Anda di halaman 1dari 8

Laporan Praktikum

Peralatan Industri Pertanian

Hari/Tanggal : Kamis, 03-03-2016


Gol : P1
Dosen : Dr. Ir. Ade Iskandar, M.Si
Asisten :
1. Nurlia Damayanti (F34120046)
2 Rachman Prabowo (F34120070).
3. Fitriani ( F34120099)

HEAT EXCHANGER
Disusun Oleh :
Bagus Refaldi
F34140004
Amira Gusvi Setyabudi
F34140018
Muhammad Iqbal Ardiansyah F34140022

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2016

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Unit penukar kalor adalah suatu alat untuk memindahkan panas dari suatu
fluida ke fluida yang lain. Sebagian besar dari industri-industri yang berkaitan
dengan pemprosesan selalu menggunakan alat ini, sehingga alat penukar kalor ini
mempunyai peran yang penting dalam suatu proses produksi atau operasi. Salah
satu tipe dari alat penukar kalor yang banyak dipakai adalah Shell and Tube Heat
Exchanger. Alat ini terdiri dari sebuah shell silindris di bagian luar dan sejumlah
tube (tube bundle) di bagian dalam, dimana temperatur fluida di dalam tube
bundle berbeda dengan di luar tube (di dalam shell) sehingga terjadi perpindahan
panas antara aliran fluida didalam tube dan di luar tube. Adapun daerah yang
berhubungan dengan bagian dalam tube disebut dengan tube side dan yang di luar
dari tube disebut shell side. Pemilihan yang tepat suatu alat penukar kalor akan
menghemat biaya operasional harian dan perawatan. Bila alat penukar kalor dalam
keadaan baru, maka permukaan logam dari pipa-pipa pemanas masih dalam
keadaan bersih setelah alat beroperasi beberapa lama maka terbentuklah lapisan
kotoran atau kerak pada permukaan pipa tersebut.
Tebal tipisnya lapisan kotoran tergantung dari fluidanya. Adanya lapisan
tersebut akan mengurangi koefisien perpindahan panasnya. Harga koefisien
perpindahan panas untuk suatu alat penukar kalor selalu mengalami perubahan
selama pemakaian. Batas terakhir alat dapat berfungsi sesuai dengan perencanaan
adalah saat harga koefisien perpindahan panas mencapai harga minimum. Alat
penukar panas atau Heat Exchanger (HE) adalah alat yang digunakan untuk
memindahkan panas dari sistem ke sistem lain tanpa perpindahan massa dan bisa
berfungsi sebagai pemanas maupun sebagai pendingin. Biasanya, medium
pemanas dipakai adalah air yang dipanaskan sebagai fluida panas dan air biasa
sebagai air pendingin (cooling water). Penukar panas dirancang sebisa mungkin
agar perpindahan panas antar fluida dapat berlangsung secara efisien. Pertukaran
panas terjadi karena adanya kontak, baik antara fluida terdapat dinding yang
memisahkannya maupun keduanya bercampur langsung (direct contact). Penukar
panas sangat luas dipakai dalam industri seperti kilang minyak, pabrik kimia
maupun petrokimia, industri gas alam, refrigerasi, pembangkit listrik. Salah satu
contoh sederhana dari alat penukar panas adalah radiator mobil di mana cairan
pendingin memindahkan panas mesin ke udara sekitar.
Tujuan
Praktikum ini bertujuan mengetahui bagian-bagian serta prinsip kerja dari
alat-alat Heat Exchanger.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil Pengamatan
[Terlampir]
Pembahasan
Heat Exchanger adalah suatu alat bantu permesinan yang berfungsi untuk
menukarkan panas. Panas dapat mengalir dari temperatur tinggi ke temperatur
yang lebih rendah. Prinsip dari heat exchanger yaitu perpindahan panas (kalor)
antara dua jenis fluida yang mengalir dan memiliki beda temperature. Pertukaran
kalor terjadi melalui bidang-bidang perpindahan panasnya yang umumnya berupa
dinding-dinding pipa atau sirip-sirip (fin) yang dipasang pada pipa (Poernomo
2013). Plate heat exchanger adalah suatu alat perpindahan panas yang berbentuk
frame yang diberi plat sebagai sekat-sekat. Prinsip kerjanya adalah aliran dua atau
lebih fluida kerja diatur oleh adanya gasket-gasket yang didesain sedemikian rupa
sehingga masing-masing fluida dapat mengalir di plat-plat yang berbeda. Cara
kerja dari plate heat exchanger yaitu produk akan dimasukkan ke dalam suatu
larutan dan mengalir pada sebuah pelat.
Proses pemanasan ini terjadi dengan adanya medium pemanas
yang mengalir pada saluran dan pelat yang lainnya. Pelat yang telah tersusun ini
akan secara bergantian mengalirkan produk dan medium pemanas. Pelat yang
dialiri produk tidak akan dialiri oleh komponen lain. Arah aliran produk dan
medium pemanas di dalam pelat berbeda dan mengalir secara berlawanan. Arah
aliran yang berlawanan ini dimaksudkan agar proses pemanasan dapat lebih
cepat berlangsung. Produk yang mengalir pada suatu pelat akan terhimpit oleh
medium pemanas dengan arah aliran yang berbeda, sehingga produk akan cepat
memanas karena tertekan oleh pelat yang mengalirkan medium pemanas. Produk
yang telah menjadi panas dan medium yang telah mengalir pada suatu pelat akan
mengalir keluar (Egeten et al 2014).
Tubular Heat Exchanger merupakan heat exchanger dimana dalam desain
konstruksinya terdapat komponen tube sebagai wadah aliran dari salah satu fluida.
Prinsip kerjanya adalah menukar kalor yang akan dibuang dari fluida panas tanpa
adanya kontak langsung dengan fluida dingin yang akan menerima panas tersebut.
Cara kerjanya adalah dua fluida mengalir dengan temperature awal yang berbeda
dan mengalir sepanjang heat exchanger. Satu aliran mengalir sepanjang tabung,
sedangkan arus lain pada bagian luar tabung tetap masih di dalam shell. Panas
ditransfer dari satu fluida ke fluida lainnya melalui dinding tabung, baik dari sisi
tabung menuju shell atau sebaliknya . Fluida dapat berupa cairan atau gas pada
sisi shell maupun pada sisi tabung . Dalam tujuan memindahkan panas secara
efisien, satu area perpindahan kalor yang besar harus digunakan sehingga
terdapat banyak tabung. Dengan cara ini, panas yang dibuang dapat disimpan
untuk digunakan. Hal ini adalah suatu jalan yang baik untuk memelihara energy
(Mainil et al 2012).
Menurut Kakac dan Liu (2002), Plate Heat Exchanger memiliki tiga jenis
menurut aliran fluidanya. Jenis pertama yaitu parallel (Parallelflow Exchanger).

Pola ini mengalirkan produk pada arah yang sama dan berakhir pada lubang
keluaran yang sama. Produk cair masuk pada suatu lubang yang sama. Produk
akan disebar pada beberapa aliran tertentu dan dipanaskan melalui bagian luar
plat. Pola ini memiliki efektifitas aliran yang paling kecil, tetapi efektifitas
thermalnya tinggi. Cocok untuk produk yang butuh pemanasan yang cukup lama.
Karena produk dialirkan dalam laju yang cukup rendah.
Tipe yang kedua yaitu seri. Tipe ini mengalirkan produk pada satu aliran
saja, tidak terbagi seperti pola parallel. Sehingga laju aliran pada pola seri lebih
besar dan cepat. Tetapi efektifitas perpindahan thermalnya kecil. Karena pada
kondisi volume air yang besar dan laju yang cepat, perpindahan panas yang terjadi
sangatlah kecil (Koester 2002). Pola yang terakhir adalah seri-parallel. Pola ini
mengombinasikan pola parallel dan seri, sehingga lebih efektif. Pola ini tidak
memkan banyak ruang, serta tersusun atas dua atau lebih fluida yang mengalir
dengan arah aliran yang tegak lurus. Arah arus bisa diatur menggunakan sebuh
tuas. Arus akan berubah menjadi pola seri jika diubah ke pola seri. Semua aliran
akan berubah menjadi pola seri. Sedangkan jika tuas dipindahkan ke pola parallel,
salah satu aliran tetap menjadi pola seri, sedangkan aliran lainnya berbubah ke
pola parallel.
Tubular Heat Exchanger memanaskan produk dengan prinsip pemanasan
produk yang dialirkan ke suatu tabung (Kakac dan Liu 2002). Tabung yang berada
diluar tabung pertama berisi uap panas yang akan memanaskan produk hingga
suhu yang ditentukan. Tubular Heat Exchanger menggunakan uap panas sebagai
media penghantar panas. Panas kana dialirkan melalui dinding tabung pertama
yang berada didalamnya. Perpindahan panas pada Heat Exchanger dapat terjadi
dengan tiga prinsip dasar perpindahan panas, yaitu konduksi, konveksi, dan
radiasi. Menurut Handoyo (2000), konduksi adalah perpindahan panas melalui
medium diam. Contoh penggunaannya pada Heat Exchanger adalah pada Tubular
Heat Exchanger. Perpindahan panas dari gas panas ke produk melalui dinding
tabung produk. Konveksi adalah perpindahan panas di suatu permukaan dengan
fluida yang bergerak karena adanya perbedaan temperatur. Contoh
penggunaannya pada Heat Exchanger adalah pada Plate Heat Exchanger yang
memindahkan panas dari perantara plat panas ke produk. Gas panas akan
memanaskan plat dan memindahkan panasnya ke produk. Radiasi adalah
perpindahan panas dari suatu benda ke benda lainnya menggunakan gelombang
elektromagnetik dan tanpa media perantara. Contohnya adalah perpindahan panas
dari gas ke plat pada Plate Heat Exchanger (Poernomo 2013). Panas dari gas
panas ditransfer melalui gelombang elektromagnetik ke plat pada alat.
Menurut Koestoer A, dan Raldi (2002) pada dasarnya prinsip kerja dari
Heat Exchanger yaitu memindahkan panas dari dua fluida pada temperatur
berbeda di mana transfer panas dapat dilakukan secara langsung ataupun tidak
langsung. Heat Exchanger tipe kontak tak langsung merupakan Heat Exchanger
yang melibatkan fluida-fluida yang saling bertukar panas dengan adanya lapisan
dinding yang memisahkan fluida-fluida tersebut. Sehingga pada Heat Exchanger
jenis ini tidak akan terjadi kontak secara langsung antara fluida-fluida yang
terlibat. Heat exchanger jenis ini masih dibagi menjadi beberapa jenis lagi, yaitu
a. Heat Exchanger Tipe Direct-Transfer
Pada Heat Exchanger tipe ini, fluida-fluida kerja mengalir secara
terus-menerus dan saling bertukar panas dari fluida panas ke fluida yang

lebih dingin dengan melewati dinding pemisah. Yang membedakan Heat


Exchanger tipe ini dengan tipe kontak tak langsung lainnya adalah aliran
fluida-fluida kerja yang terus-menerus mengalir tanpa terhenti sama sekali.
Heat Exchanger tipe ini sering disebut juga dengan heat exchanger
recuperator.
b. Storage Type Exchanger
Heat Exchanger tipe ini memindahkan panas dari fluida panas ke
fluida dingin secara intermittent (bertahap) melalui dinding pemisah.
Sehingga pada jenis ini, aliran fluida tidak secara terus-menerus terjadi,
ada proses penyimpanan sesaat sehingga energi panas lebih lama
tersimpan di dinding-dinding pemisah antara fluida-fluida tersebut. Tipe
ini biasa pula disebut dengan Regenerative Heat Exchanger.
c. Fluidized-Bed Heat Exchanger
Heat Exchanger tipe ini menggunakan sebuah komponen solid
yang berfungsi sebagai penyimpan panas yang berasal dari fluida panas
yang melewatinya. Fluida panas yang melewati bagian ini akan sedikit
terhalang alirannya sehingga kecepatan aliran fluida panas ini akan
menurun, dan panas yang terkandung di dalamnya dapat lebih efisien
diserap oleh padatan tersebut. Selanjutnya fluida dingin mengalir melalui
saluran pipa-pipa yang dialirkan melewati padatan penyimpan panas
tersebut, dan secara bertahap panas yang terkandung di dalamnya
ditransfer ke fluida dingin.
Heat Exchanger tipe kontak langsung merupakan suatu alat yang di
dalamnya terjadi perpindahan panas antara satu atau lebih fluida dengan diikuti
dengan terjadinya pencampuran sejumlah massa dari fluida-fluida tersebut disebut
dengan heat exchanger tipe kontak langsung. Perpindahan panas yang diikuti
percampuran fluida-fluida tersebut, biasanya diikuti dengan terjadinya perubahan
fase dari salah satu atau labih fluida kerja tersebut. Terjadinya perubahan fase
tersebut menunjukkan terjadinya perpindahan energi panas yang cukup besar.
Perubahan fase tersebut juga meningkatkan kecepatan perpindahan panas yang
terjadi. Macam-macam dari heat exchanger tipe ini antara lain adalah:
a. Immiscible Fluid Exchangers
Heat Exchanger tipe ini melibatkan dua fluida dari jenis berbeda
untuk dicampurkan sehingga terjadi perpindahan panas yang diinginkan.
Proses yang terjadi kadang tidak akan mempengaruhi fase dari fluida,
namun bisa juga diikuti dengan proses kondensasi maupun evaporasi.
Salah satu penggunaan heat exchanger ini adalah pada sebuah alat
pembangkit listrik tenaga surya berikut.
b. Gas-Liquid Exchanger
Pada tipe ini, ada dua fluida kerja dengan fase yang berbeda yakni
cair dan gas. Namun umumnya kedua fluida kerja tersebut adalah air dan
udara. Salah satu aplikasi yang paling umum dari heat exchanger tipe ini
adalah pada cooling tower tipe basah. Cooling tower biasa dipergunakan
pada pembangkit-pembangkit listrik tenaga uap yang terletak jauh dari
sumber air. Udara bekerja sebagai media pendingin, sedangkan air bekerja
sebagai media yang didinginkan. Air disemprotkan ke dalam cooling
tower sehingga terjadi percampuran antara keduanya diikuti dengan
perpindahan panas. Sebagian air akan terkondensasi lagi sehingga

terkumpul pada sisi bawah cooling tower, sedangkan sebagian yang lain
akan menguap dan ikut terbawa udara ke atmosfer.
c. Liquid-Vapour Exchanger
Perpindahan panas yang terjadi antara dua fluida berbeda fase
yakni uap air dengan air, yang juga diikuti dengan pencampuran sejumlah
massa antara keduanya, termasuk ke dalam Heat Exchanger tipe kontak
langsung. Heat Exchanger tipe ini dapat berfungsi untuk menurunkan
temperatur uap air dengan jalan menyemprotkan sejumlah air ke dalam
aliran uap air tersebut (pada boiler proses ini biasa disebut
dengan desuperheater spray), atau juga berfungsi untuk meningkatkan
temperatur air dengan mencampurkan uap air ke sebuah aliran air (proses
ini terjadi pada bagian deaerator pada siklus pembangkit listrik tenaga
uap).
Menurut Holman J P (1995) aplikasi Heat Exchanger pada dunia industri
antara lain :
a. Heat Exchanger Tipe Plate (Plat)
Heat Exchanger tipe ini menggunakan plat tipis sebagai komponen
utamanya. Plat yang digunakan dapat berbentuk polos ataupun
bergelombang sesuai dengan desain yang dikembangkan. Heat Exchanger
jenis ini tidak cocok untuk digunakan pada tekanan fluida kerja yang
tinggi, dan juga pada diferensial temperatur fluida yang tinggi pula. Heat
Exchanger tipe plat dengan gasket. Heat Exchanger tipe ini termasuk tipe
yang banyak dipergunakan pada dunia industri, bisa digunakan sebagai
pendingin air, pendingin oli, dan sebagainya. Prinsip kerjanya adalah
aliran dua atau lebih fluida kerja diatur oleh adanya gasket-gasket yang
didesain sedemikian rupa sehingga masing-masing fluida dapat mengalir
di plat-plat yang berbeda. Gasket berfungsi utama sebagai pembagi aliran
fluida agar dapat mengalir ke plat-plat secara selang-seling.
b. Lamella Heat Exchanger
Lamella Heat Exchanger tersusun atas sebuah shell berbentuk
silindris dengan elemen berdesain khusus berada di dalamnya. Elemen
dengan desain khusus ini disebut dengan Lamella. Di antara elemen
lamella dengan sisi shell dibatasi dengan sistem sealing berupa gasket.
Lamella Heat Exchanger memiliki berat total yang lebih ringan daripada
Heat Exchanger tipe shell & tube dengan beban kerja yang sama. Tipe ini
juga dapat bekerja pada temperatur yang tinggi apabila gasket yang
digunakan tepat, yakni hingga 500 jika menggunakan gasket
berbahan non-asbestos. Penggunaan Heat Exchanger tipe ini biasanya ada
pada industri kertas, industri kimia, serta industri lain yang sejenisnya.
c. Printed-Circuit Heat Exchanger
Heat Exchanger ini berdesain khusus. Proses pembuatannya
menggunakan berbagai jenis plat dari material stainless steel, titanium,
tembaga, aluminium, atau yang lainnya, dengan jalan mirip proses kimia
pada pembuatan sirkuit PCB rangkaian elektronika. Heat Exchanger tipe
ini cocok digunakan pada pemrosesan kimia, pemrosesan bahan bakar,
mesin pendingin, industri separasi udara, komponen pendingin kompresor,
dan lain sebagainya.

d. Panelcoil Heat Exchanger


Heat Exchanger tipe ini menggunakan semacam pipa yang
dipasangkan ke sebidang plat dengan proses pengelasan, stamping, atau
proses roll-bond sehingga didapatkan sebuah desain Heat Exchanger yang
diberi istilah panelcoil. Material yang digunakan untuk panelcoil
umumnya adalah baja karbon, staenless steel, titanium, nikel, dan monel.
Penggunaan Heat Exchanger tipe ini ada pada industri farmasi, industri
fiber, industri kimia, industri makanan, dan juga pada penyerap panas
tenaga matahari.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Heat Exchanger (HE) merupakan alat yang digunakan untuk
memindahkan panas dari sistem ke sistem lain tanpa perpindahan massa dan bisa
berfungsi sebagai pemanas maupun sebagai pendingin. Biasanya, medium
pemanas dipakai adalah air yang dipanaskan sebagai fluida panas dan air biasa
sebagai air pendingin (cooling water). Penukar panas dirancang sebisa mungkin
agar perpindahan panas antar fluida dapat berlangsung secara efisien. Pertukaran
panas terjadi karena adanya kontak, baik antara fluida terdapat dinding yang
memisahkannya maupun keduanya bercampur langsung (direct contact). Prinsip
kerjanya adalah aliran dua atau lebih fluida kerja diatur oleh adanya gasket-gasket
yang didesain sedemikian rupa sehingga masing-masing fluida dapat mengalir di
plat-plat yang berbeda. Cara kerja dari plate Heat Exchanger yaitu produk akan
dimasukkan ke dalam suatu larutan dan mengalir pada sebuah pelat. Heat
Exchanger memiliki komponen-komponen peralatan yang berbeda tergantung dari
jenisnya. Setiap komponen memiliki peranan masing-masing yang semuanya
saling bergantungan yang apabila salah satu tidak berfungsi maka akan
mengganggu kinerja dari peralatan tersebut.
Saran
Praktikum berjalan dengan lancar, diharapkan praktikum ini dapat
menggunakan peralatan yang dapat dijalankan sehingga dapat membuat praktikan
dapat lebih tertarik akan penggunaan mesin tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Egeten HSF, Sappu FP, Maluegha B. 2014. Efektivitas penukar kalor tipe plate
p41 73tk di pltp lahendong unit 2. Jurnal Poros Teknik Mesin. 3(1): 66-76.
Holman J P. 1995. Perpindahan Kalor. Jakarta (ID) : Penerbit Erlangga.
Handoyo EA. 2000. Pengaruh tebal isolasi termal terhadap efektivitas plate heat
exchanger. Jurnal Teknik Mesin. 2 (2): 73-38
Koestoer A, dan Raldi. 2002. Perpindahan Kalor. Jakarta (ID) : Salemba Teknika.
Kakac S, Liu H. 2002. Heat Exchangers: Selection, Rating, and Thermal Design.
Florida (US): CRC Press
Koester RA. 2002. Perpindahan Kalor. Jakarta (ID): Salemba Teknika
Mainil AF, Putra RS, Witanto Y. 2012. Penyusunan program komputasi
perancangan heat exchanger tipe shell & tube dengan fluida panas oli dan
fluida pendingin air. Bengkulu (ID) : Seminar Nasional Mesin dan Industri.
Poernomo H. 2013. Pembuatan alat monitoring mesin penukar panas (heat
exchanger) untuk menganalisis unjuk kerja dan karakteristiknya. Kapal. 10
(3): 164-174