Anda di halaman 1dari 16

BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA

LAPORAN KASUS

FAKULTAS KEDOKTERAN

MARET 2016

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

CORPUS ALIENUM

OLEH :
Desti Monasari Asshagab

Pembimbing
dr. Andi Sengngeng Relle, Sp.M, MARS

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMDIYAH MAKASSAR
2016
1

LEMBAR PENGESAHAN

Dengan ini menyatakan bahwa :


Nama

: Desti Monasari Asshagab

NIM

:10542 0251 10

Judul Referat

: Corpus Alienum

Bahwa benar telah menyelesaikan tugas laporan kasus dalam rangka


kepaniteraan klinik di bagian Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran
Universitas Muhammadiyah Makassar

Makassar, Maret 2016

Mengetahui,

Pembimbing / Konsulen :

(dr. Andi Sengngeng Relle, Sp.M, MARS)

CORPUS ALLIENUM
A.

B.

Identitas Pasien
Nama

: Tuan M.T

Usia

: 35 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Agama

: Islam

Alamat

: Bonto Manai

Pekerjaan

: Konstruksi Baja

No. RM

: 40 24 20

Tanggal masuk RS

: 29 Februari 2016

Dokter pemeriksa

: dr. Yusuf Bachmid, Sp.M

Anamnesis
Keluhan Utama

: Mata kiri kemasukan serbuk besi

Anamnesi Terpimpin :
Seorang laki-laki datang ke poli mata RSUD Syech Yusuf dengan
keluhan mata kiri kemasukan serbuk besi yang dialami sejak kemarin.
Pasien sehari-hari bekerja sebagai konstruksi besi, dan pasien tidak
menggunakan google glass saat bekerja. Pasien mengeluh mata sedikit
merah yang timbul perlahan setelah keluhan kemasukan besi. Pasien juga
mengeluh mata terasa seperti berpasir, silau dan mata sering berair. Terdapat
serbukan besi pada kornea berwarna coklat kehitaman, pasien mengaku
tidak mengalami gangguan penglihatan dan pasien tidak ada riwayat
menggunakan obat untuk mengurangi keluhan.
Riwayat penyakit dahulu :
1.

Riwayat mata merah sebelumnya disangkal

2.

Riwayat alergi disangkal

Riwayat penyakit keluarga :


Tidak ada keluarga yang mengeluhkan sakit yang sama

C.

Status Opthalmologi

No.
1.
2.
3.

4.

5.

Pemeriksaan
Visus
Tekanan Intra Okuler
Kedudukan Bola Mata
Posisi
Eksoftalmus
Enoftalmus
Mikroftalmus
Pergerakan Bola Mata
Atas
Bawah
Temporal
Temporal atas
Temporal bawah
Nasal
Nasal atas
Nasal bawah
Nistagmus
Palpebrae
Hematom
Edema
Hiperemis
Benjolan
Ulkus
Fistel
Hordeolum
Kalazion

OD
20/20
Tidak diperiksa

OS
20/20
Tidak diperiksa

Ortoforia
(-)
(-)
(-)

Ortoforia
(-)
(-)
(-)

(+) Baik
(+) Baik
(+) Baik
(+) Baik
(+) Baik
(+) Baik
(+) Baik
(+) Baik
(-)

(+) Baik
(+) Baik
(+) Baik
(+) Baik
(+) Baik
(+) Baik
(+) Baik
(+) Baik
(-)

(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)

(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
4

6.

7.

7.

7.
8.

9.

Ptosis
Ektropion
Entropion
Sekret
Trikiasis
Madarosis
Apparatus Lakrimalis
Edema
Hiperemis
Benjolan
Lakrimasi
Konjungtiva Bulbi
Kemosis
Pterigium
Pinguekula
Konjungtiva Bulbi
Flikten
Simblefaron
Injeksi konjungtiva
Injeksi siliar
Konjungtiva Bulbi
Injeksi episklera
Hiperemis
Kornea
Kejernihan
Corpus Alienum
Edema
Ulkus
Erosi
Infiltrat
Flikten
Keratik presipitat
Macula
Nebula
Leukoma
Leukoma adherens
Stafiloma
Imbibisi
Pigmen iris
Bekas jahitan
Sklera
Episkleritis
Skleritis

(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)

(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)

(-)
(-)
(-)
(+)

(-)
(-)
(-)
(+)

(-)
(-)
(-)

(-)
(-)
(-)

(-)
(-)
(-)
(-)

(-)
(-)
(-)
(-)

(-)
(+)

(-)
(+)

Jernih
(+)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)

Jernih
(+)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)

(-)
(-)

(-)
(-)
5

10.

11.

12.

13.

14.
D.

Kamera Okuli Anterior


Kedalaman
Dalam
Kejernihan
Jernih
Flare
(-)
Sel
(-)
Hipopion
(-)
Hifema
(-)
Iris
Warna
Coklat
Gambaran radier
Jelas/tidak jelas
Eksudat
(-)
Atrofi
(-)
Sinekia posterior
(-)
Sinekia anterior
(-)
Iris bombe
(-)
Iris tremulans
(-)
Pupil
Bentuk
Bulat
Besar
cukup
Regularitas
reguler
Isokoria
(+)
Letak
Sentral
Refleks cahaya langsung
(+)
Seklusio pupil
(-)
Oklusi pupil
(-)
Leukokoria
(-)
Lensa
Kejernihan
Jernih
Subluksasi
(-)
Pseudofakia
(+)
Funduskopi : Tidak dilakukan pemeriksaan

Dalam
Jernih
(-)
(-)
(-)
(-)
Coklat
Jelas/tidak jelas
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
Bulat
Cukup
reguler
(+)
Sentral
(+)
(-)
(-)
(-)
Jernih
(-)
(+)

Palpasi
OD

OS

Tensi ocular

Tn

Tn

Nyeri tekan

OD

OS

Massa tumor

Glandula pre-aurikuler

E.

Tidak ada pembesaran

Tidak ada pembesaran

Tonometri
Tidak dilakukan pemeriksaan

/////
F.

Slit Lamp
SLOD

: Konjungtiva hiperemis (+), kornea keruh (-), Corpus alienum (-)


BMD kesan normal, iris cokelat, kripte (+), pupil bulat, sentral

SLOS

: Konjungtiva hiperemis (+), kornea keruh (-), Corpus alienum (+)


BMD kesan normal, iris cokelat, kripte (+), pupil bulat, sentral

G.

Resume
Seorang laki-laki, 35 tahun, datang ke poliklinik mata RSUD Syech
Yusuf dengan keluhan mata kiri kemasukan serbuk besi yang dialami sejak
kemarin. Pasien sehari-hari bekerja sebagai konstruksi besi, dan pasien tidak
menggunakan google glass saat bekerja. Pasien mengeluh mata sedikit
merah yang timbul perlahan setelah keluhan kemasukan besi. Pasien juga
mengeluh mata terasa seperti berpasir, silau dan mata sering berair. Terdapat
serbukan besi pada kornea berwarna coklat kehitaman, pasien mengaku
tidak mengalami gangguan penglihatan dan pasien tidak ada riwayat
menggunakan obat untuk mengurangi keluhan. Pasien tidak pernah
mengalami hal serupa sebelumnya, riwayat mata merah sebelumnya
disangkal, dan riwayat alergi disangkal. Tidak ada keluarga yang
mengeluhkan sakit yang sama
Pada pemeriksaan oftalmologi pada inspeksi tampak corpus
alienum pada limbus inferior kornea. Pada pemeriksaan visus ODS 20/20.
Pada palpasi tidak ditemukan kelainan. Penyinaran oblik dan Slit lamp
pada OS tampak konjungtiva hiperemis (+), kornea tidak keruh, corpus
alienum (+), BMD kesan normal, iris cokelat, kripte (+), pupil bulat, sentral.

H.

Kesan
Kesadaran
Keadaan Umum
OD
OS

: Compos mentis
: Baik
: Mata tampak tenang
: Tampak mata kemerahan, benda asing (+)

I.

Diagnosis
OS : Corpus alienum kornea bagian limbus inferior

J.

Terapi dan Edukasi

Terapi
- Ekstraksi Corpus alienum
- Gentamisin Eye Ointment Tube 4 x 1
- Doksisiklin 1 x 1
- Asam Mefenamat tab 3 x 1

Edukasi
- Menjelaskan ke pasien mengenai Corpus
-

K.

alienum

serta

komplikasinya
Meminum dan mengoleskan obat secara teratur
Tidak mengucek mata
Menggunakan kacamata atau Google saat bekerja

Prognosis
Visum (Visam)
Kesembuhan (Sanam)
Jiwa (Vitam)
Kosmetika (Kosmeticam)

: ad bonam
: ad bonam
: ad bonam
: ad bonam

CORPUS ALIENUM
A.

Anatomi, Histologi, dan Fisiologi Kornea

Gambar 1. Anatomi mata1

Kornea (Latin cornum = seperti tanduk) adalah selaput bening


mata, bagian selaput mata yang tembus cahaya, merupakan lapis jaringan
yang menutup bola mata sebelah depan dan terdiri atas 5 lapis2,3 :
1.

Epitel
Epitel kornea merupakan lapis paling luar kornea dengan tebal
50 m dan berbentuk epitel gepeng berlapis tanpa tanduk.Bagian
terbesar ujung saraf kornea berakhir pada epitel ini.Setiap gangguan
epitel akan memberikan gangguan sensibilitas kornea berupa rasa sakit
atau mengganjal. Daya regenerasi epitel cukup besar, sehingga apabila
terjadi kerusakan akan diperbaiki dalam beberapa hari tanpa

2.

membentuk jaringan parut.


Membran Bowman
Membran bowman yang terletak di bawah epitel merupakan
suatu membrane tipis yang homogen terdiri atas susunan serat kolagen
kuat yang mempertahankan bentuk kornea. Bila terjadi kerusakan pada
membrane bowman maka akan berakhir dengan terbentuknya jaringan

3.

parut.
Stroma
Merupakan lapisan yang paling tebal dari kornea dan terdiri atas
jaringan kolagen yang tersusun dalam lamel-lamel dan berjalan sejajar
dengan permukaan kornea.Di antara serat-serat kolagen ini terdapat
matriks. Stroma bersifat higroskopis yang menarik air dari bilik mata

depan. Kadar air di dalam stroma kurang lebih 70%. Kadar air dalam
stroma relative tetap yang diatur oleh fungsi pompa sel endotel dan
penguapan oleh epitel. Apabila fungsi sel endotel kurang baik maka
akan terjadi kelebihan kadar air, sehingga timbul sembab kornea
(edema kornea). Serat di dalam stroma demikian teratur sehingga
memberikan gambaran kornea yang transparan atau jernih. Bila terjadi
gangguan dari susunan serat di dalam stroma seperti edema kornea dan
sikatriks kornea akan mengakibatkan sinar yang melalui kornea
4.

terpecah dan kornea terlihat keruh.


Membran Descement
Merupakan suatu lapisan tipis yang bersifat kenyal, kuat, tidak
berstruktur dan bening, terletak di bawah stroma.Lapisan ini merupakan

5.

pelindung atau barrier infeksi dan masuknya pembuluh darah.


Endotel
Terdiri atas satu lapis sel yang merupakan jaringan terpenting
untuk mempertahankan kejernihan kornea.Sel endotel adalah sel yang
mengatur cairan di dalam stroma kornea. Endotel tidak mempunyai
daya regenerasi sehingga bila terjadi kerusakan, endotel tidak akan
normal lagi. Endotel dapat rusak atau terganggu fungsinya akibat
trauma bedah, penyakit intraocular.Usia lanjut akan mengakibatkan
jumlah endotel berkurang.Kornea tidak mengandung pembuluh darah,
jernih dan bening, selain sebagai dinding, juga berfugsi sebagai media
penglihatan. Dipersarafi oleh nervus V.

10

Gambar 2. Histologi kornea4

Fisiologi kornea
Kornea berfungsi sebagai membran pelindung dan jendela yang
dilalui berkas cahaya menuju retina. Sifat tembus cahayanya disebabkan
oleh strukturnya yang uniform, avaskuler dan deturgesensi. Deturgesensi
atau keadaan dehidrasi relatif jaringan kornea, dipertahankan oleh pompa
bikarbonat aktif pada endotel dan oleh fungsi sawar epitel dan endotel.
Dalam mekanisme dehidrasi ini, endotel jauh lebih penting daripada epitel,
dan kerusakan kimiawi atau fisis pada endotel berdampak jauh lebih parah
daripada kerusakan pada epitel.Kerusakan sel-sel endotel menyebabkan
edema kornea dan hilangnya sifat transparan. Sebaliknya, kerusakan pada
epitel hanya menyebabkan edema stroma kornea lokal sesaat yang akan
meghilang bila sel-sel epitel telah beregenerasi. Penguapan air dari lapisan
air mata prekorneal menghasilkan hipertonisitas ringan lapisan air mata
tersebut, yang mungkin merupakan faktor lain dalam menarik air dari
stroma kornea superfisial dan membantu mempertahankan keadaan
dehidrasi.3
Kornea merupakan bagian anterior dari mata, yang harus dilalui
cahaya, dalam perjalanan pembentukan bayangan di retina, karena jernih,
sebab susunan sel dan seratnya tertentu dan tidak ada pembuluh

11

darah.Biasan cahaya terutama terjadi di permukaan anterior dari


kornea.Perubahan dalam bentuk dan kejernihan kornea, segera mengganggu
pembentukan bayangan yang baik di retina. Oleh karenanya kelainan sekecil
apapun di kornea, dapat menimbulkan gangguan penglihatan yang hebat
terutama bila letaknya di daerah pupil.3
B.

Definisi
Corpus alienum adalah substansi abnormal atau objek yang tidak
termasuk dalam tubuh, misalnya debu, serbuk kayu, logam, serangga
ataupun serpihan kaca. Kondisi ini paling beresiko pada orang yang bekerja
sebagai

pedagang,

buruh,

penebang

kayu

dan

tukang

kebun.

Corpus alienum adalah benda asing, merupakan salah satu penyebab


terjadinya cedera mata, sering mengenai sclera, kornea, dan konjungtiva.
Meskipun kebanyakan bersifat ringan, beberapa cedera bisa berakibat
serius.5,6
C.

Epidemiologi
Di Amerika Serikat corpus alienum adalah salah satu penyebab
paling sering kedaruratan pada

mata. Kadang-kadang, corpus alienum

mungkin tidak ditemukan pada saat pemeriksaan, namun meninggalkan


abrasi kornea disertai rasa sakit pada bekas yang dihasilkan.
Corpus alienum superfisial pada kornea lebih sering daripada
mendalam Corpus alienum yang lebih dalam. Pada pasien-pasien dengan
riwayat trauma, harus selalu dipertimbangkan adanya corpus alienum
intraokular. Persentasi angka kejadian pada laki-laki lebih banyak
dibandingkan perempuan dan meningkat pada dekade kedua.5

D.

Etiopatogenesis5
Benda asing di kornea secara umum masuk ke kategori trauma
mata ringan. Benda asing dapat bersarang (menetap) di epitel kornea atau

12

stroma bila benda asing tersebut diproyeksikan ke arah mata dengan


kekuatan yang besar.
Benda asing dapat merangsang timbulnya reaksi inflamasi,
mengakibatkan dilatasi pembuluh darah dan kemudian menyebabkan udem
pada kelopak mata, konjungtiva dan kornea. Sel darah putih juga
dilepaskan, mengakibatkan reaksi pada kamera okuli anterior dan terdapat
infiltrate kornea. Jika tidak dihilangkan, benda asing dapat menyebabkan
infeksi dan nekrosis jaringan.
Penyebab cedera mata pada pemukaan mata adalah :
1. Percikan kaca, besi, keramik
2. Partikel yang terbawa angin
3. Ranting pohon
4. Dan sebagainya
E.

Gambaran Klinik5,6
Gejala yang ditimbulkan berupa nyeri, sensasi benda asing,
fotofobia, mata merah dan mata berair banyak. Dalam pemeriksaan
oftalmologi, ditemukan visus normal atau menurun, adanya injeksi
konjungtiva atau injeksi silar, terdapat benda asing pada bola mata,
fluorescein (+).

F.

G.

Diagnosis
Diagnosis corpus alienum dapat ditegakkan dengan5 :
1. Anamnesis kejadian trauma
2. Pemeriksaan tajamm penglihatan kedua mata
3. Pemeriksaan dengan oftalmoskop
4. Pemeriksaan keadaan mata yang terkena trauma
5. Bila ada perforasi, maka dilakukan pemeriksaan x-ray orbita
Penatalaksanaan
Penatalaksanaannya adalah dengan mengeluarkan benda asing
tersebut dari bola mata. Setelah benda asing dikeluarkan, tujuan pengelolaan
selanjutnya adalah menghilangkan rasa sakit, menghindari infeksi, dan mencegah
kerugian permanen fungsi kornea. Bila lokasi corpus alienum berada di

palpebra dan konjungtiva, kornea maka dengan mudah dapat dilepaskan


setelah pemberian anatesi lokal. Untuk mengeluarkannya, diperlukan kapas
lidi atau jarum suntik tumpul atau tajam. Arah pengambilan, dari tengah ke
tepi. Bila benda bersifat magnetik, maka dapat dikeluarkan dengan magnet

13

portable. Kemudian diberi antibiotik lokal, siklopegik, dan mata dibebat


dengan kassa steril dan diperban3.
Pecahan besi yang terletak di iris, dapat dikeluarkan dengan dibuat
insisi di limbus, melalui insisi tersebut ujung dari magnit dimasukkan untuk
menarik benda asing, bila tidak berhasil dapat dilakukan iridektomi dari iris
yang mengandung benda asing tersebut3.
Pecahan besi yang terletak di dalam bilik mata depan dapat
dikeluarkan dengan magnit sama seperti pada iris. Bila letaknya di lensa
juga dapat ditarik dengan magnit, sesudah insisi pada limbus kornea, jika
tidak berhasil dapat dilakukan pengeluaran lensa dengan ekstraksi linier
untuk usia muda dan ekstraksi ekstrakapsuler atau intrakapsuler untuk usia
yang tua.6,3
Bila letak corpus alienum berada di dalam badan kaca dapat
dikeluarkan dengan giant magnit setelah insisi dari sklera. Bila tidak
berhasil, dapat dilakukan dengan operasi vitrektomi3.
H.

Pencegahan
Pencegahan agar tidak masuknya benda asing ke dalam mata, baik
dalam bekerja atau berkendara, maka perlu menggunakan kaca mata
pelindung.5,6

I.

Komplikasi
Komplikasi terjadi tergantung dari jumlah, ukuran, posisi,
kedalaman, dan efek dari corpus alienum tersebut. Jika ukurannya besar,
terletak di bagian sentral dimana fokus cahaya pada kornea dijatuhkan,
maka akan dapat mempengaruhi visus. Reaksi inflamasi juga bisa terjadi
jika corpus alienum yang mengenai kornea merupakan benda inert dan
reaktif. Sikatrik maupun perdarahan juga bisa timbul jika menembus cukup
dalam3,5
Bila ukuran corpus alienum tidak besar, dapat diambil dan reaksi
sekunder seperti inflamasi ditangani secepatnya, serta tidak menimbulkan
sikatrik pada media refraksi yang berarti, prognosis bagi pasien adalah
baik.3,5.

14

DAFTAR PUSTAKA
1.

Picture of the Eyes. Available from : http://www.webmd.com/eye-

2.

health/picture-of-the-eyes
Ilyas, Sidarta. Ilmu Penyakit Mata, Edisi 3. 2008. Balai Penerbit

3.

FKUI Jakarta.
Vaughan, Daniel. Oftalmologi Umum, Edisi 17. 2010. Widya

4.

Medika Jakarta.
Anatomy

of

Human

Eye.

Available

from

http://www.images.missionforvisionusa.org/anatomy/2005/10/cornea5.

histology.html
Bashour M. Corneal foreign body. 2008. Evailable from :
http://emedicine.medscape.com/article/1195581-overview

15

6.

Emergency departement factsheets. Eye Injury (Foreign Body).


http://www.health.vic.gov.au/edfactsheets/downloads/eye-injury-foreignbody.pdf

16