Anda di halaman 1dari 24

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manusia merupakan makhluk ekonomi (homo economicus)1, sehingga ia
membutuhkan sandang, pangan dan papan dalam kelangsungan hidupnya. Seruan
aktivitas manusia sebagai pelaku ekonomi dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya di
dalam Islam tersirat dalam Q.S. Aljumuah:10 yang artinya : Apabila telah
ditunaikan shalat, maka bertebaranlah dimuka bumi dan carilah sebagian dari
karunia Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.2
Dahulu kegiatan ekonomi dilakukan secara sederhana, yakni dengan metode
barter3. Akan tetapi seiring perjalanan waktu metode ini tidak dapat lagi digunakan,
karena kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks, dan ditemukannya sarana
pertukaran yang lebih efisien dan efektif yakni uang.4 Dalam perekonomian yang
1

K.Wardiyatmoko, et.all, Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMP/Mts Kelas VII, (Jakarta:
Erlangga, 2009), hal.85.
2
M. Quraish Shihab, Tafsir Almishbah : Pesan, Kesan dan Keserasian Alquran,Volume 14
(Jakarta: Lentera Hati, 2011), hal.58-61.
3
Barter adalah kegiatan tukar menukar barang tanpa uang. Barter ini dilakukan antara
seseorang yang memiliki sesuatu barang guna ditukar dengan barang milik orang lain yang
dibutuhkannya. Barter ini dilakukan pada saat manusia belum mengenal uang sebagai alat pembayaran
atau transaksi.
4
Uang memiliki berbagai pengertian dalam perspektif ekonomi, beberapa sarjana
mendefenisikan uang sebagai berikut:
a. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, Uang adalah alat penukar atau standar pengukur nilai
yang dikeluarkan oleh pemerintah suatu negara berupa kertas, emas, perak atau logam lain yang
dicetak dengan bentuk dan gambar tertentu.
b. Kasmir mendefenisikan Uang secara luas sebagai sesuatu yang dapat diterima secara umum
sebagai alat pembayaran dalam suatu wilayah tertentu atau sebagai alat pembayaran utang, atau
sebagai alat untuk melakukan pembelian barang dan jasa.
c. Veitzhal menyebutkan bahwa Uang adalah suatu benda yang dapat ditukarkan dengan benda lain,
dapat digunakan untuk menilai benda lain atau sebagai alat hitung, dapat digunakan sebagai alat

Universitas Sumatera Utara

modern seperti sekarang kebutuhan manusia terhadap uang sangat tinggi sekali, hal
ini terlihat dalam kegiatan sehari-hari, uang selalu saja di butuhkan bukan hanya
untuk membeli atau membayar berbagai keperluan, bahkan digunakan untuk sarana
investasi, sehingga terkadang kebutuhan yang diinginkan tidak dapat terpenuhi
dengan uang yang dimilikinya. Oleh karena itu maka mau tidak mau manusia sebagai
pelaku ekonomi harus mengurangi berbagai keperluan yang dianggap tidak penting,
namun untuk keperluan yang sangat penting kebutuhan tersebut harus di penuhi
dengan berbagai cara seperti meminjam dana dari berbagai lembaga keuangan5 yang

penyimpan kekayaan, dan uang dapat juga digunakan untuk membayar utang diwaktu yang akan
datang.
d. Dari Sisi Hukum, Uang adalah sesuatu yang dirumuskan oleh undang-undang sebagai uang, yakni
segala sesuatu yang dapat diterima sebagai uang jika ada aturan atau hukum yang
menunjukkan bahwa sesuatu itu dapat digunakan sebagai alat tukar. Sedangkan Dari Sisi Fungsi,
Uang adalah segala sesuatu yang menjalankan fungsi sebagai uang, yaitu dapat dijadikan sebagai
alat tukar menukar, penyimpan nilai, satuan hitung, dan alat pembayaran tertunda.
e. Fiqh Islam mendefenisikan Uang dengan istilah nuqud /tsaman, yakni alat tukar atau transaksi dan
pengukur nilai barang dan jasa untuk memperlancar transaksi perekonomian.
5
Lembaga keuangan merupakan suatu badan usaha yang kekayaannya terutama berbentuk
aset keuangan (financial assets) atau tagihan (claims) dibandingkan dengan aset non keuangan (non
financial assets ). Lembaga keuangan dibedakan atas lembaga keuangan depositori (financial
depository institutions) dan lembaga keuangan non depositori (non financial depository institutions).
Lembaga keuangan depositori menjalankan kegiatan penghimpunan dana secara langsung dari
masyarakat dalam bentuk simpanan (deposits), giro, tabungan, atau simpanan berjangka, menerbitkan
sertifikat deposito, dan memberikan jasa-jasa dalam lintas pembayaran (transfer, kliring, dsb),
lembaga ini berbentuk Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat. Sedangkan lembaga keuangan non
depositori merupakan lembaga keuangan yang kegiatannya tidak melakukan penarikan dana secara
langsung sebagaimana halnya Bank, akan tetapi bertindak sebagai perantara. Lembaga keuangan non
depositori ini terdiri atas :
a. Contractual Institutions, yakni lembaga keuangan yang menarik dana dari masyarakat dengan
menawarkan kontrak untuk memproteksi penabung terhadap resiko ketidakpastian, misalnya :
perusahaan asuransi, jamsostek dan dana pensiun.
b. Investment Institutions, yakni lembaga keuangan yang usahanya berkaitan dengan kegiatan di pasar
modal, baik sebagai penyedia jasa maupun melakukan investasi langsung untuk kepentingan
portofolionya, misalnya : perusahaan efek dan reksadana.
c. Finance Companies, yakni lembaga keuangan yang memiliki bidang usaha dan meyediakan
beberapa jenis pembiayaan, misalnya : perusahaan leasing, anjak piutang, pembiayaan konsumen
dan kartu kredit.
d. Lembaga keuangan non depositori lainnya, yakni merupakan lembaga keuangan selain yang telah
disebutkan diatas, misalnya lembaga pegadaian, yakni lembaga pembiayaan milik negara yang

Universitas Sumatera Utara

ada. Salah satunya adalah dengan meminjam dana pada Lembaga Pegadaian.
Lembaga Pegadaian merupakan sebuah lembaga keuangan formal di
Indonesia, yang bertugas menyalurkan pembiayaan dengan bentuk pemberian uang
pinjaman kepada masyarakat yang membutuhkan berdasarkan hukum gadai.
Lembaga Pegadaian ini wujud dari pembangunan perekonomian nasional

yang

diamanatkan oleh Pasal 33 UUD 1945, dengan tujuan turut melaksanakan dan
menunjang pelaksanaan kebijaksanaan dan program pemerintah dibidang ekonomi
pembangunan nasional pada umumnya melalui penyaluran uang pinjaman atas dasar
hukum gadai, dan mencegah timbulnya praktik ijon, pegadaian gelap, riba dan
pinjaman tak wajar lainnya.
Di Indonesia Lembaga Pegadaian lahir pada masa VOC Belanda dengan
berdirinya Bank Van Leening pada tanggal 20 Agustus 1746 di Batavia. Ketika
Inggris mengambil alih kekuasaan Indonesia dari tangan Belanda (1811-1816) Bank
Van Leening milik pemerintah dibubarkan, dan diserahkan kepada masyarakat
dengan syarat mendapat lisensi dari pemerintah daerah setempat (liecentie stelsel).
Namun pemegang lisensi menjalankan praktek rentenir atau lintah darat yang
dirasakan kurang menguntungkan pemerintah berkuasa (Inggris). Oleh karena itu,
pendirian pegadaian diberikan kepada umum yang mampu membayarkan pajak yang
tinggi kepada pemerintah (pacht stelsel).
Pada saat Belanda berkuasa kembali, pacth stelsel tetap dipertahankan dan
memberikan pinjaman secara hukum gadai kepada orang perseorangan dimana peminjam
diwajibkan untuk menyerahkan barang bergerak disertai hak untuk melelang bila waktu perjanjian
habis.

Universitas Sumatera Utara

menimbulkan dampak yang sama, sehingga pemerintah Hindia Belanda menerapkan


cultuur stelsel dimana kegiatan pegadaian ditangani sendiri oleh pemerintah agar dapat
memberikan perlindungan dan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan
Staatsblad (Stbl) No. 131 tanggal 12 Maret 1901 yang mengatur bahwa usaha
pegadaian merupakan monopoli pemerintah dan tanggal 1 April 1901 didirikan
Pegadaian Negara pertama di Sukabumi (Jawa Barat).
Pada masa pendudukan Jepang, Jawatan Pegadaian tidak banyak perubahan
yang terjadi. Jawatan Pegadaian dalam bahasa Jepang disebut Sitji Eigeikyuku,
pimpinan Jawatan Pegadaian dipegang oleh orang Jepang yang bernama Ohno San
dengan wakilnya orang pribumi yang bernama M. Saubari.
Pada masa awal pemerintahan Republik Indonesia, Kantor Jawatan Pegadaian
sempat pindah ke Karang Anyar (Kebumen) karena situasi perang yang kian terus
memanas. Agresi militer Belanda yang kedua memaksa Kantor Jawatan Pegadaian
dipindah lagi ke Magelang. Selanjutnya, pasca perang kemerdekaan Kantor Jawatan
Pegadaian kembali lagi ke Jakarta dan pegadaian kembali dikelola oleh pemerintah
Republik Indonesia. Dalam masa ini Pegadaian sudah beberapa kali berubah status,
yaitu sebagai Perusahaan Negara (PN) sejak 1 Januari 1961, kemudian berdasarkan
PP.No.7/1969 menjadi Perusahaan Jawatan (PERJAN), selanjutnya berdasarkan
PP.No.10/1990 (yang diperbaharui dengan PP.No.103/2000) berubah lagi menjadi
Perusahaan Umum (PERUM). Hingga pada Tahun 2011, berdasarkan PP.No. 51/
2011 tanggal 13 Desember 2011, bentuk badan hukum Pegadaian berubah menjadi

Universitas Sumatera Utara

Perusahaan Perseroan (Persero).6


Di Indonesia lembaga Pegadaian ini terdiri dari 1 Kantor pusat,13 Kantor
wilayah dan total 4.604 Kantor cabang dengan perincian 719 cabang konvensional,
151 cabang syariah, 3.266 Unit Pelayanan Cabang Konvensional (UPC), dan 468
Unit Pelayanan Syariah (UPS)

yang tersebar dibeberapa daerah. Sedangkan di

Sumatera Utara terdiri dari 232 unit Kantor pelayanan, yang terdiri dari 167 UPC
dan 65 UPS,7dengan

dengan jumlah nasabah rata-rata 20 s/d 30 orang setiap

harinya.8
Bentuk kegiatan usaha PT.Pegadaian menurut PP.103 Tahun 2000 Tentang
Perum Pegadaian adalah menyelenggarakan usaha sebagai berikut :
1. Penyaluran uang pinjaman atas dasar hukum gadai dan fidusia, baik secara
konvensional maupun syariah, dan jasa lainnya dibidang keuangan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
2. Penyaluran kredit usaha mikro, usaha kecil dan usaha menengah, serta
optimalisasi pemanfaatan sumber daya perseroan dengan menerapkan prinsip
perseroan terbatas.9
Sedangkan akta pendirian PT.Pegadaian yang dibuat dihadapan notaris Nanda
Fauziwan SH,M.Kn Nomor 1 Tanggal 1 April 2012, menyatakan bahwa untuk
mencapai maksud dan tujuan tersebut diatas, perseroan menyelenggarakan usaha
sebagai berikut :
1. Penyaluran pinjaman berdasarkan hukum gadai termasuk gadai efek.
2. Penyaluran pinjaman berdasarkan jaminan fidusia.
3. Pelayanan jasa titipan, pelayanan jasa taksiran, sertifikasi dan perdagangan.
logam mulia serta batu adi.10
Seiring dengan perkembangan zaman dan perjalanan waktu, manusia sebagai
6

Dari Masa Ke Masa, http: //www.pegadaian.co.id/info-dari-masa-ke-masa.php , diakses


pada tanggal 8 April 2013.
7
Pegadaian, Laporan Tahunan 2012, Transformation Toward Business And Service
Excellence Transformasi Menuju Bisnis dan Pelayanan Prima, hal.11-12.
8
Hasil wawancara dengan Pimpinan Cabang PT.Pegadaian Syariah Cabang Setia Budi
Medan, Ibu Hj.Semi, SE, pada tanggal 14 Maret 2013.
9
Pasal 8 PP.103 Tahun 2000 Tentang Perum Pegadaian.
10
Pegadaian, Laporan Tahunan 2012,Op.Cit,hal.39.

Universitas Sumatera Utara

pelaku ekonomi mulai melirik kearah perkembangan ekonomi berbasis syariah.11


Ekonomi berbasis syariah ini sebenarnya sudah dimulai sejak zaman Rasulullah
SAW.12 Secara historis sistem perekonomian syariah ini mengalami pasang surut
dalam pelaksanaannya, dan kembali bangkit sejak diselenggarakannya The First
International Conference In Islamic Economics, di Mekkah, Arab Saudi pada tahun
1975,13 yang ditandai dengan hadirnya Islamic Development Bank (IDB) di Dubai,
yang kemudian menyebar dibeberapa negara, terutama negara-negara yang mayoritas
berpenduduk muslim, salah satunya termasuk Indonesia.
Di Indonesia perkembangan ekonomi berbasis syariah ini diawali dengan
diundangkannya UU Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan juncto UU Nomor 10
Tahun

1998

Tentang

Pokok-Pokok

Perbankan,

dengan

semua

ketentuan

pelaksanaannya baik berupa Peraturan Pemerintah, Keputusan Menteri Keuangan,


dan Edaran Bank Indonesia, dimana pemerintah memberi peluang berdirinya
lembaga-lembaga keuangan syariah berdasarkan sistem bagi hasil.14 Salah satu
lembaga keuangan yang dimaksud adalah lembaga keuangan non depositori (non
bank) Pegadaian Syariah. Perkembangan dan pertumbuhan Pegadaian Syariah di
Indonesia berawal pada Tahun 2000 ketika Perum (sekarang PT) Pegadaian
melakukan studi banding ke Malaysia, yang kemudian diikuti berdirinya unit layanan
11

Ekonomi syariah adalah ekonomi yang didasarkan pada wahyu Ilahi yang diturunkan untuk
kemaslahatan dan kesejahteraan manusia. Sistem ekonomi syariah ini berakar kuat pada norma dan
etika Islami yang bersumber pada Alquran dan Sunnah. Tujuan utama dari sistem ini adalah
merealisasikan masyarakat yang adil dan sejahtera.
12
Hasbi Hasan, Pemikiran dan Perkembangan Hukum Ekonomi Syariah di Dunia Islam
Kontemporer, (Jakarta : Gramata Publishing, 2011), hal. 45.
13
14

Prolog Adiwarman Azwar Karim dalam Hasbi Hasan, Ibid, hal. Ix.
Adrian Sutedi, Hukum Gadai Syariah, (Bandung : Alfa Betta, 2011), hal.85.

Universitas Sumatera Utara

syariah berdasarkan perjanjian musyarakah dengan sistem bagi hasil antara Perum
(sekarang PT) Pegadaian dengan Bank Muammalat Indonesia (BMI) pada tanggal 20
Desember 2002 dengan nomor perjanjian 446/SP300.23/2002 dan 015/BMI/PKS/
XII/2002.15
Pegadaian Syariah ini pertama kali berdiri di Jakarta pada tanggal 1 Januari
2003, dan diikuti beberapa kota besar lainnya seperti Yogjakarta, Semarang, Solo,
Malang, Bandung, Padang, Denpasar, Balik Papan dan Medan.16 Hingga saat ini
Pegadaian Syariah sudah berdiri 468 unit UPS yang tersebar dibeberapa kota di
Indonesia.17 Untuk Sumatera Utara terdiri dari 65 UPS dan di Kota Medan terdiri
atas 3 Kantor Cabang Unit Syariah, yang mulai berdiri sejak tanggal 26 Mei Tahun
2010.18 Adapun payung hukum Pegadaian Syariah ini mengacu kepada Fatwa DSNMUI No.25/DSN-MUI/III/2002 Tentang Rahn pada tanggal 26 Juni 2002, dan Fatwa
DSN-MUI No.26/DSN-MUI/III/2002 Tentang Rahn Emas, sedangkan aspek
kelembagaannya tetap mengacu pada Peraturan Pemerintah No.10 Tahun 1990
Tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan Jawatan (Perjan) Pegadaian Menjadi
Perusahaan Umum(Perum)Pegadaian pada tanggal 10 April 1990.19
Pegadaian Syariah dan Pegadaian Konvensional memiliki konsep yang
berbeda dalam pelaksanaannya, dimana Pegadaian Syariah lebih mengutamakan

15

Ibid.
Ibid, hal.86.
17
Pegadaian, Laporan Tahunan 2012, Op.Cit, hal.12.
18
Hasil wawancara dengan Pimpinan Cabang PT.Pegadaian Syariah Cabang Setia Budi
Medan, Ibu Hj.Semi, SE, pada tanggal 14 Maret 2013.
19
Andri Soemitra, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah, (Jakarta : Kencana Prenada Media,
2010), hal.389.
16

Universitas Sumatera Utara

prinsip-prinsip pelaksanaannya berdasarkan hukum Islam, sedangkan Pegadaian


Konvensional dalam pelaksanaannya lebih mengacu kepada sistem hukum perdata
barat. Perbedaan antara Pegadaian Konvensional dan Pegadaian Syariah secara
signifikan

tampak

Konvensional

pada

mengenakan

sistem
bunga

operasionalnya,
pinjaman

yakni

sedangkan

dimana

Pegadaian

Pegadaian

Syariah

menggunakan pendekatan bagi hasil (mudharabah) atau fee based income, dan
menggunakan sistem ijarah (biaya penitipan/penyimpanan barang). Selain itu dalam
pelaksanaannya ternyata Pegadaian Syariah tidak hanya diminati oleh kalangan
orang-orang muslim saja, tetapi Pegadaian Syariah ini juga diminati oleh kalangan
non muslim, kendati mereka tidak tahu apa sebenarnya persamaan dan perbedaan
antara gadai syariah dan konvensional.20 Bagi mereka yang terpenting hanyalah
cairnya pinjaman dana/uang dengan cara cepat dan mudah, sehingga sebagai pelaku
ekonomi kebutuhan hidupnya dapat terpenuhi, tanpa memikirkan resiko yang
mungkin dapat terjadi dalam pelaksanaan perjanjian gadai tersebut, yakni resiko tak
terbayarnya utang nasabah (wanprestasi) dan resiko penurunan nilai aset yang ditahan
atau rusak.
Berdasarkan hal-hal yang diuraikan tersebut diatas, maka dilakukanlah
penelitian dengan judul: Pelaksanaan Gadai Konvensional dan Gadai Syariah (Studi
Pada PT.Pegadaian Cabang Gaharu Medan dan PT.Pegadaian Syariah Cabang Setia
Budi Medan)

20

Hasil wawancara dengan Pimpinan Cabang PT.Pegadaian Syariah Cabang Setia Budi
Medan, Ibu Hj.Semi, SE, pada tanggal 14 Maret 2013.

Universitas Sumatera Utara

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan diatas, maka beberapa masalah
yang menjadi dasar didalam pembahasan tesis ini, yakni :
1.

Bagaimana perbedaan prinsip antara azas Pegadaian Syariah dengan Pegadaian


Konvensional ?

2.

Bagaimana bentuk pelaksanaan gadai syariah di PT.Pegadaian Syariah Cabang


Setia Budi Medan dan pelaksanaan gadai konvensional di PT.Pegadaian Cabang
Gaharu Medan ?

3.

Bagaimana partisipasi masyarakat dengan lahirnya sistem Pegadaian Syariah?

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian tesis ini berdasarkan permasalahan yang
dikemukakan diatas adalah :
1.

Untuk memahami perbedaan prinsip antara azas Pegadaian Syariah dengan


Pegadaian Konvensional.

2.

Untuk memahami pelaksanaan gadai syariah di PT.Pegadaian Syariah Cabang


Setia Budi Medan dan pelaksanaan gadai konvensional di PT.Pegadaian Cabang
Gaharu Medan.

3.

Untuk mengetahui partisipasi masyarakat dengan lahirnya sistem Pegadaian


Syariah.

D. Manfaat Penelitian
Penulisan ini diharapkan dapat memberi manfaat baik secara teoritis maupun

Universitas Sumatera Utara

10

praktis, antara lain :


1.

Secara Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam
perkembangan ilmu hukum, khususnya dalam disiplin ilmu dibidang hukum
perdata dan hukum perdata Islam (muammalah), serta menambah khasanah
kepustakaan dalam bidang hukum jaminan dan gadai, selain itu diharapkan pula
penelitian ini dapat bermanfaat bagi kalangan akademisi khususnya dan
masyarakat umum yang membutuhkan informasi mengenai bagaimana
pelaksanaan dan perbandingan antara gadai konvensional dengan gadai syariah.

2.

Secara Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan bagi instansi terkait agar
konsep hukum gadai dapat diterapkan sesuai dengan kaedah hukumnya guna
peningkatan pelayanan pinjaman dengan sistem gadai.

E. Keaslian Penulisan
Berdasarkan hasil pemeriksaan dan hasil-hasil penelitian yang ada, di
Perpustakaan Universitas Sumatera Utara dan Perpustakaan Magister Kenotariatan
Universitas Sumatera Utara, penelitian ini belum pernah dilakukan, adapun penelitian
terkait dengan gadai yakni :
1.

Analisis Hukum Terhadap Gadai Saham Perseroan Terbatas Yang Belum


Dicetak Sebagai Barang Jaminan Kredit Dalam Akta Notaris, oleh Siti Chadijah
Erna Montez , NIM : 002111040, dengan permasalahan sebagai berikut :

Universitas Sumatera Utara

11

a. Bagaimana prosedur untuk mengajukan fasilitas kredit dengan jaminan gadai


saham yang harus dilalui debitur ?
b. Bagaimana penyerahan hak atas saham-saham yang belum dicetak?
c. Bagaimana praktek notariat melaksanakan pengikatan atas saham-saham yang
belum dicetak tersebut dalam rangka melindungi kepentingan kreditur?
d. Bagaimana eksekusi terhadap gadai saham yang belum dicetak jika debitur
melakukan wanprestasi?
2.

Tugas Dan Fungsi Lembaga Pembiayaan Pegadaian Dalam Pemberian Jaminan


Kredit Dengan Sistem Gadai (Penelitian Pada Perum Pegadaian Cabang Medan
Pringgan ), oleh Esther Million, NIM : 002111012, dengan permasalahan sebagai
berikut :
a. Bagaimana tugas dan fungsi Pegadaian sebagai lembaga pembiayaan dalam
pemberian kredit dengan sistem gadai ?
b. Bagaimana prosedur pemberian kredit dengan sistem gadai dilakukan pada
lembaga pembiayaan Pegadaian ?
c. Upaya apa yang dilakukan lembaga pembiayaan Pegadaian dalam
penyelamatan kredit bermasalah ?

3.

Tinjauan Yuridis Terhadap Tanggung Jawab Perusahaan Umum (Perum)


Pegadaian Atas Benda Jaminan, oleh Muhammad Syukran Yamin Lubis, NIM:
027011073, dengan permasalahan sebagai berikut :
a. Bagaimana bentuk perjanjian kredit gadai pada Perusahaan Umum (Perum)
Pegadaian ?

Universitas Sumatera Utara

12

b. Bagaimana tanggung jawab Perusahaan Umum (Perum) Pegadaian atas benda


jaminan ?
c. Bagaimana tindakan Perusahaan Umum (Perum) Pegadaian atas benda
jaminan setelah debitur wanprestasi ?
4.

Kedudukan Lembaga Gadai Syariah (AR-RAHN) Dalam Sistem Perekonomian


Islam (Studi di Bank Muammalat Indonesia Cabang Medan dan BNI Unit
Syariah Cabang Medan ), oleh Rina Dahlina, NIM : 037011072, dengan
permasalahan sebagai berikut :
a. Bagaimanakah bentuk rahn yang dapat dijadikan jaminan pada Bank
Muammalat Indonesia Cabang Medan dan BNI Unit Syariah Cabang Medan ?
b. Bagaimanakah pelaksanaan gadai syariah yang diberlakukan pada Bank
Muammalat Indonesia Cabang Medan dan BNI Unit Syariah Cabang Medan?
c. Bagaimanakah kedudukan gadai syariah dalam hukum penggadaian di
Indonesia ?
Jika ditinjau dari latar belakang dan permasalahan yang telah diuraikan

sebelumnya terlihat perbedaan titik tolak dari sudut pandang penelitian sebelumnya
dengan penelitian ini maka pembahasannya pun juga akan berbeda, baik dari segi
materi, objek penelitian maupun lokasi penelitian, dengan demikian penelitian dengan
judul Pelaksanaan Gadai Konvensional dan Gadai Syariah (Studi Pada PT.Pegadaian
Cabang Gaharu Medan dan PT.Pegadaian Syariah Cabang Setia Budi Medan) ini
adalah asli dan dapat dipertanggung jawabkan baik secara ilmiah dan akademik,
sesuai dengan asas-asas keilmuan yakni jujur, rasional, dan objektif serta terbuka.

Universitas Sumatera Utara

13

F. Kerangka Teori dan Konsepsi


1.

Kerangka Teori
Kerangka teori merupakan kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat teori,

tesis mengenai sesuatu kasus atau permasalahan (problem) yang dijadikan bahan
perbandingan, pegangan teoritis, yang mungkin disetujui atau tidak disetujui yang
dijadikan masukan dalam membuat kerangka berpikir dalam penulisan.21 Arif
Sidharta menegaskan bahwa suatu teori hukum berfungsi untuk menegaskan, menilai
dan memprediksi.22
Adapun landasan teori yang dijadikan sebagai pisau analisis dalam penelitian
ini adalah teori perbandingan hukum (comparative law). Menurut Zweigert dan Kortz
perbandingan hukum merupakan gambaran sebuah aktivitas intelektual dengan
hukum sebagai objeknya dan perbandingan sebagai prosesnya.23
Peter De Cruz juga menyatakan bahwa perbandingan hukum adalah sebuah
metode untuk menganalisis permasalahan dan institusi yang berasal dari dua atau
lebih hukum nasional dari beberapa sistem hukum, atau untuk membandingkan
seluruh sistem hukum yang ada dalam rangka mendapatkan pemahaman yang
lebih baik tentang sistem hukum tersebut, atau memberikan informasi dan
wawasan bagi pengoperasian institusi-institusi sistem tersebut atau sistem-sistem
itu sendiri.24
Antara gadai konvensional dan gadai syariah merupakan dua sistem hukum
yang berbeda antara satu dengan lainnya, hal ini disebabkan oleh sistem hukum yang
berlaku di Indonesia bersifat pluralisme, dimana terdapat tiga sistem hukum yang
21

M.Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, (Bandung : Mandar Madju, 1994), hal.80.
Arif Sidharta dalam Oloan Sitorus dan Darwinsyah Minin, Membangun Teori Hukum
Indonesia, (Medan :Virgo, 2010), hal.7.
23
Zweigert dan Kortz dalam Peter De Cruz, Perbandingan Sistem Hukum Common Law,
Civil Law dan Socialist Law, Terjemahan Narulita Yusron, (Bandung : Nusa Media, 2010), hal.4.
24
Ibid, hal.13.
22

Universitas Sumatera Utara

14

dipakai dalam kehidupan sehari-hari khususnya dalam bidang perdata, yakni sistem
hukum perdata, hukum adat dan hukum Islam.

1.

2.
3.
4.

Secara historis sistem hukum perdata berasal dari hukum Romawi pada abad
ke 6 dengan lahirnya Corpus Juris Civilis yang dibuat oleh Kaisar Iustianus
yang membagi hukum perdata dalam 4 bagian yakni :
Institutions (memuat segala sesuatu tentang pengertian lembaga-lembaga
dalam hukum Romawi dan dianggap sebagai himpunan segala macam
undang-undang).
Pandecta (pendapat ahli hukum bangsa Romawi yang termasyhur).
Codex (himpunan undang-undang yang telah dibukukan oleh para ahli atas
perintah Kaisar Romawi).
Novelles (tambahan-tambahan pada codex dengan pemberian penjelasan atau
komentar.25
Kemudian Romawi melakukan ekspansi besar-besaran pada beberapa negara

di dunia, sehingga hukum Romawi ini diterapkan dibeberapa negara jajahannya


seperti Prancis,Belanda, Belgia, Italia,Spanyol, Portugis,Amerika latin dan Indonesia.
Kemudian hukum asli Romawi ini digantikan dengan lahirnya Code Civil dan Code
Du Commercie yang disusun oleh Napoleon Bonaparte. Di Indonesia hukum perdata
Eropa dibawa oleh Pemerintah Hindia Belanda dan diberlakukan dengan azas
konkordansi pada Tahun 1848, dan masih berlaku di Indonesia hingga saat ini
berdasarkan aturan Peralihan UUD 1945 dalam bentuk KUHPerdata (BW) dan
KUHD (WVK).26
Gadai konvensional merupakan salah satu bagian dari hukum jaminan27

25
26

R.Soeroso, Perbandingan Hukum Perdata, (Jakarta : Sinar Grafika, 2007), hal.49.


Abdul Manan, Aspek-Aspek Pengubah Hukum , ( Jakarta : Kencana Prenada Media, 2009),

hal.33.
27

Hukum Jaminan merupakan terjemahan dari istilah Security Of Law, Zekerheidsstelling, atau
Zekerheidscrechten .Beberapa para sarjana mendefenisikan hukum jaminan sebagai berikut :
1. J.Satrio, mengartikan bahwa hukum jaminan mengatur tentang jaminan piutang seseorang.
2. Salim HS, merumuskan bahwa hukum jaminan adalah keseluruhan dari kaidah-kaidah hukum

Universitas Sumatera Utara

15

kebendaan28 yang diatur berdasarkan KUHPerdata, yang berasal dari sistem hukum
Eropa/Perdata Barat.Gadai konvensional ini diatur dalam Buku II, Pasal 1150 s/d
Pasal 1160 KUHPerdata.
Buku II KUHPerdata ini pada asasnya menganut sistem yang tertutup (closed
system), dalam arti bahwa diluar yang secara limitatif ditentukan disana tidak dikenal
lagi hak-hak kebendaan yang lain dan para pihak pada pokoknya tak bebas untuk
memperjanjikan/menciptakan hak kebendaan yang baru.29
Hingga saat ini terdapat beberapa lembaga jaminan30 yang berlaku di
Indonesia, salah satunya adalah lembaga jaminan gadai dan banyak digunakan dalam
praktek. Lembaga Pegadaian ini merupakan lembaga satu-satunya keuangan non
depositori yang dimonopoli oleh pemerintah. Adapun dasar hukum dari lembaga
yang mengatur hubungan hukum antara pemberi dan penerima jaminan dalam kaitannya dengan
pembebanan jaminan untuk mendapatkan fasilitas kredit.
3. Sri Soedewi Masjchun, mendefenisikan bahwa hukum jaminan adalah mengatur konstruksi
juridis yang memungkinkan pemberian fasilitas kredit, dengan menjaminkan benda-benda yang
dibelinya sebagai jaminan. Peraturan demikian harus cukup meyakinkan dan memberikan
kepastian hukum bagi lembaga-lembaga kredit, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
Adanya lembaga jaminan dan lembaga demikian, kiranya harus dibarengi dengan adanya
lembaga kredit dengan jumlah besar, dengan jangka waktu yang lama dan bunga yang relatif
rendah.
Hukum Jaminan dibedakan kepada dua bentuk, yakni Jaminan Perorangan (Bortoght) dan
Jaminan Kebendaan (Gadai/Pand, Fidusia dan Hipotek).
28
Hukum Benda secara istilah berasal dari bahasa Belanda Zakenrect. Dalam perspektif Hukum
Perdata (Privat Recht), Hukum Benda merupakan bagian dari Hukum Harta Kekayaan
(Vermogensrecht), yakni hukum harta kekayaan mutlak. Beberapa para sarjana mendefenisikan hukum
benda sebagai berikut:
1. P.N.H.Simanjuntak, Hukum Benda adalah peraturan-peraturan hukum yang mengatur mengenai
hak-hak kebendaan yang sifatnya mutlak.
2. L.J.Van Apeldorn, Hukum Kebendaan adalah peraturan mengenai hak-hak kebendaan.
3. Rachmadi Usman, Hukum Benda atau Hukum Kebendaan adalah serangkaian ketentuan hukum
yang mengatur hubungan hukum secara langsung antara seseorang (subjek hukum) dengan benda
(objek dari hak milik), yang melahirkan berbagai hak kebendaan (zakelijk recht).
29
J.Satrio, Hukum Jaminan, Hak-Hak Jaminan Kebendaan, (Bandung : Citra Aditya Bakti,
1991), hal. 2.
30
Lembaga jaminan yang ada hingga saat ini yakni Lembaga Gadai, Fidusia, Hipotek dan
Hak Tanggungan.

Universitas Sumatera Utara

16

Pegadaian ini yakni Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1969 Tentang Perusahaan
Jawatan Pegadaian, Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1970 Tentang Perubahan
Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1969 Tentang Perusahaan Jawatan Pegadaian,
Peraturan Pemerintah Nomor 103 Tahun 2000 Tentang Perusahaan Umum (Perum)
Pegadaian, dan Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2011 Tentang Perseroan
Terbatas Pegadaian.
Sedangkan gadai syariah dalam sistem hukum perdata Islam merupakan
bagian dari hukum muammalah dalam arti khusus, yakni norma hukum yang
mengatur masalah hubungan antara manusia yang satu dengan yang lainnya dalam
masyarakat mengenai hal yang menyangkut kebendaan/harta kebendaan dan hak-hak
atas benda, aturan mengenai jual beli, sewa menyewa, pinjam meminjam,
persyerikatan (kerjasama bagi hasil), pengalihan hak, dan segala yang berkaitan
dengan transaksi.31
Gadai syariah disebut juga dengan ar rahn. Ar rahn

dalam hukum

muammalah merupakan suatu jaminan atau agunan atas transaksi hutang piutang
yang dilakukan berdasarkan syariat Islam32. Gadai syariah ini merupakan bentuk
peralihan hak atas harta benda yang tejadi secara ikhtiyari, yakni atas kehendak salah
satu atau kedua belah pihak yang melakukan transaksi. Adapun yang menjadi
landasan hukum gadai syariah adalah sebagai berikut :

31

Ibid.
Syariat Islam atau biasa disebut Islamic Law adalah hukum Islam yang tidak mengalami
perubahan sepanjang zaman dan mengikat pada setiap umat Islam yang didasari oleh akidah dan
akhlak Islam dan merupakan jalan yang harus ditempuh oleh setiap muslim.
32

Universitas Sumatera Utara

17

1. Al-Quran
a. Firman Allah dalam QS. Al-Baqarah : 283, yang artinya Jika kamu dalam
perjalanan (dan bermuammalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak
memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang
dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu
mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu
menunaikan amanatnya (utangnya) dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah
Tuhannya, dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian.
Dan barang siapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah
orang yang berdosa hatinya, dan Allah maha mengetahui apa yang kamu
kerjakan.33
b. Firman Allah dalam Q.S Almudatsir : 38, yang artinya Setiap diri
dipertanggung jawabkan atas apa yang diusahakannya .34
2. Al-Hadits
a. Hadits Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Aisyah berkata, Rasulullah
SAW pernah memberi makanan dari orang Yahudi dan beliau menggadaikan
kepadanya baju besi beliau. (HR. Bukhari dan Muslim).35
b. Dari Anas RA berkata, Rasulullah SAW menggadaikan baju besinya kepada
orang Yahudi di Madinah dan mengambil darinya gandum untuk keluarga
beliau. (HR. Bukhari, Ahmad, Nasai dan Ibnu Majah).36
c. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW berkata, Apabila ada ternak
digadaikan, maka punggungnya boleh dinaiki (oleh orang yang menerima
gadai), karena ia telah mengeluarkan biaya (menjaga-nya). Apabila ternak
itu digadaikan, maka air susunya yang deras boleh diminum (oleh orang yang
menerima gadai), karena ia telah mengeluarkan biaya (menjaga-nya).
33
34

Zainuddin Ali, Hukum Gadai Syariah, (Jakarta : Sinar Grafika, 2008),. hal 5.
Amir Syarifuddin, Garis-Garis Besar Fiqh, ( Jakarta: Kencana Prenada Media, 2010), hal.

228.
35

Abdul Ghofur Anshori, Gadai Syariah di Indonesia Konsep, Implementasi, dan


Institusionalisasi , (Yogjakarta : Gadjah Mada University Press, 2006), hal.90.
36
Zainuddin Ali,Op.Cit, hal. 7.

Universitas Sumatera Utara

18

Kepada orang yang naik dan minum, maka ia harus mengeluarkan biaya
(perawatan)-nya. (HR. Jamah kecuali Muslim dan Nasai).37
d. Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW berkata, Barang yang
digadaikan itu tidak boleh ditutup dari pemilik yang menggadaikannya.
Baginya adalah keuntungan dan tanggung jawabnya ialah bila ada kerugian
(atau biaya). (HR. Syafii dan Daruqutni). 38
3. Ijtihad Ulama
Jumhur ulama menyepakati kebolehan status hukum gadai, dan tidak ada
perselisihan mengenai hal ini diantara mereka. Hal ini disandarkan pada
argumentasi jumhur ulama terhadap perbuatan Nabi Muhammad SAW, yang
mensyariatkan perbuatan tersebut baik pada saat bepergian maupun tidak pada
saat bepergian.39
2.

Konsepsi
Konsepsi merupakan bagian yang menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan

konsep yang digunakan dalam suatu karya tulis ilmiah. Konsep dalam penelitian
berperan untuk menghubungkan dunia teori dan observasi, antara abstraksi dan
realitas.40 Oleh karena itu maka konsep merupakan unsur pokok dari suatu
penelitian.41

37

Abdul Ghofur Anshori, Op.Cit , hal.91.


Adrian Sutedi, Op.Cit.hal 29.
39
Abdul Ghofur Anshori, Loc.Cit.
40
Masri Singarimbun dan Sofian Effendi, Metode Penelitian Survei, ( Jakarta : LP3ES, 1989),
38

hal. 34.
41

Koentjaraningrat, Metode Penelitian Masyarakat, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama,


1997), hal.24.

Universitas Sumatera Utara

19

Adapun uraian daripada konsep yang dipakai dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut :
1.

Pelaksanaan adalah tindakan individu publik yang diarahkan pada tujuan serta
ditetapkan dalam keputusan dan memastikan terlaksananya dan tercapainya suatu
kebijakan serta memberikan hasil yang bersifat praktis terhadap sesama,
sehingga dapat tercapainya sebuah kebijakan yang memberikan hasil terhadap
tindakan-tindakan individu, publik dan swasta.42

2.

Gadai konvensional adalah suatu perbuatan hukum atas hutang piutang antara
kreditur dan debitur dengan memberikan/menyerahkan barang bergerak kepada
kreditur oleh debitur sebagai jaminan atas utang-utangnya dengan mengikuti
ketentuan-ketentuan yang diatur oleh KUHPerdata.

3.

Gadai syariah/ar rahn adalah suatu jenis perjanjian untuk menahan suatu barang
sebagai tanggungan utang.43

4.

PT.Pegadaian Syariah Cabang Setia Budi Medan adalah Badan Usaha Milik
Negara yang bertugas menyalurkan pembiayaan dengan bentuk pemberian uang
pinjaman kepada masyarakat yang membutuhkan berdasarkan hukum gadai
dengan menggunakan prinsip-prinsip berdasarkan hukum Islam, yang beralamat
di Jalan Raya Setia Budi No.84, KelurahanTanjung Rejo, Kec.Medan Sunggal,
Kota Medan .

5.

PT.Pegadaian Cabang Gaharu Medan adalah Badan Usaha Milik Negara yang

42

Munir Yusuf, Pengertian Implementasi, http://www.muniryusuf.com/pengertianimplementasi-kurikulum, diakses pada tanggal 29 April 2013.
43
Zainuddin Ali , Loc.Cit.

Universitas Sumatera Utara

20

bertugas menyalurkan pembiayaan dengan bentuk pemberian uang pinjaman


kepada masyarakat yang membutuhkan berdasarkan hukum gadai dengan
menggunakan prinsip-prinsip berdasarkan KUHPerdata, yang beralamat di Jalan
Gaharu II No.4, Kelurahan Durian, Kecamatan Medan Timur, Kota Medan.
G. Metode Penelitian
1.

Jenis dan Sifat Penelitian.


Penelitian hukum adalah suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode,

sistematika dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari satu atau
beberapa gejala hukum tertentu dengan proses analisis.44
Jenis penelitian dalam tesis ini adalah penelitian hukum empiris (yuridis
empiris). Penelitian yuridis empiris ialah penelitian yang berbasis pada ilmu hukum
normatif, yang mengamati bagaimana reaksi dan interaksi yang terjadi ketika sistem
norma itu bekerja di dalam masyarakat, atau dengan kata lain sebagai penelitian
bekerjanya hukum (law in action/law in concreto).45
Penelitian dalam tesis ini bersifat deskriftif analitis, yakni bertujuan untuk
membuat gambaran dan menganalisis secara sistematis, faktual dan akurat mengenai
fakta-fakta, serta hubungan fenomena yang diselidiki.46
2.

Pendekatan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan komparatif (comparative

approach), yakni bermaksud untuk menganalisis berbagai permasalahan dan institusi


yang berasal dari dua atau lebih hukum nasional dari beberapa sistem hukum, atau
44
Soerjono Soekanto dalam Mukti Fajar ND dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian
Hukum Normatif dan Empiris,(Yogjakarta : Pustaka Pelajar, 2010), hal.23.
45
Ibid, hal.47-48.
46
Bahder Johan Nasution, Metode Penelitian Hukum, (Bandung : Mandar Madju, 2008),
hal.91.

Universitas Sumatera Utara

21

untuk memperbandingkan seluruh sistem hukum yang ada dalam rangka


mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang sistem hukum tersebut, atau
memberikan informasi dan wawasan bagi pengoperasian institusi-institusi sistem
tersebut atau sistem-sistem itu sendiri,47 dengan cara membandingkan peristiwaperistiwa hukum dari data sekunder melalui studi kepustakaan dan dokumentasi,
klipping surat-surat kabar, majalah, dan lainnya, yang kemudian disusun dan
dianalisis dalam bentuk tesis,48 sehingga diperoleh pemahaman yang komprehensif
tentang semua sistem hukum yang eksis secara global dan paling tidak diperoleh
manfaat internal, eksternal dan harmonisasi hukum49, misalnya ditemukannya
persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan dari lembaga-lembaga hukum,
aturan-aturan hukum dan pelaksanaan aturan-aturan tersebut yang merupakan inti dari
permasalahan yang diteliti.50
3.

Tehnik Pengumpulan Data


Untuk mendapatkan hasil yang diinginkan dalam penelitian ini maka

digunakan teknik pengumpulan data berupa :


a.

Studi lapangan (field research), yakni

dilakukan dengan wawancara yang

menggunakan pedoman wawancara (interview guide) terhadap beberapa


informan, yakni terdiri dari Pimpinan Cabang PT.Pegadaian Syariah Cabang
Setia Budi Medan dan Pimpinan Cabang PT.Pegadaian Cabang Gaharu Medan,
47

Peter De Cruz, Op.Cit, hal.13.


Hilman Hadikusuma, Metode Pembuatan Kertas Kerja atau Skripsi Ilmu Hukum, (Bandung:
Mandar Madju, 2013), Hal.12.
49
Ade Maman Suherman, Pengantar Perbandingan Sistem Hukum: Civil Law, Common Law,
Hukum Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2008), hal.19.
50
Mukti Fadjar ND dan Yulianto Achmad, Op.Cit, hal.188.
48

Universitas Sumatera Utara

22

dan kuisioner (angket) yang ditujukan kepada responden yakni para nasabah
Pegadaian dengan menggunakan metode sampling.
b.

Penelitian kepustakaan (library research), yakni merupakan penelitian hukum


yang dilakukan dengan mengumpulkan bahan pustaka atau data sekunder
belaka.51

4.

Lokasi Penelitian
Adapun lokasi penelitian dalam penelitian ini terdiri dari :

a.

PT. Pegadaian Cabang Gaharu Medan yang beralamat di Jalan Gaharu II No.4,
Kelurahan Durian, Kecamatan Medan Timur, Kota Medan.

b.

PT.Pegadaian Syariah Cabang Setia Budi Medan yang beralamat di Jalan Raya
Setia Budi No.84, KelurahanTanjung Rejo, Kec.Medan Sunggal, Kota Medan .

5.

Populasi dan Sampel

a.

Populasi
Populasi

adalah

keseluruhan

dari

objek

pengamatan

atau

objek

penelitian,52yang memiliki ciri yang sama.53Adapun populasi yang diambil dalam


penelitian ini adalah pihak-pihak yang terkait dengan pelaksanaan gadai konvensional
dan gadai syariah.
b. Sampel
Sampel adalah himpunan bagian atau sebagian dari populasi,54yang dianggap
mewakili populasinya.55Mengenai berapa banyak jumlah sampel yang harus diambil

51

Soerjono Soekanto dan Srimamudji, Penelitian Hukum Normatif : Suatu Tinjauan Singkat
(Jakarta :Rajawali Pers, 1983), hal. 14.
52
Burhan Ashsofa, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta:Rineka Cipta, 2010), hal.79.
53
Bambang Sunggono, Metode Penelitian Hukum,(Jakarta: Rajawali Pers, 2011), hal.118.
54
Ibid,hal.119.
55
Burhan Ashshofa, Loc.Cit.

Universitas Sumatera Utara

23

dalam suatu penelitian tidak ada ketentuan pasti atau baku,56 akan tetapi guna
efektifitas waktu dan biaya maka penelitian ini mengambil sampel sebanyak 200
orang nasabah yang melakukan transaksi gadai di PT.Pegadaian Syariah Cabang
Setia Budi Medan. Adapun teknik sample yang digunakan didalam penelitian ini
adalah non prabobility sampling yakni berupa purposive/judmental sampling, dengan
alasan bahwa

dalam metode penelitian ini, pengambilan sampel ditentukan

berdasarkan tujuan tertentu dengan melihat pada persyaratan-persyaratan didasarkan


pada ciri-ciri, sifat-sifat atau karakteristik tertentu yang merupakan ciri-ciri utama
dari obyek yang diteliti dan penentuan karakteristik populasi yang dilakukan dengan
teliti melalui studi pendahuluan.57
6.

Sumber Data
Bahan penelitian yang dijadikan sebagai sumber data dalam penelitian ini

adalah data primer dan sekunder yakni :


a.

Data primer, berupa data yang langsung didapatkan dalam penelitian dilapangan.
Data yang diperoleh dari wawancara secara mendalam (deft interview) dan
kuisioner.

b.

Data sekunder, yakni data yang diperlukan untuk melengkapi data primer,yang
terdiri dari :
1. Bahan hukum primer yang terdiri dari Alquran, Hadits, Perundang-Undangan,
catatan-catatan resmi atau risalah dalam pembuatan perundang-undangan dan
putusan-putusan hakim.58

56

Mukti Fajar ND dan Yulianto Achmad, Op.Cit, hal.172.


Ronny Hanitijo Soemitro, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1985), hal.196.
58
Peter Mahmud Marzuki , Penelitian Hukum, (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2010), hal.
57

141.

Universitas Sumatera Utara

24

2. Bahan hukum sekunder yang terdiri dari buku-buku teks berisi prinsip-prinsip
dasar dalam ilmu hukum dan pandangan klasik para sarjana yang mempunyai
kualifikasi tinggi59termasuk skripsi, tesis dan disertasi.60
3. Bahan hukum tersier yang terdiri dari buku atau teks non hukum yang terkait
dengan penelitian ini seperti, kamus, ensiklopedia, koran, majalah dan
internet.61
7.

Analisis Data
Analisis data merupakan proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke

dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan
dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data.62 Analisis data
dalam penelitian ini dilakukan secara kualitatif, yakni tidak menggunakan angkaangka tetapi berdasarkan prinsip-prinsip hukum, asas-asas peraturan perundangundangan, dan doktrin-doktrin yang dapat menjawab permasalahan dalam penelitian
ini. Oleh karena itu data yang sudah dikumpulkan, dipilah-pilah dan kemudian diolah
dan dianalisa secara kualitatif dan diterjemahkan secara logis sitematis dengan
penarikan kesimpulan secara deduktif-induktif.

59

Ibid, hal.142.
Ibid, hal.155.
61
Mukti Fadjar ND dan Yulianto Achmad, Op.Cit, hal.43.
62
Lexy J. Moleong, Metodelogi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006),
60

hal.103.

Universitas Sumatera Utara