Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI

ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI


Senin, 9 November 2015
KELOMPOK IV
Senin, Pukul 10.00 13.00 WIB

Nama

NPM

Muhammad Naufal Mutashim


Puty Prianti Novira
Mohamad Irfan Fitriansyah
Derif Azis Abdullah
Rain Kihara Boangmanalu

260110150016
260110150017
260110150018
260110150019
260110150021

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2015

Nilai

TTD

ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI


I.

Tujuan
Mengetahui titik akhir titrasi suatu larutan dengan menggunakan
Asidimetri dan Alkalimetri.

II.

Prinsip
2.1. Analisis Kuantitatif
Analisis kuantitatif adalah analisis untuk menentukan jumlah (kadar) absolut
atau relatif dari suatu elemen atau spesies yang ada dalam suatu sampel
(Gandjar,2007).
2.2. Asidimetri
Asidimetri merupakan penetapan kadar secara kuantitatif terhadap senyawa
senyawa

yang

bersifat

basa

dengan

menggunakan

baku

asam

(Gandjar,2007).
2.3. Alkalimetri
Alkalimetri merupakan penetapan kadar secara kuantitatif terhadap senyawa
senyawa

yang

bersifat

asam

dengan

menggunakan

baku

basa

(Gandjar,2007).
2.4. Pembakuan
Pembakuan atau standarisasi adalah salah satu proses yang digunakan untuk
menentukan secara teliti konsentrasi suatu larutan ( Underwood, 1998).
2.5. Reaksi Penetralan
Reaksi penetralan adalah reaksi antara aam dan basa yang menghasilkan
garam dan air (Sridianti,2015).

III. Reaksi
C2H2O4 2H2O + 2NaOH Na2C2O4 + 2H2O (Svehla,1985).
H3BO3 + NaOH NaH2O3 + H2O (Svehla,1985).
BO33- + 3H2O H3BO3 + 3OH- (Svehla,1985).
B4O72- + 7H2O

4H3BO3 + 2OH- (Svehla,1985).

BO2- + 2H2O H3BO3 + OH- (Svehla,1985).


3NaOH + H3BO3 Na3BO3 + 3H2O (Svehla,1985).
IV. Teori dasar
Analisis kimia yang diketahui terhadap sampel yaitu analisis kualitatif dan
analisis kuantitatif. Analisis kuantitatif yang paling sering diterapkan yaitu
analisis titrimetri. Analisis titrimetri dilakukan dengan menitrasi suatu sampel
tertentu

dengan

larutan

standar,

yaitu

larutan

yang

sudah

diketahui

konsentrasinya. Perhitungan didasarkan pada volume titran yang diperlukan


hingga tercapai titik ekuivalen titrasi. Analisis titrimetri yang didasarkan pada
terjadinya reaksi asam dan basa antara sampel dengan larutan standar disebut
analisis asidi alkalimetri. Apabila larutan yang bersifat asam maka analisis yang
dilakukan adalah analisis asidimetri. Sebaliknya jika digunakan suatu basa sebagai
larutan standar, analisis tersebut disebut sebagai analisis alkalimetri. (Keenan,
1991)
Standarisasi dapat dilakukan dengan titrasi. Titrasi merupakan proses
penentuan konsentrasi suatu larutan dengan mereaksikan larutan yang sudah
ditentukan konsentrasinya ( larutan standar) (Syukri, 1999)
Proses penentuan konsentrasi suatu larutan dipastikan dengan tepat dikenal
sebagai standarisasi. Suatu larutan standar dapat disiapkan dengan menggunakan
suatu sampel zat terlarut yang diinginkan, yang ditimbang dengan tepat dalam
volume larutan yang diukur dengan tepat. Zat yang memadai dalam hal ini disebut
standar primer. (Underwood, 1998)

Asidi alkalimetri ini melibatkan titrasi basa bebas atau basa yang terbentuk
karena hidrolisis garam yang berasal dari asam lemah, dengan suatu standar
(asidimetri) dan teori asam bebas yang terbentuk dari hidrolisis garam yang
berasal dari basa lemah, dengan suatu basa standar (alkalimetri). Reaksi reaksi
ini melibatkan bersenyawaannya ion hidrogen dan ion hidroksida untuk
membentuk air. (Basset, 1994)
Tidak semua reaksi dapat digunakan sebagai reaksi titrasi. Untuk itu reaksi
harus memenuhi syarat-syarat berikut :
1. Berlangsung sempurna, tunggal dan menurut persamaan yang jelas (dasar
teoritis).
2. Cepat dan reversibel. Bila tidak cepat, titrasi akan memakan waktu terlalu
banyak.
3. Ada penunjuk akhir titrasi (indikator).
4. Larutan baku yang direaksikan dengan analay harus mudah didapat dan
sederhana menggunakannya, juga harus stabil sehingga konsentrasinya tidak
mudah berubah saat disimpan (Hardjadi, 1990).
Larutan baku/ larutan standar adalah larutan yang konsentrasinya sudah
diketahui. Larutan baku biasanya berfungsi sebagai titran sehingga ditempatkan
buret, yang sekaligus berfungsi sebagai alat ukur volume larutan baku. Larutan
yang akan ditentukan konsentrasinya atau kadarnya, diukur volumenya dengan
menggunakan pipet volumetri dan ditempatkan di erlenmeyer (Farx, 2011).
Rentang pH indikator, indikator tidak berubah warna dengan sangat
mencolok pada satu pH tertentu (diberikan oleh harga pKind-nya). Malahan,
mengubah sedikit rentang pH. Terjadi perubahan kecil yang berangsur-angsur dari
satu warna menjadi warna yang lain, menempati rentang pH. Secara kasar "aturan
ibu jari", perubahan yang tampak menempati sekitar 1 unit pH pada tiap sisi harga
pKind+ (Clark, 2007).

Dalam titrasi asam basa, basa akan bereaksi dengan asam lemah dan
membentuk suatu larutan yang mengandung asam lemah dan basa kojugatnya
sampai semua asam ternetralkan semuanya (Lapaugi,2014).
Untuk keperluan titrasi asam basa diperlukan indikator alami yang memiliki
perubahan warna yang tajam ketika dalam suasana asam ke basa atau sebaliknya.
Beberapa indikator alami adalah daun kubis ungu, sehingga diharapkan mampu
menentukan titik akhir titrasi (Padmaningrum,2012).
Untuk memperoleh ketepatan hasil titrasi maka titik akhir titrasi dipilih
sedekat mungkin dengan titik ekivalen, hal ini dapat dilakukan dengan memilih
indiator yang tepat dan sesuai dengan titrasi yang akan dilakukan. Keadaan
dimana titrasi dihentikan dengan cara melihat perubahan warna indiator disebut
sebagai titik akhir titrasi (Dyah, 2012).
Titrasi dilakukan dengan cara volume zat penitrasi (titran) yang digunakan
untuk bereaksi dengan zat yang dititrasi (titrat). Jika konsentrasi salah satu
diketahui, maka konsentrasi/kadar zat lain dapat dihitung. Dalam titrasi dikenal
titik ekivalen dan titik akhir titrasi. Titik akhir titrasi adalah titik pada saat titrasi
diakhiri/dihentikan. Dalam titrasi biasanya diambil sejumlah alikuot tertentu yaitu
bagian dari keseluruhan larutan yang dititrasi kemudian dilakukan proses
pengenceran. Pengenceran adalah proses penambahan pelarut yg tidak diikuti
terjadinya reaksi kimia sehingga berlaku hukum kekekalan mol (Harjadi, 1990).
Dalam suatu titrasi larutan yang harus dinetralkan misalnya, asam yang
dimasukkan kedalam wadah atau tabung. Larutan lain, yaitu basa, dimasukkan
kedalam buret kemudian kedalam asam mula-mula cepat kemudian tetes demi
tetes sampai titik setara dari titrasi tersebut dicapai. Salah satu usaha untuk
mencapai titik setara adalah dengan melalui perubahan warna dari indicator asam
basa. Titik pada titrasi dimana indicator berubah warna dinamakan dengan titik
akhir indicator. Yang diperlukan adalah memadankan titik akhir indicator dengan
titik akhir penetralan. Ini dapat dicapai apabila kita dapat menemukan indicator
yang sesuai dengan perubahan warnanya terjadi dalam selang pH yang sesuai
dengan titik setara (Petrucci, 1987).

Indikator asam basa adalah zat yang berubah warnanya atau membentuk
flouresen atau kekeruhan pada suatu range atau trayek pH tertentu. Indikator asam
basa terletak pada titik ekivalen dan ukuran dari pH. Zat-zat indicator dapat
berupa asam ataupun basa-larut, stabil dan menunjukkan perubahan warna yang
kuat serta biasanya juga adalah zat-zat organic. Perubahan warna disebabkan oleh
resonansi isomer electron. Berbagai indicator mempunyai tetapan ionisasi yang
berbeda dan akibatnya mereka menunjukkan warna pada range atau trayek pH
yang berbeda (Khopkar, 1990).
Bila suatu asam dan suatu basa yang masing-masing dalam kuantitas
yang ekuivalen secara kimiawi, dicampur akan dihasilkan suatu reaksi penetralan,
yang menghasilkan suatu larutan garam dalam air. Larutan ini akan benar-benar
netral jika asam dan basa itu sama kuat ; kalau tidak, akan diperoleh larutan asam
lemah atau basa lemah. Konsentrasi suatu larutan asam atau basa yang anu
(unknown) dapat ditentukan dengan titrasi dengan larutan yang konsentrasinya
diketahui. Teknik semacam itu disebut analisis volumetri (Kleinfetter, 1987).
Proses titrasi digunakan dalam penentuan analitis banyak, termasuk
melibatkan reaksi asam-basa. Indikator adalah zat yang digunakan untuk sinyal
ketika titrasi tiba di titik dimana reaktan kimia sama, seperti yang didefinisikan
oleh

persamaan

reaksi.

Larutan

standar

adalah

larutan

dengan

konsentrasi tepat ditentukan. Awalnya konsentrasi larutan standar ditentukan dari


jumlah yang ditimbang dari sebuah standar primer, bahkan kimia referensi yang
sangat dimurnikan. Larutan standar dapat dibuat dari salah satu dari dua
cara (Weiner, 2010).

V.

Alat dan bahan


5.1.Alat :
5.1.1. Buret
5.1.2. Corong
5.1.3. Gelas kimia
5.1.4. Gelas ukur

5.1.5. Labu Erlenmeyer


5.1.6. Labu ukur
5.1.7. Penangas air
5.1.8. Pipet tetes
5.1.9. Statif
5.2.Bahan :
5.2.1. Aquades
5.2.2. Gliserin
5.2.3. Indikator fenolftalein
5.2.4. Larutan asam borat
5.3.Gambar alat :
5.3.1. Buret

5.3.2. Corong

5.3.3. Gelas kimia

5.3.4. Gelas ukur

5.3.5. Labu Erlenmeyer

5.3.6. Labu ukur

5.3.7. Penangas air

5.3.8. Pipet tetes

5.3.9. Statif

VI. Prosedur
6.1.Pembakuan larutan
Dipipet 10 ml larutan baku asam oksalat, lalu ditambahkan beberapa tetes
indikator fenolftalein. Kemudian dititrasi dengan NaOH 0,1 N hingga tepat
berwarna merah muda.
6.2. Pengenceran larutan
Larutan asam borat 25 ml diencerkan hingga 100 ml, lalu dipanaskan di atas
penangas air sampai terdapat gelembung gas. Diambil 10 ml asam borat dan

dimasukkan ke dalam tiga labu Erlenmeyer. Diambil 20 ml gliserin dan


dimasukkan ke setiap labu Erlenmeyer. Setiap labu Erlenmeyer dikocok, agar
campurannya merata. Kemudian buret disiapkan dan dititrasi dengan NaOH 0,1N.
VII. Data Pengamatan dan Perhitungan
No.
1.

Perlakuan

Hasil

Larutan asam borat 25 ml Larutan asam borat


diencerkan sampai 100 ml

2.

bertambah volume

Larutan dipanaskan pada Larutan


penangas

air

timbul

gelembung gas

Diambil 10 ml asam borat Larutan asam borat


dan dimasukkan ke 3 labu dalam
Erlenmeyer

4.

mendidih

sampai dan

terdapat gelembung gas

3.

Foto

tigas

labu

erlenmyer

Diambil 20 ml gliserin dan Larutan

menjadi

dimasukkan ke tiap labu tercampur dan harus


Erlenmeyer

dikocok

5.

6.

Tiap

labu

erlenmyer Terjadi pencampuran

dikocok

larutan secara merata

Disiapkan buret

Buret telah dipasang


dengan statifnya

7.

Dilakukan titrasi dengan Larutan pada labu


NaOH 0,1 N

Erlenmeyer berubah
warna

menjadi

merah muda

No.

Percobaan

V NaOH

V Pembakuan

V Pembakuan

titrasi

NaOH

H2C2O3

1.

Asam Borat Ke 1

35,5 ml

9,2 ml

10 ml

2.

Asam Borat Ke 2

35 ml

9,7 ml

10 ml

3.

Asam Borat Ke 3

34 ml

10,7 ml

10 ml

7.1.Pengenceran
N1 x V1 = N2 x V2
0,1 N x 10 ml = N2 x 9,66 ml
N2 = 1/9,666 = 0,103 N
7.2.Menentukan kadar suatu zat
Kadar =

x Vtotal

x 100 = 886,9124 mg/ml

Kadar = 886,9124 mg/ml


7.3.Pembuatan larutan asam oksalat 1 N dalam 10 ml
N=

Gram =

Mr = 126, BE = 126/2 = 63
=

= 0,63 gram

Masa = 0,63 gram


7.4.Pembuatan larutan NaOH 0,1 N dalam 50 ml
Gram =
Gram =

Mr = 40, BE = 40/1 = 40
= 0,2 gram

Masa = 0,2 gram

VIII. Pembahasan
Asidimetri dan alkalimetri merupakan titrasi yang melibatkan titrasi basa
yang terbentuk karena hidrolisis garam yang berasal dari asam lemah dengan
suatu asam standar dengan titrasi asam yang terbentuk dari hidrolisis garam yang
berasal dari basa lemah dengan suatu basa standar. Terbentuknya air yang bersifat
netral merupakan akibat dari reaksi reaksi persenyawaan ion hydrogen dan
hidroksida. Untuk mengetahui saat reaksi sempurna pada analisis titrimetri dan
volumetrik digunkan suatu zat yang disebut sebagai indikator. Indikator umumnya
adalah senyawa berwarna dimana senyawa tersebut akan berubah warnanya
dengan adanya perubahan pH. Adanya perubahan warna dikarenakan indikator
menanggapi adanya kelebihan titran didalam suatu senyawa. Indikator berubah
warna karena sistim kloroformnya diubah oleh reaksi asam basa.

Proses penentuan kadar dilakukan dengan menggunakan proses asidi


alkalimetri dikarenakan dalam bidang farmasi, asidi alkalimetri dapat digunakan
untuk menentukan kadar suatu obat dengan teliti, karena dengan proses asidi dan
alkalimetri penyimpangan titik ekivalen lebih kecil sehingga lebih mudah untuk
mengetahui titik akhir titrasinya yang ditandai dengan suatu perubahan warna.
Selain itu waktu yang digunakan untuk melakukan proses ini sangat efisien.
Pada percobaan kali ini dilakukan dengan tujuan menentukan kadar asam
borat. Hal ini dilakukan karena asam borat yang merupakan zat tambahan yang
digunakan sebagai pengawet dalam sediaan sampel harus diketahui kadarnya.
Suatu pengawet dalam sediaan obat harus sesuai dengan kadar yang telah
ditetapkan, tidak kurang dan tidak lebih atau harus sesuai dengan peraturan yang
tertera pada farmakope. Jika kadarnya berlebih maka akan merugikan dan
membahayakan orang yang mengkonsumsi obat tersebut.
Asam borat merupakan suatu larutan bersifat asam. Karena itu penentuan
kadar dengan cara titrasi dilakukan dengan menggunakan larutan baku basa
NaOH. Sehingga proses penentuan kadar ini dinamakan alkalimetri. Hal pertama
yang dilakukan adalah mencuci sampai bersih peralatan yang akan digunakan. Hal
ini dilakukan agar dalam proses praktikum tidak mengalami kegagalan akibat
adanya senyawa atau zat yang masih menempel di dinding peralatan yang akan
digunakan. Dengan kata lain proses pencucian sampai bersih dilakukan untuk
meminimalisir kegagalan dan hal yang tidak diinginkan lainnya.
Hal selanjutnya yang dilakukan adalah mengencerkan asam borat dalam
labu ukur sebanyak 25 ml menjadi 100 ml. Namun sebelum dilakukan
pengenceran dengan aquades, aquades harus dihilangkan terlebih dahulu CO 2
yang ada di dalamnya dengan cara pemanasan. Hal ini dilakukan karena NaOH
merupakan basa yang kuat dan mudah menyerap CO2, sehingga diperlukan air
bebas CO2 agar larutan baku NaOH yang digunakan saat proses titrasi tidak rusak.
Proses pengenceran berfungsi untuk mengurangi kepekatan dalam larutan
atau memperkecil konsentrasi dan berfungsi untuk menghasilkan volume akhir
yang lebih besar. Proses pengenceran larutan dilakukan dengan menggunakan

labu ukur atau labu takar. Hal ni dilakukan karena penggunaan labu ukur akan
lebih tepat dalam penalaran volume. Prinsip prinsip dalam proses pengenceran
diantaranya pengenceran dilakukan dengan memakai labu ukur, kemudian
dihitung jumlah zat terlarut yang akan diencerkan, lalu dimasukkan kedalam labu
ukur zat terlarut yang akan diencerkan diatas dan ditambahkan aquadest sampai
tanda batas yang terdapat pada labu ukur. Pada prinsip nya semua pengenceran
dilakukan dengan memakai labu ukur karena dilabu ukur sudah terdapat tanda
batas yang mengandung arti sebatas mana aquadest harus ditambahkan. Namun
sebelum dilakukan pengenceran dilakukan perhitungan kadar solute yang akan
diencerkan terlebih dahulu. Pada pengenceran zat padat terlebih dahulu diambil
zat nya kemudian dicampur dan ditambahkan aquadest sampai tanda batas dilabu
ukur.
Kemudian hal yang dilakukan adalah menambahkan 20 ml gliserin pada
larutan yang sudah diencerkan tadi. Fungsi gliserin dalam percobaan ini adalah
sebagai

kosolven

yaitu

zat

yang

berfungsi

untuk

meningkatkan

kelarutan. Kosolven adalah pelarut yang ditambahkan dalam suatu sistem untuk
membantu melarutkan atau meningkatkan stabilitas dari suatu zat. Kosolven dapat
meningkatkan kelarutan dan stabilitas suatu bahan. Kosolven mempunyai dua
sifat yaitu hidrofilik atau suka akan air dan hidrofobik atau tidak suka akan air.
Kedua sifat ini yang membantu dalam peningkatan kelarutan suatu larutan.
Setelah penambahan gliserin , kemudian dilakukan proses pengocokan. Hal ini
dilakukan akan konsentrasi setiap zat merata dalam setiap bagiannya.
Setelah itu dilakukan pengambilan sampel larutan tadi sebanyak 10 ml
kemudian dimasukan ke dalam labu enlenmeyer. Hal ini dilakukan sebanyak 3
kali karena akan dilakukan triplo. Sehingga terdapat 3 labu enlenmeyer berisi 10
ml larutan asam borat dan gliserin. Setelah proses pengocokan selesai kemudian
ditambahkan larutan indikator fenolftalein sebanyak 3 tetes saja dan kemudian
dititrasi dengan menggunakan NaOH.
Namun sebelum di titrasi dengan menggunakan NaOH, NaOH yang
merupakan karutan baku sekunder terlebih dahulu di bakukan dengan cara

dilakukan analisa kuantitatif untuk menstandarisasi larutan baku sekunder dengan


larutan baku primer. Pada percobaan kali ini larutan baku primer yang digunakan
adalah H2C2O4 2H2O (asam oksalat). Berdasarkan hasil percobaan dapat diketahui
bahwa telah terjadi reaksi asam basa antara asam oksalat sebagai asam lemah dan
NaOH sebagai basa kuat. Volume NaOH yang diperlukan untuk titrasi sebanyak
9,87 yang dihitung dari rata-rata 3 kali percobaan. Dan seluruh volume asam
oksalah yang dibutuhkan adalah 10 ml dan pada penentuan konsentrasi NaOH
didapat normalitas NaOH sebesar 0,103 N.

Pada percobaan ini penentuan kadar asam borat dengan metode alkalimetri
menggunakan

indikator

fenolftalein karena

penggunaan

indikator

yang

memungkinkan adanya trayek pH nya jauh dari titik ekuivalen. Indikator


fenolftalein akan berubah warna ketika titik ekivalen terjadi dan pada saat itulah
proses titrasi dihentikan. Titik akhir titrasi yaitu pH pada saat indikator berubah
warna. Saat terjadi titik ekivalen, terjadi perubahan warna menjadi merah muda.
Hal ini menunjukkan bahwa larutan berada pada pH asam atau basa. Indikator
fenolftalein ini mempunyai warna tertentu pada trayek pH atau rentang pH
tertentu yang ditunjukkan dengan perubahan dari warna tersebut. Fenolftalein
tidak bereaksi hanya saja saat keadaan basa ia berwarna merah. Karena Dalam
percobaan ini digunakan indikator fenolftalein karena indikator fenolftalein pada
suasan asam tidak berwarna sedangkan dalam suasana basa atau pada titik
ekivalen berubah warna menjadi merah muda. Perubahan warna suatu indikator
dipengaruhi oleh konsentrasi ion hydrogen (H+) yang ada dalam larutan dan tidak
menunjukkan kesempurnaan reaksi atau ketetapan netralisasi. Indikator PH asam
basa adalah suatu idikator atau

zat yang dapat berubah warna apabila PH

lingkungan berubah.
Mekanisme perubahan warna yang terjadi pada titrasi alkalimetri yang
dilakukan adalah pada larutan sampel yang bersifat asam yang telah ditambahkan
indikator fenolftalein yang kemudian akan dititrasi dengan titran yang bersifat
basa, dimana akan terjadi reaksi antara sampel asam yaitu asam borat dengan

titran basa yaitu NaOH membentuk larutan garam. Hal ini akan terus terjadi
hingga larutan asam tepat telah habis bereaksi dengan NaOH yang disebut telah
mencapai titik ekuivalen. Pada titik ekuivalen ini, belum terjadi perubahan warna
namun ketika mengalami kelebihan larutan NaOH akan terjadi perubahan warna
dari bening menjadi merah muda yang berasal dari reaksi antara kelebihan titran
basa dengan indikator fenolftalein. Perubahan warna ini disebut titik akhir titrasi.
Perubahan warna merah muda pada larutan disebabkan akibat adanya kelebihan
NaOH pada larutan, sehingga larutan tersebut akan bersifat basa.
Pada percobaan titrasi pertama didapatkan volume NaOH sebanyak 35.5
ml untuk menghasilkan perubahan warna menjadi merah muda pada larutan
sampel. Pada percobaan kedua didapatkan volume NaOH sebanyak 35 ml.
Sedangkan pada percobaan ketiga didapatkan volume NaOH sebanyak 34 ml.
Maka rata rata volume NaOH yang didapatkan dari proses titrasi tadi adalah 34,8
ml. Dari hasil perhitungan kadar asam borat diperoleh hasil kadar suatu larutan
asam borat dalam sediaan obat adalah 886,9124 mg per volume.

IX. Kesimpulan
Dapat mengetahui titik akhir suatu larutan dengan metode asidimetri dan
alkalimetri kadar yang didapat yaitu 886,9124 mg/ml.

Daftar Pustaka
Bassett, J. et al. 1994. Buku Ajar Vogel : Kimia Analitik Kuantitatif Anorganik.
Kedokteran. EGC. Jakarta.
Clark, Jim. 2007. Indikator Asam dan Basa tersedia online di http://www.chem-istry.org [ diakses pada 8 November 2015 17.58].
Dyah, P. 2012. Asidi Alkalimetri. Bandung: Universitas Islam Negeri Gunung Jati.
Farx.

2011.

Larutan

Baku

(Larutan

Standar)

tersedia

online

di

http://artikelteknikkimia.com [ diakses pada 8 November 2015 18.32].


Gandjar, I. G. 2007. Analisis Kimia Farmasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Hardjadi, W. 1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta : Gramedia.
Keenan, Charles W. 1980. Ilmu Kimia untuk Universitas. Edisi VI. Erlangga:
Jakarta.
Khopkar, S.M. 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. Universitas Indonesia:
Jakarta.
Kleifelter. 2005. Kimia untuk Universitas. Erlangga. Jakarta.
Lapaugi, V. 2014. Jurnal Penetapan Kadar Natrium Benzoat dalam Saus Sambal
yang Beredar di Kota Gorontalo dengan Metode Titrasi Asam Basa.
Gorontalo: UNG.
Padmaningrum ,R. 2012. Jurnal Pengembangan Prosedur Penentuan Kadar
Asam Cuka secara Titrasi Asam Basa dengan Berbagai Indikator Alami.
Yogyakarta: UNY.
Petrucci, Ralph. 1987. Kimia Dasar. Bogor: Erlangga.
Sridianti. 2015. Reaksi Netralisasi dan Persamaan Reaksi Netralisasi tersedia
online di http://www.sridianti.com/reaksi-penetralan-dan-persamaan-reaksipenetralan.html [diakses pada 11 November 2015 7.29]

Svehla,G. 1985. Analisis Anorganik Kualitatif. Jakarta: PT. Kalman Media


Pusaka.
Syukri. 1999. Kimia Dasar 2. Bandung: ITB.
Underwood. 1998. Kimia Analisis Kuantitatif. Jakarta: Erlangga.
Weiner, Susan A. 2010. Introduction to Chemical Principles 7 th edition 268.
Cengage Learning: USA.