Anda di halaman 1dari 38

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas


karunia dan rahmat-Nya kami dapat
Makalah ini disusun dalam rangka untuk
Teknologi Reparasi dan Konversi Kapal di
ITS.

kehadirat Allah SWT berkat


menyelesaikan makalah ini.
melengkapi tugas mata Kuliah
Jurusan Teknik Perkapalan FTK

Kami mengucapkan terima kasih banyak kepada Ir. Soejitno dan


Ir.Triwilaswandio W.P M.Sc selaku dosen yang telah membimbing kami
dan pihak-pihak lain yang telah membantu dalam penyusunan dan
penyelesaian makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini kami menyadari masih terdapat
kekurangan-kekurangan yang perlu diperbaiki. Oleh karena itu kami
menerima segala bentuk kritik dan saran yang dapat membangun agar
dapat menjadi bahan evaluasi dalam pembuatan makalah selanjutnya.
Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan dapat digunakan
sebagai bahan referensi oleh pembaca.

Surabaya, 2 Januari 2015

Penulis

Daftar Isi
KATA PENGANTAR................................................................................................ 0
Daftar Isi............................................................................................................. 2
Daftar Gambar.................................................................................................... 4
BAB I................................................................................................................... 5
PENDAHULUAN.................................................................................................... 5
1.1 LATAR BELAKANG....................................................................................... 5
1.2 Soal............................................................................................................ 6
1.3 Tujuan........................................................................................................ 6
BAB 2.................................................................................................................. 7
PEMBAHASAN...................................................................................................... 7
2.1

Jenis Kerusakaan.................................................................................... 7

2.2 Gambar Pelat Alas Konstruksi Melintang pada Kapal General Cargo.........9
2.3

Cara Mendeteksi kerusakaan dan Dasar Perbaikan Wrang Pelat..........10

A.

Pengurangan tebal pelat......................................................................10

B.

Lekuk dan Gelombang Pelat.................................................................17

a)

Deteksi Kerusakan................................................................................ 19

b) Dasar-Dasar pemeliharaan lekuk dan gelombang pada pelat:.............20


c)

Reparasi lekuk dan gelombang............................................................20

C. Keretakan permukaan pelat.................................................................22


D. Kerusakan Sambungan Las..................................................................28
2.4 Jenis Kerusakan........................................................................................ 32
2.5 Gambar Kerusakan Soal No 2..................................................................33
2.6 Bagian-bagian konstruksi yang mengalami kerusakan............................35
I.

Reparasi Pelat Linggi Haluan................................................................35

II.

Reparasi Pelat Sisi ( Sheer Strake, Pelat Tepi Geladak)........................36

III. Reparasi Penumpu Geladak, Gading Besar, Gading , dan Senta Sisi....37

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Pada zaman dahulu, kapal selalu digunakan sebagai media
transportasi antar benua yang paling penting. Teknologi perkapalan
semakin berkembang pesat seiring berjalannya waktu, keselamatan
sering berjalannya teknologi di dunia teknik perkapalan, kapal sering
mengalami masalah keselamatan yang menyebabkan orang ragu dalam
keselamatan kapal sendiri, banyak pihak pemilik kapal yang tidak terlalu
mengerti apa yang menyebabkan kapal tersebut tidak aman, dan
banyak yang terlalu memikirkan profit pribadi agar tidak menambah
biaya lebih pada kapalnya yang telah terlalu lama beroperasi. Reparasi
pada kapal sangat penting, kapal adalah alat transportasi yang sangat
riskan, banyak faktor yang membahayakan keselamatan penumpang
dan awak kapal, karena itu pengetahuan akan pengetahuan,
penanganan serta reparasi yang tepat pada kerusakan yang terjadi
sangat diperlukan demi keselamatan awak dan sustainability kapal
tersebut.
Kerusakan kapal yang dapat membahayakan keselamatan dapat
dicegah dan ada yang tidak dapat dicegah, di dalam kapal, kerusakan
kerusakan kecil tidak dapat disepelekan, apa bila dibiarkan kerusakan
aka bertambah parah dan cost yang dikeluarkan pun semakin besar.
Misalnya saja, keretakan. Keretakan ada yang tidak tampak dengan
mata telanjang, keretakan jenis ini harus ditangani dengan segera
dengan cara direparasi, jika tidak, akan menyebabkan kerusakan yang
lebih parah.
Sebagai bahan pembelajaran, Jenis Jenis kerusakan kapal
diantaranya adalah: Lekuk dan gelombang pada pelat, keretakan pelat,
penipisan tebal pada pelat, serta kecacatan pada sambungan las-lasan
pelat. Pada makalah kali ini kajian tentang kerusakan pelat lebih
difokuskan pada pelat alas dan pelat sisi di atas sarat. Tentu saja ada
perbedaan jenis kerusakan dan penangan pada tiap tiap bagian kapal.

1.2 Soal
SOAL 1
Dari suatu barang general cargo konstruksi melintang pada waktu
bongkar muat, muatan jatuh pada pelat alas dalam ( tanpa papan alas

dalam), sehingga menyebabkan lekuk besar pada pelat alas dalam


tersebut. Disamping itu konstruksi wrang pelat yang berdekatan
mengalami penipisan dan perlu penggantian. Muatan jatuh pada
pertemuan wrang terbuka dan side girder
1. Gambar dan Uraikan Jenis-jenis kerusakan
2. Dasar-dasar pemeliharaan dan perbaikan
SOAL 2
Untuk kapal yang sama pada waktu bertempat di dermaga terjadi
benturan yang cukup keras, sehingga menyebabkan pelat sisi haluan
diatas garis air muat mengalami kelekukan yang cukup dalam dan sobek
memanjang
1. Gambar dan Uraikan jenis-jenis kerusakan
2. Dasar-dasar pemeliharaan dan perbaikan

1.3 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah Menggambar dan
menguraikan jenis-jenis kerusakan beserta dasar-dasar pemeliharaan
dan perbaikan dari soal 1 dan 2

BAB 2
PEMBAHASAN

SOAL 1
2.1 Jenis Kerusakaan
No.

1.
2.
3.
4.

NAMA BAGIAN
KONSTRUKSI
Plat alas dalam
Penumpu samping
Wrang plat
Gading balik

Pengurangan
tebal

No. NAMA BAGIAN KONSTRUKSI


1.
Plat alas dalam

2.

Penumpu samping

3.

Wrang pelat

JENIS KERUSAKAN
Lekuk dan
Kerusakan
Keretakan
Gelombang sambungan las Permukaan

DASAR-DASAR PERBAIKAN KERUSAKAN


Pemotongan setempat pada daerah kerusakan dapat
berbentuk lingkaran, empat persegi panjang atau
bujur sangkar dan diganti dengan pelat baru.
- Pemotongan setempat pada daerah kerusakan
- Dilakukan penggantian dahulu sebelum
pemasangan pklat alas dalam, dengan diberi lubang
sesuai ukuran profil gadin g alas dan gading balok.
- Penggantian wrang h pelat dapat dilakukan
sebagian atau seluruh wrang pelat tergantung
daerah kerusakan.
- Pada kapal kecil dengan B 12 m umumnya
konstruksi wrang pelat menerus dan penumpu

4.

Gading balik

samping terputus.
- Perhatikan letak sambungan las
.
-Penggantian gading balok dilakukan sesuai
kerusakan dengan mengikuti aturan balok-balok
konstruksi
-Pengelasan gading balok dan pelat alas dalam
didhulukan sebelum pengelasan alas dalam
-Dilakukan pemasangan penegar pada penumpu
samping.
Table 1 Jenis Kerusakan

2.2 Gambar Pelat Alas Konstruksi Melintang pada Kapal


General Cargo

2.3 Cara Mendeteksi kerusakaan dan Dasar Perbaikan


Wrang Pelat
A. Pengurangan tebal pelat
Pada kapal terjadi juga korosi seperti juga manusia pun perlu
mengalami general check up untuk memastikan kondisi. Karena
itu diperlukan pengukuran ketebalan dan toleransi korosi untuk
laik jalan.
Ketebalan pelat konstruksi harus dicek dengan pengukuran
dan untuk menetapkan apakah nilainya ditetapkan dalam
peraturan konstruksi dipenuhi dengan memperhitungkan toleransi
yang diijinkan. Pengukuran oleh pihak ketiga yang diberi
wewenang BKI.
Mengenai lingkup pengukuran untuk pembaruan kelas II dan
seterusnya ketebalan pelat diukur dari lambung utama
(memanjang dan melintang) yang penting, jumlah pengukuran
disesuaikan kondisi perawatan kapal dan sesuai penilaian
surveyor. Persyaratan minimum disesuaikan dengan tabel umur
kapal dan masing-masing pengukuran ketebalan menentukan
tingkat korosi yang umum harus dilaksanakan. Begitu juga
pengukuran pada tangki ballast.
Sedangkan untuk toleransi korosi dan keausan ,Jika hasil
pengukuran ketebalan dibawah nilai toleransi maka, nilai yang
tercantum dijadikan sebagai nilai pegangan. Pengurangan
modulus penampung tengah kapal yang diijinkan maksimum 10%.
Pengurangan permukaan yang luas dari tebal pelat dan pelat bilah
profil yang diizinkan maksimum. Batas pengurangan ketebalan
setempat yang diijinkan adalah 0,21. Pada tangki ballast dengan
geladak cuaca sebagai cuaca geladak tangki.
Keausan maximum yang diijinkan terhadap ketebalan pelat yang
disetujui klasifikasi pada keadaan baru.

Macam Lajur Pelat


1.Pelat kulit lambung
Pelat Lunas(keel plate), Pelat
dasar(bottom plate), dan pelat
lajur bilga(bilge plate)

Keausan max yang diijinkan terhadap


ketebalan pelat yang disetujui klasifikasi
pada keadaan baru
20%

2. Pelat Kulit alas dalam (tank

top)
Pelat Tepi(margin Plate),Pelat
alas dalam
Table 2 Keausan
ketebalan pelat

20%

Max

yang

diijinkan

terhadap

a)Deteksi Kerusakan Pengurangan Tebal Pelat


1. Palu Percobaan atau Test Hammer
Cara paling sederhana untuk menentukan ketebalan pelat
kulit atau balok konstruksi badan kapal adalah dengan palu
percobaan yang terdiri dari dua ujung. Ujung yang runcing
digunakan untuk menghilangkan karat, kotoran, cat yang melekat
pada pelat kulit atau balok konstruksi, yang tumpul digunakan
untuk memilih tempat yang paling tipis akibat pengkaratan atau
keausan. Tinggi rendahnya nada getaran yang ditimbulkan oleh
plat kulit akibat dipukul oleh palu percobaan menunjukkan tingkat
ketebalan plat, makin tinggi nada getaran makin tipis plat
tersebut.

Figure 1 Hammer Test


2. Lubang percobaan atau Test Hole
Caranya dengan melubangi untuk menunjukkan ketebalan
plat kulit. Dengan pertolongan las potong asitilene atau dengan
dibor yang dinamakan lubang percobaan atau test hole. Setelah
dilubangi barulah diukur ketebalannya dengan alat pengukur
khusus yang terdiri atas 2 mistar yang dapat bergeser satu sama
lain. Kekedapan air dari plat kulit dilakukan dengan menuntup

kembali lubang percobaan dengan baut tap kemudian dilas


dengan las listrik. Kekurangannya terdapat cacat permukaan yang
terdiri dari tonjolan baut tap.

Figure 2 Test Hole


3. Linier dial gauges
Caranya socket yang digunakan untuk menentukan
kedalaman keausan, tumpuan dengan baut penahan geser batang
penunjuk digunakan untuk mengukur ketebalan. Prnunujuk
indicator ditempatkan sesuai dengan jarum penunujuk dan socket
ditempatkan sesuai dengan ujung atas dari indicator penunjuk
sehingga titik tersebut bertepatan dengan titik penunjuk.
INCLUDEPICTURE
"http://www.mitutoyo.co.uk/media/catalog/product/cache/1/d
imensions/9df78eab33525d08d6e5fb8d27136e95/5/4/542-

603_d.png"

\*

MERGEFORMATINET

Figure 3 Linier Dial Gauges


4. Ultrasonic test
Test ini dapat mengukur ketebalan plat kulit hanya dari satu
sisi saja. Plat yang diukur digerinda terlebih dahulu, setelah itu
diberi lemak atau vet. SE-probe dari alat ukur ultrasonic dilekatkan
pada permukaan plat kulit yang mengeluarkan getaran ultrasonic
dan menembus ketebalan plat kulit sampai sisi yang lain dan
dipantulkan kembali menuju SE-probe sebagai gema.
Dengan diketahui kecepatan getaran, maka waktu getaran
ultrasonic yang diterima kembali oleh SE-probe tersebut akan
menunjukkan ketebalan plat kulit konstruksi yang diukur.
Keuntungannya adalah tidak menimbulkan cacat dan tonjolan
pada plat kulit serta mudah dan cepat dilakukan.
INCLUDEPICTURE "http://www.kks.com.au/wpcontent/uploads/2014/01/wall-thickness-gaugeGilardoni-dg51-ultrasonic-thickness-gauge_1.jpg"
\*

MERGEFORMATINET
Figure 4 Ultrasonik Test
b) Dasar-Dasar Pemeliharaan

dan Reparasi Pengurangan

Tebal Pelat
1. Penggantian Setempat Pelat Kulit
Penggantian setempat pelat yang disebabkan oleh lubang,
keausan, lekuk, dan retak setempat harus mengikuti ketentuan
bahwa ketebalan pelat dan kondisi balok konstruksi masih
memenuhi persyaratan klasifikasi.
Bentuk
pemotongan setempat pelat dibuat 3 macam, yaitu :

Berbentuk Bujur Sangkar

Figure 5 Pemotongan Setempat Berbentuk Bujur

Sangkar

Berbentuk Bulat

Figure 6 Pemotongan Setempat Berbentuk Bulat

Berbentuk Empat persegi panjang

Figure 7 Pemotongan Setempat Berbentuk Empat Persegi Panjang

Bentuk bujur sangkar dan empat persegi panjang ujung-ujungnya


dibulatkan dengan jari jari sebesar 0,1 lebarnya. Urutan pengelasan
sesuai angka I, II, III, dan IV dengan cara Back Hand Step Welding atau
kepala ekor apabila panjang tiap ukuran pengelasan cukup panjang.
Sebaiknya pemasangan pelat baru bertumpu minimal pada satu balok
konstruksi dan pengelasan dengan balok konstruksi didahulukan
sebelum pengelasan kampuh las sesuai urutan pada gambar dan jarak
melintang atau memanjang sambungan pelat dengan balok konstruksi
sekitar jarak balok konstruski, atau sekitar 150 200 mm. Bila sisi
melintang atau memanjang terlalu dekat dengan kampuh melintang
atau memanjang dari lajur pelat lama maka pemotongan diteruskan
sampai kampuh melintang atau memanjang dari pelat lama tersebut.
2. Penggantian Satu Lajur Pelat Kulit
Persiapan Sebelum Pemotongan Pelat Kulit
Sebelum pemotongan pelat, dilakukan pekerjaan pendahuluan
meliputi :
Menandai balokbalok memanjang pelat kulit dari luar
dengan pertolongan test hammer serta kapur atau cat

Memeriksa bagian dalam dari pelat kulit

Mempersiapkan tenaga dan peralatan pemadam kebakaran


pada lokasi yang rawan terhadap kebakaran

Pemotongan Pelat
Pekerjaan pemotongan pelat kulit dilaksanakan dengan dua
cara, yaitu :
a. Pemotongan dari sisi luar
Pemotongan pelat dilaksanakan setelah penandaan
lokasi balokbalok memanjang dengan kapur atau cat dan
dilakukan diluar hubungan balok konstruksi dengan pelat

kulit agar jangan sampai balok konstruksinya ikut


terpotong. Bagian pelat kulit yang masih tersisa pada
balok konstruksi harus dibersihkan
b. Pemotongan dari sisi dalam
Pemotongan pelat dilaksanakan langsung dari sisi
dalam kapal (misalnya pada ruang palkah) dan dapat
langsung memotong sambungan balok konstruksi dengan
pelat kulit sehingga pekerjaan lebih cepat.
Pemotongan garis kampuh las dilaksanakan sebagai
berikut :
Pemotongan pelat lama tepat pada sumbu kampuh las
melintang atau memanjang agar ukuran pelat baru
sesuai dengan ukuran lebar dan panjang pelat lama
dan sisa separuh material las lama dipotong untuk
pembuatan kampuh las.
Pemotongan sisi melintang pelat kulit lama diusahakan
jarak gading terdekat karena timbulnya harga
momen yang mendekati 0 pada beban merata yang
bekerja pada pelat kulit.
Pemotongan sisi memanjang pelat kulit lama tidak
boleh kurang dari 200 mm dari balok memanjang yang
terdekat.
Potongan pelat kulit yang tersisa pada balokbalok
memanjang harus dibersihkan.
Pembuatan Rambu Pelat
Setelah pemotongan pelat lama dan pembuatan kampuh
las selesai barulah dipersiapkan rambu pelat yang terbuat dari
pelat dengan lebar 20 s/d 30 mm dan ketebalan 4 s/d 6 mm.
Dimana dalam arah melintang tepat pada garis gading dan
dalam arah memanjang tepat pada balok konstruksi
memanjang atau sambungan pelat.
Pembuatan Pelat Baru di Bengkel
Pembuatan pelat baru yang rata minimal 2 sisi sudah
dipersiapkan kampuh las sehingga tidak perlu lagi pemotongan
pada waktu pemasangan di kapal, sedangkan pada pelat baru
dengan lengkung tunggal minimum satu sisi sudah dipersiapkan
kampuh lasnya.
Pemasangan Pelat Baru di Kapal
Urutan pemasangan pelat baru adalah sebagai berikut :
a. Las ikat diakukan dulu dengan balok balok memanjang
setelah itu baru las ikat dengan sisi kampuh lasnya.

b. Pemasangan pelat penahan yang terbuat dari pelat dengan


ketebalan sekitar 10 mm dipasang dengan sudut 7080
derajat dengan kampuh lasnya dan jarak satu sama lain
sekitar 400500 mm
c. Pertamatama di las balokbalok memanjangnya dimulai dari
arah tengah kearah samping setelah itu pengelasan kampuh
las dengan urutan sesuai gambar dilaksanakan dengan
pengelasan kepala ekor agar deformasi las tidak terlalu
besar. Pelaksanaan pengelasan dilaksanakan dari sisi dalam
selanjutnya dari sisi luar setelah diadakan penyerongan
dengan carbon electrode dan penggerindaan.
d. Hasil pengelasan diperiksa terlebih dahulu oleh pengawas
las setelah itu oleh QA/QC (Quality Assurance / Quality
Control) baru diundang klasifikasi untuk pemeriksaan
pengelasan dan tes kekedapan air.

B. Lekuk dan Gelombang Pelat


Lekuk dan gelombang merupakan salah satu
akibat dari deformasi pada pelat kulit alas. Lekuk merupakan
melenturnya pelat bersama-sama balok kontruksinya yang
ditandai dengan luas lekukan dan besarnya lenturan pada
lekukan yang paling dalam. Gelombang (corrugation)
merupakan
melenturnya
pelat
antara
dua
balok
kontruksinya, ditandai dengan besarnya lenturan antara dua
balok kontruksi tersebut.
Sesuai peraturan klasifikasi, lekuk dan gelombang
harus dihilangkan, termasuk kerusakan pada kekedapan
kampuh pada pengelasan. Untuk memperbaiki dan
menghilangkan kerusakan pelat sampai pada survey
pengedokan yang akan dating, masih diijinkan apabila
lekuknya di anggap landau dimana besarnya lenturan tidak
lebi dari 20% jarak gading (frame spacing) dan
perbandingan besarnya lenturan dengan panjangnya
lenturan tidak lebih dari 1:20.

a) Deteksi Kerusakan
Metode untuk mengetahui keretakan dengan mata telanjang
untuk melihat apa kah ada plat yang bengkok atau berada pada
posisi yang tidak semestinya. Dengan cara meletakkan pelat yang
berlekuk secara horizontal, kemudian bagian atasnya ditutup
dengan papan/ kayu dan mulai mengukur kedalaman lekukan
tersebut dengan meletakkan penggaris/ mistar secara vertical dari
atas sampai ke kedalaman lekukan tadi.
Cara Menentukan Deformasi Pelat. Deformasi
kapal antara lain:

pada pelat kulit

Lekuk ( dented )
Lekuk merupakan melenturnya pelat bersama-sama
balok konstruksinya yang ditandai dengan luas lekukan
dan besarnya lenturan pada lekukan yang paling dalam.
Kelekukan pelat bersama profil , akan mengakibatkan
kerusakan pada sambungan las

Gelombang ( corrugation )
Melenturnya
pelat
antara
dua
balok
balok
konstruksinya, ditandai dengan besarnya lenturan antara
dua balok konstruksi tersebut. Batasan untuk lekuk dan
gelombang pada plat pada BKI (Biro Klasifikasi Indonesia)

Figure 7 Dented and Corrugated Plate

b) Dasar-Dasar pemeliharaan lekuk dan gelombang pada


pelat:
Sesuai ketentuan klasifikasi, lekuk dan gelombang pelat
harus
diperbaiki
dan
dihilangkan, termasuk
kerusakan
kekedapan pada kampuh pengelasan. Untuk memperbaiki dan
menghilangkan kerusakan
pelat sampai
pada
survey
pengedokan yang akan datang, masih diijinkan apabila lekuknya
diangggap landau dimana besarnya lenturan tidak lebih dari 20%
jarak gading ( frame spacing ) dan perbandingan besarnya
lenturan dengan panjangnya lenturan tidak lebih dari 1: 20.
Gelombang pelat diijinkan diperbaiki dan dihilangkan apabila
lenturannya tidak lebih dari 5x ketebalan pelat dan perbandingan
antara besarnya lenturan dengan jaak gading tidak lebih dari 1:20.
Lekuk dan gelombang
yang terjadi pada pelat badan kapal biasanya bukaan kulit kapal
( lambung, geladak dan dinding sekat ) yang ditentukan lokasi,
luas dan besar lenturannya.
c) Reparasi lekuk dan gelombang
Lajur pelat kulit yang mengalami lenturan dapat
dikembalikan. Apabila besarnya lenturan tidak melebihi ketentuan
yaitu 5 kali tebal pelat yang melentur. Fooler gauge merupakan
alat ukur untuk mengetahui besar kelengkungan pelat.
Meluruskan pelat kulit yang melentur dapat dilakukan
dengan cara sebagai berikut:

Dengan cara pemukulan


Pelat yang akan dipukul harus diberi pengalas dari
kayu. Hal ini bertujuan agar pada lajur pelat kulit tidak akan
terdapat cacat-cacat baru akhibat pukulan. Pemukulan
disisni dari arah yang berlawanan dengan arah lenturan.

Dengan cara penekanan (dengan pertolongan hydrolic jack)


Pertama-tama
kita
pasangkan
balok
penahan yang dilaskan pada gading-gading (frame) dan
selanjutnya hydrolic dipasangkan. Pada daerah yang
melentur diberi pengalas dari pelat, halini bertujuan untuk
memperluas daerah penekanan. Untuk mempercepat
pekerjaan ini bersamaan dengan penekanan hydrolic pada
daerah pelat yang melentur dipanaskan dengan brander.

Dengan cara baut penarik (dongkrak ulir)


Pertama-tama baut penarik dilaskan pada pelat
yang melentur tepat ditengah-tengah nya dan selanjutnya
dipasangkan balok penahan yang kakinya diletakkan tepat
pada gading-gading (frame), dan murnya kita pasangkan
pada baut penarik tersebut. Dengan mengerasi murnya,
maka pelat yang melentur akan tertarik. Cara ini kurang baik
karena pada pelat kulit terdapat bekas las-lasan baut
penarik, sehingga menimbulkan cacat baru.
Cara-cara
meluruskan pelat kulit yang melentur diatas apabila keadaan
balok-balok utamanya tidak mengalami kebengkokan atau
deformasi. Apabila balok-balok utamanya mengalami
kebengkokan pula atau lenturan pelat ini dialami pada
daerah yang luas akhibat benturan atau kandas. Hal ini
apabila pelat kulit balok-baloknya masih dalam keadaan
baik, maka perbaikannya dapat dilakukan dengan memotong
dengan brander potong dan diluruskan di bengkel dengan
mesin press.
Untuk
memperoleh
bentuk
seperti semula perlu dibuatkan mal (model) dengan
mengambil bentuk lambung sebelahnya yang segaris
(segading). Dalam pekerjaan ini harus diperhatikan
pemotongan balok-baloknya (misalnya gading-gading) tidak
boleh segading pemotongannya dengan pemotong pelat
kulit, sedang pemotong balok-balok yang berdekatan juga
tidak boleh segaris.
Setelah pelat yang melengkung bersama-sama
baloknya diluruskan di bengkel dengan mesin press,
kemudian dipasangkan kembali di badan kapal yang
berlubang dengan ketentuan yang berlaku.
Balok konstruksi yang mengalami benturan, dilakukan
penggantian setempat dengan profil yang berdimensi
serupa. Pengelasan gading-gading dan senta didahulukan
sebelum pengelasan pelat.

Reparasi
pada
pelat
yang
melentur/bergelombang
ditentukan berdasarkan besar dan kedalamannya. Bilamana
kedalaman lenturan melebihi jarak gading & 5 kali tebal
pelat setempat, dan perbandingan antara kedalaman
lenturan dengan panjang lenturan melebihi 1:20 maka area
setempat diganti pelat baru.

Lekuk/gelombang dapat dikurangi asalkan ketebalan pelat


masih memenuhi (aus max. 20%) dengan cara: 1) mekanis,
dan 2) pemanasan.

Untuk menghilangkan atau mengurangi lenturan, dengan


syarat tebal pelat masih memenuhi syarat, baik lengkung
setempat atau gelombang dilakukan dengan:
Cara mekanis dan pemanasan
Meluruskan kembali pelat yang lekuk dan
bergelombang dilakukan dengan dipanasi oleh alat pemanas
dengan temperatur antara 500 800 oC dan ditekan dengan
dongkrak atau hydraulic jack yang diberi alas pelat
Cara pemanasan dan pendinginan
Pada prinsipnya sama dengan cara melengkukan
pelat dengan menggunakan pemanasan dan pendinginan
pada pembangunan kapal baru yang dinamakan Linear
Heating Method. Sedangkan untuk meluruskan kembali
dinamakan Fairing atau pelurusan. Pelat yang lekuk
setempat dan gelombang dipanasi dengan alat pemanas
Acetyline atau LPG sampai temperatur 500 800 oC dan
setelah itu didinginkan dengan air tawar.
C. Keretakan permukaan pelat
a) Deteksi Kerusakan Permukaan Pelat
1. Metode Visual
Untuk mengetahui keretakan dengan mata telanjang
atau dengan pertolongan kaca pembesar (lup) dari
permukaan pelat, permesinan, kampuh las. Metode ini
sederhana, tetapi tidak teliti dan tidak dapat mengetahui
keretakan yang halus. Dengan penyinaran yang kuat akan
membantu mengetahui keretakan permukaan dan keretakan
yang lebih halus dapat diketahui dengan pertolongan kaca
pembesar.

Figure 8 Metode Visual


2. Metode Minyak dan Kapur atau Chalk Kerosine Method.
Digunakan untuk mengetahui keretakan permukaan,
kekedapan air, dan kesempurnaan sambungan pengelasan
pelat kulit. Tempat yang diselidiki dibersihkan dan diberi
minyak, dilap sampai kering dan dilabur dengan larutan
kapur atau digosok dengan kapur. Selanjutnya digetarkan
dengan pemukul palu, maka timbullah suatu garis yang jelas
pada lapisan kapur karena terangkatnya minyak dari celah
keretakan. Getaran yang ditimbulkan oleh pukulan palu
menyebabkan minyak keluar dari celah keretakan. Pada
pemeriksaan kampuh las, kedua sisi kampuh las dibersihka
dari kotoran, cat , karat, serta dikeringkan. Salah satu sisi
kampuh las disaput dengan lapisan minyak yang tipis pada
permukaan kampuh. Pada sisi lain dilapisi dengan lapisan
kapur dan ditunggu sampai kering. Apabila kampuh las
terdapat keretakan atau adanya luang renik akibat ketidak
sempurnaan pengelasan, akan terdapat lapisan kapur yang
berminyak karena daya kapiler dari minyak tersebut.
3. Metode magnit
Sering dipakai untuk memeriksa keretakan permukaan
pada baja atau besi tuang, dan ada dua macam, yaitu :
dengan cara kering dan basah. Prinsip dari metode ini
adalah menciptakan medan magnet pada daerah keretakan.
Salah satu metodeya adalah dari Manaflux Coorporation
Testing System, untuk mengetahui keretakan akibat
kelelahan material, pendingin, pemanasan, atau tegangan

Figure 9 Metode Visual

4. Metode warna
Metode warna atau dye penetrant method digunakan
untuk mengetahui keretakan permukaan pada bagian
permesinan dan poros serta lubang renik (porosity) kampuh
las.
Tempat yang akan diperiksa dibersihkan menggunakan
cleaner kemud ian cairan penetrant disemprotkan. Cairan ini
berwarna merah yang mempunya daya tembus kuat pada
keretakan. Kemudian penetrant dibersihkan dari permukaan.
Selanjutnya disemprotkan developer yang berfungsi untuk
menarik penetrant yang berwarna merah dari celah
keretakan. Sehingga gambar keretakan jelas dengan warna
merah diatas warna putih developer

Figure 10 Metode Warna


5. Metode pemanasan
Alat las astylene untuk memanasi daerah keretakan
permukaan sehingga terlihat garis keretakan permukaan
dengan jelas, tetapi cara ini dapat merusak material.

Berikut adalah proses deteksi Keretakan Permukaan :

b) Dasar Dasar Pemeliharaan


Permukaan

dan Reparasi Keretakan

Dasar dasar perbaikan dapat dilakukan dengan cara :


I.

Tentukan ujung-ujung keretakan

II.

Beri Lingkaran pada ujung keretakan (drip bulat agar keretakan


tidak menyebar )

III.

Buat Kampuh las pada keretakan

Berikut adalah langkah-langkah Pengelasan :


I.

Keretakan Pendek

II.

Keretakan Panjang
-

Lakukan dengan pemanasan ( membara merah ) preheating

Memberikan titik tengah

Lakukan dengan pengelasan dari side ke center

Berikut adalah dasar-dasar pemeliharaan dan reparasi dengan cara lain :

Penggantian baru balok konstruksi harus berdimensi


serupa. Untuk penyambungan balok konstruksi yang
berdekatan tidak boleh segaris demikian pula dengan
kampuh las lajur pelat, dengan jarak antara kampuh las
pelat dengan kampuh las balok konstruksi yang terdekat
sekitar 100-200 mm. Pengelasan profil siku lama dan baru
dilaksanakan dari kedua arah dan pada pengelasan
sambungan pelat diberi scallop.
Untuk pelat yang sobek, kedua ujung keretakan dilubangi
agar tidak mengembang saat pengelasan dan dibuatkan
kampuh las bentuk V, U, atau X dengan jarak kampuh 2
mm. Pengelasan dilakukan satu arah dengan metode
Backhand Step Welding untuk keretakan yang relatif
pendek.
Ilustrasi metode Backhand Step Welding dijelaskan pada
gambar di bawah ini :
Bilamana keretakan cukup panjang, maka pengelasan
dilakukan dua arah dan diadakan pre-heating s/d 150 C
pada daerah retak. Setelah pengelasan dipasang pelat
rangkap untuk menjaga keretakan tidak kembali. Saat
pengedokan selanjutnya, pelat rangkap ini dipotong serta
diganti dengan pelat baru.

Bentuk pemotongan setempat untuk penggantian pelat


baru dapat dibuat dengan 3 macam: 1) bulat, 2) bujur
sangkar, 3) persegi panjang. Pemasangan pelat baru
bertumpu minimal pada satu balok konstruksi dan pelat
baru
dilas
terlebih
dahulu
dengan
jarak
melintang/memanjang dengan balok konstruksi sekitar
jarak balok konstruksi atau sekitar 150-200 mm.

D. Kerusakan Sambungan Las


a) Deteksi Kerusakan Pada Sambungan Las
Sambungan las merupakan bagian yang paling rawan terjadi kegagalan
akibat pengaruh panas dan kecenderungan terdapat cacat pengelasan pada
sambungan. Pada komponen/konstruksi yang mengalami beban dinamis
berulang-ulang (fatique), hal tersebut dapat merupakan sumber dan faktor
pemacu penjalaran retak hingga umur lelah sambungan turun drastis. Untuk
pengukuran kerusakan sambungan las tergantung benda yang dilas, apabila
pelat dengan pelat pengecekannya dengan tes kekedapan, sedangkan pelat
dengan balok konstruksi dengan pengamatan langsung.
Kerusakan pada sambungan las pada posisi lekuk. Biasanya
menggunakan Tes Kekedapan. Tes kekedapan dapat menggunakan air dan
juga dapat menggunakan udara untuk mengecek kekedapannya.
1. Pelat dengan Pelat ( Uji Kekedapan)
Pemakaian Air untuk pemeriksaasn kekedapan air
Metode ini dilaksanakan dengan cara mengisi tangki
dengan air sampai tekanan tertentu, kemudian dilihat
kekedapan airnya. Konstruksi badan kapal dikatakan
kedap air, apabila pada permukaan pelat serta pada
kampuh-kampuh las tidak terdapat kebocoran dan/atau
perembesan air.
Metode lainnya yaitu dengan cara menyemprotkan air
bertekanan dengan menggunakan selang kebakaran (Hose
Test). Tekanan air secara vertikal tidak boleh kurang dari 8
m -10 m, diameter nozzle tidak boleh kurang dari 15 mm,
serta ujung nozzle berjarak 1 m - 3 m tegak lurus badan
kapal. Kekedapan kampuh las arah pemeriksaannya
vertikal dari bawah ke atas.

Udara Tekan Untuk Pemeriksaan Kekedapan Air


Dengan mengisi ruangan yang akan diperiksa
kekedapan dengan udara tekan. Sebelum udara
bertekanan dimasukkan, semua lubang-lubang antara lain
lubang lalu orang, lubang pemasukkan, pipa isi, pipa
udara harus ditutup. Besarnya tekanan udara 0,20-0,25
Kg/ Cm, diisikan selama tidak boleh kurang dari 1 jam,
sebelum pemeriksaan kekedapan dilaksanakan. Setelah 1
jam penurunan udara yang ditunjukkan oleh manometer
tidak boleh kurang dari 10 %. Diketahui kebocoran dengan
meleburkan larutan sabun sepanjang kampuh las atau
pada badan kapal yang diselidiki kebocorannya. Dengan
menyemprotkan udara bertekanan sepanjang kampuh las
atau padapelat badan kapal. Tekanan udara tidak boleh
kurang dari 4-5 atm dan disemprotkan sejarak 100 mm,
dari kampuh las sedang pada sisi lai dilabur larutan sabun.

Test Minyak dan Kapur Untuk Pemeriksaan Kekedapan


Sambungan Pelat
Digunakan untuk mengetahui keretakan permukaan,
kekedapan air, dan kesempurnaan sambungan pengelasan
pelat kulit. Tempat yang diselidiki dibersihkan dan diberi
minyak, dilap sampai kering dan dilabur dengan larutan
kapur atau digosok dengan kapur. Selanjutnya digetarkan
dengan pemukul palu, maka timbullah suatu garis yang
jelas pada lapisan kapur karena terangkatnya minyak dari
celah keretakan. Getaran yang ditimbulkan oleh pukulan
palu menyebabkan minyak keluar dari celah keretakan.
Pada pemeriksaan kampuh las, kedua sisi kampuh las
dibersihka dari kotoran, cat , karat, serta dikeringkan.
Salah satu sisi kampuh las disaput dengan lapisan minyak
yang tipis pada permukaan kampuh. Pada sisi lain dilapisi
dengan lapisan kapur dan ditunggu sampai kering. Apabila
kampuh las terdapat keretakan atau adanya luang renik
akibat ketidak sempurnaan pengelasan, akan terdapat
lapisan kapur yang berminyak karena daya kapiler dari
minyak tersebut.

Pelat Dengan Balok Konstruksi Deteksinya Menggunakan


Pengamatan Visual
a. Jenis- jenis sambungan konstruksi las
Menerus 2 sisi (pada tangki)
Putus- putus (rantai, zig zag, skalop)

b. Kerusakan terjadi pada sambungan las dan balok


konstruksi

b) Jenis- Jenis Sambungan Konstruksi Las


1. Dalam jenis sambungan menerus 2 sisi

2. Dalam jenis sambungan las putus-putus


Putus- putus rantai

Putus- putus zig zag

Putus- putus skalop

c) Dasar-Dasar
Pemeliharaan
dan
Reparasi
Pada
Sambungan Las
Hal- hal yang dilakukan pada repair yaitu alas lama dibongkar
dan dengan dilakukan pengecekan.
Las lama dibongkar dan dilas ulang meliputi: dibersihkan,
persiapan sisi, diberi penahan, dilakukan pengelasan.

Dilakukan pengecekan pada:


a. Untuk sambungan pelat dan balok konstruksi
b. Untuk las menerus
c. Sambungan putus- putus pengecekan dilakukan:
Tinggi las
Jarak las
Panjang las
d. Sambungan pelat dan pelat (kekedapan) dilakukan
dengan:
Air test (gelembung air)
Water test (floating test dan hose test)

Air Test

Keterangan :
Praktis atau tidak menggunakan air
Perlu ketelitian yang tinggi karena kebocoran bisa saja terjadi
tidak pada sambungan las
Mengamati tekanan tidak bergerak 10 % (maksimal)
Water Test
Floading Test

Hose Test

SOAL 2
2.4 Jenis Kerusakan
Berikut adalah tabel matriks jenis kerusakan soal 2 :

N
O

Nama Bagian
Konstruksi

Jenis Kerusakan
Penguran
gan Tebal

Lekuk &
Gelomban
g

Kerusakan
Sambungan
Las

Keretakan
Permukaa
n

Gading Biasa

Gading Besar

Pelat Lajur Atas

Pelat Tepi Geladak

Senta Sisi

Pelat Linggi Haluan

Penumpu Geladak

2.5 Gambar Kerusakan Soal No 2

2.6 Bagian-bagian konstruksi yang mengalami kerusakan


Notes : Untuk Uraian dari masing-masing jenis kerusakan sama seperti pada
soal no 1
I.

Reparasi Pelat Linggi Haluan

Pengurangan Tebal Pelat


Akibat adanya Gesekan akibat benturan antara linggi haluan
dengan dermaga, besar resikonya terjadi pengurangan ketebalan pelat.
Penggantian atau tidaknya pelat linggi haluan tergantung kondisi
keausan pelat tersebut, apabila sudah melewati batas keuasan pelat.
Sesuai dengan peraturan yang berlaku pelat tersebut harus diganti.
Untuk metode yang digunakan dapat dilakukan dengan berbagai cara
tergantung kondisi kerusakan. Aadapun metode-metode tersebut sudah
dijelaskan diatas.

Lekuk dan Gelombang


Lekuk dan gelombang terjadi akibat adanya benturan keras antara
linggi haluan dengan Dermaga dan mengakibatkan kerusakan
memanjang. Perbaikan mengacu pada besarnya lekukan yang terjadi
akibat benturan tersebut. Penggantian pelat linggi haluan lengkung

ganda dalam pembentukannya dibuat dengan panjang


secukupnya agar pekerjaan pengepresan pelat tidak mengalami
kesulitan.
1. Penggantian pelat lambung yang berhubungan dengan pelat
linggi haluan menggunakan bilah pelat ( backing strip ) dengan
lebar minimum sebesar 1,5 S + 10 mm, dimana S adalah tebal
pelat lambung, terutama pada kapal kecil karena sempitnya
daerah di haluan kapal.

2. Backing Strip dilaskan dahulu dengan pelat lambung lama dan


pelat lambung baru dipasang dengan jarak 1,5 S agar diperoleh
penetrasi las yang baik karena pengelasan hanya dilakukan dari
satu arah.
3. Backing Strip ini dipasang pada wrang atau gading
4. Lebar Lubang las isi, panjang dan jarak antara lubang untuk las
ini bergantung tebal pelat kulit lambung yang dilubangi

Kerusakan Sambungan Las


Kerusakan yang terjadi akibat benturan keras dengan
dermaga mengakibatkan robekan pada pelat linggi haluan. Maka
pelat tersebut harus diganti dengan yang baru, untuk proses
penggantiannya sudah dijelaskan diatas.

Keretakan Permukaan
Keratakan Permukaan dapat terjadi di bagian linggi haluan
akibat benturan keras dengan dermaga. Untuk proses reparasinya
sudah dijelaskan diatas.

II.

Reparasi Pelat Sisi ( Sheer Strake, Pelat Tepi Geladak)

Note : untuk Jenis kerusakan dan dasar perbaikan sama seperti Pelat
Ceruk Haluan
III.

Reparasi Penumpu Geladak, Gading Besar, Gading , dan Senta


Sisi

Untuk jenis kerusakannya adalah lekuk dan gelombang,


keretakan permukaan, dan kerusakan sambungan las. Reparasi
penumpu geladak, gading besar, senta sisi, dan Balok-balok
konstruksi lainnya yang berbentuk profil T, dilaksanakan
penggantiannya pada seluruh tinggi profil dan pengelasan
sambungan pada pelat vertical dan pelat bilah hadap tidak
terletak pada satu bidang demikian juga sambungan pelat vertical
pelat kulit.
Note : Untuk proses reparasi sudah dijelaskan diatas