Anda di halaman 1dari 52

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian


Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan
metode kualitatif. Menurut (Zuriah, 2006:47) penelitian deskriptif adalah penelitian yang
diarahkan untuk memberikan gejala- gejala, fakta- fakta atau kejadian secara akurat dan
sistematis mengenai sifat- sifat populasi dan daerah tertentu. Dalam penelitian deskriptif
cenderung tidak perlu mencari atau menerangkan saling berhubungan dan menguji hipotesis.
Jadi dapat disimpulkan bahwa penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan untuk
menggambarkan fakta- fakta dan masalah yang kemudian diinterpretasikan dengan rasional
dan akurat sehingga dapat ditarik kesimpulan.
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat penelitian dilakukan dikota Medan dan subjek penelitian adalah PT Pegadaian
Syariah yang ada dikota Medan. Penelitian ini dilakukan dalam kurun waktu lebih kurang 2
bulan yaitu dimulai dari tanggal 6 Oktober 2013 24 Februari 2014.
3.3 Informan Penelitian
Dalam penelitian kualitatif, populasi diartikan sebagai wilayah generalisasi yang
terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan
oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan. Informan adalah seseorang
yang benar - benar mengetahui suatu persoalan atau permasalahan tertentu yang darinya dapat
diperoleh informasi yang jelas, akurat, dan terpercaya baik berupa pernyataan, keterangan
atau data- data yang dapat membantu dalam memenuhi persoalan atau permasalahan.

Universitas Sumatera Utara

Dalam penelitian ini, maka penulis mendapatkan informasi dari pimpinan pegadaian syariah
yang ada di Kota Medan yang tersebar di empat kantor cabang pegadaian syariah, yaitu KCPS
Jl. Raya Setia Budi No. 84 Tanjung Rejo, Kec. Medan Sunggal, KCPS Jl. KH. Wahid
Hasyim/ Sei Wampu No. 73-M Sei Sikambing, KCPS Jl. AR. Hakim No. 115 (Pasar
Sukorame) Medan Arya Selatan dan KCPS Jl. Asrama No. 185A Kel. Helvetia Kec. Medan
Helvetia.
Disini penulis mendapatkan informasi langsung dari Pimpinan/ Kepala kantor
Pegadaian Syariah yang berada di Kota Medan yaitu dengan cara melakukan wawancara
langsung dan terbuka mengenai penelitian ini. Sebelumnya penulis sudah mempersiapkan
daftar pertanyaan yang sudah diketik dikertas sebagai panduan dalam wawancara dengan
Pimpinan Pegadaian Syariah tersebut. Penulis tidak terpaku dalam wawancara tersebut hanya
pada daftar pertanyaan yang sudah dipersiapkan tersebut, akan tetapi daftar pertanyaan
tersebut hanya sebagai panduan dan dari panduan wawancara tersebut penulis bisa
mengembangkan beberapa pertanyaan lain mengenai penelitian ini.
3.4 Batasan Operasional
Penelitian ini dilakukan berdasarkan batasan yang akan diteliti yaitu mencakup
permasalahan dan pengembangan Pegadaian Syariah dikota Medan, dalam hal ini faktor
faktornya adalah potensi, kendala, ancaman, peluang dan strategi pegadaian syariah dikota
Medan.
3.5 Defenisi Operasional
1. Potensi adalah kondisi internal yang ada didalam perusahaan, yaitu kelebihan atau
kemampuan yang dimiliki pegadaian syariah yang ada dikota Medan untuk mencapai
tujuan yang telah disusun

Universitas Sumatera Utara

2. Kendala adalah kondisi internal yang menghambat perusahaan dalam mencapai


tujuannya, atau kelemahan dan kekurangan yang ada didalam pegadaian syariah dikota
Medan
3. Ancaman adalah kondisi eksternal dari perusahaan, yaitu adanya hal hal yang
menghambat kegiatan usaha yang dilakukan pegadaian Syariah yang berasal dari luar
perusahaan
4. Peluang adalah kondisi eksternal yang menunjang untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan pegadaian syariah dikota Medan
5. Strategi adalah kebijakan yang dibuat pegadaian syariah dalam mengembangkan
usahanya untuk meminimalisir kelemahan dan ancaman yang ada guna mencapai
tujuan yang telah ditetapkan dalam pengembangan perusahaan.
3.6 Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai
kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian
ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2008:133). Populasi dalam penelitian ini adalah kantor
pegadaian syariah yang ada dikota Medan dimana jumlahnya adalah 4 kantor pegadaian
syariah. Disini penulis mengambil dan melakukan penelitian pada semua atau 4 (ke empat)
kantor pegadaian syariah tersebut yang ada di kota Medan untuk mendapatkan informasi
mengenai penelitian ini.
Kantor pegadaian syariah yang ada di kota Medan terletak di jalan sebagai berikut:
1. Jl. Raya Setia Budi No. 84 Tanjung Rejo, Kec. Medan Sunggal
2. Jl. KH. Wahid Hasyim / Sei Wampu No. 73-M Sei Sikambing
3. Jl. AR. Hakim No. 115 (Pasar Sukorame) Medan Arya Selatan
4. Jl. Asrama No. 185A Kel. Helvetia Kec. Medan Helvetia

Universitas Sumatera Utara

Teknik pengambilan sampel dilakukan melalui simple random sampling yang artinya
cara penarikan sampel dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada. Metode
pengumpulan data menggunakan teknik wawancara langsung dan terbuka kepada responden
dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai penelitian ini.
3.7 Jenis Data
1. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung oleh penulis dari responden
terpilih pada lokasi penelitian. Data primer diperoleh dengan melakukan wawancara
dan observasi, dalam wawancara penulis menggunakan alat bantu tulis dan tape
recorder.
a. Wawancara merupakan proses memperoleh keterangan dengan mengajukan
pertanyaan- pertanyaan secara langsung dan terbuka kepada informan atau
pihak yang berhubungan dan memiliki relevasi terhadap masalah yang
berhubungan dengan penelitian.
b. Observasi yaitu dengan melakukan pengamatan langsung dan mencatat hal- hal
yang berhubungan dengan permasalahan penelitian yang ditemukan dilapangan
serta menjaring data yang tidak terjangkau, dalam hal ini adalah kegiatan
kegiatan yang dilakukan pada pegadaian syariah.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah yang bersumber dari laporan yang telah dibuat pihak lain
(Kountur, 2008:60). Pengumpulan data yang dilakukan adalah:
a. Studi dokumentasi

Universitas Sumatera Utara

Studi dokumentasi yang dilakukan dengan menggunakan catatan- catatan atau


dokumen- dokumen yang ada dilokasi penelitian atau sunber- sunber lain yang
terkait denga objek penelitian.
b. Studi kepustakaan
Menurut Nawawi (1999:80), studi kepustakaan adalah teknik pengumpulan
data yang mempelajari dan memberikan referensi serta sumber bacaan yang
relevan dan mendukung penelitian, yaitu pengumpulan data yang diperoleh
dari buku- buku, internet, dan sumber- sumber lain yang berkompetisi dan
memiliki keterkaitan dengan masalah penelitian.
3.8 Metode Pengumpulan Data
a. Wawancara (Interview) merupakan teknik pengumpulan data dengan cara melakukan tanya
jawab langsung dengan pimpinan kantor cabang pegadaian syariah yang ada dikota
Medan.
b. Observasi yaitu dengan melakukan pengamatan langsung terhadap objek/subjek yang
diteliti, dalam hal ini adalah kinerja yang ditemukan dikantor cabang pegadaian syariah
kota Medan
3.9 Teknik Analisis Data
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode deskriptif
kualitatif yaitu salah satu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa
ucapan atau tulisan dan prilaku orang orang yang diamati (Burhan, 2003). Melalui penelitian
kualitatif peneliti dapat mengenali subjek dan merasakan apa yang mereka alami dalam
kehidupan sehari-hari. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik Analisis SWOT yaitu
identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi. Proses keputusan
strategi selalu berkaitan dengan pengembangan, misi, tujuan, strategi dan kebijakan

Universitas Sumatera Utara

(Rangkuti, 2000). Perangkat analisis data yang digunakan adalah Matriks Evaluasi Faktor
Internal dan Eksternal, Diagram SWOT dan Matriks SWOT. Data yang diperoleh dianalisis
sehigga diperoleh berbagai gambaran yang menunjukkan potensi dan kendala pengembangan
pegadaian syariah dikota Medan serta menunjukkan analisa startegi ayang akan diambil.

Universitas Sumatera Utara

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Pegadaian Syariah
1. Sejarah Pegadaian Secara Umum
Pegadaian merupakan lembaga perkreditan dengan sistem gadai. Lembaga semacam
ini pada awalnya dikenal mulai dari Eropa, yaitu negara Italia, Inggris, dan Belanda. Sistem
gadai tersebut memasuki Indonesia dibawa dan dikembangkan oleh orang Belanda (VOC)
yaitu sekitar abad ke 19, dengan Gubernur Jenderal VOC Van Imhoff mendirikan Bank Van
Lening, yaitu lembaga keuangan yang memberikan kredit dengan sistem gadai, lembaga ini
pertama kali didirikan di Batavia melalui surat keputusan tertanggal 28 Agustus 1746. Namun
ketika VOC bubar di Indonesia pada tahun 1800 maka usaha pegadaian diambil alih oleh
Pemerintahan Hindia Belanda. Dimasa pemerintahan Deandels, dikeluarkan peraturan tentang
barang yang dapat diterima sebagai jaminan gadai seperti perhiasan, kain dan lain-lain.
Pada tahun 1811, kekuasaan di Indonesia diambil alih oleh Inggris, yaitu Raffles
selaku penguasa yang mengeluarkan peraturan bahwa setiap orang Bank Van Lening selama
ia mendapat izin dari pemerintah setempat. Selanjutnya pada tahun 186 Hindia Belanda
kembali menguasai Indonesia dan membuat Pachstelsel yang semakin berkembang. Pada
tahun 1900, pihak pemerintah Hindia Belanda melakukan penelitian mengenai kemungkinan
penguasaan pemerintah terhadap lembaga tersebut. Hasil penelitin itu berkesimpulan bahwa
badan usaha dimaksud cukup menguntungkan pihak pemerintah, sehingga didirikan Pilot
Project di Sukabumi. Setelah berhasil maka dikeluarkan Staatsblad No. 131 pada tanggal 1
April 1901, sebagai dasar hukum bagi pendirian Pegadaian Negeri pertama di Indonesia.
Tanggal 1 April 1901 yang kemudian dijadikan sebagai hari lahirnya Pegadaian di Indonesia.

Universitas Sumatera Utara

Seiring dengan perjalanan waktu, pegadaian negeri tersebut semakin berkembang


dengan baik sehingga pemerintahan Hindia Belanda mnegeluarkan peraturan monopoli, yaitu
Staatsblad No. 749 Tahun 1914, dan Staatsblad No. 28 Tahun 1921. Sanksi terhadap
pelanggaran peraturan monopoli pun diatur oleh pihak pemerintah Hindia Belanda dalam
KUHP yang tercantum dalam pasal 509 dan Staatsblad No. 266 Tahun 1930. Sesudah bangsa
Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada tahun 1945, yaotu pada tangga 1 Januari
1967 penguasaan terhadap Pegadaian Negara mengalami peralihan sehingga Pegadaian
Negara dijadikan Perusahaan Negara (PN) dan berada dalam lingkup Departemen Keuangan
Pemerintahan RI berdasarkan PP No. 176 Tahun 1961.
Selanjutnya, status badan hukum pegadaian sebagai Perusahaan Pegadaian Negara
kembali mengalami perubahan untuk kesekian kalinya menjadi Perusahaan Jawatan (Perjan)
berdasarkan Instruksi Presiden No. 17 Tahun 1969; Undang-Undang No. 9 tahun 1969, dan
PP No. 17 Tahun 1969; serta Surat Keputusan Menteri Keuangan RI No.Kep.664/MK/9/1969,
yang berlaku efektif mulai tanggal 1 Mei 1969, penyebab perubahan status hukum pegadaian
dimaksud lebih banyak sebagai suatu perusahaan yang seringkali mengalami kerugian.
Setelah itu, PP No. 10 Tahun 1990 mengubah dasar hukum Perusahaan Jawatan (Perjan)
menjadi Perusahaan Umum (Perum) pegadaian. Berdasarkan perubahan status hukum sebagai
perusahaan umum, pegadaian diharapkan mampu mengelola usahanya secara profesional,
berwawasan bisnis oriental tanpa meninggalkan misinya (Zainudin Ali, 2008:11) yaitu:
a. Turut melaksanakan dan menunjang pelaksanaan kebijaksanaan dan program
pemerintah dibidang ekonomi dan pembangunan nasional pada umumnya melalui
penyaluran uang pinjaman atas dasar hukum gadai
b. Mencegah timbulnya praktik ijon, pegadaian gelap, riba, dan pinjaman tidak wajar
lainnya

Universitas Sumatera Utara

Berdasarkan hal diatas, lembaga pegadaian dimaksudkan sebagai suatu lembaga yang
memberikan fasilitas bagi warga masyarakat untuk dapat memperoleh pinjaman uang secara
praktis. Pinjamn uang dimaksud lebih mudah diperoleh calon nasabah karena menjaminkan
barang-barnga yang mudah didapat pula. Hal ini membuat lembaga pegadaian diminati oleh
banyak orang dari berbagai lapisan masyarakat. Karena itu, lembaga pegadaian secara relatif
mempunyai kelebihan bila dibandingkan lembaga keuangan lainnya.
2. Sejarah Pegadaian Secara Khusus (Pegadaian Syariah)
Sejarah pegadaian syariah di Indonesia tidak dapat dicera pisahkan dari kemauan
warga masyarakat Islam untuk melaksanakan transaksi akad gadai berdasarkan prinsip syariah
dan kebijakan pemerintah dalam pengembangan praktik ekonomi dan lembaga keuangan yang
sesuai dengan nilai dan prinsip hukum Islam. Hal dimaksud dilatarbelakangi oleh maraknya
aspirasi dari warga masyarakat islam diberbagai daerah yang menginginkan pelaksanaan
hukum islam dalam berbagai aspeknya termasuk pegadaian syariah. Selain itu, semakin
populernya praktik bisnis ekonomi syariah dan mempunyai peluang yang cerah untuk
dikembangkan.
Berdasarkan hal diatas, pihak pemerintah mengeluarkan peraturan perundangundangan untuk melegitimasi secara hukum positif pelaksanaan praktik bisnis sesuai dengan
syariah yang termasuk gadai syariah. Karena itu, pihak pemerintah bersama DPR
merumuskan rancangan peraturan perundang-undangan yang kemudian disahkan padan bulan
Mei menjadi UU No. 10 Tahun 1998 tentang perbankan. Undang-undang dimaksud memberi
peluang untuk diterapkan praktik perekonomian sesuai syariah dibaeah perlindungan hukum
positif. Berdasarkan undang-undang tersebut maka terwujud Lembaga Keuanagn Syariah
(LKS). Pada awalnya, muncul lembaga perbankan syariah, yaitu Bank Muamalat Indonesia

Universitas Sumatera Utara

yang menjadi pionirnya, dan seterusnya bermunculan lembaga keuangan syariah lainnya,
seperti lembaga asuransi syariah, pegadauan syariah dan lainnya.
Besarnya permintaan masyarakat terhadap jasa pegadaian membuat lembaga keuangan
syariah juga melirik kepada sektor pegadaian, sektor yang dapat dikatakan agak tertinggal dari
sekian banyak lembaga keuangan syariah lainnya.padahal dalam diskursu ekonomi islam,
pegadaian juga merupakan salah satu praktik transaksi sosial dan keuangan yang pernah
dipraktikkan dimasa Nabi Muhammad SAW yag amat menjanjikan mengayomi
perekonomian rakyat untuk dikembangkan. Melihat semakin berkembang permintaan
msayarakat dan pola bisnis berbasis syariah di Indonesia, PT Pegadaian tertarik untuk
menerapkan pola ini. Apalgi pola pegadaian syariah memungkinkan perusahaan untuk dapat
proaktif dan lebih produktif utnuk menghasilkan berbagai produk jasa keuangan modern,
seperti jasa piutang dan jasa sewa beli. Pada lembaga gadai model dimaksud, nilai-nilai dan
prinsip-prinsip

syariah

dalam

hal

gadai

dapat

diimplementasikan.

Selain

itu,

mempertimbangkan fungsinya sebagai lembaga intermediasi bagi warga masyarakat terhadap


sektor keuangan.
Melihat adanya peluang dalam mengimplementasikan praktik gadai berdasarkan
syariah, PT Pegadaian yang telah bergelut dengan bisnis pegadaian konvensional selama
beratus-ratus tahun lebih, berinisiatif untuk mengadakan kerja sama dengan dengan PT Bank
Muamalat Indonesia (BMI) dalam mengusahakan praktik gadai syariah sebagai diversifikasi
usaha gadai yang sudah dilakukannya sehingga pada bulan Mei tahun 2002, ditandatangani
sebuah kerjasama antara keduanya untuk meluncurkan gadai syariah yaitu BMI sebagai
penyandang dana.
4.1.1 Pegadaian Syariah Di Indonesia

Universitas Sumatera Utara

Keberadaan Pegadaian Syariah pada awalnya didorong oleh berkembangnya lembaga


keuangan syariah. Disamping itu, masyarakat Indonesia yang menjadi nasabah Pegadaian
kebanyakan umat Islam, sehingga dengan keberadaan Pegadaian Syariah ini, maka akan
memperluas pangsa pasar pegadaian dan nasabah akan merasa aman dikarenakan transaksinya
sesuai dengan syariat Islam. Berarti pinjaman yang diterapkan adalah pinjaman tanpa bunga
dan halal.
Rahn (gadai syariah) adalah produk jasa yang berlandaskan pada prinsip- prinsip
syariah dengan mengacu pada sistem administrasi modern yaitu azas rasionalitas, efisiensi
dan efektifitas yang diselaraskan dengan nilai Islam. Rahn dalam hukum islam dilakukan
secara sukarela atas dasar tolong- menolong dan tidak untuk mencari keuntungan. Dalam
transaksi rahn yang tidak mengenal istilah bunga uang maka pemberi gadai tidak dikenakan
tambahan pembayaran atas pinjaman yang diterimanya, namun bagi penerima gadai
memperoleh imbalan berupa ijarah (pengganti pengelolaan agunan) dari penyimpanan marhun
(barang jaminan/ agunan). Produk yang disalurkan adalah Gadai Syariah(Ar- Rahn) yang
mulai diluncurkan sejak Januari 2003.
Tujuan dan lapangan usaha rahn (gadai syariah) tercantum dalam kesepakatan
bersama PT Pegadaian dan Bank Muamalat pasal 1 ayat 2 dan Keputusan Direksi PT
Pegadaian nomor 06.A/UL.3.00.22.3/2003, yaitu:
1. Tujuan Usaha Gadai
a. Mengimplementasikan dan mensosialisasikan produk gadai syariah khususnya
kepada masyarakat muslim Indonesia.
b. Menjawab kebutuhan nasabah mjuslim di Indonesia yang menginginkan transaksi
pinjaman sesuai syariah.
2. Lapangan Usaha

Universitas Sumatera Utara

Dengan mengindahkan prinsip prinsip syariah islam dalam transaksi ekonomi dan
terjaminnya keselamatan kekayaan negara, perusahaan menyelenggarakan usaha gadai
syariah sebagai berikut:
a. Penyaluran pinjaman secara gadai yang didasarkan pada penerapan prinsip syariah
islam dalam transaksi ekonomi secara syariah.
b. Penyaluran usaha dalam bentuk skim lainnya yang dibenarkan menurut hukum
syariat islam.
4.1.2 Visi dan Misi Pegadaian Syariah
Visi dan Misi pegadaian syariah tidak dapat dipisahkan dari Visi dan Misi PT
pegadaian pada umumnya, dikarenakan pegadaian syariah baru berdiri di Indonesia dan masih
dalam naungan induknya yaitu PT. Pegadaian
4.1.2.1 Visi Pegadaian Syariah
Sebagai solusi bisnis terpadu dalam pembiayaan mikro dan kecil terutama berbasis
gadai yang selalu menjadi market leader dan mikro berbasis fidusia dan selalu menjadi yang
terbaik untuk masyarakat menengah kebawah.
4.1.2.2 Misi Pegadaian Syariah
Dalam menjalankan tugasnya demi tercapainya visi yang telah ditetapkan, maka
pegadaian mempunyai beberapa misi, yaitu sebagai berikut:
a. Memberikan pembiayaan yang tercepat, termudah, aman dan selalu memberikan
pembinaan terhadap usaha golongan menengah kebawah untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi atas dasar hukum gadai dan fudisia.

Universitas Sumatera Utara

b. Memastikan pemerataan pelayanan dan infrastruktur yang memberikan kemudahan


dan kenyamanan di seluruh Pegadaian dalam mempersiapkan diri menjadi pemain
regional dan tetap menjadi pilihan utama masyarakat.
c. Membantu Pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat golongan
menengah kebawah dan melaksanakan usaha lain dalam rangka optimalisasi sumber
daya perusahaan yang baik secara konsisten.
Misi Pegadaian sebagai suatu lembaga yang ikut meningkatkan perekonomian dengan
cara memberikan uang pinjaman berdasarkan hukum gadai kepada masyarakat kecil, agar
terhindar dari praktek pinjaman uang dengan bunga yang tidak wajar ditegaskan dalam
keputusan Menteri Keuangan No. Kep-39/MK/6/1/1971 tanggal 20 Januari 1970 dengan
tugas pokok sebagai berikut:
1. Membina perekonomian rakyat kecil dengan menyalurkan kredit atas dasar hukum
gadai kepada para petani, nelayan, pedagang kecil, industri kecil, yang bersifat
produktif, kaum buruh/pegawai negeri yang ekonominya lemah dan bersifat konsumtif
2. Ikut serta mencegah adanya pemberian pinjaman yang tidak wajar, ijon, pegadaian
gelap, dan praktek riba lainnya.
3. Disamping menyalurkan kredit, maupun usaha-usaha lainnya yang bermanfaat
terutama bagi pemerintah dan mayarakat
4. Membina pola perkreditan supaya benar-benar terarah dan bermanfaat dan bila perlu
memperluas daerah operasinya.

4.1.3 Prosedur Akad Rahn, Pemberian dan Pelunasan Kredit Gadai


4.1.3.1 Akad Rahn
Pada akad Rahn, nasabah (rahin) menyepakati untuk menyimpan barangnya (marhun)
kepada murtahin dikantor pegadaian syariah sehingga rahin akan membayar sejumlah ongkos

Universitas Sumatera Utara

(fee) kepada murtahin atas biaya perawatan dan penjagaan terhadap marhun. Untuk lebih
jelasnya mengenai akad ini dapat dilihat pada skema berikut ini (Abdul Ghofur, 2005: 123):

3.

Pinjaman
(Marhun Bih)

Murtahin Memberikan Marhun Bih (Pinjaman)

1.

PEGADAIAN

NASABAH

Akad

Rahin
Memberikan Marhun (Jaminan)
Jaminan
(Marhun)

2.

Gambar 4.1
Skema Akad Rahn
Sumber: Abdul Ghofur, 2005: 123
Keterangan:
1. Nasabah (rahin) mendatangi murtahin (kantor pegadaian) untuk meminta fasilitas
pembiayaan dengan membawa barang jaminan (marhun) yang akan diserahkan kepada
pihak pegadaian syariah (murtahin) untuk mengadakan akad
2. Murtahin (pegadaian syariah) melakukan pemeriksaan termasuk menaksir harga marhun
(barang jaminan) yang diberikan rahin (nasabah) sebagai jaminan utangnya
3. Setelah akad dilakukan, maka murtahin akan memberikan sejumlah marhun bih
(pinjaman/utang) yang diinginkan rahin dimana jumlahnya disesuaikan dengan nilai taksir
barang (dibawah nilai jaminan)
Apabila

menggunakan

akad

rahn

dimaksud,

rahin

hanya

berkewajiban

mengembalikan modal pinjaman dan menggunakan transaksi berdasarkan prinsip biaya

Universitas Sumatera Utara

administrasi. Untuk menghindari praktik riba, maka pengenaan biaya administrasi pada
pinjaman dengan cara sebagai berikut (Zainuddin Ali, 2008: 70):
a) Harus dinyatakan dalam nominal, bukan persentase
b) Sifatnya harus nyata, jelas, pasti, serta terbatas pada hal-hal yang mutlak diperlukan
untuk terjadinya kontrak.
4.1.3.2 Pemberian Pinjaman
Tata cara pelaksanaan memperoleh pinjaman yaitu sebagai berikut (Zainuddin Ali, 2008: 74):
a. Prosedur Memperoleh Pinjaman (marhun bih)
Untuk memperoleh pinjaman uang (marhun bih) dikantor pegadaian syariah maka
seorang nasabah (rahin) harus menyanggupi syarat- syarat yang ditentukan sebagai
berikut:
1. Memperlihatkan KTP atau kartu identitas lainnya yang berlaku
2. Membawa barang gadai (marhun) yang memenuhi syarat, seperti emas, barang
elektronik dan alat- alat rumah tangga
3. Kepemilikan barang merupakan milik pribadi
4. Ada surat kuasa dari pemilik barang jika dikuasakan dengan disertai materai
dan KTP asli dari pemilik barang
5. Menandatangani akad rahn dan akad ijarah dalam Surat Bukti Rahn (SBR)
b. Tata cara pelaksanaan pencairan pinjaman (marhun bih) dikantor pegadaian syariah
adalah sebagai berikut:
1. Calon nasabah (rahin) mengisi Formulir Permintaan Pinjaman (FPP) dan
menandatanganinya
2. Calon nasabah (rahin) mendatangi loket penaksir dan menyerahkan barang
gadai (marhun) untuk ditaksir nilainya

Universitas Sumatera Utara

3. Calon nasabah (rahin) menandatangani Surat Bukti Rahn (SBR) dengan


menyetujui akad rahn dan akad ijarah, kemudian Calon nasabah (rahin)
menuju loket kasir untuk menerima pencairan pinjaman (marhun bih)
Berikut skema tata cara memperoleh pinjaman (marhun bih) dikantor pegadaian syariah yang
ada di Kota Medan:

Nasabah (Rahin)

1.

Penaksir
2.

Penetapan Jumlah
Pinjaman
(marhun Bih)

Pencairan Pinjaman

Kasir

3.
Gambar 4.2
Skema Tata Cara Memperoleh Pinjaman
Sumber: Ali Zainudin, 2008: 75
Keterangan:
1. Nasabah (rahin) datang langsung ke murtahin (dalam hal ini penaksir) dan menyerahkan
barang (marhun) yang akan digadaikan/jaminannya dengan menunjukkan bukti identitas
diri seperti KTP, Paspor, atau keterangan identitas lainnya, atau surat kuasa jika pemilik
barang tidak bisa datang
2. Barang jaminan akan diteliti kualitasnya oleh penaksir dan ditetapkan harganya. Setelah
taksiran didapatkan maka penaksir memberitahu kasir berapa jumlah pinjaman (marhun
bih) yang akan diberikan yang dapat dipinjam oleh nasabah (rahin). Besar uang pinjaman

Universitas Sumatera Utara

ditetapkan oleh penaksir lebih kecil dari harga pasar nilai barang, hal ini merupakan cara
pegadaian untuk meminimalisir kerugian yang dapat terjadi dikemudian hari. Pada tahap
ini, nasabah akan menandatangani dua akad, yaitu akad rahn dan akad ijarah (penitipan)
3. Selanjutnya, uang pinjaman dapat diambil oleh nasabah dibagian kasir, setelah mendapat
potongan biaya administrasi dan biaya ijarah (biaya penitipan).
4.1.3.3 Pelunasan Pinjaman
Proses pelunasan uang pinjaman (marhun bih) dan pengambilan barang gadai dikantor
pegadaian syariah adalah sebagai berikut (Zainuddin Ali, 2008: 76):
1) Setiap saat uang pinjaman (marhun bih) dapat dilunasi tanpa harus menunggu habisnya
jangka waktu akad (jatuh tempo)
2) Proses pengembalian pinajamn (marhun bih) sampai penerimaan kembali barang gadai/
jaminan (marhun), tidak dikenakan biaya apappun, kecuali membayar jasa simpanan
sesuai tarif yang berlaku.
Berikut prosedur pelunasan uang pinjaman dari akad rahn dapat dilihat pada skema
dibawah ini:
Nasabah (Rahin)

kasir
1.
2.

Informasi Pelunasan

Pengembalian marhun
3.

Petugas Penyimpan
Marhun

Gambar 4.3
Skema Tata Cara Pelunasan Pinjaman

Universitas Sumatera Utara

Sumber: Ali Zainudin, 2008: 76


Keterangan:
1. Nasabah (rahin) mendatangi langsung ke murtahin (dalam hal ini kasir) dengan
membawa SBR (Surat Bukti Rahn)
2. Kasir memberitahu petugas penyimpan marhun untuk mengeluarkan barang gadai
tersebut
3. Barang gadai (marhun) dikembalikan kepada nasabah (rahin)
4.2 Gambaran Khusus Pegadaian Syariah Kota Medan
4.2.1 Profil Pegadaian Syariah Di Kota Medan
Pegadaian syariah di Kota Medan baru berdiri pada tahun 2010 atas persetujuan
menteri keuangan untuk membuka pegadaian yang berbasis syariah di kota Medan dan masih
dalam naungan PT. Pegadaian yang Kantor Wilayahnya berada di Jl. Pegadaian No. 112,
Medan 20151. Cabang Pegadaian Syariah pertama yang dibuka yaitu berada di Jl. KH. Wahid
Hasyim / Sei Wampu No. 73-M Sei Sikambing yang berdiri pada tanggal 1 Februari 2010,
disusul dengan berdirinya pegadaian syariah Jl. AR. Hakim No. 115 (Pasar Sukorame) Medan
Arya Selatan pada akhir Maret 2010, lalu pada pegadaian syariah Jl. Raya Setia Budi No. 84
Tanjung Rejo, Kec. Medan Sunggal pada tanggal 27 Mei 2010, dan terakhir di Jl. Asrama No.
185A Kel. Helvetia Kec. Medan Helvetia pada juli 2010.
Perkembangan Pegadaian Syariah semakin berkembang dari tahun ke tahun dilihat
dari semakin meningkatnya laba dan juga semakin diminati oleh masyarakat pola pegadaian
berbasis syariah. Sampai pada tahun 2014 ini (sekarang), dari ke empat pegadaian syariah
yang ada di Kota Medan tersebut berjumlah 17.016 nasabah dengan perincian nasabah tiaptiap kantor cabang pegadaian syariah, yaitu: kantor cabang pegadaian syariah Sei Wampu

Universitas Sumatera Utara

Syariah berjumlah 1823 nasabah, AR. Hakim Syariah 9400 nasabah, Setia Budi Syariah 5093
nasabah dan Asrama Syariah 700 nasabah, dan terus bertambah dari hari ke hari.
4.2.2 Jenis Produk dan Usaha Pegadaian Syariah Di Kota Medan
Jenis produk yang dikeluarkan pegadaian syariah disemua daerah hampir sama, tidak
terkecuali pegadaian syariah di Kota Medan. Produk produk yang dikeluarkan pegadaian
syariah hampir persis sama dengan produk pegadaian konvensional pada umumnya, karena
masih mengikuti perusahaan induknya yaitu PT Pegadaian. Berikut produk produk yang
dikeluarkan pegadaian syariah yang ada di Kota Medan:
4.2.2.1 Kantor Cabang Sei Wampu Syariah
Produk - produk yang disalurkan pegadaian syariah cabang Sei Wampu Syariah pada
masyarakat, yaitu:
1. Produk Rahn/gadai syariah (pemberian pinjaman atas dasar hukum gadai)
2. Produk ARRUM (pembiayaan untuk pengusaha mikro dan kecil)
3. Produk Amanah yaitu pembiayaan kepemilikan kendaraan bermotor bagi
karyawan
4. Produk MPO (Multi Payment Online)
5. Penaksiran Nilai Barang
6. Penitipan Barang berupa sewa (ijarah)
7. Gold Counter/ Mulia
4.2.2.2 Kantor Cabang AR. Hakim Syariah
Produk - produk yang disalurkan pegadaian syariah cabang AR. Hakim Syariah pada
masyarakat, yaitu:
1. Gadai Syariah (pemberian pinjaman atas dasar hukum gadai)

Universitas Sumatera Utara

2. Produk Arrum (khusus untuk kredit usaha mikro dan kecil)


3. Produk MPO (Multi Payment Online)
4. KRESNA (kredit serba guna) yaitu pengembangan kredit yang biasanya
dimanfaatkan oleh intern pegawai pegadaian. Kresna dimasa yang akan datang
akan dikembangkan menjadi produk yang bisa dimanfaatkan untuk cicilan
kendaraan bermotor, namun untuk sementara waktu ini kresna hanya ditujukan
untuk pemberian pinjaman uang kepada para pegawai pegadaian syariah.
5. Penaksiran Nilai Barang
6. Penitipan Barang berupa sewa (ijarah)
7. Gold Counter
4.2.2.3 Kantor Cabang Setia Budi Syariah
Produk - produk yang disalurkan pegadaian syariah cabang Setia Budi Syariah pada
masyarakat, yaitu:
1. Gadai Syariah (pemberian pinjaman atas dasar hukum gadai)
2. Produk Mulia / Gold Counter (layanan penjualan logam mulia)
3. Produk MPO (Multi Payment Online)
4. Produk Arrum (pembiayaan untuk pengusaha mikro dan kecil)
5. Penaksiran Nilai Barang
6. Penitipan Barang berupa sewa (ijarah)
4.2.2.4 Kantor Cabang Asrama Syariah
Produk - produk yang disalurkan pegadaian syariah cabang Asrama Syariah pada
masyarakat, yaitu:
1. Produk Rahn / Gadai syariah

Universitas Sumatera Utara

2. Produk Mulia/ Gold counter


3. Produk MPO (Multi Payment Online)
4. Produk Arrum
5. Penaksiran Nilai Barang
6. Penitipan Barang berupa sewa (ijarah)
Dilihat dari semua produk yang dikeluarkan oleh pegadaian syariah yang ada dikota Medan
tersebut, kita melihat adanya kesamaan produk yang dikeluarkan, yaitu:
1. Produk Rahn/gadai syariah (pemberian pinjaman atas dasar hukum gadai)
yaitu produk jasa gadai yang berlandaskan pada prinsip-prinsip syariah dengan
mensyaratkan pemberian pinajaman atas dasar penyerahan barang jaminan oleh
nasabah. Pada gadai syariah dimana nasabah hanya akan dipungut biaya administrasi
dan Ijaroh (biaya jasa simpan dan pemeliharaan barang jaminan)
2. Produk ARRUM yaitu pembiayaan kepada pengusaha mikro dan kecil untuk
pengembangan usaha dengan jaminan BPKB dan emas yang berprinsip syariah.
3. Produk MPO (Multi Payment Online), pelayanan dalam pembayaran seperti:
Pembayaran Listrik, TV Kabel, Pulsa Listrik dan Handphone, Internet, Pembayaran
Telepon, Tiket Kereta Api
4. Penaksiran Nilai Barang
yaitu suatu layanan kepada masyarakat yang peduli akan harga atau nilai harta benda
miliknya. Dengan biaya yang relatif ringan, masyarakat dapat mengetahui dengan
pasti tentang nilai atau kualitas suatu barang miliknya setelah lebih dulu diperiksa dan
ditaksir oleh juru taksir berpengalaman. Kepastian nilai atau kualitas suatu barang,
misalnya kualitas emas atau batu permata, dapat memberikan rasa aman dan rasa lebih
pasti bahwa barang tersebut benar-benar mempunyai nilai investasi yang tinggi.

Universitas Sumatera Utara

5. Penitipan Barang berupa sewa (ijarah) yaitu pegadaian syariah menyediakan tempat
penyimpanan barang bergerak yang cukup memadai yang dalam dunia perbankan
disebut dengan save deposit box. Atas dasar tersebut pihak pegadaian syariah
memperoleh penerimaan dari pemilik barang berupa ongkos penitipan barang.
6. Gold Counter/ Mulia (Murabahah Logam Mulia untuk Investasi Abadi) adalah jasa
penjualan logam Mulia yang berkualitas dan aman yang disediakan oleh Pegadaian
syariah kepada masyarakat. Gold counter dimaksud semacam toko emas galeri 24
yang terdiri dari beberapa pilihan, yaitu 5 gram sampai 1000 gram (1 kg). Setiap
pembelian ditoko milik pegadaian syariah akan dilampiri sertifikat jaminan. Hal ini
dilakukan untuk memberikan layanan bagi warga masyarakat kelas menengah yang
masih peduli dengan image. Berdasarkan sertifikat dimaksud, warga masyarakat
mempercayai dan yakin bahwa kualitas dan keaslian emas yang dibeli ditoko tersebut
mempunyai legalitas.
4.2.3 Struktur Organisasi Pegadaian Syariah Di Kota Medan
Dalam suatu organisasi terdapat adanya pembagian- pembagian kerja dalam
bidangnya untuk menjalankan kegiatan suatu perusahaan. Kantor Cabang Pegadaian Syariah
(KCPS) adalah sebuah lembaga pegadaian syariah dibawah binaan Divisi Unit Usaha Syariah
PT Pegadaian, yang secara struktural terpisah pengelolannya dari usaha gadai konvensional.
Pada pegadaian syariah yang adat di kota Medan terdapat pembagian kerja masing masing
karyawan dalam menjalankan tugasnya dan membuat kinerja pegadian syariah menjadi lancar
untuk mencapai terwujudnya sasaran yang telah ditetapkan.
Adapun struktur organisasi pegadaian syariah di kota Medan dapat dilihat pada
gambar berikut:

Universitas Sumatera Utara

Pimpinan
KCPS

Penaksir

Petugas
Gudang

Kasir

Bagian
Administrasi

Gambar 4.4
Struktur Organisasi Pegadaian Syariah Di Kota Medan

Struktur organisasi pada pegadain syariah sama dengan struktur organisasi pegadaian
konvensional, yaitu sama sama mempunyai satu pimpinan dan beberapa karyawannya, yaitu
pimpinan KCPS, bagian penaksir, bagian kasir, petugas gudang dan bagian administrasi.
Adapun tugas masing masing bagian adalah sebagai berikut (Zainuddin Ali, 2008: 59) :
1. Pimpinan Cabang Pegadaian Syariah
a. Memeriksa

taksiran

kemudian.

Pemeriksaan

taksiran

kemudian

adalah

pelaksanaan pengawasan melekat pimpinan cabang atas taksiran marhun,


sekaligus sebagai mana pendidikan bagi para penaksir. Pemeriksaan taksiran ini
dilakukan setiap hari oleh pimpinan cabang
b. Setelah pencatatan pada Buku Pemeriksaan Kemudian (BPK), penaksir dan
pimpinan CPS harus menandatangani setia kitir marhun, setelah memeriksanya
lebih dari satu kali dalam sehari
c. Memeriksa taksiran dan menyerakan marhun pada penjaga gudang. Ini bertujuan
untuk mengetahui apakah terdapat barang yang tertukar, atau adakah isinya
ternyata tidak cocok dengan keterangan pada SBR, atau apakah ada taksiran yang
menyimpang dari peraturan

Universitas Sumatera Utara

d. Pemeriksaan dilakukan dihadapan penaksir yang bersangkutan dengan membuka


semua kantong marhun yang belum diperiksa secara bersama sama antara
pimpinan dan penaksir
e. Persetujuan pimpinan CPS terhadap bukti pemeriksaan dilakukan dengan
membubuhkan paraf pada SBR
2. Bagian Penaksir
a. Menerima barang gadai/ jaminan (marhun) dari nasabah (rahin), dan menetapkan
biaya nilai taksiran dan uang pinjaman (marhun bih)
b. Membuat Surat Bukti Rahn (SBR) dan mendistribusikannya
3. Bagian Kasir
a. Menerima SBR lembar asli dari nasabah (rahin) dan SBR dari penaksir,
selanjutnya memeriksa keabsahannya
b. Menyiapkan pembayaran, membubuhkan paraf dan tanda bayar pada SBR asli
dan lembar kedua. SBR lembar pertama (asli) beserta uangnya diserahkan kepada
nasabah
c. SBR lembar kedua didistribusikan kebagian administrasi/ pegawai pencatat buku
pinjaman dan kitir bagian Dalam SBR sebagai dasar pencatatan pada Laporan
Harian Kas (LHK)
d. Pada saat pelunasan, kasir menerima dan memeriksa SBR asli tentang kelengkapan
data dan keabsahannya
e. Membuat slip pelunasan (selanjutnya disebut SP)
f. Menerima pembayaran dari rahin berupa pokok pinjaman dan jasa simpan sesuai
dengan tertera dalam SBR dan SP
g. Membutuhkan cap lunas dan memberi paraf pada badan SBR dan Kitir

Universitas Sumatera Utara

h. Mencatat semua penerimaan dalam bentuk pelunasan pinjaman dan pendapatan


jasa simpan dalam Laporan Harian Kas (LHK)
i. Mendistribusikan SBR tersebut: badan SBR diserahkan kepada bagian
administrasi, lembar 1 Slip Pelunasan diserahkan kepada rahin untuk mengambil
marhun, kitir SBR diserahkan kepada penyimpan / pemegang gudang sebagai
dasar pengeluaran
4. Bagian Gudang
a. Mencatat semua transaksi pemberian pinjaman dalam Buku Pinjaman (BP) untuk
semua golongan berdasarkan Badan SBR yang diterima dari kasir dan dibuat Kas
Kredit (KK) serta Buku Kas (BK)
b. Menerima marhun yang telah ditempeli kitir SBR bagian luar dari penaksir
c. Mencocokkan marhun yang telah ditempeli kitir SBR bagian luar dengan BP
d. Apabila telah sesuai antara marhun yang diterima hari itu dengan BP, selanjutnya
dicatat dalam Buku Gudang (BG)
e. Mencocokkan saldo BG dengan IPP pada akhir jam kantor
f. Pada saat pelunasan bagian gudang menerima kitir SB bagian luar dari kasir
sebagai dasar untuk mengambil marhun yang telah ditebus
g. Mencocokkan nomor kitir dalam yang diterima dari rahin dan dan nomor kitir
yang ada pada marhun
h. Apabila telah sesuai, melepaskan kitir yang ada pada marhun dan menyerahkan
marhun kepada rahin
i. Atas dasar kitir dalam dan marhun, pengeluaran marhun dicatat dalam Buku
Gudang (BG)

Universitas Sumatera Utara

j. Setiap akhir jam kerja mencocokkan BG dengan RPL yang ada pada bagian
administrasi
5. Bagian Administrasi
a. Mencocokka barang gadai/ jaminan (marhun) yang telah ditempeli kitir (SBR
bagian luar) dengan BP
b. Apabila marhun yang diterima pada hari itu dianggap telah sesuai dengan BP,
maka dicatat dalam BG
c. Mencocokkan saldo BG dengan IPP pada akhir jam kantor
d. Mencatat setiap transaksi pelunasan pada saat nasabah (rahin) melakukan
pelunasan berdasarkan SBR yang diterima dari kasir, sesuai dengan golongan dan
bulannya dal Buku Pelunasan (BPL)
e. Mendistribusikan lembar KD dan BK ke kantor wilayah dan lembar KD dan BK
sebagai arsip
f. Mencocokkan RPL dengan BG setiap akhir jam kerja
g. Mencatat penghapusan piutang pada Buku Pinjaman (BP) yang bersangkutan
h. Melaporkan realisasi penghapusan pinjaman yang diberikan ke Divisi Usaha Gadai
Syariah Pusat, dan tembusan ke kantor wilayah yang dilampiri dengan bukti
memorial
Demikianlah struktur organiasi pegadaian syariah, namun kenyataannya pada
pegadaian syariah kota Medan tidaklah demikian adanya setelah kita melihat langsung
kelapangan (kantor pegadaian syariah). Seharusnya sebuah perusahaan harus membagi para
karyawannya dan meletakkan pada bagiannya masing- masing, agar kinerja dari seorang
karyawan tersebut bisa fokus dan bekerja dengan baik. Namun masih terdapat adanya
kekurangan atau kelemahan dari sturktur organisasi didalam pegadaian syariah yang ada

Universitas Sumatera Utara

dikota medan yaitu masih kurangnya kuantitas karyawan yang diperlukan dalam bidangnya
disetiap kantor cabang. Pada KCPS Asrama Syariah misalnya, hanya terdapat satu orang
karyawan, sering kali pimpinan ikut turun tangan menjadi seorang karyawan yang langsung
melayani transaksi dengan nasabah. Kalau itu sering terulang maka kerja pimpinan tidaklah
maksimal pada kinerjanya dikarenakan mendapat dua bagian kerja sekaligus yaitu menjadi
seorang karyawan dan juga menjadi seorang pimpinan. Begitu juga dengan kantor pegadaian
syariah yang lainnya yang kekurangan karyawan dalam setiap bidangnya, yaitu para
karyawan merangkap tugas yang sebenarnya bukan tugas dari karyawan tersebut. Misalnya
seorang karyawan bagian kasir bisa merangkap tugas sebagai penaksir, bagian gudang atau
bagian administrasi sekaligus sehingga membuat kerja karyawan tersebut menjadi lambat dan
tidak bekerja dengan baik.
4.2.4 Prospek Pegadaian Syariah Kota Medan
Dengan asumsi bahwa pemerintah mengizinkan berdirinya perusahaan gadai syariah
maka yang dikehendaki adalah perusahaan yang cukup besar. Maka untuk mendirikan
perusahaan seperti ini perlu pengkajian kelayakan usaha yang hati hati dan aman. Prospek
suatu perusahaan dapat dilihat dari suatu analisa yang disebut dengan analisa SWOT
(strenghts, weakness, opportunities, dan threats) yaitu analisa perusahaan dengan melihat
adanya faktor internal perusahaan (kekuatan dan kelemahan) serta faktor eksternal (peluang
dan ancaman) yang ada.
Perusahaan pegadaian syariah kota Medan cukup pesat dan cerah, minat masyarakat
semakin hari semakin meningkat apalagi pegadaian syariah tidak menekankan pada
pemberian bunga dari barang yang digadaikan, walau tanpa bunga pegadaian syariah tetap
memperoleh keuntungan dilihat dari omset atau keuntungan dari bulan ke bulan yang terus
mengalami peningkatan. Dilihat dari outlet atau unit syariah yang masih terbilang sedikit

Universitas Sumatera Utara

dibandingkan dengan pegadaian konvensional (4 unit pegadaian syariah), pegadaian syariah


memiliki peluang untuk membuka lebih banyak unit syariah. Prospek yang dilihat dari
beberapa tahun kebelakang semenjak berdirinya pegadaian syariah di kota Medan sampai
pada saat ini, prospek dan perkembangannnya sangat pesat, masyarakat lebih antusias dan
merasa nyaman menjadi nasabah atau bagian dari pegadaian syariah. Dengan melihat prospek
yang cukup pesat dalam menjalankan bisnis yang lebih cerah dan menjanjikan, maka banyak
macam produk baru berbasis syariah yang dipasarkan sehingga tidak hanya terfokus pada
produk gadai.
4.3 Penyajian Data dan Analisis Data (Analisis SWOT)
4.3.1 Hasil Wawancara Dengan Pimpinan Pegadaian Syariah
Untuk mendapatkan informasi yang valid mengenai penelitian ini yaitu tentang apa
potensi dan kelemahan yang dimiliki pegadaian syariah serta apa apa saja peluang dan
ancaman yang akan dihadapi oleh pegadaian syariah dikta Medan ini, maka penulis
mendapatkan jawaban informasi tersebut langsung dari pimpinan pegadaian syariah yang ada
dikota Medan. Adapun hasil wawancara penulis dengan pimpinan pegadaian syariah yang ada
dikota Medan ayitu sebagai berikut:
I.

Kelebihan Yang dimiliki Pegadaian Syariah Kota Medan


Disini penulis menanyakan atau mewawancarai langsung kepada informan yaitu

pimpinan pegadaian syariah yang ada dikota Medan mengenai apa apa saja potansi atau
kelebihan yang dimiliki pegadaian syariah kota Medan. Penulis memberikan pertanyaan yang
sama terhadap pimpinan pegadaian syariah untuk mendapatkan informasi yang sama tentang
penelitian. Disini penulis memuatkan empat jawaban dari hasil wawancara dengan pimpinan
pegadaian syariah yaitu sebagai berikut:

Universitas Sumatera Utara

1. Kantor Cabang Sei Wampu Syariah Dengan Pimpinan Pegadaian Syariah Ibu Hj.
Ernawati, SE:
menurut saya kelebihan yang dimiliki pegadaian syariah disini yaitu
pertama adanya dukungan dari umat islam itu sendiri terutama dari masyarakat kota
sekitar lokasi ini, yang kedua kami memberikan pelayanan yang baik dan bersahabat
terhadap semua nasabah, persyaratan yang mudah dan murah, prosedur yang cepat
hanya butuh waktu 15 menit saja, perhitungan ijarah per 10 hari mendapatkan
tanggapan positif dari nasabah karena cenderung menguntungkan nasabah.
(Wawancara 3 Februari 2014)
2. Kantor Cabang AR. Hakim Syariah Dengan Pimpinan Pegadaian Syariah Bapak
Sentot Sunarso, SE:
potensi yang dimiliki pegadaian syariah disini yaitu dalam proses pencairan
dana tidak membutuhkan waktu yang lama, adanaya persyaratan administrasi yang
mudah, terdapatnya jasa simpan yang tidak besar denganbarang

jaminan

diasuransikan, tempat yang strategis dekat lokasi perumahan masyaraka.


(Wawancara 21 Februari 2014)
3. Kantor Cabang Setia Budi Syariah Dengan Pimpinan Pegadaian Syariah Ibu Hj. Semi,
SE:
potensi yang dimiliki pegadaian syariah disini saya rasa yaitu tempat yang
strategis dekat perumahan penduduk sehingga akses yang mudah dekat persimpangan
jalan padat perumahan dan pegadaian syariah disini satu satunya, sistem syariah
(perhitungan per 10 hari)sementara pegadaian konvensional per 15 hari. Lalu
masalah biaya cukup dipungut biaya administrasi dan biaya ijarah atau sewa tempat.
Dan juga barang jaminan yang dasuransikan, waktu pinjaman dapat diperpanjang,

Universitas Sumatera Utara

persyaratan yang mudahdan cepat dan produk yang bervariatif dan terjangkau oleh
masyarakat.
(Wawancara 22 Januari 2014)
4. Kantor Cabang Setia Budi Syariah Dengan Pimpinan Pegadaian Syariah Bapak Aden
T. Syaeful Bahri, ST:
potensi kami yaitu kami mempunyai pegawai yang ramah dan bersahabat,
pelayanan yang diberikan memuaskan kepada pelanggan, memberikan kenyamanan
kepada nasabah baik dari pelayanan pegawai maupun lingkungan kerja, produk yang
bervariatif dan terjangkau oleh masyarakat. Tidak terkecuali adanya dukungan dari
masyarakat untuk beralih dari konvensional ke syariah karena prinsip dari
konvensional yang tidak ejalan dengan prinsip syariah terutama bagi umat islam itu
sendiri yang menyadari bahwa bunga adalah haram baik bagi penerima maupun bagi
yang memberikan. Prosedur yang mudah hanya membawa barang yang akan
digadaikan dan membawa KTP dari penggadai, barang yang diasuransikan dan
trejamin keamanannya serta waktu perpanjangan tanpa harus membayar biaya adm.
lagi tapi cukup membayar biaya sewa tempat/ ijarah.
(Wawancara 24 Februari 2014)
Dilihat dari semua jawaban dari informan dapat disimpulkan bahwa ada kesamaan
kelebihan yang dimiliki pegadaian syariah yang ada dikota Medan yaitu pertama adanya
dukungan dari umat Islam itu sendiri terutama umat Islam dikota Medan. Kedua, untuk
mendapatkan pembiayaan dari pinjaman yang persyaratannya yang mudah dan murah. Ketiga,
prosedurnya yang sederhana dan cepat yaitu hanya butuh waktu 15 menit saja. Keempat,
cukup dipungut biaya administrasi dan biaya ijarah (sewa tempat). Kelima, barang jaminan
tersebut diasuransikan sehingga nasabah merasa aman akan barangnya. Keenam, terdapatnya

Universitas Sumatera Utara

tempat yang startegis dekat perumahan penduduk sehingga memudahkan bagi nasabah untuk
bertransaksi. Ketujuh, produk yang ditawarkan bervariatif dan sesuai dengan kebutuhan
nasabah dan masyarkat sekitar serta terjangkau oleh masyarakat. Kedelapan, waktu pinjaman
yang bisa diperpanjang tanpa harus membayar biaya administrasi lagi tapi cukup membayar
biaya sewa tempat (ijarah).
II.

Kelemahan/ Kendala Yang dimiliki Pegadaian Syariah Kota Medan


Kelemahan dari organisasi atau perusahaan selalu ada disamping adanya kelebihan

yang dimiliki, begitu juga dengan pegadaian syariah yang terdapat dikota Medan ini. Berikut
hasil wawancara penulis dengan pimpinan pegadaian syariah dikota Medan mengenai
kelemahan yang dimilikinya dengan memberikan pertanyaan yang sama.
1. Kantor Cabang Sei Wampu Syariah Dengan Pimpinan Pegadaian Syariah Ibu Hj.
Ernawati, SE:
kendala yang ada pada pegadaian syariah dsini yaitu lokasi kurang mendukung dan
banyak dikelilingi pegadaian lain dengan jarak relatif dekat yaitu UPC Gajah Mada,
UPC Babura, UPC Petisah, UPC Medan Plaza. Lalu ruang penyimpanan barang yang
terbatas. Masih adanya karyawan yang merangkap tugas lain sehingga kurang efektifnya
kinerja dari seorang karyawan tesebut dan juga tidak semua karyawan disini memahami
denhgan betul perbedaan antara konvensional dengan syariah.
(Wawancara 3 Februari 2014)
2. Kantor Cabang AR. Hakim Syariah Dengan Pimpinan Pegadaian Syariah Bapak Sentot
Sunarso, SE:
kendala pegadaian syariah disini dan dikota medan pada Umumnya yaitu banyaknya
persaingan dengan perusahaan lain sehingga kami harus lebih kompetitif dalam
menjalankan usaha ini, lalu cabang yang masih terbatas dan terbilang sedikit yaitu hanya

Universitas Sumatera Utara

4 cabang saja bila dibandingkan dengan pegadaian konvensional yang memiliki hampir
disetia daerah dan juga karena bangunannya atau tempat yang masih kecil dan ruang
penyimpanan yang terbatas hanya pada barang barang kecil saja.
(Wawancara 21 Februari 2014)
3. Kantor Cabang Setia Budi Syariah Dengan Pimpinan Pegadaian Syariah Ibu Hj. Semi, SE:
kelemahan pegadaian syariah disini menurut saya yang pertama dari cara pemasaran yaitu
masih banyaknya nasabah yang merasa malu untuk datang kepegadaian. Kedua pelayanan yaitu
masih adanya nasabah menyepelekan pegadaian sehingga saat diberikan penjelasan mengenai
SOP pegadaian dan berdampak pada aturan yang berlaku. Contohnya bila terjadi lelang barang
jaminan, nasabah komplain tidak dapat menerima apa yang terjadi ketentuan perusahaan
padahal dari awal perjanjian telah dinerikan penjelasan mengenai SOP. Ketiga adanya cabang
yang terbatas dikota medan, lalu kurangnya keprofesionalan dari karyawan yang ada, ruang
penyimpanan yang masih terbatas, adanya karyawan yang merangkap tugas untuk diperlukannya
penambahan karyawan disetiap bidangnya.

(Wawancara 22 Januari 2014)


4. Kantor Cabang Setia Budi Syariah Dengan Pimpinan Pegadaian Syariah Bapak Aden T.
Syaeful Bahri, ST:
adanya pesaing dari gadai abal abal, bank yang sudah menerima jasa gadai,
cabang yang masih terbatas, karyawan kami yang merangkap tugas sehingga tidak
berjalannya dengan baik kinerja kami dan terdapatnya ruang penyimpanan yang terbatas
sehingga hanya diperuntukkan untuk barang jaminan yang kecil kecil.
(Wawancara 24 Februari 2014)
Dari jawaban masing masing pimpinan pegadaian syariah yang ada dikota Medan
tentang kelemahan pegadaian syariah dapat disimpulkan bahwa adanya kesamaan yaitu
pertama, cabang pegadaian syariah yang masih tergolong sedikit. Kedua adanya karyawan

Universitas Sumatera Utara

yang merangkap tugas sehingga tidak efesiennya kinerja dari seorang karyawan dalam
menjalankan tugasnya. Ketiga, tidak semua SDM nya memahami betul tentang syariah.
Keempat, kurang adanya tenaga profesional yang handal. Kelima, harus adanya barang
jaminan untuk memperoleh pinjaman. Keenam, masih banyak nasabah yang merasa malu
untuk datang kepegadaian syariah. Ketujuh, ruang penyimpanan barang jaminan yang
terbatas.
III.

Peluang Yang dimiliki Pegadaian Syariah Kota Medan


Peluang ini yaitu terdapatnya kekuatan dari luar perusahaan yang akan menentukan

berkembangnhya perusahaan untuk kemajuan kedepannya sehingga pimpinan haruslah pandai


dalam menguasai peluang yang ada untuk kemajuan dari perusahaan yang dipimpinnya.
Berikut hasil wawancara penulis dengan pimpinan pegadaian syariah dikota Medan mengenai
peluang yang ada bagi pegadaian syariah kota Medan:
1. Kantor Cabang Sei Wampu Syariah Dengan Pimpinan Pegadaian Syariah Ibu Hj.
Ernawati, SE:
peluangnya lokasi kantor yang cukup strategis, ramai penduduk sehingga
diharapkan dapat meningkatkan omset kedepannya, adanya anggapan dari sebagian
masyarakat bahwa bunga adalah haram, untuk itu nasabah cenderung memilih produk
syariah terutama bagi umat Islam itu sendiri yang beranggapan bahwa konvensional
tidak sejalan dengan prinsip syariah, ditambah lagi nasabahnya bukan hanya dari umat
islam saja serta adanya peluang ekonomi bagi nasabah dalam bertransaksi dengan
pegadaian syariah disini seperti berkembangnya usaha dari nasabah tersebut.
(Wawancara 3 Februari 2014)
2. Kantor Cabang AR. Hakim Syariah Dengan Pimpinan Pegadaian Syariah Bapak Sentot
Sunarso, SE:

Universitas Sumatera Utara

pertama adanya dukungan dari umat Islam itu sendiri untuk keluar dari bisnis
haram yang dijalankan pegadaian konvensional dengan prinsip bunga yang tidak sejalan
dengan prinsip syariah Islam sehingga nasabah cenderung memilih produk berbasis
syariah, terdapatnya lokasi yang strategis dan yang terpenting adalah nasabahnyan
bukan hanya dari umat Islam saja sehingga pegadaian syariah dapat dikenalluas oleh
masyrakat dan berpeluang bagus untuk kemajuan kedepannya.
(Wawancara 21 Februari 2014)
3. Kantor Cabang Setia Budi Syariah Dengan Pimpinan Pegadaian Syariah Ibu Hj. Semi, SE:
yaitu masih banyaknya masyarakat kota Medan yang cenderung memilih produk
syariah terutama karena sistemnya sesuai syariah dan masyarakat kota Medan mayoritas
muslim, nasabah bisa dari umat selain Islam karena kami disini memberikan jasa dan
mendukung program pemerintah dalam meningkatkan perekonomian rakyat dengan cara
usaha gadai syariah yang kami berikan.
(Wawancara 22 Januari 2014)
4. Kantor Cabang Setia Budi Syariah Dengan Pimpinan Pegadaian Syariah Bapak Aden T.
Syaeful Bahri, ST:
semakin tingginya rasa antusias nasabah/ masyarakat untuk mencoba datang
kepegadaian syariah dibanding konvensional, nasabah bukan hanya dari umat Islam saja
dan anggapan masyarakat bahwa konvensional yang ada tidsk sejalan dengan syariat
Islam serta adanya peluang ekonomi dari berkembangnya pegadaian ini utnuk
masyarakat atau nasabah.
(Wawancara 24 Februari 2014)
Setelah penulis mendapatkan informasi dari informan terpilih mengenai penelitian ini
tentang peluang yang ada bagi berkembangnya pegadaian syariah dikota Meda, maka penulis

Universitas Sumatera Utara

berkesimpulan bahwa adanya kesamaan peluang yang dimiliki, yaitu pertama bahwa
anggapan masyarakat tentang bunga adalah haram karena tidak sesuai dengan prinsip syariah
Islam. Kedua, dengan berprinsip syariah sesuai syariat Islam amka nasabah lebih memilih
produk syariah. Ketiga, nasabah pegadaian syariah bukan hanya dari umat Islam saja, akan
tetapi mencakup untuk semua umat. Keempat, adanya peluang ekonomi dari berkembnagnya
pegadaian syariah baik bagi nasabah maupun dari pegadaian syariah itu sendiri terlihat dari
meningkatnya omset dari waktu ke waktu.
IV.

Ancaman Yang dihadapi Pegadaian Syariah Kota Medan


Selain adanya kekuatan, kelemahan, peluang maka suatu perusahaan atau organisasi

terdapat adanya ancaman yang datang yang setiap waktu akan membuat perusahaan akan
mengalami kemunduran dari usahanya. Begitupun dengan pegadaian syariah, apalagi
pegadaian syariah yang masih baru bila dibandingkan dengan pegadaian konvensional.
Berikut ancaman yang datang pada pegadaian syariah yang ada dikota Medan:
1. Kantor Cabang Sei Wampu Syariah Dengan Pimpinan Pegadaian Syariah Ibu Hj.
Ernawati, SE:
usaha gadai emas dalam lini syariah sudah mulai banyak dilirik oleh pihak
perbankan, sehingga sudah mulai banyak bank syariah yang membuka usaha gadai emas
yang cepat atau lambat pasti akan menjadi ancaman besar bagi pegadaian syariah, lalu
terdapatnya ancaman lain seperti adanya perampokan dan adanya anggapan dari
masyarakat bahwa citra keuangan syariah belum mapan.
(Wawancara 3 Februari 2014)
2. Kantor Cabang AR. Hakim Syariah Dengan Pimpinan Pegadaian Syariah Bapak Sentot
Sunarso, SE:

Universitas Sumatera Utara

ancamannya yaitu terdapatnya persaingan yang banyak yang mereka sudah mulai
melirik usaha gadai syariah, kejahatan dari pihak lain seperti perampokan dan ancaman
dari orang yang merasa terusik kenikmatannya mengeruk uang rakyat seperti rentenir.
(Wawancara 21 Februari 2014)
3. Kantor Cabang Setia Budi Syariah Dengan Pimpinan Pegadaian Syariah Ibu Hj. Semi, SE:
pertama karena banyaknya lembaga lain yang menawarkan produk yang sama
dengan syarat yang lebih mudah seperti bank syariah dan pegadaian konvensional yang
telah lama berdiri dan memberikan produk yang sama pada masyarakat yang
mengeluarkan usaha gadai syariah juga, lembaga lain seperti leasing yang menawarkan
pinjaman dengan jaminan BPKB, adanya para rentenir yang masih merajalela dan tidak
dipungkiri lagi adanya kejahatan perampokan yang sewaktu waktu akan terus
mengancam.
(Wawancara 22 Januari 2014)
4. Kantor Cabang Setia Budi Syariah Dengan Pimpinan Pegadaian Syariah Bapak Aden T.
Syaeful Bahri, ST:
banyaknya pesaing yang membuka usaha gadai seperti bank yang sudah bisa
menyalurkan produk gadai, ada sebagian masyarakat beranggapan bahwa pegadaian
syariah berkaitan dengan fanatisme agama dan hanya untuk umat Islam saja. Dan yang
terpenting susahnya menghilangkan mekanisme bunga yang sudah mengakar ditengah
masyarakat serta adanya tangan yang tidak bertanggung jawab seperti kemalingan dan
perampokan pada pegadaian syariah disini. Adanya masyarakat yang memberikan
pinjaman mendesak kepada masyarakat lain dengan bunga yang lebih seperti rentenir.
(Wawancara 24 Februari 2014)

Universitas Sumatera Utara

Dapat disimpulkan bahwa ancaman yang terdapat pada pegadaian syariah dikota
Medan terdiri dari usaha gadai syariah sudah mulai dilirik oleh lembaga lain, adanaya tindak
kriminal seperti perampokan , citra lembaga syariah belum mapan dimata masyarakat,
anggapan masyarakat bahwa pegadaian syariah berkaitan dengan fanatisme agama, ancaman
dari para rentenir dan susahnya untuk menghilangkan mekanisme bunga yang sudah
mengakar ditengah masyarakat.
V.

Strategi Yang Diambil Oleh Pegadaian Syariah Kota Medan


Dalam suatu perusahaan perlu adanya membuat strategi dalam menghadapi kelemahan

dan ancaman yang ada untuk mendukung berkembangnya kelebihan dan peluang yang
terdapat pada perusahaan dan guna mencapai tujuan yang telah dibuat agar apa yang sudah
direncanakan akan berjalan lancar dengan baik. Berikut hasil wawancara penulis dengan
informan mengenai strategi perusahaan pegadaian syariah kota Medan dalam menghadapi dan
merumuskan masalah untuk tercapainya sasaran yang telah ditetapkan.
1. Kantor Cabang Sei Wampu Syariah Dengan Pimpinan Pegadaian Syariah Ibu Hj.
Ernawati, SE:
strategi yang diambil oleh KCPS sei wampu ini adalah peningkatan pelayanan yang
lebih mengedepankan kekeluargaan kepada masyarakat atau nasabah, peningkatan
sosialisasi produk produk pegadaian syariah kepada masyarakat sekitar terutama
masyarakat yang belum familiar dengan pegadaian, sosialisasi produk produk baru
pegadaian seperti MPO, arrum, amanah kepada nasabah lama dan baru.
(Wawancara 3 Februari 2014)
2. Kantor Cabang AR. Hakim Syariah Dengan Pimpinan Pegadaian Syariah Bapak Sentot
Sunarso, SE:

Universitas Sumatera Utara

strategi yang kami jalankan adalah dengan lebih menciptakan produk yang lebih
bervariatif, lebih menciptakan sistem keamanan kantor dengan adanya sekuriti dan
kamera CCTV yang dipasang, lebih meningkatkan cara pelayanan kami terhadap
nasabah.
(Wawancara 21 Februari 2014)
3. Kantor Cabang Setia Budi Syariah Dengan Pimpinan Pegadaian Syariah Ibu Hj. Semi, SE:
strategi yang kami luncurkan yaitu pertama peningkatan pelayanan baik dengan
naasbah lama maupun baru, meningkatkan kualitas pelayanan, kesungguhan dan
keakuratan kami dalam bekerja dan mengutamakan kejujuran dan kebenaran dalam
pelayanan yang kami berikan.
(Wawancara 22 Januari 2014)
4. Kantor Cabang Setia Budi Syariah Dengan Pimpinan Pegadaian Syariah Bapak Aden T.
Syaeful Bahri, ST:
strategi kami yaitu kami melaksanakan promosi seperti menyebarkan brosur,
mengadakan pertemuan dengan instansi sekitar untuk memasarkan produk pegadaian
syariah, mengisi acara dipengajian warga sekitar sekaligus memperkenalkan produk
pegadaian syariah.
(Wawancara 24 Februari 2014)
Hal tersebut diatas lah strategi yang diluncurkan atau direncanakan oleh pihak
pegadaian syariah yang ada dikota Medan dalam mengenalkan dan memajukan perusahaan
kedepannya supaya apa yang telah direncanakan tercapai dengan baik, dan juga bisa
meminimalisir kelemahan yang ada dan dapat mengatasi ancaman yang datang serta
meningktakan potensi yang dimiliki dan mengambil peluang yang ada.

Universitas Sumatera Utara

4.3.2 Analisis Faktor Internal dan Eksternal Pegadaian Syariah Kota Medan (Analisis
SWOT)
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan mulai dari mengetahui undang undang
tentang PT. Pegadaian untuk membuka usaha penyaluran uang pinjaman atas dasar hukum
gadai (PP No. 103 tahun 2000), melihat gambaran umum PT. Pegadaian, serta melihat visi
dan misi PT. Pegadaian sampai melihat dan mengetahui kondisi pegadaian syariah kota
medan, strategi yang telah ditempuh dan kinerja yang telah dicapai dapat diketahui dari
beberapa faktor internal dan eksternal pada Pegadaian Syariah Kota Medan. Beberapa faktor
internal dan eksternal yang penting (IFAS & EFAS) pegadaian syariah kota Medan dapat
diidentifikasikan sebagai berikut :
1. Evaluasi Faktor Internal ( EFI )
a. Kekuatan (Strengths)
1) Adanya dukungan dari umat Islam kota Medan yang menginginkan suatu lembaga
keuangan yang bebas dari bunga dan sesuai dengan syariat Islam
2) Persyaratan yang mudah dan murah, nasabah datang ke kentor pegadaian syariah
dengan membawa barang jaminan (marhun) dan menunjukkan bukti identitas diri
(KTP/ Paspor dan bukti identitas lain)
3) Prosedur mendapatkan pinjaman yang sederhana dan tidak menyusahkan nasabah
yang jangka waktu prosedurnya hanya 15 menit
4) Cukup dipungut biaya administrasi dan biaya ijarah;
5) Barang jaminan yang diasuransikan
6) Tempat yang strategis yang dekat dengan perumahan penduduk
7) Produk produk yang variatif dan terjangkau oleh masyarakat

Universitas Sumatera Utara

8) Apabila jatuh tempo, maka waktu pinjaman dapat diperpanjang tanpa harus membayar
biaya administrasi lagi
b. Kelemahan (Weaknesses)
1) Cabang pegadaian syariah yang terbatas menyebabkan nasabah kesulitan melakukan
transaksi
2) Karyawan yang merangkap tugas, seperti pegawai kasir merangkap tugas sebagai
petugas gudang (penyimpan)
3) Tidak semua SDM nya memahami betul tentang pegadaian berbasis syariah
4) Lebih banyak memerlukan tenaga profesional yang handal dalam perhitungan
perhitungan yang rumit seperti menghitung laba nasabah yang kecil kecil
5) Harus adanya barang jaminan utnuk memperoleh pinjaman
6) Masih banyak nasabah yang merasa malu untuk datang ke pegadaian syariah
7) Belum memiliki visi dan misi sendiri karena masih ikut dengan perusahaan induk (PT
Pegadaian).
8) Kurangnya tempat penyimpanan barang jaminan (marhun) sehingga menyebabkan
barang yang dijadikan terbatas
2. Evaluasi Faktor Eksternal ( EFE )
a. Peluang (Opportunities)
1) Peluang karena pertimbangan kepercayaan agama, yaitu masih banyak yang
menganggap bahwa menerima dan/ membayar bunga adalah haram
2) Lokasi kantor yang cukup strategis dan ramai penduduk
3) Masih banyaknya masyarakat kota Medan yang cenderung memilih produk syariah
4) Nasabah pegadaian syariah bukan hanya dari umat Islam saja
5) Adanya peluang ekonomi dari berkembangnya pegadaian syariah

Universitas Sumatera Utara

6) Pegadaian umum yang ada saat ini tidak sejalan dengan syariat Islam
b. Ancaman ( Threats )
1) Usaha gadai syariah sudah mulai banyak dilirik oleh pihak perbankan
2) Adanya tindak kriminal dari orang orang jahat seperti perampokan
3) Citra lembaga keuangan syariah belum mapan di mata masyarakat
4) Adanya anggapan dari masyarakat bahwa lembaga pegadaian syariah tersebut
berkaitan dengan fanatisme agama (anggapan hanya untuk umat Islam saja)
5) Ancaman dari orang orang yang merasa terusik kenikmatannya mengeruk kekayaan
rakyat melalui sistem bunga (para rentenir)
6) Susah untuk menghilangkan mekanisme bunga yang sudah mengakar dan
menguntungkan bagi sebagian kecil golongan
Tabel 4.1
Faktor Internal dan Eksternal Pegadaian Syariah Kota Medan
Faktor Internal

Faktor Eksternal

Kekuatan (Streghths)

Peluang (Opportunities)

Adanya dukungan dari umat Islam


Persyaratan yang mudah dan murah
prosedur yang sederhana hanya 15 menit
Cukup dipungut biaya adm dan ijarah
Barang jaminan yang diasuransikan
Tempat yang strategis yang dekat
dengan perumahan penduduk
7. Produk produk yang variatif dan
terjangkau oleh masyarakat
8. Waktu pinjaman dapat diperpanjang
tanpa
harus
membayar
biaya
administrasi lagi
Kelemahan (Weaknesses)

1. Anggapan bunga adalah haram


2. Lokasi kantor yang cukup strategis dan
ramai penduduk
3. Nasabah cenderung memilih produk
syariah
4. Nasabah pegadaian syariah bukan hanya
dari umat Islam saja
5. Adanya
peluang
ekonomi
dari
berkembangnya pegadaian syariah
6. Pegadaian umum yang ada saat ini tidak
sejalan dengan syariat Islam

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Ancaman (Threats)

Universitas Sumatera Utara

1. Cabang pegadaian syariah yang terbatas


2. karyawan yang merangkap tugas
3. Tidak semua SDM nya memahami betul
tentang yariah
4. kurang adanya tenaga profesional yang
handal
5. Harus adanya barang jaminan utnuk
memperoleh pinjaman
6. Masih bnayak nasabah yang merasa
malu untuk datang ke pegadaian syariah
7. Belum memiliki visi dan misi sendiri
8. Kurangnya tempat penyimpanan barang
jaminan (marhun)

1. Usaha gadai syariah sudah mulai banyak


dilirik oleh pihak perbankan
2. Adanya tindak kriminal dari orang
orang jahat seperti perampokan
3. Citra lembaga keuangan syariah belum
mapan di mata masyarakat
4. Anggapan bahwa lembaga pegadaian
syariah berkaitan dengan fanatisme
agama
5. Ancaman dari orang yang merasa terusik
kenikmatannya mengeruk kekayaan
rakyat melalui sistem bunga (para
rentenir)
6. Susah untuk menghilangkan mekanisme
bunga yang sudah mengakar

4.3.2.1 Identifikasi Lingkungan Internal (S W)


Dalam mengidentifikasi lingkungan internal (SW) dapat menggunakan kombinasi
pendekatan dengan strategi IFAS (Internal Strategi Factor Analysis Summary) dengan tabel
4.2 sebagai berikut:
Tabel 4.2
Analisis Internal (IFAS)

Faktor Internal

Kekuatan (S)
1. Adanya dukungan dari umat Islam
2. Persyaratan yang mudah dan murah
3. Prosedur yang sederhana hanya 15 menit
4. Cukup dipungut biaya adm dan biaya ijarah
5. Barang jaminan yang diasuransikan
6. Tempat yang strategis yang dekat dengan perumahan
penduduk
7. Produk produk yang variatif dan terjangkau oleh
masyarakat
8. Waktu pinjaman dapat diperpanjang tanpa harus
membayar biaya administrasi lagi
Total (S)

Bobot
(a)

Rating
(b)

Total
(a x b)

1
1
1
1
1
1

4
4
4
3,75
4
3,5

4
4
4
3,75
4
3,5

3,75

3,75

3,25

3,25
30,25

Universitas Sumatera Utara

Kelemahan (W)
1. Cabang pegadaian syariah yang terbatas
2. Adanya karyawan yang merangkap tugas
3. Tidak semua SDM nya memahami betul tentang syariah
4. Kurang adanya tenaga profesional yang handal
5. Harus adanya barang jaminan untuk memperoleh
pinjaman
6. Masih banyak nasabah yang merasa malu untuk datang
ke pegadaian syariah
7. Belum memiliki visi dan misi sendiri
8. Ruang penyimpanan barang jaminan (marhun) yang
terbatas
Total (W)
Total (S W) = x
4.3.2.2 Identifikasi Lingkungan Eksternal (O T)

1
1
1

1
1
1,25

1
1
1,25

1
1

2
2

2
2

1,75

1,75

1
1

1,25
1

1,25
1
11,25
30,25 11,25 = 19

Dalam mengidentifikasi lingkungan Eksternal (OW) juga dapat menggunakan kombinasi


pendekatan dengan strategi EFAS (Eksternal Strategi Factor Analysis Summary) dengan tabel
4.3 sebagai berikut:
Tabel 4.3
Analisis Eksternal (EFAS)

Faktor Eksternal
Peluang (O)
1. Anggapan bunga adalah haram
2. Lokasi kantor yang cukup strategis dan ramai penduduk
3. Nasabah cenderung memilih produk syariah
4. Nasabah pegadaian syariah bukan hanya dari umat Islam
saja
5. Adanya peluang ekonomi dari berkembangnya
pegadaian syariah
6. Pegadaian umum yang ada saat ini tidak sejalan dengan
syariat Islam

Bobot
(a)

Rating
(b)

Total
(a x b)

1
1

3,75
3

3,75
3

3,25

3,25

4
22

1
1

1
2

1
2

Total (O)
Ancaman (T)
1. Usaha gadai syariah sudah mulai banyak dilirik oleh
pihak perbankan
2. Adanya tindak kriminal seperti perampokan
3. Citra lembaga keuangan syariah belum mapan di mata

Universitas Sumatera Utara

masyarakat
4. Anggapan bahwa lembaga pegadaian syariah berkaitan
dengan fanatisme agama
5. Ancaman dari orang yang merasa terusik kenikmatannya
mengeruk kekayaan rakyat melalui sistem bunga (para
rentenir)
6. Susah untuk menghilangkan mekanisme bunga yang
sudah mengakar
Total (T)
Total (O - T) = y

1,5

1,5

1,5

1,5

2
9

22 9 = 13

Setelah kedua elemen lingkungan internal dan eksternal diidentifikasikan lewat analisa
IFAS dan EFAS atau untuk tiap variable elemen SWOT telah diisi sehingga menghasilkan
masing masing skor pada elemen internal maupun eksternal, maka hasilnya adalah pada
elemen internal atau pada sumbu x menghasilkan skor 19 pada elemen kekuatan dan pada
elemen eksternal atau sumbu y menghasilkan skor 13 pada elemen peluang. Jadi kesimpulan
dari kombinasi pendekatan analisa diatas dengan kekuatan yang besar mencapai skor 19 dan
peluang 13, maka posisi berada pada kuadran I yaitu (positif positif) yang menandakan
bahwa organisasi kuat dan memiliki peluang yang cukup besar, maka rekomendasi strategi
yang tepat adalah Progresif yaitu menggunakan seluruh kekuatan yang tersedia untuk
memanfaatkan berbagai peluang yang ada namun harus mengantisipasi ancaman yang akan
datang atau situasi perusahaan dalam kondisi prima dan mantap sehingga sangat
memungkinkan untuk terus melakukan ekspansi, memperbesar pertumbuhan dan meraih
kemajuan secara maksimal.
4.3.3 Diagram Analisis SWOT
Berikut adalah hasil analisa dari IFAS dan EFAS yang digambarkan pada kuadran SWOT:

Universitas Sumatera Utara

Opportunity

13
10
Weakness

Kuadran I: Agresif

5
0

Strenghts
10

15

19

Threath
Gambar 4.5
Kuadran SWOT Pegadaian Syariah Kota Medan
Dari tabel diatas kita melihat perbandingan antara kekuatan, kelemahan, peluang dan
ancaman yang ada. Kekuatan dan kelemahan yang ada yaitu 30,25 kekuatan dan 11,25
kelemahan dengan hasil 19 pada sumbu x, serta antara peluang dan ancaman yaitu 22 peluang
dan 9 ancaman dengan hasil 13 pada sumbu y. Disini kita melihat bahwa kekuatan lebih
dominan dari pada kelemahan dengan hail 19 dan peluang lebih kuat dari pada ancaman
sebesar 13. Jadi analisis pada Pegadaian Syariah Kota Medan sangat baik, yaitu berada pada
kuadran I yang berarti positif - positif. Dengan melihat analisa dari hasil tersebut diatas, maka
Pegadaian Syariah kota Medan memiliki kekuatan sebesar 19 yang menyebabkan produk
produk yang dikeluarkan bagus dipasaran, dan memiliki 13 peluang yang cukup untuk
meneruskan dan mengembangkan pertumbuhan produk yang ada dan memajukan perusahaan
untuk kedepannya.

Universitas Sumatera Utara

4.3.4 Matrix SWOT


Alat yang dipakai untuk menyusun faktor faktor strategi perusahaan adalah matrix
SWOT. Matrix ini menggambarkan bagaimana peluang dan ancaman eksternal (EFAS) yang
dihadapi perusahaan dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan (IFAS) yang
dimilikinya. Matrix ini dapat menghasilkan empat set kemungkinan alternatif strategis
(Rangkuti, 2000).
Cara membuat matrix SWOT adalah dnegan menggunakan faktor faktor strategis
eksternal maupun internal sebagaimana telah dijelaskan dalam tabel EFAS dan IFAS., yaitu
dengan mentransfer peluang dan ancaman dari tabel EFAS serta mentransfer kekuatan dan
kelemahan dari tabel IFAS kedalam sel yang sesuai dalam matrix SWOT. Kemudian dengan
membandingkan faktor faktor strategis tersebut lalu dibuatkan 4 set kemungkinan alternatif
strategi (SO, ST, WO, dan WT)
Setelah melakukan pendataan dan mendeteksi potensi faktor internal dan faktor
eksternal (IFAS dan EFAS) diatas, berikutnya adalah membuat matriks SWOT. Dalam
membuat matriks SWOT, seluruh data dari tabel diagnosis ditransfer kedalam bentuk matriks
SWOT, untuk dicarikan strategi yang tepat. Pada diagram matrix SWOT tersebut kita akan
melihat data data dari faktor faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dari
lembaga pegadaian syariah yang ada di kota Medan serta dapat mencarikan strategi yang tepat
dalam mendukung perkembangan dan kemajuan dari pegadaian syariah kota Medan.
Berikut adalah analisa matrix SWOT pegadaian syariah di Kota Medan:

Universitas Sumatera Utara

IFAS
Strenghts (S)

Weakness (W)

1. Mengoptimalkan
pelayanan
yang ada untuk merangkul
nasabah
2. Peningkatan sosialisasi pada
masyarakat dan memperluas
strategi pemasaran
3. Menjaga
hubungan
baik
dengan nasabah lama dan baru
4. Meningkatkan sarana dan
prasarana serta kemudahan
prosedur dan persyaratan
dalam transaksi
5. Menjalin kerja sama dengan
lembaga keuangan lain untuk
melakukan promosi produk
baru
6. Menempatkan
kantor
pegadaian syariah berada
dilokasi
ramai
penduduk
(lokasi strategis)

1. Menciptakan
dan
meningkatkan SDM yang
berkualitas
untuk
memanfaatkan
setiap
potensi peluang yang ada
2. Menambah
kuantitas
karyawan baru untuk
meningkatkan kinerja
3. Pemerintah membuat UU
pegadaian syariah tentang
visi dan misi sendiri
sehingga
menjadikan
pegadaian syariah mandiri
4. Membuka
cabang
pegadaian syariah yang
baru
5. Memberikan kelonggaran
marhun cara perpanjangan
jatuh tempo tanpa harus
membayar biaya adm lagi
6. Memperbesar
ruang
simpan barang gadai/
membuat bangunan sendiri
1. Pemanfaatan
karyawan
untuk
perluasan
pemasaran
2. Meningkatkan sarana dan
prasarana yang menunjang
perkembangan lembaga
3. Menciptakan sistem yang
baru
4. Mengevaluasi kelemahan,
melakukan
konsultasi
strategis
dan
terus
memonitoring
kinerja
untuk
mempertahankan
prestasi dan meningkatkan
potensi yang ada

EFAS

Opportunities
(O)

Threats (T)

1. meningkatkan
jalinan
kemitraan
kerja
pada
pemerintah
dan
lembaga
keuangan domestik
2. memberikan
sosialisasi
bahwanya nasabah pegadaian
syariah bukan hanya dari umat
Islam saja
3. mensosialisasikan
bahwa
banyak lembaga keuangan
umum yang ada dengan
pinjaman bunga adalah haram
4. meningkatkan
sistem
keamanan
kantor
untuk
menjaga
kepercayaan
masyarakat

Gambar 4.6
Matrix SWOT Pegadaian Syariah Kota Medan

Universitas Sumatera Utara

Keputusan dari hasil analisis SWOT tersebut setelah mengalami beberapa proses
prosedur analisis SWOT, dengan mempertimbangkan melalui analisis internal serta analisis
eksternal dari SWOT diatas, maka strategi utama (grand strategic) yang perlu dikembangkan
dari produk pegadaian syariah kota Medan saat ini adalah keunggulan komparatif
(comparative advantages) yaitu perpaduan kombinasi elemen kekuatan dan peluang maka
strategi yang tepat adalah strategi agresif.
Setelah mempertimbangkan prosedur analisis SWOT sehingga menghasilkan sebuah
analisis SWOT yang tepat untuk strategi prusahaan Pegadaian Syariah dalam mengelola
produk kedepannya yaitu perusahaan ada pada posisi yang positif positif, maka strategi
yang tepat adalah keunggulan komparatif dengan mempertimbangkan analisa sebagai berikut:
1. Mengoptimalkan pelayanan yang ada untuk merangkul nasabah
2. Peningkatan sosialisasi pada masyarakat dan memperluas strategi pemasaran
3. Menjaga hubungan baik dengan nasabah lama dan baru
4. Meningkatkan sarana dan prasarana serta kemudahan prosedur dan persyaratan dalam
transaksi
5. Menjalin kerja sama dengan lembaga keuangan lain untuk melakukan promosi produk
produk baru
6. Menempatkan kantor pegadaian syariah berada dilokasi yang ramai penduduk (lokasi
strategis).

Universitas Sumatera Utara

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai
berikut:
1. Kekuatan/ potensi yang dimiliki pegadaian syariah kota Medan terdiri dari yang pertama
adanya dukungan umat Islam itu sendiri terutama umat Islam kota medan. Kedua,
persyaratan yang mudah dan murah yaitu hanya membawa barang jaminan yang akan
digadaikan dan membawa KTP bagi yang menggadaikan. Ketiga, prosedur yang cepat dan
sederhana hanya 15 menit saja. Keempat, cukup dipungut biaya adm dan biaya ijarah
(sewa tempat). Kelima, barang jaminan yang diasuransikan sehingga nasabah merasa
nayaman akan barangnya apabila kehilangan. Keenam, tempat yang strategis yang dekat
dengan perumahan penduduk dan memubdahakan akses bagi masyarakat untuk
melakukan transasksi. Ketujuh, produk produk yang variatif dan terjangkau dan sesuai
dengan kebutuhan masyarakat. Kedelapan, waktu pinjaman dapat diperpanjang tanpa
harus membayar biaya administrasi lagi tapi cukup membayar biaya sewa tempat atau
ijarah. Kelemahannya yaitu pertama cabang pegadaian syariah yang terbatas dan masih
sedikit bila dibandingkan dengan pegadaian konvensional. Kedua, karyawan yang
merangkap tugas sehingga menebabkan tidak efektifnya kinerja dari karyawan tersebut.
Ketiga, tidak semua SDM nya memahami betul tentang perbedaan konvensional dengan
syariah. Keempat, kurang adanya tenaga profesional yang handal karena dalam
perhitungan syariah membutuhkan ketelitian dalam memperhitungkan keuntungan.
Kelima, harus adanya barang jaminan untuk memperoleh pinjaman. Keenam, masih
banyak nasabah yang merasa malu untuk datang ke pegadaian syariah. Ketujuh, belum
memiliki visi dan misi sendiri sehingga pegadaian syraiah masih ikut dengan pegadaian

Universitas Sumatera Utara

induknya yaitu pegadaian konvensional. Kedelapan, kurangnya tempat penyimpanan


barang jaminan atau tempat yang masih terbatas dan kecil sehingga hanya diperuntukkan
bagi barnag jaminan yang kecil kecil saja.
2. Peluang yang dimiliki pegadaian syariah kota Medan terdiri dari yang pertama anggapan
dari masyarkat khusunya umat Islam bahwa bunga adalah haram baik bagi penerima
maupun pemberi. Kedua, lokasi kantor yang cukup strategis dan dekat keramaian
penduduk. Ketiga, banyak nasabah yang cenderung memilih produk syariah karena sesuia
dengan syariat Islam. Keempat, nasabah pegadaian syariah bukan hanya dari umat Islam
saja. Kelima, adanya peluang ekonomi dari berkembangnya pegadaian syariah baik bagi
pegadaian syariah sendiri maupun bagi nasabah. Keenam, pegadaian umum yang saat ini
tidak sejalan dengan syariat Islam. Selanjutnya ancaman yang ada seperti yang pertama
usaha gadai syariah sudah mulai dilirik oleh pihak lain. Kedua, adanya tindak kriminal
seperti perampokan. Ketiga, citra lembaga keuangan syariah belum mapan dimata
masyarakat. Keempat, anggapan bahwa lembaga pegadaian syariah berkaitan dengan
fanatisme agama. Kelima, ancaman dari orang yang merasa terusik kenikmatannya
mengeruk kekayaan rakyat seperti rentenir. Keenam, susah untuk menghilangkan
mekanisme bunga yang sudah mengakar pada masyarakat.
3. Setelah mempertimbangkan prosedur analisis SWOT sehingga menghasilkan sebuah
analisis

SWOT

dalam

membuat

strategi,

maka

strategi

perusahaan

dengan

mempertimbangkan analisa sebagai berikut: Mengoptimalkan pelayanan yang ada untuk


merangkul nasabah, peningkatan sosialisasi pada masyarakat dan memperluas strategi
pemasaran, menjaga hubungan baik dengan nasabah lama dan baru, meningkatkan sarana
dan prasarana serta kemudahan prosedur dan persyaratan dalam transaksi, menjalin kerja
sama dengan lembaga keuangan lain untuk melakukan promosi produk produk baru,

Universitas Sumatera Utara

menempatkan kantor pegadaian syariah berada dilokasi yang ramai penduduk (lokasi
strategis).
5.2 Saran
Dalam seluruh segmen dan dimensi kehidupan pengetahuan merupakan pondasi yang
paling mendasar untuk mengerjakan segala sesuatu dan manajemen merupakan strategi yang
paling jitu untuk mendukung kearah keberhasilan. Dalam sebuah pepatah klasik ulama
mengatakan Kebenaran yang tak terorganisir dengan baik dapat dikalahkan dengan
kejahatan yang terorganisir dengan baik. Dalam berbangsa, bermasyarakat, bermuamalah
dan berbisnis yang merupakan aktifitas mengelola keuangan dibutuhkan sebuah
pengorganisasian yang kondisional. Dengan melihat analisis dan kesimpulan diatas maka
penulis dapat memberikan beberapa saran sebagai berikut:
1. Bagi perusahaan, haruslah menjaga kekuatan yang dimilikinya, yaitu harus menjaga nama
baik perusahaan yang sudah melekat pada masyarakat apalagi pegadaian syariah
berdasarkan hukum syariah Islam serta terus menerus menjaring tenaga kerja yang
profesional dan kompeten yang memiliki gairah islami agar dapat menjaring nasabah
sebanyak banyaknya untuk meningkatkan penjualan dan terus menerus membaca
peluang yang ada dipasaran agar dapat mengembangkan produk produknya serta dengan
segera menyempurnakan atau mengantisipasi dan mengurangi kelemahan dan ancaman
yang ada agar para nasabah lebih tertarik lagi dengan produk produk yang dikeluarkan
pegadaian syariah kota medan.
2. Bagi masyarakat, harus lebih selektif lagi dalam memilih produk investasi yang tepat
sesuai syariah Islam, jangan hanya melihat pada return yang sebenarnya telah ditempatkan
instrumen instrumen yang diharamkan Allah

Universitas Sumatera Utara

3. Bagi pemerintah sebagai regulator diharapkan menfasilitasi keberadaan pegadaian syariah


yaitu membuat perundang undangan yang khusus menangani masalah- masalah
pegadaian syariah agar tetap berjalan dengan lancar dan baik.

Universitas Sumatera Utara