Anda di halaman 1dari 28

24

BAB II
PRINSIP GADAI (RAHN) BERDASARKAN SYARIAH HUKUM ISLAM

A.1.Istilah dan Pengertian Gadai (Rahn)


Gadai syariah (rahn) adalah menahan salah satu harta milik nasabah atau
Rahin sebagai barang jaminan atau marhun atas hutang/pinjaman atau marhun bih
yang diterimanya. Marhun tersebut memiliki nilai ekonomis. Dengan demikian,
Pihak yang menahan atau penerima gadai atau murtahin memperoleh jaminan Untuk
dapat mengambil kembali seluruh atau sebagian piutangnya.26
Menurut A.A. Basyir, rahn adalah perjanjian menahan sesuatu barang sebagai
tanggungan utang, atau menjadikan sesuatu benda bernilai menurut pandangan syara
sebagai tanggungan marhun bih, sehingga dengan adanya tanggungan utang itu
seluruh atau sebagian utang dapat diterima.27
Menurut Imam Abu Zakariya Al Anshari, rahn adalah menjadikan benda yang
bersifat harta untuk kepercayaan dari suatu marhun bih yang dapat dibayarkan dari
(harga) benda marhun itu apabila marhun bih tidak dibayar.28
Sedangkan Imam Taqiyyuddin Abu Bakar Al Husaini mendefinisikan rahn
sebagai

akad/perjanjian

utang-piutang

dengan

menjadikan

marhun

sebagai

kepercayaan/penguat marhunbih dan murtahin berhak menjual/melelang barang yang


26

Muhammad Syafii Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktik, Cetakan 1, Kerjasama
Gema Insani Press dengan Tazkia Institute, GIP, Jakarta: 2001. hal. 128.
27
A.A. Basyir, Hukum Islam Tentang Riba, Utang-Piutang Gadai, Al-Maarif, Bandung:
1983, hal. 50.
28
Rahmat Syafei, Konsep Gadai; Ar-Rahn dalam Fiqh Islam Antara Nilai Sosial dan Nilai
Komersial dalam Huzaimah T. Yanggo dan Hafiz Anshari, Problematika Hukum Islam Kontemporer,
Ibid. hal. 60.

24

Universitas Sumatera Utara

25

digadaikan itu pada saat ia menuntut haknya. Barang yang dapat dijadikan jaminan
utang adalah semua barang yang dapat diperjual-belikan, artinya semua barang yang
dapat dijual itu dapat digadaikan. Berdasarkan definisi di atas, disimpulkan bahwa
rahn itu merupakan suatu akad utang piutang dengan menjadikan barang yang
memiliki nilai harta menurut pandangan syara sebagai jaminan marhun bih,
sehingga rahin boleh mengambil marhun bih.
Selain pengertian gadai (rahn) yang dikemukakan di atas, lebih lanjut
mengungkapkan pengertian gadai (rahn) yang diberikan oleh para ahli hukum Islam
sebagai berikut:
1. Ulama syafiiyah mendefinisikan sebagai berikut :
Menjadikan suatu barang yang biasa dijual sebagai jaminan utang dipenuhi
dari harganya, bila yang berutang tidak sanggup membayar utangnya.
2. Ulama Hanabilah mengungkapkan sebagai berikut :
Suatu benda yang dijadikan kepercayaan suatu utang, untuk dipenuhi dari
harganya, bila yang berhutang tidak sanggup membayar utangnya.
3. Ulama Malikiyah mendefinisikan sebagai berikut :
Sesuatu yang bernilai harta (Mutamawwal) yang diambil dari pemiliknya
untuk dijadikan pengikat atas utang yang tetap (mengikat).
4. Ahmad Azhar Basyir mendefinisikan sebagai berikut :
Rahn adalah perjanjian menahan sesuatu barang sebagai tanggungan utang
atau menjadikan sesuatu benda bernilai menurut pandangan syara' sebagai

Universitas Sumatera Utara

26

tanggungan marhun bih, sehingga dengan adanya tanggungan utang seluruh


atau sebagian utang dapat diterima.
5. Muhammad Syafi'I Antonio mendefinisikan sebagai berikut :
Gadai syariah (Rahn) adalah menahan salah satu yaitu harta milik nasabah
(rahin) sebagai barang jaminan (marhum) atas utang/pinjaman (marhun bih)
yang diterimanya. Marhun tersebut memiliki nilai ekonomis. Dengan
demikian, pihak yang menahan atau penerima gadai (murtahin) memperoleh
jaminan untuk dapat mengambil kembali seluruh atau sebagian piutangnya.29

Dewan redaksi dari Ensiklopedi Hukum Islam berpendapat bahwa Rahn yang
dikemukakan oleh ulama Fiqh klasik tersebut hanya bersifat pribadi, artinya utang
piutang hanya terjadi antara seorang pribadi yang membutuhkan dan seorang yang
memiliki kelebihan harta, di zaman sekarang sesuai dengan perkembangan dan
kemajuan ekonomi, Rahn tidak hanya berlaku antar pribadi melainkan juga antara
pribadi dan lembaga keuangan.30
Berdasarkan pengertian gadai yang dikemukakan oleh para ahli Hukum Islam
diatas, dapat diketahui bahwa gadai (rahn) adalah menahan barang jaminan yang
bersifat materi milik si peminjam (rahin) sebagai jaminan atau pinjaman yang
diterimanya, dan barang yang diterima tersebut bernilai ekonomi sehingga pihak yang
menahan (murtahin) memperoleh jaminan untuk mengambil kembali seluruh atau

29

Ibid, Muhammad Syafii Antonio, hal.128.


Abdul Ghofur Anshari, Gadai Syariah di Indonesia, Gajah Mada University Press, tahun
2006, hal. 103.
30

Universitas Sumatera Utara

27

sebagian utangnya dari barang gadai dimaksud bila pihak yang menggadaikan tidak
dapat membayar utang pada waktu yang telah ditentukan. Karena itu, tampak bahwa
gadai syariah merupakan perjanjian antara seseorang untuk menyerahkan harta benda
berupa emas/perhiasan/kendaraan dan/atau harta benda lainnya sebagai jaminan
dan/atau agunan kepada seseorang dan/atau lembaga pegadaian syariah berdasarkan
hukum gadai syariah.
Pegadaian syariah mengacu kepada Al-Qur`an dan Hadits. Adapun
landasannya dalam Al-Qur`an sebagaimana firman Allah SWT :
Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuammalah tidak secara tunai)
sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang
tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian
kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu
menunaikan amanatnya (utangnya) dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah
Tuhannya, dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian.
Dan barang siapa yang menyembunyikan, sesungguhnya ia adalah orang
yang berdosa hatinya dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(QS. Al-Baqarah:283 Ayat 2).
Adapun dalam Hadits, Aisyah Ra berkata Rasullulah membeli makanan
dari seorang Yahudi dan meminjamkan kepadanya baju besi. (HR. AlBukhari dan Muslim).
Dari Abu Hurairah Ra, Rasulullah saw bersabda :

Universitas Sumatera Utara

28

Apabila ada ternak digadaikan, punggungnya boleh dinaiki oleh orang


yang menerima gadai, karena ia telah mengeluarkan biaya menjaganya.
Apabila ternak itu digadaikan, air susunya yang deras boleh diminum oleh
orang yang menerima gadai, karena ia telah mengeluarkan biaya menjaganya.
Kepada orang yang naik dan minum, ia harus mengelurkan biaya
perawatannya.(HR.Jamaah, kecuali Muslim dan an-Nasa`i).31
Dari Anas ra bahwasanya ia berjalan menuju Nabi Saw dengan roti dari
gandum dan sungguh Rasulullah Saw telah menaguhkan baju besi kepada
seorang Yahudi di Madinah ketika beliau mengutangkan gandum dari
seorang Yahudi. (HR.Anas Ra).32
1.

Fungsi Gadai Syariah


Dalam al-Quran surat al-Baqarah 283 Ayat 2 dijelaskan bahwa gadai pada

hakikatnya merupakan salah satu bentuk dari konsep muammalah, dimana sikap
menolong dan sikap amanah sangat ditonjolkan. Begitu juga dalam hadist Rasulullah
Saw. dari Ummul Muminin Aisyah ra. yang diriwayatkan Abu Hurairah, di sana
nampak sikap menolong antara Rasulullah Saw, dengan orang Yahudi saat Rasulullah
Saw menggadaikan baju besinya kepada orang Yahudi tersebut.
Maka pada dasarnya, hakikat dan fungsi Pegadaian dalam Islam adalah
semata-mata untuk memberikan pertolongan kepada orang yang membutuhkan

31

Http://Www.Ekomarwanto.Com/2011/11/Penerapan Teori dan Aplikasi Pegadaian. Html.


Diakses Tgl 19 Mai 2012.
32
Ibbid, http://shariaeconomy.blogspot.com/2008/07/Konsep Gadai Syariah Ar-Rahn dalam
Fiqh.html.

Universitas Sumatera Utara

29

dengan bentuk marhun sebagai jaminan, dan bukan untuk kepentingan komersiil
dengan mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya tanpa menghiraukan
kemampuan orang lain.33
Produk rahn disediakan untuk membantu nasabah dalam pembiayaan kegiatan
multiguna. Rahn sebagai produk pinjaman, berarti Pegadaian syariah hanya
memperoleh imbalan atas biaya administrasi, penyimpanan, pemeliharaan, dan
asuransi marhun, maka produk rahn ini biasanya hanya digunakan bagi keperluan
fungsi sosial-konsumtif, seperti kebutuhan hidup, pendidikan dan kesehatan. 34
Sedangkan rahn sebagai produk pembiayaan, berarti Pegadaian syariah memperoleh
bagi hasil dari usaha rahin yang dibiayainya.
2.

Syarat Sah dan Rukun Gadai Syariah


Sebelum dilakukan rahn, terlebih dahulu dilakukan akad. Akad menurut

Mustafa az-Zarqa35 adalah ikatan secara hukum yang dilakukan oleh 2 (dua) pihak
atau beberapa pihak yang berkeinginan untuk mengikatkan diri. Kehendak pihak yang
mengikatkan diri itu sifatnya tersembunyi dalam hati. Karena itu, untuk menyatakan
keinginan masing-masing diungkapkan dalam suatu akad.
Ulama fiqh berbeda pendapat dalam menetapkan rukun rahn. Menurut jumhur
ulama, rukun rahn itu ada 4 (empat), yaitu :
(1) Shigat (lafadz ijab dan qabul);
33

Muhammad dan Solikhul Hadi, Op.cit, hlm. 63


Yadi Janwari dan H.A. Djajuli, Lembaga-Lembaga Perekonomian Umat: Sebuah
Pengenalan,Edisi 1, Cetakan 1, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta: 2002. hlm. 80.
35
Mustafa az-Zarqa dalam M. Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi dalam Islam, Cetakan
Pertama, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta: 2003, hlm. 102-103.
34

Universitas Sumatera Utara

30

(2) Orang yang berakad (rahin dan murtahin);


(3) Harta yang dijadikan marhun; dan
(4) Utang (marhum bih).
Ulama Hanafiyah berpendapat, rukun rahn itu hanya ijab (pernyataan
menyerahkan barang sebagai jaminan pemilik barang) dan qabul (pernyataan
kesediaan memberi utang dan menerima barang jaminan itu). Menurut Ulama
Hanafiyah, agar lebih sempurna dan mengikat akad rahn, maka diperlukan qabdh
(penguasaan barang) oleh pemberi utang. Adapun rahin, murtahin, marhun, dan
marhun bih itu termasuk syarat-syarat rahn, bukan rukunnya.36
Sedangkan syarat rahn, ulama fiqh mengemukakannya sesuai dengan rukun
rahn itu sendiri, yaitu:
1. Syarat yang terkait dengan orang yang berakad, adalah cakap bertindak
hukum (baligh dan berakal). Ulama Hanafiyah hanya mensyaratkan cukup
berakal saja. Karenanya, anak kecil yang mumayyiz (dapat membedakan
antara yang baik baik dan buruk) boleh melakukan akad rahn, dengan syarat
mendapatkan persetujuan dari walinya. Menurut Hendi Suhendi, syarat bagi
yang berakad adalah ahli tasharuf, artinya mampu membelanjakan harta dan
dalam hal ini memahami persoalan yang berkaitan dengan rahn.37
2. Syarat sight (lafadz). Ulama Hanafiyah mengatakan dalam akad itu tidak
boleh dikaitkan dengan syarat tertentu atau dengan masa yang akan datang,
36

Nasrun Haroen, Fiqh Mumalah, Cetakan Pertama, Gaya Media Pratama, Jakarta: 2000. hlm. 254.
Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah: Membahas Ekonomi Islam, Cetakan Pertama, PT. Raja Grafindo
Persada, Jakarta: 2002. hlm. 107.
37

Universitas Sumatera Utara

31

karena akad rahn itu sama dengan akad jual-beli. Apabila akad itu dibarengi
dengan, maka syaratnya batal, sedangkan akadnya sah. Misalnya, rahin
mensyaratkan apabila tenggang waktu marhun bih telah habis dan marhun bih
belum terbayar, maka rahn itu diperpanjang 1 (satu) bulan, mensyaratkan
marhun itu boleh murtahin manfaatkan.
Ulama Malikiyah, Syafiiyah, dan Hanabilah mengatakan apabila syarat itu
adalah syarat yang mendukung kelancaran akad itu, maka syarat itu
dibolehkan, namun apabila syarat itu bertentangan dengan tabiat akad rahn,
maka syaratnya batal. Kedua syarat dalam contoh tersebut, termasuk syarat
yang tidak sesuai dengan tabiat rahn, karenanya syarat itu dinyatakan batal.
Syarat yang dibolehkan itu, misalnya, untuk sahnya rahn itu, pihak murtahin
minta agar akad itu disaksikan oleh 2 (dua) orang saksi, sedangkan syarat
yang batal, misalnya, disyaratkan bahwa marhun itu tidak boleh dijual ketika
rahn itu jatuh tempo, dan rahin tidak mampu membayarnya.38
Sedangkan Hendi Suhendi menambahkan, dalam akad dapat dilakukan
dengan lafadz, seperti penggadai rahin berkata; Aku gadaikan mejaku ini
dengan harga Rp 20.000 dan murtahin menjawab; Aku terima gadai
mejamu seharga Rp 20.000. Namun, dapat pula dilakukan seperti: dengan
surat, isyarat atau lainnya yang tidak bertentangan dengan akad rahn.39
3. Syarat marhun bih, adalah :
38
39

Nasrun Haroen, Op.cit. hlm. 255.


Ibid. hlm. 107

Universitas Sumatera Utara

32

a.

Merupakan hak yang wajib dikembalikan kepada murtahin;

b.

Marhun bih itu boleh dilunasi dengan marhun itu;

c.

Marhun bih itu jelas/tetap dan tertentu.

4. Syarat marhun, menurut pakar fiqh, adalah:


a.

Marhun itu boleh dijual dan nilainya seimbang dengan marhun bih;

b.

Marhun itu bernilai harta dan boleh dimanfaatkan (halal);

c.

Marhun itu jelas dan tertentu;

d.

Marhun itu milik sah rahin;

e.

Marhun itu tidak terkait dengan hak orang lain;

f.

Marhun itu merupakan harta yang utuh, tidak bertebaran dalam beberapa
tempat; dan

g.
3.

Marhun itu boleh diserahkan, baik materinya maupun manfaatnya.40

Hak dan Kewajiban para Pihak Gadai Syariah


Menurut Abdul Aziz Dahlan,41 bahwa pihak rahin dan murtahin, mempunyai

hak dan kewajiban yang harus dipenuhi. Sedangkan hak dan kewajibannya adalah
sebagai berikut:
1.

Hak dan Kewajiban Murtahin


a. Hak Pemegang Gadai
a.1 Pemegang gadai berhak menjual marhun, apabila rahin pada saat jatuh
tempo tidak dapat memenuhi kewajibannya sebagai orang yang
40

Nasrun Haroen, Ibid, hal. 256.


Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedia Hukum Islam, Cetakan Keempat, PT. Ichtiar Baru Van
Hoeve, Jakarta: 2000, hlm. 383.
41

Universitas Sumatera Utara

33

berhutang. Sedangkan hasil penjualan marhun tersebut diambil sebagian


untuk melunasi marhunbih dan sisanya dikembalikan kepada rahin;
a.2 Pemegang gadai berhak mendapatkan penggantian biaya yang telah
dikeluarkan untuk menjaga keselamatan marhun;
a.3 Selama marhun bih belum dilunasi, maka murtahin berhak untuk
menahan marhun yang diserahkan oleh pemberi gadai (hak retentie).
b. Kewajiban Pemegang Gadai
b.1 Pemegang gadai berkewajiban bertanggung jawab atas hilangnya atau
merosotnya harga marhun, apabila hal itu atas kelalainnya;
b.2 Pemegang gadai

tidak dibolehkan

menggunakan

marhun

untuk

kepentingan sendiri; dan


b.3 Pemegang gadai berkewajiban untuk memberi tahu kepada rahin sebelum
diadakan pelelangan marhun.
2.

Hak dan Kewajiban Pemberi Gadai Syariah


a. Hak Pemberi Gadai
a.1. Pemberi gadai berhak untuk mendapatkan kembali marhun, setelah
pemberi gadai melunasi marhun bih;
a.2. Pemberi gadai berhak menuntut ganti kerugian dari kerusakan dan
hilangnya marhun, apabila hal itu disebabkan oleh kelalaian murtahin;
a.3. Pemberi gadai berhak untuk mendapatkan sisa dari penjualan marhun
setelah dikurangi biaya pelunasan marhun bih, dan biaya lainnya;

Universitas Sumatera Utara

34

a.4. Pemberi gadai berhak meminta kembali marhun apabila murtahin telah
jelas menyalahgunakan marhun.
b. Kewajiban Pemberi Gadai
b.1 Pemberi gadai berkewajiban untuk melunasi marhun bih yang telah
diterimannya dari murtahin dalam tenggang waktu yang telah ditentukan,
termasuk biaya lain yang telah ditentukan murtahin;
b.2 Pemberi gadai berkewajiban merelakan penjualan atas marhun miliknya,
apabila dalam jangka waktu yang telah ditentukan rahin tidak dapat
melunasi marhun bih kepada murtahin.
4.

Perlakuan Bunga dan Riba dalam Gadai Konvensional


Gadai pada prinsipnya merupakan kegiatan utang piutang yang murni

berfungsi sosial. Namun, hal ini berlaku pada masa Rasulullah Saw, masih hidup.
Rahn pada saat itu belum berupa sebuah lembaga keuangan formal seperti sekarang
ini, sehingga aktivitas gadai hanya berlaku bagi perorangan. Jadi pada saat itu masih
mungkin jika aktivitas tersebut hanya berfungsi sosial dan rahin tidak berkewajiban
memberikan tambahan apapun dalam pelunasan utangnya.42
Kondisi saat ini, gadai sudah menjadi lembaga keuangan formal yang telah
diakui oleh pemerintah. Mengenai fungsi dari Pengadaian tersebut tentu sudah
bersifat komersiil. Artinya Pegadaian harus memperoleh pendapatan guna
menggantikan biaya-biaya yang telah dikeluarkan, sehingga Pegadaian mewajibkan

42

Muhammad dan Solikhul Hadi, Op,cit, hlm. 61

Universitas Sumatera Utara

35

menambahkan sejumlah uang tertentu kepada nasabah sebagai imbalan jasa. 43


Minimal biaya itu dapat menutupi biaya operasional gadai.
Gadai yang ada saat ini, dalam praktiknya menunjukkan adanya beberapa hal
yang dipandang memberatkan dan mengarahkan kepada suatu persoalan riba, yang
dilarang oleh syara menurut A.A. Basyir.44 Riba terjadi apabila dalam akad gadai
ditemukan bahwa peminjam harus memberi tambahan sejumlah uang atau persentase
tertentu dari pokok utang, pada waktu membayar utang atau pada waktu lain yang
telah ditentukan penerima gadai. Hal ini lebih sering disebut juga dengan bunga
gadai, yang pembayarannya dilakukan setiap 15 (lima belas) hari sekali. Sebab
apabila pembayarannya terlambat sehari saja, maka nasabah harus membayar 2 (dua)
kali lipat dari kewajibannya, karena perhitungannya sehari sama dengan 15 hari.
Hal ini jelas merugikan pihak nasabah, karena ia harus menambahkan
sejumlah uang tertentu untuk melunasi hutangnya. Padahal biasanya orang yang
menggadaikan barang itu untuk kebutuhan konsumtif. Namun, apabila tidak maka
dilihat dari segi komersiil, pihak Pegadaian dirugikan, misalnya karena inflasi, atau
pelunasan yang tidak tepat waktu, sementara barang jaminan tidak laku dijual. 45
Karena itu aktivitas akad gadai dalam Islam, tidak dibenarkan adanya praktik
pemungutan bunga karena dilarang syara, dan pihak yang terbebani merasa dianiaya
dan tertekan, karena selain harus susah payah mengembalikan hutangnya, penggadai
juga masih berkewajiban untuk membayar bunganya.
43

Muhammad dan Solikhul Hadi, Ibid, hal. 62


A.A. Basyir, Op.cit, hlm. 55.
45
Ibid, hlm. 4.
44

Universitas Sumatera Utara

36

Menurut Muhammad Akram Khan, bahwa pinjaman itu sebagai bagian dari
faktor produksi dan memiliki potensi untuk berkembang dan menciptakan nilai, serta
juga menciptakan adanya kerugian. Oleh karena itu, apabila menuntut adanya
pengembalian yang pasti sebagai balasan uang (sebagai modal), maka yang demikian
itu dapat dianggap bunga dan itu sama dengan riba.46
Mengenai riba itu, para ulama telah berbeda pendapat. Walaupun demikian,
Afzalurrahman dalam Muhammad dan Solikhul Hadi, memberikan pedoman bahwa
yang dikatakan riba (bunga), di dalamnya terdapat 3 unsur berikut:
1. Kelebihan dari pokok pinjaman;
2. Kelebihan pembayaran itu sebagai imbalan tempo pembayaran; dan
3. Sejumlah tambahan itu disyaratkan dalam transaksi.47

Sedangkan berdasarkan hasil kesimpulan penelitian Muhammad Yusuf,


tentang Pegadaian Konvensional dalam Perspektif Hukum Islam dan Viyolina,
dengan tentang Sistem Bunga dalam Gadai Ditinjau dari Hukum Islam, memberikan
kesimpulan sebagai berikut:
Pertama, Islam membenarkan adanya praktik gadai yang dilakukan dengan
cara-cara dan tujuan yang tidak merugikan orang lain. Gadai dibolehkan dengan
syarat rukun yang bebas dari unsur yang dilarang dan merusak perjanjian gadai.
Praktik yang terjadi di gadai konvensional, pada dasarnya masih terdapat
beberapa hal yang dipandang merusak dan menyalahi norma dan etika bisnis
46
47

Muhmmad Akram Khan, Op. cit. hlm. 180


Muhammad dan Solikhul Hadi, Op. cit, hlm. 64.

Universitas Sumatera Utara

37

Islam, di antaranya adalah masih terdapatnya unsur riba, yaitu yang berupa sewa
modal yang disamakan dengan bunga;
Kedua, gadai yang berlaku saat ini masih terdapat satu di antara banyak unsur
yang dilarang syara, yaitu dalam upaya meraih keuntungan, gadai tersebut
memungut sewa modal atau bunga;
Ketiga, unsur riba yang terdapat dalam aktivitas gadai saat ini sudah pada
tingkat yang nyata, yaitu pada transaksi penetapan dan penarikan bunga dalam
gadai yang sudah jelas tidak sesuai dengan Al-Quran dan Al-Hadist;
Keempat, penetapan bunga gadai yang pada awalnya sebagai fasilitas untuk
memudahkan dalam menentukan besar kecilnya pinjaman, telah menjadi
kegiatan spekulatif dari kaum kapitalis dalam mengekploitasikan keuntungan
yang besar, yang memberikan kemadharatan, sehingga penetapan bunga gadai
adalah tidak sah dan haram.48
Sedangkan dalam gadai syariah tidak menganut sistem bunga, namun lebih
menggunakan biaya jasa, sebagai penerimaan dan labanya, yang dengan
pengenaan biaya jasa itu paling tidak dapat menutupi seluruh biaya yang
dikeluarkan dalam operasionalnya. Oleh karena itu, untuk menghindari adanya
unsur riba (bunga) dalam gadai syariah dalam usahanya pembentukan laba,
maka gadai syariah menggunakan mekanisme yang sesuai dengan prinsip-prinsip
syariah, seperti melalui akad qardhul hasan dan akad ijarah, akad rahn, akad
mudharabah, akad bai muqayadah, dan akad musyarakah. Oleh karena itu,
48

Ibid, hlm. 65

Universitas Sumatera Utara

38

pendapat bahwa gadai ketika sebagai sebuah lembaga keuangan, maka fungsi
sosialnya perlu dipertimbangkan lagi, apalagi fungsi sosial gadai itu dihilangkan,
tidak sepenuhnya benar. Karena paling tidak ada 2 (dua) alasan bahwa dengan
terlembaganya gadai, bukan berarti menghilangkan fungsi sosial gadai itu, yang
berdasarkan hadist-hadist yang mendasarinya menunjukkan bahwa fungsi gadai
itu memang untuk fungsi sosial. Alasan itu adalah:
1. Dengan terlembaganya gadai, Pegadaian tetap dapat mendapatkan penerimaan
dari pihak rahin, berupa biaya administrasi dan biaya jasa lainnya, seperti jasa
penyimpanan dan pemeliharaan. Berarti Pegadaian tidak dirugikan;
2. Fungsi sosial tersebut masih diperlukan guna membantu masyarakat yang
membutuhkan dana yang sifatnya mendesak, terutama untuk keperluan hidup
sehari-hari, seperti dalam kasus Rasulullah Saw. Yang menggadaikan baju
besinya demi untuk mendapatkan bahan makanan;
3. Pegadaian tidak akan merugi karena ada marhun, yang dapat dilelang apabila
rahin tidak mampu membayar.
Hal itu diperkuat pendapat Muhammad Akram Khan, bahwa keberadaan gadai
syariah tidak hanya digunakan untuk fungsi komersiil (untuk mendapatkan
keuntungan) saja, tetapi juga digunakan untuk fungsi sosial juga. 49 Mungkin
yang patut mendapatkan perhatian dari kita adalah imbalan jasa yang masih
digunakan oleh gadai yang dikenal dengan bunga gadai, yang sangat
memberatkan dan merugikan pihak penggadai.
49

Muhammad Akram Khan, Op, cit. hlm. 179-184.

Universitas Sumatera Utara

39

Menurut Akram Khan,50 bahwa gadai syariah sebagai konsep hutang piutang
yang sesuai dengan syariah, karenanya bentuk yang lebih tepat adalah skim
qardhul hasan, disebabkan kegunaannya untuk keperluan yang sifatnya sosial.
Pinjaman tersebut diberikan gadai syariah untuk tujuan kesejahteraan, seperti
pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan darurat lainnya, terutama diberikan untuk
membantu meringankan beban ekonomi para orang yang berhak menerima zakat
(mustahiq).51 Dalam bentuk qardhul hasan ini, hutang yang terjadi wajib dilunasi
pada waktu jatuh tempo tanpa ada tambahan apapun yang disyaratkan (kembali
pokok). Peminjam hanya menanggung biaya yang secara nyata terjadi, seperti,
biaya administrasi, biaya penyimpanan dan dibayarkan dalam bentuk uang,
bukan prosentase. Peminjam pada waktu jatuh tempo tanpa ikatan syarat apapun
boleh menambahkan secara sukarela pengembalian hutangnya.52
5.

Produk dan Jasa Gadai Syariah


Dalam perkembangan saat ini, bentuk perolehan pendapatan Pegadaian

syariah dapat berupa transaksi yang berasal dari biaya administrasi (qardhul hasan),
jasa penyimpanan (ijarah), jasa taksiran, galeri, dan bagi hasil atau profit loss sharing
(PLS) dari skim rahn, mudharabah, bai muqayyadah, maupun musyarakah.53
Produk dan jasa yang dapat ditawarkan oleh gadai syariah kepada masyarakat,
yaitu antara lain :

50

Muhammad Akram Khan, Op, cit, hlm. 181-183.


Dahlan Siamat, Op. cit, hlm. 202.
52
Muhammad, Op. cit, hlm 5
53
Muhammad, Op. cit, hlm. 89.
51

Universitas Sumatera Utara

40

1. Pemberian pinjaman/pembiayaan atas dasar hukum gadai syariah; Pemberian


pinjaman atas dasar hukum gadai syariah berarti mensyaratkan pemberian
pinjaman atas dasar penyerahan barang bergerak oleh rahin. Konsekuensinya
bahwa jumlah pinjaman yang diberikan kepada masing peminjam sangat
dipengaruhi oleh nilai barang bergerak dan tidak bergerak yang akan
digadaikan.
2. Penaksiran Nilai Barang; Pegadaian syariah dapat memberikan jasa
penaksiran atas nilai suatu barang. Jasa ini dapat diberikan gadai syariah
karena perusahaan ini mempunyai peralatan penaksir, serta petugas yang
sudah berpengalaman dan terlatih dalam menaksir nilai suatu barang yang
akan digadaikan. Barang yang akan ditaksir pada dasarnya, meliputi semua
barang bergerak dan tidak bergerak yang dapat digadaikan. Jasa taksiran
diberikan kepada mereka yang ingin mengetahui kualitas, terutama perhiasan,
seperti: emas, perak, dan berlian. 54 Masyarakat yang memerlukan jasa ini,
biasanya dengan ingin mengetahui nilai jual wajar atas barang berharganya
yang akan dijual. Atas jasa penaksiran yang diberikan, gadai syariah
memperoleh penerimaan dari pemilik barang berupa ongkos penaksiran.
3. Penitipan Barang (Ijarah);
Gadai syariah dapat menyelenggarakan jasa penitipan barang (ijarah), karena
perusahaan ini mempunyai tempat penyimpanan barang bergerak, yang cukup

54

Sony Heru Priyanto, Pegadaian Menuju Era Stick to the Customer, Majalah Usahawan,
Nomor 10, tahun XXVI Oktober 1997: Jakarta, hlm. 47.

Universitas Sumatera Utara

41

memadai. Gudang dan tempat penyimpanan barang bergerak lain milik gadai
syariah, terutama digunakan menyimpan barang yang digadaikan. Mengingat
gudang dan tempat penyimpanan lain ini tidak selalu dimanfaatkan penuh,
maka kapasitas menganggur tersebut dapat dimanfaatkan untuk memberikan
jasa lain, berupa penitipan barang. Jasa titipan/penyimpanan, sebagai fasilitas
pelayanan barang berharga dan lain-lain agar lebih aman, seperti: barang/surat
berharga (sertifikat motor, tanah, ijasah, dll.) yang dititipkan di Pegadaian
syariah. Fasilitas ini diberikan kepada pemilik barang yang akan bepergian
jauh dalam waktu relatif lama atau karena penyimpanan di rumah dirasakan
kurang aman.55 Atas jasa penitipan yang diberikan, gadai syariah memperoleh
penerimaan dari pemilik barang berupa ongkos penitipan.56
4. Gold Counter;
Jasa ini menyediakan fasilitas tempat penjualan emas eksekutif yang terjamin
sekali kualitas dan keasliannya. Gold counter ini semacam toko dengan emas
Galeri 24, setiap perhiasan masyarakat yang dibeli di toko perhiasan milik
pegadaian akan dilampiri sertifikat jaminan, untuk merubah image dengan
mencoba menangkap pelanggan kelas menengah ke atas. Dengan sertifikat
itulah masyarakat akan merasa yakin dan terjamin keaslian dan kualitasnya
dan lain-lain.57

55

Sony Priyanto, Op,cit, hlm. 48.


Susilo, Y. Sri; Sigit Triandaru; dan A. Totok Budi Santoso, Op cit, hlm. 182-183.
57
Susilo, Y. Sri; Sigit Triandaru; dan A. Totok Budi Santoso, Ibid, hlm. 183
56

Universitas Sumatera Utara

42

Namun menurut Abdullah Saeed, 58 dua produk yaitu mudharabah dan


musyarakah sulit untuk diterapkan, yang masih menduduki 0-30 % usaha bisnis
pembiayaan. Hal ini berdasarkan penelitiannya terhadap yang beroperasi di Timur
Tengah, membuktikan bahwa LKS (lembaga keuangan syariah) enggan menjalankan
kedua produk skim itu, karena risiko yang mungkin diterimanya sangat tinggi,
sehingga suatu risiko yang bersama dengan berjalannya waktu, telah memaksa LKS
(lembaga keuangan syariah) untuk merenovasi bentuk dan isi mudaharabah dan
musyarakah dengan skim murabahah (qardhul hasan dan ijarah), yang bisnis ini
nyaris tanpa risiko, suatu model jual beli yang pihak pembeli, karena satu dan lain hal
tidak dapat membeli langsung barang yang diperlukannya dari pihak penjual,
sehingga ia memerlukan perantara untuk dapat membeli dan mendapatkannya.
Pada dasarnya semua marhun, baik bergerak maupun tak bergerak, dapat
digadaikan sebagai jaminan dalam gadai syariah. Namun, menurut Basyir yang
memenuhi syarat sebagai berikut:59
a. Merupakan benda bernilai menurut hukum syara;
b. Sudah ada wujudnya ketika perjanjian terjadi;
c. Mungkin diserahkan seketika kepada murtahin.

58
Arif Maftuhin, dalam Kata Pengantar, Abdullah Saeed : Islamic Banking and Interest: Study
of Riba and Its Contemporary Interpretation, Arif Maftuhin (Penterjemah), Cetakan 1, Paramadina,
Jakarta: 2004. hlm. Ix.
59
A.A. Basyir, Hukum Islam Tentang Riba, Utang-Piutang Gadai, Al-Maarif, Bandung:
1983, hlm. 52. dalam Muhammad dan Solikhul Hadi, Op.cit, hlm 82.

Universitas Sumatera Utara

43

Adapun menurut Syafiiyah bahwa barang yang dapat digadaikan itu berupa
semua barang yang boleh dijual. Menurut pendapat ulama yang rajih (unggul) bahwa
barang-barang tersebut harus memiliki 3 (tiga) syarat, yaitu;60
1. Berupa barang yang berwujud nyata di depan mata, karena barang nyata itu
dapat diserahterimakan secara langsung;
2. Barang tersebut menjadi milik rahin, karena sebelum tetap barang tersebut
tidak dapat digadaikan;
3. Barang yang digadaikan harus berstatus sebagai piutang bagi pemberi
pinjaman.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa kategori marhun dalam
sudut hukum Islam tidak hanya berlaku bagi barang bergerak saja, namun juga
meliputi barang yang tidak bergerak dengan catatan barang tersebut dapat dijual.
Namun, mengingat keterbatasan tempat penyimpanan, keterbatasan SDM di
Pegadaian syariah, perlunya meminimalkan risiko yang ditanggung gadai syariah,
serta memperhatikan peraturan yang berlaku, maka ada barang tertentu yang tidak
dapat digadaikan. Barang yang tidak dapat digadaikan itu, antara lain:
a. Surat utang, surat aksi, surat efek, dan surat-surat berharga lainnya;
b. Benda-benda yang untuk menguasai dan memindahkannya dari satu tempat ke
tempat lainnya memerlukan izin;
c. Benda yang hanya berharga sementara atau yang harganya naik turun

60

Al-Imam Taqiyuddin Husain, Kafayatul Akhyar, Alih Bahasa Achmad Zaidun dan A.
Maruf Asrori, Jilid 2, PT. Bina Ilmu, Surabaya: 1997, Ibid, hlm 83.

Universitas Sumatera Utara

44

dengan cepat, sehingga sulit ditaksir oleh petugas gadai.61


B.1. Prinsip Gadai (Rahn) Berdasarkan Syariah Hukum Islam
Agama Islam adalah risalah (pesan-pesan) yang diturunkan oleh Allah kepada
Muhammad SAW sebagai petunjuk dan pedoman yang mengandung hukum-hukum
sempurna untuk dipergunakan dalam menyelenggarakan tata cara kehidupan manusia,
yaitu mengatur hubungan manusia dengan khaliqnya dan sesama manusia. Islam
datang dengan serangkaian pemahaman tentang kehidupan yang membentuk
pandangan hidup tertentu. Yakni mampu memecahkan seluruh problematika
kehidupan manusia baik yang meliputi aspek ritual (ibadah) maupun sosial
(muammalah). Dengan demikian akan dapat digali berbagai cara pemecahan setiap
masalah yang timbul dalam kehidupan manusia.
Sistem dalam Islam tidak hanya didasari dari undang-undang pemerintah
tetapi juga dilandasi dari ajaran-ajaran hukum Islam yang terkandung dalam kitab
suci Al-Quran, dan diterangkan dalam syariah Islam. Memang dalam Al-Quran
belum secara detail dan terperinci setiap pokok pembahasan masalah yang
menyangkut perekonomian, tetapi banyak hadist-hadist Rasulullah membahas dan
mengklasifikasikan setiap pokok permasalahan untuk memudahkan aplikasinya
dalam kehidupan sosial masyarakat, sedangkan sunah-sunah Rasulullah adalah
sebagai sumber utama kedua dalam ajaran-ajaran dalam hukum Islam. 62

61

Mariam Darus, 1987 hlm. 37, dalam Suhrawardi K. Lubis, Hukum Ekonomi Islam, Edisi 1,
Cetakan 2, Sinar Grafika, Jakarta: 2000, hlm. 110.
62
Muhammad Saddam, Perspektif Ekonomi Islam, Pustaka Ibadah, Jakarta-Indonesia, tahun
2003, hal. 15.

Universitas Sumatera Utara

45

Dalam menjawab permasalahan yang timbul peranan hukum Islam dalam


konteks modern dan ini sangat diperlukan dan tidak dapat dihindarkan. Rumitnya
permasalahan umat yang selalu berkembangnya zaman membuat hukum Islam harus
memperlihatkan sifat elastisitas dan fleksibilitas guna memberikan yang terbaik serta
dapat memberikan kemaslahatan bagi umat manusia. Prinsip dan asas Hukum Islam
dalam mencapai tujuan kemaslahatan manusia menanandai perbedaan karakter atau
ciri hukum Islam dengan hukum-hukum lainnya, terutama hukum positif. Hukum
Islam memiliki karakteristik-karakteristik yang unik dan khas, yang merangkul
dimensi humanis dan dimensi transendental secara bersamaan. Di antara ciri-ciri
hukum Islam ialah berpijak pada wahyu sebagai fondasi, akhlak dan agama, dan
kolektivisme.63
Hukum Islam adalah hukum yang bersifat universal, karena merupakan bagian
dari ajaran agama Islam yang universal sifatnya, yaitu berlaku bagi setiap orang di
manapun ia berada dan apapun nasiolismenya. Adapun tujuan dari hukum Islam pada
hakikatnya adalah untuk merealisir kemaslahatan umum dan mencegah kemafsadatan
bagi umat manusia.64
Kata prinsip berarti asas yakni kebenaran yang jadi pokok dasar orang
berpikir, bertindak, dan sebagainya.65 Yang dimaksud dengan prinsip-prinsip Hukum

63

Muhammad, Aspek Hukum dalam Muamalat, Graha Ilmu, tahun 2007, Yogyakarta, hal. 40.
Muhtar Yahya, Dasar-dasar Pembinaan Hukum Fiqh Islam, Al-Maarif, Bandung, tahun
1993, hal.333.
65
W.J.S. Poerwadarmita, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta, PN Balai Pustaka, 1976,
hal. 768.
64

Universitas Sumatera Utara

46

Islam, ialah cita-cita yang menjadi pokok dasar dan landasan Hukum Islam, adapun
prinsip-prinsip dari Hukum Ekonomi Islam adalah :
1. Tauhid
Tauhid (Ketuhanan Yang Maha Esa), ialah suatu prinsip yang menghimpun
seluruh manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa, terdapat dalam Al-Quran
Surat Ali Imran ayat 64.
2. Berkomunikasi langsung
Berkomunikasi langsung dengan Allah tanpa perantara sebagaimana firman
Allah, dalam Surat Al-Mumin ayat 60.
3. Menghargai fungsi akal
Menghargai fungsi akal, sehingga seseorang menjadi Mukallaf (dibebani
kewajiban) atau tidak tergantung kepada sehat/tidaknya akal pikirannya. Di
dalam Al-Quran terdapat banyak sekali ayat yang menyerukan manusia agar
menggunakan akal pikirannya, seperti dalam surat Al-Baqarah ayat 44 dan 76,
Yusuf ayat 2, dan Yasin ayat 62.
4. Menyempurnakan Iman
Menyempurnakan akidah/iman dengan akhlak yang mulia yang dapat
membersihkan jiwa dan meluruskan kepribadian seorang, seperti dalam
firmankan Allah dalam Al-Quran surat Al- Furqan ayat 63.
5. Menjadikan kewajiban untuk membersihkan jiwa
Menjadikan segala macam beban (kewajiban) agama demi memperbaiki dan
mensucikan

jiwa

manusia,

dan

bukan

untuk

menghancurkan

dan

Universitas Sumatera Utara

47

menundukkan badan, sebagaimana difirmankan Allah dalam surat Al-Maidah


ayat 6 dan surat At-taubat ayat 103.
6. Memperhatikan kepentingan Agama dan dunia
dalam membuat hukum, karena hukum itu hukum Islam tidak hanya mengenai
akidah dan ibadah yang mengatur hubungan manusia dengan penciptanya,
Allah, melainkan juga mengenai muammalah dan akhlak yang mengatur
hubungan manusia dengan sesamanya dan dengan makhluk tuhan lainnya.
Bahkan ajaran Islam tentang akhlak ada pula yang mengatur hubungan
manusia dengan Allah.
7. Persamaan dan keadilan
Prinsip persamaan dan keadilan, yang memperlakukan semua manusia sama
dihadapan Allah, dan di hadapan hukum dan pemerintahan. Tidak ada
diskriminasi karena perbedaan bangsa, suku, adat-istiadat, bangsa, bahasa,
agama dan kepercayaan dan sebagainya tersebut dalam surat Al-Hujurat ayat
13.
8. Amar Maruf Nahi Mungkar
Prinsip amar maruf (mengajak kebaikan) dan nahi mungkar (mencegah
kejahatan). Prinsip ini besar sekali peranan dan faedahnya bagi kehidupan
beragama, bermasyarakat mulai unit terkecil, yakni keluarga sampai yang

Universitas Sumatera Utara

48

besar dan dunia internasional, tergantung ada tidaknya semangat amar maruf
dan nahi mungkar itu.66
Sehubungan dengan Sebagaimana telah diungkapkan di atas, bahwa Rahn
adalah aturan yang telah dinyatakan oleh Allah dalam Al-Quran dan Sunnah wajib
menjadi sumber dalam kehidupan bermuammalah tersebut tidak ada kata perintah
atau anjuran, maka manusia boleh berijtihad sepanjang tidak dilarang. Penggaturan
tentang Rahn sebagai muammalah masih terdapat perbedaan pendapat para ulama,
sebagaimana dalam rukun rahn yang mana pendapat mazhab Hanafi menyatakan
bahwa rukun rahn adalah ijab (pernyataan menyerahkan barang sebagai agunan oleh
pemilik barang tersebut). Akan tetapi disamping itu, untuk kesempurnaan dan
mengikatnya akad rahn ini, maka diperlukan Al-Qabdh (pengguasaan barang) oleh
pemberi uang, adapun kedua orang yang melakukan akad, harta atau barang yang
dijadikan agunan dan utang, menurut ulama Hanafi termasuk syarat-syarat Rahn,
bukan rukunnya.67
Pegadaian syariah yang bermuammalah tidak membedakan seorang muslim
dengan non-muslim. Inilah salah satu hal yang menunjukkan sifat universalitas ajaran
Islam. Dalam hal muammalah, prilaku kehidupan individu dan masyarakat ditujukan
ke arah bagaimana menggunakan sumber daya yang ada. Hal inilah yang menjadi
subjek yang dipelajari dalam ekonomi Islam sehingga implikasi ekonomi yang dapat
ditarik dari ajaran Islam berbeda dari ekonomi tradisional. Sesuai konsep prinsip dan

66
67

Masjfuk Zuhdi, Pengantar Hukum Syariah, Haji Masa Agung, Jakarta, tahun 1992, hal.33.
Nasroen Haroen, Fiqh Muamalah, Gaya Media Pratama, Jakarta, tahun 2000, hal.254.

Universitas Sumatera Utara

49

variabel, sistem ekonomi Islam yang dilakukan sebagai suatu variabel haruslah sesuai
dengan prinsip-prinsip dalam hukum Islam.68
Prinsip rahn pada gadai syariah merupakan bagian prinsip-prinsip syariah
dalam Hukum Islam khususnya dan perekonomian Islam umumnya. Tentunya prinsip
rahn tersebut mempunyai andil terhadap keberadaan dari keseluruhan sistem
perekonomian Islam. Ratusan tahun sudah ekonomi dunia di dominasi oleh sistem
bunga. Hampir semua perjanjian dibidang ekonomi dikaitkan dengan bunga. Banyak
negara yang telah dapat mencapai kemakmurannya dengan sistem bunga ini di atas
kemiskinan negara lain sehingga terus-menerus terjadi kesenjangan. Ekonomi yang
berbasis bunga tidak hanya dipraktekan lembaga ekonomi dan keuangan yang biasa
kita sebut Bank, tetapi juga mewarnai lembaga ekonomi dan keuangan non bank
seperti Pegadaian Syariah.
Tidak dipungkiri oleh siapapun yang dapat berpikir jernih dan logis, bahwa
Islam merupakan suatu sistem hidup, suatu pedoman hidup. Sebagai suatu pedoman
hidup, ajaran Islam terdiri atas aturan-aturan mencakup keseluruhan sisi kehidupan
manusia. Secara garis besar, aturan-aturan tersebut dapat dibagi dalam tiga bagian
yaitu aqidah, akhlak dan syariah. Dua bagian pertama, aqidah dan akhlak bersifat
konstan, sedangkan syariah senantiasa berubah sesuai dengan kebutuhan dan
perkembangan kehidupan manusia. 69 Ibadah merupakan sarana manusia untuk
berhubungan dengan Sang Pencipta-Nya, sedangkan muammalah digunakan sebagai
68

Ibid. Muhammad, hal.2.


Eko Suprayitno, Ekonomi Islam Pendekatan Ekonomi Makro Islam dan Konvensional,
Graha Ilmu, tahun 2005, Yogyakarta, hal.1.
69

Universitas Sumatera Utara

50

aturan main manusia dalam berhubungan dengan sesamanya. Muammalah inilah


yang menjadi obyek paling luas yang harus digali manusia dari masa ke masa, karena
seiring dengan perkembangan kebutuhan hidup manusia akan senantiasa berubah.
Jadi jelaslah bahwa pada pegadaian syariah telah menerapkan Prinsip-prinsip
gadai syariah (rahn) berdasarkan Hukum Islam yang diberlakukan pada produk gadai
syariah di Pegadaian adalah ;
1. Tidak memungut bunga dalam berbagai bentuk karena riba,
2. Menetapkan uang sebagai alat tukar bukan sebagai komoditas yang
diperdagangkan, dan
3. Melakukan bisnis untuk memperoleh imbalan atas jasa sebagai penerimaan
labanya, yang dengan pengenaan bagi hasil dan biaya jasa tersebut menutupi
seluruh biaya yang dikeluarkan dalam operasionalnya. Maka pada dasarnya,
hakikat dan fungsi Pegadaian dalam Islam adalah semata-mata untuk
memberikan pertolongan kepada orang yang membutuhkan dengan bentuk
marhun sebagai jaminan, dan bukan untuk kepentingan komersil dengan
mengambil

keuntungan

yang

sebesar-besarnya

tanpa

menghiraukan

kemampuan orang lain.70


Produk rahn disediakan untuk membantu nasabah dalam pembiayaan kegiatan
multiguna. rahn sebagai produk pinjaman, berarti Pegadaian syariah hanya
memperoleh imbalan atas biaya administrasi, penyimpanan, pemeliharaan, dan
asuransi marhun, maka produk rahn ini biasanya hanya digunakan bagi keperluan
70

Op.cit, Muhammad dan Solikhul Hadi, hlm. 63.

Universitas Sumatera Utara

51

fungsi sosial-konsumtif, seperti kebutuhan hidup, pendidikan dan kesehatan.


Sedangkan rahn sebagai produk pembiayaan, berarti Pegadaian syariah memperoleh
bagi hasil dari usaha rahin yang dibiayainya. 71 Sehingga bisa dikatakan bahwa
pegadaian syariah, dalam menerapkan prinsip rahn telah layak dan jauh dari riba,
untuk dijadikan solusi pendanaan untuk memenuhi kebutuhan dana cepat bagi
masyarakat semua yang membutuhkan pada masa sulit.72
Masih berkaitan dengan hal diatas, Indah seorang nasabah (rahin) pada
Pegadaian Syariah kantor Lhokseumawe, mengatakan bahwa ia merasakan manfaat
dengan hadirnya pegadaian yang berbasiskan syariah, karena dia hanya membayar
ijarah dan administrasi per 10 hari, tetapi jika pun tidak membayar mencicil, ia akan
melunasi cicilan pada tanggal jatuh tempo. Dan ia mengakui bahwa ia merasa
tertolong dengan aturan yang diterapkan oleh pegadaian syariah tersebut karena tidak
riba, karena ia hanya mengembalikan pembayaran sesuai yang ia pinjam dan tidak
ada pengembalian berlipat ganda (ditambah bunga).73

71

Yadi Janwari dan H.A. Djajuli, Lembaga-Lembaga Perekonomian Umat: Sebuah


Pengenalan, Edisi I, Cetakan I, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta: 2002, hlm.80.
72
Wawancara dengan Martius, Manager Usaha Rahn Pegadaian Syariah Cabang
Lhoseumawe, tanggal 19 November 2012.
73
Wawancara dengan Nasabah Pegadaiaan, Indah, Lhokseumawe, Tanggal 19 Desember
2012.

Universitas Sumatera Utara