Anda di halaman 1dari 55

BAB III

METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian

yang

akan digunakan dalam penelitian

ini

menggunakan jenis penelitian lapangan (field research) dan metode


penelitian kualitatif. Pada penelitian kualitatif bersifat deskriptif data yang
dikumpulkan dalam bentuk kata-kata gambar dan kebanyakan bukan angkaangka. Kalaupun ada angka sifatnya hanya sebagai penunjang Data yang
dimaksud yaitu wawancara, catatan data lapangan, dokumen pribadi, nota
dan catatan lainnya (Danim Sudarwan,2002:61).

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian


Pelelangan barang jaminan perum pegadaian berkantor di Jl. Setia
Budi Tanjung Rejo Medan. Adapun mengenai organisasi dan hal-hal lain
yang menyangkut di dalamnya, akan diuraikan dalam bab gambaran umum
PT. Pegadaian cabang Medan.

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian


Populasi adalah totalitas dari semua objek atau individu yang
memilki karakteristik tertentu, jelas dan lengkap yang akan diteliti. Objek
atau nilai yang akan diteliti dalam populasi disebut unit analisis atau elemen
populasi. Unit analisis dapat berupa orang perusahaan, media, dan
sebagainya.

Universitas Sumatera Utara

Sampel adalah bagian dari populasi yang diambil melalui cara-cara


tertentu yang juga memilki karakteristik tertentu, jelas, dan lengkap yang
dianggap bisa mewakili populasi. Objek atau nilai yang diteliti dalam
sampel disebut unit sampel. Unit sampel mungkin sama dengan unit
analisis, tetapi mungkin juga tidak.

3.4 Jenis data


Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh dengan survei lapangan.
Data primer yang digunakan dalam penelitian skripsi ini adalah diperoleh
langsung dari responden melalui wawancara dengan pimpinan dan stafstaf Pegadaian Syariah Cabang Setia Budi, Medan. Serta nasabah peserta
lelang gadai.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung
berupa keterangan atau fakta yang mempelajari bahan-bahan kepustakaan.
Data ini diperoleh dari literatur-literatur, ensiklopedi dan data-data resmi
dari instansi yang bersangkutan dengan penulisan skripsi ini.

3.5

Metode pengumpulan data


Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1.

Data primer yaitu dengan observasi, wawancara, dan


kuesioner.

Universitas Sumatera Utara

a. Wawancara, yaitu salah satu teknik pengumpulan data dan


informasi dengan mewawancarai pimpinan atau pejabat-pejabat
berwenang di PT. Pegadaian Syariah Cabang Setia Budi Tanjung
Rejo Medan.
b. Kuesioner, yaitu salah satu teknik pengumpulan data dan
informasi dengan cara menyebarkan angket (daftar pertanyaan
yang harus dijawab secara tertulis oleh responden yang dijadikan
sampel penelitian). Dalam hal ini yang dijadikan responden
adalah para nasabah sebanyak 40 orang.
Keterangan:

2.

SS = Sangat Setuju

Skor = 5

S = Setuju

Skor = 4

RG = Ragu-Ragu

Skor = 3

TS = Tidak Setuju

Skor = 2

STS= Sangat Tidak Setuju

Skor = 1

Data

sekunder

yaitu

data

yang

diambil

dengan

mengumpulkan data yang berhubungan dengan skripsi ini dari perum


pegadaian syariah cabang Setia Budi Tanjung Rejo Medan dan bukubuku literatur.

3.6

Pengolahan Data
Penulis menggunakan program komputer SPSS versi 16 untuk
mengolah data dalam penulisan skripsi ini.

Universitas Sumatera Utara

3.7

Teknik Analisis Data


Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan
persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dengan
Skala Likert, variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator
variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk
menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pertanyaan atau
pernyataan. Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan Skala Likert
mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif, yang dapat
berupa kata-kata antara lain:

Sangat setuju

=5

Setuju

=4

Ragu-ragu

=3

Tidak setuju

=2

Sangat tidak setuju

=1

3.7.1 Uji Validitas dan Reliabilitas


Pada metode analisis data skripsi ini menggunakan uji validitas,
reliabilitas dan analisis deskriptif.
Uji validitas dan uji reabilitas merupakan syarat mutlak untuk
mendapatkan hasil penelitian yang valid dan reliabel. Uji validitas dan
reabilitas digunakan untuk kuisioner yang menggunakan skala Likert.

Universitas Sumatera Utara

a. Uji Validitas
Uji validitas dilakukan untuk menguji apakah kuesioner layak
digunakan sebagai instrumen penelitian. Instrumen yang valid merupakan
alat ukur yang digunakan untuk menyatakan data itu valid (Sugioyono,
2005: 109). Untuk menguji validitas digunakan pendekatan korelasi yaitu
dengan cara mengkorelasikan antara skor butir pertanyaan dengan skor
totalnya. Bila nilai korelasinya positif maka butir pertanyaan tersebut
dinyatakan valid.
Rumus :
r

xy { x}{ y}
=

( x )

( y )

Dimana :
r
N
X
Y
X
Y
X2
Y2

:
:
:
:
:
:
:
:

Koefisien validitas item yang dicari


Jumlah Subyek
Skor item
Skor total
Jumlah skor items
Jumlah skor total
Jumlah kuadrat skor item
Jumlah kuadrat skor total

Kriteria pengambilan keputusan adalah :


1. Jika rhitung > rtabel, maka pertanyaan tersebut dinyatakan valid
2. Jika rhitung < rtabel, maka pertanyaan tersebut tidak dinyatakan valid.

Universitas Sumatera Utara

b.

Uji Reliabilitas
Uji reabilitas merupakan uji untuk mengukur tingkat kehandalan
suatu instrumen penelitian. Instrumen yang reliabel berarti instrumen
yang digunakan beberapa kali

dengan waktu yang berbeda

mempunyai hasil yang konsisten. Butir pertanyaan yang dinyatakan


valid akan ditentukan reliabilitasnya dengan kriteria sebagai berikut:
1. Jika rpositif > rtabel, maka pertanyaan reliabel
2. Jika rnegatif atau < rtabel , maka pertanyaan tidak reliabel
Dalam penelitian ini, uji reabilitas dilakukan dengan menggunakan
teknik Formula Alpha Cronbach sebagai berikut:

k S2 j
1 2
=
k 1
S x
Dimana :
=
k =
Sj =
Sx =

koefisien reliabilitas alpha


jumlah item
varians responden untuk item I
jumlah varians skor total

3.7.2 Spearman Rank Test


Metode yang dipakai dalam menganalisis data penelitian bersifat
korelasi (hubungan) maka dapat di analisa

dengan analisa non

parametrik menggunakan Rank Spearman Test, yaitu sebuah ukuran


hubungan antara dua variabel.
Rumus Rank Spearman Test : = 1Dimana :
d = perbedaan antara rangking

Universitas Sumatera Utara

n = jumlah sampel
Uji hipotesis :
= 0 tidak ada hubungan antara X dan Y
> 0 ada hubungan antara X dan Y
Untuk dapat mengetahui kuat lemahnya tingkat derajat atau derajat
keeratan hubungan antara variabel-variabel yang diteliti, digunakan tabel
kriteria pedoman untuk koefisien korelasi sesuai pendapat Sugiyono
(2008:257).
Pedoman untuk memberikan intrepretasi Koefisien Kolerasi
Interval Koefisien
Tingkat Hubungan
0,00 0,199
Sangat Rendah
0,20 0399
Rendah
0,40 0,599
Sedang
0,60 0,799
Kuat
0,80 1,000
Sangat Kuat
Analisis data
Istilah analisis deskriptif arti yang sulit didefinisikan, karena
menyangkut berbagai macam aktivitas dan proses. Salah satu bentuk
analisis adalah kegiatan menyimpulkan data mentah dalam jumlah yang
besar sehingga hasilnya dapat ditafsirkan.

Universitas Sumatera Utara

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1

Gambaran umum Perum Pegadaian


4.1.1

Sejarah Pegadaian
Gadai merupakan praktik transaksi keuangan yang sudah lama
dalam sejarah peradaban manusia. Sistem rumah gadai yang paling
tua terdapat di negara China pada 3.000 tahun yang silam, juga di
Eropa dan kawasan Laut Tengah pada zaman Romawi dahulu. Namun
di Indonesia, praktik gadai sudah berumur ratusan tahun, yaitu warga
masyarakat telah terbiasa melakukan transaksi utang-piutang dengan
jaminan barang bergerak.
Berdasarkan catatan sejarah yang ada, lembaga pegadaian
dikenal di Indonesia sejak tahun 1746 yang ditandai dengan Gubernur
Jenderal VOC Van Imhoff mendirikan Bank Van Leening. Namun
diyakini oleh bangsa Indonesia bahwa jauh sebelum itu, masyarakat
Indonesia telah mengenal transaksi gadai dengan menjalankan praktik
utang piutang

dengan jaminan barang bergerak. Oleh karena itu,

Perum Pegadaian merupakan sarana alternatif pertama dan sudah


sejak lama serta sudah banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia.
Apalagi di kota-kota besar dan kecil di seluruh Indonesia. Namun

Universitas Sumatera Utara

banyak orang yang merasa malu untuk datang ke kantor pegadaian


terdekat. Hal itu, menunjukkan bahwa pegadaian sangat identik
dengan kesusahan atau kesengsaraan bagi seseorang yang melakukan
transaksi gadai. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila yang datang
ke kantor pegadaian pada umumnya berpenampilan lusuh dengan
wajah tertekan. Namun, belakangan ini Perum Pegadaian mulai tampil
dan membangun citra baru melalui berbagai media, termasuk media
televisi, dengan motto barunya, Menyelesaikan Masalah Tanpa
Masalah.
Bentuk dari usaha pegadaian di Indonesia berawal dari Bank
Van Lening pada masa VOC yang pada tanggal 20 Agustus 1746
didirikan di Batavia melalui surat keputusan Gubernur Jendral Van
Imhoff. Induk bank ini berada di Belanda yang mempunyai tugas
memberikan pinjaman uang kepada masyarakat dengan jaminan
gadai. Sejak itu, bentuk usaha pegadaian telah mengalami beberapa
kali perubahan sejalan dengan perubahan peraturan-peraturan yang
mengaturnya. Pada tahun 1800 VOC dibubarkan, selanjutnya
Indonesia langsung berada di bawah kekuasaan Belanda. Pada tahun
1811 saat Inggris mengambil alih kekuasaan Belanda di Indonesia,
Bank Van Leening dibubarkan oleh Gubernur Jenderal Thomas
Stamford Raffles. Ketika Belanda kembali berkuasa pada tahun 1816,
team penelitian bertugas meneliti keberadaan perkembangan serta
menetapkan kebijakan pemerintah di bidang lembaga keuangan.

Universitas Sumatera Utara

Pada mulanya usaha pegadaian di Indonesia dilaksanaknan oleh


pihak swasta, kemudian pada awal abad ke-20 oleh Gubernur Jenderal
Hindia Belanda melalui Staatsblad tahun 1901 nomor 131 tertanggal
12 Maret 1901 didirikan rumah gadai pemerintahan (Hindi Belanda)
di Sukabumi Jawa Barat. Dengan dikeluarkannya peraturan tersebut,
maka pelaksanaan gadai dilakukan oleh pemerintahan Hindia Belanda
sebagai diatur dalam Staatblad tahun 1901 nomor 131 tersebut
sebagai berikut: Kedua, Sejak saat itu di bagian Sukabumi kepada
siapapun tidak akan diperkenankan untuk memberi gadai atau dalam
bentuk jual beli dengan hak memberi kembali, meminjam uang tidak
melebihi seratua Gulden, dengan hukuman, tergantung kepada
kebangsaan pada pelanggar yang diancam dalam pasal 337 KUHP
bagi orang-orang Eropa dan pasal 339 KUHP sebagai orang-orang
Bumiputera.
Selanjutnya, dengan Staatblad 1930 No.266 Rumah Gadai
tersebut mendapat status Dinas Pegadaian sebagai Perusahaan Negara
(PN) dalam arti undang-undang perusahaan Hindi Belanda (Lembaran
Negara Hindia Belanda 1927 No.419).
Pada masa pendudukan Jepang, gedung kantor pusat Jawatan
Pegadaian yang terletak di Jalan Kramat Raya 162 dijadikan tempat
tawanan perang dan kantor pusat Jawatan Pegadaian dipindahkan ke
jalan Kramat Raya 132. Tidak banyak perubahan yang terjadi pada
masa pemerintahan Jepang baik dari sisi kebijakan maupun struktur

Universitas Sumatera Utara

organisasi Jawatan Pegadaian. Jawatan pegadaian dalam bahasa


Jepang disebut Sitji Eigeikyuku, Pimpinan Jawatan Pegadaian
dipegang oleh orang Jepang yang bernama Ohno-San dengan
wakilnya

orang

pribumi

yang

bernama

M.

Saubari.

(www.pegadaian.co.id)
Pada masa selanjutnya, pegadaian milik pemerintah tetap diberi
fasilitas monopoli atas kegiatan pegadaian di Indonesia. Dinas
pegadaian mengalami beberapa kali perubahaan bentuk Badan
Hukum, sehingga akhirnya pada tahun 1990 menjadi Perusahaan
Umum. Pada tahun 1960 Dinas Pegadaian berubah menjadi
Perusahaan Negara (PN) Pegadaian, pada tahun 1969 Perusahaan
Umum Pegadaian diubah menjadi Perusahaan Jawatan (Perjan)
Pegadaian, dan pada tahun 1990 Perusahaan Jawatan Pegadaian
diubah menjadi Perusahaan Umum (Perum) Pegadaian melalui
Peraturan Pemerintah (PP) nomor 10 tahun 1990 tanggal 10 April
1990. Pada waktu pegadaian masih berbentuk Perusahaan Jawatan,
misi social dari pegadaian merupakan satu-satunya acuan yang di
gunakan oleh manajernya dalam mengelola pegadaian. Pengelolaan
pegadaian

bisa

dilaksanakan

meskipun

perusahaan

tersebut

mengalami kerugian. Sejak statusnya diubah menjadi Perusahaan


Umum, keadaan tersebut tidak sepenuhnya dapat dipertahankan lagi.
Di samping

berusaha

memberikan

pelayanan

umum

berupa

penyediaan dana atas hukum gadai, manajemen Perum Pegadaian

Universitas Sumatera Utara

diharapkan

akan

dapat

mengalami

keuntunagan

atau

setidaknyapenerimaan yang didapat mampu menutup seluruh biaya


dan pengeluarannya sendiri. Dengan status sebagai Perum, sifat
pegadaian adalah menyediakan pelayanaan bagi masyarakat umum
dan sekaligus memupuk keuntungan berdasarkan prinsip pengelolan
perusahaan yang sehat. Peraturan Pemerintah Rapublik Indonesia
Nomor 10 tahun 1990 kemudian diganti dengan Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 103 tahun 2000 tentang Perum Pegadaian
dengan sifat usaha adalah menyediakan pelayanan bagi kemanfaatan
umum dan sekaligus memupuk keuntungan berdasarkan prinsip
pengelolaan perusahaan adalah sebesar seluruh nilai pernyataan modal
negara yang tertanam dalam perusahaan berdasarkan penetapan
Menteri Keuangan. Kemudian pada tahun 2011, perubahan status
kembali terjadi yakni dari Perum menjadi Perseroan yang telah
ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah (PP) No.51/2011 yang
ditandatangani pada 13 Desember 2011. Namun demikian, perubahan
tersebut efektif setelah anggaran dasar diserahkan ke pejabat
berwenang yaitu pada 1 April 2012.
Kantor Pusat Perum Pegadaian berkedudukan di Jakarta dan
dibantu oleh kantor daerah, kantor perwakilan daerah, dan kantor
cabang. Saat ini jaringan umum usaha Perum Pegadaian telah meliputi
lebih dari 500 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia.

Universitas Sumatera Utara

4.1.2 Sejarah dan Perkembangan Pegadaian Syariah


Terbitnya PP/10 tanggal 1 April 1990 dapat dikatakan menjadi
tonggak awal kebangkitan Pegadaian, satu hal yang perlu dicermati bahwa
PP10 menegaskan misi yang harus diemban oleh Pegadaian untuk
mencegah praktik riba, misi ini tidak berubah hingga terbitnya PP103/2000
yang dijadikan sebagai landasan kegiatan usaha Perum Pegadaian sampai
sekarang. Banyak pihak berpendapat bahwa operasionalisasi Pegadaian pra
Fatwa MUI tanggal 16 Desember 2003 tentang Bunga Bank, telah sesuai
dengan konsep syariah meskipun harus diakui belakangan bahwa terdapat
beberapa aspek yang menepis anggapan itu. Berkat Rahmat Allah SWT dan
setelah melalui kajian panjang, akhirnya disusunlah suatu konsep pendirian
unit Layanan Gadai Syariah sebagai langkah awal pembentukan divisi
khusus yang menangani kegiatan usaha syariah.
Konsep operasi Pegadaian syariah mengacu pada sistem administrasi
modern yaitu azas rasionalitas, efisiensi dan efektifitas yang diselaraskan
dengan nilai Islam. Fungsi operasi Pegadaian Syariah itu sendiri dijalankan
oleh kantor-kantor Cabang Pegadaian Syariah/ Unit Layanan Gadai Syariah
(ULGS) sebagai satu unit organisasi di bawah binaan Divisi Usaha Lain
Perum Pegadaian. ULGS ini merupakan unit bisnis mandiri yang secara
struktural terpisah pengelolaannya dari usaha gadai konvensional.
Pegadaian Syariah pertama kali berdiri di Jakarta dengan nama Unit
Layanan Gadai Syariah ( ULGS) Cabang Dewi Sartika di bulan Januari

Universitas Sumatera Utara

tahun 2003. Menyusul kemudian pendirian ULGS di Surabaya, Makasar,


Semarang, Surakarta, dan Yogyakarta di tahun yang sama hingga
September 2003. Masih di tahun yang sama pula, 4 Kantor Cabang
Pegadaian di Aceh dikonversi menjadi Pegadaian Syariah.
Implementasi operasi Pegadaian Syariah hampir bermiripan dengan
Pegadaian konvensional. Seperti halnya Pegadaian konvensional, Pegadaian
Syariah juga menyalurkan uang pinjaman dengan jaminan barang bergerak.
Prosedur untuk memperoleh kredit gadai syariah sangat sederhana,
masyarakat hanya menunjukkan bukti identitas diri dan barang bergerak
sebagai jaminan, uang pinjaman dapat diperoleh dalam waktu yang tidak
relatif lama (kurang lebih 15 menit saja). Begitupun untuk melunasi
pinjaman, nasabah cukup dengan menyerahkan sejumlah uang dan surat
bukti rahn saja dengan waktu proses yang juga singkat.
Di samping beberapa kemiripan dari beberapa segi, jika ditinjau dari
aspek landasan konsep; teknik transaksi; dan pendanaan, Pegadaian Syariah
memilki ciri tersendiri yang implementasinya sangat berbeda dengan
Pegadaian konvensional. Lebih jauh tentang

ketiga aspek tersebut,

dipaparkan dalam uraian berikut.


4.1.3 Visi dan Misi Perum Pegadaian
a.

Visi Perum Pegadaian


Pegadaian pada tahun 2013 menjadi Champion dalam
pembiayaan mikro dan kecil berbasis gadai dan fidusia bagi masyarakat
golongan menengah ke bawah.

Universitas Sumatera Utara

Dalam mengantisipasi hadirnya undang-undang gadai swasta,


dapat dipahami bahwa persaingan di depan akan semakin ketat karena
siapapun pemilik modal akan mampu dan mau terjun pada bidang usaha
ini. Sebelum para pesaing memasuki industri gadai, pegadaian sudah
harus mampu mempersiapkan diri untuk menjadi pemimpin pasar.
Persiapan itu harus dimulai dengan langkah pasti yaitu dengan
membuka sebanyak mungkin outlet dimana masyarakat akan lebih
mudah untuk mengapainya.
Sasarannya adalah untuk memberikan kemudahan bagi para
pengusaha mikro dan kecil karena terbukti bahwa mereka inilah yang
dapat bertahan menghadapi krisis global yang melanda dunia tahun
1997 yang lalu. Peran usaha mikro dan kecil perlu lebih ditingkatkan
dalam tersedianya pendanaan yang cepat dan aman yang disediakan
pegadaian.
b. Misi Perum Pegadaian
Dari maksud dan tujuan Perum Pegadaian di atas Perum
Pegadaian merumuskan misi perusahaan menyangkut batas di bidang
bisnis yang akan digarap, sasaran pasar yang dituju dan upaya
peningkatan kemnfaatan Perum Pegadaian kepada stakeholders.
Rumusan misi Perum Pegadaian dinyatakan sebagai berikut:
1.

Membantu program pemerintah meningkatkan kesejahteraan


rakyat khususnya golongan menengah ke bawah dengan
memberikan solusi keuangan yang terbaik melalui penyaluran

Universitas Sumatera Utara

pinjaman kepada usaha skala mikro dan menengah atas dasar


hukum gadai dan fidusia.
2.

Memberikan manfaat

kepada pemangku kepentingan dan

melaksanakan tata kelola yang baik secara konsisten.


3.

Melaksanakan usaha lain dalam rangka optimalisasi sumber daya.

c. Perjalanan Misi Perum Pegadaian


Misi Perum Pegadaian sebagai suatu lembaga yang ikut
meningkatkan perekonomian dengan cara memberikan uang pinjaman
berdasarkan hukum gadai kepada masyarakat kecil, agar terhindar dari
praktek pinjaman uang dengan bunga yang tidak wajar ditegaskan
dalam keputusan Menteri Keuangan No. Kep-39/MK/6/1/1971 tanggal
20 Januari 1970 dengan tugas pokok sebagai berikut:
1.

Membina perekonomian rakyat kecil dengan menyalurkan kredit


atas dasar hukum gadai kepada : Para petani, nelayan, pedagang
kecil, industri kecil, yang bersifat produktif Kaum buruh / pegawai
negeri yang ekonomi lemah dan bersifat konsumtif.

2.

Ikut serta mencegah adanya pemberian pinjaman yang tidak wajar,


ijon, pegadaian gelap, dan praktek riba lainnya.

3.

Disamping menyalurkan kredit, maupun usaha-usaha lainnya yang


bermanfaat terutama bagi pemerintah dan mayarakat.

4.

Membina pola perkreditan supaya benar-benar terarah dan


bermanfaat dan bila perlu memperluas daerah operasinya.Dengan
seiring perubahan status perusahaan dari Perjan menjadi Perum

Universitas Sumatera Utara

pernyataan

misi

perusahaan

dirumuskan

kembali

dengan

pertimbangan jangan sampai misi perusahaan itu justru membatasi


ruang gerak perusahaan dan sasaran pasar tidak hanya masyarakat
kecil dan golongan menengah saja maka terciptalah misi
perusahaan Perum Pegadaian yaitu ikut membantu program
pemerintah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat
golongan menengah kebawah melalui kegiatan utama berupa
penyaluran kredit gadai dan melakukan usaha lain yang
menguntungkan.
5.

Bertolak dari misi Pegadaian tersebut dapat dikatakan bahwa


sebenarnya Pegadaian adalah sebuah lembaga dibidang keuangan
yang mempunyai visi dan misi bagaimana masyarakat mendapat
perlakuan dan kesempatan yang adil dalam perekonomian.
(www.pegadaian.co.id)

4.1.4 Produk dan Layanan Perum Pegadaian


Bisnis Inti terdiri dari:
1.

KCA (Kredit Cepat Aman)


KCA adalah layanan kredit berdasarkan hukum gadai dengan
pemberian pinjaman mulai dari Rp. 20.000,- sampai dengan Rp.
200.000.000,-. Jaminannya berupa barang bergerak, baik barang
perhiasan emas dan berlian, peralatan elektronik, kendaraan
maupun alat rumah tangga lainnya. Jangka waktu kredit

Universitas Sumatera Utara

maksimum 4 bulan atau 120 hari dan pengembaliannya dilakukan


dengan membayar uang pinjaman dan sewa modalnya.
2. Kreasi (Kredit Angsuran Fidusia)
Layanan ini ditujukan kepada pengusaha mikro dan kecil sebagai
alternatif pemenuhan perlengkapan bayi usaha dengan penjaminan
secara fidusia dan pengembalian pinjamannya dilakukan melalui
angsuran. Kredit Kreasi merupakan modifikasi dari produk lama
yang sebelumnya dikenal dengan nama Kredit Kelayakan Usaha
Pegadaian.

Agunan

yang

diterima

saat

ini adalah

BPKB

(perlengkapan bayi atau perlengkapan bayi).


3. Krasida (Kredit Angsuran Sistem Gadai)
Merupakan pemberian pinjaman kepada para pengusaha mikro-kecil
(dalam rangka pengembangan usaha) atas dasar gadai yang
pengembalian pinjamannya dilakukan melalui angsuran.
4. Krista (Kredit Usaha Rumah Tangga)
Merupakan pemberian pinjaman kepada ibu-ibu kelompok usaha
rumah tangga sangat mikro yang membutuhkan dana dalam bentuk
pinjaman modal kerja yang pengembalian pinjamannya dilakukan
melalui angsuran. adapun kredit ini hanya dikenakan bunga 0,9 %
per bulan tanpa menggunakan agunan hal ini semata-mata dilakukan
PEGADAIAN untuk membantu kegiatan UKM di INDONESIA

Universitas Sumatera Utara

5. Kremada (Kredit Perumahan Swadaya)


Merupakan

pemberian

pinjaman

kepada

masyarakat

berpenghasilan rendah untuk membangun atau memperbaiki


rumah dengan pengembalian secara angsuran. Pendanaan ini
merupakan kerja sama dengan Menteri Perumahan Rakyat.
6. KTJG (Kredit Tunda Jual Gabah)
Diberikan kepada para petani dengan jaminan gabah kering
giling. Layanan kredit ini ditujukan untuk membantu para petani
pasca panen agar terhindar dari tekanan akibat fluktuasi harga
pada saat panen dan permainan harga para tengkulak.
7. Investa (Gadai Efek)
Gadai Efek merupakan pemberian pinjaman kepada masyarakat
dengan agunan berupa saham dengan sistem gadai.
8. Kucica (Kiriman Uang Cara Instan, Cepat dan Aman)
Adalah produk pengiriman uang dalam dan luar negeri yang
bekerjasama dengan Western Union.
9. Kagum (Kredit Serba Guna untuk Umum)
Merupakan layanan kredit

yang ditujukan bagi pegawai

berpenghasilan tetap.
10.Jasa Taksiran dan Jasa Titipan
Jasa Taksiran adalah pemberian pelayanan kepada masyarakat
yang ingin mengetahui seberapa besar nilai sesungguhnya dari
barang yang dimiliki seperti emas, berlian, batu permata dan

Universitas Sumatera Utara

lain-lain. Jasa Titipan adalah pelayanan kepada masyarakat yang


ingin menitipkan barang-barang atau surat berharga yang
dimiliki

terutama

bagi

orang-orang

yang

akan

pergi

meninggalkan rumah dalam waktu lama, misalnya menunaikan


ibadah haji, pergi keluar kota atau mahasiswa yang sedang
berlibur. produk Mulia ini dapat diperjualbelikan kembali di
Bursa Mulia apabila di kemudian hari membutuhkan uang
dalam waktu yang singkat.
Bisnis Lain terdiri dari :
1. Properti
Untuk mengoptimalkan pemanfaatan assetnya yang kurang
produktif, Pegadaian membangun gedung untuk disewakan, baik
dengan cara pembiayaan sendiri maupun bekerja sama dengan pihak
ketiga dengan Sistem Bangun-Kelola-Alih atau Build-OperateTransfer (BOT) dan Kerja Sama Operasi (KSO).
2. Jasa Lelang
Perum Pegadaian memiliki satu anak perusahaan PT Balai
Lelang Artha Gasia dengan komposisi kepemilikan saham 99,99%
(Perum Pegadaian) dan 0,01% (Deddy Kusdedi). PT Balai Lelang
Artha Gasia bergerak dibidang jasa lelang dengan maksud
menyelenggarakan penjualan di muka umum secara lelang sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.

Universitas Sumatera Utara

4.1.5 Produk dan Layanan Pegadaian Syariah


Perkembangan produk-produk berbasis syariah kian marak di
Indonesia, tidak terkecuali pegadaian. Perum pegadaian mengeluarkan
produk berbasis syariah yang disebut dengan pegadaian syariah. Pada
dasarnya, produk-produk berbasis syariah memiliki karakteristik seperti,
tidak memungut bunga dalam berbagai bentuk karena riba, menetapkan
uang sebagai alat tukar bukan sebagai komoditas yang diperdagangkan, dan
melakukan bisnis untuk memperoleh imbalan atas jasa dan atau bagI hasil.
Pegadaian syariah atau dikenal dengan istilah rahn, dalam pengoperasiannya
menggunakan metode Fee Based Income (FBI) atau Mudharobah (bagi
hasil).

Karena

nasabah

dalam

mempergunakan

marhumbih

(UP)

mempunyai tujuan yang berbeda-beda misalnya untuk konsumsi, membayar


uang sekolah atau tambahan modal kerja, penggunaan metode Mudharobah
belum tepat pemakaiannya. Oleh karenanya, pegadaian menggunakan
metode Fee Based Income(FBI).
Sebagai penerima gadai atau disebut Mutahim, penggadaian akan
mendapatkan Surat Bukti Rahn (gadai) berikut dengan akad pinjammeminjam yang disebut Akad Gadai Syariah dan Akad Sewa Tempat
(Ijarah). Dalam akad gadai syariah disebutkan bila jangka waktu akad tidak
diperpanjang maka penggadai menyetujui agunan (marhun) miliknya dijual
oleh murtahin guna melunasi pinjaman. Sedangkan Akad Sewa Tempat
(ijarah) merupakan kesepakatan antara penggadai dengan penerima gadai

Universitas Sumatera Utara

untuk menyewa tempat untuk penyimpanan dan penerima gadai akan


mengenakan jasa simpan.
Produk- Produk Pegadaian Syariah adalah :
1.

Ar-Rahn (Gadai Syariah)


Ar-Rahn adalah produk jasa gadai syariah yang berlandaskan pada
prinsip-prinsip syariah dengan mengacu pada sistem administrasi
modern.

2. Arrum (Ar-Rahn untuk Usaha Mikro Kecil)


Merupakan salah satu produk pegadaian syariah dengan konstruksi
penjaminan fidusia untuk pengusaha mikro-kecil dengan prinsip
syariah.
3. Mulia (Murabahah Logam Mulia untuk Investasi Abadi)
Adalah penjualan logam mulia oleh Pegadaian kepada masyarakat
yang berminat untuk berinvestasi pada emas secara tunai dan
angsuran. Emas yang telah dibeli dari produk Mulia ini dapat
diperjualbelikan kembali di Bursa Mulia apabila di kemudian hari
membutuhkan uang dalam waktu yang singkat.
4.1.6 Tugas, Tujuan dan Fungsi Pegadaian Syariah
Sebagai lembaga keuangan nonbank milik pemerintah yang berhak
memberikan pinjaman kredit kepada masyarakat atas dasar hukum gadai
yang bertujuan agar masyarakat tidak dirugikan oleh lembaga keuangan
nonformal yang cendrung memanfaatkan kebutuhan dana mendesak dari

Universitas Sumatera Utara

masyarakat, pada dasarnya lembaga pegadaian tersebut mempunyai fungsifungsi pokok sebagai berikut (Usman, 1995 : 359) yaitu :

a.Tugas Pokok

Tugas Pokok Pegadaian yaitu menyalurkan uang pinjaman atas dasar


hukum gadai dan usaha-usaha lain yang berhubungan dengan tujuan
pegadaian atas dasar materi.
b. Tujuan Pokok
Sifat usaha pegadaian pada prinsipnya menyediakan pelayanan bagi
kemanfaatan umum sekaligus memupuk keuntungan berdasarkan prinsip
pengelolaan. Oleh karena itu, pegadaian pada dasarnya mempunyai tujuantujuan pokok sebagai berikut:
1. Turut melaksanakan program pemerintahan dibidang ekonomi dan
pembangunan nasional pada umumnya melalui penyaluran uang
pinjaman atas dasar hukum gadai.
2. Mencegah praktek pegadaian gelap dan pinjaman tidak wajar.
c. Fungsi Pokok
1. Mengelola penyaluran uang pinjaman atas dasar hokum gadai dengan
cara

mudah, cepat, aman, dan hemat.

2. Menciptakan

dan

mengembangkan

usaha-usaha

lain

yang

menguntungkan bagi pegadaian maupun masyarakat.


3. Mengelola keuangan, perlengkapan, kepegawaian, pendidikan, dan
pelatihan.

Universitas Sumatera Utara

4. Mengelola keuangan, tata kerja dan tata laksana pegadaian.


5. Melakukan penelitian dan pengembangan serta mengawasi pengelolaan
pegadaian.
4.1.7 Manfaat Pegadaian Syariah
a. Bagi Nasabah
Manfaat utama yang diperoleh nasabah dalam meminjam dari
Perum Pegadaian Syariah adalah ketersediaaan dana dengan prosedur
yang relatif lebih sederhana dan dalam wakru yang lebih cepat terutama
apabila

dibandingkan

dengan

kredit

perbankan

dan

lebih

mententramkan karena menggunakan aqad transaksi dalam islam. Di


samping itu, mengingat jasa yang ditawarkan oleh Perum Pegadaian
Syariah tidak hanya jasa pegadaian, nasabah juga dapat memperoleh
manfaat lain sebagai berikut:
1.

Penaksiran nilai barang bergerak dari pihak atau institusi yang telah
berpengalaman dan dapat dipercaya.

2.

Penitipan suatu barang bergerak pada tempat yang aman dan dapat
dipercaya nasabah yang akan berpergian, merasa kurang aman
menempatkan barang bergeraknya ditempat sendiri atau tidak
mempunyai sarana penyimpanan suatu barang bergerak dapat
menitipkan barangnya di Perum Pegadaian.

b. Bagi Perusahaan Pegadaian Syariah

Universitas Sumatera Utara

Manfaat yang diharapkan dari Perum Pegadaian Syariah sesuai


jasa yang diberikan kepada nasabahnya adalah:
1.

Penghasilan yang bersumber dari ijarah yang dibayarkan oleh


nasabah.

2.

Penghasilan yang bersumber dari ijarah yang dibayar oleh nasabah


memperoleh jasa tertentu dari Perum Pegadaiaan Syariah.

3.

Pelaksanaan misi Perum Pegadaian sebagai suatu Badan Usaha


Milik Negara yang bergerak dalam bidang pembiayaan yang
bergerak dibidang pembiyaan berupa pemberian bantuan kepada
masyarakat yang memerlukan dana dengan prosedur dan cara
relatif sederhana.

4.

Berdasarkan peraturan pemerintah No. 10 tahun 1990, Laba yang


diperoleh oleh Perum Pegadaian digunakan untuk:
-

Dana pembangunan sementara (55%)

Cadangan umum (20%)

Cadangan tujuan (5%)

Dana sosial (20%)

4.1.8 Perum Pegadaian Syariah Cabang Setia Budi


Perum Pegadaian Syariah Cabang Setia Budi adalah salah satu cabang
pegadaian syariah yang ada di kota Medan. Pegadaian syariah Cabang Setia
Budi ini berdiri sejak Mei 2010 perkembangan sangat pesat dan cepat
dimana sampai saat ini jumlah nasabah Perum Pegadaian Syariah kantor

Universitas Sumatera Utara

cabang Setia Budi Medan hingga bulan Agustus 2012 sebesar 1.235 Orang.
Jumlah nasabah tersebut berasal dari berbagai profesi.
4.1.9 Ketentuan Pemberian Pinjaman Pegadaian Syariah Cabang Setia Budi
a.

Syarat-Syarat Pemberian Pinjaman


Uang pinjaman rahn (marhun bih) dapat diperoleh oleh pemohon
dengan syarat-syarat sebagai berikut:
-

Menyerahkan foto copy KTP rahn atau kartu pengenal lain


(SIM,Papor) yang berlaku dengan menunjukkan aslinya.

Menyerahkan

marhun

(barang

jaaminan)

yang

memenuhi

persyaratan.
-

Membuat surat kuasa diatas materai dari pemilik barang, untuk


barang bukan milik rahin. Surat kuasa harus dilampiri foto copy
KTP pemilik barang dan menunjukkan aslinya.

Mengisi formulir Permintaan Pinjaman (FPP GPS-01) dan


menandatanganinya

Menandatangi akad rahn dan ijaroh dalam Surat Bukti Rahn (SBR
GS-02).

Membayar biaya administrasi.

Khusus untuk kelengkapan marhun kenderaan bermotor diatur


dalam SE tersendiri sebagaimana yang berlaku pada Perum
Pegadaian.

Universitas Sumatera Utara

b.

Penetapan uang Pinjaman (Marhun Bih)


Besarnya

uang

pinjaman

(marhun-bih)

ditetapkan

berdasarkan prosentase tertentu terhadap taksiran, prosentase


tersebut ditetapkan berdasarkan Surat Edaran (SE) terseniri. Untuk
penetapan uang taksiran harap berpedoman dalam Buku Pedoman
Menaksir (BPM) dan SE yang berlaku pada Perum Pegadaian.
Tabel 4.1
Prosentase Nilai Taksiran
Golongan

Nilai Taksiran
Emas, Elektronik, Kenderaan

A
95%
B
92%
C
92%
D
93%
Sumber : Brosur Pegadaian Syariah Setia Budi
c.

Pembagian Golongan Marhun bih


Pembagian Golongan Marhun Bih ditetapkan sebagai berikut:
a.

UP (Marhun bih) Golongan A

b.

UP (Marhun bih ) Golongan B

c.

UP (Marhun bih ) Golongan C

d.

UP (Marhun bih ) Golongan D

e.

UP (Marhun bih ) Golongan E

f.

UP (Marhun bih ) Golongan F

g.

UP (Marhun bih ) Golongan G

h.

UP (Marhun bih ) Golongan H

Besarnya plafon UP (Marhun bih) masing-masing golongan


ditetapkan dalam SE tersendiri.

Universitas Sumatera Utara

Tabel 4.2
Pembagian Golongan Marhun Bih
Golongan
Marhun Bih
A
Rp. 50.000 - Rp.500.000
B
Rp. 510.000 Rp. 5000.000
C
Rp. 5100.000 Rp. 20.000.000
D
Rp.20.100.000
Sumber: Brosur Pegadaian Syariah Cabang Setia Budi, Medan.
d.

Biaya Administrasi
a.

Rahin dibebani biaya administrasi yang besarnya menurut


golongan marhun bih.

b.

Biaya administrasi merupakan biaya yang dibayar pada saat


akad dan ditetapkan berdasarkan SE tersendiri.

c.

Biaya administrasi merupakan biaya operasional yang


dikeluarkan oleh perusahaan dalam memproses marhun bih.
Tabel 4.3
Tarif Biaya Administrasi
Golongan
Marhun Bih
Administrasi
A
Rp.50.000 Rp. 500.000 Rp. 2000
Rp.5100.000
Rp. 8000 B
Rp.5000.000
Rp.25.000
Rp. 5100.000Rp.40.000
C
Rp.20.000.000
Rp.20.100.000
Rp. 60.000D
Rp.100.000
Sumber : Brosur Pegadaian Syariah Setia Budi

e.

Kewenangan

Penetapan

Besarnya

Pinjaman

(Marhun bih)
Direksi mendelegasikan kewenangan penetapan besarnya pinjaman
yang diberikan ke rahin kepada Kuasa Pemutus Marhun Bih (KPM).
KPM adalah pejabat perusahaan yang ditunjuk secara resmi oleh pejabat
berwenang (Direksi atau Pinwil) untuk menjalankan tugas menetapkan

Universitas Sumatera Utara

besarnya pinjaman dari perhitungan nilai taksiran barang yang


diagunkan. Pegawai Perusahaan yang dapat diserahi tugas menjadi KPM
adalah pejabat/pegawai cabang yang telah dinyatakan mempunyai
keahlian menaksir sesuai dengan jenjang diklat dan pengalamannya.
Mekanisme penetapan pejabat/pegawai cabang untuk bertindak sebagai
KPM dan batas-batas kewenangan yang diberikan kepadanya telah diatur
dalam SE tersendiri yang berlaku juga untuk operasional Gadai Syariah.
f.

Batas maksimum Pemberian Pinjaman (BMPP)


BMPP adalah batas maksimum pinjaman yang diberikan untuk
setiap SBR dan atau jumlah maksimum pinjaman yang bisa diberikan
kepada seorang rahin. Besarnya BMPP ini tidak termasuk jumlah
pinjaman yang telah dilunasi. Jumlah BMPP untuk satu orang rahin ata
per SBR yang ditetapkan dengan SE dari Perum Pegadaian, yang berlaku
juga dalam operasional gadai syariah ini. Pinwil bertanggung jawab
terhadap

pelampauan

BMPP,

sedang

Manaajer

Cabang/KPM

bertanggung jawab terhadap kebenaran nilai taksiran dan prosedurnya.


g. Pembuatan Perjanjian untuk Perikatan Pinjaman
Sebagai landasan untuk keabsahan dan kesepakatan dalam
bertransaksi pinjam meminjam antara rahin dan murtahin, maka
dibuatlah

akad/perjanjian

pinjam

meminjam

(akad

rahn)

dan

akad/perjanjian penyimpanan marhun (akad ijaroj). Kedua akad tersebut


berikut data-data mengenai pinjaman dan ketentuan lainnya yang
disepakati, dituangkan dalam Surat Bukti Rahn (SBR GS 02).

Universitas Sumatera Utara

Barang-barang yang Diterima sebagai Jaminan

h.

Barang-barang yang dapat diterima sebagai barang jaminan di


Cabang Pegadaian Syariah perlu disesuaikan dengan target dan kondisi
daerah masing-masing. Mengacu pada fatwa DSN No.25/DSNMUI/III/2002, tanggal 26 Juni 2002, maka semua barang-barang yang
dapat diterima di CPP dapat diterima oleh CPS sebagai agunan pinjaman.
Khusus untuk penerimaan agunan emas, DSN telah mengeluarkan fatwa
No. 26/DSN-MUI/III/2002, Tanggal 28 Maret 2002. Sehubungan dengan
itu jenis barang-barang yang dapat diterima sebagai jaminan rahn adalah
sebagai berikut:
a.

Barang Perhiasan (logam dan permata), seperti : Emas, Berlian

b.

Kenderaan, seperti: Mobil dan Sepeda Motor dengan batasan

menurut SE tentang prosedur penerimaan kenderaan yang masih berlaku


pada Perum Pegadaian.
c.

Barang Elektronik, seperti: Televisi, VCD, Radio Tape, Mesin

cuci, Kulkas, dll.


d.

Barang-barang yang nilai ijarohnya diatas biaya investasi gudang

dan biaya operasional pengelolaan barang.


i.

Barang-Barang yang Tidak Boleh Diterima sebagai


Jaminan
a.

Barang-barang milik Pemerintah yang memerlukan izin


khusus dalam penggunaannya, seperti :

Universitas Sumatera Utara

Senjata api, senjata tajam

Pakaian dinas

- Perlengkapan TNI,POLRI dan pemerintah


b.

Barang-barang yang mudah busuk, seperti:


- Makanan dan minuman
- Obat-obatan

c.

Barang yang berbahaya dan mudah terbakar, seperti :


- Korek api
- Mercon
- Bensin dan minyak tanah
- Tabung berisi gas

d.

Barang yang dilarang peredarannya, seperti:


Ganja, opium, candu, heroin, senjata api dan sejenisnya

e.

Barang yang tidak tetap harganya dan sukar ditetapkan


taksirannya, seperti:
- Lukisan
- Buku
- Barang Purbakala
- Barang Historis

f.

Barang yang cara memperolehnya bertentangan atau dilarang


oleh syariat Islam:
- Barang yang diperolah dari hasil tindak kejahatan
- Barang yang diperoleh dari hasil tindak kecurangan

Universitas Sumatera Utara

- Barang-barang hasil perjudian (maisi/gharar) dan barangbarang yang diperoleh dengan cara riba serta dengan cara
suap-menyuap
g. Barang-barang lainnya yang pengelolaannya sulit:
- Barang yang disewabelikan
- Barang yang diperoleh melalui hutang dan belum lunas
- Barang-barang yang bermasalah (barang curian, penggelapan,
penipuan,dll)
- Pakaian jadi
- Bahan yang pemakainnya sangat terbatas dan tidak umum misalnya
alat-alat kedokteran, alat perlengkapan wartel, alat perlengkapan
pesta/pengantin, mesin pabrik, mesin giling padi dan mesin-mesin
lainnya.
- Ternak/Binatang
- Semua jenis tanaman
- Barang-barang yang kurang berharga yang nilai ijarohnya dibawah
investasi gudang dan biaya operasional pengelolaan barang
10. Penetapan Harga Pasar dan Pencatatannya
Mengingat bahwa nilai pinjaman didasarkan atas besarnya nilai
taksiran harga jual barang yang diagunkan, maka untuk mendapatkan
hasil hitungan taksiran yang akurat dibuatlah mekanisme penetapan
harga pasar sebagai berikut:

Universitas Sumatera Utara

a.

Penetapan harga Pasar


1.

Harga Pasar Pusat


Harga Pasar Pusat (HPP) adalah harga pasar untuk emas
dan permata yang ditetapkan oleh Kantor Pusat sebagai
patokan umu bagi Kantor Cabang termasuk KCPS,
berdasarkan perkembangan harga pasaran umum dengan
memperhitungkan kecenderungan perkembangan harga di
masa datang.

2.

Harga Pasar Daerah (HPD)


Harga Pasar Daerah adalah harga pasar emas yang
ditetapkan oleh Kantor Wilayah dengan memperhatikan
toleransi maksimum dan minimum terhadap HPP yang
ditetapkan daalam SE Direksi.
Penetapan HPO tersebut memperhatikan :
a.

Kondisi harga pasar emas di masing-masing wilayah

b.

Kantor Cabang yang berdekatan dengan Kantor Cabang


di wilayah Kantor Wilayah lain

c.

Luas wilayah Kantor Wilayah, dalam arti jika kondisi


menghendaki Pemimpin Wilayah dapat menetapkan
lebih dari satu HPD

Apabila Kantor Wilayah tidak menetapkan HPD maka


Kantor Cabang mengacu HPP, tetapi sebaliknya bila Kantor

Universitas Sumatera Utara

Wilayah telah menetapkan HPD maka Kantor Cabang wajib


mengikutinya
3.

Harga Pasar Setempat (HPS)


HPS dipakai dasar perhitungan taksiran barang gudang
yang digunakan oleh Kantor Cabang. Yang dimaksud
dengan HPS adalah harga pasar barang-barang gudang
second yang disarankan pada harga pasar di daerah
setempat. Penentuan HPS ini ditetapkan/ disetujui oleh
Pemimpin Wilayah untuk regional tertentu (satu kabupaten,
satu wilayah pembantu gubernur, dll) atas dasar usulan
cabang maupun melalui penggalian berbagai informasi.

b. Pencatatan Harga Pasar


1.

Minimal tiga bulan sekali Manajer Cabang dan penaksir


wajib melakukan peninjauan HPS dengan melakukan survey
harga di toko, pasar, brosur dan lain-lain.

2.

Hasil peninjauan tersebut dicatat pada Buku Catatan Harga


Pasar (BCHP GS 11) kemudian dikirimkan ke Pemimpin
Wilayah untuk mendapatkan penetapan atau persetujuan.

3.

Pemimpin Wilayah segera memberikan penetapan dan


mengirimkan kembali ke Kantor Cabang setelah meneliti
kewajaran usulan tersebut dengan cara membandingkan
harga pasar cabang-cabang lain yang berdekatan dan juga
harga-harga pasar hasil survey Kantor Wilayah.

Universitas Sumatera Utara

c.

Fungsi Harga Pasar :


1.

Sebagai pedoman penetapan taksiran marhun

2.

Sebagai dasar penetapan kualifikasi taksiran tinggi


atau rendah

3.

Sebagai dasar penetapan harga taksir ulang marhun


yang akan dilelang

4.

Sebagai dasar penetapan harga pembelian Marhun


Lelang Perusahaan (MLP) yang dicatat di Buku
Register Marhun Lelang Perusahaan (BRMLP
GS-37)

5.

Sebagai dasar penurunan harga jual MLP

4.2.0 Ketentuan Pelunasan Pinjaman Pegadaian Syariah Setia Budi


1. Umum
Pelunasan

pinjaman

adalah

suatu

kegiatan

dimana

rahin

menyelesaikan pinjamannya dalam masa akad dengan cara:


a.

membayar pokok pinjaman di Kantor Cabang Pegadaaian Syariah


tempat rahin melakukan transaksi

b.

bersamaan dengan pelunasan pokok pinjaman, marhun yang


dikuasai oleh Pegadaian dikembalikan kepada rahin dengan
membayar ijaroh sesuai dengan tarif yang telah ditetapkan

c.

pelunasan pinjaman dapat juga dilakukan dengan cara melelang


marhun apabila rahin tidak memenuhi kewajibannya pada tanggal
jatuh tempo. Hasil lelang marhun tersebut digunakan untuk

Universitas Sumatera Utara

melunasi pinjaman dan membayar ijaroh serta biaya-biaya yang


timbul atas lelang barang tersebut
d.

Apabila harga lelang dari marhun tersebut melebihi kewajiban


rahin, maka sisanya dikembalikan kepada rahin

e.

Apabila hasil lelang marhun tersebut tidak mencukupi pokok


pinjaman dan ijaroh serta biaya lelang barang, maka kekurangannya
tetap menjadi kewajiban rahin. Tetapi apabila ternyata rahin tidak
mampu memenuhi tambahan kewajiban tersebut, maka pelunasan
pinjaman diselesaikan menurut sebab terjadinya masalah tersebut.
Untuk masalah yang diakibatkan oleh kejadian bersifat force
majeur, bisa diproses untuk menjadi kerugian perusahaan setelah
mendapat keputusan dari Direksi. Sedang untuk masalah akibat
kelalaian

petugas/tindakan

sengaja

supaya

diproses

penyelesaiaannya menurut ketentuan yang berlaku.


f.

Apabila rahin tidak tersedia cukup uang, dapat mengansur sebagian


pinjaman dengan tetap membayar ijaroh menurut lamanya pinjaman
dilakukan. Mekanisme pelayanan untuk angsuran pinjaman ini akan
diatur pada bab berikutnya.

2. Tarif Ijaroh
Dalam akad rahn, rahin berkewajiban untuk membayar pokok
pinjaman sesuai dengan jumlah pinjaman yang tercantum dalam akad.
Bersamaan dengan dilunasinya pinjaman marhun diserahkan kepada
rahin. Atas penyimpanan marhun ini Cabang Pegadaian Syariah sebagai

Universitas Sumatera Utara

Muajjir (yang menyewakan tempat) memungut biaya pengelolaan


marhun yang disebut ijaroh. Jasa pengelolaan marhun ini dipungut untuk
sewa tempat, pengamanan dan pemeliharaan marhun milik rahin selama
digadaikan. Besarnya ijaroh yang dipungut tergantung dari nilai taksiran
marhun dan lamanya barang yang disimpan ata lamanya pinjaman.
Perhitungan ijaroh dilakukan dengan rumus:

NxTxW
Dimana :
N

= Nilai Taksiran Marhun

= Tarif Ijaroh

= Jangka Waktu Penyimpanan Marhun

Besarnya minimal angka taksiran, besaran tarif dan koefisien waktu


ditentukan berdasarkan SE tersendiri.
Tabel 4.4
Tarif Ijaroh
Gol.

Taksiran
Emas,Elektronik,
Kenderaan

Emas

Elektronik

Kenderaa
n

Jangka
waktu

A
B
C
D

95%
92%
92%
93%

45
71
71
62

45
72
72
65

45
73
73
70

4 bulan
4 bulan
4 bulan
4 bulan

3. Diskon
Untuk memberikan kompensasi kepada rahin yang hanya
mengambil sebagian manfaat dari nilai barang, misal hanya mengajukan
pinjaman jauh dibawah plafon marhun bih (UP Permintaan) atau
mengansur pinjaman (Nyicil), diberlakukan sistem pemberian bonus

Universitas Sumatera Utara

berupa diskon dari nilai ijaroh. Pemberian diskon ini didasarkan pada
pertimbangan bahwa rahin yang tidak mengambil penuh, akan
mengurangi resiko yang dihadapi Pegadaian. Sehingga rahin tidak perlu
membayar penuh kewajiban ijarohnya. Besarnya diskon ijaroh ini tidak
diperjanjikan dalam akad. Tetapi untuk memberikan petunjuk yang baku
sekaligus menghindari penyalahgunaan wewenang, maka tarif dan
prosedur pemberian diskon ijaroh diatur dalam SE tersendiri.
4. Jangka Waktu Pinjaman
- Jangka waktu pinjaman ditetapkan maksimum 120 hari kalender.
- Rahin dapat melunasi hutangnya sebelum tanggal jatuh tempo.
- Cara perhitungan jumlah hari yaitu sejak pinjaman gadai sampai
dengan tanggal melunasi pinjaman atau tanggal jatuh tempo.
- Untuk keperluan perhitungan tarif, jangka waktu pinjaman ini
dihitung dengan menggunakan pendekatan satuan waktu terkecil.
Besarnya satuan waktu terkecil diatur dalam SE tersendiri.
Tabel 4.5
Jangka Waktu Pinjaman
Golongan
Marhun bih
Jangka waktu
A
Rp. 50.000 Rp. 500.000
4 bulan
B
Rp. 510.000 Rp. 5.000.000
4 bulan
C
Rp.
5100.000

4 bulan
Rp.20.000.000
D
Rp. 20.100.000
4 bulan
Sumber : Brosur Pegadaian Syariah Setia Budi Medan

Universitas Sumatera Utara

4.2.1 Struktur Organisasi Perum Pegadaian Syariah Cabang Setia Budi


Struktur organisasi merupakan gambaran dari susunan fungsi-fungsi
yang ada didalam organisasi. Bagian-bagian yang ada menunjukkan
pembagian tugas, kedudukan, wewenang, dan tanggung jawab dari masingmasing personil yang bersangkutan sehingga tercipta suatu kerja sama yang
baik yang mengarah kepada ketertiban sehingga organisasi tersebut dapat
mewujudkan tujuan yang ingin dicapai. Struktur organisasi Perum
Pegadaian Syariah Kantor Cabang Setia Budi Medan:
Gambar 4.1
STRUKTUR ORGANISASI CABANG SETIA BUDI MEDAN
Manajer Cabang
(Abdul Arief Fadillah)

Penaksir
(Rinaldi)

Pengelola Unit
(M.Rizki Septian)

Kasir
(Munawwarah)

Pengelola Unit
(..................)

Universitas Sumatera Utara

B. Analisis Hasil dan Pembahasan


4. 3 Statistik Deskriptif
4.3.1. Analisis Karakteristik Responden
Karakteristik responden yang dianalisis dalam penelitian antara
lain, umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan dan pendapatan
perbulan.
a. Umur
Berdasarkan umur responden terbagi dalam 6 kelompok
yaitu 17-25 tahun, 26-35 tahun, 36-45 tahun, 46-55 tahun, 56-65
tahun dan diatas 65 tahun. Data karakteristik responden
berdasarkan umur sebagai berikut:
Tabel 4.6
Karakteristik Responden berdasarkan Umur
Umur
Frekuensi
Persentasi (%)
17-25 Tahun
26-35 Tahun
36-45 Tahun
46-55 Tahun
56-65 Tahun
> 65 Tahun
Jumlah
Sumber : Data diolah (2012)

10
14
15
1
0
0
40

25
35
37,5
2,5
0
0
100

Dari tabel 4.6 dapat dilihat bahwa kelompok umur 17-25


tahun yang menjadi responden adalah sebanyak 10 orang (25%),
umur 26-35 tahun sebanyak 14 orang (35%), umur 36-45
sebanyak 15 orang (37,5%), umur 56-65 tahun dan diatas 65
tahun sebanyak 0 orang (0%).

Universitas Sumatera Utara

Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa


yang menjadi sampel untuk dijadikan sampel yang paling banyak
adalah masyarakat yang umurnya 26-35 tahun dan 36-45 tahun
sebanyak 14 dan 15 orang.
b. Jenis Kelamin
Berdasarkan jenis kelamin, maka responden yang diambil
adalah laki-laki dan perempuan. Dari hasil kuesioner yang
diperoleh data karakteristik responden

berdasarkan jenis

kelamin sebagai berikut:


Tabel 4.7
Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin
Frekuensi
Persentasi (%)
Laki-laki
13
32,5
Perempuan
27
67,5
Jumlah
40
100
Sumber : Data diolah (2012)
Dari tabel 4.7 dapat dilihat bahwa mayoritas responden
adalah berjenis kelamin Perempuan sebanyak 27 orang ( 67,5
%) dan selebihnya adalah berjenis kelamin Laki-laki sebanyak
13 orang ( 32,5%). Hal ini disebabkan oleh masyarakat yang
berjenis kelamin perempuan lebih banyak daripada masyarakat
berjenis laki-laki pada saat penelitian.
c. Tingkat Pendidikan
Berdasarkan

tingkat pendidikan, maka responden yang

diambil adalah SD, SMP, SMA, DIPLOMA dan Strata. Dari

Universitas Sumatera Utara

hasil kuesioner yang diperoleh data karakteristik responden


berdasarkan tingkat pendidikan sebagai berikut:
Tabel 4.8
Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Tingkat
Frekuensi
Persentasi (%)
Pendidikan
SD
1
2,5
SMP/Sederajat
1
2,5
SMA/Sederajat
13
32,5
Diploma
15
37,5
(D1,D2,D3)
Strata (S1,S2,S3)
10
25
Jumlah
40
100
Sumber : Data diolah (2012)
Dari tabel 4.8 diatas, dapat diketahui bahwa bahwa
kelompok tingkat pendidikan SD yang menjadi responden
adalah sebanyak 1 orang

(2,5%), SMP sebanyak 1 orang

(2,5%),SMA sebanyak 13 orang (32,5%), Diploma sebanyak


15orang (37,5%)dan Strata sebanyak 10 orang (25%).
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa
yang menjadi sampel untuk dijadikan responden paling banyak
adalah masyarakat dengan tingkat pendidikan Diploma dan
SMA. Hal ini disebabkan oleh masyarakat yang tingkat
pendidikan Diploma dan SMA lebih banyak dijumpai pada saat
penelitian.

d. Pekerjaan
Berdasarkan
adalah

pekerjaan, maka responden yang diambil

kelompok

yaitu

PNS,

Pegawai

Swasta,

Universitas Sumatera Utara

Mahasiswa/Pelajar, TNI/POLRI dan Lainnya Dari hasil


kuesioner

yang

diperoleh

data

karakteristik

responden

berdasarkan pekerjaan sebagai berikut:


Tabel 4.9
Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan
Pekerjaan
Frekuensi
Persentasi (%)
PNS
10
25
Pegawai Swasta
6
15
Wirausaha
9
22,5
Mahasiswa/Pelajar
10
25
TNI/POLRI
0
0
Lainnya
5
12,5
Jumlah
40
100
Sumber : Data diolah (2012)
Dari tabel 4.9 dapat dilihat bahwa kelompok pekerjaan PNS
sebanyak 10 orang (25%), Pegawai Swasta sebanyak 6 orang
(15%), Wirausaha sebanyak 9 orang (22,5), Mahasiswa
sebanyak 10 orang (25%) TNI 0 orang (0%) dan Lainnya
sebanyak 5 orang (12,5%).
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa pekerjaan PNS
dan Mahasiswa memiliki jumlah yang sama sebanyak 10
orang,dan pada pekerjaan lainnya sebanyak 5 orang diketahui
bahwa pada pekerjaan lainnya berprofesi sebagai ibu rumah
tangga pada saat penelitian.

Universitas Sumatera Utara

e. Pendapatan Perbulan
Berdasarkan pendapatan perbulan, maka responden yang
diambil sebanyak 5 kelompok adalah Rp. 500.000-Rp.
1.000.000, Rp. 1.000.000-Rp.2.000.000, Rp 2.000.000- Rp.
3.000.000, Rp 3.000.000- Rp. 4.000.000, dan > Rp. 4.000.000.
Tabel 5.0
Karakteristik Responden Berdasarkan Pendapatan Perbulan
Pendapatan Perbulan Frekuensi
Persentasi (%)
Rp. 500.000 Rp.
12
30
1.000.000
Rp. 1.000.000 Rp.
9
22,5
2.000.000
Rp. 2.000.000 Rp.
6
15
3.000.000
Rp. 3.000.000 Rp.
3
7,5
4.000.000
> Rp. 4.000.000
0
0
Jumlah
40
100
Sumber : Data diolah (2012)
Dari tabel 5.0 dapat dilihat bahwa kelompok pendapatan
perbulan Rp. 500.000-Rp. 1.000.000 sebanyak 12 orang (30%),
Rp. 1.000.000-Rp.

2.000.000 sebanyak 9 orang (22,5%), Rp.

2.000.000-Rp. 3000.000 sebanyak 6 orang (15%), Rp.


3.000.000- Rp. 4.000.000 sebanyak 3 orang (7,5%) dan > RP.
4.000.000 sebanyak 0 orang (0%).
Berdasarkan

tabel diatas diketahui bahwa pendapatan

perbulan responden yang paling banyak adalah Rp. 500.000 Rp. 1.000.000 sebanyak 12 orang (30%) yang lebih banyak
dijumpai pada saat penelitian.

Universitas Sumatera Utara

4.4 Pembahasan
4.4.1 Uji Validitas
Tabel 5.1
Item-Total Statistics
Scale Mean if

Scale Variance if Corrected Item-

Cronbach's Alpha

Item Deleted

Item Deleted

Total Correlation

if Item Deleted

VAR00001

23.2750

2.512

.396

.669

VAR00002

23.4500

2.305

.500

.635

VAR00003

23.5250

2.410

.393

.671

VAR00004

23.5250

2.410

.393

.671

VAR00005

23.4500

2.305

.500

.635

VAR00007

23.2750

2.512

.396

.669

Berdasarkan tabel 5.1

diperoleh

positif dan

, maka dapat disimpulkan bahwa seluruh pernyataan


diatas valid. Selanjutnya perlu dilakukan uji reliabilitas.

4.4.2 Uji Reliabilitas


Tabel 5.2
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha
.699

N of Items
6

Dari tabel 5.2 diatas, diperoleh nilai conbachs alpha (0,699)


lebih besar dari 0,6 dengan demikian data riliebel dan kuisioner
dapat dipercayakan dapat digunkan sebagai penelitian

Universitas Sumatera Utara

4.5. Hasil Metode Analisis Data


4.5.1 Deskripsi Penelitian
Variabel penelitian ini merupakan instrument pemilihan
nasabahPegadaian Syariah yang diteliti melalui persepsi,
promosi,harga taksiran barang dan prosedur pelelangan. Datadata dari variabel ini diungkap menggunakan kuesioner
sebanyak 6 pertanyaan dan 40 responden. Gambaran dari
masing-masing variabel nasabah tersebut dapat dilakukan
dengan analisis deskriptif persentase. Berikut ini disajikan hasil
analisis deskriptif persentase tiap variabel.

No
1.

Deskripsi Persepsi Masyarakat


Tabel 5.3
Persepsi Mayarakat
Kinerja
Atribut
Jumlah (orang)
Persentase (%)
Keinginan yang timbul dilaksanakannya pelelangan terhadap
barang jaminan di pegadaian syariah
Sangat Setuju
18
45

Setuju
12
Ragu-ragu
9
Tidak Setuju
1
Sangat Tidak
Setuju
Sumber: Data diolah (2012)

30
22,5
2,5
-

Dari pertanyaan yang terkait terhadap persepsi masyarakat dapat


ditarik kesimpulan :

Universitas Sumatera Utara

1. Dari pertanyaan diatas sebanyak 45% responden menjawab


sangat setuju, sebanyak 30% responden menjawab setuju
dan 22,5% menjawab ragu-ragu dan sebanyak 2,5%
menjawab tidak setuju. Kebanyakan responden menjawab
sangat setuju yaitu sebanyak 45%. Dari keterangan tersebut
dapat disimpulkan bahwa masyarakat tidak setuju dengan
diadakannya pelelangan barang.

No
2.

Deskripsi Promosi
Tabel 5.4
Promosi
Kinerja
Atribut
Jumlah (orang)
Persentase (%)
Pegadaian Syariah Mandiri melakukan iklan untuk
menyampaikan informasi kepada masyarakat
Sangat Setuju
2
5
Setuju
29
72,5
Ragu-ragu
6
15
Tidak Setuju
3
7,5
Sangat Tidak
Setuju
Pegawai Pegadaian Syariah melayani masyarakat dengan
ramah
Sangat Setuju
40
100

3.

Setuju
Ragu-ragu
Tidak Setuju
Sangat Tidak
Setuju
Sumber: Data diolah (2012)

Dari pertanyaan yang terkait terhadap promosi yang dilakukan


oleh pegadaian syariah dapat ditarik kesimpulan :
2

Dari pertanyaan No. 2 sebanyak 5% responden menjawab


sangat setuju, sebanyak 72,5% responden menjawab setuju
dan 15% menjawab ragu-ragu dan sebanyak 7,5%
menjawab tidak setuju. Kebanyakan responden menjawab

Universitas Sumatera Utara

setuju yaitu sebanyak 72,55%. Dari keterangan tersebut


dapat

disimpulkan bahwa masyarakat

setuju bahwa

Pegadaian Syariah melakukan iklan yang menarik kepada


nasabah sehingga nasabah menjadi tertarik dengan promosi
pegadaian syariah.
3

Dari pertanyaan No.3 sebanyak 100% responden menjawab


sangat setuju, dapat disimpulkan bahwa pegadaian syariah
telah melayani masyarakat dengan ramah dan pelayanan ini
perlu dipertahankan oleh pegadaian syariah.

No
4.

Deskripsi Harga Taksiran Barang


Tabel 5.5
Harga Taksiran Barang
Kinerja
Atribut
Jumlah
Persentase (%)
(orang)
Harga taksiran barang sesuai dengan golongan barang
jaminan.
Sangat Setuju
3
7,5

Setuju
Ragu-ragu
Tidak Setuju
Sangat Tidak
Setuju
Sumber: Data diolah (2012)
4

19
9
9
-

47,5
22,5
22,5
-

Dari pertanyaan No. 4 sebanyak 7,5% responden menjawab


sangat setuju, sebanyak 47,5% responden menjawab setuju
dan 22,5% menjawab ragu-ragu dan sebanyak 22,5%
menjawab tidak setuju. Kebanyakan responden menjawab
ragu-ragu dan tidak setuju yang memiliki nilai sama yaitu
sebanyak

22,5%.

Dari

keterangan

tersebut

dapat

Universitas Sumatera Utara

disimpulkan bahwa masyarakat ragu-ragu dan tidak setuju


bahwa harga taksiran sesuai dengan golongan barang
jaminan.

No
5.

Deskripsi Prosedur Pelelangan Barang


Tabel 5.6
Prosedur Pelelangan Barang Jaminan
Kinerja
Atribut
Jumlah (orang)
Persentase (%)
Adanya bunga 2,5% pada barang lelang
Sangat Setuju

Setuju
21
52,5
Ragu-ragu
3
7,5
Tidak Setuju
14
35
Sangat
Tidak
Setuju
Waktu pelaksanaan lelang pada tanggal 28 setiap bulannya.
Sangat Setuju
13
32,5

Setuju
Ragu-ragu
Tidak Setuju
Sangat
Tidak
Setuju
Sumber: Data diolah (2012)

23
2
2
-

57,5
5
5
-

5. Dari pertanyaan No. 5 sebanyak 5% responden menjawab


sangat setuju, sebanyak 52,5%

responden menjawab setuju,

7,55% menjawab ragu-ragu dan sebanyak 35% menjawab tidak


setuju. Kebanyakan responden menjawab setuju yaitu sebanyak
52,5%. Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa
masyarakat setuju bahwaadanya bunga 2,5% pada barang
lelang..
6. Dari pertanyaan No.6 sebanyak 32,5% responden menjawab
sangat setuju, 57,5% responden menjawab setuju, 5% responden

Universitas Sumatera Utara

menjawab ragu-ragu dan tidak setuju dapat disimpulkan bahwa


nasabah setuju waktu pelaksanaan

lelang

pada tanggal 28

setiap bulannya dan tepat pada waktunya.


4.5.2 Prosedur Lelang di Pegadaian Syariah Cabang Setia Budi, Medan
Sebelum lelang dilaksanakan nasabah diberikan kesempatan waktu
kurang lebih 10 hari setelah tanggal jatuh tempo untuk melunasi atau
memperpanjang kredit atau mebayar sewa modal. Hal ini dilakukan
oleh Pegadaian Syariah Cabang Setia Budi, Medan agar nasabah masih
mempunyai kesempatan untuk memiliki kembali barang jaminannya,
apabila setelah melewati waktu 10 hari maka Pegadaian Setia Budi,
Medan akan melelang barang jaminan tersebut, sedangkan pelaksanaan
prosedur lelang yang digunakan di Perum Pegadaian Syariah Cabang
Setia Budi adalah sebagai berikut:
Tabel 5.7
Prosedur Lelang Marhun Secara Syariah
No.

Pelaksana

Langkah

Aktivitas

1.

Panitia Lelang

1.

Menyiapkan berita acara Penyerahan Marhun


Yang Akan Dilelang (BAPMAL GS-26)
dengan dilampiri Daftar Marhun Yang Akan
Dilelang (DMAL GS-27), marhun yang akan
dilelang, SBR dwilipat Marhun yang akan
dilelang keperluan menaksir (batu uji, air uji,
timbangan, alat uji berlian dan loupe),
kalkulator, Daftar Rincian Lelang Marhun
(DRLM GS-30).
Cocokkan keadaan fisik marhun yang akan
dilelang dengan pembukuannya.
Menetapkan harga dan nilai lelang.
Setelah pelaksanaan lelang dibuat Berita
Acara Lelang Marhun (BALM GS- 28) dan
menyerahkan kepada kasir bersama uang

2.
3.
4.

Universitas Sumatera Utara

2.

Kasir Cabang

5.
6.

7.
3.

Bagian
Administrasi
Cabang

8.

9.

10.
11.

12.

13.
14.
Sumber: Pedoman Operasional
VI.B.3.

pendapatan Lelang.
Menerima BALM dan uang hasil Lelang dari
panitia lelang.
Atas dasar BALM dan uang tunai yang
diterima dicatat pada Laporan Harian Kas
(LHK) dan uang disimpan di brankas. BALM
diserahkan
kepada
petugas
bagian
administrasi cabang.
Menerima uang tunai dari hasil penjualan
Marhun Lelang Perusahaan (MLP).
Menerima BALM dan Kasir Cabang dan
SBR lelang dari panitia lelang serta Marhun
Lelang Perusahaan.
Mencatat nomor-nomor Marhun yang akan
dilelang dari buku Pinjaman (BP GS-03).
Berdasarkan BALM tersebut dibuat Kas
Debet dan dicatat dalam buku kas.
Berdasarkan BALM tersebut dibuat Kas
Debet dan dicatat dalam buku kas.
Sedang berdasarkan SBR dwilipat lelang
yang diterima dari panitia lelang dibuat Buku
Lelang Marhun (BLM GS-35)
Mencatat nomor-nomor yang tidak laku
dilelang, dan membuat Buku Register
Marhun Lelang Perusahaan (BRMLP GS-3
7) ..
Melakukan administrasi pembelian MLP
Melakukan administrasi penjualan MLP
Gadai Syariah Cabang Setia Budi, Medan hal:

Tabel 5.8
Daftar Penjualan Lelang
Tanggal Lelang : 28-08-2012
Harga Dasar Lelang Emas : Rp. 0
No.

Hutang
Nasabah
Total
UP+SM
548.800

Pend
Lelang

Bea
Dana
Lelang
Sosial
Pembeli

559.900
5.544
1.
Total
548.800
559.900
5.544
Gol
B
12.413.600 12.664.400 125.390
2.
1.517.400 2.000.000 19.802
3.

Nilai Jual
Lelang

Bea
Lelang
Jual

Uang
kelebihan

548.812

5.544

12

548.812

5.544

12

12.413.620 125.390
1.960.396 19.802

20
442.996

Universitas Sumatera Utara

831.600
868.000
8.594
850.812
8.594
4.
829.700
846.500
8.381
829.738
8.381
5.
7.397.800 7.547.300 74.726
7.397.848 74.726
6.
1.111.500 1.163.500 11.520
1.140.460 11.520
7.
2.538.900 2.590.200 25.646
2.538.908 25.646
8.
775.600
791.300
7.385
775.630
7.835
9.
1.325.700 1.362.500 13.391
1.325.718 13.391
10.
661.700
675.100
6.684
661.732
6.684
11.
Total
29.894.862 301.969
Gol 29.403.500 30.498.800 301.969
C
Sumber: Brosur Pegadaian Syariah Cabang Setia Budi, Medan

19.212
38
48
28.960
8
30
18
32
491.362

Dilihat dari hasil daftar penjualan lelang, dapat dianalisis bahwa


dalam penjualan Golongan B sebanyak 1 potong barang memperoleh
pendapatan lelang sebesar Rp.559.900 kemudian dari hasil penjualan lelang
akan dikenakan Bea Lelang Pembeli dan Bea Lelang Penjual yang sama
sebesar 2,3%. Setelah dikenakan Bea Lelang Pembeli dan Bea Lelang
Penjual. Maka nilai jual lelang masih terdapat uang kelebihan nasabah yang
jumlah uang pinjaman sebesar Rp. 548.800 sisanya akan dikembalikan
kepada nasabah sebesar Rp. 12 yang menjadi hak milik nasabah.
Pendapatan lelang barang jaminan yang diperoleh Golongan C
sebanyak 10 potong barang yang menandakan bahwa nasabah Golongan C
tidak dapat melunasi pinjamannya. Dari total pendapatan Golongan C
sebesar Rp. 30.498.800. dan Golongan B sebesar Rp. 559.900 dapat kita
lihat bahwa adanya perbedaan yang cukup tinggi antara Golongan B dan
Golongan C., hal ini dikarenakan tingginya jumlah uang pinjaman golongan
C sebesar Rp. 29.403.500. padahal pengenaan Bea Lelang Pembeli sebesar
2,3% dan Bea Lelang Penjual sebesar 2,3% sama dengan pengenaan biaya
untuk Golongan B. Nilai jual lelang Golongan C sebesar Rp. 29.894.862

Universitas Sumatera Utara

sehingga dari jumlah pinjaman dikurangi dengan total pendapatan lelang


dapat kita ketahui uang kelebihan yang harus dikembalikan kepada nasabah
sebesar Rp. 491.362 yang menjadi hak milik nasabah.
Pelaksanaan penjualan lelang barang jaminan di Perum Pegadaian
Cabang Setia Budi Medan yang tingkat penjualan barang tertinggi adalah
Golongan C sebsar Rp. 30.498.800 yang transaksinya lebih banyak dari
Golongan B,

sedangkan Bea Lelang Penjual dan Bea Lelang Pembeli

Golongan C sama dengan pengenaan Bea Lelang Penjual dan Bea Lelang
Pembeli Golongan B sebesar 2,3%.
Pengenaan Bea Lelang yang sama antara Golongan B dan Golongan
C, dengan adanya perbedaan jumlah pendapatan lelang ternyata dibedakan
dari penggolongan

hutang

nasabah

yang

digolongkan

dari uang

peminjaman, mulai dari Golongan B sebesar Rp. 510.000 s/d sebesar Rp.
5.000.000 dan Golongan C sebesar Rp. 5.100.000 s/d Rp. 20.000.000
adanya penggolongan tersebut dan pengenaan sewa modal untuk Golongan
B dan Golongan C yang sama sebesar 2,3%. Hal ini menjadikan perbedaan
jumlah pendapatan lelang pada Golongan B dan Golongan C.

Universitas Sumatera Utara

BAB V
PENUTUP
5.1

Kesimpulan
Dari penelitian dengan judul Persepsi Masyarakat Proses Lelang
Barang Jaminan di PT. Pegadaian Syariah Cabang Setai Budi, Medan
dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.

Lelang Syariah adalah proses penjualan marhun sebagaimana


dijelaskan dalam surat edaran tersebut dimana pelaksanaannya
disamping melalui proses lelang seperti yang dilakukan pada
operasional Cabang Perum Pegadaian Biasa (CPP), juga harus dapat
dipertanggungjawabkan secara syariat Islam yaitu bebas dari unsur
gharar, maisir, riba dan bathil.

2.

Masyarakat yang menjadi nasabah di pegadaian syariah setuju


dengan adanya pelelangan barang jaminan dan nasabah

setuju

dengan pelayanan yang baik dari pegawai pegadaian syariah


3.

Proses pelelangan barang jaminan di PT.Pegadaian Syariah Cabang


Setia Budi, Medan pada praktiknya menerapkan sistem penjualan.
Dalam pelaksanaannya Marhun yang telah jatuh tempo tidak dapat
ditebus oleh Rahin apabila Rahin tidak membayar atau menebus
Marhun setelah melewati 10 hari batas pembayaran yang telah

Universitas Sumatera Utara

ditentukan oleh pihak Murtahin (pegadaian syariah setia budi,


medan) dan Marhun akan dijual oleh pihak Murtahin melalui Proses
Lelang. Dalam hal ini yang menjadi pelaksana lelang adalah pihak
pegadaian dan yang menjadi pembeli adalah peserta lelang. Dalam
pelaksanaan proses lelang barang jaminan mempunyai hasil dari
pendapatan lelang penjualan Golongan B sebanyak 1 potong barang
memperoleh pendapatan lelang sebesar Rp.559.900, dan pendapatan
lelang penjualan Golongan C sebanyak 10 potong barang
memperoleh pendapatan lelang sebesar Rp.30.498.800, Total dari
Golongan B dan Golongan C sebesar Rp. 31.058.700. biaya lelang
ini terdiri dari Bea Lelang Pembeli sebesar 2,3 %, Bea Lelang
Penjual sebesar 2,3 %. Apabila ada uang kelebihan dari hasil
penjualan marhun, maka pihak murtahin akan mengembalikan uang
kelebihan tersebut kepada rahin dan akan menjadi hak milik rahin.
5.2

Saran
1. Diharapkan kepada pihak Pegadaian Syariah Cabang Setia Budi, Medan
agar tetap mempertahankan sistem kinerja operasional yang telah
berjalan lancar dan telah sesuai dengan ketentuan.
2. Diharapkan kepada pihak Pegadaian Syariah Cabang Setia Budi, Medan
agar mengdakan sosialisasi tentang proses lelang kepada masyarakat,
dengan memberikan pengertian kepada masyarakat awam tentang lelang
barang jaminan di pegadaian syariah.

Universitas Sumatera Utara