Anda di halaman 1dari 24

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Pegadaian


Dalam istilah bahasa Arab, gadai diistilahkan dengan rahn dan dapat juga dinamai alhabsu (Pasaribu, 1996. 139). Secara etimologis, arti rahn adalah tetap dan lama, sedangkan
al-habsu berarti penahanan terhadap suatu barang dengan hak sehingga dapat dijadikan
sebagai pembayaran dari barang tersebut (Syafei, 2000:159). Pengertian ini didasarkan pada
praktek bahwa apabila seseorang ingin berhutang kepada orang lain, ia menjadikan barang
miliknya baik berupa barang begerak ataupun barang tak bergerak berada dibawah
penguasaan pemberi pinjaman sampai penerima pinjaman melunasi hutangnya.
Sedangkan Gadai menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgenlijk
Wetboek) Buku II Bab XX Pasal 1150, adalah suatu hak yang diperoleh seseorang berpiutang
atas suatu barang bergera, yang diserahkan kepadanya oleh seseorang yang berhutang atau
oleh orang lain atas namanya dan yang memberikan kekuasaan kepada si berpiutang itu untuk
mengambil pelunasan dari pada orang-orang yang berpiutang lainnya, dengan pengecualian
biaya untuk melelang barang tersebut dan biaya-biaya mana yang harus didahulukan (Usman,
1995:357).
Selain berbeda dengan KUH Perdata, pengertian gadai menurut syariat Islam juga
berbeda dengan pengertian gadai menurut hukum adat yang mana dalam ketentuan hukum
adat pengertian gadai yaitu menyerahkan tanah untuk menerima pembayaran sejumlah uang

Universitas Sumatera Utara

secara tinai, dengan ketentuan si penjual (penggadai) tetap berhak atas pengembalian
tanahnya dengan jalan menebusnya kembali (Pasaribu, 1996:140).
Menurut Subagyo, (1999 : 88) menyatakan bahwa pegadaian adalah suatu lembaga
keuangan bukan bank yang memberikan kredit kepada masyarakat dengan corak khusus yaitu
secara hukum gadai. Sigit Triandaru (2000 : 179) menyatakan bahwa pegadaian adalah satusatunya badan usaha di Indonesia yang secara resmi mempunyai izin untuk melaksanakan
kegiatan lembaga keuangan berupa pembayaran dalam bentuk penyaluran dana ke masyarakat
atas dasar hukum gadai.
2.2 Jenis Jenis Pegadaian
1. Pegadaian konvensional
Pada kesempatan ini penulis tidak menfokuskan penulisan kepegadaian konvesional,
disini penulis hanya memberikan sedikit gambaran mengenai pegadain konvensional.
Pegadaian menurut Susilo (1999) adalah suatu hak yang diperoleh oleh seorang yang
mempunyai piutang atas suatu barang bergerak. PT Pegadaian adalah suatu badan usaha di
Indonesia yang secara resmi mempunyai ijin untuk melaksanakan kegiatan lembaga keuangan
berupa pembiayaan dalam bentuk penyaluran dana masyarakat atas dasar hukum gadai.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pegadaian adalah suatu hak yang
diperoleh oleh orang yang orang yang berpiutang atas suatu barang yang bergerak yang
diserahkan oleh orang yang berpiutang sebagai jaminan utangnya dan barang tersebut dapat
dijual oleh yang berpiutang bila yang berutang tidak dapat melunasi kewajibannya pada saat
jatuh tempo.
Gadai menurut Undang undang Hukum Perdata (Burgenlijk Wetbiek) Buku II Bab
XX pasal 1150, adalah : suatu hak yang diperoleh seorang yang berpiutang atas suatu barang
bergerak, yang diserahkan kepadanya oleh seorang berutang atau orang lain atas namanya dan

Universitas Sumatera Utara

yang memberikan kekuasaan kepada yang berpiutang itu untuk mengambil pelunasan dari
barang tersebut secara didahulukan dari pada orang orang berpiutang lainnya, dengan
pengecualian biaya untuk melelang barang tersebut dan biaya yang telah dikeluarkan untuk
mennyelamatkannya setelah barang tersebut digadaikan, biaya biaya mana harus
didahulukan.
Untuk memenuhi kebutuhan dananya, pengadaian konvensional memiliki sumbersumber dana sebagai berikut (Susilo, 1999:181):
1. Modal sendiri
Modal sendiri yang dimiliki Pegadaian terdiri dari:
i) Modal awal, yaitu kekayaan negara diluar APBN
ii) Penyertaan modal pemerintah
iii) Laba ditahan, merupakan akumulasi laba sejak perusahaan Pegadaian berdiri
2. Pinjaman jangka pendek dari perbankan
Dana jangka pendek sebagian besar adalah dalam bentuk pinjaman jangka pendek dari
perbankan (80% dari total dana jangka pendek yang dihimpun)
3. Pinjaman jangka pendek dari pihak lain
Biasanya diperoleh dari utang kepda rekanan, utang kepada nasabah, utang pajak, dan
lain-lain.
4. Dari masyarakat melalui penerbitan obligasi.
2. Pegadaian Syariah
Transaksi hukum gadai dalam ilmu fikih Islam diartikan sebagai Rahn yang
merupakan suatu jenis perjanjian untuk menahan suatru barang sebagai tanggungan utang
(Zainudin Ali, 2008:1) . Rahn dalam bahasa Arab adalah al-habsu yang berarti tetap dan kekal
(Syafei, 2000:159). Kata ini merupakan makna yang bersifat materiil. Karena itu, secara

Universitas Sumatera Utara

bahasa kata ar-rahn berarti menjadikan sesuatu barang yang bersifat materi sebagai pengikat
utang.
Pengertian gadai (rahn) secara bahasa seperti diungkapkan di atas adalah tetap. Kekal,
dan jaminan. Sedang dalam istilah adalah menyandera sejumlah harta yang diserahkan
sebagai jaminan secara hak, dan dapat diambil kembali sejumlah harta dimaksud sesudah
ditebus (Zainudin Ali, 2008:1).
Dalam fiqh muamalah, perjanjian gadai disebut rahn. Istilah rahn secara bahasa berarti
menahan (Syafei, 2000:139). Maksudnya adalah menahan sesuatu untuk dijadikan jaminan
hutang. Sedangkan pengertian gadai menurut hukum syara adalah (Zainudin Ali, 2008:2):
Menjadikan sesuatu barang yang mempunyai nilai harta dalam pandangan syara
sebagai jaminan hutang, yang memungkinkan untuk mengambil seluruh atau sebagian utang
dari orang tersebut.
Istilah rahn memiliki akar yang kuat dalam al-Quran sebagaimana firman Allah dalam Q.S
Mudatsir : 38
Artinya:
Tiap diri terikat (tergadai) dengan apa yang telah diperbuatnya (Q.S Mudatsir : 38).
Berdasarkan pengertian gadai diatas yang dikemukakan oleh para ahli hukum Islam
diatas, penulis berpendapat bahwa gadai (rahn) adalah menahan barang jaminan yang bersifat
materi milik si peminjam (rahin) sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya, dan barang
yang diterima tersebut bernilai ekonomis, sehingga pihak yang menahan (murtahin)
memperoleh jaminan untuk mengambil kembali seluruh atau sebagian utangnya dari barang
gadai dimaksud, bila pihak yang menggadaikan tidak dapat membayar utang pada waktu yang
telah ditetukan.

Universitas Sumatera Utara

Karena itu, tampak bahwa Gadai Syariah merupakan perjanjian antara seseorang untuk
menyerahkan harta benda berupa emas/perhiasan/kendaraan dan/atau harta benda lainnya
sebagai jaminan dan/atau agunan kepada seseorang dan/atau lembaga pegadaian syariah
berdasarkan hukum gadai prinsip syariah Islam; sedangkan pihak lembaga pegadaian syariah
menyerahkan uang sebagai tanda terima dengan jumlah maksimal 90% dari nilai taksir
terhadap barang yang diserahkan oleh penggadai. Gadai dimaksud, ditandai dengan mengisi
dan menandatangani Surat Bukti Gadai (rahn).
Pendanaan pegadaian syariah memiliki sumber-sumber dana sebagai berikut (Zainudin
Ali, 2008:52) :
1. Modal sendiri
2. Penerbitan obligasi syariah
3. Mengadakan kerja sama atau syirkah dengan lembaga keuangan lainnya
4. Pendanaan kegiatan operasional gadai syariah meliputi gaji pegawai, honor, perawatan
gedung, peralatan dan sebagainya.
5. Penyaluran dana yang ada, sebagian besar digunakan untuk kegiatan pembiayaan.
Bahkan lebih dari 50% dan dimaksud disalurkan pada aktifitas pembiayaan, yaitu
pemberian pinjaman kepada warga masyarakat yang membutuhkan.
6. Investasi lain, yaitu dan-dan yang belum digunakan untuk membiayai kegiatan
operasional pegadaian syariah, atau belum disalurkan kepada masyarakat, maka dapat
diinvestasikan dalam bentuk lain, baik investasi jangka pendek maupun jangka
menengah.
2.3 Pengertian Pegadaian Syariah
Transaksi hukum gadai dalam ilmu fikih Islam diartikan sebagai Rahn yang
merupakan suatu jenis perjanjian untuk menahan suatru barang sebagai tanggungan utang

Universitas Sumatera Utara

(Zainudin Ali, 2008:1) . Rahn dalam bahasa Arab adalah al-habsu yang berarti tetap dan kekal
(Syafei, 2000:159). Kata ini merupakan makna yang bersifat materiil. Karena itu, secara
bahasa kata ar-rahn berarti menjadikan sesuatu barang yang bersifat materi sebagai pengikat
utang.
Pengertian gadai (rahn) secara bahasa seperti diungkapkan di atas adalah tetap. Kekal,
dan jaminan. Sedang dalam istilah adalah menyandera sejumlah harta yang diserahkan
sebagai jaminan secara hak, dan dapat diambil kembali sejumlah harta dimaksud sesudah
ditebus (Zainudin Ali, 2008:1).
Pengertian gadai dalam hukum Islam (syara) adalah (Zainudin Ali, 2008:2):
Menjadikan suatu barang yang mempunyai nilai harta dalam pandangan syara sebagai
jaminan utang, yang memungkinkan untuk mengambil seluruh atau sebagian utang dari
barang tersebut.
Selain pengertian gadai yang dikemukakan di atas, penulis mengungkapkan pengertian
gadai yang diberikan oleh para ahli hukum Islam sebagai berikut (Zainudin Ali, 2008:2):
1. Ulama Syafiiyah mendefinisikan Rahn sebagai berikut:
Menjadikan suatu barang yang biasa dijual sebagai jaminan utang dipenuhi dari
harganya, bila yang berutang tidak sanggup membayar utangnya.
2. Ulama Hanabilah mengungkapkan sebagai berikut:
Suatu benda yang dijadikan kepercayaan suatu utang, untuk dipenuhi dari harganya,
bila yang berutang tidak sanggup membayar utangnya
3. Ulama Malikiyah mendefinisikan sebagai berikut:
Sesuatu yang bernilai harta (mutamawwal) yang diambil dari pemiliknya untuk
dijadikan pengikat atas utang yang tetap (mengikat)
4. Ahmad Azhar Basyir

Universitas Sumatera Utara

Rahn adalah perjanjian menahan sesuatu barang dengan tanggungan utang, akan
menjadikan sesuatu benda bernilai menurut pandangan syara sebagai tanggungan
marhun bih, sehingga dengan adanya tanggungan utang itu seluruh atau sebagian
utang dapat diterima.
5. Muhammad Syafii Antonio
Gadai syariah (rahn) adalah menahan salah satu harta milik nasabah (rahin) sebagai
barang jaminan (marhun) atas utang / pinjaman (marhun bih) yang diterimanya.
Berdasarkan pengertian gadai diatas yang dikemukakan oleh para ahli hukum Islam
diatas, penulis berpendapat bahwa gadai (rahn) adalah menahan barang jaminan yang bersifat
materi milik si peminjam (rahin) sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya, dan barang
yang diterima tersebut bernilai ekonomis, sehingga pihak yang menahan (murtahin)
memperoleh jaminan untuk mengambil kembali seluruh atau sebagian utangnya dari barang
gadai dimaksud, bila pihak yang menggadaikan tidak dapat membayar utang pada waktu yang
telah ditetukan.
Jika memperhatikan pengertian gadai (rahn) di atas, maka tampak bahwa fungsi dari
akad perjanjian antara pihak peminjam dengan pihak yang meminjam uang adalah untuk
memberikan ketenangan bagi pemilik uang dan/atau jaminan keamanan uang yang
dipinjamkan. Karena itu, rahn pada prinsipnya merupakan suatu kegiatan utang piutang yang
murni berfungsi sosial, sehingga dalam buku fiqh muamalah akad ini merupakan akad
tabarru atau akad derma yang tidak mewajibkan imbalan.
2.4 Dasar Hukum Gadai
Dasar hukum yang menjadi landasan gaadi syariah adalah ayat-ayat Alquran, hadist nabi
Muhammad SAW, ijma ulama, dan Fatwa MUI. Hal dimaksud diungkapkan sebagai berikut
(Zainudin Ali, 2008:5):

Universitas Sumatera Utara

1. Al-Quran
Dasar hukum yang membangun konsep rahn dalam QS Al Baqarah (2) ayat 283,
Artinya:
Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedang kamu
tidak memperoleh seorang penulis, Maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang
(oleh yang berpiutang). akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain,
Maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia
bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan
persaksian. dan barangsiapa yang menyembunyikannya, Maka Sesungguhnya ia adalah
orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Syaikh Muhammad Ali As-Sayis berpendapat, bahwa ayat Alquran di atas adalah
petunjuk untuk menerapkan primsip kehati-hatian bila seseorang hendak melakukan transaksi
utang piutang yang memakai jangka waktu dengan orang lain, dengan cara menjaminkan
sebuah barang kepada orang yang berpiutang.
2. Hadits Nabi
Sedangkan dalam Hadits Nabi Muhammad SAW, diriwayatkan oleh Imam Muslim:
Telah meriwayatkan kepada kami Ishaq bin Ibrahim Al Hanzhali dan Ali bin Khasyram;
kedunya mengabarkan kepada kami Isa bin Yunus bin Amasy dari Ibrahim dari Aswad dari
Aisyah ra berkata, bahwasanya Rasulullah saw membeli makanan dari seorang Yahudi
dengan menggadaikan baju besinya (HR. Muslim).
3. Ijma Ulama
Jumhur ulama menyepakati kebolehan status hukum gadai (rahn). Hal dimaksud
berdasarkan pada kisah Nabi saw yang menggadaikan baju besinya untuk mendapatkan
makanan dari seorang Yahudi.

Universitas Sumatera Utara

4. Fatwa Dewan Syariah Nasional


Berdasarkan Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) yang
menyatakan bahwa pinjaman dengan menggadaikan barang sebagai jaminan utang dalam
bentuk rahn diperbolehkan dengan berbagai ketentuan, diantaranya sebagai berikut:
1) Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No: 25/DSN-MUI/III/2002,
tentang rahn
2) Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No: 26/DSN-MUI/III/2002,
tentang rahn Emas
3) Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No: 09/DSN-MUI/IV/2000,
tentang pembiayaan ijarah
4) Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No: 10/DSN-MUI/IV/2000,
tentang wakalah
5) Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No: 43/DSN-MUI/VIII/2004,
tentang Ganti Rugi
2.5 Rukun, Syarat Gadai dan Berakhirnya Akad Gadai
Pada dasarnya aspek hukum keperdataan Islam dalam hal transaksi baik dalam benutki
jual beli, sewa menyewa, gadai maupun yang semacamnya mempersyaratkan rukun dan
syarat sah termasuk dalam transaksi gadai. Demikian juga hak dan kewajiban bagi pihakpihak yang melakukan transaksi gadai. Hal dimaksud di ungkapkan sebagai berikut (Zainudin
Ali, 2008:20):
2.5.1 Rukun Gadai
Menurut jumhur ulama rukun gadai ada 4 (empat):
a. Shigat (lafal ijab dan qabul)
b. Orang yang berakad (Akid)

Universitas Sumatera Utara

1). Rahin (orang yang memiliki barang)


2). Murtahin (orang yang mengambil gadai)
c. Marhun (harta yang dijadikan jaminan)
d. Marhun bih (utang)
2.5.2 Syarat Gadai
Berikut syarat dalam melakukan transaksi gadai (Zainuddin Ali, 2008:21) :
1. Orang yang berakad cakap hukum
2. Isi akad tidak mengandung akad bathil
3. Marhun Bih ( Pinjaman). Pinjaman merupakan hak yang wajib dikembalikan kepada
murtahin dan bisa dilunasi dengan barang yang dirahnkan tersebut. Serta, pinjaman itu
jelas dan tertentu.
4. Marhun (barang yang dirahnkan). Marhun bisa dijual dan nilainya seimbang dengan
pinjaman, memiliki nilai, jelas ukurannya,milik sah penuh dari rahin, tidak terkait
dengan hak orang lain, dan bisa diserahkan baik materi maupun manfaatnya.
5. Jumlah utang tidak melebihi dari nilai jaminan
6. Rahin dibebani jasa manajemen atas barang berupa: biaya asuransi,biaya
penyimpanan,biaya keamanan, dan biaya pengelolaan serta administrasi.

2.5.3 Berakhirnya Akad Gadai


Akad gadai akan berakhir apabila (Abdul Ghofur, 2005:96) :
a. Barang gadai telah diserahkan kembali pada pemiliknya
b. Rahin telah membayar hutangnya
c. Pembebasan utang dengan cara apapun, walaupun dengan pemindahan oleh murtahin
d. Pembatalan oleh murtahin walaupun tidak ada persetujuan dari pihak lain

Universitas Sumatera Utara

e. Rusaknya barang rahin bukan oleh tindakan atau pengguna murtahin


f. Pemanfaatan barang rahn dengan penyewaan, hibah atau shadaqah baik dari pihak
rahin maupun murtahin.

2.6 Karakteristik Pegadaian Syariah


Pegadaian syariah bukan hanya sekedar lembaga keuangan yang bebas bunga, tetapi
juga memiliki orientasi pencapaian kesejahteraan. Secara fundamental terdapat beberapa
karakteristik pegadaian syariah (Andri Soemitra:2009;67) sebagai berikut:
1. Penghapusan riba
2. Pelayanan kepentingan publik dan merealisasikan sasaran sosio- ekonomi islam
3. Pegadaian syariah bersifat universal yang merupakan gabungan dari lembaga
keuangan komersil dan lembaga keuangan investasi
4. Pegadaian syariah akan melakukan evaluasi yang lebih berhati- hati terhadap
permohonan pembiayaan yang berorientasi kepada penyertaan modal, karena
pegadaian syariah menerapkan profit and loss sharing dalam konsinyasi, ventura,
bisnis atau industri
5. Bagi hasil cenderung mempererat hubungan antara pegadaian syariah dan nasabah
6. Kerangka yang dibangun dalam membantu perusahaan mengatasi kesulitan
liquiditasnya dengan memanfaatkan instrumen bank pasar uang antar pegadaian
syariah dan instrumen pegadaian syariah berbasis syariah.
2.7 Tujuan Dan Manfaat Pegadaian Syariah
2.7.1 Tujuan Pegadaian Syariah
Dalam perspektif ekonomi, pegadaian merupakan salah satu alternatif pendanaan yang
sangat efektif karena tidak memerlukan proses dan persyaratan yang rumit. Pegadaian

Universitas Sumatera Utara

melaksanakan kegiatan lembaga keuangan berupa pembiayaan dalam bentuk penyaluran dana
ke masyarakat atas dasar hukum gadai. Tugas pokok dari lembaga ini adalah memberikan
pinjaman kepada masyarakat yang membutuhkan. Lembaga Keuangan Gadai Syariah
mempunyai fungsi sosial yang sangat besar. Karena pada umumnya, orang orang yang
datang ke tempat ini adalah mereka yang secara ekonomi sangat kekurangan. Dan biasanya
pinjaman yang dibutuhkan adalah pinjaman yang bersifat komsumtif dan sifatnya mendesak.
Dalam implementasinya, pegadaian syariah merupakan kombinasi komersil-produktif,
meskipun jika kita mengkaji latar belakang gadai syariah, baik secara implisit maupun
eksplisit lebih berpihak dan tertujuan untuk kepentingan sosial. Sebagai lembaga keuangan
syariah non bank milik pemerintah bertujuan untuk menyediakan tempat badan usaha bagi
orang-orang yang menginginkan prinsip-prinsip syariah bagi masyarakat muslim khususnya
dan pada semua lapisan masyarakat non muslim pada umumnya. Disamping itu untuk
memenuhi kebutuhan umat akan jasa gadai yang sesuai syariah Islam. Sifat usaha pegadaian
pada prinsipnya menyediakan pelayanan bagi kemanfaatan masyarakat umum dan sekaligus
memupuk keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan yang baik. Oleh karena itu Pegadaian
Syariah pada dasarnya mempunyai tujuan-tujuan pokok seperti dicantumkan dalam PP No.
103 tahun 2000 sebagai berikut:
a. Turut melaksanakan dan menunjang pelaksanaan kebijaksanaan dan program
pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan nasional pada umumnya melalui
penyaluran uang pembiayaan/pinjaman atas dasar hokum gadai
b. Pencegahan praktik ijon, pegadaian gelap, dan pinjaman tidak wajar lainnya
c. Pemanfaatan gadai bebas bunga pada gadai syariah memiliki efek jarring pengaman
social

karena

masyarakat

yang

butuh

dana

mendesak

tidak

lagi

dijerat

pinjaman/pembiayaan berbasis bunga

Universitas Sumatera Utara

d. Membantu orang-orang yang membutuhkan pinjaman dengan syarat mudah.


2.7.2 Manfaat Pegadaian Syariah
Banyak manfaat lain yang bisa diperoleh dari pegadaian syariah. Pertama, prosesnya
cepat. Dalam pegadaian syariah, nasabah dapat memperoleh pinjaman yang diperlukan dalam
waktu yang relatif cepat, baik proses administrasi, maupun penaksiran barang gadai. Kedua,
caranya cukup mudah. Yakni hanya dengan membawa barang gadai (marhun) beserta bukti
kepemilikan. Ketiga, jaminan keamanan atas barang diserahkan dengan standar keamanan
yang telah diuji dan diasuransikan dan sebagainya.
Adapun manfaat pegadaian antara lain (Abdul Ghofur, 2005:93)
a. Bagi nasabah : tersedianya dana dengan prosedur yang relative lebih sederhana dan
dalam waktu yang lebih cepat dibandingkan dengan pembiayaan/kredit perbankan. Di
samping itu, nasabah juga mendapat manfaat penaksiran nilai suatu barang bergerak
secara professional. Mendapatkan fasilitas penitipan barang bergerak yang aman dan
dapat dipercaya.
b. Bagi perusahaan pegadaian :
1. Penghasilan yang bersumber dari sewa modal yang dibayarkan oleh peminjam
dana
2. Penghasilan yang bersumber dari ongkos yang dibayarkan oleh nasabah
memperoleh jasa tertentu
3. Pelaksanaan misi perum pegadaian sebagai BUMN yang bergerak di bidang
pembiayaan berupa pemberian bantuan kepada masyarakat yang memerlukan
dana dengan prosedur yang relative sederhana
4. Berdasarkan PP No. 10 Tahun 1990, Laba yang diperoleh digunakan untuk :
i. Dana pembangunan (55%)
ii. Cadangan umum (20%)

Universitas Sumatera Utara

iii.
iv.

Cadangan tujuan (5%)


Dana sosial (20%).

2.8 Produk Produk Pegadaian Syariah


Produk dan layanan jasa yang ditawarkan oleh pegadaian syariah kepada masyarakat
berupa (Zainudin Ali, 2008:53):
a) Pemberian pinjaman atau pembiayaan atas dasar hukum gadai syariah
Produk ini mensyaratkan pemberian pinjaman dengan penyerahan barang sebagai
jaminan. Barang gadai harus berbentuk barang bergerak, oleh karena itu
pemberian pinjaman sangat ditentukan oleh nilai dan jumlah dari barang yang
digadaikan
b) Penaksiran nilai barang
Di samping memberikan pinjaman kepada masyarakat, pegadaian syariah juga
memberikan pelayanan berupa jasa penaksiran atas nilai suatu barang. Jasa yang
ditaksir biasanya meliputi semua barang bergerak dan tidak bergerak. Jasa ini
diberikan kepada mereka yang ingin mengetahui kualitas barang seperti emas,
perak, dan berlian. Biaya yang dikenakan pada nasabah adalah berupa ongkos
penaksiran barang
c) Penitipan barang berupa sewa (ijarah).
Pegadaian syariah juga menerima titipan barang dari masyarakat berupa surat-surat
berharga seperti sertifikat tanah, ijazah, kendaraan. Fasilitas ini diberikan bagi
mereka yang ingin melakukan perjalanan jauh dalam waktu yang relatif lama atau
karena penyimpanan di rumah dirasakan kurang aman. Atas jasa penitipan
tersebut, gadai syariah memperoleh penerimaan dari pemilik barang berupa
ongkos penitipan
d) Gold counter

Universitas Sumatera Utara

Yaitu jasa penyediaan fasilitas berupa tempat penjualan emas eksekutif yang
terjamin kualitas dan keasliannnya. Gold counter ini semacam toko dengan emas
galeri 24, di mana setiap pembelian emas di toko milik pegadaian syariah akan
dilampiri sertifikat jaminan.
e) Dan lain - lain
2.9 Perbedaan Bunga dan Bagi Hasil
Bunga bank adalah tambahan biaya yang harus dibayarkan oleh nasabah bank atas
modal yang telah dipinjamkan oleh bank kepada nasabah. Menurut pandangan Islam, bunga
bank sama dengan riba. Jadi islam mengharamkan bunga bank (Heri Sudarsono, 2003:96).
Bunga bank dikatan riba ialah bunga yang berlipat ganda. Bila bunga hanya dua persen dari
modal pinjaman itu, itu tidak berlipat ganda sehingga tidak termasuk riba yang diharamkan
oleh agama Islam. Riba disini ialah ketika adanya pelipatan ganda terhadap bunga itu sendiri,
namun ada juga yang mengatakan bahwa bunga itu riba karena apapun yang bertambah dari
asalnya dikatakan sebagai riba (M. Syafi'I Antonio, 1999:133).
Bagi hasil menurut istilah adalah suatu sistem yang meliputi tata cara pembagian hasil
usaha antara penyedia dana dan pengelola dana, (Hendi Suhendi, 2002: 153). Sedang menurut
terminologi asing (Inggris) bagi hasil dikenal dengan profit sharring. Profit sharring dalam
kamus ekonomi diartikan pembagian laba. Secara definitif profit sharring diartikan:
"Distribusi beberapa bagian dari laba (profit) pada para pegawai dari suatu perusahaan".

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.1
Perbedaan Bunga Dengan Bagi Hasil
Bagi Hasil

Bunga

Penentuan besarnya nisbah bagi hasil dibuat Penentuan bunga pada waktu akad dengan
pada waktu akad dengan berpedoman pada asumsi harus selalu untung
untung rugi
Besarnya bagi hasil adalah berdasarkan Besarnya bunga adalah suatu persentase
nisbah terhadap besarnya keuntungan yang tertentu
diperoleh
Besarnya

terhadap

besarnya

uang

yang

dipinjamkan
bagi

hasil

tergantung

pada Besarnya bunga tetap seperti yang telah

keuntungan usaha yang dijalankan. Untung dijanjikan tanpa mempertimbangkan apakah


rugi ditanggung bersama

proyek mudharib untung atau rugi

Tidak ada yang meragukan keabsahan bagi Eksistensi bunga diragukan oleh semua
hasil

agama termasuk islam

Sumber: Muhamad Syafii Antonio (2001)


Keuntungan yang dibagihasilkan harus dibagi secara proporsional antara shahibul
maal dengan mudharib. Dengan demikian, semua pengeluaran rutin yang berkaitan dengan
bisnis mudlarabah, bukan untuk kepentingan pribadi mudharib, dapat dimasukkan ke dalam
biaya operasional. Keuntungan bersih harus dibagi antara shahibul maal dan mudharib sesuai
dengan proporsi yang disepakati sebelumnya dan secara eksplisit disebutkan dalam perjanjian
awal. Tidak ada pembagian laba sampai semua kerugian telah ditutup dan ekuiti shahibul
maal telah dibayar kembali. Jika ada pembagian keuntungan sebelum habis masa perjanjian
akan dianggap sebagai pembagian keuntungan di muka.
Inti mekanisme investasi bagi hasil pada dasarnya adalah terletak pada kerjasama yang
baik antara shahibul maal dengan mudharib. Kerjasama atau partnership merupakan karakter
dalam masyarakat ekonomi Islam. Kerjasama ekonomi harus dilakukan dalam semua lini
kegiatan ekonomi, yaitu: produksi, distribusi barang maupun jasa. Salah satu bentuk

Universitas Sumatera Utara

kerjasama dalam bisnis atau ekonomi Islam adalah qirad atau mudlarabah. Qirad atau
mudlarabah adalah kerjasama antara pemilik modal atau uang dengan pengusaha pemilik
keahlian atau ketrampilan atau tenaga dalam pelaksanaan unit-unit ekonomi atau proyek
usaha. Melalui qirad atau mudlarabah kedua belah pihak yang bermitra tidak akan
mendapatkan bunga, tetapi mendapatkan bagi hasil atau profit dan loss sharing dari proyek
ekonomi yang disepakati bersama (M. Syafi'I Antonio, 1999:135)
2.10 Persamaan dan Perbedaan Pegadaian Konvensional dengan Syariah
Pegadaian konvensional dan pegadaian syariah adalah sama-sama lembaga keuangan
yang memberikan pinjaman kepada masyarakat atas dasar gadai. Dalam menjalankan
usahanya pegadaian tersebut memberikan pinjaman dengan adanya agunan atau jaminan dari
masyarakat yang berguna apabila suatu saat nasabah tidak mampu membayar utangnya, maka
pihak pegadaian boleh melakukan pelelangan atas barang tersebut dengan memberitahukan
terlebih dahulu kepada nasabah peminjam biasanya 3 hari sebelum diadakan pelelangan.
Pada prinsipnya barang jaminan yang diberikan nasabah tersebut tidak boleh diambil
manfaatnya, karena disini pegadaian hanya berkewajiban menjaga dan memelihara barang
tersebut agar tetap utuh sperti sedia kala, namun boleh juga diambil manfaatnya apabila ada
kesepakatan antara nasabah dengan pihak pegadaian.

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.2
Persamaan Pegadaian Konvensional dengan Pegadaian Syariah
No.

Persamaan

1.

Hak gadai atas pinjaman uang

2.

Adanya agunan sebagai jaminan utang

3.

Tidak boleh mengambil manfaat barang yang digadaikan

4.

Biaya barang yang digadaikan ditanggung oleh para pemberi gadai

5.

Apabila batas waktu pinjaman uang habis barang yang digadaikan boleh
dijual atau dilelang.

Sumber: Ali, Zainuddin (2008)

Biaya barang yang telah digadaikan tersebut menjadi tanggungan nasabah dalam hal
biaya pemeliharaan dan penjagaan oleh pegadaian, dan besarnya biaya telah ditentukan
sebelumnya sesuai dengan jenis barang dan besarnya pinjaman. Dan apabila pinjaman telah
jatuh tempo, pihak pegadaian memberitahukan kepada peminjam/nasabah apakah dilakukan
perpanjangan waktu peminjaman atau tidak? Dan setelah dilakukan perpanjangan waktu dan
nasabah juga tidak mampu membayar utangnya maka akan dilakukan penjualan atau
pelelangan, semua biaya pokok pinjaman dan biaya administrasi dan biaya diadakannya
lelang tersebut ditanggung dari hasil penjualan lelang tersebut, dan apabila ada kelebihan
uang maka akan diberikan kembali kepada nasabah yang bersangkutan.

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.3
Perbedaan Pegadaian Konvensional dengan Pegadaian Syariah
No.
1.

2.

3.

4.

5.

Pegadaian Konvensional
Gadai menurut hukum perdata
disamping
berprinsip
tolong
menolong juga menarik keuntungan
dengan cara menarik bunga atau
sewa modal
Dalam hukum perdata hak gadai
hanya berlaku pada benda yang
bergerak
Adanya istilah bunga (memungut
biaya dalam bentuk bunga yang
bersifat akumulatif dan berlipat
ganda)

Pegadaian Syariah
Rahn dalam hukum Islam dilakukan
secara sukarela atas dasar tolong
menolong tanpa mencari keuntungan/
mencari keuntungan yang sewajarnya

Rahn berlaku pada seluruh benda baik


harus yang bergerak maupun yang tidak
bergerak
Dalam rahn tidak ada istilah bunga (biaya
penitipan, pemeliharaan, penjagaan dan
penaksiran). Singkatnya biaya gadai
syariah lebih kecil dan hanya sekali
dikenakan
Dalam
hukum
perdata
gadai Rahn menurut hukum Islam dapat
dilaksanakan melalui suatu lembaga dilaksanakan tanpa melalui suatu
yang ada di Indonesia disebut PT lembaga
Pegadaian
Menarik bunga 10%-14% untuk Hanya memungut biaya (termasuk
jangka waktu 4 bulan, plus asuransi asuransi barang) sebesar 4% untuk jangka
sebesar 0,5% dari jumlah pinjaman. waktu 2 bulan. Bila lewat 2 bulan
Jangka waktu 4 bulan itu bisa terus nasabah tak mampu menebus barangnya,
diperpanjang,
selama
nasabah masa gadai bisa diperpanjang dua
mampu membayar bunga
periode. Tidak ada tambahan pungutan
biaya untuk perpanjangan waktu.

6.

Bila pinjaman tidak dilunasi, barang Bila pinjaman tidak dilunasi, barang
jaminan
akan
dijual
kepada jaminan dilelang kepada masyarakat
masyarakat

7.

Kelebihan uang hasil lelang tidak Kelebihan uang hasil dari penjualan
diambil oleh nasabah, tetapi menjadi barang tidak diambil oleh nasabah, tetapi
milik pegadaian
diserahkan kepada lembaga BAZIS

Sumber: Ali, Zainuddin (2008)

Perbedaan yang mendasar antara pegadaian syariah dengan konvensional adalah


dalam memungut biaya dalam bentuk bunga yang bersifat akumulatif dan berlipat ganda. Lain
halnya biaya dipegadaian syariah tidak berbentuk bunga, tetapi berupa biaya penitipan,
pemeliharaan, penjagaan, dan penaksiran. Singkatnya biaya di pegadaian syariah lebih kecil
dan hanya sekali dikenakan.
2.11 Pengertian Potensi

Universitas Sumatera Utara

Kata potensi berasal dari bahasa Inggris yaitu to potent, yang berarti keras atau kuat.
Dalam pemahaman lain kata potensial mengandung arti kekuatan, kemampuan dan daya.
Potensi adalah sesuatu hal yang dapat dijadikan sebagai bahan atau sumber yang akan
dikelola baik melalui usaha yang dilakukan manusia maupun yang dilakukan melalui tenaga
mesin dimana dalam pengerjaannya potensi dapat juga diartikan sebagai sumber daya yang
ada disekitar kita. Sementara itu, dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, yang dimaksud
potensi adalah kemampuan-kemampuan dan kualitas-kualitas yang dimiliki oleh seseorang,
namun belum digunakan secara maksimal. Potensi merupakan suatu daya yang dimiliki oleh
manusia, tetapi daya tersebut belum dimanfaatkan secara optimal.
2.12 Pengertian Kendala
Kendala adalah halangan dan rintangan dalam pencapaian sasaran. yaitu adanya
hambatan yang menghalangi jalannya usaha yang dilakukan pegadaian syariah dalam
mengembangkan usahanya.
2.13 Pengertian Peluang
Peluang adalah kondisi eksternal yang menunjang perusahaan untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan suatu perusahaan. Peluang sangat penting dalam dunia bisnis karena
dengan adanya peluang maka suatu perusahaan akan lebih bisa dalam menguasai pangsa pasar
yang ada karena peluang adalah kesempatan bagi perusahaan.
2.14 Pengertian Ancaman
Ancaman adalah kondisi eksternal dari perusahaan, yaitu adanya hal hal yang
menghambat kegiatan usaha yang dilakukan perusahaan yang berasal dari luar perusahaan dan
ini akan sangat menganggu apabila suatu perusahaan tidak bisa mengendalikannya karena
ancaman bisa lebih berat dari pada kelemahan disebabkan ancaman datangnya dari luar
perusahaan yang tak terduga dan bisa mengancam sewaktu waktu.

Universitas Sumatera Utara

2.15 Kerangka Konseptual

Lingkungan Internal:
Kekuatan/ Potensi
Kelemahan/ Kendala

Strategi Pengembangan

Lingkunagn Eksternal:
Peluang
Ancaman

Gambar 2.1
Kerangka Konseptual Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Strategi Pengembangan

Strategi dalam pencapian tujuan organisasi dapat dirumuskan sebelumnya dengan


melakukan suatu analisis terhadap keseluruan indikasi dalam organisasi tersebut. Dengan
mengadakan analisis maka pemimpin mampu menemukan formula (strategi) yang baik untuk
mengarahkan seluruh potensi organisasi, guna pencapaian tujuan organisasi. Pemimpin seperti
inilah yang cerdas dalam memimpin serta mengarahkan organisasi maju kedepan, dan bukan
pada hanya rutinitas organisasi. Selain itu, kegiatan analisis organisasi juga dapat digunakan
dalam pengambilan keputusan dan pemecahan suatu masalah. Dengan menggunakan analisis
yang menyeluruh dan tepat, maka pemimpin akan tepat dalam mengambil keputusan serta
lebih memberdayakan pelaku-pelaku organisasi.
Analisis sangat penting dalam kehidupan organisasi. Salah satu contoh analisis yang
sangat mudah dan sangat efesien untuk digunakan adalah analisis SWOT (Strength,
Weaknesses, Opportunities dan Threats). Analisis SWOT adalah cara menganalisis faktor
internal dan faktor eksternal menjadi langkah strategi dalam pengoptimalan usaha yang lebih

Universitas Sumatera Utara

menguntungkan (Rangkuti, 2005). Dengan menggunakan SWOT, organisasi akan lebih


mudah memetakan berbagai potensi internal dan eksternal, serta menemukan strategi yang
tepat untuk pengembangan selanjutnya atau pencapaian tujuan tertentu. Dengan SWOT
organisasi akan mengembangkan kekuatan potensial dengan memanfaatkan peluang, serta
menekan pengaruh dari kelemahan yang dapat menjadi ancaman bagi organisasi.
Kekuatan (Strengths) adalah segala hal yang dibutuhkan pada kondisi yang sifatnya
internal organisasi agar supaya kegiatan-kegiatan organisasi berjalan maksimal. Misalnya :
kekuatan keuangan, motivasi anggota yang kuat. Kelemahan (Weaknesses) adalah terdapatnya
kekurangan pada kondisi internal organisasi, akibatnya kegiatan-kegiatan organisasi belum
maksimal terlaksana. Misalnya ; kekurangan dana, memiliki orang-orang baru yang belum
terampil. Peluang (Opportunities) adalah faktor-faktor lingkungan luar yang positif,yang
dapat dan mampu mengarahkan kegiatan organisasi kearahnya. Misalnya ; Kebutuhan
lingkungan sesuai dengan tujuan organisasi, masyarakat lagi membutuhkan perubahan,
tingkat kepercayaan masyarakat terhadap organisasi yang bagus. Ancaman (Threats) adalah
faktor-faktor lingkungan luar yang mampu menghambat pergerakan organisasi. Misalnya :
masyarakat sedang dalam kondisi apatis dan pesimis terhadap organisasi tersebut.
Strategi yang diambil saat ini bagi organisasi merupakan titik tumpu bagi pergerakan
organisasi selanjutnya. Lewat analisis tersebut akan memahami apa dan bagaimana organisasi
yang dirintis, serta bagaimana cara menggerakannya. Dengan memahami analisis SWOT,
organisasi akan menjadi terbuka serta merta menciptakan budaya kerja yang efektif bagi
keseluruan aktivitas organisasi. Organisasi yang sukses adalah organisasi yang mengenal
dirinya dan mengetahui kemana ia akan melangkah.
2.16 Penelitian Terdahulu

Universitas Sumatera Utara

Siti Yunitarini, (2003) didalam penelitiannya yang berjudul Prospek Dan Kendala
Bank Syariah Di Era Globalisasi menyimpulkan bahwa berdirinya bank syariah merupakan
salah satu solusi umat muslim keluar dari transaksi dan bisnis riba seperti bank konvensional
pada umumnya yang dasar operasionalnya menggunakan konsep dasar bunga. Dasar transaksi
bunga yang hukumnya sudah jelas dinyatakan oleh MUI adalah haram. Peluang bank syariah
untuk maju dan berkembang masih besar, mengingat mayoritas masyarakat indonesia adalah
muslim. Masih ada kesempatan besar untuk menggali potensi pangsa pasar indonesia. Pada
kenyataannya bank syariah akan lebih rentan terhadap krisis yang terjadi. Dengan dasar
operaional bagi hasil, bank syariah tidak akan menghadapi masalah Negative Spread seperti
yang dihadapi bank konvensional kebanyakan yang menggunakan dasar operasional bunga.
Sistem bagi hasil yang dimiliki bank syariah akan mendorong sistem perekonomian yang
berkeadilan. Dengan sistem bagi hasil akan mendorong pemanfaatan sumber daya secara
maksimal, pada akhirnya menggairahkan sektor riil yang banyak diharapkan memberi peluang
kesempatan kerja.
Diyana, (2011) didalam penelitiannya yang berjudul Analisis Sistem Rahn (Gadai
Syariah) Pada Perum Pegadaian Syariah (Studi pada Pegadaian Syariah Cabang Landungsari
Malang) menyimpulkan bahwa Perum Pegadaian Syariah Cabang Landungsari Malang,
menawarkan beberapa keuntungan bagi masyarakat yaitu menjawab kebutuhan transaksi
gadai sesuai syariah, untuk solusi pendanaan yang cepat, praktis, dan menentramkan.
Pelaksanaan rahn pada proses pemberian pinjaman, pengelolaan hingga penebusan barang
pada Perum Pegadaian Syariah Cabang Landungsari Malang sudah sesuai dengan teori gadai
syariah dan Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia, namun masih terdapat
beberapa kekurangan diantaranya adalah nasabah hanya diberikan kitir pada Formulir
Permintaan Kredit (FPK), kasir merangkap tugas sebagai penyimpan, jumlah karyawan yang

Universitas Sumatera Utara

kurang dan ukuran bangunan yang kecil sehingga hanya menerima barang gadai berupa emas
dan barang elektronik .

Universitas Sumatera Utara