Anda di halaman 1dari 16

44

BAB V
HASIL PENILAIAN DAN PEMBAHASAN
5.1. Indikator dan Tolak Ukur Keluaran Program
Program yang akan kami evaluasi adalah program Pemberantasan Penyakit
Menular (P2M). Alasan kami memilih program P2M adalah karena sejauh ini
penyakit menular masih menjadi masalah kesehatan di negara-negara tropis,
khususnya di Indonesia. Ruang lingkup program P2M di Indonesia terdiri dari
imunisasi, surveilence epidemiologi, TB, malaria, kusta, DBD, penanggulangan
KLBISPA/pneumonia,

filariasis,

AFP

(Acute

Flaccid

Paralysis),

diare,

rabies/gigitan hewan penular rabies (HPR), kesehatan matra (haji dan


penanggulangan bencana), frambusia, leptospirosis, dan HIV AIDS.
Langkah awal untuk dapat menentukan adanya masalah dari pencapaian
hasil keluaran (output) atau dampak (impact) adalah dengan menetapkan indikator
yang akan dipakai untuk mengukur keluaran atau dampak sebagai keberhasilan
dari suatu program kesehatan. Indikator yang digunakan dalam evaluasi program
P2M di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Puskesmas Kecamatan Pontianak
Utara tahun 2015 disusun berdasarkan sumber rujukan yang berasal dari laporan
pelaksana program P2M. Berikut adalah indikator keluaran dan tolak ukur
program tersebut di UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak Utara tahun 2015:
Tabel 5.1. Indikator dan Tolak Ukur Program
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Indikator
% Penemuan pasien baru TB BTA (+)
% Kesembuhan penderita TB BTA (+)
% Penderita HIV/AIDS yang mendapatkan penanganan
% Infeksi Menular Seksual (IMS) yang diobati sesuai standar
% Penderita DBD yang ditangani
% Penemuan penderita diare yang ditangani

5.2. Identifikasi Masalah

Tolak Ukur/
Target (%)
75
>80
100
100
100
100

45

Identifikasi masalah dilakukan dengan mencari adanya kesenjangan antara


pencapaian program P2M di UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak Utara tahun
2015 dengan tolak ukur yang telah ditetapkan.
Tabel 5.2. Tabel Identifikasi Masalah
Tolak Ukur/

Capaian

Masalah

% Penemuan pasien baru TB BTA (+)


% Kesembuhan penderita TB BTA (+)
% Penderita HIV/AIDS yang

Target (%)
75
>80
100

(%)
83,6
75
100

+
-

mendapatkan penanganan
% Infeksi Menular Seksual (IMS) yang

100

528,57

diobati sesuai standar


% Penderita DBD yang ditangani
% Penemuan penderita diare yang

100
100

100
43

No
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Indikator

ditangani

Berdasarkan data diatas, ada dua indikator P2M yang tidak tercapai yaitu: %
kesembuhan penderita TB BTA (+) dan penemuan penderita diare yang ditangani.
5.3. Penentuan Prioritas Masalah
Tidak tercapainya indikator menyebabkan kurang optimalnya keberhasilan
program di UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak Utara tahun 2015. Untuk
mencapai hasil maksimal semua permasalahan seharusnya dicari alternatif
pemecahannya, namun karena beberapa keterbatasan yang ada maka harus dipilih
prioritas masalah yang harus diselesaikan terlebih dahulu.
Penentuan prioritas masalah dilakukan dengan teknik kriteria matriks
sederhana (criteria matrix technique). Pada teknik ini terdapat beberapa variabel,
yaitu:
1. Pentingnya masalah (Importancy) = I, yang diukur berdasarkan:
a. Besarnya masalah (Prevalence) = P
b. Akibat yang ditimbulkan masalah (Severity) = S
c. Kenaikan besarnya masalah (Rate of Increase) = RI
d. Keinginan masyarakat tidak terpenuhi (Degree of Unmeet Need) = DU

46

e. Keuntungan sosial karena selesainya masalah (Social Benefit) = SB


f. Keprihatinan masyarakat (Public Concern) = PB
g. Suasana politik (Political Climate) = PC
2. Kelayakan teknologi (Technical feasibility) = T
Makin layak teknologi yang tersedia dan yang dapat dipakai untuk
mengatasi masalah, makin diprioritaskan masalah tersebut.
3. Ketersediaan sumber daya (Resources availability) = R
Sumber daya terdiri dari tenaga (man), dana (money), dan sarana
(material). Makin tersedia sumber daya yang dapat dipakai untuk
mengatasi masalah makin diprioritaskan masalah tersebut.
Semua variabel diberi nilai antara 1 (tidak penting) sampai dengan 5
(sangat penting). Penetapan prioritas masalah dilakukan dengan cara
mengalikan I, T dan R. Sedangkan nilai I dihitung dengan menambahkan
semua variabelnya. Lebih jelas rumus untuk menghitung prioritas masalah
dapat dilihat di bawah ini:
P (priority) = I x T x R
Tabel 5.3. Penentuan Prioritas Masalah
No
1

Indikator
DU SB

Daftar Masalah

RI

% Kesembuhan

Jumlah

PC

PB

(IxTxR)
405

288

penderita TB
2

BTA (+)
% Penemuan
penderita diare
yang ditangani

Berdasarkan perhitungan di atas, maka dapat ditetapkan prioritas masalah


pada program P2M di UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak Utara adalah
persentase (%) Kesembuhan penderita TB BTA (+).

47

Pada perhitungan yang kami lakukan, alasan memberikan nilai 2 pada


besarnya masalah (Prevalence) = P karena perbedaan selisih antara target dan
pencapaian masih kurang dari 20% yaitu 5%, karena menurut kami meskipun
angka selisih hanya 5% TB paru merupakan penyakit yang sangat menular. Untuk
S (Severity) yaitu akibat yang ditimbulkan masalah, kami memberikan nilai 5
karena penyakit TB paru merupakan penyakit yang tingkat morbiditas maupun
mortalitas tinggi.
Untuk RI (Rate of Increase) yaitu kenaikan besarnya masalah kami
memberikan nilai 4 karena terjadi penurunan capaian dari tahun 2014 ke 2015
sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai program apa yang kurang maksimal
pada tahun 2015, nilai 4 untuk keinginan masyarakat tidak terpenuhi (Degree of
Unmeet Need) = DU karena secara umum semua pasien ingin sembuh dari TB
paru yang mereka alami akan tetapi pada kenyataannya masih ada pasien yang
belum sembuh karena beberapa hal seperti kepatuhan dalam meminum obat,
dukungan keluarga dalam pengobatan, motivasi dari petugas kesehatan, dan lainlain.
Kami memberikan nilai 5 pada keuntungan sosial karena selesainya masalah
(Social Benefit) = SB, karena TB paru merupakan penyakit menular yang masih
memiliki stigma negatif di masyarakat. Selain itu TB paru juga merupakan
penyakit yang sangat menular. Dengan adanya kesembuhan penyakit TB paru
maka pasien tersebut dapat terhindar dari stigma negatif mengenai TB paru yang
selama ini masih melekat di masyarakat sehingga dapat kembali ke masyarakat
dan dapat menjalani kehidupan seperti sedia kala, selain itu adanya kesembuhan
penyakit TB paru dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas TB paru di
masyarakat.
Kami memberikan nilai 2 pada keprihatinan masyarakat (Public Concern) =
PB karena sejauh ini masyarakat masih belum terlalu peduli mengenai TB paru.
Masyarakat cenderung apatis terhadap masalah pencegahan penyakit menular.
Nilai 5 pada Suasana politik (Political Climate) PC = karena pada tahun 2015
WHO menargetkan untuk menekan angka kejadian TB paru sampai 0%. Dengan
dukungan politik dari pemerintah berupa ketersedian OAT serta pendanaan untuk

48

Program TB paru, diharapkan penyakit TB paru dapat ditekan sampai serendah


mungkin.
Kami memberikan nilai 5 untuk kelayakan teknologi (Technical feasibility)
= T karena secara umum alat-alat penunjang untuk pemeriksaan dan diagnosis TB
paru seperti mikroskop dan pewarnaan Ziehl Neelsen sudah tersedia. Nilai 3 untuk
Ketersediaan sumber daya (Resources availability) = R karena secara umum
sumber daya yang ada sudah lengkap seperti analis, perawat dan dokter, hanya
saja mereka masih merangkap tugas lain dan jumlahnya terbatas.
5.4. Identifikasi Faktor Penyebab Masalah
Sesuai

dengan

pendekatan

sistem,

ketidakberhasilan

pencapaian

pemeriksaan dahak pada penderita suspek TB paru merupakan suatu output/hasil


yang tidak sesuai dengan target. Untuk mengatasinya, dengan pendekatan sistem
harus diperhatikan kemungkinan adanya masalah pada komponen lain pada
sistem, mengingat suatu sistem merupakan keadaan yang berkesinambungan dan
saling mempengaruhi.
Terdapat daftar masalah yang mempengarui keberhasilan program
puskesmas mengenai kesembuhan penderita TB paru BTA (+), yaitu:

Tabel 5.4. Identifikasi Faktor Penyebab Masalah


Input
Man

Masalah
1. Pelaksana / SDM (petugas kesehatan, kader) terbatas

49

2. Pelatihan terhadap

pelaksana / SDM (petugas

kesehatan dan Kader) mengenai pengobatan TB paru


hanya setahun sekali
3. Pengetahuan

petugas

mengenai

data

kesehatan

penderita TB paru (status gizi, penyakit komorbid, efek


samping obat, kepatuhan berobat) masih terbatas
4. PMO yang hanya berasal dari keluarga penderita TB
Money

paru
1. Pendanaan kegiatan mengenai promosi kesehatan,
perekrutan kader dan Pengawas Menelan Obat (PMO)

Methode

terbatas
1. Promosi kesehatan oleh petugas kesehatan maupun
kader mengenai pentingnya pengobatan TB paru dan
akibat yang bisa terjadi apabila tidak patuh yang hanya

Material

dilakukan pada saat pertama kali pemberian obat


1. Belum adanya posyandu yang memiliki data mengenai
pasien TB paru di wilayahnya

Machine

jadwal

pengambilan obat masing-masing penderita


1. Kurangnya penyebaran poster, leaflet, dan belum
adanya

P1 (Perencanaan)

beserta

media

audiovisual

mengenai

pentingnya

pengobatan TB paru
1. Jadwal untuk kunjungan rumah pada pasien TB paru
dalam masa pengobatan hanya dilakukan apabila pasien
tidak datang mengambil obat
2. Tidak adanya

jadwal khusus untuk penyuluhan

mengenai pentingnya pengobatan TB paru


Input
P2 (Pelaksanaan

Masalah
1. Kurangnya peran aktif kader yang terlatih dalam

dan Penggerakan)
P3 (Pengawasan,

melakukan penyuluhan
1. Evaluasi kader dan PMO oleh petugas kesehatan

Penilaian, dan
Pengendalian)

puskesmas belum dilaksanakan


2. Terputusnya kontak petugas kesehatan dengan pasien

50

ingkungan

1.

TB paru dan PMO


Aspek personal penderita yang meliputi: Pengetahuan,
sikap dan perilaku (PSP) penderita TB paru mengenai
pengobatan TB paru; kepatuhan pengobatan TB paru;
tingkat pendidikan; sosial ekonomi penderita; status
gizi; penyakit komorbid

Setelah mengetahui masalah-masalah yang ada, langkah berikutnya adalah


mencari akar masalah, dalam hal ini kami menggunakan diagram fishbone:
% Kesembuhan penderita TB
BTA +

P2

P3

P1
Lingkungan

Machine

Methode
Material
Money
Man
Pasien TB BTA +

51

.
Gambar 5.1. Diagram fishbone
5.5. Prioritas Penyebab Masalah
Tabel 5.5. Teknik kriteria matriks pemilihan prioritas penyebab masalah
No

Daftar Masalah

JUM

52

Pelaksana / SDM

P
4

S
4

RI
3

DU SB
2
1

PB
1

PC
1

IxTxR
192

terbatas
Pelatihan terhadap

192

hanya 1 tahun 1x
Kurangnya peran 5

114

aktif kader
Pengetahuan

156

TB paru terbatas
PMO hanya berasal 2

189

penderita TB paru
Pendanaan kegiatan 3

228

terbatas
Promosi kesehatan 4

252

352

228

pelaksana / SDM

pelaksana / SDM
mengenai

data

kesehatan penderita
5

dari

hanya

keluarga

dilakukan

pada saat pertama


8

kali pemberian obat


Belum adanya data 3
penderita TB paru
dan

jadwal

pengambilan
9

obat

di posyandu
Kurangnya

penyebaran poster,
leaflet, dan belum
adanya media audio
visual

mengenai

pengobatan
paru

TB

53

10

Jadawal kunjungan 4
rumah

315

320

448

320

264

apabila

pasien

tidak

mengambil obat
Tidak ada jadwal 2
khusus

hanya

dilakukan

11

mengenai

pentingnya
pengobatan
12

paru
Evaluasi

TB
kader 4

dan PMO belum


13

dilaksanakan
Terputusnya kontak 4
petugas

kesehatan

dengan pasien TB
14

paru dan PMO


Aspek
personal 4
penderita

Setelah dilakukan pemilihan prioritas masalah, didapatkan penyebab


masalah yang ada yakni mengenai belum dilaksanakannya evaluasi terhadap kader
dan PMO.
Pertama, PMO merupakan salah satu faktor penting dalam proses
pengobatan dan kesembuhan pasien TB. Jika terdapat pasien yang didiagnosis TB
petugas puskesmas hanya memberikan edukasi kepada keluarga pasien untuk
menjadi PMO tetapi tidak ditindak lanjuti. Selain itu, layanan kesehatan TB paru
di UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak Utara hanya bersifat kuratif saja,
artinya hanya sekedar mengobati apabila ada pasien TB. Sedangkan untuk layanan
preventif sebagai tindakan pencegahan pasien putus obat, petugas hanya
mengingatkan pasien melalui telepon jika ada pasien yang tidak datang
mengambil obat sesuai jadwal. Jika pasien tetap tidak datang maka langkah

54

terakhir yang dilakukan petugas adalah melakukan kunjungan rumah untuk


membawakan obat dan mengingatkan secara langsung pasien mengenai
pentingnya kepatuhan minum obat sesuai jadwal.
Hal ini menunjukkan bahwa petugas hanya berfokus pada kepatuhan pasien
mengambil obat sesuai jadwal yang telah ditentukan. Padahal faktor terpenting
yang menunjang kesembuhan pasien TB, bukan hanya masalah mengenai
pengambilan obat yang sesuai jadwal, tapi juga mengenai kepatuhan minum obat
setiap harinya. Disinilah PMO memiliki peranan yang sangat penting untuk
memastikan pasien meminum obat tepat waktu setiap harinya.
PMO adalah seseorang yang ditunjuk dan dipercaya untuk mengawasi dan
memantau penderita tuberkulosis dalam meminum obat secara teratur dan tuntas.
PMO bisa berasal dari keluarga, tetangga, kader, tokoh masyarakat, ataupun
petugas kesehatan. Adapun Tugas seorang PMO adalah:
1. Mengawasi pasien TB paru agar menelan obat secara teratur sampai selesai
pengobatan, memberi dorongan kepada pasien agar mau berobat teratur,
mengingatkan pasien untuk periksa ulang dahak pada waktu yang telah
ditentukan.
2. Memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien TB paru yang mempunyai
gejala-gejala mencurigakan TB paru untuk segera memeriksakan diri ke unit
pelayanan kesehatan/UPK.
3. Informasi penting yang perlu dipahami PMO untuk disampaikan pada pasien
dan keluarga. TB paru disebabkan kuman, bukan penyakit keturunan atau
kutukan, TB paru dapat disembuhkan dengan berobat teratur, mengetahui cara
penularan TB paru, gejala-gejala yang mencurigakan dan cara pencegahan serta
cara pemberian pengobatan pasien (Tahap intensif dan lanjutan). Selain itu juga
pentingnya pengawasan pasien berobat teratur dan kemungkinan terjadinya
efeksamping obat serta perlunya segera meminta pertolongan ke UPK.
Akan tetapi PMO hanya bekerja pada anggota keluarga atau pasien yang
mengidap TB paru sehingga untuk pasien-pasien yang mengidap gejala tersebut
tetapi tidak mengetahui mengenai penyakit TB paru itu sendiri dapat tidak
terdeteksi sehingga akan menjadi fenomena gunung es di masyarakat. Hal ini
dikarenakan penularan TB paru melalui droplet nuclei dapat menyebar secara

55

luas apabila masyarakat tidak mengetahui mengenai penyakit TB paru. Sehingga


terdapat masalah lain yaitu mengenai Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku
masyarakat mengenai penyakit TB paru.
Penularan TB paru terjadi karena kuman dibatukkan atau dibersinkan keluar
menjadi droplet nuclei dalam udara sekitar kita. Partikel infeksi ini dapat
menetap dalam udara bebas selama 1-2 jam, tergantung pada ada atau tidaknya
sinar ultraviolet, ventilasi yang buruk dan kelembapan. Dalam suasana lembap
dan gelap kuman dapat tahan berhari-hari hingga berbulan-bulan. Bila partikel
infeksi ini terisap oleh orang sehat, ia akan menempel pada saluran napas atau
jaringa paru. Pengetahuan masyarakat yang kurang akan hal ini akan memperluas
penularan tuberculosis paru yang sangat luas apalagi bila pasien yang mengalami
infeksi TB paru sekunder local yang asimptomatik. Oleh karena itu diperlukan
pengetahuan masyarakat yang cukup agar pelaporan secara mandiri mengenai TB
paru khususnya pada kalangan pendidikan dan ekonomi menengah kebawah
dapat berjalan dengan aktif. Saat ini penyuluhan yang dilakukan pada keluarga
pasien yang diketahui mengidap TB paru dan hal tersebut tidak selalu pasti
dilakukan selain karena petugas kesehatan yang terbatas dan merangkap jabatan,
penggunaan layanan media informasi yang kurang dapat ditangkap masyarakat
juga menjadi alasan rendahnya tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku
masyarakat terhadap penyakit TB paru.
1.7. Perencanaan

Penyelesaian

Masalah

dan

Penentuan

Penyelesaian Masalah
1. Log book
2. Pendaataan kader dan PMO
3. Pertemuan rutin kader dan PMO setiap 1 bulan 1x
4. Pembuatan, sosialisasi, dan pelaksaan tugas pokok dan fungsi kader
5. Perekrutan kader dan PMO dari mantan penderita TB paru
6. Penyediaan leaflet, poster, dan video mengenai pengobatan TB paru

Alternatif

56

7. Pengajuan dana proposal bagi pendanaan kegiatan yang dilakukan oleh para
kader kepada perusahaan-perusahaan di Kelurahan Siantan Hilir.
Prioritas penyebab masalah yang dipilih adalah pengetahuan, sikap, dan
perilaku masyarakat yang masih kurang mengenai PMO TB. Alternatif
pemecahan masalah yang dapat diajukan adalah sebagai berikut:
1. Pembentukan kader PMO dan penyuluhan yang berasal dari mantan
pengidap TB paru
a. Tujuan: Meningkatkan motivasi penderita TB paru mengenai kepatuhan
meminum obat karena motivasi yang diberikan berasal dari orang yang
pernah meminum obat tersebut serta adanya peningkatan penyuluhan di
masyarakat oleh mantan penderita TB paru yang diharapkan dapat
meningkatkan pengetahuan masyarakat.
b. Sasaran: mantan penderita TB paru
c. Bentuk kegiatan: perekrutan kader dan pelatihan oleh pemegang program
TB paru
d. Waktu kegiatan: perekrutan dan pembinaan memerlukan waktu kira-kira
6 bulan
e. Dana dan peralatan: Dana operasional puskesmas, bantuan pemerintah
daerah atau dinas kesehatan
2. Pembuatan video penyuluhan mengenai Penyakit TB Paru
a. Tujuan: membuat penyuluhan dimasyarakat lebih dimengerti dan lebih
efisien dan efektif
b. Sasaran: masyarakat umum, dan tenaga kesehatan
c. Bentuk kegiatan:
1) Perekrutan kader yang memiliki pengetahuan mengenai media social
dan teknologi
2) Pengonsepan dan pembuatan video kreatif mengenai TB paru untuk
diputar disetiap penyuluhan atau bekerja sama dengan media
informasi untuk disebarluaskan
d. Waktu kegiatan: Pembentukan

dan

pembinaan

diperkirakan

membutuhkan waktu 3 bulan


e. Dana dan peralatan: Dana operasional puskesmas, bantuan pemerintah
daerah atau dinas kesehatan, dan dana swadaya masyarakat.

57

Penentuan prioritas penyelesaian masalah dilakukan untuk memilih


alternatif penyelesaian masalah yang paling menjanjikan. Sebelum melakukan
pemilihan sebaiknya dicoba memadukan berbagai alternatif penyelesaian masalah
terlebih dahulu. Bila tidak dapat dilaksanakan barulah dilakukan pemilihan. Cara
pemilihan yang dianjurkan adalah dengan menggunakan teknik kriteria matriks.
Kriteria yang dimaksud adalah:
1.

Efektifitas penyelesaian masalah


Cara ini dilakukan dengan memberikan nilai 1 untuk alternatif

penyelesaian masalah yang paling tidak efektif sampai nilai 5 untuk yang
paling efektif. Untuk menentukan efektifitas ini digunakan kriteria tambahan
sebagai berikut:
a.

Besarnya masalah yang dapat diselesaikan/M (magnitude)

b.

Pentingnya penyelesaian masalah, yang dikaitkan dengan


kelanggengan selesainya masalah/I (importance)

c.

Sensitivitas, yang dikaitkan dengan kecepatan dalam


menyelesaikan masalah/V (vulnerability)

2. Efisiensi penyelesaian masalah


Nilai efisiensi dikaitkan dengan biaya/C (cost) yang diperlukan untuk
melaksanakan penyelesaian masalah. Semakin besar biaya dianggap semakin
tidak efisien (dinilai sampai dengan 5), sedangkan makin kecil biaya dianggap
semakin efisien (diberi nilai 1). Prioritas didapat dengan membagi hasil
perkalian nilai M x I x V dengan nilai C. Penyelesaian masalah dengan nilai P
tertinggi adalah prioritas penyelesaian masalah yang dipilih.
Setelah dijelaskan mengenai alternatif penyelesaian masalah yang dapat
dilaksanakan maka langkah selanjutnya adalah menentukan prioritas alternatif
penyelesaian masalah dengan menggunakan tabel matriks berikut.
Tabel 5.6. Penentuan prioritas alternatif penyelesaian masalah
Alternatif Penyelesaian
Masalah
Penambahan

jumlah

Efektivitas
I

Efisiensi

Jumlah

(C)
4

(M x I x V/C)
6,75

58

tenaga kesehatan yang


bertugas
melaksanakan

khusus
program

penanggulangan

dan

pencegahan TB

Pembentukan

kader

PMO
penyuluhan

25

dan
yang

berasal dari mantan


pengidap TB paru
Mengoptimalkan
program Contact tracing
TB
Pembuatan

video

mengenai penyakit TB
paru

Untuk nilai efektivitas (M), angka 5 diberikan pada alternatif ketiga. Angka
ini diberikan atas pertimbangan bahwa alternatif kedua akan dapat menyelesaikan
masalah lebih baik daripada alternatif yang lain. Pembentukan dan pembinaan
kader yang bertugas sebagai KPMO dan peyuluhan yang berasal dari mantan
penderita TB paru akan mempermudah masyarakat untuk memahami PMO dan
lebih percaya karena kader pernah mengalaminya. Selain itu pada saat penyuluhan
diharapkan kader-kader ini lebih aktif karena mereka sendiri pernah menderita
penyakit tersebut dan mengerti stigma dan bahaya dari TB paru.
Untuk nilai efektivitas (I), angka 5 adalah diberikan pada alternatif ketiga.
Alternatif kedua mendapat angka 5 karena dengan pembentukan dan pembinaan
kader yang optimal, akan membangun pondasi yang kuat pada kaderisasi dan
pembentukan PMO dan pembentukan pengetahuan di masyarakat semakin kuat
sehingga masalah PMO terselesaikan dan diharapkan angka pelaporan oleh
masyarakat secara mandiri mengenai suspek TB paru meningkat.

59

Untuk nilai efektivitas (V), angka 4 diberikan pada alternatif ketiga. Hal ini
dikarenakan alternatif ketiga dirasa akan lebih efektif karena selain berasal dari
penderita TB paru itu sendiri biaya reward dan pembentukan kader PMO akan
lebih murah dibanding biaya penambahan petugas sehingga Cost yang ditanggung
tidak terlalu tinggi (pemberian skor mengenai Cost=3).
Berdasarkan hasil perhitungan pada tabel di atas, dapat dilihat bahwa
pembentukan dan pembinaan kader yang bertugas sebagai KPMO dan penyuluhan
yang berasal dari Mantan Penderita TB paru merupakan prioritas penyelesaian
masalah yang diharapkan dapat meningkatkan persentase (%) kesembuhan
penderita TB BTA (+) di UPTD Pontianak Utara. Apabila solusi ini terwujud
maka dengan pelatihan dan motivasi yang cukup kader ini dapat berjalan dan
masalah TB paru dimasyarakat diharapkan dapat ditekan.