Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Status kesehatan ibu hamil sangat berpengaruh terhadap masa depan kesejahteraan janin
dan merupakan suatu cerminan dari keadaan janin yang aktual. Status kesehatan dipengaruhi
oleh berbagai faktor yang tidak semua ibu mengetahuinya. Bukan hanya faktor fisik ibu yang
dapat dinilai dengan status kesehatan, melainkan juga sehat dalam arti ibu tidak merasa terpaksa
mempersiapkan segala sesuatu untuk kehamilannya (faktor sosial budaya dan ekonomi). Dengan
begitu sangat perlu bagi para tenaga kesehatan untuk memahami seluruh kebutuhan ibu dalam
masa antenatal, intranatal dan postnatal yang akan sangat menunjang proses persalinan nanti.
Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Faktor fisik apa saja yang memengaruhi masa kehamilan?
2. Seberapa besar pengaruh faktor fisik dalam menjaga kehamilan?
3. Apa saja yang memengaruhi status kesehatan ibu hamil?
4. Bagaimana faktor fisik memengaruhi kesehatan ibu hamil?
Tujuan
Adapun tujuan disusunnya makalah ini adalah sebagai berikut:

1.
2.
3.
4.

Mengetahui faktor-faktor fisik apa saja yang memengaruhi kehamilan


Mengetahui seberapa besar pengaruh faktor-faktor fisik dalam menjaga kehamilan
Mengetahui apa saja yang memengaruhi status kesehatan ibu hamil
Mengetahui pengaruh faktor fisik terhadap kesehatan ibu hamil

BAB II
PEMBAHASAN
Asuhan Kebidanan I | 1

Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Kehamilan


1

Faktor fisik
Ada tiga faktor yang mempengaruhi kehamilan, yaitu faktor fisik, faktor psikologis dan

factor lingkungan sosial, budaya dan ekonomi.


Faktor fisik seorang ibu hamil dipengaruhi oleh status kesehatan, status gizi, gaya hidup
ibu tersebut.
1.1 Status kesehatan
Status kesehatan dapat diketahui dengan memeriksakan diri dan kehamilannya ke
pelayanan kesehatan terdekat, puskesmas, rumah bersalin, atau poliklinik kebidanan. Adapun
tujuan dari pemeriksaan kehamilan yang disebut dengan Ante Natal Care (ANC) tersebut adalah:

Memantau kemajuan kehamilan. Dengan demikian kesehatan ibu dan janin pun dapat

dipastikan keadaannya.

Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik dan mental ibu, karena dalam melakukan

pemeriksaan kehamilan, petugas kesehatan (bidan atau dokter) akan selalu memberikan saran dan
informasi yang sangat berguna bagi ibu dan janinnya.

Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama

kehamilan dengan melakukan pemeriksaan pada ibu hamil dan janinnya.

Mempersiapkan ibu agar dapat melahirkan dengan selamat. Dengan mengenali kelainan secara

dini, memberikan informasi yang tepat tentang kehamilan dan persalinan pada ibu hamil, maka
persalinan diharapkan dapat berjalan dengan lancar, seperti yang diharapkan semua pihak

Mempersiapkan agar masa nifas berjalan normal. Jika kehamilan dan persalinan dapat berjalan

dengan lancar, maka diharapkan masa nifas pun dapar berjalan dengan lancar.

Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima bayi. Bahwa salah satu faktor

kesiapan dalam menerima bayi adalah jika ibu dalam keadaan sehat setelah melahirkan tanpa
kekurangan suatu apa pun.
Karena manfaat memeriksakan kehamilan sangat besar, maka dianjurkan kepada ibu hamil
untuk memeriksakan kehamilannya secara rutin di tempat pelayanan kesehatan terdekat.

Asuhan Kebidanan I | 2

1.

Kehamilan pada usia tua


a.
Segi negatif kehamilan di usia tua

Kondisi fisik ibu hamil dengan usia lebih dari 35 tahun akan sangat menentukan proses

kelahirannya. Hal ini pun turut mempengaruhi kondisi janin.


Pada proses pembuahan kualitas sel telur wanita usia ini sudah menurun, jika dibandingkan
dengan sel telur pada wanita dengan usia reproduksi sehat ( 25 30 tahun ). Jika pada proses
pembuahan, ibu mengalami gangguan sehingga menyebabkan terjadinya gangguan
pertumbuhan dan perkembangan buah kehamilan, maka kemungkinan akan menyebabkan
terjadinya Intra Uterine Growth Retardation ( IUGR ) yang berakibat Bayi Berat Lahir

Rendah ( BBLR ).
Kontraksi uterus juga sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik ibu. Jika ibu mengalami
penurunan kondisi, terlebih pada primitua ( hamil pertama dengan usia ibu lebih dari 40
tahun ) maka keadaan ini harus benar benar diwaspadai.

b.

Segi positif hamil di usia tua

2.

Kepuasan peran sebagai ibu.


Merasa lebih siap.
Pengetahuan mengenai perawatan kehamilan dan bayi lebih baik.
Rutin melakukan pemeriksaan kehamilan.
Mampu mengambil keputusan.
Karier baik, status ekonomi lebih baik.
Perkembangan intelektual anak lebih tinggi.
Periode menyusui lebih lama.
Toleransi pada kelahiran lebih besar.

Kehamilan multipel
Pada kasus kehamilan multipel ( kelahiran lebih dari satu janin ) biasanya kondisi ibu
lemah. Ini disebabkan oleh adanya beban ganda yang harus ditangguang, baik dari pemenuhan
nutrisi, oksigen dan lain lain. Biasanya kehamilan multipel mengindikasikan adanya beberapa
penyulit pada proses persalinannya. Sehingga persalinan operatif ( section caesaria - SC ) lebih
dipertimbangkan. Selain itu resiko adanya kematian dan cacat harus juga dipertimbangkan.
Ketika bayi sudah lahir kemungkinan ketegangan dalam merawat bayi akan terjadi, karena ibu
harus berkonsentrasi dua kali lipat dari pada bayi tunggal. Namun adanya keunikan keunikan
akan membawa kebahagiaan tersendiri bagi keluarga.

Asuhan Kebidanan I | 3

3.

Kehamilan dengan HIV


Pada kehamilan dengan ibu yang mengidap HIV, janin akan menjadi sangat rentan
terhadap penularan selama proses kehamilannya. Virus HIV kemungkinan besar akan ditransfer
melalui plasenta ke dalam tubuh bayi.
Para penderita HIV dalam proses perjalanan penyakitnya akan mengalami penurunan
kondisi tubuh jika tidak mendapatkan penanganan dan pemantauan yang adekuat dari tenaga
kesehatan. Terlebih pada penderita HIV yang sedang menjalani proses kehamilan, karena pada
kondisi tersebut banyak terjadi perubahan pada system tubuhnya.
Selain adanya pengaruh fisik terhadap ibu dn bayi, hal lain yang tak kalah pentingnya dan
harus dipertimbangkan oleh tenaga kesehatan ketika memberikan asuhan adalah kondisi
psikologis ibu. Pada ibu hamil dengan HIV akan mengalami kehilangan, cemas dan dipresi,
dilemma serta khawatir dengan kesehatan bayinya.

1.2 Status gizi


Status gizi ibu hamil adalah masa dimana seseorang wanita memerlukan berbagai unsur
gizi yang jauh lebih banyak daripada yang diperlukan dalam keadaan tidak hamil. Diketahui
bahwa janin membutuhkan zat-zat gizi dan hanya ibu yang dapat memberikannya. Dengan
demikian makanan ibu hamil harus cukup bergizi agar janin yang dikandungnya memperoleh
makanan bergizi cukup. Selain itu status gizi ibu hamil juga merupakan hal yang sangat
berpengaruh selama masa kehamilan. Kekurangan gizi tentu saja akan menyebabkan akibat yang
buruk bagi si ibu dan janinnya. Ibu dapat menderita anemia, sehingga suplai darah yang
mengantarkan oksigen dan makanan pada janinnya akan terhambat, sehingga janin akan
mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Di lain pihak kelebihan gizi pun ternyata
dapat berdampak yang tidak baik juga terhadap ibu dan janin. Janin akan tumbuh besar melebihi
berat normal, sehingga ibu akan kesulitan saat proses persalinan.
Yang harus diperhatikan adalah ibu hamil harus banyak mengkonsumsi makanan kaya
serat, protein (tidak harus selalu protein hewani seperti daging atau ikan, protein nabati seperti
tahu, tempe sangat baik untuk dikonsumsi) banyak minum air putih dan mengurangi garam atau
makanan yang terlalu asin.
Kebutuhan zat gizi pada ibu hamil secara garis besar adalah sebagai berikut:
Asuhan Kebidanan I | 4

1)

Asam folat
Asam folat adalah bagian dari vitamin B kompleks yang dapat diisolasi dari daun hijau (seperti
bayam), buah segar, kulit, hati, ginjal, dan jamur. Asam folat disebut juga dengan folacin/liver
lactobacillus cosil faktor/faktor U dan faktor R atau vitamin B11. Kebutuhan akan folic acid
sampai 50-100 mg/hari pada wanita normal dan 300-400 mg/hari pada wanita hamil sedangkan
hamil kembar lebih besar lagi..
Kekurangan asam folat menyebabkan gangguan plasenta, abortus habitualis, solusio plasenta,
dan kelainan kongenital pada janin.
Pemberian asam folat diberikan pada masa perikontrasepsi, satu bulan sebelum konsepsi dan 1
bulan post konsepsi, karena neural tube manusia menutup pada minggu ketiga post konsepsi.
Minimal pemberian suplemen asam folat yang dimulai 2 bulan sebelum konsepsi dan belanjut
hingga 3 bulan pertama kehamilan. Dosis pemberian asam folat untuk preventif adalah 500
mikrogram, sedangkan untuk kelompok dengan faktor resiko adalah 4 mg/hari.

2)

Energi
Diet pada ibu hamil tidak hanya difokuskan pada tinggi protein saja tetapi pada susunan gizi
seimbang energi dan juga protein.Hal ini juga efektif unutk menurunkan kejadian BBLR dan
kematian perinatal. Kebutuhan energi ibu hamil adalah 285 kalori untuk proses tumbuh kembang
janin dan perubahan pada tubuh ibu.

3)

Pembentukan jaringan dari janin dan tubuh ibu dibutuhkan protein sebesar 910 gran dalam 6
bulan terakhir kehamilan dibutuhkan tambahan 12 gram protein sehari untuk ibu hamil

4)

Zat besi (FE)


Pemberian suplemen tablet tambah darah atau zat besi secara rutin adalah untuk membangun
cadangan besi, sintesa sel darah merah, dan sintesa darah otot. Setiap tablet besi mengandung
FeSO4 320 mg ( zat besi 30 mg ), minimal 90 tablet perhari.

5)

Kalsium
Untuk pembentukan dan tulang gigi bayi, kebutuhan kalsium ibu hamil adalah sebesar 500 mg
perhari.

6)

Pemberian suplemen vitamin D terutama pada kelompok berisiko penyakit menular seksual
dan di negara dengan musim dingin yang panjang.

7)

Pemberian yodium pada daerah yang endemik kretinisme.


Asuhan Kebidanan I | 5

8)

Tidak ada rekomendasi rutin untuk pemberian Zinc, Magnesium, dan minyak ikan selama
hamil.
Perbandingan kebutuhan gizi wanita normal dan hamil
Makanan
Kalori (kal)
Protein (gram)
Kalsium (gram)
Feerum (Fe) (mg)
Vitamin A (IU)
Vitamin B (mg)
Vitamin C (mg)
Vitamin D (SI)
Riboflavin
Asam Nikotin

Ibu Normal
2.500
60
0,8
12
5.000
1,5
70
2,2
15

Ibu Hamil
2.780
72
1,5
15
5.200
1,7
80
2,5
18
600

Kenaikan berat badan selama hamil adalah 10-20 kg atau 20% dari berat badan ideal \
sebelum hamil. Proporsi kenaikan berat badan selama hamil adalah sebagai berikut:
Usia Kehamilan Kenaikan Berat Badan
Trimester I
1 kg

Faktor Kenaikan Berat Badan


Hampir
seluruhnya
merupakan

Trimester II

kenaikan berat badan ibu.


3 kg atau 0.3 kg/60%
dikarenaka
pertumbuhan

Trimester III

minggu
jaringan pada ibu.
6 kg atau 0,3-0,5 kg/60%
dikarenakan
minggu

pertumbuhan

jaringan janin. Timbunan lemak pada


ibu 3 kg.

Penilaian Status Gizi:


1)

Berat badan dilihat dari Quetelet atau body mass index.


Ibu hamil dengan berat badan dibawah normal sering dihubungkan dengan abnormalitas
kehamilan, berat badan lahir rendah.Indikator untuk penilaian indexs masa tubuh adalah:
Nilai IMT
Kurang dari 20
20-24,9 kg
25-29,9
Over 30

Kategori
Underweight/ dibawah normal
Desirable/ normal
Moderate obesity/ gemuk/ lebih dari normal
Severe obesity/ sangat gemuk
Asuhan Kebidanan I | 6

2)

Ukuran lingkar lengan atas ( LILA)


Standar minimal untuk lengan atas pada wanita dewasa adalah atau usia reproduksi adalah 23,5
cm. Jika ukuran LILA kurang dari 23,5 maka interprestasinya adalah kurang energi kronis.

3)

Kadar hemoglobin
Kurang gizi pada ibu hamil
Bila ibu mengetahui kurang gizi pada kehamilannya maka akan menimbulkan masalah
baik pada ibu hamil atau pada janin:

1)

Terhadap ibu
Kekuurangan gizi pada ibu hamil dapat menyebabkan resiko dan komplikasi antara lain:
perdarahan, anemia dan lain-lain

2)

Terhadap persalinan
Pengaruh kekurangan gizi terhadap proses persalinan dapat mengakibatkan persalinan sulit dan
lama, persalinan sebelum waktunya ( premature), perdarahan setelah persalinan serta persalinan
dengan operasi cenderung meningkat.

3)

Tehadap janin
Kekurangan gizi pada ibu hamil dapat mempengaruhi proses pertumbuhan janin dan dapt
menimbulkan keguguran, abortus, bayi lahir mati, kematian neonatal.
1.3 Gaya Hidup
Saat kehamilan menuntut ibu untuk mengurangi semua kegiatan yang emlelahkan. Ibu
hamil harus mempertimbangkan gaya hidup yang mempengaruhi kesehatannya sendiri maupun
kesehatan bayinya, seperti kebiasaan tidur malam, kegiatan sosial yang menyibukan, kegiatan
menghadiri pesta dalam ruangan yang penuh asap rokok, kebiasaan minum-minuman keras dan
lain-lain.
Kebiasaan/gaya hidup yang harus dikurangi/dihilangkan, antara lain :

Obat-obatan dan medikasi

Asuhan Kebidanan I | 7

Pemakaian sebelum kehamilan atas petunjuk dokter/bidan dapat diteruskan


apabila dokter/bidan mengetahui jenis obat yang diminum

Kepada ibu hamil harus memakai obat atas resep atau petunjuk dokter

Sebagian besar obat akan melintasi sawar plasenta yang dapat membahayakan
janin (stadium perkembangan dini)

Perokok

Ibu hamil yang merokok lebih dari 10 batang/hari memiliki insidensi abortus, kematian perinatal
dan retardasi pertumbuhan intra uterine yang lebih tinggi. Dimana nikotin yang terkandung
dalam rokok dapat mengakibatkan efek vasokontriksi kuat dan meningkatkan tekanan darah,
frekuensi jantung, peningkatan epinefrin dan CO2 (meningkatkan resiko kasus terjadinya abortus
spontan, plasenta abnormal, pre eklampsia, eklampsia, BBLR)

Kafein

Menyebabkan peningkatan frekuensi dan ritme jantung, sulit tidur, iritabilitas, gugup dan
ansietas (kecemasan). Pada janin dapat menyebabkan takikardi (denyut jantung janin melebihi
batas normal/terlalu cepat)

Minum alkohol : menekan sistem syaraf pusat, abortus spontan, kekurangan nutrisi dan
terjadinya fetal alkohol syndrome

Menggunakan obat bius hipotensi, efek hampir sama dengan alkohol

Pantangan makan sesuatu (adat kebiasaan)

Pakaian : nyaman, menyerap keringat, longgar, sepatu berhak rendah dan nyaman

Hamil diluar nikah

Kehamilan diluar nikah dapat menyebabkan terjadinya perubahan prilaku (tindakan aborsi)
sehingga harus segera dinikahkan

Kehamilan yang tidak diharapkan


Asuhan Kebidanan I | 8

Remaja wanita merupakan populasi resiko tinggi terhadap komplikasi dalam


kehamilan

Penyulit terjadi karena inadekuatnya nutrisi, perawatan antenatal yang minimal,


terlambatnya penanganan oleh tenaga medis

Meningkatnya mortalitas perinatal dan morbiditas maternal pada kehamilan


remaja

Remaja telah matang seksual tetapi tidak matang secara emoisional dan sosial

Perawatan bayi diserahkan kepada orang lain

1.4 Stressor internal dan eksternal


Stressor internal

Penerimaan terhadap kehamilannya

Kesiapan menghadapi kehamilan

Body image

Stressor eksternal

Dukungan suami

Dukungan keluarga

Dukungan tenaga kesehatan

1.5 Kebiasaan adat istiadat


Persepsi tentang kehamilan berbeda-beda menurut adat-istiadat daerah masing-masing.
Kebiasaan/mitos tersebut dapat mempengaruhi psikologi ibu (cemas dan khawatir), misalnya
bumil dilarang makan strawberry karena tubuh bayi akan berbintik, menggeliat karena bayi akan
terlilit tali pusat dan lain-lain.
1.6 Fasilitas Kesehatan
Asuhan Kebidanan I | 9

Fasilitas kesehatan berkaitan dengan sistem penggunaan pelayanan kesehatan. Tipe-tipe


penggunaan pelayanan kesehatan dibawah ini terdiri dari :

Model demografi (kependudukan)

Indikator psikologis yang berbeda umur, seks, status perkawinan dan besar keluarga

Model struktur sosial

Adalah pendidikan, pekerjaan dan suku bangsa. Suku bangsa, pekerjaan, pendidikan, yang
berbeda-beda mempunyai kecenderungan yang tidak sama terhadap kesehatan mereka

Model sosio psikologis

Yang dipakai sebagai ukuran adalah sikap dan keyakinan individu, misalnya : ditandai kegagalan
seseorang atau masyarakat untuk menerima usaha-usaha pencegahan dan penyembuhan penyakit
yang dilakukan oleh provider

Model sumber keluarga

Ukuran yang dipakai adalah pendapatan keluarga, cakupan asuransi keluarga sebagai anggota
kesehatan dan pihak yang membiayai pelayanan kesehatan keluarga

Model sumber daya masyarakat

Ukuran yang digunakan adalah penyediaan pelayanan kesehatan dan sumber-sumber didalam
masyarakat, dan keterapaian dari pelayanan kesehatan yang tersedia dan sumber-sumber didalam
masyarakat

Model-model organisme

Dalam model ini yang digunakan adalah :


Asuhan Kebidanan I | 10

Gaya (style) praktek pengobatan (sendiri atau kelompok)

Sifat dari pelayanan tersebut (membayar langsung atau tidak)

Letak dari pelayanan kesehatan (tempat pribadi, RS, klinik)

Petugas kesehatan yang pertama kali kontak dengan pasien (dokter, perawat, bidan dan
lain-lain.

2. Faktor psikologis
2.1 Stresor internal dan stersor eksternal
Stressor adalah stress yang terjadi pada ibu hamil dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan
janin. Janin dapat mengalami keterhambatan perkembangan atau gangguan emosi saat lahir nanti
jika stress pada ibu tidak tertangani dengan baik.
Stresor internal
Meliputi faktor faktor pemicu stres ibu hamil yang berasal dari diri ibu sendiri. Adanya
beban psikologis yang ditanggung oleh ibu dapat menyebabkan gangguan perkembangan bayi
yang nantinya akan terlihat ketika bayi lahir. Anak akan tumbuh menjadi seseorang dengan
kepribadian tidak baik, bergantung pada kondisi stres

yang dialami oleh ibunya, seperti anak

yang menjadi seorang dengan kepribadian temperamental, autis, orang yang terlalu rendah diri
( minder ). Ini tentu saja tidak kita harapkan. Oleh karena, itu pemantauan kesehatan psikologis
pasien sangat perlu dilakukan.
Penerimaan terhadap kehamilannya
Kesiapan menghadapi kehamilan
Body image
Stresor eksternal
Pemicu stress yang bersala dari luar, bentuknya sangat bervariasi. Misalnya masalah
ekonomi, konflik keluarga, pertengkaran dengan suami, tekanan dari lingkungan ( respon
negative dari lingkungan pada kehamilan lebih dari 5 kali ), dan masih banyak kasus lainnya.
1. Dukungan suami
Asuhan Kebidanan I | 11

2. Dukungan keluarga
3. Dukungan tenaga kesehatan
2.2 Suport keluarga
Setiap tahap usia kehamilan, ibu akan mengalami perubahan baik yang bersifat
fisikmaupun psikologis. Ibu harus melakukan adaptasi pada setiap perubahan yang terjadi,
dimana sumber stress terbesar terjadi karena dalam rangka melakukan adaptasi terhadap kondisi
tertentu.
Peran keluarga bagi ibu hamil sangatlah penting, psikologis ibu hamil yang cenderung
lebih labil dari pada wanita yang tidak hamil memerlukan banyak dukungan dari keluarga
terutama suami. Misalnya pada kasus penentuan jenis kelamin dimana keluarga menginginkan
jenis kelamin tertentu ibu hamil tersebut akan merasa cemas jika nantinya anaknya lahir dengan
jenis kelamin yang tidak sesuai dengan harapan atau mengalami kecacatan fisik dan mental.
Keluarga juga harus membantu dan mendampingi ibu dalam mengahdapi keluhan yang muncuk
selama kehamilan agar ibu tidak merasa sendirian. Kecemasan ibu yang berlanjut akan
mempengaruhi ibu dalam hal nafsu makan yang menurun, kelemahan fisik, mual muntah yang
berlebihan.
Dalam menjalani proses itu, ibu hamil sangat membutuhkan dukungan yang intensif dari
keluarga dengan cara menunjukan perhatian dan kasih sayang.
2.3 Subtance abuse
Kekerasan yang dialami oleh ibu hamil di masa kecil akan sangat membekas dan
mempengaruhi kepribadian. Ini perlu kita berikan perhatian karena pada pasien yang mengalami
riwayat ini, tenaga kesehatan harus lebih maksimal dalam menempatkan dirinya sebagai teman
atau pendamping yang dapat yang dijadikan tempat bersandar bagi pasien dalam masalah
kesehatan. Pasien dengan riwayat ini biasanya tumbuh dengan kepribadian yang tertutup.
Wanita yang memakai obat obatan tetap memprioritaskan lagar dunia mereka tetap aman.
Mereka merahasiakannya, mengurangi jumlah pemakaiannya, dan mengambil sikap agresif
terutama bila mereka memandang tenaga kesehatan sebagai penghambat. Jika ibu tetap
menggunakan obat obatan setelah bayi lahir, resiko pada bayi akan berlanjut. Bukan saja bayi
lahir rentan secara biologis, tetapi mereka juga harus menghadapi ibu yang memeiliki masalah
kesehatan dan emosional. Wanita ini dicurigai tidak mampu memelihara hubungan dan mungkin
Asuhan Kebidanan I | 12

tidak mampu merespons terhadap kebutuhan bayi, terutama jika mereka menerima bayi yang
secara medis rapuh setelah dirawat dirumah sakit dalam jangka waktu lama.
Banyak wanita, yang secara kimiawi kecanduan merasa bersalah karena menggunakan
obat-obatan dan takut kalau bayi mereka akan diambil. Dengan persepsi yang mereka miliki
bahwa dengan pemakaian obat dan alkohol pada wanita hamil dapat mengubah kehidupan
mereka. Hal ini berarti memberi suatu kehidupan yang utuh kepada ibu dan bayinya dan
mencegah bayi mengalami keterlambatan perkembangan, retardasi, atau bahkan kematian.
2.4 Partner abuse
Hasil penelitian menunjukan bahawa korban kekerasan terhadap perempuan adalah wanita
yang telah bersuami. Setiap bentuk kekerasan yang dilakukan oleh pasangan harus selalu
diwaspadai oleh tenaga kesehatan jangan sampai kekerasan yang terjadi akan membahayakan ibu
dan bayinya. Efek psikologis yang muncul adalah gangguan rasa aman dan nyaman pada pasien.
Sewaktu waktu pasien akan mengalami perasaan terancam yang akan berpengaruh terhadap
pertumbuhan dan perkembangan janinnya.
Kekerasan dapat terjadi baik secara fisik, psikis, ataupun sexual sehingga dapat terjadi rasa
nyeri dan trauma. Di USG kekerasan yang terjadi sekitar 7 11 % dari wanita yang hamil. Efek
kekerasan pada ibu hamil bisa dalam bentuk langsung maupun tidak langsung, yang langsung
antara lain: trauma dan kerusakan fisik pada ibu dan bayinya misalnya solutio plasenta, fraktur
tulang, ruptur uteri dan perdarahan. Sedangkan efek yang tidak langsung adalah reaksi
emosional, peningkatan kecemasan, depresi, rentan terhadap penyakit. Trauma pada kehamilan
juga dapat menyebabkan nafsu makan yang menurun dan peningkatan frekuensi merokok serta
meminum alkohol.
Bullock & Mc. Failane (1989), menemukan privalensi yang meningkat bayi dengan BBLR
pada ibu yang mengalami kekerasan selama hamil. Kebanyakan wanita hamil yang mengalami
kekerasan adalah karena pendidikan yang rendah, umur yang terhitung masih muda dan hamil
diluar nikah.
3

Faktor lingkungan, sosial, budaya dan ekonomi

3.1 Kebiasaan adat istiadat

Asuhan Kebidanan I | 13

Ada beberapa kebiasaan adat istiadat yang merugikan kesehatan ibu hamil. Tenaga
kesehatan harus dapat menyikapi hal ini dengan bijaksana, jangan sampai menyinggung
kearifan lokal yang sudah berlaku di daerah tersebut.
Persepsi tentang kehamilan berbeda-beda menurut adat-istiadat daerah masing-masing.
Kebiasaan/mitos tersebut dapat mempengaruhi psikologi ibu (cemas dan khawatir), misalnya
bumil dilarang makan strawberry karena tubuh bayi akan berbintik, menggeliat karena bayi akan
terlilit tali pusat dan lain-lain.
Terbentuknya janin dan kelahiran bayi merupakan suatu fenomena yang wajar dalam
kelangsungan

kehidupan

manusia,

namun

berbagai

kelompok

masyarakat

dengan

kebudayaannya diseluruh dunia memiliki aneka persepsi, interpretasi, dan respon dalam
mengahadapinya. Proses pembentukan janin hingga kelahiran bayi serta pengaruhnya terhadap
kondisi kesehatan ibunya perlu dilihat dalam aspek biopsikokulturalnya sebagai suatu kesatuan
bukan hanya dilihat semata dari aspek biologis dan fisiologisnya.
Tiap perpindahan dari satu tahapan kehidupan kepada tahapan kehidupan yang lainnya
merupakan suatu masa krisis yang gawat atau membahayakan baik bersifat nyata ataupun tidak
nyata sehingga diadakan serangkaian upacara bagi wanita hamil untuk mencari keselamatan bagi
diri wanita serta bayinya. Contoh di Jawa : ada mitoni, procotan dan brokohan, sepasaran,
selapanan.
Berbagai kebudayaan percaya akan hubungan asosiatif antara suatu bahan makanan
menurut bentuk atas sifatnya dengan akibat buruk yang ditimbulkannya sehingga menimbulkan
kepercayaan untuk memantang jenis makanan yang dianggap dapat membahayakan kondisi ibu
atau janin yang dikandungnya.
Penyampaian mengenai pengaruh adat daapat melalui berbagai teknik, misalnya melalui
media massa, pendekatan tokoh masyarakat, dan penyuluhan yang menggunakan media efektif.
Namun, tenga kesehatan juga tidak boleh mengesampingkan adanya kebiasaan yang sebenarnya
menguntungkan bagi kesehatan. Jika kita menemukan adanya adat yang sama sekali tidak
berpengaruh buruk terhadap kesehatan, tidak ada salahnya jika memberikan respons yang positif
dalam rangka menjalin hubungan yang sinergis dengan masyarakat.
3.2 Fasilitas kesehatan

Asuhan Kebidanan I | 14

Adanya falitas kesehatan yang memadai akan sangat menentukan kualitas pelayanan
kepada ibu hamil. Deteksi dini terhadap kemungkinan adanya penyulit akan lebih tepat, sehingga
langkah antisipatif akan lebih cepat diambil. Fasilias kesehatan ini sangat menentukan atau
berpengaruh terhadap upaya penurunan angka kematian ibu ( AKI ).
Untuk mencapai suatu kondisi yang sehat diperlukan adanya sarana dan prasarana (fasilitas
kesehatan) yang memadai. Masalah yang timbul karena faktor 3 keterlambatan, yaitu:
1.

Keterlambatan dalam pengambilan keputusan dalam mencari pelayanan


kesehatan. Hal ini dipengaruhi oleh status ekonomi, status pendidikan, status

2.

wanita, karakteristik penyakit.


Keterlambatan dalam mencapai fasilitas kesehatn itu sendiri. Hal ini disebabkan

3.

oleh jarak, transportasi, jalan dan biaya.


Keterlambatan dalam menerina penanganan yang tepat dipengaruhi oleh kualitas
tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan yang tersedia.

3.3 Ekonomi
Aspek finansial ini dapat menjadi masalah jika misalnya ibu hamil yang suaminya belum
bekerja, berhenti bekerja atau dengan penghasilan kurang mungkin juga ibu harus tinggal
dirumah kontrakan yang murah dan kumuh sehingga membuat ibu rentan terhadap penyakit.
Untuk menghemat pengeluaran terkadang wanita tersebut tidak dapat mengkonsumsi
makanan yang lebih bergizi yaitu kaya akan protein, kalsium atau mineral yang lain yang
dibutuhkannya dan ibu juga harus bekerja untuk membantu perekonomian keluarga sehingga
menyebabkan waktu istirahatnya berkurang, tidak ada waktu dan biaya untuk memeriksakan
kehamilannya
Tingkat sosial ekonomi terbukti sangat berpengaruh terhadap kondisi fisik dan psikologis
ibu hamil. Pada ibu hamil dengan tingkat social ekonomi yang baik, otomatis akan mendapatkan
kesejahteraan fisik dan psikologis yang baik pula. Status gizipun akan meningkat karena nutisi
yang didapatkan berkualitas, selain itu ibu tidak akan terbebani secra psikologis mengenai biaya
persalinan dan pemenuhan kebutuhan sehari hari setelah bayinya lahir.
Ibu akan lebih fokus untuk mempersiapkan fisik dan mentalnya sebagai seorang ibu.
Sementara pada ibu hamil dengan kondisi ekonomi yang lemah maka ia akan mendapatkan
banyak kesulitan terutama masalah peneuhan kebutuhan primer.

Asuhan Kebidanan I | 15

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Dalam kehamilan ada beberapa faktor yang memengaruhi kehamilan yaitu faktor fisik,
psikologis dan faktor lingkungan, sosial, budaya serta ekonomi
a.

Faktor Fisik

Asuhan Kebidanan I | 16

Wanita hamil mengalami beberapa perubahan fisik selama kehamilan pada sistem tubuhnya.
Perubahan ini terjadi karena adanya adaptasi terhadap pertumbuhan janin dan dapat dipengaruhi
oleh beberapa hal yang berhubungan dengan fisik pada ibu hamil, diantaranya:

Status kesehatan
Status gizi
Gaya hidup
b.

Faktor Psikologi

Perubahan- perubahan psikis pada wanita selama kehamilan, diantaranya :

Stressor
Support keluarga
Substance abuse
Partner abuse
c.

Faktor Lingkungan

Faktor ini memengaruhi kehamilan dari segi gaya hidup, adat istiadat, fasilitas kesehatan dan
tentu saja ekonomi yang akan memengaruhi keadaan wanita hamil.
SARAN
Dalam memenuhi kebutuhan masa kehamilan seorang ibu harus memiliki kesiapan
pemenuhan kandungan secara cukup, baik pemenuhan fisik ibu, pemenuhan psikolog ibu,
maupun faktor social budaya dan ekonomi ibu. Dengan pemenuhan ketiga faktor tersebut ibu
dapat dengan seimbang pula mengatur kesehatan bayi serta persiapan persalinan dengan
kesiapan penuh.

DAFTAR PUSTAKA

http://fielutfihandayani.blogspot.com
http://lenteraimpian.wordpress.com
http://midcare.blogspot.com
http://acehmidwife.blogspot.com

Asuhan Kebidanan I | 17