Anda di halaman 1dari 13

FILUM ANNELIDA

Annelida atau cacing gelang adalah kelompok cacing dengan tubuh bersegmen. Berbeda
dengan Platyhelminthes dan Nemathelminthes, Annelida merupakan hewan tripoblastik yang
sudah memiliki rongga tubuh yang sejati (hewan selomata), namun Annelida merupakan
hewan yang struktur tubuh paling sederhana.
Tubuh anggota filum ini bersegmen tertutup kutikula yang merupakan hasil sekresi dari
epidermis, sudah ada ronnga tubuh (coelom), dengan metamerisme sebagai ciri utamanya:
pembagian rongga tubuh, sistem persyarafan, peredaran darah, dan sistem ekskresinya
metamerik. Saluran pencernaan lengkap (mulut-usus-anus), berbentuk tubular, memanjang
sumbu tubuh. Respirasi dengan epidermis ataupun insang (pada cacing tabung, misalnya)
pada somit tertentu. Organ reproduksi hermafrodit (kelas olygochaeta dan hirudinea), dengan
hewan langsung berbentuk hewan dewasa, atau berumah dua (kelas archiannelida dan
polychaeta), dengan melalui fase larva trokofor. Hidup di dalam tanah yang lembab, dalam
laut dan dalam air. Umumnya annelida hidup bebas, ada yang hidup dalam liang, beberapa
bersifat komensal pada hewan akuatis, dan ada juga yang bersifat parasit pada vertebrata.

1. Ciri Ciri Umum Filum Annelida

Ciri umum filum Annelida antara lain sebagai berikut:


Tubuh bilateral simetris, bersegmen, berbentuk tubular
Tiap segmen dipisahkan oleh septa
Tubuh ditutupi oleh kutikula fleksibel
Mempunyai setae yang keras seperti kitin
Mempunyai parapodia
Bereproduksi secara aseksual dan seksual
Berhabitat di tanah yang lembab, air laut, air tawar

2. Pengelompokkan Filum Annelida


Berdasarkan jumlah parapodia, setae, dan rambut, filum Annelida dibagi menjadi tiga
kelas, yaitu Polychaeta (cacing berambut banyak), Oligochaeta (cacing berambut sedikit),
dan Hirudinea (lintah).
a) Polychaeta (cacing berambut banyak)

Polychaeta, dalam bahasa Yunani poly = banyak, chaetae = rambut kaku,


merupakan Annelida berambut banyak. Anggota kelas polychaeta dikenal dengan
sebutan umum cacing laut, cacing sikat, cacing ruas. Umumnya hidup di air. Seluruh
permukaan tubuh polychaeta mengandung rambut-rambut kaku atau setae yang dilapisi
kutikula sehingga licin dan kaku. Tubuhnya berwarna menarik, seperti ungu kemerahmerahan. Setiap segmen tubuh polychaeta dilengkapi dengan sepasang alat gerak atau
alat berenang yang disebut parapodia. Alat ini pun berperan sebagai alat pernafasan.
Polychaeta memiliki kelamin terpisah. Perkembangbiakannya dilakukan dengan cara
seksual. Pembuahannya dilakukan di luar tubuh. Telur yang telah dibuahi tumbuh
menjadi larva yang disebut trakofora. Setae berupa berkas, biasanya ada dua berkas:
notosetae (di bagian dorsal) dan neurosetae (di bagian ventral); parapodia menonjol,
tipenya bernacam-macam (biramus, uniramus), kadang-kadang tereduksi; prostomium
pada umumnya berkembang baik, mempunyai mata dan tentakel, namun sangat
termodifikasi pada hewan sedentaria; organ reproduksi pada umumnya diosius; habitat
lautan, ada juga yang hidup di lingkungan estuary, beberapa hidup di air tawar atau
bahkan terrestrial (di wilayah tropic).
1) Ciri-ciri polychaeta

Tubuh memanjang dan bersegmen

Tiap segmen mempunyai parapodia semacam kaki yang bentuknya seperti dayung

Tiap parapodia mempunyai seta, kec.segmen terakhir

Warna tubuh menarik

Respirasi dengan insang

Di bagian anterior terdapat kepala yang sempurna, disebut prostomium. Pada kepala
terdapat mata, antena, sepasang palpus dan mulut di bagian ventral.

Ruas yang mengandung mulut disebut peristomium. Ruas terakhir atau pigidium
mengandung anus.

Habitat: di lautan, hidup dalam pasir atau menggali batu-batuan di daerah pasang
surut air laut

2) Struktur Tubuh
Panjang tubuh umumnya kurang dari 10 cm dengan garis tengah 2-10 mm; penghuni
kedalaman laut umumnya hanya mencapai panjang 1 m, walau ada satu jenis yang
panjangnya mencapai 3 m (Eunice sp). Warna tubuhnya banyak yang menarik (merah,
merah muda, hijau ataupun kombinasi warna-warna). Metamerisme pada umumnya
sempurna, dengan tiap segmen silindris identik, kecuali bagian kepala dan ekor.
3) Fisiologi
Alat Gerak

Pergerakan disebabkan oleh perpaduan gerak antar parapodia, otot dinding tubuh

& cairan rongga tubuh.


Gerak undulating mengakibatkan cacing dapat menjalar & berenang dengan

cepat.
Sistem Respirasi
Bernafas dengan insang
Pertukaran gas via permukaan tubuh juga terjadi
Beberapa jenis tiap ruas terdapat insang, kecuali ujung anterior & posterior
Pada cacing yang mengalami modifikasi, jumlah & letak insang terbatas pada
ruas tertentu.
Sistem Pencernaan

Cara makan sesuai dengan kebiasaan hidup


Raptorial feeder: avertebrata kecil ditangkap dengan pharink/probosis yang

dijulurkan, terdapat rahang kitin


Deposit feeder: menelan pasir & lumpur dalam lorong; bahan organik dicerna &
partikel mineral dikeluarkan via anus, atau melalui tentakel cilia yang berlendir

Filter feeder: tidak punya probosis tutup kepala dilengkapi radiola untuk
menyaring detritus & plankton.

Saraf dan Indera

Sistem saraf tangga tali


Alat indera utama: mata, nuchal organ dan statocyst
Mata berkembang baik (errantia), bintik mata/tidak ada (sedentaria)
Fungsi mata: fotoreseptor
Nuchal organ: kemoreseptor untuk mendeteksi makanan
Sel peraba terdapat diseluruh tubuh, terutama parapodia & kepala
Sistem Ekskresi

Cacing yang tidak mempunyai pembuluh darah: protonefridia solenosit


Cacing yang mempunyai pembuluh darah: metanefridia
Nefrostom: corong bersilia
Nefridial kanal: pembuluh ekskresi
Nefridiophor: lubang ekskresi, bermuara pada neuropodium
Nefridia juga berfungsi sebagai alat osmoregulasi

4) Habitat dan Ekologi


Habitatnya di lautan, Polychaeta hidup dalam pasir atau menggali batu-batuan di
daerah pasang surut air laut ataupun membentuk tabung. Cara hidupnya yang
bersembunyi menyebabkan mereka luput dari pengamatan biasa.
5) Contoh polychaeta yang terkenal:
Sabellastarte indica (cacing kipas)
Marphysa sanguinea
Eunice viridis (cacing wawo)
Lysidice oele (cacing palolo)
Nereis virens (kelabang laut)
b) Oligochaeta (cacing berambut sedikit)

Oligochaeta (dalam bahasa Yunani, oligo = sedikit, chaetae = rambut kaku) yang merupakan
annelida berambut sedikit. Oligochaeta tidak memiliki parapodia, namun memiliki seta pada
tubuhnya yang bersegmen. Habitat cacing ini umumnya di air tawar dan tempat lembab.
Namun, ada pula yang hidup di darat. Tubuhnya bersegmen-segmen dengan jumlah segmen
mencapai 200 buah. Berikut merupakan gambar yang menerangkan struktur anatomi
Oligochaeta

1) Ciri-ciri oligochaeta

Memiliki sedikit setae pada tubuhnya

Segmen pada tubuhnya mencapai 200 segmen

Panjang tubuh mulai 1cm-3m

Kulit dilapisi kutikula

Tubuh mengandung hemoglobin

Habitat di tempat lembab dan perairan

Hermaprodit

2) Struktur Tubuh
Setae tidak membentuk berkas, tunggal dan membentuk rangkaian tertentu, tidak
memiliki parapodia; jarang mempunyai insang (kecuali yang akuatik); prostomium
kecil, berbentuk kerucut, tanpa mata atupun tentakel; organ reproduksi hermafrodit
(pembuahan silang): susunan gonad dan saluran-saluran reproduksi khas, metamerisme
terbatas; sejumlah segmen membentuk clitellum untuk menyekresikan cocoon; habitat
pada umumnya air tawar ataupun terrestrial, beberapa hidup di lingkungan estuary.

3) Fisiologi
a. Sistem Respirasi
Kelas Oligochaeta tidak memiliki parapodia seperti pada kelas polychaeta,
pernapasannya dilakukan melalui seluruh permukaan tubuhnya. Itu sebabnya
mengapa tubuh kelompok cacing ini berlendir. Tubuh cacing tanah tertutup oleh
selaput bening dan tipis yang disebut kutikula. Kutikula ini selalu lembap dan
basah. Melalui selaput inilah cacing bernapas. Kutikula menyebabkan udara di
dalam tanah dapat masuk ke pembuluh darah cacing. Setelah masuk ke pembuluh
darah, udara tersebut diedarkan ke seluruh tubuh. Tetapi ada juga Oligochaeta
yang bernafas dengan menggunakan insang, yakni kelas oligochaeta yang hidup
akuatik.
b. Sistem Pencernaan
Class Oligochaeta memiliki sistem pencernaan yang lengkap mulai dari mulut,
faring, kerongkogan dan usus. Makanannya adalah sisa dedaunan. yang
dikeluarkan oleh getah pencernaan secara ekstrasel. Cacing tanah dapat mencerna
senyawa organik tersebut menjadi molekul yang sederhana yang dapat diserap
oleh tubuhnya. Sisa pencernaan makanan dikeluarkan melalui anus.
c. Sistem saraf
Sistem saraf Oligochaeta terdiri dari:

otak (ganglion cerebral)


dua lobus di atas faring
dua syaraf penghubung disekitar faring menuju ke ganglia sub paringeal
tali syaraf ventral (sepanjang dasar selom ke arah somit anal).
Beberapa syaraf menuju ke prostomium & daerah mulut
Tali syaraf ventral dlm tiap somit mempunyai ganglion membesar dan

memberikan 3 pasang syaraf lateral


Tiap syaraf lateral membentang setengah somit terdiri dari serabut sensoris dan
motoris

d. Sistem Ekskresi

Anelida

dan

moluska

mempunyai

organ

nefridium

yang

disebut

metanefridium. Pada cacing tanah yang merupakan anggota anelida, setiap


segmen dalam tubuhnya mengandung sepasang metanefridium, kecuali pada tiga
segmen pertama dan terakhir.
Bagian akhir dari saluran yang berliku-liku ini akan membesar seperti
gelembung. Kemudian gelembung ini akan bermuara ke bagian luar tubuh
melalui pori yang merupakan lubang (corong) yang kedua, disebut nefridiofor.
Cairan tubuh ditarik ke corong nefrostom masuk ke nefridium oleh gerakan silia
dan otot. Saat cairan tubuh mengalir lewat celah panjang nefridium, bahan-bahan
yang berguna seperti air, molekul makanan, dan ion akan diambil oleh sel-sel
tertentu dari tabung. Bahan-bahan ini lalu menembus sekitar kapiler dan
disirkulasikan lagi. Sampah nitrogen dan sedikit air tersisa di nefridium dan
kadang diekskresikan keluar. Metanefridium berlaku seperti penyaring yang
menggerakkan sampah dan mengembalikan substansi yang berguna ke sistem
sirkulasi. Cairan dalam rongga tubuh cacing tanah mengandung substansi dan zat
sisa. Zat sisa ada dua bentuk, yaitu amonia dan zat lain yang kurang toksik, yaitu
ureum. Oleh karena cacing tanah hidup di dalam tanah dalam lingkungan yang
lembab, anelida mendifusikan sisa amonianya di dalam tanah tetapi ureum
diekskresikan lewat sistem ekskresi.
4) Contoh Kelas Olygochaeta
Lumbricus terrestris (cacing tanah yang biasa ditemukan di Eropa dan Amerika)
Pheretima musica (cacing sondari)
Pheretima posturna (cacing tanah yang biasa ditemukan di Asia)
c)

Hirudinea (lintah)

Hirudinea merupakan kelas annelida yang jenisnya sedikit. Anggota kelas hirudinea hidup di
lingkungan akuatik dan terrestrial. Panjang Hirudinea bervariasi dari 130 cm. Sebagian besar
Hirudinea adalah hewan ektoparasit pada permukaan tubuh inangnya. Inangnya adalah vertebrata
dan termasuk manusia. Hirudinea parasit hidup dengan mengisap darah inangnya, sedangkan
Hirudinea bebas hidup dengan memangsa invertebrata kecil seperti siput. Contoh Hirudinea
parasit adalah Haemadipsa (pacet) dan Hirudo (lintah). Saat merobek atau membuat lubang,
lintah mengeluarkan zat anestetik (penghilang sakit), sehingga korbannya tidak akan menyadari
adanya gigitan. Setelah ada lubang, lintah akan mengeluarkan zat anti pembekuan darah yaitu
hirudin. Dengan zat tersebut lintah dapat mengisap darah sebanyak mungkin.

1) Ciri-ciri hirudinea:
Panjang tubuh mencapai 30 cm
Tubuh dilindungi oleh lapisan kutikula
Tubuh relatif pipih
Tubuh terdiri dari 34 segmen
Tidak mempunyai parapodia dan setae
Mempunyai alat penghisap (sucker) di bagian anterior maupun posterior
Bersifat hermafrodit
Habitat: air tawar dan darat
2) Stuktur Tubuh
Hewan ini tidak memiliki parapodium maupun seta pada segmen tubuhnya.
Sekalipun dikenal dengan nama umum lintah pengisap darah, bagian terbesar di
antaranya tidak hidup sebagai ektoparasit. Tubuhnya pipih. Ukuran panjangnya dari
1-2cm atau 5cm, walau ada yang mencapai 12cm, bahkan 30cm (Haemanteria
ghiliani dari daerah Amazon). Metamerisme sudah sangat tereduksi: segmen-segmen
ujung anterior (biasanya kecil) dan posterior (lebih besar) termodifikasi manjadi alat
penghisap yang digunakan untuk menempel dan bergerak. Jumlah segmen tetap,

yaitu 34, walau lapisan cincin sekunder di luarnya (annuli) menyamarkan


segmentasi primer tersebut. Clitteum dibentuk segmen-segmen IX,X atau XI.
3) Fisiologi
a.

b.

Alat Gerak

Sebagian aktif malam, juga siang.

Bergerak dengan cara melekukkan badan, melekat dengan sucker

Berenang dengan cara menggelombangkan badan.

Sistem Respirasi

Menggunakan anyaman kapiler di bawah epidermis.

Insang: Piscicolide

c. Sistem Pencernaan
Sistem pencernaan terdiri dari mulut, faring, tembolok, lambung, rektum,
anus. Anus terletak pada bagian dorsal. Proses pencernaan penghisap anteriormulut-faring-tembolok-usus-usus buntu-anus penghisap posterior. faring otot
yang dilengkapi rahang bergigi /probosis berotot. Di kerongkongan tempat
isapannya terdapat tiga rahang yang berbentuk seperti setengah gergaji yang
dihiasi sampai 100 gigi kecil. Dalam waktu 30 menit lintah bisa menyedot darah
sebanyak 15 ml kuota yang cukup untuk hidupnya selama setengah tahun. Air
ludahnya pun mengandung zat aktif yang sekurang-kurangnya berisi 15 unsur.
Contohnya, zat putih telur hirudin yang bermanfaat untuk mengencerkan darah,
dan mengandung penisilin.
d. Makanan & Pencernaan

Lintah hidup sebagai pemakan bangkai/predator, parasit. Predator makan


larva, keong, serangga, cacing.

75% penghisap darah, melekat/nempel pada permukaan tubuh vertebrata


(ikan-manusia).

Darah dihisap oleh faring otot & menampung dalam tembolok. Enzim
saliva (hirudin) mencegah koagulasi darah. Dalam 1 x makan, lintah
mengisap darah 10x berat tubuhnya.

e. Saraf dan Indera

Ruas 5 & 6 terdapat lingkar saraf ganglia: otak

Alat indera: mata & papilla

Mata: fotoreseptor

Papilla & sensila: tonjolan kecil pada epidermis. Fungsi: alat peraba dan
perasa

4) Habitat dan Ekologi


Hewan berhabitat air tawar, hidup di rawa-rawa, kolam, ataupun sungai.
Hirudinea adalah hewan ektoparasit pada permukaan tubuh inangnya. Inangnya
adalah vertebrata dan termasuk manusia. Hirudinea parasit hidup dengan mengisap
darah inangnya, sedangkan Hirudinea bebas hidup dengan memangsa invertebrata
kecil seperti siput. Contoh Hirudinea parasit adalah Haemadipsa (pacet) dan hirudo
(lintah).
5) Contoh Kelas Hirudinea

Hirudo medicinalis (lintah)

Haemadipsa zeylarica (pacet)

3. Reproduksi Annelida

Annelida umumnya bereproduksi Sistem Reproduksi secara seksual/konjugasi


dengan pembentukan gamet, memiliki klitelum sebagai alat kopulasi. Klitelum adalah
struktur reproduksi yang mengsekresi cairan & membentuk kokon tempat deposit telur.
Reproduksi seksual melalui pembuahan silang secara internal oleh anelida hermafrodit dan
secara eksternal oleh anelida gonokoris. Namun ada juga yang bereproduksi secara

fregmentasi/aseksual,melalui

pembelahan

secara

transversal

yang

kemudian

beregenerasi. Organ seksual Annelida ada yang menjadi satu dengan individu
(hermafrodit) dan ada yang terpisah pada individu lain (gonokoris) melalui larva
trochophore berenang bebas.

Gambar sistem reproduksi annelida

Gambar sistem reproduksi secara aseksual

4. Peranan Filum Annelida


Filum Annelida memiliki peranan penting dalam kehidupan. Peranan tersebut di
antaranya sebagai berikut.

Cacing tanah dapat menggemburkan tanah , membantu aerasi tanah, serta membantu

pembentukan humus.
Cacing dapat dipakai sebagai umpan makanan saat akan memancing ikan.
Cacing sutra dapat digunakan untuk makanan ikan hias, baik dalam keadaan hidup

maupun kering.
Cacing wawo dan cacing palolo dapat digunakan sebagai bahan makanan. Kedua cacing
tersebut mempunyai nilai gizi yang cukup tinggi.

Oleh Kelompok 5:
1.
2.
3.
4.

Beby Prima Amaliyah


Cynthia Agatha de Ruiter
Irvina Nurnaningsih
Hastuti Andriyani
Kelas X RSBI 1
SMA Negeri 1 Kendari