Anda di halaman 1dari 13

Panas Pelarutan Asam Borat dan Asam Oksalat

Fita Candra Sari


Lab. Kimia Fisika Jurusan Kimia Universitas Negeri Semarang
Gedung D8 Lantai 2 Sekarann Gunungpati, Semarang, Indonesia
fitacandras@gmail.com
085718968886
50229

Abstrak
Tujuan dari percobaan panas pelarutan asam borat dan asam oksalat adalah untuk
menentukan kurva kelarutan asam borat dalam air, menentukan kelarutan asam
oksalat dalam air pada suhu 27oC dan 37oC, dan menentukan panas pelarutan
asam borat dan asam oksalat. Metode yang digunakan pada percobaan ini adalah
variasi berat dengan cara kerja awal memanaskan larutan asam borat dalam
penangas kemudian didinginkan dan dicatat temperatur pertama kali kristal
terbentuk, sedangkan pada panas pelarutan asam oksalat dilakukan dengan metode
titrasi. Dari percobaan yang telah dilakukan didapatkan hasil rata-rata temperatur
pengkristalan larutan asam borat pada tabung reaksi 1 sebesar 23,5 C, tabung
reaksi 2 sebesar 30,5 C, tabung reaksi 3 sebesar 37 C, dan pada tabung reaksi 4
sebesar 45,5 C dan rata-rata larutan NaOH yang digunakan untuk titrasi larutan
asam oksalat pada labu erlenmeyer pertama (temperatur 27 C) sebanyak 4,55 ml
dan pada labu erlenmeyer kedua (temperatur 37 C) sebanyak 4,90 ml.
Berdasarkan data pengamatan dan percobaan yang telah dilakukan dapat
disimpulkan bahwa panas pelarutan asam borat sebesar 18,4206 kJ/mol dan panas
pelarutan dari asam oksalat sebesar -1.441 J/mol.
Kata kunci : asam borat, asam oksalat, panas pelarutan

Abstract
The purpose of experiment heat dissolving boric acid and oxalic acid is to
determine a curve solubility of boric acid in water, determine the solubility of
oxalic acid in the water in temperature of 27C and 37C , and determining the
heat dissolving boric acid and oxalic acid. Methods used on trial this is a variant
heavy with way labor beginning heating solution boric acid in penangas then
cooled and recorded temperature first crystalline formed , while on heat
dissolving oxalic acid done with the methods titration. Of experiment that has
been done obtained the average temperatures efflorescence solution boric acid in
a tube reaction 1 is 23,5 C, tube reaction 2 of 30,5 C, tube reaction 3 was 37C,
and in a tube reaction 4 of 45,5C and the average solution NaOH used for
titration solution oxalic acid in squash erlenmeyer the temperature 27 C as 4,55

ml and on squash erlenmeyer second temperature 37 C as 4,90 ml. Based on the


data observation and experiment that has been done can be concluded that heat
dissolving boric acid of 18,4206 kj / mole and heat dissolving of oxalic acid of
-1.441 j / mole.
Keywords: boric acid , oxalic acid , heat dissolving

Pendahuluan
Jika sebuah sistem bebas untuk mengubah volumenya terhadap tekanan
luar yang tetap, perubahan energi dalamnya tidak lagi sama dengan energi yang
diberikan kepada kalor. Energi yang diberikan sebagai kalor diubah menjadi kerja
untuk memberikan tekanan balik terhadap lingkungannya, sehingga dU<dq. Kita
akan menunjukkan bahwa pada tekanan tetap, kalor yang diberikan sama dengan
perubahan dalam sifat termodinamika yang lain dari sistem, yaitu entalpi H
(Atkins, 1993 : 44).
Entalpi pelarutan standart merupakan perubahan entalpi standart jika zat
itu melarut di dalam pelarut dengan sejumlah tertentu. Entalpi pembatas pelarutan
adalah perubahan entalpi standart jika zat melarut dalam pelarut dengan jumlah
tak terhingga, sehingga interaksi antara dua ion (atau molekul terlarut untuk zat
bukan elektrolit) dapat diabaikan (Atkins, 1999 : 50).
Untuk menentukan perubahan entalpi yang terjadi pada larutan, maka
konsentrasi larutannya perlu ditetapkan terlebih dahulu. Panas pelarutan suatu zat
adalah perubahan entalpi yang terjadi bila 1 mol zat itu dilarutkan ke dalam suatu
pelarutan untuk mencapai konsentrasi tertentu. Panas pelarutan tersebut
dinamakan panas pelarutan integral atau panas pelarutan total. Panas pelarutan
bukan bergantung pada jenis zat yang dilarutkan, jenis pelarut, suhu, dan tekanan,
tetapi bergantung pada konsentrasi larutan yang hendak dicapai (Alberty, 1992 :
32).
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan pada perubahan entalpi :
1. H, E atau q positif, artinya system memperoleh tenaga.
2. W>0 kerja dilakukan oleh sistem
W<0 kerja dilakukan terhadap system (Sukardjo, 1997 : 34).

Panas pelarutan adalah panas yang menyertai reaksi kimia pada pelarutan
mol zat solute dalam n mol solvent pada tekanan dan temperature yang sama. Hal
ini disebabkan adanya ikatan kimia dari atom-atom. Panas pelarutan dibagi
menjadi dua yaitu panas pelarutan integral dan panas pelarutan diferensial. Panas
pelarutan didefinisikan sebagai perubahan entalpi yang terjadi bila dua zat atau
lebih zat murni dalam keadaan standar dicampur pada tekanan dan temperatur
tetap untuk membuat larutan (Alberty, 1992 : 35).
Bila suatu zat terlarut dilarutkan dalam pelarut, kalor dapat diserap atau
dilepaskan, kalor reaksi bergantung pada konsentrasi larutan akhir. Bila zat
terlarut dilarutkan dalam pelarut yang secara kimia sama dan tidak ada komplikasi
mengenai ionisasi atau solvasi, kalor pelarutan hampir sama dengan peluluhan.
Kalor pelarutan, integral antara 2 kemolalan m1 dan m2 adalah kalor yang
menyertai pengenceran tertentu dengan konsentrasi M, yang mengandung 1 mol
zat terlarut dengan pelarut murni untuk membuat larutan dengan konsentrasi m 2.
(Alberty, 1992: 34).
Pengaruh temperatur tergantung dari panas pelarutan. Bila panas pelarutan
(H) negatif, daya larut turun dengan naiknya temperatur. Bila panas pelarutan
(H) positif, daya larut naik dengan naiknya temperatur. Tekanan tidak begitu
berpengaruh terhadap daya larut zat padat dan cair, tetapi berpengaruh pada daya
larut gas (Sukardjo, 1997 : 142).
Kelarutan zat terlarut diketahui dari konsentrasi dalam larutan jenuhnya
,biasanya dinyatakan dalam banyaknya mol zat terlarut per liter larutan jenuh
(Petrucci dan Suminar,1992).
Kelaruta(s) suatu endapan menurut defenisi adalah sama dengan
konsentrasi molar dari larutan jenuhnya. Jika kesetimbangan diganggu, misalnya
dengan merubah temperatur maka konsentrasi larutan akan berubah. Menurut
Vant Hoff pengaruh temperatur terhadap kelarutan dapat dinyatakan sebagi
berikut:

Proses apa saja yang bersifat endotermis dalam satu arah adalah eksoterm dalam arah
yang lain. Karena proses pembentukan larutan dalam proses pengkristalan berlangsung dengan
laju dalam proses pengkristalan berlangsung dengan laju yang samadengan kesetimbangan
maka perubahan energy netto adalah nol. Tetapi jika suhu dinaikkan maka proses akan
menyerap kalor. Dalam hal ini pembentukan larutan lebih disukai. Segera setelah sushu
dinaikkan tidak berada pada kesetimbangan karena adalagi zat yang melarut. Suatu zat yang
menyerap kalor ketika melarut cenderung lebih mudah larut pada suhu tinggi. (Vogel , 1990)
Menurut Supeno, 2006 pada umumnya panas pelarutan adalah positif sehingga
menurut Vant Hoff semakin tinggi temperatur akan semakin banyak zat yang
melarut (panas pelautan positif = endotermis). Sedangkan untuk zat-zat yang
memiliki panas pelarutan negatif, maka makin tinggi suhu akan semakin
berkurang zat yang dapat larut. Alkalimeteri adalah pengukuran konsentrasi basa
dengan menggunakan larutan baku asam, bisa asam kuat atau asam lemah.Titrasi
adalah proses mengukur volume larutan yang terdapat dalam buret yang
ditambahkan ke dalam larutan lain yang diketahui volumenya sampai terjadi
reaksi sempurna. (Vogel , 1990)

Metode
Percobaan panas pelarutan asam borat dan asam oksalat ini dilakukan di
laboratorium kimia fisik jurusan kimia fakultas matematika dan ilmu pengetahuan
alam Universitas Negeri Semarang pada tanggal 11 November 2015. Variabel

bebas dalam percobaan ini adalah massa asam borat 0.5014, 0.7013, 0.9023 dan
1,1003 gram dan temperatur pelarutan asam oksalat 27oC dan 37oC. Variabel
terikatnya adalah temperatur pelarutan asam borat dan volume NaOH saat
pengukuran kelarutan asam oksalat. Variabel kontrolnya adalah volume air
sebagai pelarut asam borat dan volume larutan jenuh asam oksalat.
Alat yang digunakan adalah satu set alat buret (a) untuk digunakan untuk
titrasi pada standarisasi NaOH dan titrasi pengukuran kelarutan asam oksalat
secara langsung. Baskom (b) satu buah digunakan untuk diisi air es pada panas
pelarutan asam borat ketika larutan panas didinginkan untuk dicapainya suhu yang
diinginkan. Corong (c) satu buah digunakan menuangkan larutan ke dalam buret.
Erelmeyer (d) 100 mL empat buah, dua buah untuk panas pelarutan asam oksalat
dan dua buah untuk standarisasi. Gelas arloji (e) dua buah, digunakan untuk
tempat NaOH, asam borat, dan asam oksalat saat ditimbang. Pipet tetes (f) dua
buah digunakan untuk aquades ketika diambil sedikit demi sedikit. Labu takar 50
mL, labu takar 25 mL, dan labu takar 10 mL (g), 50 mL digunakan untuk
dibuatnya NaOH dan 25 mL dan 10 mL untuk asam oksalat. Neraca analitik (h),
digunakan sebagai alat timbang padatan NaOH, asam oksalat, dan asam borat.
Spiritus (i), satu buah digunakan untuk tempat larutan dipanaskan. Pengaduk kaca
(j) satu buah, larutan diaduk dengan pengaduk kaca supaya terlarut. Pipet ukur 10
mL (k) digunakan untuk larutan yang akan diambil 10 mL secara tepat. Spatula (l)
satu buah, untuk mengambil padatan. Termometer (m) digunakan untuk larutan
yang akan dihitung suhunya. Tabung reaksi (n) empat buah, digunakan sebagai
tempat melarutkan asam borat. Penjepit (o) satu buah, untuk menjepit tabung
reaksi saat dipanaskan. Sedangkan bahan yang digunakan antara lain asam borat
(a) diambil dan ditimbang secara terpisah sebanyak 0,5000; 0,7000; 0,9000; dan
1,1000 gram digunakan untuk percobaan panas pelarutan asam borat. Asam
oksalat dihidrat (b) Merck kemurnian 99,5 % 0,3151 gram padatan digunakan
untuk standarisasi NaOH dan pelarutan asam oksalat. NaOH (c) 1,00 gram yang
akan dilarutkan menjadi 50 mL. Aquades (d) digunakan saat percobaan sebagai
pelarut. Indikator pp (e), digunakan sebagai indikator pada titrasi.
Metode sebelum praktikum, dilakukan standarisasi NaOH secara duplo
terlebih dulu. Ditimbang 1,00 gram NaOH lalu dimasukkan kedalam labu takar 50

mL ditambahkan aquades sampai tanda batas, digojok sampai larut. Asam oksalat
1,5758 gram dimasukkan dalam labu takar 25 mL ditambahkan aquadest sampai
tanda batas, digojok sampai larut. NaOH dimasukkan ke dalam buret sampai
tanda batas. Diambil 10 mL asam oksalat, dimasukkan ke dalam erlenmeyer lalu
ditambahkan indikator pp 2 tetes. Kemudian larutan asam oksalat dititrasi dengan
NaOH secara duplo. Metode percobaan panas pelarutan asam borat dilakukan
dengan cara asam borat ditimbang dengan variasi massa asam borat 0.5000,
0,70000, 0.9000 dan 1.1000 gram lalu dimasukan ke dalam masing-masing tabung
reaksi, ditambahkan aquades 7,5 mL, ditimbang, lalu dipanaskan dan dicatat suhu
ketika asam borat larut, biarkan dingin secara perlahan dengan dilakukan
penggojokan yang konstan. Jika pada temperatur kamar belum terbentuk kristal,
bisa menggunakan penangas air es dalam baskom. Suhu pada saat pertama kali
terbentuk kristal perlu dicatat. Ditimbang lagi untuk mengestimasi bobot
kehilangan air. Percobaan dilakukan secara duplo.
Sedangkan metode percobaan panas pelarutan asam oksalat dengan cara asam
oksalat ditimbang sebesar 1,8 gram, ditambahkan aquades sebanyak 10 mL,
dipanaskan sampai suhu larutan 40oC, dan diturunkan suhunya sampai 27oC dan
37oC untuk masing-masing erlenmeyer. Sebanyak 5 mL larutan tadi diambil dan
dituang ke dalam erlenmeyer yang sudah diketahui beratnya lalu ditambahkan
aquades sebanyak 25 ml dan digojok. Kemudian timbang erlenmeyer yang telah
berisi larutan. Selanjutnya larutan tersebut dititrasi dengan cara, asam oksalat
diambil sebanyak 10 mL ke dalam erlenmeyer, ditambahkan 2 tetes indicator pp,
dan dititrasi dengan NaOH secara duplo.

Hasil dan Pembahasan


Percobaan ini bertujuan untuk menentukan panas pelarutan asam borat dan
asam oksalat. Pada penentuan panas pelarutan asam borat digunakan metode
pemanasan asam boratdan pengukuran suhu saat terbentuk kristal pertama kali.
Sedangkan pada penentuan panas pelarutan asam oksalat digunakan metode titrasi
menggunakan larutan NaOH dengan dua variasi suhu. Untuk penentuan panas
pelarutan asam borat diperoleh data hasil pengukuran suhu rata-rata pada saat
terbentuk kristal pertama kali setelah dipanaskan. Hal ini dapat dilihat pada tabel 1

yang menyatakan bahwa semakin banyak massa asam borat yang terlarut dalam
air, maka semakin besar pula temperatur saat pertama kali terjadi pengkristalan.
Dari proses pemanasan asam borat yang dilakukan dihasilkan bobot kehilangan
air pada masing-masing tabung reaksi seperti pada tabel 2.
Tabel 1. Hasil pengukuran suhu larutan asam borat saat terbentuk kristal
No.
1.

Asam
borak/gr
0,5

7,5

2.

0,7

7,5

3.

0,9

7,5

4.

1,1

T oC

Aquades/gr

7,5

23 oC
o

24 C
29 oC
32 oC
36 oC
38 oC
46 oC
o

45 C

Trata-rataoC

Trata (K)

23,5 oC

296,5 oK

30,5 oC

303,5 oK

37 oC

310 oK

45,5 oC

318,5 oK

Tabel 2. Bobot kehilangan air


Asam

Air

Berat tabung reaksi

Berat tabung

Bobot

borat

(gram)

sebelum pemanasan

reaksi setelah

kehilanga

(gram)

pemanasan

n air

26,0135
26,5634
26,9065
27,2163

(gram)
25,8584
25,2535
26,4407
26,6204

(gram)
0,1551
0,3099
0,4658
0,5959

(gram)
0,5
0,7
0,9
1,1

7,5
7,5
7,5
7,5

Berdasarkan pada tabel 1 dan 2 dapat dilakukan analisis data dan


didapatkan molalitas asam borat dan kelarutannya. Molalitas yang didapatkan
melalui perhitungan dengan massa asam borat 0,5 gram, 0,7 gram, 0,9 gram, dan
1,1 gram berturut-turut adalah 1,1001 m, 1,5745 m, 2,0614 m, dan 2,3889 dengan
kelarutan 1,0782 M, 1,5095 M, 1,9408 M dan 2,3720 M seperti yang ditunjukkan
pada tabel 3. Dari tabel 3 tersebut kemudian dapat dibuat grafik seperti pada

gambar 1. Untuk hubungan konsentrasi molal (m) dengan 1/T (K-1) dapat dilihat
pada tabel 4.
Tabel 3. Hubungan Konsentrasi Molal dengan Kelarutan
N

Massa Asam

Aquades

Konsentrasi

T terbentuk Kristal

Kelarutan

o
1.

Borat
0,5000 gram

(gram)
7,50

Molal (m)
1,1001

Rata-rata (K)
296,5

(M)
1,0782

2.

0,7000 gram

7,50

1,5745

303,5

1,5095

3.

0,9000 gram

7,50

2,0614

310

1,9408

4.

1,1000 gram

7,50

2,3889

318,5

2,3720

Grafik Hubungan Konsentrasi Molal (m) dengan Kelarutan (M)


3
2.5 (m)
Konsentrasi Molal
Kelarutan (M)
f(x)
=
0.43x
+ 0.65
2
R = 1
1.5
Kelarutan (M)
1

Linear (Kelarutan (M))

0.5
0
1

Kelarutan Molal (m)

Gambar 1. Grafik Hubungan Konsentrasi Molal (m) dengan Kelarutan (M)

Tabel 4. Hubungan Konsentrasi molal (m) dengan 1/T (K-1)

No

Massa Asam

Aquades

Konsentrasi

T terbentuk

1/T

Borat

(gram)

Molal (m)

Kristal

(K-1)

Rata-rata
1.

0,5000 gram

7,50

1,1001

(K)
296,5

2.

0,7000 gram

7,50

1,5745

303,5

3,2948.10-3

3.

0,9000 gram

7,50

2,0614

310

3,2258.10-3

4.

1,1000 gram

7,50

2,3889

318,5

3,1397.10-3

3,3726.10-3

Untuk menentukan kurva kelarutan asam borat terhadap konsentrasi molal


dan 1/T dapat dibuat dengan melihat data pada tabel 3 sehingga didapatkan kurva
sebagai berikut.

Grafik Hubungan konsentrasi (m)


dengan 1/T (K-1 )
3
2.5
2
Konsentrasi (m)

f(x) = - 9726.33x + 33.2


R = 0.59

1.5
1
0.5
0
0

1/T (K-1)

Gambar 2. Kurva kelarutan asam borat terhadap Konsentrasi Molal vs 1/T


Dari gambar 1 diatas menunjukkan grafik Hubungan Konsentrasi Molal
(m) dengan Kelarutan (M), dapat diketahui bahwa nilai y = 0,4313x + 0,647.
Sedangkan gambar 2 menunjukkan kurva kelarutan asam borat terhadap
konsentrasi molal terhadap 1/T yang mempunyai nilai y = - 9726,3x + 33,198.
Dari kurva tersebut dapat dilihat bahwa kelarutan asam borat dipengaruhi oleh
suhu. Semakin tinggi suhu, maka semakin tinggi pula kelarutan asam boratnya.

Dari data pengamatan yang telah didapatkan juga dilakukan analisis data lagi
untuk mencari nilai panas peralutan asam borat dan didapatkan hasil yaitu sebesar
80,8658 kj/mol. Jadi, besarnya kalor yang dibutuhkan untuk melarutkan asam
borat adalah sebesar 80,8658 kj/mol.
Pada penentuan kelarutan asam oksalat dilakukan dengan menitrasi larutan
asam oksalat dengan NaOH yang dilakukan dengan dua variasi suhu yaitu pada
suhu 27oC dan 37oC, didapatkan hasil pengamatan seperti pada tabel 5 yang
menunjukkan volume NaOH yang dibutuhan untuk menitrasi asam oksalat pada
suhu 27oC lebih banyak daripada suhu 37oC.
Tabel 5. Standarisasi Larutan NaOH dengan Larutan Asam Oksalat
No

Volume NaOH (ml)

1.

Volume Asam Oksalat


(ml)
10,00

2.

10,00

4,50

Rata- rata

4,65

4,80

Dari data yang diperoleh pada tabel 5 dapat dihitung kelarutan asam oksalat (M)
untuk masing-masing suhu seperti ditunjukkan pada tabel 6 berikut.
Tabel 6. Data Hasil Percobaan Volume NaOH dengan Asam Oksalat
Perlakuan pada

Suhu (T)/ oC

A
B

27 C
37oC

V1
4,50
5,10

Volume NaOH (ml)


V2
4,60
4,90

Tabel 6 menunjukan bahwa kelarutan asam oksalat juga dipengaruhi oleh


perubahan suhu, namun berbeda seperti asam borat dimana semakin besar suhu
maka semakin besar kelarutan. Dari hasil percobaan didapatkan kelarutan asam
oksalat pada suhu 37oC lebih rendah daripada kelarutan asam oksalat pada suhu
27oC. Dari data kelarutan tersebut dapat dilakukan analisis data untuk menentukan
panas pelarutan asam oksalat. Dari hasil percobaan tersebut didapatkan panas

Vrata-rata
4,55
5,00

pelarutan asam oksalat yaitu 0,7833 J.mol-1. Hal ini menandakan bahwa reaksi
berlangsung secara eksoterm atau melepaskan panas.
Pada umumnya kalor atau panas pelarutan adalah positif atau pelarutan
suatu zat bersifat endotermik, dengan demikian menurut vant hoff makin tinggi
suhu maka banyak zat yang makin larut. Sementara untuk zat yang kalor
pelarutannya negatif akan berlaku sebaliknya, seperti pelarutan asam oksalat pada
percobaan, yang berarti bahwa semakin tinggi suhu maka kelarutannya semakin
rendah.
Kesimpulan
Dari percobaan panas pelarutan asam borat dan asam oksalat dapat
disimpulkan bahwa kelarutan asam borat dan asam oksalat dalam air dipengaruhi
oleh perubahan suhu. Pada asam borat, semakin tinggi suhu maka semakin besar
kelarutan. Namun pada asam oksalat, semakin tinggi suhu maka semakin kecil
kelarutannya. Panas pelarutan asam borat sebesar 80,8658 kj/mol yang
menandakan reaksi berlangsung secara endoterm. Panas pelarutan asam oksalat
sebesar 0,7833 J.mol-1, yang menandakan bahwa reaksi berlangsung secara
eksoterm atau melepaskan panas.
Daftar Pustaka
Alberty, Robert.A. 1991. Kimia Fisik. Jakarta : Erlangga.
Atkins, Pw. 1999. Kimia Fisika Jilid 1 edisi ke-4. Jakarta: Erlangga.
HAM, Mulyono. 2005. Kamus Kimia. Jakarta: Bumi Aksara.
Petrucci, Ralph H. 1992. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern. Jakarta:
Erlangga.
Sukardjo. 1997. Kimia Fisika. Rineka Cipta: Jakarta.
Vogel.1990. Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro. Jakarta:PT
Kalman Media Pustaka.

Pertanyaan:
1. Buat kurva kelarutan terhadap konsentrasi molal!

2.
3.
4.
5.

Buat kurva konsentrasi molal terhadap 1/T!


Berdasarkan gradient kurva linear, tetntukan panas pelarutannya.
Tentukan kelarutan asam oksalat dan perubahan entalpi pelarutnya.
Kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan hasil percobaan.

Jawaban :
1.

Grafik Hubungan Konsentrasi Molal (m) dengan Kelarutan (M)


3
Konsentrasi Molal (m)
2 f(x) = 0.43x + 0.65
R = 1
Kelarutan (M)
1
Linear (Kelarutan
(M))
0
1
2

Kelarutan (M)

Kelarutan Molal (m)

2.

Grafik Hubungan konsentrasi (m)


dengan 1/T (K-1 )
3
2

f(x) = - 9726.33x + 33.2


R = 0.59

Konsentrasi (m) 1
0
0

1/T (K-1)

3. (Lampiran Perhitungan)
4. (Lampiran Perhitungan)
5. Kesimpulan:

a. Kelarutan asam borat dan asam oksalat dalam air dipengaruhi oleh
perubahan suhu. Pada asam borat, semakin tinggi suhu maka semakin besar
kelarutan. Namun pada asam oksalat, semakin tinggi suhu maka semakin
kecil kelarutannya.
b. Panas pelarutan asam borat sebesar 80,8658 kj/mol yang menandakan reaksi
berlangsung secara endoterm.
c. Panas pelarutan asam oksalat sebesar 0,7833 J.mol-1, yang menandakan
bahwa reaksi berlangsung secara eksoterm atau melepaskan panas.