Anda di halaman 1dari 13

EFEK HORMONAL PADA OVULASI DAN PEMIJAHAN IKAN

Oleh :
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok
Asisten

:
:
:
:
:

Azhar Faturohman A
B1J013167
I
4
Venthyana Lestary

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN II

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Hipofisasi adalah teknik pembenihan melalui sistem suntik yang dilakukan
dengan merangsang ikan untuk memijah supaya terjadi ovulasi dengan suntikan
ekstrak kelenjar hipofisa (Susanto, 1995). Teknik hipofisasi ini digunakan untuk
membiakan ikan-ikan yang belum dapat dipijahkan di kolam secara tradisional. Bagi
jenis ikan yang telah dapat dipijahkan di kolam, cara hipofisasi biasanya digunakan
untuk efisiensi penggunaan induk dan peningkatan hasil anakan. Teknik hipofisasi
dapat membantu terlaksananya pemijahan bagi ikan yang masak kelamin, tetapi tidak
dapat memijah secara alami karena keadaan lingkungan yang tidak sesuai. Selain itu,
juga telur yang diperoleh dapat ditetaskan secara terkontrol sehingga mortalitas
selama proses penetasan dan perkembangan larva dapat ditekan (Sumantadinata,
1981).
Beberapa cara dilakukan untuk menentukan perkembangan gonad berdasarkan
perkembangan oosit atau pengukuran besarnya gonad. Hal lain yang dapat dijadikan
untuk mengukur pengaruh kerja hormon gonadotropin adalah fekunditas, fertilitas
dan penetasan telur. Tingkat kematangan gonad yang maksimal ditunjukkan dengan
pembesaran volume perut dengan ovari mengisi sekitar 80% rongga perut (Najmiyati
et al., 2006).
Kelenjar hipofisa ikan terdapat di bawah otak sebelah depan. Kelenjar ini
menempel pada infundibulum dengan satu tangkai yang pendek, agak panjang atau
pipih tergantung pada jenis ikannya. Pengambilan kelenjar ini harus membuka tulang
tengkorak dan pengangkatan otak, biasanya butir kelenjar hipofisa akan tertinggal di
dalam lapisan pelindung cella tursica (Sumantadinata, 1981). Hormon yang
dihasilkan oleh kelenjar hipofisis adalah hormon gonadrotropin (Hardjamulia, 1980).

1.2 Tujuan
Tujuan praktikum ini adalah untuk merangsang ovulasi pada ikan dan memijah
dengan induksi kelenjer hipofisis.

II.

MATERI DAN CARA KERJA

2.1 Materi
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah spuit volume 1 cc
dan 5 cc, bantalan karet busa berukuran 40 x 30 cm dilapisi kain lap, ember plastik,
homogeniser, alat centrifugasi, dan pisau besar.
Bahan yang digunakan adalah Ikan Mas (Cyprinus carpio) matang
kelamin sebagai ikan donor, Ikan Nilem (Osteochilus hasselti) sebagai ikan resipien,
dan akuabides.
2.2 Cara Kerja
1. Ikan donor yaitu Ikan Mas (Cyprinus carpio) dipotong kepalanya dengan
menggunakan pisau besar tepat dibelakang telinga sampai putus.
2. Kepala ikan mas diletakkan dengan mulut menghadap keatas, selanjutnya
dipotong bagian kepalanya tepat dari lubang hidung diatas otak sampai putus
sama sekali sehingga tengkorak kepala terbuka.
3. Berkas saraf sebelah depan yang berwarna putih dipotong kemudian otak
diangkat sehingga akan terlihat kelenjar hipofisis tepat dibawah otak, terletak
didalam sebuah lekukan, bentuknya bulat, berwarna putih dan berukuran sebesar
biji kacang hijau.
4. Kelenjar hipofisis diambil dengan menggunakan pinset dan diletakkan di wadah
kaca.
5. Akuabides ditambahkan kemudian kelenjar hipofisis digerus sampai lumat.
6. Ekstrak kelenjar hipofisis bagian atas diambil lalu dimasukkan kedalam tabung
reaksi.
7. Tabung reaksi dimasukkan kedalam centrifuge dan diputar dengan kecepatan
3500 rpm selama 10 menit.

8. Ekstrak kelenjar hipofisis diambil dengan menggunakan spuit lalu disuntikkan


ke tubuh ikan resipien di bagian bawah sirip dorsal bagian depan pada tiga sisik
kebawah.
9.

Ikan yang telah disuntik dimasukkan kedalam bak pemijah dan diamati ikan
melakukan ovulasi dan memijah atau tidak.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 Hasil
Tabel 1. Pengamatan Teknik Hipofisasi Rombongan I
Rasio
:
1:3
1:2
1:1

Memijah

Tidak Memijah

Dosis
/
2 cc
4 cc

Memijah

Tidak Memijah

3.2 Pembahasan
Praktikum kali ini menggunakan teknik hipofisasi yakni pemberian
ekstrak kelenjar hipofisa dari ikan donor (ikan mas) dengan cara disuntikkan ke ikan
resipien (ikan nilem). Teknik hipofisasi ini bertujuan untuk memacu terjadinya
ovulasi dan pemijahan pada ikan nilem yang telah disuntik dengan ekstrak kelenjar
hipofisis tersebut. Hasil percobaan yang dilakukan menyatakan bahwa pada ikan
resipien yang dilakukan penyuntikan, ikan tidak melakukan pemijahan setelah
dibiarkan selama beberapa jam. Hal tersebut tidak sesuai dengan pernyataan Kay
(1998), bahwa penyuntikan kelenjar hipofisis akan memberikan respon dan
menyebabkan ikan memijah antara 7-11 jam. Penyuntikan kelenjar hipofisis
digunakan untuk menghasilkan produksi telur dari rangsangan yang diberikan,
ovulasi, dan sinkronisasi sperma (Sirbu et al., 2009). Ikan yang sudah mengalami
ovulasi yang siap mengeluarkan telurnya, ikan menunjukkan gejala gelisah dan
sering bergerak ke arah permukaan air setelah itu akan bertelur (Sumantadinata,
1981).
Pemijahan sebagai salah satu bagian reproduksi merupakan mata rantai
daur hidup yang menentukan kelangsungan hidup spesies. Ikan berkembang biak
secara seksual, yaitu terjadinya persatuan sel telur ikan betina dan spermatozoa ikan
jantan. Faktor perangsang pemijahan terdiri dari faktor internal dan eksternal. Faktor
internal yang utama adalah kematangan gonad ikan, sedangkan faktor eksternal
merupakan lingkungan termasuk faktor fisika (cahaya, suhu, arus), faktor kimia (pH,
kelarutan oksigen, feromon), dan faktor biologis (adanya lawan jenis, dan hormon)
(Zairin et al., 2005).
Menurut

Sumantadinata

(1981),

ikan

tidak

berhasil

memijah

dimungkinkan oleh faktor lingkungan yang tidak kondusif sehingga ikan mengalami
stress dan hormon yang ada tidak dapat memberikan respon. Penyebab lainnya yaitu
teknik penyutikan yang kurang sempurna sehingga menghambat proses pemijahan
yang terjadi. Menurut Kakufu (1983), cara pengambilan ikan resipien jangan sampai
terjadi luka atau hilangnya sisik, hal ini dapat menyebabkan ikan tidak dapat
memijah walaupun telah diberi suntikan kelenjar hipofisa. Selain itu, ikan yang
belum memenuhi syarat juga dapat menjadi faktor kegagalan pemijahan.

Teknik penyuntikan pada hipofisasi dilakukan dengan arah 450 dan ujung
jarum masuk sekitar 1,5 cm pada tubuh ikan. Menurut Sumantadinata (1981), ada
tiga cara penyuntikan dalam hipofisasi, yaitu:
1. Intra muskular, dengan cara menyuntik lewat otot di bawah sirip dorsal ikan.
2. Intra peritonial, dengan cara menyuntikkan ke dalam rongga perut. Lokasi
penyuntikan di antara kedua sirip perut sebelah depan atau antara sirip dada
sebelah depan.
3. Intra cranial, dengan cara menyuntikkan lewat kepala. Suntikan ini dengan
memasukkan jarum injeksi ke dalam rongga otak melalui tulang occipitial pada
bagian yang tipis.
Terdapat beberapa cara pemijahan, yiatu pemijahan alami (natural
spawning), pemijahan semi buatan (induced spawning) dan pemijahan buatan
(induced/artificial breeding). Pemijahan alami dilakukan dengan cara memilih induk
jantan dan betina yang benar-benar matang gonad kemudian dipijahkan secara alami
di bak atau wadah pemijahan. Pemijahan semi buatan dilakukan dengan cara
merangsang induk betina dengan penyuntikan hormon perangsang kemudian
dipijahkan secara alami. Pemijahan buatan dilakukan dengan cara merangsang induk
betina dengan penyuntikkan hormon perangsang kemudian dipijahkan secara buatan.
Ikan melakukan reproduksi secara eksternal. Ikan jantan dan betina akan saling
mendekat satu sama lain kemudian ikan betina akan mengeluarkan telur, selanjutnya
ikan jantan akan segera mengeluarkan spermanya, kemudian sperma dan telur ini
bercampur di dalam air, agar ikan dapat memijah maka terdapat syarat yang harus
dipenuhi. Syarat ikan donor dan ikan resipien untuk memijah adalah ikan yang sudah
matang kelamin (Susanto, 1996).
Hipofisa adalah kelenjar endokrin yang terletak dalam cella tursica, yaitu
lekukan dalam tulang spenoid. Hormon yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisa ada
sembilan macam, yaitu: ACTH, TSH, FSH, LH, STH, MSH, Prolaktin, Vasopresin,
dan Oksitosin (Partodihardjo, 1987). Dua gonadotropins (GtH) yaitu folliclestimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH) merupakan hormon yang
menjadi kunci control endrokrin reproduksi vertebrata. Kedua hormone tersebut
heterodimer, glikoprotein berasosiasi secara nonkovalen yang terdiri dari subunit
dan subunit khusus. FSH dan LH dihasilkan di kelenjar pituari gonadotropi dan
ditransfer melalui pembuluh darah menuju gonad dimana hormon tersebut mengatur
tahapan pertumbuhan dan pematangan sel germinalis (Weltizien, et al., 2003). FSH
dan LH adalah dua hormon yang mempunyai daya kerja mengatur fungsi kelenjar

kelamin. FSH mempunyai daya kerja merangsang pertumbuhan folikel pada ovarium
dan pada testis memberikan rangsangan terhadap spermatogenesis. LH mempunyai
daya kerja merangsang ovulasi dan menguningkan folikel ovarium. Hormon ini
merangsang fungsi sel-sel interstisial pada testis serta mempertinggi atau
meningkatkan produksi hormon steroid, baik pada hewan betina maupun hewan
jantan (Oka, 2009).
Teknik hipofisasi telah memberikan manfaat yang besar terhadap
pembenihan, tetapi masih belum lepas dari berbagai masalah yang dihadapi seperti
dosis dan sumber kelenjar hipofisis. Efek dosis yang lebih tinggi terbukti akan
menyebabkan makin cepatnya masa laten pemijahan. Menurut Greene (1968), dosis
ekstrak hipofisis yang paling efektif adalah 0,5 ml untuk ikan betina dan 0,3 ml
untuk ikan jantan. Kemampuan ovulasi ikan sangat berkaitan dengan penggunaan
dosis yang efektif untuk tiap spesies (Muhammad et al,. 2003). Keberhasilan
reproduksi tergantung pada interaksi kompleks yang terjadi sepanjang sumbu
hipotalamus-hipofisis gonad. Pendekatan hormonal saat ini lebih layak untuk
induksi, sinkronisasi ovulasi dan pemijahan pada tempat penetasan (Zaki et al.,
2007).
Kelenjar hipofisa akan menghasilkan hormon yang berperan dalam
kegiatan seksual dan gonadotropin. Terdapat tiga macam hormon thyropin yang
berfungsi mengatur kerja tiroid dan gonadotropin yang dihasilkan oleh sel chianophil
yang terletak pars distalis, dan berperan dalam pematangan gonad dan mengawasi
sekresi hormon-hormon yang dihasilkan oleh gonad, dimana hormon tersebut
berperan dalam proses pemijahan. Hormon yang berperan dalam pemijahan menurut
Pickford (1957) adalah gonadotropin yaitu leuteinizing hormone (LH) dan foliclestimulating hormone (FSH). Hormon gonadotropin tersebut dihasilkan oleh kelenjar
adenohipofisa yang akan merangsang proses pemasakan ovulasi yang pada akhirnya
merangsang induk betina untuk memijah.
Mekanisme pemijahan dimulai dari ekstrak kelenjar hipofisis yang
disuntikkan akan menimbulkan rangsangan pada hipotalamus. Rangsangan dibawa
akson yang berakhir pada penonjolan tengah di dasar ventral ketiga hipotalamus.
Hormon FSH dan LH bekerja merangsang perkembangan gonad dan merangsang
ovulasi. FSH dan LH juga merangsang perkembangan fungsi testis. FSH
meningkatkan ukuran saluran semini ferus dan LH merangsang sel intestinum dari
testis untuk memproduksi hormon kelamin jantan (Ville et al., 1988). Ovaprim
merupakan suplemen peptida dalam bentuk formulasi konsentrasi yang dapat

digunakan pada setiap ukuran ikan. Ovaprim mengandung analog dari GnRH salmon
yaitu peptida asli yang terdapat paling banyak pada ikan teleostei (bertulang
belakang) serta mengandung anti dopamin yang dibutuhkan pada banyak jenis ikan
budidaya. Ovaprim akan mulai merangsang pematangan dengan segera setelah
penyuntikan untuk hasil yang cepat (Arfah, et al., 2006)
Tanda-tanda ikan yang sudah mengalami ovulasi dan siap dikeluarkan
telurnya yaitu ikan terlihat gelisah, sering muncul di permukaan air dan ikan jantan
sering berpasangan dengan ikan betina. Ciri-ciri betina yang sudah masak kelamin di
antaranya perut mengembung, lubang genital kemerahan, perut lembek. Ciri ikan
jantan yang telah masak kelamin diantaranya umur telah mencapai 1 tahun, warna
tubuh agak kemerah-merahan, alat kelamin tampak jelas meruncing tubuh tetap
ramping, gerakannya lebih lincah, dan apabila perut di stripping akan keluar cairan
putih seperti susu (milt) (Ville et al., 1988).
Syarat ikan donor yaitu ikan harus dalam keadaan menghasilkan hormon
gonadotropin yang aktif, sehat, lebih baik bersifat donor universal, dan sudah matang
kelamin. Syarat ikan resipien yaitu induk yang matang kelamin dan tidak cacat. Ikan
donor dan resipien yang berlainan jenis namun masih dalam satu famili dapat
dilakukan teknik hipofisasi, untuk itu donor harus dua kali lebih berat dari
resipiennya (Hardjamulia, 1980).
Secara visual, induk betina yang telah matang gonad ditandai dengan
perut yang membesar dan lembek. Perbedaan waktu ovulasi yang berbeda
dimungkinkan karena adanya perbedaan kualitas masing-masing individu seperti
tingkat kematangan , kesehatan, sdan stress yang dialami ikan. Hal-hal tersebut
sangat mempengaruhi respon ikan terhadap rangsangan yang diberikan. Secara
alami, proses ovulasi dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti suhu air, cahaya,
kandungan oksigen terlarut dan keberadaan lawan jenisnya (Arfah et al., 2006).
Rangsangan dari syaraf pusat akan dihantarkan ke hipotalamus dan akan
mengeluarkan GnRH yang akan merangsang sistem syaraf pusat untuk meneruskan
rangsang ke sel-sel gonadotropin yang berada dalam sistem hormon tersebut.
Rangsangan ini akan merangsang gonad untuk menghasilkan hormon gonadotropin
yang dibutuhkan dalam proses pemijahan (Bond, 1979).
Percobaan dilakukan pada pukul 20.00 WIB dan diamati hasilnya pada
pukul 07.00 WIB. Hasil percobaan yang dilakukan menyatakan bahwa tidak terjadi
pemijahan setelah diinkubasi selama 11 jam. Hal tersebut tidak sesuai dengan
pernyataan Soekamsipoetro (1987) bahwa dengan melakukan teknik hipofisasi pada

ikan nilem, pemijahan akan terjadi pada rentang waktu 6-14 jam setelah masa
penyuntikan. Induk-induk ikan yang benar-benar matang kelamin akan memijah
secara alami dalam waktu kurang dari 24 jam setelah ikan diletakkan dalam bak
pemijah. Hal ini mungkin karena ikan mengalami stress, sisik ikan yang terkelupas
dan posisi jarum yang tidak pas berpotensi memicu stress pada ikan. Selain itu,
penyebab lain yang berpotensi yaitu penyuntikan kelenjar hipofisa yang tidak
seluruhnya masuk ke dalam tubuh ikan ketika ikan terus bergerak saat dilakukan
penyuntikan. Waktu penyuntikan dan kualitas air yang kurang sesuai bagi ikan juga
dapat memicu stress. Dosis kelenjar hipofisa yang diberikan pada ikan resipien untuk
kelompok 4 adalah 2 cc untuk 1 betina dan 1 jantan. Seluruh kelompok dengan dosis
kelenjar hipofisa yang berbeda-beda, namun tidak ada satupun yang berhasil
memijah. Hal ini sesuai dengan pernyataan Pickford (1957) bahwa pemberian dosis
yang kurang tepat dapat mempengaruhi kecepatan ikan dalam memijah, ini berarti
agar ikan tersebut memijah dalam waktu yang relatif cepat diperlukan dosis yang
tepat sesuai dengan kebutuhan.

IV. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil praktikum efek hormonal pada
ovulasi dan pemijahan ikan adalah sebagai berikut:
1. Ovulasi pada ikan dapat diransang melalui teknik hipofisasi.
2. Teknik hipofisasi yang dilakukan gagal karena ikan yang telah disuntik dengan

kelenjar hipofisis tidak mengalami pemijahan.

DAFTAR REFERENSI
Arfah, H., Maftucha, L., dan O. Carman. 2006. Pemijahan Secara Buatan pada Ikan
Gurame (Osphronemus gouramy) Lac. Dengan Penyuntikan Ovaprim. Jurnal
Akuakultur Indonesia, 5(2): 103-112.
Bond, C.E. 1979. Biology of Fishes. WB Soundary Company, Phyladelphia.
Greene, G. H. 1968. Reproduction Control Factor in Cyprin Fish. Brachidonioresio
Droct Fao Word Synaton Warm Pond Fish Culture.
Hardjamulia, A. 1980. Pembenihan Ikan dengan Teknik Hipofisasi. Balai Penelitian
Perikanan Darat, Bogor.
Kakufu, T. and Ikonwe, H. 1983. Hormone Injection For Artificial Spawrin Modern
Metode of Agriculture In Japan. Konshasha Ltd, Jepang.
Kay, I. 1998. Introduction to Animal Physiology. Bios Scientific Publisher Ltd,
Canada.
Muhammad, Hamzah Sunusi, dan Irfan Ambas. 2003. Pengaruh Donor dan Dosis
Kelenjar Hipofisa terhadap Ovulasi dan Daya Tetas Telur Ikan Betok (Anabas
testudineus Bloch). Jurnal Unhas, Vol.3 No.3: 87-94 ISSN 1411-467487.
Najmiyati., E, Lisyastuti., E, dan Hedianto., Y.E. 2006. Biopotensi Kelenjar Hipofisis
Ikan Patin (Pangasius pangasius) Setelah Penyimpanan Kering Selama 0,1, 2,
3 dan 4 Bulan. J. Tek. Ling, 7(3):311-316.
Oka, A.A. 2009. Penggunaan Ekstrak Hipofisa Ternak untuk Merangsang Spermiasi
pada Ikan (Cyprinus carpio L.). Jurusan Produksi Ternak Fakultas Peternakan
Universitas Udayana, Denpasar.
Partodihardjo, S. 1987. Ilmu Reproduksi Hewan. Mutiara, Jakarta.
Pickford, A. 1957. General Zoology Calude. The Mac Millan Publishing Company,
New York
Sirbu, A., Stancioiu, S., Cristea V., and Docan, A. 2009. Results Concerning the Use
of the Neristin Synthetic Hormone in the Artificial Reproduction of the
Hypophthalmychtys Molitrix (Val) Species. Department of Aquaculture,
Environment Science and Cadastre, Faculty of Food Science and Engineering,
Romania.
Soekamsipoetro, S.
Purwokerto.

1987.

Budidaya Ikan Nilem.

Dinas Perikanan UNBAD,

Sumantadinata, K. 1981. Pengembangan Ikan-ikan Peliharaan di Indonesia. Sastra


Budaya, Bogor.
Susanto, H. 1995. Budidaya Ikan. Kanisius, Jakarta.
Ville, C. A., W. F Walker, and R. D Barnes. 1988. Zoologi Umum. Erlangga,
Jakarta.
Weltzien, F.A., Norberg, B. Swanson, P. 2002. Isolation and characterization of FSH
and LH from pituitary glands of Atlantic halibut (Hippoglossus hippoglossus
L.). General and Comparative Endocrinology, 131: 97-105.

Zairin, Jr. M., Yustikasari, Y., dan H. Arfah. 2005. Pengaruh Penyuntikan Ekstrak
Jahe Terhadap Perkembangan Diameter Dan Posisi Inti Sel Telur Ikan Lele
Sangkuriang (Clarias sp.) Jurnal Akuakultur Indonesia, 4 (2): 189193.
Zaki. M.I., Aziz, F.K, and M. El-G. El-Absawy. 2007. Induce Spawning and Larval
Rearing of Gilthead Sea Bream (sparus aurata) Collected from Fish Farms,
Egypt. National Institut of Oceanography and Fisheries. Egyptian Journal Of
Aquatic Research. Vol. 33 no. 1, 2007: 418-433.