Anda di halaman 1dari 98

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

DAERAH GORONTALO
RESOR GORONTALO

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR


DI BIDANG PENYIDIKAN
PADA SAT RESKRIM POLRES GORONTALO
I.

PENDAHULUAN
1.

Latar Belakang
a.

Dalam menjalankan tugas dan wewenang penyidikan, setiap penyidik


dituntut untuk mengetahui dan mengerti langkah-langkah yang
diperlukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

b.

Untuk menjabarkan peraturan perundang-undangan ke dalam langkahlangkah penyidikan agar diperoleh keseragaman dan ketepatan
bertindak, diperlukan suatu acuan/pedoman, sehingga diperoleh
kesamaan persepsi;

c.

Dalam rangka menyamakan persepsi ke dalam pola tindak yang


benar,

maka

dibuatlah

Standar Operasional Prosedur (SOP) guna

dijadikan pedoman bagi seluruh penyidik dalam menjalankan kegiatan


penyidikan.
2.

Dasar
a.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1981 tentang


Hukum Acara Pidana (KUHAP);

b.

Undang-undang Republik Indonesa Nomor 2 Tahun 2002 tentang


Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri);

c.

Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 12


Tahun 2009 tentang Pengawasan dan Pengendalian Penanganan
Perkara Pidana di Lingkungan Kepolisian Negara Republik Indonesia.

d.

Perkap Nomor 14 tahun 2009 tentang Managemen Penyidikan Tindak


Pidana

3.

Maksud dan Tujuan


a.

Maksud :
Pedoman ini dimaksudkan untuk memberikan
Penyidik

panduan

bagi

Satuan Reserse Kriminal dalam melakukan persiapan,

pelaksanaan, dan penyelesaian Berkas Perkara serta penyenggaraan


Administrasi Penyidikan yang mendukung pelaksanaan penyidikan
tindak pidana.
b.

Tujuan :
Tujuan dari pedoman ini adalah untuk menyatukan persepsi
diantara para

Penyidik Satuan Reserse Kriminal, agar diperoleh

kesatuan arah dalam rangka Penyidikan Tindak Pidana di lingkungan


Satuan Reskrim Polres Gorontalo.
4.

Ruang Lingkup
Standar Operasional Prosedur di bidang Penyidikan ini meliputi kegiatan
Perencanaan

dan

Penganggaran

Penyidikan,

Pelaksanaan

Penyidikan

(Pemanggilan, Pemeriksaan, Penangkapan, Penahanan, Penggeledahan, dan


Penyitaan), Penyelenggaraan Administrasi Penyidikan, Pemberkasan dan
Penyerahan Berkas Perkara serta Pengawasan dan Pengendalian Penyidikan
pada lingkungan Satuan Reskrim Polres Gorontalo.
II.

TUGAS POKOK
1.

Tugas Pokok Penyidik :


a.

Tugas Pokok Penyidik Sat. Reskrim adalah :


1)

Penyidik Sat. Reskrim bertugas menyelenggarakan penyelidikan,


penyidikan, dan pengawasan penyidikan tindak pidana umum,
termasuk fungsi identifikasi dan laboratorium forensik lapangan
serta bertugas menyelenggarakan penyelidikan dan penyidikan
2

tindak pidana khusus, koordinasi, pengawasan operasional, dan


administrasi penyidikan PPNS sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan;
2)

Dalam

melaksanakan

tugas

di

atas,

Penyidik

Sat.

Reskrim

menyelenggarakan fungsi :
a)

Penyelidikan dan penyidikan tindak pidana khusus, antara lain


tindak pidana ekonomi, korupsi, dan tindak pidana tertentu di
daerah hukum Polres Limboto ;

b)

Pembinaan pelaksanaan penyelidikan dan penyidikan tindak


pidana

umum,

identifikasi,

dan

laboratorium forensik

lapangan;
c)

Pelayanan dan perlindungan khusus kepada remaja, anak,


dan wanita, baik sebagai pelaku maupun korban sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

d)

Pengidentifikasian untuk kepentingan penyidikan dan pelayanan


umum;

e)

Pembinaan teknis, koordinasi, dan pengawasan operasional


serta administrasi penyidikan oleh PPNS;

f)

Penganalisasian

kasus

beserta

penanganannya,

serta

mempelajari dan mengkaji efektivitas pelaksanaan tugas Sat.


Reskrim;
g)

Pelaksanaan pengawasan penyidikan tindak pidana khusus dan


umum di lingkungan Polres dan ;

h)

Pengumpulan dan pengolahan data serta menyajikan informasi


dan dokumentasi program kegiatan Sat Reskrim.

III. VISI, MISI DAN TUGAS FUNGSI SAT. RESKRIM POLRES GORONTALO
1.

Visi :
Tergelarnya postur personil Sat Reskrim Polres Limboto yang dipercaya
masyarakat dalam memberikan

pelayanan di bidang penegakan hukum

secara proporsional, professional, transparan

dan

akuntabel melalui

kemitraan dengan masyarakat.


2.

Misi :
1)

Pemenuhan hak-hak dan meningkatkan kesejahteraan penyidik baik di


tingkat Sat Reskrim Polres Limboto maupun Unit Reskrim kewilayahan
demi terwujudnya penyelenggaraan pemerintah yang bersih;

2)

Melaksanakan kegiatan penyelidikan dan penyidikan dalam

rangka

penegakan hukum demi terwujudnya supremasi hukum;


3)

Menerapkan perpolisian masyarakat pada tugas-tugas penyidikan yang


berbasis pada masyarakat patuh hukum;

4)

Menjamin keberhasilan penaggulangan gangguan keamanan dalam


negeri

melalui

tugas-tugas

penyidikan

guna

meningkatkan

kepercayaan masyarakat terhadap Polri;


5)

Menegakkan

hukum

secara

profesional,

obyektif, proporsional,

transparan dan akuntabel melalui tugas-tugas

penyidikan

untuk

menjamin kepastian hukum dan rasa keadilan;


6)

Terbangunnya kerjasama dengan lembaga, Instansi dan masyarakat


melalui kemitraan dalam penegakan hukum;

7)

Terwujudnya sistem rekrutmen personil Sat Reskrim Polres Limboto


yang bersih, transparan dan bebas dari intervensi untuk mencegah
resiko masuknya personel Polri yang emosionalnya labil, tidak sabar,
malas, korup, kolusi dan sebagainya dalam rangka mewujudkan sosok
reserse yang profesional, bermoral dan mahir dalam melaksanakan
tugasnya;

8)

Terwujudnya sarana operasional yang mendukung tugas-tugas

Sat

Reskrim Polres Limboto maupun Unit Reskrim kewilayahan;


9)

Melakukan pengkajian dan penelitian dalam rangka meningkatkan dan


mengembangkan sumber daya serta sistem untuk mendukung tugastugas penyelidikan dan penyidikan;

10) Menyelenggarakan pembinaan dan penegakan terhadap

profesi

penyidik Sat Reskrim Polres Limboto dalam rangka mewujudkan sosok


penyidik yang profesional dan mahir dalam melaksanakan tugas;
4

11) Menyelenggarakan dukungan tehnologi Kepolisian di bidang Reskrim


sesuai sumber daya yang ada untuk kepentingan tugas Kepolisian;
12) Melakukan pengkajian, penelitian dan

pengembangan terhadap

pembangunan sistem dan metode yang berlaku di lingkungan Satuan


Reserse Kriminal Polres Limboto.

IV. PELAKSANAAN
1.

Personel
a.

Penyidik Satuan Reserse Kriminal adalah personel Polri yang bertugas di


lingkungan Satuan Reserse Kriminal Polres Limboto dan Polsek yang
telah memiliki Surat Keputusan sebagai Penyidik;

b.

Penyidik

adalah

pejabat

Kepolisian

Negara

Republik

Indonesia

berpangkat IPDA sampai dengan Komisaris Besar Polisi yang berada di


lingkungan Satuan Reskrim yang diberi wewenang khusus oleh undangundang untuk melakukan penyidikan sebagaimana diatur oleh UU No. 8
Tahun 1981 tentang KUHAP;
c.

Penyidik

Pembantu

adalah

pejabat

Kepolisian

Negara Republik

Indonesia yang karena diberi wewenang tertentu dapat

melakukan

tugas penyidikan sebagaimana diatur oleh UU No. 8 Tahun 1981


tentang KUHAP;
d.

Atasan Penyidik adalah penyidik yang berwenang menerbitkan Surat


Perintah

Tugas, Surat Perintah Penyelidikan, dan Surat

Penyidikan di daerah hukum Atasan Penyidik sesuai

Perintah
peraturan

perundang-undangan yang berlaku;


e.

Petugas Lainnya adalah personel yang bertugas dan/atau bekerja di


lingkungan Polres Limboto dan atau setidak-tidaknya di lingkungan
Satuan Reskrim serta diberikan tugas oleh Penyidik Sat. Reskrim untuk
membantu atau mendukung pelaksanaan tugas-tugas penyidikan,
seperti pembuatan administrasi
Perkara dan sejenisnya.

2.

Sarana-Prasarana yang Digunakan


5

penyidikan,

penyusunan

Berkas

a.

Sarana dan Prasarana yang digunakan untuk kepentingan penyidikan


adalah yang tersedia di lingkungan Satuan Reskrim;

b.

Sarana dan Prasarana

lain

yang

menunjang

untuk

kepentingan

penyidikan yang digunakan apabila telah mendapat persetujuan dari


Atasan Penyidik.
3.

Urutan Tindakan
a.

Tindakan penyidikan mempedomani UU No. 8 Tahun 1981

tentang

KUHAP, Peraturan Kapolri No. 12 Tahun 2009 tentang Pengawasan dan


Pengendalian Penanganan Perkara Pidana di

Lingkungan Kepolisian

Negara Republik Indonesia;


b.

Urut-urutan tindakan penyidikan sebagai berikut :


1)

Membuat tata naskah (takah) yang terdiri dari :


a)

Laporan Polisi;

b)

Laporan Hasil Penyelidikan (LHP) apabila didahului dengan


penyelidikan;

2)

c)

Surat Perintah Penyidikan;

d)

Surat Perintah Tugas

e)

Rencana Penyidikan;

f)

Rencana Kebutuhan Anggaran Penyidikan;

g)

Gambar Skema Pokok Perkara; dan

h)

Matrik untuk Daftar Kronologis Penindakan.

Menyusun rencana penyidikan dan penganggaran penyidikan,


meliputi :

3)

a)

Rencana Kegiatan;

b)

Rencana Kebutuhan Anggaran Penyidikan;

c)

Target pencapaian kegiatan;

d)

Skala prioritas penindakan; dan

e)

Target penyelesaian perkara.

Melakukan upaya hukum dalam rangkaian kegiatan penyidikan,


meliputi :
a)

Pemanggilan saksi-saksi;

b)

Pemeriksaan saksi-saksi;

c)

Penyitaan barang bukti;

d)

Pemanggilan tersangka;

e)

Penangkapan tersangka (jika diperlukan);

f)

Pemeriksaan tersangka;

g)

Menawarkan bantuan Penasihat Hukum terhadap Tersangka


yang tidak mampu, yang ancaman hukumannya diatas 4
tahun

h)

Penggeledahan (jika diperlukan) dan ditindaklanjuti dengan


penyitaan (jika ditemukan barang bukti baru);

4)

i)

Penahanan tersangka (jika diperlukan); dan

j)

Pemeriksaan Ahli (jika diperlukan).

Menyelenggarakan

Administrasi

Penyidikan

dengan

kegiatan

meliputi :
a)

Membuat Surat Perintah Penyidikan;

b)

Membuat Surat Perintah Tugas;

c)

Membuat

Surat

Pemberitahuan

Dimulainya

Penyidikan

(SPDP);
d)

Membuat Surat Perintah Penyitaan;

e)

Mengajukan Ijin Penyitaan ke Pengadilan Negeri setempat;

f)

Membuat Berita Acara Penyitaan;

g)

Membuat Surat Tanda Terima Penyitaan

h)

Mengajukan Surat Persetujuan Penyitaan ke Pengadilan


Negeri setempat (jika penyitaan yang dilakukan mendahului
permintaan ijin sita atau dalam keadaan mendesak);

i)

Membuat Surat Perintah Penggeledahan (jika diperlukan);

j)

Membuat Berita Acara Penggeledahan;

k)

Mengajukan Surat Ijin Penggeledahan Rumah dan/atau


tempat tertutup lainnya ke Pengadilan Negeri Setempat;

l)

Mengajukan Surat Pemberitahuan Penggeledahan Rumah


dan/atau Tempat tertutup lainnya (apabila penggeledahan
dilakukan mendahului permintaan ijin geledah atau dalam
keadaan mendesak)

m)

Membuat Surat Panggilan;


7

n)

Membuat Surat Perintah Penangkapan (jika diperlukan);

o)

Membuat Berita Acara Penangkapan;

p)

Membuat

dan

menyampaikan Surat

Pemberitahuan

Penangkapan kepada Keluarga Tersangka;


q)

Membuat Surat Perintah Penahanan (jika diperlukan);

r)

Membuat Berita Acara Penahanan;

s)

Membuat dan menyampaikan Pemberitahuan Penahanan


disertai

Surat

Perintah

Penahanan

kepada

Keluarga

Tersangka;
t)

Mengajukan

Permintaan

Perpanjangan

Penahanan

ke

Kejaksaan Negeri setempat (jika masa penahanan penyidik


telah

berakhir

dan

masih

diperlukan

perpanjangan

penahanan);
u)

Membuat Berita Acara Perpanjangan Penahanan;

v)

Membuat dan menyampaikan pemberitahuan perpanjangan


penahanan disertai Surat Perpanjangan Penahanan dari
Kejaksaan Negeri setempat;

w)

Mengajukan

Permintaan

Perpanjangan

Penahanan

ke

Pengadilan Negeri setempat (jika masa penahanan yang


diberikan Kejaksaan Negeri telah berakhir dan masih
diperlukan perpanjangan penahanan);
x)

Membuat Berita Acara Perpanjangan Penahanan;

y)

Membuat dan menyampaikan pemberitahuan perpanjangan


penahanan

dengan

Perpanjangan

Penahanan

disertai

Surat

dari

Penetapan

Pengadilan Negeri

setempat;
z)

Membuat

dan

menyampaikan

Surat

Perpanjangan

Penahanan

berikut

Perpanjangan

Penahanan

dan

Pemberitahuan
Surat

Surat

Perintah
Penetapan

Perpanjangan Penahanannya setiap kali ada perpanjangan


penahanan
5)

Menyelenggarakan

kegiatan

penyidikan

dengan

urutan

kegiatan yang meliputi :


a)

Menganalisis perkara yang ditangani/disidik;

b)

Menyusun rencana penyidikan dan rencana kebutuhan


anggaran;

c)

Melakukan

kegiatan

penyidikan

dalam

bentuk

upaya

hukum;
d)

Menyampaikan Surat Pemberitahuan

Perkembangan Hasil

Penyidikan (SP2HP) Tahap Pertama, kepada :


(1)

Pelapor atau Korban atau Keluarga Pelapor/Korban


untuk perkara kriminal umum;

(2)

Tersangka atau keluarga tersangka untuk perkara


kriminal khusus yang tidak memiliki korban (victimless
crime).

e)

Melakukan Gelar Perkara untuk menentukan :


(1)

Tersangka, utamanya bagi penanganan / penyidikan


perkara tindak pidana khusus sebelum dikirimkannya
SPDP ; atau

(2)

Ditemukan dua atau lebih alat bukti yang cukup dan


bersesuaian, sehingga dapat diteruskan

kegiatan

penyidikannya atau tidak ditemukan dua alat bukti


yang cukup dan bersesuaian

sehingga

dapat

dihentikan penyidikannya.
(3)

Melibatkan Ahli untuk keterangan Ahli sebagai Alat


Bukti

f)

Melakukan upaya hukum lanjutan setelah

ditentukan

tersangkanya atau penghentian penyidikan apabila tidak


ditemukan alat bukti yang cukup;
g)

Menyampaikan Surat

Pemberitahuan Perkembangan Hasil

Penyidikan (SP2HP) Tahap Kedua, kepada :


(1)

Pelapor atau Korban atau Keluarga

Pelapor/Korban

untuk perkara kriminal umum;


(2)

Tersangka atau keluarga tersangka untuk perkara


kriminal khusus yang tidak memiliki korban (victimless
9

crime).
h)

Menyusun Berkas Perkara dan siap untuk dilimpahkan ke


Penuntut Umum;

i)

Memperbaiki Berkas Perkara apabila dinyatakan kurang


lengkap oleh Penuntut Umum dan mengirimkan kembali
Berkas Perkara yang telah diperbaiki kepada Penuntut
Umum;

j)

Menyerahkan Berkas Perkara beserta barang bukti dan


tersangkanya kepada Penuntut Umum;

k)

Menyampaikan Surat Pemberitahuan

Perkembangan Hasil

Penyidikan (SP2HP) Tahap Ketiga, kepada :


(1)

Pelapor atau Korban atau Keluarga Pelapor/Korban


untuk perkara kriminal umum;

(2)

Tersangka atau keluarga tersangka untuk perkara


kriminal khusus yang tidak memiliki korban (victimless
crime).

V.

KETENTUAN LARANGAN DAN KEWAJIBAN


a.

Larangan dalam Penyidikan


Penyidik Dilarang :
1)

Melakukan tindak kekerasan (penyiksaan fisik) dalam melaksanakan


penyidikan;

2)

Melakukan diskriminasi pelayanan dalam kegiatan penyidikan;

3)

Menerima dan/atau meminta imbalan sebelum, selama, dan/atau


setelah kegiatan penyidikan;

4)

Menyebarkan rasa takut kepada terperiksa baik dengan menggunakan


ancaman atau ancaman kekerasan atau dengan menunjukkan senjata
(api).

b.

Kewajiban Dalam Penyidikan :


1)

Memberikan pelayanan yang sama kepada semua orang (pihak) dalam


kegiatan penyidikan;

2)

Menjalankan kegiatan penyidikan sesuai dengan ketentuan peraturan


10

perundang-undangan yang berlaku;


3)

Penggunaan senjata (api) sesuai dengan Prosedur Tetap Kepala


Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor : Protap/1/X/2010
tentang Penanggulangan Anarki;

VI. PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN


a.

Pengawasan
Pengawasan terhadap kegiatan penyidikan dilakukan oleh :
1)

2)

Atasan Penyidik, yaitu :


a)

Kasat; dan/atau

b)

Kaur Bin Ops.

Pengawas Penyidik yang ditunjuk berdasarkan Surat

Perintah

Pengawasan Penyidik.
b.

Pengendalian
Pengendalian penyidikan dilakukan dalam bentuk :
1)

Tata Naskah (Takah) yang berisikan komunikasi tertulis

antara

penyidik dan Atasan Penyidik;


2)

Gelar Perkara yang dilakukan dengan melibatkan :


a)

Penyidik di lingkungan Sat. Reskrim;

b)

Penyidik dengan mengikutsertakan Pengawas Penyidik;

c)

Penyidik dengan mengikutsertakan Satuan lain yang dipimpin


oleh Kapolres atau Kasat Reskrim;

d)

Penyidik dengan mengikutsertakan institusi pengawasan di


lingkungan internal Polres Limboto.

VII. ADMINISTRASI
1.

Kelengkapan Administrasi
Segala administrasi adalah administrasi yang menunjang terselenggaranya
penyidikan, berupa :
a.

Administrasi Penyidikan yang diatur oleh UU No. 8 Tahun 1981


tentang KUHAP dan/atau yang diatur oleh perundang-undangan
lainnya; atau
11

b.

Administrasi Perkantoran yang menunjang kegiatan

penyidikan

sebagaimana diatur oleh Hukum Administrasi dan/atau Peraturan


Kapolri serta peraturan administrasi lainnya.
VIII. ANGGARAN
a. Anggaran penyidikan menyesuaikan dengan DIPA Polri untuk program
penyelidikan dan penyidikan yang disediakan bagi Polres Limboto ;
b. Anggaran yang digunakan untuk kepentingan penyidikan menyesuaikan
dengan kriteria tingkat kesulitan atas penyidikan yang ditentukan oleh
pejabat yang berwenang atau Atasan Penyidik;
c. Penggunaan

anggaran

dalam

kegiatan

penyidikan

sesuai

dengan

standar biaya khusus (SBK) penyidikan yang disahkan oleh Kapolri.

IX.

PENUTUP
1. Ketentuan Lain-Lain
a.

Batas waktu penyelesaian perkara ditentukan berdasarkan kriteria


tingkat kesulitan atas penyidikan :

b.

1)

Sangat sulit ;

2)

Sulit ;

3)

Sedang ; atau

4)

Mudah

Batas waktu penyelesaian perkara dihitung mulai diterbitkannya Surat


Perintah Penyidikan, meliputi :
1)

120 (seratus dua puluh) hari untuk penyidikan perkara sangat


sulit;

c.

2)

90 (sembilan puluh) hari untuk penyidikan perkara sulit;

3)

60 (enam puluh) hari untuk penyidikan perkara sedang; atau

4)

30 (tiga puluh) hari untuk penyidikan perkara mudah.

Penentuan kriteria tingkat kesulitan atas penyidikan dilakukan

oleh

pejabat yang berwenang atau Atasan Penyidik;


d.

Apabila penyidikan yang dilakukan tidak sesuai dengan kriteria tingkat


kesulitan di atas, maka penyidik mengajukan alasan tentang kesulitan

12

dan/atau

hambatan

Kemajuan kepada

yang

Atasan

dihadapi

Penyidik

dalam

(Kasat)

bentuk

untuk

Laporan

mendapatkan

persetujuan.
X.

KETENTUAN PENUTUP
a. Segala hal yang berkaitan dengan kegiatan penyidikan tetap mengacu pada
UU No. 8 Tahun 1981 tentang KUHAP dan/atau undang-undang tertentu
yang mengatur hukum acaranya sendiri;
b. Kegiatan

penyidikan

yang

dilakukan

oleh

Penyidik

Sat

Reskrim

mempedomani Perkap No. 12 Tahun 2009 tentang Pengawasan dan


Pengendalian Penanganan Perkara Pidana di Lingkungan Kepolisian Negara
Republik Indonesia;
c. Hal-hal yang belum ditentukan dan/atau diatur di dalam SOP

ini, maka

penyidik tetap mempedomani aturan hukum acara yang berlaku.


Limboto,

Januari 2014

An. KEPALA KEPOLISIAN RESOR LIMBOTO


KASAT RESKRIM

HERI RUSYAMAN, SIK


AJUN KOMISARIS POLISI NRP 78061316
KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
DAERAH GORONTALO
RESOR GORONTALO

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR


KINERJA PENYIDIK
PADA SAT RESKRIM POLRES GORONTALO

I.

Pendahuluan
1. Umum
13

a.

Tuntutan masyarakat terhadap kinerja penyidik Polri dalam proses


penyidikan suatu perkara, perspektif serta persepsi masyarakat yang
terus berkembang dalam melihat kinerja penyidik.

b.

Harapan

yang

begitu

besar

memproses

suatu

perkara

operasional

standar

untuk

terhadap

Polri

pidana,

membutuhkan

mempercepat

khususnya

dalam

prosedur

pencapaian

tingkat

kepuasan masyarakat yang diharapkan dan disesuaikan dengan tingkat


kemampuan organisasi.
2. Dasar
a.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab


Undang-Undang Hukum Acara Pidana.

b.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2002 tentang


Kepolisian Negara Republik Indonesia.

c.

Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 12 Tahun


2009 tentang Pengawasan dan Pengendalian Penanganan Perkara
Pidana di Lingkungan Kepolisian Negara Republik Indonesia.

d.

Perkap Nomor : 14 Tahun 2009 tetang Managemen Penyidikan Tindak


Pidana

3. Maksud dan Tujuan


a.

Maksud
Penulisan

Prosedur

Operasional

Standar

ini dimaksudkan untuk

menginventarisasi langkah-langkah penyidik sesuai prosedur yang


berlaku, dalam upaya meningkatkan kinerjanya.
b.

Tujuan
Penulisan Prosedur Operasional Standar ini bertujuan untuk :
1)

Memudahkan penyidik
penyidikan

yang

dalam mengikuti langkah-langkah proses

baku

sesuai

dengan

undang-undang dan

prosedur yang berlaku.


2)

Menjadi pedoman dalam

proses

penyidikan

pidana, termasuk memedomani KUHAP

suatu perkara

dan prosedur

baku

sebagaimana yang telah diatur dalam petunjuk teknis maupun


14

petunjuk operasional lainnya dari Kepala Kepolisian Republik


Indonesia.
4. Ruang Lingkup
Ruang lingkup Prosedur Operasional Standar ini meliputi langkahlangkah dalam proses penyidikan suatu perkara, mulai dari Laporan Polisi
diterima oleh penyidik/penyidik pembantu sampai dengan

dilimpahkannya

berkas perkara ke Jaksa Penuntut Umum hingga terbit P.21 atau sampai
dengan dihentikannya perkara tersebut dengan alasan sebagaimana yang
telah diatur dalam undang-undang.
II.

Prosedur Berpenampilan
Sebagai seorang penyidik/penyidik pembantu, melekat kewajiban padanya untuk
berpenampilan sebagai berikut :
1.

Berpakaian yang rapi, bersih serta berdasi sesuai ketentuan yang berlaku di
lingkungan Satuan Reskrim Polres Gorontalo (dilarang menggunakan celana
berbahan jeans).

2.

Rambut dipotong rapi dan bersih. Bagi penyidik/penyidik pembantu yang


berkumis agar merapikan kumisnya sehingga terlihat rapi

dan bersih

serta tidak berjenggot.


3.

Dilarang merokok ketika sedang melayani masyarakat yang datang ke


Satuan Reskrim Polres Gorontalo.

4.

Ruang

pelayanan

harus

rapi,

bersih

dan

nyaman

ketika

sedang

melayani masyarakat.
III. Prosedur Melayani Saksi Korban/Saksi Pelapor
Saksi Korban/Saksi Pelapor harus dilayani oleh penyidik/penyidik pembantu
sebagai berikut :
1.

Saksi korban / saksi pelapor sebaiknya langsung dimintai keterangannya


untuk mempercepat proses pengumpulan alat bukti, kecuali karena alasan
yang patut dan masuk akal saksi pelapor dapat menunda pemeriksaannya
oleh penyidik/penyidik pembantu.

2.

Paling lambat 30 menit sebelum pemeriksaan dilakukan terhadap saksi


15

korban/saksi pelapor, penyidik/penyidik pembantu telah siap


pelayanan pemeriksaan untuk

di

mencegah saksi korban/saksi

ruang
pelapor

menunggu berlama-lama.
3.

Penyidik/penyidik pembantu dilarang merokok serta makan dan minum di


hadapan saksi korban/saksi pelapor, serta wajib menunjukkan sikap empati
dan simpati.

4.

Penyidik/penyidik pembantu wajib mengikuti ketentuan KUHAP selama


melayani saksi korban/saksi pelapor serta tetap proporsional, transparan
dan akuntabel.

5.

Penyidik/penyidik pembantu wajib memberitahukan perkembangan hasil


penyidikan

kepada

pelapor

melalui

SP2HP

(Surat

Pemberitahuan

Perkembangan Hasil Penyidikan).


6.

Jika diperlukan, selama proses pemeriksaan saksi korban/saksi pelapor


dapat direkam dengan menggunakan handycam atau

alat perekam

gambar dan suara lainnya.

IV. Prosedur Melayani Saksi


Penyidik/penyidik pembantu wajib melayani saksi sebagai berikut :
1.

Penyidik/penyidik pembantu memeriksa saksi dengan terlebih dahulu


mengirimkan surat panggilan kepadanya sesuai ketentuan KUHAP.

2.

Paling lambat 30 menit sebelum pemeriksaan dilakukan terhadap saksi,


penyidik/penyidik pembantu telah siap di ruang pelayanan pemeriksaan
untuk mencegah saksi menunggu berlama-lama.

3.

Penyidik/penyidik pembantu dilarang merokok serta makan dan minum di


hadapan saksi.

4.

Penyidik dilarang menggunakan hand phone/alat komunikasi lainnya


selama melaksanakan pemeriksaan terhadap saksi.

5.

Berpenampilan rapi

dan bersih sesuai ketentuan yang berlaku di

lingkungan Satuan Reskrim Polres Gorontalo.


6.

Berperilaku santun, ramah namun tetap tegas dan humanis serta tidak
membentak-bentak atau menghardik saksi

16

selama

berjalannya proses

pemeriksaan. Tetap proporsional, transparan dan akuntabel.


7.

Penyidik/penyidik pembantu dalam melakukan pemeriksaan terhadap


saksi sudah membuat daftar pertanyaan terlebih dahulu

sehingga

pemeriksaan dapat dilaksanakan sesegera mungkin dan tidak melebihi dari


8 (delapan) jam.
8.

Jika memang diperlukan, selama proses pemeriksaan dapat


dengan

handycam/webcam

secara

proporsional

sesuai

direkam
kebutuhan

penyidikan.
9.

Setelah melakukan pemeriksaan terhadap saksi, penyidik menyampaikan


terima kasih dengan memberikan kartu nama penyidik kepada saksi agar
terjadi komunikasi dan transparansi terhadap perkara yang ditangani.

V.

Prosedur Melayani Ahli


Penyidik/penyidik

pembantu

wajib

melayani

ahli

yang

akan

dimintai

terlebih

dahulu

keterangannya sebagai berikut :


1.

Penyidik/penyidik pembantu memeriksa ahli dengan

mengirimkan surat panggilan kepadanya sesuai ketentuan KUHAP.


2.

Paling lambat 30 menit sebelum pemeriksaan dilakukan terhadap ahli,


penyidik/penyidik pembantu telah siap di ruang pelayanan pemeriksaan
untuk mencegah ahli menunggu berlama-lama.

3.

Penyidik/penyidik pembantu dilarang merokok serta makan dan minum di


hadapan ahli.

4.

Penyidik dilarang menggunakan hand phone/alat komunikasi

lainnya

selama melaksanakan pemeriksaan terhadap saksi.


5.

Berpenampilan rapi dan bersih sesuai ketentuan yang berlaku di lingkungan


Satuan Reskrim Polres Gorontalo.

6.

Berperilaku santun, ramah namun tetap tegas dan humanis serta tidak
membentak-bentak atau menghardik ahli selama berjalannya

proses

pemeriksaan. Tetap proporsional, transparan dan akuntabel.


7.

Jika memang diperlukan, proses pemeriksaan dapat direkam dengan


handycam/webcam secara proporsional sesuai kebutuhan penyidikan.

8.

Setelah melakukan pemeriksaan terhadap saksi, penyidik menyampaikan


terima kasih dengan memberikan kartu nama penyidik kepada saksi agar
17

terjadi komunikasi dan transparansi terhadap perkara yang ditangani.


VI. Prosedur Melayani Tersangka
Dalam melayani tersangka, penyidik/penyidik pembantu berkewajiban sebagai
berikut :
1.

Penyidik/penyidik pembantu memeriksa tersangka dengan terlebih dahulu


mengirimkan surat panggilan kepadanya sesuai ketentuan KUHAP, kecuali
tersangka yang tertangkap tangan atau tersangka yang ditangkap sesuai
dengan ketentuan KUHAP.

2.

Paling lambat 30 menit sebelum pemeriksaan dilakukan terhadap tersangka,


penyidik/penyidik pembantu telah siap di ruang

pelayanan pemeriksaan

untuk mencegah tersangka menunggu berlama-lama.


3.

Penyidik/penyidik pembantu dilarang merokok serta makan dan minum di


hadapan tersangka.

4.

Penyidik dilarang menggunakan hand phone/alat komunikasi

lainnya

selama melaksanakan pemeriksaan terhadap saksi.


5.

Berpenampilan rapi dan bersih sesuai ketentuan yang berlaku di lingkungan


Satuan Reskrim Polres Gorontalo.

6.

Berperilaku santun, ramah namun tetap tegas dan humanis serta tidak
membentak-bentak atau menghardik tersangka apalagi
kekerasan fisik dan intimidasi terhadap tersangka

melakukan

selama berjalannya

proses pemeriksaan. Tetap proporsional, transparan dan akuntabel.


7.

Penyidik/penyidik pembantu dalam melakukan pemeriksaan terhadap


Tersangka

sudah membuat daftar pertanyaan terlebih dahulu

sehingga

pemeriksaan dapat dilaksanakan sesegera mungkin dan tidak melebihi dari


8 (delapan) jam.
8.

Proses pemeriksaan sebaiknya direkam dengan handycam /webcam secara


proporsional sesuai kebutuhan penyidikan. Hal tersebut bertujuan untuk
menghindari upaya tersangka memungkiri / mengingkari keterangan / BAP
yang disampaikan kepada penyidik,

ketika

proses pemeriksaan pada

tingkat persidangan telah berjalan.


9.

Untuk tersangka yang melakukan tindak pidana dengan ancaman pidana


lebih dari 15 tahun, penyidik/penyidik pembantu wajib menunjuk penasehat
18

hukum untuk tersangka sebagaimana ketentuan dalam KUHAP.


VII. Kewajiban Penyidik/Penyidik Pembantu Sejak
Polisi

Seorang

penyidik/penyidik

pembantu

sejak

Menerima Laporan

menerima

Laporan

Polisi

berkewajiban untuk :
1.

Melakukan gelar perkara penentuan kriteria kasus.

2.

Melengkapi administrasi penyidikan termasuk mengisi blanko kontrol


perkara sesuai kriteria kasus.

3.

Membuat Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP)


dan dikirim ke pelapor sebagai bentuk transparansi dan kuntabilitas penyidik
terhadap kasus yang ditangani.

4.

Melakukan

proses

penyidikan

secara

professional,

proporsional,

procedural, transparan dan akuntabel atas kasus yang ditangani.


5.

Melakukan gelar perkara dalam setiap kesempatan ketika mengalami


hambatan dalam proses penyidikan.

6.

Melakukan gelar perkara dalam meningkatkan status seseorang dari saksi


menjadi tersangka.

7.

Melakukan gelar perkara dalam hal penyidik/penyidik pembantu akan


melakukan upaya paksa.

8.

Selalu berkoordinasi dengan Pengawas Penyidik dalam setiap kesempatan


untuk mempercepat proses penyelesaian perkara yang ditangani.

9.

Mengajukan anggaran penyidikan serta mempertanggung jawabkannya


melalui

pertanggungjawaban

keuangan

(Perwabku)

setelah

proses

penyidikan selesai.
VIII. Indikator Penyelesaian Perkara

Setiap perkara yang ditangani oleh penyidik/penyidik pembantu, wajib


untuk diselesaikan dengan indikator penyelesaian yaitu berkas dinyatakan
lengkap oleh Jaksa Penuntut Umum

dengan terbitnya

lembar

P.21

atau

perkara tersebut dihentikan dengan terbitnya Surat Pemberitahuan Penghentian

19

Penyidikan (SP3).

IX. Target Kinerja Bagi Setiap Penyidik/Penyidik Pembantu


Setiap

penyidik/penyidik

pembantu

dalam menangani

perkara yang

ditugaskan kepadanya, dibebani target penyelesaian sesuai dengan kriteria


perkara, untuk perkara mudah maksimal 30 hari, perkara sedang maksimal 60
hari, perkara sulit maksimal 90 hari, penyidikan sangat sulit maksimal 120 hari
dan selalu melaporkan perkembangannya.
X.

PENUTUP
Demikian Prosedur Operasional standar ini dibuat sebagai pedoman dan panduan
bagi penyidik/penyidik pembantu dalam melaksanakan penyidikan.
Limboto,

Januari

2014

An. KEPALA KEPOLISIAN RESOR LIMBOTO


KASAT RESKRIM

HERI RUSYAMAN, SIK


AJUN KOMISARIS POLISI NRP 78061316

20

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA


DAERAH GORONTALO
RESOR GORONTALO

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR


PEMANGGILAN
PADA SAT RESKRIM POLRES GORONTALO
A.

Pendahuluan
Guna menjamin pelaksanaan tugas penyelidikan yang benar, perlu disusun
standar operasional prosedur untuk dijadikan standar dalam

melaksanakan

upaya hukum pemanggilan.


Standar Operasional Prosedur ini merupakan pedoman bagi penyidik dalam
melaksanakn tugas pemanggilan yang harus dilaksanakan dalam proses
penyidikan.
B.

Tujuan
Tindakan hukum berupa pemanggilan merupakan rangkaian dari suatu
proses penyidikan guna memperoleh suatu keterangan baik terhadap saksi,
ahli maupun terhadap tersangka didalam proses penegakan hukum baik pada
tingkat penyidikan, penuntutan dan peradilan.
Standar

Operasional

Prosedur

ini

dibuat

bertujuan

guna menghindari

pelanggaran hukum baik pelanggaran HAM maupun pelanggaran

terhadap

hukum acara pidana serta menghindari kesalahan prosedur dalam proses


pemanggilan.
C.

Ruang Lingkup
Standar Operasional Prosedur pemanggilan memuat petunjuk tentang
tatacara dari mulai pemenuhan syarat formil, syarat materil pembuatan surat
panggilan, pengajuan atau penandatanganan surat panggilan pencatatan dalam
register surat panggilan, penyampaian surat panggilan, serta bagaimana orang
21

yang dipanggil apabila tidak memenuhi panggilan tersebut.


Standar Operasional Prosedur ini berlaku bagi penyidik Polri khususnya pada
lingkungan Penyidik Sat Reskrim Polres Limboto.
D.

Pengertian Pemanggilan
1.

Pemanggilan adalah tindakan penyidik untuk menghadirkan

saksi

tersangka guna didengar keterangannya sehubungan dengan tindak pidana


yang terjadi.
2.

Tenggang waktu yang wajar adalah antara tanggal, hari, diterimanya surat
panggilan dengan hari, tanggal orang yang di

panggil diharuskan

memenuhi panggilan harus ada tenggang waktu yang layak dan wajar
serta surat panggilan yang disampaikan selambat lambatnya tiga (3)
hari sebelum tanggal hadir yang ditentukan dalam surat panggilan.
3.

Alasan yang tidak patut dan wajar adalah seseorang yang

dipanggil

sebagai saksi/tersangka dimana dapat diyakinkan bahwa surat panggilan


tersebut tidak dapat hadir dengan menyampaikan

alasan

yang

tidak

sesuai dengan fakta yang ditemukan.


4.

Surat panggilan ke II adalah surat yang diterbitkan oleh penyidik dalam


menindak lanjuti surat panggilan pertama apabila yang dipanggil diyakini
telah menerima

panggilan

pertama

namun

yang

bersangkutan tidak

hadir dengan alasan-alasan yang patut dan wajar.


5.

Surat perintah membawa adalah surat perintah yang ditandatangani oleh


penyidik guna membawa saksi atau tersangka dikarenakan yang dipanggil
tidak dapat memenuhi surat panggilan baik panggilan kesatu dan kedua
tanpa alasan yang patut dan wajar.

6.

Ijin adalah permohonan atau pemberitahuan yang isampaikan oleh penyidik


kepada lembaga tinggi Negara atau instansi pemerintahan / lembaga lain,
guna memperoleh ijin yang diberikan kepada penyidik dalam rangka proses
pemanggilan.

E.

Petunjuk dan Koordinasi


1.

Membuat surat panggilan untuk saksi dan tersangka bukan lembaga tinggi
Negara dan pejabat pemerintahan.

22

a. Syarat formil :
1)

Pasal 1 butir 2, Pasal 7 ayat (1) huruf e, Pasal 112, Pasal 113,
Pasal 119, Pasal 120 KUHAP;

2)

Undang-undang No. 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara


Republik Indonesia.

3)

Undang-undang yang dipersangkakan

4)

Laporan Polisi

5)

Surat Perintah Tugas

6)

Surat Perintah Penyidikan

7)

Buku Register surat panggilan

8)

Agenda tanda terima surat panggilan

b. Langkah-langkah membuat surat panggilan :


1)

Surat Panggilan dibuat dengan jelas tentang ; dasar pemanggilan,


alasan, waktu pemanggilan, identitas
dipanggil, kapasitas

lengkap orang yang

yang dipanggil (saksi

atau tersangka),

perkara apa.
2)

Untuk waktu pemanggilan diberikan tenggang waktu yang wajar


(dengan memperhitungkan

diluar

kota /luar

negeri),

apabila

alamat tidak diketahui dicantumkan alamat terakhir yang ada


pada penyidik (berdasarkan hasil penyelidikan);
3)

Surat panggilan ditanda-tangani oleh Kasat Reskrim atau pejabat


yang berwenang/penyidik yang memanggil.

2.

Membuat surat panggilan untuk saksi dan tersangka untuk

Lembaga

Tinggi Negara dan Pejabat Pemerintah.


a. Syarat formil :
1)

Pasal 1 butir 2, Pasal 7 ayat (1) huruf e, Pasal 11, Pasal 112, Pasal
113, Pasal 119, Pasal 120 KUHAP;

2)

Pasal 66, 220, 289, 340, 391 Undang-undang Nomor 27 Tahun


2009 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD;

3)

Pasal 36 (1) Undang-undang Nomor 32 tahun 2004

tentang

Pemerintahan

dengan

Daerah

sebagaimana

telah

diubah

Peraturan Pemerintahan Pengganti Undang-undang Nomor


23

tahun 2005;
4)

Undang-undang Kekuasaan Kehakiman;

5)

Undang-undang No 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara


Republik Indonesia;

6)

Pasal 66 Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Notaris;

7)

Pasal 23 Peraturan Pemerintah Nomor 72 tahun 2005 tentang


Desa.

b. Langkah-langkah membuat surat panggilan saksi dan tersangka pejabat


Lembaga Tinggi Negara dan Pejabat Pemerintahan, Non Pemerintah
(Notaris).
1) Pemanggilan terhadap Pejabat-pejabat Negara, anggota-anggota
MPR / DPR / DPD / BPK / Mentri kabinet, Gubernur,

Bupati /

Walikota, Deputi Gubernur BI, sebelum dipanggil mengajukan surat


permohonan ijin kepada Presiden RI, pengajuan permohonan
kepada Kapolri melalui Kapolda diteruskan ke Kabareskrim.
2) Anggota DPRD/DPD tingkat I, sebelum dipanggil mengajukan surat
permohonan

izin

kepada

permohonan

kepada

Mentri Dalam

Kapolri

melalui

Negeri

Kapolda

pengajuan

diteruskan

ke

Kabareskrim.

3)

Anggota DPRD/DPD tingkat II Kabupaten/kota sebelum dipanggil


mengajukan surat permohonan izin kepada

Gubernur Kepala

Daerah melalui Kapolda.


4)

Untuk memanggil Lurah/Kepala Desa sebelum dipanggil penyidik


mengajukan surat permohonan izin kepada Bupati/Walikota.

5)

Untuk pemanggilan terhadap Ketua dan Majelis Hakim, sebelum


dipanggil mengajukan surat permohonan izin

kepada Ketua

Mahkamah Agung RI melalui Kabareskrim.


6)

Untuk

pemanggilan

Notaris,
24

sebelum

dipanggil

penyidik

mengajukan

surat

kepada

Majelis

Pengawas Daerah,

guna

mendapat persetujuan/ijin.
3.

Pengajuan Penandatanganan Surat Panggilan.


a.

Surat Panggilan diajukan

secara

berjenjang (diparaf oleh para

pejabat yang terkait) sampai dengan ditanda tangani oleh Kasat


Reskrim atau Pejabat yang berwenang dan oleh Penyidik yang
memanggil.
b.

Mencatat surat panggilan untuk saksi dan tersangka pada

register

surat panggilan serta mencatat dalam buku ekspedisi.


c.

Membuat surat guna mendapatkan ijin dalam rangka

pemanggilan

(saksi/tersangka) yang termasuk lingkup pejabat Lembaga Tinggi


Negara dan Pejabat Pemerintah, Non Pemerintah (Notaris).
d.

F.

Penyampaian surat panggilan ke satu/ ke dua untuk saksi dan


tersangka :

PENUTUP
Demikian Prosedur Operasional standar ini dibuat sebagai pedoman dan panduan
bagi penyidik/penyidik pembantu dalam melaksanakan penyidikan.
Limboto,

Januari 2014

An. KEPALA KEPOLISIAN RESOR LIMBOTO


KASAT RESKRIM

HERI RUSYAMAN, SIK


AJUN KOMISARIS POLISI NRP 78061316

25

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA


DAERAH GORONTALO
RESOR GORONTALO

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR


PENANGKAPAN
PADA SAT RESRIM POLRES GORONTALO
A.

Pendahuluan
Guna menjamin pelaksanaan tugas penyidikan yang benar, perlu disusun
standar operasional prosedur untuk dijadikan standar dalam melaksanakan
penangkapan terhadap tersangka. SOP ini merupakan pedoman bagi penyidik
dalam melaksanakan

tugas

penangkapan
26

yang

dilaksanakan

terhadap

tersangka.
Standar operasional ini merupakan panduan untuk menghindarkan
terhadap hal-hal yang kontra produktif yang dapat

menghalangi

penyidik
kelancaran

proses penyidikan. Dalam pelaksanaan upaya paksa melalui penangkapan ini,


ketentuan hukum acara

yang ada dalam KUHAP

maupun hukum

acara

Undang-Undang lainnya , menjadi dasar SOP ini sebagai otorisasi operasional


penyidik.
B.

Tujuan
Tindakan

penangkapan

adalah

suatu

tindakan

penyidik

berupa

pengekangan sementara waktu kebebasan tersangka atau terdakwa apabila


terdapat cukup bukti guna kepentingan penyidikan atau penuntutan dan atau
peradilan dalam hal atau menurut cara yang diatur dalam undang-undang.
Penangkapan merupakan rangkaian atau bagian dari

penyidikan,

untuk

mencegah tersangka menghilangkan barang bukti dan mencegah tersangka


melarikan diri.
Standar Operasional Prosedur Penangkapan ini dibuat sebagai standar atau
panduan bagi Penyidik dalam melakukan tindakan penangkapan terhadap
tersangka sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan adanya kesalahan
prosedur yang dapat mengakibatkan gugatan hukum atau hal-hal yang kontra
produktif saat pelaksanaan penyidikan.
Standar Operasional Prosedur Penangkapan dirancang untuk terciptanya
efektifitas dan efisiensi terhadap penyidikan dan koordinasi

baik dalam

lingkungan internal Polri (penyidik, atasan penyidik dan petugas penyimpan


barang bukti) maupun dalam lingkungan eksternal yang berwenang.
C.

Ruang Lingkup
Standar Operasional Prosedur Penangkapan ini

memuat

petunjuk dan

koordinasi meliputi syarat yang harus dipenuhi, langkah-langkah penangkapan


dalam

rangkaian

penyidikan, maupun tertangkap. Standar

Operasional

Prosedur Penangkapan ini dapat menjadi panduan bagi seluruh Penyidik Polri di
Wilayah Polres Limboto.
27

D.

Definisi
1.

Pengertian penangkapan dalam Standar Operasional Prosedur ini adalah


pengertian penangkapan dalam KUHAP;

2.

Pengertian tertangkap tangan

dalam

Standar Operasional Prosedur

ini

adalah pengertian tertangkap tangan dalam KUHAP;


E.

Petunjuk dan Koordinasi


Tindakan penangkapan merupakan rangkaian proses penyidikan perkara
yang termasuk dalam kategori upaya paksa penyidik. Dalam proses kegiatan
penangkapan, penyidik melakukan berdasarkan ketentuan hukum yang ada
di dalam KUHAP dan hukum acara lainnya.
Dalam pelaksanaan kegiatan penangkapan melibatkan penyidik / petugas
Kepolisian lainnya maupun pihak di luar institusi Kepolisian antara lain penyidik
pegawai negeri sipil, saksi, Kepala Desa / Kepala Lingkungan, Penyedia Jasa
Keuangan, Penyedia Barang dan Jasa lainnya, Pengadilan Negeri, pemilik
atau yang menguasai barang dan lain-lain.
Penangkapan dalam rangkaian kegiatan penyidikan
Syarat formal yang harus dipenuhi :
1)

Dalam Surat Perintah Penangkapan harus mencantumkan dasar


dilakukan penangkapan yaitu :
a)

Pasal 1 butir 2 KUHAP;

b)

Pasal 1 butir 20 KUHAP;

c)

Pasal 7 ayat (1) huruf d dan pasal 16 KUHAP;

d)

Pasal 17 KUHAP;

e)

Pasal 18 KUHAP;

f)

Pasal 19 KUHAP;

g)

UU RI No. 2 Tahun 2002

tentang Kepolisian Negara Republik

Indonesia;
h)

Undang-Undang

yang

dipersangkakan,

yang

sifatnya

LezSpecialist penyidik harus menyesuaikan dengan hukum acara


pada undang-undang tersebut. Contoh
28

yaitu Undang-Undang

Narkotika dan Teroris yang mengatur berbeda dalam hal masa


penahanan, serta Undang-Undang ITE yang mengatur berbeda
dalam hal mendapatkan penetapan penahanan dari pengadilan,
dan harus dilakukan dalam waktu 1x24 jam. Untuk hal ini maka
ijin penangkapan harus diminta kepada pihak Pengadilan
sebelum penangkapan dilakukan;

2)

i)

Undang-Undang lain yang terkait;

j)

Laporan Polisi;

k)

Surat Perintah Penyidikan;

l)

Surat Perintah Penggeledahan;

m)

Surat Perintah Penyitaan;

n)

Surat Perintah Tugas.

Penyidik membuat berita acara penangkapan dan surat pemberitahuan


penangkapan dan disampaikan kepada keluarga tersangka;

3)

Petugas yang melaksanakan penangkapan adalah penyidik

yang

mendapat perintah dalam Surat Perintah Penyidikan.


Syarat materiil yang harus dipenuhi :
Penangkapan dilakukan dengan mempertimbangkan persesuaian alat bukti,
hasil penyelidikan yang dianalisis dan menyimpulkan bahwa seseorang
adalah tersangkanya dan perlu dilakukan upaya paksa (penangkapan).
Langkah-langkah Penangkapan :
1)

Sebelum penangkapan dilakukan, penyidik wajib melakukan gelar


perkara

dan

melaporkan

kepada

atasan

Penyidik

kegiatan

penangkapan yang akan dilakukan;


2)

Penyidik sebelum melakukan penangkapan agar melakukan briefing


dan diskusi untuk membahas kegiatan penangkapan termasuk menilai
resiko yang mungkin berdasarkan informasi, dan mendapatkan cara
untuk meminimalisir resiko yang mungkin terjadi;

3)

Penyidik menunjukkan Surat Perintah Tugas dan Surat

Perintah

Penangkapan yang sudah disiapkan terlebih dahulu kepada orang yang

29

akan ditangkap atau orang yang mempunyai

hubungan dengan

tersangka atau pihak lain yang berada di TKP;


4)

Penyidik, sedapat mungkin berkoordinasi dengan pihak terkait


kepolisian setempat termasuk pejabat setingkat

RT/RW

baik
untuk

menyampaikan kegiatan penangkapan yang akan dilakukan;


5)

Penyidik wajib memberikan peringatan agar tersangka bekerja sama


untuk menyerahkan diri secara baik- baik;

6)

Penyidik setelah memberikan peringatan kepada tersangka untuk


bekerjasama namun tidak mendapat respon, maka langkah paksa
secara terukur dan melindungi penyidik untuk menangkap Tersangka
segera dilakukan. Upaya paksa yang dilakukan sifatnya melumpuhkan,
dan dapat ditingkatkan dengan melihat penilaian resiko berkembang
dilapangan;

7)

Penyidik melakukan identifikasi dan dokumentasi serta pemeriksaan


kesehatan terhadap tersangka yang ditangkap;

8)

Setelah dilakukan penangkapan, Penyidik membuat Berita


Penangkapan dan permohonan penetapan

penangkapan

Acara
dari

Pengadilan Negeri;
9)

Setelah tersangka ditangkap, pada kesempatan pertama


dilakukan

pemeriksaan dengan menggunakan

berita

segera
acara

pemeriksaan tersangka.
Terhadap penangkapan yang menemukan benda/barang bergerak maka
dapat langsung dilakukan penyitaan, sedangkan terhadap benda yang tidak
bergerak tidak dilakukan penyitaan, melainkan disegel/diblokir. Untuk
penangkapan yang dilanjutkan dengan penyitaan

bukti digital, hal ini

diatur dalam SOP khusus Subdit Fismondev. Demikian juga bahwa dalam
penyidikan cyber crime, metode penangkapan harus menghindarkan
tersangka dari perangkat IT yang digunakan untuk menjamin keaslian data
dan informasi yang didapatkan pada komputer dan menghindari terjadinya
kerusakan barang bukti.
Hal-hal khusus dalam Penangkapan Tersangka
1)

Setiap orang dapat yang menemukan tindak pidana dalam keadaan

30

tertangkap tangan, berhak menangkap tersangka,

untuk kemudian

segera melaporkan atau menyerahkan tersangka tersebut beserta


barang bukti yang ada kepada
juga, Anggota Polri atau

kesatuan Polri terdekat. Demikian

Penyidik yang menemukan tindak pidana

dapat melakukan penangkapan dan segara menyerahkan tersangka


dan barang bukti kepada Perwira siaga atau Ka SPK dan diteruskan
kepada Penyidik. Hal penting dalam hal ini adalah barang bukti dari
tindak pidana yang didapatkan tidak boleh tidak harus diserahkan
kepada Penyidik untuk disita;
2)

Penangkapan

atas

dasar

permintaan

melalui

Interpol

dengan

dilengkapi Surat permintaan penangkapan yang dikeluarkan


negara peminta harus dikoordinasikan dengan pihak

oleh

terkait untuk

kepastian hukum yang menjadi dasar otoritas penangkapan;


3)

Penangkapan terhadap tersangka yang keberadaannya diluar yuridiksi


Penyidik yang melakukan penyidikan, dapat dilakukan oleh penyidik
setempat dengan dilengkapi surat perintah

penangkapan

dengan

dasar surat perintah penangkapan yang diterbitkan oleh Penyidik


atau dasar surat DPO. Hal ini dapat juga dilakukan oleh penyidik
yang menangani dengan dibantu oleh penyidik setempat;
4)

Penangkapan terhadap pejabat dan penyelenggara negara

harus

mendapatkan ijin melalui permintaan yang diajukan oleh penyidik,


kepada Presiden untuk anggota DPR/MPR, DPD, BPK, Menteri,
Gubernur dan Deputy Gubernur BI, Gubernur, Bupati, dan Walikota.
Untuk anggota DPR tingkat provinsi harus seijin

Menteri Dalam

Negeri. Untuk anggota DPR setingkat kabupaten atas seijin Gubernur


Kepala Daerah. Untuk Ketua dan Majelis Hakim, permohonan kepada
Mahkamah Agung RI, melalui Kapolda yang akan ditujukan kepada
Kabareskrim dan diteruskan oleh Jaksa Agung.
F.

Penutup
Demikian Prosedur Operasional standar ini dibuat sebagai pedoman dan panduan
bagi penyidik/penyidik pembantu dalam melaksanakan penyidikan

31

F.

Penutup
Demikian Prosedur Operasional standar ini dibuat sebagai pedoman dan panduan
bagi penyidik/penyidik pembantu dalam melaksanakan penyidikan
Limboto,

Januari 2014

An. KEPALA KEPOLISIAN RESOR LIMBOTO


KASAT RESKRIM

HERI RUSYAMAN, SIK


AJUN KOMISARIS POLISI NRP 78061316

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA


DAERAH GORONTALO
RESOR GORONTALO

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR


32

PENAHANAN
PADA SAT RESRIM POLRES GORONTALO
A.

Pendahuluan
Guna menjamin pelaksanaan tugas penyidikan yang benar, perlu disusun
standar operasional prosedur untuk dijadikan standar dalam melaksanakan
penahanan. SOP ini merupakan pedoman bagi penyidik dalam melaksanakan
tugas yang wajib dilaksanakan.

B.

Tujuan
Tindakan penahanan merupakan rangkaian atau bagian dari penyidikan.
Penahanan dilakukan dengan mempertimbangkan alasan obyektif dan alasan
subyektif, alasan obyektif adalah penahanan dilakukan terhadap tersangka yang
melakukan tindak pidana yang diancam hukuman lebih dari 5 (lima) tahun sesuai
pasal 21 ayat (4) huruf a KUHAP atau terhadap pasal pengecualian yang diatur
dalam pasal 21 ayat (4) huruf b KUHAP, sedangkan alasan subyektif

adalah

adanya kekhawatiran tersangka melarikan diri, merusak atau menghilangkan


barang bukti dan atau mengulangi perbuatan pidana sesuai pasal 21 ayat (1)
KUHAP.
Penahanan adalah pengekangan kebebasan seseorang, sehingga harus
dilakukan dengan proses yang benar, kesalahan terhadap proses dapat
mengganggu proses penyidikan.
Standar Operasional Prosedur penahanan ini dibuat sebagai standar bagi
Penyidik dalam melakukan tindakan penahanan dan sebagai langkah antisipasi
terhadap adanya kesalahan prosedur yang mengakibatkan gugatan hukum.
Standar Operasional Prosedur penahanan disusun untuk

mengefektifkan

koordinasi baik dalam lingkungan internal Polri (Penyidik, Atasan penyidik dan
pejabat rutan) maupun dalam lingkungan eksternal antara lain Jaksa Penuntut
Umum ,Pengadilan dan instansi terkait lainnya.
C.

Ruang Lingkup
Standar Operasional Prosedur Penahanan memuat petunjuk dan koordinasi
meliputi syarat yang harus dipenuhi dan langkahlangkah penahanan. Standar
Operasional Prosedur Penahanan ini berlaku bagi seluruh Penyidik Sat Reskrim
33

Polres Limboto.
D.

Definisi
1.

Penahanan adalah penempatan


tertentu

oleh

penyidik

atau

tersangka

atau terdakwa

Penuntut Umum

atau

ditempat

Hakim

dengan

penetapannya, dalam hal serta menurut cara diatur dalam undang


undang.
2.

Penangguhan Penahanan adalah ditundanya atau tidak

dilanjutkannya

seorang tersangka/terdakwa baik dengan jaminan orang atau jaminan


uang berdasarkan syarat syarat lain yang ditentukan.
3.

Pengalihan Jenis Penahanan adalah mengalihkan status penahanan

dari

jenis penahanan yang satu kejenis penahanan yang lain oleh penyidik atau
penuntut umum.
4.

Pembantaran

penahanan

terhadap tersangka

adalah

karena

penundaan

alasan

penahanan

kesehatan

sementara

(memerlukan rawat

jalan/rawat inap) yang dikuatkan dengan keterangan dokter sampai


dengan yang bersangkutan dinyatakan sembuh kembali.
5.

Pemindahan tempat penahanan adalah memindahkan tersangka dari rutan


yang satu

ke rutan yang lain dengan pertimbangan

pertimbangan

tertentu guna mempermudahkan penyelesaian perkara.


6.

Penahanan lanjutan adalah menempatkan kembali tersangka yang pernah


ditangguhkan penahanannya dengan pertimbangan atau alasan tertentu
kedalam Rumah Tahanan Negara guna kepentingan penyidikan.

E.

PetunJuk dan koordinasi


Tindakan

penahanan merupakan salah satu bagian

dari rangkaian

penyidikan yang termasuk dalam kategori upaya paksa penyidik. Dalam proses
kegiatan penahanan, penyidik melakukan berdasarkan ketentuan hukum yang
ada dalam KUHAP dan ketentuan hukum lainnya.
Dalam melaksanakan kegiatan penahanan akan melibatkan penyidik / petugas
kepolisian lainnya maupun pihak di luar institusi kepolisian antara lain Jaksa
Penuntut Umum, Pengadilan Negeri dan Pejabat Rutan.
34

1.

Penahanan di Rutan/Cabang Rutan


a.

Syarat yang harus dipenuhi


1)

Dalam Surat Perintah Penahanan harus mencantumkan dasar


dilakukan penahanan yaitu :
a)

Pasal 1 butir 21 KUHAP

b)

Pasal 7 ayat (1) huruf d, pasal 11, pasal 20, pasal 21, pasal
22 a yat (1) KUHAP.

c)

UU R I No. 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara


Republik Indonesia.

2)

d)

Undang Undang yang dipersangkakan.

e)

Undang Undang lain yang terkait;

f)

Laporan Polisi;

g)

Surat perintah penyidikan;

h)

Surat Perintah Tugas;

Penyidik membuat surat pemberitahuan penahanan tersangka


kepada keluarga tersangka/penasehat hukum;

3)

Petugas yang melaksanakan penahanan adalah penyidik yang


mendapat perintah dalam surat perintah penahanan.

b.

Langkah langkah penahanan di Rutan/Cabang Rutan :


1)

Membuat

Berita

Acara

penahanan

sesaat

segera

setelah

melakukan penahanan dan ditanda tangankan kepada tersangka.


2)

Membuat

Berita

Acara

Penolakan

tanda

tangan,

apabila

tersangka menolak menanda tangani Berita Acara Penahanan.


3)

Menyerahkan Surat Perintah Penahanan disampaikan kepada


tersangka untuk tanda tangan.

4)

Surat perintah

Penahanan

disampaikan

kepada tersangka,

keluarga tersangka dan pejabat rutan.


5)

Meminta

Dokter

Tahanan

untuk

memeriksa

kesehatan

tersangka.
6)

Memfoto dan mengambik sidik jari tersangka.

7)

Menyerahkan tersangka kepada pejabat rutan untuk dimasukkan


ke dalam

rutan, dengan

35

dituangkan dalam Berita Acara

Penyerahan Tersangka.
8)

Memberitahukan kepada keluarga tersangka/ penasehat hukum


dengan surat resmi dan tanda penerimaan surat.

2.

Perpanjangan penahanan
Surat perintah penahanan yang diterbitkan Kasatker selaku penyidik
sebagaimana dimaksud pasal 20 KUHAP berlaku paling lama 20 (dua puluh)
hari.
Apabila selama 20

(dua

puluh) hari penyidikannya belum selesai

masih diperlukan penahanan tersangka maka penyidik dapat

dan

meminta

kepada JPU untuk menerbitkan Surat Perpanjangan Penahanan yang


berlaku paling
selesai
dapat

dan

lama 40 (empat
masih

meminta

puluh) hari dan

diperlukan penahanan

kepada

pengadilan

apabila masih belum

tersangka

maka

penyidik

Negeri untuk menerbitkan Surat

Perpanjangan Penahanan yang berlaku selama 30 (tiga puluh) hari dan


perpanjangan

penahanan

dari

pengadilan

negeri

dapat

diperpanjangkembali apabila diperlukan.


Langkah Langkah perpanjangan penahanan :
a.

Penyidik mengirimkan surat permintaan perpanjangan


tersangka

penahanan

kepada Kejaksaan Negeri/Pengadilan Negeri dengan

mencantumkan rujukan :
1)

Pasal 24 ayat (2) KUHAP

2)

UU RI No. 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara


Indonesia;

3)

Laporan Polisi;

4)

SPDP;

5)

Surat Perintah penahanan;

Dan melapirkan :
1)

Resume singkat;

2)

Laporan Polisi;

3)

Surat Perintah penyidikan;

4)

SPDP;
36

Republik

5)

Surat Perintah Penahanan;

6)

Perpanjangan penahanan dari JPU ( untuk meminta penetapan


dari Pengadilan Negeri)

b.

Dengan dasar surat perintah

perpanjangan dari

JPU/penetapan

penahanan dari Pengadilan Negeri tersebut, maka penyidik dapat


melakukan perpanjangan penahanan tersangka.
c.

Penyidik membuat surat pemberitahuan perpanjangan

penahanan

kepada keluarga tersangka atau penasehat hukum.


d.

Penyidik membuat berita acara perpanjangan penahanan dan ditanda


tangankan kepada tersangka.

e.

Membuat Berita Acara penolakan tanda tangan, apabila tersangka


menolak menanda tangani Berita Acara Perpanjangan penahanan.

f.

Menyerahkan surat perpanjangan penahanan kepada

tersangka,

keluarga tersangka / Penasehat hukum dan pejabat rutan.


g.

Memberitahukan kepada keluarga tersangka/penasehat

hukum

dengan surat resmi dan tanda penerimaan surat.


3.

Pengalihan Jenis Penahanan


Dalam hal pemeriksaan terhadap tersangka telah selesai dan tidak
dikhawatirkan

akan

melarikan

diri

serta

tidak

menyulitkan

pengawasannya, atau dalam hal kehadiran tersangka sangat

dalam

diperlukan

oleh masyarakat karena profesi / keahliannya, maka terhadap tersangka


dapat dilakukan pengalihan penahanan.
Jenis penahanan dapat berupa : penahanan rutan, penahanan rumah,
penahan kota.
a.

Persyaratan
1)

Adanya pengajuan permohonan pengalihan jenis penahanan dari


tersangka / keluarganya / penasehat hukumnya yang diketahui
oleh RT/RW/Kepala desa.

2)

Wajib untuk melapor diri kepada penyidik selama menjalani


penahanan.

b.

Langkah langkah pengalihan jenis penahanan :


1)

Apabila

kasatker

mengabulkan
37

permohonan

tersangka/

keluarganya/penasehat hukumnya, maka penyidik membuat :

2)

a)

Surat Perintah Pengalihan je nis pena hanan

b)

Berita Acara pengalihan jenis Penahanan

c)

Surat Keterangan Wajib lapor

d)

Resume Singkat

Penyidik

menyerahkan

surat

perintah

pengalihan

jenis

penahanan kepada tersangka untuk ditanda tangani oleh


tersangka dan penyidik.
3)

Penyidik

menyerahkan

surat

perintah

pengalihan

jenis

penahanan kepada tersangka, keluarga tersangka dan pejabat


rutan.
4)

Kasatker menugaskan anggota untuk melakukan

pengawasan

terhadap tersangka
4.

Pemindahan tempat penahanan


Dalam hal penyidikan berlangsung dan dibutuhkan tindakan untuk
memindahkan penahanan tersangka dari satu rutan ke rutan lain
melancarkan penyidikan, maka

penyidik dapat melakukan

guna

pemindahan

tempat penahanan, dengan langkah langkah sebagai berikut :


a.

Penyidik mempertimbangkan alasan pemindahan tempat penahanan.

b.

Pemindahanan tempat penahanan hanya dilakukan untuk kepentingan


penyidikan, penuntutan dan peradilan yang cepat, mudah dan murah.

c.

Penyidik menempatkan keamanan dan keselamatan tersangka yang


ditahan sebagai prioritas utama

d.

Melakukan koordinasi dengan penyidik dari kesatuan lain yang


mempunyai kaitan dengan kasus tersebut.

e.

Menentukan waktu pemindahan tahanan.

f.

Menyerahkan tersangka dan menyelesaikan administrasi pemindahan


tempat penahanan :
-

Surat perintah tugas

Surat Perintah penyerahan tersangka

Berita acara penyerahan tersangka


38

g.
5.

Surat Perintah Pemindahan tempat penahanan

Berita Acara pemindahan tempat penahanan

Membuat laporan pelaksanaan tugas pemindahan tempat penahanan.

Pembantaran Penahanan
a.

Meminta

Dokter

untuk

memeriksa

kesehatan

tersangka

untuk

memastikan tersangka masih bisa ditahan atau tidak.


b.

Apabila kondisi tersangka tidak memungkinkan untuk

dilakukan

penahanan, maka penyidik melakukan pembantaran agar tersangka


dirawat/opname.
c.

Membuat surat perintah pembantaran dan berita acara pembantaran

d.

Selama masa perawatan/opname, penyidik melakukan

pengawasan

dan pengamanan terhadap tersangka.


6.

Penangguhan penahanan
Penangguhan penahanan dapat dilakukan atas jaminan uang atau orang
Jaminan Uang
a.

Membuat perjanjian antara penyidik dengan tersangka atau


penasehat hukum dengan mencantumkan uang jaminan dan syarat
syarat lainnya.

b.

Pemohonan menyetorkan uang jaminan kepanitera Pengadilan


Negeri dengan formulir penyetoran yang dilakukan oleh penyidik

c.

Berdasarkan bukti setor uang, maka penyidik mengeluarkan surat


perintah penangguhan penahanan.

Jaminan Orang
a.

Membuat perjanjian antara penyidik dengan tersangka atau


penasehat hukum dengan mencantumkan identitas penjamin,
besarnya uang yang harus dijamin oleh penjamin syarat syarat
lainnya.

b.

Berdasarkan surat jaminan, maka penyidik mengeluarkan


perintah penangguhan penahanan.

39

surat

7.

Penahanan Lanjutan
a. Membuat surat perintah penahanan lanjutan dan surat pemberitahuan
penahanan lanjutan kepada keluarga tersangka.
b.

Mengajukan

surat

perintah

penahanan

lanjutan

dan

surat

pemberitahuan lanjutan kepada keluarga tersangka


c.

Mencatat dalam register surat perintah penahanan lanjutan dan


surat pemberitahuan penahanan lanjutan kepada keluarga tersangka

d.

Melaksana kan penahanan lanjutan

e.

Membuat berita acara penahanan lanjutan ditanda tangankan kepada


tersangka

f.

Membuat berita acara penolakan

tanda tangan, apabila tersangaka

menolak menanda tangani berita acara penahanan lanjutan


g.

Menyerahakan surat perintah penahanan lanjutan kepada tersangka


untuk ditanda tangani

h.

Surat Perintah penahanan lanjutan disampaikan kepada

tersangka,

keluarga tersangka dan pejabat rutan


i.

Meminta Dokter untuk memeriksa tersangka

j.

Menyerahkan tersangka kepada pajabat rutan untuk

dimasukkan

kedalam rutan, dengan dituangkan dalam berita acara penyerahan


tersangka.
k.

Memberitahukan kepada keluarga tersangka / Penasehat

hukum

dengan surat resmi dan tanda penerimaan surat.


8.

Pengeluaran Tahanan
a.

Membuat

Surat

Perintah

pengeluaran

tahanan

dan

surat

pemberitahuan pengeluaran tahanan kepada keluarga tersangka


b.

Mengajukan

surat

perintah

pengeluaran

tahanan

dan

surat

pemberitahuan pengeluaran tahanan kepada keluarga tersangka


c.

Mencatat dalam register surat

perintah pengeluaran tahanan dan

surat pemberitahuan pengeluaran tahanan kepada keluarga tersangka


d.

Melaksanakan pengeluaran tahanan

e.

Membuat Berita Acara pengeluaran tahanan dan ditanda tangankan


kepada tersangka
40

f.

Membuat berita acara penolakan tanda

tangan, apabila

tersangka

menolak menanda tangani.


g.

Menyerahkan surat perintah pengeluaran tahanan kepada tersangka


untuk ditanda tangani

h.

Surat Perintah pengeluaran tahanan disampaikan kepada terangka,


keluarga tersangka dan pejabat rutan

i.

Meminta Dokter untuk memeriksa tersangka

j.

Mengeluarkan tersangka dari Rutan

k.

Memberitahukan kepada keluarga tersangka / Penasehat hukum


dengan surat resmi dan tanda penerimaan Surat.

F.

Penutup
Demikian Prosedur Operasional standar ini dibuat sebagai pedoman dan panduan
bagi penyidik/penyidik pembantu dalam melaksanakan penyidikan
Limboto,

Januari 2014

An. KEPALA KEPOLISIAN RESOR LIMBOTO


KASAT RESKRIM

HERI RUSYAMAN, SIK


AJUN KOMISARIS POLISI NRP 78061316

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA


DAERAH GORONTALO
RESOR GORONTALO

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR


PENYITAAN
41

PADA SAT RESRIM POLRES GORONTALO


A.

Pendahuluan
Guna menjamin pelaksanaan tugas penyidikan yang benar, perlu disusun
standar operasional prosedur untuk dijadikan standar dalam melaksanakan
penyitaan barang bukti. SOP ini merupakan pedoman

bagi

penyidik dalam

melaksanakan tugas.
B.

Tujuan
Tindakan

penyitaan

merupakan

rangkaian

atau

bagian

penyidikan.

Penyitaan dilakukan pertimbangan diperlukannya barang bukti terkait dengan


tindak pidana yang terjadi untuk pembuktian kasus dan sebagai

persyaratan

kelengkapan berkas perkara guna pembuktian

penyidikan,

dalam

proses

penuntutan dan peradilan. Pembuktian terhadap tindak pidana harus dilakukan


dengan proses yang benar, kesalahan terhadap proses dapat meruntuhkan
pembuktian.
Standar operasional prosedur penyitaan ini dibuat sebagai standar bagi
penyidik dalam melakukan tindakan penyitaan terhadap barang bukti dan sebagai
langkah antisipasi terhadap kemungkianan adanya kesalahan proses yang dapat
mengakibatkan gugatan hukum. Standar operasional

prosedur penyitaan

didesain untuk mengefektifkan koordinasi baik didalam lingkungan internal polri


(Penyidik, atasan

penyidik

dan petugas

penyimpan barang bukti) maupun

dalam lingkungan eksternal antara lain Pengadilan Negeri, penyedia jasa


keuangan, penyedia barang dan jasa lainya serta instansi lain yang terkait.
C.

Ruang lingkup
Standar operasional prosedur penyitaan memuat petunjuk dan koordinasi
meliputi syarat yang harus dipenuhi, langkah-langkah penyitaan dalam rangkaian
penggeledahan, penangkapan tertangkap tangan telah ditentukan oleh penyidik
dalam rangkaian pemblokiran harta kekayaan ,terhadap benda tidak bergerak
dan penyimpanan benda sitaan, standar operasional penyitaan ini berlaku bagi
penyidik polri di seluruh wilayah Polres Limboto.

42

D.

Definisi
1.

Pengertian penyitaan dalam standar prosedur ini adalah pengertian


penyitaan dalam KUHAP.

2.

Penggeledahan dalam standar prosedur ini adalah penggeledahan rumah,


maupun penggeledahan badan serta pakaian.

3.

Pengertian penangkapan dalam standar operasional ini adalah penangkapan


dalam KUHAP.

4.

Pengertian tertangkap tangan dalam standar operasional prosedur

ini

adalah tertangkap tangan dalam KUHAP.


5.

Penyedia jasa keuangan adalah setiap orang yang menyediakan jasa


dibidang keuangan atau jasa lainnya yang terkait dengan keuangan
termasuk

tetapi

tidak

terbatas

pada

Bank,

lembaga

Pembiayaan,

perusahaan efek, pengelola reksa dana, kostodian, wali amanat, lembaga


penyimpanan dan penyelesaian, pedagang Valuta asing, dana pension,
perusahaan asuransi, dan kantor pos.
6.

Penyegelan adalah suatu tindakan guna mempertahankan suatu

barang

atau benda sitaan dengan menggunakan garis polisi atau segel.


7.

Pemblokiran adalah suatu tindakan dimana suatu rekening, sertipikat, situs


dan lain-lain untuk dicegah melakukan kegiatan.

8.

Benda yang dapat dilakukan penyitaan meliputi

benda

atau

tagihan

tersangka atau terdakwa yang seluruh atau sebagian diduga diperoleh dari
tindak pidana, benda yang digunakan secara langsung untuk melakukan
tindak pidana atau untuk mempersiapkannya, benda yang dipergunakan
untuk menghalang halangi penyidikan tindak pidana, benda yang khusus
atau

diperuntukan melakukan tindak pidana dan benda lain yang

mempuanyai hubungan langsung dengan tindak pidana yang dilakukan.


9.

Benda bergerak adalah kebendaan yang karena sifatnya dapat berpindah


atau dipindahkan atau oleh Undang-undang dianggap

sebagai

benda

bergerak.
10. Benda tidak bergerak adalah kebendaan yang karena sifatnya tidak dapat
berpindah atau dipindahkan atau karena undang-undang dianggap sebagai
benda tidak bergerak.

43

E.

Petunjuk dan koordinasi.


Tindakan penyitaan merupakan rangkaian proses pembuktian perkara
termasuk dalam kategori upaya paksa penyidik.

Dalam proses

yang

kegiatan

penyitaan, penyidik melakukan berdasarkan ketentuan hukum yang ada dalam


KUHAP dan hukum lainnya.
Dalam pelaksanaan kegiatan penyitaan akan melibatkan

penyidik/petugas

kepolisian lainnya maupun pihak luar institusi Kepolisian antara lain saksi, Kepala
desa/Kepala lingkungan, Penyedia jasa keuangan, Penyedia

barang dan jasa

lainnya, Pengadilan Negeri, Pemilik atau yang menguasai barang.


1.

Penyitan dalam rangkaian kegiatan penggeledahan


a.

Syarat yang harus dipenuhi:


1)

Syarat formil:
(a)

Dalam surat perintah penyitaan harus mencantumkan dasar


dilakukan penyitaan yaitu :
(1)

Pasal 1 butir 16 KUHAP;

(2)

Pasal 5 ayat (1) huruf B angka 1, pasal 7 ayat (1)


huruf d, pasal 14, pasal 40, pasal 41 dan pasal 42
KUHAP;

(3)

UU RI No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara


Republik Indonesia;

(b)
2)

(4)

Undang-Undang yang di persangkakan;

(5)

Undang-Undang lain yang terkait;

(6)

Laporan Polisi;

(7)

Surat perintah penyidikan;

(8)

Surat perintah tugas.

Penyidik membuat surat tanda penerimaan;

Syarat materill :
(a)

Petugas yang melaksakan penyitaan adalah penyidik yang


mendapat perintah dalam surat Perintah Penyidik.

(b)

Barang bukti yang disita adalah diduga diperoleh dari


tindakan pidana atau sebagai hasil dari tindak pidana,
benda yang telah digunakan secara

44

langsung untuk

melakukan tindak pidana atau untuk


benda yang dipergunakan
penyidikan tindak

mempersiapkannya,

untuk menghalang - halangi

pidana, benda yang khusus atau

diperuntukan melakukan tindak pidana, dan benda lain yang


mempunyai hubungan langsung dengan tindak pidana yang
dilakukan, yang bersesuaian dengan keterangan tersangka,
saksi atau alat bukti lain.
b.

Langkah-langkah penyitaan :
1)

Penyidik

menunjukan

surat

perintah

tugas

dan

surat

penggeledahan kepada orang yang akan digeledah atau orang


yang menguasai tempat tertutup;
2)

Penyidik

menghadirkan

(dua)

orang

saksi

selama

penggeladahan, terhadap penggeledahan yang tidak disetujui


oleh tersangka atau penghuni menghadirkan kepala desa atau
kepala lingkungan;
3)

Penyidik mengumpulkan dan menghitung jumlah serta

jenis

benda/barang yang akan disita dengan di saksikan oleh 2 (dua)


orang saksi;
4)

Penyidik mencatat benda/barang yang disita dalam surat Tanda


Penerimaan (STP);

5)

Penyidik mendokumentasikan benda/barang yang di sita;

6)

Penyidik memasukan barang yang disita ke dalam kantong


barang bukti yang disegel, terhadap barang/benda

yang tidak

dimasukan dalam kantong di segel;


7)

Peyidik

memberikan

Surat

Tanda

Penerimaan

kepada

pemilik/yang menguasai benda/barang sitaan;


8)

Setelah dilakukan penyitaan membuat Berita acara Penyitaan dan


permohonan penetapan penyitaan
Terhadap

penggeledahan

yang

dari Pengadilan Negeri.


menemukan

benda/barang

bergerak maka dapat langsung dilakukan penyitaan, sedang


terhadap benda tidak
melainkan di segel/blokir.

45

bergerak tidak dilakukan penyitaan,

c.

Langkah penyimpanan benda sitaan :


1)

Penyidik berkoordinasi dengan petugas penyimpanan barang


bukti (Sat tahti);

2)

Penyidik melakukan serah terima benda/barang sitaan dengan


petugas penyimpanan barang bukti dan di buatkan Berita acara
serah terima.

2.

Penyitaan dalam rangkaian kegiatan penangkapan


a.

Syarat yang harus dipenuhi :


1)

Syarat formil :
(a)

Dalam Surat Perintah Penyitaan harus mencantumkan dasar


dilakukan penyitaan yaitu :
(1)

Pasal 1 butir 16 KUHAP;

(2)

Pasal 5 ayat (1) huruf b angka 1, pasal 7 ayat (1)


huruf d, pasal 14, pasal 40, pasal 41 dan pasal 42
KUHAP;

(3)

UU RI No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara


Republik Indonesia;

(b)
2)

(4)

Undang-Undang yang dipersangkakan;

(5)

Undang-Undang lain yang terkait;

(6)

Laporan Polisi;

(7)

Surat Perintah Penyidikan;

(8)

Surat Perintah Tugas.

Penyidik membuat Surat Tanda Terima.

Syarat Materil :
(a) Petugas yang melakukan penyitaan adalah penyidik yang
mendapat surat Perintah penyidikan.
(b)

Barang bukti yang disita adalah diduga diperoleh dari


tindakan pidana atau sebagai hasil dari tindak pidana,
benda yang telah digunakan secara
melakukan tindak pidana atau
46

langsung untuk

untuk mempersiapkannya,

benda yang dipergunakan


penyelidikan tindak
diperuntukan
yang
pidana

untuk menghalang-halangi

pidana, benda yang khusus atau

melakukan tindak pidana, dan benda lain

mempunyai hubungan langsung dengan tindak


yang

dilakukan

yang

bersesuaian

dengan

keterangan tersangka, saksi atau alat bukti lain.


b. Langkah-Langkah Penyitaan :
(1)

Penyidik menunjukan Surat Perintah Tugas dan Surat Perintah


Penangkapan kepada tersangka;

(2)

Penyidik mengumpulkan dan menghitung jumlah serta

jenis

benda/barang yang akan disita dengan disaksikan oleh 2 (dua)


orang saksi;
(3)

Penyidik mencatat benda/barang yang disita dalam Surat Tanda


Penerimaan (STP);

(4)

Penyidik mendokumentasikan benda/barang yang disita. Penyidik


memasukkan benda sitaan kedalam kantong barang bukti dan
disegel;

(5)

Penyidik memasukkan barang yang disita kedalam


barang bukti yang disegel, terhadap

kantong

barang/benda yang tidak

dapat dimasukkan dalam kantong disegel;


(6)

Penyidik memberikan Surat Tanda Penerimaan kepada tersangka


yang memiliki atau menguasai benda/barang sitaan;

(7)

Setelah dilakukan penyitaan membuat Berita Acara Penyitaan dan


permohonan penetapan penyitaan dari Pengadilan Negeri.

c. Penyimpanan benda sitaan :


1)

Penyidik berkoordinasi dengan petugas penyimpan barang bukti


(Kasat Tahti)

2)

Penyidik melakukan serah terima benda/barang sitaan dengan


petugas penyimpan barang bukti dan dibuatkan Berita Acara
Serah Terima

47

3.

Penyitaan dalam rangkaian kegiatan tertangkap tangan


a.

b.

Syarat yang harus dipenuhi :


1)

Penyidik membuat Surat Tanda Penerimaan;

2)

Penyidik membuat Berita Acara Serah Terima Barang Bukti.

Langkah-langkah penyitaan :
1)

Penyidik mengumpulkan dan menghitung jumlah serta jenis


benda/barang yang akan disita dengan disaksikan oleh 2 (dua)
orang saksi;

2)

Penyidik mencatat benda/barang yang disita dalam Surat Tanda


Penerimaan (STP);

3)

Penyidik mendokumentasikan benda /barang yang disita;

4)

Penyidik memasukkan barang yang disita dalam kantong barang


bukti yang disegel, terhadap barang/benda yang tidak dapat
dimasukkan dalam kantong disegel;

5)

Penyidik memberikan Surat Tanda Penerimaan kepada tersangka


selaku pemilik/yang menguasai benda/barang sitaan;

6)

Penyidik menyerahkan Berita Acara Serah Terima Barang Bukti


apabila yang menangkap tangan bukan Penyidik;

7)

Setelah dilakukan penyitaan membuat Berita Acara Penyitaan dan


permohonan penetapan penyitaan dari Pengadilan Negeri.

c.

Langkah Penyimpanan benda sitaan :


1)

Penyidik berkoordinasi dengan petugas penyimpan barang bukti


(Kasat Tahti);

2)

Penyidik melakukan serah terima benda/barang sitaan dengan


petugas penyimpan barang bukti dan dibuatkan Berita Acara
Serah Terima.

4.

Penyitaan terhadap barang bukti yang sudah diketahui/ditentukan oleh


penyidik
a.

Syarat yang harus dipenuhi :


1)

Syarat Formil :
(a)

Terhadap barang bukti benda tidak bergerak memerlukan


Surat

Izin/Surat
48

Izin

Khusus

Penyitaan

dari

Ketua

Pengadilan Negeri setempat.


(b)

Membuat Surat Perintah Penyitaan harus mencantumkan


dasar dilakukan penyitaan yaitu :
(1)

Pasal 1 butir 16 KUHAP;

(2)

Pasal 5 ayat (1) huruf b angka 1, pasal 7 ayat (1)


huruf d, pasal 14, pasal 40, pasal 41 dan pasal 42
KUHAP;

(3)

UU RI No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara


Republik Indonesia;

(4)

Undang-Undang yang dipersangkakan;

(5)

Undang-Undang lain yang terkait;

(6)

Laporan Polisi;

(7)

Surat Perintah Penyidikan;

(8)

Surat Perintah Tugas;

(9)

Surat izin/Surat Izin Khusus Penyitaan dari Ketua


Pengadilan Negeri setempat.

(c)
2)

Penyidik membuat Surat Tanda Penerimaan ;

Syarat Materil :
(a)

Petugas yang melaksanakan penyitaan adalah penyidik


yang mendapat perintah dalam Surat Perintah penyidikan.

(b)

Barang bukti yang disita adalah diduga diperoleh dari


tindakan pidana atau sebagai hasil dari tindak pidana,
benda yang telah dipergunakan secara langsung untuk
melakukan tindak pidana atau untuk mempersiapkannya,
benda

yang

dipergunakan

penyelidikan tindak

untuk

menghalang-halangi

pidana, benda yang khusus atau

diperuntukan melakukan tindak pidana, dan benda lain


yang mempunyai hubungan langsung dengan tindak pidana
yang dilakukan yang bersesuaian dengan

keterangan

tersangka, saksi atau alat bukti lain.


b.

Langkah-langkah Penyitaan :
1)

Penyidik menunjukkan Surat Perintah Tugas dan Surat Perintah


49

Penyitaan kepada orang yang memiliki atau

orang yang

menguasai barang bukti yang akan disita;


2)

Penyidik mengumpulkan dan menghitung jumlah serta

jenis

benda/barang yang akan disita dengan disaksikan oleh 2 (dua)


orang saksi;
3)

Penyidik mencatat benda/barang yang disita dalam Surat Tanda


Penerimaan (STP);

4)

Penyidik mendokumentasikan benda/barang yang disita;

5)

Penyidik memasukkan barang yang disita dalam kantong barang


bukti yang disegel, terhadap barang/benda yang tidak dapat
dimasukkan dalam kantong disegel;

6)

Penyidik

memberikan

Surat

Tanda

Penerimaan

kepada

Pemilik/yang menguasai benda/barang sitaan;


7)
c.

Penyidik membuat Berita Acara Penyitaan.

Penyimpanan benda sitaan


1)

Penyidik berkoordinasi dengan petugas penyimpan barang bukti


(Kasat Tahti);

2)

Penyidik melakukan serah terima benda/barang sitaan dengan


petugas penyimpan barang bukti dan dibuatkan Berita Acara
Serah Terima.

5.

Penyitaan yang dilakukan sebagai tindak lanjut dari pemblokiran harta


kekayaan
a.

Syarat yang harus dipenuhi :


1)

Syarat Formil :
(a)

Memerlukan Surat Izin/Surat Izin Khusus Penyitaan dari


Ketua Pengadilan Negeri setempat.

(b)

Membuat surat perintah penyitaan harus mencantumkan


dasar dilakukan penyitaan yaitu :
(1)

Pasal 1 butir 16 KUHAP;

(2)

Pasal 5 ayat (1) huruf b angka 1, pasal 7 ayat (1)


huruf d, pasal 14, pasal 40, pasal 41 dan pasal 42
KUHAP;

50

(3)

UU RI No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara


Republik Indonesia;

(4)

Undang-Undang yang dipersangkakan;

(5)

Undang-Undang lain yang terkait;

(6)

Laporan Polisi;

(7)

Surat Perintah Penyidikan;

(8)

Surat Perintah Tugas;

(9)

Surat izin/Surat Izin Khusus Penyitaan dari Ketua


Pengadilan Negeri setempat.

(10) Penyidik

membuat

Berita

Acara

Penitipan

dan

Perawatan Barang Bukti


2)

Syarat Materil :
(a)

Petugas yang melaksanakan penyitaan adalah penyidik yang


mendapat perintah dalam Surat Perintah penyidikan.

(b)

Barang bukti yang disita adalah diduga diperoleh dari


tindakan pidana atau sebagai hasil dari tindak
benda yang telah dipergunakan secara

pidana,

langsung

untuk

melakukan tindak pidana atau untuk mempersiapkannya,


benda yang dipergunakan
penyelidikan tindak
diperuntukan

untuk menghalang-halangi

pidana, benda yang khusus atau

melakukan tindak

pidana, dan benda lain

yang mempunyai hubungan langsung dengan tindak pidana


yang dilakukan yang bersesuaian dengan keterangan
tersangka, saksi atau alat bukti lain.
b.

Langkah-langkah penyitaan :
1)

Penyidik menunjukkan Surat Perintah Tugas dan Surat Perintah


Penyitaan kepada pihak Penyedia Jasa Keuangan tempat harta
kekayaan berada;

2)

Penyidik

mengkoordinasikan

dengan

pihak

penyedia

jasa

keuangan bahwa setelah dilakukan penyitaan, harta kekayaan


yang telah disita akan dititipkan atau tetap berada dipihak
Penyedia Jasa Keuangan;
3)

Setelah dilakukan penyitaan membuat Berita Acara;


51

4)

Penyidik memberikan salinan Berita

Acara Penitipan dan

Perawatan Barang Bukti kepada pihak Penyedia Jasa Keuangan.


6.

Langkah penyitaan terhadap benda tidak bergerak


a.

Syarat yang harus dipenuhi


1)

Syarat Formil :
(a)

Surat Izin/Surat

Izin Khusus Penyitaan dari Ketua

Pengadilan Negeri setempat.


(b)

Membuat surat perintah penyitaan harus mencantumkan


dasar dilakukan penyitaan yaitu :
(1)

Pasal 1 butir 16 KUHAP;

(2)

Pasal 5 ayat (1) huruf b angka 1, pasal 7 ayat (1)


huruf d, pasal 14, pasal 40, pasal 41 dan pasal 42
KUHAP;

(3)

UU RI No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara


Republik Indonesia;

(4)

Undang-Undang yang dipersangkakan;

(5)

Undang-Undang lain yang terkait;

(6)

Laporan Polisi;

(7)

Surat Perintah Penyidikan;

(8)

Surat Perintah Tugas;

(9)

Surat izin/Surat Izin Khusus Penyitaan dari Ketua


Pengadilan Negeri setempat;

(10) Penyidik membuat Surat Tanda Penerimaan;


2)

Syarat Materil :
(a)

Petugas yang melaksanakan penyitaan adalah penyidik


yang mendapat perintah dalam Surat Perintah Penyidikan;

(b)

Memasang plang penyitaan sesuai Surat Izin/Surat Izin


Khusus dari Pengadilan Negeri setempat;

(c)

Barang bukti yang disita adalah diduga diperoleh dari


tindakan pidana atau sebagai hasil dari tindak pidana, dan
benda lain yang mempunyai hubungan langsung dengan
tindak pidana yang dilakukan yang bersesuaian dengan
keterangan tersangka, saksi atau alat bukti lain.
52

b.

Langkah-langkah penyitaan
1)

Penyidik menunjukkan Surat Perintah Tugas dan Surat Perintah


Penyitaan kepada orang yang memiliki atau menguasai barang
bukti yang akan disita;

2)

Penyidik mencatat benda/barang yang disita dalam Surat Tanda


Penerimaan (STP);

3)

Penyidik menyegel benda yang disita dan memasang

Plang

penyitaan dengan posisi yang mudah terlihat;


4)

Penyidik

memberikan

Surat

Tanda

Penerimaan

kepada

pemilik/yang menguasai benda/barang sitaan;

F.

5)

Penyidik mendokumentasikan benda yang disita;

6)

Penyidik membuat Berita Acara Penyitaan

Penutup
Demikian Prosedur Operasional standar ini dibuat sebagai pedoman dan panduan
bagi penyidik/penyidik pembantu dalam melaksanakan penyidikan
Limboto,

Januari 2014

An. KEPALA KEPOLISIAN RESOR LIMBOTO


KASAT RESKRIM

HERI RUSYAMAN, SIK


AJUN KOMISARIS POLISI NRP 78061316

53

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA


DAERAH GORONTALO
RESOR GORONTALO

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR


PENGGELEDAHAN
PADA SAT RESRIM POLRES GORONTALO

A.

Pendahuluan
Guna menjamin pelaksanaan tugas penyidikan yang benar, perlu disusun
standar operasional prosedur untuk dijadikan standar dalam melaksanakan
Penggeledahan. SOP ini merupakan pedoman bagi penyidik dalam melaksanakan
tugas penggeledahan yang wajib untuk dilaksanakan.
Standar operasional ini merupakan panduan untuk menghindarkan penyidik
terhadap hal-hal yang kontra produktif yang dapat

menghalangi

kelancaran

proses penyidikan. Dalam pelaksanaan upaya paksa melalui penggeledahan ini,


ketentuan hukum acara

yang ada dalam KUHAP

maupun hukum

acara

Undang-Undang lainnya , menjadi dasar SOP ini sebagai otorisasi operasional


penyidik
B.

Tujuan
Tindakan penggeledahan merupakan rangkaian atau bagian dari penyidikan.
Penggeledahan dilakukan dengan pertimbangan untuk

mencari barang bukti

yang terkait dengan tindak pidana yang terjadi untuk pembuktian dalam proses
penyidikan,

penuntutan,

penyidik/penyidik

dan peradilan. Penggeledahan dilaksanakan oleh

pembantu/penyelidik

dengan berawal dari praduga bahwa

pada tempat tinggal, tempat tertutup lainnya, pakaian, badan, atau tempat lain
yang ada

hubungannya

dengan

tersangka

guna mencari dan menemukan

barang bukti yang berkaitan dengan tindak pidana yang terjadi.


Pembuktian terhadap tindak pidana harus dilakukan dengan proses yang benar,
kesalahan terhadap proses dapat meruntuhkan pembuktian.

54

Standar Operasional Prosedur penggeledahan ini dibuat sebagai


penyidik/penyidik

pembantu/penyelidik

dalam

standar bagi

melakukan

penggeledahan untuk mencari barang bukti dan sebagai

tindakan

langkah

antisipasi

terhadap kemungkinan adanya kesalahan Proses yang dapat mengakibatkan


gugatan hukum.
Standar

Operasional

Prosedur

penggeledahan

didesain

untuk

mengefektifkan koordinasi baik dalam lingkungan Polri (penyidik/penyidik


pembantu/penyelidik dan atasan penyidik) maupun dalam lingkungan eksternal
antara lain Kejaksaan Negeri dan Pengadilan Negeri.
C.

Ruang Lingkup
Standar Operasional Prosedur Penggeledahan membuat

petunjuk

dan

koordinasi meliputi syarat yang harus dipenuhi, langkah-langkah penggeledahan


dalam rangkaian tindakan penyidik untuk melakukan tindakan pemeriksaan dan
atau penyitaan dan atau penangkapan dalam hal yang diatur dalam KUHAP.
Standar Operasional Prosedur

penggeledahan

ini

berlaku

bagi

seluruh

penyidik Polri di wilayah Polres Limboto.


D.

Definisi
1.

Pengertian penggeladahan dalam Standar Operasional Prosedur ini adalah


pengertian penggeledahan dalam KUHAP.

2.

Penggeledahan

dalam

Standar

Operasional

Prosedur

penggeledahan rumah, penggeledahan pakaian maupun

ini

adalah

penggeledahan

badan menurut tata cara yang ditentukan dalam KUHAP.


3.

Pengertian penggeledahan rumah dalam Standar Operasional Prosedur ini


adalah pengertian penggeledahan rumah dalam KUHAP.

4.

Pengertian penggeledahan pakaian maupun penggeledahan badan dalam


Standar Operasional Prosedur ini adalah pengertian penggeledahan badan
dalam KUHAP.

55

E.

Petunjuk dan Koordinasi


Tindakan penggeledahan merupakan rangkaian proses pembuktian perkara
yang termasuk dalam kategori upaya paksa penyidik. Dalam

proses kegiatan

penggeledahan, penyidik melakukan berdasarkan ketentuan hukum yang ada di


dalam KUHAP dan hukum lainnya.
Dalam pelaksanaan kegiatan penggeledahan akan melibatkan penyidik/penyidik
pembantu dan petugas Kepolisian lainnya maupun pihak diluar institusi Kepolisian
antara lain saksi, Kepala Desa / Kepala Lingkungan, penghuni rumah dan
Pengadilan Negeri.
1.

Penggeledahan rumah, halaman rumah dan tempat tertutup lainnya,


pakaian dan badan
a.

Syarat formal yang harus dipenuhi :


1)

Dalam Surat Perintah Penggeledahan harus

mencantumkan

dasar dilakukan penggeledahan yaitu :


a)

Pasal 1 butir 17 dan 18 KUHAP merupakan penjelasan


tentang apa yang dimaksud penggeledahan;

b)

Pasal 5 (1) huruf b pa sal 7 (1) huruf d pasal 11, pasal 32


dan

pasal 37

KUHAP mengatur tentang kewenangan

penyidik/penyidik pembantu dalam hal penggeledahan.


c)

Pasal 33 KUHAP mengatur tentang syarat dan tata cara


penggeledahan.

d)

Pasal 34 KUHAP mengatur tentang alasan penggeledahan


tanpa izin dari Ketua PN serta

tindakan yang tidak

diperkenankan.
e)

Pasal

36

KUHAP

penggeledahan

mengatur

rumah

tentang

diluar

pelaksanaan

daerah

hukum

penyidik/penyidik pembantu.
f)

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian


Negara Republik Indonesia.

g)

Undang-Undang yang dipersangkakan;

h)

Undang-Undang lain yang terkait;

56

2)

i)

Laporan Polisi;

j)

Surat Perintah Penyidikan;

k)

Surat Perintah Tugas.

Petugas yang melaksanakan penggeledahan adalah penyidik


yang mendapat perintah dalam surat perintah penyidikan;

3)

Ijin penggeledahan dari Ketua Pengadilan Negeri;

4)

Dalam keadaan luar biasa dan mendesak,

penyidik

dapat

melakukan penggeledahan tanpa lebih dulu mendapat surat izin


dari

Ketua

Pengadilan

Negeri, namun segera

penggeledahan, penyidik wajib meminta

sesudah

persetujuan

Ketua

Pengdilan Negeri yang bersangkutan;


5)

Penggeledahan yang secara khusus diatur oleh Undang-Undang


yang mengharuskan dimintakan izin lebih dulu kepada Ketua
Pengadilan Negeri setempat, maka peyidik/penyidik
terlabih

dahulu

Undang-Undang RI

pembantu

memenuhi ketentuan dimaksud misalnya


Nomor

11 Tahun 2008 tentang informasi

dan teknologi elektrik.


b.

Syarat materiil yang harus dipenuhi


Penggeledahan dilakukan dengan mempertimbangkan persesuaian alat
bukti yang telah ditemukan penyidik/penyidik pembantu meliputi
keterangan saksi, keterangan ahli, surat,

petunjuk, keterangan

tersangka dengan hasil olah TKP. Adapun bentuk-bentuk alat bukti


dimaksud meliputi keterangan-keterangan yang diberikan saksi-saksi
yang dituangkan dalam berita acara pemeriksaan saksi, berita acara
pemeriksaan ahli (pemeriksaan forensik), petunjuk, berita acara
pemeriksaan dan pengolahan TKP serta berita acara

pemeriksaan

tersangka.
c.

Langkah-langkah penggeledahan
1)

Penyidik menunjukan Surat Perintah Tugas, Surat

Perintah

Penggeledahan dan Surat Izin Pengeledahan Rumah dari


Ketentuan Pengadilan Negeri setempat kepada orang yang akan
57

digeledah atau orang yang

menguasai tempat tertutup serta

penyampaian maksud bahwa akan dilakukan penggeledahan;


2)

Penyidik

menghadirkan

(dua)

orang

saksi

selama

penggeledahan, terhadap penggeledahan yang tidak disetujui


oleh tersangka atau penghuni menghadirkan Kepala Desa atau
Ketua Lingkungan.
3)

Bila menemukan barang bukti yang terkait tindak pidana disita,


langsung diberikan Surat Tanda Penerimaan (STP) dan dibuatkan
berita

acara

penggeledahan

dengan

blangko

yang

telah

disiapkan.
4)

Melaporkan hasil pelaksanaan kepada atasan penyidik dan


dibuatkan berita acara penggeledahan.

5)

Dalam penggeledahan hal tertangkap tangan tidak perlu Surat


Perintah Penggeledahan dan surat izin
Ketentuan Pengadilan Negeri
penggeledahan
membuat

segera

surat

penggeledahan dari

setempat, dua hari setelah

dibuatkan

persetujuan

BA

penggeledahan

tentang

telah

dan

dilakukan

penggeledahan kepada ketua Pengadilan Negeri.


F.
1.

Penutup
Standar Operasional Prosedur tentang penggeledahan ini dikeluarkan
untuk dijadikan pedoman didalam pelaksanaan tugas penyidikan tindak
pidana.

2.

Format administrasi penyidikan berpedoman kepada Buku Petunjuk


Administrasi yang berlaku.

Limboto,

JANUARI 2014

An. KEPALA KEPOLISIAN RESOR LIMBOTO


KASAT RESKRIM

HERI RUSYAMAN, SIK


AJUN KOMISARIS POLISI NRP 78061316

58

59

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA


DAERAH GORONTALO
RESOR GORONTALO

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR


PENYELESAIAN DAN PENYERAHAN BERKAS PERKARA
PADA SAT RESRIM POLRES GORONTALO

I.

Umum
a.

Kegiatan penyelesaian dan penyerahan berkas perkara merupakan


kegiatan akhir dalam proses penyidikan tindak pidana yang

dilakukan

oleh penyidik/penyidik pembantu.


b.

Proses yang meliputi pembuatan resume, penyusunan isi berkas perkara


dan penyerahan berkas perkara haruslah dilakukan secara cermat dan
teliti agar berkas perkara memenuhi syarat, tersusun rapih dan sistimatis.

c.

Untuk dapat melaksanakan pembuatan resume, penyusunan isi

berkas

perkara dan penyerahan berkas perkara yang optimal, perlu

dibuat

standarisasi.
d.

Untuk kepentingan tersebut dikeluarkan

ketentuan berupa Standar

Operasional Prosedur ini.


II.

Maksud dan Tujuan


a.

Maksud Penyusunan buku ini adalah untuk dijadikan standar bagi para
penyidik dalam melakukan penyelesaian akhir dan proses

penyidikan

tindak pidana yang ditangani.


b.

Untuk memperoleh keseragaman dalam melaksanakan

pemberkasan

sampai dengan penyerahan berkas perkaranya.

III.

Ruang Lingkup
Ruang Lingkup Standar Operasional Prosedur ini meliputi tatacara standar

60

dalam proses pembuatan resume, penyusunan berkas dan

pelaksanaan

penyerahan berkas perkara, serta penyerahan tanggung jawab atas tersangka


dan barang bukti.

IV.

Pengertian.
a.

Berkas perkara adalah kumpulan dari seluruh kegiatan dan atau


keterangan yang berkaitan dengan tindakan penyidikan tindak
dalam bentuk produk tertulis yang dilakukan oleh

pidana

penyidik/penyidik

pembantu.
b.

Resume adalah ikhtisar dan kesimpulan dari hasil penyidikan tindak pidana
yang terjadi yang dituangkan dalam bentuk dan tertentu penulisan
tertentu

c.

Berita Acara adalah Catatan atau tulisan yang bersifat otentik yang
memuat kegiatan tertentu dalam penyidikan dibuat dalam bentuk
tertentu oleh Penyidik atau Penyidik Pembantu atas kekuatan

sumpah

jabatan, diberi tanggal dan ditanda tangani oleh Penyidik atau Penyidik
Pembantu dan orang yang diperiksa.
d.

Penyusunan

berkas

perkara

adalah

kegiatan

penempatan

urutan

lembar kelengkapan administrasi penyidikan yang merupakan isi berkas


perkara yang disusun dalam satu berkas perkara.
e.

Pemberkasan adalah kegiatan memberkas isi berkas perkara

dengan

susunan, syarat penyampulan, pengikatan dan penyegelan yang telah


ditentukan serta pemberian nomor berkas perkara.
f.

Penyerahan berkas perkara, adalah tindakan penyidik untuk menyerahkan


berkas perkara dan menyerahkan tanggung jawab atas tersangka dan
barang bukti kepada Penuntut Umum atau ke Pengadilan dalam hal acara
pemeriksaan cepat sesuai dengan ketentuan dan peraturan perundangundangan yang berlaku.

g.

Pengembalian Berkas Perkara adalah dikembalikannya Berkas


dari Penuntut Umum kepada Penyidik karena adanya
isi/materi Berkas Perkara yang perlu dilengkapi sesuai
61

Perkara

kekurangan
petunjuk yang

diberikan.
V.

Dasar
a.

Pasal 8 Ayat (2) dan (3) dan Pasal 110 Ayat (1), Undang-Undang
Nomor 8 Tahun 1981 tentang KUHAP.

b.

Undang-undang Nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara RI.

c.

Peraturan pemerintah Nomor 27 tahun 1983 tentang Pelaksanaan Kitab


Undang-Undang Acara Pidana.

d.

Peraturan pemerintah Republik Indonesia Nomor 58 tahun 2010 tentang


perubahan atas peraturan pemerintah nomor 27 tahun

1983 tentang

pelaksanaan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.


e.

Keputusan Menteri

Kehakiman Nomor:

M.01.PW.07/1982

tentang

pedoman pelaksanaan KUHAP.


f.

Keputusan Bersama Ketua Mahkamah Agung, Menteri Kehakiman, Jaksa


Agung

dan

Kepala

Kepolisian

Nomor

KMA/003/SKB/II/1998,

M.02.PW.07.03.Th-1998, Kep/007/JA/2/1998 Dan Pol Kep / 02 / B / 1998


Tahun 1998 tentang pemantapan keterpaduan dalam penanganan
dan penyelesaian perkara-perkara pidana.
g.

Buku Petunjuk Pelaksanaan, Buku Petunjuk Lapangan, dan Buku Petunjuk


Administrasi

proses

penyidikan

Tindak

Pidana,

No.

Pol.

Skep/1205/1X/2000, tanggal 11 September 2000.


h.

Peraturan Kapolri Nomor 12 tahun 2009 tentang pengawasan dan


pengendalian penanganan perkara pidana di lingkungan

Kepolisian

Negara Republik Indonesia.


VI.

Penyelesaian dan penyerahan berkas perkara dapat digolongkan


sebagai berikut :
a.

Penyelesaian Berkas Perkara

b.

Penyerahan Berkas perkara

c.

Penyerahan tanggung jawab atas tersangka dan barang bukti

Penyelesaian Berkas Perkara


a.

Pembuatan Berita Acara Pendapat / Resume


62

1)

Persyaratan
a)

Syarat formal
(1)

Pasal 8 Ayat (2) dan (3) dan Pasal 110 Ayat (1), UndangUndang Nomor 8 Tahun 1981 tentang KUHAP;

(2)

Undang-undang Nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian


Negara Republik Indonesia;

b)

(3)

Undang-Undang yang dipersangkakan;

(4)

Undang-Undang lain yang terkait;

(5)

Laporan Polisi;

(6)

Surat Perintah Penyidikan;

(7)

Surat Perintah Tugas.

Syarat materiil
(1)

Dasar : Laporan Polisi

(2)

Fakta-fakta

(3)

(a)

Memuat tindakan yang telah dilakukan

(b)

Barang bukti yang disita

(c)

Keterangan-keterangan saksi dan/atau Ahli.

Pembahasan

Memuat

gambaran

kostruksi

tindak

pidananya didasarkan pada hubungan yang logis antara


fakta-fakta

dengan

keterangan-keterangan

diperoleh,untuk dilakukan analisa meliputi :


(a)

Analisa kasus:
-

Hubungan yang logis antara fakta-fakta

yang

ada dengan keterangan yang diperoleh baik dari


tersangka maupun saksi/ahli
-

Hubungan

keterangan

yang

satu

dengan

keterangan lainnya
- Hubungan yang logis antara barang bukti yang
ada

dengan

fakta

maupun

keterangan-

keterangan yang diperoleh


- Terjadinya
63

hubungan/persentuhan

antara

tersangka, korban, barang bukti dan saksi-saksi


di TKP.
- Atas

dasar

konstruksi

unsur-unsur

pasal

dipersangkakan berdasarkan fakta-fakta

yang

dibahas dalam analisa kasus.


(b)

Analisa yuridis :
Memuat gambaran konstruksi unsur-unsur
yang dipersangkakan berdasarkan

pasal

fakta yang

dibahas dalam analisa kasus.


(c)

Kesimpulan:
Memuat pendapat penyidik berdasarkan pembahasan
yang telah dilakukan tentang sangkaan perbuatan
pidana yang dilakukan oleh tersangka dan apakah
perbuatan

yang

dilakukan

tersangka

telah

memenuhi unsur unsur pasal dalam undang-undang


atau tidak.
2)

Langkah-langkah
a)

Pembuatan Berita Acara Pendapat/Resume dilakukan

oleh

Kanit atau Penyidik dibawah pengawasan Kanit. Resume berisi


tentang: Dasar Laporan Polisi, Uraian perkara dan pasal yang
disangkakan, tempus dan locus

delicty,

fakta-fakta, Analisa

Fakta, Analisa Yuridis, serta Kesimpulan.


b)

Berita Acara Pendapat/Resume adalah merupakan


seluruh tindakan penyidik yang telah
melakukan penanganan terhadap

perkara.

ringkasan

dilakukan dalam
Oleh karena itu

dalam fakta-fakta keterangan saksi-saksi maupun tersangka


bukan memindahkan / menyalin isi Berita Acara Pemeriksaan,
akan tetapi

berisi

tentang ringkasan keterangan dari saksi

maupun tersangka.
c) Setelah Resume selesai dibuat, Penyidik menyerahkan kepada

64

Kanit. Kanit melakukan penelitian terhadap Resume berkaitan


dengan syarat formilnya yaitu: Dasar Laporan Polisi, Uraian
perkara dan pasal yang disangkakan, tempus dan locus delicty,
fakta-fakta serta syarat penulisan Resume itu sendiri. Selain itu
Kanit melakukan pengecekan terhadap syarat materiilnya yaitu
korelasi antara analisa fakta dengan analisa yuridisnya terkait
dengan pemenuhan unsur pasal.
d)

Selesai melakukan pengecekan terhadap syarat formil


materiil Resume, Penyidik dan Kanit

membubuhkan

dan
tanda

tangannya pada Resume yang telah dibuat.


b.

Penyusunan Berkas Perkara


Penyusunan Berkas Perkara dilakukan dengan mempedomani

Naskah

Sementara Pedoman Penyidikan Tindak Pidana sesuai Skep Kabareskrim


Polri No. Pol : Skep/82/XII/2006/Bareskrim tanggal 15 Desember 2006,
meliputi :
1)

Penyidik melakukan penyusunan Berkas Perkara dengan urut-urutan :


a)

Sampul Berkas Perkara.

b)

Daftar Isi Berkas Perkara.

c)

Resume.

d)

Laporan Polisi

e)

Surat Pemberitahuan Dimulai Penyidikan

f)

Surat Perintah Penyidikan.

g)

Surat Perintah Tugas

h)

Pencegahan/Penangkalan dari Imigrasi

i)

Pencegahan/Penangkalan dari Jaksa Agung RI

j)

Daftar Pencarian Orang.

k)

Surat Perintah Penangkapan

l)

Berita Acara Penangkapan

m)

Surat Perintah Penahanan

n)

Berita Acara Penahanan

o)

Surat Pemberitahuan Kepada Keluarga Tersangka.


65

p)

Surat Perintah Penangguan penahanan

q)

Berita Acara Penangguhan Penahanan

r)

Surat Perintah Pengalihan Jenis Penahanan

s)

Berita Acara Pengalihan Jenis Penahanan

t)

Surat Perintah Pembantaran Penahanan.

u)

Berita Acara Pembantaran Penahanan.

v)

Surat Perintah perpanjangan penahanan dari Kejaksaan

w)

Surat Perintah perpanjangan penahanan dari Pengadilan

x)

Surat Perintah perpanjangan penahanan

y)

Berita Acara Perpanjangan Penahanan

z)

Surat Perintah Pengeluaran Penahanan

aa) Berita Acara Penggeluaran Penahanan


bb) Surat Perintah Pengge ledahan
cc)

Berita Acara Penggeledahan

dd) Surat Persetujuan Penggeledahan dari Ketua PN


ee) Surat Perintah Penyitaan
ff)

Surat Persetujuan Penyitaan/ Ijin Khusus Penyitaan dari Ketua


PN

gg) Surat Tanda Penerimaan (STP) Barang-Bukti.


hh) Berita Acara Penyitaan
ii)

Surat Panggilan

jj)

Surat Perintah membawa tersangka /saksi

kk) Berita Acara Saksi-Saksi


ll)

Berita Acara Keterangan Ahli

mm) Foto Copy Identitas (KTP/SIM/Pasport) Tersangka


nn) Berita Acara Tersangka
oo) Dokumen-Dokumen Barang Bukti
pp) Daftar Saksi.
qq) Daftar Tersangka
rr)

Daftar Barang-Bukti.

ss) Dokumen lainnya yang perlu dilampirkan.


2)

Setelah selesai dilakukan penyusunan berkas perkara,

66

penyidik

melakukan penelitian terhadap isi berkas perkara berkaitan dengan


kelengkapan formil seperti tanda tangan dan cap/stempel kesatuan
pada setiap lembar administrasi

penyidikan maupun, berita acara

yang telah dibuat, serta kelengkapan materiilnya.


3)

Setelah diteliti, penyidik mengajukan berkas perkara yang


disusun namun belum dijilid kepada Kanit untuk diteliti
berkaitan dengan kelengkapan formil, materiil

telah

kembali

maupun syarat

penyusunan berkas perkara (vide Petunjuk Teknis Penyidikan Tindak


Pidana). Selain itu penyidik mengajukan Surat Pengantar Pengiriman
Berkas Perkara ke Penuntut Umum kepada Kanit untuk otentikasi
paraf di kolom konseptor
4)

Selanjutnya Kanit membubuhkan tanda tangan pada Sampul Berkas


Perkara (bagian dalam) dan kemudian mengajukan berkas perkara
yang belum dijilid dengan Surat Pengantar Pengiriman Berkas
Perkara kepada Penuntut Umum secara berjenjang kepada :
a)

Urmin, untuk melakukan penelitan terhadap Surat Pengantar


Pengiriman Berkas Perkara ke Penuntut

Umum dan untuk

otentikasi membubuhkan paraf pada kolom Urmin.


b)

Kaur Bin Ops, untuk melakukan penelitan terhadap


Pengantar Pengiriman Berkas Perkara ke

Penuntut

Surat
Umum

dan untuk otentikasi membubuhkan paraf pada kolom Kaur


Bin Ops.
c)

Kasat Reskrim, wajib membaca Resume yang memuat faktafakta penyidikan, Pembahasan mengenai

pembuktian Tindak

Pidana yang dipersangkakan dan

Analisis Yuridis dan

konstruksi hukum

yang dipersangkakan,

penerapan pasal

kemudian bila telah disetujui maka untuk otentikasi Kasat


membubuhkan paraf pada

arsip Surat serta membubuhkan

tanda tangan pada

Pengiriman

Surat

Berkas Perkara ke

Penuntut Umum.
d)

Apabila dalam proses penelitian kembali Berkas Perkara


ditemukan adanya koreksi yang diperlukan dalam setiap
67

tahapan yang dilalui, maka Berkas Perkara dikembalikan lagi


kepada penyidik untuk diperbaiki.
5)

Setelah Kasat menandatangani Surat Pengiriman Berkas Perkara ke


Penuntut Umum, penyidik menggandakan Berkas Perkara menjadi 4
(empat) rangkap kemudian menjilid dan

me-lak Berkas Perkara

serta memberikan nomor register Berkas.


Penyerahan Berkas Perkara Kepada Penuntut Umum
Penyerahan Berkas Perkara kepada Penuntut Umum dilakukan dengan langkahlangkah sebagai berikut :
a.

Membuat

surat pengantar pengiriman berkas perkara ke Penuntut

Umum (sesuaikan levelering) dengan melampirkan Berkas perkaranya.


b.

Mengirim berkas perkara kepada JPU dengan menggunakan surat


pengantar dan buku Register Pengiriman Berkas Perkara.

c.

Bukti Pengiriman/Tanda Terima dari TU atas pengiriman berkas perkara.

d.

Koordinasi dengan JPU.

e.

Penelitian Berkas Perkara oleh JPU.

f.

Pengembalian Berkas Perkara dari JPU kepada Penyidik (P.18 dan P.19).

g.

Pemenuhan petunjuk JPU.

h.

Buat surat pengantar pengiriman kembali berkas perkara kepada JPU.

i.

Pengiriman Kembali Berkas perkara kepada JPU dengan

menggunakan

surat pengantar dan buku register pengiriman berkas perkara.


j.

Bukti pengiriman/ tanda terima pengiriman kembali berkas perkara.

Penyerahan Tersangka dan Barang Bukti


Setelah berkas perkara dinyatakan lengkap oleh Penuntut Umum (P.21)
dilanjutkan dengan penyerahan tersangka dan barang bukti kepada Penuntut
Umum, yang dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a.

Membuat surat pengantar pengiriman tersangka dan barang bukti.

b.

Meneliti kembali/mempersiapkan tersangka dan barang-bukti yang akan


diserahkan tanggung jawabnya kepada JPU.

c.

Koordinasi dengan JPU untuk menentukan waktu penyerahan Tersangka

68

dan Barang bukti.


d.

Mempersiapkan transportasi dan akomodasi untuk penyerahan tersangka


dan barang bukti kepada JPU.

e.

Menyerahkan tersangka dan barang bukti dilengkapi dengan surat


pengantar pengiriman tersangka dan barang bukti.

f.

Membuat berita acara serah terima tersangka dan barang bukti yang
ditandatangani oleh penyidik dan JPU.

g.

Membuat laporan hasil pelaksanaan tugas penyerahan tersangka

dan

barang bukti kepada pimpinan.


VII.

Penyelenggaraan Administrasi Umum mempedomani Jukmin yang


berlaku di lingkungan Poiri.

VIII. Penyelenggaraan Administrasi Penyidikan mempedomani Naskah


Sementara

Pedoman

Penyelenggaraan

Administrasi

Penyidikan

Tindak Pidana.
XIV. Penutup
Demikian Prosedur Operasional standar ini dibuat sebagai pedoman dan
panduan bagi penyidik/penyidik pembantu dalam melaksanakan penyidikan
Limboto,

JANUARI 2014

An. KEPALA KEPOLISIAN RESOR LIMBOTO


KASAT RESKRIM

HERI RUSYAMAN, SIK


AJUN KOMISARIS POLISI NRP 78061316

69

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA


DAERAH GORONTALO
RESOR GORONTALO

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR


PENERIMAAN DAN PENANGANAN PENGADUAN
KOMPLAIN MASYARAKAT/PUBLIC COMPLAIN
PADA SAT RESRIM POLRES GORONTALO

I.

Pendahuluan
1.

Umum
a.

Dalam rangka menampung,

melayani dan

menangani

keluhan

masyarakat, dengan meningkatkan citra pelayanan cepat, tepat,


profesional, akuntabel, selaras dengan Transparansi penyidikan;
b.

Sebagai

langkah

penjabaran

transparansi

penyidikan,

guna

meningkatkan kepercayaan masyarakat pada Kesatuan Reskrim Polri


semua tingkat, perlu menampung keluhan masyarakat dengan
membentuk

wadah

penerimaan

komplain

masyarakat

(Public

Complain);
c.

Agar pengaduan komplain masyarakat mendapatkan pelayanan yang


cepat, tuntas dan memberikan kepastian dibuat Standard Operasional
Prosedur (SOP) Penerimaan dan Penanganan Pengaduan Komplain
Masyarakat (Public Complain) guna dipedomani oleh Penyidik Polri.

2.

Dasar
a.

Undang-Undang No. 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana;

b.

Undang-Undang No. 2 tahun 2002 tentang Kepolisian RI;

c.

Keputusan Kapolri No. Pol. : Kep/22/VI/2004 tentang Perubahan atas


Keputusan Kapolri No. Kep/30/VI/2003 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Satuan-satuan organisasi pada tingkat Mabes Polri;

70

d.

Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia No. Pol.: 15


tahun 2006 tentang Kode Etik Profesi Penyidik

Kepolisian Republik

Indonesia tanggal 6 November 2006;


e.

Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia

tentang

Pedoman Penyidikan Tindak Pidana;


f.

Pedoman pengawas penyidikan (naskah sementara) tanggal 1 Januari


2008.

3.

Maksud dan Tujuan


a.

Maksud
SOP ini dimaksudkan untuk menjadi pedoman terhadap penerimaan
dan penanganan pengaduan komplain masyarakat / Public complain
di Satuan Reserse Kriminal Polres Limboto.

b.

Tujuan
SOP ini bertujuan agar setiap penerimaan dan pengaduan komplain
masyarakat/Public complain dapat ditangani secara cepat, tuntas dan
memberikan kepastian.

4.

Ruang Lingkup
Ruang lingkup SOP ini meliputi penerimaan dan penanganan pengaduan
komplain masyarakat/Pubilc complain dari berbagai

sumber yang masuk

pada Sat Reskrim Polres Limboto, yang sudah

diterima laporannya,

dituangkan dalam Laporan Polisi, ditangani oleh

Penyidik

Polri,

(tidak

termasuk perkara SP3, dalam persidangan pidana dan yang sudah


mendapat keputusan/memperoleh kekuatan hukum yang tetap/incrach).
5.

Pengertian
a.

Pengaduan komplain masyarakat adalah pengaduan yang disampaikan


oleh masyarakat yang datang langsung atau melalui surat, SMS, eMail atau telepon diterima Sat Reskrim Polres Limboto, yang sudah
diterima laporannya tertuang dalam Laporan Polisi dan ditangani oleh
penyidik Sat Reskrim (tidak termasuk perkara yang sudah dihentikan
71

penyidikannya, dalam proses sidang pengadilan pidana, atau perkara


yang sudah mendapat keputusan / memperoleh kekuatan hukum yang
tetap/Incrach);
b.

Petugas penerima pengaduan komplain masyarakat selanjutnya


disebut

Petugas

adalah

Personil

Sat

Reskrim

yang

ditunjuk

berdasarkan Skep/Sprin Kasat Reskrim ditugaskan untuk menerima,


merespon pengaduan komplain masyarakat;
c.

Pengawas Penyidik adalah Personil Sat Reskrim Polres Limboto yang


ditunjuk berdasarkan Skep/Sprin Kasat Reskrim, ditugaskan untuk
menindaklanjuti, menangani pengaduan komplain masyarakat;

d.

Atasan penyidik adalah atasan penyidik secara hirarkhi pada Sat


Reskrim.

II.

Mekanisme Penerimaan Dan Penanganan


1.

Pada prinsipnya pengaduan komplain masyarakat yang diterima

dari

masyarakat yang datang langsung dan atau melalui Instansi, Badan,


Lembaga diluar Polri, disalurkan dari Kapolres, Wakapolres, guna dilakukan
tindaklanjut penanganan komplain masyarakat yang dikoordinasi oleh Kaur
Bin Ops;
2.

Pengaduan Komplain Masyarakat meliputi 2 jenis yaitu: datang langsung ke


Sat Reskrim Polres Limboto dan atau melalui surat dari berbagai sumber
atau melalui SMS atau e-Mail, atau telepon.
a.

Datang langsung ke Sat Reskrim Polres Limboto.


1)

Pengaduan Komplain Masyarakat yang datang langsung ke Sat


Reskrim
penerima

Polres

Limboto,

pengaduan

diterima

masyarakat

langsung
dan

oleh

segera

Petugas

diklarifikasi

kepada/dengan penyidik yang menangani perkaranya atau


Pengawas Penyidik, dengan hasil klarifikasi dapat berupa :
a)

Kepada pengadu disampaikan rekomendasi/saran :


(1)

Dipertemukan

langsung

dengan

Penyidik

yang

menangani, bila perkaranya ditangani oleh Sat Reskrim

72

Polres Limboto;

b)

(2)

Perlu waktu untuk dilaksanakan gelar perkara;

(3)

Perlu supervisi atau diminta laporan kemajuan;

(4)

Dapat diketahui langsung melalui sarana SPPKP.

Dibuat rekomendasi kepada Kasat Reskrim melalui Kaur Bin


Ops, dapat berupa :
(1)

Perlu klarifikasi, pendalaman, mengecek langsung


kepada Penyidik yang menangani perkara dijembatani
oleh Pengawas Penyidik;

2)

(2)

Dimintakan laporan kemajuan perkembangan perkara;

(3)

Perlu dilakukan gelar perkara;

(4)

Perlu dilakukan supervisi.

Hasil tindak lanjut :


a)

Dilaporkan kepada Kasat Reskrim melalui Kaur Bin Ops ;

b)

Dibuat arahan Kasat Reskrim kepada Kanit langkah tindak


lanjut penanganan perkara yang diadukan complain;

c)

Dibuat surat balasan atau jawaban

kepada

Instansi,

Badan, Lembaga , sesuai masalah yang diadukan;


d)

Disampaikan SP2HP dari penyidik kepada

pengadu /

pelapor, (SP2HP ditanda tangani oleh Kasat).


3)

Apabila

pengadu

komplain,

mengadukan

perkara

yang

penanganannya oleh Satuan Kewilayahan, akan direspon dengan


meminta laporan kemajuan penanganan perkara, atau diundang
gelar perkara di Sat Reskrim Polres Limboto atau dilakukan
supervisi dan atau gelar perkara di Kewilayahan (Polsek), dan
akan ditindak lanjuti, disampaikan

jawaban kepada

pengadu

komplain.

b.

Pengaduan Komplain melalui surat dari berbagai sumber (Masyarakat,


Lembaga/Instansi/Departemen dan Satuan Kerja Lingkup Polda).

73

1)

Komplain surat dari berbagai Sumber diteruskan kepada Sat


Reskrim :
a)

Dari

Masyarakat

(Perorangan,

Perseroan,

Kuasa

Hukum/Advokat, LSM);
b)

Dari

Masyarakat

kepada

Presiden,

Departemen

Kementerian (Setneg RI, Seskab, Polhukam, Depdagri,


Depkumham, dst);
c)

Dari Masyarakat kepada Institusi/Badan/Lembaga


Departemen (DPR-RI, KOMNAS HAM,

Non

OMBUDSMAN, MK,

KOMPOLNAS, dst);
d)

Dari Masyarakat kepada Satuan Kerja lingkup Mabes Polri


(Irwasum Polri, Divisi Binkum Polri, Divisi Propam Polri, dst).

e)

Dari Masyarakat kepada Satuan Kerja lingkup Polda


Gorontalo.

2)

Diterima dari Direktorat Reserse Kriminal Polda Gorontalo.


a)

Surat pengaduan komplain yang diterima dan sudah ada


petunjuk/arahan dalam disposisi dari Kapolres, Wakapolres,
dilakukan tindaklanjut sesuai prosedur sebagai berikut :
(1)

Ditunjuk

Pengawas

Penyidik

untuk

mempelajari,

menganalisis, menangani dan mengkordina- sikan


dengan penyidik ;
(2)

Dilakukan

gelar

perkara

di

Dit

Reskrim

Polda

Gorontalo;
(3)

Dilakukan supervisi dan atau gelar perkara di Satuan


Kewilayahan;

(4)

Diminta laporan perkembangan penanganan perkara;

(5) Menanggapi komplain dengan membuat surat sebagai


jawaban;
(6)

Bila

bobot perkara yang diadukan komplain cukup

untuk direspon oleh Satuan Kewilayahan, maka surat


pengaduan
74

komplain

dilimpahkan

ke

Satuan

Kewilayahan untuk direspon dan ditindak lanjuti.


b)

Hasil tindak lanjut.


(1)

Dilaporkan kepada Direktur Reserse Kriminal Polda


Gorontalo;

(2)

Dilaporkan kepada Kapolda/Wakapolda (bila dianggap


perlu diketahui dan diambil kebijakan);

(3)

Disampaikan penjelasan kepada Instansi/ Lembaga /


Badan / Departemen yang mengaharapkan informasi
sebagai jawaban;

(4)

Disampaikan SP2HP dari penyidik kepada pelapor /


pengadu.

(5)

Disampaikan penjelasan kepada Pengadu sebagai


jawaban.

c.

Pengaduan Komplain melalui SMS, E-MAIL dan Telepon.


a)

Penerimaan pengaduan komplain melalui SMS dan E-Mail.


(1)

Petugas

menerima dan membuka SMS, E-Mail, serta

diprint (print out), dibuatkan pengantar dalam bentuk


Nota Dinas;
(2)

Ajukan kepada Kaur Bin Ops atau dapat diajukan kepada


Kasat Reskrim untuk mendapatkan petunjuk / disposisi;

(3)

Ditugaskan
Komplain

kepada

Petugas

untuk klarifikasi

Penerima

kepada

Pengaduan

penyidik (apabila

perkaranya ditangani di Sat Reskrim);


(4)

Ditunjuk Pengawas Penyidik untuk cross cek/klarifikasi


dengan penyidik, atau
kemajuan penanganan

klarifikasi, minta

laporan

perkara, apabila perkaranya

ditangani oleh Kewilayahan;


(5)

Dapat dilakukan gelar perkara dalam kurun waktu 1 2


minggu.

b)

Penerimaan pengaduan komplain melalui Telepon.

75

(1)

Petugas menerima telepon, dicatat kemudian dituangkan


dalam Nota Dinas diajukan kepada Kasat Reskrim untuk
mendapatkan petunjuk / disposisi;

(2)

Pengaduan Komplain memuat :


(a)

Identitas

pengadu

komplain

(nama

lengkap,

pekerjaan dan alamat);


(b)

Komplain berhubungan dengan perkara apa, No


LP/Bukti

Laporan/STPL,

ditangani

Kesatuan

Kepolisian mana, serta Tim Penyidik atau Penyidik;


(c)

Yang dikomplain permasalahan apa, hubungannya


dengan penanganan perkara.

(3)

Ditugaskan

kepada

Petugas

Penerima

Pengaduan

Komplain untuk klarifikasi kepada penyidik Sat Reskrim


Polres Limboto (apabila perkaranya ditangani di Sat
Reskrim Polres Limboto);
(4)

Ditunjuk Pengawas Penyidik untuk cross cek / klarifikasi


dengan

penyidik Sat Reskrim Polres

klarifikasi/minta

laporan

perkembangan

Limboto

atau

penanganan

perkara, apabila perkaranya ditangani oleh Kewilayahan;


(5)

Dapat dilakukan gelar perkara dalam kurun waktu 1 2


minggu.

c)

Hasil tindak lanjut.


(1)

Petugas penerima komplain melaporkan tertulis kepada


Kaur Bin Ops dan diteruskan kepada Kasat Reskrim;

(2)

Diteruskan Laporan kepada Kapolres, Wakapolres (bila


perlu diketahui untuk mendapatkan arahan / kebijakan);

(3)

Disampaikan

penjelasan

kepada

pengadu

komplain

sebagai jawaban melalui surat atau melalui SMS, atau Email;


(4)

Surat Jawaban harus dicatat dalam Register dan diberi


Nomor, tanggal, tertanda/ditanda tangani dan stempel
kesatuan kepolisian.

III. Tempat, Ruang Dan Sarana, Personil / Petugas Penerima Pengaduan


76

Komplain Masyarakat.
1.

Tempat dan Ruang Penerimaan Pengaduan Komplain Masyarakat;


a.

Di Satuan Reskrim
Tempat kedudukan Penerimaan pengaduan komplain

Masyarakat

berada di Ruang Piket Sat Reskrim Polres Limboto dan ruangan


penerimaan
Ruangan

bergabung dengan Ruang Pengawas Penyidikan atau


lain yang sudah ditentukan, didukung dengan sarana

pendukung operasionalnya.
b. Di Kesatuan Kewilayahan.
1)

Tempat kedudukan Penerimaan pengaduan komplain Masyarakat


berada di Polsek;

2)

Ruang Penerimaan pengaduan komplain masyarakat yang telah


ditentukan berada pada Unit Reskrim Polsek, didukung dengan
sarana pendukung operasionalnya.

2.

Untuk keseragaman penyebutan, pertama kali ditetapkan nama : Ruang


PENGADUAN KOMPLAIN MASYARAKAT (PUBLIC COMPLAIN)

3.

Personil/Petugas Penerima Pengaduan Komplain Masyarakat.


a.

Pada Sat Reskrim Polres Limboto ;


1)

Petugas adalah personil Sat Reskrim Polres Limboto ditunjuk


berdasarkan Surat Perintah Kasat Reskrim terdiri 2 (dua) orang
berpangkat Brigadir Polisi/PNS golongan II;

2)

Petugas penerima pengaduan komplain masyarakat pada poin 1),


melaksanakan tugas dari jam 08.00 15.00 Wita.

b.

Tingkat Polsek
a)

Petugas

adalah

personil

Unit

Reskrim

Polsek

ditunjuk

berdasarkan Surat Perintah Kapolsek;


b)

Petugas

penerima

pengaduan

komplain

melaksanakan tugas dari 08.00 15.00 Wita.


IV. Pengawasan Dan Pengendalian

77

masyarakat,

1. Setiap memberikan respon / menindaklanjuti atau selesai menindaklanjuti


pengaduan komplain masyarakat, Petugas dan atau Pengawas penyidik
yang ditunjuk bertanggung jawab melaporkan secara tertulis kepada Kasat
Reskrim;
2.

Setiap memberikan respon / menindaklanjuti atau selesai menindaklanjuti


pengaduan komplain masyarakat, Petugas dan atau
yang

ditunjuk

pada

Kesatuan

Kewilayahan,

Pengawas penyidik
bertanggung

jawab

melaporkan secara tertulis :

3.

a.

Kepada Kapolda melalui Direktur Reserse Kriminal Polda Gorontalo;

b.

Kepada Kapolres melalui Kasat Reskrim dan.

Petugas dan pengawas penyidik membuat rekap setiap bulan

sebagai

pertanggungjawaban atas pelayanan kepada masyarakat berkaitan dengan


penerimaan dan penanganan pengaduan komplain

masyarakat, serta

tindak lanjutnya.
V.

Administrasi
1.

Administrasi

berkaitan

dengan

penerimaan

pengaduan

complain

masyarakat, penanganan dan tindak lanjut atau Surat Jawaban kepada


pengadu komplain, mempedonani dan menyesuaikan
Administrasi

umum

Polri dan atau Administrasi

dengan petunjuk

penyidikan Polri, serta

dicatat dalam register;


2.

Kebutuhan sarana prasarana, ATK dan dukungan Anggaran

kesatuan-

kesatuan Reskrim sesuai tingkatan.

VI. Penutup
Demikian Prosedur Operasional standar ini dibuat sebagai pedoman dan panduan

78

bagi penyidik/penyidik pembantu dalam melaksanakan penyidikan

Limboto,

JANUARI 2014

An. KEPALA KEPOLISIAN RESOR GORONTALO


KASAT RESKRIM

HERI RUSYAMAN, SIK


AJUN KOMISARIS POLISI NRP 78061316

79

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA


DAERAH GORONTALO
RESOR GORONTALO

PEDOMAN
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
PENERIMAAN DAN PELAYANAN PENGADUAN
PADA SENTRA PELAYANAN KEPOLISIAN TERPADU

I.

Pendahuluan
1.

Umum
a.

Harus disadari bahwa proses penyidikan yang dilaksanakan oleh


penyidik Polri selama

ini dirasakan

masih

jauh

dari harapan

masyarakat, hal ini ditandai dengan masih adanya komplain atau


pengaduan terhadap terjadinya penyalah- gunaan

wewenang,

keterlambatan penyelesaian perkara dan sebagainya. Kondisi seperti


ini merupakan salah satu indikator belum dapat diwujudkannya
kepastian hukum dan

pelayanan

Polri

yang belum

memenuhi

harapan masyarakat;
b.

Sejalan dengan era globalisasi dan transparansi (keterbukaan


informasi publik), kecendrungan semakin meningkatnya tuntutan
masyarakat terhadap kinerja Polri, maka Polri dalam hal ini penyidik
dituntut untuk terus meningkatkan kemampuan
dan

mereformasi

birokrasi dalam

proses

(profesionalisme)
penyidikan

untuk

membangun kepercayaan masyarakat (trust building);


c.

Untuk mengimplementasikan Program Kerja Akselerasi Tranformasi


Polri

menuju

Polri

yang

mandiri,

profesional

dan

dipercaya

masyarakat, maka Sat Reskrim Polres Limboto dan jajarannya


dituntut untuk segera merubah mindset dan perilaku dalam
80

memberikan pelayanan kepada

masyarakat pencari keadilan dari

yang selama ini terkesan dilakukan dengan cara pendekatan


kekuasaan (minta dilayani) menjadi pendekatan yang sifatnya proaktif

(melayani)

sehingga

pada

gilirannya

akan

terbangun

kepercayaan ( trust building ) masyarakat terhadap kinerja Polri


khususnya Reserse;
d.

Dalam upaya percepatan membangun dan meraih kepercayaan


masyarakat

tersebut,

perkembangan

serta

lingkungan

dalam

strategis,

rangka mengantisipasi
Kapolri telah merumuskan

kebijakan dalam bentuk Reformasi Birokrasi dengan me-launching


Program Quick Wins

Fungsi Reskrim

PELAYANAN

PIHAK YANG SEDANG MEMPERJUANGKAN

KEPADA

KEADILAN

DALAM

BERKESINAMBUNGAN

yaitu

PEMBERIAN

PROSES

PENYIDIKAN

SECARA

MELALUI

PEMBERIAN

SURAT

PEMBERITAHUAN PERKEMBANGAN HASIL PENYIDIKAN (SP2HP).


Sebagai

konsekwensi

dari

ditetapkannya

Program

Unggulan

Quick Wins tersebut, maka setiap proses penyidikan dimulai sejak


diterimanya Laporan Polisi sampai dengan Pelimpahan Berkas
Perkara

ke

JPU

harus dilaksanakan secara profesional,

proporsional, obyektif dan transparan yang kesemua


tergambar dalam

strive

for excellence

kegiatannya

(pelayanan

kepada

masyarakat yang unggul / prima);


e.

Guna kelancaran pelaksanaan dari Program Quick Wins melalui


penerbitan

SP2HP,

Olah TKP dan Penanggulangan Teror oleh

Fungsi Reskrim dalam setiap proses penyidikan diperlukan pedoman


bagi

para penyidik/penyidik

pembantu di seluruh jajaran Sat

Reskrim Polres Limboto.

2.

Dasar
a.

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana;

b.

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian R.I;

81

c.

Keputusan Kapolri No.Pol.: Kep / 37 / X / 2008 tanggal 27 Oktober


2008 tentang Program Kerja Akselerasi Transformasi Polri Menuju
Polri yang Mandiri, Profesional dan Dipercaya Masyarakat;

d.

Surat Telegram Kabareskrim Polri No. Pol.: STR/33/RA/I/2009


tanggal 14 Januari 2009 tentang Mekanisme dan Tahapan Pemberian
Pelayanan kepada pihak yang sedang

memperjuangkan Keadilan

dalam Proses Penyidikan melalui SP2HP.


3.

Maksud dan Tujuan


a.

Maksud
Maksud penyusunan buku ini adalah sebagai pedoman bagi para
penyidik/penyidik

pembantu

dalam

mememberikan

pelayanan

kepada masyarakat pencari keadilan selama proses penyidikan atas


perkara yang dilaporkan dengan menginformasikan setiap tahap
perkembangan hasil penyidikan yang telah dilakukan melalui
pengiriman SP2HP.
b. Tujuan
Terwujudnya mekanisme penyidikan yang profesional, proporsional,
obyektif,

transparan

dan akuntabel serta tidak diskriminatif

sehingga dapat memberikan

jaminan adanya kejelasan dan

kepastian hukum bagi pihak-pihak yang berperkara.


4.

Ruang Lingkup
Pedoman pelaksanaan program

quick

wins

ini

meliputi

petunjuk

tentang tata cara pemberian surat pemberitahuan perkembangan hasil


penyidikan (SP2HP) kepada pelapor/korban yang harus dilakukan oleh
para penyidik/penyidik pembantu sesuai tahapan-tahapan dan waktu
yang telah ditetapkan.
5.

Asas-asas dan pengertian-pengertian


a.

Asas- asas
82

1)

Legalitas,

yaitu

setiap

tindakan

penyidikan

senantiasa

berdasarkan peraturan perundang-undangan;


2)

Proporsional, yaitu setiap penyidik melaksanakan tugasnya


sesuai legalitas kewenangannya masing-masing;

3)

Kepastian hukum, yaitu setiap tindakan penyidik dilakukan


untuk menjamin tegaknya hukum dan keadilan;

4)

Kepentingan

umum,

yaitu

setiap

penyidik

Polri

lebih

mengutamakan kepentingan umum dari pada kepentingan


pribadi dan/atau golongan;
5)

Efektifitas dan efisiensi waktu penyidikan, yaitu dalam proses


penyidikan, setiap penyidik wajib menjunjung tinggi efektivitas
dan efisiensi waktu penyidikan sebagaimana diatur dalam
peraturan-pratuaran / perkap Kapolri yang berlaku;

6)

Kredibilitas, yaitu setiap penyidik memiliki kemampuan dan


ketrampilan

yang

prima

dalam

melaksanakan

tugas

penyidikan;
7)

Transparan yaitu, setiap tindakan penyidik memperhatikan


asas

keterbukaan

dan

bersifat informatif bagi pihak-pihak

terkait;
8)

Akuntabilitas yaitu, setiap penyidik dapat memper tanggung


jawabkan

tindakannya

secara yuridis, administrasi dan

tehknis.
b.

Pengertian-pengertian
1)

Cepat yaitu pelapor/pengadu

terlayani dengan segera dan

profesional sesaat setelah menyampaikan laporannya dengan


kretaria sebagai berikut :
a)

Adanya kesigapan, kesiapan, dan sikap proaktif dalam


melakukan

pelayanan

kepada

masyarakat

yang

menyampaikan laporan/pengaduan;
b)

Penyidik

segera

memberikan

83

membuatkan

surat

tanda

laporan

bukti

polisi

laporan

dan

(STBL)

kepada pelapor;
c)

Penyidik segera mendatangi TKP untuk laporan kasus


yang memerlukan olah TKP;

d)

Penyidik segera memeriksa pelapor/saksi yang ada


dan dituangkan kedalam BAP;

e)

Penyidik melakukan penelitian terhadap laporan yang


diterima untuk menentukan status laporan tersebut;

f)

Atasan penyidik segera mengirimkan SP2HP kepada


pelapor mengenai status laporan, identitas penyidik
yang menangani dan rencana tindak lanjut proses
laporan tersebut.

2)

Tepat yaitu segala upaya/tindakan yang dilakukan penyidikan


didasari profesional, proporsional, sesuai dengan ketentuan
hukum yang berlaku dengan kreteria sebagai berikut :
a)

Tindakan penyidikan yang terarah dan terukur didasari


3T

(tepat sasaran, tepat alasan dan tepat dasar

hukumnya);
b)

Setiap tindakan penyidikan didukung oleh administrasi


penyidikan;

c)

Tindakan upaya paksa oleh penyidik dilakukan sesuai


urutan tindakan-tindakan yang telah diatur dalam
juklak/juknis yaitu dimulai dari tindakan

persuasif

sampai dengan tindakan represif.


3)

Transparan yaitu

adanya

keterbukaan

dalam

proses

penyidikan melalui penyampaian pemberitahuan perkembangan


hasil

penyidikan

(SP2HP)

dan

pelaksanaan

pengawasan

penyidikan dari seluruh tahapan tahapan penindakan yang


dilakukan oleh penyidikan baik melalui surat maupun gelar
perkara, kegiatan yang dilakukan :
a)

Dalam

penerimaan

laporan

petugas

membacakan

kembali isi laporan yang diterima dan dipahami oleh


84

pelapor kemudian ditanda tangani bersama;


b)

Selama dalam proses penelitian laporan, penyelidikan


dan

penyidikan

pelapor

mendapatkan

informasi

perkembangan penyidikan melalui SP2HP;


c)

Sejak proses kepenyidikan sudah diawasi oleh Pengawas


Penyidik.

4)

Akuntabel yaitu segala tindakan yang telah dilakukan sesuai


dengan prosedur, terukur, tindakan tidak bertentangan dengan
hukum

dan

dapat

dipertanggung

jawabkan

kepada

publik/umum;
5)

Perkara mudah yaitu apabila :


a)

Saksi-saksi ada dan tempat tinggalnya masih dalam


wilayah satu Kecamatan dengan kantor penyidik;

b)

Barang buktinya mudah didapat;

c)

Petunjuk

yang

ada

terdapat

kesesuaian

antara

keterangan para saksi, tersangka dan barang bukti yang


ditemukan;
d)

Tidak memerlukan keterangan ahli, namun apabila


diperlukan ahli tersedia di wilayah hokum penyidik;

e)

Tersangkanya tertangkap tangan/menyerahkan diri /


keberadaan dan identitasnya diketahui serta mudah
ditangkap;

f)

TKP mudah dijangkau dan masih dalam keadaan utuh


serta tidak diperlukan olah TKP atau tidak diperlukan
juga bantuan tehnis dalam olah TKP;

g)

Tidak diperlukan peranan lembaga lain dalam proses


penyidikan/kalau diperlukan tersedia dalam wilayah
hukum penyidik.

6)

Perkara sedang yaitu apabila :


a)

Saksi-saksi ada dan tempat tinggalnya masih dalam

85

wilayah satu Kabupaten dengan kantor penyidik;


b)

Barang buktinya mudah didapat dan ada petunjuk yang


berkaitan dengan keterangan saksi, barang bukti dan
tersangka;

c)

Tidak

diperlukan

keterangan

ahli,

namun

apabila

diperlukan ahli tersedia di wilayah hukum penyidik;


d)

Tersangka tidak terganggu kesehatannya, keberadaan


dan

identitasnya

sudah

diketahui

ditangkap, tidak merupakan bagian

serta

mudah

dari

kejahatan

terorganisir, jumlahnya tidak lebih dari 3 orang;


e)

TKP mudah dijangkau dan masih utuh serta diperlukan


olah TKP dan bantuan tehnis dalam olah TKP;

f)

Diperlukan peralatan khusus Kepolisian dalam proses


penyidikan dan peran lembaga lain.

7)

Perkara sulit yaitu apabila :


a)

Tempat tinggal saksi berada dalam satu Provinsi dengan


kantor penyidik, jumlahnya kurang dari 2 orang, saksi
bukan merupakan sumber pertama, saksi berhubungan
dengan

lembaga

lain

dan

untuk

melakukan

pemeriksaan saksi diperlukan prosedur birokrasi khusus;


b)

Sangat

diperlukan

bukti

surat

dan

untuk

mendapatkannya diperlukan izin khusus;


c)

Terdapat sebagian petunjuk yang berkaitan dengan


keterangan para saksi dengan barang bukti namun
belum mengarah pada tersangka atau sebaliknya;

d)

Diperlukan beberapa keterangan ahli, sedangkan

ahli

tersebut belum tersedia diwilayah penyidik;


e)

Tersangka belum diketahui identitasnya atau tersangka


terganggu

kesehatannya

atau

tersangka

dilindungi

kelompok tertentu atau tersangka memiliki jabatan


tertentu yang dalam pemeriksaan diatur oleh UndangUndang atau jumlah tersangkanya lebih dari 4 orang;

86

f)

TKP sukar dijangkau, jauh dari kantor penyidik dan TKP


sudah dalam keadaan tidak utuh, diperlukan pengolahan
TKP, diperlukan bantuan tehnis untuk

olah TKP,

diperlukan pengamanan khusus terhadap TKP dan TKP


lebih dari satu lokasi dalam wilayah hukum penyidik;
g)

Barang bukti sulit didapat, barang bukti memerlukan


pemeriksaan

secara

forensik/ahli,

memerlukan

pengamanan

khusus,

memerlukan

pengangkutan

dan

barang

bukti

barang

bukti

atau

memerlukan

tempat penyimpanan khusus;


h)

Diperlukan peralatan khusus Kepolisian dan peran dari


lembaga lain.

8)

Perkara sangat sulit yaitu apabila :


a)

Tempat tinggal saksi berada di luar provinsi atau luar


negeri, atau alamatnya tidak jelas (daerah
jumlah

saksi

kurang

dari

orang

terpencil),
atau

saksi

berhubungan dengan lembaga lain;


b)

Adanya birokrasi perizinan dalam menghadirkan saksi


atau saksi diperlukan pengamanan khusus atau saksi
dalam keadaan sakit-sakitan;

c)

Bukti-bukti berupa surat atau dokumen sulit ditemukan


atau untuk mendapatkan bukti diperlukan izin khusus
atau bukti perlu diperiksa secara forensik;

d)

Petunjuk yang ada belum memperlihatkan keterkaitan


antara keterangan para saksi, tersangka dan barang
bukti;

e)

Sangat diperlukan keterangan ahli dimana ahli tersebut


harus didatangkan dari luar provinsi atau luar negeri;

f)

Tersangka belum diketahui identitasnya, atau tersangka


terganggu kesehatannya atau dilindungi oleh kelompok
tertentu,

jumlah

tersangka

lebih

dari

orang,

memerlukan izin khusus untuk memeriksa tersangka


87

atau

tersangka

merupakan

bagian

dari

sindikat

kejahatan atau warga negara asing atau tersangka


melarikan diri;
g)

TKP sukar dijangkau, jauh dari kantor penyidik atau


tidak utuh diperlukan pengolah TKP, diperlukan bantuan
tehnis olah TKP, diperlukan pengamanan khusus TKP
atau TKP lebih dari 1 yuridiksi (wilayah hukum penyidik);

h)

Barang

bukti

pemeriksaan

sulit

didapat

atau

memerlukan

secara

forensik

atau

memerlukan

pengamanan khusus atau memerlukan pengangkutan


alat angkut khusus atau barang bukti mudah rusak;
i)

Untuk

mengungkap

kasusnya

diperlukan

peralatan

khusus dan peran dari lembaga lain.


6.

Kegiatan
a.
Tahap penerimaan/penelitian laporan
1)

Sentra

Pelayanan

Kepolisian

(SPK)

menerima

laporan/pengaduan dari masyarakat;


2)

Untuk kasus-kasus tertentu dimana diperlukan bukti surat /


dokumen, pelapor membawa bukti foto copy / dokumen yang
berkaitan dengan tindak pidana / kasus yang dilaporkan /
diadukan;

3)

Pelapor membuat surat penyataan yang menyatakan bahwa


laporan tersebut belum pernah dilaporkan atau ditangani oleh
polisi;

4)

Laporan/pengaduan diserahkan dari SPK kepada Piket Sat


Reskrim;

5)

Saksi/pelapor dimintai keterangan sementara oleh Piket Sat


Reskrim dan dituangkan ke dalam BAP;

6)

Piket Reskrim membawa laporan/pengaduan ke Urmintu untuk


diregister dan oleh Urmintu menelaah serta mempelajari untuk
selanjutnya didistribusikan ke Kasat Reskrim;

7)

Kemudian Kasat mendisposisikan meneruskan ke salah satu


unit dalam lingkungan kerja satuan

88

fungsinya

untuk

menangani / proses laporan tersebut;


8)

Selambat-lambatnya 3 hari setelah laporan diterima oleh Kanit


atau tim penyidik yang di tugaskan untuk menangani laporan
tersebut,

pelapor

diberi

tahu

dengan

mengirim

surat

pemberitahuan perkembangan penelitian laporan (format A1)


yang isinya menjelaskan bahwa :
a)

laporan pengaduan saudara telah kami terima dan akan


segera kami tindak lanjuti dengan penyelidikan oleh
(disebutkan nama dan identitas nama penyidik) yang
menangani serta nomor teleponnya atau HP yang dapat
dihubungi sewaktu-waktu diperlukan;

b)

pada

akhir

kalimat

format

A1

dibuat

catatan

memuat motto Polri : KAMI SIAP MELAYANI ANDA


DENGAN

CEPAT,

TEPAT,

TRANSPARAN DAN

AKUNTABEL DAN TANPA IMBALAN


b.

Tahap penyelidikan
1)

Seterimanya laporan polisi penyidik melakukan penyelidikan


dan melaporkan hasilnya kepada atasan penyidik, selanjutnya
atasan penyidik memimpin gelar hasil

penyelidikan guna

menentukan dapat tidaknya hasil penyelidikan ditingkatkan ke


proses penyidikan;
2)

Dalam hal disimpulkan bahwa telah terjadi tindak pidana,


selanjutnya atasan penyidik menentukan klasifikasi ke sulitan
perkara (ringan, sedang, sulit dan sangat sulit)

3)

Kasus ringan dan kasus sedang waktu penyelidikan 14 hari


bila waktu penyelidikan masih kurang dapat diperpanjang lagi
penyidik mengirimkan SP2HP kepada pelapor;

4)

Kasus sulit dan sangat sulit dengan waktu penyelidikan 30 hari


dan

dapat

diperpanjang

lagi

penyelidikan

mengirimankan SP2HP kepada pelapor.


c.

Tahap penindakan dan pemeriksaan

89

penyidik

1)

Kasus ringan dengan waktu penyidikan paling lama 30 hari,


pengiriman SP2HP yang diberikan kepada pelapor sebanyak 2
(dua) kali yaitu pada hari ke 15 dan hari ke 30;

2)

Kasus sedang dengan waktu penyidikan dilakukan paling lama


60 hari, pengiriman SP2HP diberikan kepada pelapor sebanyak
4 (empat) kali yaitu pada hari ke 15, 30, 45, dan hari ke 60;

3)

Kasus sulit dengan waktu penyidikan dilakukan paling lama 90


hari, Pengiriman SP2HP diberikan kepada pelapor sebanyak 6
(enam) kali yaitu pada hari ke 15, 30, 45, 60, 75, dan hari ke
90;

4)

Kasus sangat sulit dengan waktu penyidikan dilakukan paling


lama 120 hari, pengiriman SP2HP diberikan kepada pelapor
sebanyak 5 (lima) kali yaitu pada hari ke 20, 40, 60, 80, dan
hari ke 100;

5)

Dalam hal batas waktu penyidikan belum dapat diselesaikan


oleh

penyidik

dapat

mengajukan

perpanjangan

waktu

penyidikan melalui pengawas penyidikan kepada yang memberi


perintah penyidikan.
d.

Tahap penyelesaian dan penyerahan berkas perkara


1)

Pada saat penyelesaian dan pelimpahan berkas perkara tahap


pertama penyidik memberikan SP2HP kepada Pelapor;

2)

Apabila dalam penelitian berkas perkara penuntut umum (JPU)


mengembalikan

berkas

perkara

(P.19)

memberitahukan kepada pelapor melalui

maka

penyidik

SP2HP dan setelah

dilakukan pelimpahan kembali diikuti pemberitahuan kepada


pelapor dalam bentuk SP2HP;
3)

Pada saat penyerahan berkas perkara tahap kedua penyidik


menyampaikan SP2HP kepada pelapor;

4)

Data penyampaian/pemberitahuan SP2HP mulai dari tahap


penilaian laporan/pengaduan, penyidikan, penindakan dan
pemeriksaan

sampai

dengan

(tahap I dan tahap II) teregister.


90

pelimpahan

berkas perkara

e.

Pengiriman SP2HP kepada pelapor kedua, ketiga dan seterusnya


berisi tentang perkembangan hasil penyidikan, namun setiap SP2HP
isinya

tidak sama dengan SP2HP yang telah dikirim sebelumnya

(ada perkembangan hasil lidik/sidik yang telah dilakukan);


f.

Disamping masyarakat pelapor mendapatkan SP2HP juga dapat


mengakses setiap perkembangan kasus yang dilaporkan melalui
website bareskrim polri dan sms 1112.

II.

Pengawasan Dan Pengendalian


1.

Pengawasan dan pengendalian terhadap pelaksanaan quick wins fungsi


Reskrim dilakukan secara berjenjang dari mulai tingkat Kanit, Kaur bin ops
sampai dengan Kasat;

2.

Kewenangan penandatanganan SP2HP diatur sebagai berikut :


a.

Untuk

tingkat

Polres

Reskrim/Kaurbinops

ditandatangani

dengan

tembusan

oleh
kepada

Kasat/Wakasat
Kapolres

WakaPolres;
c.
3.

Untuk tingkat Polsek ditandatangani oleh Kapolsek/Waka Polsek.

Untuk memonitor setiap perkembangan hasil penyidikan, dilakukan


melalui

sistem

penilaian

dan

pengawasan

kinerja

penyidik

yang

dituangkan dalam map kontrol.

III. Penutup
Demikian Prosedur Operasional standar ini dibuat sebagai pedoman dan panduan
bagi penyidik/penyidik pembantu dalam melaksanakan penyidikan

Limboto,

JANUARI 2014

An. KEPALA KEPOLISIAN RESOR GORONTALO


KA. SPKT

91

HERI RUSYAMAN, SIK


AJUN KOMISARIS POLISI NRP 78061316

92

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA


DAERAH GORONTALO
RESOR GOORNTALO

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR


GELAR PERKARA
PADA SAT RESRIM POLRES GORONTALO

I.

Pendahuluan
1.

Umum.
a.

Penyidikan

tindak

pidana

sebagai

salah

satu

tahap

dari

penegakan hukum harus dilakukan berdasarkan ketentuan dan


peraturan perundang-undangan yang berlaku.
b.

Merupakan sarana pengawasan dan pengendalian, gelar perkara


mempunyai fungsi untuk kepentingan

pertanggung jawaban

managemen bagi Kepala Kesatuan di satu sisi dan kepentingan


pertanggungjawaban teknis / taktis serta juridis

bagi atasan

Penyidik dan Penyidik Pembantu.


c.

Penyidikan mengalami hambatan dalam proses penyidikan maka


dilakukan

gelar

perkara

untuk

membedah

perkara

guna

menentukan langkah-langkah penyidikan selanjutnya.


2.

Dasar.
a.

Undang-undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian

Negara

Republik Indonesia.

b.

Perkap

No.

12

Tahun

2009

tentang

Pengendalian Penanganan Perkara Pidana

93

Pengawasan
Di

dan

Lingkungan

Kepolisian Negara Republik Indonesia.


3.

Maksud dan tujuan


a.

Maksud
Maksud pembuatan Standar Operasional Prosedural (SOP) Gelar
Perkara ini sebagai pedoman dan petunjuk untuk para Penyidik
dan Penyidik Pembantu dalam melaksanakan tugas penyidikan
tindak pidana sehingga

diperoleh

keseragaman

tentang

kegiatan-kegiatan pokok yang harus dilaksanakan.


b.

Tujuan
1)

Untuk mewujudkan keterpaduan intern dan ekstern

dan

menuntaskan penanganan perkara yang terjadi.


2)

Merupakan alat kontrol terhadap Para Penyidik / Penyidik


Pembantu agar tetap dinamis dan
koridor batas kewenangan sesuai

seimbang

dalam

aturan perundang-

undangan yang ada.


4.

Ruang Lingkup
Ruang lingkup dalam Gelar Perkara meliputi Persyaratan-persyaratan
dalam

Gelar Perkara, Jenis

perkara, Pejabat

yang berwewenang

menyelenggarakan gelar, Peserta gelar, Pelaksanaan gelar dan laporan


setelah gelar.
5.

Pengertian Gelar Perkara


Gelar Perkara adalah upaya Penyidik/Penyidik Pembantu berupa
bedah perkara dan tindakan Penyidik/Penyidik
rangka percepatan penyelesaian proses penyidikan.

II.

Persyaratan
1.

Jenis Perkara.
Jenis perkara yang digelar adalah :

94

Pembantu

dalam

a.

Ada masalah yang dihadapi oleh penyidik :


1)

Penyidik / Penyidik Pembantu menghadapi kesulitan

atau

ragu dalam :
a)

Menentukan apakah perkara merupakan tindak pidana


atau bukan (twilight).

b)

Menentukan pasal, UU yang dipersangkakan.

c)

Melakukan tindakan/upaya paksa terhadap

tersangka

atau

penyitaan,

barang

bukti

(penggeledahan,

penangkapan, penahanan dan peningkatan status saksi


menjadi tersangka).
2)

Proses penyidikan telah berlangsung lama/waktunya berlarutlarut (lebih dari 3 bulan) tanpa kemajuan.

3)

Proses penyidikan memasuki tahapan penting atau kritis


dari tahap penyelidikan ke tahap penindakan
pemeriksaan atau tahap penyelesaian dan
Berkas

Perkara

atau

dan

penyerahan

Penyidikan

akan

dihentikan/dilanjutkan kembali.
4)

Perkara yang disidik juga disidik oleh Penyidik dari Kesatuan /


Instansi lain yang juga memiliki kewenangan.

5)

Gelar Perkara dilaksanakan terhadap semua berkas perkara


yang ditangani yakni pada saat awal
Polisi,

sebelum

dilakukan

upaya

menerima
paksa

dan

Laporan
sebelum

menaikan status saksi menjadi tersangka.


b.

Perkara yang berbobot


1)

Pembuktian perkara cukup sulit dan rumit

2)

Perkara terkait berbagai Aspek / kebijakan atau kepentingan


Negara / Instansi, hubungan antar

Negara / Dunia

Internasional,

tertentu

kepentingan

lembaga

(Politik,

Ekonomi, Sosial, Agama, Pertanahan).


3)

Perkara melibatkan tokoh penting / mempunyai pengaruh


luas di masyarakat.

4)

Tersangka merupakan Warga Negara Asing atau

95

tunduk

pada Undang-undang Hukum acara di luar Peradilan Umum.


c.

Komplain masyarakat
Adanya Komplain masyarakat terhadap tindakan Penyidik /
Penyidik

Pembantu yang menangani perkara dan kuat dugaan

terjadi penyimpangan teknis / taktis dan atau

kekeliruan

penerapan pasal Undang-undang dalam penyidikan.


d.

Putusan Pengadilan
Adanya Putusan Pengadilan yang menyatakan tindakan penyidik
/ Penyidik Pembantu tidak syah.

2.

Penggelar
a.

Penyidik/Penyidik Pembantu yang menangani perkara.

b.

Atasan Penyidik/Penyidik Pembantu.

c.

Kepala Kesatuan yang sekarang secara Struktural membawahi


Penyidik / Penyidik Pembantu.

3.

Peserta Gelar Perkara.


Peserta gelar yang berhak menghadiri Gelar Perkara disesuaikan
dengan kepentingan dan kebutuhan.
a.

Polri (Intern).
1)

Kepala Kesatuan atau pejabat yang mewakili/ditunjuk.

2)

Atasan Penyidik/Penyidik Pembantu yang menangani perkara


bertindak selaku pimpinan Gelar Perkara.

3)

Penyidik/Penyidik Pembantu yang

menangani

perkara

sebagai pemapar.
4)

Irwasda

5)

Propam

6)

Bidkum

7)

Notulen yang bertugas mencatat semua kegiatan dan tanya


jawab Gelar Perkara.

b.

Instansi di luar Polri (Ekstern).


1)

Pimpinan dan pejabat-pejabat tertentu dalam rangka Criminal


96

Justice System (CJS).


2)

Pejabat-pejabat tertentu lainnya yang ada

hubungannya

dengan pemeliharaan keamanan.


Peserta Gelar Perkara harus terpilih dan dapat dipercaya

tidak

mempunyai hubungan kepentingan dengan pihak-pihak yang


terlibat di dalam perkara.
4.

Pimpinan dan Penanggung jawab.


Penyelenggaraan Gelar Perkara dipimpin oleh Kepala Kesatuan, sedang
tanggung jawab penyelenggaraan Gelar Perkara secara fungsional
berada pada Kasat Reskrim/Pawasdik.

III.

PELAKSANAAN GELAR PERKARA.


1.

Sebelum pelaksanaan.
a.

Penyidik/Penyidik Pembantu yang menangani perkara menyusun


dan mengajukan rencana gelar perkara kepada yang bertugas
mengatur Gelar Perkara (Pawasdik).

b.

Penyidik/Penyidik Pembantu yang menangani perkara menyiapkan


bahan/materi paparan Gelar Perkara.

c.

3 (tiga) hari sebelum pelaksanaan, para Peserta telah menerima


undangan Gelar Perkara.

d.

Penyidik/Penyidik Pembantu yang menangani perkara menentukan


Notulen

yang

bertugas

mencatat

lengkap

semua

kegiatan

Gelar Perkara.
2.

Saat pelaksanaan.
a.

Pembukaan.

b.

Paparan Penyidik/Penyidik Pembantu yang menangani perkara.

c.

Pembahasan / Diskusi.

d.

Kesimpulan dan Penutup.

Gelar

perkara yang diminta oleh Satuan lain (Mabes Polri, Polda,

Propam, Binkum dan Irwasda)pelaksanaannya atas permintaan secara


tertulis dan harus didampingi oleh Atasan Penyidik atau Pawasdik.
3.

Laporan Setelah Gelar Perkara.


a.

Notulen menyusun laporan pelaksanaan Gelar Perkara dengan


97

melampirkan

catatan

notulen,

copy/materi

paparan

Penyidik/Penyidik Pembantu yang menangani perkara, kesimpulan


dan rekomendasi hasil Gelar Perkara serta daftar hadir peserta.
b.

Laporan Gelar Perkara setelah ditanda tangani oleh Pimpinan


Gelar, Notulen dan Penyidik/Penyidik Pembantu yang menangani
perkara

kemudian

disampaikan

kepada

Penyidik/Penyidik

Pembantu yang menangani perkara untuk dilaksanakan.


IV.

Penutup
Demikian Prosedur Operasional standar ini dibuat sebagai pedoman dan
panduan bagi penyidik/penyidik pembantu dalam melaksanakan penyidikan
Limboto,

JANUARI 2014

An. KEPALA KEPOLISIAN RESOR LIMBOTO


KASAT RESKRIM

HERI RUSYAMAN, SIK


AJUN KOMISARIS POLISI NRP 78061316

98