Anda di halaman 1dari 5

Sejalan dengan perkembangan teknologi dan pemikiran manusia dari waktu ke

waktu, cara pemungutan hasil ( panen ) pertanian pun ikut mengalami


perkembangan sesuai dengan kebutuhan. Tuntutan kebutuhan manusia akan
pangan mendesak pemikir untuk memecahkan masalah bagaimana
meningkatkan produksi, dan produksi kerja sesuai dengan waktu yang tersedia.
Dalam meningkatkan produksi , salah satu aspek yang harus ditekan serendah
mungkin adalah masalah kehilangan produksi diwaktu panen. Sedangkan dalam
meningkatkan kemampuan kerja adalah bagaimana menekan waktu yang
dibutuhkan dalam memanen dalam satuan luas tertentu. Ini bertujuan agar
dalam waktu yang cepat dapat memungut hasil yang optimum dengan
kehilangan hasil yang serendah mungkin dan efisiensi kerja serendah mungkin.
Alat dan mesin panen terdiri dari banyak macam dan jenisnya yang digolongkan
menurut jenis tanaman dan tenaga penggerak, juga menurut cara traditional
maupun semi mekanis sampai modern. Menurut jenis tanaman, alat dan mesin
panen digolongkan untuk hasil tanaman yang berupa biji-bijian, tebu, rumputrumputan, kapas dan umbi-umbian. Sedangkan untuk hasil tanaman yang
berupa biji-bijian dibagi jenisnya untuk padi, jagung, kacang-kacangan.
Kegiatan pemanenan bisa dilakukan menggunakan alat traditional ataupun
mesin pemanen. Penggunaan mesin pemanen ditujukan agar lebih memudahkan
petani untuk memunggut hasil panen serta mengurangi kehilangan hasil panen.
Prinsip kerja mesin pemanen mirip dengan cara kerja orang panen menggunakan
sabit. Mesin ini sewaktu bergerak maju akan menerjang dan memotong tegakkan
tanaman dan menjatuhkannya atau merobohkan tanaman tersebut, bahkan ada
yang langsung otomatis mengikat tanaman menjadi seperti berbentuk sapu lidi
berukuran besar.

Alat dan mesin yang digunakan dalam pra penen dan pasca panen sangat
membantu di dalam proses pertanian mulai dari pengolahan tanah sampai pada
produksi pertanian. Dengan bertambahnya alat dan mesin yang canggih dapat
meningkatkan produksi pertanian untuk kebutuhan konsumen yang semakin
meningkat. Hal ini di pengaruhi oleh bertambahnya jumlah penduduk di dunia,
sehingga peningkatan produksi terutama tanaman pangan mendorong para ahli
untuk membuat alat yang modern,agar dapat mencukupi kebutuhan hidup
manusia (Siahan,2001).
Reaper merupakan mesin pemanen untuk memotong padi sangat cepat. Prinsip
kerjanya mirip dengan cara kerja orang panen menggunakan sabit. Mesin ini
sewaktu bergerak maju akan menerjang dan memotong tegakan tanaman dan
menjatuhkan atau me-robohkan tanaman tersebut kearah samping mesin reaper
dan ada pula yang mengikat tanaman yang terpotong menjadi seperti berbentuk
sapu lidi ukuran besar. Pada saat ini terdapat 3 jenis tipe mesin reaper yaitu
reaper 3 row, reaper 4 row dan reaper 5 row.

Proses penggunaan alsintan pra panen seperti Trassher, ITGM dan Combine
membutuhkan proses yang panjang dan kompleks, bagaimana seluk beluknya
penggunaannya sangat diperlukan oleh para petani agar alsintan tersebut dapat
beroperasi secara maksimal dan efektif. Tidak hanya ditentukan oleh masalah
teknis tetapi juga melibatkan masalah social dan ekonomi yang menyangkut
berbagai sector dan displin ilmu. Namun pada intinya penggunaan alsintan ini
bertujuan untuk mempermudah kerja para petani dalam memperoleh hasil dari
lahannya agar para petani tersebut tidak mengalami kerugian khususnya
rendahnya mutu dan tingginya tingkat kehilangan hasil.

ITGM adalah alsintan yang digunakan pada masa Pasca panen cara kerja sama juga dengan
Tresher, mempunyai satu silinder, sistim tranmisinya menggunakan pulli dan sabuk,
menggunakan bahan bakar bensin, alsintan ini pertama kali digunakan di Negara Jepang dan
dipatenkan disana pada tahun 1997. Combine juga merupakan salah satu alat dan mesin yang
digunakan dalam pengerjaan pasca panen. Tujuan akhir dari setiap operasi pemanenan dan
perontokan adalah memperoleh gabah yang bebas dari kotoran dan sisa tanaman

Reaper merupakan mesin pemanen untuk memotong padi sangat cepat.


Prinsip kerjanya mirip dengan cara kerja orang panen menggunakan sabit. Mesin ini
sewaktu bergerak maju akan menerjang dan memotong tegakan tanaman dan
menjatuhkan atau me-robohkan tanaman tersebut kearah samping mesin reaper dan
ada pula yang mengikat tanaman yang terpotong menjadi seperti berbentuk sapu
lidi ukuran besar.
Pada saat ini terdapat 3 jenis tipe mesin reaper yaitu reaper 3 row, reaper 4
row dan reaper 5 row. Bagian komponen mesin reaper adalah sebagai berikut
:Kerangka utama terdiri dari pegangan kemudi yang terbuat dari pipa baja dengan
diameter 32 mm, dilengkapi dengan tuas kopling, tuas pengatur ke-cepatan, tuas
kopling pisau pemotong yang merupakan kawat baja, unit transmisi tenaga
merupakan rangkaian gigi transmisi yang terbuat dari baja keras dengan jumlah gigi
dan diameter ber-macam-macam sesuai dengan tenaga dan kecepatan putar yang
diinginkan, unit pisau pemotong terletak dalam rangka pisau pemotong yang terbuat
dari pipa besi, besi strip, besi lembaran yang ukurannya bermacam-macam, pisau
pemotong merupakan rangkaian mata pisau berbentuk segitiga yang panjangnya
120 cm, unit roda dapat diganti-ganti antara roda karet dan roda besi/keranjang,
motor penggerak bensin 3 HP 2200 RPM dan penggunaan reaper di-anjurkan pada
daerah
yang
kekurangan
tenaga
kerja
dan
dioperasikan
di
lahan pertaniandengan kondisi baik ( Rahmiana A.A dkk, 2003).

Menurut Rahmiana A.A dkk, 2003 adapun cara pengoperasian mesin reaper
adalah sebagai berikut:
1.

Sebelum mengoperasikan mesin reaper, terlebih dahulu potong/panen padi dengan


sabit pada ke 4 sudut petakan sawah dengan ukuran 2 m x 2 m sebagai tempat

berputarnya mesin reaper.


2. Sebelum mesin dihidupkan, arahkan mesin pada tanaman padi yang akan dipanen.
Pemanenan dimulai dari sisi sebelah kanan petakan.
3. Pemotongan dilakukan se-kaligus untuk 2 atau 4 baris tanaman dan akan terlempar
satu tertumpuk di sebelah kanan mesin tersebut.
4. Pemanenan dilakukan dengan cara berkeliling dan selesai di tengah petakan.
Diantara berbagai jenis reaper manual, tipe tarik adalah yang paling ringan
dan praktis. Bila dilengkapi dengan rangka pengumpul, alat ini dapat digunakan
untuk mengumpulkan padi dalam dua tarikan pemotongan. Jika padi ditanam pada
baris yang teratur, kinerja alat ini adalah 1,5 hingga 2 kali sabit. Karena cara
pemakaiannya sambil berdiri, maka kelelahan kerja menjadi lebih ringan
dibandingkan dengan menggunakan sabit. Mata pisau dapat dipergunakan untuk
memanen sekitar 0,1 ha tanpa harus diasah.
Ada juga jenis windrower yang dipasangkan di depan traktor tangan, dan
dipgerakkan oleh enjin traktor tangan tersebut. Pisau pemotongnya dapat berupa
tipe rotari atau gunting.

COMBINE HARVESTER, Head-feed type combine harvester Mesin panen


combine jenis ini dikembangkan di Jepang. Mesin ini hanya mengumpankan bagian
malainya saja dari padi yang dipotong ke bagian perontok mesin. Gabah hasil
perontokan dapat ditampung pada karung atau tangki penampung gabah
sementara. Bagian pemotong dari mesin ini adalah hampir sama dengan bagian
pemotong dari binder, bagian pengikatnya digantikan dengan bagain perontokan.
Jerami, setelah perontokan, bisa dicacah kecil-kecil sepanjang 5 cm dan ditebar di
atas lahan, atau tidak dicacah, tetapi diikat dan dilemparkan ke satu sisi, untuk
kemudian dikumpulkan untuk kemudian dapat dimanfaatkan untuk hal lain.
Combine jenis ini tersedia dalam tipe dorong maupun tipe kemudi. Lebar
pemotongan bervariasi dari 60 cm hingga 1,5 meter. Enjin yang digunakan bervarias
dari 7 hingga 30 hp. Karena jauh lebih berat dari pada binder bagian penggerak
majunya dibuat dalam bentuk trak karet (full track rubber belt)..
Kecepatan maju berkisar antara 0,5 hingga 1 m/detik. Dengan
memperhitungkan waktu belok dan waktu pemotongan dengan manual di bagian
pojok lahan, biasanya waktu yang dibutuhkan untuk pemanenan berkisar 30 hingga
70 menit per 10 are, jika lebar pemotongan 1m.
Standard type combine harvester, Mesin panen padi jenis ini adalah mesin yang
dikembangkan di Amerika dan Eropa, yang dipergunakan juga untuk memanen

gandum. Padi yang dipotong termasuk jeraminya, semuanya dimasukkan ke bagian


perontokan. Gabah hasil perontokan ditampung dalam tangki, dan jeraminya di
tebarkan secara acak di atas permukaan tanah. Semua jenis combine ini
dioperasikan dengan cara dikendarai (riding type). Enjin sebagai sumber tenaga
gerak adalah sekitar 25 hp per 1 meter lebar pemotongan. Bagian penggerak
majunya adalah menggunakan roda, atau half-track type atau full-track type.
Kegiatan perontokan padi dilakukan setelah kegiatan panen menggunakan sabit atau
alat mesin panen (reaper). Kegiatan perontokan ini dapat dilakukan secara
tradisional (manual) atau menggunakan mesin perontok. Secara tradisional kegiatan
perontokan akan menghasilkan susut tercecer yang relatif besar, mutu gabah yang
kurang baik, dan membutuhkan tenaga yang cukup melelahkan. oleh karena itu,
dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, telah diciptakannya suatu mesin
yang digunakan untuk merontokkan hasil panen, seperti padi,jagung dsb. Mesin
perontok dirancang untuk mampu memperbesar kapasitas kerja, meningkatkan
effisiensi kerja, mengurangi kehilangan hasil dan memperoleh mutu hasil gabah
yang baik. Bermacam macam jenis dan merk mesin perontok padi dapat dijumpai
di indonesia, mulai dari yang mempunyai kapasitas kecil, sedang, hingga kapasitas
besar. Berbagai macam jenis mesin perontok padi (Thresher), yaitu :
1. Pedal Thresher (Thresher Semi Mekanis)
2. Power Thresher (Thesher Mekanis)
1. Pedal Thresher (Thresher Semi Mekanis)
Thresher jenis pedal ini mempunyai konstruksi sederhana, dapat dibuat sendiri
oleh petani dan cukup dioperasikan oleh satu orang serta mudah dijinjing ketengah
lapangan/ sawah. Pada umumnya hanya dipakai untuk merontok padi.Dengan
menggunakan pedal tresher maka didapat beberapa keuntu gan, yaitu selain
menunjukkan hasil lebih baik juga menunjukkan efisiensi waktu dan tenaga lebih
tinggi serta kehilangan bulir yang lebih rendah.

Prinsip Kerja Pedal Thresher, Prinsip dasar alat perontok ini adalah merontokkan
bulir dari malai atau tangkai tanaman dengan menarik-nariknya dengan
menggunakan suatu silinder putar yang dilengkapi gigi-gigi. Silinder diputar dengan
menggunakan rantai yang dihubungkan dengan engkol (untuk perontok manual)
atau poros mesin yang berputar. Gabah yang telah dirontokkan langsung ditampung
dalam karung. Kapasitas perontok manual dapat mencapai 67 kg per jam dengan
kebersihan 80%, sedangkan alat perontok mesin dapat mencapai 300 kg/jam dengan
tingkat kebersihan 95%. Power Thresher (Thresher Mekanis), Mesin Power
Thresher (Mesin Perontok Padi) adalah jenis mesin perontok yang telah terbukti
handal dan sangat cocok dengan berbagai jenis lahan persawahan di Indonesia.

Alat dan Mesin Pertanian (mesin perontok padi) dapat memberi kontribusi yang
cukup berarti dalam rangka meningkatkan keuntungan usahatani padi sawah.
Unsur-unsur yang mendukung peningkatan keuntungan adalah kecepatan proses
perontokan dan pembersihan sehingga menghemat waktu. Lebih penting lagi power
thresher terbukti dapat mengurangi kehilangan gabah saat perontokan dan
mengurangi kerusakan (pecah) butir gabah sehingga petani memperoleh nilai
tambah dalam usaha taninya.
ITGM atau Integrated Thressing Grading Machine adalah mesin pertanian
yang dapat digunakan untuk merontokkan sekaligus mengupas padi menjadi beras
dan memisahkan menirnya. Namun perlu diperhatikan, kadar air pada beras tidak
boleh kurang dari 14 persen. Jika kurang, maka akan mengakibatkan beras menjadi
patah. Alsintan ini dilengkapi dengan system control otomatis electric. Artinya semua
system yang ada pada ITGM digunakan arus listrik dan arus ini saling berhubungan
antara system yang satu dengan yang lainnya (seri) apabila pada salah satu system
terjadi not regular contraction current, maka system ini akan terputus dengan
sendirinya tanpa merusak system lainnya.
ITGM memiliki 4 bagian utama, yaitu :
1. Thresher
2.
3.

Huller
Selector

4.

Converyor

Hardjosentono, M. 1996. Mesin-mesin Pertanian. Bumi Aksara : Jakarta.


Haryono. 1982. Mekanisme Pertanian. Genap Jaya Baru. Jakarta.
Soedsono. 1996. Alat Pengolahan Pertanian. Redijaya : Semarang.
Wijarto. 1994. Alat dan Mesin Pertanian. Bumi Aksara. Jakarta.