumatera Utara

metode atas kejadian-kejadian tertentu. Oleh karenanya, hal ini disebut penerapan
syariah, dan bukan syariah itu sendiri.1
Salah satu bentuk muammalah yang mudah dipraktekkan adalah rahn, dalam
Fiqh muamalah, perjanjian gadai disebut rahn. Istilah rahn secara bahasa berarti
menahan. Maksudnya adalah menahan sesuatu untuk dijadikan jaminan utang. 2
Dapat dikemukakan bahwa gadai menurut ketentuan syariat Islam adalah merupakan
kombinasi pengertian gadai yang terdapat dalam KUHPerdata, yaitu menyangkut
obyek perjanjian gadai menurut syariat Islam itu meliputi barang yang mempunyai
nilai harta, dan tidak dipersoalkan apakah dia merupakan benda bergerak atau tidak
bergerak.3
Pengertian gadai syariah (rahn) secara bahasa seperti diungkapkan di atas
adalah tetap, kekal, dan jaminan; sedangkan dalam pengertian istilah adalah
menyandera sejumlah harta yang diserahkan sebagai secara hak, dan dapat diambil
kembali sejumlah harta yang dimaksud sesudah ditebus.
Benda rahn yang digadai, dalam konsep Fiqh merupakan amanat yang ada
pada murtahin yang harus selalu dijaga dengan sebaik-baiknya, dan untuk menjaga
serta merawat agar benda (barang) gadai tersebut tetap baik, kiranya diperlukan
biaya, yang tentunya dibebankan kepada orang yang menggadai atau dengan cara
memanfaatkan barang gadai tersebut. Dalam hal pemanfaatan barang gadai, beberapa
1

M. Lukman, Syariah Sosial Menuju Revolusi Kultural, UMM Press, Cetakan Pertama,
Malang, tahun 2004, hal. 15.
2
Burhanuddin S, Fiqh Muamalah Pengantar Kuliah Ekonomi Islam, The Syariah Institute,
Tahun 2009,Yogyakarta, hal. 175.
3
Chairuman Pasaribu dan Sahrawadi K, Hukum Perjanjian dalam Islam, Sinar Grafika,
Jakarta, 1996, hal.140.

Universitas Sumatera Utara

ulama berbeda pendapat karena masalah ini sangat berkaitan erat dengan hakikat
barang gadai, yang hanya berfungsi sebagai jaminan utang pihak yang menggadai.
Bisnis gadai syariah yang dijalankan Perum Pegadaian dapat dikatakan terus
berkembang pesat. Pegadaian syariah sebagai lembaga keuangan alternatif bagi
masyarakat guna menetapkan pilihan dalam pembiayaan disektor riil. Karena itulah
pegadaian syariah lebih akomodatif dalam menyelesaikan persoalan ekonomi yang
dirasakan oleh masyarakat. Secara formal, keberadaan pegadaian syariah berada
dalam lingkup perusahaan Umum (Perum) Pegadaian. Karena Perum Pegadaian
merupakan satu-satuya badan usaha di Indonesia yang secara resmi mempunyai izin
untuk melaksanakan kegiatan lembaga keuangan berupa pembiayaan dalam bentuk
penyaluran dana ke masyarakat atas dasar hukum gadai.4
Dengan demikian, sistem keuangan syariah diformulasikan dari kombinasi
kekuatan sekaligus, pertama prinsip syari yang diambil dari Al-Quran dan sunnah
dan kedua prinsip-prinsip tabii yang merupakan hasil interpretasi akal manusia
dalam menghadapi masalah-masalah ekonomi seperti prinsip-prinsip ekonomi lainnya
yang relevan. Sistem keuangan pada syariah tidak hanya sekedar memperhatikan
aspek return (keuntunggan) dan resiko, namun juga ikut mempertimbangkan nilainilai Islam didalamnya.5
Secara kelembagaan, Gadai Syariah (rahn) merupakan bagian perum
pegadaian yang mengemban misi syiar Islam. Dalam hal ini, praktik gadai yang

4
5

Burhanuddin S, Op.Cit, hal.170.


Burhanuddin S, Ibbid. hal. 171.

Universitas Sumatera Utara

dilakukan semaksimal mungkin menghindari pratik bisnis yang mengandung unsur


gharar (ketidakpastian), maisir dan riba. Oleh karena itu, setiap pelaksanaan
operasional yang diberlakukan dalam praktik gadai syariah dikonsultasikan kepada
Dewan Pengawas Syariah (DPS), yang juga badan pengawas dalam lingkungan bank
muamalat Indonesia.6
Adapun tujuan dan manfaat pegadaian yaitu sifat usaha pegadaian pada
prinsipnya menyediakan pelayanan bagi kemanfaatan masyarakat umum dan
sekaligus memupuk keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan yang baik. Oleh
karena itu, perum pegadaian khususnya pegadaian syariah bertujuan sebagai berikut :
1. Turut melaksanakan dan menunjang pelaksanaan kebijaksanaan dan program
pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan nasional pada umumnya
melalui penyaluran uang pembiayaan/pinjaman atas dasar hukum gadai.
2. Pencegahan praktik gelap, dan pinjaman yang tidak wajar lainnya.
3. Pemanfaatan gadai bebas bunga pada gadai syariah memiliki efek jaring
pengamanan sosial karena masyarakat yang butuh dana mendesak tidak lagi
dijerat pinjaman/pembiayaan berbasis bunga.
4. Membantu orang-orang yang membutuhkan pinjaman dengan syarat mudah.7
Adapun manfaat pegadaian, antara lain :
1. Bagi nasabah, tersediannya dana dengan prosedur yang lebih sederhana dan
dalam waktu yang lebih cepat dibandingkan dengan pembiayaan/kredit

6
7

Zainuddin Ali, Hukum Gadai Syariah, Sinar Grafika, Cetakan Pertama, Jakarta, Tahun 2008, hal. 56.
Andri Soemitra, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah, Jakarta, Kencana, tahun 2008, hal. 394.

Universitas Sumatera Utara

perbankan. Di samping itu, nasabah juga mendapat manfaat penaksiran


nilai suatu barang bergerak secara profesional. Mendapatkan fasilitas
penitipan barang bergerak yang aman dan dapat dipercaya.
2. Bagi perusahaan pegadaian;
a. Penghasilan yang bersumber dari sewa modal yang dibayarkan oleh
peminjam dana;
b. Penghasilan yang bersumber dari ongkos yang dibayarkan oleh nasabah
memperoleh jasa tertentu. Bagi pegadaian syariah yang mengeluarkan
produk gadai syariah dapat mendapat keuntungan dari pembebanan
biaya administrasi dan biaya sewa tempat atau jasa penitipan dan lainlain.
c. Serta membantu di bidang pembiayaan berupa pemberian bantuan
kepada masyarakat yang memerlukan dana dengan proses mudah dan
sederhana.8
Berdirinya pegadaian syariah bersamaan dengan berkembangnya Bank dan
Asuransi yang berdasarkan prinsip syariah di Indonesia, maka hal ini mengilhami di
bentuknya pegadaian syariah. Pegadaian syariah menerapkan beberapa sistem
pembiayaan, antara lain Pinjaman kebajikan (Qardhul Hasan) dan bagi hasil
(Mudharabah). Mudharabah adalah perjanjian atas suatu jenis perkongsian, dimana
pihak pertama menyediakan dana dan pihak kedua bertanggung jawab atas
pengelolaan usaha. Keuntungan hasil usaha dibagikan sesuai dengan nisbah porsi
8

Andri Soemitra, Ibbid, hal. 395.

Universitas Sumatera Utara

bagi hasil yang telah disepakati bersama sejak awal maka kalau rugi pihak pertama
akan kehilangan sebahagian imbalan dari hasil kerja keras selama berlangsung.
Pada sistem-sistem ekonomi konvensional tidaklah berbicara mengenai
konsep halal, tetapi hanya terkait dengan keabsahan atau legitimasi sebuah
perusahaan dan hasil usahanya. Legitimasi itupun bukan didasarkan pada nilai
ilahiah, melainkan hanya diberikan oleh negara atau pihak otoritas yang berkuasa,
bukan dalam konteks halal dan haramnya sebuah proses.
Dalam perspektif konvensional, legitimasi itu hanya sampai pada tataran
kedua, yakni pada proses usaha yang harus sah dan memberikan nilai kemanfaatan.
Sementara hasil usaha berupa keuntungan atau barang merupakan hak milik, di mana
penggunaan dan pengelolaannya menjadi hak pemilik sepenuhnya. Oleh karena itu, ia
berkuasa penuh atas haknya itu. Inilah konsekuensi paham liberalisme yang
mendewakan individu dan hak-haknya di atas segala-galanya. Dengan memposisikan
sistem ekonomi syariah sebagai sebuah sistem yang bersifat terbuka dan tidak bersifat
eksklusif, maka tidak hanya dijalankan oleh umat muslim semata. Namun, terbuka
kepada seluruh lapisan masyarakat untuk terlibat secara aktif maupun pasif ke dalam
sistem ekonomi syariah tanpa pertimbangan etnis, agama, ras dan diskriminasi.
Pada Perum Pegadaian tertarik untuk menerapkan pola syariah tersebut,
karena pola pegadaian syariah memungkinkan perusahaan untuk dapat proaktif dan
lebih produktif untuk menghasilkan berbagai produk jasa keuangan modern, seperti
jasa sewa beli. Pada lembaga gadai model yang dimaksud, nilai-nilai dan prinsipprinsip syariah dalam hal gadai dapat diimplementasikan.

Universitas Sumatera Utara

Keberadaan

pegadaian

syariah

didorong

oleh

perkembangan

dan

keberhasilan lembaga-lembaga keuangan syariah. Di samping itu, juga


dilandasi oleh kebutuhan masyarakat Indonesia terhadap hadirnya sebuah pegadaian
yang menerapkan prinsip-prinsip syariah. Transaksi hukum gadai dalam Fiqh Islam
disebut Ar- Rahn. Ar- Rahn adalah suatu jenis perjanjian suatu barang sebagai
tanggungan utang.9
Berdasarkan pengertian gadai yang dikemukakan oleh para ahli hukum Islam
diatas, berpendapat bahwa gadai (rahn) adalah menahan barang jaminan atas
pinjaman yang diterimanya, dan barang yang diterima tersebut bernilai ekonomis,
sehingga pihak yang menahan (murtahin) memperoleh jaminan untuk mengambil
kembali seluruh atau sebagian utangnya dari barang gadai dimaksud, bila pihak yang
menggadaikan tidak dapat membayar utang pada waktu yang telah ditentukan, maka
sesuatu yang telah digadaikan itu akan dilelang. Karena itu, tampak bahwa gadai
syariah (rahn) merupakan perjanjian, antara seseorang untuk menyerahkan harta
benda berupa emas/ perhiasan/ kendaraan/ dan/atau harta benda lainnya sebagai
jaminan dan/atau agunan kepada seseorang dan/atau lembaga pegadaian syariah
berdasarkan hukum gadai syariah (rahn); sedangkan pihak lembaga pegadaian
syariah menyerahkan uang sebagai tanda terima dengan jumlah 90% dari nilai taksir
terhadap barang yang diserahkan oleh penggadai.

Rahmat Syafei, Konsep Gadai; Ar-Rahn dalam Fiqh Islam Antara Nilai Sosial dan Nilai
Komersial dalam Huzaimah T Yanggo, Problematika Hukum Islam Kontemporer III, Jakarta; Lembaga
Studi Islam dan Kemasyarakatan, 1995, Cet II, Hal.59.

Universitas Sumatera Utara

Rahn mempunyai fungsi sosial yang sangat besar dalam sistem perekonomian
Islam, karena bukan mencari keuntungan semata, akan tetapi lebih dominan sifat
tolong-menolongnya, tentunya berbeda dengan sistem ekonomi kapitalisme yang
semua semata-mata untuk mencari keuntungan atau bersifat bisnis, sedangkan sifat
tolong menolong tersebut hanya sebagai kedok untuk mempopulerkannya dimata
masyarakat.
Dari ketentuan-ketentuan tersebut diatas, sangat jelas bahwa keberadaan
Pegadaian Syariah sangat memiliki peran penting, sebab tidak jarang terjadi
dikehidupan dimana keperluan akan dana tunai selalu dibutuhkan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, maka yang menjadi rumusan permasalahan adalah
sebagai berikut;
1. Bagaimanakah Prinsip Gadai (Rahn) Berdasarkan Hukum Islam?
2. Bagaimanakah Pelaksanaan Prinsip Gadai (Rahn) Pada Pegadaian Syariah Di
Lhokseumawe?
3. Bagaimanakah Cara Penyelesaian Sengketa Gadai (Rahn) Pada Pegadaian
Syariah Di Lhokseumawe?
C. Tujuan Penelitian
Mengacu pada judul dan permasalahan dalam penelitian ini maka dapat
dikemukakan bahwa tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk Mengetahui Prinsip Gadai (Rahn) Berdasarkan Hukum Islam.

Universitas Sumatera Utara

10

2. Untuk Mengetahui Pelaksanaan Prinsip Gadai (Rahn) Pada Pegadaian Syariah


Di Lhokseumawe.
3. Untuk Mengetahui Cara Penyelesaian Sengketa Gadai (Rahn) Pada Pegadaian
Syariah Di Lhokseumawe.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
1. Secara teoritis, diharapkan penelitian ini dapat memberikan sumbangan
pengembangan atau kemajuan di bidang ilmu pengetahuan, khususnya kepada
kepada masyarakat agar mengetahui gadai syariah (Rahn) pada Pegadaian
Syariah.
2. Secara praktik, diharapkan hasil penelitian ini memberikan sumbangan kepada
Perusahaan Umum (Perum) khususnya Gadai Syariah pada Kantor Pegadaian
Syariah di Lhokseumawe terkait apakah telah melaksanakan Prinsip gadai
syariah (Rahn).
E. Keaslian Penelitian
Sepanjang yang diketahui dan berdasarkan infomasi, data yang ada dan
penelusuran lebih lanjut pada kepustakaan Program Studi Magister Kenotariatan
Universitas Sumatera Utara. Diketahui bahwa belum pernah ada penelitian
sebelumnya yang berjudul TINJAUAN YURIDIS TENTANG GADAI SYARIAH
(RAHN) PADA KANTOR PEGADAIAN SYARIAH DI LHOKSEUMAWE.
Dengan demikian penelitian ini adalah asli dan dapat dipertanggung jawabkan.

Universitas Sumatera Utara

11

F. Kerangka Teori dan Konsepsi


1.

Kerangka Teori
Kerangka teori adalah pemikiran atau pendapat, teori tesis mengenai suatu

kasus atau permasalahan yang menjadi bahan perbandingan atau pegangan teoritis
dalam penelitian.10 Suatu kerangka teori bertujuan untuk menyajikan cara-cara untuk
bagaimana mengorganisasikan dan mengimplementasikan hasil-hasil penelitian dan
menghubungkannya dengan hasil-hasil terdahulu.
konsepsional

diungkapkan

beberapa

konsepsi

11

atau

Sedang dalam kerangka


pengertian

yang

akan

dipergunakan sebagai dasar penelitian hukum.


Jadi kerangka yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Maqasid AlSyariah. Teori ini dikemukakan dan dikembangkan oleh Abu Ishaq al-Syathibi, yaitu
tujuan akhir hukum adalah maslahah atau kebaikan dan kesejahteraan manusia. Tidak
satu pun hukum Allah yang tidak mempunyai tujuan. Teori maqasid al-syariah hanya
dapat dilaksanakan oleh pihak pemerintah dan masyarakat yang mengetahui dan
memahami bahwa yang menciptakan manusia adalah Allah SWT. Demikian juga
yang menciptakan hukum-hukum yang termuat di dalam Al-quran adalah Allah SWT.
Berdasarkan pemahaman tersebut, akan mucul kesadaran bahwa Allah SWT yang
paling mengetahui berkenaan hukum yang dibutuhkan oleh manusia, baik yang
berhubungan dengan kehidupannya di dunia maupun akhirat.

10
11

M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu Dan Penelitian, Cet ke I (Bandung : Bandar Maju) tahun 1994.
Burhan Ashofa, Metode Penelitian Hukum, Cet ke II (Jakarta : Rineka Cipta, 1998), hal. 19.

Universitas Sumatera Utara

12

Adapaun inti dari konsep maqasid al-syariah adalah untuk mewujudkan


kebaikan sekaligus menghindarkan keburukan atau menarik manfaat dan menolak
mudarat, istilah yang sepadan dengan inti dari maqasid al-syariah tersebut adalah
maslahat, karena penetapan hukum dalam Islam harus bermuara pada kemaslahatan.12
Rahn adalah suatu istilah yang terdapat dalam hukum Islam, oleh karena itu
apabila berbicara mengenai rahn, tidak terlepas dari konsepsi rahn dari hukum Islam.
Hukum Islam adalah yang mewujudkannya kemaslahatan bagi umat manusia. Sejalan
dengan hal tersebut, maka teori yang digunakan dalam ini, adalah teori kemaslahatan.
Secara sederhana maslahat (al- maslahah) diartikan sebagai sesuatu yang baik
atau sesuatu bermanfaat. Secara lesikal, menuntut ilmu itu menggandung
kemaslahatan, maka hal ini berarti menuntut ilmu itu merupakan penyebab
diperolehnya manfaat secara lahir dan bathin. 13 Al Ghazali memformasikan teori
kemaslahatan dalam kerangka mengambil manfaat dan menolak kemudaratan untuk
memelihara tujuan-tujuan syara. 14 Hal tersebut dapat diartikan bahwa setiap
kegiatan manusia harus bermanfaat bagi umat, namun demikian tidak boleh
bertentangan dengan tujuan dari Syariat Islam.
Teori kemaslahatan diartikan sebagai sesuatu yang baik atau sesuatu yang
bermanfaat. Misalnya menuntut ilmu dalam Islam itu mengandung suatu

12

Ahmad Zaenal Fanani,


http://www.badilag.net/data/artikel/wacana%20hukum%20islam/teori%20keadilan%20perspektif%20f
ilsafat%20hukum%20islam.pdf, hal. 11, diakses tanggal 17 maret 2012.
13
Husain Hamid hasan, Nadzariah al- Mashalahah fi al Fiqh al Islamy, (Kairo: dar AlNaahdhah Al- Arabiyah), hal. 3-4.
14
Abu Hamid Al- Ghazali, Al- Mustashfa fiilm al Ushul, (Beirut al-Kutub al- Ilmiyah- 1983),
Jilid I hal. 268.

Universitas Sumatera Utara

13

kemaslahatan, maka hal ini berarti menuntut ilmu itu penyebab diperolehnya manfaat
secara lahir dan bathin. Secara umum dapat dikatakan bahwa tujuan dari pada
kedatangan Hukum Islam adalah memperoleh kemaslahatan serta menghindarkan
kemudharatan. Hukum Islam memelihara 3 hal, yaitu :15
a.

Memelihara yang paling penting, bila hal itu diabaikan maka akan terjadi
kekacauan dalam masyarakat. Ketentuan yang paling penting ini ada 6 macam :
1. Memelihara jiwa
Islam sangat melindungi jiwa seseorang, jiwa seseorang tidak boleh direnggut
begitu saja karena jiwa dapat dinilai dengan benda apapun.
2. Memelihara akal
Sehubungan dengan memelihara akal, hukum Islam menetapkan hukum dera
(dipukul 40 kali) bagi orang yang merusakkan akalnya.
3. Memelihara agama
Yang dimaksud dengan memelihara agama adalah memelihara keimanan.
Iman adalah suatu hal yang sangat mulia, sehingga dengan bermodalkan iman
seseorang tidak akan kekal dalam neraka.
4. Memelihara kehormatan
Islam sangat memelihara kehormatan seorang muslim. Islam tidak
membenarkan menuduh orang lain melakukan kejahatan tanpa adanya suatu
bukti yang benar, tuduhan tanpa alasan berarti penghinaan.

15

Hasballah Thaib, Falsafah Hukum Islam, Fakultas Hukum Universitas Dharmawangsa


Medan, tahun 1993, hal. 5.

Universitas Sumatera Utara

14

5. Memelihara harta
Untuk memilihara harta (hak milik) ini ditetapkan hukum jual beli, hutang
piutang, dan lain-lain. Islam melarang perampasan harta, pembinasaan harta,
dan cara-cara lain yang tidak sah.
6. Memelihara keturunan
Islam menganjurkan untuk memelihara keturunan, bahkan salah satu dari pada
hikmah perkawinan adalah untuk mendapatkan keturunan.
b.

Memelihara yang diperlukan bila hal ini tidak dilaksanakan akan membawa
kesulitan dalam pelaksanaanya;

c.

Memelihara yang dianggap baik, bila hal ini tidak diatur maka nampaklah
kerendahan islam.
Menurut Imam Al-Ghazali, suatu kemaslahatan harus seiring dengan tujuan-

tujuan manusia. Atas dasar ini, yang menjadi tolak ukur dari maslahat itu adalah
tujuan dan kehendak syara, bukan didasarkan pada kehendak hawa nafsu manusia.
Tujuan syara dalam menetapkan hukum itu pada prinsipnya mengacu pada aspek
perwujudan kemaslahatan dalam kehidupan manusia. Muatan maslahat itu mencakup
kemaslahatan hidup di dunia maupun kemaslahatan hidup akhirat. Atas dasar ini,
kemaslahatan bukan hanya didasarkan pada pertimbangan akal dalam memberikan
penilaian terhadap sesuatu itu baik atau buruk, tetapi lebih jauh dari itu ialah sesuatu
yang baik secara rasional juga harus sesuai dengan tujuan syara.16

16

http://efrinaldi.multyply.com/journal/item6?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2journal%
2Fitem., diakses 24 maret 2012.

Universitas Sumatera Utara

15

Dasar hukum yang digunakan para ulama untuk membolehkannya rahn yakni
bersumber pada Al-Quran (2): 283 yang menjelaskan tentang diizinkannya
bermuamalah tidak secara tunai. Dan Hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan
Muslim dari Aisiyah binti Abu Bakar, yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW
pernah membeli makanan dari seorang Yahudi dengan menjadikan baju besinya
sebagai jaminan.17 Landasan konsep pegadaian Syariah juga mengacu kepada syariah
Islam yang bersumber dari Al-Quran dan Hadist Nabi SAW.
Dalam Surat Al-Baqarah 282 artinya: Jika kamu dalam perjalanan (dan
bermuammalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis,
maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan
tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang
dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada
Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan
barang siapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang
berdosa hatinya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan Hadits Rasul
Saw yang diriwayatkan oleh Muslim dari Aisyah, Dari Aisyah berkata: Rasulullah
Saw membeli makanan dari seorang Yahudi dan menggadaikannya dengan besi.
Dari Anas ra bahwasanya ia berjalan menuju Nabi Saw dengan roti dari
gandum dan sungguh Rasulullah Saw telah menaguhkan baju besi kepada seorang

17

http://shariaeconomy.blogspot.com/2008/07/Konsep

Gadai

Syariah

Ar-Rahn

dalam

Fiqh.html.

Universitas Sumatera Utara

16

Yahudi di Madinah ketika beliau mengutangkan gandum dari seorang Yahudi.


(HR.Anas Ra).18
Dan yang terakhir Ijtihad, berdasarkan Al-Quran dan Hadist menunjukkan
bahwa transaksi atau perjanjian gadai dibenarkan dalam Islam bahkan Nabi
Muhammad SAW pernah melakukannya, namun demikian perlu dilakukan
pengkajian lebih mendalam dengan melakukan Ijtihad.
Berdasarkan landasan hukum tersebut ulama bersepakat bahwa rahn
merupakan transaksi yang diperbolehkan dan menurut sebagian besar (jumhur)
ulama, ada beberapa rukun bagi akad rahn yang terdiri dari, orang yang
menggadaikan (rahn), barang-barang yang digadai (marhun), orang yang menerima
gadai (murtahin) sesuatu yang karenanya diadakan gadai, yakni harga, dan sifat akad
rahn. Sedangkan untuk sahnya akad rahn, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi
oleh para pihak yang terlibat dalam akad ini yakni; berakal, baligh, barang yang
dijadikan jaminan ada pada saat akad, serta barang jaminan dipegang oleh orang yang
menerima gadai (murtahin) atau yang mewakilinya.19
Adapun aturan yang ditetapkan oleh Dewan Syariah Nasional menetapkan
aturan tentang Rahn sebagaimana dalam fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor
25/DSN- MUI/III/2002 tertanggal 26 Juni 2002 (Himpunan Fatwa, Edisi kedua, hal
158-159) sebagai berikut;
Pertama; Hukum
18

Ibbid, http://shariaeconomy.blogspot.com/2008/07/Konsep Gadai Syariah Ar-Rahn dalam


Fiqh.html.
19
Ibid, Konsep Gadai Syariah Ar-Rahn dalam Fiqh.html.

Universitas Sumatera Utara

17

Bahwa pinjaman dengan menggadaikan barang sebagai jaminan utang dalam


bentuk Rahn diperbolehkan dengan ketentuan sebagai berikut;
Kedua ; Ketentuan Umum
1. Murtahin (penerima barang) mempunyai hak untuk menahan Marhun
(barang) sampai semua utang Rahin (yang menyerahkan barang) lunas.
2. Marhun dan manfaatnya tetap menjadi milik Rahin. Pada prinsipnya,
marhun tidak boleh dimanfaatkan oleh Murtahin kecuali seizin Rahin,
dengan tidak mengurangi nilai Marhun dan pemanfaatannya itu sekedar
pengganti biaya pemeliharaan dan perawatannya.
3. Pemeliharaan dan penyimpanan Marhun pada dasarnya menjadi kewajiban
Rahin.
4. Besar biaya pemeliharaan dan penyimpanan Marhun tidak boleh ditentukan
berdasarkan jumlah pinjaman.
5. Penjualan Marhun;
a. Apabila jatuh tempo, Murtahin harus memperingatkan Rahin untuk
segera melunasi hutangnya.
b. Apabila Rahin tetap tidak dapat melunasi utangnya, maka Marhun
dijual/ diesekusi atau dilelang sesuai syariah.
c. Hasil penjualan Marhun digunakan untuk melunasi utang, biaya
pemeliharaan dan penyimpanan yang belum dibayar serta biaya
penjualan.

Universitas Sumatera Utara

18

d. Kelebihan hasil penjualan menjadi milik Rahin dan kekurangannya


menjadi kewajiban Rahin.20
Dalam keadaan tidak normal di mana barang yang dijadikan jaminan hilang,
rusak, sakit atau mati yang berada diluar kekuasaan murtahin tidak menghapuskan
kewajiban rahin melunasi hutangnya. Namun dalam praktek pihak murtahin telah
mengambil langkah-langkah pencegahan dengan menutup asuransi kerugian sehingga
dapat dilakukan penyelesaian yang adil.
2.

Konsepsi
Konsepsi berasal dari bahasa latin, conceptus yang memiliki arti sebagai suatu

kegiatan atau proses berpikir, daya berfikir khususnya penalaran dan pertimbangan.21
Peranan konsep dalam penelitian adalah untuk menghubungkan dunia teori dan
observasi, antara abstraksi dan realitas. 22 Konsep diartikan sebagai kata yang
menyatakan abstrak yang digeneralisasikan dari hal-hal yang khusus, yang disebut
dengan definisi operasional.23 Oleh karena itu, kerangka konsepsi pada hakekatnya
merupakan suatu pengarah atau pedoman yang lebih kongkrit dari kerangka teoritis
yang seringkali bersifat abstrak, sehingga diperlukan definisi-definisi yang menjadi
pegangan kongkrit dalam proses penelitian. Jadi jika teori berhadapan dengan sesuatu
hasil kerja yang telah selesai, maka konsepsi masih merupakan permulaan dari
sesuatu karya yang setelah diadakan pengolahan akan dapat menjadikan suatu teori.
20

Muhammad Yusuf dan Wiroso, Bisnis Syariah, Mitra Wacana Media, Edisi Pertama,
Jakarta, tahun 2007, hal. 162.
21
Komaruddin dan Yooke Tjuparmah Komaruddin, Kamus Istilah Karya Tulisan Ilmiah,
Bumi Aksara, 2000, hal. 122.
22
Masri Singarimbun dkk, Metode Penelitian Survei, LP3ES, tahun 1989, Jakarta. Hal. 34.
23
Sumadi Suryabrata, Metodelogi Penelitian, Raja Grafindo, tahun 1998, Jakarta. Hal. 34.

Universitas Sumatera Utara

19

Untuk menghindari terjadinya perbedaan pengertian tentang konsep yang


dipakai dalam penelitian ini, maka perlu dikemukakan mengenai pengertian konsep
yang dipakai, sebagai berikut:
1. Rahn adalah menahan salah satu harta milik di peminjam sebagai jaminan atas
pinjaman yang diterimanya, dan barang yang ditahan tersebut memiliki nilai
ekonomis.
2. Gadai Syariah sering diidentikkan dengan Rahn yang secara bahasa diartikan
al-tsubut wa al-dawam (tetap dan kekal) sebagian Ulama Luhgat memberi arti
al-hab (tertahan). Sedangkan definisi al-rahn menurut istilah yaitu
menjadikan suatu benda yang mempunyai nilai harta dalam pandangan syara
untuk kepercayaan suatu utang, sehingga memungkinkan mengambil seluruh
atau sebagaian utang dari benda itu.
3. Syariah adalah secara harfiah berarti jalan Allah seperti yang ditunjukkan
dalam Al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad. Istilah ini dipakai untuk yang
berhubungan dengan prinsip Islam.
4. Kantor pegadaian syariah adalah kegiatan usaha atau unit kerja yang berfungsi
sebagai kantor induk dari kantor cabang syariah dan atau unit syariah.
5. Lhokseumawe Aceh adalah salah satu daerah yang terletak dalam Wilayah
Pemerintahan Kota Provinsi Aceh yaitu tempat dimana Kantor Cabang
Pegadaian Syariah menjalankan kegiatan usahanya.

Universitas Sumatera Utara

20

G. Metode Penelitian
Dalam setiap penelitian pada hakekatnya, mempunyai metode penelitian
masing-masing dan metode penelitian tersebut ditetapkan berdasarkan tujuan
penelitian.24 Kata metode berasal dari yunani Methods yang berarti cara atau jalan
sehubungan dengan upaya ilmiah, maka metode menyangkut masalah cara kerja
untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan.25
1.

Sifat Metodelogi Penelitian


Metode penelitian yang digunakan dalam tesis ini adalah, bersifat deskriptif

analitis dengan menggunakan pendekatan empiris yang mengacu pada norma-norma


hukum yang tumbuh dan berkembang pada masyarakat indonesia.
Empiris yang dimaksud pada penelitian ini adalah, berusaha melakukan
pendekatan terhadap dasar hukum dan menganalisa permasalahan yang ada.
Menganalisa hukum baik yang tertulis, maupun yang di putuskan oleh hakim melalui
proses pengadilan. Sedangkan sifat deskriptif analitis dalam penelitian ini deskiptif
bertujuan untuk, mendeskripsikan secara sistimatis, faktual dan akurat, maksudnya
bahwa penelitian ini menelaah dan menjelaskan serta menganalisa peraturan
perundang-undangan yang berlaku dan analitis di artikan sebagai kegiatan
menganalisa data secara konferenshif, dan ditujukan untuk membatasi kerangkan
studi pada suatu pemberian, suatu analisis, atau suatu klasifikasi tanpa secara

24

Jujun S.Suria Sumantri, Filsafat Hukum Suatu Pengantar Populer, Pustaka Sinar Harapan,
Jakarta, Hal. 328.
25
Koenjtraranigrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, Gramedia Pustaka Utama, 1997
Jakarta, Hal.16.

Universitas Sumatera Utara

21

langsung bertujuan untuk membangun atau menguji hipotesa-hipotesa atau teori-teori.


Secara langsung penelitian ini memaparkan mengenai, Rahn pada Gadai Syariah
dengan pendekatan terhadap prinsip syariah yang berhubungan dengan tujuan
penelitian ini.
2.

Lokasi Penelitian
Sesuai dengan judul ini yaitu Tinjauan Yuridis Tentang Gadai Syariah (Rahn)

pada Kantor Pegadaian Syariah Di Lhokseumawe, maka penelitian ini dilakukan


berdasarkan kenyataan dilapangan. Maka dalam melakukan penelitian ini didukung
dengan 1 (satu) orang Nasabah pada Pegadaian Syariah dan, 1 (satu) orang Manager
Usaha Rahn pada Kantor Pegadaian Syariah, yang beralamat di Jalan pasar Inpres,
Nomor. 10 Telepon (0645) 45303, Kode Pos 24313, Lhokseumawe.
3.

Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data, yang digunakan dalam penelitian ini adalah

melalui penelitian kepustakaan (Library Research) dan penelitian lapangan (Field


Research).
a. Penelitian kepustakaan
Yaitu untuk mendapat konsepsi teori atau doktrin, pendapat atau pemikiran
konseptual dan penelitian pendahulu yang berhubungan dengan, objek
telaahan penelitian ini yang dapat berupa peraturan-peraturan lainnya.
b. Penelitian lapangan
Sebagai data penunjang dalam penelitian ini juga didukung penelitian
lapangan (field research) untuk mendapatkan data primer guna akurasi

Universitas Sumatera Utara

22

terhadap hasil yang dipaparkan, yang dapat berupa pendapat informan,


laporan-laporan perusahaan dan lain-lain yang relevan dengan objek yang
diteliti. Selain itu peneliti juga melakukan penelitian langsung ke tempat
penelitian yakni kantor Pegadaian Syariah Lhokseumawe.
4.

Metode Pengumpulan Data


Adapun alat yang digunakan untuk pengumpulan data dalam peneltian ini

adalah, dengan menggunakan studi dokumen dan wawancara.


a. Studi Dokumen, Sumber utama penulisan tesis ini diperoleh dari data
sekunder, berupa bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan
hukum tersier, yaitu :
1) Bahan hukum primer, yaitu bahan pustaka yang berisikan pengetahuan
ilmiah yang baru maupun pengertian baru mengenai studi gagasan dalam
bentuk Peraturan Pemerintah Nomor 103 Tahun 2000 tentang Pegadaian.
2) Bahan hukum sekunder, yaitu bahan yang memberikan pelajaran
mengenai bahan hukum primer, seperti hasil-hasil seminar atau
pertemuan ilmiah lainnya, bahkan dokumen pribadi atau pendapat dari
kalangan pakar hukum sepanjang relevan dengan objek telaah penelitian.
3) Bahan hukum tersier, yaitu bahwa hukum penunjang yang memberi
penunjuk dan penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum
sekunder, seperti kamus, majalah maupun internet.
b. Wawancara, kegiatan wawancara dilakukan terhadap responden serta
narasumber atau informan untuk mengetahui lebih mendalam dan rinci

Universitas Sumatera Utara

23

tentang hal-hal yang tidak mungkin dijelaskan dan akan ditemukan jawaban
nantinya. Sehingga dengan adanya wawancara, diharapkan dapat memperoleh
data yang lebih luas dan akurat tentang masalah yang diteliti.
Data yang diperoleh dari penelitian kepustakaan selanjutnya di pilih guna
memperoleh pasal-pasal, teori-teori yang berisi tentang uraian-uraian permasalahan
dalam tesis ini, sehingga klasifikasi yang selaras dengan permasalahan yang di teliti
dalam tesis ini.
Walaupun dalam penelitian ini nantinya akan bersinggungan dengan
perspektif ilmu lain, namun penelitian ini tetap merupakan penelitian hukum, karena
perspektif hukum disiplin ilmu hanya sekadar alat bantu.
5.

Analisa Data
Sesuai dengan sifat penelitian ini bersifat deskriptif analitis, maka setelah

diperoleh data sekunder, dilakukanlah pengumpulan data, mensistemasi, menganalisis


serta menarik kesimpulan data sesuai dengan kategori yang ditemukan. Setelah itu
dengan menggunakan metode deduktif-induktif, ditarik suatu kesimpulan dari data
yang telah selesai dianalisis dimaksud yang merupakan hasil dari penelitian ini.

Universitas Sumatera Utara