Anda di halaman 1dari 41

1

GAMBARAN KEPATUHAN TENAGA TEKNIS KEFARMASIAN


DALAM PEMBERIAN INFORMASI TENTANG LAMA
PENYIMPANAN ANTIBIOTIK SIRUP KERING
YANG TELAH DIREKONSTITUSI DI APOTEK
WILAYAH BANJARMASIN TENGAH

PROPORSAL KARYA TULIS ILMIAH

OLEH :
MUHAMMAD NORAIDI NAFARIN
12484011I04 FI

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH


BANJARMASIN
PROGRAM STUDI D III FARMASI
2015

GAMBARAN KEPATUHAN TENAGA TEKNIS KEFARMASIAN


DALAM PEMBERIAN INFORMASI TENTANG LAMA
PENYIMPANAN ANTIBIOTIK SIRUP KERING
YANG TELAH DIREKONSTITUSI DI APOTEK
WILAYAH BANJARMASIN TENGAH

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Kelulusan


Pada Program Studi D.3 Farmasi

Oleh :
MUHAMMAD NORAIDI NAFARIN
NPM. 11104 D3 Fi

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH BANJARMASIN


PROGRAM STUDI D.3 FARMASI
BANJARMASIN, 2015

PENGESAHAN PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH


Proposal Karya Tulis Ilmiah (KTI) ini berjudul Gambaran Kepatuhan Tenaga
Teknis Kefarmasian Dalam Pemberian Informasi Tentang Lama Penyimpanan
Antibiotik Sirup Kering Yang Telah

Direkonstitusi Di Apotek Wilayah

Banjarmasin Tengah, yang dibuat oleh Muhammad Noraidi Nafarin (NPM.


11104 D3 Farmasi), telah disetujui oleh para pembimbing untuk dilanjutkan ke
tahap pengambilan data.
Banjarmasin, 22 Juni 2015
Pembimbing 1

Siti Nasihah, S.Farm.,Apt


NIK: 104.011.011
Pembimbing 2

Sukarlan, SKM., M.Kes


NIK: 19640427.198803.1.012
Mengetahui
Kaprodi D.3 Farmasi

Risya Mulyani, M.Sc., Apt


NIK: 059.003.007

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.


Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Proposal Karya
Tulis Ilmiah dengan judul Gambaran Kepatuhan Tenaga Teknis Kefarmasian
Dalam Pemberian Informasi Tentang Lama Penyimpanan Antibiotik Sirup Kering
Yang Telah Direkonstitusi Di Apotek Wilayah Banjarmasin Tengah. Penulisan
Proposal Karya Tulis Ilmiah ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu syarat
untuk

menyelesaikan

pendidikan

D.3

Farmasi

Stikes

Muhammadiyah

Banjarmasin.
Penulis menyadari bahwa selesainya penyusunan Proposal Karya Tulis Ilmiah ini
tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, baik bantuan moril maupun materil.
Pada kesempatan ini pula penulis mengucapkan rasa hormat dan terimakasih
sebesar-besarnya kepada:
1. M. Syafwani, S.Kp., M.Kep., Sp. Jiwa selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Muhammadiyah Banjarmasin.
2. Risya Mulyani, M.Sc., Apt selaku Ketua Program Studi D.3 Farmasi Sekolah
Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Banjarmasin.
3. Siti Nasihah, S.Farm, Apt selaku dosen Pembimbing I yang telah dengan
sabar membimbing, memberikan banyak masukan serta meluangkan
waktunya untuk membimbing penyusunan Proposal Karya Tulis Ilmiah ini.
4. Sukarlan, SKM., M.Kes selaku dosen Pembimbing II yang telah dengan sabar
membimbing, memberikan banyak masukan serta meluangkan waktunya
untuk membimbing penyusunan Proposal Karya Tulis Ilmiah ini.
5. Seluruh dosen pengajar STIKES Muhammadiyah Banjarmasin khususnya
yang telah memberikan ilmu bermanfaat sehingga turut membantu dalam
penyelesaian Proposal Karya Tulis Ilmiah ini.
6. Seluruh Apoteker Pengelola Apotek di Apotek Wilayah Banjarmasin Tengah.

7. Seluruh Tenaga Teknis Kefarmasian di Apotek Wilayah Banjarmasian


Tengah.
8. Ayah dan ibu serta keluarga tercinta yang selalu memberikan dukungan moril
maupun materil kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan pendidikan.
9. Teman-teman mahasiswa D.3 Farmasi Angkatan VII tahun 2012 seperjuangan
yang banyak memberikan masukan dan bantuan dalam penulisan Proposal
Karya Tulis Ilmiah ini.
10. Serta seluruh pihak terkait yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah
membantu penulis dalam Penulisan Proposal Karya Tulis Ilmiah ini.
Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat-Nya kepada semua pihak yang sudah
membantu. Penulis menyadari, bahwa Proposal Penelitian ini masih jauh dari
sempurna, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sekiranya dapat
memperbaiki Proposal Karya Tulis Ilmiah ini.
Semoga Proposal Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi penulis maupun
pihak yang berkepentingan. Amin ya Rabbalalamin.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Banjarmasin, 22 Juni 2015

Penulis

DAFTAR ISI
Hal
HALAMAN JUDUL..................................................................................... ......i
LEMBAR PENGESAHAN PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH ...............ii
KATA PENGANTAR ...iii
DAFTAR ISI ......................................................................................................v
DAFTAR TABEL ............................................................................................vii
DAFTAR SKEMA ......viii
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... ix
BAB 1

PENDAHULUAN ............................................................................. 1
1.1 Latar belakang ............................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ....................................................................... 4
1.3 Tujuan Penelitian ........................................................................ 4
1.4 Manfaat Penelitian ...................................................................... 4
1.5 Penelitian Terkait ........................................................................ 5

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA .....................................................,.............. 6


2.1 Kepatuhan ............................... 6
2.2 Tenaga Teknis Kefarmasian ....................................................... 7
2.3 Pekerjaan Kefarmasian................................................................ 9
2.4 Pelayanan Kefarmasian.............................................................. 11
2.5 Pelayanan Informasi Obat ................................. 12
2.6 Antibiotik ...15
2.7 Penggolongan Antibiotik Berdasarkan Aktivitasnya..... 17
2.8 Kelompok Antibiotik..................................................................18
2.9 Suspensi......................................................................................18
2.10 Sirup Kering...............................................................................19
2.11 Stabilitas Produk Farmasi...........................................................21
2.12 Rekonstitusi................................................................................22
2.13 Apotek........................................................................................22
2.14 Kerangka Konep.........................................................................23

BAB 3

METODE PENELITIAN .................................................................. 25


3.1 Desain Penelitian ........................................................................ 25
3.2 Definisi Operasional ................................................................... 25
3.3 Populasi, Sampel, dan Sampling ................................................ 26
3.4 Tempat dan Waktu Penelitian..................................................... 27
3.5 Alat Pengumpul Data ................................................................. 27
3.6 Teknik Pengambilan Data .......................................................... 28
3.7 Teknik Pengolahan Data dan Analisis Data ............................... 28
3.8 Etika Penelitian ........................................................................... 30

DAFTAR RUJUKAN 31
LAMPIRAN-LAMPIRAN

DAFTAR TABEL
Hal
Tabel 3.1
Tabel 3.2

Variabel dan Definisi Operasional ......26


Distribusi Frekuensi ....30

DAFTAR SKEMA
Hal
Skema 2.1

Kerangka Konsep .. 24

10

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Surat Keterangan Permohonan Bimbingan KTI
Lampiran 2. Lembar Konsultasi Pembimbing I
Lampiran 3. Lembar Konsultasi Pembimbing II
Lampiran 4. Surat Permohonan Menjadi Responden
Lampiran 5. Surat Persetujuan Menjadi Responden

11

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Menurut Undang-Undang kesehatan No. 36 tahun 2009, obat adalah bahan
atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang digunakan untuk
mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keaadaan patologi
dalam rangka penerapan diagnosis, pencegahan penyembuhan, pemulihan,
peningkatan kesehatan dan kontrasepsi, untuk manusia. Selain itu obat
dalam pengertian umum adalah uatu subtansi yang melalui efek kimianya
membawa perubahan dalam fungsi biologik (Katzung,1997)

Obat merupakan bahan yang sangat berpotensi bila digunakan dengan tepat.
Obat dapat membantu menyembuhkan penyakit atau mengatasi masalah
kesehatan. Dalam dunia farmasi dikenal golongan obat bebas dan obat bebas
terbatas atau dikenal dengan istilah OTC (Over The Counter) yaitu obat
yang boleh diberikan tanpa resep dokter dan Obat Ethical yaitu obat yang
hanya dapat diperoleh dengan resep dokter.

Salah satu obat yang

menggunakan resep dokter yaitu obat antibiotik (Ahmadi, Abu, H. 2003)

Sirup kering adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam
bentuk halus bahan dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa. Zat
yang terdispesi harus halus, tidak boleh cepat mengendap, dan bila dikocok
perlahan-lahan endapan harus terdispersi kembali. Dapat ditambahkan zat
tambahan untuk menjamin stabilitas suspensi tetapi kekentalan suspensi
harus menjamin sediaan mudah dikocok dan dihitung sehingga pada etiket

12

harus tertera label kocok dahulu dan disimpan dalam wadah tertutup baik
dan di tempat yang sejuk (Anief, 2006). Contoh dari suspensi oral adalah
sirup kering antibiotik oral, yang umumnya mengandung 125 sampai 500
mg zat padat per 5 ml (Ansel et al, 2008).
Antibiotika adalah obat yang sangat ampuh dan sangat bermanfaat jika
digunakan secara benar. Namun, jika digunakan tidak semestinya antibiotika
justru akan mendatangkan berbagai mudharat. Yang harus selalu diingat,
antibiotika hanya ampuh dan efektif membunuh bakteri tetapi tidak dapat
membunuh virus. Karena itu, penyakit yang dapat diobati dengan antibiotika
adalah penyakit-penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Penyebab
timbulnya resistensi antibiotika yang terutama adalah karena penggunaan
antibiotika yang tidak tepat, tidak tepat sasaran, dan tidak tepat dosis.
(http://medicastore.com/apotek_online/antibiotika/antibiotika.html)

Antibiotika adalah zat-zat kimia yang dihasilkan oleh fungi dan bakteri,
yang memiliki khasiat mematikan atau menghambat pertumbuhan kuman,
sedangkan toksisitasnya bagi manusia relatif kecil. Turunan zat-zat ini yang
dibuat secara semi-sintetis, juga termasuk kelompok ini, begitu pula semua
senyawa sintetis dengan khasiat antibakteri, para peneliti diseluruh dunia
menghasilkan banyak zat lain dengan khasiat antibiotis. Tetapi berhubung
dengan sifat toksisnya bagi manusia, hanya sebagian kecil saja yang dapat
digunakan sebagai obat. Yang terpenting diantaranya adalah streptomisin,
kloramfenikol, tetrasiklin, neomisin, eritromisin, vankomisin, rifampisin,
gentamisin, bleomisin, doksurabisin, minosiklin dan tobramisin (Tjay &
Rahardja, 2007)

Kebanyakan bahan - bahan antibiotika tidak stabil bila berada dalam larutan,
untuk waktu lama yang diinginkan. Dan oleh sebab itu dilihat dari stabilitas,

13

bahan obat dengan bentuk tidak larut dalam suspensi berair atau sebagai
serbuk kering untuk dioplos sangat menarik bagi pabrik obat. Suspensi oral
antibiotik juga memberikan cara yang memuaskan dari pemberian sediaan
kepada bayi dan anak anak, sebagaimana juga pada orang dewasa yang
lebih isenang memilih sediaan cair daripada bentuk sediaan padat. Banyak
dari suspensi oral yang dimaksudkan terutama untuk bayi dikemas dengan
penetes yang berukuran, guna membantu pemberian dosis yang telah
ditetapkan. (Ansel, 2005). Contoh dari suspensi oral adalah sirup kering
antibiotik oral, yang umumnya mengandung 125 sampai 500 mg zat padat
per 5 ml (Ansel et al, 2008).

Penyimpanan obat karena beberapa obat tertentu harus disimpan pada suhu
khusus. Obat yang disimpan khusus salah satunya adalah sediaan sirup
kering antibiotik. Sediaan sirup antibiotik kering setelah dilarutkan dengan
air umumnya penyimpanannya tidak melebihi dari 7 hari untuk menghindari
kontaminasi atau penurunan efek farmakologi obat. Penyimpanannya harus
disimpan pada suhu 2-8C didalam lemari pendingin untuk menghindari
penurunan atau pengurangan konsesntrasi dan efektivitas
obat. Hal ini menjadi hal yang penting karena apabila Tenaga
Teknis Kefarmasian karena apabila Tenaga Teknis Kefarmasian
tidak mengetahui penyimpanan antibiotik secara tepat atau tidak
memberikan informasi kepada pasien penyimpanan antibiotik
secara tepat dapat membahayakan kesehatan. Efek yang dapat
ditimbulkan dari penyimpanan yang tidak tepat adalah penurunan
efektivitas dari obat yang menyebabkan efek terapi pengobatan
tidak
((http://www.jasopline.com/admin/php/uploads/336.pdf)

tanggal 20 mei 2015)).

tercapai.

Diakses

14

Peran Tenaga Teknis Kefarmasian menurut keputusan Menteri Kesehatan


No. 1027/Menkes/ SK/ IX/ 2004 pelayanan kefarmasian pada saat ini telah
bergeser orientasinya dari obat ke pasien yang mengacu kepada pelayanan
kefarmasiaan yang semula hanya berfokus pada pengelolaan obat sebagai
komoditi menjadi pelayanan yang komprehensif yang bertujuan untuk
meningkatkan kualitas hidup pasien.

Dari teori di atas saya tertarik ingin mengetahui dilapangan secara langsung
peran tenaga teknis kefarmasian. Untuk itu saya melakukan studi
pendahuluan terlebih dahulu di 10 Apotek yang ada di Banjarmasin. Studi
pendahuluan saya lakukan pada tanggal 13 April 2015. Di dapatkan data,
hasil wawancara dengan tenaga teknis kefarmasian di Apotek Wilayah
Banjarmasin Tengah

bahwa 3 orang patuh 7 orang yang tidak patuh

memberikan informasi kepada pasien tentang penyimpanan antibiotik sirup


kering yang telah direkonstitusi
Berdasarkan studi pendahuluan di atas maka peneliti tertarik untuk
meneliti Gambaran Kepatuhan Tenaga Teknis Kefarmasian Dalam
Pemberian Informasi Tentang Lama Penyimpanan Antibiotik Sirup Kering
Yang Telah Direkonstitusi di Apotek Wilayah Banjarmasin Tengah

1. 2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah bagaimana Gambaran Kepatuhan Tenaga Teknis
Kefarmasian Dalam Pemberian Informasi Tentang Lama Penyimpanan
Antibiotik Sirup Kering Yang Telah Direkonstitusi di Apotek Wilayah
Banjarmasin Tengah

1.3

Tujuan Penelitian

15

Untuk mengetahui Gambaran Kepatuhan Tenaga Teknis Kefarmasian Dalam


Pemberian Informasi Tentang Lama Penyimpanan Antibiotik Sirup Kering
Yang Telah Direkonstitusi di Apotek Wilayah Banjarmasin Tengah

1.4

Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Peniliti
Untuk menambah pengetahuan, kreatif dalam bepikir dan pengalaman
serta penerapan teoriyang diperoleh selama pendidikan di bangku
kuliah

1.4.2 Bagi Institusi pendidikan


Hasil penelitian diharapkan dapat menambah informasi dan referensi
penelitian selanjutnya serta dapat memfasilitasi mahasiswa dalam
mencapai kompetensi sesuai standar
1.4.3 Bagi Tenaga Kesehatan
Memberikan

masukan

bagi

tenaga

kesehatan

dalam

rangka

meningkatkan kepatuhan tenaga teknik kefarmasian di Apotek,


khususnya tentang Lama Penyimpanan Antibiotik Sirup Kering Yang
Telah Direkonstitusi
1.4.4 Bagi Responden
Untuk memberikan informasi kepada responden, diharapkan dapat
mengetahui dan lebih meningkatkan kesadaran terutama bagi tenaga
teknis kefarmasian untuk memberikan informasi lama penyimpanan
antibiotik sirup kering yang telah direkonstitusi

1.5

Penilitian Terkait

16

Penelitian lain yang berkaitan dengan penelitian ini adalah, penelitian oleh
Risda Paujiah (2014) dengan judul Tingkat pengetahuan Tenaga Teknis
Kefarmasian Tentang Penyimpanan Sirup Kering coamoxiclav setelah
direkonstitusi di Apotek kimia Bjm. Perbedaan penelitian saya dengan Risda
Paujiah adalah terletak pada tujuan penelitian, dimana penelitian oleh Risda
Paujiah bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan tenaga teknis
kefarmasian tentang penyimpanan sirup kering coamoxiclav setelah
direkonstitusi di Apotek Kimia Banjarmasin. Sedangkan penelitian saya
bertujuan

untuk

mengetahui

gambaran

kepatuhan

tenaga

tekhnis

kefarmasian dalam pemberian informasi tentang lama penyimpanan


antibiotik sirup kering yang telah direkonstitusi di apotek wilayah
banjarmasin tengah.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kepatuhan
2.1.1 Pengertian Kepatuhan
Kepatuhan adalah taat atau tidak taat pada perintah, aturan dan
disiplin. Perubahan sikap dan perilaku individu di mulai dari tahap
kepatuhan, identitas dan internalitas. Pada umumnya kepatuhan
didasarkan karena ingin memperoleh imbalan, mengikuti pimpinannya
karena kelompoknya. Pada dasarnya kepatuhan seperti ini adalah
kepatuhan bersifat sementara. Kepatuhan dimana individu melakukan
sesuatu karena memahami makna, mengetahui pentingnya tindakan
atau keadaan adalah kepatuhan yang di harapkan (Aronson dkk, 2010)
Bahwa perubahan sikap dan perilaku individu diawali dengan proses
patuh, identifikasi, dan tahap terkhir berupa internalisasi. Pada
awalnya individu mematuhi anjuran/instruksi tanpa kerelaan untuk
melakukan tindakan tersebut dan seringkali karena ingin menghindari

17

hukuman/ sangsi jika dia tidak patuh, atau untuk memperoleh imbalan
yang dijanjikan jika dia mematuhi anjuran tersebut.Tahap ini disebut
tahap kepatuhan (compliance). Biasanya perubahan yang terjadi pada
tahap ini sifatnya sementara, artinya bahwa tindakan ini dilakukan
selama masih ada pengawasan, tetapi begitu pengawasan itu
mengendur/ hilang, perilaku itupun ditinggalkan (Sarwono, 2009).
2.1.2 Faktor Penentu
Beberapa faktor yang mempengaruhi kepatuhan adalah kemampuan,
kesadaran, keterampilan, tingkah emosional dan motivasi, sedangkan
faktor eksternal adalah lingkungan, sarana, prasarana, kontak dengan
pasien. Kata- kata, tindakan

atau kehadiran orang lain terhadap

pikiran, perasaan, sikap atau perilaku adalah beberapa pengaruh sosial


yang merupakan faktor pendorong dibelakang kepatuhan (Aronson
dkk, 2010).
2.2 Tenaga Teknis Kefarmasian (Asisten Apoteker)
2.2.1 Pengertian Tenaga Teknis Kefarmasian (Asisten Apoteker)
Menurut peraturan pemerintah Republik Indonesia No. 51 tahun 2009
tentang pekerjaan kefarmasian, yang dimaksud dengan tenaga teknis
kefarmasian adalah tenaga yang membantu apoteker dalam menjalani
pekerjaan kefarmasian, yang terdiri atas sarjana farmasi, ahli madya
farmasi, analis farmasi, dan tenaga menengah farmasi/ asisten
apoteker.
Sedangkan asisten apoteker menurut pasal 1 keputusan Menteri
Kesehatan RI No. 679/ MENKES/SK/V/ 2003, tentang Registrasi dan
izin kerja asisten apoteker menyebutkan bahwa asisten

apoteker

adalah tenaga kesehatan yang berijazah Sekolah Menengah Farmasi,


Akademi Farmasi Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan, Akademi
Analisis Farmasi dan Makanan Jurusan Analisis Farmasi dan Makanan
Politeknik Kesehatan sesuai dengan perundang-undangan yang
berlaku.

18

Menurut peraturan pemerintah Republik Indonesia No. 51 tahun


2009 tentang Standar Kefarmasian adalah pedoman untuk melakukan
Pekerjaan Kefarmasian pada fasilitas produksi, distribusi atau
penyaluran, dan pelayanan kefarmasian.

2.2.2 Standar Profesi Tenaga Teknis Kefarmasian


Kewajiban asisten apoteker menurut keputusan menteri kesehatan RI
No. 1332/MENKES/X/2002 melayani resep dokter sesuai dengan
tanggung jawab dan standar profesinya yang dilandasi pada
kepentingan masyarakat serta melayani penjualan obat yang dapat
dibeli tanpa resep dokter, memberi informasi yang berkaitan dengan
penggunaan/ pemakaian obat yang diserahkan kepada pasien,
penggunaan obat secara tepat, aman dan rasional atas permintaan
masyarakat.
Informasi yang diberikan harus benar, jelas dan mudah dimengerti
serta cara penyampaiannya disesuaikan dengan kebutuhan, selektif
etika, bijaksana, dan hati-hati. Informasi yang diberikan kepada pasien
sekurang-kurangnya meliputi cara penyimpanan obat, jangka waktu
pengobatan, makanan/ minuman/ aktifitas yang hendaknya dihindari
selama terapi dan informasi lain yang diperlukan. Selain itu juga
menghormati hak pasien dan menjaga kerahasian identitas serta data
kesehatan pribadi pasien, melakukan pengelolaan apotek meliputi
pembuatan,

pengelolaan,

peracikan,

pengubahan

bentuk,

pencampuran, penyimpanan dan penyerahan obat dan bahan obat serta


pengadaan, penyimpanan, penyaluran dan penyerahan sediaan farmasi
lainnya, pelayanan informasi mengenai sediaan farmasi,, menghormati
hak pasien dan menjaga kerahasiaan identitas serta data kesehatan
pribadi pasien, melakukan pengelolaan apotek meliputi pembuatan,
pengelolaan,

peracikan,

pengubahan

bentuk,

pencampuran,

penyimpanan dan penyerahan obat dan bahan obat, pengadaan,


penyimpanan, penyaluran dan penyerahan sediaan farmasi lainnya.

19

2.2.3 Lingkup tanggung jawab Tenaga Teknis Kefarmasian (Asisten


Apoteker) menurut undang-undang PP 51 2009 meliputi:
2.2.3.1
Ikut bertanggung jawab dalam ketersediaan dan
keterjangkauan

sediaan

farmasi

dan

perbekalan

kesehatanyang diperlukan masyarakat sesuai kewenangan


dan peraturan yang berlaku.
2.2.3.2
Ikut bertanggung jawab atas mutu, keamanan dan
efektivitas sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan yang
diberikan.
2.2.3.3
Ikut

bertanggung

jawab

dalam

memberikan

informasi kepada masyarakat sesuai dengan kewenangan dan


peraturan yang berlaku tentang penggunaan sediaan farmasi
dan perbekalan kesehatan yang diterimanya demi tercapainya
kepatuhan penggunaan.
2.2.3.4
Memiliki tanggung jawab bersama dengan tenaga
kesehatan lain dan pasien dalam menghasilkan terapi yang
optimal.
2.2.4 Lingkup hak dari pekerjaan kefarmasian menurut undang-undang
PP 51 tahun 2009, meliputi :
2.2.4.1 Hak untuk mendapatkan posisi kemitraan dengan profesi
tenaga kesehatan lain.
2.2.4.2 Hak untuk mendapatkan perlindungan hukum pada saat
melaksanakan praktek sesuai dengan standar yang ditetapkan.
2.2.4.3 Hak untuk mendapatkan jasa profesi sesuai dengan
kewajibanjasa profesional kesehatan.
2.2.4.4 Hak untuk bicara dalam rangka menegakkan keamanan
masyarakat dalam aspek sediaan kefarmasian dan perbekalan
kesehatan.
2.2.4.5 Hak

untuk

menambah/meningkatkan

mendapatkan
pengetahuan

kesempatan
baik

melalui

pendidikan berkelanjutan (Sl), spesialisasi pelatihan maupun


seminar.
2.2.4.6 Hak untuk memperoleh pengurangan beban Studi bagi yang
melanjutkan pendidikan ke jenjang S1 farmasi.

20

2.3 Pekerjaan Kefarmasian


Pekerjaan kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu
sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian
atau penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter,
pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat
tradisional.
Pekerjaan Kefarmasian dilakukan berdasarkan pada nilai ilmiah, keadilan,
kemanusiaan, keseimbangan dan perlindungan serta keselamatan pasien atau
masyarakat yang berkaitan dengan sediaan farmasi yang memenuhi standar
dan persyaratan keamanan, mutu dan kemanfaatan.
2.3.1 Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009 yang
dimaksud dengan:
2.3.1.1
Nilai ilmiah adalah pekerjaan kefarmasian harus
didasarkan pada ilmu pengetahuan dan teknologi yang
diperoleh

dalam

pendidikan

termasuk

pendidikan

berkelanjutan maupun pengalaman serta etika profesi.


2.3.1.2
Keadilan adalah penyelenggaraan pekerjaan
kefarmasian harus mampu memberikan pelayanan yang adil
dan merata kepada setiap orang dengan biaya yang
terjangkau serta pelayanan yang bermutu.
2.3.1.3
Kemanusiaan adalah dalam melakukan pekerjaan
kefarmasian harus memberikan perlakuan yang sama
dengan tidak membedakan suku, bangsa, agama, status
sosial dan ras.
2.3.1.4
Keseimbangan adalah dalam melakukan pekerjaan
kefarmasian

harus

tetap

menjaga

keserasian

serta

keselarasan antara kepentingan individu dan masyarakat.


2.3.1.5
Perlindungan dan keselamatan adalah pekerjaan
kefarmasian tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan
semata, tetapi harus mampu memberikan peningkatan
derajat kesehatan pasien.

21

2.3.2

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009, tujuan


pengaturan pekerjaan kefarmasian adalah untuk:
2.3.2.1 Memberikan perlindungan kepada pasien dan
masyarakat dalam memperoleh dan menempatkan sediaan
farmasi dan jasa kefarmasian.
2.3.2.2 Mempertahankan
dan

meningkatkan

mutu

penyelenggaraan pekerjaan kefarmasian sesuai dengan


perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi peraturan
perundangan-undang.
2.3.2.3 Memberikan kepastian

hukum

bagi

pasien,

masyarakat dan tenaga kefarmasian.


2.4 Pelayanan Kefarmasian
Menurut PP 51 tahun 2009 pelayanan kefarmasian adalah suatu pelayanan
langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan
sediaan farmasi dengan maksud mencapai basil yang pasti untuk
meningkatkan mutu kehidupan pasien.
Pelayanan kefarmasian dalam hal memberikan perlindungan terhadap pasien
berfungsi sebagai (Bahfen, 2006):
2.4.1 Menyediakan informasi tentang obat-obatan kepada tenaga
kesehatan

lainnya,

tujuan

yang

ingin

dicapai

mencakup

mengidentifikasikan hasil pengobatan dan tujuan akhir pengobatan,


agar pengobatan dapat diterima untuk terapi, agar diterapkan
penggunaan secara rasional, memantau efek samping obat dan
menentukan metode penggunaan obat.
2.4.2 Mendapatkan rekam rnedis untuk digunakan pemilihan obat yang
tepat.
2.4.3 Memantau penggunaan obat apakah efektif, tidak efektif, reaksi
yang berlawanan, keracunan dan jika perlu memberikan saran untuk
memodifikasi pengobatan.
2.4.4 Menyediakan bimbingan dan konseling dalam rangka pendidikan
kepada pasien.

22

2.4.5 Menyediakan dan rnemelihara sena memfasilitasi pengujian


pengobatan bagi pasien penyakit kronis.
2.4.6 Berpartisipasi dalam pengelolaan obat-obatan untuk pelayanan
gawat darurat.
2.4.7 Pembinaan pelayanan informasi dan pendidikan bagi masyarakat.
2.4.8 Partisipasi dalam penilaian penggunaan obat dan audit kesehatan.
2.4.9 Menyediakan pendidikan mengenai obat-obatan untuk tenaga
kesehatan.
Pelayanan kefarmasian pada saat ini telah berubah paradigmanya dari
orientasi obat kepada pasien yang mengacu pada asuhan kefarmasian
(Pharmaceutical Care). Sebagai konsekueusi perubahan orientasi tersebut,
apoteker/asisnen

apoteker

sebagai

tenaga

farmasi

dituntut

untuk

meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan perilaku agar dapat


berinteraksi langsung dengan pasien. Pelayanan kefarmasian meliputi
pengelolaan sumber daya (SDM, sarana prasarana, sediaan farmasi dan
perbekalan kesehatan serta administrasi) dan pelayanan farmasi klinik
(penerimaan resep, peracikan obat, penyerahan obat, informasi obat dengan
catatan penyimpanan resep) dengan memanfaatkan tenaga, dana, prasarana,
sarana dan metode tata laksana yang sesuai dalam upaya mencapai tujuan
yang ditetapkan (Depkes RI, 2006).
2.5 Pelayanan informasi obat (PIO)
Pelayanan informasi obat didefinisikan sebagai kegiatan penyediaan dan
pemberian informasi, rekomendasi obat yang independen, akurat, lengkap,
terkini oleh tenaga teknis kefarmasian yang kompeten kepada pasien, tenaga
kesehatan, masyarakat maupun pihak yang memerlukan. Informasi umum
tentang nama obat, cara pemakaian dan lama penggunaan dapat
disampaikan oleh tenaga teknis kefarmasian atau tenaga kesehatan lain yang
terlatih (Kemenkes, 2010).

2.5.1

Tujuan pelayanan informasi obat


Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No
1197/MENKES/SK/X/2004 menunjang ketersediaan dan penggunaan

23

obat yang rasional, berorientasi kepada pasien, tenaga kesehatan, dan


pihak lain, menyediakan dan memberikan informasi obat kepada
pasien, tenaga kesehatan, dan pihak lain. menyediakan informasi
untuk membuat kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan obat
terutama bagi PFT/KFT (Panitia Farmasi dan Terapi/Komite Farmasi
dan Terapi).
2.5.2 Informasi obat yang lazim diperlukan pasien antara lain:
2.5.2.1 Waktu penggunaan obat, misalnya berapa kali obat
digunakan dalam sehari, apakah di waktu pagi, siang, sore
atau malam. Dalam hal ini termasuk apakah obat diminum
sebelum atau sesudah makan.
2.5.2.2 Lama penggunaan obat, apakah selama keluhan masih ada
atau harus dihabiskan meskipun sudah terasa sembuh.
2.5.2.3 Cara penggunaan obat yang benar akan menentukan
keberhasilan pengobatan, oleh karena itu pasien harus
mendapat penjelasan mengenai cara penggunaaan obat yang
benar terutama untuk sediaan farmasi tertentu seperti
obatoral, obat tetes mata, salep mata, obat tetes hidung, obat
semprot hidung, tetes telinga, suppositoria dan krim/salep
rektal dan tablet vagina.
2.5.2.4 Efek yang akan timbul dari penggunaan obat, misalnya
berkeringat, mengantuk, kurang waspada, tinja berubah
warna, air kencing berubah wama dan sebagainya.
2.5.2.5 Hal-hal yang mungkin timbul, misalnya interaksi obat
dengan obat lain atau makanan tertentu dan kontraindikasi
obat tertentu dengan diet rendah kalori, kehamilan dan
menyusui serta kemungkinan terjadinya efek obat yang
tidak dikehendaki.
2.5.2.6 Cara penyimpanan obat. (Kemenkes, 2010).
2.5.3 Beberapa informasi obat yang terdapat dalam kemasan obat, yaitu :
2.5.3.1 Komposisi
Komposisi adalah zat aktif atau berkhasiat yang terkandung
2.5.3.2

dalam obat.
Indikasi

24

Indikasi adalah kegunaan suatu obat pada kondisi penyakit


tertentu.
2.5.3.3 Dosis dan petunjuk pemakaian
Dosis dan petunjuk pemakaian berkaitan dengan kadar obat
yang berkhasiat dalam tubuh. Sangat penting untuk
memperhatikan dan mematuhi cara pemakaian, jumlah dan
waktu pemakaian suatu obatagar tarapi yang dilakukan
berjalan dengan baik.
2.5.3.4 Efek samping
Hampir setiap obat memiliki banyak efek pada tubuh kita.
Selain efek utama yang dimanfaatkan, juga terdapat efek
samping yang mungkin timbul. Efek samping tidak selalu
timbul pada setiap pasien.
2.5.3.5 Kontraindikasi
Kontraindikasi adalah keadaan yang tidak memperolehkan
suatu obat digunakan oleh seorang pasien.
2.5.3.6 Interaksi obat
Penggunaan bersamaan atau berurutan dua obat atau lebih
dapat menimbulkan interaksi sehingga memberikan efek
klinis yang berbeda. Peringatan atau perhatian pemakaian
suatu obat harus dilakukan secara hati-hati pada kondisi
tertentu karena dapat terjadi efek atau keadaan yang tidak
diinginkan oleh pasien.
2.5.3.7 Penyimpanan
Efek suatu obat juga berkaitan dengan kualitas obat karena
setiap bahan obat mempunyai kondisi ideal agar tetap stabil.
2.6

Antibiotik
2.6.1 Pengertian
Antibiotik adalah segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik,
yang mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses
biokimia di dalam organisme, khususnya dalam proses infeksi oleh
bakteri. Literatur lain mendefinisikan antibiotik sebagai substansi
yang bahkan di dalam konsentrasi rendah dapat menghambat
pertumbuhan dan reproduksi bakteri dan fungi (Baratawidjaja, Karnen
Garna, 2006).

25

Antibiotik adalah zat antibakteri yang dihasilkan oleh berbagai spesies


mikroorganisme (bakeri, jamur dan aktinomistes) yang menekan
pertumbuhan mikroorganisme lainnya (Chambers, 2006).
2.6.2 Mekanisme Kerja
Menghambat sintesa dinding sel, akibatnya pembentukan dinding sel
tidak sempurna dan tidak dapat menahan tekanan osmosa dari plasma,
akhirnya sel akan pecah (penisilin dan sefalosporin).
2.6.2.1 Menghambat sintesa membran sel, molekul lipoprotein dari
membran sel dikacaukan pembentukannya, hingga bersifat
lebih permeable akibatnya zat-zat penting dari isi sel dapat
keluar (kelompok polipeptida).
2.6.2.2 Menghambat sintesa protein sel, akibatnya sel tidak
2.6.2.3

sempurna terbentuk (kloramfenicol, tetrasiklin).


Menghambat pembentukan asam-asam inti (DNA dan
RNA) akibatnya sel tidak dapat berkembang (rifampisin)
(Anonimus, 2013).

2.6.3

EfekSamping
Penggunaan antibiotika

tanpa resep dokter atau dengan dosis yang

tidak tepat dapat menggagalkan

pengobatan dan menimbulkan

bahaya-bahaya lain seperti


((http://medicastore.com/apotik_online/antibiotika/antibiotika.html)
(Di akses tanggal 7 mei 2015))
2.6.3.1 Sensitasi/ hipersensitif
Banyak obat setelah

digunakan

secara

lokal

dapat

mengakibatkan kepekaan yang berlebihan, kalau obat yang


sama kemudian diberikan secara oral atau suntikan maka ada
kemungkinan terjadi reaksi hipersentitif atau alergi seperti
gatal-gatal kulit kemerah-merahan, bentol-bentol atau lebih
hebat lagi dapat terjadi syok, contohnya Penisilin dan
Kloramfenikol. Guna mencegah bahaya ini maka sebaiknya
salep-salep menggunakan antibiotika yang tidak akan
diberikan secara sistemis (oral dan suntikan).

26

2.6.3.2 Resistensi
Jika obat digunakan dengan dosis yang terlalu rendah, atau
waktu terapi kurang lama, maka hal ini dapat menyebabkan
terjadinya resistensi artinya bakteri tidak peka lagi terhadap
obat

yang

bersangkutan.

Untuk mencegah

resistensi,

dianjurkan menggunakan kemoterapi dengan dosis yang tepat


atau dengan menggunakan kombinasi obat.

2.6.3.3 Infeksi
Yaitu infeksi sekunder yang timbul selama pengobatan
dimana sifat dan penyebab infeksi berbeda dengan penyebab
infeksi yang pertama. Supra infeksi terutama terjadi pada
penggunaan

antibiotika

broad

spektrum

yang

dapat

mengganggu keseimbangan antara bakteri di dalam usus


saluran pernafasan dan urogenital.
Spesies mikroorganisme yang lebih kuat atau resisten akan
kehilangan saingan, dan berkuasa menimbulkan infeksi baru
misalnya timbul jamur Minella albicans dan Candida
albicans. Selain antibiotik obat yang menekan sistem tangkis
tubuh yaitu kortikosteroid dan imunosupressiva lainnya dapat
menimbulkan supra infeksi. Khususnya, anak-anak dan
orangtua sangat mudah dijangkiti supra infeksi ini.
Antibiotik diberikan untuk penderita yang belum terkena
infeksi tetapi diduga mempunyai peluang besar

untuk

mendapat infeksi, atau terkena infeksi dapat menimbulkan


dampak buruk untuk penderita. Diperlukan protocol sendiri
untuk tata cara penggunaannya, baik kasus medik maupun
kasus bedah (Reese et al, 2000).

27

2.7

Penggolongan Antibiotik BerdasarkanAktivitasnya


2.7.1 Zat-zat dengan aktivitas sempit (narrow spektrum)
Zat yang aktif terutama terhadap satu atau beberapa jenis bakteri saja
(bakteri gram positif atau bakteri gram negatif saja). Contohnya
eritromisin, kanamisin, klindamisin (hanya terhadap bakteri gram
positif), streptomisin, gentamisin (hanya terhadap bakteri gram negatif
saja).
2.7.2 Zat-zat dengan aktivitas luas (broad spectrum)
Zat yang berkhasiat terhadap semua jenis bakteri baik jenis bakteri
gram positif maupun gram negatif. Contohnya : ampisilin,
sefalosporin, dan kloramfenikol.

2.8 Kelompok Antibiotik


2.8.1 Golongan Penisilin
2.8.2 Golongan Sefalosforin
2.8.3 Golongan Aminoglikosida
2.8.4 Golongan Kloramfenikol
2.8.5 Golongan Tetrasiklin
2.8.6 Golongan Makrolida
2.8.7 Golongan Rifampisin dan Asam Fusidat
2.8.8 Golongan lain-lain (Blackwell Science, 2002).
2.9 Suspensi
2.9.1 Suspensi Oral
Suspensi dapat didefinisikan sebagai preparat yang mengandung
partikel obat yang terbagi secara halus (dikenal sebagai suspensoid)
disebarkan secara merata dalam pembawa dimana obat menunjukkan
kelarutan

yang

sangat

minimum.

Beberapa

suspensi

resmi

diperdagangan tersedia dalam bentuk siap pakai, telah disebarkan


dalam cairan pembawa dengan atau tanpa penstabil dan bahan
tambahan farmasetik lainnya.
Preparat lain yang tersedia adalah serbuk kering yang dimaksudkan
untuk disuspensikan dalam cairan pembawa. Jenis produk ini

28

umumnya campuran serbuk yang mengandung obat dan bahan


pensuspensi maupun pendispersi, yang dengan melarutkan dan
pengocokan dengan sejumlah tertera cairan pembawa (biasanya air
murni) menghasilkan bentuk suspensi yang cocok untuk diberikan.
Obat seperti itu tidak stabil untuk disimpan dalam periode waktu
tertentu dengan adanya cairan pembawa air (sebagai contoh banyak
obat obat antibiotika) lebih sering diberikan sebagai campuran
serbuk kering untuk dibuat suspensi pada waktu akan diberikan
(Ansel, 2005 ).
2.9.2 Alasan Pembuatan Suspensi Oral
Ada beberapa alasan pembuatan suspensi oral. Salah satu adalah
karena obat obat tertentu tidak stabil secara kimia bila ada dalam
larutan tapi stabil bila disuspensi. Dalam hal seperti ini suspensi oral
menjamin stabilitas kimia dan memungkinkan terapi dengan cairan.
Untuk banyak pasien, bentuk cair lebih disukai ketimbang bentuk
padat (tablet atau kapsul dari obat yang sama), karena mudahnya
menelan cairan dan keluwesan dalam pemberian dosis, pemberian
lebih mudah serta lebih mudah untuk memberikan dosis yang relatif
sangat besar, aman, mudah diberikan untuk anak anak, juga mudah
diatur penyesuaian dosisnya untuk anak. Kerugian dari obat tertentu
yang mempunyai rasa tidak enak bila diberikan dalam bentuk larutan,
akan tidak berasa bila diberikan sebagai partikel yang tidak larut
dalam suspensi (Ansel, 2005).

2.10 Sirup Kering


2.10.1 Pengertian
Sirup Kering

didenifisikan

sebagai

sediaan

cairan

kental

mengandung sukrosa (gula) tidak kurang dari 50% dan tidak lebih
dari 65% yang belum dikasih air (Bambang, 2007). Pada sirup
dengan kadar gula yang rendah dapat terjadi fermentasi, kadar gula
yang tinggi mempunyai tekanan osmotik yang cukup tinggi

29

sehingga pertumbuhan bakteri atau fungsi dapat terhambat


(Joenoes, 2008).
Kebanyakan sirup-sirup mengandung sebagian besar sukrosa,
biasanya 60%-80%, tidak hanya diserahkan rasa manis dan
kekentalan yang diinginkan dari larutan seperti itu, tetapi juga
karena sifat stabilitas yang berbeda dari sifat larutan encer dari
sukrosa yang tidak stabil. Media gula berair dari larutan sukrosa
encer merupakan suatu media makanan yang efisien untuk
pertumbuhan mikroorganisme, terutama ragi dan jamur. Larutanlarutan

gula

yang

pekat

resisten

terhadap

pertumbuhan

mikroorganise. Sirup yang kelebihan air sedikit memungkinkan


sirup tetap stabil secara fisik pada keadaan dengan macam-macam
temperature. Jika sirup dijenuhkan secara sempurna dengan
sukrosa, dengan penyimpanan dalam keadaan dingin sebagian
sukrosa dapat mengkristal dari larutan, dan berlaku sebagai inti,
akan memulai semacam reaksi yang akan mengakibatkan
pemisahan sebagian sukrosa yang tidak seimbang dengan daya
larutannya pada temperatur penyimpanan. Kemudian sirup menjadi
sangat tidak jenuh dan mungkin terjadi pertumbuhan mikroba
(Ansel et al., 2008)
2.10.2 Karakteristik Sirup Kering
2.10.2.1 Campuran serbuk harus homogen.
2.10.2.2 Rekonstitusi mudah dan cepat

terdispersi

dalam

pembawa.
2.10.2.3 Redispersi dan penuangan mudah.
2.10.2.4 Bentuk, bau, dan rasa acceptable
((www.pdfssearch.com/pdf/antibiotik_sirup_kering.html)
( Di akses tanggal 7 mei 2015)).
2.10.3 Cara Penggunaan Sirup Kering.
Tuang air minum sampai sedikit dibawah tanda lalu tutup botol
erat-erat, balikan botol dan kocok sampai semua granol terdispersi,
tambah lagi air minum secukupnya sampai tanda dan kocok baikbaik, setelah pencampuran dengan air minum, sirup ini harus

30

digunakan dalam waktu tidak lebih dari 7 hari, kocok dahulu setiap
akan diminum, simpan dilemari es atau ditempat yang terlindung
dari cahaya.
2.11 Stabilitas Produk Farmasi
2.11.1 Pengertian
Stabilitas didefinisikan sebagai kemampuan suatu produk obat atau
kosmetik untuk bertahan dalam batas spesifikasi yang ditetapkan
sepanjang periode penyimpanan dan penggunaan untuk menjamin
identitas, kekuatan, kualitas dan kemurnian produk tersebut.
(Joshita, 2008).

2.11.2 Jenis Stabilitas


2.11.2.1
Stabilitas kimia, meliputi degradasi formasi produk,
kehilangan potensi (bahan aktif), kehilangan bahanbahan tambahan (pengawet, antioksidan dan lain-lain).
2.11.2.2
Stabilitas mikrobiologi, meliputi perkembangbiakan
mikroorganisme pada sediaan nonsteril, sterilisasi dan
perubahan efektivitas pengawet.
2.11.2.3
Stabilitas fisika, yaitu mempertahankan sifat fisika
awal dari suatu sediaan seperti penampilan, kesesuaian,
keseragaman, disolusi, disintegrasi, kekerasan, warna,
aroma,

rasa,

kekerasan,

kerapuhan,

kelarutan,

pengendapan, perubahan berat, adanya uap, bentuk, dan


ukuran partikel ataupun kemampuan disuspensikan
(Joshita, 2008).

2.11.3 Stabilitas Sediaan Farmasi


2.11.3.1
Profil sifat fisika dan kimia pada sediaan yang
dibuat termasuk eksipien dan sistem kemasan yang
digunakan.
2.11.3.2
Faktor-faktor lingkungan seperti suhu, kelembaban
dan cahaya (Carstensen et al, 2000).

31

2.12

Rekonstitusi
2.12.1 Pengertian
Rekonstitusi adalah penambahan pengencer pada suatu konsentrat
cairan atau serbuk dengan tujuan untuk menghasilkan suatu
konsentrasi tertentu (Ansel & Prince, 2006).

Etiket

pada

kebanyakan

serbuk

rekonstitusi

biasanya

mencantumkan jumlah pengencer yang harus ditambahkan dalam


mililiter untuk mencapai konsentrasi tertentu, umumnya dinyatakan
dalam miligram per mililiter.

Pada saat merekonstitusi serbuk, sejumlah air harus ditambahkan


dengan volume yang tepat. Kesalahan jumlah air akan mengubah
konsentrasi yang dituju, yang dapat menyebabkan kelebihan atau
kekurangan dosis obat (Ansel & Prince, 2006).

2.13 Apotek
2.13.1 Pengertian
Menurut Keputusan Menteri kesehatan RI No.1332 /Menkes/
SK/X/2002, Apotek adalah salah satu tempat tertentu, tempat
dilakukannya pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan
farmasi dan perbekalan farmasi kepada masyarakat.

Menurut

Keputusan

Menteri

kesehatan

RI

No.1027/Menkes/IX/2004, Apotek adalah suatu tempatpekerjaan


kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi serta perbekalan
kesehatan lainnya pada masyarakat.
2.13.2 Tugas dan Fungsi Apotek
Tugas dan Fungsi Apotek Berdasarkan Peraturan Pemerintah No.51
tahun 2009, tugas dan fungsi apotek adalah sebagai berikut:

32

2.13.2.1

Tempat pengabdian profesi apoteker yang telah

mengucapkan sumpah jabatan.


2.13.2.2
Sarana farmasi yang telah melaksanakan peracikan,
pengubahan bentuk, pencampuran, dan penyerahan obat
atau bahan obat.
2.13.2.3
Sarana penyaluran perbekalan farmasi yang harus
menyalurkan obat yang diperlukan masyarakat secara
luas dan merata.
2.13.2.4
Sebagai sarana pelayanan informasi obat dan
perbekalan farmasi lainnya kepada masyarakat.

2.14 Kerangka Konsep

KepatuhanTenaga
Teknis Kefarmasian

Menyampaikan
Informasi
Penyimpanan 7
hari

Patuh

Menyampaikan
Informasi
Penyimpanan 7
hari

Tidak Patuh

Gambar 2.1 Kerangka Konsep

BAB 3
METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

33

Desain penelitian yang digunakan pada penelitian ini menggunakan metode


deskriptif yaitu suatu penelitian yang dilakukan untuk mendeskripsikan atau
menggambarkan

suatu

fenomena

yang

terjadi

dalam

masyarakat

(Notoatmodjo, 2010).
Penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk
mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah
maupun fenomena buatan manusia. Fenomena itu bisa berupa bentuk,
aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan dan perbedaan
antara fenomena yang satu dengan fenomena lainnya (Sukmadinata, 2007).
Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang berusaha mendeskripsikan
dan menginterpretasikan sesuatu, misalnya kondisi atau hubungan yang ada,
pendapat yang berkembang, proses yang sedang berlangsung, akibat atau
efek yang terjadi atau tentang kecenderungan yang tengah berlangsung.

Penelitian

deskriptif

ini

menggambarkan

kepatuhan

tenaga

teknis

kefarmasian dalam pemberian informasi tentang lama penyimpanan


antibiotik sirup kering yang telah di rekonstitusi di apotek wilayah
Banjarmasin Tengah
3.2

Definisi Operasional
Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional
berdasarkan karakteristik yang diamati yang memungkinkan peneliti untuk
melakukan kuesioner atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek
atau fenomena. Definisi operasional ditentukan oleh parameter yang
dijadikan ukuran dalam penelitian, sedangkan pengukuran merupakan cara
dimana variabel dapat diukur dengan karakteristiknya (Hidayat, 2008).
Dalam penelitian ini, peneliti menjelaskan variabel dan definisi operasional
penelitian dalam bentuk seperti berikut:
Tabel 3.1 Variabel dan Definisi Operasional
Variabel

Definisi
Operasional

Parameter

Instrumen
Penelitian

Kategori

34

Kepatuhan

Ketaatan

Ada tidaknya

Lembar

a. Patuh: bila

tenaga teknis

tenaga teknis

informasi

observasi

semua

kefarmasian

kefarmasian

tentang:

(pengamatan

informasi

dalam

dalam

Lama

disampaikan

pemberian

pemberian

penyimpanan

sesuai

informasi

informasi

dalam hari

dengan

tentang lama

Tentang

( 7 hari)

Penyimpanan

Lama

Antibiotik

Penyimpanan

Sirup Kering

Antibiotik

yang telah di

Sirup Kering

Rekonstitusi

yang telah di

parameter
b. Tidak patuh:
bila semua
informasi
tidak
disampaikan
sesuai

Rekonstitusi

dengan
parameter

3.3 Populasi, Sampel, dan Sampling


3.3.1 Populasi
Populasi penelitian adalah keseluruhan objek penelitian atau objek
yang diteliti (Notoatmodjo, 2010). Populasi dalam penelitian ini
adalah semua tenaga teknis kefarmasian yang bekerja di apotek
wilayah Banjarmasin Tengah
3.3.2

Sampel
Sampel penelitian adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan
objek yang diteliti atau dianggap mewakili seluruh populasi
(Notoatmodjo, 2010). Sampel yang diambil dalam penelitian ini
adalah tenaga teknis kefarmasian yang bekerja di apotek wilayah
Banjarmasin Tengah yang memberikan informasi lama penyimpanan
antibiotik

3.3.3

sirup

kering

yang

telah

direkonstitusi

kepada

pasien/masyarakat pada saat penelitian dilaksanakan.


Sampling
Sampling adalah suatu proses menyeleksi populasi yang dapat
mewakili populasi yang ada pada penelitian ini. Teknik pengambilan

35

sampel yang digunakan adalah teknik accidental sampling yaitu


pengambilan sampel berdasarkan siapa saja yang ditemui asalkan
sesuai persyaratan, dalam hal ini adalah tenaga teknis kefarmasian
yang bekerja di apotek wilayah Banjarmasin Tengah yang
memberikan informasi lama penyimpanan antibiotik sirup kering
yang telah direkonstitusi kepada pasien/ masyarakat pada saat
penelitian dilaksanakan.
3.4 Tempat dan Waktu Penelitian
3.4.1 Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di apotek wilayah Banjarmasin Tengah.
3.4.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2015.
3.5 Alat Pengumpul Data
Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini berupa lembar
observasi (pengamatan) yang telah dipersiapkan sebelumnya oleh peneliti.
Lembar observasi (pengamatan) ini akan diisi sendiri oleh peneliti
berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan peneliti terhadap tenaga
teknis kefarmasian yang bekerja di apotek wilayah Banjarmasin Tengah
yang memberikan informasi

lama penyimpanan antibiotik sirup kering

yang telah direkonstitusi kepada pasien/masyarakat pada saat penelitian


dilaksanakan.
3.6 Teknik Pengambilan Data
Teknik pengambilan data yang digunakan dalam penelitian ini dengan cara
observasi (pengamatan) yang dilakukan oleh peneliti. Peneliti melakukan
pengamatan dengan cara datang ke apotek sebagai pasien yang ingin
membeli obat antibiotik sirup kering, kemudian peneliti mengamati tentang
pemberian informasi lama penyimpanan yang disampaikan oleh tenaga
teknis kefarmasian dengan cara menyimak apakah informasi

lama

penyimpanan antibiotik sirup kering yang telah direkonstitusi. dikatakan


patuh apabila menyampaikan informasi lama penyimpanan antibitik sirup
kering dan dikatakan tidak patuh apabila tidak menyampaikan informasi
lama penyimpanan antibiotik sirup kering

36

3.7 Teknik Pengolahan Data dan Analisis Data


3.7.1 Teknik pengolahan data
Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam proses pengolahan data
diantaranya:
3.7.1.1
Editing
Hasil diperoleh atau dikumpulkan dan disunting terlebih
dahulu untuk melihat data yang diperoleh sudah lengkap atau
3.7.1.2

kurang lengkap.
Coding
Mengubah data berbentuk kalimat atau huruf menjadi dua
angka atau bilangan dengan memberi kode 1. Patuh dan 2.

3.7.1.3

Tidak patuh..
Data Entry atau Processing
Jawaban-jawaban dari masing-masing responden yang dalam

3.7.1.4

bentuk kode dimasukkan ke dalam program komputer.


Tabulasi
Membuat tabel-tabel data, sesuai dengan tujuan penelitian
atau yang diinginkan peneliti (Notoatmodjo, 2010).

3.7.2 Analisis data


Teknik analisa data yang digunakan adalah analisa univariat (analisis
deskriptif). Analisis univariat adalah analisa untuk satu variabel
penelitian. Analisa univariat bertujuan untuk menjelaskan atau
mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian. Umumnya
analisis univariat hanya menghasilkan distribusi ferkuensi dan
persentase dari tiap penelitian (Notoatmodjo, 2010).
Analisis data penelitian ini digunakan untuk mengetahui kepatuhan
tenaga

teknis

kefarmasian

dalam pemberian

informasi

lama

penyimpanan antibiotik sirup kering di apotek wilayah Banjarmasin


Tengah. Seorang tenaga teknis kefarmasian dikatakan patuh apabila
menyampaikan lama penyimpanan antibiotik sirup kering yang telah
direkonstitusi
Penelitian ini akan dianalisis dengan cara mengkonversikan nilai
menggunakan rumus dan disajikan dalam bentuk tabel frekuensi.
Rumus perhitungan:

37

P=

F
N

x 100

Keterangan:
%
P = Persentase
F = Jumlah jawaban yang benar
N = Jumlah soal
Data yang diperoleh dari hasil kuesioner dianalisa satu persatu dan
hasilnya dapat digambarkan dalam tabel distribusi frekuensi seperti
berikut:
Tabel 3.2 Distribusi Frekuensi
Kategori Kepatuhan

Jumlah

Persentase (%)

Patuh

...

Tidak Patuh

3.8 Etika Penelitian


Etika penelitian mencakup perilaku peneliti terhadap subjek penelitian serta
sesuatu yang dihasilkan oleh peneliti bagi masyarakat (Notoatmodjo, 2010).
Menurut Hidayat (2008) penelitian dilaksanakan berpedoman pada etika
sebagai berikut:
3.8.1
Informed consent

(lembar

persetujuan),

merupakan

bentuk

persetujuan antara peneliti dengan responden atas ketersediaannya


3.8.2

menjadi responden penelitian.


Anonymity (tanpa nama), merupakan jaminan dalam penggunaan
subjek penelitian dengan cara tidak mencantumkan nama responden

3.8.3

pada lembar alat ukur, cukup berupa penelitian yang akan disajikan.
Confidentiality (kerahasiaan), peneliti memberikan jaminan
kerahasiaan hasil penelitian informasi maupun masalah-masalah
lainnya.

Semua

informasi

yang

telah

dikumpulkan

dijamin

kerahasiaannya oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan


dilaporkan dalam data hasil riset.

38

DAFTAR RUJUKAN
Abu, Ahmadi.(2003). Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta
Anief. (2006). Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta: UGM Pres
Anonim. (2009). Peraturan Pemerintah Republic Indonesia Nomor 51 Tahun
2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian . Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Anonimus.

(2013).

Mekanisme

Kerja

Antibiotik.

http://ilmuantibiotik.blogspot.com/2013/05/mekanisme-kerja-antibiotikdan.html. (Diakses 8 juni 2015)


Ansel, C. Howard & Prince J. Shelly. (2006). Kalkulasi Farmasetik, Panduan
untuk Apoteker. Jakarta : EGC
Ansel, H. C., (2008). Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. ed IV.Jakarta. Alih
Bahasa
Ansel, H.C. (2005). Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi 4. Jakarta. UI
Press.
Aronson, Elliot, Timoty D. Wilson, and Robin M.Akert. (2010). Sosial
Psychology.

Upper

Saddle

River,

NJ:

Prentice

Hall,

http://en.wikipedia.org/wiki/Compliance_%28psychology%29,

(Online),
(Diakses

tanggal 2 juni 2015)

Bahfen,

F.

(2006).Aspek

Legal

layanan

Farmasi

komunitas

konsep

pharmaceutical Care. Majalah Medisina


Baratawidjaja, Karnen, Garna. (2006). Imunologi Dasar. Jakarta : Balai Penerbit
FKUI
Carstenten, jt .(2000). Drug Stability. 3rd. ED

39

Chambers, (2006). General Principles of Antimicrobial Therapy. United Statesof


America : The McGraw-Hill Companies, Inc.

Departemen

Kesehatan

Republik Indonesia

Keputusan.

(2002).

Menteri

Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1332/MENKES/SK/X/2002 Tentang


Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara
Pemberian Izin Apotek. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.(2004). Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang Standar
PelayananKefarmasian di Apotek. Jakarta, 2004.
Depkes RI. (2006). Pedoman Pelayanan Kefarmasian. Departemen Kesehatan RI.
Jakarta
Hidayat, A.A. (2008). Metodologi Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis
Data. Jakarta: Salemba Medika.
Howard, C., Ansel, 2008. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi . Edisi 4. Jakarta.
UI-Press.
http://www.pdfssearch.com/pdf/antibiotik_sirup_kering.html) ( Di akses tanggal 7
mei 2015)).
http://www.jasopline.com/admin/php/uploads/336.pdf). (Diakses tanggal 20 mei
2015)
http://medicastore.com/apotik_online/antibiotika/antibiotika.html.(Diakses
tanggal 1 mei 2015)
Istiantoro & Vincent.(2009). Antimikroba: Penisilin, Sefalosforin, dan Antibiotik
Departemen farmakologi Terapeutik FKUI. Jakarta: Balai Penerbitan FKUI

40

Joenoes, Nanizar Zaman. (2008). Ars Prescribendi Resep Yang Rasional. Edisi 2.
Surabaya : Airlangga Uniiversity Press
Joshita, 2008. Kestabilan Obat http://staff.ui.ac.id/internal/130674809/ material/
KestabilanobatkuliahS2.pd. (Diakses 7 Juni 2015)
Katzung, Bertram, G. (1997). Farmakologi Dasar dan Klinik . Edisi 6.. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC
Kemenkes. (2010). Materi Pelatihan Manajemen Kefarmasian Di Apotek.
Jakarta : Kementerian Kesehatan RI. Ditjen Bina Kefarmasian Dan Alat
Kesehatan, Ditjen Bina Obat Publik Dan Perbekalan Kesehatan.
Mayo, Clinic. (2013). Clostridium Difficile Infection. Merck manual
Mboi, Nafsiah., (2014). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 35 Tahun 2014. Jakarta : Kementrian Kesehatan RI
Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Resse, Betts& gumustop. (2000). Handbook of Antibiotics. 3rd Edition. Lippicort
Williams & Wilkins. Philadelphia

S, david.b.w, aaron,e. (2006) Clostridium Difficile-Induced Colitis. Merck


manual.http://medicastore.com/apotik_online/antibiotika/antibiotika.html.
(Di akses 12 mei 2015)

Sarwono, Solita, (2009). Psikologi Sosiologi.Indonesia. University:Jakarta


Sherlock S and Dooley J. (2002) Diseases Of The Liver And Biliary System. ed.
Malden, MA: Blackwell Science

41

Sukmadinata, N.S. (2007). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja


Rosdakarya.
Tjay, Tan Hoan & Rahardja, Kirana. (2007). Obat obat Penting. Jakarta : PT.
Gramedia